Anda di halaman 1dari 15

BATIMETRI

1. PENGERTIAN BATIMETRI

Batimetri (dari bahasa Yunani: βαθυς, berarti "kedalaman", dan μετρον, berarti "ukuran")
adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai
samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai atau dataran
dengan garis-garis kontor (contour lines) yang disebut kontor kedalaman (depth
contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi
permukaan.

Awalnya, batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra. Teknik-teknik awal


batimetri menggunakan tali berat terukur atau kabel yang diturunkan dari sisi kapal.
Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan satu pengukuran dalam satu waktu
sehingga dianggap tidak efisien. Teknik tersebut juga menjadi subjek terhadap pergerakan kapal
dan arus.

1.1 Penentuan Batimetri

1.1.1 Metode Akustik

Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan


mempertimbangkan proses-proses perambatan suara; karakteristik suara (frekuensi, pulsa,
intensitas); faktor lingkungan / medium; kondisi target dan lainnya. Aplikasi metode ini dibagi
menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem
aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri.Sonar (Sound Navigation
And Ranging): Berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek
dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut. Bila gelombang akustik bergerak
vertikal ke dasar laut dan kembali, waktu yang diperlukan digunakan untuk mengukur
kedalaman air, jika c juga diketahui (dari pengukuran langsung atau dari data
temperatur, salinitas dan tekanan).Ini adalah prinsip echo-sounder yang sekarang umum
digunakan oleh kapal-kapal sebagai bantuan navigasi. Echo-sounder komersil mempunyai lebar
sinar 30-45o vertikal tetapi untuk aplikasi khusus (seperti pelacakan ikan atau kapal selam atau
studi lanjut dasar laut) lebar sinar yang digunakan kurang 5o dan arahnya dapat divariasikan.
Walaupun menunjukkan pengaruh temperatur, salinitas dan tekanan pada laju bunyi dalam
air laut (1500 ms-1) relatif kecil dan sedikit perubahan pada c dapat menyebabkan kesalahan
pengukuran kedalaman dan kesalahan sudut akan menambah keburukan resolusi.
Teknik echo-sounding untuk menentukan kedalaman dan pemetaan dasar laut bertambah maju
dengan berkembangnya peralatan sonar seperti SeaBeam dan Hydrosweep yang merupakan
sistem echo-sounding multi-beam yang menentukan kedalaman air di sepanjang swath
lantai laut di bawah kapal penarik, menghasilkan peta-peta batimetri yang sangat detail. Sidescan
imaging system, sperti GLORIA (Geological Long Range Inclined Asdic), SeaMARC, dan TOBI
(Towed Oceand Bottom Instrument) menghasilkan fotografi aerial yang sama atau citra-
citra radar, menggunakan bunyi atau microwave. Echo-sounding banyak juga digunakan oleh
nelayan karena ikan menghasilkan echo, dan kawanan ikan atau hewan lain dapat dikenali
sebagai lapisan-lapisan sebaran dalam kolom air (Supangat, 2003).

