P. 1
Buku-Sekumpul

Buku-Sekumpul

|Views: 4,979|Likes:
Dipublikasikan oleh Shodiqur Rifqi
this article of bioghraphi KH. M.Zaini bin 'Abdul Ghani , Abah Guru Sekumpul , Martapura , South of Borneo .
this article of bioghraphi KH. M.Zaini bin 'Abdul Ghani , Abah Guru Sekumpul , Martapura , South of Borneo .

More info:

Published by: Shodiqur Rifqi on Jun 03, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Sections

`Bertemu Guru Sekumpul mungkin idaman banyak orang. Ketika menjadi

bagian di antara ribuan jamaah pengajian, saya berangan-angan bisa bertemu

langsung dengan Guru. Tapi sangat sulit mencari kesempatan demikian.

Guru Sekumpul tidak mungkin menerima ribuan jamaah satu per satu. Saya

cukup melihatnya memberikan ceramah dari layar televisi. Jangankan

bertemu dan berbicara langsung, bersalaman dengan Guru pun hanya

muncul dalam khayalan.

Pada 1993 hingga pertengahan 1999, di antara ribuan jamaah, saya kerap

menyaksikan tamu terhormat yang datang ke rumah Guru dan sebelumnya

ikut duduk mengaji. Cuma doa yang dipanjatkan agar suatu saat bisa

menjadi tamu Guru atau barangkali ikut mendampingi tamu yang datang.

Doa itu dikabulkan Allah. November 1999 saya menjadi wartawan

Kalimantan Post dan ditugaskan di Martapura. Di tengah kebahagiaan itu,

saya berkesimpulan, dengan menjadi wartawan keinginan saya bertemu

Guru bakal tercapai.

Cita-cita itu menjadi kenyataan. Kamis, 6 April 2000, saya mendapat kabar

dari M. Hilmansyah, S.Hut, wartawan Metro Banjar, bahwa hari itu Jaksa

Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Muhammad Abdul Rachman,

SH, akan datang ke Sekumpul. Informasi ini diterimanya dari sejumlah jaksa

di Kejaksaan Negeri Martapura dan Kejaksaan Tinggi Kalsel di

Banjarmasin.

Inilah kesempatan untuk bertemu atau setidaknya berjabat tangan dengan

Guru Sekumpul. Menjadi bagian dari rombongan MA Rachman, yang kelak

menjadi Jaksa Agung, mengantarkan saya untuk pertama kalinya

menjejakkan kaki di kediaman Guru Sekumpul.

Pertemuan pertama dengan Guru barangkali merupakan peristiwa bersejarah

bagi perjalanan hidup. Bayangkan, di antara ribuan jamaah yang

berkeinginan bertamu ke kediaman Guru, saya menjadi sedikit di antara

yang bisa. Kalau tidak menjadi wartawan dan hanya seperti jamaah

pengajian biasa, mungkin tidak pernah bertemu Guru di kediaman.

Ini tidak dapat dipungkiri. Berapa banyak mereka yang ingin bertemu Guru

sejak dulu, namun sampai detik ini belum kesampaian. Entah mengapa,

bertemu Guru menjadi kebahagiaan yang tidak ternilai. Bertemu ulama besar

lain merupakan suatu kehormatan. Tapi, bertemu Guru entah mengapa

memiliki kesan mendalam yang tak bisa dilukiskan kata-kata.

Bertemu pejabat tinggi yang orang lain tidak semuanya bisa, merupakan

kebanggaan. Tapi, bersilaturrahim dengan Guru Sekumpul melebihi semua

itu. Tidak bisa dijelaskan mengapa ini bisa terjadi. Yang pasti, hal demikian

tidak cuma dirasakan saya seorang. Mereka yang pernah bertemu Guru

banyak pula mengalami hal sama.

Kebanggaan lain, kami bisa foto bersama dalam pelbagai macam pose. Ini

merupakan suatu hal menarik karena tidak semua tamu bisa

mendapatkannya. Setiap mengikuti tamu ke Sekumpul, kami selalu mencari

kesempatan foto bersama Guru.

Selama meliput di Sekumpul, saya memiliki ratusan foto bertema Sekumpul

plus sosok ulamanya. Yang menarik, Guru tidak pernah memanggil kami

wartawan, melainkan dengan istilah “fotografer”.

Guru Sekumpul memang mengerti profesi wartawan. Ketika mengiringi,

pasti kami selalu memfoto sang tamu bersama Guru. Ketika dua-tiga kali

menjepret, Guru Sekumpul meminta agar wartawan yang memotret ikut foto

bersama. “Bagantian pulang, fotografernya nang umpat bagambar

(Bergantian sekarang, fotografernya yang ikut berfoto),” kata Guru

Sekumpul.

Giliran kami yang ikut foto bersama. Para pengawal tamu terkadang

bergantian memegang dan menjepretkan kamera para wartawan, walau tak

jarang hasilnya seadanya.

