Anda di halaman 1dari 25

c

Ê Ê 
 Ê  




  



 

‘  

Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia,

pendidikan (terutama Islam) dengan berbagai coraknya yang berorientasi

memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai

kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan

(Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka

merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar

peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada

kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis) tetapi kebahagiaan hidup di

dunia juga bisa diraih.

Dunia Islam akhir-akhir ini tengah menghadapi berbagai

permasalahan nseputar krisis pendidikan Islam serta problem lain yang

sangat menuntut upaya pemecahan secara mendesak. Bahkan menurut

sinyalemen Al-Faruqi, krisis dalam aspek pendidikan inilah yang paling

buruk dialami oleh dunia Islam. Al-Faruqi menyatakan dengan tegas

bahwa agenda pemecahan problematika pendidikan Islam menjadi tugas

rumah yang terberat bagi umat Islam pada abad ke 15 H ini. Sejalan

dengan hal ini, Khursid Ahmad menyatakan bahwa di antara persoalan-

persoalan yang dihadapi dunia Islam masa kini, persoalan pendidikan


Ñ

adalah tantangan yang paling berat. Masa depan Islam akan sangat

tergantung pada bagaimana dunia itu menghadapi tantangan ini. Inilah

yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam

hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam.

Pada persoalan kurikulum keilmuan misalnya, selama ini

pendidikan Islam masih sering hanya dimaknai secara parsial dan tidak

integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), sehingga peran pendidikan

Islam di era global sering hanya difahami sebagai pemindahan

pengetahuan (knowladge) dan nila-nilai (value) ajaran Islam yang tertuang

dalam teks-teks agama, sedangkan ilmu-ilmu sosial (Social Science) dan

ilmu-ilmu alam (Nature Science) dianggap pengetahuan yang umum.

Padahal Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan dengan tanpa

terikat) antara ilmu-ilmu agama dan umum. Semua ilmu dalam Islam

dianggap penting asalkan berguna bagi kemaslahatan umat manusia.

Bertolak dari problematika diatas, di Islam pun dikenal dua sistem

pendidikan yang berbeda proses dan tujuannya.‘ , sistem

pendidikan tradisional yang hanya sebatas mengajarkan pengetahuan

klasik dan kurang perduli terhadap peradaban teknologi modern, ini sering

diwarnai corak pemikiran timur tengah.‘, sistem pendidikan modern

yang diimpor dari barat yang kurang memperdulikan keilmuan Islam

klasik. Bentuk ekstrim dari bentuk kedua ini berupa Universitas Modern

yang sepenuhnya sekuler dan karena itu, pendekatannya bersifat non-

agamis. Para alumninya sering tidak menyadari warisan ilmu klasik dari

tradisi mereka sendiri.




Menurut Al-Attas percabangan sistem pendidikan tersebut diatas

(tradisionalmodern) telah membuat lambang kejatuhan umat Islam. Jika

hal itu tidak ditanggulangi maka akan mendatangkan dan menggagalkan

perjuangan umat Islam dalam rangka menjalankan amanah yang diberikan

oleh Allah SWT. Allah telah menjadikan umat manusia disamping sebagai

hambanya juga sebagai khalifah di muka bumi, sehingga peranannya

disamping mengabdikan diri kepada Allah juga harus bisa mewarnai dunia

empiris.

Dikotomi keilmuan dalam pendidikan Islam, antara ilmu agama

(Islam) dan ilmu umum (Barat) telah menimbulkan persaingan diantara

keduanya, yang saat ini dalam hal peradaban dimenangkan oleh Barat,

sehingga pengaruh pendidikan Barat terus mengalir deras dan ini membuat

identitas umat Islam mengalami krisis dan tidak berdaya.

Menurut Syed Muhammad Al-Naquib al-Attas, pemecahan

problematika pendidikan Islam seperti tersebut diatas menjadi tugas umat

yang terberat di abad XV H/ XXI M sebab keadaan umat Islam jika ingin

kembali bangkit memegang andil dalam sejarah sebagaimana di masa

kejayaannya, amat ditentukan oleh sejauh mana kemampuannya dalam

mengatasi problema pendidikan yang sedang dialaminya.

Dari pemaparan tersebut diatas, dapat dirasakan bahwa selama ini

ada sesuatu yang kurang beres dalam dunia pendidikan Islam dari segi

konsep (kurikulum, proses, tujuan) dan aktualisasinya. Oleh karena itu

perlu adanya rekonseptualisasi, reformulasi, reformasi, rekontruksi,

penataan kembali di dalamnya. Hal ini amat perlu dilakukan, dan


 

sebenarnya ini sudah disadari dan diupayakan oleh para pemikir Muslim,

terbukti dengan diadakannya beberapa kali konferensi mengenai

pendidikan Islam tingkat internasional.

