Anda di halaman 1dari 18

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP

Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Yang diampu oleh :

Dr. H.Y. Suyitno MPd

Puspa Indhana
0907455

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2011
Apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan, dan apa fungsi filsafat pendidikan
terhadap praktek pendidikan, khususnya praktek BK di sekolah?

Jawab :

Definisi filsafat pendidikan:


Suyitno dalam silabus (FILSFAFAT_PENDIDIKAN_UTAMA_I)
Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan yang menggunakan pola berfikir
filsafat dalam menelaah obyek tentang segala hal tentang pendidikan. Ada tiga
kajian utama cabang filsafat pendidikan, yaitu kajian tentang ontology dan
antropologi pendidikan, epistemologi pendidikan dan aksiologi pendidikan, dan
implikasi telaahan dalam pendidikan berkaitan dengan kajian tentang tujuan,
hakikat pendidik dan anak didik, hakikat kurikulum/isi pendidikan, dan nilai guna
pendidikan atau metode pencapaian tujuan pendidikan.
Muhammad Labib al-Najihi
Filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat
itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.
Kilpatrik dalam Buku Philosophy of Education
"Philisophizing and education are, then, but two stages of the same endeavo;
Philisophizing to think out better values and idealism, education to realize these
in life, in human personality. Education acting out of the best direction
philosophizing in can give, tries and beginning primarly wit h the young, t o lead
people to build critrised values to their characters, and in this way to get the
highest ideals of philosophy progressively embodied in their lives." Berfilsafat dan
mendidik adalah dua fase dalam satu usaha. Berfilsafat adalah memikirkan dan
mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik
ialah usaha merealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu didalam kehidupan dan dalam
kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang disumbangkan
filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat membina nilai-
nilai di dalam kepribadian mereka, dan melembagakannya dalam kehidupan
mereka.
John Dewey
John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan
kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual)
maupun daya perasaan(emotional) menuju kearah tabi’at manusia, maka filsafat
juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan (Democracy and Educat ion,
p. 383)
Prof. Brameld
“That is, we should bring philosophy to bear upon the problems of education
as effiently…” yang berarti “Kita harus membawa filsafat guna mengatasi
persoalan-persoalan pendidikan secara efisien, jelas, dan sistematis sedapat
mungkin…”
Van Cleve Morris
“Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis,
karena ia pada dasarnya, bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup
secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen
(lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari
depan lebih baik (Van Cleve Morris, Becamingan Education, p.57 dalam buku
Filsafat Pendidikan Islam, Prof HM. Arifin, Med, p. 3).

Dari beberapa pendapat ahli tersebut mengenai definisi dari filsafat pendidikan secara
sederhana filsafat pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang filsafat yang ruang
lingkupnya terfokus dalam bidang pendidikan.
Secara bahasa Filsafat pendidikan dapat diartikan sebagai berikut :
Filsafat yaitu (1) pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai
hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; (2) teori yg mendasari alam
pikiran atau suatu kegiatan; (3) ilmu yg berintikan logika, estetika, metafisika, dan
epistemologi; (4) falsafah. Sedangkan Pendidikan yaitu (1) proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang (2) usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan
mendidik.
Jadi, filsafat pendidikan yaitu suatu pengetahuan dan penyelidikan
mengenai sebab, asal maupun hukum mengenai pendidikan yang merupakan
proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang.

Fungsi Filsafat Pendidikan


Filsafat digunakan dalam pendidikan sebagai media untuk mencari tahu
mengenai hal-hal yang mendasari suatu pendidikan berlangsung seperti sebab,
asal maupun hukum dari pendidikan.
Secara definisi filsafat pendidikan ada untuk mempermudah suatu pendidikan
berlangsung sesuai dengan hasil yang diharapkan dari pendidikan dengan cara
mengetahui, memahami dan menemukan proses terbaik untuk pendidikan melalui
analisis tujuan pendidikan.
Selain itu filsafat akan menelaah suatu realitas dengan lebih luas, sesuai
dengan ciri berpikir filsafat, yaitu radikal, sistematis, dan universal. Konsep
tentang dunia dan pandangan tentang tujuan hidup tersebut akan menjadi landasan
dalam menyusun tujuan pendidikan.
Adapun fungsi dalam Bimbingan Konseling, yaitu sebagai langkah guna
menjadi bagian dari suksesnya pendidikan tersebut, dengan cara menganalisis
hambatan yang mungkin terjadi, menghindari hambatan, meminimalisir hambatan
ataupun menjadi fasilitator jika terjadi hambatan yang dihadapi oleh pendidik
maupun anak didik.