Soal foto-memfoto ini, saya sempat tidak enak hati. Foto Guru yang saya

jepret beredar luas di pasaran dan didagangkan hingga ke luar Kalimantan.

Potret itu menampilkan Guru Sekumpul duduk bersimpuh di teras rumah

seraya tersenyum.

Foto tersebut dijepret pada Kamis, 5 Mei

2000, ketika rombongan Danrem 101 Antasari Kolonel Inf Efrizal Ramli

bertamu ke Sekumpul. Begitu Guru duduk di teras melepas kepulangan

Danrem, kamera langsung diarahkan. Tak dinyana, Guru malah tersenyum

dan tetap dengan gaya duduk bersimpuh. Dua kali saya jepretkan kamera

untuk adegan demikian.

Kalau kemudian foto diperjualbelikan di pasaran, saya jelas heran. Selain

negatif foto masih ada, kala itu tidak ada fotografer lain yang memotret.

Tapi biarlah, hitung-hitung amal. Saya gembira melihat foto itu terpampang

besar-besar di penjual foto dan poster serta menempel di ruang-ruang tamu

rumah warga di Martapura dan daerah lain.

Pada awal 2000, wartawan yang rutin ikut mendampingi tamu ke Sekumpul

adalah Hilmansyah dan saya. Kondisi ini berlangsung hingga akhir 2001.

Memasuki 2002, wartawan sepertinya tidak lagi bisa memiliki akses ke

kediaman Guru.

Banyaknya wartawan yang ikut rombongan, merupakan salah satu sebabnya.

Sebagai contoh, ketika seorang pejabat tinggi negara bertemu Guru, puluhan

wartawan yang bertugas di Banjarmasin ikut ke Sekumpul. Imbasnya,

wartawan tidak bisa lagi bebas masuk ke kediaman. Mereka harus puas

menunggu di teras atau di halaman.

Terakhir kali saya dan dua teman bertemu Guru Sekumpul pada Sabtu, 5

Juni 2004. Ketika itu Guru dirawat di RS Budi Mulia, Jalan Raya Gubeng

Surabaya. Pertemuan kami tidak direncanakan. Maklum, ketika Guru

dirawat, banyak orang yang ingin membesuk, tapi tidak kesampaian.

Mendengar itu, kami seperti tidak bersemangat, ditambah alasan untuk tidak

mengganggu istirahat Guru.

Tapi, nasib baik berpihak pada kami yang kala itu berangkat ke Surabaya

untuk selanjutnya ke Solo, Jawa Tengah mengikuti haul di kediaman Habib

Anis Al Habsyi. Pukul 10.00 WIB, pesawat mendarat di Bandara Juanda.

Pikiran sempat bimbang apakah ikut ke RS Budi Mulia atau menunggu di

terminal menuju Jogjakarta. Akhirnya, saya ikut menemani kawan untuk

“mencoba” membesuk Guru.

Setiba di sana, kami diberitahu bahwa Guru mungkin tidak bisa dijenguk.

Entah mengapa kami nekat dan terus menunggu. Kami cuma duduk-duduk

di sekitar kamar Guru dirawat, nomor 09 lantai 4. Saya juga sempat bertemu

dan berdiskusi dengan kolega, Poso Palopo Abdurrahman, wartawan

Banjarmasin Post di Surabaya. Ia satu-satunya jurnalis yang memberitakan

kondisi Guru Sekumpul selama dirawat di RS Surabaya. Berita tentang Guru

memang selalu ditunggu-tunggu pembacanya di Kalsel.

Kenekatan kami untuk membesuk kian bertambah karena saat itu terlihat

Sekretaris Daerah Propinsi Kalsel Prof Dr H Ismet Ahmad menunggu untuk

membesuk. Kami berpikir, jika Ismet diizinkan masuk, paling tidak tamu

lain diizinkan sesudahnya. Sekitar pukul 11.30 WIB, pembantu Guru

menyilakan Sekda masuk.

Sejam lebih Ismet membesuk, tak kelihatan keluar kamar. Pikiran menguat,

Guru Sekumpul akan menerima. Alhamdulillah, ini menjadi kenyataan.

Ketika Ismet keluar, pembesuk lain dipersilakan masuk. Selain dilarang

membawa kamera, pembesuk diminta sebentar saja bertamu. ‘’Satumat aja

lah,’’ pesan pembantu Guru.

Satu persatu tamu masuk. Mendahului kami, berderet rombongan tukang

yang membangun rumah Guru di Sekumpul. Di dalam kamar, Guru

berbaring lemah tanpa ekspresi. Ia mengenakan sarung dilapisi selimut dan

berbaju kaos putih oblong tanpa kerah. Kami bersalaman dan mencium

tangannya. Tak ada sepatah kata keluar dari mulut kami dan Guru. Adapun

rombongan tukang tadi setelah bersalaman lantas mengangkat tangan,

berdoa demi kesembuhan Guru.

