Anda di halaman 1dari 20

ADMINISTRASI/MANAJEMEN PENDIDIKAN

Dalam pembahasan ini, konsep administrasi dipandang sama dengan konsep


Manajemen. Manajemen Pendidikan terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan
pendidikan, secara sederhana manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai
manajemen yang diterapkan dalam bidang pendidikan dengan spesifikasi dan ciri-ciri
khas yang berkaitan dengan pendidikan. Oleh karena itu pemahaman tentang
manajemen pendidikan menuntut pula pemahaman tentang manajemen secara umum.
Berikut ini akan dikemukakan tentang makna manajemen.
1. Konsep Administrasi/Manajemen
Dari segi bahasa management berasal dari kata manage (to manage) yang
berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office
Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus,
mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus
Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan Manage
sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management
the act of running and controlling business or similar organization” sementara itu
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose
penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan
pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan
dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang
lebih jelas.
Tabel 2.1.
Pendapat Pakar tentang Manajemen/Administrasi

No Pengertian Administrasi/manajemen Pendapat


1. The most comporehensive definition views management as(Lester Robert Bittel
an integrating process by which authorized individual(Ed), 1978 : 640)
create, maintain, and operate an organization in the selection
an accomplishment of it’s aims
2. Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan(Prajudi
daripada semua faktor dan sumberdaya, yang menurut suatuAtmosudirdjo,1982 :
perencanaan (planning), diperlukan untuk mencapai atau124)
menyelesaikan suatu prapta atau tujuan kerja yang tertentu
3. Management is the use of people and other resources to ( Boone& Kurtz. 1984
accomplish objective : 4)
4. .. management-the function of getting things done through(Harold Koontz, Cyril
people O’Donnel:3)
5. Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang(George R. Terry,
terdiri dari tindsakan-tindakan : Perencanaan,1986:4)
pengorganisasian, menggerakan, dan poengawasan, yang
dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran
yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya
manusia serta sumber-sumber lain
6. Manajemen dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau(Sondang P. Siagian.
ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka1997 : 5)
pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain’.
No Pengertian Administrasi/manajemen Pendapat
Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen
merupakan alat pelaksana utama administrasi
7. Management is the process of efficiently achieving theDe Cenzo&Robbin
objectives of the organization with and through people 1999:5
dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan
formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip dasarnya sama,
yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka mencapai suatu
tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada, sementara itu definisi
nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry menambahkan dengan proses
kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari Sondang P Siagian menambah
penegasan tentang posisi manajemen hubungannya dengan administrasi. Terlepas dari
perbedaan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang nampaknya menjadi benang merah
tentang pengertian manajemen yakni :
1. Manajemen merupakan suatu kegiatan
2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain
3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu
Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi
termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat memerlukan manajemen
untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik
dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis
melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana sampai tahapan
berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, dengan
mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan
manusia termasuk bidang pendidikan.
2. Konsep Administrasi/Manajemen Pendidikan
Setelah memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum maka
pemahaman tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi
prinsip serta fungsi-fungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, perbedaan akan
terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala sesuatu yang
berkaitan dengan masalah pendidikan.
Oteng Sutisna (1989:382) menyatakan bahwa Administrasi pendidikan hadir
dalam tiga bidang perhatian dan kepentingan yaitu : (1) setting Administrasi
pendidikan (geografi, demograpi, ekonomi, ideologi, kebudayaan, dan pembangunan);
(2) pendidikan (bidang garapan Administrasi); dan (3) substansi administrasi
pendidikan (tugas-tugasnya, prosesnya, asas-asasnya, dan prilaku administrasi), hal
ini makin memperkuat bahwa manajemen/administrasi pendidikan mempunyai bidang
dengan cakupan luas yang saling berkaitan, sehingga pemahaman tentangnya
memerlukan wawasan yang luas serta antisipatif terhadap berbagai perubahan yang
terjadi di masyarakat disamping pendalaman dari segi perkembangan teori dalam hal
manajemen/administrasi.
Dalam kaitannya dengan makna manajemen/Administrasi Pendidikan berikut
ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan
para ahli. Dalam hubungan ini penulis mengambil pendapat yang mempersamakan
antara Manajemen dan Administrasi terlepas dari kontroversi tentangnya, sehingga
dalam tulisan ini kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan makna yang sama.
Tabel 2.2.
Pendapat Pakar tentang Administrasi/manajemen Pendidikan
No Pengertian Administrasi/manajemen Pendidikan Pendapat
1. Administrasi pendidikan dapat diartikan sebagaiDjam’an Satori, (1980:
keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan4)
semua sumber personil dan materil yang tersedia dan
sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan secara efektif dan efisien…
2. Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagaiMade Pidarta, (1988:4)
aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar
terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang
telah ditentukan sebelumnya
3. Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan,Biro Perencanaan
peng-organisasian, memimpin, mengendalikanDepdikbud, (1993:4)
tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan
kehidupan bangsa, mengembangkan manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang
luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap, mandiri, serta bertanggung jawab
kemasyarakat dan kebangsaan
4. educational administration is a social process that takeCastetter. (1996:198)
place within the context of social system
5. Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi prosesSoebagio Atmodiwirio.
perencanaan, pengorganisasian, memimpin,(2000:23)
mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan…
6. Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yangEngkoswara (2001:2)
mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif
dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi
manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang
disepakati bersama
dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen/administrasi
pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau
administrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang
terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat
untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan
pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang
dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.
Menurut Engkoswara (2001:2) wilayah kerja manajemen pendidikan dapat
digambarkan secara skematik sebagai berikut :
Perorangan
Garapan SDM SB SFD
Fungsi

