Anda di halaman 1dari 31

I.

TUJUAN
1. Menggambarkan bentuk molekul dalam tiga dimensi
2. Memberikan gambaran tentang setereo kimia

II. DASAR TEORI


1. Pengertian Gaya Intramolekuler
Gaya Intramolekuler adalah gaya yang memegang atom-atom dalam suatu
molekul. Gaya ini dibagi menjadi dua yaitu :
• Ikatan Ion
Ikatan yang terjadi sebagai akibat terjadinya serah-terima elektron
antara atom-atom yang memiliki potensial ionisasi rendah dengan atom-atom
yang memiliki affinitas elektron tinggi.
• Ikatan Kovalen
Ikatan yang terjadi sebagai akibat penggunaan pasangan elektron secara
bersama-sama diantara atom-atom yang berikatan. Ikatan ini umumnya terjadi
antara unsur-unsur non logam.
2. Pengertian Gaya Intermolekuler
Gaya tarik menarik diantara molekul-molekul. Gaya ini bertanggung-
jawab terhadap :
1. Prilaku non-ideal dari suatu gas
2. Keberadaan fase terkondensasi suatu materi.
Gaya Intermolekuler dibagi menjadi :
a. Gaya dipol-dipol
Gaya yang bekerja pada molekul-molekul polar
b. Gaya ion-dipol
Gaya yang terjadi pada suatu ion dengan molekul polar
c. Gaya dispersi
Gaya yang bekerja pada molekul-molekul non-polar
d. Ikatan hidrogen
Jenis interaksi dipol-dipol yang khusus antara atom hidrogen dalam suatu
ikatan polar,seperti O―H atau N―H dengan atom-atom yang elektronegatif,
seperti O, N atau F.
e. Ikatan logam
Ikatan yang terjadi diantara atom-atom logam
3. Pengertian Molekul
Molekul adalah agregat (kumpulan) yang terdiri dari sedikitnya dua atom
dalam susunan tertentu yang terikat bersama oleh gaya-gaya kimia (disebut juga
ikatan kimia). Suatu molekul dapat mengandung atom-atom dari unsure yang
sama atau atom-atom dari dua atau lebih unsur yang bergabung dalam
perbandingan tertentu, sesuai dengan hokum perbandingan tetap. Jadi, suatu
molekul tidak harus berupa senyawa yang berdasarkan definisi terbentuk dari dua
atom atau lebih. Contohnya gas hydrogen (H2) adalah suatu unsure murni, tetapi
terdiri dari molekul-molekul yang masing-masing terbentuk dari dua atom H.
Sebaliknya, air (H2O) adalah senyawa molekul yang mengandung dua atom H dan
satu atom O.
Molekul hydrogen dilambangkan dengan H2, disebut molekul diatomic
karena tersusun atas dua atom. Suatu molekul diatomic juga dapat tersusun oleh
dua atom dari unsur yang berbeda. Contohnya hydrogen klorida (HCl). Sebagian
besar molekul mengandung lebih dari dua atom. Atom-atom itu dapat berasal dari
unsure yang sama seperti ozon (O3), atau dapat pula gabungan dari dua unsure
atau lebih seperti H2O. Molekul yang terdiri lebih dari dua unsure disebut molekul
poliatomik.
Karena terlalu kecil untuk diamati langsung, maka digunakanlah model
molekul untuk memvisualisasikan molekul. Ada dua jenis standar molekul yang
sering digunakan, yaitu model bola-tongkat dan model ruang-terisi.
4. Pengertian Geometri Molekuler
Geometri Molekuler adalah Penataan tiga dimensi dari suatu atom dalam molekul.
 Beberapa sifat fisik dan sifat kimia, seperti titik leleh, titik didih, densitas,
dan jenis reaksi yang molekul alami dipengaruhi oleh geometri
molekulnya.
 Ada dua cara yang umum dipakai untuk menentukan geometri molekuler,
khususnya senyawa kovalen.
1. Teori Ikatan Valensi
2. Metode VSEPR
1. Teori ikatan valensi
• Teori ikatan valensi menganggap bahwa elektron-elektron dalam suatu
molekul menempati orbital atom individunya.
• Pembentukan ikatan terjadi akibat tumpang-tindih (overlapping) antara
orbital-orbital kulit valensi dari masing-masing atom individu.
Struktur Lewis dituliskan dengan terlebih dahulu menentukan kerangka
atau struktur molekul yang cukup rasional yaitu dengan membedakan atom pusat
dan atom terminal. Atom pusat merupakan atom yang terikat pada dua atau lebih
atom lain sedangkan atom terminal hanya terikat pada satu atom lain. Molekul air
mempunyai atom pusat oksigen dan atom hidrogen bertindak sebagai atom
terminal setelah mengetahui atom pusat dan atom terminal maka selanjutnya
adalah memberikan elektron-elektron valensi sampai diperoleh rumus Lewis yang
juga cukup rasional.
Struktur Lewis dapat dituliskan dengan metoda coba-coba dengan
mempertimbangkan beberapa hal berikut:
a. Seluruh elektron valensi harus dituliskan dalam struktur Lewis
b. Secara umum seluruh elektron dalam struktur Lewis berpasangan
c. Secara umum semua atom mencapai konfigurasi oktet (kecuali
duplet untuk hidrogen). Beberapa atom mengalami penyimpangan
aturan oktet.
d. Ikatan rangkap atau rangkap tiga juga dapat terbentuk, umumnya
untuk unsur-unsur karbon, nitrogen, oksigen, fosfor dan sulfur

