Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah sabun

Sabun pertama kali ditemukan oleh orang Mesir kuno beberapa ribu tahun yang lalu.
Pembuatan sabun oleh suku bangsa Jerman dilaporkan oleh Julius Caesar. Teknik
pembuatan sabun dilupakan orang dalam zaman kegelapan (Dark Ages), namun
ditemukan kembali selama Renaissance. Penggunaan sabun mulai meluas pada abad ke -
18.
Dewasa ini sabun dibuat praktis sama dengan teknik yang digunakan pada
zaman yang lampau. Lelehan lemak sapi atau lemak lain dipanaskan dengan lindi
(natrium hidroksida) dan karenanya terhidrolisis menjadi gliserol dan garam natrium
dari asam lemak. Dulu digunakan abu kayu (yang mengandung basa seperti kalium
karbonat) sebagai ganti lindi (lye = larutan alkali). (Fessenden,1992)

2.2 Saponifikasi
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak di campur dengan
larutan alkali. Dengan kata lain saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang
berlangsung dengan mereakasikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa
dan air serta garam karbonil (sejenis sabun). Sabun merupakan salah satu bahan yang
digunakan untuk mencuci baik pakaian maupun alat-alat lain. Alkali yang biasanya
digunakan adalah NaOH dan Na2CO3 maupun KOH dan K2CO3 . Ada dua produk yang
dihasilkan dalam proses ini, yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah hasil
reaksi kimia antara asam lemak dan alkali. Asam lemak diproleh dari lemak hewan dan
nabati. Ada beberapa jenis minyak yang dipakai dalam pembuatan sabun, antara lain :
Minyak zaitun (olive oil), minyak kelapa (coconut oil), minyak sawit (palm oil), minyak
kedelai (soy bean oil) dan lain-lain. Masing-masing mempunyai karakter dan fungsi
yang berlainan. (wikipedia, 2007)

Universitas Sumatera Utara


Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam
lemak. Sabun mengandung terutama garam C16 dan C18, namun dapat juga mengandung
beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah. Sekali penyabunan itu telah
lengkap, lapisan air yang telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol
dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Gliserol digunakan sebagai
pelembab dalam tembakau, industri farmasi dan kosmetik. (Sifat melembabkan timbul
dari gugus – gugus hidroksil yang dapat berikatan hidrogen dengan air dan mencegah
penguapan air itu ). Sabun dimurnikan dengan mendidihkannya dalam air bersih untuk
membuang lindi yang berlebih, NaCl, dan gliserol. Zat tambahan (additive) seperti batu
apung, zat warna dan parfum kemudian ditambahkan. Sabun padat itu dilelehkan dan di
tuang kedalam suatu cetakan.
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ion.
Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non
polar., sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai
hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam
air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles),
yakni segerombol (50 – 150) molekul yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan
ujung – ujung ionnya yang menghadap ke air. (Fessenden,1992)

2.2.1 Kegunaan Sabun


Kegunaan sabun adalah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak
sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat
sabun.
1. Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-polar, seperti
tetesan-tetesan minyak.
2. Ujung anion molekul sabun, yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung anion
molekul – molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena
tolak-menolak antara tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling
bergabung tetapi tetap tersuspensi. (fessenden,1992)

Sabun berperan sebagai emulsi antara monomer terdispersi dan fasa larutan
selama polimerisasi didalam produksi SBR (Stirena-butadinea rubber). Sabun secara

Universitas Sumatera Utara


luas digunakan dalam industri kosmetik untuk mengemulsi sejumlah pembersih dan
konditioner. Sabun ini terbuat dari minyak nabati, asam-asam lemak, lilin, dan minyak
mineral. Produk ini berbentuk cairan, pasta, atau gel.

