Anda di halaman 1dari 126

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

W DENGAN GANGGUAN SISTEM


PERKEMIHAN : GAGAL GINJAL KRONIK e.c NEFROLITHIASIS
BILATERAL DAN POST NEFROLITOTOMI KIRI DI RUANG 2
PERJAN RUMAH SAKIT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem perkemihan merupakan salah satu sistem yang penting dalam tubuh

manusia. Sistem perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan uretra

yang menyelenggarakan serangkaian proses untuk tujuan mempertahankan

keseimbangan cairan dan elektrolit, asam basa, mengeluarkan sisa-sisa

metabolisme seperti urea, kreatinin, asam urat dan urine.

Gangguan pada sistem perkemihan dapat menimbulkan masalah kesehatan

yang serius dan kompleks, salah satunya yaitu adanya obstruksi karena adanya

batu pada ginjal (nefrolithiasis) yang dapat mengakibatkan Gagal Ginjal Kronik

(GGK).

Penyakit ginjal adalah salah satu penyebab utama dari kematian dan cacat

tubuh di banyak negara di seluruh dunia. Sebagai contoh, pada tahun 1994, lebih

dari 15 juta manusia di Amerika Serikat diperkirakan mengidap penyakit ginjal,

yang tampaknya menjadi penyebab utama hilangnya waktu kerja. (Purnomo,

Basuki.B., 2003 : 57)

Kegagalan ginjal dalam melaksanakan fungsi-fungsi vital menimbulkan

keadaan yang disebut uremia atau penyakit ginjal stadium akhir (PGSA).

Perkembangan terus berlanjut sejak tahun 1960 dari teknik dialisis dan

transplantasi ginjal sebagai pengobatan PGSA merupakan alternatif dari resiko

kematian yang hampir pasti. PGSA adalah sebab utama dari morbiditas dan

1
mortalitas di luar negara Indonesia. Hampir sepuluh ribu orang pertahun

mengalami PGSA. ( Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., 1995 : 769)

Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal cukup

tinggi. Saat ini, jumlah penderita gagal ginjal mencapai 4.500 orang.

Kecenderungan kenaikan penderita gagal ginjal itu antara lain terlihat dari

meningkatnya jumlah pasien cuci darah, yang jumlahnya rata-rata 250

orang/tahun. Menurut Dr. Rully M.A Roesly, PhD, SpPD-KGH, (internist-

nephrologist RSKG Ny. R.A.Habibie), menyebutkan gagal ginjal merupakan

penyakit yang cukup memprihatinkan di Indonesia, karena biaya pengobatannya

mahal dan banyak penderita akhirnya meninggal karena tidak mampu.

(http://www.pikiran-rakyat.com/ tanggal 24 Agustus 2005).

Batu ginjal (nefrolithiasis) merupakan salah satu sebab utama terjadinya

gagal ginjal kronik (GGK) di Indonesia. Data ini memang cukup unik mengingat

data di negara lain umumnya tidak menempatkan penyakit ini sebagai penyebab

utama gagal ginjal kronik (http://www.mail-archive.com/ tanggal 24 Agustus

2005). Pakar penyakit ginjal dan hipertensi, almarhum Prof.R.P. Sidabutar

mengatakan, infeksi batu ginjal kronik merupakan faktor penyebab kedua

terjadinya gagal ginjal di Indonesia. Pada kasus ini pembentukan batu terjadi

pada buli-buli (kandung kemih) atas atau bawah serta pada piala ginjal (calyx),

tidak pada salurannya. Namun yang menjadi penyebab utama gagal ginjal pada

umumnya adalah infeksi batu pada ginjal atau kandung kemih atas. Saat ini

pasien batu kemih atau ginjal di RS PGI Cikini sekitar 530 orang pertahun
dengan usianya bervariasi. (http://www.indomedia.com/ tanggal 24 Agustus

2005).

Menurut sumber pencatatan dan pelaporan di Di Ruang 2 Bedah Wanita

Perjan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dalam kurun waktu 1 Januari

sampai dengan pertengahan Agustus 2005 penyakit saluran perkemihan, gagal

ginjal kronis dan penyebabnya adalah seperti yang tergambar dalam tabel 1.1 dan

1.2

Tabel 1.1

Distribusi Gangguan Sistem Perkemihan


Di Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Periode Januari 2005 – pertengahan Agustus 2005
Persentase
No Jenis Kasus Jumlah
(%)
1 Nefrolithiasis 6 %
2 Batu pyelum 4 %
3 Gagal ginjal kronis 3 %
4 Piohidronefrosis 2 %
5 Tumor buli 2 8.7 %
6 Hidronefrosis 2 8.7 %
7 Ureterolithiasis 2 %
8 Abses ginjal 1 %
9 Infeksi Saluran Kencing 1 4.35 %
Jumlah 23 100 %
Sumber : Rekam Medik Ruang 2 Bedah Wanita Periode Januari 2005 – pertengahan Agustus
2005

Tabel 1.2

Distribusi Gangguan Sistem Perkemihan : Gagal Ginjal Kronik dan


Penyebabnya Di Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Periode Januari 2005 – pertengahan Agustus 2005
Persentase
No Jenis Kasus Jumlah
(%)
1 Gagal ginjal kronis e.c Nefrolithiasis 2 %
2 Gagal ginjal kronis 1 %
Jumlah 3 100 %
Sumber : Rekam Medik Ruang 2 Bedah Wanita Periode Januari 2005 – pertengahan Agustus
2005
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa gangguan sistem perkemihan :

Gagal Ginjal Kronik menunjukkan angka 13.04 % pada urutan ketiga dan gagal

ginjal kronik yang disebabkan oleh batu ginjal (nefrolithiasis) menunjukkan

presentase yang besar yaitu 66.67 %. Ginjal merupakan organ vital dimana bila

terjadi kegagalan fungsi dapat mempengaruhi metabolisme tubuh yang berkaitan

dengan fungsinya. Sehingga bila tidak ditangani secara cepat dan kompherensif

dapat menimbulkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, perubahan

eliminasi BAK dan dampak lain yang ditimbulkan oleh gagal ginjal kronik

antara lain : edema, anemia, peningkatan tekanan darah, kelemahan, mual dan

pruritus serta terjadinya tahap penyakit yang lebih lanjut bahkan resiko kematian.

Penyakit gagal ginjal kronik membutuhkan biaya yang sangat besar dalam

penanganannya seperti untuk tindakan dialisa, juga pemeriksaan laboratorium

rutin. Pengetahuan tentang perawatan secara mandiri di rumah setelah perawatan

di rumah sakit harus dimiliki oleh klien dengan gagal ginjal kronik seperti,

pengetahuan tentang diet, pola aktivitas di rumah, pemeriksaan kesehatan secara

rutin dan pelaksanaan tindakan hemodialisa bila diperlukan.

Hal tersebut diatas melatarbelakangi penulis untuk melakukan asuhan

keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan dengan judul :

“Asuhan Keperawatan Pada Ny. W Dengan Gangguan Sistem Perkemihan :

Gagal Ginjal Kronik e.c Nefrolithiasis Bilateral dan Post Nefrolitotomi Kiri Di

Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.”


B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien gangguan

sistem perkemihan: gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri secara komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosial dan

spiritual dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan khusus

Penulis dapat :

a. Melakukan pengkajian pada klien gangguan sistem

perkemihan : gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri.

b. Membuat perencanaan yang akan dilakukan pada klien

gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis

bilateral dan post nefrolitotomi kiri.

c. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana

keperawatan pada klien gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik

e.c nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri.

d. Melakukan evaluasi pada klien gangguan sistem perkemihan

: gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri.

e. Mendokumentasikan asuhan keperawatan dan membahas

kesenjangan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan cara

membandingakan teori dan pelaksanaan di lapangan dan mencari

alternatif pemecahan masalahnya.


C. Metoda Penulisan Dan Teknik Pengumpulan Data

1. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah

menggunakan metode deskriptif analitik yaitu menggambarkan dan

menganalisa kasus, yang jenisnya studi kasus dengan menggunakan

pendekatan proses keperawatan

2. Teknik pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis yaitu :

a. Observasi

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung

perilaku, kondisi klien mengenai masalah kesehatan dan keperawatan

klien

b. Wawancara

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab pada klien,

keluarga dan tenaga kesehatan secara langsung untuk mendapatkan

informasi yang berhubungan dengan masalah kesehatan klien dan

keluarga

c. Studi dokumentasi

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melihat dan mempelajari

status klien untuk dijadikan dasar dalam melaksanakan asuhan

keperawatan.
d. Pemeriksaan fisik

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan

auskultasi.

e. Studi kepustakaan

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara membaca berbagai literatur

yang berhubungan dengan kasus sebagai dasar acuan penulisan.

D. Sistematika Penulisan

Karya tulis ini tersusun menjadi 4 bab yang terdiri dari :

BAB I PENDAHULUAN, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan,

metode dan teknik penulisan serta sistematika penulisan

BAB II TINJAUAN TEORITIS, yang menguraikan konsep dasar penyakit

gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi

kiri mencakup pengertian, anatomi fisisologi, etiologi, patofisiologi,

manifestasi klinis, penatalaksanaan dan pemeriksaan diagnostik serta

dampak penyakit terhadap sistem tubuh lain. Sedangkan konsep dasar

asuhan keperawatan meliputi : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan

dan evaluasi.

BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN, meliputi pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sedangkan pembahasan

yaitu menganalisa kesenjangan antara konsep secara teoritis dengan


kasus yang terjadi dilapangan mulai dari tahap pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta penyebab terjadinya

kesenjangan tersebut.

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI, meliputi kesimpulan

akhir dari seluruh kegiatan asuhan keperawatan yang dilengkapi

rekomendasi dari penulis yang berkaitan dengan hambatan selama

melaksanakan asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian

a. Pengertian Gagal Ginjal Kronik

Pengertian mengenai gagal ginjal kronik banyak diungkapkan oleh

beberapa ahli, walaupun cara pandang para ahli berbeda tetapi

mengandung arti yang sama, diantaranya :

“Chronic Renal Faillure (CRF) is a permanent, irreversible

condition in which the kidneys case to remove metabolic waste and

excessive water from the blood”. (Ignatavicius, D., et all, 1995:2112)

Pengertian diatas dapat diterjemahkan sebagai berikut “Gagal ginjal

kronis adalah suatu kondisi yang permanen dan irreversible dimana

ginjal tidak dapat membuang sampah metabolik dan air yang berlebihan

dari darah”.

“Gagal ginjal kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan

penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif

dan cukup lanjut”. (Suyono, S., dkk, 2001:427)

“Gagal ginjal kronik adalah penyakit renal yang progresif dan

irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan

8
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan

uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah)”. (Smeltzer,

S.C.,dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, 2001:1448)

Tiga pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal

kronis adalah suatu kondisi yang permanen yang disebabkan oleh

penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversible dimana ginjal

gagal untuk membuang sampah metabolik (ureum dan sampah nitrogen

lain) serta gagal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan

elektrolit.

b. Pengertian Nefrolithiasis

“Nefrolithiasis adalah batu yang terbentuk pada tubuli ginjal

kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa

mengisi seluruh pelvis serta kaliks ginjal yang mampu menimbulkan

obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur saluran

kemih sebelah atas”. (Purnomo, Basuki.B., 2003 : 57)

“Nefrolithiasis merupakan kristal yang terlihat seperti batu dan

terbentuk di ginjal, kristal-kristal tersebut akan berkumpul dan saling

berlekatan untuk membentuk formasi batu. (http://www.mail-

archive.com) tanggal 24 Agustus 2005)

Berdasarkan pengertian diatas bahwa Nefrolithiasis adalah batu yang

terbentuk dari pengkristalan pada tubuli ginjal kemudian berada di

kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi seluruh


pelvis serta kaliks ginjal yang mampu menimbulkan obstruksi saluran

kemih dan menimbulkan kelainan struktur saluran kemih sebelah atas.

c. Pengertian Nefrolitotomi

“Nefrolitotomi yaitu salah satu teknik bedah urologi dengan

melakukan insisi pada ginjal untuk mengangkat batu”. (Smeltzer,

S.C.,dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, 2001:1466)

“Nefrolitotomi adalah pembedahan terbuka untuk mengambil batu

pada saluran ginjal”. (Purnomo, Basuki.B., 2003 : 65)

Dua pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

Nefrolitotomi adalah tindakan bedah urologi dengan melakukan insisi

pada ginjal untuk mengeluarkan batu pada saluran ginjal.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas bahwa gagal ginjal kronik

ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri adalah suatu kondisi

dimana terjadi penurunan fungsi ginjal diakibatkan oleh batu yang

terbentuk pada tubuli ginjal atau berada di kaliks, infundibulum, pelvis

ginjal dan bahkan bisa mengisi seluruh pelvis serta kaliks ginjal yang

menyebabkan obstruksi pada saluran kemih. Tindakan untuk mengatasi

hal tersebut dilakukan nefrolitotomi yaitu mengangkat batu yang berada

pada saluran ginjal.

2. Anatomi dan Fisiologi

a. Anatomi

1) Ginjal

a). Makroskopis
Menurut Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995:773),

dan Syaifuddin, (1995:107) menyebutkan bahwa ginjal terletak

di bagian belakang abdomen atas, di belakang peritonium, di

depan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus

abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal pada

orang dewasa panjangnya 12 sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan

berat kedua ginjal kurang dari 1 % berat seluruh tubuh atau

antara 120-150 gram.

Ginjal berbentuk seperti biji kacang, jumlahnya ada dua

buah yaitu kiri dan kanan. Ginjal kanan lebih rendah

dibandingkan dengan ginjal kiri karena tertekan kebawah oleh

hati. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan

lemak yang tebal. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan

dua daerah yang berbeda yaitu korteks dan medulla.

Medulla terbagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid.

Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan

tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul

nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus

papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal

dari banyak duktus pengumpul dan selanjutnya urine dialirkan

ke ureter.

b). Mikroskopis
Tiap tubulus ginjal dan glomerulusnya membentuk satu

kesatuan (nefron).

Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal

terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari

kapsula bowman, rumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus

proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang

mengosongkan diri ke duktus pengumpul.

(Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., 1995:773)

c). Vaskularisasi Ginjal

Menurut Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995:771)

ginjal diperdarahi oleh arteri renalis yang merupakan cabang

aorta abdominalis dan memasuki ginjal pada hilum, diantara

pelvis renalis dan vena renalis. Karena aorta terletak di sebelah

kiri garis tengah maka arteri renalis kanan lebih panjang dari

arteri renalis kiri.

Vena renalis menyalurkan darah ke dalam vena kava

inferior yang terletak di sebelah kanan garis tengah, sehingga

vena renalis kiri kira-kira dua kali lebih panjang dari vena

renalis kanan. Arteri renalis masuk ke dalam hillus, kemudian

bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara

piramid, selanjutnya membentuk arteri arkuata yang

melengkung melintasi basis piramid-piramid tersebut. Arteri

arkuata kemudian membentuk arteriola-arteriola interlobularis


yang tersusun pararel dalam korteks. Arteriola interlobularis ini

selanjutnya membentuk arteriola aferen. Arteriola aferen akan

berakhir pada rumbai-rumbai kapiler yang disebut glomerulus.

d). Persyarafan pada Ginjal

Menurut Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995:773)

“Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor),

syaraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk

ke dalam ginjal, syaraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh

darah yang masuk ke ginjal“.

Gambar 2.1
Garis Besar struktur Ginjal

Sumber : Moore, K.L, Anne, M, R. Agur, 2002 : 126


Gambar 2.2
Struktur Nefron

Guyton & Hall (1997 : 400)

b. Fisiologi

1) Fisiologi Ginjal

Menurut Syaifuddin, (1995:108), fungsi ginjal yaitu

mengeluarkan zat-zat toksik atau racun; mempertahankan

keseimbangan cairan; mempertahankan keseimbangan kadar asam

dan basa dari cairan tubuh; mempertahankan keseimbangan garam-


garam dan zat-zat lain dalam tubuh; mengeluarkan sisa metabolisme

hasil akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.

Tahap- tahap pembentukan urine :

a) Filtrasi Glomerular

Fungsi primer ginjal dicapai oleh nefron yang terdiri dari

glomerulus, tubulus dan duktus koligentes. Filtrasi glomerulus

dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik, tekanan osmotik koloid

yang bersifat pasif. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi

oleh tekanan-tekanan fisik diatas, namun juga oleh

permeabilitas dinding kapiler, sehingga sel-sel darah dan

molekul-molekul besar seperti protein secara efektif tertahan

oleh pori-pori membran filtrasi. Sedangkan air dan kristaloid

(solut dan molekul-molekul yang lebih kecil) dapat tersaring

dengan mudah.

Zat-zat yang difiltrasi oleh ginjal dibagi dalam tiga kelas,

yakni : elektrolit, non elektrolit dan air. Beberapa jenis

elektrolit yang paling penting adalah Na+, K+, Ca2+, Mg2+,

bikarbonat (HCO-3), klorida (Cl-), dan posfat (HPO42-).

Sedangkan non elektrolit yang penting antara lain glukosa,

asam amino dan metabolit yang merupakan produk akhir dari

proses metabolisme protein, urea, asam urat dan kreatinin

b) Reabsorpsi dan Sekresi


Setelah filtrasi langkah kedua dalam pembentukan kemih

adalah reabsorpsi. Proses reabsorpsi dan sekresi ini

berlangsung baik melalui mekanisme transpor aktif maupun

pasif. Glukosa dan asam amino direabsorpsi seluruhnya di

sepanjang tubulus proksimal dengan mekanisme transpor

aktif. Kalium dan asam urat hampir seluruhnya direabsorpsi

secara aktif dan keduanya disekresi ke bagian distal. Karena

filtrasi berlanjut melalui ansa henle, maka natrium dan ion

penyerta direabsorpsi. Dalam tubulus distalis, penyesuaian

terjadi dalam pH dan osmolalitas serta ada mekanisme pasif

bagi reabsorpsi kalsium, posfat, sulfat inorganik dan protein

ginjal.

Beberapa hormon berfungsi mengatur proses reabsorpsi

dan sekresi solute dan air. Reabsorpsi air tergantung dari

adanya hormon anti diuretik (ADH). Aldosteron

mempengaruhi reabsorpsi Na+ dan sekresi K+. Peningkatan

aldosteron menyebabkan peningkatan reabsorpsi Na+ dan

peningkatan sekresi K+, begitupun sebaliknya. Hormon

paratiroid (PTH) mengatur reabsorpsi Ca2+ dan HPO42-

disepanjang tubulus. Peingkatan PTH menyebabkan

peningkatan Ca2+ dan ekskresi HPO42-, penurunan PTH

mempunyai pengaruh sebaliknya.


Ginjal memainkan peranan penting dalam regulasi asam

basa, terutama dalam ekskresi ion hidrogen dan produksi

bikarbonat. Setelah duktus koligen mengosongkan isinya

kedalam kaliks, maka urine berjalan melalui pelvis renalis dan

ureter kedalam vesika urinaria.

3. Etiologi

a. Etiologi Nefrolithiasis

Menurut Purnomo, Basuki.B., 2003 : 57, terbentuknya batu

ginjal diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urine,

gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-

keadaan lain yang masih belum terungkap. Secara epidemiologis

terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu ginjal

(nefrolithiasis) pada seseorang, yaitu :

1) Faktor Intrinsik :

a) Herediter

Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya

b) Umur

Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

c) Jenis kelamin

Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan

dengan pasien perempuan

2) Faktor Ekstrinsik :
a) Geografi

Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu

ginjal lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal

sebagai daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah

Bantu di Afrika selatan hampir tidak dijumpai.

b) Iklim dan temperatur

c) Asupan air

Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium

pada air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu

ginjal.

d) Diet

Diet banyak purin, oksalat dan kalsium mempermudah

terjadinya batu ginjal

e) Pekerjaan

Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya

banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.

b. Etiologi Gagal Ginjal Kronik

Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut Price, S.A., dkk, alih

bahasa Peter, A., (1995 : 817), Ignatavicius, D., et all,(1995 : 2113)

adalah :

1) Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang

manusia tanpa memandang usia, terutama wanita. Infeksi saluran

kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar : Infeksi saluran

kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi

saluran kencing bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan

pielonepritis kronik adalah penyebab utama gagal ginjal tahap

akhir pada anak-anak.

2) Penyakit peradangan

Kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal umumnya

disebabkan oleh glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis

kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus secara progresif yang

pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.

3) Penyakit vaskular hipertensif

Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki kaitan yang erat.

Hipertensi mungkin merupakan penyakit primer dan menyebabkan

kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit gagal ginjal kronik

dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi

melalui mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh

vasopresor dari sistem renin-angiotensin.

