Anda di halaman 1dari 20

SEJARAH MANDOR

1. Sejarah
Menurut Syarif Ibrahim Alqadrie, Kesultanan Kadriah Pontianak di Kalimantan Barat adalah
kesultanan termuda di nusantara, bahkan di dunia, karena kesultanan ini didirikan relatif paling
terakhir dibandingkan dengan kemunculan kesultanan-kesultanan lainnya (Syarif Ibrahim
Alqadrie, 1979:12). Pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, kesultanan yang lahir dari perpaduan
kebudayaan Arab, Melayu, Bugis, dan Dayak ini resmi didirikan oleh Syarif Abdurrahman
Alqadrie (Ansar Rahman, et.al, 2000:xxvii).
a. Riwayat Berdirinya Kesultanan Kadriah – Pontianak
Syarif Abdurrahman Alqadrie yang menjadi sosok sentral atas berdirinya Kesultanan Kadriah
Pontianak di Kalimantan Barat adalah putra dari Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang penyiar
agama Islam asal Timur Tengah. Husein Alqadrie dilahirkan pada tahun 1706 M di sebuah kota
kecil bernama Trim di Hadramaut (Yaman Selatan). Setelah mendalami ajaran Islam dan ilmu
pengetahuan lainnya selama lebih dari 4 tahun, Husein Alqadrie berkeinginan merantau ke
negeri-negeri timur. Keinginan itu didukung oleh tiga kawan seperguruannya yakni Sayid
Abubakar Alaydrus, Sayid Umar Assegaf, dan Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Qudsi
(Mahayudin Haji Yahya, 1999:224).
Dalam perantauannya, keempat pendakwah itu tiba di Terengganu (sekarang termasuk wilayah
negara Malaysia). Dari Terengganu, mereka kemudian menuju ke Aceh. Di sinilah keempat
sahabat itu berpisah. Sayid Abu Bakar Alaydrus tetap tinggal di Aceh, Sayid Umar Bachsan
Assegaf meneruskan perjalanan ke Siak, dan Sayid Muhammad Ibnu Ahmad Al-Qudsi kembali
ke Terengganu (Rahman, 2004:16). Sedangkan Husein Alqadrie sendiri melanjutkan
perjalanannya menyusuri Pantai Timur Sumatra menuju ke Pulau Jawa untuk mengunjungi
negeri-negeri Islam yang dilaluinya, termasuk Palembang, Banten, Cirebon, Demak, Mataram,
Jawa bagian timur, dan Betawi (Yahya, 1999:224-225).
Husein Alqadrie kemudian menetap di Semarang selama dua tahun. Dari Semarang, ia
menyeberangi lautan hingga sampai di wilayah Kesultanan Matan di Ketapang, Kalimantan
Barat. Kehadiran Husein Alqadrie disambut baik oleh keluarga Kesultanan Matan yang waktu itu
dipimpin oleh Sultan Muhammad Muazzuddin (1724−1738 M). Husein Alqadrie berhasil
menawan hati warga Kesultanan Matan karena tidak lama setelah kedatangannya, Husein
Alqadrie diangkat menjadi hakim/qadhi kesultanan oleh Sultan Muhammad Muazzuddin.
Bahkan oleh rakyat Matan, Husein Alqadrie sangat dihormati seperti layaknya seorang wali
(Musni Umberan, et.al., 1995:46-47).
Tidak hanya itu, Husein Alqadrie kemudian dinikahkan dengan anak perempuan Sultan
Muhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua. Dari perkawinan itu, Husein Alqadrie
dikaruniai 4 orang anak, yaitu Syarifah Khadijah, Syarif Abdurrahman Alqadrie, Syarifah
Mariyah, dan Syarif Alwie Al-Qadrie. Syarif Abdurrahman Alqadrie dilahirkan pada tahun 1739
M (Alqadrie, 2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).
Pada tahun 1738 M, Sultan Matan, Sultan Muhammad Muazzuddin, wafat dan digantikan Sultan
Muhammad Tajuddin (1738–1749 M). Husein Alqadrie masih bertahan di Kesultanan Matan
hingga Sultan Muhammad Tajuddin digantikan oleh Sultan Ahmad Kamaluddin (1749−1762 M).
Pada masa ini, Husein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang
kebijakan hukuman mati. Ketidaksepahaman ini membuat Husein Alqadrie beserta keluarganya
meninggalkan Matan pada tahun 1755 M dan beralih ke Kesultanan Mempawah yang kala itu
dipimpin oleh Opu Daeng Menambun (1740-1766 M) (Alqadrie, 2005, dalam http://syarif-
untan.tripod.com).
Rombongan Husein Alqadrie disambut suka-cita oleh keluarga Kesultanan Mempawah. Husein
Alqadrie kemudian diangkat sebagai patih dan imam besar Kesultanan Mempawah. Atas izin
Opu Daeng Menambon pula, Husein Alqadrie menempati daerah Kuala Mempawah atau Galah
Herang yang menjadi tempat di mana ia mengajarkan Islam. Untuk mempererat hubungan antara
keluarga Husein Alqadrie dengan Kesultanan Mempawah, maka Syarif Abdurrahman Alqadrie
dinikahkan dengan putri Opu Daeng Menambon dari Ratu Kesumba, bernama Putri Candramidi.
Perkawinan ini dikaruniai tiga orang putra dan tiga orang putri (Muhammad Hidayat, tt: 21).
Kesukaan Syarif Abdurrahman Alqadrie adalah berkelana, baik untuk berdagang atau sekadar
berpetualang mengunjungi negeri-negeri lain. Pada tahun 1759 M, Abdurrahman Alqadrie
mengadakan pelayaran ke beberapa tempat seperti ke Pulau Tambelan, Siantan, dan Siak.
Selanjutnya, pada tahun 1765 M, ia berlayar menuju Palembang. Dua tahun kemudian,
Abdurrahman Alqadrie melakukan perjalanan ke Banjarmasin dan menetap di Kesultanan
Banjar. Pada tahun 1768, Abdurrahman Alqadrie menikah lagi dengan putri Sultan Banjar yang
bernama Syarifah Anum dan mendapat gelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam (Alqadrie,
2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).
Ketika Abdurrahman Alqadrie masih berada di Banjarmasin, dua orang yang disayanginya
wafat. Pada tahun 1766 M, Sultan Mempawah Opu Daeng Menambon meninggal dunia,
kemudian disusul oleh sang ayah, Husein Alqadrie, yang menghembuskan nafas penghabisan
pada tahun 1770 M. Mangkatnya dua orang yang sangat dihormati dan dibanggakan oleh
Abdurrahman Alqadrie itu mendorongnya untuk mencari tempat permukiman baru.
Pada tahun 1771 M, rombongan Abdurrahman Alqadrie, di antaranya terdapat lima putra Opu
Daeng Menambon, yaitu Panembahan Adijaya, Syarif Ahmad, Syarif Abubakar, Syarif Alwie,
dan Syarif Muhammad, mulai berlayar untuk mencari tempat permukiman baru. Setelah 4 hari
perjalanan, mereka tiba di sebuah pulau kecil bernama Batu Layang yang terletak 15 kilometer
dari muara Sungai Kapuas. Dari sini, rombongan meneruskan perjalanan hingga mendekati
simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Berdasarkan cerita yang diyakini
masyarakat lokal di sana, di tempat inilah rombongan Abdurrahman Alqadrie berperang
melawan “makhluk halus” yang oleh warga setempat disebut dengan nama hantu “kuntilanak”
Menurut pandangan Jimmy Ibrahim (1971), nama “kuntilanak” tersebut hanya merupakan kiasan
untuk menjelaskan bahwa pengganggu rombongan Abdurrahman Alqadrie itu adalah
gerombolan perompak/bajak laut yang biasa bersembunyi di persimpangan yang menjorok ke
arah Sungai Landak sebelum melakukan aksinya (Jimmy Ibrahim, 1971:17). Pada akhirnya
nanti, nama “kuntilanak” lambat-laun menjadi “Pontianak” yang tidak lain adalah nama kota di
seberang Istana Kadriah.
Pada tanggal 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman Alqadrie berhasil memukul mundur
gerombolan perompak “kuntilanak” di muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Pada hari yang
sama, rombongan Abdurrahman Alqadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas dan membangun
surau yang kelak menjadi masjid agung Kesultanan Kadriah Pontianak. Kemudian, rombongan
Abdurrahman Alqadrie mulai mempersiapkan permukiman di sebuah tempat yang menjorok ke
darat sekitar 800 meter dari surau. Permukiman inilah yang menjadi tempat dibangunnya Istana
Kesultanan Kadriah Pontianak. Meski sudah merintis pendirian pemerintahan Kadriah Pontianak
sejak tahun 1771 M, namun baru pada tahun 1778 M Abdurrahman Alqadrie secara resmi
dinobatkan sebagai Sultan Kadriah Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie
yang berkuasa sampai tahun 1808 M
b. Kesultanan Kadriah Pontianak pada Masa Kolonial
Penobatan Abdurrahman Alqadrie sebagai Sultan Kadriah Pontianak pada tahun 1778 M
dilakukan oleh Sultan Raja Haji, penguasa Kesultanan Riau, dan dihadiri oleh para pemimpin
dari sejumlah kerajaan, termasuk dari Kerajaan Matan, Sukadana, Kubu, Simpang, Landak,
Mempawah, Sambas, dan Banjar. Abdurrahman Alqadrie memang memiliki kedekatan
hubungan dengan keluarga Kesultanan Riau. Abdurrahman Alqadrie adalah menantu Opu Daeng
Manambon (Sultan Mempawah), sedangkan Sultan Raja Haji adalah putra Daeng Celak yang
tidak lain adalah saudara sekandung Opu Daeng Manambon