2.2.2 Jenis – jenis sabun


Jenis sabun yang utama adalah sabun mandi dan sabun cuci, sabun yang berbeda
ini biasanya dibuat dengan beberapa cara. Sabun batangan yang ada di pasaran terdiri
dari sabun mandi kecantikan, sabun kesehatan atau sabun anti bakteri, sabun cair, dan
sabun untuk air sadah. Beberapa persamaam terjadi karena sabun batangan kesehatan
mempunyai bahan dasar lemak yang sama. Sabun mandi biasanya dibuat dari campuran
lemak dan minyak kelapa dengan perbandingan 80/20 atau 90/10, dan sabun yang
memiliki lemak yang berlebih mempunyai perbandingan 50/50 atau 60/40 dan ada yang
7 sampai 10% ditambahkan asam lemak bebas juga. Sabun kesehatan mengandung
bahan seperti triclosan dan triclorokarban yang merupakan dua senyawa yang banyak
digunakan sebagai antimikrobial. Penggunaannya secara khas yaitu 0,3 % - 1,0 %
untuk triklosan dan 1,0 % - 1,5 % triklorokarban. Keduanya termasuk kedalam
amulgator dan dapat terdispersi atau terlarut dalam pelarut yang sesuai, seperti parfum.
Pada umumnya sabun yang akan diperdagangkan mengandung 10 sampai 30 %
air, dan jika sabun kekurangan air maka akan sulit larut. Hampir semua sabun meiliki
parfum. Hal ini untuk menghilangkan aroma sabun yang asli. Sabun mandi dibuat
dengan bahan pilihan yang mengandung 10 sampai 15 % pelembab, parfum dan
titanium dioksid sebagai bahan pemutih. Sabun untuk bahan mencukur mengandung
garam kalium dan asam stearat yang banyak, agar mengahsilkan busa yang lebih lama
keringnya.
Jenis sabun batangan lainnya adalah sabun mandi kecantikan. Sabun mandi
kecantikan adalah suatu produk sabun untuk perawatan kecantikan kulit wajah dan
tubuh dengan formulasi yang sesuai untuk kulit. Memberikan zat – zat gizi dan nutrisi
yang sangat diperlukan kulit dan membantu memelihara kulit dengan mempertahankan
kelembaban kulit serta membantu pertumbuhan sel-sel baru jika terjadi kerusakan sel
kulit. Pada sabun kecantikan busa harus lembut dan sifat basanya yang lebih rendah.
(Luis spitz, 1996)

Universitas Sumatera Utara


2.2.3 Proses pembuatan sabun
Proses ini dilakukan dengan jalan mereaksikan trigleserida (lemak/minyak)
dengan alkali (NaOH) secara langsung untuk menghasilkan sabun. Proses saponifikasi
ini hampir sama dengan proses menggunakan ketel, hanya saja proses ini dilakukan
secara kontinu sementara proses dengan ketel memakai sistem batch.
Langkah pertama dari proses saponifikasi ini adalah pembentukan sabun dimana
trigliserida (lemak/minyak), natrium oksida, larutan elektrolit berupa garam natrium dan
alkali dari pencucian diumpan kedalam autoklaf, dipanaskan dan diaduk pada suhu
1200C dan tekanan 2 atm. Lebih dari 99,5 % lemak berhasil disaponifikasi pada proses
ini. Hasil reaksi kemudian dimasukkan kedalam sebuah pendingin berpengaduk dengan
suhu 85-900C. Disini hasil saponifikasi disempurnakan sehingga terbentuk 2 fase
produknya yaitu sabun dan lye.
Sebanyak 1,2 – 1,4% NaCl ditambahkan kedalam sabun untuk mengontrol
viskositas larutan. Garam NaCl adalah larutan elektrolit yang biasa digunakan untuk
mempertahankan agar viskositas sabun tetap rendah. Kemudian komponen ini diumpan
ke turbidisper.
Turbidisper, mikser (pencampur), pompa untuk sirkulasi dan tangki netralisasi
merupakan bagian terpenting pada proses ini. Asam lemak dan kaustik soda dicampur
dalam turbidisper yang dilengkapi dengan pengaduk. Dari turbidisper campuran sabun,
asam lemak, dan kaustik soda dialirkan dialirkan kedalam mixer yang dilengkapi dengan
jeket pendingin melalui bagian bawah mixer.hasil pencampuran berupa asam lemak dan
kautik soda yang tidak bereaksi akan dikeluarkan lagi dari saluran dibagian samping
mixer untuk diumpan kembali te turbidisper dengan bantuan pompa sirkulasi. Sabun
yang masuk ke mixer diteruskan ke holding mixer kemudian sabun yang telah terbentuk
dikeringkan. Kandungan air pada sabun dikurangi dari 30-35 % pada sabun murni
menjadi 8 – 18% pada sabun butiran atau lempengan.
Dalam pembuatan sabun batangan, sabun butiran dicampurkan dengan zat
pewarna, parfum dan zat aditif lainnya didalam mizer. Campuran sabun ini kemudian
diteruskan untuk diging untuk mengolah campuran tersebut menjadi suatu produk yang
homogen. Produk tersebut kemudian dilanjutkan ketahap pemotongan. Sebuah alat
pemotong dengan dengan mata pisau memotong sabun tersebut menjadi potongan-
potongan terpisah yang dicetak melalui proses penekanan menjadi sabun batangan