1. 2. Satelit Altimetri

Altimetri adalah Radar (Radio Detection and Ranging) gelombang mikro yang dapat
digunakan untuk mengukur jarak vertikal antara permukaan bumi dengan wahana antariksa
(satelit atau pesawat terbang). Pengukuran ini dapat menghasilkan topografi
permukaan laut sehingga dapat menduga geoid laut, arus permukaan dan ketinggian gelombang.
Inderaja altimetri untuk topografi permukaanlaut pertama kali dikembangkan sejak peluncuran
SKYLAB dengan sensor atau radiometer yang disebut S-193. Satelit altimetri yaitu : GEOS-3,
SEASAT, ERS-1, dan yang terakhir yang sangat terkenal adalah
TOPEX/POSEIDON. Satelit terakhir ini adalah satelit misi bersama antara Amerika Serikat
(NASA) dengan Perancis (Susilo, 2000).
Satelit altimetri memiliki prinsip penggambaran bentuk paras laut dimana bentuk tersebut
menyerupai bentuk dasar laut dengan pertimbangan gravitasi yang mempengaruhi paras laut dan
hubungan antara gravitasi dan topografi dasar laut yang bervariasi sesuai dengan
wilayah. Satelitaltimetri juga memberikan bentuk gambaran paras muka laut. Satelit ini
mengukur tinggi paras mukalaut relatif terhadap pusat massa bumi. Sistem satelit ini memiliki
radar yang dapat mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dan sistem tracking untuk
menentukan tinggi satelit pada koordinat geosentris. Satelit Altimetri diperlengkapi dengan
pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam
berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-
pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan
balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit. Informasi utama yang ingin
ditentukan dengan satelit altimetri adalah topografi dari mukalaut. Hal ini dilakukan dengan
mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dengan menggunakan waktu tempuh dari
pulsa radar yang dikirimkan kepermukaan laut, dan dipantulkan kembali ke satelit. (Heri
Andreas dalam Hasanuddin Z A).

Batimetri merupakan unsur serapan yang secara sederhana dapat diartikan sebagai
kedalaman laut. Dari Kamus Hidrografi yang dikeluarkan oleh Organisasi Hidrografi
Internasional (International Hydrographic Organization, IHO) tahun 1994, istilah batimetri
dalam bahasa aslinya adalah bathymetry memiliki makna “the determination of ocean depths.
The general configuration of sea floor as determined by profile analysis of depth data”.
Batimetri adalah penentuan kedalaman laut dan hasil yang diperoleh dari analisis data kedalaman
merupakan konfigurasi dasar laut. Istilah batimetri telah menyatu dengan kata “peta”,
mengingat hasil analisis data kedalaman laut dituangkan dalam bentuk peta. Istilah peta batimetri
(bathymetric chart/map) yang dalam bahasa aslinya disebutkan sebagai “a topographic chart
of the bed of a body of water, or a part of it. Generally, bathymetric maps show depths by
contour lines and gradient tints”. Jadi peta batimetri adalah peta topografi dasar laut yang
merepresentasikan kedalaman laut dan digambarkan dengan garis kontur atau gradasi warna.
Selanjutnya istilah batimetri yang digunakan dalam Atlas ini berarti peta batimetri yang
diilustrasikan dengan peta yang memuat garis kontur kedalaman laut atau gradien perubahan
warna.

Peta batimetri yang ditunjukkan dengan garis kontur dan gradasi warna

Kepulauan Indonesia merupakan gugusan pulau yang terdiri dari lima pulau besar (Pulau
Sumatera, Jawa, Kalimantan/Borneo, Sulawesi dan Papua) dan gugusan pulau Nusatenggara,
Maluku serta ribuan pulau kecil tersebar dalam untaian yang serasi dan indah di sekitar garis
lintang nol derajat (khatulistiwa). Perairan yang terletak di antara pulau-pulau tersebut memiliki
kedalaman laut yang sangat bervariasi. Di sebelah barat Pulau Sumatera dan sebelah selatan
Pulau Jawa terdapat palung (trench) yang merupakan pertemuan lempeng samudera dan lempeng
benua dan memiliki kedalaman laut antara 2500 meter hingga 5000 meter. Perairan di antara
Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang terletak pada paparan Sahul, memiliki kedalaman
yang relatif dangkal (kurang dari 500 meter, bahkan kurang dari 200 meter). Di Selat Makassar
kedalaman bervariasi relatif berubah secara gradual. Dari pantai timur Kalimantan kedalaman
laut bertambah secara perlahan, sementara di pantai barat Sulawesi kedalaman laut bertambah
secara cepat, sehingga bagian laut yang terdalam dari Selat Makassar (sekitar 2000 meter)
terletak lebih dekat dengan Pulau Sulawesi. Selanjutnya ke arah timur Maluku dan Papua,
termasuk Bali dan Nusatenggara memiliki kondisi batimetri bervariasi yang sangat mencolok
hingga lebih dari 5000 meter. Indonesia memiliki fenomena yang sangat unik yakni adanya
pertemuan tiga lempeng besar (lempeng Eurasi, Lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik)
yang bertemu di Laut Banda. Pada daerah ini dikenal dengan zona tumbukan kompleks (complex
collision zone), sehingga terdapat laut yang sangat dalam berbentuk palung (trench) dengan
kedalaman lebih dari 7000 meter. Lokasi ini terdapat di sebelah tenggara Pulau Banda dan di
antara Pulau Seram dan Pulau Yamdena.