TPP
Perencanaan
Pelaksanaan

Pengawasan
Kelembagaan
Gambar 2.1.
Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan
gambar di atas menunjukan suatu kombinasi antara fungsi manajemen dengan bidang
garapan yakni sumber Daya manusia (SDM), Sumber Belajar (SB), dan
Sumber Fasilitas dan Dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang dikerjakan
dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai Tujuan
Pendidikan secara Produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun kelembagaan
Lembaga pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan kerangka kelembagaan
dimana administrasi pendidikan dapat berperan dalam mengelola organisasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu
organisasi dalam hal ini sekolah, administrasi pendidikan dapat dilihat dalam tiga
tingkatan yaitu tingkatan institusi (Institutional level), tingkatan manajerial
(managerial level), dan tingkatan teknis (technical level) (Murphy dan Louis, 1999).
Tingkatan institusi berkaitan dengan hubungan antara lembaga pendidikan (sekolah)
dengan lingkungan eksternal, tingkatan manajerial berkaitan dengan kepemimpinan,
dan organisasi lembaga (sekolah), dan tingkatan teknis berkaitan dengan proses
pembelajaran. Dengan demikian manajemen pendidikan dalam konteks kelembagaan
pendidikan mempunyai cakupan yang luas, disamping itu bidang-bidang yang harus
ditanganinya juga cukup banyak dan kompleks dari mulai sumberdaya fisik,
keuangan, dan manusia yang terlibat dalam kegiatan proses pendidikan di sekolah
Menurut Consortium on Renewing Education (Murphy dan Louis, ed. 1999:515)
Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang perlu dikelola
untuk keberhasilan pendidikan yaitu :
1. Integrative capital
2. Human capital
3. Financial capital
4. Social capital
5. Political capital
modal integratif adalah modal yang berkaitan dengan pengintegrasian empat modal
lainnya untuk dapat dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan, modal
manusia adalah sumberdaya manusia yang kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran, modal keuangan
adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan,
modal sosial adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah
sebagai komunitas, dan modal politik adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk
melakukan proses pendidikan/pembelajaran.
Dengan pemahaman sebagaimana dikemukakan di atas, nampak bahwa salah
satu fungsi penting dari manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan proses
pembelajaran, hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai dengan evaluasi
untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam hubungan ini Sekolah sebagai
suatu lembaga pendidikan yang melakukan kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu
mengelola kegiatan tersebut dengan baik karena proses belajar mengajar ini
merupakan kegiatan utama dari suatu sekolah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan
demikian nampak bahwa Guru sebagai tenaga pendidik merupakan faktor penting
dalam manajemen pendidikan, sebab inti dari proses pendidikan di sekolah pada
dasarnya adalah guru, karena keterlibatannya yang langsung pada kegiatan
pembelajaran di kelas. Oleh karena itu Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidik
dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan bagaimana kontribusinya bagi
pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan sesuatu yang harus mendapat
perhatian dari fihak manajemen pendidikan di sekolah agar dapat terus berkembang
dan meningkat kompetensinya dan dengan peningkatan tersebut kinerja merekapun
akan meningkat, sehingga akan memberikan berpengaruh pada peningkatan kualitas
pendidikan sejalan dengan tuntutan perkembangan global dewasa ini

Komentar

• Tami On September 17, 2008 at 5:14 am

Permalink | Balas

ternyata,,, ada juga perbedaan antara manajemen dan administrasi.

• Qinimain Zain On September 28, 2008 at 5:32 am

Permalink | Balas

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 4 Januari 2008, dengan


judul asli: Strategi Evaluasi Milenium III – Matinya Ilmu Administrasi &
Manajemen).

Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen


(Satu Sebab Krisis Indonesia)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience).


m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat


terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan
mengatasi krisis ini?

Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar
masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha
seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara)
memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif
dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang
dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan,
sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat
diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam
berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola
apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu
pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik,
keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya
manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik,
budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi
sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau
tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti
pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui
(to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja
yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang
kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada
segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari
pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan
sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001),
sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum
memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah,
ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar
(yang malah dicetak berulang-ulang):

Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa


ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah
dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman).
Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari
penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan,
maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi
syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah
itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia,
cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen,
baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada
kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan
suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini
menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu
pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada
University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya
yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi.
Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam
tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur
keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-
ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan
ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan
keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu
Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25,


cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam
tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan
manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL
QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III
Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and
Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap
Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena
tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri
bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC
Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan
prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini
diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation
(1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya,
perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di
tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini
peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian
dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini
berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap
matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam
pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan
pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap
Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial
(tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan
ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu
pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam
ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan
besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau
Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik)
ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial
lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik
ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur.
Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang
tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran,
struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta


krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican
Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-
Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to
Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).

Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk
memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan
sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya,
adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan,
departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan
menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran,
struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan


tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

BAGAIMANA strategi Anda?


Pengertian Manajemen Pendidikan
15th January 2011 · 0 Comments · 657 Pengunjung

Pengertian Manajemen Pendidikan

[table-of-content]