Universitas Sumatera Utara


sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Proses pembungkusan, pengemasan,
dan penyusunan sabun tersebut merupakan tahap terakhir penyelesaian pembuatan
sabun. (Luis Spitz,1996)

Reaksi saponifikasi dan struktur dasar senyawa sabun yang dihasilkan ialah sebagai
berikut:

2.2.4 Cara Kerja Sabun


Kerbanyakan kotoran pada pakaian atau kulit melekat sebagai lapisan tipis
minyak. Jika lapisan minyak ini dapat disingkirkan, berarti partikel kotoran dapat dicuci.
Molekul sabun terdiri atas rantai seperti hidrokarbon yang panjang, terdiri atas atom
karbon dengan gugus yang sangat polar atau ionik pada satu ujungnya. Bila sabun
dikocok dengan air akan membentuk dispersi koloid, bukannya larutan sejati, larutan
sabun ini mengandung agregat molekul sabun yang disebut misel (micelle). Rantai
karbon non polar, atau lipofilik, mengarah kebagian pusat misel. Ujung molekul yang
polar, atau hidrofilik membentuk permukaan misel yang berhadapan dengan air. Pada
sabun biasa, bagian luar dari setiap misel bermuatan negatif, dan ion natrium yang
positif berkumpul didekat keliling setiap misel.
Dalam kerjanya untuk menyingkirkan kotoran, molekul sabun mengelilingi dan
mengemulsi butiran minyak atau lemak. Ekor lipofilik dari molekul sabun melarutkan
minyak. Ujung hidrofilik dari butiran minyak menjulur kearah air. Dengan cara ini,
butiran minyak terstabilkan dalam larutan air sebab muatan permukaan yang negatif dari
butiran minyak mencegah penggabungan (koalesensi). (Hard, Harord, 1984)

Universitas Sumatera Utara


2.3 Bahan baku pembuatan sabun
2.3.1 Lemak Dan Minyak
Lemak dan minyak merupakan bagian terbesar dari kelompok lipida. Lemak dan
minyak adalah ester dari asam lemak dan gliserol, sebagian besar berupa bahan
makanan. Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang efektif dibandingkan
dengan karboksilat dan protein.
Minyak dan lemak khususnya minyak nabati mengandung asam lemak esensial
seperti asam lenoleat dan anamonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah
akibat penumpukan kolesterol minyak atau lemak juga berfungsi sebagai sumber
vitamin A,D,E dan K, karena dapat larut didalamnya.
Minyak dan lemak yang telah dipisahkan dari jaringan asalnya mengandung
sejumlah komponen trigliserida yaitu :
- Lipid kompleks yaitu : tesithin, chepalin, fosporida dan lain-lain
- Sterol berada dalam keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak
- Asam lemak bebas
- Lilin
- Pigmen yang larut dalam lemak
- Hidrokarbon.
Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lemak atau minyak, yang
disebut asam lemak, umumnya mempunyai rantai hidrokarbon panjang dan tak
bercabang. Lemak atau minyak sering kali diberi nama sebagai deripat asam-asam
lemak ini. Misalnya tristearat dari gliserol diberi nama tristearin dan tripalmitat dari
gliserol, disebut tripalmitin. Lemak dan minyak dapat juga diberi nama dengan cara
yang biasa dipakai untuk penamaan suatu ester.
Asam – asam lemak dapat juga diperoleh dari lilin (waxes), misalnya lilin lebah.
Dalam hal ini asam lemak diesterkan dengan suatu alkohol sederhana berantai panjang.
Kebanyakan lemak dan minyak yang terdapat dalam alam merupakan trigliserida
campuran, artinya ketiga bagian asam lemak dari gliserida itu tidaklah sama.
Rantai hidrokarbon dalam suatu asam lemak dapat bersifat jenuh atau dapat pula
mengandung ikatan-ikatan rangkap. Asam lemak yang tersebar paling merata dalam
alam, yaitu asam oleat, mengandung satu ikatan rangkap. Asam – asam lemak dengan

