Anda di halaman 1dari 17

KAJIAN LITERATUR DEMOKRASI PARTISIPATIF

MAKALAH

OLEH:
IMAM INDRATNO, HERMAN SUBAGJA, RIKEU RUGARMIKA, dkk

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
KAJIAN LITERATUR DEMOKRASI PARTISIPATIF

MAKALAH

oleh
IMAM INDRATNO, HERMAN SUBAGJA, RIKEU RUGARMIKA, dkk

Mengesahkan,

H. ERNADI SYAODIH, Ir., MT.


Ketua Program Studi PWK
KAJIAN LITERATUR DEMOKRASI PARTISIPATIF

Oleh: Imam Indratno, Herman Subagja, Rikeu Rugarmika, dkk

ABSTRAK
Demokrasi partisipatif merupakan demokrasi yang dilaksanakan berdasarkan aspirasi masyarakat (aspiratif)
yang mengutamakan nilai-nilai masyarakat dalam pengambilan suatu keputusan dan dilandasi oleh semangat
kebersamaan dalam menjalankan suatu keputusan politik. Paham Participatory Democracy berpendapat bahwa
manusia pada hakekatnya mampu menyelaraskan kepentingan pribadi dengan kepentingan sosial. Proses
pengambilan keputusan, yang menyediakan kelompok kepentingan untuk berperan serta didalamnya, dapat
mengantarkan kelompok-kelompok yang berbeda kepentingan mereka satu sama lain. Dengan demikian,
perbedaan kepentingan dapat dijembatani. Dewasa ini sistem demokrasi yang dilaksanakan di Indonesia masih
bersifat tidak langsung (non pcarticipatory democracy), padahal tuntutan reformasi yang digembor-gemborkan
sekarang ini menuntut adanya suatu perubahan dari sistem pemerintahan terpilih menjadi sistem pemerintahan
yang partisipatif. Demokrasi merupakan suatu sistem dimana masyarakat merupakan sumber aspirasi utama,
dengar, tujuan untuk mendapatkan satu keputusan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perpaduan
diantara keduanya melahirkan suatu sistem yang sangat membumi, mengikuti suara hati masyarakat, dan dapat
membentu suatu keputusan yang benar-benar merupakan kebutuhan masyarakat. Demokrasi partisipasi
menjadi suatu sistem yang menempatkan masyarakat sebagai penentu keputusan yang diperlukan untuk
kepentingan masyarakat dan memposisikan masyarakat sebagai pelaku pelaksana dari implementasi
keputusan yang dihasilkan tersebut. Demokrasi partisipatif bukan hanya dalam bidang politik saja tetapi dalam
segala bidang seperti ekonomi dan sosial, agar pembangunan dan perencanaan berdasarkan peran serta
masyarakat.

K e y w o r d s : d e m o k r a s i p a r t i s i p a t i f , a spirasi masyarakat

PENDAHULUAN politik parokial menuju budaya politik


partisipatif terakhir, adanya penyelenggaraan
Tingginya tingkat pemahaman masyarakat
politik ketatanegaraan yang transparan dan
tentang makna demokrasi khususnya dan
akuntabel.
makna politik umumnya dalam proses
penyelenggaraan pemerintahan merupakan Munculnya wacana bahkan tuntutan untuk
salah satu prasyarat dalam pelaksanaan melakukan pergeseran paradigma dari
demokrasi partisipatif (participatory demokrasi perwakilan menuju demokrasi
democracy). Kemudian, kandisi kehidupan langsung atau demokrasi partisipatif itu sendiri
sosial ekonomi masyarakat berada pada taraf karena terjadinya kelemahan pokok dari
menengah atas, sehingga dapat dicegah pelaksanaan demokrasi perwakilan dalam
kemungkinan adanya "politik uang" (money proses penyelenggaraan pemerintahan yang
politic) dalam seluruh proses kegiatan politik. terjadi saat ini. Terakhir, adanya
Berdasarkan hal tersebut berperannya penyelenggaraan politik ketatanegaraan yang
lembaga politik dalam meningkatkan transparan dan akuntabel. Ada beberapa
pemahaman politik rakyat melalui kegiatan permasalahan pemberdayaan masyarakat
pendidikan politik mutlak diperlukan. Selain itu, yang kini dihadapi oleh banyak daerah, baik
adanya konsistensi budaya politik masyarakat ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, maupun
yang telah mengalami pergeseran dari budaya politik. Permasalahan dari aspek ekonomi,
diantaranya menyangkut kurang menekan hak dan kemandirian masyarakat.
berkembangnya sistem kelembagaan ekonomi Kemudian belum matangnya masyarakat dalam
untuk memberikan kesempatan bagi menggunakan hak berpendapat dan
masyarakat, khususnya masyarakat kecil berorganisasi. Lantas, kurangnya akses
dalam mengembangkan kegiatan usaha pelibatan masyarakat dalam pengambilan
ekonomi yang kompetitif. Kemudian, keputusan publik yang menyangkut kehidupan
kurangnya penciptaan akses masyarakat pada masyarakat secara langsung.
input sumber daya ekonomi berupa kapital,
lokasi berusaha, lahan usaha, informasi pasar,
DEFINISI-DEFINISI DAN PRINSIP DASAR
dan teknologi produksi. Selain itu, lemahnya
DEMOKRASI, PARTISIPATIF, DAN
kemampuan masyarakat kecil dalam
DEMOKRASI PARTISIPATIF
membangun organisasi ekonomi masyarakat
A. Definisi dan Prinsip Dasar Demokrasi
yang dapat meningkatkan posisi tawar dan
daya saingnya. Sejarah peristillahan "demokrasi" dapat
ditelusuri jauh ke belakang. Konsep ini
Sedangkan dari aspek sosial, permasalahan
ditumbuhkan pertama kali dalarn praktek
tersebut meliputi kurangnya upaya yang dapat
Negara-Kota Yunani dan Athena (456 SM dan
mengurangi pengaruh lingkungan sosial
350 SM). Dalam tahun 431 SM, Pericles,
budaya yang mendukung masyarakat pada
seorang negarawan ternama dari Athena,
kondisi kemiskinan struktural. Kemudian,
mendefenisikan demokrasi dengan
kurangnya akses masyarakat untuk
mengemukakan beberapa kriteria atau bisa
memperoleh peningkatan pengetahuan dan
disebut juga sebagai prinsip dasar, yaitu
keterampilan termasuk informasi. Lantas,
sebagai berikut:
kurang berkembangnya kelembagaan
1. Pemerintahan oleh rakyat dengan
masyarakat dan organisasi sosial yang dapat
partisipasi rakyat yang penuh dan
menjadi sarana interaksi sosial. Selain itu,
langsung.
belum mantapnya kelembagaan yang dapat
2. Kesamaan di depan umum.
memberikan ketahanan dan perlindungan bagi
3. Pluralisme, yaitu penghargaan atas
masyarakat. Lalu, belum berkembangnya
kelembagaan yang mampu mempromosikan semua bakat, minat, keinginan dan

