Anda di halaman 1dari 23

1.

Singkatan dari Aperture Priority, mode pemotretan dengan lebar bukaan


ditentukan oleh fotografer. Kamera akan menentukan shutter speed yang
diperlukan agar foto memperoleh pencahayaan yang mencukupi.

2. A-DEPTH

Fitur yang memungkinkan fotografer untuk mengfatur agar gambar terekam


tajam pada jarak tertentu. Pada kamera analog, kamera akan melakukan 2
kali pemotretan pada frame yang sama dengan bukaan aperture yang
berbeda. Pada pemotretan ini subyek foto dituntut untuk tidak bergerak.

3. AE

Auto Exposure, pemotretan secara otomatis dengan setting ditentukan oleh


kamera

4. AE-lock

Auto Exposure Lock, pemotretan secara otomatis dengan setting awal


ditentukan oleh kamera dan disimpan untuk pemotretan berikutnya. AE-lock
dapat mempercepat proses pemotretan karena kamera tidak perlu lagi
mengatur setting baru pada frame-frame berikutnya.

5. AF

Auto Focus, fitur yang memungkinkan kamera melakukan fokus pada obyek
tanpa campur tangan fotografer. Pada umumnya kamera akan mengambil
fokus pada obyek yang berada di tengah frame.

6. AF-lock

Auto Focus Lock, fitur yang memungkinkan kamera melakukan fokus pada
obyek tanpa campur tangan fotografer. Proses ini hanya dilakukan pada
frame pertama dan selanjutnya kamera akan menggunakan jarak tersebut
pada frame-frame berikutnya. Fitur ini berguna untuk mempercepat proses
pemotretan berurutan, misalnya pada pemotretan sport/ olahraga

7. ASA

Singkatan dari American Standard Association yang digunakan sebagai


ukuran kepekaan film. Istilah ini sudah jarang digunakan, organisasinya pun
sudah berubah nama. Istilah yang lebih sering digunakan saat ini adalah ISO,
nilai ASA sama dengan ISO. .
8. AUTO

Mode pemotretan cepat tanpa campur tangan fotografer. Kamera akan


secara otomatis menentukan fokus dan setting pencahayaan.

9. Av (=A

1. B

Bulb, pengaturan kecepatan tanpa batas waktu. Pada setting ini aperture
akan tetap terbuka selama tombol shutter ditekan.

2. Background

Latar belakang, segala sesuatu yang ada di dalam frame dan jaraknya lebih
jauh daripada obyek utama.

3. BG

Lihat Background.

4. Blue hour

Waktu senja hari ketika matahari sudah mulai terbenam, lampu-lampu


penerangan sudah menyala, namun langit masih tampak biru. Kondisi ini
biasanya hanya berlangsung 15-20 menit di Indonesia.

5. Blur

Kabur, samar, kondisi gambar yang tidak tertangkap dengan tajam. Blur
akibat shake merupakan sesuatu yang dihindari oleh fotografer, namun blur
juga merupakan cara untuk menonjolkan obyek utama

6. Bokeh

Merupakan istilah bahasa Jepang untuk blur. Istilah ini mengacu pada blur
yang bernilai seni, bertujuan untuk mengisolasi & menonjolkan obyek utama.
Bokeh diperoleh melalui:
(1) Penggunaan bukaan aperture lebar
(2) Menggunakan lensa tele dengan zoom terjauh
(3) Memberi jarak obyek utama dengan latar belakang yang cukup jauh

7. Bracketing
Pemotretan beberapa frame secara berurutan dengan kompensasi
pencahayaan (exposure compensation) yang berbeda. Fitur ini diperlukan
untuk membuat foto HDR (High Dynamic Range)

8. Buffer

Ruang memory pada kamera yang berfungsi untuk menyimpan data gambar
sesaat sebelum ditampilkan atau disimpan ke storage media

9. Bulb

Lihat B.

