Anda di halaman 1dari 12

Review Teori Keamanan Internasional – 14 April 2011

Disusun oleh:
- Andhyta Firselly Utami - 0906550373
- Aswin Syarief Prasetyo - 0906492644
- Dicki Abdul - 0906636661
- Fahmi Islami - 0906524223
- Natalia Gunawan - 0906561396
Jurusan: Hubungan Internasional
Sumber:
- Ronnie D. Lipschutz, On Security (New York: Columbia University Press, 1995),
hal. 46-86
- Barry Buzan, Ole Waever, Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis (London:
Lynne Rienner, 1998), hal. 21-47

Paradoks Sekuritisasi

“Only the insecure strive for security.” –Wayne Dier


Kutipan tersebut mengindikasihkan bahwa mereka yang mendapat ancaman atau
‘merasa tidak aman’ pada akhirnya akan mencari keamanan. Pertanyaan selanjutnya adalah,
karakter apa yang membuat sebuah masalah dapat dianggap sebagai isu keamanan dalam
hubungan internasional? Kata kunci utama yang dapat membantu kita menjelaskan hal ini antara
lain ‘survival’, ‘referent object’, dan ‘existential threat’. Sekuritisasi meningkatkan level urgensi
‘referent object’ dengan alasan ‘survival’ karena adanya ‘existential threat’ sehingga tindakan-
tindakan khusus dapat dibenarkan untuk dilakukan.
Review ini akan meninjau ulang lima poin utama dalam sebuah proses sekuritisasi: (1)
Apa itu sekuritisasi dan bagaimana sekuritisasi dilakukan? (2) Siapa aktor dan unit yang terlibat
dalam sekuritisasi? (3) Isu-isu apa saja yang dapat disekuritisasi? (4) Apa justifikasi dan kondisi
yang melandasi sekuritisasi? serta (5) Apa dampak dari sekuritisasi terhadap hubungan
internasional sebagai ilmu dan kajian empiris? Sejalan dengan pemikiran Buzan, review ini akan
berargumen bahwa proses sekuritisasi merupakan proses yang baiknya dihindari karena memiliki
dampak detrimental bagi survival pihak yang diancam maupun yang mengancam.

1) Pengertian sekuritisasi dan cara sekuritisasi dilakukan


Sekuritisasi dapat diartikan sebagai versi ekstrim dari politisasi.1 Dalam sekuritisasi,
aktor melakukan perlusasan cakupan keamanan nasional ke dalam berbagai bidang sehingga
semua masalah bisa dilihat sebagai keamanan nasional melalui proses politik. Sebagaimana yang
1
Barry Buzan, Ole Waever, Jaap de Wilde, Security : A New Framework for Analysis, (London: Lynne Riener Publisher, 1998),
hlm. 23

1
ditekankan penganut Konstruktivisme, keamanan juga dilihat sebagai suatu hal yang
dikonstruksikan, bukan merupakan suatu hal yang mutlak adanya. Politisasi isu yang dilakukan
aktor menyebabkan isu yang tadinya bukan merupakan isu keamanan berubah menjadi isu yang
mengancam dan membutuhkan agenda nasional untuk mengatasinya. Melalui sekuritisasi, terjadi
pergeseran isu dari yang mulanya hanya isu politik biasa, menjadi isu yang diasumsikan urgent
dan butuh penanganan cepat bahkan tanpa peraturan normal dan aturan-aturan pembuatan
keputusan lainnya.2 Inilah esensi dari sekuritisasi.
Ada beberapa konsep dalam sekuritisasi yang menunjukkan bagaimana aktor melakukan
sekuritisasi. Konsep-konsep tersebut yaitu aktor sekuritisasi, speech act, existential threat,
referent object, dan audience.3 Sesuai namanya, aktor sekuritisasi adalah pihak yang
mengusahakan sekuritisasi. Aktor tersebut akan melakukan usaha-usaha sosialisasi ide atau yang
disebut juga speech act, dengan cara mengampanyekan existential threat, yaitu isu-isu ancaman
eksistensial yang diwacanakan. Usaha sekuritisasi ini ditujukan kepada audience, atau pihak-
pihak yang ingin dipengaruhi oleh aktor untuk mempercayai existential threat, dan akan
berpengaruh pada referent object, yaitu pihak yang akan terancam jika isu tersebut tidak disikapi
secara serius.
Lalu bagaimana mengukur keberhasilan aktor dalam melakukan sekuritiasasi? Dalam hal
ini, perlu ditegaskan bahwa sekuritasasi dikatakan sukses hanya jika audience menerima usaha
sosialisasi ide yang dilakukan aktor tersebut. Dengan kata lain, audience setuju untuk
mengasumsikan isu yang disuarakan aktor sebagai sebuah isu keamanan. Praktek sekuritisasi
akan melalui beberapa tahap, mulai dari pemunculan masalah, adanya politisasi, timbul
perdebatan, hingga pengambilan aksi oleh negara. Semua tahap ini sangat bergantung pada
speech act yang dilakukan aktor. Kemampuan mensosialisasikan ide hingga ide tersebut diterima
khalayak bisa dikatakan faktor kunci dalam proses sekuritisasi, karena pada akhirnya
pengambilan aksi oleh negara hanya terjadi jika ide tersebut diterima. Sebaliknya, jika speech
act actor tidak berhasil, atau dengan kata lain audience tidak menerima existential threat dari
actor, maka sekuritisasi tidak akan berhasil. Oleh karena itu, seperti yang dikemukakan mahzhab
Copenhagen, sekuritisasi yang berhasil akan memiliki tiga komponen utama: existential threat,
emergency action, dan efek pada hubungan antar unit.

