P. 1
Standar Pelayanan Minimal Kesehatan; Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan - Agung Dwi Laksono

Standar Pelayanan Minimal Kesehatan; Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan - Agung Dwi Laksono

|Views: 4,030|Likes:
Dipublikasikan oleh Agung Dwi Laksono
sebuah panduan formulasi SPM di tingkat puskesmas dan atau kecamatan
sebuah panduan formulasi SPM di tingkat puskesmas dan atau kecamatan

More info:

Published by: Agung Dwi Laksono on Jun 05, 2011
Hak Cipta:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) no 25/2000

tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah

Provinsi Sebagai Daerah Otonom, maka diterbitkan surat

keputusan (SK) Menteri Kesehatan dan Sosial (Menkesos) no.

1747/2000 tentang Pedoman Penetapan Standar Pelayanan

Minimal dalam Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota (SPM

Kesehatan). Pelaksanaan PP 25/2000 ditegaskan melalui surat

edaran

Menteri

Dalam

Negeri

(Mendagri)

no

100/757/OTDA/2002 tentang Pelaksanaan Kewenangan Wajib

dan SPM yang ditujukan ke Gubernur dan Bupati/Walikota se

Indonesia. SK Menkesos no. 1747/2000 kemudian dianulir

dengan SK Menteri Kesehatan (Menkes) no 1457/2003 tentang

SPM KESEHATAN;

2

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di

Kabupaten/Kota yang mempertimbangkan perlu ditetapkannya

kembali SPM bidang kesehatan oleh Menteri Kesehatan.

Kebijakan ini berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang

meliputi jenis pelayanan beserta indikator kinerja dan target

pada tahun 2010. SK Menkes no 1457/2003 ini diikuti SK

Menkes no 1091/2004 tentang Petunjuk Teknis Standar

Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.

Dengan berkembangnya waktu, UU 22/1999 tentang

Pemerintah Daerah direvisi dengan UU 32/2004, sehingga PP

25/2000 dianulir dengan PP 65/2005 tentang Pedoman

Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

Secara ringkas, PP ini memberikan rujukan bahwa SPM adalah

ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang

merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap

warga negara secara minimal terutama yang berkaitan dengan

pelayanan dasar baik daerah provinsi maupun daerah

kabupaten/kota.

Selain itu, peraturan Mendagri no 6/2007 tentang petunjuk

teknis penyusunan dan penetapan standar pelayanan minimal

diterbitkan. Dalam peraturan Mendagri ini pada pasal 29 ayat (3)

dikatakan bahwa SPM yang ditetapkan pemerintah daerah

dapat dilaksanakan sampai dengan Menteri/Pimpinan Lembaga

Pemerintah Non-Departemen menyusun dan menetapkan SPM

yang baru sesuai PP 65/2005.Untuk Departemen Kesehatan

(Depkes) terwujud melalui peraturan Menkes no 741/2008 yang

SPM KESEHATAN;

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

3

menganulir SK Menteri Kesehatan no 1457/2003. Peraturan

Menkes no 741/2008 berisi indikator kinerja dan target

pelayanan kesehatan pada tahun 2010 sampai dengan tahun

2015. Surat keputusan ini diikuti SK Menkes no 828/2008

tentang Petunjuk Teknis SPM Bidang Kesehatan sebagai acuan

penyusunan SPM bidang kesehatan di kabupaten/kota dan

meniadakan SK Menkes no 1091/2004.

Pelaksanaan UU 22/1999 tentang Pemerintah Daerah

diikuti PP 8/2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Ketika

UU 22/1999 direvisi menjadi UU 32/2004, maka diterbitkan PP

38/2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara

pemerintah, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan

daerah kabupaten/kota, sedangkan PP 8/2003 dianulir dengan

PP 41/2007. Mengantisipasi pelaksanaan PP 41/2007,

diterbitkan SK Menkes no 267/2008 tentang Pedoman Teknis

Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah.