Jelaskan pandangan aliran idealisme, realisme dan pragmatisme tentang pendidikan


dan bagaimana implementasinya dalam perumusan tujuan pendidikan,
kurikulum pendidikan, peranan pendidik dan anak didik, dan bagaimana
masing-masing aliran melakukan metodologi pendidikan di sekolah?

Jawaban :

Pandangan aliran idealisme, realisme dan pragmatisme tentang pendidikan


Pandangan aliran idealisme
Dalam hubungannya dengan pendidikan, idealisme memberi sumbangan yang
besar tehadap perkembangan filsafat pendidikan. Kaum idealis percaya bahwa anak
merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki pembawaan spiritual sesuai
potensialitasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus mengajarkan hubungan antara
anak dengan bagian alam spiritual. Pendidikan harus menekankan kesesuian batin
antara anak dan alam semesta. Pendidikan merupakan pertumbuhan ke arah tujuan
pribadi manusia yang ideal. Pendidik yang idealisme mewujudkan sedapat mungkin
watak yang terbaik. Pendidik harus memandang anak sebagai tujuan, bukan sebagai
alat.
Pandangan aliran realisme
Pendidikan menurut aliran ini tentu berbeda dengan pendapat aliran lainnya.
Pendidikan menurut aliran ini yaitu bahwa proses pendidikan proses pendidikan
berpusat pada tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi hebat, Tugas
manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum dan Tujuan
akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan. (Henderson)
Pandangan aliran pragmatisme
Filsafat pragmatisme beranggapan bahwa pikiran itu mengikuti tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu
bekerja. Ini berarti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang
makna kebenaran atau theory of thurth.
Pragmatisme menjadikan konsekuensi – konsekuensi praktis sebagai standar
untuk menentukan nilai dan kebenaran. Menurut aliran ini hakikat dari realiatas
adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Aliran ini berpendapat bahwa inti
dari realitas adalah pengalaman yang dialami manusia.
Filsuf paragmatisme berpendapat bahwa pendidikan harus mengajarkan
seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan
yang terjadi di dalam masyarakat. Sekolah harus bertujuan untuk mengembangkan
pengalaman-pengalaman yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada
kehidupan yang baik.
Dalam buku Introduction to Philosophy of Education dari Henderson, dalam
merumuskan tujuan pendidikan bersumber dari nilai-nilai kehidupan yang
terbaik. Jelaskan secara detail bagaimana dan apa nilai-nilai terbaik yang di
sebut dengan “summum bonum” itu? Anda kaitkan dengan nilai-nilai yang
terbaik dari bangsa Indonesia, bagaimana tujuan pendidikan nasional
dirumuskan?

Jawaban :

Kata Summum Bonum merupakan kutipan dari Brubacher, John S., 1950:318
yaitu "It is the educational summum bonum" yang berarti obyek tertinggi dari tujuan
pendidikan.

Nilai yang terkandung dalam kata Summum Bonum merupakan hal yang
menjadi esensi tertinggi seorang individu berkehidupan dan berpendidikan.

Dalam pendidikan suatu tatanan yang baik akan ditemukan jika sesuai dengan
apa yang ingin dicapai semisal hal-hal yang sudah didapat anak saat belajar, anak
memilih cara belajar mereka masing-masing. Hal tersebut didapat dari pengalaman
anak. Pendidikan essensialis merupakan sesuatu yang tetap dan tak berubah melalui
waktu (essensial). Kegagalan memahaminya dapat menimbulkan kegagalan
pendidikan. Pemikiran tersebut mendasari perumusan tujuan pendidikan yang teguh.
Juga membantu dalam merumuskan kurikulum yang sebenarnya.

Kebenaran yang menyeluruh tidak akan mengungkapkan kebenarannya secara


keseluruhan mengenai pengetahuan. Terdapat beberapa pengetahuan yang hanya
muncul dari perkiraan, kebenaranya belum dapat dinyatakan secara pasti.