4) Gangguan jaringan penyambung

Penyakit jaringan penyambung (penyakit kolagen) adalah

penyakit sistemik yang manifestasinya terutama mengenai jaringan

lunak tubuh, dan yang sering terserang adalah ginjal. Penyakit


jaringan penyambung yang dapat menyebabkan gagal ginjal

diantaranya adalah lupus eritematosus sistemik (SLE) dan

sklerosis sistemik progresif (skleroderma).

5) Gangguan kongenital dan herediter

Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal

merupakan penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus

ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun

lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik.

6) Penyakit metabolik

Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal

kronik antara lain diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme

primer dan amiloidosis.

7) Nefropati toksik

Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan

bahan-bahan kimia karena alasan-alasan berikut :

a) Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga

sering

dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.

b) Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia

dikonsentrasikan pada daerah yang relatif hipovaskular.

c) Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan

obat, sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan

obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus.


d) Gagal ginjal kronik dapat diakibatkan penyalahgunaan

analgesi dan paparan timbal.

8) Nefropati obstruktif

Obstruksi pada saluran kemih dapat menimbulkan gejala yang

membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Adapun obstruksi

saluran kemih yang dapat menyebabkan gagal ginjal diantaranya :

a) Saluran kemih bagian atas

(1) Kalkuli

(2) Neoplasma

(3) Fibrosis

(4) Retroperitoneal

b) Saluran kemih bagian bawah

(1) Hipertrofi prostat

(2) Karsinoma prostat

(3) Striktur uretra

(4) Anomali kongenital pada leher kandung kemih dan

uretra

4. Patofisiologi

Gagal ginjal kronis disebabkan oleh beberapa faktor, seperti yang

telah tertera diatas, namun pada karya tulis ini penulis hanya akan

membahas mengenai mekanisme penyakit gagal ginjal yang disebabkan

oleh adanya obstruksi saluran kemih bagian atas yaitu nefrolithiasis. Batu

yang terletak pada sistem pelvikalises mampu menimbulkan obstruksi di


pielum ataupun kaliks mayor dapat menyebabkan kaliektasis pada kaliks

yang bersangkutan ataupun dapat menjadi hidronefrosis. Jika disertai

dengan infeksi sekunder dapat menimbulkan pionefrosis, urosepsis, abses

ginjal, abses perinefrik, abses paranefrik ataupun pielonefritis. Bila salah

satu bagian saluran kemih tersumbat, yang dalam kasus ini adalah

obstruksi pada renal maka batu akan menyebabkan peningkatan tekanan

pada struktur ginjal termasuk arteri renalis yang berada diantara korteks

renalis dan medula sehingga aliran darah yang membawa nutrisi dan

oksigen ke ginjal menurun. Jika hal ini berlangsung lama akan berakibat

iskemik pada sebagian jaringan ginjal / nefron. Sisa nefron yang masih

utuh tetap bekerja normal karena harus mempertahankan homeostatis. Dua

adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Pertama sisa nefron yang utuh

mengalami hipertrofi dalam usahanya melaksanakan seluruh beban kerja

ginjal. Kedua terjadi peningkatan kecepatan filtrasi, beban solut,

reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh

massa nefron yang terdapat dalam ginjal turun dibawah nilai normal.

Namun bila hal ini berlangsung lama, akan terjadi penambahan kerusakan

nefron dan jika 75 % massa nefron sudah hancur, kecepatan filtrasi dan

beban solut bagi setiap nefron menjadi demikian tinggi, sehingga

keseimbangan glomerulus-tubulus tidak dapat dipertahankan lagi.

Akhirnya terjadi kegagalan fungsi ginjal /nefron secara keseluruhan.

Kegagalan fungsi ginjal akan mengakibatkan penurunan GFR


(Glomerulus Filtration Rate), selanjutnya kemampuan tubulus untuk

pengaturan ekskresi dan reabsorpsi menurun yang pada gilirannya asam

dan sisa metabolisme akan meningkat, sehingga keseimbangan cairan dan

elektrolit akan terganggu. Patofisiologi dampak penyakit dari gagal ginjal

kronik tergambar dalam skema 2.1 dibawah ini :

Nephrolithiasis

Penekanan pada struktur ginjal dan arteri renalis

Penurunan aliran darah yang membawa nutrien dan oksigen ke jaringan ginjal

Kerusakan struktur ginjal (Glomerulus dan tubulus)

Penurunan dan kegagalan fungsi ginjal

Gagal ginjal akut (post renal)

Iskemik tubulus (bila tidak tertangani)

Gagal Ginjal Kronis

Fungsi renal Gangguan fungsi
menurun Fungsi glomerulus ginjal
↓ Menurun ↓
GFR Peningkatan Vasokontriksi ↓ Menurunnya
menurun sekresi Renin pembuluh darah Reasbsorpsi Protein produksi
Angiotensin I dan II terganggu eritopoetin
↓ ↓ ↓ ↓ ↓
Ginjal tidak Terjadi retensi Tekanan darah Protein Uri Haemoglobin
mampu me- Aldosteron meningkat menurun
ngeluarkan ↓
sisa metabolik ↓ Anemia

Adanya retensi Peningkatan volume Oksigen tidak
Na dan H2O darah diikat dengan
adequat
↓ ↓
Transudasi cairan Transportasi
interstitial O2 Kejaringan
↓ menurun
Edema Albumin menurun ↓
↓ ADP tidak bisa
Daya tahan tubuh berkurang di rubah
menjadi
Meningkat- ATP
nya ureum Iritasi membran Mengiritasi membran ↓
↓ mukosa lambung mukosa mulut Energi yang
Penumpukan ↓ ↓ dihasilkan
kristal urea Merangsang sekresi Perubahan membran Menurun
di kulit asam lambung mukosa mulut ↓
↓ ↓ ↓ Kelemahan
Pruritus Mual Stomatitis

Sumber : Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995), De Jong, W., Long, B.C., Alih bahasa
Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung,(1996), Sjamsuhidajat, R.,
(1997) dan Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa Kuncara, H.Y., (2001)
5. Penatalaksanaan

Pada klien dengan gagal ginjal kronik yang disebabkan oleh adanya

obstruksi pada ginjal akibat nefrolithiasis dan post nefrolitotomi,

penatalaksanaanya meliputi penatalaksanaan nefrolithiasis, penatalaksanaan

nefrolitotomi serta penatalaksanaan untuk gagal ginjal kronisnya itu sendiri.

a. Penatalaksanaan Nefrolithiasis

Menurut Purnomo, Basuki.B., (2003 : 57) dan Smeltzer, S.C.,dan

Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, (2001:1464) nefrolithiasis

harus dikeluarkan segera mungkin agar tidak menimbulkan penyulit

yang lebih berat. Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa,

dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endourologi, pelarutan

batu, atau pengangkatan bedah.

1) ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) adalah

prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di

kaliks ginjal menggunakan amplitudo tekanan energi tinggi dari

gelombang kejut yang dibangkitkan melalui pelepasan energi yang

kemudian disalurkan ke air atau jaringan lunak. Setelah batu tersebut


pecah menjadi bagian kecil seperti pasir, sisa-sisa batu tersebut

dikeluarkan secara spontan. Tidak jarang pecahan-pecahan batu

sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan

hematuria. Alat ini dapat memecah batu ginjal tanpa melalui

tindakan invasif dan tanpa pembiusan.

2) Tindakan Endourologi

Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk

mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu

kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang

dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan

melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses

pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai

energi hidralik, energi gelombang suara atau dengan energi laser.

Beberapa tindakan eudourologi itu adalah :

a) PNL (Percutaneous Nephro Lithopaxy)

Mengeluarkan batu yang berada pada saluran ginjal dengan cara

memasukkan alat endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada

kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu

menjadi fragmen-fragmen kecil.

b) Litotripsi

Memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan

alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu

dikeluarkan dengan Evakuator Ellik.


c) Ureteroskopi atau Uretero-renoskopi

Memasukkan alat ureteroskopi peruretram guna melihat keadaan

ureter atau sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan memakai energi

tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem

pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteoskopi-

ureterorenoskopi.

3) Pelarutan Batu

Menggunakan infus cairan kemolitik misalnya agen pembuat basa

(alkylating) atau pembuat asam (acidifying) untuk melarutkan batu,

digunakan sebagai alternatif penanganan untuk pasien kurang

beresiko terhadap terapi lain atau jenis batu yang mudah larut

(struvit). Nefrostomi perkutan terus dilakukan dan cairan peririgasi

yang hangat dialirkan terus-menerus melalui ureter. Tekanan di

dalam piala ginjal dipantau selama prosedur.

4) Pengangkatan Bedah

Diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon pada tindakan

lain. Dilakukan untuk mengoreksi setiap abnormalitas anatomik

dalam ginjal untuk memperbaiki drainase urin. Bila batu terletak

dalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi yaitu

insisi pada ginjal untuk mengangkat batu atau nefrektomi jika ginjal

tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala

ginjal diangkat dengan pielolitotomi.

b. Penatalaksanaan Nefrolitotomi
Pada klien dengan gagal ginjal kronik yang disebabkan oleh adanya

obstruksi renal akibat Nefrolithiasis dapat dilakukan tindakan

Nefrolitotomi. Pembedahan ginjal (Nefrolitotomi) biasanya dilakukan

pemasangan drainase nefrostomi untuk mengeluarkan urine, batu atau

cairan yang tertumpuk di dalam pelvis ginjal setelah pembedahan.

(Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa Kuncara, H.Y., 2001:1415)

Penatalaksanaan pada klien dengan Nefrolitotomi, yaitu :

1) Mempertahankan bersihan jalan nafas dan pola pernafasan

2) Meredakan rasa nyeri dengan penggunaan obat analgetik yang

adekuat

3) Memperlancar eliminasi urine dan drainage (nefrostomi) sebagai

berikut :

a) Kaji kemungkinan timbulnya komplikasi seperti

perdarahan pada lokasi nefrostomi, pembentukan fistula dan

infeksi.

b) Pastikan drainase tidak tersumbat pada selang

nefrostomi atau kateter. (Obstruksi akan menimbulkan rasa

nyeri, trauma, tekanan, infeksi serta regangan pada garis jahitan)

c) Jika selang tercabut, laporkan segera kepada dokter.

(Dokter bedah harus segera mengembalikan selang tersebut pada

tempatnya agar luka nefrostomi tidak berkontraksi)

d) Selang nefrostomi tidak boleh diklem, karena

perbuatan ini dapat menimbulkan pielonefritis.


e) Selang nefrostomi tidak boleh diirigasi (irigasi akan

dilakukan oleh dokter bedah jika diperlukan).

f) Anjurkan asupan cairan jika untuk meningkatkan

pembilasan ginjal dan selang secara alami jika tidak ada kontra

indikasi.

g) Ukur volume urine yang mengalir keluar dari selang.

Jika pada kedua ginjal dipasang selang drainase, volume urine

yang keluar masing-masing selang harus diukur secara terpisah

4) Memantau dan menangani kemungkinan komplikasi

a)Perdarahan

Mengamati adanya komplikasi, memberikan cairan infus dan

komponen darah sesuai resep medik, memantau tanda vital dan

tingkat kesadaran, keadaan kulit dan sistem drainase urine serta

luka insisi operatif.

b)Pneumonia

Mengamati tanda-tanda dini pneumonia yaitu febris,

peningkatan frekuensi jantung serta pernafasan. Cegah

pneumonia dengan penggunaan spirometer insentif, kontrol

nyeri yang adekuat dan ambulasi dini.

c)Pencegahan infeksi

Menggunakan prosedur aseptik pada saat mengganti balutan,

merawat kateter , selang drainase lainnya. Mendeteksi adanya

tanda-tanda inflamasi yang berupa kemerahan, drainase sekret,


panas dan nyeri. Memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi

sesuai program terapi.

d)Pencegahan gangguan keseimbangan cairan

Kehilangan cairan dan kelebihan cairan diatasi dengan

pemberian cairan yang adekuat.

c. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi

ginjal dan homeostasis selama mungkin. Seluruh faktor yang berperan

pada gagal ginjal tahap akhir dan faktor yang dapat dipulihkan

diidentifikasi dan ditangani. Dalam penatalaksanaan dapat

dikelompokkan menjadi :

1) Penatalaksanaan Konservatif

a). Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan

Menurut Moore, C.M., alih bahasa : Oswari, L.D.,

(1997:212), pengaturan diet penting sekali pada pengobatan

gagal ginjal kronik. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah

untuk menurunkan produksi sampah yang harus dieksresikan

oleh ginjal dan menghindari ketidakseimbangan cairan dan

elektrolit.

Pemasukan cairan pada klien dengan gagal ginjal terbatas

jumlahnya sehingga kenaikan berat badan tidak lebih dari 0,45

kg/hari. Bila ada oliguria, cairan yang diperbolehkan biasanya

400-500 ml (untuk menghitung kehilangan rutin) ditambah


volume yang hilang lainnya seperti urine, diare, dan muntah

selama 24 jam terakhir.

Klien dengan gagal ginjal harus membatasi pemasukan

protein menjadi 0,6 gr/kg BB dari berat yang diinginkan setiap

harinya. Protein sedikitnya harus mengandung 75 % nilai

biologi tinggi, karena protein nilai biologi tinggi mengandung

lebih banyk asam amino essensial daripada non essensial.

Protein nilai biologi tinggi terutama dijumpai pada telur, daging,

ayam dan ikan. Dengan membatasi jumlah protein total dan

asam amino non essensial dapat menurunkan jumlah nitrogen

yang harus diekskresikan sebagai urea. Tambahan karbohidrat

dapat diberikan juga untuk mencegah pemecahan protein tubuh.

Diet seperti ini harus diberi tambahan vitamin B kompleks,

piridoksin dan asam askorbat.

Jumlah natrium yang dianjurkan adalah 40 sampai 90

mEq/hari(1 sampai 2 g natrium), tetapi asupan natrium

maksimum harus ditentukan secara tersendiri untuk tiap

penderita agar hidrasi yang baik dapat dipertahankan. (Price,

S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., 1995:863)

b). Pencegahan dan pengobatan komplikasi

Menurut Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa :

Kuncara, H.Y., dkk, (2001:1450) komplikasi potensial gagal


ginjal kronis yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam

perawatan mencakup :

(1). Hiperkalemia

Biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang

adekuat disertai pengambilan kalium dan pemantauan

yang cermat terhadap kandungan kalium pada seluruh

medikasi oral maupun intravena. Pasien diharuskan diet

rendah kalium.

(2). Hipertensi

Biasanya hipertensi dapat dikontrol secara efektif

dengan pembatasan natrium dan cairan, serta melalui

ultrafiltrasi bila penderita menjalani hemodialisis.

Hipertensi dapat ditangani juga dengan berbagai

medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskuler.

Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner juga

memerlukan penanganan pembatasan cairan, diet rendah

natrium, diuretik, agen inotropik, seperti digitalis atau

dobutamine, dan dialisis.

(3). Asidosis Metabolik

Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya

tanpa gejala dan tidak memerlukan penanganan; namun

demikian, suplemen natrium karbonat atau dialisis

mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis jika


kondisi ini menimbulkan gejala. Bentuk pengobatan yang

paling logis adalah dialisis.

(4). Anemia

Oleh karena penyebab utama pada gagal ginjal

kronik (GGK) tampaknya berupa penurunan sekresi

eritropoetin oleh ginjal yang sakit, maka pengobatan yang

ideal adalah penggantian hormon ini. Selain ini juga

dilakukan pengobatan untuk anemia uremik adalah

dengan memperkecil kehilangan darah, pemberian

vitamin, androgen, dan transfusi darah.

Biasanya multivitamin dan asam folat diberikan setiap

hari oleh karena vitamin yang larut dalam air habis selama

proses dialisis. Besi peroral atau komplek besi dapat

diberikan parenteral, oleh karena dapat terjadi kekurangan

besi akibat kehilangan darah dan besi yang berikatan

dengan antasid. Transfusi darah dapat diberikan pada

pasien dialisis baik untuk alasan pengobatan maupun

persiapan sebelum transplantasi.

Anemia pada GGK dapat ditangani dengan epogen

(eritropoetin manusia rekombinan). Terapi epogen

diberikan untuk memperoleh nilai hematokrit sebesar 33

% sampai 38 % yang biasanya memulihkan gejala anemia.

Dialisis biasanya dimulai ketika pasien tidak mampu


mempertahankan gaya hidup normal dengan penanganan

konservatif.

(5). Abnormalitas neurologi

Pasien dilindungi dari cedera dengan menempatkan

pembatas tempat tidur. Awitan kejang dicatat dalam hal

tipe, durasi dan efek umum terhadap pasien. Diazepam

intravena atau penitoin diberikan untuk mengendalikan

kejang.

(6). Osteodistrofi ginjal

Salah satu tindakan terpenting untuk mencegah

timbulnya hiperparatiroidisme sekunder dan segala

akibatnya adalah diet rendah posfat dengan pemberian gel

yang dapat mengikat posfat dalam usus. Diet rendah

protein biasanya mengandung rendah posfat. Obat yang

sering digunakan sebagai pengikat posfat adalah gel

antasida alumunium (amphojel dan basojel). Diberikan

dalam bentuk tablet atau cairan. Antasid yang

mengandung magnesium jangan diberikan.

Demineralisasi tulang yang berat, hiperkalsemia atau

pruritus yang sulit diatasi merupakan indikasi

paratiroidektomi. Bila lesi yang menyolok adalah

osteomalasia, maka ahli nefrologi akan mulai menjalankan

terapi vitamin D dengan hati-hati. Pengobatan ini dapat


membahayakan, bukan saja absorpsi kalsium akan

semakin meningkat, tetapi juga dapat mengakibatkan

kalsifikasi progresif jaringan lunak apabila resorpsi tulang

dan hiperposfatemia terus berlangsung tanpa

ditanggulangi.

Metode lain yang digunakan untuk mencegah

osteodistrofi ginjal antara lain meningkatkan asupan

kalsium 1,2 –1,5 gram per hari dalam diet atau dengan

kalsium tambahan (hanya setelah kadar posfat serum

diturunkan sampai keadaan normal), dan mempertahankan

konsentrasi kalsium dalam dialisat antara 6,5-7,0 mEq/L.

2) Dialisis dan transplantasi ginjal

Dialisis dan transplantasi ginjal dilakukan pada gagal ginjal

stadium akhir. Dialisis digunakan untuk mempertahankan penderita

dalam keadaan klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal.

Dialisis ini dilakukan dengan mengalirkan darah kedalam suatu

tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari 2 kompartemen yang

terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan ke kompartemen

darah yang dibatasi oleh selaput semi permiabel buatan dengan

dekompartemen dialisat. Kompartemen dialisat dialiri cairan dialisis

yang bebas pirogen, berisi larutan dengan komposisi elektrolit mirip

serum normal dan tidak mengandung sisa metabolisme nitrogen.


Cairan dialisis dan darah yang terpisah akan mengalami perubahan

konsentrasi karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi tertinggi

ke arah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut

sama di kedua kompartemen (difusi).

Transpantasi ginjal merupakan pilihan terakhir bagi penderita

gagal ginjal kronis. Transplantasi ini menanamkan ginjal dari donor

hidup atau kadaver manusia ke resipien yang mengalami gagal

ginjal tahap akhir. Ginjal transplan dari donor hidup yang sesuai dan

cocok bagi pasien akan lebih baik daripada transplan dari donor

kadaver. Nefrektomi terhadap ginjal asli pasien dilakukan untuk

transplantasi. Ginjal transplan diletakkan di fosa iliaka anterior

sampai krista iliaka. Ureter dari ginjal transplan ditanamkan ke

kandung kemih atau di anastomosiskan ke ureter resipien.

6. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Suyono, S., dkk, (2001:430) untuk memperkuat diagnosis

diperlukan pemeriksaan penunjang, diantaranya :

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemerikasaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya

gagal ginjal kronik, menetapkan ada tidaknya kegawatan, menetukan

derajat gagal ginjal kronik, menetapkan gangguan sistem, dan

membantu menetapkan etiologi. Dalam menetapkan ada atau tidaknya

gagal ginjal, tidak semua faal ginjal perlu diuji. Untuk keperluan praktis
yang paling lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus (LFG) atau

Glomerulo Filtration Rate (GFR).

b. Pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG)

Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda

perikarditis (misalnya voltase rendah), aritmia, dan gangguan elektrolit

(hiperkalemia, hipokalsemia).

c. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan

parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises, ureter proksimal,

kandung kemih serta prostat. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari

adanya faktor yang reversible seperti obstruksi oleh karena batu atau

massa tumor, juga untuk menilai apakah proses sudah lanjut (ginjal

yang lisut). USG ini sering dipakai karena merupakan tindakan yang

non-invasif dan tidak memerlukan persiapan khusus.

d. Foto Polos Abdomen

Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi dapat memperburuk fungsi

ginjal. Menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau

obstruksi lain.

e. Pemeriksaan Pielografi Retrogad

Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversible.

f. Pemeriksaan Foto Dada

Dapat terlihat tanda-tanda bendungan paru akibat penumpukan

cairan (fluid overload), efusi pleura, kardiomegali dan efusi perikardial.