Universitas Sumatera Utara


lebih dari satu ikatan rangkap adalah tidak lazim, terutama dalam minyak nabati,
minyak-minyak ini disebut poliunsaturat (polyunsaturates). (Fessenden, 1992)
Minyak dan lemak Pada dasarnya dihasilkan oleh alam yang bersumber dari
hewan dan tanaman. Sedangkan berdasarkan pada sumbernya, minyak dan lemak dapat
diklasifikasikan atas hewan dan tumbuhan. Perbedaan mendasar daripada lemak hewani
dan lemak nabati adalah:
1) lemak hewani mengandung kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung
fitosterol,
2) kadar lemak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil daripada lemak nabati, dan
3) lemak hewani mempunyai bilangan Reicher-Meiss lebih besar dan bilangan
Polenshe lebih kecil dibanding dengan minyak nabati (Bailey,1986)
2.3.2 Asam lemak bebas

Asam lemak bebas adalah hasil samping dari pengolahan minyak kelapa sawit.
Dalam pembuatan lilin, asam lemak bebas digunakan sebagai pengganti lemak lilin.
Asam lemak bebas dapat juga digunakan dengan menggunakan sebagai bahan baku
pembuatan detergent, industri kosmetik, cat, tekstil dan lain-lain.
Asam lemak bebas yang dihasilkan oleh proses hidrolisa dan oksidasi biasanya
bergabung dengan lemak netral dan pada konsentrasi sampai 15 persen belum
menghasilkan flafor yang tidak disenangi. Lemak dengan dengan kadar asam lemak
bebas dari 1 persen, jika dicicipi akan terasa membentuk film pada permukaan lidah dan
tidak berbau tengik, namun intensitasnya bertambah dengan bertambahnya jumlah asam
lemak bebas. Walaupun asam lemak bebas dalam jumlah kecil dapat mengakibatkan
rasa yang tidak enak. Dan dapat menghasilkan bau tengik. Asam lemak bebas juga dapat
mengakibatkan karat dan warna gelap jika lemak dipanaskan dalam wajan besi.
(Ketaren, 1986)

2.3.3 Bahan pengisi


Selain itu, perlu ditambahkan zat pengisi (filter) untuk menekan biaya supaya
lebih murah. Adanya perbedaan komposisi pada lemak dan minyak menyebabkan sifat
fisik berbeda dan hasil lemak serta sabun berbeda pula.Untuk memperoleh sabun yang
berfungsi khusus, perlu ditambahkan zat aditif, antara lain: asam lemak bebas, gliserol,
pewarna, aroma, pengkelat dan antioksidan, penghalus, serta aditif kulit (skin aditif).