Meskipun demikian, dapat digunakan asumsi yang menyatakan bahwa ada


prototipe dari kebenaran yang membantu guru dalam menyusun kurikulum kebenaran
yang bersifat sama di mana pun dan kapan pun membantu guru dalam menyusun
kurikulum. Wujud-wujud essensial dapat ditentukan sebelum sekolah atau belajar
dimulai. Kurikulum tersebut ditentukan bukan karena hasil belajar murid. Kurikulum
ada dan dapat ditentukan sebelum proses belajar berlangsung.

Pembuatan kurikulum serta tujuan pendidikan yang baik berhubungan dengan


komponen kehidupan yang baik yang berakar pada kebutuhan manusia untuk tetap
bertahan hidup. Dalam pembuatan tujuan pendidikan tentu diperlukan kurikulum yang
baik. Kurikulum yang baik tersebut dapat didapat melalui analisis kebutuhan
lingkungan sehingga dapat tercipta kurikulum yang baik sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai.

Tujuan pendidikan nasional secara formal di Indonesia telah beberapa kali


mengalami perumusan atau perubahan, Dalam pengembangan kurikulum, ada
sedemikian banyak “tekanan” dan “pesanan” sehingga tidak mudah untuk
memformulasikan prioritas kurikulum (Anna S. Suparno, 1994)

Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terakhir seperti disebutkan dalam


Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS Bab II Pasal 3 yang
berbunyi: Tujuan pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ada empat gerakan/ aliran dalam pendidikan yang dipengaruhi oleh pemikiran
idealisme, realisme, dan pragmatisme, yaitu esensialisme, perenialisme,
progresivisme, dan rekonstruksionisme. Jelaskan oleh anda secara detail masing-
masing gerakan tersebut, dan apa implikasinya terhadap praktek pendidikan di
sekolah di Indonesia! Berikan contoh sekolah-sekolah yang menganut prinsip
dari empat gerakan di atas, khususnya dari aspek kurikulumnya.

Jawaban :

Aliran esensialisme

Definisi

Aliran Esensialisme adalah aliran yang didasarkan pada nilai-nilai


kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.

Sejarah

Aliran ini muncul pada zaman renaissance dengan ciri utama yang
berbeda dengan progresivisme. Perbedaan utama terletak pada dasar
pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana aliran ini serba terbuka dengan
perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
Banyak yang menganggap bahwa Plato merupakan pencetus asas-asas filosofis aliran
esensialisme, dan Aristoteles dan Democratos sebagai peletak dasar-dasarnya. Kemunculan
aliran ini di dasari oleh pemikiran filsafat idealisme Plato dan realisme Aristoteles, namun
bukan berarti kedua aliran ini lebur kedalam paham esensialisme. Aliran filsafat essensialisme
pertama kali muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatisme abad
pertengahan. Filsafat ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama
karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia.
Ciri-ciri

Esensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif dan idealisme objektif


yang moderen, yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas
manusia memahami hukum alam dalam rangka penyesuaian diri dan
pengelolaannya.
Sasaran pendidikan yaitu mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya.
Pendidikan harus dibangun atas nilai-nilai yang kukuh, tetap dan stabil.
Nilai (kebenaran bersifat korespondensi ), berhubungan antara gagasan dengan fakta secara
objektif.
Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan merefleksikan humanisme klasik yang
berkembang pada zaman renaissance.
Contohnya :

Secara spesifik sekolah yang memiliki kurikulum khusus mengenai


pelestarian budaya mungkin belum begitu nampak jelas. Namun dengan
adanya beberapa pelajaran yang diwajibkan keberadaannya di setiap sekolah
seperti bahasa lokal, seni budaya, PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup)
ataupun sejarah merupakan langkah-langkah yang diharapkan menjadi suatu
media dalam melestarikan budaya nenek moyang.
Namun beberapa wacana menyebutkan bahwa salah satu sekolah di
Nanggroe Aceh Darussalam direncanakan akan menjadi salah satu sekolah
berbudaya lingkungan hidup. Sekolah tersebut adalah SMPN 19 percontohan
Banda Aceh. Sekolah Berbudaya Lingkungan Hidup merupakan salah satu
program yang dicanangkan oleh Pemerintah melalui Depdiknas (Direktorat
Tenaga Kependidikan — Ditjen PMPTK) dalam rangka menciptakan
lingkungan sekolah yang hijau, indah, bersih dan sehat, dengan tata ruang yang
tepat, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan aktif, inovatif
dan menyenangkan.