akses kemanusiaan, keadilan, persamaan hak, pandangan.

dan perlindungan bagi masyarakat. Terakhir 4. Pengharaaan terhadap suatu pemisahan

belum berkembangnya kepedulian masyarakat dan wilayah pribadi untuk memenuhi dan

terhadap konflik sosial akibat perubahan mengekspresikan kepribadian individual.

sosial. Kriteria universal yang terkandung dalarn

Selanjutnya permasalahan dari aspek politik konsep yang selama ini dikenal sebagai

meliputi kuatnya peran pemerintah dan "demokrasi " dan "demokratisasi". Tulisan ini

organisasi politik yang tidak disadari justru telah menawarkan pengertian alternatif tentang
demokrasi dengan mengajukan konstruksi kekuasaan. Pengertian demokrasi sebenarnya
pemikiran baru yang disebutnya sebagai adalah lebih luas daripada sekedar pengertian
"pemahaman yang tercerahkan" (enlightened politik. Asumsi-asumsi dmokrasi, seharusnya
understanding) terhadap demokrasi. Sebagai tidak hanya diterapkan dalam kehidupan politik
akibatnya, menurut tulisan ini, proses tetapi juga lebih luas lagi, dalam kehidupan
demokratisasi harus ditunjukan pada upaya sosial dan ekonomi.
pencerahan demos, melalui partisipasi efektif
Jika demokrasi dipandang sebagai
masyarakat, kontrol terhadap agenda publik,
pemerintahan oleh rakyat, tentu mengandung
persamaan kedudukan dalarn hukum dan
pengertian bahwa mereka akan mendapatkan
kehidupan politik, pemerataan kepemilikan dan
apa yang mereka inginkan dan yang mereka
hasil, kebebasan berkumpul, pelayanan publik
pandang lebih baik. Suatu hal dipandang baik
dan jaringan sosial, kebebasan berusaha, dan
bagi rakyat atau dianggap sebagai
jaminan rasa aman dalam kehidupan sosial.
kepentingan mereka berdasarkan pilihan
Lyman Tower Sargent memberikan definisi mereka sendiri, bahkan pilihan pihak lain,
terhadap demokrasi yang berada dalam seperti elit yang dipandang mengetahui dan
nuansa yang sama. Menurut Sargent berkuasa dalam hal itu. Akan tetapi, rakyat
demokrasi mensyaratkan adanya keterlibatan harus terdidik dan tercerahkan secara
rakyat dalam pengambilan keputusan, adanya memadai agar dapat menentukan apa yang
persamaan hak di antara warga Negara, mereka inginkan atau pandang baik. Itulah
adanya kebebasan dan kemerdekaan yang sebabnya demokrasi menekankan pentingnya
diberikan pada atau dipertahankan dan dimiliki lembaga-lembaga yang dapat menjadi sarana
oleh waega Negara, adanya sistem perwakilan pencerahan demos, seperti pendidikan dalam
yang efektif, dan akhirnya adanya sistem arti luas dan debat publik.
pemilihan yang menjamin dihormatinya prinsip
Robert A. Dahl dalam studinya yang terkenal
ketentuan mayoritas.
mengajukan lima kriteria demokrasi sebagai
Istilah demokrasi dan demokratisasi cenderung sebuah idea politik, yaitu :
diterapkan dalam kehidupan politik saja. 1. Persamaan hak pilih dalam menentukan
Kecenderungan ini terlihat jelas misalnya keputusan kolektif yang mengikat.
dalam pembicaraan tentang pemilu, 2. Partisipasi efektif, yaitu kesempatan yang
pembuatan keputusan dan sebagainya. sama bagi semua warga Negara dalam
Demokrasi dilihat sebagai satu aturan main proses pembuatan keputusan secara
untuk mendistribusikan kekuatan secara adil di kolektif.
antara anggota masyarakat. Adil dalam artian 3. Pembeberan kebenaran, yaitu adanya
ini adalah bahwa semua warga masyarakat peluang yang sama bagi setiap orang
memperoleh hak yang sama untuk terlibat untuk memberikan penilaian terhadap
dalam pembuatan keputusan, dan memiliki hak jalannya proses politik dan pemerintahan
yang sama untuk berjuang memperebutkan secara logis.
4. Kontral terakhir terhadap agenda, yaitu kebebasan persuratkabaran, kebebasan
adanya kekuasaan ekslusif bagi berkumpul dan berserikat.
masyarakat untuk menentukan agenda 6. Ketersediaan dan keterbukaan informasi
mana yang harus dan tidak harus 7. Mengindahkan fatsoen (tatakrama politik).
diputuskan melalui proses pemerintahan, 8. Kebebasan individu
termasuk mendelegasikan kekuasaan itu 9. Semangat kerjasama
pada orang lain atau lembaga yang 10. Hak untuk protes.
mewakili masyarakat.
Kerangka-kerangka kelembagaan dengan
5. Pencakupan, yaitu terliputnya masyarakat
prinsip demokrasi yang turut melanggengkan
mencakup semua orang dewasa dalam
ciri-ciri demokrasi adalah :
kaitannya dalam hukum.
1. Lembaga-lembaga yang secara langsung
Sementara itu, Henry B. Mayo menyebutkan mempengaruhi penerapan hak-hak azazi
nilai-nilai berikut ini sebagai nilai yang harus warga negara. ini menyangkut, antara lain
dipenuhi untuk mendefinisikan demokrasi, pendidikan bagi warga Negara yang tidak
yaitu: sebatas usaha-usaha membangkitkan
1. Menyelesaikan pertikaian-pertikaian nilai-nilai patriotisme yang berlebihan atau
secara damai dan sukarela. untuk menanamkan loyalitas kepada
2. Menjamin terjadinya perubahan secara negara.
damai dalam suatu masyarakat yang 2. Perangkat kelembagaan adalah lembaga-
selalu berubah. lembaga yang merupakan mekanisme
3. Pergantian peenguasa dengan teratur. yang memungkinkan warga negara
4. Penggunaan paksaan sesedikit mungkin. berintegrasi dengan lembaga-lembaga
5. Pengakuan dan penghormatan terhadap pemerintah atau negara.
nilai keanekaragaman. 3. Perangkat lembaga ketiga terdiri dari
6. Memajukan ilmu pengetahuan. lembaga-lembaga pemerintahan itu
7. Pengakuan dan penghormatan terhadap sendiri, yang kebijakannya sedapat
kebebasan. rnungkin mencerminkan atau selaras