Batimetri Laut Banda dengan kedalaman lebih dari 7000 meter.

A. Indonesia Bagian Barat

Penentuan Bagian barat Indonesia di sini bukan berarti pembagian wilayah secara kaku
(rigid) akan tetapi memudahkan untuk dalam menjelaskan mengingat begitu luasnya cakupan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk keperluan ini digunakan garis bujur 116o
BT. Di wilayah ini terdapat Pulau Sumatera (termasuk kepulauan Riau dan Bangka Belitung),
Jawa dan Kalimantan. Perairan yang tercakup di Indonesia bagian Barat ini meliputi perairan
Laut Andaman, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, Selat Bangka, Selat Gelasa, Selat
Karimata, Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Bali, Laut Bali dan Samudera Hindia. Perairan
Indonesia bagian barat didominasi dengan adanya paparan Sahul (Jawa, Sumatera dan
Kalimantan) sehingga perairan di antara pulau-pulau tersebut termasuk perairan dangkal (kurang
dari 200 meter). Sementara di sebelah barat Sumatera dan selatan Jawa terdapat palung yang
dalam dan merupakan pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedalaman palung
bervariasi antara 2500 meter hingga 5000 meter.

Batimetri Perairan Indonesia bagian Barat

B. Indonesia Bagian Timur

Perairan Indonesia bagian Timur adalah yang terletak dibelah timur garis bujur 116o BT.
Perairan yang tercakup di Indonesia bagian Timur ini meliputi perairan Laut Sulawesi, Laut
Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, Laut Banda, Laut Aru. Laut Afaruru, Laut Timor, Laut
Sawu, Selat Lombok, Selat Makassar, Selat Ombai, Selat Sumba, Selat Sape, Teluk Tomini,
Teluk Bone, Teluk Cendrawasih, Teluk Berau/Bintuni, dan masih banyak selat dan teluk kecil
lainnya. Indonesia bagian timur terdapat Pulau Sulawesi, Papua serta gugusan pulau
Nusatenggara dan Maluku. Perairan di kawasan ini memiliki variasi yang sangat beragam dan
hampir tidak ditemukan perairan yang dangkal, kecuali di sebelah barat daya Papua, yakni Laut
Aru yang memiliki kedalaman kurang dari 500 meter. Sedangkan di Laut Banda merupakan laut
terdalam di Indonesia.
Batimetri perairan Indonesia bagian Timur

Selanjutnya apabila ditinjau lebih detail kondisi batimetri di sekitar pulau-pulau besar dan
gugusan pulau maka akan dapat terlihat betapa beragamnya kondisi batimetri yang ada di
perairan Indonesia.