Konsep pelaksanaan Sekolah Berbudaya Lingkungan Hidup pada


tingkatan SMP meliputi Manajemen Sekolah (Visi, Misi Sekolah, Renstra,
Budaya dan Kebijakan), Kurikulum/Proses Belajar Mengajar (Silabus, Mulok,
Orientasi, Bahan Ajar), Peserta Didik/Siswa (Karya Nyata, Fortofolio LH, dan
Ekskul mengenai LH).

Selain itu, Pendidik dan Tenaga Kependidikan (wawasan mengenai


LH), Pembiayaan (dukungan pemerintah, wali siswa, industri dan masyarakat),
Sarana dan Prasarana (tata ruang, resapan air, poster, galeri, dll),
Lingkungan/Kultur Sekolah (kerjasama), Kepemimpinan Kepala Sekolah
(kebijakan pro lingkungan, jum’at bersih), Peran serta masyarakat
(penyuluhan, gotroy, UKS), dan Karya Produksi (pemanfaatan limbah
organik).

Aliran Perenialisme

Definisi

Filsafat Perenialisme berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang


bersifat abadi. Perenialisme, sesuai dengan namanya yang berarti segala
sesuatu yang ada sepanjang sejarah, maka perenialisme dianggap suatu aliran
yang ingin kembali atau mundur kepada nilai-nilai masa lampau dengan
maksud mengembalikan keyakinan akan nilai-nilai asasi manusia masa silam
untuk menghadapi problem kehidupan manusia saat sekarang dan bahkan
sampai kapanpun dan dimanapun.

Sejarah

Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke-20.
Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka
menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu
yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia sekarang ini penuh
kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan
moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk
mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan
kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan
hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini
adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

Ciri-ciri

Perenialisme berakar pada tradisi filosofis klasik yang dikembangkan oleh


plato, Aristoteles dan Santo Thomas Aquines.

Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran


dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu.

Nilai bersifat tak berubah dan universal.

Bersifat regresif (mundur) dengan memulihkan kekacauan saat ini melalui nilai
zaman pertengahan (renaissance).

Contoh :

Terdapat berbagai nilai-nilai yang tidak dapat dirubah dalam masyarakat


seperti nilai budaya yang sudah melekat dalam suatu masyarakat. Selain itu nilai-
nilai keagamaan pun tidak dapat dirubah. Sudah menjadi suatu hal yang mutlak dan
tidak dapat dirubah, meski oleh zaman. Jika memang terdapat berbagai hal
perubahan-perubahan bukan mengenai perubahan yang akan merubah secara
keseluruhan, tetapi munculnya hal-hal baru, semisal agama. Agama yang muncul
mengatasnamakan islam merupakan berbagai persepsi yang muncul terkait nilai-
nilai yang terkandung dalam agama islam, bukan perubahan nilai agama islam.

Beberapa sekolah di Indonesia, menggunakan aliran ini. Aliran yang


dilandasi dengan prinsip kenyataan, kebenaran dan nilai-nilai abadi. Seperti
sekolah-sekolah IT (Islam Terpadu yang menggunakan kurikulum yang didasari
oleh nilai-nilai keislaman, program-program yang dilaksanakan, maupun sistem
sekolah yang digunakan.

Salah satu sekolah yang menggunakan sistem tersebut seperti sekolah-


sekolah boarding school. Seperti Mahad Darul Arqom Garut yang memiliki visi
serta misi sebagai berikut :

VISI

Sebagai lembaga pendidikan kader yang berwatak kemuhammadiyahan,


berwawasan keilmuan, berdaya saing, ber-tafaqquh fiddin, dan ber-akhlaqul
karimah.

MISI

a. Menyelenggarakan serta mengembangkan pendidikan dan pengajaran


komprehensif yang mengintegrasikan sains religius (Al-‘Ulum An-Naqliyah) dan
sains rasional (Al-‘Ulum Al-‘Aqliyah).
b. Menyelenggarakan dan mengembangkan model-model pembinaan dan
pengaderan serta aktivitas dakwah Islamiyah.

c. Menyelenggarakan dan mencerahkan pendidikan khusus kepesantrenan dalam


penguasaan Al-‘Ulum An-Naqliyah melalui pendidikan bahasa Arab, bahtsul kutub,
dan kemuhammadiyahan.

d. Membudayakan santri dalam kegiatan olahrasa, olahrasio, dan olahraga serta uji
prestasi lainnya melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

e. Menjalin dan mengembangkan hubungan serta kerja sama kelembagaan dengan


berbagai pihak terkait, selama tidak bertentangan dengan asas dan prinsip-prinsip
Persyarikatan Muhammadiyah.