dengan referensi demos. lni mencakup
Masih dalam kerangka, yang bersifat umum
beberapa lembaga Negara yang popular,
dan menyeluruh, Amien Rais memaparkan
seperti lembaga legislative, eksekutif,
adanya beberapa kriteria dalam demokrasi,
birokrasi, pemerintahan pada tingkat
yaitu:
daerah, lembaga-lembaga hukum
1. Partisipasi dalam pembuatan keputusan
pemerintahan, dll.
2. Persamaan di depan umum
3. distribusi pendapatan secara adil B. Definisi dan Prinsip Dasar Partisipatif
4. Kesempatan pendidikan yang sama.
Suatu proses yang melibatkan masyarakat
5. Empat macam kebebasan, yaitu
umum, dikenal sebagai peran serta
kebebasan mengeluarakan pendapat,
masyarakat. Yaitu proses komunikasi dua arah anggota masyarakatnya mempunyai hak untuk
yang berlangsung terus-menerus untuk didengar pendapatnya dan untuk diberi tahu,
meningkatkan pengertian masyarakat secara dimana keputusan terakhir tetap berada di
penuh atas suatu proses kegiatan, dimana tangan pejabat pembuat keputusan tersebut.
masalah-masalah dan kebutuhan lingkungan Sedang dalam konteks peran serta masyarakat
sedang dianalisa oleh badan yang berwenang yang bersifat kemitraan, pejabat pembuat
(Canter, 1977). Secara sederhana Canter keputusan dan anggota-anggota masyarakat
mendefinisikan sebagai feed-forward merupakan mitra yang relatif sejajar
information (komunikasi dari pemerintah kedudukannya. Mereka bersama-sama
kepada masyarakat tentang suatu kebijakan) membahas masalah, mencari alternatif
dan feedback information (komunikasi dari pemecah.
masyarakat ke pemerintah atas kebijakan itu).
Ternyata masih banyak yang memandang
Dari sudut terminologi peran serta masyarakat peran serta masyarakat semata-mata sebagai
(Partisipatif) dapat diartikan sebagai suatu cara penyampaian informasi (public information),
melakukan interaksi antara dua kelompok. penyuluhan, bahkan sekedar alat public
Kelompok yang selama ini tidak diikut sertakan relation agar proyek tersebut dapat berjalan
dalam proses pengambilan keputusan (non- tanpa hambatan. Karenanya, peran serta
elite) dan kelompok yang selama ini masyarakat tidak saja digunakan sebagai
melakukan pengambilan keputusan (elite). sarana untuk mencapai tujuan, tetapi juga
Bahkan yang lebih khusus lagi, peran serta digunakan sebagai tujuan (participation is an
masyarakat sesungguhnya merupakan suatu end itself).
cara untuk membahas incentive material yang
Disamping persepsi yang dikemukakan Canter
mereka butuhkan (Goulet, 1989). Dengan
(1977), Comick (1979), Goulet ( 1989) dan
perkataan lain, peran serta masyarakat
Wingert (1979) merinci peran serta
merupakan insentif moral sebagai "paspor"
masyarakat, yaitu :
mereka untuk mempengaruhi lingkup-makro
1. Peran serta masyarakat sebagai suatu
yang lebih tinggi, tempat dibuatnya suatu
kebijakan. Penganut paham ini
keputusan-keputusan yang sangat
berpendapat bahwa peran serta
menentukan kesejahteraan mereka.
masyarakat merupakan suatu
Cormick (1979) membedakan peran serta
kebijaksanaan yang tepat dan baik untuk
masyarakat dalam proses pengambilan
dilaksanakan. Paham ini dilandasi oleh
keputusan berdasarkan sifatnya, yaitu yang
suatu pemahaman bahwa masyarakat
bersifat konsultatif dan bersifat kemitraan.
yang potensial dikorbankan atau
Dalam peran serta masyarakat dengan pola
terkorbankan oleh suatu proyek
hubungan konsultatif antara pihak pejabat
pembangunan memiliki hak untuk
pengambil keputusan dengan kelompok
dikonsultasikan (right to be consulted).
masyarakat yang berkepentingan, anggota-
2. Peran serta masyarakat sebagai suatu 5. Peran serta masyarakat sebagai terapi.
strategi. Penganut paham ini mendalilkan Menurut persepsi ini, peran serta
bahwa peran serta masyarakat masyarakat dilakukan sebagai upaya
merupakan strategi untuk mendapatkan untuk "mengobati" masalah-masalah
dukungan masyarakat (public support). psikologis masyarakat seperti halnya
Pendapat ini didasarkan kepada suatu perasaan ketidak berdayaan (sense of
paham bahwa bila masyarakat merasa powerlessness), tidak percaya diri dan
memiliki akses terhadap pengambilan perasaan bahwa diri mereka bukan
keputusan dan kepedulian masyarakat komponen penting dalam masyarakat.
pada tiap tingkatan pengambilan
Dari sudut teori politik, terdapat dua paham
keputusan didokumentasikan dengan balk,
teori : teori Participatory Democracy, yang
maka keputusan tersebut akan memiliki
menggugat paham teori Elite Democracy
kredibilitas.
(Gibson, 1981). Paham Elite Democracy
3. Peran serta masvarakat sebagai alat melihat hakekat manusia sebagai mahluk yang
komunikasi. Peran serta masyarakat mementingkan diri sendiri, pemburu kepuasan
didayagunakan sebagai alat untuk diri pribadi dan menjadi tidak rasional terutama
mendapatkan masukan berupa informasi jika mereka dalam kelompok. Oleh karena itu,
dalam proses pengambilan keputusan. dalam hal terjadi konflik kepentingan antara
Persepsi ini dilandasi oleh suatu kelompok-kelompok dalam masyarakat, maka
pemikiran bahwa pemerintah dirancang pembuatan keputusan sepenuhnya merupakan
untuk melayani masvarakat, sehingga kewenangan dari kelompok elite yang
pandangan dan preferensi dari menjalankan pemerintahan. Kalaupun peran
masyarakat tersebut adalah masukan serta masyarakat itu ada, pelaksanaannya
yang bernilai guna mewujudkan keputusan hanya terjadi pada saat pemilihan mereka-
yang responsif. mereka yang duduk dalam pemerintahan.

