Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk menciptakan keluarga yang sakinah, tidaklah cukup hanya dengan


dilaksanakan oleh suaminya tanpa dukungan istri. Dan begitu pulalah sebaliknya, seorang
istri akan sia-sia dalam mengupayakan terbinanya keluarga yang sesuai dengan harapan
apabila suami tidak ikut berperan aktif. Masing-masing pihak harus secara sadar
mengupayakan tercapainya tujuan hidup bersama tersebut. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW, "Orang yang baik diantara kalian adalah orang yang berlaku baik
kepada keluarganya. Sedang aku sendiri berlaku baik kepada keluargaku". (HR Syarif).

Kewajiban pertama seorang istri terhadap suaminya adalah mentaati segala


perintahnya, asal bukan hal yang melanggar syariah Islam. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW. "Dan sebaik-baik istri adalah yang taat kepada suaminya, bijaksana,
berketurunan, sedikit bicara, tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak berguna,
tidak cerewet dan tidak suka bersuara hingar-bingar serta setia kepada suaminya."
Dalam hidup berkeluarga, suami memang harus dipandang sebagai tuan sekaligus teman
yang abadi dalam hidup ini, yang juga akan melindungi istri dan anak-anak.

1.2 Tujuan

Salah satu tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah etika yang dibimbing oleh Bapak Drs. Dasli Noerdin, M.Sc.

Dan tujuan yang paling utama dalam penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui dan lebih mengenal beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang istri
terhadap suamianya, agar dapat melaksanakan antara hak dan kewajibannya secara
seimbang. Untuk dapat mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.
Terutama menjadi bekal untuk para remaja yang kelak akan menjadi seorang istri.

1.3 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah
pengetahuan, meningkatkan kesadaran, serta terciptanya keteraturan, keselarasan dan
keharmonisan dalam keluarga.
BAB II
ETIKA ISTRI TERHADAP SUAMI

2.1 HAK-HAK YANG SAMA ANTARA SUAMI DAN ISTRI

Orang Muslim meyakini adanya etika timbal balik antara suami dan istri, dan
etika tersebut adalah hak atas pasangannya yang lain berdasarkan dalil-dalil berikut, 

Firman Allah Ta ‘ala, "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu
tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Al-
Baqarah: 228).

Ayat yang mulia di atas menegaskan, bahwa setiap suami-istri mempunyai hak
atas pasangannya, dan suami (laki-laki) diberi tambahan derajat atas wanita (istri) karena
alasan-alasan khusus.

Sabda Rasulullah saw. di Haji Wada', "Ketahuilah, bahwa kalian mempunyai


hak-hak atas wanita-wanita (istri-istri) kalian, dan sesungguhnya wanita-wanita (istri-
istri) kalian mempunyai hak-hak atas kalian." (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan At-
Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini).

Hak-hak ini, sebagian sama di antara suami-istri dan sebagiannya tidak sama.
Hak-hak yang sama di antara suarni-istri adalah sebagian berikut:

1.   Amanah

Masing-masing suami-istri harus bersikap amanah terhadap pasangannya, dan


tidak mengkhianatinya sedikit atau banyak, karena suami istri adalah laksana dua mitra di
mana pada keduanya harus ada sifat amanah, saling menasihati, jujur, dan ikhlas dalam
semua urusan pribadi keduanya, dan urusan umum keduanya.

2.   Cinta kasih

Artinya, masing-masing suami-istri harus memberikan cinta kasih yang tulus


kepada pasangannya sepanjang hidupnya karena firman Allah Ta‘ala,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian
istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Ruum: 21).

Dan karena sabda Rasulullah saw., "Barangsiapa tidak menyayangi ia tidak akan
disayangi." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).

3.   Saling percaya

Artinya masing-masing suami-istri harus mempercayai pasangannya, dan tidak


boleh meragukan kejujurannya, nasihatnya, dan keikhlasannya, karena firman Allah
Ta‘ala, "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." (Al Hujurat: 10).

