Anda di halaman 1dari 11

bab i pendahuluan latar belakang a.

pendidikan adalah tujuan sadar

yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia, sebagai

suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya

berada dalam suatu proses yang berkesinambungan dalam setiap jenis

dan jenjang pendidikan semuanya berkaitan dalam suatu sistem

pendidikan yang integral (djamarah, 2005:22). para ahli pendidikan

telah menyadari bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada

kualitas guru dan praktek merupakan isu mendasar bagi peningkatan

mutu pendidikan secara nasional (marsigit, 2005:1). pendidikan pada

hakekatnya merupakan upaya untuk mengembalikan dan

meningkatkan aktifitas guru dan siswa. pembelajarannya, sehingga

peningkatan pembelajaran kualitas keberhasilan pembelajaran dalam

arti tercapainya standar kompetensi sangat tergantung pada

kemampuan guru mengolah pembelajaran yang dapat menciptakan

situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan titik

awal berhasilnya pembelajaran. rendahnya mutu pendidikan

pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya proses pembelajaran.

penyebabnya dapat berasal dari siswa, guru maupun sarana dan

prasarana yang kurang memadai, minat dan motivasi yang rendah,

kinerja guru yang rendah akan menyebabkan pembelajaran kurang

efektif.

menurut susilo (1998:42) guru matematika yang baik adalah guru

yang mampu mengatasi dan menyelesaikan masalah pembelajaran


didalam kelas secara bijaksana. belajar dan mengajar pada dasarnya

adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa

dalam situasi pendidikan. tujuan yang hendak dicapai agar dapat

memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap pelajar sebagai bentuk

perubahan perilaku siswa dalam belajar. belajar dan strategi belajar

merupakan faktor yang dapat menentukan keberhasilan siswa. dalam

proses belajar mengajar, hal yang paling berperan adalah cara guru

mengajar atau menyampaikan pelajaran yang bertujuan untuk menarik

perhatian siswa. dalam hal ini metode yang sesuai dengan materi yang

akan disampaikan dan juga alat peraga yang digunakan akan

mempermudah siswa untuk memahami materi. metode yang akan

digunakan dapat memberikan kesan agar siswa lebih menyenangi

pelajaran matematika. meskipun pelajaran matematika jam

pelajarannya lebih banyak dibanding dengan mata pelajaran yang lain,

tetapi pada umumnya banyak siswa yang beranggapan bahwa

pelajaran matematika itu sulit dan menakutkan serta membosankan.

hal ini menyebabkan siswa kurang memperhatikan dan kurang

termotivasi untuk mempelajari matematika lebih dalam. kesulitan

maupun kegagalan yang dialami siswa tidak hanya bersumber dari

kemampuan siswa yang kurang tetapi ada faktor lain yang turut

menentukan keberhasilan siswa dalam belajar matematika yaitu faktor

dari luar diri siswa salah satunya adalah 3 kurangnya perhatian siswa

saat guru menerangkan, metode yang digunakan guru juga kurang


menarik. metode pembelajaran yang kurang efektif dan efisien,

menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan

psikomotorik, misalnya pembelajaran yang monoton dari waktu

kewaktu, guru yang bersifat otoriter dan kurang bersahabat dengan

siswa sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat belajar. untuk

mengatasi hal tersebut maka guru sebagai tenaga pengajar dan

pendidik harus selalu meningkatkan kualitas profesionalismenya yaitu

dengan cara memberikan kesempatan belajar kepada siswa dengan

melibatkan siswa secara efektif dalam proses belajar mengajar.

adapun metode pembelajaran matematika yang umumnya digunakan

oleh guru matematika pada saat ini adalah metode konvensional yang

mengandalkan ceramah dan alat bantu utamanya adalah papan tulis.