2. Metode VSEPR
VSEPR theory (Valence-Shell Electron-Pair Repulsion) atau dapat juga
dikatakan TPEKV (Tolak Pasangan Elektron Kulit Valensi). VSEPR ini
merupakan model pendekatan yang menjelaskan susunan geometri dari pasangan
electron di sekitar atom pusat sebagai akibat tolak-menolak antara pasangan
electron bebas (PEB). Kulit valensi adalah kulit terluar yang ditempati electron
dalam suatu atom yang biasanya terlibat dalam ikatan. Dua aturan umum dalam
teori VSEPR, yaitu :
a. Dalam kaitannya dengan tolak-menolak pasangan electron, ikatan
rangkap dua dan tiga dapat diperlakukan seperti ikatan tunggal. Tetapi pada
kenyataannya ikatan rangkap dua atau tiga lebih besar dibandingkan ikatan
tunggal, karena kerapatan yang lebih tinggi dari ikatan rangkap dua atau
rangkap tiga di antara dua atom akan membutuhkan ruang yang lebih besar.

b. Jika suatu model memiliki dua atom atau lebih struktur resonansi,
kita dapat menerapkan model VSEPR pada setiap struktur tersebut. Muatan
formal biasanya tidak ditunjukkan.

• Pedoman menggunakan Model VSEPR


1. Tulislah struktur Lewis dari suatu molekul.
2. Hitunglah jumlah total pasangan elektron yang mengelilingi atom
pusat.
3. Ikatan rangkap 2 dan 3, dianggap sebagai ikatan tunggal.
4. Dalam meramalkan sudut ikatan, ingat tolak menolak ps. e
bebas x ps. e bebas > ps. e bebas x ps. e ikatan > ps. e
ikatan x ps. e ikatan.

Dengan teori ini, kita dapat meramalkan bentuk molekul (termasuk ion)
secara sistematis. Untuk tujuan ini, molekul-molekul dibagi ke dalam dua
golongan yaitu :

a. Model yang atom pusatnya tidak memiliki pasangan electron bebas


(PEB). Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut

Jumlah Geometri atau Bentuk Molekul Rumus Contoh


pasangan
elektron

2 Linier AX2 BeCl2

Pasangan
ikatan saling tolak-menolak 1 sama
lain, maka pasangan tersebut terletak
pada ujung berlawanan dalam 1 garis
lurus.

3 Segitiga Planar AX3 BCl3,


BF3

Merupakan
susunan yang
paling stabil dengan sudut segitiga
sama sisi, dimana keempat atom
terletak pada bidang yang sama.

4 Tetrahedral AX4 CH4

Memiliki empat sisi


atau muka yang
semuanya berupa segitiga sama sisi.

5 Segitiga Bipiramida AX5 PCl5

Atom-atom yang
terletak di atas dan di
bawah bidang segitiga menempati
posisi aksial dan pada bidang segitiga
menempati posisi ekuatorial.

6 Oktahedral AX6 SF6

Semua atom terminal


memiliki sudut 900
dengan yang lainnya.

b. Model yang atom pusatnya memiliki satu atau lebih pasangan electron
bebas (PEB).

