Anda di halaman 1dari 4

1.

Pengertian ijtihad

Ijtihad menurut bahasa berasal dari bahasa Arab “jahada”. “Jahada” atau juga bisa

disebut “jahda” berarti mencurahkan segala kemampuan untuk mendapatkan sesuatu.1

Makna atau arti dari kata “jahda” juga terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain Surat An-

Nahl Ayat 42 yang artinya pengerahan segala kemampuan dan kekuatan (badzl al-wus’i

wa ath-thaqah) atau juga bisa berarti berlebih-lebih dalam bersumpah (al-mubalaghat fi

al-yamin)

Sedangkan menurut Ulama Ushul Fiqh ijtihad adalah pencurahan segenap

kesanggupan seorang ahli fiqih untuk mendapatakan pengertian terhadap hukum syari’at.2

Kemudian dari pengertian tersebut ditarik kesimpulan mengenai pelaku, obyek, dan

target dari ijtihad, yakni :

1. Pelaku ijtihad adalah orang yang ahli Fiqih.

2. Pencapaian ijtihad adalah hukum syar’i bidang amaliyah (furu’iyah), yaitu yang

berhubungan dengan tingkah laku orang.

3. Hukum yang dihasilkan bersifat dhanni (kebenaran tidak bersifat absholut).

2. Jenis-jenis Ijtihad

a. Ditinjau dari segi metodenya :

1. Qiyas (reasoning by analogy)

Mengukur atau membandingkan suatu hukum dengan sesuatu yang lain.

2. Istihsan (preference)

1
Rosihon Anwar DKK,2009,Pengantar Studi Islam,Pustaka Setia : Bandung. Hlm 192
2
Studi Islam IAIN Sunan Ampel,2004,Pengantar Studi Islam. Surabaya. Hlm 56
Menetapkan hukum yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam dari Al-Qur’an dan As-

Sunnah yang berkaitan dengan kebaikan, keadilan, kasih sayang, dan lain sebagainya.

3. Maslahat al-Mursalah (utility)

Menetapkan hukum terhadap persoalan ijtihadi atas dasar pertimbangan kegunaan dan

pemanfaatan.

b. Ditinjau dari segi pelaksanaannya :

1. Ijtihad fardhi

Ijtihad yang dilakukan seseorang tanpa adanya kesepakatan dari ulama lain. Atau ijtihad

yang dilakukan seorang diri.

2. Ijtihad jama’i

Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama-sama dan telah

mendapatkan kesepakatan dari ulama lainnya.3

3. Urgensi Ijtihad

Sejatinya setiap muslim itu diharuskan untuk berijtihad, asalkan memenuhi

kriteria sebagai seorang mujtahid. Adapun urgensi dari berijtihad para ulama membagi

hukum melakukan ijtihad menjadi tiga bagian4 :

1. Wajib ‘ain

Yaitu bagi seseorang yang dianggap mampu berijtihad yang dimintai fatwa hukum

mengenai suatu peristiwa, dan peristiwa itu dihawatirkan lenyap tanpa adanya kepastian

hukum. Maka dia wajib melakukan ijtihad demi kemaslahatan umat.

2. Wajib kifayah

3
Rosihon Anwar DKK,2009,Pengantar Studi Islam,Pustaka Setia : Bandung. Hlm 194
4
Studi Islam IAIN Sunan Ampel,2004,Pengantar Studi Islam. Surabaya. Hlm 61
Yaitu bagi orang yang dimintai fatwa hukum tetapi hukum itu tidak dihawatirkan lenyap

karena sudah terdapat mujtahid lain yang sedang mencari kebenarannya.

3. Sunnah

Bagi orang yang melakukan ijtihad mengenai masalah-masalah yang belum atau tidak

terjadi.

4. Wilayah Ijtihad

Dalam pandangan ulama salaf wilayah ijtihad terbatas pada masalah-masalah

fiqhiyah, akan tetapi pada akhirnya wilayah tersebut berkembang diberbagai aspek

keislaman seperti filsafat, tasawuf, fiqih, dan lain-lain.5

Wilayah ijtihad diperjelas dalam masalah dhanniyah, seperti :

1. Masalah yang tidak berkaitan dengan aqidah keimanan seseorang.

2. Masalah yang belum ditentukan kadar kriterianya dalam nash.

3. Masalah Qiyas.

5. Fungsi Ijtihad

1. Al Ruju’ (kembali)

Mengembalikan ajaran-ajaran Islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah dari segala

interpretasi yang mungkin kurang relevan.

2. Al Ihya’ (kehidupan)

Menghidupkan kembali bagian-bagian dari nilai dan semangat Islam agar mampu

menjawab tantangan zaman.

3. Al Inabah (pembenahan)
5
Ibid. Hlm 67
Memenuhi ajaran Islam yang mungkin terdapat kekurangan atau kesalahan dari hasil

ijtihad ulama dahulu.