Konferensi Internasional mengenai pendidikan Islam

diselenggarakan sebanyak enam (6) kali di beberapa Negara yang

berpenduduk mayoritas muslim. Yakni Mekkah (1977), Islamabad (1980),

Dakka (1981), Jakarta (1982), Kairo (1982), Amman (1990). Dalam

konferensi tersebut, dibahas berbagai persoalan mendasar tentang problem

yang dialami pendidikan Islam. Juga mencari rumusan yang tepat untuk

mengatasinya.

Syed Muhammad Al-Naquib Al-attas termasuk salah satu pemikir

dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas tidak

hanya sebagai intelektual yang‘


 dengan pendidikan dan persoalan

umum umat Islam tapi juga pakar dalam berbagai bidang ilmu

pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu

pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya.

Meski demikian, ide-ide Al-Attas tentang Islamisasi Ilmu

pengetahuan dalam pendidikan Islam banyak memperoleh tantangan dari

pemikir muslim dan non muslim.

Terlepas dari itu, Al-Attas telah dikenal sebagai filosof pendidikan

Islam yang sampai saat ini kesohor dikalangan umat Islam dunia dan juga

sebagai figure pembaharu ( 


‘
‘ 
) pendidikan Islam. Respon

positif dan negatif dari 4 para intelektual yang ditujukan kepada Al-Attas

menjadikan kajian terhadap pemikiran Al-Attas semakin menarik.


º

‘ !! 

2  ‘   ‘ ‘  ‘  ‘    ‘  ‘  ‘

‘   ‘  ‘  ‘  ‘   ‘ ‘  ‘  ‘

‘ 2 ‘ 


 ‘   ‘  ‘  ‘ ‘

‘‘ ‘ ‘

X‘ !"!#$$

 ‘ ‘‘! ‘ ‘ ‘  ‘‘ ‘  ‘  "‘

  ‘  ‘   ‘  ‘ ‘  ‘  ‘  ‘ ‘


 ‘   ‘ ‘ ‘‘‘‘ "‘

‘
%#$$

 ‘ ‘  ‘‘   ‘ ‘ 

"‘ ‘#
 ‘ ‘  ‘ ‘$ ‘  ‘ ‘

 ‘ ‘‘ ! ‘‘% ‘‘ ‘

  ‘#‘ ‘  ‘  ‘‘ ‘ ‘  ‘‘

  ‘   ‘  ‘ 


 ‘   ‘  ‘ ‘ ‘

 ‘   ‘ ‘ 


‘ ‘ ‘ "‘

"‘ ‘  ‘ ‘ ‘‘ ‘  ‘‘

 ‘ ‘  ‘  ‘ ‘   ‘ ‘

 ‘ ‘   ‘ ‘ ‘  "‘

‘
·



Ê&  

'( $)%$

2.1.1. ‘

Nama lengkapnya Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah

ibn Muhsin Al-Attas, dia dilahirkan pada 5 September 1931 di Bogor,

Jawa Barat. Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke

belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba¶Alawi di Hadramaut

dengan silsilah yang sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad

SAW. Ibunda Syed Muhammad Naquib, yaitu Syarifah Raquan Al-

µAydarus, berasal dari Bogor, Jawa Barat, dan merupakan keturunan

ningrat Sunda di Sukapura.1

Dari pihak bapak, kakek Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang

bernama Syed Abdullah ibn Muhsin Muhammad Al-Attas adalah seorang

wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampai

ke negeri Arab. Neneknya, Ruqayah Hanum, adalah wanita Turki berdarah

aristokrat yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik Sultan Abu

Bakar Johor (Wafat 1895) yang menikah dengan adik Ruqayah Hanum,

Khadijah, yang kemudian menjadi Ratu Johor. Setelah Ungku Abdul

Majid wafat (meninggalkan dua orang anak), Ruqayah menikah untuk

1
http://motipasti.wordpress.com/2009/12/03/biografi-syed-muhammad-naquib-al-attas/. 02-03-
2011. 14:38.
å

yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah Al-Attas dan dikaruniai

seorang anak, Syed Ali Al-Attas, yaitu bapak Syed Muhammad Naquib.2

Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah anak kedua dari tiga

bersaudara. Yang sulung bernama Syed Hussein, seorang ahli sosiologi

dan mantan wakil rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu

bernama Syed Zaid, seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut

Teknologi MARA. Ia mendapat gelar µsayyed¶ yang dalam tradisi Islam;

orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari

keturunan Nabi Muhammad SAW.3

2.1.2.‘   ‘

›atar belakang keluarga Al-Attas memberikan pengaruh yang

besar dalam pendidikan awalnya. Dari keluarganya yang terdapat di

Bogor, dia memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman,

sedangkan dari keluarganya di Johor, dia memperoleh pendidikan yang

sangat bermanfaat baginya dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa,

sastra, dan kebudayaan Melayu.4

Pada usia lima tahun ia dikirim oleh orang tuanya untuk bermukim

di Malaysia dan menempuh pendidikan dasar di Ngee Heng Primary

School (1936-1941). Ia kembali ke Indonesia ketika jepang menduduki

Malaya untuk belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional di Madrasah al-