4. Peran Serta Masyarakat sebagai suatu Ruang linbkup peran serta akan bervariasi di
kebijakan. Dalam konteks ini peran serta setiap daerah. Karena itu, teknik peran serta
masyarakat didayagunakan sebagai suatu untuk menangkap arus informasi timbal balik
cara untuk mengurangi atau meredakan juga akan bervariasi. O'Riordan (1981) melihat
konflik melalui usaha pencapaian bahwa teknik peran serta berhubungan erat
konsensus dari pendapat-pendapat yang dengan kondisi-kondisi sebagai berikut :
ada. Asumsi yang melandasi persepsi ini 1. Ruang lingkup hak warga atas lingkungan.
adalah bertukar pikiran dan pandangan 2. Tingkat akses informasi masyarakat dalam
dapat meningkatkan pengertian dan peraturan tertulis.
toleransi serta mengurangi rasa 3. Penggunaan dari strategi peran serta.
ketidakpercayaan (misstrust) dan 4. Penggunaan media dalam rangka
kerancuan (biasess). menyiarkan isu-isu lingkungan.
5. Isi dan ruang lingkup dari pendidikan learning by doing, desentralized, by people,
lingkungan di sekolah-sekolah. buttom-up, dan dengan politik terbuka.
Sedangkan Canter (1977) merangkum d. Perencanaan sebagai social transformation.
potensi dan kemungkinan teknik peran Perencanaan ini merupakan kristalisasi
serta masyarakat seperti terlihat dalam politik yang didasarkan pada ideology
tabel dibawah ini 'kolektivisme komunitarian’.