Pada masa itu, Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie) yang dibentuk
sejak 20 Maret 1602, sudah menanamkan pengaruhnya di Kalimantan Barat. VOC rupanya
khawatir melihat hubungan erat antara Kesultanan Kadriah Pontianak dengan beberapa kerajaan
lain dan kemudian VOC berusaha menghancurkan persekutuan itu. Pada akhir tahun 1778 M,
dari Batavia, VOC mengutus Nicholas de Cloek ke Pontianak untuk merangkul Sultan Syarif
Abdurrahman Alqadrie, tetapi usaha pertama ini gagal. Selanjutnya, pada bulan Juli 1779 M,
VOC mengirim Willem Adriaan Palm (Komisaris VOC) ke Pontianak. Dengan alasan
mendirikan perwakilan dagang, VOC berhasil menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Kadriah
Pontianak. Palm kemudian digantikan Wolter Markus Stuart yang bertindak sebagai Resident
van Borneo’s Wester Afdeling I (1779 – 1784 M) dengan kedudukan di Pontianak
Akal licik VOC rupanya berhasil membujuk Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie untuk
melakukan ekspansi ke wilayah kerajaan-kerajaan yang semula menjadi sekutu Kesultanan
Kadriah Pontianak. Ini berarti VOC juga sukses mewujudkan misinya, yakni memecah-belah
persatuan di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan bantuan VOC, pada tahun 1786 M,
armada Kesultanan Kadriah Pontianak menyerang Kesultanan Tanjungpura di Sukadana.
Kemudian, pada tahun 1787 M, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie berhasil menaklukan
Kesultanan Mempawah. Oleh VOC, putra sulung Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie dari Putri
Candramidi, Syarif Kasim Alqadrie, diangkat sebagai Panembahan Mempawah (Hidayat, tt:22).
Pengangkatan yang tidak disetujui oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie ini diresmikan
berdasarkan perjanjian tertanggal 27 Agustus 1787 (Rahman, 2000:109-110).
Syarif Kasim semakin tenggelam dalam pengaruh Belanda sampai ketika ayahnya wafat pada
tahun 1808. Sebelum mangkat, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie sebenarnya telah
menetapkan putranya yang lain, Syarif Usman Alqadrie, sebagai penerus tahta Kesultanan
Kadriah Pontianak. Dikarenakan Syarif Usman masih kecil, maka Syarif Kasim merasa berhak
menduduki singgasana sebagai pengganti ayahnya. Pada tahun 1808 itu, Syarif Kasim diangkat
menjadi Sultan Kadriah Pontianak namun dengan kesepakatan bahwa ia hanya menjabat selama
sepuluh tahun sambil menunggu Syarif Usman beranjak dewasa. Perjanjian itu diingkari karena
pada kenyataannya Syarif Kasim berkuasa sampai akhir hayat, yakni hingga tahun 1819.
Di bawah rezim Sultan Syarif Kasim Alqadrie (1808 – 1819), Kesultanan Kadriah Pontianak
semakin tergantung kepada pihak-pihak asing, yakni Belanda dan kemudian Inggris yang
berkuasa di Hindia (Indonesia) sejak tahun 1811. Ketika Belanda kembali menguasai nusantara,
termasuk Pontianak, Sultan Syarif Kasim Alqadrie memperkenankan Gubernur Jenderal Hindia
Belanda LPJ Burggraaf du Bus de Gisignies (1826-1830) mendirikan sebuah benteng Belanda di
Pontianak yang diberi nama Marianne’s Oord, yakni nama putri Raja Negeri Belanda, Raja
Willem I. Inilah asal-muasal nama kampung Mariana yang terletak di depan pelabuhan
Pontianak sekarang. Benteng Marianne’s Oord kemudian menjadi markas tentara Belanda dan
sering disebut sebagai Benteng du Bus (Rahman, 2000:113).
Pada tanggal 25 Februari 1819 Sultan Syarif Kasim Alqadrie wafat dan dikebumikan di Batu
Layang. Terjadi ketegangan perihal siapa yang berhak menjadi Sultan Kadriah Pontianak
selanjutnya. Di satu pihak, Syarif Usman Alqadrie dianggap paling layak menduduki tahta
Kesultanan Kadriah Pontianak. Namun di sisi lain, putra Sultan Syarif Kasim Alqadrie yang
bernama Syarif Abubakar Alqadrie juga menginginkan singgasana tersebut. Di sinilah campur
tangan Belanda kembali berperan. Sesuai kesepakatan sebelum Sultan Syarif Kasim Alqadrie
dinobatkan, Belanda kemudian menunjuk Syarif Usman Alqadrie (1819 – 1855) sebagai Sultan
Kadriah Pontianak ketiga. Untuk meminimalisir konflik, Belanda memberi gelar Syarif
Abubakar Alqadrie sebagai Pangeran Muda dan kepadanya diberi tunjangan 6000 gulden setiap
tahun (Rahman, 2000:118).
Di luar ketundukannya kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, Sultan Syarif Usman
Alqadrie setidaknya pernah menorehkan beberapa kebijakan yang bermanfaat, termasuk dengan
meneruskan pembangunan Masjid Jami’ pada tahun 1821 dan memulai pendirian Istana Kadriah
pada tahun 1855. Pada bulan April 1855, Sultan Syarif Usman Alqadrie meletakkan jabatannya
sebagai Sultan Kadriah Pontianak dan kemudian wafat pada tahun 1860 dengan meninggalkan 6
orang istri dan 22 orang anak (Rahman, 2000:117-118).
Anak tertua Sultan Syarif Usman Alqadrie, bernama Syarif Hamid Alqadrie, dinobatkan sebagai
Sultan Kadriah Pontianak yang keempat pada tanggal 12 April 1855. Pada era Sultan Syarif
Hamid Alqadrie (1855 – 1872), wilayah Belanda di daerah kekuasaan Kesultanan Kadriah
Pontianak semakin meluas, termasuk di daerah bagian barat Sungai Kapuas Kecil yang menjadi
pusat perdagangan dan pusat pemerintahan Belanda di Kalimantan Barat. Taktik Belanda yang
seperti ini sudah dimulai sejak era Sultan Syarif Kasim Alqadrie sebagai upaya untuk terus
menekan Kesultanan Kadriah Pontianak dan mengecilkan peran Sultan Hamid Alqadrie
Sultan Syarif Hamid Alqadrie wafat pada tahun 1872, meninggalkan 3 orang istri, 3 orang selir,
dan 20 orang anak.
Putra tertua Sultan Syarif Hamid Alqadrie, Syarif Yusuf Alqadrie, diangkat sebagai Sultan
Kadriah Pontianak beberapa bulan setelah ayahandanya wafat. Penguasa Kesultanan Kadriah
Pontianak kelima, Sultan Syarif Yusuf Alqadrie (1872 – 1895), merupakan satu-satunya sultan di
Kesultanan Qadriah yang paling sedikit mencampuri urusan pemerintahan, sangat kuat
berpegang pada aturan agama, dan merangkap sebagai penyebar agama Islam Era pemerintahan
Sultan Syarif Yusuf Alqadrie berakhir pada tanggal 15 Maret 1895 dan digantikan oleh putranya
yang bernama Syarif Muhammad Alqadrie (1895 – 1944) yang dinobatkan sebagai Sultan
Kadriah Pontianak yang kelima pada tanggal 6 Agustus 1895. Pada masa ini, campur-tangan
Belanda dalam urusan internal Kesultanan Kadriah Pontianak semakin kuat dengan ikut
memaksakan pengaruhnya bahkan sampai dalam hal yang prinsip, yakni menghapuskan Syariat
Islam dan menggantinya dengan hukum pidana dan perdata (Hidayat, tt:23).
Di sisi lain, Sultan Syarif Muhammad Alqadrie sangat berperan dalam mendorong terjadinya
perubahan di Pontianak. Dalam bidang sosial, ia pertama kali berpakaian kebesaran Eropa
sebagai pakaian resmi di samping pakaian Melayu dan menyokong majunya bidang pendidikan
serta kesehatan. Di sektor ekonomi, Sultan Syarif Muhammad Alqadrie menjalin perdagangan
dengan Riau, Palembang, Batavia, Banten, Demak, dan Banjarmasin, bahkan dengan Singapura,
Johor, Malaka, Hongkong, serta India. Selain itu, Sultan juga mendorong masuknya modal
swasta Eropa dan Cina, serta mendukung kaum petani Melayu, Bugis, Banjar, dan Cina
mengembangkan perkebunan karet, kelapa dan kopra serta industri minyak kelapa. Sementara
dalam aspek politik, Sultan memfasilitasi berdiri dan berkembangnya organisasi politik yang
dilakukan baik oleh kerabat kesultanan maupun oleh tokoh-tokoh masyarakat (Alqadrie, 2005,
dalam
Era kekuasaan Sultan Syarif Muhammad Alqadrie menjadi penanda tamatnya kekuasaan
Belanda seiring kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942. Namun, hadirnya balatentara
Jepang di Pontianak justru menjadi petaka bagi Kesultanan Kadriah Pontianak. Pada bulan
Januari 1944, karena dianggap bersekutu dengan Belanda, Jepang menangkap Sultan Syarif
Muhammad Alqadrie (pada tanggal 24 Januari 1944) beserta ribuan orang kerabat kesultanan,
pemuka adat, dan tokoh masyarakat Kadriah Pontianak (Muhammad Yanis, 1983:170-182).
Mereka kemudian dijatuhi hukuman mati pada tanggal 28 Juni 1944. Jenazah Sultan Syarif
Muhammad Alqadrie baru ditemukan pada tahun 1946 (Mawardi Rivai, 1995:26). Tragedi
berdarah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Peristiwa Mandor.