Urwatul Wutsqa¶, Sukabumi, Jawa Barat (1941-1945). Setelah

2
"‘
3
"‘
4
"‘
ü

menyelesaikan sekolah lanjutan atas, ia memasuki ketentaraan Malaysia

dan sempat dikirim untuk belajar di beberapa sekolah militer di Inggris,

termasuk royal Military Academy, Sandhurst (1952-1955). Pada tahun

1957 ia keluar dari dunia militer dan belajar di Universiti Malaya,

Malaysia selama dua tahun. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di

Institute of Islamic Studies, McGill University, Canada (1959-1962),

hingga meraih gelar Master dengan tesis berjudul Raniri and the

Wujudiyyah of 17th Century Acheh (diterbitkan 1966). Adapun gelar

Doktor diperolehnya dari School of Oriental and African Studies,

University of ›ondon (1963-1965), dengan desertasi berjudul The

Mysticism of Hamzah Fansuri (diterbitkan 1970).5

''Ê***

Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, baik dalam bahasa

Inggris maupun Melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam

bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Malayalam,

Indonesia, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang, India, Korea, dan Albania.

Karya-karyanya tersebut adalah:

c ‘ &  ‘ &'‘ () ‘ 2 ‘  ‘  ‘ *(2 ‘

‘ + ‘ c‘ , ‘ 


‘    ‘
‘  ‘  ‘ -  

‘  ‘

  ‘ 
‘ ‘  ‘   ‘ 


 ‘ &  ‘  ‘

  ‘ c‘  ‘ & ‘  ‘ ‘ .‘


‘ c‘ / ‘  ‘



 ‘
‘ ‘ ‘ ‘ ‘ &
‘   ‘ 
‘ / ‘  ‘ 
"ccc‘

5
. p 
‘ . 1999. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. hlm 78.
Î

  ‘c‘0 ‘#‘1 ‘
‘‘‘'‘(2 ‘‘+ ‘

c‘ ‘  ‘ ‘


‘‘2 ‘#
‘
‘‘ $
‘

‘  
  ‘   
‘ (2 ‘ ‘ + ‘ c‘  ‘ #‘

   ‘
‘ 3$‘ % ‘ - ! ‘
‘ ‘  ‘ ‘

+ ‘c‘ ‘/
 ‘
  ‘
‘‘1 ‘
‘‘‘'‘

(2 ‘ ‘ + ‘ cc‘  ‘ #‘ /


 ‘ (‘
‘ ‘ #  ‘

  
‘   ‘ (  ‘ ‘ + ‘ c,‘  ‘  ‘ ‘

‘ ‘ ‘‘- ! ‘   ‘ ‘‘

+ ‘c,"‘ ‘ ‘‘ ‘‘ ‘‘ ‘ ‘

& ‘  ‘   "‘ 2‘  ‘ ‘ ‘ ‘ ‘ ! ‘  ‘

 
 ‘ c ‘ & ‘  ‘ ‘   ‘ 

‘  ‘ ‘

 ‘ ,‘ "‘  ‘  ‘ %‘ c"‘ *‘  ‘

 ‘  ‘ ‘ ‘ + ‘


‘ #/‘ ‘ ,c ‘ cc ‘

/
  ‘
‘ ‘ &4 
‘
‘ & ' ‘ 3‘ ‘ ‘

&
‘   ‘ (  ‘ ‘ + ‘ c‘ c, ‘  ‘ #‘

/
 ‘
‘ ‘ &
‘  ‘ ‘ %
 
‘
‘ p ‘  ‘ 
‘

  ‘ 2‘  ‘  ‘ *2 ‘  ‘ + ‘ c"‘ #‘

 ‘ ‘ ‘  ‘ 


‘ 5  ‘  ‘ #‘ c ‘  ‘

‘ ‘  ‘   ‘ ‘ 2‘ ‘ + ‘ c"‘ 6 ‘

 ‘ ‘ ‘ 


"‘ c,‘ ‘  ‘ c0 ‘  ‘  ‘   ‘ 2‘

‘+ ‘c"‘( ‘‘‘ ‘‘ ‘

 ‘ -‘  
 ‘ #‘ ‘  ‘ & ‘ c ‘ *p" ‘  ‘  ‘

1 ! ‘
‘   ‘ p 
‘   ‘ p 
‘  ‘ 3
‘  ‘



‘  ‘  ‘ $$‘ - ! ‘ +

‘ c"‘ ( ‘
c

‘ ‘  ‘ #‘ c ‘ #‘ /


 ‘
‘ p 
‘  ‘  ‘ 2‘

‘+ ‘c"‘ ( ‘ ‘ ‘  ‘  


 ‘  ‘

 ‘ ‘ c ‘  ‘   ‘  ‘ #‘ 



‘
‘ ‘ %‘

 ‘ +

‘  ‘ )‘ 7
‘ c‘ c ‘ ‘ /
 ‘
‘ ‘ 3‘

‘
‘ ‘ ( ‘ & ‘   ‘  ‘ ‘

+ ‘c‘c ‘#‘1 ‘


) ‘‘   ‘‘c‘/ ‘

‘ # 


‘
‘ ‘ 8'‘
‘  ‘ ( "‘   ‘

- !  ‘‘‘+ ‘c‘, ‘ ‘ ‘‘ 



‘

  ‘ #/‘ ‘ + ‘ c"‘ ( ‘ ‘ ‘  ‘

 
 ‘ 2
‘  ‘  ‘ #‘ ,c ‘ #‘ ‘
‘  ‘  ‘ ‘

 

‘
‘ ‘ 3 ‘ 
‘ #/‘ ‘ + ‘ c"‘