Bailey dan Dick (1992) melihat bahwa dalam Berdasarkan definisi luas planning yang
kondisi Indonesia, peran serta masyarakat dikemukakan oleh John Friedman dapat
lewat cara informal dianggap paling efektif, disimpulkan bahwa filosofi peran serta
baru ketika keadaan tidak memungkinkan, masyarakat dalam perencanaan mengalami
jalan pengadilan rnenjadi pilihan terakhir dan suatu pergeseran, dari for people sebagai sifat
berharap sang hakim dapat memberikan perencanaan social reform menjadi by people
keputusan yang adil. Sedangkan John sebagai sifat perencanaan dalam social
Friedman (1987) memberikan definisi lebih learning. Ada dua rational kunci bagi peran
luas mengenai planning sebagai upaya serta myarakat, yaitu :
menjembatani pengetahuan ilmiah dan teknik
Etika, yaitu bahwa di dalam masyarakat
(scientific and technical knowledge) kepada
demokratik, mereka yang kehidupan,
tindakan-tindakan dalam domain publik,
lingkungan dan penghidupannya dipertaruhkan
menyangkut proses pengarahan sosial dan
sudah seharusnya dikonsultasikan dan
proses transformasi sosial. Dikaitkan dengan
dilibatkan dalam keputusan-keputusan yang
kelembagaan, sistem perencanaan
akan mempengaruhi mereka secara langsung.
diklasifikasikan sebagai berikut:
Pragmatis, yaitu atas program dan kebijakan
a. Perencanaan sebagai Social Reform. Dalam
seringkali tergantung kepada kesediaan orang
sistem perencanaan ini, peran pemerintah
membantu kesuksesan program atau kebijakan
sangat dominan, sifat perencanaan :
tersebut.
centralized for people, topdown, berjenjang
dan dengan politik terbatas. Peran serta dalam hal ini diterjemahkan dan
b. Perencanaan sebagai Policy Analysis. asal kata participation, yang diantaranya
Dalam sistem perencanaan ini, Pemerintah mempert imbangkan pendapat, mengartikan
bersama stakeholders memutuskan secara singkat bahwa partisipasi itu adalah
persoalan dan menyusun alternatif take u part atau ikut serta. Peran serta
kebijakan. Sifat perencanaan ini masyarakat dengan keterlibatan komunitas
decentralized, with people, scientific, dan setempat secara aktif dalam pengambilan
dengan politik terbuka. keputusan (dalam perencanaan) atau
c. Perencanaan sebagai social learning. Dalam pelaksanaannya terhadap proyek-proyek
sistem perencanaan Pemerintah bertindak pembangunan untuk masyarakat. Peran serta
sebagai fasilitator. Sifat perencanaan masyarakat tersebut di Inggris/Britania Raya
lebih populer dengan istilah public participation, dalam kasus yang ekstrim teralienasi. Di
sedangkan di Amerika Serikat disebut dengan dalam proses partisipasi ini, secara
citizen participation, namun keduanya simultan mempromosikan semangat
mengandung makna yang sama. Citizen komunitas dan rasa kerja sama dan
participation didefinisikan sebagai proses yang keterlibatan. Pada kasus kelompok miskin
memberikan peluang bagi masyarakat dan lemah, partisipasi dapat berkontribusi
(citizens). Oleh karena itu, suatu peran serta ke proses peningkatan, pendidikan, dan
memerlukan kesediaan kedua belah pihak pelatihan sebagai penyatuan (integrasi) ke
dalam suatu hubungan yang saling dalam komunitas yang lebih luas vang di
menguntungkan. Adapun tujuan peran serta dalamnya rasa ketidakberdayaan
masyarakat yang ingin dicapai, pada (powerlessness) dapat ditanggulangi
prinsipnya harus pula dikondisikan suatu dan swadaya (self-help) dan
situasi dimana timbul keinginan masyarakat pembangunan kepemimpinan dapat
untuk berperan serta. Hal ini akan sangat dipromosikan.
menentukan keberhasilan dan kegagalan 2. Dari segi politik, partisipasi lebih
pencapaian tujuan peran serta masyarakat itu mempromosikan participatory dibanding,
sediri. Pengkondisian tersebut harus mengarah demokrasi perwakilan (representative
kepada timbulnya peran serta bebas dan democracy) sebagai hak demokrasi dan
mengeliminir sebanyak mungkin peran serta setiap orang dan dengan demikian publik
terpaksa. Peran serta bebas terjadi bila secara umum, untuk berpartisipasi dalam
seorang individu melibatkan dirinya secara proses pengambilan keputusan.
sukarela di dalam suatu kegiatan partisipatif Partisipasi publik juga akan membantu
tertentu, walaupun dalam klarifikasi ini masih dewan (counsellors) dan para pembuat
dapat dibagi ke dalam: peran serta spontan keputusan lainnya untuk mendapatkan
(keyakinan sendiri kehendak murni tanpa gambaran lebih jelas mengenai
melalui penyuluhan/ajakan). permintaan-permintaan dan aspirasi
konstituen mereka atau semua pihak yang
Peran serta terpaksa, dilakukan karena dua hal
akan terpengaruh, dan sensitivitas
yaitu terpaksa oleh hukum, dan/atau peraturan
pembuatan keputusan dapat
perundang-undangan yang mewajibkannya,
dimaksimalkan jika ditangani secara tepat.
dan terpaksa oleh tekanan situasi dan kondisi
3. segi planning, partisipasi menyediakan
sosial ekonomi. Peran serta masyarakat
sebuah forum untuk saling tukar gagasan
memiliki keuntungan sosial, politik, planning
dan prioritas, penilaian akan public
dan keuntungan lainnya, yaitu:
interest dalam dinamikanya serta
1. dari pandangan sosial, keuntungan
diterimanya proposal-proposal
utamanya adalah untuk mengaktifkan
perencanaan.
populasi perkotaan yang cenderung
individualistik, tidak punya komitlnen dan
4. Keuntungan lain dan public participation New South Wales, Environmental
adalah kemungkinan tercapainya Manning and Assessment (EPA) Act
hubungan yang lebih dekat antara warga (1979) dapat diabaikan atau dielakkan
dengan otoritas kota dan menggantikan oleh peraturan baru.
perilaku they/we menjadi perilaku us. 5. Secara umum, komunitas tidak memiliki