Pengertian Pendidikan

1. Johann Amos Comenuis. Ia berpendapat bahwa pendidikan harus


diorientasikan ke dunia sana (baka), keakhirat. Ia menekankan pendidikan budi
pekerti dan kearifan.
2. Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung : Pendidikan ialah yang memiliki 3
macam fungsi, yaitu : 1). Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-
peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini
berkaitan erat dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri 2).
Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan
tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. 3). Memindahkan nilai-nilai
yang bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi
syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (surviral) suatu masyarakat dan peradaban.
Dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration)
suatu masyarakat, maka kelanjutan hidup tersebut tidak akan dapat terpelihara
dengan baik yang akhirnya akan berkesudahan dengan kehancuran masyarakat
itu sendiri.
3. John Dewey, Ia penganut aliran filsafat pragmatisme. Seorang pragmatis
berpendapat bahwa suatu pengetahuan itu benar apabila pengetahuan itu
berguna dalam memecahkan masalah kehidupan. Jadi mengandung nilai praktis.
Pendidikan memiliki 2 aspek yakni aspek psikologis dan aspek sosiologis. Aspek
psikologis artinya tiap anak mempunyai daya-daya atau potensi yang harus
dikembangkan. Aspek sosiologis adalah bahwa perkembangan daya atau potensi
itu diarahkan agar bremanfaat dalam kehidupan sosial.
4. Abdul Fattah Jalal, mendefinisikan pendidikan sebagai proses pemberian
pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman
amanah, sehingga penyucian atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan
menjadikan diri manusia berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk
menerima al-hikmah serta mempelajari apa yang bermanfaat baginya dan yang
tidak diketahuinya.
5. Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan
secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani
siterdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.
6. Francis Bacon, ia berkeyakinan bahwa pendidikan ialah apabila manusia ingin
sarnpai pada kebenaran harus meninggalkan cara berpikir deduktif dan beralih ke
cara berpikir yang induktif. Dengan cara berpikir yang analitik orang akan dapat
membuka rahasia alam dan dengan terbukanya alam itu kita sebagai bagian dari
alam dapat menentukan sikap dan mengatur strategi hidup. Artinya, dengan
terbukanya alam kita rnanusia dapat menyesuaikan atau memanfaatkan alam
dari hidup dan kehidupan manusia.
7. Jean Baptiste La Salle, ia berpendapat bahwa pendidikan harus tertuju kepada
hal-hal yang bersifat kebakaan (keakhiratan). Di dalam menyiasati pendidikan ia
menggunakan alat pendidikan yang terkenal yakni hukuman dan ganjaran. Ia
menekankan pengajaran kelompok.
8. John Locke (1632-1704), ia seorang tabib yang ahli filsafat dan ahli ilmu jiwa.
Tentang masalah pendidikan Locke berpendapat bahwa pendidikan itu berkuasa
bahkan maha kuasa. Ia tidak percaya adanya pembawaan (bakat). Tujuan
pendidikan menurut dia adalah membetuk seseorang kasatria (gentleman) yang
saleh dan berguna bagi hidup bersama dalam masyarakat. Sebagai seorang tabib
(dokter) ia menekankan pentingnya pendidikan jasmani. Locke juga adalah
seorang deist (De = Deus = Tuhan). Tetapi ia tidak mau menerima ajaran agama
yang dogmatis (kaku, beku, lugu). Baginya agama adalah akal budi. Oleh karenat
itu ia memperhatikan pendidikan kesusilaan. Manusia harus mampu munguasai
diri sendiri dan memiliki hargadiri.
9. Menurut M.J. Langeveld ; "Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa
membimbing yang belum kepada kedewasaan (Kartini Kartono, 1997:11).
10.Zuhairin (1982), ”Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi
perbuatan atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan)
pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada
generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi
fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah.”
11.Friedrich Frobel (1782-1852), sangat mencintai anak dengan dunia anak-
anaknya. Dia berpendapat bahwa Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang
memperhatikan persesuaian antara kebutuhan dengan alam anak-anak. Perinsip
pendidikan Frobel adalah anak harus dibuat aktif, aktif bermain dan aktif bekerja
serta aktif berlatih. Perinsip didaktiknya adalah pengajaran harus dimulai dari
yang sederhana, yang gampang meningkat kepada hal-hal yang komplek, yang
sulit.
12.Montessori : Asas pendidikan yang dikehendaki Montessori adalah
kebebasan/kemerdekaan. Dalam menyiasati pendidikan (pengajaran) ia tidak
setuju dengan hukuman. Hukuman akan datang dari anak itu sendiri manakala
anak itu mengalami kegagalan dan berbuat kesalahan. Prinsip-prinsip dasar
metode pengajaran Montessori ; 1) prinsip kebebasan, 2) prinsip ilmiah, 3)
prinsip keaktifan sendiri.
13.Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf (1986) berpendapat bahwa,
Pendidikan adalah suatu pengajaran yang melatih perasaan sehingga dalam sikap
hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis
pengetahuan, dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai-
nilai etis.
14.Endang Saifuddin Anshari, “Pendidikan adalah proses bimbingan (pimpinan,
tuntunan, usulan) oleh obyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran,
perasaan, kemauan, intuisi, dan sebagainya ), dan raga obyek didik dengan
bahan-bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode
tertentu, dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi
tertentu disertai evaluasi diri.”
15.UU Nomor 20 tahun 2003,”Pengertian Pendidikan yaitu usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara”.
16.Mustofa Al-Ghulayani : Bahwa Pendidikan itu ialah menanamkan akhlak yang
mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya
dengan petunjuk dan nasihat, sehingga ahklak itu menjadi salah satu
kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan,
kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
17.J. J. Rousesau berpendapat bahhwa pada dasar (asal)-nya rnunusia baik,
menjadi jelek (jahat) karena peng lingkungan. Dasar pendidikan menurut
Rousseau adalah pembawaan dan tujuan pendidikan ialah membentuk manusia
yang bebas merdeka. Sifat pendidikan adalah individualistis dan individu (anak)
itu harus dijauhkan dari pengaruh masyarakat dan bahkan dijauhkan dari orang
tuanya. Hasil pemikirannya dituangkan dalam buku Le Contract Social berisi
tentang ilmu kenegaraan dan Emile yang berisi bagaimana mendidik anak sampai
dewasa yang baik dan benar.
18.Pendapat Pentalozzi J.H. Pestalozzi sangat mementingkan pendidikan keluarga.
Keluarga menurut Pestalozzi merupakan kunci keberhasilan pendidikan. Inti
pendidikan adalah pendidikan kesusilaan dan pendidikan keagaman. Dasar
pendidikan menurut dia adalah kodrat anak dan tujuan pendidikan
mengembangkan segala daya kemampuan anak untuk mencapai kemanusiaan
sejati. Adalah menjadi tugas pendidik agar anak dapat mengentaskan dirinya
sendiri (dapat hidup mandiri).
19.Munurut Rasyid Ridho, pendidikan (at-ta’lim) adalah proses transmisi berbagai
ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan
tertentu. Definisi ini berpijak pada firman Allah al-Baqoroh ayat 31 tentang
allama Allah kepada Nabi Adam as, sedangkan proses tranmisi dilakukan secara
bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang
diajarkan Allah kepadanya.
20.Syahminan Zaini; “Pengertian Pendidikan dalam pandangan islam adalah
membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak
cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai
semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.
21.Anwar Jasin (1985), “Pendidikan adalah kegiatan mengarahkan perkembangan
seseorang sesuai dengan nilai-nilai yang merupakan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan mereka. Maka, dengan pengertian atau definisi itu, kegiatan atau
proses pendidikan hanya berlaku pada manusia tidak pada hewan."
22.Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi
peranannya di masa yang akan datang”. Istilah pendidikan berasal dan kata
“didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti
“perbuatan, hal, cara, dan sebagainya”.
23.Menurut Poerbacaraka dan Harahap (dalam Muhibbin Syah, 2001:11)
pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa dengan pengaruhnya
untuk meningkatkan [mentalitas] anak menuju kedewasaan, yakni mampu
menumbuhkan tanggung jawab moral atas segala perbuatannya. Menurut M.J.
Langeveid (dalam Hery Noer Aly, 1999:3) pendidikan atau pedagogik adalah
kegiatan membimbing anak manusia menuju kedewasaan dan kemandirian.
Kingsley Price (dalam Hery Noer Aly, 1999: 3) mengemukakan bahwa
pendidikan adalah proses dimana kekayaan budaya non-fisik [mental] dipelihara
atau dikembangkan dalam mengasuh anak atau mengajar orang-orang dewasa.
24.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah
proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang/kelompok dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Hery Noer Aly,
1999: 2). Ahmad D. Marimba (1989: 19) mengartikan pendidikan sebagai
bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan
rohani si terdidik menuju terbentuknva kepribadian yang utama.