( ‘ ‘ ‘  ‘  ‘ ,, ‘ #‘  


‘
‘ p4  ‘

#/‘‘+ ‘c"‘( ‘‘‘ ‘  ‘, ‘

1 ‘9‘ ‘p  ‘#/‘‘+ ‘c"‘( ‘‘

‘  ‘  ‘ ,0 ‘ #‘   ‘  ‘ p4  ‘


‘ 3   ‘  ‘

 ‘ #/‘ ‘ + ‘ c"‘ (  ‘ ‘ ‘  ‘

‘ #‘  ‘ 5 ‘ , ‘ #‘ ( ‘


‘ p4  ‘ #/‘ ‘

+ ‘c0"‘( ‘‘‘ ‘  ‘, ‘ 




‘


‘‘    ‘
‘  ‘  ‘p4

‘
‘‘ %  ‘ p  ‘


‘‘.
!)‘
‘ ‘#/‘‘+ ‘c"‘( ‘‘

‘ ‘& " ‘

6
http://motipasti.wordpress.com/2009/12/03/biografi-syed-muhammad-naquib-al-attas/. +
"‘/"
cc

'+Ê)#,$,$

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; konsep adalah suatu

rancangan, ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.7

Sedangkan pendidikan sendiri ialah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara,atau perbuatan

mendidik.8 Islam ialah agama yg diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

berpedoman pada kitab suci Al-Quran yg diturunkan ke dunia melalui

wahyu Allah SWT.9

Menurut Al-Attas; konsep bisa diartikan sebagai pokok pertama

yang mendasari keseluruhan pemikiran, konsep biasanya hanya ada dalam

alam pikiran, atau kadang-kadang tertulis secara singkat. Jika ditinjau dari

segi filsafat, konsep adalah suatu bentuk konkretisasi dunia luar ke alam

pikiran, sehingga dengan demikian manusia dapat mengenal hakekat

sebagai gejala dan proses, untuk dapat melakukan generalisasi segi-segi

dan sifat-sifat konsep yang hakiki.10

Konsep dapat juga berarti ide umum; pengertian; pemikiran;

rancangan; rencana. Dari batasan istilah diatas, penulis mengambil salah

satu pengertian tersebut sehingga konsep dalam skripsi ini adalah ide

umum; pengertian; pemikiran; rancangan; rencana dasar.

7
Departemen Pendidikan Nasional. 2002.  ‘2 ‘2 ‘ 
 . Jakarta: Balai Pustaka.
Edisi ketiga. Hlm 558.
8
"‘hlm 263.
9
"‘hlm 444.
10
‘
 ‘   ‘ . Pdf.

Orang-orang Yunani, lebih kurang 600 tahun sebelum Masehi,

telah menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia

menjadi manusia. Ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, ‘

ùmembantu´ dan ‘ùmanusia´.11

Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang

dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat)

kemanusiaan. Itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia.

Karena itulah sejak dahulu banyak manusia gagal menjadi manusia. Jadi,

tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia.12

Pendidikan Islam menurut Al-Attas adalah pengenalan dan

pengalaman yang secara berangsur-angsur ditanamkan dalam diri manusia,

tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan

penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan

dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan

kepribadian.