10. Burst

Pemotretan berurutan atau terus menerus. Kamera akan mengambil gambar


selama shutter ditekan, menghasilkan beberapa frame yang menunjukkan
urutan aktivitas

11. Burst rate

Banyaknya frame yang bisa dihasilkan dalam 1 detik. Burst rate dapat
berkisar dari 0.3 fps untuk kamera poket sederhana (= 1 frame setiap 3
detik) hingga 60 fps untuk kamera yang dirancang khusus. Kamera-kamera
DSLR profesional memiliki burst rate 3 fps atau lebih

1. Aperture / Bukaan / Diafragma


Adalah besarnya bukaan lensa dalam menangkap cahaya. Dalam lensa ada yang namanya
Aperture Blade, fungsinya mirip dengan iris mata. Semakin besar bukaannya semakin cepat
lensa menangkap cahaya tapi semakin tipis juga Depth Of Field nya. Umumnya disimbolkan
dengan F.

2. Speed / Kecepatan
Adalah kecepatan kamera menangkap gambar. Tergantung orang dan panjang lensa tapi biasanya
kecepatan minimal orang agar gak shake adalah 1/10 detik. Lebih lambat daripada itu biasanya
butuh Image Stabilizer atau tripod. Lensa juga berpengaruh pada speed, minimum speed adalah 1
per panjang lensa. Jadi misalkan panjang lensa itu 50mm maka speed minimal adalah 1/50 detik.
Tapi beberapa orang bisa menjaga kamera hingga 1/8 detik tidak goyang.

3. ISO
Adalah kesensitifan sensor dalam menangkap cahaya. Semakin tinggi ISO semakin sensitif, tapi
semakin banyak noise juga. Jumlah noise yang ditimbulkan tergantung kamera.

4. Exposure Triangle
Adalah gabungan dari ISO, Speed, dan Diafragma. Ketiganya harus pas agar mendapat exposure
yang “benar”, umumnya mengikuti aturan Sunny F16 Rule. Jika ISO dinaikkan maka speed bisa
lebih cepat dan diafragma bisa lebih kecil.

5. Sunny F16 Rule


Adalah petunjuk / guide yang mengatakan bila matahari bersinar terang maka settingan
kameranya adalah Diafragma nya adalah F16, speed 1/100, dan ISO 100. Speed mengikuti ISO,
jadi kalau ISO 200, maka speed adalah yang mendekati 200.

6. Depth Of Field
Adalah ketajaman ruang fokus, bila semakin tipis, bidang area fokus juga semakin kecil. Depth
Of Field ditentukan oleh panjang lensa dan juga diafragma. Semakin besar Diafragma, semakin
tipis juga ruang tajam. Biasanya bukaan besar dipakai untuk mengisolasi subject, jadi Subject
nya jelas sedangkan background menjadi blur atau yang biasa disebut bokeh.

7.Bokeh
Adalah bidang yang tidak fokus dari suatu gambar, biasanya bila memakai bukaan besar. Bentuk
bokeh sangat tergantung karakteristik lensa. Contohnya adalah Canon EF 50mm F1.8,
mempunyai bentuk bokeh menyerupai segi enam.

8. Stop
adalah ratio antara Cahaya yang masuk, Sensitifitas sensor, dan kecepatan cahaya. Stop sendiri
berbeda masing masing elemen exposure ( ISO, Diafragma, dan Speed) .

Dalam Diafragma, urutannya adalah :


f1 f1.4 f2 f2.8 f4 f5.6 f8 f11 f16 f22 f32 f44 dst
naik satu stop adalah f1 ke f1.4 atau f1.4 ke f2

Dalam Speed, stop adalah speed dibagi 2 jadi kira kira urutannya
1/4000 1/2000 1/1000 1/500 1/250 1/125 dst

Dan dalam ISO, stop adalah ISO x 2 jadi kira kira urutannya
25 50 100 200 400 800 1600 3200 6400

Jadi misalkan kita memfoto subject dengan ISO 100 f11 1/100 kita akan dapat exposure yang
sama dengan ISO 100 F8 1/200 atau ISO 200 F8 1/100.

9. Mode Dial
Adalah Mode pemotretan dalam kamera modern. Biasanya ada 5 : Auto, Program, Aperture
Priority, Shutter Priority, dan Manual.