2
Rita Taureck, Securitization Theory, presented at the 4th annual CEEISA Convention, University of Tartu, 2006
3
Barry Buzan, Ole Waever, Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis, (London: Lynne Riener Publisher, 1998)

2
Untuk lebih jelasnya mengenai bagaimana aktor melakukan sekuritisasi, mungkin kita
dapat mengambil contoh pada sekuritisasi isu keamanan kewarganegaraan yang dilakukan
Pemerintah Amerika pasca serangan 11 September. Anggapan negatif terhadap warga imigran
terutama yang berasal dari Timur Tengah sebenarnya sudah lama ada pada warga Amerika,
namun setelah Pemerintah Amerika menguatkan sentimen tersebut dikarenakan peristiwa 11
September, kecurigaan terhadap imigran Timur Tengah semakin menjadi-jadi. Disini dapat kita
lihat bahwa isu kewarganegaraan yang mulanya termasuk ranah normal politics, setelah
dipolitisasi oleh Pemerintah Amerika akhirnya bergeser menjadi isu keamanan yang meresahkan
masyarakat dan butuh penanganan. Hal ini juga terjadi karena adanya penerimaan dari
masyarakat Amerika terhadap isu tersebut yang sebenarnya memang sudah berakar. Pada
akhirnya, Imigran dan pengungsi lantas dianggap sebagai ancaman.

2) Aktor dan unit yang terlibat dalam sekuritisasi


Dalam menganalisis proses sekuritisasi dengan pendekatan speech-act, terdapat tiga jenis
unit yang penting untuk dibedakan, antara lain: (1) referent object (objek referensi), (2)
securitizing actors (aktor sekuritisasi), dan (3) functional actors (aktor fungsional). Interaksi di
antara ketiga aktor ini tidak terjadi secara langsung tetapi pengaruh satu sama lain sangat
signifikan dalam menyajikan sebuah analisis yang komprehensif. Ketiga aktor yang disebutkan
di atas, terutama referent object dan securitizing actors sangatlah penting untuk dibedakan agar
tidak membuat proses analisis menjadi tumpang tindih.4
Adapun yang dimaksud dengan objek referensi adalah hal-hal yang terancam oleh
existential threat serta memiliki klaim yang sah terhadap kelangsungan hidupnya (survival).
Contoh referent object sangat beragam, antara lain negara, pemerintah terkait, teritori,
masyarakat, dan sebagainya. Dalam pengertian paling tradisional, yang dimaksud dengan
referent object adalah negara dan bangsa. Karakter utama dari sebuah security action (aksi
keamanan) adalah selalu bersifat kolektif. Dalam tulisannya, Buzan, Waever, dan de Wilde
mengakui bahwa, meskipun tidak terbatas pada state, pada akhirnya sekuritisasi adalah proses
persaingan antar securitizing actors di mana state lebih diuntungkan secara historis dan
legitimasi dibandingkan aktor lain.
Pada prakteknya, seorang aktor sekuritisasi dapat mengkonstruksi apapun sebagai objek
referensi, meskipun biasanya terdapat tingkat keberhasilan yang berbeda-beda tergantung pada
4
Ibid., hal.36