Meski tak lebih dari 2 menit membesuk, perasaan kami cukup puas. Apalagi,

teman saya belum pernah berjumpa langsung dengan Guru. Kami berpikir,

andai tidak nekat, mungkin tidak akan pernah bertemu Guru ketika dirawat

di RS.

Kami merasa beruntung karena pada saat itu banyak pembesuk datang

namun tidak bisa bertemu. Puluhan tamu hari itu pulang dengan tangan

hampa karena dikatakan oleh pembantu Guru bahwa sang kiai harus

istirahat. Banyak yang cuma bisa mendoakan dari luar kamar sebelum

akhirnya pulang. Saat itu terlihat mantan Kepala Kejaksaan Negeri

Martapura Arifin Sahibu, SH yang datang untuk membesuk namun ditolak

secara halus. Ia pulang dan hanya menitipkan salam teriring doa buat Guru

sambil menyerahkan parcel kepada pembantu.

Kesempatan membesuk ini tidak mungkin terbit dua kali. Sekali lagi, faktor

kenekatanlah yang barangkali membuat kami bisa diterima Guru. Sebab,

selama dirawat di Surabaya, tamu yang datang sangat dibatasi. Hanya orang

tertentu yang boleh masuk. Ini semua untuk perawatan Guru.

Uniknya, kunjungan kami bertiga selama 2 menit di RS itu ditulis Poso

Palopo Abdurrahman dan dimuat di Banjarmasin Post besoknya. “Biar

tambah rame,” katanya lewat SMS.

Selama di RS, yang bisa membesuk antara lain, Wakil Presiden Hamzah

Haz, calon Wapres Solahuddin Wahid, Jaksa Agung MA Rachman, SH,

ulama Sampang, Madura, KH Alawy Muhammad, Gubernur Jawa Timur

Imam Utomo, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif,

Gubernur Kalsel Sjachriel Darham, Sekda Ismet Ahmad, dan Bupati Banjar

H Rudy Ariffin.

Selamat Jalan Abah Guru

Berita duka itu akhirnya datang juga. Rabu, 10 Agustus 2005, subuh dinihari

selepas pukul 05.00 Wita, Al ‘Aalimul ‘Allaamah Al ’Aarif Billaah Maulana

KH Muhammad Zaini Abdul Ghani berpulang ke rahmatullah. Ribuan

masyarakat segera berdatangan memenuhi sekitar rumah duka di Kompleks

Ar Raudhah Sekumpul Martapura.

Mushalla dan kawasan Kompleks tak sanggup menampung membludaknya

warga. Semuanya berduka. Kesedihan menggelayut dalam wajah-wajah

mereka. Deraian air mata tidak tertahankan.

Beberapa jam sebelum wafat, warga Sekumpul dan sekitarnya sempat

membesuk Guru lewat pintu belakang kediaman. Antrean panjang ini

ditutup menjelang tengah malam, dan warga yang tidak bisa bertakziah

dimintakan mendoakan sang guru di tempat masing-masing.

Kondisi kesehatan Guru berada pada titik kritis. Didampingi seluruh

keluarga dekat, termasuk istri, Hj. Juwairiah, Hj. Laila dan Hj. Siti Noor

Jannah, serta putra, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali, wali

Allah itu menghadap Sang Khalik.

Menjelang pukul 07.00 Wita, di ruang tengah rumah, dimulai shalat jenazah

yang diimami secara bergantian oleh sejumlah ulama. Sesekali kerabat dekat

Guru memberikan ciuman terakhir kepada sang ulama. Pukul 12.30, jenazah

Guru Sekumpul dihantar ke pemakaman yang berada di depan Mushalla Ar

Raudhah atau di bagian depan samping kiri kediaman almarhum.

Kala keranda dikeluarkan dari kamar, gemuruh tahlil dan tahmid

mengumandang, disertai dengan suara isak tangis di sana-sini. Lantunan

tahlil itu terasa pilu, menyayat hati dan membuat bulu kuduk berdiri. Suara

itu terus bergema terlebih saat keranda jenazah melewati pintu utama

kediaman menuju mushalla. Ribuan jamaah berebut membawa keranda

hingga selendang penutup keranda nyaris lepas.

Di mushalla, shalat jenazah berpuluh-puluh kali digelar. Menjelang Ashar

keranda dibawa ke pemakaman yang jaraknya cuma beberapa meter dari

mihrab. Tepat azan Ashar dan diiringi lantunan ayat Al Qur’an, jasad sang

ulama diturunkan ke liang lahad. Sesuai wasiat Guru, yang memimpin

pembacaan talqin adalah (alm) .KH Abdus Syukur.

Hari-hari ini, kita kembali terkenang dengan ceramah sang ulama dalam

beberapa kali pengajian. Banyak di antaranya yang bertutur tentang

kematian, walau diungkapkan Guru Sekumpul secara bercanda.