sumberdaya yang baik dalam hal waktu,
Banyak faktor yang menjadi hambatan atau
keahlian atau ruang untuk membuat
kendala dalam mendorong peran serta
aspirasinya didengar secara efektif.
masyarakat dalam perencanaan. Peran serta
masyarakat dalam sistem perencanaan Pemberdayaan dan peningkatan peran serta
dihadapkan pada berbagai persoalan, baik masyarakat di dalam proses pembangunan,
pada level negara bagian maupun lokal. khususnya dl daerah perkotaan, bukan lagi
Hambatan atau kendala dalam mendorong sekedar paradigma, tetapi sudah merupakan
peran serta masyarakat dalam penataan ruang suatu filosofy ilmu perencanaan pembangunan
(Donald Perlgut) yaitu: kota (city-planning, phylosophy). Kota-kota di
1. Partisipasi dalam proses perencanaan Indonesia selama ini dikembangkan dan
lokal umumnya dimulai sangat terlambat, dibangun dengan paradigma lama, yaitu
yaitu setelah rencana (the real planning dengan mengadakan pendekatan topdown
directions) telah selesai disusun, planning dan sektoral. Hasil pembangunan
sehingga masyarakat akhirnya hanya yang diwujudkan, lebih mengakomodasi
mempertanyakan hal-hal bersifat detail. kebutuhan sekelompok warga mas_varakat
2. Partisipasi komunitas yang sungguh- dengan prosentase kecil (exclusive society),
sungguh sangat sedikit apalagi mengenai sedang kebutuhan kelompok masyarakat
isu-isu besar seperti pertumbuhan dan yang lebih besar (marginal society) terabaikan,
pembangunan kota. malah cenderung tersingkirkan. Akibat lebih
3. Ketika partisipasi tersebut benar-benar jauh adalah timbulnya kontradiksi dan konflik
diinginkan, terlalu sedikit masyarakat yang sosial, yang sangat rentan merusak sendi-
terorganisasi atau yang terstruktur secara sendi sosial yang terpelihara cukup lama,
mapan yang efektif mengajukan masukan disamping perusahaan sarana-prasarana
dan komunitas. fisik perkotaan, Fenomena ini disadari bisa
4. Pemerintah negara bagian maupun berakibat fatal dan akan sangat lama untuk
pemerintah lokal (kota), jika memang merekatkan sendi-sendi sosial seluruh
ingin, mampu menghindari peran serta kelompok masyarakat di perkotaan, yang
masyarakat, dengan membuat keputusan- sempat dirusak. Untuk ke depan,
keputusan secara rahasia atau dengan pemberdayaan dan peningkatan peran serta
menyediakan waktu yang tidak memadai masyarakat di dalam proses pembangunan
untuk public discussion. Bahkan dengan sebagai suatu sistem yang dipadukan
peraturan (legislation) yang baik seperti di dengan visi kota-kota besar dan menengah
dalam sistem globalisasi yang seluruhnya ketidakmampuan, untuk sedikit peduli dan
bertujuan meningkatkan kesjahteraan menekuni Amdal sebagai alternatif cara
masyarakat di perkotaan. peningkatan keikutsertaan masyarakat.
Sejumlah kasus mengkonfirmasi bahwa LSM
B1. Peran Serta Masyarakat Dalam Komisi
cenderung menempuh "jalan lain" dalam
Hadirnya, para pakar, wakil Pusat Studi
gerakan penyadaran lingkungan ketimbang
lingkungan (PSL) dan Lembaga Swadaya
menggarap perannya dalam Komisi Amdal
Masyarakat (LSM) dalam komisi dipercayai
secara lebih serius. Penunututan ke
sebagai cermin kesertaan masyarakat. Dan
Pengadilan (kasus Walhi vs. PT.IIU), boikot
LSM, karena gaya kerja grass-rootnya
(kasus Tapak - Semarang), kombinasi tekanan
diasumsikan cukup handal untuk
LSM nasional dan internasional (kasus Scott
"mendampingi" masyarakat korban dampak
Paper di lrian Jaya) dan melobi ke negara-
lingkungan. Kombinasi berbagai kekuatan
negara donor (kasus Kedungombo - Jawa
diatas, dharapkan membawa wawasan baru
Tengah) sekedar contoh soal yang masih
dalam keputusan Komisi.
segar dalam ingatan kita.
Skenario diatas mestinya sangat logis dan
B2. Peran Serta Masyarakat Dalam
tak perlu diperdebatkan. Hanya saja, bila
Penataan Ruang
dicermati mekanisme komisi terkesan sangat
Di dalam konteks pembangunan yang
elitis, dan karenanya kaum awam diluar
berwawasan lingkungan seiuruh perizinan dan
Komisi hampir tak punya peluang untuk
persetujuan dari suatu kegiatan pembangunan
mempersoalkan keputusan-keputusan
harus didasarkan pada perencanaan tata
Komisi. Posisi minoritas dan keanggotaan
ruang. Mengapa..? Karena perencanaan tata
yang bersifat tidak tetap dari wakil LSM dan
ruang memberikan infonnasi tentang kegiatan-
masyarakat korban, semakin menempatkan
kegiatan tertentu yang melanggar ambang
keikutsrtaan masyarakat dalam posisi yang
batas daya dukung lingkungan. Paling tidak
bersifat diperdebatkan. Kedudukan sebagai
dalam konteks penataan ruang ini ada dua
minoritas secara hipotesis akan menyurutkan
. jenis kebutuhan yang mendasari peran serta
daya tekan mereka dalam pengambilan
masyarakat : Pada tahap apa, Peran serta
keputusan. Keadaan ini semakin diperparah
dalam Penataan Ruang Diperlukan? Untuk
oleh rendahnya derajat pemahaman terhadap
tercapai suatu perencanaan yang responsif,
masalah lingkungan. LSM, dipandang punya
maka keterlibatan masyarakat harus dilakukan
kapasitas untuk memahami masalah yang ada,
sejak awal proses perencanaan itu sendiri
sementara realitas menunjukkan hal
yaitu sejak tahap identitikasi permasalahan,
sebaliknya: hanya sedikit manusia pada
aspirasi serta kebutuhan sampai dengan tahap
segelintir LSM yang punya pengetahuan dan
pelaksanaan rencana tata.
kepedulian tentang lingkungan. Secara umum,
ada keengganan LSM, atau boleh jadi
B3. Peran Serta Masyarakat Pra UU.24/1992 rencana kota. Dalam forum terbuka ini
dimungkinkan keterlibatan wakilwakil
Ordonansi Pembentukan Kota vang
anggota masyarakat, disamping sesama
diundangkan pada tahun 1949 (Stadsvorming
instansi pemerintah (vertikal maupun