Sedangkan Konsep Pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan

untuk menciptakan manusia yang baik dan bertaqwa yang menyembah

Allah SWT. dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur

pribadinya sesuai dengan syariat Islam serta melaksanakan segenap

aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan dengan

cccc
 
Ñ·  

           

"
c

cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap muslim

terlepas dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji.13

'-. %$$$,
,$,$

Dalam Islam istilah pendidikan dikenal melalui tiga term yang

kesemuanya mengandung makna dan konsekuensi tersendiri dalam proses

pendidikan yang didasarkan pada istilah-istilah tersebut. Istilah-istilah

tersebut yaitu, tarbiyah, ta¶dib dan ta¶lim. Al-Attas cenderung lebih

memakai ta¶dib daripada istilah tarbiyah maupun ta¶lim. Kata tarbiyah

berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, memelihara, menjadikan

tumbuh, membesarkan dan menjinakkan. Sehingga tarbiyah mengandung

unsur pendidikan yang lebih bersifat fisik dan material. Terlebih, term

tarbiyah secara luas dapat digunakan tidak hanya untuk manusia, tetapi

juga untuk batu, tanaman dan hewan. Sedangkan pendidikan dalam

pandangan Islam hanya terkhusus kepada manusia. Sedangkan term ta¶lim,

meskipun mempunyai makna yang lebih luas dari tarbiyah, yakni

informasi, nasehat, bimbingan, ajaran dan latihan; namun tetap tidak bisa

mewakili pengertian pendidikan Islam karena juga dapat digunakan untuk

selain manusia, sementara pendidikan hanya untuk manusia saja. Dari

pengertian tersebut; dua terma diatas, menurut Al-Attas, terma ta¶diblah

yang lebih cocok digunakan dalam pendidikan Islam. ta¶dib berasal dari

kata adaba yang mempunyai arti mendidik, kehalusan budi, kebiasaan

yang baik, akhlak, kepantasan, kemanusiaan dan kasusastraan. Dalam

struktur konseptual, terma ta¶dib sudah mencakup unsur-unsur

13
+
"‘/"‘

pengetahuan (µilm), pengajaran (ta¶lim) dan penyuluhan yang baik

(tarbiyah).14

Sebagaimana dalam pandangan Al-Attas bahwa masalah mendasar

dalam pendidikan Islam selama ini adalah hilangnya nilai-nilai adab

(etika) dalam arti luas. Baginya, alasan mendasar memakai istilah ta¶dib

adalah, karena adab berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu tidak bisa diajarkan

dan ditularkan kepada anak didik kecuali orang tersebut memiliki adab

yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang. Inti dari

pendidikan itu sendiri adalah pembetukan watak dan akhlak yang mulia.

Dari sini Al-Attas mengartikan makna pendidikan sebagai suatu proses

penanaman sesuatu ke dalam diri manusia dan kemudian ditegaskan

bahwa sesuatu yang ditanamkan itu adalah ilmu; dan tujuan dalam mencari

ilmu ini terkandung dalam konsep ta¶dib.15

›ebih lanjut, Al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta¶dib

dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah

lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta¶dib,

selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan.

Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta¶dib, pendidikan

Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan

pengasuhan yang baik. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu

yang diperoleh dapat diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan

menurut kehendak bebas pemilik ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (!‘

14
http://khalian21.blogspot.com/2010/12/syed-muhammad-naquib-al-attas-tokoh.html. tgl 02-03-
2011. jam 23: 38.
15
"‘

) tetapi sarat nilai (!‘  ), yakni nilai-nilai Islam yang

mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan

kemaslahatan umat manusia.16

Sementara, bila dicermati lebih mendalam, konsep pendidikan

Islam hanya terbatas pada tarbiyah atau ta¶lim ini, telah dirasuki oleh

pandangan hidup Barat yang melandaskan nilai-nilai dualisme,

sekularisme, intelektualisme, dan sofisme (alasan palsu) sehingga nilai-

nilai adab semakin menjadi kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah

Ilahiyah. Kekaburan makna adab itu, dalam pandangan Al-Attas, menjadi

sebab utama dari kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Bahwa salah satu

sebab kemunduran umat Islam adalah di bidang pendidikan. Maka dari

konsep ta¶dib seperti dijelaskan, akan ditemukan problem mendasar

kemunduran pendidikan umat Islam. Problem itu tidak terkait masalah

buta huruf, melainkan berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang disalah

artikan, bertumpang tindih, atau diporak-porandakan oleh pandangan

hidup sekular (Barat). Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser

jauh dari makna hakiki dalam Islam. Fatalnya lagi, ini semua kemudian

menjadi 'dalang' dari berbagai tindakan korup (merusak) dan kekerasan

juga kebodohan. ›ahir kemudian pada pemimpin yang tak lagi

mengindahkan adab, pengetahuan, dan nilai-nilai positif lainnya. Untuk

itulah, dalam amatan Al-Attas, semua kenyataan ini harus segera disudahi

16
"‘

dengan kembali membenahi konsep dan sistem pendidikan Islam yang

dijalankan selama ini.17

Pada sisi lain, adanya pandangan dikotomi keilmuan dalam

pendidikan Islam; antara ilmu agama dan ilmu umum telah menimbulkan

persaingan di antara keduanya, yang saat ini ± dalam hal peradaban ±

dimenangkan oleh Barat, sehingga pengaruh pendidikan Islam.