Dan karena sabda Rasulullah saw., "Salah seorang dan kalian tidak beriman
hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR
Bukhari, Muslim, dan lain-lain).

Ikatan suami-istri itu memperkuat, dan mengokohkan ikatan (ukhuwwah) iman.


Dengan cara seperti itu, masing-masing suami-istri merasa, bahwa dirinya adalah pribadi
pasangannya. Oleh karena itu, bagaimana ia tidak mempercayai dirinya sendiri, dan tidak
menasihatinya? Atau bagaimana seseorang itu kok menipu dirinya sendiri, dan
memperdayainya?

4.  Etika umum, seperti lemah lembut dalam pergaulan sehari-hari, wajah yang berseri-
seri, ucapan yang baik, penghargaan, dan penghormatan. Itulah pergaulan baik yang
diperintahkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, "Dan bergaullah dengan mereka dengan
cara yang baik." (An-Nisa': 19).

Itulah perlakuan baik yang diperintahkan Rasulullah saw. dalam sabdanya,


"Perlakukan wanita dengan baik." (HR Muslim).

Inilah sebagian hak-hak bersama antar suami-istri, dan masing-masing dan


keduanya harus memberikan hak-hak tersebut kepada pasangannya untuk merealisir
perjanjian kuat yang diisyaratkan firman Allah Ta‘ala, "Bagaimana kalian akan
mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan
yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kalian
penjanjian yang kuat." (An-Nisa': 21).

Dan karena taat kepada Allah Ta‘ala yang berfirman, "Dan janganlah kalian
melupakan keutamaan di antara kalian, Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa
yang kalian kerjakan." (A1-Baqarah: 237).
2.2 ETIKA DAN CARA BERGAUL ISTRI TERHADAP SUAMI

Kewajiban pertama seorang istri terhadap suaminya adalah mentaati segala


perintahnya, asal bukan hal yang melanggar syariah Islam. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad SAW. "Dan sebaik-baik istri adalah yang taat kepada suaminya, bijaksana,
berketurunan, sedikit bicara, tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak berguna,
tidak cerewet dan tidak suka bersuara hingar-bingar serta setia kepada suaminya."

Dalam hidup berkeluarga, suami memang harus dipandang sebagai tuan sekaligus
teman yang abadi dalam hidup ini, yang juga akan melindungi istri dan anak-anak. Oleh
karena itu ada beberapa etika yang harus diperhatikan istri kepada suaminya, diantaranya
adalah :

1.  Taat kepada suami selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Ta‘ala

Seorang istri wajib menta’ati suami Firman Allah Ta‘ala, "Kemudian jika mereka
mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka."
(An-Nisa':34).

Sabda Rasulullah saw., "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur,
kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada
malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya." (Muttafaq Alaih).

"Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku
suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim. At-Tirmidzi
meng-shahih-kan hadits mi).

2.  Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaanya, hartanya, anak-anaknya, dan


urusan rumah tangga lainnya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita


yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena
Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah saw., "Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan
anaknya." (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah saw., "Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya
orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan
mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian
sukai." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

3.  Tetap berada di rumah suami

Dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan
dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya
dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak
keluarganya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan
janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang
dahulu." (Al-Ahzab: 33).

"Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah


orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Al-Ahzab: 32).

"Allah tidak menyukai ucapan buruk." (An-Nisa': 148).

"Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan


pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya'." (An-Nuur:
31).

Sabda Rasulullah saw., "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat
kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika
engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu."
(HR Muslim dan Ahmad).

Sabda Rasulullah saw., "Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba


Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta
izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya." (HR Muslim,
Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Sabda Rasulullah saw., "Izinkan wanita-wanita pergi ke masjid pada malam


hari."