Universitas Sumatera Utara


Titanium dioksida (TiO 2 ) Titanium dioksida (TiO 2 ) ditambahkan ke dalam sabun
berfungsi sebagai pemutih sabun dan kulit. Pada konsentrasi kecil (<0,8 %), berfungsi
sebagai pemutih yang sangat efektif. TiO 2 mempunyai Mr 79,90 gr/mol, berwarna
putih, grafik spesifik 4,17, tidak larut dalam air panas dan dingin. TiO 2 ada dalam tiga
bentuk kristal: anatase, brookite, dan rutile. Biasanya diperoleh secara sintetik.
Rutile adalah bentuk yang stabil terhadap perubahan suhu apabila diperoleh
secara luas sebagai monokristal yang transparan. Titanium dioksida digunakan dalam
elektrolit, plastik dan industri keramik karena sifat listriknya. Selain itu, ia sangat stabil
terhadap perubahan suhu dan resisten terhadap serangan kimia. Ia tereduksi sebagian
oleh hydrogen dan karbon monoksida. Titanium oksida murni dipreparasi dari titanium
tetraklorida yang dimurnikan dengan destilasi ulang.
Kegunaan titanium dioksida antara lain dalam vitreus enamel, industri
elektronik, katalis dan pigmen zat warna. TiO 2 adalah zat warna putih yang dominan di
usaha karena mempunyai sifat: indek refraksi tinggi, tidak menyerap sinar tampak,
mudah diproduksi sesuai keinginan, stabilitas tinggi dan non toksik. EDTA ditambahkan
dalam sabun untuk membentuk kompleks (pengkelat) ion besi yang mengkatalis proses
degradasi oksidatif. Degradasi oksidatif akan memutuskan ikatan rangkap pada asam
lemak membentuk rantai lebih pendek, aldehid dan keton yang berbau tidak enak.
EDTA adalah reagen yang bagus, selain membentuk kelat dengan semua kation, kelat
ini juga cukup stabil untuk metode titrimetil. (supena, 2007)

2.3.4 Jumlah Asam Lemak


Jumlah asam lemak pada sabun menunjukkan total jumlah asam lemak yang
tersabunkan dan asam lemak bebas yang terkandung pada sabun. Menurut SNI (1994),
jumlah asam lemak minimal sebesar 70%. Dalam suatu formulasi, asam lemak berperan
sebagai pengatur konsistensi.Asam lemak diperoleh secara alami melalui hidrolisis
trigliserida (William dan Schmitt,2002). Ditambahkan pula oleh Spitz (1996), bahwa
asam lemak memiliki kemampuan terbatas untuk larut dalam air. Hal ini akan membuat
sabun menjadi lebih tahan lama pada kondisi setelah digunakan. (spitz)

Universitas Sumatera Utara


2.4 Kandungan Bahan Kimia Sabun
2.4.1 Toilet Soap Noodle
 RBD Palm oil
 RBD Palm stearin
 RBD PKO
 Cautik soda (NaOH)
 Salt (NaCl)
 BHT
 Tetrasodium EDTA
 EHDP
 Air
2.4.2 Kandungan bahan kimia sabun mandi kecantikan
 Soap noodle
 IPP
 Talcum powder
 Titanium dioxide
 Petrolium jelly / Vaselin
 Tinopal
 Parfume
2.4.3 Kandungan bahan kimia sabun mandi kesehatan
 Soap noodle
 Sodium lactic (Purasal S/HQ)
 SLES 70% (EMAL)
 Polyglicol E 400
 Trichloro carban (TCC)
 Talcum powder
 Petrolim Jelly/ Vaselin
 Titanium dioxide
 Tinopal
 Parfume
(PT.Oleochem and soap)

Universitas Sumatera Utara


2.5 Kadar Air
Kadar air menunjukkan banyaknya kandungan air yang terdapat dalam suatu
bahan. Menurut SNI (1994), kadar air dalam sabun maksimum sebesar 15%. Faktor
konsentrasi gel lidah buaya dan bee pollen berpengaruh nyata terhadap kadar air sabun
opaque.