c. Kesultanan Kadriah Pontianak pada Era


Kemerdekaan RI
Meskipun proklamasi kemerdekaan Indonesia
telah diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di
Jakarta, namun situasi politik di Pontianak masih
belum stabil karena berita tentang kemerdekaan
Indonesia sangat terlambat sampai ke Pontianak.
Pada tanggal 29 Agustus 1945, di bawah
pengawasan aparat Jepang yang masih bertahan di
Pontianak, keluarga Kesultanan Kadriah Pontianak
yang tersisa mengadakan pertemuan guna memilih pengganti Sultan Syarif Muhammad
Alqadrie. Pertemuan darurat ini akhirnya memutuskan bahwa Syarif Thaha Alqadrie, cucu laki-
laki tertua Sultan Syarif Muhammad Alqadrie, ditetapkan sebagai Sultan Kadriah Pontianak yang
ketujuh
Dipilihnya Syarif Thaha Alqadrie sebagai calon Sultan Kadriah Pontianak disebabkan karena
memang tidak ada pilihan lain. Pasalnya, 4 orang putra almarhum Sultan Syarif Muhammad
Alqadrie telah gugur akibat keganasan Jepang, sedangkan seorang putra yang masih hidup, yakni
Syarif Hamid Alqadrie, saat itu masih menjadi tahanan Jepang. Sejak tahun 1942, Syarif Hamid
Alqadrie, mantan perwira kesatuan tentara Hindia Belanda atau Koninklijke Nederlandsch-
Indische Leger (KNIL), dipenjarakan di Batavia (Rivai, 1995:25-26).
Masa pemerintahan Sultan Syarif Thaha Alqadrie hanya berlangsung selama 3 bulan, yaitu dari
bulan Agustus hingga Oktober 1945, karena Syarif Hamid Alqadrie sudah bebas dari penjara dan
kembali ke Pontianak. Syarif Hamid Alqadrie dinobatkan sebagai Sultan Kadriah Pontianak
kedelapan pada tanggal 29 Oktober 1945 dan bergelar Sultan Syarif Hamid II Alqadrie atau yang
sering dikenal dengan nama Sultan Hamid II.
Sejak muda, putra sulung almarhum Sultan Syarif Muhammad Alqadrie ini telah mengenal
pendidikan modern. Syarif Hamid Alqadrie menempuh sekolah dasar di Europeesche Lagere
School (ELS) Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Kemudian meneruskan studi ke
sekolah menengah Hogeere Burger School (HBS) di Bandung sebelum pergi ke Breda, Belanda,
untuk melanjutkan pendidikan di sekolah perwira KNIL. Pada tahun 1937, ia dilantik sebagai
perwira KNIL dengan pangkat Letnan Dua. Dalam karir kemiliterannya, Syarif Hamid Alqadrie
pernah bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan dan beberapa tempat lainnya di Jawa
(Rahman, 2000: 172).
Berdasarkan konstitusi Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949, Sultan Hamid II mengisi
posisi sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB). Selain itu, Sultan Hamid II
selalu terlibat dalam berbagai perundingan penting antara Indonesia dan Belanda. Ketika RIS
dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara dan selama masa jabatan itu, ia
menjadi salah satu orang yang ditugaskan Presiden Soekarno untuk merancang gambar lambang
negara. Presiden Soekarno mengamanatkan bahwa lambang negara hendaknya mencerminkan
pandangan hidup bangsa, dasar negara, di mana sila-sila Pancasila divisualisasikan dalam
lambang negara (Yayasan Sultan Hamid II Jakarta, 2007, dalam
www.istanakadriah.blogspot.com).
Pada tanggal 5 Januari 1950, Sultan Hamid II meletakkan jabatan sebagai Sultan Kadriah
Pontianak dan selaku Wakil DKIB. Selanjutnya, pada tanggal 10 Januari 1950, dibentuk Panitia
Lencana Negara yang bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara. Dalam seleksi
tersebut, terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya
Mohammad Yamin. Pemenangnya adalah karya Sultan Hamid II karena karya Yamin
menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang (Mohammad Hatta,
1978:108). Dengan demikian, Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara Indonesia adalah
karya putra Kesultanan Kadriah Pontianak, yaitu Sultan Hamid II.
Namun, peristiwa kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dimotori mantan Kapten
KNIL, Raymond Westerling, pada tanggal 23 Januari 1950, menyeret nama Sultan Hamid II.
Menurut pernyataan Yayasan Sultan Hamid II Jakarta, Westerling memang sempat menawarkan
kepada Sultan Hamid II untuk mengambil-alih komando namun Sultan Hamid II menolak tegas
tawaran tersebut karena Westerling adalah gembong APRA (Yayasan Sultan Hamid II Jakarta,
2007, dalam www.istanakadriah.blogspot.com). Namun, dugaan keterlibatan Sultan Hamid II
dalam peristiwa Westerling tetap membuatnya dipenjara oleh pemerintah RI selama 10 tahun
sejak tahun 1953. Sultan Hamid II ditangkap pada tanggal 5 April 1950 (J.U. Lontaan,
1975:240).
Dengan dihukumnya Sultan Hamid II, roda pemerintahan Kesultanan Kadriah Pontianak pun
berhenti di mana kesultanan sudah tidak mempunyai kekuasaan secara politik lagi. Sultan Hamid
II selaku Sultan Kadriah Pontianak yang terakhir, meninggal dunia pada tanggal 30 Maret 1978
di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batu Layang.
2. Silsilah
Berikut daftar para sultan yang pernah memimpin Kesultanan Kadriah Pontianak sejak awal
berdirinya pada tahun 1771 M hingga berhentinya proses pemerintahan kesultanan pada tahun
1950:

1. Sultan Syarif Abdurahman Alqadrie (1771 – 1808 M).


2. Sultan Syarif Kasim Alqadrie (1808 – 1819).
3. Sultan Syarif Usman Alqadrie (1819 – 1855).
4. Sultan Hamid Alqadrie (1855 – 1872).
5. Sultan Syarif Yusuf Alqadrie (1872 – 1895).
6. Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (1895 – 1944).
7. Sultan Syarif Thaha Alqadrie (1945).
8. Sultan Syarif Hamid II atau Sultan Hamid II (1945 – 1950) (Hidayat, tt:24).