1. Perairan sekitar Pulau Sumatera.

Pulau Sumatera (termasuk Kepulauan Riau dan Bangka Belitung) adalah pulau besar yang
terletak di bagian barat Indonesia yang terbentang dari 95o BT hingga sekitar 108o BT dan dari
6o LU hingga sekitar 6o LS. Perairan di pantai barat sebelah utara antara Pulau Sumatera dengan
Pulau Simeulue, Pulau Nias, Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Pagai, relatif datar dengan
kedalaman terdalam bervariasi antara 500 hingga 1500 meter. Sementara di pantai barat
Sumatera bagian selatan hingga ujung tenggara dengan Pulau Enggano, kondisi batimetrinya
bervariasi hingga kedalaman 2000 meter. Palung laut dengan kedalaman 2500 meter hingga
4500 meter membentang di sisi sebelah barat gugusan pulau dan menerus hingga ke selatan
Pulau Jawa. Perairan di sebelah utara Pulau Sumatera (sekitar Laut Andaman) memiliki
kedalaman bervariasi hingga 2000 meter. Sementara perairan Selat Malaka, Selat Singapura,
Laut Natuna hingga Selat Karimata memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 200
meter).
Batimetri sekitar Pulau Sumatera (termasuk Kepulauan Riau dan Bangka Belitung)

2. Perairan sekitar Pulau Jawa

Pulau Jawa terletak di sebelah timur dari ujung tenggara Pulau Sumatera yang dibatasi
oleh Selat Sunda hingga sebelah barat Pulau Bali yang dibatasi oleh Selat Bali. Pulau Jawa
(termasuk pulau-pulau sebelah timur Pulau Madura) terbentang dari 105o BT hingga sekitar
116o BT. Perairan Selat Sunda yang merupakan penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Jawa
memiliki kondisi batimetri yang sangat bervariasi. Pada umumnya perairan sebelah Timur
bagian utara selat Sunda cukup dangkal dengan kedalaman rata-rata berkisar antara 10
hingga 80 meter sedangkan untuk perairan sebelah Barat bagian selatan Selat Sunda pada
umumnya masih terpengaruh oleh kedalaman dari Samudera Hindia di mana kedalamannya
berkisar antara 100 hingga 1000 meter. Pantai yang mencakup Selat Sunda hampir sebagian
besar landai yang terdiri karang terutama di pantai Barat Pulau Jawa dan di pantai sebelah
tenggara Pulau Sumatera. Perairan di pantai selatan Pulau Jawa merupakan kelanjutan palung
dari pantai barat Pulau Sumatera dengan kedalaman terdalam bervariasi antara 2500 hingga
4500 meter. Perairan Selat Bali memiliki kondisi batimetri yang hamper sama dengan Selat
Sunda, dimana sebelah utara merupakan perairan yang sangat sempit dan meluas ke arah
selatan. Perairan di utara Pulau Jawa adalah Laut Jawa yang cukup dangkal dengan
kedalaman rata-rata berkisar antara 10 meter sampai 80 meter dan memiliki pantai yang
hampir seluruhnya landai.

Batimetri sekitar Pulau Jawa

3. Perairan sekitar Pulau Kalimantan/Borneo

Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar yang terbentang dari 108o BT hingga sekitar 118o
BT dan dari 7o LU hingga sekitar 4o LS. Kalimantan dikelilingi oleh Laut Natuna, Selat
Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Perairan Laut Natuna, Selat Karimata
dan Laut Jawa memiliki kondisi batimetri yang relatif dangkal. Variasi kedalaman yang cukup
signifikas ditemukan di perairan Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Perairan Selat Makassar di
sebelah timur Kalimantan memiliki perubahan kedalaman yang relatif landai hingga jauh ke
tengah poros Selat Makassar dengan kedalaman hingga 2000 meter. Demikian juga Laut
Sulawesi yang memiliki perubahan kedalaman secara perlahan ke arah timur hingga mencapai
4000 meter.

Batimetri perairan sekitar Pulau Kalimantan/Borneo.