Mengantisipasi penerapan PP 38/2007 telah diterbitkan

SK Menkes no 922/2008 tentang Pedoman Teknis Pembagian

Urusan Pemerintahan Bidang Kesehatan antara Pemerintah,

Pemerintah

Daerah

Provinsi,

Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan

Dalam PP 38/2007 untuk disinkronkan dengan SPM dalam

pelaksanaannya. Pertama adalah penekanan kesehatan

sebagai kewenangan wajib yang sifatnya konkuren meliputi sub

bidang upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumberdaya

manusia, obat dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan

SPM KESEHATAN;

4

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

masyarakat dan manajemen kesehatan. Kedua, dalam pasal 9

ayat (1) menyebutkan Menteri/kepala lembaga pemerintah non

departemen menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria

(NSPK) untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan.

Pemahaman disini adalah bahwa seharusnya SPM disusun

berdasarkan NSPK, tetapi kenyataannya adalah bahwa SPM

sudah dilaksanakan sedangkan NSPK saat ini sedang disusun

atau dalam bentuk draft.

Penjelasan di atas ini ingin memberikan gambaran bahwa

Dinas Kesehatan dalam menerapkan SPM kesehatan di

kabupaten/kota perlu memperhatikan berbagai kebijakan dari

Depkes maupun Depdagri serta Pemerintah. Sedangkan dalam

penerapan SPM di tingkat kabupaten/kota, pencapaian target

SPM kesehatan dicapai melalui puskesmas dan rumah sakit.

Dalam PP Nomor 41/2007 pasal 14 ayat (6) disebutkan bahwa

pada dinas daerah dapat dibentuk unit pelaksana teknis dinas

untuk

melaksanakan

sebagian

kegiatan

teknis

operasional…dst., dan dalam penjelasan PP ini disebutkan

bahwa kegiatan teknis operasional yang dilaksanakan unit

pelaksana teknis dinas (UPTD) adalah tugas untuk

melaksanakan kegiatan teknis yang secara langsung

berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Puskesmas,

sesuai SK Menkes no 128/2004 merupakan UPTD yang

melaksanakan kegiatan teknis yang secara langsung

berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Sedangkan rumah

sakit dalam PP Nomor 41/2007 diatur dalam pasal tersendiri

SPM KESEHATAN;

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

5

dan SPM rumah sakit telah diatur melalui SK Menkes Nomor

228/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan

Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah.

Sampai dengan tiga (3) kebijakan tentang SPM

kesehatan dikeluarkan, belum ada upaya untuk

menterjemahkan target SPM tersebut sampai pada tingkat

puskesmas. Hal ini menjadi penting sebagai langkah awal

pemetaan target di dalam perencanaan pelayanan kesehatan di

tingkat kabupaten/kota. Menurut peraturan Menkes Nomor

741/2008, SPM kesehatan adalah tolok ukur kinerja pelayanan

kesehatan yang diselenggarakan oleh daerah kabupaten/kota.

Target cakupan SPM kesehatan dalam kebijakan ini separuhnya

adalah sebesar 100% dan sisanya mendekati angka 100%. Hal

ini merupakan sebuah target yang tidak mudah dicapai,

dibutuhkan kesungguhan dan rencana yang matang dalam

upaya pencapaiannya.

Sedangkan dalam petunjuk teknisnya (SK Menkes Nomor

828/2008) disebutkan bahwa SPM kesehatan merupakan

bagian integral dari pembangunan kesehatan yang

berkesinambungan, menyeluruh, terpadu sesuai rencana

pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Depkes

menambahkan kriteria SPM kesehatan seperti yang tercantum

dalam SK Menkes 828/2008 diantaranya merupakan pelayanan

yang langsung dirasakan masyarakat, berorientasi pada output

yang langsung dirasakan masyarakat, dilaksanakan secara

terus menerus, terukur dan dapat dikerjakan. Dalam SK Menkes

SPM KESEHATAN;