3. Sistem Pemerintahan
Kesultanan Kadriah Pontianak hampir tidak pernah dapat mengatur pemerintahannya secara
mandiri karena Belanda sudah menanamkan pengaruhnya tidak lama setelah Kesultanan Kadriah
Pontianak berdiri pada tahun 1771 M. Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda menjadikan salah satu
daerah Kesultanan Kadriah Pontianak, yakni Tanah Seribu atau Verkendepaal yang terletak di
seberang Istana Kadriah Pontianak, sebagai pusat kedudukan Kepala Daerah Karesidenan
Borneo. Selaku wakil pemerintah kolonial yang membawahi langsung beberapa daerah,
termasuk Pontianak, Siantan, Sungai Kakap, dan lain-lain, Asisten Residen Pontianak (semacam
Kepala Daerah Tingkat II/Bupati Pontianak) (www.pemkot.pontianak.go.id). Sistem
pemerintahan seperti ini bertahan hingga pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sistem pemerintahan Kesultanan Kadriah Pontianak
selalu tergantung dengan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada setiap pergantian
kepemimpinan kesultanan, Belanda selalu memaksakan kehendaknya melalui kontrak politik.
Ketika Sultan Syarif Kasim Alqadrie (1808 – 1819) naik tahta menggantikan Sultan Syarif
Abdurahman Alqadrie, ia harus menandatangani kontrak politik dengan pemerintah kolonial
Hindia Belanda pada tanggal 12 Januari 1819. Isi dari kontrak politik antara Sultan Syarif Kasim
Alqadrie dan Komisaris Nahuys van Burgst dari pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda itu
antara lain:
1. Kekuasaan atas pemerintahan Kesultanan Kadriah Pontianak dilaksanakan oleh
Sultan bersama-sama dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Sultan Kadriah
Pontianak akan mendapatkan perlindungan seperlunya dari Belanda.
2. Sebagai biaya perlindungan dari Belanda kepada Sultan maka ditetapkan bahwa
semua penghasilan Kesultanan Kadriah Pontianak dan Belanda dibagi sama rata di
antara kedua belah pihak tersebut.
3. Hasil pajak impor dan ekspor, penjualan candu, hasil monopoli garam, pajak dari
kaum Tionghoa, dan lain-lain akan diatur oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
4. Pengadilan untuk orang Eropa dan Tionghoa ada di bawah pemerintah kolonial
Hindia Belanda, sedangkan pengadilan untuk orang pribumi tetap berada di bawah
Sultan.
5. Belanda berhak membangun tangsi tentara untuk melindungi pasukan Belanda
yang ada di Pontianak (Rahman, 2000:112-113).

Sultan Kadriah Pontianak berikutnya, yakni Sultan Syarif Usman Alqadrie (1819 – 1855),
melakukan perjanjian dengan pemerintah kolonial pada tahun 1819, 1822, dan 1823. Pada
perjanjian tanggal 16 Maret 1822, misalnya, Belanda memaksakan bahwa penghasilan
Kesultanan Kadriah Pontianak harus dibagi dua dengan pemerintah kolonial. Di sisi lain,
kesultanan tidak lagi mendapatkan setengah dari penghasilan Belanda, namun hanya diberi
tunjangan sebesar 42.000 gulden setiap tahun. Selain itu, dalam perjanjian tanggal 14 Oktober
1823 disebutkan bahwa kekuasaan pengadilan Belanda diperluas mencakup pengadilan untuk
rakyat Kesultanan Kadriah Pontianak (Rahman, 2000:117-118). Aturan ini berlaku hingga masa
pemerintahan Sultan Hamid Alqadrie (1855 – 1872).
Selanjutnya, pada era Sultan Syarif Yusuf Alqadrie (1872 – 1895), Belanda kembali
memperbaharui kontrak politiknya pada tanggal 22 Agustus 1872, yang antara lain menyatakan
bahwa kekuasaan kepolisian terhadap penduduk pribumi di luar kuasa Belanda diserahkan lagi
kepada Kesultanan Kadriah Pontianak. Selain itu, kesultanan boleh memungut pajak di
wilayahnya. Pengembalian kekuasaan kepolisian itu disebabkan karena penduduk pribumi hanya
mau tunduk dan mentaati kekuasaan kesultanan. Demikian pula dengan penyerahan hasil pajak
kepada kesultanan yang hanya didasarkan atas pertimbangan teknis untuk kepentingan Belanda
karena bagaimanapun juga hasil pajak tetap dibagi dua dengan Belanda
Hegemoni Belanda berlanjut pada era Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (1895 –1944), di mana
terdapat aturan baru yang antara lain menyebutkan bahwa:
(1) Belanda berhak ikut-campur dalam hal pengangkatan dan pemberhentian pegawai
kesultanan;
(2) Syariat Islam dihapuskan sebagai sumber hukum di Kesultanan Kadriah Pontianak dan
diganti dengan hukum perdata dan hukum pidana; serta
(3) Seluruh pegawai kesultanan mendapat gaji dari pemerintah kolonial. Dengan demikian,
Belanda telah menguasai sistem pemerintahan Kesultanan Kadriah Pontianak. Seluruh pegawai
kesultanan dianggap sebagai pegawai pemerintah kolonial, termasuk Sultan Syarif Muhammad
sendiri (Hidayat, tt:23).
Setelah Indonesia merdeka, meski Kesultanan Kadriah Pontianak masih tetap eksis di bawah
pimpinan Sultan Hamid II, terjadi perubahan sistem pemerintahan Kota Pontianak. Pada tanggal
14 Agustus 1946, dinyatakan bahwa Platselijk Fonds, yang diterapkan sejak tahun 1779, diganti
dengan Stadsgemeente (semacam swapraja) yang bertahan sampai tahun 1950
Pada tanggal 5 Januari 1950, Sultan Hamid II meletakkan jabatan sebagai Sultan Kadriah
Pontianak dan pada 5 April 1950 ia ditangkap karena diduga terlibat dalam kudeta Westerling.
Setelah Sultan Hamid dihukum penjara sejak tahun 1953, riwayat Kesultanan Kadriah Pontianak
pun berakhir.
Sejak tahun 1950, status Stadsgemeente Pontianak berubah menjadi Pemerintah Daerah Kota
Besar Pontianak yang dipimpin oleh walikota dan bersifat otonom. Selanjutnya, sesuai dengan
perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953,
bentuk pemerintahan Kota Besar Pontianak ditingkatkan menjadi Kotapraja Pontianak.
Pemerintahan Kota Praja Pontianak berubah lagi menjadi Kotamadya Pontianak sejak tahun
1965 dan akhirnya menjadi Daerah Tingkat II Pontianak berdasarkan Undang-Undang No.5
Tahun 1974 Sampai sekarang, Daerah Tingkat II Pontianak termasuk ke dalam wilayah Provinsi
Kalimantan Barat.

4. Wilayah Kekuasaan
Sebelum mendirikan Kesultanan Kadriah Pontianak, Syarif Abdurrahman Alqadrie terlebih dulu
mendirikan permukiman sementara di sebuah pulau kecil bernama Batu Layang yang terletak 15
kilometer dari muara Sungai Kapuas. Batu Layang inilah yang kemudian dijadikan sebagai
tempat permakaman sultan-sultan yang pernah memimpin Kesultanan Kadriah Pontianak. Pada
tanggal 23 Oktober 1771 M, Abdurrahman Alqadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas dan
membangun surau yang kelak menjadi Masjid Jami’ Syarif Abdurrahman Alqadrie. Selanjutnya,
Abdurrahman Alqadrie mempersiapkan permukiman yang letaknya menjorok ke darat sekitar
800 meter dari surau. Permukiman itulah yang kemudian menjadi wilayah pusat pemerintahan
Kesultanan Kadriah – Pontianak