7. Dampak Terhadap Sistem Tubuh

a. Sistem Pernafasan

1) Nyeri dada dan sesak nafas akibat adanya penimbunan cairan di

paru-paru (edema paru).

2) Pada klien dengan Gagal Ginjal Kronis ec Nefrolithiasis Bilateral

dan Post Nefrolitotomi Kiri akan mengalami asidosis metabolik

ditandai dengan menurunnya HCO3 dan pH sebagai akibat dari

ketidakmampuan ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang

berlebihan, akibatnya pernafasan menjadi cepat dan dangkal

(kusmaul) sebagai kompensasi tubuh mengeluarkan kelebihan ion H+

b. Sistem Kardiovaskuler

1) Anemia, dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

a) Berkurangnya produksi eritropoetin, sehingga rangsangan

eritropoesis pada sumsum tulang menurun.

b) Hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam

suasana uremia toksik.

c) Defisiensi besi, asam folat, dan lain-lain, akibat nafsu makan

yang berkurang.

d) Adanya perdarahan. Perdarahan yang paling sering adalah

pada saluran cerna dan kulit serta akibat adanya hematuri.

2) Gangguan fungsi leukosit


Gangguan ini mengakibatkan fagositosis dan kemotaksis berkurang,

fungsi limfosit menurun sehingga imunitas tubuh menurun .

3) Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan

aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron

4) Gangguan irama jantung akibat arterosklerosis dini, gangguan

elektrolit dan kalsifikasi metastatik

c. Sistem Endokrin

Pada klien dengan gagal ginjal kronis ec neprolithiasis bilateral dan

post nefrolitotomi kiri akan mengalami gangguan seksual: libido,

fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi testosteron

dan spermatogenesis yang menurun. Pada wanita timbul gangguan

menstruasi, gangguan ovulasi sampai amenorhea.

d. Sistem Gastrointestinal

1) Anoreksia, nausea dan vomitus, yang berhubungan dengan gangguan

metabolisme protein di dalam usus. Keadaan gagal ginjal kronik

mengakibatkan penurunan fungsi ginjal dalam hal mengeluarkan

sisa-sisa metabolisme tubuh yang salah satunya adalah ureum.

Peningkatan kadar ureum dalam darah akan akan mengiritasi

mukosa lambung dan merangsang peningkatan asam lambung

(HCL) akibatnya akan terjadi mual.

2) Faktor uremik disebabkan oleh ureum yang berlebihan dalam tubuh.

Ureum yang meningkat pada air liur diubah oleh bakteri di mulut

menjadi amonia sehingga nafas berbau amonia dan perubahan


membran mukosa mulut berupa lidah menjadi kotor atau timbulnya

lesi pada mukosa mulut. Sedangkan ureum yang meningkat dalam

usus dapat menyebabkan perubahan mukosa usus yang

menimbulkan kembung pada perut.

3) Gagal ginjal akan menyebabkan gangguan pada metabolisme

vitamin D, sehingga akan terjadi gangguan pada absorpsi kalsium di

usus.

e. Sistem Integumen

1) Kulit berwarna pucat akibat adanya anemia dan kekuning-kuningan

akibat urokrom.

2) Adanya rasa gatal yang parah (pruritus) akibat dari butiran uremik,

suatu penumpukan kristal urea di kulit (urea fross).

3) Adanya gatal-gatal di kulit menyebabkan klien ingin menggaruk dan

akibatnya akan timbul bekas-bekas garukan di kulit.

f. Sistem Persarafan

Pada klien dengan gagal ginjal kronis ec neprolithiasis bilateral dan

post nefrolitotomi kiri akan mengalami peningkatan status uremik yang

bisa mengakibatkan perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu

berkonsentrasi dan adanya kedutan otot dan kejang disebabkan karena

kadar kalsium yang menurun. Pada tahap lanjut bisa terjadi nepropati

perifer. Dengan dilakukannya nefrolitotomi, mengakibatkan terputusnya

kontinuitas jaringan sehingga akan merangsang pengeluaran vasoaktif

amin (bradikinin, serotonin dan histamine) yang akan ditangkap oleh


nocyreceptor disampaikan ke dorsal horn di medulla spinalis melalui

serabut saraf delta A dan C, dilanjutkan ke traktus spinothalamikus,

thalamus dan ke kortek serebri dipersepsikan menjadi nyeri.

g. Sistem Reproduksi

Pada sistem reproduksi cenderung ditemukan adanya disfungsi

seksual berupa penurunan libido.

h. Sistem Muskuloskeletal

Pada klien dengan gagal ginjal kronis ec neprolithiasis bilateral dan

post nefrolitotomi kiri dapat mengakibatkan penyakit tulang uremik

yang sering disebut sebagai osteodistrofi ginjal, disebabkan karena

adanya perubahan kompleks kalsium, fosfat dan keseimbangan

parathormon.

Gagal ginjal kronik bisa menyebabkan adanya gangguan pada

metabolisme Vitamin D. Ginjal berfungsi untuk mengubah vitamin D

prohormon menjadi bentuk aktif, vitamin D bentuk aktif bukan hanya

mengatur absorpsi kalsium oleh alat pencernaan tetapi juga

penyimpanan pada matriks tulang. Sehingga pada klien gagal ginjal

kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri akan

mengalami penurunan kadar kalsium dalam tulang yang bisa

mengakibatkan osteoporosis.

i. Sistem Perkemihan
1) Gangguan klirens renal akibat

penurunan jumlah glomeruli yang berfungsi sehingga kadar urea

darah meningkat.

2) Ketidakmampuan ginjal dalam

mengkonsentrasikan atau mengencerkan urine secara normal

menyebabkan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit serta retensi

cairan dan natrium sehingga terjadi edema.

(Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara, H.Y., dkk, 2001:1449 dan
Suyono, S., dkk, 2001:428)

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

“Proses keperawatan merupakan suatu modalitas pemecahan masalah yang

didasari oleh metode ilmiah, yang memerlukan pemeriksaan secara sistematis

serta identifikasi masalah dengan pengembangan strategi untuk memberikan hasil

yang diinginkan”. (Hidayat, A. Azis., 2001:8)

1. Pengkajian

“Pengkajian merupakan proses pendekatan sistematis untuk

mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui masalah dan

kebutuhan perawatan pada seorang klien”. (Hidayat, A. Azis., 2001:12).

Pengkajian dapat memudahkan untuk menentukan perencanaan

perawatan pada klien dengan tepat, cepat, dan akurat. Adapun langkah-

langkah pengkajian adalah sebagai berikut :

a. Pengumpulan Data
1) Data Biografi

Gagal ginjal kronik e.c Neprolithiasis merupakan penyakit

saluran perkemihan yang umumnya terjadi pada laki-laki walaupun

tidak menutup kemungkinan wanita dapat mengalaminya karena

kecenderungan diet ketat untuk menjaga berat badan ditunjang

dengan asupan air yang kurang. Usia 30-50 tahun menjadi faktor yang

meningkatkan terjadinya neprolithiasis. Penyakit ini ditemukan juga

pada pekerja-pekerja yang mempunyai pekerjaannya banyak duduk

dan kurang aktifitas. (Purnomo, Basuki.B., 2003 : 57)

2) Riwayat

Kesehatan

Riwayat Kesehatan Sekarang

(1). Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit

Meliputi riwayat perjalanan penyakit sekarang dari mulai

timbul gejala yang mengakibatkan klien masuk rumah sakit,

tindakan yang dilakukan pada keluhan tersebut sampai klien

datang ke rumah sakit serta pengobatan yang telah dilakukan.

Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal

ginjal kronik e.c neprolithiasis pada awalnya mengeluh

adanya perubahan pada pola berkemih seperti kelemahan atau

penghentian urine, kesulitan untuk memulai dan mengakhiri

proses berkemih, sering berkemih terutama malam hari, nyeri

terbakar saat berkemih, darah dalam urine, tidak mampu


berkemih, dan disertai dengan keluhan bengkak-

bengkak/edema pada ekstremitas, dan perut kembung. (Gale,

Danielle, 1999:153)

(2). Keluhan Utama saat pengkajian

Menggambarkan keluhan yang dirasakan oleh klien pada

saat dikaji yang dikembangkan dengan metode PQRST. Pada

klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal

kronik e.c neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri

pada umumnya mengeluh nyeri pada daerah yang diinsisi jika

dilakukan nefrostomi, neprolitotomi atau nefrectomi, nyeri

tersebut dirasakan bertambah apabila drain atau luka tertekan.

Terdapat pula keluhan merasa mual akibat dari peningkatan

status uremi klien, mual dirasakan klien secara terus menerus,

bertambah jika klien makan ataupun minum, dan berkurang

jika klien dalam keadaan istirahat.

Riwayat Kesehatan dahulu

Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan

atau memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita klien

pada saat ini termasuk faktor predisposisi penyakit dan kebiasaan-

kebiasaan klien. Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan :

gagal ginjal kronis e.c neprolithiasis perlu ditanyakan riwayat

penyakit ginjal sebelumnya seperti infeksi dan obstruksi saluran

kemih, BAK keluar batu, riwayat penggunaan obat-obatan


nefrotoksik, dan riwayat diet pada klien. Menurut Purnomo,

Basuki.B., (2003 : 57), bahwa angka kejadian neprolithiasis

dipengaruhi oleh faktor diet banyak purin, oksalat dan kalsium

serta asupan air yang kurang dan tingginya kadar mineral kalsium

pada air yang dikonsumsi.

Riwayat Kesehatan Keluarga

Perlu dikaji riwayat kesehatan keluarga yang dapat

mempengaruhi timbulnya penyakit gagal ginjal kronik dan

neprolithiasis seperti hipertensi, adanya riwayat neprolithiasis, dan

diabetes mellitus.

3) Pola Aktivitas

Sehari-hari

Kemungkinan klien akan mengalami gangguan dalam pemenuhan

aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti :

a) Nutrisi

Ditemukan penurunan nafsu makan berhubungan dengan

perasaan mual dan stomatitis, asupan nutrisi yang kurang,

ketidaksesuaian dengan diet yang dibutuhkan oleh klien

tergantung dari pengetahuan dan kedisiplinan klien.

b) Eliminasi

Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan e.c

neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri memiliki


keterbatasan aktivitas dimana menyebabkan menurunnya

peristaltik usus sehingga timbul konstipasi, disertai dengan adanya

perubahan pola berkemih bila terpasang drainase nefrostomi.

c) Istirahat Tidur

Klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal

kronik e.c neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri

cenderung mengalami ganguan istirahat tidur sehubungan dengan

adanya kecemasan terhadap penyakitnya, peningkatan status

uremik yang menyebabkan pruritus, ataupun karena adanya rasa

nyeri yang berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

akibat nefrolitotomi, nefrostomi atau tindakan bedah lainnya.

d) Personal Hygiene

Klien dengan gagal ginjal kronik e.c neprolithiasis bilateral

dan post nefrolitotomi kiri cenderung pemenuhan kebutuhan

personal hygiene seperti kebersihan kulit, gigi, rambut dan kuku

terganggu karena adanya keterbatasan gerak, kelelahan atau

karena rasa nyeri yang dirasakan oleh klien.

e) Aktifitas Sehari-hari

Keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan sehari - hari

mengakibatkan klien dalam beraktivitas membutuhkan bantuan

dari keluarga.

4) Pemeriksaan

Fisik
Menurut Denison, R.D., (1996:480) dan Doengoes, M., alih

bahasa : Karyasa, L.M., (1999:626) bahwa pada pemeriksaan fisik

klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri akan ditemukan hal-hal sebagai berikut :

a). Sistem Perkemihan

Klien dengan gagal ginjal kronis akibat neprolithiasis bilateral

dan post nefrolitotomi kiri cenderung akan ditemukan adanya

edema anasarka dan keseimbangan cairan (balance) positif, nyeri

tekan dan teraba pembesaran pada saat palpasi ginjal, nyeri ketuk

saat perkusi ginjal, perubahan pola BAK, oliguri atau poliuri, dan

pada tahap lanjut dapat ditemukan adanya bunyi bruits sign pada

percabangan arteri renalis bila terjadi gangguan vaskularisasi.

b). Sistem Pernafasan

Pada sistem pernafasan cenderung ditemukan adanya

pernafasan yang cepat dan dangkal (kussmaul), irama nafas yang

tidak teratur, frekuensi nafas yang meningkat diatas normal,

adanya retraksi interkostalis, dan epigastrium, sebagai upaya

untuk mengeluarkan ion H+ akibat dari asidosis metabolik,

pergerakan dada yang tidak simetris, vokal fremitus cenderung

tidak sama getarannya antar lobus paru, terdengar suara dullness

saat perkusi paru sebagai akibat dari adanya edema paru, dan pada

auskultasi paru cenderung terdengar adanya bunyi rales. Pada

tahap lanjut akan ditemukan adanya sianosis perifer ataupun


sentral sebagai akibat dari ketidakadekuatan difusi oksigen di

membran alveolar karena adanya edema paru.

c). Sistem Kardiovaskuler

Pada sistem kardiovaskuler cenderung ditemukan adanya

anemis pada konjungtiva palpebra, denyut nadi yang menurun

sebagai akibat dari adanya edema anasarka, tekanan darah

meningkat, CRT (Cafilari Refilling Time) menurun, terdapat

pelebaran pulsasi jantung, dan irama jantung cenderung terdengar

irregular yang dapat diketahui dari gambaran EKG (Elektro

Kardiografi).

d). Sistem Persyarafan

Pada sistem persyarafan cenderung ditemukan adanya

penurunan tingkat kesadaran akibat dari peningkatan kadar ureum

dan kreatinin dalam plasma darah, dan pada tahap lanjut

cenderung terjadi koma uremia. Selain itu juga dapat ditemukan

adanya penyakit hipertensi yang beresiko terjadinya penyakit

serebrovaskuler berupa stroke TIA (Transient Ischemic Attack).

e). Sistem Pencernaan

Pada sistem pencernaan cenderung ditemukan adanya mual,

muntah, kembung dan diare serta perubahan mukosa mulut

sebagai akibat dari tingginya kadar ureum dan kreatinin dalam

darah atau karena tidak adekuatnya oksigen yang masuk ke

saluran cerna yang akan merangsang refleks vasovagal berupa


peningkatan asam lambung (HCL), atau bahkan konstipasi

sebagai akibat hal tersebut diatas, motilitas usus akan menurun.

Penurunan berat badan (malnutrisi) atau peningkatan berat badan

dengan cepat (edema)

f). Sistem Integumen

Pada sistem integumen cenderung ditemukan adanya rasa

gatal sebagai akibat dari uremi fross, kulit tampak bersisik,

kelembaban kulit menurun, turgor kulit cenderung menurun

(kembali > 3 detik). Pada tahap lanjut cenderung akan terjadi

ketidakseimbangan termoregulasi tubuh dan akral teraba dingin.

g). Sistem Reproduksi

Pada sistem reproduksi cenderung ditemukan adanya

disfungsi seksual berupa penurunan libido dan impotensi.

5) Data

Psikologis

Klien dengan gagal ginjal kronik akibat neprolithiasis bilateral

dan post nefrolitotomi kiri cenderung ditemukan kecemasan yang

meningkat hal ini diakibatkan karena proses penyakit yang lama,

kurangnya pengetahuan tentang prosedur tindakan yang akan

dilakukan.

6) Data Sosial

Klien dengan gagal ginjal kronis akibat neprolithiasis cenderung

menarik diri dari interaksi sosial dalam hubungan dengan keluarga,


perawat, dokter serta tim kesehatan lain sehubungan dengan adanya

penurunan fungsi seksual, proses penyakit yang lama, perasaan

negatif tentang tubuh dan jika sudah terjadi komplikasi pada tahap

lanjut.

7) Data Spiritual

Keyakinan klien tentang kesembuhannya dihubungkan dengan

lamanya penyakit dan persepsi klien tentang penyakitnya serta

ketaatan pada agama yang dianut klien. Aktivitas spiritual klien

selama menjalani perawatan di rumah sakit tergantung dari pendorong

yang memotivasi bagi kesembuhan klien.

8) Data Seksual

Klien dengan gagal ginjal kronik akibat neprolithiasis bilateral

dan post nefrolitotomi kiri cenderung mengalami penurunan fungsi

seksual seperti penurunan libido.

9) Pemeriksaan

Diagnostik

a) Pemeriksaan Laboratorium

(1) Urine

(a) Volume biasanya oliguri dan anuri

(b) Warna urine keruh mungkin disebabkan oleh pus,

bakteri, lemak, partikel koloid dan fosfat, sedimen kotor

atau kecoklatan menunjukkan adanya darah


(c) Berat jenis menurun, kurang dari 1,015 (menetap pada

1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat.

(d) Osmolalitas menurun kurang dari 350 mOsm/kg,

menunjukkan kerusakan tubular.

(e) Klirens kreatinin menurun

(f) Natrium meningkat karena ginjal tidak mampu

mereabsorpsi natrium.

(g) Protein meningkat

(2) Darah

(a) Serum kreatinin meningkat.

(b) Blood Urea Nitrogen meningkat.

(c) Kadar kalium meningkat sehubungan dengan adanya

retensi sesuai dengan perpindahan selular (asidosis) atau

pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).

(d) Hematokrit dan Hemoglobin menurun

(e) Natrium, kalsium menurun

(f) Magnesium / posfat meningkat

(g) Protein (khususnya albumin menurun)

(h) pH menurun pada keadaan asidosis metabolik (kurang

dari 7,2).

(i) Asam posfatase akan meningkat.

b) Nilai GFR menurun kurang dari 50 lt/menit


c) Pyelogram Retrograd menunjukan abnormalitas pelvis ginjal dan

ureter.

d) Arteriogram mengidentifikasi adanya massa.

e) Ultrasonogarafi ginjal dan vesika urinaria menentukan ukuran

ginjal, adanya massa, obstruksi pada saluran perkemihan bagian

atas.

f) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan

elektrolit dan asam basa. Yaitu :

(1) Hyperkalemia : gelombang T naik, kompleks QRS terbuka,

PR diperpanjang.

(2) Hypokalemia : Gelombang T mendatar/terbalik, ST turun

dan QT diperpanjang.

(3) Hiperkalsemia : gelombang QT pendek, dan ST pendek.

(4) Hipokalsemia : gelombang QT di perpanjang, ST

diperpanjang.

(5) Alkalosis : gelombang T mendatar.

(6) Asidosis : gelombang T naik.

b. Analisa Data

Menurut Hidayat, A. Azis., (2001:8) analisa data merupakan suatu

proses dalam pengkajian dimana data yang menyimpang dikelompokkan

kemudian dianalisa dan diinterpretasikan sehingga diperoleh masalah-

masalah keperawatan yang klien perlukan.


c. Diagnosa Keperawatan

“Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang,

keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau

proses kehidupan yang aktual atau potensial” (NANDA,1990).

“Diagnosa Keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang,

keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau

proses kehidupan yang aktual atau potensial “(Hidayat, A. Azis.,

2001:12).

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan

gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik ec neprolithiasis

bilateral dan post nefrolitotomi kiri menurut Carpenito, L. J., alih bahasa :

Ester, M., (1995:216), Gale,Danielle, (1999:154) serta Smeltzer, S. C.,

dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, (2001:1451), meliputi :

1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan adanya

obstruksi.

2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan anoreksia, mual, muntah, stomatitis, Peruba-

han sensasi rasa, dan pembatasan diet.

3) Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan

elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan.
4) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.

5) Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan

libido.

6) Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi

mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine.

7) Resiko gangguan integritas kulit : pruritus yang berhubungan

dengan fosfat kalsium atau penumpukan ureum pada kulit.

8) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi

metabolik, anemia

9) Resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan

aktivitas, efek obat-obatan.

10) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan,

hubungan sosial, fungsi peran, support sistem dan konsep diri.

11) Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan

kateter / nefrostomi.

2. Perencanaan

“Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dan proses

keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapan pemecahan masalah

dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien” .

(Hidayat, A. Azis., 2001:12)


Menurut Carpenito, L.J., alih bahasa : Ester, M., (1995:216), Gale,

Danielle, (1999:154), serta Smeltzer, S,C.,dan Bare, B.G., alih bahasa :

Kuncara, H.Y., dkk, (2001:1451), perencanaan pada klien dengan gangguan

sistem perkemihan : gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri adalah sebagai berikut :

a. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan

adanya obstruksi.

Tujuan : rasa nyaman klien terpenuhi.

Kriteria Hasil :

1) Keluhan nyeri berkurang.

2) Klien tidak meringis

3) Skala nyeri berkurang atau hilang.