4. Perairan sekitar Pulau Sulawesi


Pulau Sulawesi adalah salah satu pulau besar yang terbentang dari 118o BT hingga sekitar
126o BT dan dari 2o LU hingga sekitar 6o LS. Sulawesi dikelilingi oleh Selat Karimata, Laut
Sulawesi, Laut Maluku, Teluk Tomini, Laut Banda, Teluk Bone dan Laut Flores. Perairan Selat
Makassar di sebelah barat Sulawesi memiliki perubahan kedalaman yang relatif besar dibanding
dengan pantai timur Kalimantan. Bagian terdalam dari Selat Makassar (sekitar 2000 meter) di
bagian utara terletak di antara Kalimantan dan Sulawesi, kemudian mendekat ke arah Sulawesi di
bagian selatan. Laut Sulawesi terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi dengan kondisi batimetri
yang membentuk cekungan besar. Perubahan kedalaman yang relatif besar ditemukan di dekat
pantai utara Sulawesi hingga sebelah barat kepulauan Sangihe. Bagian terdalam Laut Sulawesi
memiliki kedalaman lebih dari 5000 meter. Di sekitar Pulau Miangas, perubahan kedalaman
sangat besar dan kedalaman 5000 meter berjarak tidak jauh dari pulau tersebut. Selanjutnya
perairan Laut Maluku memiliki variasi kedalaman terdalam antara 2000 meter hingga 4000
meter. Teluk Tomini yang terletak di sebelah barat kaut Maluku merupakan cekungan dengan
kedalaman terdalam sekitar 2000 meter. Selain Laut Maluku, di sebelah timur Sulawesi,
khususnya bagian selatan terdapat Laut Banda yang memiliki kedalaman 2000 meter hingga
5000 meter. Perairan Laut Banda di sekitar kepulauan sebelah tenggara Sulawesi memiliki
perubahan kedalaman yang sangat cepat, sehingga cukup terjal. Sementara Teluk Bone memiliki
kondisi batimetri yang relatif simetri mengikuti bentuk pantai di sekitarnya dan kedalaman
terdalam hampir di tengah Teluk Bone bagian selatan. Perairan bagian selatan Pulau Sulawesi
adalah Laut Flores yang memiliki kedalaman laut bervariasi secara cepat dengan kedalaman
terdalam lebih dari 4500 meter.

Batimetri perairan sekitar Pulau Sulawesi.


5. Perairan sekitar Gugusan Pulau Nusatenggara

Gugusan pulau Nusatenggara mulai dari Pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Alor
hingga Timor terbentang dari 114o BT hingga sekitar 125o BT dan dari 7o LS hingga sekitar
11o LS. Di gugusan pulau Nusatenggara terdapat Laut Bali, Laut Flores, Laut Banda, Laut
Sawu, Samudera Hindia serta beberapa selat seperti Selat Ombai, Selat Sumba, Selat Sape,
Selat Lombok, Selat Bali dan selat-selat kecil lainnya. Laut Bali yang terletak di utara Pulau
Bali dan Lombok memiliki kedalaman bervariasi dan yang terdalam sekitar 500 meter. Laut
Flores yang terletak di sebelah utara Pulau Sumbawa dan Flores memiliki perubahan
kedalaman yang sangat besar dan kedalaman terdalam hingga lebih dari 5000 meter. Laut
Banda yang terletak di sebelah utara Pulau Solor, Pantar dan Alor juga memiliki perubahan
kedalaman yang besar dengan kedalaman terdalam sekitar 3000 dan 4000 meter. Selanjutnya
Laut Sawu yang terletak antara Pulau Flores, Sumba dan Timor membentuk cekungan
tertutup dan memiliki kedalaman terdalam lebih dari 3000 meter. Di sebelah selatan
Nusatenggara terdapat palung yang merupakan kelanjutan dari barat Sumatera dan selatan
Jawa yang memiliki kedalaman terdalam yang bervariasi antara 3000 meter hingga 4000
meter.

Batimetri perairan sekitar Gugusan pulau Nusatenggara.