Aliran Progresivisme

Definisi

Aliran ini merupakan aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan


secara cepat. Aliran ini disebut juga instrumentalisme, karena aliran ini
beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup,
untuk mengembangkan kepribadian manusia. Selain itu aliran ini juga disebut
eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktekkan asas
eksperimen yang digunakan untuk menguji kebenaran suatu teori. Aliran ini
juga dinamakan enviromentalisme, karena aliran ini menganggap bahwa
lingkungan hidup mempengaruhi pembinaan kepribadian.

Sejarah

Bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri


sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan
pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada
masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat
pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa
tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley,
Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

Ciri-ciri

Progresivisme berakar pada pragmatisme.


Sasaran pendidikan ialah meningkatkan kecerdasan praktis (kompetensi) dalam rangka
efektivitas pemecahan masalah yang disajikan melalui pengalaman.
Nilai bersifat relatif, terutama nilai duniawi, menjelajah aktif, evolusioner dan konsekuensi
perilaku.

Contohnya :

Aliran ini berfokus pada perilaku yang dimunculkan akibat dari usaha
meningkatkan kecerdasan peserta didik. Sehingga perubahan pengetahuan
dimasa mendatang sangat mungkin terjadi. Pendidikan yang di berikan
menurut aliran ini berfokus pada anak bukan guru maupun bidang
muatannya. Aliran ini mempercayai bahwa lingkungan akan mempengaruhi
kepribadian seorang individu.

Saat ini pemerintah memberikan wewenang terhadap sekolah untuk


menentukan kurikulum yang digunakan oleh sekolah tersebut (disebut
KTSP (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Sekolah dapat menggunakan
kurikulum yang dianggap sesuai dengan keadaan sekolahnya, baik siswa,
guru maupun komponen sekolah. Sekolah Alam Depok, yang memiliki visi
serta misi sebagai berikut :

VISI

Menjadi institusi pendidikan yang mengarah dan berbasis kepada al qur’an dan sunnah. “Back
to nature” dan ” sustainable development.”

MISI

Membangun nilai - nilai Intelektual, emosional dan spiritual melalui interaksi optimal
dengan lingkungan alam sekitar.

Mengembangkan system pendidikan yang didasarkan pada pembangunan daya hidup dan
kemampuan entrepreneurial.

Mengutamakan pengembangan sikap kepemimpinan, integritas karakter, kepekaan budaya


dan kemampuan kerjasama untuk mempersiapkan para siswa menjadi agen perubah
di tengah masyarakatnya

Aliran Rekonstruksionisme

Definisi

Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki


anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia
itu sendiri.

Sejarah

Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir


didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan
melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada
tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan
adil. Selain itu sejarah munculnya aliran konstruktivisme tidak dapat lepas dari
peran Piaget. J, Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik
pengalaman fisis maupun pengalaman mental.

Pada tahun 1970, Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapientia


mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta alam
semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia menjelaskan bahwa
“mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu.’ Bagi Vico
pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain
halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus
menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak pengamat, Vico
tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008). Sekian lama gagasannya tidak
dikenal orang dan seakan hilang. Kemudian Jean Piagetlah yang mencoba
meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar.
Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan
Vico.

Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Ciri-ciri

1. Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.

2. Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.

3. Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.

4. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.

5. Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.

6. Guru adalah fasilitator.

Contohnya :

Sekolah yang menggunakan aliran ini biasanya diawal tahun ajaran


melakukan assesmen terhadap siswanya terlebih dahulu. Seperti Yayasan
Salman Alfarisi Bandung, yang didalamnya terdapat jenjang Playgroup, TK,
SD, sampai dengan SMP. Diawal tahun ajaran dilakukan psikotes, hasil
psikotes ini digunakan untuk menganalisis sejauh mana kemampuan serta
kebutuhan siswa yang akan mengikuti pelajaran di sekolah tersebut.