4) Klien mampu memilih koping yang konstruktif untuk mengatasi

nyerinya.

Intervensi Rasional
1) Observasi tanda-tanda vital 1) Untuk mengontrol kemajuan atau
dan intensitas nyeri setiap 8 jam. penyimpangan dari hasil yang
2) Berikan penjelasan tentang diharapkan.
penyebab nyeri 2) Menghindari persepsi yang salah dari
penyebab nyeri
3) Bantu klien untuk 3) Posisi yang nyaman akan menimbulkan
mendapatkan posisi yang nyaman. perasaan relaks.
4) Pertahankan kepatenan posisi 4) Posisi yang tidak tepat menimbulkan
drain gesekan pada luka yang akan
menstimulasi reseptor nyeri
5) Anjurkan dan bimbing klien
5) Dengan teknik relaksasi/nafas dalam
untuk melakukan teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan otot
yaitu nafas dalam. sehingga stimulus nyeri berkurang.
6) Lakukan teknik distraksi saat 6) Teknik distraksi dapat mengalihkan
nyeri dirasakan klien. perhatian klien terhadap nyeri.
Intervensi Rasional
7) Ciptakan lingkungan yang 7) Lingkungan yang nyaman dapat
nyaman. mengurangi stressor terhadap nyeri.
8) Mengurangi dan mengalihkan stressor
8) Berikan kesempatan pada nyeri
klien untuk berinteraksi. 9) Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri
9) Kolaborasi untuk pemberian yang dirasakan klien (memblokade
obat analgetik. reseptor saraf nyeri)

b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berubungan dengan

anoreksia, mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi rasa, dan

pembatasan diet.

Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.

Kriteria Hasil :

1) Peningkatan nafsu makan

2) Klien mengungkapkan secara verbal mual berkurang atau hilang

3) Berat badan ideal sesuai umur dan tinggi badan

4) Klien mengerti tentang pentingnya nutrisi

Intervensi Rasional
1) Kaji dan catat pemasukan diet 1) Membantu mengidentifikasi defisiensi
dan kebutuhan diet
2) Kaji adanya masukan protein yang 2) Masukan protein yang tidak adekuat
tidak adekuat dapat menyebabkan penurunan albumin
dan protein lain, pembentukan edema
dan perlambatan penyembuhan
3) Menyediakan makanan kesukaan 3) Mendorong peningkatan masukan diet
pasien dalam batas-batas diet
4) Anjurkan klien makan-makanan 4) Mengurangi makanan dan protein yang
tinggi kalori, rendah protein, dibatasi dan menyediakan kalori untuk
rendah natrium diantara waktu energi, membagi protein untuk
makan pertumbuhan dan penyembuhan jaringan
5) Meminimalkan anoreksia dan mual
5) Berikan makanan sedikit tapi sehubungan dengan status uremik dan
sering. menurunnya peristaltik
6) Perawatan mulut membantu
6) Tawarkan perawatan mulut menyegarkan rasa mulut yang sering
tidak nyaman pada uremia
7) Meningkatkan pemahaman pasien dan
Intervensi Rasional
7) Jelaskan pada keluarga dan pasien keluarga tentang hubungan antara diet
mengenai pembatasan diet dalam ureum, kreatinin dengan penyakit ginjal
hubungan dengan penyakit ginjal
dan peningkatan urea, kreatinin 8) Untuk memantau status cairan dan
8) Timbang berat badan klien setiap nutrisi
hari 9) Memberikan nutrien yang cukup untuk
9) Kolaborasi untuk pemberian diet memperbaiki energi dan mengurangi
yang sesuai katabolisme protein yang memperberat
kerja ginjal
10) Mengggantikan kehilangan vitamin
10) Kolaborasi untuk terapi pemberian karena malnutrisi/anemia dan
multivitamin dan penghilang mual mengurangi rasa mual.

c. Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan

elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan

cairan.

Tujuan: Mempertahankan kardiak output adekuat

Kriteria Hasil :

1) Tekanan darah dalam batas normal

2) Nadi perifer kuat

3) Denyut jantung dan irama dalam batas normal

Intervensi Rasional
1) Monitor tanda-tanda vital. 1) Tacikardi dan hipertensi
terjadi karena kegagalan ginjal
mengeluarkan urin, pengawasan
diperlukan untuk mengkaji volume
intravaskuler khususnya pada pasien
dengan fungi jantung buruk
2) Observasi EKG untuk 2) Perubahan pada fungsi
perubahan irama. elektromekanis dapat menjadi bukti
pada respon terhadap berlanjutnya
gagal ginjal dan ketidakseimbangan
elektrolit.
3) Pantau terjadinya nadi lambat, 3) Penggunaan obat (contoh
kemerahan, mual, muntah, dan antasida) mengandung magnesium
penurunan tingkat kesadaran. dapat mengakibatkan
hipermagnesemia, potensial disfungsi
neuromuskular dan resiko henti
4) Selidiki adanya kram otot, nafas/jantung.
kebas/kesemutan pada jari, 4) Neuromuskular indikator
kejang otot, dan hiperefleksia. hipokalemia yang dapat juga
Intervensi Rasional
mempengaruhi kontraktilitas dan
5) Pertahankan tirah baring atau fungsi jantung.
dorong istirahat adekuat. 5) Menurunkan konsumsi
6) Awasi pemeriksaan oksigen/kerja jantung.
laboratorium (kalium, kalsium, 6) Selama fase oliguri,
magnesium). hiperkalemia dapat terjadi tetapi
menjadi hipokalemia selama fase
diuretik, defisit kalium dapat berefek
7) Kolaborasi pemberian obat pada jantung.
sesuai indikasi. 7) Digunakan untuk
memperbaiki curah jantung dengan
meningkatkan kontraktilitas
8) Siapkan atau bantu dengan miokardia dan volume sekuncup.
dialisis sesuai keperluan. 8) Diindikasikan untuk
disritmia menetap, gagal jantung
progresif yang tidak responsif
terhadap terapi lain.

d. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.

Tujuan: Mempertahankan keseimbangan cairan

Kriteria Hasil :

1) Haluaran urine tepat dengan berat jenis dan laboratorium mendekati

normal

2) Berat badan stabil

3) Tanda vital dalam batas normal

4) Tidak ada edema

Intervensi Rasional
1) Kaji tanda-tanda vital 1) Tachikardi dan hipertensi terjadi
karena kegagalan ginjal untuk
mengeluarkan urine
2) Monitor dan catat pemasukan 2) Untuk menentukan fungsi ginjal
dan pengeluaran secara akurat dan kebutuhan penggantian cairan serta
penurunan resiko kelebihan cairan
3) Monitor berat jenis urine 3) Mengukur kemampuan ginjal untuk
mengkonsentrasikan urine
4) Evaluasi derajat edema (skala 4) Edema terjadi karena adanya
+1 s.d +4) perpindahan cairan serta jaringan rapuh
dan terdistensi oleh akumulasi cairan
5) Timbang berat badan setiap 5) Peningkatan BB > 0,5 Kg/hari
Intervensi Rasional
hari diduga adanya retensi cairan
6) Manajemen cairan diukur untuk
6) Berikan dan batasi cairan menggantikan cairan dari semua sumber
sesuai indikasi ditambah perkiraan kehilangan yang tak
tampak
7) Distensi abdomen / konstipasi dapat
7) Perhatikan distensi abdomen: mempe-ngaruhi kelancaran aliran
penurunan Bising usus,
perubahan, konsistensi faeces 8) Pemeriksaan laboratorium kimia
8) Kolaborasi dengan tim darah dapat mengetahui perkembangan
kesehatan lain dalam pemeriksaan kondisi klien terutama status
kimia darah (ureum, kreatinin, keseimbangan elektrolit
kalium dan natrium)

e. Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan libido

Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan perubahan seksualnya.

Kriteria Hasil :

1) Klien dapat menyebutkan penyebab

penurunan libido dan kerusakan fungsi seksual.

2) Klien dapat mendiskusikan perasaan dan

keprihatinan pasangan mengenai fungsi seksual.

3) Klien dapat mengungkapkan maksud untuk

mendiskusikan masalah dengan pasangan.

4) Klien dapat mengungkapkan pemahaman

terhadap perubahan seksualitas dan metode ekspresi seksual alternatif.

Intervensi Rasional
1) Ciptakan hubungan 1) Mengembangkan suasana yang
teurapeutik berdasarkan saling memungkinkan klien mengekspresikan
percaya dan saling perasaannya.
menghormati. 2) Memberikan lingkungan teurapeutik.
2) Beri jaminan mengenai
privasi dan percaya diri klien. 3) Memberikan informasi pada apa
3) Diskusikan pengetahuan rencana tersebut didasarkan.
umum klien mengenai 4) Meningkatkan pemahaman terhadap
seksualitas. alasan terjadinya penurunan fungsi seksual.
4) Diskusikan efek
pembedahan dan terapi 5) Memberikan ventilasi perasaan.
Intervensi Rasional
hormonal dan fungsi seksual.
5) Anjurkan klien untuk 6) Memberikan alternatif terhadap
mengutarakan rasa takutnya. munculnya tingkah laku seksual.
6) Diskusikan modifikasi yang 7) Meningkatkan ventilasi perasaan.
perlu dalam aktivitas seksual.
7) Anjurkan klien untuk
mengekspresikan rasa berduka
atau rasa marahnya mengenai 8) Mencegah persepsi bahwa ekspresi
perubahan tersebut. seksual tersebut telah berakhir.
8) Diskusikan bentuk alternatif 9) Meningkatkan koping dengan topik
dari ekspresi seksual. yang tidak mengenakkan.
9) Gunakan humor sesuai
kebutuhan untuk menghilangkan
ansietas dan/atau rasa malu.

f. Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi

mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine.

Tujuan : infeksi tidak terjadi.

Kriteria Hasil :

1) Luka dalam keadaan bersih.

2) Tidak adanya tanda maupun gejala infeksi.

3) Leukosit dalam batas normal (3800-

10.600/mm-3)

4) Tanda-tanda vital dalam batas normal.

Intervensi Rasional
1) Lakukan perawatan luka dengan 1) Untuk meminimalkan invasi
menggunakan teknik aseptik dan dari mikroorganisme.
antiseptik.
2) Hindari lingkungan dan luka 2) Kondisi yang lembab, kotor
dalam keadaan basah / kotor dan basah memungkinkan
menjadi perkembangbiakan
mikroorganisme
3) Informasikan kepada klien dan 3) Memberikan pengetahuan
keluarga tentang tanda dan gejala pada klien dan keluarga sehingga
terjadinya infeksi. klien dan keluarga dapat
mengetahui apabila terjadi
4) Pantau suhu tiap 8 jam sekali. infeksi.
4) Peningkatan suhu merupakan
salah satu indikator terjadinya
5) Pantau hasil pemeriksaan infeksi.
Intervensi Rasional
laboratorium terutama leukosit. 5) Merupakan salah satu tanda
6) Kolaborasi untuk pemberian terjadinya infeksi.
antibiotik. 6) Antibiotik dapat membunuh
mikroorganisme secara
7) Kolaborasi untuk pemeriksaan farmakologik.
urine (urine kultur). 7) Untuk mendeteksi kandungan
urine yang terinfeksi.

g. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit : pruritus berhubungan dengan

fosfat kalsium atau penumpukan ureum pada kulit

Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.

Kriteria Hasil:

1) Mempetahankan kulit utuh.

2) Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah

kerusakan/cedera kulit.

3) Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit.

Intervensi Rasional
1) Pantau masukan cairan dan 1) Mendeteksi adanya dehidrasi atau
hidrasi kulit serta membran mukosa, hidrasi berlebihan yang mempengaruhi
perhatikan perubahan warna, turgor, sirkulasi dan integritas jaringan pada
vaskular, perhatikan kemerahan, tingkat seluler.
ekskoriasi, ekimosis, purpura.
2) Ubah posisi dengan sering; 2) Menurunkan tekanan pada edema,
gerakan pasien dengan perlahan; jaringan dengan perfusi buruk untuk
beri bantalan pada tonjolan tulang . menurunkan iskemi. Peninggian
meningkatkan aliran balik stasis vena
terbatas/ pembentukan edema.
3) Beri perawatan kulit. Batasi 3) Soda kue, mandi dengan tepung
penggunaan sabun. menurunkan gatal dan mengurangi
pengeringan daripada sabun.
4) Berikan salep atau krim. 4) Lotion dan salep dapat
menghilangkan kulit kering, robekan
5) Pertahankan linen kering, bebas kulit.
keriput. 5) Menurunkan iritasi dermal dan
6) Anjurkan pasien menggunakan resiko kerusakan kulit.
kompres lembab dan dingin untuk 6) Menghilangkan ketidaknyamanan
memberikan tekanan (daripada dan menurunkan resiko cedera dermal.
garukan) pada area pruritus.
7) Pertahankan kuku pendek.
Intervensi Rasional
7) Mencegah agresifitas menggaruk
8) Anjurkan menggunakan yang dapat menyebabkan kerusakan
pakaian katun longgar. kulit.
8) Mencegah iritasi dermal langsung
dan meningkatkan evaporasi lembab
pada kulit.

h. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,

anemia.

Tujuan : Klien dapat berpartisipasi terhadap aktivitas yang diinginkan.

Kriteria Hasil :

1) Melaporkan perbaikan rasa berenergi.

Intervensi Rasional
1) Evaluasi laporan kelelahan, 1) Menentukan derajat
kesulitan menyelesaikan tugas. (berlanjutnya/perbaikan) dari efek
Perhatikan kemampuan ketidakmampuan
tidur/istirahat dengan tepat
2) Kaji kemampuan untuk 2) Mengidentifikasi
berpartisipasi pada aktivitas yang kebutuhan indi-vidual dan membantu
diinginkan/dibutuhkan pemilihan intervensi
3) Identifikasi faktor
stress/psikologis yang dapat 3) Mungkin mempunyai
memperberat efek akumulatif (sepanjang faktor
psikologis) yang dapat diturunkan bila
masalah dan takut diakui/diketahui
4) Rencanankan periode istirahat 4) Mencegah kelelahan
adekuat berlebihan dan menyimpan energi
untuk penyembuhan, regenerasi
5) Berikan bantuan dalam jaringan
aktivitas sehari-hari dan ambulasi 5) Mengubah energi
memungkinkan berlanjutnya aktivitas
yang dibutuhkan/normal, memberikan
6) Tingkatkan tingkat partisipasi keamanan pada pasien
sesuai toleransi pasien 6) Meningkatkan rasa
membaik/meningkatkan kesehatan
7) Kolaborasi : awasi kadar membatasi frustasi
elektrolit termasuk kalsium, 7) Ketidakseimbangan
magnesium dan kalium serta dpaat mengganggu fungsi
haemoglobin neuromoskular yang memerlukan
peningkatan penggunaan energi untuk
menyelesaikan tugas dan potensial
perasaan lelah
i. Resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas,

efek obat-obatan,

Tujuan : Konstipasi tidak terjadi.

Kriteria Hasil :

1) Meningkatkan keinginan defekasi

2) Feaces lunak.

Intervensi Rasional
1) Dorong klien untuk tidak 1) Bila BAB ditahan sfingter ani eksterna
menahan BAB jika klien merasa berkontraksi sehingga refleks defekasi
ingin BAB berhenti dan terjadi penumpukan feses
yang masuk ke rektum sehingga feses
mengeras.
2) Privacy yang tidak adekuat akan
2) Berikan privacy yang adekuat meningkatkan stress bagi klien dan
selama klien berusaha untuk BAB. meningkatkan rangsangan sistem saraf
simpatis sehingga peristaltik usus
terhambat.
3) Untuk merangsang refleks gastrokolon
3) Anjurkan klien untuk minum dan refleks duodenum sehingga akan
air hangat saat klien bangun tidur. meningkatkan peristaltik usus.
4) Merangsang gerak peristaltic sehingga
4) Tingkatkan aktivitas tubuh feses akan bergerak menuju rektum.
sesuai dengan toleransi klien. 5) Proses defekasi normal tergantung
5) Latih klien untuk melakukan pada adekuatnya tonus otot abdominal
latihan otot abdomen dan latihan dan kekuatan otot tersebut.
usus (bowel training) jika tidak ada
kontraindikasi. 6) Meningkatkan evakuasi feses.
6) Kolaborasi pemberian
supositoria rektal sesuai kebutuhan.

j. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, hubungan

sosial, fungsi peran, support sistem dan konsep diri.

Tujuan : Klien mampu menerima perubahan status kesehatan yang terjadi.

Kriteria Hasil :

1) Klien menyatakan perasaan waspada dan

penurunan ansietas/takut sampai pada tingkat dapat diatasi.


2) Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah

dan pengguanaan sumber secara efektif.

3) Tampak rileks, dapat tidur/istirahat yang tepat.

Intervensi Rasional
1. Berikan klien/orang terdekat salinan 1. Memberikan informasi
‘hak-hak klien’ dan tinjau bersama yang dapat membantu perkembangan
mereka. Diskusikan kebijakan kera-hasiaan klien di-mana hak klien
fasilitas misalnya jadwal kunjungan dapat terus dijaga dan klien tetap men-
jadi ‘dirinya sendiri’ dan memiliki
kontrol terhadap apa yang terjadi
2. Tentukan sikap klien/orang terdekat 2. Diharapkan perhatian
kearah penerimaan pada fasilitas dan klien atau orang terdekat akan berbeda
harapan masa depan jika penem-patannya bersifat permanen
dan menghilangkan munculnya
perasaan tidak berdaya, kehilangan dan
3. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan berduka
penyebabnya bila mungkin
3. Identifikasi masalah
4. Berikan waktu untuk mendengarkan spesifik akan me-ningkatkan kemam-
klien mengenai masalah dan dorong puan individu untuk menghadapinya
ekspresi perasaan yang bebas dengan lebih realistis
misalnya ; marah, ragu, takut dan 4. Membuat klien merasa
sendiri diterima, mulai mengakui dan
5. Akui realita situasi dan perasaan klien berhadpan dengan perasaan yang
berhubungan dengan keadaan
penerimaan
6. Kembangkan hubungan klien/perawat
5. Memungkinkan ekspresi
7. Orientasikan pada aspek-aspek fisik perasaan membantu dimulainya
dari fasilitas, jadwal dan aktivitas. resolusi. Penerimaan akan
Perkenalkan pada teman sekamar meningkatkan harga diri
dan staf 6. Hubungan saling percaya
akan me-ningkatkan perawatan dan
8. Berikan pemikiran yang cermat untuk dukungan yang optimal
penempatan ruang. Berikan bantuan 7. Pengenalan adalah
dan dorongan dalam penempatan bagian penting dari penerimaan, penge-
benda-benda pribadi disekitar tahuan dimana benda-benda berada dan
ruangan siapa yang di-harapkan klien untuk
memberikan bantuan dapat mengurangi
ansietas
8. Lokasi, kecocokan teman
sekamar dan tempat untuk benda-benda
pribadi adalah pertimbangan yang tepat
untuk membantu klien merasa seperti
dirumah

k. Perubahan pola eliminasi BAK, berhubungan dengan pemasangan

kateter / nefrostomi.
Tujuan : Pola berkemih klien normal

Kriteria hasil :

1) Kateter nefrostomi tidak terlipat

2) Aliran urine lancar.

3) Klien dan keluarga memahami maksud dan tujuan pemasangan

nefrostomi.

Intervensi Rasional
1) Informasikan pada klien dan 1) Agar klien dan keluarga dapat
keluarga tentang perubahan pola memahami kenapa klien harus
berkemih klien yang dipasang dipasang nefrostomi.
nefrostomi.
2) Informasikan pada klien dan 2) Mencegah penghambatan aliran urune
keluarga untuk menjaga selang oleh lipatan.
nefrostomi supaya tidak tertekuk atau
terlipat.
3) Observasi ketepatan dan kedudukan 3) Untuk mengetahui apabila terjadi
nefrostomi. penekukan kateter nefrostomi atau
plesternya terlepas sehingga
kedudukannya tidak benar dan
pengaliran urine terganggu.
4) Observasi keluaran urine pada urine 4) Untuk mengetahui apakah aliran urine
bag. lancar atau tidak.

3. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik (Iyer et al, 1996 dalam Nursalam, 2000 : 51). Tahap
pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada
nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
(Nursalam, 2001 : 51)
4. Evaluasi
”Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapai proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai, melelui evaluasi
memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi secara
tahap pengkajian, analisa, perencanaan dan pelaksanaan tindakan
(Ignatavicius & Bayne, 1994 dalam Nursalam, 2001: 71)
Menurut Hidayat, A. Azis (2001: 13) Evaluasi merupakan catatan
tentang indikasi kemajuan pasien terhadap tujuan yang dicapai. Evaluasi
bertujuan untuk menilai keefektifan perawatan dan untuk
mengkomunikasikan status pasien dari hasil tindakan keperawatan. Terdapat
dua tipe dokumentasi evaluasi yaitu evaluasi formatif yang menyatakan
evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon
segera dan evaluasi sumatif yang merupakan rekapitulasi dari hasil observasi
dan analisis status pasien, tergambar dalam catatan perkembangan dengan
komponennya SOAPIER :
S : Data subjektif
Perkembangan keadaan didasarkan pada apa yang dirasakan dikeluhkan dan
dikemukakan oleh klien.
O : Data objektif
Perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau tim kesehatan
lain.
A : Analisa data
Data subjektif maupun objektif dinilai dan dianalisis apakah berkembang ke
arah kebaikan atau kemunduran. Hasil analisis menguraikan sampai dimana
masalah yang ada dapat diatasi atau adakah perkembangan masalah baru.
P : Perencanaan
Rencana penanganan klien didasarkan pada hasil analisis di atas yang berisi
melanjutkan rencana sebelumnya bila masalah belum teratasi.
I : Implementasi/pelaksanaan
Tindakan yang dilakukan berdasarkan rencana.
E : Evaluasi
Penilaian sejauhmana rencana tindakan dan evaluasi telah dilaksanakan dan
sejauhmana masalah klien teratasi.
R : Reassesment
Bila hasil evaluasi menunjukkan masalah belum teratasi pengkajian ulang
perlu dilakukan kembali melalui proses pengumpulan data subjektif, objektif
dan analisis.
SOAPIER dilakukan saat ada masalah baru, resiko tidak terjadi,
masalah tidak teratasi sesuai kriteria waktu (tupen).

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus

1. Pengkajian

a. Pengumpulan Data
1) Identitas

a) Identitas Klien

Nama : Ny. W

Umur : 39 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT

Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia

Tanggal masuk RS : 30 Juni 2005 jam 16.00 WIB

Tanggal Pengkajian : 10 Agustus 2005 jam 08.00 WIB

Alamat : Kp. Bojong Loa Rt 03 / 03

Cipangkor Cimahi

Diagnosa medis : CRF e.c Nephrolithiasis Bilateral

dan Post Nefrolitotomi Kiri

Nomor medrec : 394286

b) Identitas Penanggung Jawab


62
Nama : Tn. E

Umur : 45 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan Klien : Suami

Alamat : Kp. Bojong Loa Rt 03 / 03

Cipangkor Cimahi

2) Riwayat Kesehatan

a) Riwayat Kesehatan Sekarang

(1) Keluhan Saat Masuk Rumah Sakit

Pada tanggal 28 Juni 2005 jam 21.00 klien merasakan sakit

pada pinggang sebelah kiri dan keluar cairan yang merembes

pada daerah pasca operasi pengangkatan batu ginjal. Klien

berobat ke RS Soreang dan dirujuk ke Rumah Sakit Hasan

Sadikin Bandung.

(2) Keluhan Utama Saat Pengkajian

Saat dilakukan pengkajian tanggal 10 Agustus 2005 jam 08.00

WIB, klien mengeluh nyeri pada luka post operasi

nefrolitotomi kiri dan nefrostomi yaitu di pinggang sebelah

kiri. Nyeri dirasakan seperti di iris-iris dan tidak menyebar.

Nyeri timbul dan semakin dirasakan bertambah bila bergerak

atau pada saat luka tersentuh dan tertekan, nyeri dirasakan

berkurang pada saat klien berada pada posisi berbaring

terlentang atau miring ke sebelah kiri. Skala nyeri 3 (0-5)

menurut Mc.Gill.

b) Riwayat Kesehatan Yang Lalu


Klien mengatakan dirinya telah beberapa kali menjalani operasi.

Pada tahun 1983 klien mengatakan menjalani operasi

pengangkatan batu ginjal sebelah kanan di RS Dustira. Pada tahun

1999 klien menjalani operasi pengangkatan batu kandung kemih

di RS Bina Sakti. Klien mengatakan dirinya mempunyai kebiasaan

minum garam inggris seminggu 5-6 kali + 1 sendok makan tiap 1

kali makan dan diit ketat sejak tahun 1980 sampai dengan tahun

1983 untuk menjaga berat badannya. Menurut klien, dirinya tidak

pernah menderita penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus.

c) Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien dan keluarga mengatakan dalam keluarga tidak ada anggota

keluarga yang pernah menderita hal yang sama dengan klien dan

tidak ada riwayat mempunyai hipertensi atau DM serta penyakit

ginjal lainnya dalam keluarganya.

3) Pola Aktivitas Sehari-hari

No Aktivitas Sebelum Sakit Setelah Sakit


1 Nutrisi
a. Makan
- Fr 3 x sehari habis 1 porsi 3xsehari habis ¼ porsi
ekuensi Nasi, daging, tahu, tempe, sayur. Nasi, bubur daging / ikan,
- Je Semenjak operasi pengangkatan buah-buahan
nis batu tahun 1983 klien tidak klien mengatakan kurang
mengkonsumsi makanan yang nafsu makan karena mual
mengandung tinggi Vitamin C dan ada luka pada mulut.
misalnya buah-buahan jeruk,
mangga.

4-6 gelas (+ 1000 – 1500 cc) 6-7 gelas (+1500-1750cc)


b. Minum /hari /hari
- Fr air putih, teh manis air putih
ekuensi

- Je
No Aktivitas Sebelum Sakit Setelah Sakit
nis

2 Eliminasi
a. BAK
- Frekuensi 7-8 x/hari (+ 500-750 cc) • Melalui Uretra 7-8
- Warna kuning jernih x/hari (+700-800 cc),
kuning keruh
• Melalui Nefrostomi
+ 500-700 cc/hari,
kuning keruh
b. BAB
- Frekuensi 1x / hari
1x / hari
- Warna kuning
kuning
- konsistensi padat
padat
3 Personal Hygiene
a. M 2x/hari memakai sabun 1x/hari memakai sabun,
andi dibantu keluarga
2x/hari memakai pasta 2x/hari memakai pasta
b. G 2x/minggu memakai shampo 1x/minggu memakai
osok Gigi shampoo
c. K Bila panjang Bila panjang
eramas

d. P
otong Kuku
4 Istirahat Tidur
a. Siang 1-2 jam/hari 1-2 jam / hari
b. Malam 7-8 jam/hari tidur nyenyak 7-8 jam/hari tetapi sering
terbangun dan kadang tidak
bisa tidur
5 Kegiatan / Aktivitas Klien seorang ibu rumah tangga, Berbaring ditempat tidur.
Sehari-hari sehari-harinya hanya mengurus Klien mengeluh lemah dan
pekerjaan rumah. lelah saat beraktivitas.

4) Pemeriksaan fisik

a) Sistem Pernafasan

Bentuk hidung simetris, tidak terdapat deviasi septum nasi, tidak

terdapat sianosis pada bibir, jari tangan ataupun jari kaki, tidak

terdapat pernafasan cuping hidung, mukosa hidung lembab, tidak

terdapat sekret, tidak terdapat penggunaan otot-otot bantu

pernafasan, bentuk dada simetris, tidak terdapat adanya retraksi


dada dan nyeri tekan pada daerah dada, ekspansi paru simetris,

pengembangan paru maksimal, suara perkusi paru terdengar

resonan, pada auskultasi terdengar vesikuler tidak terdengar rales

pada saat auskultasi, frekuensi nafas 22 x/menit.

b) Sistem Kardiovaskuler

Konjungtiva palpebra tampak pucat, Jugular Venous Pressure

(JVP) tidak meninggi nilai 5 mmHg, tidak ditemukan adanya

clubbing finger, CRT (Capilarry Refilling Time) kembali dalam 4

detik, akral teraba dingin, iktus kordis teraba pada ICS V garis

midklavikula kiri. Pulsasi denyut nadi teraba kuat, irama denyut

nadi teratur, denyut nadi 82 x/menit. Tekanan darah 100/70

mmHg. Suara perkusi jantung terdengar dullness, S1 dan S2

terdengar murni reguler.

c) Sistem Perkemihan

Tidak tampak adanya oedem pada daerah ekstremitas atas dan

bawah, tidak terdengar adanya bruits sign pada percabangan aorta

abdominalis, terdapat luka bekas operasi pada area ginjal kanan,

tampak luka post operasi nefrolitotomi kiri pada area pinggang

sebelah kiri + 12 cm berwarna kemerahan dan tampak basah

disertai Pus dan tampak drain nefrostomi di bawah luka berisi

urine yang berwarna kuning agak keruh. Nefrolitotomi kiri dan

nefrostomi dilakukan pada tanggal 20 Juli 2005 dan Hemodialisa

pada tanggal 25 Juli 2005. Klien mengatakan nyeri pada luka dan
drain tersebut terutama bila luka dan drain tersebut tertekan, klien

tampak meringis saat luka dan drain tersebut tersentuh atau

tertekan. Terdapat nyeri tekan pada palpasi ginjal kanan

sedangkan palpasi ginjal kiri tidak terkaji karena adanya luka

operasi. Tidak terdapat adanya nyeri ketuk pada saat perkusi ginjal

pada daerah Costae Vertebral Angel, tidak terdapat distensi

kandung kemih dan suara perkusi kandung kemih terdengar

timpani. Klien mengatakan tidak ada keluhan pada saat BAK.

Intake cairan peroral 1500 cc, Output : urine 1250 cc/24 jam, drain

550 cc/24 jam, IWL=340 cc/24 jam, balance=1500-1800 cc/24

jam= - 300 cc/24 jam.

d) Sistem Endokrin

Tidak terdapat eksofthalmus, tidak tampak adanya hipopigmentasi

kulit, tidak tampak adanya keringat yang berlebihan (diaforesis)

tidak teraba adanya massa, nyeri tekan, dan pembesaran saat

palpasi kelenjar tiroid dan paratiroid.

e) Sistem Pencernaan

Mukosa bibir kering, gigi tanggal 2 buah jumlah gigi 30 buah,

tidak terdapat pembesaran tonsil, klien mengatakan nyeri pada

saat menelan dan pada area lidah yang terdapat luka, lidah tampak

kotor, tampak lesi pada lidah anterior, sklera tampak putih,

abdomen datar teraba lembut, Bising usus 12 x/menit, tidak teraba

pembesaran hati dan limpa, tidak terdapat adanya nyeri tekan dan
nyeri lepas pada daerah abdomen. Pada anus tidak terdapat

hemoroid. Berat badan sebelum sakit 44 Kg dan saat dilakukan

pengkajian 34 Kg.

f) Sistem Integumen

Rambut dan kulit kepala bersih, terdapat bercak-bercak putih pada

lengan kanan, klien mengatakan gatal dan tampak klien

menggaruk lengannya, turgor kulit kembali dalam waktu 3 detik,

kulit kaki dan tangan teraba dingin, Suhu 36,1oC.

g) Sistem Persyarafan

(1) Test Fungsi Serebral

(a) Status Mental

(i) Orientasi : klien dapat menyebutkan bahwa sekarang

ia berada di rumah sakit, ditunggui oleh suaminya,

dan berada pada pagi hari.

(ii) Daya Ingat : klien dapat mengingat tahun

kelahirannya, klien dapat menyebutkan 3 buah benda

yang ditunjukkan 5 menit yang lalu.

(iii) Perhatian dan perhitungan : klien dapat meghitung

dengan penjumlahan serial lima yaitu : 5+5=10,

10+5=15, 15+5=20, 20+5=25, 25+5=30

(iv) Fungsi Bahasa : klien dapat mngulangi kata-kata

“akan tetapi atau jika tidak” dan klien mengerti


perinah saat menyebutkan benda yang ada didekatnya

yaitu, gelas dan sendok

(b) Tingkat kesadaran

(i) Kualitas : Compos Mentis

(ii) Kuantitas : Nilai GCS 15 (E4, V5, M6)

(c) Pengkajian Bicara :

Proses bicara klien lancar

(2) Test Nervus kranial

(a) Nervus I (Olfaktorius)

Fungsi penciuman baik, terbukti klien dapat membedakan

bau-bauan familier seperti bau kopi dan kayu putih.

(b) Nervus II (Optikus)

Fungsi ketajaman penglihatan baik yang ditandai dengan

klien dapat membaca papan nama perawat pada jarak 30

cm.

(c) Nervus III

(Okulomotorius), IV (Trochlearis), VI (Abducen)

Klien mampu menggerakkan bola mata kesegala arah,

pupil berkontraksi saat diberi cahaya, bentuk pupil isokor,

klien dapat membuka dan menutup matanya, lapang

pandang klien tidak menyempit.

(d) Nervus V (Trigeminus)


Fungsi mengunyah baik, pergerakan otot masetter dan

temporalis saat mengunyah simetris. Klien dapat

merasakan sentuhan pilinan kapas pada wajah, klien

mengedip spontan saat diberi rangsangan dengan pilinan

kapas pada kedua kelopak mata.

(e) Nervus VII (Facialis)

Klien dapat mengerutkan dahi dan tersenyum dengan

kedua bibir simetris. Klien dapat membedakan rasa manis,

asam dan asin.

(f) Nervus VIII (Auditorius)

Fungsi pendengaran tidak terganggu, terbukti klien dapat

menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara

spontan

(g) Nervus IX

(Glossofaringeus)

Terdapat reflek muntah pada saat pangkal lidah ditekan

dnegan menggunakan tongue spatel dan klein dapat

merasakan sensasi pahit.

(h) Nervus X (Vagus)

Reflek menelan baik, uvula terletak ditengah antara

palatum mole dengan arkus faring, dan bergerak saat klien

bilang “ah”.

(i) Nervus XI (Assesorius)


Klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri, serta dapat

melawan tahanan pada kedua bahu.

(j) Nervus XII

(Hipogolosus)

Klien dapat menggerakkan lidah dan menjulurkannya ke

segala arah.

(3) Test Fungsi Sensoris

(a) Rasa sakit

Klien dapat merasakan sakit saat ditusuk dengan ujung

reflek hammer di daerah lengan dan kaki.

(b) Sentuhan

Klien dapat merasakan sentuhan kapas pada lengannya

dengan kedua mata tertutup.

(c) Diskriminasi

- Stereognosis

Klien dapat menebak benda yang dipegangnya yaitu

sendok dengan kedua mata tertutup.

- Graphestesia

Klien dapat menebak huruf S yang dituliskan ditelapak

tangannya dengan kedua mata tertutup

- Two Point Stimulation

Klien dapat 2 buah titik yang dibuat di lengannya.


h) Sistem Reproduksi

Struktur utuh, keadaan vulva bersih, klien tidak merasakan adanya

keluhan.

i) Sistem Muskuloskeletal

(1) Ekstremitas Atas

Bentuk dan ukuran kedua ekstremitas atas simetris, pergerakan

(ROM) kedua ekstremitas atas bebas ke segala arah, tidak

terdapat nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak

terdapat adanya deformitas tulang atau sendi, tidak terdapat

kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot, tidak

terdapat oedema pada kedua ekstremitas atas, kekuatan otot

5/5, reflek biceps ++/++, Triceps ++/++.

(2) Ekstremitas Bawah

Bentuk dan ukuran kedua ekstremitas bawah simetris,

pergerakan (ROM) kedua ekstremitas bawah bebas ke segala

arah, tidak terdapat nyeri pada daerah persendian dan tulang,

tidak terdapat adanya deformitas tulang atau sendi, tidak

terdapat kontraktur sendi, tidak terdapat adanya atrofi otot,

tidak terdapat oedema pada kedua ekstremitas bawah,

kekuatan otot 5/5, reflek patella ++/++, achiles ++/++.

5) Data Psikologis

a) Status Emosi
Saat dilakukan pengkajian emosi klien stabil, klien tampak

tenang saat dilakukan wawancara oleh perawat.

b) Konsep Diri

(1) Body Image

Klien mengatakan menyukai seluruh anggota tubuhnya

walaupun saat ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit,

klien mengatakan bahwa anggota tubuhnya merupakan

pemberian dari Allah SWT yang patut disyukuri

(2) Identitas

Klien adalah seorang wanita dan klien merasa puas dengan

jenis kelaminnya, karena dapat memberikan keturunan.

(3) Ideal diri

Harapan klien terhadap penyakitnya adalah ingin cepat

sembuh dan berkumpul kembali dengan keluarganya dirumah.

(4) Peran diri

Klien adalah seorang ibu dari 3 anaknya dan seorang istri bagi

suaminya. Klien adalah seorang ibu rumah tangga, klien tidak

terlalu memikirkan perannya sebagai seorang ibu dan istri,

klien hanya berkonsentrasi pada penyembuhan penyakitnya.

(5) Harga diri


Klien memahami keadaan dirinya dengan segala kelebihan dan

kekurangannya.

c) Pola Koping

Klien mengatakan jika mempunyai masalah selalu

menceritakannya pada suami dan anaknya karena menurut klien

itu lebih baik daripada memendam masalah.

d) Gaya Komunikasi

Klien berbicara cukup jelas, volume suara klien sedang, klien

sehari-hari menggunakan bahasa Sunda, klien mampu

berkomunikasi dengan baik secara verbal dan nonverbal.

e) Kecemasan

Klien tampak gelisah, klien tampak sering bertanya tentang

keadaan penyakitnya, ekspresi wajah tampak cemas, klien

mengatakan sudah 2 bulan dirawat di rumah sakit, klien merasa

menyesal dioperasi karena ia merasa tidak ada perubahan.

6) Data Sosial

Hubungan klien dengan keluarganya baik, terbukti klien selalu

ditunggui oleh suami dan anaknya secara bergantian. Klien sangat

kooperatif dalam proses perawatan dan pengobatan penyakitnya.

7) Data Spiritual

a) Falsafah hidup

Klien percaya terhadap adanya sakit dan sehat, karena itu sudah

ketentuan yang telah diatur oleh Allah SWT


b) Sense of Tracendence

Klien merasa penyakitnya tidak ada perubahan , akan tetapi

klien percaya walaupun membutuhkan waktu yang lama bila klien

berusaha dengan perawatan dan pengobatan yang baik dan sabar,

serta dibarengi dengan berdoa kepada Allah untuk kesembuhan

penyakitnya maka penyakitnya akan membaik.

c) Konsep Ketuhanan

Klien percaya adanya Tuhan dan segala sesuatu yang tidak dapat

dilihat oleh dirinya. Selama dirawat klien menjalankan ibadahnya

dengan melaksanakan sholat lima waktu walaupun sambil

berbaring ditempat tidur.