“Kalau aku kena meninggal dunia, kantor dan bank pasti tutup. Sekolah dan

madrasah juga umpat libur….” Kata Guru. Di saat banyak yang bingung,

sang ulama menyambung kalimat itu hingga membuat jamaah tertawa, “Asal

aku meninggalnya hari Minggu…”

Canda Guru itu setidaknya terbukti. Meski wafat bukan hari Ahad, suasana

di Martapura dan sekitarnya mengamini apa yang dulu diungkapkan Guru.

Sekolah banyak yang diliburkan, kantor dan instansi pemerintah relatif tidak

berfungsi walau tampak buka, dan toko-toko di Pasar Martapura seperti

tidak berpenghuni. Semuanya larut dalam kedukaan.

Ratusan ribu jamaah yang menghadiri pemakaman menciptakan rekor

tersendiri dalam sejarah di Kalsel. Dari mantan Wapres Hamzah Haz,

Gubernur, anggota DPR, hingga rakyat jelata datang melayat. Jalan-jalan

macet dan aktivitas warga terhenti. Semuanya ingin memberikan

penghormatan terakhir. Imam shalat pun tak mampu menahan deraian air

mata kala melafalkan doa. Isak tangis tiada terbendung.

Media massa daerah hingga nasional memberitakan kabar duka ini, termasuk

koran besar seperti Kompas dan Jawa Pos. Bahkan, Rabu dinihari itu juga,

Banjarmasin Post mencetak ulang halaman depan koran yang berisi berita

kematian Guru Sekumpul.

Akhir Juli hingga awal Agustus 2005, kesehatan Guru Sekumpul menjadi

perbincangan masyarakat Kalsel. Hampir setiap hari sejumlah media cetak

lokal memberitakan kondisi sang ulama yang setiap dua kali sepekan

menjalani cuci darah. Sejak awal-awal 2005, pengajian juga libur panjang.

Puncak semua itu, Jum’at, 29 Juli 2005, diantar (Gubernur) Kalsel H. Rudy

Ariffin, Guru Sekumpul dibawa ke Rumah Sakit Mount Elizabeth

Singapura. Ditangani oleh Dr Gordon Ku, spesialis penyakit dalam, kondisi

kesehatan sang ulama terus membaik, namun harus terus menjalani

perawatan.

Selagi masih di luar negeri, masyarakat Kalsel heboh oleh beredarnya kabar

wafatnya Guru. Sejumlah media radio malah sempat memberitakannya.

Kabar itu sendiri dibantah oleh orang dekat Guru, termasuk Rudy Ariffin

yang terus memantau perkembangan kesehatan Guru.

Kepada Rudy, Guru mengaku ingin sekali cepat pulang ke Martapura.

Apalagi, Rudy Ariffin setelah itu lebih dulu pulang ke Kalsel untuk dilantik

sebagai Gubernur. “Bila ikam bulik, aku umpat bulik jua Di ai,” kata Guru

kepada Rudy.

Sang ulama memang sangat dekat dengan Rudy hingga seakan merasa

sendirian tanpa Rudy. Atas advis tim dokter di RS, Guru diminta tetap

dirawat di lantai 3 ruang khusus Critical Unit. Setelah lebih sebelas hari

menjalani perawatan, Guru pun diperbolehkan pulang.

Selasa 9 Agustus, pukul 20.30, pesawat carter F-28 yang membawa sang

aulia mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Tepat pukul

21:15, iring-iringan mobil yang membawa Guru tiba di Kompleks

Sekumpul. Mobil DA 9596 ZG yang membawa Guru langsung masuk ke

dalam garasi, di bagian belakang kediaman.

Guru kembali berjumpa dengan keluarga dan kota kelahiran yang sangat

dicintai dan dirindukannya. Namun, ternyata Allah SWT lebih mencintai dan

merindukan sang ulama. Hanya dalam hitungan jam berada di tengah

keluarga, Guru Sekumpul dipanggil untuk selama-lamanya.

Innaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun.

H. Ahmad Rosyadi, lahir di Desa Dalampagar, sekitar 5 kilometer arah timur

Martapura, 30 Juli 1978. Meski dulu sempat kepingin jadi polisi, namun putra kelima

dari tujuh bersaudara ini sejak kecil bercita-cita jadi wartawan. Karena itu, tatkala

sekolah dasar, mengarang adalah pelajaran yang disenanginya.

Sejak di bangku sekolah menengah, bakat menulis disalurkan dengan mengirim artikel

ke pelbagai media massa di daerah seperti harian Banjarmasin Post dan Dinamika

Berita.November 1999, lulus penerimaan wartawan Kalimantan Post dan ditempatkan

di Kabupaten Banjar. Meski tak lama berkarier sebagai wartawan, profesi inilah yang

akhirnya membuat kesampaian cita-citanya bertemu sang ulama: KH Muhammad Zaini

Abdul Ghani, sekaligus meretas jalan menjadi Staf Pribadi Drs. H. Rudy Ariffin, MM,

Gubernur Kalimantan Selatan 2005-2010.