Kurikulum merupakan hasil studi mendalam Tim Pengembang


Kurikulum yang terdiri dari Tim Ahli YPM Salman ITB, Tim Ahli ITB, Tim
Ahli UPI dan Salman Al Farisi. Berikut implementasi dari kurikulum
tersebut:

Leadership (Kepemimpinan).

Leadership yang dikembangkan dalam pembelajaran di Yayasan Pendidikan Salman


Al Farisi mengacu kepada esensi tugas manusia di muka bumi sebagai Khalifatullaah
fi ardh dengan cara memanifestasikan sifat-sifat Illahi / Al Asma'ul Husna (seperti :
Ar-Rahman, Ar-Rahiim, Al-'Adl, dsb) dalam pembiasaan perilaku / practical life
sehari-hari melalui implementasi dan pengembangan 7 (tujuh) aspek kemampuan
Leadership, yaitu : mengenal diri, komunikasi, akhlak, proses belajar, membuat
keputusan, mengatur diri dan kerja kelompok.

Penerapan nilai-nilai keislaman.

Penerapan nilai-nilai keislaman dikembangkan berdasarkan konsep Tarbiyyah


Islamiyyah yang ber-uswah kepada misi pencerdasan Rasulullah SAW dengan tiga
aspek penting :
a. Ta'limul Ayat (qouniyah); yang berintikan
pengetahuan kuantitatif dan fenomenal serta
noumenal.
b. Ta'limul Kitab wal Hikmah; yang berintikan kajian dan apresiasi ayat-ayat Al-
Qur'an serta aktualisasi intelektual dan spiritual supaya berkembangnya kearifan
diri.
c. Tazkiyatun Nafs; yang berintikan kepada pengembangan ibadah sunnah dan
muamalah serta memelihara/menjaga integritas moral
Bahasa Asing.

Pembelajaran bahasa asing di Yayasan Pendidikan Salman Al farisi ditujukan dalam


rangka pengembangan keterampilan komukiasi receptif dan apresiatif siswa melalui
pengenalan dan peniruan kata yang diucapkan serta mengikuti perintah dengan
pendekatan yang menyenangkan (bermain).

Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi diarahkan pada pengembangan potensi siswa


baik pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga siswa memiliki
kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, memproses informasi
secara efektif, memahami konsep dasar penggunaan Teknologi Informasi dan
komunikasi dan sikap serta etika yang baik terhadap penggunaannya.

Apa dan bagaimana sekolah yang baik menurut Henderson? Jelaskan dengan tegas
dan jelas serta berikan contohnya di Indonesia.

Jawaban :

Sekolah yang baik menurut Henderson yaitu sekolah yang memiliki guru yang
dituntut untuk memahami arti komponen kehidupan yang baik. Komponen kehidupan
yang baik berpacu pada kebutuhan manusia. Guru yang dapat menganalisis komponen
tersebut, akan mempermudah pembuatan kurikulum. Pengembang kurikulum, dalam
membuat kurikulum harus didasarkan kepada kebutuhan manusia.

Menurut Briggs tugas pertama sekolah yaitu untuk mengajar siswa untuk
berbuat lebih baik hal-hal yang diinginkan mereka dan yang kedua adalah untuk
mengungkapkan aktivitas yang lebih kompleks sesuai dengan keinginan anak. Untuk
tugas ini guru membutuhkan ide yang jelas tentang apa yang diinginkan dan kegiatan
yang lebih kompleks tersebut beserta alasannya. Guru memiliki tanggung jawab
untuk membantu murid-muridnya melalui contoh, melalui pengajarannya, dan melalui
manajemen kelas dalam pencarian filsafat hidup mereka.

Di indonesia sendiri beberapa sekolah telah melakukan perubahan-perubahan


yang signifikan untuk menciptakan sekolah yang baik. Selain itu pemerintah juga
memberlakukan kurikulum yang dibuat oleh masing-masing sekolah yang disebut
dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kurikulum ini ditentukan oleh
masing-masing sekolah guna menentukan tujuan yang ingin dicapai serta strategi
pencapaiannya disesuaikan dengan kemampuan sekolah, baik siswa, guru dan
komponen sekolah lainnya. Kurikulum ini diberlakukan secara nasional sehingga
seluruh sekolah memberlakukan sistem ini.