Secara terminologis, para ahli pendidikan mendefinisikan kata pendidikan


dengan berbagai tujuan. Abdurahman Al-Bani mendefinisikan pendidikan
(tarbiyah) adalah pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap
menurut ajaran Islam (Ahmad Tafsir, 200 1: 29). Dalam Dictionary of Educaition
dinyatakan bahwa pendidikan adalah:
a. Proses seorang mengembangkan kemampuan, sikap dan tingkah laku lainnya di
dalam masyarakat tempat mereka hidup.
b. Proses sosial yang terjadi pada orang yang dihadapkan pada pengaruh
lingkungannya yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang di sekolah),
sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan
kemampuan individu yang optimum. Dengan kata lain, perubahan-perubahan
yang sifatnya permanen dalam tingah laku, pikiran dan sikapnya (Nanang Fattah,
2003: 4).
Dari beberapa definisi di atas, kalau diteliti lebih lanjut, meskipun batasan
yang dikemukakan para ahli berbeda, terlihat garis benang merah bahwa
pendidikan merupakan usaha peningkatan kualitas diri manusia dalam segala
aspeknya [aspek jasmaniah dan rohaniah[. Jadi, pendidikan merupakan aktivitas
yang disengaja dan mengandung tujuan yang tentu dan di dalamnya terlibat
berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya sehingga
membentuk suatu sistem yang saling mempengaruhi. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk
meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya
yaitu rohani (pikiran, karsa, rasa, cipta, dan hati nurani) dan jasmani (panca
indra serta keterampilan).

Pengertian Manajemen

1. Menurut Syamsi (1985:10) “Manajemen adalah seluruh kegiatan dalam setiap


usaha kerjasama yang dilakukan oleh sekelompok atau lebih orang-orang secara
bersama-sama dan simultan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.
2. Menurut Soepardi (1988:7) “ Manajemen adalah keseluruhan proses kegiatan-
kegiatan kerja sama yang dilakukan oleh sekelompok atau lebih oarang-orang
secara bersama-sama dan simultan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3. Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah
suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan
dan diawasi.
4. Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu
melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai
tujuan yang sama.
5. Menurut Georgy R. Terry (1986:4), manajemen adalah suatu proses atau
kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok
orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang
nyata.
6. Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu
pekerjaan melalui orang lain dengan kata lain bahwa para manajer mencapai
suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk
melaksanakan apa saja yang perlu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara
melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.
7. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan,
pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi
dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
8. Dr. Sp. Siagian dalam buku Filsafat Manajemen Management, management
dapat didefinisikan sebagai “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh
suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain”.

9. Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdulrachman dalam buku Kerangka Pokok-Pokok


Management, management dapat diartikan :
a. kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas;
b. proses, yakni kegiatan dalam rentetan urutan- urutan;
c. insitut/ orang – orang yang melakukan kegiatan atau proses kegiatan
10. Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ
dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa :
“Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan
melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning),
mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan
(controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang
berkesinambungan”.
11. William H Newman (1951) mendefinikan manajemen adalah dapat dipahami
sebagai pembimbingan, kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu
kelompok orang-orang ke arah pencapaian tujuan bersama.
12. Sondang P. Siagian (1985;2) mengatakan bahwa manajemen adalah
keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yang telah diambil dan
pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
13. Menurut Prajudi Atmosudirdjo, (1982 : 124). Manajemen itu adalah

pengendalian dan pemanfaatan daripada semua faktor dan sumberdaya, yang


menurut suatu perencanaan (planning), diperlukan untuk mencapai atau
menyelesaikan suatu prapta atau tujuan kerja yang tertentu.
14. Menurut Boone dan Kurtz (1984 : 4). Management is the use of people and
other resources to accomplish objective.
15. Menurut Sondang P. Siagian (1997 : 5). Manajemen dapat didefinisikan sebagai
‘kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka
pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat
pula dikatakan bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama Manajemen.