Untuk memudahkan melihat jumlah total PEI dan PEB, maka diberikan
rumusan umum sebagai berikut :

MXxEy

Dimana : M = atom pusat

X = atom terminal

E = PEB pada M

x = jumlah atom terminal (2, 3, …)

y = jumlah PEB pada atom pusat (1, 2, 3, …)

Atom Pusat memiliko Pasangan ELektron Bebas

Total Jumlah Jumlah Bentuk Molekul Notasi VSEPR Contoh


pasanga PEI PEB
n
elektron

3 2 1 Bengkokan MX2E SO2

4 3 1 Segitiga MX3E NH3


Piramida

4 2 2 Bengkokan MX2E2 H2O

5 4 1 Tetrahedral Tak MX4E SF4, XeO2F2


Beraturan

5 3 2 Bentuk T MX3E2 ClF3

5 2 3 Linier MX2E3 XeF2


6 5 1 Segiempat MX5E BrF5
Piramida

6 4 2 Segiempat Planar MX4E2 XeF4

III. ALAT
1. Model pusat atom (plastik)
2. Pipa-pipa plastik
IV. CARA KERJA
1. Susunlah model atom berikut :
a. HCl :
Ambillah suatu pusat atom untuk inti hydrogen dan pusat untuk inti klor
hubungan dengan pipa plastik untuk menunjukkan ikatan

b. BeCl2 :
Bentuk molekulnya linier dalam wujud gas. Gunakan pusat atom yang
cabangnya linier sebagai Be.
Dua buah pipa plastik dimasukkan pada cabang ini sebagai ikatan
kemudian hubungkan dengan inti Cl.

c. BF3
Bentuk molekulnya segitiga dasar, semua ikatan adalah equivalent dengan
sudut FBF besarnya 1200. Gunakan sebagai pusat atomnya bentuk gambar
(1b).

d. CH4, NH3, dan H2O


Pada penyusunan molekul-molekul diatas digunakan model yang bentuk
dasarnya tetrahedral.
o CH4
Bentuknya tetrahedral gunakan pusat atom yang cabangnya tetrahedral.

o NH3
Mempunyai bentuk piramid dan pasangan elektron bebasnya menempati
bagian yang keempat dari posisi tetrahedral.
o H2O
terdapat 2 pasang elektron bebas dan 2 pasang elektron ikatan.

e. [PtCl4]2-
Ion yang bentuknya segiempat datar semua ikatan sama dan ion khlor
terletak pada sudut segiempatnya dan Pt pada pusatnya.

f. PF5
Gunakan benruk trigonal bipiramid.
Terdapat tiga ikatan ekuatorial yang equivalent dan dua ikatan yang axial.

A. B. C. D. E.
2. Buatlah bentuk molekul etana (C2H6) gunakan dua pusat inti yang tetrahedral
hubungan kedua inti C dengan pipa plastik.
Aturlah kedudukan hidrogen dengan jalan memutar ikatan C-C, agar
didapatkan kedudukan dimana H pada atom C yang satu tepat dibelakang H
atom C yang lain dan kedudukan lainnya dimana atom H pada atom yang
satu tepat diantara kedua atom H pada C yang lain.

3. Hidro karbon siklil


Susunlah molekul sikloheksana C6H12 aturlah kedudukan rantai karbonnya agar
didapatkan benruk seperti kapal dan bentuk seperti kursi.
Bentuk kursi lebih stabil dibandingkan bentuk kapal dan pada satu suhu kamar
komposisinya dalam campuran melebihi 99%.

Bentuk Kursi Bentuk Perahu

4. Benzena
C6H6 mempunyai bentuk heksagonal datar. Panjang ikatan C-C semuanya sama
dengan sudut C-C-C adalah 1200.
Dalam penyusunan benzena gunakan pusat atom yang trigonal.

Lingkaran yang didalam menunjukkan


delokalisasi enam elektro dalam orbital P yang saling berintikan. Struktur
diatas dapat dianggap sebagai keadaan rata-rata dari 2 bentuk benzene kekule
yaitu :

5. Isomer optik
Isomer optik mempunyai struktur dimana bayangan cerminnya tidak saling
menutupi salah satu sama lain. Hubungan yang sama seperti tangan kanan dan
tangan kiri disebut isomer optik karena dia bersifat optik aktif sehingga dia
memiliki kemampuan untuk memutar bidang polarisasi dari sinar yang
terpolarisasi.
Untuk pusat karbon yang tetrahedral molekulnya bersifat optic aktif bila tidak
memiliki pusat atau bidang simetri. Atom ini disebut asimetri atau chiral dalam
hal ini karbon mengikat 4 gugus yang berbeda.
Untuk mendapatkan gambar ini disusun bentuk molekul CH2Cl2, CH2ClBr dan
CHFBrCl.