8) Data Penunjang

a) Data Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium

Nilai
Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan
Normal
8 / 8 / 2005 Hematologi
• 8.2 12-16 gr/dl
Hemoglobin 15.600 3.8-10.6 Ribu/mm3
• 578.000 150-440 Ribu/mm3
Leukosit 24 35-47 %

Thrombosit

Hematokrit
8/8/2005 Kimia klinik
• Ureum 82 15-50 Mg/dl
• Kreatinin 2.4 0.5-0.9 Meq/L
• Natrium 134 135-145 Meq/L
• Kalium 3.8 3.6-8.5 Meq/L
Albumin 2.9 3.5-5.0 g/dl
• Protein 8.7 6.6-8.7 g/dl
total
Nilai
Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan
Normal
5 / 8 / 2005 Kimia klinik
• Albumin 2.9 3.5-5.0 g/dl
• Protein 7.5 6.6-8.7 g/dl
total

b) Radiologi

(1) Ultrasonografi tanggal 30 Juni 2005

Kesan :

• Pelvoureteroectasi ginjal kiri

• Pelvocaliectasi ginjal kanan e.c nefrolithiasis USG

vesika urinaria tidak tampak kelainan

(2) Glomerular Filtration Rate tanggal 4

Juli 2005

Kiri 5 ml/menit kanan 10 ml/menit

Corrected total 15 ml

Kesimpulan : fungsi kedua ginjal minim

(3) Electro Cardiogram tanggal 4 Juli

2005

EKG dalam batas normal

c) Terapi

• Teracef 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB)

• Rantin 250 mg 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB)

• Becomzet 3 x 1 tablet peroral (8.00-16.00-24.00WIB)


b. Analisa Data

N Kemungkinan Penyebab
Data Masalah
o dan Dampak
1 2 3 4
1 DS : Post Op nefrolitotomi dan Gangguan rasa
- Klien mengeluh nyeri pada daerah nefrostomi nyaman: nyeri
luka operasi dan drain nefrostomi ↓
- Klien mengatakan nyeri dirasakan Terputusnya kontinuitas jaringan
bertambah apabila klien bergerak ↓
dan luka tertekan Merangsang pengeluaran serotonin,
DO : bradikinin, prostaglandin
- Klien Post Op nefrolitotomi dan ↓
nefrostomi pada tanggal 20 Juli Diteruskan ke substansi gelatinosa
2005 pada kornu dorsalis medulla spinalis
- Tampak luka post Op + 12 cm ↓
berwarna kemerahan dan tampak Traktus spinotalamicus
basah disertai Pus ↓
- Tampak drain nefrostomi di Thalamus
bawah luka berisi urine yang ↓
berwarna kuning agak keruh. Cortex cerebri
- Klien tampak meringis saat luka ↓
dan selang tertekan atau tersentuh. Nyeri dipersepsikan
- Skala nyeri 3 (0-5)
1 2 3 4
2 DS : Gagal ginjal kronik Gangguan
- klien mengeluh kurang nafsu ↓ pemenuhan nutrisi :
makan fungsi renal menurun kurang dari
- klien mengeluh mual ↓ kebutuhan
- klien mengatakan nyeri pada area GFR menurun
lidah yang terdapat luka ↓
DO : Ginjal tidak mampu mengeluarkan
- Tampak lesi pada daerah lidah sisa metabolisme
anterior ↓
- Porsi makan habis ¼ porsi Meningkatnya ureum
- BB 34 kg dan sebelum sakit 44 kg ↓
- BU = 12 x/menit Iritasi membran mukosa
- Data kimia klinik tanggal 8-8- Lambung dan mulut
2005
Protein total : 8,7 gr/dl ↓
Albumin : 2,9 gr/dl Merangsang
Ureum : 82 mg/dl Stomatitis
sekresi
asam lambung

HCL meningkat

Mual


Klien tidak mau makan

Intake nutrisi kurang

3 DS : Gagal ginjal kronik kelelahan


- Klien mengeluh lemah ↓
- Klien mengeluh lelah saat menurunnya produksi eritropoitin
beraktifitas ↓
- Klien mengatakan dingin pada HB menurun
tangan dan kaki ↓
DO : O2 tidak diikat dengan adekuat
- Konjungtiva palpebra tampak ↓
anemis Transportasi O2 ke jaringan menurun
- Akral teraba dingin ↓
- CRT : kembali dalam 4 detik Metabolisme sel terganggu
- Data kimia klinik tanggal 8-8- ↓
2005 ADP tidak bisa diubah menjadi ATP
HB 8,2 gr/dl ↓
Tidak terbentuk energi

Kelelahan
4 DS : Inkontinuitas jaringan akibat post op Resiko terjadinya
Klien mengeluh nyeri pada luka nefrolithotomi perluasan infeksi
Post op ↓
DO : Terbukanya sistem pertahanan
- Klien Post Op nefrolitotomi dan primer
nefrostomi pada tanggal 20 Juli ↓
2005 Terjadi perkembangbiakan
1 2 3 4
- Tampak luka post Op + 12 cm mikroorganisme pada jaringan yang
berwarna kemerahan dan tampak rusak
basah disertai Pus ↓
- Tampak drain nefrostomi di Terjadi proses infeksi pada jaringan
bawah luka berisi urine yang yang rusak
berwarna kuning agak keruh. ↓
- Data kimia klinik tanggal 8-8- Resiko terjadi perluasan infeksi
2005 Leukosit : 15.600 mm 3
5 DS : Gagal ginjal kronik Resiko gangguan
- Klien mengatakan kaki dan ↓ keseimbangan
tangannya terasa dingin fungsi renal menurun cairan : berlebihan
DO : ↓ dan elektrolit :
- GFR : 15 lt/menit GFR menurun Hiponatremia
- Data kimia klinik tanggal 8-8- ↓
2005 Meningkatnya skresi renin oleh sel-
Ureum : 82 mg/dl sel jukstaglomerular
Kreatinin : 2,4 meq/dl ↓
Natrium :134 meq/dl Angiotensin diubah menjadi
Kalium :3,8 meq/dl angiotensin 1

Di pulmonal dirubah menjadi
angiotensin II

Retensi aldosteron

Meningkatnya retensi natrium dan
H2O

Transudasi cairan intravaskuler ke
intersitial karena menurunnya
tekanan osmotik kapiler

Resiko terjadinya oedema
6 DS : Gagal ginjal kronik Resiko gangguan
Klien mengatakan gatal pada daerah ↓ integritas kulit
lengan kanan fungsi renal menurun
DO : ↓
- Tampak bercak putih pada kulit GFR menurun
lengan kanan ↓
- Klien tampak menggaruk lengan Ginjal tidak mampu mengeluarkan
kanannya sisa metabolisme
- Data kimia klinik tanggal 8-8- ↓
2005 Meningkatnya ureum
Ureum : 82 mg/dl ↓
Kreatinin : 2,4 meq/dl Penumpukan kristal di kulit

Pruritus
1 2 3 4
7 DS : Gagal ginjal kronik Kecemasan :
 Klien tampak sedang
sering bertanya tentang keadaan
penyakitnya Hospitalisasi Perubahan status
 Klien mengatakan yang lama kesehatan
sudah 2 bulan dirawat di rumah
sakit Menimbulkan perasaan frustasi
 Klien merasa ↓
menyesal dioperasi karena Harapan untuk sembuh menurun
merasa tidak ada perubahan ↓
 Klien mengatakan Kecemasan meningkat
kurang nafsu makan ↓
 Klien mengatakan Gangguan rasa aman cemas
sering tidak bisa tidur
DO :
 Klien tampak gelisah
 Ekspresi wajah tampak
cemas

c. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas

Ditemukan Dipecahkan
No Diagnosa Keperawatan
Tanggal Paraf Tanggal Paraf
1 Gangguan rasa nyaman : nyeri
berhubungan dengan terputusnya 11-8-2005 Rema 13-8-2005 Rema
kontinuitas jaringan
2 Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan 11-8-2005 Rema
mual dan stomatitis
3 Kelelahan berhubungan dengan
11-8-2005 Rema
penurunan perfusi O2 ke jaringan
4 Resiko terjadinya perluasan infeksi
berhubungan dengan adanya luka 11-8-2005 Rema
terinfeksi
5 Resiko gangguan keseimbangan cairan
: berlebihan dan elektrolit:
11-8-2005 Rema
Hiponatremia berhubungan dengan
retensi cairan
6 Resiko gangguan integritas kulit :
pruritus berhubungan dengan
11-8-2005 Rema 14-8-2005 Rema
penumpukan kristal ureum pada
lapisan kulit
7 Kecemasan : sedang berhubungan
dengan hospitalisasi yang lama dan 11-8-2005 Rema
perubahan status kesehatan.
3. Perencanaan

Diagnosa Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1 2 3 4 5
1 Gangguan rasa TUPAN : 1. 1. Menghindari
nyaman : nyeri Rasa nyaman Berikan penjelasan tentang persepsi yang salah
berhubungan terpenuhi , nyeri penyebab nyeri tentang penyebab
dengan hilang nyeri
terputusnya TUPEN : 2. 2. Menghindari
kontinuitas Setelah dilakukan Periksa tegangan balutan gesekan dari balutan
jaringan tindakan 3. 3. Posisi yang
keperawatan Atur posisi sesuai sesuai menurunkan
selama 2 hari kenyamanan klien ketega-ngan area
klien dapat yang nyeri
beradaptasi 4. 4. Posisi yang
1 2 3 4 5
dengan rasa nyeri Pertahankan kepatenan tidak tepat
dengan kriteria : posisi drain menimbulkan
- Ekspresi wajah gesekan pada luka
tenang yang akan mensti-
- Skala nyeri mulasi reseptor nyeri
turun menjadi 2 5. 5. Melepaskan
(0-5) Ajarkan dan lakukan keteg-angan
- Klien dapat penggunaan teknik emosional dan otot,
menerapkan relaksasi sesuai meningkatkan rasa
teknik keinginan klien kontrol yang
manajemen misalnya : latihan nafas mungkin dapat
nyeri ketika dalam, imajinasi dan meningkatkan koping
nyeri dirasakan visualisasi
6. 6. Menghambat
Kolaborasi untuk kerja biosintesis
pemberian analgetik prostaglandin
7. Menentukan
7. keber-hasilan
Observasi skala nyeri intervensi
8.

2 Gangguan TUPAN : 1. Awasi konsumsi 1. Mengidentifikas


pemenuhan Nutrisi terpenuhi makanan / cairan i kekurangan nutrisi
nutrisi : kurang TUPEN : 2. Beri penjelasan 2. Pengetahuan
dari kebutuhan Setelah dilakukan mengenai pentingnya yang adekuat akan
berhubungan tindakan intake nutrisi yang menambah motivasi
dengan mual keperawatan sesuai dengan diit untuk berubah
dan stomatitis selama 3 hari 3. Dorong klien 3. Dapat
mual dan untuk berpartisipasi meningkatkan
stomatisis dalam perencanaan masukan oral dan
berkurang dengan menu meningkatkan
kriteria : perasaan tanggung
- Porsi makan jawab
habis ¾ porsi 4. Kolaborasi untuk 4. Memberikan
- BB naik pemberian diit tinggi nutrien yang cukup
- Klien mau karbohidrat, protein untuk memperbaiki
makan sesuai yang berkualitas tinggi energi, meningkatkan
diit dan asam amino yang regenerasi jaringan
- Lesi pada lidah essensial /penyembuhan dan
berkurang me-ngurangi
katabolisme protein
yang memperberat
kerja ginjal
5. Berikan makanan 5. Porsi lebih kecil
sedikit dengan dapat meningkatkan
frekuensi sering, masukan dan meng-
jadwalkan makan hilangkan perasaan
sesuai dengan enek
kebutuhan

6. Lakukan 6. Menurunkan
perawatan mulut ketidak-nyamanan
stomatitis oral dan
rasa tidak enak di
1 2 3 4 5
mulut yang dapat
mempengaruhi
7. Timbang Berat masukan makan
badan klien setiap hari 7. Memantau
8. Berikan status cairan dan
multivitamin sesuai nutrisi
order 8. Mengggantikan
Becomzet 3 x 1 tablet kehi-langan vitamin
peroral (8.00-16.00- karena malnutrisi /
24.00WIB) anemia
9. Berikan terapi
sesuai program : 9. Mengurangi
Rantin 250 mg 3X1 produksi HCL
tablet peroral (8.00- lambung penyebab
16.00-24.00 WIB) mual
3 Kelelahan TUPAN : 1. Kaji kemampuan 1. Mengidentifikas
berhubungan Kelelahan hilang untuk berpartisipasi i kebu-tuhan
dengan TUPEN : pada aktifitas yang individual dan mem-
penurunan Setelah dilakukan dibutuhkan / bantu pemilihan
perfusi O2 ke tindakan diinginkan intervensi
jaringan keperawatan 2. Rencanakan 2. Mencegah
selama 3 hari periode istirahat yang kelelahan yang
klien dapat adekuat berlebihan dan
beraktifitas sesuai menyimpan energi
dengan batas untuk penyembuhan
toleransinya : dan regenerasi
- konjungtiva jaringan
tidak anemis 3. Berikan bantuan 3. Mengubah
- HB meningkat dalam aktifitas sehari- energi
mendekati batas hari dan ambulasi memungkinkan
normal berlanjutnya aktifitas
- CRT < dari 3 yang dibutuhkan dan
detik memberikan
- Akral hangat keamanan pada klien
4. Tingkatkan
partisipasi sesuai 4. Meningkatkan
toleransi klien rasa percaya diri dan
membatasi prustasi

5. Berikan intake 5. Nutrisi adekuat


nutrisi tambahan menghasilkan energi
berupa makanan
selingan sesuai diit

Kolaborasi dengan tim 6. Menentukan


kesehatan lain dalam keadaan perfusi
pemeriksaan kadar jaringan dan
kalsium, magnesium dan keberhasilan dari
kalium serta haemoglobin intervensi
1 2 3 4 5
4 Resiko TUPAN : 1. Cuci 1. Mengh
terjadinya Tidak terjadi tangan sebelum indari penularan
perluasan perluasan infeksi melakukan tindakan mikroorganisme dari
infeksi TUPEN : petugas
berhubungan - Setelah 2. Memin
dengan adanya dilakukan 2. Rawat imalkan
luka terinfeksi tindakan luka dan drain dengan perkembangbiakan
keperawatan teknik aseptik dan mikroorganisme
selama 3 hari antiseptik patogen
tanda-tanda 3. Kondis
infeksi pada 3. Hindari i yang lembab dan
luka berkurang luka dalam keadaan basah memung-
dengan basah kinkan menjadi
kriteria : perkembangbiakan
- Luka bersih, mikroorganisme
tidak 4. Menge
kemerahan 4. Monitor tahui fluktuasi suhu
- Tidak terdapat suhu setiap shift sebagai
pus pada luka indikator/tanda bila
dan drain terjadi infeksi lebih
- Nyeri lanjut
berkurang 5. Ganti 5. Memin
alat tenun setiap hari imalkan terjadinya
infeksi lebih lanjut
6. Berikan 6. Antibi
antibiotik sesuai otik bersifat
program : teracef 3x1 bacteriosid dan
tablet peroral (8.00- bakteristatik
16.00-24.00 WIB)
7. Kolabora
si dengan tim 7. Menen
kesehatan lain dalam tukan keadaan
pemeriksaan kadar penyembuhan luka
Leukosit dan proses infeksi
serta keber-hasilan
dari intervensi
5 Resiko TUPAN : 1. Catat / observasi 1. Pada
terjadinya Cairan dan intake output dalam 24 kebanyakan kasus
gangguan elektrolit jam jumlah aliran harus
keseimbangan seimbang sama atau lebih dari
cairan : TUPEN : jumlah yang
berlebihan dan Setelah dilakukan dimasukkan.
elektrolit : tindakan Keseimbangan positif
Hiponatremia keperawatan menunjukkan
berhubungan selama 3 hari kebutuhan evaluasi
dengan retensi retensi cairan 2. Beri dan anjurkan lebih lanjut
cairan berkurang dengan klien untuk minum 2. Memenuhi
kriteria : sesuai output 24 jam, kebutuhan cairan
- output sesuai yaitu 1800 cc/24 jam sesuai dengan
intake kebutuhan
- kadar elektrolit
dalam batas 3. Timbang BB
normal : setiap hari 3. BB merupakan
natrium = 135- indika-tor akurat
1 2 3 4 5
145 meq/L status volume cairan.
- Berat badan Keseimbangan cairan
dalam batas positif dengan BB
normal menunjukkan retensi
- Tanda vital cairan
dalam batas 4. Perhatikan
normal distensi abdomen: 4. Distensi
penurunan Bising abdomen / konstipasi
usus, perubahan, dapat mempe-ngaruhi
konsistensi faeces kelancaran aliran
5. Monitor tanda-
tanda vital setiap shift 5. Volume
sirkulasi harus
dipantau untuk
6. Kolaborasi mencegah terjadinya
dengan tim kesehatan syok hipovolemik
lain dalam 6. Pemeriksaan
pemeriksaan kimia laboratorium kimia
darah (ureum, darah dapat menge-
kreatinin, kalium dan tahui perkembangan
natrium) kondisi klien ter-
utama status kese-
imbangan elektrolit
6 Resiko TUPAN : 1. Berikan 1. Pengetahuan
gangguan Integritas kulit penjelasan mengenai yang adekuat dapat
integritas kulit utuh penyebab dan dampak memotivasi klien
berhubungan TUPEN : bila menggaruk kulit untuk tidak
dengan pruritus Setelah dilakukan yang gatal menggaruk
akibat tindakan 2. Lakukan 2. Sabun dapat
akumulasi keperawatan perawatan kulit: batasi menyebabkan penge-
ureum pada selama 3 hari peng-gunaan sabun ringan pada kulit,
lapisan kulit klien dapat mengan-dung Soda lotion, baby oil dan
beradaptasi anjurkan sabun krim digunakan
dengan rasa gatal mengandung lemak untuk mengurangi
dan pruritus misalnya sabun bayi: pengeringan kulit
dengan kriteria : berikan salep atau
- klien tidak krim (lotion,
menggaruk area aquaphor) dan baby
yang gatal oil. 3. Menghilangkan
- tidak terjadi 3. Anjurkan klien ketidaknyamanan dan
iritasi dermal untuk menggunakan menurunkan resiko
- klien merasa kompres lembab / cedera dermal
nyaman dingin untuk membe-
rikan tekanan pada
area yang pruritus 4. Menurunkan
resiko cedera dermal
4. Pertahankan kuku
pendek dan berikan
sarung tangan selama 5. Menurunkan
tidur iritasi dermal dan
5. Pertahankan linen kerusakan lebih
kering, bebas keriput lanjut
6. Menandakan
area sirkulasi buruk /
1 2 3 4 5
6. Inspeksi kulit dari kerusakan yang dapat
perubahan warna, menimbulkan infeksi
turgor, vaskular,
perhatikan kemerahan,
ekskoriasi, ekimosis,
purpura
7 Kecemasan : Tupan : 1. Berikan klien/orang 1. Memb
sedang Klien tidak terdekat salinan ‘hak- erikan informasi
berhubungan merasa cemas hak klien’ dan tinjau yang dapat
dengan Tupen : bersama mereka. membantu
hospitalisasi Setelah dilakukan Diskusikan kebijakan perkembangan kera-
yang lama dan tindakan fasilitas misalnya hasiaan klien di-
perubahan perawatan selama jadwal kunjungan mana hak klien
status 2 hari klien dapat dapat terus dijaga
kesehatan. meningkatkan dan klien tetap men-
adaptasi dengan jadi ‘dirinya sendiri’
proses dan memiliki
hospitalisasi kontrol terhadap apa
dengan kriteria : 2. Tentukan sikap yang terjadi
 K klien/orang terdekat 2. Dihara
lien tidak kearah penerimaan pkan perhatian klien
tampak cemas pada fasilitas dan atau orang terdekat
 K harapan masa depan akan berbeda jika
lien tidak penem-patannya
tampak gelisah bersifat permanen
 K dan menghilangkan
lien mengerti munculnya perasaan
dan menyadari tidak berdaya,
bahwa dirinya kehilangan dan
memerlukan 3. Kaji tingkat ansietas dan berduka
perawatan yang diskusikan
penyebabnya bila
3. Identifi
lama kasi masalah
 K mungkin
spesifik akan me-
lien dapat tidur ningkatkan kemam-
dengan puan individu untuk
nyenyak menghadapinya
 N 4. Berikan waktu untuk dengan lebih
afsu makan mendengarkan klien
mengenai masalah dan realistis
meningkat. 4. Memb
dorong ekspresi
perasaan yang bebas uat klien merasa
misalnya ; marah, ragu, diterima, mulai
takut dan sendiri mengakui dan
berhadpan dengan
5. Akui realita situasi dan perasaan yang
perasaan klien berhubungan dengan
keadaan penerimaan
5. Memu
ngkinkan ekspresi
perasaan membantu
dimulainya resolusi.
6. Kembangkan hubungan Penerimaan akan
klien/perawat meningkatkan harga
diri
1 2 3 4 5
6. Hubun
7. Orientasikan pada gan saling percaya
aspek-aspek fisik dari akan me-ningkatkan
fasilitas, jadwal dan perawatan dan
aktivitas. Perkenalkan dukungan yang
pada teman sekamar optimal
dan staf 7. Pengen
alan adalah bagian
penting dari
penerimaan, penge-
tahuan dimana benda-
8. Berikan pemikiran yang benda berada dan
cermat untuk siapa yang di-
penempatan ruang. harapkan klien untuk
Berikan bantuan dan memberikan bantuan
dorongan dalam dapat mengurangi
penempatan benda- ansietas
benda pribadi disekitar 8. Lokasi,
ruangan kecocokan teman
sekamar dan tempat
untuk benda-benda
pribadi adalah
pertimbangan yang
tepat untuk
membantu klien
merasa seperti
dirumah
4. Pelaksanaan