3
dua variabel: ukuran dan skala. Dari segi ukuran, isu yang disekuritisasi oleh individu atau
kelompok kecil memiliki kemungkinan sukses yang lebih kecil daripada isu yang disekuritisasi
oleh satuan besar yang memiliki legitimasi. Berkebalikan dari itu, dari segi skala, isu yang lebih
mungkin untuk disekuritisasi justru adalah isu yang bersifat kolektif terbatas. Permasalahan yang
mencakup hampir semua orang di level internasional justru memiliki tendensi gagal yang lebih
besar. Hal ini dikarenakan pentingnya keberadaan ‘rivalitas’ atau ‘pihak luar’ yang memperkuat
we-feeling di dalam satuan yang disekuritisasi. Karena itu, kolektivitas tingkat menengah lebih
diuntungkan daripada kolektivitas pada level sistem. Sebagai contoh sederhana, menyekuritisasi
ancaman terhadap lingkungan (yang harusnya bersifat universal) lebih sulit daripada melakukan
proses sekuritisasi terhadap isu atau entitas yang mengancam negara.
Sementara itu, securiting actors merupakan aktor-aktor yang menyekuritisasi isu dengan
cara mendeklarasikan sebuah referent object sebagai ‘terancam’. Aktor yang melakukan sebuah
securitizing move tidak harus selalu mencantumkan kata “keamanan” pada kalimat yang dia
ucapkan maupun tindakan ‘mengamankan’, akan tetapi sekuritisasi terjadi ketika suatu
pemahaman intersubjektif baru yang diterima oleh para audiens. Pelaku yang paling sering
mengambil peranan ini antara lain pemimpin politik, birokrasi, pemerintah, lobbyists, dan
pressure groups. Biasanya securitizing actors tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai referent
object, melainkan kelompok, satuan, atau komunitas yang lebih besar lagi seperti negara, bangsa,
peradaban, prinsip, maupun sistem. Artinya, bisa jadi aktor-aktor ini menjadi bagian dari apa
yang ingin mereka lindungi, bisa jadi sebaliknya.
Permasalahan yang sering terjadi dalam menentukan securitizing actors adalah
mengidentifikasi ‘siapa’ dan ‘pada level apa’ analisis akan dilakukan. Siapapun bisa mendebat
dan mempertanyakan justifikasi terhadap sumber dari sebuah pernyataan sekuritisasi. Ketika kita
mengatakan ‘negara’, bisa jadi unit yang berkepentingan menyekuritisasi sebuah isu hanyalah
departemen atau kementrian tertentu. Ketika suatu institusi non-negara melakukan usaha
sekuritisasi, bukan tidak mungkin yang melakukannya hanyalah sebagian individu tertentu.
Penulis setuju dengan Buzan, Waever, dan de Wilde, bahwa cara terbaik untuk
menentukan securitizing actors adalah dengan melihat logika dari sebuah pernyataan
sekuritisasi. Ketika seorang individu mendeklarasikan sebuah peryataan sebagai isu sekuritisasi
dengan menggunakan logika negara, maka securitizing actors dari proses tersebut adalah negara
dan bukan individu, dan demikian seterusnya. Menurut penulis pada akhirnya setiap entitas akan