V. HASIL PENGAMATAN
a) HCl : merupakan bentuk molekul yang diatomik sehingga bentuk
molekulnya linier.

b) BeCl2 : molekulnya berbentuk linier, dimana Be merupakan atom pusat


dan Cl merupakan atom terminal yang tersusun berikatan dalam
satu garis lurus dengan sudut ikat yang berbentuk 1800.

c) BF3 : molekulnya berbentuk segitiga planar, dimana B merupakan atom


pusat dan F sebagai atom terminal dengan sudut ikat yang
terbentuk adalah 1200.

d) CH4 : molekulnya berbentuk tetrahedral dimana C merupakan atom


pusat dan H sebagai atom terminal dengan sudut ikat 109,50.

e) NH3 : molekulnya berbentuk segitiga piramida, dimana N merupakan


atom pusat dan H adalah atom terminal. Molekul NH3 juga
memiliki satu PEB. Karena PEB menolak PEI lebih kuat, ketiga
ikatan N-H terdorong untuk lebih dekat satu sama lainnya. Jadi,
sudut yang terbentuk kurang dari 109,50.
f) H2O : molekulnya berbentuk bengkokan, dimana O sebagai atom pusat
dan H sebagai atom terminal. Molekul H2O mengandung dua PEI
dan dua PEB. Susunan keseluruhan dari keempat pasang electron
dalam H2O adalah berbentuk tetrahedral, tetapi H2O memiliki dua
PEB pada atom O dimana cenderung sejauh mungkin antara satu
sama lain. Akibatnya, kedua PEI OH terdorong dan saling
mendekat satu dengan yang lainnya.

g) [PtCl4]2- : molekulnya berbentuk segiempat planar, dimana Pt sebagai


atom pusat dan Cl sebagai atom terminal

h) PF5 : molekulnya berbentuk segitiga bipiramida, dimana atom P


sebagai atom pusat dan F sebagai atom terminal. Terdapat tiga
ikatan ekuatorial dan dua ikatan aksial.

2. C2H6 : untuk mengetahui bentuk molekul C2H6 maka molekul ini dipecah
menjadi dua pusat inti yaitu CH 3-CH3. Sehingga akan didapat bentuk
molekulnya adalah tetrahedral.

Eklips Stagger
3. Hidrokarbon siklik : dengan bentuk dasar molekul sikloheksana adalah
segienam, tetapi setelah dipecah akan didapat bentuk molekul sebagai berikut.

Kedudukan rantai karbon C sikloheksana C 6H12 dapat diubah sehingga


menghasilkan bentuk seperti kapal atau biduk dimana masing-masing atom
karbon mempunyai susunan tetrahedral sehingga sikloheksana bebas dari
tegangan.

Konformasi lain dari sikloheksana adalah konformasi seperti kursi. Pada


sikloheksana keenam atom karbon yang membentuk lingkar juga tidak datar.
Atom-atom tersebut membentuk suatu lingkar yang tidak memiliki tegangan dan
mengkerut.

4. Benzena : Benzena yang termasuk ke dalam golongan senyawa aromatik


mempunyai rumus molekul C6H6. Reaksi dengan hidrogen pada suhu dan tekanan
yang tinggi dan adanya katalis, menghasilkan sikloheksana C6H12.
Reaksi ini menunjukkan bahwa benzena adalah senyawa lingkar yang
terdiri dari enam atom karbon. Oleh karena benzena menyerap tiga mol hydrogen
untuk mengubah satu mol benzena menjadi sikloheksana, salah satu kemungkinan
adalah bahwa benzena mengandung tiga ikatan rangkap C = C yang berselang-
seling dengan tiga ikatan tunggal C-C seperti ditunjukkan oleh struktur berikut :
Pada struktur ini terlihat bahwa semua atom hidrogen dalam molekul benzena
adalah setara.

5. Isomer optik
Isomer optik mempunyai struktur dimana bayangan cerminnya tidak saling
menutupi satu sama lain. Hubungan yang sama seperti tangan kanan dan tangan
kiri. Disebut isomer optik karena dia bersifat optik aktif sehingga dia memiliki
kemampuan untuk memutar bidang polarisasi dari sinar yang terpolarisasi.
Untuk pusat karbon yang tetrahedral molekulnya bersifat optik aktif bila
tidak memiliki pusat simetri atau bidang simetri. Atom ini disebut asimetri atau
chiral dalam hal ini karbon mengikat 4 gugus yang berbeda. Gambar dari
persamaan :
CHFBrCl CH2ClBr CH2Cl2
VI. PEMBAHASAN
1. Data Pengamatan Pertama
a. HCl
Struktur Lewis HCl :