( haul Guru Sekumpul , 2010 )

Manaqib

Al-‘Arif Billah Asy-Syaikh

Muhammad Zaini bin ‘Abdul Ghani Al-Banjari

( Abah Guru Sekumpul , Martapura , kal-Sel)

( Mursyid Thoriqah As-Sammaniyyah )

Disusun Oleh

H. M. Irsyad Zein ( Abu Daudi)

Alimul 'allamah Al 'Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd.
Ghani bin Al 'arif Billah Abd. Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muh. Seman
bin H. M, Sa'ad bin H. Abdullah bin 'Alimul 'allamah Mufti H. M. Khalid
bin 'Alimul 'allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad
Arsyad; dilahirkan pada, malam Rabu 27 Muharram, 1361 H (I I
Februari 1942 M).

Nama kecilnya adalah Qusyairi, sejak kecil beliau termasuk dari salah
seorang yang "mahfuzh", yaitu suatu keadaan yang sangat jarang
sekali terjadi, kecuali bagi orang orang yang sudah dipilih oleh Allah
SWT.
Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat sifat dan
pembawaan yang lain daripada yang lainnya, diantaranya adalah
bahwa beliau tidak pernah ihtilam ( mimpi basah).

'Alimul 'allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd
Ghani sejak kecil selalu berada disamping kedua orang tua dan nenek
beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih
sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga dimasa kanak kanak
beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh
ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca AI Quran dengan
nenek beliau, dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu
Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.

Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi

sangat lemah, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut
membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka
membaca Al Quran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa
bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada
Guru yang mengajar AI Quran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di
madrasah Darussalam Martapura.

Guru guru'Alimul'allamah Al 'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd.
Ghani :

1. Ditingkat Ibtida adalah: Guru Abd Mu'az, Guru Sulaiman, Guru Muh.
Zein, Guru H. Abd. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi'I, Guru
Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2. Ditingkat Tsanawiyah adalah: 'Alimul Fadhil H. Sya'rani'Arif, 'Alimul
Fadhil H, Husin Qadri, 'Alimul Fadhil H. Salilm Ma'ruf, 'Alimul Fadhil H.
Seman Mulya, 'Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3. Guru dibidang Tajwid ialah: 'Alimul Fadhil H. Sya'rani 'Arif, 'Alimul
Fadhil At Hafizh H. Nashrun Thahir, 'Al-Alim H. Aini Kandangan.

4. Guru Khusus adalah: 'Alimul'allamah H. Muhammad Syarwani
Abdan,

'Alimul'allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin Kutby.

Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat diterima dari:
Kyai Falak (Bogor)

,

'Alimul'allamah Asy Syekh Muh Yasin Alfadani Padang (Mekkah).

'Alimul'allamah As Syekh Hasan Masysyath,

'Alimul'allamah Asy Syekh Isma'il Yamani dan 'Alimul'allamah Asy
Syekh Abd. Qadir Al Baar.

5. Guru pertama secara Ruhani ialah: 'Alimul 'allamah Ali Junaidi
(Berau) bin 'Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin 'Alimul
'allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad,

dan 'Alimul 'allamah H. Muhammad Syarwani Abdan.

Kemudian 'Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan
menyerahkan kepada Kiayi Falak dan seterusnya Kiayi Falak
menyerahkan kepada 'Alimul'allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin
Kutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad
Arsyad yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah saw.

Atas petunjuk 'Alimul'allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk
belajar kepada 'Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung) bin 'Alimul
Fadhil H. Salman Farlisi bin 'Allimul'allamah Qadhi H. Mahmud bin
Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, mengenal masalah Nur
Muhammad; maka dengan demikian diantara guru beliau tentang Nur
Muhammad antara lain adalah 'Alimul Fadhil H. M. Muhammad
tersebut diatas.

Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan
anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar
apa apa yang ada didalam atau yang terdinding.

Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas
pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan
kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat
mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-
laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan
minta ampun serta memohon minta dikontrol atau diperiksakan
ilmunya yang selama itu ia amalkan, jika salah atau sesat minta
dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.

Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta
memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga,
di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu
tersebut tertidur.

Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan
sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan
menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka
kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya.
Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut

sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva
langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah
beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau
pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulamg kali di
tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau
hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut
tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar
badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan
harapan Tuhan mengampuni dosa dosanya.

Pernah rumput rumputan memberi salam kepada beliau dan
menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dan segalanya, begitu
pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau
perhatikan dan hal hal yang demikian itu beliau anggap hanya
merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.
Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu
Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah swt atau futuh, tatkala
membaca Tafsir: Wakanallahu samiiul bashiir.

'Alimul'allamah Al-'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani, yang
sejak kecilnya hidup ditengah keluarga yang shalih, maka sifat sifat
sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak

pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur dijiwa beliau; sehingga
apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan
mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh
orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya.

Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang
orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau
selalu menunggu tempat tempat yang biasanya 'Alimul Fadhil H.
Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke
Banjarmasin semata mata hanya untuk bersalaman dan mencium
tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.
Dimasa remaja 'Alimul 'allamah Al 'Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini
Abd Ghani pernah bertemu dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina
Husin yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan
memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan
beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal
'Abidin.