4
dapat dipecah sampai kepada level individu dan kondisi ini justru mempersulit pembuatan
analisis yang tajam dan mendalam.
Terakhir, functional actors, menurut Buzan, Waever, dan de Wilde, mengacu kepada
pihak-pihak yang pada akhirnya mempengaruhi dinamika dari sebuah sektor langsung maupun
turunan dari sebuah isu yang ter-sekuritisasi. Contoh dari aktor ini antara lain perusahaan-
perusahaan yang menghasilkan polusi dan limbah dalam isu keamanan lingkungan. Artinya,
perusahaan tersebut bukan menjadi referent object dari permasalahan, bukan pula aktor yang
berusaha melakukan sekuritisasi terhadap isu tersebut. Unit seperti ini tidak dapat dihilangkan
dalam analisis meskipun tidak memiliki hubungan langsung dengan proses ‘sekuritisasi.
Selain yang telah disebutkan, menurut penulis, terdapat satu entitas lagi yang seharusnya
diperhitungkan sebagai aktor atau unit analisis sekuritisasi, yaitu audience atau audiens.
Penggunaan frasa ‘speech act’ memberikan fokus lebih terhadap unit yang melakukan proses
sekuritisasi dibandingkan audiens yang berusaha dipengaruhi. Padahal, salah satu determinan
utama dari suksesnya sebuah proses sekuritisasi adalah audiens.5 Hal ini dikonfirmasi Scott D.
Watson dalam tulisannya, bahwa untuk membuat sebuah klaim menjadi kenyataan, sekuritisasi
tidak bisa hanya diajukan tapi perlu diterima oleh masyarakat yang menjadi audiens.
Meskipun tujuan akhir dari sebuah proses sekuritisasi tidak selalu untuk membentuk
opini intersubjektif dari audiens atau aktor yang ingin dipengaruhi karena pada kasus tertentu hal
tersebut tidak diperlukan, audiens tetap penting untuk diakui sebagai salah satu unit dalam
sekuritisasi. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘ruang lingkup audiens seperti apa yang memiliki
kemungkinan lebih mudah untuk dipengaruhi?’ atau ‘faktor apa yang membuat audiens lebih
mudah menerima sebuah kenyataan intersubjektif?’ tidak terjawab. Seolah-olah, dalam proses
sekuritisasi itu sendiri, interaksi hanya terjadi searah oleh securitizing actors.

3) Isu-isu yang disekuritisasi


Dalam sektor militer, referent object biasanya adalah negara, meskipun hal tersebut bisa
juga diartikan sebagai entitas politik lainnya. Pada kasus-kasus tertentu, seperti kudeta atau
pelucutan senjata, ancaman terhadap kelompok militer bisa jadi malah menjadikan mereka
sebagai referent object dan bukan negara. Perlu diingat bahwa pada studi keamanan tradisional,
seluruh urusan militer cenderung dilihat sebagai isu keamanan dan di negara-negara demokrasi
maju, satu-satunya unit de facto keamanan adalah negara. Dalam sektor politik, kata ‘keamanan’
5
Scott D. Watson, The Securitization of Humanitarian Migration (New York: Routledge, 2009), hlm.27

5
mengacu pada kedaulatan dan ideologi negara yang dapat diartikan ‘terancam’ ketika muncul
pertanyaan tentang pengakuan, legitimasi, atau otoritas pemerintahan. Atau, pada kasus Uni
Eropa, misalnya, hal yang menghambat terjadinya integrasi di antara negara-negara anggota
dapat dianggap pembenaran untuk proses sekuritisasi. Dalam sektor ekonomi, sekuritisasi bisa
terjadi ketika muncul ‘existential threat’ yang biasanya tergantung pada referent objects-nya.
Kinerja sebuah firma akan terganggu ketika kebangkrutan mengancam, sedangkan ekonomi
nasional akan terancam ketika survival seluruh populasi negaranya terganggu.
Selain ketiga sektor yang telah disebutkan di atas, sekuritisasi juga bisa dilakukan pada
sektor kemasyarakatan dan lingkungan. Khusus pada kedua sektor ini, penentuan referent object
dan existential threat menjadi lebih sulit karena besarnya cakupan permasalahan. Bangsa dan
agama, misalnya, memiliki karakteristik khusus seperti ‘kecenderungan untuk berubah seiring
berjalannya waktu’ sehingga sulit dikatakan bahwa survival-nya terancam atau tidak. Istilah
‘lingkungan’, misalnya, melingkupi banyak sekali kemungkinan referent object, mulai dari hal
konkrit seperti individu, spesies atau habitat, sampai tingkat yang lebih sulit didefinisikan seperti
biosfer dan hubungan antar populasi dalam suatu komunitas.
Luasnya isu yang dapat dan telah disekuritisasi selama ini menimbulkan pertanyaan
mendasar bagi para pemikir ilmu hubungan internasional dalam hal dampak yang dihasilkan.
Apakah perluasan isu ini semata-mata menimbulkan lebih banyak konflik, atau sebaliknya,
meningkatkan efektivitas dalam menyelesaikan masalah keamanan? Apa yang dapat
menjustifikasi isu-isu ini untuk dijadikan isu keamanan melalui proses sekuritisasi?