Konfigurasi Cl : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5 →


1 atom H : •

Ikatan yang terbentuk antara atom H dan Cl adalah ikatan kovalen, karena
terjadi penggunaan bersama pasangan elektron. Berdasarkan orbital hibrid
molekul HCl memiliki hibridisasi sp sehingga bentuk geometri HCl adalah linear.
Sehingga sudut ikatan yang terbentuk adalah 180o.
Dalam wujud cair HCl akan terurai menjadi H+ dan Cl-.
Ikatan yang terjadi pada HCl adalah ikatan kovalen polar karena terjadi
ikatan sebagai akibat penggunaan pasangan elektron bersama di antara atom-atom
berikatan yang pada HCl ikatan yang berlainan jenis. Kepolaran ikatan dalam HCl
terjadi karena perbedaan keelektronegatifan atom-atom yang berikatan.
Keelektronegatifan Cl lebih besar daripada Keelektronegatifan H, hal ini
menyebabkan atom Cl menarik pasangan elektron lebih kuat dibandingkan
dengan atom H. Hal ini kemudian akan mengakibatkan terjadinya kutub negatif
pada Cl dan kutub negatif pada H, atau membentuk dipol ikatan.
Gambar Bentuk Molekul :

b. BeCl2

Konfigurasi electron Be : 1s2 2s2 →

2 atom C : • •

Hibridisasi : s p
Ikatan yang terbentuk adalah ikatan ionik, sehingga terjadi serah terima elektron.
Elektron valensi Be akan tertarik ke arah atom Cl, karena atom Cl lebih
elektronegatif. Hibridisasi molekul BeCl2 adalah sp. Sehingga sudut ikatan yang
terbentuk adalah 180o dan gometri molekulnya adalah linear.

Gambar bentuk molekul :

c. BF3
Susunan elektron Lewis dari senyawa BF3 :
o atom pusat =B
o atom terminal = 3F
o jumlah elektron = 3 + 3.7 = 3 + 21 = 24
Struktur Lewis :

Konfigurasi electron B : 1s2 2s2 2p1 →

3 atom F : • • •

Hibridisasi : s p2
BF3 merupakan salah satu pengeculian oktet, dengan hibridisasi sp2.
Bentuk BF3 adalah trigonal datar atau segitiga planar, dimana semua atom terletak
pada satu bidang datar. Semua sudut ikatannya sama, yaitu 1200. Kesamaan sudut
ikatan ini disebabkan oleh gaya tolak-menolak antara Pasangan Elektron Ikatan.
Aturan Oktet adalah aturan dimana atom pusat harus dalam keadaasn
stabil,atau dengan kata lain jumlah elektron kulit terluar dari atom pusat yaitu
delapan.Dalam hal ini BF3 tidak mengikuti aturan oktet karena jumlah elektron
pada kulit terluar B hanya terisi 6 elektron. Agar stabil, BF3 nantinya akan
menyumbangkan tempat kosong, sedangkan senyawa lain menyumbangkan
pasangan elektron bebas untuk dipakai bersama.
Gambar bentuk Molekul :

d. CH4
Struktur Lewis CH4 :

Konfigurasi electron C : 1s2 2s2 2p2 →

4 atom H : • • • •

Hibridisasi : s p3

CH4 dengan hibridisasi sp3 memiliki geometri tetrahedral/ tetrahedron.


Dengan sudut ikatan C-H sebesar 109.5o.
Ikatan yang terjadi pada CH4 adalah ikatan kovalen non polar. Karena
tidak ada pasangan electron bebas (PEB) sehingga molekul yang terbentuk adalah
simetris, dimana pasangan elektron yang dipakai sama-sama tertarik sama kuat ke
semua atom sehingga membentuk sudut yang sama yaitu 109,50 dengan bentuk
molekul tetrahedral. Gambar bentuk molekul :

e. NH3
o NH3 :
Struktur Lewis :
Konfigurasi electron N : 1s2 2s2 2p3 →

3 atom H : • • •

Hibridisasi : s p3 ,
NH3 memiliki hibridisasi sp3, bila dilihat dari hibridisasinya adalah sama
dengan hibridisasi CH4, namun yang membedakan antara kedua molekul terebut
adalah pada NH3 terdapat 1 PEB, sehingga besar sudut ikatannya pun akan lebih
kecil 109.5o. Bentuk geometri NH3 adalah piramida dengan besar sudut 107.3o.
Ikatan yang terjadipada NH3 adalah ikatan kovalen polar karena pada NH3
terdapat satu PEB. PEB tersebut menyebabkan terjadinya perubahan sudut ikatan
dan perubahan bentuk molekul. PEB pada atom pusat N menekan atom H ke
bawah. Hal ini disebabkan oleh gaya tolakan yang dialami oleh PEB dengan atom
H, dimana gaya tolakan antara PEB dengan atom H lebih besar daripada gaya
tolak antara atom H dengan atom H. Sehingga terbentuk molekul segitiga
piramida dengan sudut ikatan 1070. Gambar bentuk molekul :