Sebagaimana ia membagi ilmu menjadi dua, yakni ilmu fardhu µain (yang

tercakup didalamnya ilmu-ilmu agama) dan ilmu fardhu kifayah (yang

meliputi ilmu-ilmu rasional-filosofis seperti ilmu kealaman, ilmu sosial,

ilmu terapan dan teknologi). Ia menekankan akan pentingnya pengajaran

ilmu fardhu µain yang integral dalam pengajaran ilmu fardhu kifayah.

Yakni, dengan memberikan pegajaran tentang ilmu pengetahuan yang

menekankan dimensi ketuhanan, intensifikasi hubungan manusia-Tuhan

dan manusia-manusia, serta pendidikan Barat terus mengalir deras, dan ini

membuat identitas umat Islam mengalami krisis dan tidak berdaya. Dalam

hal ini, Al-Attas berpendapat bahwa perlu adanya penanaman nilai-nilai

spiritual, termasuk spiritual intelligent dalam nilai-nilai moralitas lainnya

yang membentuk cara pandang anak didik terhadap kehidupan dan alam

semesta. Bagi Al-Attas, adanya pembagian ilmu menjadi ilmu fardhu µain

dan fardhu kifayah tidak perlu diperdebatkan. Tetapi, pembagian tersebut

harus dipandang dalam perspektif integral atau tauhid, yakni ilmu fardhu

µain sebagai asas dan rujukan bagi ilmu fardhu kifayah. Bahwa setelah

manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses

17
"‘

pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di

masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama.18

'/.  !"!,$,$ 

Seperti halnya pandangannya tentang tujuan hidup manusia, Al-

Attas beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan

kebajikan dalam ùdiri manusia´ sebagai individu dan sebagai bagian dari

masyarakat. Secara ideal, Al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu

mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Insan

kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan: pertama; manusia

yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a) dimensi

isoterik-vertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b)

dimensi eksoterik-dialektikal-horisontal, yakni membawa misi

keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua; manusia seimbang

dalam kualitas pikir, zikir dan amalnya.19

Berbeda dengan apa yang dipaparkan oleh Abdul Fattah Jalal,

tujuan umum Islam ialah ) ‘   ‘ ‘ ‘ "‘ Ia

mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam akan mewujudkan tujuan-

tujuan khusus. Dengan mengutip surat al-Takwir ayat 27, Jalal

menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut

Islam, tujuan pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali

lagi: seluruh manusia) menjadi manusia yang menghambakan diri kepada

18
"‘
19
"‘

Allah. Yang dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada

Allah.20

Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang

baik, baik dalam kehidupan material dan spiritualnya. Dalam hal ini,

manusia yang baik yang dimaksud adalah individu yang beradab, bijak,

mengenali dan sadar akan realitas sesuatu, termasuk posisi Tuhan dalam

realitas itu. Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus

yakni, sebagai `abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardh

(wakil Allah di muka bumi). Dengan harapan yang tinggi, Al-Attas

menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna,

insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu

pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Muhammad

SAW. 21

Pandangan Al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya

tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya

untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus

membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena

masyarakat merupakan bagian dari kumpulan individu-individu. Manusia

yang seimbang pada garis vertikal dan horizontalnya. Dalam konsep inilah

tujuan pendidikan Islam mengarah pada terbentuknya manusia universal

(insal kamil). ›ebih lanjut, menurutnya pendidikan Islam harus mengacu

Ñ
 
Ѻ  

 
           
  ·
21
"‘

kepada aspek moral-transedental (afektif), tampa harus meninggalkan

aspek kognitif (sensual logis) dan psikomorik (sensual empirik).

'0. $,$,$

Gagasan Al-Attas tentang sistem pendidikan Islam ini tidak bisa

dilepaskan (terpisah) dari pemaknaannya terhadap konsep pendidikan.

Sistem pendidikan Islam bagi Al-Attas haruslah mengandung unsur adab

(etika) dan ilmu pengetahuan, karena inti dari pendidikan itu sendiri adalah

pembetukan watak dan akhlak mulia manusia yang mampu

mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri

khususnya dan bagi umat manusia umumnya.