Karena ini merupakan kebijaksanaan yang diberlakukan secara nasional


tentunya setiap sekolah sudah berusaha menerapkan hal tersebut disekolahnya masing-
masing. Namun realita yang ada, sekolah seringkali terganjal dengan berbagai hal
terkait penerapan sistem tersebut. Mungkin beberapa sekolah sudah melakukan
analisis terhadap kebutuhan siswanya, namun dalam kenyataannya sekolah tidak
memiliki kemampuan untuk menciptakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan
kebutuhan siswanya tersebut. Biasanya hal tersebut terjadi karena terdapat hambatan
yang memang harus diterima oleh pihak sekolah semisal masalah materi ataupun non
materi, dana ataupun sumberdaya manusia sekolah tersebut.

Salah satu sekolah yang dianggap baik salah satu contohnya sekolah yang
berdiri di bawah naungan yayasan Taruna Bakti, SD Taruna Bakti menggunakan
kurikulum yang memotivasi siswa untuk aktif dan berpartisipasi untuk mencapai
prestasi belajar yang optimal, menyediakan kebutuhan pengembangan diri siswa
melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dan ditunjang dengan sarana belajar
yang memadai. Selain itu diawal tahun ajaran, dilakukan psikotest terlebih dahulu.
Psikotest dilakukan untuk mengetahui kebutuhan siswa sehingga kurikulum yang
dibuat juga akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Jelaskan oleh anda tentang implikasi dari landasan filosofis Pancasila dari aspek
ontologi, epistemologi, antropologi dan aksiologinya terhadap rumusan tujuan
pendidikan, isi pendidikan/kurikulum pendidikan, peranan pendidik dan anak
didik, dan terhadap metodologi pendidikan yang diunggulkan dalam praktek
pendidikan di sekolah.

Jawaban :

Aspek Ontologi merupakan aspek yang menyelidiki tentang makna yang ada
(eksistensi dan keberadaan) manusia, benda, alam semesta (kosmologi), metafisika.
Sehingga, aspek ini adalah aspek yang membahas tentang hakikat subtansi dan pola
organisasi Ilmu Pendidikan berhubungan dengan peranan pendidik dan anak didik.

Aspek Epistimologi adalah aspek yang meneliti sumber pengetahuan, proses


dan syarat terjadinya pengetahuan, batas dan validitas ilmu pengetahuan. Jadi aspek
ini membahas tentang hakikat objek formal dan material Ilmu Pendidikan seperti isi
pendidikan atau kurikulum pendidikan.

Aspek lainnya yaitu aspek Antropologi yaitu aspek yang menyelidiki anatomi
manusia, yang berupa fisik seperti peninggalan sejarah atau ragawi seperti ilmu,
filsafat, kepercayaan dan lain-lain. Dalam aspek ini membahas tentang hakikat cara-
cara kerja dalam menyusun ilmu pengetahuan. Hubungannya dengan metodologi ilmu
pendidikan.

Ada pula aspek Aksiologi yaitu aspek Menyelidiki hakikat nilai, kriteria nilai,
dan kedudukan metafisika suatu nilai. Secara spesifik aspek ini membahas tentang
hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis Ilmu Pendidikan (tujuan pendidikan).

DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, Ishak. Filsafat Ilmu Pendidikan. 2001. Bandung: ROSDA KARYA

Effendi, Ridwan dan Malihah, Elly. 2007. Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan
Teknologi. Bandung: MAULANA MEDIA GRAFIKA

S, Ardiwinata, Jajat. Dan Hufad, Ahmad. 2006. Sosiologi Antropologi Pendidikan.


Bandung: UPI PRESS

ONLINE (Kamis dan Jum’at, 2dan 3 Juni 2011):


http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2107659-tujuan-pendidikan-
nasional/##ixzz1O54G8Ygz
http://kamusbahasaindonesia.org/filsafat
http://kamusbahasaindonesia.org/pendidikan
http://mahaddarularqamgarut.sch.id/da/tentang-auracms.html#translate-en
http://mbegedut.blogspot.com/2011/02/pengertian-filsafat-pendidikan-menurut.html
http://sahabatilmucenter.wordpress.com/landasan-pendidikanfilsafat-ilmu/
http://sataaswelputra.blogspot.com/2008/06/filsafat-pragmatisme-dan-
implikasinya.html
http://www.scribd.com/doc/6913114/Aliran-Idealisme-dalam-Pendidikan
http://www.sekolahalamdepok.com/
http://www.salman-alfarisi.com/umum/index.asp?id=4