f. H2O

Konfigurasi atom O : 1s2 2s2 2p4 →


2 atom H : • •
Hibridisasi : s p 3
Sama halnya dengan NH3, bentuk geometri H2O merupakan turunan dari
tetrahedral, pada H2O terdapat 2 PEB sehingga akan memiliki sudut iktan lebih
kecil dari NH3 yakni sebesar 104.9o dengan bentuk bengkok atau huruf V.
Ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen polar karena terdapat dua PEB.
PEB tersebut menyebabkan perubahan sudut ikatan dan perubahan bentuk
molekul. PEB pada atom pusat N menekan atom H, karena gaya tolak-menolak
antara PEB dengan PEB sangat kuat. Sedangkan gaya tolak antara PEB dengan
atom H lebih lemah, dan gaya tolak antara atom H dengan atom H paling lemah,
sehingga jarak antar atom H paling dekat. Bentuk molekul H2O adalah bengkokan
atau bentuk V dengan sudut ikatan 1040. Bentuk molekul :
Sudut ikatan yang dimiliki oleh CH4 berbeda dengan NH3 maupun H2O,
karena ketiga molekul tersebut memiliki jumlah PEB yang berbeda.Jadi, sudut
ikatan yang paling besar adalah sudut ikatan pada CH4 dan sudut ikatan yang
paling kecil adalah sudut ikatan pada H2O. Dapat juga ditulis sudut ikatan CH4 >
sudut ikatan NH3 > sudut ikatan H2O ⇒ 109,50 > 1070 > 1040.
Gambar bentuk molekul :

g. [PtCl4]2-
[PtCl4]2- merupakan salah satu ion kompleks (senyawa koordinasi) yang
merupakan ciri khas dari logam golongan transisi, sehingga dalam melakukan
hibridisasi akan melibatkan orbital d. Hibridisasi ion [PtCl4]2- adalah sp2d
dengan bentuk geometri segiempat planar.
Bilangan oksidasi Pt dalam [PtCl4]2- adalah :
Biloks Pt + 4 Biloks Cl = -2
Biloks Pt + 4 (-1) = -2
Biloks Pt = -2 + 4
Biloks Pt = +2
Ikatan antara Pt dan Cl adalah ikatan kovalen koordinasi karena adanya
pemakaian bersama pasangan elektron dari Cl.

h. PF5
Konfigurasi electron P : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3 →
5 atom F : • • • • •
Hibridisasi : s p3 d
PF5 memiliki hibridisasi sp3d dan merupakan salah satu pengecualian
oktet. Fosfor memberikan kontribusi 5 elektron, dan lima fluor memberikan 5
lagi, memberikan 10 elektron dengan 5 pasang disekeliling atom pusat. Karena
fosfor membentuk lima ikatan, tidak dapat membentuk pasangan mandiri.
Lima pasang elektron disusun dengan menggambarkan bentuk trigonal
bipyramid. Tiga fluor terletak pada bidang 120o satu sama lain; dua yang lainnya
terletak pada sudut sebelah kanan bidang. Trigonal bipiramid karena itu memiliki
dua sudut yang berbeda 120odan 90o.
Pada senyawa PF5 tidak terdapat PEB di sekitar atom P.
atom pusat : P
atom terminal : 5 atom F
jumlah elektron : 5 + 5 (7) = 5 + 35 = 40
struktur Lewis :

Berdasarkan struktur Lewis tersebut dapat dilihat bahwa senyawa PF5


menyimpang dari kaidah oktet. Pada senyawa ini pasangan elektron yang
digunakan bersama lebih dari delapan, tetapi dalam pemakaian yang melebihi
kaidah oktet ini tidak disalahkan karena PF5 tiermasuk ke dalam pengecualian
kaidah oktet, yaitu oktet berkembang.
Gambar bentuk molekul :
2. Data Pengamatan Kedua (Etana)
Etana (CH3CH3) mengandung dua atom karbon sp3 kedua atom ini akan
membentuk ikatan sigma C-C dengan tumpang tindih satu orbital sp3 dari masing
– masing karbon. Masing – masing atom karbon memiliki hibridisasi sp3. Berikut
adalah model molekul etana dalam proyeksi Newman.