6

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

Nomor 828/2008 juga dikatakan bahwa SPM kesehatan harus

dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja pelayanan dan

memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-

perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu

dalam pencapaian SPM kesehatan untuk jangka waktu tertentu

perlu ditetapkan batas awal pelayanan minimal (minimum

service baselines) dan target pelayanan yang akan dicapai

(minimum service target). Target pelayanan yang dicapai

merupakan spesifikasi peningkatan kinerja pelayanan yang

harus dicapai dengan tetap berpedoman pada standar teknis

yang ditetapkan guna mencapai status kesehatan yang

diharapkan. Untuk itu perlu menterjemahkan SPM kesehatan

Kabupaten/Kota menjadi kegiatan yang dapat diselenggarakan

di Puskesmas karena dalam pasal 9 PP Nomor 65/2005

disebutkan bahwa SPM yang telah ditetapkan pemerintah

menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah untuk

menyusun perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan

Pemerintah Daerah.

Surat keputusan Menkes Nomor Nomor 128/2004 tentang

Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, menyatakan

bahwa Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota

yang

bertanggungjawab

menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah

kerja. Puskesmas memiliki fungsi sebagai pusat penggerak

pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan

masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama meliputi

SPM KESEHATAN;

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

7

pelayanan kesehatan perorangan (private goods) dan

pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Terlihat

bahwa puskesmas dan jaringannya merupakan ujung tombak

dinas kesehatan dalam upaya mewujudkan target SPM

kesehatan di kabupaten/kota.

SPM KESEHATAN;

8

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

Tabel 1. Kronologis Kebijakan Terkait SPM Kesehatan

NO

KEBIJAKAN

1 Pasca reformasi diterbitkan UU 22/1999 tentang Pemerintah
Daerah

2 Diterbitkan PP No. 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Provinsi Sebagai Daerah Otonom
sebagai tindak lanjut UU No. 22/1999

3 Berdasar PP tersebut diterbitkan SK Menteri Kesehatan dan
Sosial (Menkesos) no. 1747/2000 tentang Pedoman Penetapan
Standar Pelayanan Minimal dalam Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota (SPM Kesehatan).

4 Untuk mempertegas PP No. 25/2000 diterbitkan Surat Edaran
Menteri Dalam Negeri No. 100/757/OTDA/2002 tentang
Pelaksanaan Kewenangan Wajib dan SPM yang ditujukan ke
Gubernur dan Bupati/Walikota se Indonesia.

5 Diterbitkan SK Menteri Kesehatan (Menkes) no 1457/2003
tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota yang mempertimbangkan perlu ditetapkannya
kembali SPM bidang kesehatan oleh Menteri Kesehatan untuk
menganulir SK Kemensos No 1747/2000.

6 Diterbitkan SK Menkes No. 1091/2004 tentang Petunjuk Teknis
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota untuk mendukung SK Menkes No. 1457/2003

7 Diterbitkan UU No. 32/2004 untuk merevisi UU 22/1999 tentang
Pemerintah Daerah

8 Untuk mendukung UU No. 32/2004 diterbitkan PP 65/2005
tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar
Pelayanan Minimal, menganulir PP 25/2000 sebelumnya.

9 Diterbitkan Peraturan Mendagri No. 6/2007 tentang petunjuk
teknis penyusunan dan penetapan standar pelayanan minimal.

10 Diterbitkan Peraturan Menkes No. 741/2008 tentang indikator
kinerja dan target pelayanan kesehatan pada tahun 2010 sampai
dengan tahun 2015

11 Diterbitkan SK Menkes No. 828/2008 tentang Petunjuk Teknis
SPM Bidang Kesehatan sebagai acuan penyusunan SPM
bidang kesehatan di kabupaten/kota

SPM KESEHATAN;

Sebuah Panduan Formulasi di Tingkat Puskesmas/Kecamatan

9

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->