6. Perairan sekitar Gugusan Pulau Maluku

Gugusan pulau Maluku mulai dari Pulau Morotai, Halmahera, Taliabu, Obi, Buru, Seram,
Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar dan Pulau Wetar terbentang dari 126o BT hingga sekitar
135o BT dan dari 3o LU hingga sekitar 8o LS. Di gugusan pulau Maluku terdapat Laut Maluku,
Laut Halmahera, Laut Banda, Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor. Baimetri Laut Maluku
yang terletak di barat Halmahera memiliki kedalaman bervariasi dan yang terdalam lebih dari
2000 meter berada dekat dengan gugusan pulau mulai dari Ternate, Tidore, Bacan hingga Obi.
Laut Halmahera dan Laut Seram pada umumnya cukup dalam, kedalaman maksimum dapat
mencapai sekitar 5.000 meter, terletak di sebelah Utara Pulau Buru di Laut Seram. Demikian
juga Laut Banda yang terletak di sebelah selatan Pulau Buru dan Seram merupakan laut yang
memiliki kedalaman terdalam di Indonesia, kedalaman terdalam hingga lebih dari 7000 meter
terletak di bagian timur Laut Banda, tepatnya di antara Pulau Seram dan Yamdena. Laut Aru
terletak di sekitar kepulauan Aru di sebelah timur Kepulauan Tanimbar. Laut Aru sebelah barat
memiliki variasi kedalaman bertambah ke arah barat hingga lebih dari 3000 meter, sedangkan
Laut Aru sebelah timur merupakan laut dangkal dengan kedalaman kurang dari 500 meter. Laut
Arafuru berada di sebelah selatan Laut Aru memiliki kedalaman yang relatif datar. Di sebelah
barat terdapat kedalaman yang lebih dari 500 meter, akan tetapi di sebelah timur tidak ditemukan
kedalaman yang lebih dari 500 meter. Selanjutnya Laut Timor yang terletak di sebelah selatan
Kepulauan Tanimbar dan Timor memliki kedalaman yang bervariasi hingga 2000 meter yang
terdapat di sebelah selatan yang merupakan kelanjutan palung dari selatan Nusatenggara.

Batimetri perairan sekitar Gugusan pulau Maluku.

7. Perairan sekitar Pulau Papua

Pulau Papua adalah salah satu pulau besar yang terbentang dari 130o BT hingga sekitar 141o
BT (wilayah Indonesia) dan dari 0o LU hingga sekitar 9o LS. Papua dikelilingi oleh Samudera
Pasifik, Laut Seram dan Laut Aru. Disamping itu juga terdapat beberapa teluk, antara lain Teluk
Cendrawasih, Teluk Bintuni/Berau serta teluk-teluk kecil lainnya. Samudera Pasifik yang
terletak di sebelah utara Papua memiliki kondisi batimetri dengan perubahan kedalaman yang
cepat terjadi di sebelah utara kepala burung, Biak dan Jayapura. Kedalaman terdalam bervariasi
antara 4000 meter hingga lebih dari 5000 meter yang terdapat di utara Biak. Laut Seram yang
berada di sisi barat Papua memiliki kelandaian yang signifikan dengan kedalaman kurang dari
500 meter. Laut Seram bertemu dengan Teluk Berau/Bintuni yang juga merupakan laut dangkal.
Seperti dijelaskan terdahulu bahwa Laut Aru di pantai baratdaya Papua merupakan batimetri
yang dangkal dan pantai yang sangat landai.

Batimetri perairan sekitar Pulau Papua.


Daftar Pustaka

Hasanuddin Z A. 2006. Satelit Altimetri High Tech Tool for Ocean data parameter Collection.
Kelompok Keilmuan Geodesi-FTSL. Institut Teknologi Bandung.

Supangat, Agus dan Susanna. 2003. Pengantar Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-Hayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan
Perikanan. Jakarta.

Susilo, Setyo Budi. 2000. Penginderaan Jauh Kelautan Terapan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/fisik_lingkungan/batimetri_detail.php?
id=1&judul=umum
BATIMETRI

DISUSUN OLEH :

BENNY T. SIAGIAN
K2E 008 009

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011