Sesuai dengan pandangannya terhadap tujuan pendidikan untuk

membentuk insan kamil, maka insan kamil harus dijadikan paradigma

dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian

lembaga pendidikan Islam harus menjadikan Nabi Muhammad SAW.

sebagai modelnya. Sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu

pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan

umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Muhammad

SAW. Al-Attas ingin menampilkan sistem pendidikan Islam yang terpadu,

yakni antara dimensi µabdullah dengan dimensi Khalifah fi al-Ardh.

Dan sesuai dengan kategori ilmu yang dibuat Al-Attas, pendidikan

Islam haruslah berisikan ilmu-ilmu fardhu µain dan ilmu-ilmu fardhu

kifayah. Sistem pendidikan yang diformulasikannya adalah

mengintegrasikan ilmu dalam sistem pendidikan Islam, artinya Islam harus


Ñ

menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya

ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis.

Namun ilmu pengetahuan dan teknologi harus terlebih dahulu dilandasi

pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama. Karena secara makro dapat

disimpulkan bahwa pendidikan Islam masih mengalami keterjajahan oleh

konsepsi pendidikan Barat. Ilmu masih dipandang secara dikotomis,

sehingga tidak ada integrasi ilmu yang seharusnya diwujudkan untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan yang berwawasan dan bernuansa

Islami.22




   

+(‘,,&$$$

Nana Syaodih menyatakan bahwa bahwa penelitian itu bermacam-

macam, antara lain:23 a) penelitian berdasarkan pendekatan: Penelitian

Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif. b) penelitian berdasarkan fungsinya:

Penelitian Dasar, Penelitaian Terapan, dan Penelitian Evaluatif. Dan c)

penelitian berdasarkan tujuannya: Penelitiaan Deskriptif, Penelitian

Predektif, Penelitian Improftif, dan Penelitian Eksplanatif.

Sedangkan Nurul Zuriah mengklasifikasikan jenis dan karakteristik

penelitian dalam 7 (tujuh) kategori, yaitu:24 a) Penelitian Deskriptif; b)

Penelitian Sejarah; c) Penelitian Korelasional; d) Penelitian Kausal

22
"‘
23
Nana Syaodih Sukmadinata. 2006. 
‘   ‘   "‘Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. hlm 12.
24
Nurul Zuhriah. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hlm 47-49.
Ñc

Komparatif; e) Penelitian Eksperiman; f) Penelitian Tindakan; dan g)

Penelitian 2
 .

Pemnelitian dalam proposal skripsi menggunakan pendekatan

Kualitatif Deskriptif.

+'‘!,

Menurut ›ofland, sumber data utama dalam penelitian Kualitatif

ialah kata-kata dan tindakan; selebinya adalah data tambahan seperti

dokumen dan lain-lain.25 Namun, karena penelitian dalam proposal skripsi

ini adalah studi pustaka, maka sumber data utamanya adalah sumber

tertulis.

Sumber tertulis dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah

(termasuk skripsi, tesis, disertasi, jurnal) sumber dari arsip, dokumen

pribadi dan resmi.26 Sedangkan sumber data proposal skirpsi ini adalah:

3.2.1.‘ Data primer, meliputi: karaya-karya monumental Syed

Muhammad Naquib Al-Attas.

3.2.2. Data sekunder, meliputi: buku-buku keislaman, terutama

tentang pendidikan Islam, Kamus, Ensiklopedi, dan lain-lain.

++‘),!!#!

Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data

dengan menggunakan satu atau atau beberapa prosedur yang disesuaikan

dengan sifat dan karakeristik penelitian yang dilakukan. Prosedur

25
›exy J. Moleomng. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
hlm 112.
26
"‘hlm 113-114.
ÑÑ

pengumpulan data yang tepat dan relevan, memungkinkan diperolehnya

data yang objektif.27

Ada beberapa prosedur pegumpulan data, yaitu wawancara, angket,

observasi, dan studi dokumenter. Dalam keterangan yang lain, prosedur

pengumpulan data meliputi: tehnik observasi, tehnik komunikasi

(wawancara, angket, kuisioner), tehnik pengukuran, tehnik sosiometris,

dan tehnik dokumenter.28

Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

ini adalah tehnik dokumenter atau studi dokumter. Karena dalam

penelitian kualitatif, tehnik dokumenter merupakan alat pengumpul data

yang utama; karena pembuktian hipotesisnya yang diajukan secara logis

dan rasional dan melalui pendapat, teori atau hukum-hukum yang

diterima, baik yang mendukung atau menolong hipotesis tersebut.

Selanjutanya dokumen-dokumen tersebut dianalisis (diurai), dibandingkan

dan dipadukan (sintesis), sehingga membentuk satu hasil kajan yang

sistematis, padu dan utuh.29 Sedangkan dokumen-dokumen yang dihimpun

dan dianalisis oleh peneliti dalam proposal skiripsi ini adalah adalah data-

data primer dan sekunder yang berhasil dihimpun.