Ordonantie/SVO) dan pedoman perencanaan
horizontal).
kota yang dituangkan dalam Peraturan menteri
2. Kewajiban Pemerintah Daerah untuk
Dalam Negeri No.2/1987 tentang Pedoman
memperhatikan aspirasi masyarakat
Penyusunan Rencana Kota, mengatur hal
dalam tahap perencanaan dan
tentang peran serta masyarakat. Peran serta
pelaksanaan rencana tata ruang kota.
masyarakat dalam SVO mengatur empat hal.
Kewajiban walikota mengumumkan draft Ketentuan peran serta masyarakat dalam
rencana kota lewat surat kabar lokal atau surat Permendap diatas mengandung beberapa
kabar yang banyak dibaca oleh masyarakat kelemahan, yaitu sebagai berikut :
lokal diwilayah objek perencanaan. Hak setiap 1. Tahap peran serta masyarakat walaupun
anggota masyarakat untuk mendapat informasi ditulisan dalam tahap perencanaan,
penataan ruang dan dokumen tata ruang. Hak memasuki tahap yang telah terlambat
mengajukan keberatan, kepada Pemerintah yaitu sudah pada tahap draft final rencana
Daerah dalam waktu satu bulan setelah tata ruang kota;
diumumkan. Hak untuk mengajukan banding 2. Forum terbuka dalam bentuk diskusi atau
atas keputusan tentang keberatan yang seminar sebagai forum yang bersifat
ditolak. Secara umum kewajiban-kewajiban resmi, sangat mungkin menghambat
yang berkaitan dengan peran serta masyarakat masyarakat untuk secara jujur (genuine)
yang ada dalam SVO, didalam prakteknya mengemukakan pendapatnya.
tidak dilaksanakan. Alasan yang sering
Tidak berbeda dengan rumusan peran serta
dikemukakan dalam melegitimasi
dalam VO yang pada umumnya berlaku diatas
penyimpangan ini yaitu, tidak relevannya
kertas, rumusan peran serta masyarakat dalam
penggunaan SVO sebagai produk pemerintah
Permendagri No.2/1987 juga belum secara
kolonial Belanda, didalam praktek kehidupan
sungguh dilaksanakan didalam praktek.
bernegara sekarang ini. Alasan yang demikian
Berbagai kasus vang sempat terangkat seperti
tentu saja sulit diterima, karena SVO pada saat
kasus perubahan rencana tata ruang kota
belum diundangkan UUPR, masih berlaku
"Henry Ali", kasus konversi daerah hijau men
sebagai hukum positif Sedangkan didalam
jadi daerah perumahan dan rekreasi Pantai
Peraturan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Indah Kapuk dan perubahan daerah pertanian
(Permendagri) No.2 Tahun 1987, terdapat dua
Tugu, semarang Barat menjadi daerah industri,
pasal yang berhubungan dengan peran serta
keseluruhannya mengabaikan aspirasi dan
masyarakat, yaitu :
peran serta masyarakat.
1. Penyediaan forum terbuka lewat seminar
atau diskusi untuk membahas final draft
B4. Peran Serta Masyarakat Menurut UU dinamikanya serta diterimanya proposal-
No.24/1992 proposal perencanaan. Peran serta
masyarakat dengan keterlibatan komunitas
Peran serta mas_yarakat dalam UU. No.
setempat secara aktif dalam pengambilan
24/1992 mendapat tempat yang sangat
keputusan (dalam perencanaan) atau
penting. Di dalam Bab Azas dan Tujuan,
pelaksanaannya terhadap proyek-proyek
ditegaskan bahwa penataan ruang berazaskan
pembangunan untuk masyarakat.
keterbukaan, persamaan, keadilan dan
perlindungan hukum. Artinya keterbukaan Demokrasi partisipatif adalah masyarakat
(transperancy) sebagai salah satu azas dilibatkan dalam proses pengambilan
penting dalam UU ini, apabila secara konsisten keputusan termasuk pada tahapan
diterapkan, memungkinkan terwujudnya peran perencanaan pembangunan diberbagai
serta mas_yarakat yang efektif. tingkatan. Dengan demikian diharapkan akan
timbul suatu rasa memiliki dan rasa
C. Definisi dan Prinsip Dasar Demokrasi tanggung~jawab bersama seluruh masyarakat
Partisipatif terhadap pembangunan di daerahnya. Ada
beberapa prinsip dasar dari demokrasi
Paham Participatory Democracy sebaliknya
partisipasi, yaitu dapat diuraikan sebagai
berpendapat bahwa manusia pada hakekatnya
berikut ;
mampu menyelaraskan kepentingan pribadi
1. Ajakan berpartisipasi disosialisasikan.
dengan kepentingan sosial. Penyelarasan
2. Tujuan dari demokrasi parkisipasi
kedua macam kepentingan tersebut dapat
senantiasa diuraikan sejelas mungkin
terwujud jika proses pengambilan keputusan
pada tahap awal.
menyediakan kesempatan seluas-luasnya
3. Akses terhadap seluruh dokumen dan
kepada mereka untuk mengungkapkan
berbagai infonnasi terkait yang menjadi
kepentingan dan pandangan mereka. Proses
agenda pembahasan dan pengelolaan
pengambilan keputusan, yang menyediakan
pembangunan harus terbuka secara
kelompok kepentingan untuk berperan serta
transparan.
didalamnya, dapat mengantarkan kelompok-
4. Semua pihak mempunyai fungsi sebagai
kelompok yang berbeda kepentingan mereka
pengambil keputusan.
satu sama lain. Dengan demikian, perbedaan
5. Setiap fihak yang berkepentingan
kepentingan dapat dijembatani.
terhadap pengelolaan pembangunan
Demokrasi partisipatif adalah pengambilan
harus memiliki hak yang seimbang untuk
keputusan dengan melibatkan peran serta
menvalurkan aspirasinya pada tingkatan
masyarakat dalam berbagai bidang balk politik,
proses pengambilan keputusan.
ekonomi dan sosial. Menyediakan sebuah
6. Setiap aspirasi harus diperhatikan tanpa
forum untuk saling tukar gagasan dan prioritas,
adanya diskriminasi terhadap sumber
penilaian akan public interest dalam
aspirasi tersebut.
7. Pendanaan yang memadai untuk sebuah 9. Kesepakatan akhir dari kebijakan yang
proses partisipasi harus disepakati dihasilkan harus dapat dipahami berikut
bersama, disediakan dan dipublikasikan. alasannva.
8. Diperlukan fasilitator yang profesional 10. Proses partisipasi dalam penentuan
dalam proses pengambilan keputusan. kebijakan harus dievaluasi seeara berkala.