Pengertian Manajemen Pendidikan

1. Manajemen Pendidikan menurut Syarif (1976 :7) “segala usaha bersama untuk
mendayagunakan sumber-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan
efisien untuk menunjang tercapainya pendidikan.
2. Menurut Sutisna (1979:2-3) adalah : Manajemen pendidikan adalah
keseluruhan (proses) yang membuat sumber-sumber personil dan materiil sesuai
yang tersedia dan efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama. Ia
mengerjakan fungsifungsinya dengan jalan mempengaruhi perbuatan orang-
orang. Proses ini meliputi perencanaan, organisasi, koordinasi, pengawasan,
penyelenggaraan dan pelayanan dari segala sessuatu mengenai urusan sekolah
yang langsung berhubungan dengan pendidikan seklah seperti kurikulum, guru,
murid, metode-metode, alat-alat pelajaran, dan bimbingan. Juga soal-soal
tentang tanah dan bangunan sekolah, perlengkapan, pembekalan, dan
pembiayaan yang diperlukan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya.
3. Djam’an Satori, (1980: 4). Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai
keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil
dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
4. Made Pidarta, (1988:4). Manajemen Pendidikan diartikan sebagai aktivitas
memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.
5. Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4). Manajemen pendidikan ialah proses
perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan,
sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan
kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur,
memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.
6. Castetter. (1996:198). Managing of educational is a social process that take
place within the context of social system.
7. Soebagio Atmodiwirio. (2000:23). Manajemen pendidikan dapat didefinisikan
sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga
pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
8. Engkoswara (2001:2). Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang
mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi
manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.
9. Hadari Nawawi (1981 : 11) mengemukakan Manajemen pendidikan, adalah
rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama
sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan, secara berencana dan
sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama lembaga
pendidikan formal.
10.Encyclopedia of educational research chester W. Haris mendefinisikan
Manajemen pendidikan sebagai suatu proses pengintegrasian segala usaha
pendayagunaan sumber-sumber personalia dan material sebagai usaha untuk
meningkatkan secara efektif pengembangan kualitas manusia.
11.Purwanto dan Djojopranoto (1981:14) bahwa : Manajemen pendidikan
merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua
sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
12.Menurut Stephen J. Knezeich Manajemen pendidikan merupakan sekumpulan
fungsi-fungsi organisasi yang memiliki tujuan utama untuk menjamin efisiensi
dan efektivitas pelayanan pendidikan, sebagaimana pelaksanaan kebijakan
melalui perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepemimpinan,
penyiapan alokasi sumber daya, stimulus dan koordinasi personil, dan iklim
organisasi yang kondusif, serta menentukan perubahan esensial fasilitas untuk
memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat di masa depan.
13.Daryanto (1998:8) mengemukakan Manajemen pendidikan adalah suatu cara
bekerja dengan orang-orang, dalam rangka usaha mencapai tujuan pendidikan
yang efektif.
14.Dasuqi dan Somantri (1992:10) mengemukakan Manajemen pendidikan adalah
upaya menerapkan kaidah-kaidah Manajemen dalam bidang pendidikan.
15.Sagala (2005:27) mengemukakan bahwa Manajemen pendidikan adalah
penerapan ilmu Manajemen dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan
Manajemen dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan
praktek-praktek pendidikan.
Manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen
dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan
efisien.
16.Gaffar mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai
suatu proses kerja sama yang sistematis, sistemik, dan komprehensif dalam
rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Manajemen pendidikan juga
dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan
proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan
jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang (Mulyasa, 2002: 19).
17.Menurut H. A. R. Tilaar (2001:4) manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan
yang mengimplementasikan perencanaan atau rencana pendidikan.

Manajemen pendidikan adalah segala usaha bersama mulai dari perencanaan,


pengorganisassian, pelaksanaan, dan pengevaluasian dalam hal
mendayagunakan semua sumber daya yang ada secara efektif dan efisien guna
pencapaian tujuan yang teelah ditetapkan yaitu tujuan pendidikan.

Jadi “Manajemen pendidikan adalah proses keseluruhan kegiatan bersama dalam


bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan
menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materiil,
maupun spirituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.”
Kepemimpinan dalam manajemen pendidikan merupakan faktor kunci keberhasilan
suatu organisasi. Kepemimpinan merupakan inti dalam manajemen pendidikan. Maju
mundurnya suatu organisasi banyak dipengaruhi oleh faktor kepemimpinannya.
Kepemimpinan akan berjalan secara efektif dan efisien apabila dilaksanakan oleh
seorang pemimpin yang jujur, bertanggung jawab, transparan, cerdas, memahami
tugas dan kewajibannya, memahami anggotanya, mampu memotivasi, dan berbagai
sifat yang baik yang terdapat dalam diri seorang pemimpin. Ia sadar bahwa pemimpin
memiliki arti sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dirinya sendiri dan orang lain
melalui keteladanan, nilai-nilai serta prinsip yang akan membawa kebahagiaan dunia
dan akhirat. Seorang yang mendapat amanah sebagai eksekutif akan menunjukkan
nilai-nilai moral tersebut, sehingga mereka akan memimpin berdasarkan prinsip
(principle centered leadership). Toto Tasmara (2002:196) menyatakan bahwa
memimpin bukan hanya mempengaruhi agar orang lain mengikuti apa yang
diinginkannya. Bagi seorang muslim, memimpin berarti memberikan arah atau visi
berdasarkan nilai-nilai ruhaniah. Mereka menampilkan diri sebagai teladan dan
memberikan inspirasi bagi bawahannya untuk melaksanakan tugas sebagai
keterpanggilan ilahi. Sehingga mereka memimpin berdasarkan visi atau mampu
melihat dan menjangkau ke masa depan (visionary leadership).