Tanggal DP Waktu Pelaksanaan Dan Evaluasi Paraf


1 2 3 4 5
11–08-2005 VI,V 08.00 Mengukur tanda-tanda vital klien
Hasil :
TD : 110/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi : Rema
21x/menit , Suhu : 36,2oC
VI, IV 08.20 Membereskan lingkungan klien, mengganti sprei
klien yang kotor dan merapikan tempat tidur.
Hasil :
Rema
Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam
keadaan kering dan bersih
I 08.30 Mengatur posisi sesuai kenyamanan klien yaitu
berbaring dengan kepala memakai bantal
Hasil :
Rema
Klien mengatakan nyeri berkurang dalam posisi
terlentang karena luka dan drain tidak tertekan.
Skala nyeri 3 (0-5)
I 08.45 Mengajarkan teknik relaksasi sesuai kebutuhan dan
keinginan klien
Hasil : Rema
Klien mengatakan merasa lebih tenang saat
membaca kalimat Allah SWT
II, IV 09.00 Memberikan obat sesuai program terapi
Teracef 1 tablet peroral
Rantin 250 mg 1 tablet peroral
Rema
Becomzet 1 tablet peroral
Hasil :
Telah diberikan obat sesuai program
II, III 09.50 Melakukan dan mengajarkan oral hygiene
Hasil :
Klien mengatakan mulut lebih segar dan nyaman, Rema
klien mengatakan akan melakukan oral hygiene
secara teratur
IV 10.30 Melakukan ganti balutan dengan teknik asepti dan Rema
anti
septik
Hasil :
Luka tampak masih basah dan kemerahan, terdapat
1 2 3 4 5
pus pada luka. Posisi drain pada tempatnya, keluar
cairan urine yang berwarna kuning keruh. Klien
tampak meringis kesakitan saat diganti balutan.
II 11.00 Melakukan pendidikan kesehatan tentang “Diit
Rendah Protein”
Hasil :
Rema
Klien mampu menyebutkan tujuan, syarat, contoh
menu Diit Rendah Protein dan makanan yang boleh
diberikan
II 11.20 Memberikan motivasi pada klien agar makan sesuai
diet.
Hasil : Rema
Klien mengatakan akan berusaha untuk makan
sesuai dengan diet yang dianjurkan.
VII 13.00 Memberikan penjelasan tentang hak-hak klien
selama dalam proses perawatan dan pengobatan
misalnya : jadwal kunjungan, penunggu klien,
informasi tentang keadaan kesehatan, prosedur Rema
tindakan dll.
Hasil :
Klien dan keluarga mengerti tentang hak-haknya
VII 13.00 Mendiskusikan penyebab kecemasan dan
mendengarkan keluhan yang dirasakan klien.
Hasil :
Klien mengatakan penyebab kecemasannya karena Rema
selama perawatan belum merasakan perubahan.
II ,V 13.20 Mengobservasi intake dan output serta BB
Hasil :
Intake dan output klien dari jam 06.00 – 13.20 WIB
Intake : Oral =900 cc Rema
Output : BAK = 400 cc
Drain = 250 cc
BB = 34 kg
12-08-2005 VI,V 07.45 Mengukur tanda-tanda vital klien
Hasil :
Rema
TD : 100/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi :
23x/menit , Suhu : 36,3oC
VI, IV 08.00 Membereskan lingkungan klien dan merapikan
tempat tidur.
Hasil : Rema
Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam
keadaan rapih, kering dan bersih
II, IV 08.10 Memberikan obat sesuai program terapi
Teracef 1 tablet peroral
Rantin 250 mg 1 tablet peroral
Rema
Becomzet 1 tablet peroral
Hasil :
Telah diberikan obat sesuai program
II 08.20 Memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga Rema
tentang pentingnya nutrisi yang adekuat bagi klien
sesuai dengan diit yang dianjurkan.
Hasil :
Klien dan keluarga mengerti tentang pentingnya
nutrisis yang adekuat bagi klien
1 2 3 4 5
II, III 08.40 Memfasilitasi untuk melakukan oral hygiene
Hasil :
Klien mengatakan mulut lebih segar dan nyaman, Rema
klien mengatakan akan melakukan oral hygiene
secara teratur
V 09.00 Mengobservasi intake dan output serta menghitung
balance cairan

Hasil :
- Intake dan output klien selama 24 jam dari
tanggal 11-08-2005 s/d 12-08-2005 Rema
Intake : Oral =1800 cc
Output : BAK = 1000 cc
Drain = 900 cc
IWL = 340 cc
Balance cairan 1800 – 2240 = - 440 cc
II 09.20 Memberikan penjelasan kepada klien tentang
penyebab rasa nyeri dan teknik yang bisa dilakukan
untuk mengurangi nyeri.
Hasil :
Klien mengerti tentang rasa nyeri yang harus
Rema
dirasakan adalah untuk kesembuhan dan kebaikan
klien, misalnya saat ganti balutan. Klien
mengatakan saat ganti balutan akan menarik nafas
dalam dan membaca kalimat Allah SWT, supaya
keadaan lukanya menjadi bersih
IV 09.35 Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptik dan
anti septik
Hasil :
Rema
Luka tampak masih basah dan kemerahan, terdapat
pus. Posisi drain pada tempatnya. Klien tampak
meringis kesakitan.
II 10.20 Memfasilitasi klien untuk makan dan minum
Hasil :
Porsi makan habis ½ porsi, klien mengatakan mual Rema
berkurang tetapi saat mengunyah masih terasa sakit
pada lidahnya yang luka.
I, III 10.50 Mengobservasi skala nyeri dan kemampuan klien
dalam beraktifitas
Hasil : Rema
Skala nyeri 3 (0-5), klien mampu beraktifitas
mandiri , walaupun tampak lemah dan kelelahan.
VII 12.30 Memberikan motivasi pada keluarga untuk selalu
menemani klien dan memenuhi kebutuhan yang
diperlukan Rema
Hasil :
Keluarga tampak menemani klien
II, V 13.00 Mengobservasi intake dan output serta mengukur Rema
BB
Hasil :
Intake dan output klien dari jam 06.00 – 13.00 WIB
Intake : Oral =1000 cc
Output : BAK = 450 cc
Drain = 270 cc
1 2 3 4 5
BB = 34 kg
13-08-2005 VI,V 07.45 Mengukur tanda-tanda vital klien
Hasil :
Rema
TD : 100/70 mmHg , Nadi : 82 x/menit, Respirasi :
23x/menit , Suhu : 36,3oC
II, V 07.50 Mengukur BB klien
Hasil : Rema
BB = 34 Kg
II, IV 08.00 Memberikan obat sesuai program terapi
Teracef 1 tablet peroral
Rantin 250 mg 1 tablet peroral
Rema
Becomzet 1 tablet peroral
Hasil :
Telah diberikan obat sesuai program
II, III, 08.25 Memfasilitasi klien untuk melakukan perawatan diri
VI secara mandiri : mandi, keramas, oral hygiene
Hasil :
Klien mengatakan badannya menjadi segar. Klien Rema
menagtakan lesi pada mulutnya berkurang. klien
merasa lelahnya berkurang saat beraktifitas. Kulit
dan rambut tampak bersih.
VI, IV 09.00 Membereskan lingkungan klien dan merapikan
tempat tidur.
Hasil : Rema
Lingkungan klien rapih dan bersih, sprei dalam
keadaan rapih, kering dan bersih
V 09.30 Mengobservasi intake dan output serta menghitung
balance cairan
Hasil :
- Intake dan output klien selama 24 jam dari
tanggal 12-08-2005 s/d 13-08-2005
Rema
Intake : Oral =2200 cc
Output : BAK = 1250 cc
Drain = 900 cc
IWL = 340 cc
Balance cairan 2250 – 2490 = - 240 cc
II 09.45 Memfasilitasi klien untuk makan dan minum
Hasil :
Rema
Porsi makan habis ½ porsi, klien mengatakan mual
dan sakit pada lidahnya saat mengunyah berkurang
IV 10.20 Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptik dan
anti septik
Hasil :
Rema
Sebagian luka tampak kering dan kemerahan
berkurang, pus berkurang. Posisi drain pada
tempatnya.
VI 10.50 Memberikan penjelasan kepada klien tentang
penyebab dan dampak dari menggaruk kulit yang
gatal.
Hasil : Rema
Klien mengerti tentang rasa gatal yang dirasakan
tidak boleh digaruk agar tidak menimbulkan luka
pada kulitnya.
VI 11.10 Melakukan dan mengajarkan perawatan kulit untuk Rema
1 2 3 4 5
daerah yang dirasakan gatal : mengompres area
yang gatal dengan air yang dingin, memberikan
lotion pada area yang gatal
Hasil :
Klien mengatakan rasa gatalnya berkurang dan klien
akan melakukan perawatan kulit dengan rutin
V 13.00 Mengobservasi intake dan output serta
Hasil :
Intake dan output klien dari jam 06.00 – 13.00 WIB
Intake : Oral = 900 cc
Output : BAK = 350 cc Rema
Drain = 240 cc

5. Evaluasi

Diagnosa
Tanggal Catatan Perkembangan Paraf
Keperawatan
1 2 3 4
13-08-2005 I S:
- Klien mengatakan nyerinya berkurang
- Kien mengatakan bila rasa nyeri dirasakan terutama saat
ganti balutan klien menarik nafas dalam dan
mengucapkan kalimat Allah SWT
- klien mengatakan nyeri yang dirasakan adalah proses dari
pengobatannya
O:
- klien tampak lebih tenang Rema
- ketika ganti balutan klien tampak kadang meringis dan
tampak klien menarik nafas dalam dan mengucapkan
kalimat Allah SWT
- skala nyeri 2 (0-5)
A:
Masalah teratasi
P:
Pertahankan intervensi 2,3,4,5,6
14-08-2005 II S: Rema
- Klien mengatakan rasa mual dan luka pada lidahnya
berkurang
- Kien dan keluarga mengatakan nafsu makan klien
bertambah
- Keluarga mengatakan akan menyediakan makanan yang
sesuai dengan diit untuk klien
O:
- Porsi makan habis ¾ porsi dan klien tampak makan
makanan selingan lainnya yaitu apel dan kue
- Bising usus 10 x/menit
- Keluarga terlihat membantu klien dalam menyediakan
makanan untuk klien
- BB = 34 kg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
I:
1 2 3 4
- Mengawasi jumlah porsi makan dan cairan
- Menimbang BB klien
- Memfasilitasi klien untuk perawatan mulut
- Memberikan terapi sesuai program
Rantin 250 mg 1 tablet peroral
Becomzet 1 tablet peroral
E:
- Jumlah porsi makan siang habis ¾ porsi.
- Klien mengatakan luka pada lidahnya berkurang
- Klien mengatakan saat mengunyah tidak merasakan sakit
- Klien tampak melakukan perawatan mulut mandiri
- BB = 34 Kg
R:
- Kaji intake klien sesuai diit
14-08-2005 III S:
- Klien mengatakan merasa lebih segar
- Klien mengatakan mandi dan perawatan mulut sendiri
- Klien mengatakan saat beraktifitas tidak merasa lelah
O:
- Klien tampak segar
- Konjungtiva agak pucat
- CRT 3 detik
- Akral teraba dingin
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi 3,4,5,6
- Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar haemoglobin
I: Rema
- Memfasilitasi klien untuk potong kuku mandiri
- Menganjurkan klien untuk beraktifitas misalnya : jalan-
jalan secara bertahap
- Menganjurkan keluarga untuk memberikan makanan
selingan sesuai dengan diit
E:
- Klien tampak berjalan-jalan disekitar Ruangan dibantu
oleh keluarga
- klien melakukan potong kuku mandiri
- Kuku tampak pendek dan bersih
R:
Kaji nilai kadar HB
14-08-2005 IV S: Rema
O:
- Luka tampak kotor
- Sekitar luka agak kemerahan
- Sebagian luka tampak kering dan sebagian masih basah
- Drain terpasang pada tempatnya
A : Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi 1-5
- Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar leukosit
I:
- Melakukan ganti balutan dengan teknik aseptic dan
antiseptic
- Memberikan terapi sesuai program
Teracef 1 tablet peroral
1 2 3 4
- Mengganti alat tenun
- Melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan kadar leukosit
E:
- Luka tampak bersih
- Sebagian luka tampak kering
- Tidak terdapat pus
- Drain pada tempatnya
- Alat tenun dalam keadaan rapi dan bersih
R:
Kaji nilai kadar leukosit
14-08-2005 V S:
O:
- Balance cairan
Intake : Oral =2400 cc
Output : BAK = 1600 cc
Drain = 600 cc
IWL = 340 cc
- Balance cairan 2400 – 2540 = - 140 cc
- Akral teraba hangat
- BB = 34 kg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi 1-5
I:
- Menghitung intake output Rema
- Melakukan kolaborasi untuk pemeriksaan kadar kimia
klinik
- Menimbang BB
E:
- Intake dan output klien dari jam 06.00 – 13.30 WIB
Intake : Oral = 1000 cc
Output : BAK = 550 cc
Drain = 250 cc
- BB = 34 kg
- Tidak tampak adanya oedema
R:
- Kaji balance cairan
- Kaji intake cairan yang diminum oleh klien
14-08-2005 VI S:
- Klien mengatakan rasa gatal berkurang bila area yang
gatal di kompres air dingin
- Klien mengatakan melakukan perawatan kulit mandiri :
mengoleskan lotion dan mandi
- Klien mengatakan tidak menggaruk area yang gatal
O: Rema
- Kuku klien tampak pendek dan bersih
- Tidak tampak bekas garukan pada area yang kulit
- Klien tampak bersih
A : Masalah teratasi
P:
Pertahankan intervensi
14-08-2005 VII S: Rema
- Klien mengatakan merasa lebih tenang
setelah mendengarkan penjelasan tentang hak-haknya
- klien mengatakan rasa cemasnya berkurang
1 2 3 4
- keluarga mengatakan nafsu makan klien
bertambah
O:
- Klien tampak segar/tidak murung
- Keluarga tampak mendampingi klien
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi
I:
- Memberikan bantuan pada klien dalam penempatan
barang sesuai keinginannya
- Membantu klien dalam mengekspresikan perasaannya
E:
- Klien mengatakan perasaanya saat ini lebih tenang
- klien mengatakan lebih senang dengan suasana kamarnya
saat ini
R:
Kaji tingkat kecemasan
B. Pembahasan

Berdasarkan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan gangguan sistem

perkemihan : gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi

kiri di ruang 2 perjan rumah sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah

diberikan melalui pendekatan proses keperawatan selama lima hari, penulis akan

membahas mengenai kesenjangan antara teori dan kenyataan di lapangan.

1. Tahap Pengkajian

Pada tahap pengkajian ini penulis menemukan beberapa kesamaan dan

kesenjangan diantaranya adalah :

Klien dengan gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri mempunyai kecenderungan terjadi pada laki-laki, Usia 30-

50 tahun, pekerjaan yang banyak duduk dan kurang aktifitas sedangkan pada

Ny. W ditemukan riwayat diet karena kurangnya pengetahuan yaitu

mengkonsumsi garam inggris selama 3 tahun yang menyebabkan efek

pencahar sehingga cairan dalam tubuh keluar dan keseimbangan cairan tubuh

terganggu. Ditemukan juga riwayat kesehatan yang lalu klien menderita


nefrolithiasis sebelumnya yang tidak tertangani menjadi penyebab gagal

ginjal kronik.

Secara konsep klien dengan gagal ginjal kronik e.c nefrolithiasis datang

ke rumah sakit dengan keluhan perubahan pola berkemih sedangkan tidak

terjadi pada Ny. W dikarenakan urine yang tertahan pada kaliks ginjal keluar

melalui rembesan fistel pasca nefrolitothomi tahun 1999. Kesesuaian terdapat

pada keluhan utama saat dikaji yaitu Ny. W mengeluh nyeri pada luka operasi

dan drain pasca nefrolitotomi kiri.

Riwayat kesehatan keluarga yang berhubungan dengan gagal ginjal

kronik ec nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri adalah adanya

penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes mellitus serta adanya

riwayat penyakit ginjal lainnya, karena kecenderungan terjadi dalam satu

rumpun keluarga. Tetapi pada kasus Ny. W tidak ditemukan adanya

riwayat penyakit tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu bersifat

unik serta penyakit yang klien alami bukan diakibatkan oleh adanya angka

kejadian dalam satu rumpun keluarga melainkan oleh faktor lain dan bukan

hereditair diantaranya adalah diet yang menyebabkan kurang asupan air

dalam tubuh.

Pemeriksaan fisik sistem perkemihan pada klien gagal ginjal kronik ec

nefrolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri secara konsep akan

ditemukan adanya bunyi bruits sign yang terjadi akibat atau adanya

gangguan vaskularisasi. Sedangkan di lapangan tidak ditemukan adanya hal

tersebut, karena penyebab gagal ginjal kronik pada Ny. W bukan karena
gangguan vaskularisasi melainkan karena obstruksi saluran kemih atas.

Kesenjangan juga ditemukan bahwa secara konsep klien dengan gagal ginjal

e.c nefrolithiasis terdapat edema dan balance cairan yang positif tetapi pada

Ny. W tidak ditemukan edema, turgor kulit baik dan balance cairan yang

negatif sedangkan nilai GFR yang cukup rendah 15 ml/menit, hal ini

diakibatkan karena Ny. W termasuk pada stadium gagal ginjal awal jadi

sebagian dari nefron masih berfungsi dan kompensasi tubuh adalah dengan

poliuri sehingga balance cairan negatif.

Secara konseptual pada sistem pernafasan akan ditemukan adanya

pernafasan yang cepat dan dangkal (kussmaul), irama nafas yang tidak

teratur, frekuensi nafas yang meningkat, adanya retraksi interkostalis dan

epigastrium sebagai upaya untuk mengeluarkan ion H+ yang tertumpuk dalam

darah akibat dari asidosis metabolik. Pada kasus Ny. W tidak ditemukan

adanya tanda-tanda tersebut, hal ini diakibatkan karena pada saat pengkajian

klien tidak mengalami keadaan asidosis metabolik yaitu ginjal tidak mampu

untuk mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan, penurunan ekresi

asam akibat ketidakmampuan tubulus ginjal untuk mensekresi amonia (NH3-)

dan mengabsorpsi natrium bicarbonat (HCO3-) yang ditunjukkan dengan

adanya penurunan kandungan karbondioksida dan pH dalam darah. Dalam

hal ini penulis mengalami kesulitan untuk menentukan status asidosis

metabolik klien karena tidak ditunjang dengan adanya data laboratorium

analisa gas darah ataupun kimia darah secara berkala. Ny. W sudah menjalani

post nefrolitotomi dan telah dilakukan pemasangan nefrostomi pada tanggal


20 Juli 2005 serta menjalani dialisis pada tanggal 25 Juli 2005. Hemodialisa

bisa membantu mengambil alih fungsi ginjal dalam hal pengaturan cairan dan

elektrolit serta ekskresi sisa-sisa metabolisme protein, sehingga dengan

dilakukannya hemodialisa, nefrolitotomi dan nefrostomi dapat membantu

mempertahankan fungsi ginjal sehingga klien tidak jatuh dalam kondisi

asidosis metabolik. Selain itu secara konseptual akan ditemukan adanya

pergerakan dada yang tidak simetris dan terdengarnya suara rales pada

auskultasi paru sebagai akibat adanya edema paru, pada tahap lanjut akan

ditemukan adanya sianosis perifer, hal ini tidak ditemukan dilapangan

karena Ny. W belum mengalami komplikasi yang bisa menyebabkan adanya

penumpukan cairan di paru-paru (edema paru).

Pemeriksaan sistem persyarafan pada klien dengan gagal ginjal kronik ec

neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri secara konsep ditemukan

adanya penurunan kesadaran akibat dari peningkatan kadar ureum dan

kreatinin dalam darah. Namun hal tersebut tidak terjadi di lapangan karena

klien belum mengalami komplikasi lebih lanjut akibat peningkatan kadar

ureum dan kreatinin dalam darah, selain itu klien sudah menjalani terapi yaitu

hemodialisa yang bisa membantu fungsi ginjal klien dalam hal pengaturan

keseimbangan cairan dan elektrolit serta nefrostomi yang dilakukan bisa

menurunkan tekanan yang terjadi pada pelvis ginjal, sehingga ginjal bisa

berfungsi lebih optimal

Pemeriksaan sistem pencernaan klien dengan gagal ginjal kronik ec

neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri ditemukan kesesuaian yaitu


adanya rasa mual serta stomatitis yang disebabkan oleh peningkatan ureum

yang mengakibat perubahan pada membran mukosa lambung dan mulut.

Kesesuaian terdapat pada sistem integumen yaitu ditemukan adanya rasa

gatal dan uremi fross pada lengan klien. Hal itu disebabkan karena

penimbunan ureum pada bawah kulit karena peningkatan ureum dalam tubuh.

Pemeriksaan laboratorium darah terdapat beberapa perbedaan secara

konsep. Nilai kalium yang seharusnya meningkat tidak terjadi pada Ny. W

dikarenakan proses dialisa yang telah dilakukan oleh klien. Kesesuaian

ditemukan pada kadar natrium dan albumin menurun serta ureum, kreatinin

yang meningkat. Namun penulis kesulitan dalam menilai kimia darah secara

rutin, pemeriksaan urine dan nilai GFR yang terbaru sebagai bahan

perbandingan dalam menetukan diagnosa secara tepat.

Secara konsep terdapat sebelas diagnosa yang mungkin timbul pada

klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri, yaitu :

1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan

adanya obstruksi.

2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berubungan

dengan anoreksia, mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi rasa, dan

pembatasan diet.
3) Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan

elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan

cairan.

4) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.

5) Perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan penurunan

libido.

6) Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi

mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine.

7) Resiko gangguan integritas kulit : pruritus yang berhubungan

dengan fosfat kalsium atau penumpukan ureum pada kulit.

8) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi

metabolik, anemia

9) Resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan

aktivitas, efek obat-obatan.

10) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan,

hubungan sosial, fungsi peran, support sistem dan konsep diri.

11) Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan

kateter / nefrostomi.