Tidak lama setelah resmi menjadi Sultan Kadriah Pontianak pada tahun 1778 M, Abdurrahman
Alqadrie melakukan sejumlah ekspansi untuk memperluas wilayahnya. Pada tahun 1778 M itu,
Kesultanan Kadriah Pontianak berhasil menduduki wilayah Kerajaan Sanggau sekaligus
menguasai jalur perdagangan ke pedalaman Sungai Kapuas. Sebagai legitimasi penguasaan atas
wilayah Sanggau, Sultan Abdurrahman Alqadrie mendirikan benteng yang dinamakan Jambu
Basrah di Pulau Simpang Labi, yang merupakan pulau milik Kerajaan Sanggau. Selain itu, dalam
kontrak politik antara Kesultanan Kadriah Pontianak dan Belanda tanggal 5 Juli 1779, pihak
Belanda menyebut bahwa Pontianak dan Sanggau sebagai satu kerajaan di bawah Sultan Syarif
Abdurrahman Alqadrie (Rahman, 2000:81).
Kemudian, karena dipengaruhi oleh tekanan Belanda, Kesultanan Kadriah Pontianak kembali
melancarkan ekspansi ke sejumlah kerajaan di Kalimantan Barat untuk semakin memperluas
wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1786 M, Kesultanan Kadriah Pontianak menyerang
Kesultanan Tanjungpura di Sukadana. Kemudian, tahun 1787 M, Sultan Syarif Abdurrahman
Alqadrie berhasil menaklukkan Kesultanan Mempawah (Rahman, 2000:109-110). Dengan
demikian, daerah-daerah yang semula termasuk ke dalam wilayah Kesultanan Tanjungpura dan
Mempawah beralih-tangan menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Kadriah Pontianak.
Sementara itu, pada masa pemerintahan Sultan Syarif Yusuf Alqadrie (1872 – 1895), wilayah
Kesultanan Kadriah Pontianak banyak didatangi kaum imigran dari berbagai tempat. Misalnya
orang-orang Bugis dari Sulawesi yang menetap di kawasan Pantai Jungkat dan Peniti untuk
bertani atau menjadi nelayan, sehingga sampai sekarang terdapat daerah yang disebut Kampung
Dalam Bugis di Pontianak bagian timur. Selain para imigran dari Bugis, banyak pula imigran
dari Banjar, Bangka Belitung, Serasan, Tambelan, Sampit, bahkan dari Malaka, Kamboja, dan
Vietnam, yang datang kemudian bermukim di wilayah Kesultanan Kadriah Pontianak. Maka
kemudian di Pontianak terdapat Kampung Banjar, Kampung Bangka Belitung, Kampung
Serasan, Kampung Tambelan, Kampung Sampit, juga Kampung Saigon (Rahman, 2000:127).
Era pemerintahan Sultan Syarif Yusuf Alqadrie juga diwarnai dengan perjanjian mengenai batas-
batas wilayah antara Kesultanan Kadriah Pontianak dan Kesultanan Landak, yakni kesepakatan
yang ditandatangani pada tanggal 3 Agustus 1886. Perbatasan yang ditegaskan dalam sebuah
peta tersebut menyatakan bahwa perbatasan Kesultanan Kadriah Pontianak dan Kesultanan
Landak dimulai dari Bukit Batu, kemudian ke Kubu Sengkubu dan Kuala Keramas, melintasi
Kuala Terap hingga ke Hulu Sungai Menuntung, dan berakhir di Gunung Banua atau Gunung
Ambawang (Rahman, 2000:127).
Tragedi Mandor
Pada masa penjajahan Jepang , sikap Jepang terlalu sewenang-wenang dalam berkuasa . Sultan-
sultan tidak menyukai sikap Jepang yang sewenang-wenang ini . Akhirnya para Sultan
mengadakan rapat tertutup yang tidak diketahui oleh Jepang .Dalam rapat ini dibicarakan
bagaimana cara menghadapi pasukan Jepang yang merajalela .Tetapi , apa yang telah dirapatkan
oleh para Sulatan di bocorkan oleh seorang di antara mereka . Tokoh yang menjadi penghianat
ini tidak diketahui namanya. Kemudian setealh Jepang mengetahui bahwa mereka menyusun
taktik untuk mengusir Jepang ,Jepang juga menyusun taktik baru . Jepang menjanjikan akan
menyekolahkan Sultan-sultan keluar negri . Ternyata hal itu merupakan tipuan belaka . Para
Sultan yang dijanjikan untuk sekolah di luar negri malah di bawa ke Mandor untuk pembunuhan
massal tersebut.
Satu-satunya Sultan yang hidup pada saat itu adalah Sultan Hami 2 . Pada saat itu Sulatan Hami
2 di bawa ke luar negri . Setelah Jepang di bom , Sultam Hami 2 kembali dari Netherland.
Sekembalinya Sultan Hami2 ,ia menyadari bahwa ada keanehan di kota Pontianak ,para Sultan
sudah tidak ada. Ketika Sultan Hami bertanya kepada Jepang , Jepang berkata bahwa mereka
telah di sekolahkan keluar negri .Tetapi Sultan Hami kurang percaya. Maka dari itu Sultan Hami
meminta PBB untuk melakukan pemeriksaan apakah benar Sultan-sultan telah bersekolah diluar
negri . Setelah dilakukan pemeriksaan ,ternyata tidak ada. Beberapa hari kemudian ada penduduk
yang memberitahu Sultan Hami bahwa telah terjadi pembunuhan massal .
Peristiwa mandor adalah sebuah peristiwa masa kelam yang pernah terjadi di kalimantan barat,
peristiwa ini terjadi pada tahun 1943-1944 di daerah Mandor kabupaten landak Tak sedikit
kaum cerdik pandai, cendikiawan, para raja, sultan, tokoh masyarakat maupun pejuang lainnya
gugur sebagai kesuma bangsa atas kebiadaban Jepang kala itu. Menurut sejarah hampir terdapat
21.037 jumlah pembantaian yang di bunuh oleh Jepang, namun jepang menolaknya dan
menganggap hanya 1.000 korban saja. Zaman pendudukan Jepang lebih menyeramkan daripada
masa pendudukan Belanda. Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksukaan penjajah Jepang
terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang
ada di Bumi Kalimantan Barat. Sebelum terjadi peristiwa mandor terjadilah peristiwa cap
kapak dimana kala itu pemerintah Jepang mendobrak pintu - pintu rumah rakyat (Tionghoa,
Melayu, Maupun Dayak) mereka tidak ingin terjadi pemberontak-pemberontak terdapat di
kalimantan barat. Penculikan dilakukan dengan cara kepalanya disungkup kemudian dimasukan
ke dalam mobil . Mobil yan dipakiai oleh orang-orang Jepang itu disebut dengan Mobil Sungkup
.Meskipun demikian ternyata menurut sejarah yang dibantai bukan hanya kaum cendekiawan
maupun feodal namun juga rakyat-rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa. Tidak diketahui apakah
karena tentara Jepang memang bodoh atau apa, kala itu pisau dilarang oleh penjajah Jepang.
Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan
rakyat Kalbar kala itu. Sebuah harian Jepang Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu
mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang
kebijakan politik perang Jepang. Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan
tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu.Maka dari itu ,setiap tanggal 28 Juni dinyatakan
sebagai Hari Berkabung Daerah .
Dari pendopo kami menuju sebuah ruangan yang penuh dengan foto-foto para korban kekejaman
Jepang . Setelah itu kami menuju sebuah monument sebagai penghormatan kepada para korban
peristiwa Mandor . Di dalam monument itu terdapat jenazah seorang laki-laki dan perempuan
yang katanya ketika di ambil ,jenazahnya masih utuh. Di monumen itu juga terdapat relief-relief
yang menggambarkan peristiwa mandor. Secara tidak langsung , saya dapat merasakan
bagaimana sakitnya disiksa oleh Jepang pada saat itu. Di monument itu tertulis “Tidak cukup
sekedar anda kenang ,tapi kuharap anda teruskan semangat juangmu untuk memerangi segala
bentuk penjajahan .”
Setelah dari monument kami menuju jalan kematian .Kami memasuki jalan itu menggunakan
bis . Jalan itu disebut Jalan Kematian karena Jalan itu dibuat oleh para pejuang yang digiring
oleh Jepang yang akhirnya di eksekusi mati.Jalan ini dibuat untuk mengenang para pahlawan dan
supaya tidak terjadi yang kedu kalinya .
Di sepanjang jalan ini terdapat 10 makam ,yang setiap makamnya memuat semua korban
pembunuhan massal tersebut . Makam yang berbeda dari makam lainnya adalah makam nomor
10 , karena makam ini khusus untuk para Sultan.
Gambar untuk relief-relief:

Dari Makam-makam itu kami menuju ke tempat penambangan emas liar . Saat saya tiba di
tempat itu , saya bertanya-tanya tempat apa ini .Dan ternyata tempat itu adalah tempat
penambangan emas liar. Tempat itu sangat indah .Terdapat banyak pasir putih yang membuatnya
terlihat seperti pantai. Airnya juga terlihat sangat biru.Tetapi sayangnya kata penjaganya ,air
disana telah tercemar oleh merkuri.
Tempat penambangan emas Liar

2.3 Keraton Mempawah


Nama Mempawah diambil dari istilah “Mempauh”, yaitu nama pohon yang tumbuh di hulu sungai yang
kemudian juga dikenal dengan nama Sungai Mempawah (J.U. Lontaan, 1975:125). Pada
perkembangannya, Mempawah menjadi lekat sebagai nama salah satu kerajaan/kesultanan yang
berkembang di Kalimantan Barat. Riwayat pemerintahan adat Mempawah sendiri terbagi atas dua
periode, yakni pemerintahan kerajaan Suku Dayak yang berdasarkan ajaran Hindu dan masa
pengaruh Islam (kesultanan).

a. Mempawah pada Masa Kerajaan (Dayak/Hindu)

Cikal-bakal Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat terkait erat dengan riwayat beberapa kerajaan
pendahulunya, di antaranya adalah Kerajaan Bangkule Sultankng dan Kerajaan Sidiniang. Kerajaan
Bangkule Sultankng merupakan kerajaan orang-orang Suku Dayak yang didirikan oleh Ne‘Rumaga di
sebuah tempat yang bernama Bahana (Erwin Rizal, tt:39).

Karlina Maryadi dalam tulisan berjudul “Menguak Misteri Sebukit Rama” menyebutkan, pemerintahan
Ne‘Rumaga dilanjutkan oleh Patih Gumantar (Karlina Maryadi, www.indonesiaindonesia.com). Namun,
terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa kerajaan Suku Dayak yang dipimpin Patih Gumantar
adalah sebuah pemerintahan yang berdiri sendiri dan sudah eksis sejak sekitar tahun 1380 Masehi.
Dikarenakan pusat kerajaan ini berada di Pegunungan Sidiniang, di daerah Sangking, Mempawah
Hulu, maka kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sidiniang (Musni Umberan, et.al, 1996-
1997:12).

Dikisahkan, Patih Gumantar pernah menjalin hubungan dengan Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit
dalam rangka mempersatukan negeri-negeri di nusantara di bawah naungan Majapahit. Bahkan, Patih
Gumantar dan Gajah Mada konon pernah bersama-sama ke Muang Thai (Thailand) untuk
membendung serangan Khubilai Khan dari Kekaisaran Mongol. Menurut Lontaan (1975), bukti
hubungan antara Kerajaan Sidiniang dengan Kerajaan Majapahit adalah adanya keris yang
dihadiahkan kepada Patih Gumantar. Keris ini masih disimpan di Hulu Mempawah dan oleh warga
setempat keris pusaka ini disebut sebagai Keris Susuhunan (Lontaan, 1975:120).

Eksistensi Kerajaan Sidiniang tidak lepas dari ancaman. Salah satunya adalah serangan dari Kerajaan
Suku Biaju. Dalam pertempuran yang terjadi pada sekitar tahun 1400 M itu, terjadilah perang penggal
kepala atau perang kayau-mengayau yang mengakibatkan gugurnya Patih Gumantar (Lontaan,
1975:120). Dengan gugurnya Patih Gumantar, riwayat Kerajaan Sidiniang pun berakhir. Namun, ada
pendapat yang mengatakan bahwa kedudukan Patih Gumantar diteruskan oleh puteranya yang
bernama Patih Nyabakng. Namun, masa pemerintahan Patih Nyabakng tidak bertahan lama karena
Kerajaan Sidiniang terlibat perselisihan dengan Kerajaan Lara yang berpusat di Sungai Raya Negeri
Sambas (Maryadi, dalam www.indonesiaindonesia.com). Selepas kepemimpinan Patih Nyabakng,
riwayat Kerajaan Sidiniang belum terlacak lagi.

Dua ratus tahun kemudian, atau sekitar tahun 1610 M, berdirilah pemerintahan baru yang dibangun di
bekas puing-puing Kerajaan Sidiniang. Belum diketahui hubungan antara pendiri kerajaan baru ini
dengan Patih Gumantar. Dari sejumlah referensi yang ditemukan, hanya disebutkan bahwa pemimpin
kerajaan baru ini bernama Raja Kodong atau Raja Kudung Raja Kudung kemudian memindahkan
pusat pemerintahannya dari Sidiniang ke Pekana

Pada sekitar tahun 1680 M, Raja Kudung mangkat dan dimakamkan di Pekana (Umberan, et.al, 1996-
1997:13). Penerus tahta Raja Kudung adalah Panembahan Senggaok, juga dikenal dengan nama
Senggauk atau Sengkuwuk, yang memerintah sejak tahun 1680 M. Penyebutan nama Panembahan
“Senggaok” digunakan seiring dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Pekana ke Senggaok,
yakni sebuah daerah di hulu Sungai Mempawah (Lontaan, 1975:121). Panembahan Senggaok
menyunting puteri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri di Sumatra, bernama Puteri Cermin,
dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Utin Indrawati (Lontaan, 1975:121). Puteri Utin
Indrawati kemudian dinikahkan dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan
Tanjungpura (Rizal, tt:39). Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak bernama Puteri
Kesumba (Umberan, et.al, 1996-1997:14). Puteri Kesumba inilah yang kemudian menikah dengan
Opu Daeng Menambun, pelopor pengaruh Islam di Mempawah.

b. Mempawah pada Masa Kesultanan (Islam)

Opu Daeng Menambun berasal dari Kesultanan Luwu Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam Tuhfat Al-Nafis
karya Raja Ali Haji (2002) disebutkan tentang ayah Opu Daeng Menambun, bernama Opu
Tendriburang Dilaga, yang melakukan perjalanan dari Sulawesi ke negeri-negeri di tanah Melayu. Opu
Tendriburang Dilaga adalah putera dari Opu La Maddusilat, Raja Bugis pertama yang memeluk Islam
(Raja Ali Haji, 2002:18). Opu Tendriburang Dilaga mempunyai lima orang putera yang diajak
berkelana ke tanah Melayu. Kelima anak Opu Tendriburang Dilaga itu adalah Opu Daeng Menambun,
Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi (Gusti Mhd Mulia
[ed.], 2007:18). Kedatangan mereka ke tanah Melayu menjadi salah satu babak migrasi orang-orang
Bugis yang terjadi pada abad ke-17 (Andi Ima Kesuma, 2004:96). Opu Tendriburang Dilaga dan
kelima anak lelakinya memainkan peranan penting di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama
dalam hal penyebaran agama Islam

Kesultanan Johor untuk membantu memadamkan pergolakan di sana, segera berangkat ke


Tanjungpura. Atas bantuan Opu Daeng Menambun bersaudara, tahta Sultan Muhammad Zainuddin
dapat diselamatkan (Mulia [ed.], 2007:18). Opu Daeng Menambun kemudian dinikahkan dengan Ratu
Kesumba, puteri Sultan Muhammad Zainuddin. Tidak lama kemudian, Opu Daeng Menambun
bersaudara kembali ke Kesultanan Johor.

Sepeninggal Opu Daeng Menambun bersaudara, pergolakan internal terjadi lagi di Kesultanan Matan.
Anak-anak Sultan Muhammad Zainuddin meributkan siapa yang berhak mewarisi tahta Kesultanan
Matan jika kelak ayah mereka wafat. Sultan Muhammad Zainuddin kembali meminta bantuan Opu
Daeng Menambun yang sudah kembali ke Johor. Opu Daeng Menambun memenuhi permintaan Sultan
Muhammad Zainuddin dan segera menuju Tanjungpura untuk yang kedua kalinya, sedangkan
keempat saudaranya tidak ikut serta karena tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk membantu
Kesultanan Johor

Berkat Opu Daeng Menambun, perselisihan di Kesultanan Matan dapat segera diselesaikan dengan
cara damai. Atas jasa Opu Daeng Menambun itu, Sultan Muhammad Zainuddin berkenan
menganugerahi Opu Daeng Menambun dengan gelar kehormatan Pangeran Mas Surya Negara. Opu
Daeng Menambun sendiri memutuskan untuk menetap di Kesultanan Matan bersama istrinya, dan
mereka dikaruniai beberapa orang anak, yang masing-masing bernama Puteri Candramidi, Gusti
Jamiril, Syarif Ahmad, Syarif Abubakar, Syarif Alwie, dan Syarif Muhammad

Pada tahun 1724 M, Sultan Muhammad Zainuddin wafat. Penerus kepemimpinan Kesultanan Matan
adalah Gusti Kesuma Bandan yang bergelar Sultan Muhammad Muazzuddin. Sementara itu, di
Mempawah, Panembahan Senggaok wafat pada tahun 1737 M. Karena Panembahan Senggaok tidak
mempunyai putera, maka tahta Mempawah diberikan kepada Sultan Muhammad Muazzuddin yang
tidak lain cucu Panembahan Senggaok dari Puteri Utin Indrawati yang menikah dengan Sultan
Muhammad Zainuddin. Namun, setahun kemudian atau pada tahun 1738 M, Sultan Muhammad
Muazzuddin pun mangkat dan digantikan puteranya yang bernama Gusti Bendung atau Pangeran Ratu
Agung bergelar Sultan Muhammad Tajuddin sebagai Sultan Matan yang ke-3.