Ariani (2003:95) menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan proses pemberian


pengaruh yang tidak memaksa. Pemimpin mempunyai pengikut yang secara sukarela
melaksanakan tugas-tugasnya dengan keahlian dan intelektualnya sebagai sumber
kekuasaan. Kekuasaan tersebut digunakan untuk memelihara fleksibilitas dan
memperkenalkan perubahan. Mereka cenderung menyukai perubahan dan
menganggap konflik adalah wajar, bahkan harus ada. Bagi pemimpin. kegagalan
adalah hal yang biasa dan merupakan konsekuensi dari proses belajar. Apabila ia
merasa gagal ia harus belajar dan berani mengakui kegagalannya. Pemimpin yang
baik, tidak hanya mengakui kegagalan yang ia lakukan tetapi ia berusaha keras untuk
memperbaiki kegagalan yang pernah dilakukannya. Pemimpin yang berhasil ia selalu
berpikir, berorientasi, dan mengambil keputusan untuk jangka panjang dan
bertanggung jawab. Mereka tidak memerintah dan mengendalikan pengikut,
melainkan mengajak untuk melakukan yang terbaik, memberikan arahan dan
kebebasan berkreasi pada pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk lebih jelasnya akan dikemukakan beberapa pengertian tentang kepemimpinan


menurut para ahli. Wahjosumidjo (1987:10) menyatakan bahwa apabila seseorang
ingin mempelajari dan memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan
kepemimpinan, perlu lebih dahulu mengerti dan paham arti atau batasan istilah
kepemimpinan.

Pengertian kepemimpinan yang di kutip oleh Paul Hersey and Blanchart (1977:83-
84) dalam bukunya ” Management Organizational Behavior” adalah sebagai berikut:
1. Leadership is the activity of influencing exercised to strive willingly for group
objectives (George P Terry).
2. Leadership as interpersonal influence exercised in situation an directed, through the
communication process, toward the attainment of a specialized goal the goals (Robert
T Irving R. Wischler, Fred Na.ssarik).
3. Leadership is influencing people to follow in the achievement of a common goal
(Harold Koonte and Cyril O’Donnell).
Menurut Hemhiel and Coons (1957:7) bahwa kepemimpinan adalah perilaku dari
seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan
yang akan dicapai bersama (shared goal). Sedangkan menurut Rauch and Behling
(1984:46) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-
aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan.
Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan berarti) terhadap
usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang
diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs and Jacques, 1990:281). Lebih lanjut
ditegaskan Kouzes dan Posner (1993:11) menyatakan “Leadership is a relationship,
one between constituent and leader that is based in mutual needs and interest.”

Sebagai hubungan antara anggota-anggota organisasi dan pemimpin, maka


kepemimpinan berlangsung atas dasar adanya saling membutuhkan dan minat yang
sama dalam rangka mencapai tujuan.

Wahjosumidjo (1987:11) menjelaskan bahwa butir-butir pengertian dari berbagai


kepemimpinan pada hakikatnya memberikan makna:
1. Kepemimpinan adalah suatu yang melekat pada din i seorang pemimpin yang
berupa sifat-sifat tertentu seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability) dan
kesunggupan (capability).
2. Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan (activity)pemimpin yang tidal( dapat
dipisahkan dengan kedudukan (posisi) serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri.
3. Kepemimpinan adalah sebagai proses antar hubungan atau interaksi antara
pemimpin, pengikut dan situasi.

Sejalan dengan itu, kepemimpinan sebagai konsep manajemen oleh Stogdill (1974:57)
dapat dirumuskan ke dalam berbagai macam deflnisi, tergantung dari mana titik tolak
pemikirannya. la menyebutkan bahvva kepemimpinan adalah: (1) suatu seni untuk
menciptakan kesesuaian paham, (2) suatu bentuk persuasi dan inspirasi, (3) suatu
kepribadian yang mempunyai pengaruh, (4) tindakan atau perilaku, (5) titik sentral
proses kegiatan kelompok, (6) hubungan kekuatanfkekuasaan, (7) sarana pencapaian
tujuan, (8) suatu hasil dari interaksi, (9) peran yang dipolakan, dan (10) sebagai
inisiasi (permulaan) struktur. Ada empat bidang studi kepemimpinan, yaitu traits,
behavior, situasional dan power influence approach (Yuki, 1976:26).

Ada tiga pendekatan tentang studi kepemimpinan. Pertama, studi kepemimpinan


yang mencoba mengadakan identifikasi berbagai sifat para pemimpin, yakni dalam
usaha menjawab pertanyaan “How one becomes a leader” Kedua, studi
kepemimpinan yang menekankan kepada berbagai perilaku pemimpin, yaitu untuk
memberikan jawaban atau pertanyaan “How leader behave”, dan ketiga, studi
kepemimpinan kontingensi, yaitu studi kepemimpinan yang hakikatnya berusaha
untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan “What makes the leader effective
(Wahjosumidjo, 1987:12).

Lebih lanjut Feisal (1995:284) menyatakan bahwa kepemimpinan di dalam Islam


adalah suatu hal yang inheren, serta merupakan salah satu sub sistem dalam sistem
Islam yang mencakup pengaturan seluruh aspek kehidupan secara principal. Islam
mengatur niat-amal-tujuan sekaligus sumber kehidupan, otak manusia, kemudian
mengatur proses hidup, perilaku, dan tujuan hidup. Dalam Islam seorang pemimpin
dan yang dipimpin hares mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran yang
dilaksanakan melalui prinsip kepemimpinan, yaitu melaksanakan kewajiban
kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab seorang pemimpin dan melaksnakan
hak berpartisipasi bagi yang dipimpin.