+-‘$$,

Definisi analisis data menurut ›exy J. Moleong adalah proses

mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan

27
Nurul Zuhriah. 1 "‘/"‘hlm 171-172.
28
Nana Syaodih Sukmadinata. 1 "‘/"‘hlm 173.
29
Nurul Zuhriah. 1 "‘/"‘hlm 172-191.
Ñ

satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dapat

dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.30

Pada prinsipnya, analisis data itu ada dua cara, yaitu: a) Analisis

Nonstatistik; yaitu analisis nonstatistik ini dilakukan terhadap data yang

bersifat kualitatif, biasanya berupa studi literer (studi kepustakaan) atau

studi empiris. Jadi, analisis dalam proposal skripsi termasuk dalam

kategori Analisis Nonstatistik. b) Analisis Statistik; yaitu analisis statistik

ini berangkat dari data yang bersifat kuantitatif.31

Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah


 ‘   ‘yang diterjemahkan oleh ›exy J. Moleong dengan kajian

isi; 32 karena tehnik yang paling umum digunakan untuk memanfaatkan

dokumen yang padat isi adalah tehnik isi.33 Sedangkan sifat analisis

datanya adalah naratif kualitatif, yaitu mencari kesamaan-kesamaan dan

perbedaan informasi, untuk menemukan hal-hal mendasar yang perlu

dipaparkan dalam proposal skripsi ini secara menyeluruh.34

Sedangkan urutan proses analisis data dalam proposal skripsi ini

adalah: mula-mula peniliti akan membaca, mempelajri, dan menelaah data-

data primer dan skunder yang berkaitan dengan penelitian. Selanjutnya

peneliti akan menganalisa dan membandingkan data-data tersebut untuk

mencari titik kesamaan dan perbedaan yang ada didalamnya; kemudian

peneliti mengajuakan sintesa yang berangkat dari pemahaman peneliti.

Setelah itu, peneliti akan memeriksa keabsahan data dengan tehnik

30
›exi J. Moleong. 1 "‘/"‘hlm 179.
31
Nurul Zuhriah. 1 "‘/"‘hlm 198.
32
›exi J. Moleong. 1 "‘/"‘hlm 190.
33
"‘hlm 163.
34
Nana Syaodih Sukmadinata. 1 "‘/"hlm 289.
Ñ 

pemerikasaan sejawat dan konsultasi dengan para ahli, khususnya dosen

pembimbing.

+/‘1Ê 

Pemeriksaan terhadap keabsahan data, didasarkan atas sejumlah

kriteria tertentu. Ada 4 (empat) kriteria yang digunakan, yaitu derajat

kepercayaan ( ), keteralihan ( )¸ kebergantungan

(  ), dan kepastian (


).35

Mengingat penelitian dalam proposal skripsi ini bersifat ‘

  ‘ maka kriteria keabsahan data yang akan diperiksa oleh peneliti

adalah kredibilitas data. Sehingga tehnik pemeriksaan keabsahan data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Pengecekan Sejawat atau

Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi. Tehnik ini dilakukan dengan cara

mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh, dalam bentuk

diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.36 Sedangkan teman sejawat

yang menjadi mitra diskusi adalah orang yang punya pengetahuan dan

pengalaman dalam bidang yang dipersoalkan, terutama tentang isi dan

metodologinya.37

Selain itu, peneliti juga menggunakan tehnik konsultasi dengan

para ahli. Oleh karena itu, peneliti akan mendiskusikan hasil penelitian ini

dengan orang-orang yang memiliki kualifikasi dalam bidang pendidikan,

khususnya pendidikan anak dalam perspektif Islam, agar memberi kritik,

saran, dan masukan demi perbaikan hasil penelitian ini.

35
Nurul Zuhriah. 1 "‘/"‘hlm 110-111. ›exi J. Moleong. hlm 173.
36
›exi J. Moleong. 1 "/"‘hlm 179.
37
"‘hlm 180.
Ѻ

   Ê

Departemen Pendidikan Nasional. 2002.  ‘ 2 ‘2 ‘ 


 .

Jakarta: Balai Pustaka.

Ensiklopedi Islam. 1999. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Makalah Konsep Pendidikan Islam. Pdf.

Moleong, ›exy J.. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. 


‘   ‘   "‘

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tafsir, Ahmad. 2005. ‘   ‘ ‘  ‘ "‘ Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

-------------------. 2006. % ‘   ‘  "‘ Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Zuhriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

http://khalian21.blogspot.com/2010/12/syed-muhammad-naquib-al-attas-

tokoh.html.

http://motipasti.wordpress.com/2009/12/03/biografi-syed-muhammad-

naquib-al-attas/.