2.6 Kadar Alkali Bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH


Kelebihan alkali dapat disebabkan karena penambahan alkali yang berlebih pada
proses pembuatan sabun. Alkali bebas yang melebihi standar dapat menyebabkan
kerusakan kulit dan iritasi kulit lainnya. Kadar alkali bebas pada sabun maksimum
sebesar 0,05%. Alkali juga dapat merusak kulit dibandingkan dengan menghilangkan
bahan berminyak dari kulit.Sungguh pun demikian dalam penggunaan sabun dengan air
akan terjadi proses hidrolis sehingga mendapatkan sabun yang baik maka diukur sifat
alkalisnya yakni pH 5,8-10,5. (Erik, 2007)
Pada kulit yang normal kemungkinan pengaruh alkali lebih banyak. Beberapa
penyakit kulit sensitif terhadap reaksi alkalis, dalam hal ini pemakaian cairan sabun
merupakan kontra indikasi. pH kulit normal antara 3-6, tetapi bila dicuci dengan sabun
pH menjadi 9, walaupun kulit cepat bertukar kembali menjadi normal mungkin
perobahan ini tidak diinginkan pada penyakit kulit tertentu.( Lely sari, 2003 )

2.7 Garam dapur (NaCl)


Garam dapur adalah sejenis mineral yang lazim dimakan manusia. Bentuknya
kristal putih, dihasilkan dari air laut. Biasanya garam dapur yang tersedia secara umum
adalah Natrium klorida (NaCl). Senyawa natrium adalah penting dalam perindustrian
kimia, kaca, logam, kertas, petrolium, sabun, dan tekstil. Sabun pada umumnya
merupakan garam natrium dengan beberapa jenis asam lemak.
Natrium dalam bentuk logam merupakan wujud penting dalam pembuatan ester
dan dalam perkilangan senyawa organik. Logam alkali ini adalah juga merupakan wujud
dalam natrium klorida (NaCl). (wikipedia, 2007)

Universitas Sumatera Utara


2.7.1 Kesadahan
Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air.
Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga
disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak)
seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam
jumlah kecil .Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun,
dimana sabun ini diiendapkan oleh ion-ion yang saya sebutkan diatas. Karena penyebab
dominan/utama kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+, khususnya Ca2+, maka arti dari
kesadahan dibatasi sebagai sifat / karakteristik air yang menggambarkan konsentrasi
jumlah dari ion Ca2+ dan Mg2+, yang dinyatakan sebagai CaCO 3 . Kesadahan ada dua
jenis, yaitu :
2.7.2 Kesadahan sementara
Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-
garam bikarbonat, seperti Ca(HCO 3 ) 2 , Mg(HCO 3 ) 2 . Kesadahan sementar ini dapat /
mudah dieliminir dengan pemanasan (pendidihan), sehingga terbentuk encapan CaCO 3
atau MgCO 3 .

2.7.3 Kesadahan tetap


Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-
garam klorida, sulfat dan karbonat , misal CaSO 4 , MgSO 4 , CaCl 2 , MgCl 2 .Kesadahan
tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda - kapur (terdiri dari larutan
natrium karbonat dan magnesium hidroksida ) sehingga terbentuk endapan kaslium
karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida
Jika di suatu tempat anda mencuci apapun menggunakan sabun dan ternyata
busa yang terbentuk jumlahnya dibawah perkiraan anda atau tidak seperti biasanya
sehingga utuk memperbanyak busa (karena sugesti bahwa mencuci yang baik harus
banyak busa) anda harus menambah sabun sehingga mengakibatkan boros sabun, maka
besar kemungkinan air yang digunakan utnuk mencuci tersebut memiliki kesadahan
tinggi. Hal itu terjadi karena sebagian sabun yang ditambahkan kedalam air bereaksi
dengan dengan garam karbonatdari Ca2+ dan Mg2+.Jika menemukan endapan putih
seperti bedak atau kadang berbentuk kerak didasar panci untuk memasak air, maka besar
kemungkinan air yang dimasak tersebut memiliki kesadahan tinggi. Hal itu terjadi

Universitas Sumatera Utara


karena gas CO 2 lepas saat pemanasan, sehingga yang tertinggal hanya endapan
karbonat, terutama kalsium karbonat. (EG. Giwangkara,2007)

Universitas Sumatera Utara