Quraish Shihab (1996:159) menjelaskan bahwa Islam menyebutkan kepemimpinan


dengan beberapa istilah atau nama, diantaranya imamah, ri’ayah, imarah, dan
wilayah, yang semuanya itu pada hakikatnya adalah amanah (tanggung jawab). Nabi
SAW bersabda: “Apabila amanat disia-siakan, maka nantikanlah kehancurannya.”
Ketika ditanya, “Bgaimana menyia-nyiakannya ? “Beliau menjawab: Apabila
wewenang pengelolaan (kepemimpinan) diserahkan kepada orang yang tidak
mampu.”

Hendaknya sejak dini pada setiap pribadi selalu ditanamkan suatu keyakinan bahwa
dirinya terlahir sebagai pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah: “Setiap pribadi
adalah pemimpin dan kelak akan dipertanyakan tentang kepentimpinannnya.” (HR.
Muslim). Menurut Quraish Shihab (1996:163) dalam al-Quran ada perintah
menunaikan amanat kepada pemiliknya, disusul dengan perintah menetapkan putusan
yang adil, kemudian dilanjutkan dengan perintah taat (taqwa) kepada Allah, rasul dan
ulil amri.

Memahami pengertian kepemimpinan dari sudut pandang para pakar akan


memberikan gambaran bahwa kepemimpinan merupakan suatu peran yang sangat
penting dalam manajemen pendidikan. Berbagai pengertian, konsep, teori dan praktik
kepemimpinan dalam manajemen pendidikan bertujuan agar pendidikan dapat
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Semakin pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan masyarakat terhadap
mute pendidikan menuntut kepemimpinan yang efektif. Tantangan bagi seorang
pemimpin pendidikan adalah bagaimana is mampu berperan secara efektif dalam
mendorong dan pelopor perubahan organisasi menuju organisasi yang bennutu. Upaya
memperbaiki mutu dalam suatu organisasi sangat ditentukan oleh mutu
kepemimpinan dan manajemen yang efektif. Dukungan dari anggota hanya akan
muncul secara berkelanjutan ketika pimpinannya benar-benar bermutu atau unggul.
Dalam buku Technology in Educational Change karangan David F. Salisbury
(1996:149) menyatakan -Without quality leadership and skillful management, even
the ideas are never implemented. Without good management and on going support for
their leaders, those lower in the organization become disillusioned in time, cease to
continue the change effort.”

Peran kepemimpinan penting sekali dalam mengejar mutu yang diinginkan pada
setiap sekolah. Sekolah hanya akan maju bila dipimpin oleh kepala sekolah yang
visioner, memiliki keterampilan manajerial, sena integritas kepribadian dalam
melaksanakan perbaikan mutu. Kepemimpinan kepala sekolah tentu menjalankan
manajemen sesuai dengan iklim organisasinya (Syafaruddin, 2002:50).

Kepala sekolah akan dapat memainkan perannya dengan efektif apabila memahami
budaya sekolah yang dipimpinnya. Perubahan budaya yang berorientasi kepada mutu
hams dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus memainkan
kepemimpinan yang demokratis, transparan, jujur, bertanggung jawab, menghargai
guru dan staf, bersikap adil, dan sikap terpuji lainnya yang tertanam dalam diri dan
dirasakan oleh warga sekolahnya. Kepala sekolah terbuka menerima kritik dan
masukan dari guru, staf TU, para siswa dan orang tua tentang budaya yang
berkembang di sekolah.

Budaya sekolah ini berkaitan dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang
masa depan sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan
sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun budaya sekolah. Zamroni
(2000:152) menegaskan bahwa untuk membangun visi sekolah ini, diperlukan
kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang tua, staf administrasi dan tenaga
professional. Budaya sekolah akan baik apabila: (a) kepala sekolah dapat berperan
sebagai model, (b) mampu membangun tim kerjasama, (c) belajar dari guru, staf, dan
siswa, dan (d) memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala
sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut.
Karena, akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat, memahami
dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Dengan dapat memahami
pennasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam, kepala
sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam
tnenjaga dan memberikan lingkungan yang kodusif bagi berlangsungnya proses
tumbuhkembangnya budaya mutu di sekolah.

Kepemimpinan mutu pendidikan akan mampu menggerakkan organisasi agar


program dan tujuan yang telah ditetapkan bersama dapat tercapai. Demikian pula
dengan gerakan mutu (quality movement) pada lembaga pendidikan atau menumbuh
kembangkan budaya mutu (quality culture) harus ditopang oleh peran kepemimpinan
yang bermutu. Sallis (1993:86) menyatakan bahwa -Leadership is the esensial
ingredient in TQM. Leader must have the vision and he able to translate it into clear
policies and aspesific goals.”

Pustaka