sehingga metode konvensional yang digunakan pada saat mengajar

menitik beratkan pada keaktifan guru, sedangkan siswa cenderung

pasif. salah satu metode pembelajaran yang digunakan untuk

mengantisipasi kelemahan metode konvensional adalah pembelajaran

dengan menggunakan metode montessori. pembelajaran dengan

metode montessori merupakan suatu pembelajaran dengan unsur

permainan (belajar dengan bermain), sehingga siswa merasa gembira,

aktif dan penuh semangat dalam belajar. kesalahan menggunakan

metode dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang

diinginkan. dampak yang lain adalah rendahnya motivasi dan 4 minat

belajar siswa dalam pembelajaran matematika. metode montessori ini


dirancang untuk menciptakan kerjasama antar siswa agar suasana

pembelajaran dikelas menarik dan bisa menciptakan suasana kelas

yang hidup. dalam penelitian ini pada pokok bahasan yang akan

dipelajari adalah bangun ruang berupa kubus dan balok, sehingga

dalam penjelasan materi yang akan disampaikan perlu adanya alat

bantu untuk mempermudah siswa memahami materi. azhar arsyad

(2002:2) menyatakan media adalah bagian yang tidak terpisahkan

dalam proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan

pada umumnya dan tujuan pembelajaran disekolah pada khususnya.

melalui metode montessori dengan menggunakan alat peraga pada

proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan menarik agar

meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa sehingga diperoleh

prestasi atau hasil belajar yang diharapkan. motivasi sebagai

keseluruhan daya penggerak siswa didalam diri siswa yang

menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan

belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan

yang dikehendaki siswa dapat tercapai. motivasi yaitu keadaan dalam

pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk

melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan (sardiman,

1996: 75). motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu

perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk mencapai sasaran atau

kepuasan, 5 keberhasilan belajar seseorang tidak lepas dari motivasi

orang yang bersangkutan, oleh karena itu pada dasarnya motivasi


belajar merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan

belajar seseorang. siswa yang memiliki motivasi luas akan mempunyai

banyak aktifitas untuk melakukan kegiatan belajar. ditinjau dari segi

kekuatan dan kemantapannya, maka motivasi yang timbul dari dalam

diri siswa (internal) akan lebih stabil dan mantap dibandingkan dengan

perubahan yang terjadi dilingkungan. oleh karena itu banyak

sedikitnya motivasi belajar siswa yang ada pada diri siswa akan

mempengaruhi prestasi belajar. sehingga dapat disimpulkan bahwa

motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara

sadar atau tidak sadar untuk melaksanakan suatu tindakan dengan

tujuan tertentu. faktor lain yang menunjang keberhasilan belajar siswa

adalah minat siswa untuk belajar dan berusaha. hal ini berarti

kesempatan belajar makin banyak dan optimal jika siswa tersebut

menunjukkan keseriuasannya dalam mempelajari matematika

sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi untuk belajar.

siswa yang telah termotivasi dalam belajar matematika, ia akan lebih

bersemangat dalam mempelajarinya sehingga menimbulkan minat

belajarnya. siswa mempunyai minat belajar yang tinggi akan selalu

berusaha mencari, menggali dan mengembangkan potensi dasar

(bakatnya), sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri. 6 atas

dasar teori diatas maka perlunya penelitian tentang peningkatan

motivasi dan minat belajar siswa melalui metode montessori dengan

menggunakan alat peraga di smp negeri 1 ulujami kelas viii semester ii


dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (ptk).

penelitian tindakan kelas reponsif terhadap masalah-masalah kecil

atas masalah-masalah sosial dan berlangsung dalam suatu konteks.

penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil positif dari

perubahan yang dilakukan dalam lingkungan belajar terutama dalam

hal meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. identifikasi

masalah b. berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan

peneliti terdapat masalah yang dihadapi guru dalam saat proses

belajar mengajar. adapun masalah-masalah yang terjadi dapat

diidentifikasikan sebagai berikut: 1. siswa cenderung kurang

termotivasi dalam belajar, hal ini dapat terlihat pada saat proses

belajar mengajar. 2. siswa cenderung kurang memperhatikan materi

pelajaran pada saat guru menerangkan. sehingga hasil belajar yang

diperoleh kurang memuaskan. hal ini menunjukkan bahwa minat

belajar siswa masih rendah. 3. metode yang digunakan metode

ceramah, guru hanya menjelaskan sedangkan siswa mendengarkan,

sehingga siswa pasif. 7 4. tidak digunakannya alat peraga pada

pembelajaran matematika khususnya pada penyajian sub pokok

bahasan kubus dan balok, sehingga siswa kurang bisa

mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

C. Pembatasan Masalah Fokus permasalahan penelitian ini adalah peningkatan

motivasi dan minat belajar siswa melalui metode Montessori dalam pembelajaran

matemtaika, terutama pada pokok bahasan bangun ruang kubus dan balok. Motivasi
merupakan dorongan atau kemauan siswa melakukan aktivitas belajar dalam

hubungannya dengan kebutuhan untuk mencapai hasil belajar matematika yang

diinginkan. Sedangkan minat belajar merupakan perasaan senang, kemauan,

perhatian, konsentrasi dan kesadaran siswa dalam belajar matematika. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah metode Montessori. Metode Montessori

merupakan suatu metode dengan unsur permainan (belajar dengan bermain).

Metode ini bertujuan agar siswa bisa merasa senang dengan pelajaran matematika

karena disamping belajar mereka juga bisa bermain. Untuk menunjang itu semua

diperlukan alat bantu berupa alat peraga. Keberhasilan yang ingin dicapai adalah

peningkatan motivasi dan minat belajar siswa melalui metode Montessori dengan

alat peraga. 8 Perumusan Masalah D. Berdasarkan uraian masalah-masalah diatas,

penulis menarik suatu rumusan masalah yang akan menjadi fokus dalam penelitian.

Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dengan

melalui metode Montessori dengan menggunakan alat peraga adakah peningkatan

motivasi dan minat belajar siswa sampai 75%. Peningkatan motivasi dan minat

belajar siswa dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa dalam setiap putarannya.

Adapun indikator motivasi dan minat belajar siswa sebagai berikut: a. Kemauan siswa

untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru b. Perhatian siswa pada saat

proses belajar mengajar 2. Adakah peningkatan hasil belajar siswa melalui metode

Montessori dengan menggunakan alat peraga dapat meningkat sampai 75%? Tujuan

Penelitian E. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa sampai 75% melalui metode

Montessori dengan menggunakan alat peraga. F. Manfaat Penelitian Dengan

penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah: 9 1. Bagi

siswa dapat mendorong motivasi dan minat belajar siswa. 2. Bagi guru dapat

menerapkan metode yang sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga proses

belajar mengajar lebih menyenangkan serta dapat mempergunakan alat peraga yang
disediakan oleh sekolah. 3. Bagi sekolah penelitian bermanfaat untuk menambah

kualitas pembelajaran di sekolah.

FAKTOR PENGHAMBAT MOTIVASI


BELAJAR SISWA DAN CARA
MENGATASINYA
Faktor Penghambat Belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi
faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil
belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua faktor penghambat belajar.
Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat
mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan
biologis serta faktor psikologis.
1. Faktor fisiologis dan biologis
Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia.
Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor
ini dibedakan menjadi 2, yaitu:
- Keadaan tonus jasmani
Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang
sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan
kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang
maksimal.
- Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat
mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi
dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar.
Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai
hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik
namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan
mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:
- sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya,
- ada perasaan takut diejek teman,
- merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.