1. Auto adalah dimana semua nya diatur otomatis oleh kamera


2. Program adalah dimana semua nya diatur otomatis oleh kamera juga, tapi Diafragma dan
Speed ditentukan oleh kamera.
3. Aperture Priority adalah Speed yang otomatis, sedangkan kita sendiri yang menentukan
Aperture
4. Speed Priority kebalikan dari Aperture
5. Manual
6. Tulisan ini akan memberikan pengetahuan dasar mengenai pemotretan dan membantu
Anda untuk memahami pengaturan shutter speed & aperture dan pengaruhnya pada foto
yang Anda dapatkan. Setelah membaca & mempraktekkan latihan-latihan dalam biku ini
buku ini, Anda akan mampu menghasilkan foto yang cerah, tajam, & jernih pada
berbagai kondisi. Yang Anda perlukan adalah:
7. 1. Kamera dengan kemampuan Manual & Priority Setting (P, A, S, M)
8. 2. Buku petunjuk penggunaan kamera (Manual/ Camera user’s Guide)
9. 3. Latihan & kreativitas
10. Selamat berlatih & semoga bermanfaat
11. PRAKTEK
12. Latihan-latihan yang termuat dalam tulisan ini bertujuan untuk memberikan Anda
pemahaman tentang pengaruh perbedaan setting shutter speed & aperture terhadap foto
yang dihasilkan. Kamera digital memberikan keuntungan besar karena Anda dapat segera
melihat hasilnya setelah pemotretan, jadi sebaiknya Anda melakukan semua latihan yang
diperlukan. Jangan takut untuk mencoba berbagai setting, lakukan praktek sebanyak-
banyaknya. Download foto yang Anda hasilkan, lalu copy & paste ke halaman yang
tersedia sebagai referensi untuk Anda sendiri.
13. Karena tulisan ini berfokus pada shutter speed dan aperture, ada baiknya Anda
memastikan setting yang lain tidak berubah. Untuk mudahnya, kecuali dinyatakan lain,
pastikan saja setting yang lain berada pada posisi berikut:
14. ISO setting 200
15. White balance Sunny/ Daylight
16. Focus mode Auto
17. Metering mode Centre weighted
18. Keuntungan dari kamera digital adalah bahwa gambar yang dihasilkan selalu memiliki
data EXIF (EXposure InFormation). Data ini dapat Anda gunakan untuk belajar. Dalam
data ini terkandung banyak informasi, termasuk data alat yang digunakan, mode
pemotretan, metering, dsb. Yang penting untuk Anda ketahui dalam praktek ini adalah,
bagaimana Anda dapat mereview gambar dalam kamera dan melihat data-data:
19. 1. ISO
20. 2. Shutter speed
21. 3. Aperture
22. INFORMASI DASAR
23. Fotografi berasal dari kata photos (cahaya) dan graphy (gambar), jadi fotografi berarti
menggambar dengan cahaya. Kunci untuk menghasilkan foto yang bagus adalah
kemampuan untuk memahami & memanfaatkan cahaya yang ada – atau dengan bantuan
alat pencahayaan (lighting) – sehingga diperoleh foto yang cerah, tajam & jernih.
24. Cerah (contrast) – jelas perbedaan antara warna-warna dan elemen-elemen dalam foto
25. Tajam (sharp) – fokus, garis-garis batas dan detil obyek terekam dengan baik
26. Jernih (clear) – tidak terganggu oleh noise atau artefak, baik akibat debu pada harware
ataupun keterbatasan proses
27. Kamera digital memiliki 3 cara untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke sensor:
28. 1. Kecepatan (shutter speed)
29. 2. Bukaan lensa (aperture)
30. 3. Kepekaan (ISO)
31. Sebuah foto yang bagus akan dihasilkan jika sensor memperoleh cukup cahaya untuk
mereproduksi gambar. Kombinasi ISO, shutter speed & aperture akan menentukan
banyaknya cahaya yang sampai ke sensor. Artinya, ada berbagai kemungkinan untuk
memperoleh cahaya yang mencukupi. Sebagai patokan dasar, berikut ini adalah setting
shutter speed dan aperture yang digunakan untuk pemotretan di luar ruangan (ruang
terbuka) pada tengah hari yang cerah
32. ISO 200
33. Speed 250 (lama bukaan 1/250 s)
34. Aperture f/16
35. Setting ini dikenal dengan istilah BDE = Bright Daylight Exposure
36. Kombinasi lain yang mungkin digunakan untuk memperoleh cahaya yang sama pada
sensor:
ISO 100 100 200 200 400 800
Speed 125 250 250 500 500 500
Aperture 16 11 16 11 16 22
37. Untuk kondisi pagi hari yang cerah, kombinasi berikut dapat digunakan:
ISO 100 100 200 200 400 800
Speed 125 250 250 125 250 500
Aperture 8 5.6 8 11 11 11
38. Pada kamera digital poket (non DSLR) yang memiliki sensor kecil, perlu ada tindakan
untuk menghindari noise yang berlebihan, oleh karena itu pemakaian ISO terbatas pada
setting 50, 100, 200 dan 400. Efek paling jelas dari perubahan ISO adalah besarnya grain
dan timbulnya noise.
39. Panduan singkat ini hanya akan membahas pengaturan setting kecepatan & bukaan
lensa. Walau demikian, Anda dapat juga memanfaatkan buku ini untuk memahami
pengaruh ISO dengan melakukan latihan-latihan yang tersedia pada setting ISO yang
berbeda.
40. *) ISO adalah singkatan dari International Standards Organization, organisasi dunia yang
menetapkan angka-angka pada film berdasarkan kepekaannya terhadap cahaya. ASA
adalah singkatan dari American Standards Association, organisasi yang menetapkan
standar di Amerika Serikat. Walaupun organisasi ini sudah berubah nama, namun
singkatan ASA masih sering dipakai untuk menyatakan kepekaan film. ISO dan ASA
mengacu pada besaran yang sama.
41. bersambung