Bagan Proses Demokrasi Partisipatif

Demokrasi partisipatif

Prasayarat untuk pelaksanaannya

Pemahaman masyarakat Pemahaman masyarakat Kondisi sosial ekonomi


tentang makna demokrasi tentang makna politik masyarakat

Pergeseran paradigma dari Kelemahan pokok dari


demokrasi perwakilan menuju pelaksanaan demokrasi
demokrasi langsung atau perwakilan dalam proses
demokrasi partisipatif penyelenggaraan pemerintah

Permasalahan pemberdayaan masyarakat

Aspek ekonomi Aspek sosial Aspek politik

Kurangnya upaya yang


Kurang berkembangnya
mendukung Belum matangnya
sistem kelembagaan
masyarakat pada masyarakat dalam
ekonomi masyarakat
kondisi kemiskinan menggunakan hak
Kurangnya penciptaan
struktural berpendapat dan
akses masyarakat pada
Kurang berkembangnya berorganisasi
input sumber daya
kelembagaan Kurangnya akses
ekonomi berupa
masyarakat dan pelibatan masyarakat
kapital, lokasi
organisasi sosial yang dalam pengambilan
berusaha, lahan usaha,
dapat menjadi sarana keputusan politik
dan teknologi produksi
interaksi sosial

Pentingnya peranan lembaga politik


terhadap pemahaman makna
demokrasi partisipatif
ELEMEN-EIEMEN PRASYARAT Secara Hukum, peran serta masyarakat telah
DEMOKRASI PARTISIPATIF luas diterima. Pasal 1 ayat (1) Undang-undang
Dasar 1945 jelas memuat prinsip demokrasi
Mantan Menteri Dalam Negeri, Hari Sabarno
dengan mengakui kekuatan rakyat yang
mengatakan, untuk menuju pada pelaksanaan
terjelma dalam Majelis Permusyawaratan
demokrasi langsung atau demokrasi partisipatif
Rakyat (MPR). GBHN kita-pun tampaknya tak
(participatory democracy) diperlukan berbagai
ketinggalan, kata-kata "peran serta
prasyarat agar dalam pelaksanannya tidak
masyarakat", "partisipasi aktif” tersebar dalam
menimbulkan chaos. Karena hal itu bisa terjadi
berbagai bidang di GBHN. Prof DR. Satjipto
sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan
Rahardjo (1989) mengemukakan data kuatitatif
antara anggota masyarakat, perbedaan
survai Bab IV GBHN 1988 sebagai berikut:
kepentingan dan afiliasi politik. Beberapa
Untuk penggolongan utama (Pendahuluan,
persyaratan itu adalah, tingginya tingkat
Tujuan, Prioritas, Arah dan Kebijaksanaan
pemahaman masyarakat tentang makna
Pembangunan Umum, serta Pelaksanaar
demokrasi khususnya dan makna politik
Pelita Kelima), partisipasi muncul di dua
umumnya dalam proses penyelenggaraan
bagian, yaitu Pendahuluan serta Arah dan
pemerintahan. Kemudian, kondisi kehidupan
Kebijaksanaan Pembangunan (40%). Dalam
sosial ekonomi masyarakat berada pada taraf
“Arah dan Kebijaksanaan Pembangunan” yang
menengah-atas sehingga dapat dicegah
terdiri dari lima sub-sub bab terlihat kata
kemungkinan adanya “politik uang” (money
partisipasi terus muncul pada sub-sub bab itu
politics) dalam seluruh proses kegiatan politik.
(100%). Kondisi yang sama pun terus berlanjut
Lantas, berperannya lembaga politik dalam
dalam GBHN 1992, jumlah tersebut diatas
meningkatkan pemahaman politik rakyat
akan semakin besar jika rumusan-rumusan lain
mellaui9 kegiatan pendidikan politik. Selain itu
yang bersifat partisipatif seperti “melibatkan
adanya konsistensi budaya politik masyarakat
organisasi dan pemuka masyarakat serta
yang telah mengalami pergeseran dari budaya
pihak-pihak swasta” turut dihitung. Munculnya
politik parokial menuju budaya politik
fenomena partisipasi dalam GBHN yang
partisipatif. Terakhir, adanya penyelenggaraan
secara kuantitatif cukup besar ini merupakan
politik ketatanegaraan yang transparan dan
komitmen politik yang dapat dimintai
akuntabel. “munculnya wacana bahkan
kelanjutannya, baik secara hukum maupun
tuntutan untuk melakukan pergeseran
sosial.
paradigma dari demokrasi pewakilan menuju
demokrasi langsung atau demokrasi partisipatif DAFTAR PUSTAKA
itu sendiri karena terjadinya kelemahan pokok
Media Internet dan Surat Kabar:
dari pelaksanaan demokrasi perwakilan da!am
www.yahoo.com. Search Peran Serta
proses penyelenggaraan pemerintahan yang
Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan.
terjadi saat ini," ungkapnya.
pikiran rakyat. 8 Juli 2002. Demokrasi Masyarakat Menuju Participatory
Partisipasi Diperlukan Prasyarat. Governence. Makalah. Bandung.
7. Roy C. Macridis. 1983. Cotemporary
Buku dan Artikel :
Political Ideologis : Movementsand
1. Alfian. 1986. Pemikiran dan Perubahan
Regimes, hal 19-20. Boston, Toronto:
Politik Indonesia, hal 236-237. Garamedia.
Little, Brown and Company.
Jakarta.
8. Sabarno, Hari. 2002. Formulasi
2. Clark D. Neher. November 1992.
Pemberdayaan Masyarakat dalam
Democratization In Southeast Asia”,
Penatalaksanaan Kebijakan Publik
makalah. Illinois: Departement of Political
menuju Pemerintahan yang Partisipatoris.
Science, Northern Illinois University.
Simposium sehari. Jakarta.
3. Dahl A Robert. 1985. Dilema Demokrasi
Pluralis : Antara Otonomi dan Kontrol.
Terjemahan Sahat Simamora, hal 10-11.
Rajawali Press. Jakarta.
4. Mayo B. Henry. 1982. Nilai-nilai
Demokrasi Dalam Miriam Budiardjo,
Masalah Kenegaraan, hal 165-191.
Garamedia. Jakarta.
5. Rais Amien. 1986. Demokrasi dan Proses
Politik. Pengantar Untuk Buku Demokrasi
dan Proses Politik, hal xvi-xxv. Seri
Prisma. Jakarta.
6. Rosada, Dada. 2002. Kebijakan
Pemerintah Kota dalam Pemberdayan