Pada tahun 1740 M, kekuasaan atas Mempawah, yang semula dirangkap bersama tahta Kesultanan
Matan, diserahkan kepada Opu Daeng Menambun yang kemudian memakai gelar Pangeran Mas Surya
Negara, gelar yang dahulu diberikan oleh almarhum Sultan Muhammad Zainuddin, Sultan Matan yang
pertama. Sedangkan istri Opu Daeng Menambun, Ratu Kesumba, menyandang gelar sebagai Ratu
Agung Sinuhun (Rizal:40). Pada era Opu Daeng Menambun inilah Islam dijadikan sebagai agama
resmi kerajaan. Selaras dengan itu, penyebutan kerajaan pun diganti dengan kesultanan. Opu Daeng
Menambun memindahkan pusat pemerintahannya dari Senggaok ke Sebukit Rama yang merupakan
daerah subur, makmur, strategis, dan ramai didatangi kaum pedagang (Umberan, et.al, 1996-
1997:16).

Pengaruh Islam di Mempawah pada era pemerintahan Opu Daeng Menambun semakin kental berkat
peran Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang pengelana yang datang dari Hadramaut atau Yaman
Selatan (Mahayudin Haji Yahya, 1999:224). Husein Alqadrie sendiri sebelumnya telah menjabat
sebagai hakim utama di Kesultanan Matan pada masa Sultan Muhammad Muazzuddin. Husein Alqadrie
dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua Kesultanan Matan,
Husein Alqadrie mengabdi sampai pada pemerintahan sultan ke-4, yakni Sultan Ahmad Kamaluddin,
yang menggantikan Sultan Muhammad Tajuddin pada tahun 1749 M. Namun, pada tahun 1755 M,
Husein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang penerapan hukuman
mati.

Melihat kondisi ini, Opu Daeng Menambun kemudian menawari Husein Alqadrie untuk tinggal di
Mempawah. Tawaran itu disambut baik oleh Husein Alqadrie yang segera pindah ke Istana Opu Daeng
Menambun. Husein Alqadrie kemudian diangkat sebagai patih sekaligus imam besar Mempawah.
Selain itu, Husein Alqadrie diizinkan menempati daerah Kuala Mempawah (Galah Herang) untuk
dijadikan sebagai pusat pengajaran agama Islam. Untuk semakin mempererat hubungan antara
keluarga Husein Alqadrie dan Kesultanan Mempawah, maka diadakan pernikahan antara anak lelaki
Husein Alqadrie yang bernama Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan anak perempuan Opu Daeng
Menambon yang bernama Puteri Candramidi (Muhammad Hidayat, tt: 21). Kelak, pada tahun 1778 M,
Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan Kesultanan Kadriah di Pontianak.

Pada tahun 1761 M, Opu Daeng Menambon wafat dan dimakamkan di Sebukit
Rama (Umberan, et.al, 1996-1997:16). Penerus tahta Kesultanan Mempawah
selanjutnya adalah putera Opu Daeng Menambun, yaitu Gusti Jamiril yang bergelar
Panembahan Adiwijaya Kusumajaya (Umberan, et.al, 1996-1997:17). Di bawah
kepemimpinan Panembahan Adiwijaya, wilayah kekuasaan Mempawah semakin
luas dan terkenal sebagai bandar perdagangan yang ramai.

c. Kesultanan Mempawah pada Masa Kolonial

Tidak lama setelah Belanda mendarat di Mempawah pada sekitar tahun 1787 M, terjadilah
pertempuran melawan pasukan Kesultanan Mempawah yang dipimpin Panembahan Adiwijaya
Kusumajaya. Syarif Kasim, anak lelaki Sultan Kadriah Pontianak, Syarif Abdurrahman Alqadrie,
berhasil dipengaruhi oleh Belanda untuk ikut menyerbu Mempawah. Panembahan Adiwijaya akhirnya
menyingkir ke Karangan di Mempawah Hulu guna mengatur siasat (Umberan, et.al, 1996-1997:16).
Namun, pada tahun 1790 M, Panembahan Adiwijaya wafat sebelum sempat melancarkan serangan
balasan. Panembahan Adiwijaya meninggalkan 8 orang anak dari dua istri.

Pada sekitar tahun 1794 M, sengketa antara Kesultanan Mempawah dan Kesultanan Kadriah
bertambah runyam karena Belanda berhasil membujuk Syarif Kasim agar meluaskan Istana Kadriah
hingga ke hulu sungai yang dekat dengan perbatasan Kesultanan Mempawah. Akibatnya, peperangan
kembali berkobar di mana pihak Kesultanan Kadriah dibantu oleh orang-orang Tionghoa yang ada di
Pontianak, sedangkan kubu Kesultanan Mempawah, yang pada waktu itu belum memiliki sultan baru
sebagai pengganti Panembahan Adiwijaya, mendapat dukungan dari orang-orang Suku Dayak dan
Kesultanan Singkawang. Namun, karena Kesultanan Kadriah disokong penuh oleh Belanda, pihak
Kesultanan Mempawah mengalami kekalahan dalam perang tersebut (www.asiawind.com).

Selanjutnya, Belanda mengangkat Syarif Kasim sebagai penguasa Mempawah dengan gelar
Panembahan Mempawah (Hidayat, tt:22). Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, ayahanda Syarif
Kasim, sebenarnya tidak menyetujui pengangkatan itu karena antara Kesultanan Mempawah dan
Kesultanan Kadriah masih terdapat ikatan kekerabatan yang erat. Istri Sultan Syarif Abdurrahman
Alqadrie, Puteri Candramidi, adalah anak perempuan Opu Daeng Menambon. Pengangkatan Syarif
Kasim sebagai Panembahan termaktub dalam perjanjian tanggal 27 Agustus 1787 (Ansar Rahman,
et.al., 2000:109-110).

Pada tahun 1808, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie wafat. Belanda kemudian menunjuk Syarif
Kasim sebagai penguasa Kesultanan Kadriah dengan gelar Sultan Syarif Kasim Alqadrie. Kedudukan
Syarif Kasim di Mempawah digantikan oleh saudaranya yang bernama Syarif Hussein. Namun,
kekuasaan Syarif Hussein tidak bertahan lama karena kekuatan Belanda di Mempawah mulai goyah
akibat perlawanan yang dimotori oleh dua orang putera Panembahan Adiwijaya, yakni putera
mahkota, Gusti Jati, dan saudaranya yang bernama Gusti Gusti Mas. Ketika akhirnya Belanda berhasil
diusir dari Mempawah, Gusti Jati dinobatkan menjadi Sultan Mempawah (Umberan, et.al, 1996-
1997:18). Belanda kemudian mundur ke Kesultanan Kadriah di Pontianak di bawah lindungan Sultan
Syarif Kasim Alqadrie.