Pada konformasi stagger memiliki sudut dihedral sebesar 60o. Sedangkan


dalam konformasi eklips besar sudut dihedral adalah 0o. Munculnya dua buah
konformasi yakni eklips dan stagger adalah disebabkan oleh ikatan sigma pada
etana yang menyebabkan terjadinya rotasi bebas. Konformasi eklips dikatakan
kurang stabil hal ini disebabkan oleh adanya tolakan – tolakan antara elektron –
elektron ikatan dan atom – atom hidrogen.
Gambar molekul 1,2 - diklor etana :

Gambar molekul 1,2 – diklor etena :

3. Data Pengamatan Ketiga (Sikloheksana)

Suatu cincin sikloheksana dapat dinyatakan dalam berbagai konformasi,


diantaranya adalah bentuk kursi, setengah kursi, biduk-belit, dan biduk. Dari
keempat konformasi tersebut bentuk kursi dinyatakan sebagai konformasi yang
paling stabil dan bentuk perahu/ biduk dinyatakan sebagai konformasi yang
kurang stabil. Hal ini disebabkan pada bentuk kursi terdapat atom hidrogen pada
posisi stagger (goyang) dan pada bentuk biduk terdapat atom hidrogen pada posisi
eklips yang menyebabkan terjadinya peningkatan energi.

Tingkat kestabilan antara sikloheksana dengan konformasi kursi dan biduk


dapat dijelaskan melalui proyeksi Newman berikut:

Pada konformasi kursi atom – atom


hidrogen terdapat dalam konformasi
stagger (goyang) sedangkan pada konformasi biduk atom – atom hidrogen
terdapat dalam konformasi eklips. Pada konformasi eklips akan terjadi tolakan –
tolakan antara elektron ikatan dengan atom – atom hidrogen. Sehingga energi
yang diperlukan untuk membentuk konformasi eklips akan lebih tinggi bila
dibandingkan untuk membentuk konformasi stagger (goyang). Kestabilan suatu
konformasi dapat dilihat dari besar energi yang diperlukan dalam
pembentukkannya. Karena untuk membentuk konformasi biduk diperlukan energi
yang lebih tinggi, maka konformasi biduk dikatakan sebagai konformasi yang
tidak stabil.

Dimana posisi aksial adalah posisi atom-atom yang terletak di atas dan di
bawah bidang segitiga, sedangkan posisi ekuatorial adalah posisi atom-atom yang
terletak pada bidang segitiga. Dengan sudut ikatan antara dua ikatan ekuatorial
adalah 1200, sudut ikatan antara ikatan ekuatorial dan ikatan aksial adalah 900, dan
sudut antara dua ikatan aksial adalah 1800.
Bentuk kursi lebih stabil daripada bentuk kapal karena bentuk kursi
membentuk 1,3 – diaksial, dimana tegangan atau tolakan antar atom C relatif lebih
kecil daripada bentuk kapal yang merupakan 1,4 – diaksial. Pada gugus-gugus
aksial akan terjadi interaksi aksial yang menimbulkan tolakan gugus metil pada
posisi ekuatorial.

4. Data Pengamatan Keempat (Benzena)


Benzena adalah senyawa siklik dengan enam atom karbon yang tergabung
dalam cincin. Setiap atom karbon terhibridisasi sp2 dan cincin benzene memiliki
bentuk planar. Setiap atom karbon memiliki satu atom hidrogen, dan setiap atom
karbon memiliki satu orbital p tak terhibridisasi yang tegak lurus terhadap bidang
ikatan sigma dari cincin. Sehingga masing – masing dari keenam orbital p ini
dapat menyumbang satu elektron untuk ikatan pi.
Telah diketahui bahwa panjang ikatan C – C pada benzena adalah 1.4 Ȧ.
Keenam ikatan C – C tersebut lebih panjang dari pada ikatan rangkap C – C pada
alkena, serta lebih pendek dari ikatan jenuh C – C pada alkana. Bila cincin
benzene mengandung tiga ikatan rangkap terlokalisasi oleh tiga ikatan tunggal,
maka ikatan C – C pada benzene tidak akan sama panjang. Namun fakta
menunjukkan bahwa ikatan C – C pada benzena adalah sama panjang. Alasan
yang menyebabkan cincin benzena memiliki panjang ikatan C – C sama panjang
adalah terjadinya delokalisasi elektron pi. Dengan adanya delokalisasi elektron pi
akan menghasilkan suatu sistem dalam mana elektron pi mencakup lebih dari dua
atom. Sehingga dapat dikatakan bahwa benzena adalah hibrida resonansi dari dua
struktur resonansi. Untuk menggambarkan distribusi elektron pi dalam benzena
dengan menggunakan rumus ikatan valensi klasik, harus digunakan dua rumus.
5. Data Pengamatan Kelima
Isomer optik mempunyai struktur dimana bayangan cerminnya tidak saling
menutupi satu sama lainnya. Hubungan yang sama seperti tangan kanan dan kiri.
Disebut isomer optik karena dia bersifat optik aktif sehingga dia memiliki
kemampuan untuk memutar bidang polarisasi dari sinar yang terpolarisasi. Untuk
pusat karbon yang tetrahedral molekulnya bersifat optik aktif bila tidak memiliki
pusat simetri atau bidang simetri. Atom ini disebut asimetri atau kiral dalam hal
ini atom karbon mengikat 4 gugus yang berbeda. Pasangan molekul kiral dan
banyanganya tersebut dinamakan senagai enantiomer.
o Senyawa CH2Cl2 memiliki 2 buah bidang simetri (H-H dan Cl-
Cl) namun bukanlah senyawa optik aktif sebab bayangan dan
molekul saling menutupi. Serta atom C mengikat atom terminal
yang sama.