Setelah dewasa. maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau
dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib

yang tua tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari
beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya
dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.

'Alimul 'allamah Al 'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani adalah
seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat,
dan beliau seorang yang Hafazh AI Quran beserta hafazh Tafsirnya,
yaitu Tafsir Al Quran Al 'Azhim Lil-Imamain Al Jalalain. Beliau seorang
ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-
Banjari yang menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta
Thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis tali'm maupun
majelis 'amaliyahnya adalah seperti majelis Syekh Abd. Kadir al-Jilani.

Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar dan pemurah
sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan
disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sababat dan anak murid.

Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan
menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun
tidak peniah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi

apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan
tidak mengetahuu serta tidak mau bertanya.
Tamu tamu yang datang kerumah beliau, pada umumnya selalu beliau
berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh
murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3000
an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari
lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.

Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang
benar benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Al Quran,
misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya da'wah
Islamivah, atau membesarkan dan memuliakan syi'ar agama Islam.
Sebelum beliau pergi ketempat tersebut lebih dulu beliau turut
menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru
beliau dating. Jadi benar benar beliau berjihad dengan harta lebih
dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau
benar benar meamalkan kandungan Al Quran yang berbunyi:
Wajaahiduu bi'amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.
'Alimul 'allamah Al 'Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani,
adalah satu satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang
mendapat izin untuk mengijazahkan (baiat) Thariqat Sammaniyah,
karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil

bai'at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau
Jawa dan daerah lainnya.
'Alimul'allamah Al 'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani dalam
mengajar dan membimbing umat baik laki-laki maupun perempuan
tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat
beliau masih tetap mengajar.

Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu waktu
tertentu beliau datangkan doktcr dokter spesialis untuk memberiikan
penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai. Seperti dokter
spesialls jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta
dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau
sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dari
kesehatan lingkungan tempat pengajian.

Karomah- Karomahnya

Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton, biasanya setelah
selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa
orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang

tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam
meningkatkan amaliyah.

* Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu
masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketahui oleh
yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata
ditangan beliau terdapat sebuah buah rambutan yang masak, maka
heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan
rambutan itupun langsung beliau makan.

* Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguh jamuan
oleh shahibulbait maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir
habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu
diterima kembali oleh yang melayani beliau, ternyata, makanan yang
tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan akan tidak
dimakan oleh beliau

* Pada suatu musim kemarau yang panjang, dimana hujan sudah
lama tidak turun sehingga sumur sumur sudah hampir mengering,
maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa
secara turun.
Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau
mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu
keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada didekat
rumah beliau itu, maka beliau goyang goyangkan lah pohon pisang
tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan
derasnya.

* Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad yang ke 189 di

Dalam pagar Martapuram, kebetulan pada masa itu sedang musim
hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh 'Alimul
'allamah Al 'Arif Billah Asy Syeikh H. M. Zaini Abd. Ghani menuju
ketempat pelaksanaan haul tersebut, hal ini sempat mencemaskan
panitia pelaksanaan haul tersebut, dan tidak disangka sejak pagi
harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air
sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan
melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan
itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari.

*Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus
yang membusuk, anak yang tertelan peniti, orang yang sedang hamil
dan bayinya jungkir serta meninggal dalam kandungan ibunya,
sernuanya ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun
keluarga mereka pergi minta do'a dan pertolongan. 'Allimul'allamah
'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani. Dengan air yang beliau
berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.

Demlklanlah diantara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan
kepada diri seorang hamba yang dikasihiNya. ***

Karya tulis beliau adalah :
- Risalah Mubarakah.
- Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abd. Karim Al-Qadiri
Al Hasani As Samman Al Madani.
- Ar Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
- Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a'zham
Muhammad bin Ali Ba-'Alwy.

Wasiat Tuan Guru K.H. M. Zaini Abdul Ghoni
1. Menghormati ulama dan orang tua,
2. Baik sangka terhadap muslimin,
3. Murah hati,
4. Murah harta,
5. Manis muka,
6. Jangan menyakiti orang lain,
7. Mengampunkan kesalahan orang lain,
8. Jangan bermusuh-musuhan,
9. Jangan tamak atau serakah,
10. Berpegang kepada Allah, pada Qobul segala hajat,
11. Yakin keselamatan itu pada kebenaran,

Guru Sekumpul Dan Syariat Islam

Oleh Adi Permana*

KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang akrab dikenal Guru Sekumpul,
memang telah meninggal dunia tiga tahun lalu, tepatnya pada Rabu, 10 Agustus 2005
sekitar pukul 05.10 Wita dalam usia 63 tahun.

Kala itu, saya masih bekerja di Banjarmasin Post ngepos di Martapura. Kebetulan juga,
saya bersama rekan saya, Rasyid Ridha dan para redaktur lainnya yang pertama-tama
memberitakan kabar duka itu lewat headline Banjarmasin Post.