4) Justifikasi dan kondisi yang melandasi sekuritisasi


Sebenarnya, dalam tulisan Buzan, Waever, dan de Wilde, untuk melihat sebuah
sekuritsasi tidak diperlukan indikator. Namun dalam tulisan ini, kami ingin mencari tahu pada
batasan apa sebuah isu bisa naik dari level politis ke level sekuritas. Definisi dan kriteria dari
sekuritisasi dibentuk oleh pemikiran intersubjektif atas sebuah ‘existential threat’, mempelajari
diskursus dan konstelasi politik. Saat terciptanya sebuah prioritas dan aksi cepat (urgency)
terhadap suatu ancaman sehingga aktor membuat suatu tindakan yang melewati batas-batas
prosedur atau aturan yang telah ditetapkan, makan pada saat itulah aksi keamanan sedang
dijalankan.6

6
Ibid., hal. 25

6
Namun, aksi keamanan bukan berarti sebuah isu sudah masuk ke dalam kategori
sekuritas. Dibutuhkan penerimaan (acceptance), terutama dari audiens, bahwa suatu obyek
memang akan disekuritisasi. Sekuritisasi akan terpenuhi saat sebuah ancaman melegitimasi
tindakan untuk melewati batas-batas aturan yang ada. Namun indikasi sebesar apakah
signifikansi sebuah ancaman sehingga dapat dikategorisasikan ke dalam sekuritisasi masih
menjadi problem. Pengukuran yang tepat dalam signifikansi ini adalah pada seberapa besar skala
keterikatan (chain reaction) dampak aksi keamanan dalam jangka luas.
Menurut Waever, sebuah unit dalam situasi sekuritas bergantung secara independen
terhadap sumber dayanya untuk mendapatkan hak untuk memimpin aksinya atas prioritas yang
dibuatnya. Kesuksesan sekuritisasi oleh karena itu bergantung pada tiga komponen: ‘existential
threat’, aksi darurat, dan efek dalam hubungan antar unit saat melanggar aturan-aturan yang ada.
Komponen tersebut muncul setelah ada proses labelling security terhadap suatu isu yang
ditujukan untuk memahami proses dari pembentukan kesepahaman bersama atas sebuah
ancaman. Hal tersebut bisa terlaksana melalui speech act, yang hanya melalui sebuah
pernyataan, sekuritisasi telah terjadi.
Untuk melihat sejauh apa sebuah isu dapat dikategorikan ke dalam sekuritisasi, menurut
Buzan, Waever, dan de Wilde, saat kita menempatkan ketahanan (survival) dari suatu unit
kolektif dan juga prinsip politik dari sebuah ancaman sebagai inti dari mempelajari keamanan,
maka kita mempunyai suatu basis untuk mengaplikasi analisis keamanan terhadap berbagai
macam sektor tanpa kehilangan esensi dari konsep keamanan tersebut.7
Aktor dapat memutuskan apakah sesuatu hal dapat dikategorikan sebagai ancaman atau
tidak. Hal tersebut merupakan sebuah konstruksi sosial terhadap suatu isu daripada melihat
secara langsung bahwa hal tersebut sudah merupakan ancaman. Mereka juga menambahkan
bahwa keamanan memiliki arti yang spesifik, namun bentuknya berbeda-beda; anggapan sebuah
ancaman tidak akan sama pada sektor yang berbeda pula.
Kesimpulannya, dalam mempelajari diskursus keamanan kita dapat melihat bagaimana
intensi dari obyek referen terhadap suatu isu dan hasil tersebut sebagai legitimasi keamanan
untuk kebutuhan pertahanan mereka.
Untuk melihat bagaimana agenda sekuritisasi telah meluas, Ole Waever melihat pada
tahun 1980an sebagai titik awal melebarnya fokus dari keamanan, dari keamanan nasional ke