Pada kasus Ny. W penulis menemukan tujuh diagnosa keperawatan

yang ditunjang oleh data hasil pengkajian, yaitu :

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya

kontinuitas jaringan
2. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan mual dan stomatitis

3. Kelelahan berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan

4. Resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka

terinfeksi

5. Resiko gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit :

Hiponatremi berhubungan dengan retensi cairan

6. Resiko gangguan integritas kulit : pruritus berhubungan dengan

penumpukan kristal ureum pada lapisan kulit

7. Kecemasan : sedang berhubungan dengan hospitalisasi yang lama dan

perubahan status kesehatan.

Dibandingkan secara konseptual terhadap kasus Ny. W terdapat beberapa

diagnosa keperawatan yang seharusnya muncul secara teoritis yaitu :

diagnosa penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan

elektrolit (kalium, kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan

tidak muncul, hal ini dikarenakan tidak ditemukan data yang menunjang ke

arah diagnosa tersebut.

Secara konseptual diagnosa gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi

cairan serta natrium akan muncul. Untuk mengantisipasinya penulis

mengambil diagnosa resiko gangguan keseimbangan cairan: berlebihan dan

elektrolit: Hiponatremi berhubungan dengan retensi cairan ditandai dengan

penurunan fungsi ginjal ditandai dengan GFR : 15 lt/menit, data kimia klinik
tanggal 8-8-2005 : Ureum : 82 mg/dl, Kreatinin : 2,4 meq/dl, Natrium :134

meq/dl, Kalium :3,8 meq/d.

Diagnosa perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang

berubungan dengan anoreksia, mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi

rasa, dan pembatasan diet diganti dengan gangguan gangguan pemenuhan

nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis

karena data yang muncul mengarah ke diagnosa tersebut yaitu : Porsi makan

habis ¼ porsi dan Berat Badan 34 kg sebelum sakit 44 kg.

Diagnosa perubahan pola seksualitas yang berhubungan dengan

penurunan libido penulis tidak dimunculkan karena klien dan keluarga

merasa tidak terganggu dengan adanya perubahan seksualitas, mengingat hal

yang menjadi prioritas saat ini adalah kesembuhan klien.

Diagnosa resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif ,

invasi mikroorganisme pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine

tidak dimunculkan karena kondisi luka sudah terjadi infeksi yang ditandai

dengan luka kemerahan, adanya pus, luka masih basah, Data kimia klinik

tanggal 8-8-2005 Leukosit : 15.600 mm 3, sehingga diagnosa yang muncul

adalah resiko terjadinya perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka

terinfeksi.

Diagnosa resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan

aktivitas, efek obat-obatan tidak dimunculkan karena tidak didapatkan data

adanya konstipasi dan penurunan aktivitas pada Ny. W.


Diagnosa perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan

pemasangan kateter / nefrostomi tidak muncul, hal ini disebabkan walaupun

terdapat pemasangan nefrostomi tapi klien tidak merasakan adanya

perubahan pola berkemih karena klien dapat BAK melalui uretra.

Dalam tahap pengkajian ini penulis memperoleh dukungan sehingga

dapat memperlancar proses pengkajian, yaitu :

1 Adanya respon yang positif pada klien dan keluarga terhadap penulis

sehingga dapat terbina rasa percaya yang dapat memudahkan untuk

proses pengumpulan data.

2 Adanya dukungan dan bimbingan dari pembimbing, baik pihak

ruangan maupun dari institusi pendidikan.

2. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan penulis tidak mengalami hambatan dalam

merencanakan tindakan keperawatan menurut diagnosa yang muncul pada

Ny. W. Perencanaan disesuaikan dengan kondisi, situasi dan kemampuan

klien ataupun keluarga, serta disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang

tersedia di ruangan.

3. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini penulis melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan

rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam tahap pelaksanaan penulis

mengalami beberapa hambatan karena ada perencanaan tindakan

keperawatan yang tidak bisa dilaksanakan pada klien.

Kesulitan yang dialami penulis yaitu dalam memonitor intake dan output

klien pada sore dan malam hari, serta tidak adanya dokumentasi mengenai

intake dan output klien setiap shiff. Secara konsep intake dan out put klien

harus dinilai dalam 24 jam. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis

mencari alternatif lain yaitu dengan menganjurkan kepada keluarga untuk

tidak membuang urine selama 24 jam dan mengawasi jumlah air yang klien

minum. Penulis memberikan kertas observasi pada keluarga untuk mencatat

jumlah air yang klien minum dan urine selama 24 jam.

Secara konsep pemberian TPN (Total Parenteral Nutrisi) diperlukan oleh

klien karena didapatkan data albumin yaitu : 2,9 gr/dl. Tindakan ini tidak

dapat terlaksana karena kondisi biaya klien dan tidak adanya fasilitas dari

GAKIN.

Kesulitan lain terjadi pada saat melakukan kolaborasi dengan tim

kesehatan lain dalam memonitor kadar kimia darah, AGD (Analisis Gas

Darah), urine rutin serta GFR. Hal ini terjadi karena kondisi biaya klien dan

keluarga.

4. Tahap Evalusi
Pada tahap ini penulis melakukan penilaian dari respon klien terhadap

intervensi yang telah diberikan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang

telah ditetapkan.

Diagnosa keperawatan pada Ny. W yang teratasi dalam lima hari adalah

gangguan rasa nyaman : nyeri dan resiko gangguan integritas kulit : pruritus.

Sedangkan diagnosa keperawatan yang tidak semua teratasi sesuai dengan

kriteria waktu yang telah ditetapkan, yaitu : gangguan pemenuhan nutrisi :

kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan stomatitis, kelelahan

berhubungan dengan penurunan perfusi O2 ke jaringan, resiko terjadinya

perluasan infeksi berhubungan dengan adanya luka terinfeksi, resiko

gangguan keseimbangan cairan : berlebihan dan elektrolit: Hiponatremia

berhubungan dengan retensi cairan dan kecemasan : sedang berhubungan

dengan hospitalisasi yang lama dan perubahan status kesehatan.

Hal ini dimungkinkan karena dalam menentukan batasan waktu terlalu

singkat atau karena terapi yang diberikan kurang tepat. Untuk mengatasi

masalah tersebut, penulis mencari alternatif pemecahannya yaitu dengan

melimpahkan asuhan keperawatan pada perawat ruangan agar hasil asuhan

keperawatan yang telah penulis berikan kepada klien bisa berkesinambungan.


BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN

Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan

gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis bilateral dan

post nefrolitotomi kiri di Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin

Bandung dari tanggal 10-14 Agustus 2005 dengan menggunakan pendekatan

proses keperawatan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dari tiap proses

keperawatan, yaitu :

1. Tahap pengkajian penulis mendapatkan kesesuaian data klien dengan konsep

yaitu pada riwayat kesehatan dahulu, keluhan utama saat pengkajian, data

fisik sistem pencernaan, sistem integumen, kecemasan, beberapa

pemeriksaan laboratorium darah dan nilai GFR. Sedangkan ketidaksesuaian

data ditemukan pada keluhan utama saat masuk Rumah Sakit, riwayat
kesehatan keluarga, sistem kardiovaskuler, sistem pernafasan, persyarafan,

konstipasi dan beberapa pemeriksaan kimia darah yang tidak sesuai dengan

konsep. Secara konsep diagnosa keperawatan yang muncul ada sebelas dan

pada klien ditemukan 7 diagnosa keperawatan.

2. Rencana keperawatan yang telah ditetapkan disesuaikan dengan kemampuan,

kondisi, sarana dan kebutuhan klien serta melibatkan klien dan keluarga

untuk mengatasi masalah keperawatan yang aktual maupun potensial.

Perencanaan ditujukan untuk pemenuhan rasa nyaman : nyeri, memenuhi

kebutuhan nutrisi, mengurangi kelelahan, mengatasi masalah keseimbangan


101
cairan dan elektrolit, mencegah terjadinya perluasan infeksi, mengatasi

gangguan integritas kulit dan mengatasi kecemasan.

3. Tahap pelaksanaan penulis mengalami hambatan karena ada rencana

keperawatan yang tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang

dibuat yaitu pendokumentasian intake dan output, pemberian TPN,

kolaboratif dengan tim kesehatan lain dalam pemeriksaan kimia darah dan

urine rutin, AGD dan GFR.

4. Tahap evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif. Diagnosa keperawatan

yang telah teratasi yaitu adalah gangguan rasa nyaman : nyeri dan resiko

gangguan integritas kulit : pruritus sedangkan lima diagnosa lainnya teratasi

sebagian.

B. REKOMENDASI
Berdasarkan pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilakukan, maka

penulis merekomendasikan beberapa hal diantaranya :

1. Perawat ruangan diharapkan dapat melakukan pengawasan serta

pendokumentasian secara tepat terhadap intake dan output selama 24 jam,

karena klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post

nefrolitotomi kiri perlu pengawasan yang ketat terhadap intake dan output

selama 24 jam sesuai dengan kemampuan ginjal klien dalam

mengekskresikan cairan.

2. Perawat ruangan diharapkan dapat melakukan tindakan kolaboratif dengan

tim kesehatan lain dalam pengawasan kadar kimia darah dan urine rutin,

AGD serta nilai GFR untuk menghindari komplikasi yang lebih lanjut.

3. Pihak Rumah Sakit juga diharapkan dapat lebih bekerjasama dalam

pemberian fasilitas untuk peserta GAKIN terutama pemberian TPN.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E.Z., 2000, Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah, Jakarta, Grasindo.

Black, J.M., and Matassarin, E., 1993, Medical-Surgical Nursing A


Psychophysiologic Approach, Philadelphia , W.B. Saunders.

Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Alih bahasa
Ester, M., Jakarta , EGC.

De Jong, W., dan Sjamsuhidajat, R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi,
Jakarta , EGC.

Departemen Kesehatan RI, 1994, Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Di


Rumah Sakit, Jakarta , Direktorat rumah Sakit Umum Dan Pendidikan
Depatemen Kesehatan RI.

Doengoes M.E., et all, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih bahasa Kurniasa,
I.M., dan Sumarwati, N.M., Jakarta , EGC.

Denison, R.D., 1996, PASS CCRN, Missouri , Mosby-Year Book.

Engram, B., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa
Samba, S., Jakarta , EGC.

Guyton & Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC


Hidayat, A. Azis., 2001, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan, Jakarta ,
EGC.

Ignatavicius, D., et all, 1995, Medical Surgical Nursing A Nursing Proces Approach
2nd Edition, Philadelpia , W.B Saunders Company.

Long, B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses


Keperawatan Jilid 3, Alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan Pajajaran Bandung, Bandung.

Moore, C.M., 1997, Buku Pedoman Terapi Diet Dan Nutrisi Edisi II, Alih bahasa
Oswari, L.D., Jakarta , Hipokrates.

Moore, K.L, Anne, M, R. Agur, 2002, Anatomi Klinis Dasar, Alih bahasa Hendra
Laksman., Jakarta , Hipokrates.

Nursalam., 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika

Price, S.A., dkk, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4
Buku 2, Alih bahasa Peter A., Jakarta , EGC.

Purnomo, B.B., 2003, Dasar-dasar Urologi, Edisi 2, Malang, CV. Infomedika.

Ramali, A., dan Pamoentjak., 1994, Kamus Kedokteran , Arti dan Keterangan Istilah
Edisi Revisi, Jakarta , Djambatan.

Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi
8 Volume 2, Ahli bahasa Kuncara, H.Y., dkk, Jakarta , EGC.

Syaifuddin, 1997, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2, Jakarta , EGC.

Suyono, S., 2001, dkk, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta , Balai Penerbit FKUI.

(http,//www.indomedia.com/ tanggal 24 Agustus 2005).

(http,//www.mail-archive.com/ tanggal 24 Agustus 2005).

(http,//www.pikiran-rakyat.com/ tanggal 24 Agustus 2005).


SATUAN ACARA PENYULUHAN

Masalah : Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan


Pokok Bahasan : Perawatan pada klien gagal ginjal
Sub pokok bahasan : Diet pada gagal ginjal
Sasaran : Ny. W
Waktu : 20 Menit
Tanggal : 11 Agustus 2005
Tempat : Ruang 2 Perjan Rumah Sakit Perjan Dr Hasan Sadikin
Penyuluh : Rema Sita

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 20 menit, sasaran mampu
memehami tentang diet pada gagal ginjal.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 20 menit, diharapkan sasaran
mampu :
1. Menyebutkan tujuan diet pada gagal ginjal
2. Menyebutkan syarat diet pada gagal ginjal
3. Menyebutkan macam diet pada gagal ginjal
4. Menyebutkan bahan makanan yang boleh diberikan
5. Menyebutkan contoh daftar makanan penukar

C. Materi Penyuluhan
1. Tujuan diet pada gagal ginjal
2. Syarat diet pada gagal ginjal
3. Macam Diet diet pada gagal ginjal
4. Bahan makanan yang boleh diberikan
5. Contoh daftar makanan penukar

D. Kegiatan Pembelajaran
1. Metode : Ceramah dan tanya jawab
2. Media : Leaflet
3. Sumber :
a. Moore, C.M., 1997, Buku Pedoman Terapi Diet Dan Nutrisi Edisi
II, Alih bahasa Oswari, L.D., Jakarta ,Hipokrates.
b. Bagian Gizi RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi
Indonesia., 1982, Penuntun Diet, Jakarta, Gramedia.
4. Langkah-langkah kegiatan :
a. Pra Pembelajaran
 Menyiapkan ruangan dan media.
 Memberi salam dan perkenalan.
 Kontrak waktu.
b. Kegiatan Membuka Pembelajaran
 Menjelaskan tujuan pembelajaran.
 Menjelaskan pokok bahasan yang akan disampaikan.
 Appersepsi.
c. Kegiatan Inti Pembelajaran
 Sasaran menyimak penjelasan dari penyuluh.
 Sasaran mengemukakan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum
dipahami.
 Sasaran menyimak jawaban dan ulasan penyuluh.
 Sasaran menjawab pertanyaan penyuluh sebagai evaluasi dari materi
yang telah diberikan.
d. Penutup
 Sasaran dan penyuluh menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
 Memberi salam penutup.

E. Penutup
1. Prosedur : Post test
2. Jenis : Lisan
3. Bentuk : Essay
4. Butir-butir pertanyaan :
a. Sebutkan tujuan diet pada gagal ginjal ?
b. Sebutkan syarat diet pada gagal ginjal ?
c. Sebutkan macam diet pada gagal ginjal ?
d. Sebutkan bahan makanan yang boleh diberikan ?
e. Sebutkan contoh daftar makanan penukar ?
MATERI PENYULUHAN

A. Tujuan Diet Pada Gagal ginjal


1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memperberat fungsi
ginjal.
2. Menurunkan kadar ureum dan kreatinin darah.
3. Mencegah atau mengurangi simpanan garam atau air dalam tubuh.

B. Syarat Diet Pada Gagal ginjal


1. Jumlah protein disesuaikan dengan keadaan fungsi ginjal. Protein
dipilih yang bernilai biologi tinggi seperti yang terdapat dalam susu, telur dan
daging.
2. Lemak terbatas.
3. Pemasukan natrium dibatasi terutama pada pasien dengan bengkak
(edema) dan hiperkalemia.
4. Kalsium dan kalium dibatasi.
5. Kalori (karbohidrat) yang cukup agar tidak terjadi pemecahan protein.

C. Macam Diet Pada Gagal ginjal


1. Diet rendah protein I (20 gram protein/hari)
Diberikan pada penurunan fungsi ginjal berat dengan kadar ureum
darah diatas 100 mg % dan kadar creatinin clearance test 20 ml/menit. Bentuk
makanan tergantung keadaan penderita. Dapat cair, saring atau lunak.
Makanan ini kurang dalam kalori, protein, kalsium, besi dan thiamin.
Contohnya :
Pagi : Bubur maizena, susu
Siang : Bubur / nasi tim, telur ceplok saos tomat, tumis sayuran pepaya, teh
manis
Sore : Bubur / nasi tim, daging sapi, sup sayuran, teh manis
Makanan selingan : kue talam dan teh manis, sirop atau agar nanas dan teh
manis.

2. Diet rendah protein I (20 gram protein/hari)


Diberikan sebagai perpendahan dari diet rendah protein I pada
penurunan fungsi ginjal tidak terlalu berat dengan kadar ureum darah kurang
dari 100 mg % dan kadar creatinin clearance test 20 – 30 ml/menit. Bentuk
makanan lunak atau biasa, cukup kalori dan semua zat gizi.
Contohnya :
Pagi : Nasi tim, telur ceplok, tumis labu siem.
Siang : Nasi tim, ikan panggang saus tomat, sayur capcay.
Sore : Nasi tim, daging sapi, sup sayuran, teh manis
Makanan selingan : Kue talam dan teh manis, sirop atau agar nanas dan teh
manis.

D. Bahan Makanan Yang Boleh Diberikan


Sumber protein boleh diberikan dalam jumlah yang telah ditentukan, sedapat
mungkin yang bernilai biologis tinggi misalnya telur, ikan, daging.

E. Contoh Daftar Makanan Penukar


1. Susu
Coklat susu ½ gelas, krim ½ gelas, susu full cream ½ gelas.
2. Makanan laut / Daging
Remis besar ¼ gelas, daging as sapi tanpa lemak / ayam 1 potong, telur 1
butir.
3. Buah-buahan
Apel 1 buah, jeruk / nanas ½ potong, jus apel ½ gelas.
4. Roti
Roti bebas garam 1 iris, sereal 1 mangkuk, jagung giling 1 mangkuk.
5. Sayuran
Kacang / wortel kalengan rendah natrium ½ mangkuk.
Tujuan Diet Pada Gagal ginjal Makanan selingan : kue talam dan teh

1. Memberikan makanan manis, sirop atau agar nanas dan teh

secukupnya tanpa memperberat fungsi manis.

ginjal. Macam Diet Pada Gagal ginjal


2. Menurunkan kadar ureum 3. Diet rendah protein I (20 4. Diet rendah protein I (20
dan kreatinin darah. gram protein/hari) gram protein/hari)
3. Mencegah atau mengurangi Diberikan pada penurunan fungsi Diberikan sebagai perpendahan dari
simpanan garam atau air dalam tubuh. ginjal berat dengan kadar ureum darah diet rendah protein I pada penurunan
Syarat Diet Pada Gagal ginjal diatas 100 mg % dan kadar creatinin fungsi ginjal tidak terlalu berat dengan

1. Jumlah protein disesuaikan clearance test 20 ml/menit. Bentuk kadar ureum darah kurang dari 100 mg

dengan keadaan fungsi ginjal. Protein makanan tergantung keadaan % dan kadar creatinin clearance test

dipilih yang bernilai biologi tinggi penderita. Dapat cair, saring atau 20 – 30 ml/menit. Bentuk makanan

seperti yang terdapat dalam susu, telur lunak. Makanan ini kurang dalam lunak atau biasa, cukup kalori dan

dan daging. kalori, protein, kalsium, besi dan semua zat gizi.

2. Lemak terbatas. thiamin. Contohnya :

3. Pemasukan natrium Contohnya : Pagi : Nasi tim, telur ceplok, tumis

dibatasi terutama pada pasien dengan Pagi : Bubur maizena, susu labu siem.

bengkak (edema) dan hiperkalemia. Siang : Bubur / nasi tim, telur ceplok Siang : Nasi tim, ikan panggang saus

4. Kalsium dan kalium saos tomat, tumis sayuran pepaya, teh tomat, sayur capcay.

dibatasi. manis Sore : Nasi tim, daging sapi, sup

5. Kalori (karbohidrat) yang Sore : Bubur / nasi tim, daging sapi, sayuran, teh manis

cukup agar tidak terjadi pemecahan sup sayuran, teh manis


protein.
Makanan selingan : Kue talam dan teh Apel 1 buah, jeruk / nanas ½ potong,
manis, sirop atau agar nanas dan teh jus apel ½ gelas.
manis.

Bahan Makanan Yang Boleh 9. Roti


Diberikan Roti bebas garam 1 iris, sereal 1 Semoga Lekas Sembuh

Sumber protein boleh diberikan dalam mangkuk, jagung giling 1 mangkuk.


jumlah yang telah ditentukan, sedapat 10. Sayuran
mungkin yang bernilai biologis tinggi Kacang / wortel kalengan rendah
misalnya telur, ikan, daging. natrium ½ mangkuk.

Contoh Daftar Makanan Penukar


6. Susu
Coklat susu ½ gelas, krim ½ gelas,
susu full cream ½ gelas.
7. Makanan laut / Daging
Remis besar ¼ gelas, daging sapi
tanpa lemak / ayam 1 potong, telur 1
butir.
8. Buah-buahan
DISUSUN OLEH :
REMA SITA
111.020.66

DEPARTEMEN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
BANDUNG
2005