Saya sengaja mengangkat judul itu, karena setelah sekian lama saya bertanya-tanya
bagaimana sikap Guru Sekumpul terkait penerapan syariat Islam, ternyata terjawab juga
pertanyaan itu.

Beberapa bulan setelah Guru Sekumpul wafat, saya bersama sejumlah rekan wartawan
bersilaturahmi dengan Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin. Di tengah obrolan ringan, saya
memberanikan diri bertanya kepada beliau soal syariat Islam dan Guru Sekumpul.

Mengapa demikian? Asumsi saya, Pak Rudy sebelumnya pernah menjadi Bupati Banjar
periode 2000-2005, sedangkan beliau juga adalah salah satu anak angkat Guru Sekumpul.

Pak Rudy agak terkejut juga waktu itu. Namun, dengan gaya khasnya yang berbicara
tenang dan teratur, Pak Rudy akhirnya bercerita juga. “Memang ketika Abah Guru
(panggilan Pak Rudy kepada Guru Sekumpul) masih sehat dan saya masih Bupati
Banjar, beliau pernah menyinggung soal
syariat Islam,” ujarnya.

“Abah Guru bertanya kepada saya apakah

saya bisa menerapkan syariat Islam di
Kabupaten Banjar
. Waktu itu saya terdiam.
Agak lama, kemudian beliau kembali
menawarkan, kalau tidak bisa se-Kabupaten
Banjar, maka biarlah cukup syariat Islam itu di
satu kecamatan dari Kabupaten Banjar.
Saya
juga kembali terdiam ,tidak menjawab,”
cerita Pak Rudy.

Abah Guru kembali menawarkan kepada saya, katanya kalau tidak bisa satu
kecamatan, satu desa atau kelurahan pun jadi.
Lagi-lagi saya tak menjawab. Saya
hanya diam. Kemudian, dengan menghela nafas, Abah Guru lalu mengatakan,
maka biarlah dulu syariat Islam itu diterapkan di masing-masing keluarga,” kisah
Pak Rudy lagi dengan mata menerawang.

Dari kisah Pak Rudy itu saya menangkap bahwa ulama besar selevel Guru Sekumpul
sebenarnya adalah termasuk ulama yang sangat memperhatikan upaya penerapan syariat
Islam. Bahkan, bukan hanya sekedar di Kabupaten Banjar saja yang diidam-idamkan
beliau itu, melainkan juga untuk Indonesia.

Saya yakin, jika ada petinggi negara ini yang pernah berkunjung ke kediaman Guru
Sekumpul, insya Allah Guru Sekumpul pernah menawarkan hal serupa. Maka, bagi anak
murid Guru Sekumpul, pengagum beliau dan umat Islam di Kabupaten Banjar atau kaum
Muslimin se-Indonesia, marilah bersama-sama menyingsingkan lengan baju untuk
menegakkan syariat Islam di Indonesia, tentunya dengan dakwah dan cara-cara yang
terhormat.

* wartawan SKH Mata Banua (Banjarmasin) liputan Polda Kalsel dan Kejati Kalsel,

sejak Agustus 2007. Pernah bekerja pula di SKH Banjarmasin Post (2001-2007). Tabloid

Basis Ummat (2001), Buletin Aswaja (2000), Tabloid FISIP Unlam 'Tegar' (1994-1999).

"Rudy Ariffin Kuangkat Anak Dunia-Akhirat”

Ditulis oleh DUARUDY CENTER

H Rudy Ariffin bersama Keponakan Guru Sekumpul H Ahmad (kiri) dan salah satu anak
angkat Guru Sekumpul lainnya, Sayyid Ahmad Al Ahdal, di sela kampanye DUARUDY,
di Tanah Bumbu, Rabu (26/5)

‘IKAM kuangkat anak dunia-akhirat.’’ Itulah frase kalimat yang barangkali membuat
bulu kuduk merinding. Bukan sembarang orang yang menitahkan kata itu. Ia diucapkan
oleh seorang ulama besar Kalimantan Selatan yang masyhur hingga ke seantero dunia
syiar Islam, KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul.

Ungkapan yang keluar dari aulia Allah SWT itu dituturkan kepada H Rudy Ariffin pada
Rabu, 24 Mei 2000. Seusai bersalaman dan memeluk Rudy, Guru Sekumpul
menyilakannya masuk kamar. Di atas karpet yang menyerupai kasur beralas putih,
keduanya berbicara serius. Guru duduk menghadap Rudy sambil memeluk bantal
bersprei putih. Rudy sendiri lebih banyak diam dan menunduk.

Empat tahun berselang, suatu malam di bulan Ramadhan menjelang akhir 2004, seusai
shalat tarawih, Guru Sekumpul memanggil Rudy Ariffin. Isi pembicaraan: Guru meminta
Rudy menjadi calon gubernur 2005-2010. Semula Rudy menolak, dengan alasan ingin
tetap menjadi Bupati Banjar. “Biar ikam (kamu) maju, aku mendoakan.” Itulah kata
terakhir Guru. Habis berdoa, Guru menyilakan Rudy pulang.