7
Ibid., hal. 27

7
arah keamanan manusia.8 Namun ia melihat bahwa dalam konsep keamanan, keamanan individu
merupakan hal yang tidak jelas. Ia mengakui bahwa keamanan dipengaruhi oleh kedinamisan
pada level individu dan sistem global, tetapi tidak dalam mempromosikan hal tersebut menjadi
sebuah konsep keamanan. Konsep dari keamanan selalu merujuk kepada negara.9
Waever setuju dengan pendapat Buzan dalam penjelasannya tentang ‘hour glass’ di mana
keamanan nasional ditempatkan tidak dalam tiga level (internasional, nasional, dan individual),
tetapi berada di tengah-tengahnya, merujuk kepada kedaulatan negara sebagai fokus konsep
terkait kepada dinamika internasional dan individual.
Dari penjelasan di atas, kami melihat bahwa untuk menetapkan suatu isu masuk ke dalam
kategori sekuritisasi, negaralah yang berperan penting dalam melihat kasus tersebut. Negara
merupakan inti dari konsep keamanan, dan pandangannya lah yang mampu menggerakkan suatu
isu dari politis ke arah sekuritas sehingga diterima bahwa hal tersebut memang memerlukan
tindakan cepat untuk mempertahankan kepentingannya.

5) Dampak dari sekuritisasi terhadap Hubungan Internasional sebagai ilmu dan


secara empiris
Penulis menganalisa beberapa poin perihal dampak dari teori sekuritisasi ini terhadap
Hubungan Internasional sebagai ilmu dan secara empiris. Pertama, Sebagai sebuah teori di dalam
Hubungan Internasional, terdapat beberapa fungsi dari teori tersebut yang dapat digunakan.
Selain untuk menjelaskan mengenai sesuatu yang terjadi di dalam dunia internasional, namun,
terkadang petinggi petinggi negara pun sering kali menggunakan teori teori tersebut untuk
kepentingan negaranya. Hal ini sering kali terlihat, ketika banyak sekali teori teori dari perspektif
liberalisme dan realisme yang kemudian diadopsi oleh negara negara dalam menjalankan
negaranya.

Hal yang samapun terjadi pada teori sekuritisasi. Teori sekuritisasi yang dikembangkan
oleh Waever, Buzan, dan Wiilde pun menjadi sering terdengar. Hal ini menjadi masalah, karena
penjelasan mengenai teori ini harus melalui tahap securitizing move di mana aktor yang mampu
melakukan aktivitas tersebut harus memiliki otoritas tertentu agar suaranya dapat didengar dan
tindakan sekuritisasinya tersebut disetujui oleh audiensnya. Oleh karena itu, salah satu kritik
8
Ole Waever, “Securitization and Desecuritization”, dalam Ronnie D. Lipschutz (ed.), On Security, (New York: Columbia Press,
1995), hal. 47
9
Ibid., hal 49

8
yang diberikan kepada teori ini adalah aplikasinya yang digunakan oleh aktor negara. Mengutip
dari Huysman, sekuritisasi adalah teknik yang digunakan oleh pemerintah yang menggunakan
tekanan tekanan dengan kekerasan yang dihasilkan atas ketakutan masyarakat. Sekuritisasi
tersebut kemudian menghasilkan hilangnya keteraturan di dalam masyarakat dengan rutinitas
yang telah ada, memanfaatkan “ancaman” terhadap masyarakat tersebut.10

Huysman sebagai seorang penganut perspektif kritis (critical theory) di dalam hubungan
internasional merasa bahwa teori sekuritisasi ini tidak sesuai dengan semangat dari perspektif
kritis yang lainnya untuk meluaskan ide ide mengenai keamanan. Huysman berargumentasi
bahwa teori yang dikeluarkan di dalam Ilmu Hubungan Internasional tentu tidak akan pernah
lepas dari nilai nilai yang dianut oleh pembuat dari teori tersebut, karena teori tersebut nanti
memang akan ikut membentuk realita yang ada nantinya.11