Gusti Jati dinobatkan sebagai pemimpin Kesultanan Mempawah pada sekitar tahun 1820 dengan gelar
Sultan Muhammad Zainal Abidin. Gusti Mas tetap setia mendampingi kakaknya untuk turut
mengembangkan kehidupan dan keamanan rakyat Mempawah (Lontaan, 1975:126). Oleh Sultan
Muhammad Zainal Abidin, pusat pemerintahan kesultanan dipindahkan ke tepi Sungai Mempawah,
tepatnya di Pulau Pedalaman. Pada era inilah Kesultanan Mempawah semakin terkenal sebagai pusat
perdagangan dan memiliki benteng pertahanan yang kuat. Melihat Kesultanan Mempawah, yang
semakin jaya, Belanda kemudian menyusun taktik. Belanda mencoba cara damai untuk menghadapi
Sultan Muhammad Zainal Abidin, sementara kekuatan perang Kesultanan Kadriah disiapkan untuk
segera menyerbu manakala Mempawah lengah.
Taktik Belanda berhasil. Ketika para punggawa Kesultanan Mempawah terlena oleh ajakan damai
Belanda, armada perang Kesultanan Kadriah menyerbu Pulau Pedalaman. Bukti serangan ini masih
dapat dilihat pada bekas benteng pertahanan yang dibangun di sisi kanan dan kiri Istana Mempawah
(Lontaan, 1975:126). Akibat serbuan mendadak tersebut, Sultan Zainal Abidin terpaksa kembali ke
Sebukit Rama untuk menghimpun kekuatan. Serangan balik Sultan Zainal Abidin membuahkan hasil,
tentara Kesultanan Kadriah dapat dikalahkan. Namun, Sultan Zainal Abidin tidak kembali ke Pulau
Pedalaman, ia memilih menyepi dengan menyusuri hulu Sungai Mempawah (Lontaan, 1975:126).

Terjadi lagi kekosongan pemerintahan Kesultanan Mempawah, dan lagi-lagi Belanda memaksimalkan
peluang ini dengan mengangkat adik Sultan Zainal Abidin yang bernama Gusti Amin sebagai Sultan
Mempawah yang bergelar Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (Rizal, tt:41; Johan
Wahyudi dalam Borneo Tribune, Desember 2007). Pada tahun 1831 itu, Kesultanan Mempawah
melemah karena campur-tangan Belanda. Sejak itu, setiap suksesi Kesultanan Mempawah menjadi
permainan politik yang diatur oleh Belanda. Selain itu, pihak Kesultanan Mempawah harus tunduk
pada aturan-aturan buatan Belanda.

Setelah Gusti Amin wafat pada tahun 1839, Belanda menobatkan Gusti Mukmin menjadi Sultan
Mempawah dengan gelar Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma. Selanjutnya, pada tahun 1858,
Belanda menabalkan Gusti Makhmud sebagai Sultan Mempawah dengan gelar Panembahan Muda
Makhmud Alauddin. J.U. Lontaan dalam buku berjudul Sejarah Hukum Adat dan Adat-Istiadat
Kalimantan Barat (1975) menyebutkan bahwa pada tahun 1858 itu telah diangkat pula Gusti Usman
sebagai Sultan Mempawah (Lontaan, 1975:129). Dari tulisan itu, dimungkinkan Gusti Makhmud wafat
tidak lama setelah dinobatkan. Gusti Usman, anak Gusti Mukmin, diangkat menjadi Sultan Mempawah
untuk sementara. Kemungkinan tersebut mendekati kebenaran karena ketika Gusti Usman meninggal
dunia pada tahun 1872, yang diangkat sebagai Sultan Mempawah adalah Gusti Ibrahim gelar
Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin yang tidak lain adalah putera Gusti Makhmud (Rizal,
tt:41).

Ketika Gusti Ibrahim mangkat pada tahun 1892, sang putera mahkota, Gusti Muhammad Thaufiq
Accamuddin, dinilai belum cukup umur untuk diangkat sebagai penggantinya. Oleh karena itu, yang
dinobatkan selaku pemangku adat Kesultanan Mempawah untuk sementara adalah Gusti Intan, kakak
perempuan Gusti Muhammad Thaufiq Accamuddin (Wahyudi, Desember 2007). Gusti Muhammad
Thaufiq Accamuddin sendiri baru naik tahta pada tahun 1902. Sultan ini membangun Istana
Amantubillah Wa Rusuli Allah di Pulau Pedalaman pada tahun 1922. Pemerintahan Sultan Muhammad
Thaufiq Accamuddin masih berlangsung hingga kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942.

Kedatangan Jepang menimbulkan tragedi bagi kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, termasuk


Kesultanan Mempawah. Pada tahun 1944, Sultan Muhammad Thaufiq Accamuddin ditawan tentara
Jepang hingga akhir hayatnya. Hingga kini, jasad ataupun makam Sultan Muhammad Thaufiq
Accamuddin belum ditemukan (Lontaan, 1975:130). Karena putera mahkota, Gusti Jimmi Muhammad
Ibrahim, belum dewasa, maka Jepang mengangkat Gusti Mustaan selaku Wakil Panembahan
Kesultanan Mempawah yang menjabat hingga tahun 1955. Namun, waktu itu Gusti Jimmi Muhammad
Ibrahim tidak bersedia dinobatkan menjadi Sultan Mempawah karena masih ingin menyelesaikan
pendidikannya di Yogyakarta. Oleh karena itu, yang dianggap sebagai Sultan Mempawah terakhir
adalah Sultan Muhammad Thaufiq Accamuddin (Umberan, et.al, 1996-1997:20).

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, kemudian disusul dengan pengakuan kedaulatan secara
penuh dari Belanda kepada Indonesia pada tahun 1949, terjadi perombakan yang signifikan dalam
bidang sistem pemerintahan, termasuk sistem pemerintahan di daerah. Hal itu terjadi juga di
Kalimantan Barat. Dengan terbentuknya Republik Indonesia, segala wewenang yang pernah
dilimpahkan kepada Daerah Istimewa Kalimantan Barat dikembalikan kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia (http://kalbar.bps.go.id).

Pada akhirnya kemudian, atas desakan rakyat, para tokoh adat Dayak dan Melayu-Bugis, Gusti Jimmi
Muhammad Ibrahim akhirnya bersedia dinobatkan sebagai pemangku adat Kesultanan Mempawah.
Karena telah bergabung dan menjadi bagian dari NKRI, kepemimpinan Gusti Jimmi Muhammad
Ibrahim yang menyandang gelar sebagai Panembahan XII Kesultanan Amantubillah Mempawah sudah
tidak memiliki kewenangan lagi secara politik.

Tanggal 12 Agustus 2002, karena menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, Panembahan Gusti
Jimmi Muhammad Ibrahim menyerahkan kekuasaan Kesultanan Mempawah kepada puteranya yang
bernama Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim yang kemudian dinobatkan
sebagai Panembahan XII Kesultanan Amantubillah Mempawah dan bertahta hingga saat ini. Pada
tahun 2005, Panembahan Jimmy Mohammad Ibrahim wafat dalam usia 73 tahun dan dimakamkan
dengan upacara kebesaran adat Kesultanan Mempawah.

TENTANG ISTANA
Istana Amantubillah
Nama Istana “Amantubillah” mempunyai arti, “Aku beriman
kepada Allah”. Istana yang didominasi oleh warna hijau ini
menempatkan tulisan “Mempawah Harus Maju, Malu dengan
Adat” pada pintu gerbang istana. Kompleks Istana Amantubillah
berdiri kokoh di Desa Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah
Timur, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Menurut sejarah, Istana Amantubillah dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril bergelar
Panembahan Adiwijaya Kesuma (1761-1787). Pada tahun 1880, Istana Amantubillah mengalami
kebakaran ketika diperintah oleh Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Mohammad Syafiuddin
(1864–1892). Renovasi terhadap bangunan Istana Amantubillah kemudian dilakukan hingga Istana
Amantubillah dapat berdiri kembali pada tanggal 2 November 1922 ketika diperintah oleh Gusti
Muhammad Taufik Accamaddin (1902–1943).

Kompleks Istana Amantubillah dibagi dalam tiga bagian, yaitu bangunan utama, bangunan sayap
kanan, dan sayap kiri. Pada zaman dahulu, bangunan utama merupakan tempat singgasana raja,
permaisuri, dan tempat tinggal keluarga raja. Bangunan sayap kanan adalah tempat untuk
mempersiapkan keperluan dan tempat untuk jamuan makan keluarga istana. Sedangkan bangunan
sayap kiri merupakan aula dan tempat untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan
administrasi pemerintahan.

Pada masa sekarang, bangunan utama berfungsi sebagai museum Kerajaan Mempawah. Di tempat ini
tersimpan berbagai peninggalan Kerajaan Mempawah, yaitu singgasana raja, foto-foto raja beserta
keluarganya, keris, busana kebesaran, dan payung kerajaan, dan lain-lain. Bangunan sayap kanan
berfungsi sebagai pendopo istana, sedangkan bangunan sayap kiri sebagai tempat tinggal para
kerabat Kerajaan Mempawah.