Anda di halaman 1dari 2

A.

ZAMAN PATRISTIK
Istilah patristik berasal dari kata latin patres yang berarti Bapak-bapak dalam
lingkungan gereja. Bapak yang mengacu pada pujangga Kristen, untuk mencari jalan
menuju teologi kristiani melalui peletakan dasar intelektual untuk agama Kristen. Para
pujangga ini dipilih sebagai pemimpin gereja dari golongan atas maupun dari golongan
ahli pikir.
Periode ini ditandai oleh Bapak-bapak gereja (patristik) yang dimulai dengan
tampilnya para apologis dan para pengarang gereja. Para apologis memiliki tugas utama
menjawabi berbagai persoalan dan keberatan mengenai ajaran-ajaran iman Gereja
terhadap berbagai ajaran atau paham-paham filosofis yang mengancam ajaran keimanan
yang benar. Para pengarang Gereja adalah orang-orang yang menulis buku dan karangan-
karangan tentang berbagai ajaran Gereja secara menyeluruh dan mendalam.
B. FILSAFAT PADA ZAMAN PATRISTIK
Dalam masyarakat luas, pemikiran filosof dianggap sebagai kebudayaan kafir.
Jadi, pada waktu itu ada dua pendirian berbeda yang berlainan, yaitu yang berdasarkan
agama Kristen dan yang berdasarkan filsafat Yunani. Bagi mereka yang berdasarkan
agama dan menolak filsafat beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran
yaitu berupa firman Tuhan, dan tidak membenarkan apabila mencari sumber kebenaran
lain selain itu.
Bagi yang menerima filsafat beranggapan bahwa tidak ada salahnya
menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berfikir). Dan
juga, walaupun filsafat Yunani dianggap sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga
sebagai ciptaan Tuhan. Jadi menurut mereka memakai atau menerima filsafat Yunani
diperbolehkan dalam hal-hal tertentu yang tidak bertentangan dengan agama.
Pandangan pemikir agama pun terbagi tiga dalam menanggapi masalah filsafat
ini. Pandangan pertama berpendapat bahwa setelah ada wahyu Ilahi yang terwujud dalam
Yesus Kristus, seharusnya pemikiran filosofis lainnya berhenti atau tidak ada sama
sekali. Pandangan kedua menyatakan bahwa filsafat Yunani merupakan langkah awal
menuju agama yang harus diterima dan dikembangkan. Sedangkan pandangan ketiga
berusaha untuk menengahinya dengan menyintesiskan kedua pemikiran itu.
Para filosof zaman ini diantaranya Yustinus Martyr, Clemens, dan Origenes.
Martyr adalah pemikir yang sejak semula telah mempelajari filsafat, dan ketika masuk
agama Kristen, ia menyebut dirinya sebagai filosof. Ia menulis dua buku tentang
membela hak agamam Kristen. Sedangkan Clemens dan Origenes berasal dari kota
Alexandria, kota yang merupakan pusat intelektual pada akhir zaman kuno yang
merancang suatu teologi yang tersusun secara ilmiah berdasarkan filsafat Yunani,
khususnya Platonisme. Selain itu ada beberapa nama lain seperti Gregorius dari
Nazianza, Basilius, dan Gregorius dari Nyssa. Tiga bapak gereja ini penting untuk
dikenal karena mewakili kehidupan masa ini. Mereka membangun sintesis dari agama
Kristen dan kebudayaan helenitas. Pada dasarnya, mereka menggunakan neoplatonisme,
namun mereka menolak disebut neoplatonisme yang merendahkan materi.
Selain di Yunani, di Latin juga ada seorang filosof yang bernama Augustinus,
yang mempunyai nama besar dan dinilai sebagai pemikir terbesar untuk seluruh zaman
Patristik. Menurutnya,filsafat dapat dipahami sebagai “Filsafat Kristiani” atau
“Kebijaksanaan Kristiani”. Dia tidak sepaham dengan pendapat yang mengatakan bahwa
filsafat itu otonom atau lepas dari iman Kristiani.