Sekuritisasi akan bermasalah, menurut tim penulis, karena ekspansi agenda keamanan
yang disebabkan oleh sekuritisasi ini bisa disalah gunakan, di mana masalah masalah yang
sebenarnya bisa diselesaikan secara politis dan melalui cara cara yang demokratis, kemudian di
“hiper politisasi” sehingga menjadi isu keamanan, di mana kemudian penggunaan peraturan pun
tidak berlaku ketika telah disekuritisasi. Untuk membuktikan mengenai masalah tersebut, kita
dapat mengambil contoh dari hiper sekuritisasi yang terjadi di dalam kasus mengenai Siprus, di
mana di wilayah tersebut terdapat konflik etnik antara etnik turki dan etnik yunani yang terdapat
di wilayah tersebut. Konflik yang terjadi antara kedua wilayah tersebut telah terjadi sekian lama,
dan Matthew Schwartz menganalisis kemudian bahwa permasalahan yang terjadi adalah karena
adanya hiper sekuritisasi yang terjadi antara kedua kelompok etnis tersebut.12 Pada kasus
tersebut, yang menjadi objek yang disekuritisasi adalah identitas dari kedua masyarakat tersebut,
di mana Schwarts menganalisis bahwa dengan adanya sekuritisasi yang terjadi tersebut, kedua
kelompok tersebut menjadi sangat paranoid, menolak adanya gangguan sekecil apapun terhadap
identitas kelompok masing masing, sehingga mereka melaksanakan apa saja, bahkan melanggar
aturan untuk melindungi identitas mereka. Konflik antara etnik turki dan yunani tersebut pun
kemudian memanjang dan tidak menemukan jalan temu. Hal ini seakan mengkonfirmasi kritik

10
Rita Taureck, Securitization Theory and Securitization Studies, diakses dari
http://wrap.warwick.ac.uk/1082/1/WRAP_Floyd_Securitization_theory_and_securitization_studies_WRAP.pdf , hlm. 3
11
Ibid, hal. 4
12
Matthew Schwartz, The Hyper-Securitization of Identity and Protracted Social Conflict: The Case of Cyprus, diakses dari
http://www.gpia.info/files/u647/Hyper_Securitization.pdf

9
dari Bill McSweeney, yang menyatakan bahwa meluasnya keamanan hingga mencapai
keamanan identitas berpotensi untuk memperluas agenda agenda yang akan berbahaya secara
politis, karena kemudian akan digunakan untuk tujuan tujuan politis, terutama untuk
memenangkan tujuan politisnya.13 Meluasnya agenda keamanan pun menjadi hal yang tidak
diinginkan, berbahaya, dan sehingga aplikasi dari teori sekuritisasi akan menjadi hal yang sangat
tidak diinginkan.

Kedua, membuat munculnya pertanyaan terhadap isu sebenarnya dari sekuriti. Konsep
isu sekuriti diartikan terlalu luas sehingga dipertanyakan kembali apa isu sekuriti itu sebenarnya.
Untuk mengklarifikasi hal ini baiklah kita melihat bagaimana pengungsi dan imigran dapat
dipresentasikan sebagai suatu masalah sekuriti. Contoh pertama adalah kasus komunitas
pengungsi dari suku Tutsis Rwanda yang dipaksa untuk diasingkan dan setelah tahun 1959
berubah menjadi satu pasukan militan yang berjuang untuk rejim Rwanda. Konsep sekuriti di
sini menyerupai pengertian tradisional dari sekuriti nasional dimana pengungsi merupakan suatu
ancaman bersenjata terhadap rejim politik dan kedaulatannya. Contoh kedua: di Amerika Serikat
dan Eropa beberapa menganggap imigran muslim sebagai suatu ancaman budaya. Mereka
diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu peradaban yang suka berkompetisi yang dimana
nilai dan kebiasaannya mengancam peradaban barat. Analisis tipe ancaman seperti ini lebih sulit
untuk diartikan dalam konsensus kajian tradisional. Ancaman ini jelas bukanlah tipe militer.
Fokusnya terletak pada ekspresi dari nilai yang ada di kehidupan sehari-hari seperti pemotongan
hewan kurban, pemakaian jilbab dan sebagainya. Kehidupan sehari-hari dari masyarakat maupun
kedaulatan dari suatu negara tidaklah terancam. Ini lebih merupakan suatu pre-supposed cultural
homogeneity daripada masyarakat barat yang merasa tertantang oleh para imigran. 14 Levy
mendukung Buzan dan Waever dengan mengatakan bahwa merupakan suatu hal yang sulit untuk
menjustifikasi migrasi dan asylum sebagai suatu ancaman luar yang utama.15
Memang argumen utama daripada perluasan isu sekuriti menjadi non-military threats
seperti pemanasan global dan migrasi serta non-state referent object yang diancam seperti
kemanusiaan, identitas budaya, dan individu seperti yang Walt katakan adalah bagaimana
menentukan koherensi intelektual daripada suatu kajian ilmu pengetahuan tersebut agar dapat