Siapakah semua saksi deretan peristiwa itu? Dialah H Ahmad, satu-satunya keponakan
Guru Sekumpul. Kepada wartawan, H Ahmad menyatakan adalah benar bahwa Guru
Sekumpul yang menyuruh Rudy Ariffin mencalon sebagai Gubernur. Demikian pula
halnya dengan pengangkatan Rudy Ariffin sebagai anak angkat dunia-akhirat oleh Guru
Sekumpul.

“Saya saksi semuanya. Tidak ada yang perlu diragukan. Bahkan, Abah Guru sendiri yang
menyetujui foto beliau dijadikan bahan kampanye untuk meraih massa,” kata H Ahmad
kepada wartawan, di sela acara kampanye DUARUDY di Lapangan Sungai Danau, Satui,
Tanah Bumbu, Rabu (26/5).

Kalau sekarang ada yang mempersoalkan ada izin atau tidak foto Guru Sekumpul jadi
materi kampanye Rudy, H Ahmad mengaku aneh dan bingung. “Sebab, pada saat foto
Rudy Ariffin dan Abah Guru disebarkan pada 2005, Abah Guru masih hidup dan
mengetahui semua itu. Jadi, apanya yang tidak diizinkan,” kata H Ahmad, yang
didampingi anak angkat Guru Sekumpul, Sayyid Ahmad Al Ahdal.

Mengenai anak angkat, H Ahmad menegaskan, adalah benar Guru Sekumpul sendiri
yang menyatakan bahwa Rudy Ariffin sebagai anak angkat dunia akhirat. Jadi tidak ada
istilah bahwa itu cuma karangan dan rekayasa. “Itu keluar langsung dari mulut Abah
Guru. Itu kejadian pada 2004, siapa yang berani menyangsikan?” kata H Ahmad, yang
kini mendiami rumah Guru di Kompleks Sekumpul Martapura ini.

Mengenai adanya pemberitaan bahwa ada seorang tokoh ulama yang meragukan soal
tersebut, H Ahmad cuma tertawa. “Siapa ulama itu, mana dia tahu soal itu. Memangnya
pada pertemuan itu dia hadir. Siapa yang berani masuk kamar Abah Guru?” lanjut orang
kepercayaan Guru Sekumpul dan hampir selalu menyertai Guru kala menerima tamu ini.

H Ahmad bercerita, sejak 2004 Guru Sekumpul memang sangat dekat dengan Rudy.
Rudy juga kerap ikut pengajian setiap Ahad dan Kamis sore. Setiap kali ada tamu penting
dari Jakarta yang mau ke Sekumpul, hampir pasti Rudy menjadi penyambung lidah.
Bahkan, sejumlah pejabat tinggi di Kalimantan yang baru terpilih dan akan bertandang ke
Sekumpul, menjadikan Rudy sebagai perantara bertamu.

Ketika sakit, Rudy Ariffin berupaya mengusahakan kesembuhan Abah Guru. Salah
satunya, agar Guru tidak bolak-balik ke RS Ulin Banjarmasin untuk cuci darah dua kali
sepekan, Rudy Ariffin melengkapi RS Ratu Zalecha Martapura dengan alat cuci darah
(hemodialisa). Bahkan, ketika sakit mulai parah, Rudy membawa Guru ke RS Mount
Elizabeth Singapura pada awal Agustus 2005. Beberapa hari setelah diopname, kepada
Rudy, Guru mengaku ingin sekali cepat pulang ke Martapura. Apalagi, Rudy Ariffin
setelah itu lebih dulu pulang ke Kalsel untuk dilantik sebagai Gubernur pada 5 Agustus
2010. “Bila ikam bulik (kamu pulang), aku umpat bulik (ikut pulang) jua Di ai,”
kata Guru kepada Rudy.

Perihal kedekatan Guru dengan Rudy juga diakui oleh tokoh perempuan asal Sekumpul
Martapura, Hj Syarifah Rugayah. Pada saat pencalonan sebagai Gubernur, Syarifah
Rugayah yang meminta izin soal foto Guru disebarkan pada saat kampanye.

“Kepada saya, Abah Guru mengatakan, ‘sepanjang fotoku kawa (bisa) menarik massa,
pasang aja gasan (untuk) Rudy’
. Saya tidak mengada-ada. Itulah ucapan Abah Guru.
Jika beliau keberatan, tentunya sudah tidak beliau izinkan, toh saat itu beliau masih
hidup,” kata istri Habib Abdullah Assegaf ini.

Kesimpulannya, lanjut perempuan yang biasa disapa Ibu Ifah ini, mereka tidak berani
mengaku-ngaku soal anak angkat ataupun soal foto jika tanpa ada izin dari Guru
Sekumpul. “Kalau ada yang meragukannya, saya berani bertanggung jawab. Temui saja
saya,” kata Ibu Ifah. (DUARUDY Center)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->