o Senyawa CH2ClBr memiliki 1 buah bidang simetri (H-H) dan


bukan merupakan senyawa optik aktif sebab bayangan dan molekul
saling menutupi. Serta atom C mengikat atom terminal yang sama.

o Senyawa CH2ClBr tidak memiliki bidang simetri dan merupakan


senyawa optik aktif sebab bayangan dan molekul tidak saling
menutupi. Serta atom C mengikat 4 atom terminal yang berbeda.
C Br Cl F H
Jadi dapat disimpulkan :
• Senyawa yang mempunyai bidang simetri adalah CH2Cl dan CH2Br.
• Senyawa yang bersifat optik aktif adalah CHFClBr.
• Senyawa yang bayangan cerminnya saling menutupi adalah CH2Cl2 dan
CH2ClBr.
VII. KESIMPULAN

1. Untuk meramalkan geometri suatu molekul secara


sistematik, kita dapat menggunakan teori VSEPR yang dibagi menjadi dua
kategori yaitu :

a) molekul yang mempunyai atom pusat tanpa pasangan elektron


bebas (PEB)

b) molekul yang atom pusatnya mempunyai PEB

2. Bentuk molekul yang mempunyai atom pusat tanpa PEB


ada 5 bentuk, yaitu :

a) Bentuk linier dengan rumus AB2

b) Bentuk segitiga planar dengan rumus AB3

c) Bentuk tetrahedral dengan rumus AB4

d) Bentuk segitiga bipiramida dengan rumus AB5

e) Bentuk oktahedral dengan rumus AB6

3. Bentuk molekul yang atom pusatnya memiliki PEB ada 8


bentuk, yaitu :

a) Bentuk V atau bengkokan

b) Bentuk segitiga piramida

c) Bentuk tetrahedral tak beraturan


d) Bentuk T

e) Bentuk linier

f) Bentuk segiempat piramida

g) Bentuk segiempat planar

4. Berubahnya sudut ikatan dan bentuk molekul disebabkab oleh adanya PEB
yang menyebabkan gaya tolak-menolak antar elektronnya berbeda.

5. Besarnya gaya tolak antara pasngan elektron :

tolakan antara PEB vs PEB > tolakan antara PEB vs PEI > tolakan antara
PEI vs PEI

6. Pada susunan molekul sikloheksana terdapat dua posisi, yaitu :

a. Posisi aksial : posisi atom-atom yang terletak di atas dan di bawah


bidang segitiga.

b. Posisi ekuatorial: posisi atom-atom yang terletak pada bidang segitiga.

7. Benzena yang termasuk dalam golongan senyawa aromatik mempunyai


rumus molekul C6H6. Dalam penyusunan benzena menggunakan pusat
atom yang trigonal. Lingkaran yang di dalamnya menunjukkan
delokalisasi enam elektron dalam orbital p yang saling berintikan.
DAFTAR PUSTAKA

Tim Laboratorium Kimia Dasar. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar


I. Bukit Jimbaran : Jurusan Kimia, F.MIPA, UNUD.

Petrucci, Ralph.H. 1999. Kimia Dasar – Prinsip dan Terapan Modern


Edisi Keempat Jilid. Jakarta : Erlangga.

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga.


Jakarta : Erlangga.

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Edisi Kelima.
Jakarta : Binarupa Aksara.

Anda mungkin juga menyukai