13
Michael C Williams, “Modernity, Identity, and Security: A Comment on the ‘Copenhagen Controversy’”, di dalam Review of
International Studies, Vol. 24. No.3 (Juli 1998), hlm. 437
14
Jef Huysmans, the Politics of Insecurity: Fear, Migration, and Asylum in the EU (New York: Routledge, 2006), hlm. 20
15
Ibid., hlm. 150

10
diterima.16 Walt pun turut menambahkan dengan mengatakan bahwa para pendukung dari
perluasan konsep sekuriti ini sebagai irresponsible karena agenda mereka yang mungkin
berujung pada penentuan the politically available knowledge on war.
“… the fact that other hazards exist does not mean that the danger of war has
been eliminated. … Indeed, given the cost of military forces and the risks of
modern war, it would be irresponsible for the scholarly community to ignore
the central questions that form the heart of the security studies field.”17
Menurut pandangan ini, penentuan fokus daripada perang pada kajian studi sekuriti akan
menjadi beresiko mengalami suatu detrimental impact pada pengaturan masalah perang dalam
politik internasional dikarenakan oleh banyaknya isu-isu baru yang dicoba untuk
disekuritisasikan. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa fokus utama dari isu sekuriti pun
kembali dipertanyakan karena kemunculan isu-isu baru yang disekuritisasikan.
Ketiga, perihal moral selama sekuritisasi dilakukan. Teori sekuritisasi tidak memiliki
suatu dasar normatif untuk menentukan apakah suatu isu masuk menjadi salah satu kajian
sekuriti atau tidak. Seperti apa yang dikatakan oleh aliran Copenhagen School bahwa sekuritisasi
merupakan teori yang “morally wrong” sedangkan desekuritisasi sebagai suatu proses yang
“morally right”. Contoh dari kasus moralitas ini adalah dalam isu lingkungan. Floyd dalam
bukunya mengatakan bahwa teori sekuritisasi khususnya pada isu lingkungan mendasarkan
dirinya pada consequentialism. Consequentialism adalah suatu teori yang mengajarkan cara
untuk menentukan apakah suatu keputusan merupakan keputusan tepat yang telah diputuskan
suatu agen dengan melihat konsekuensi relevan yang dihasilkan dari keputusan tersebut “to look
at the relevant effects of the decision on the world”.18
Para consequentalist ini mengartikan moralitas dalam artian semua yang menghasilkan
konsekuensi yang baik namun tidak menjelaskan apa konsekuensi baik ini, bagaimana cara
mengetahui suatu konsekuensi itu baik atau indikator yang dapat menentukannya. Ambiguitas ini
pun merupakan salah satu dampak dari teori sekuritisasi yang perlu dijelaskan lebih lanjut oleh
para consequentalist.
Review ini telah menyajikan analisis menyeluruh mengenai apa, siapa, bagaimana, dan
dampak dari teori sekuritisasi yang dibahas oleh Buzan, Waever, dan de Wilde. Kesimpulan dari
16
Stephen Walt, “The Renaissance of Security Studies”, dalam International Studies Quarterly, Vol. 35, No. 2 (1991), hlm. 231
17
Stephen Walt, “The Renaissance of Security Studies”, Loc. Cit., hlm. 231
18
Rita Floyd, Security and the Environment: Securitisation Theory and US Environmental Security Policy (USA: Cambridge
University Press, 2010), hlm. 174

11
review ini adalah bahwa proses sekuritisasi memiliki dampak detrimental bagi survival pihak
yang diancam maupun yang mengancam. Hal ini menjadi tidak sesuai dengan tujuan awal dari
proses sekuritisasi sendiri yang adalah untuk mencari keamanan dan mengurangi kemungkinan
ancaman. Karena itu, kemunculan isu-isu baru yang ingin disekuritisasi justru menjadi sebuah
paradoks dalam ilmu Hubungan Internasional.

12

Anda mungkin juga menyukai