Dan juga ada beberapa cara bergaul yang harus diperhatikan istri kepada suaminya,
diantaranya:

1. Disaat suami sedang berbicara dengan istri jangan sekali-kali istri


meninggalkannya, perhatikan pembicaraan itu sebaik-baiknya. Apabila suami
memberikan pertimbangan terhadap suatu masalah ataas kesulitan, istri harus
mempertimbangkan sebaik-baiknya
2. Istri tidak boleh membantah dengan keras terhadap suaminya. Bersikaplah yang
bijaksana. Untuk sementara waktu, sebaiknya istri mengikuti kehendak suami,
sesudah suasana memungkinkan kalau pertimbangan atau saran suami kurang
tepat, ajukanlah pertimbangan yang lain dengan cara yang sabar dan penuh kasih
sayang, sehingga tujuan kedua belah pihak tercapai tanpa harus ada yang merasa
tersinggung atau disepelekan.

3. Jika suami sedang marah karena satu dan lain hal, hendaklah istri berlaku sabar
dan diam untuk sementara waktu, jangan dibantah atau ditentang, karena
seandainya dibantah atau ditentang akan menimbulkan suasan yang semakin
tegang dan memuncak kemarahnnya yang pada akhirnya akan menggoyahkan
sendi-sendi keluarga.

4. Istri hendaklah mengerjakan perintah suami dengan segera, tenang dan hati-hati,
asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan syariah Islam dan adat istiadat
yang berlaku.

5. Ketika suami sedang duduk-duduk, hendaklah istri menghampiri dengan


penampilan yang menyenangkan, dan kalau suami mengajak bicara berilah
perhatian sepenuhnya dan ikutilah pembicaraan itu dengan seksama sehingga
akan menampakkan suasana hidup yang rukun dan damai. Bila perlu mintalah ijin
untuk mengambilkan kopi/teh dan makan kecil kesukaannya, sehingga dapat
membangkitkan kembali kemesraan cinta dan gairah hidup baginya, karena ia
merasa mendapatkan istri yang setia dan menyenangkan.

6. Tidak boleh seorang istri menyambut kedatangan suami dari bepergian atau
tempat kerja dengan muka masam atau dahi berkerut, berbadan dan berpakaian
kotor. Penampilan yang seperti ini akan menambah kelelahan suami setelah
seharian bekerja mencari nafkah keluarga.

7. Istri harus menghormati keluarga suami (Bapak, Ibu saudara-saudaranya),


meskipun secara status sosial ekonomi, mereka kurang beruntung dibandingkan
dengan keadaan keluarga istri.

8. Istri berkewajiban untuk mengasuh, memelihara dan mendidik anak-anak sebaik-


baiknya serta memberikan tauladan kepada mereka.

9. Istri hendaklah selalu mendampingi suami diwaktu malam. Jika kebetulan istri
sudah mendahului makan malam, hendaknya ia mendampingi suami dalam
bersantap malam sampai selesai.
10. Istri dilarang keras menceritakan rahasia keluarga dan rahasia suaminya kepada
orang lain, sekalipun dengan sahabat karib atau orang tuanya. Rahasia itu misal,
soal hutang, cacat suami, saingan atau musuh suaminya, kekurangmampuan
suami dalam memberikan nafkah batin dan sebagainya.
11. Bagi seorang istri yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari (karena sebagai wanita
karir), hendaklah ia meluangkan waktu untuk berlibur dan bersenang-senang
bersama suami dan anak-anak.
KESIMPULAN

Diantara banyaknya hak seorang istri. kewajiban pertama seorang istri terhadap
suaminya adalah mentaati segala perintahnya, asal bukan hal yang melanggar syariah
Islam. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. "Dan sebaik-baik istri adalah yang
taat kepada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tidak suka membicarakan
sesuatu yang tidak berguna, tidak cerewet dan tidak suka bersuara hingar-bingar serta
setia kepada suaminya."

Maka untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah diperlukan


adanya hubungan timbal balik antara suami dan istri. Tidak hanya suami saja, ataupun
istri saja.
DAFTAR PUSTAKA

http://forum.dudung.net/index.php?topic=11586.0

http://alislamu.com/etika/147-etika-terhadap-suami-istri.html

Bina Suami Istri yang Rukun dan Damai. 2010. Bandung: Seksi Urusan Agama Islam

Kantor Departemen Agama Kab.Bandung