Perasaan yang menghantui anak dapat membuat prestasinya menurun. Namun ada juga
anak yang menjadikan kekurangannya sebagai motivasi untuk maju. Cacat fisik
membuat anak tidak dapat malakukan aktivitas belajar di sekolah dengan baik, sehingga
perlu disediakan sekolah yang bisa menampungnya sesuai dengan cacat yang disandang.
Misalnya bagi penyandang tuna netra bersekolah di SLBA, tuna rungu bersekolah di
SLBB, dan sebagainya.
Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat
mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi
proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
2. Motivasi
Motivasi adalah salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa.
Motivasi yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi
mendefisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong,
memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi diartikan
sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan perilaku
seseorang.
Keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri anak yang menimbulkan kegiatan belajar,
menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar itu demi
mencapai motivasi belajar. Dari sumbernya motivasi dibedakan menjadi: motivasi
ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua factor yang berasal
dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam proses
belajar, motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar
(ekstrinsik).
Menurut Arden N. frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik
untuk belajar antara lain:
1. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
2. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan kegiatan untuk maju.
3. Adanya keinginan untuk mancapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari
orang-orang penting. Misalnya: orang tua, saudara, guru, teman, dan sebagainya.
4. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi
diri sendiri dan orang lain.
Motivasi ekstrinsik adalah anak memulai dan meneruskan kegiatan belajar berdasarkan
kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaian dengan kegiatan belajar itu
sendiri. Yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain:
1. Balajar demi memenuhi kewajiban.
2. Menghindari hukuman.
3. Memperoleh hadiah material yang telah dijanjikan oleh orang tua.
4. Meningkatkan gengsi dari orang lain.
5. Memperoleh pujian dari orang lain.
6. Tuntutan jabatan yang diinginkan.
Bentuk motivasi belajar intrinsik dapat ditingkatkan menjadi motivasi berprestasi, yaitu
daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi
mungkin, demi penghargaan kepada diri sendiri. Jadi hasrat berprestasi tinggi bukan
menurut ukuran dan pandangan sendiri.
3.Minat
Secara sederhana minat merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar
terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang populer
dalam psikologi karena disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal
lainnya, seperti pemusatan perhatian, keinginan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi,
karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau
bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru
atau pendidik perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran
yang akan disampaikan dengan cara.
Membuat menarik materi
Materi bisa dibuat menarik melalui bentuk buku materi, desain pembelajaran,
melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa
menjadi aktif, dan guru juga harus memperhatikan performansi saat mengajar.
Pemilihan jurusan atau bidang sekolah
Pemilihan sebaiknya diserahkan pada siswa, sesuai dengan minatnya.
4. Sikap
Dalam proses belajar sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar. Sikap
adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi
atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan
sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Shay,2003).
Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada
performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi
munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi
guru yang profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi siswanya,
berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus
kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik
dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan
tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajarinya
bermanfaat bagi siswa.
- Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum
bakat didefisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaian dengan belajar,
Slavin(1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seseorang
siswa untuk belajar. Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang menjadi
salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat
seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan
mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi
belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan
sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung
upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan
lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya.
Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-
bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.
Selain itu yang menjadi faktor psikologis lainnya adalah disiplin. Disiplin diri adalah
kemampuan diri yang kuat untuk mempertahankan diri dari bermacam-macam
gangguan dalam belajar. Misal, seorang anak akan tetap belajar walaupun ada acara
televisi yang menarik.

Cara Mengatasi Hambatan Belajar


Saat timbul hambatan dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan
diatasi hambatan tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat
mencapai hasil belajarr yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat di mulai
dari diri anak, keluarga, dan sekolah.
Diri anak
1. Menjaga kesehatan jasmani.
2. Menumbuhkan rasa percaya diri.
3. Membangun motivasi diri.
4. Belajar berinteraksi dengan lingkungan.
5. Belajar menjaga emosi.
6. Menerima keadaan (ekonomi, jasmani,dll).
Keluarga
1. Memberi teladan dalam sikap dan tingkah laku kepada anak.
2. Menjaga keharmonisan keluarga.
3. Menyediakan waktu untuk mendampingi anak dalam belajar
4. Megusahakan kesehatan anak, misalnya dengan makanan bergizi.
5. Melatih anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring,
dll).
6. Meminimalkan untuk membandingkan anak dengan anak yang lain.
7. Mencukupi fasilitas dan saran prasarana belajar.
8. Mambangun dan memberi motivasi anak.