Selasa, 12 April 2011


Unsur Gerak Dalam Foto

Hari Minggu, 10 April 2011, saya menghabiskan waktu di lokasi wisata Bukit Naang,
Bangkinang, kabupaten kampar. Tempat ini merupakan bumi perkemahan dan tempat outbound
dengan flying fox tertinggi di Sumatera. Selain permainan flying fox dari ketinggian 30 meter, ada
pula permainan tree top bridge yang mengajak pengunjung merasakan kehidupan Tarzan dengan
berjalan dari pohon ke pohon pada ketinggian 5 - 8 meter.

Tujuan berkunjung ke sini adalah untuk melakukan test pada lensa Minolta 75-300 mm.Secara
umum, kesimpulannya lensa ini cukup tajam, respon bagus, tapi rentan terhadap fringe.

Hal lain yang cukup menarik untuk sharing adalah bagaimana unsur gerak bisa membuat foto
menjadi lebih menarik & "berbicara". Ini diawali ketika saya memotret seorang gadis yang
melakukan ayunan ala Tarzan. Ini fotonya:

Setting yang dipakai saat itu adalah:


• Mode A (aperture priority)
• ISO 200
• f/5.6
• Shutter speed 1/320 s
• Autofocus mode: AF-C (continuous)

Walaupun hasilnya cukup tajam, tapi foto itu tidak memuaskan saya karena obyek terlihat hanya
sekedar menggantung dan tidak bergerak. Maka selanjutnya saya coba untuk menggerakkan
kamera sesuai dengan gerakan obyek. Teknik ini biasanya dikenal dengan istilah panning.
Hasilnya seperti ini:
Sudah lebih menarik, tapi masih kurang dramatis. Kelihatannya 1/320 s masih terlalu cepat, jadi
saya pindahkan modenya dari aperture Priority ke Shutter speed priority (mode S). Kecepatan
diturunkan, dipatok di 1/60 s. Dengan metering Centre Weighted, bukaan aperture dapat f/9 atau
f/10. Kamera saya gerakaan mengikuti arah gerak obyek. Hasilnya seperti ini:

Lebih menarik kan?


Setting yang digunakan:

• Mode S (shutterspeed priority)


• ISO 200
• Shutter speed 1/60 s
• f/9.0
• Autofocus mode: AF-C (continuous)

Jadi, untuk memotret obyek yang bergerak belum tentu harus menggunakan speed tinggi. Speed
rendah bisa menghasilkan efek yang lebih menarik ... :-D
Diposkan oleh Awan Wisudanto di 17:26 Link ke posting ini
Label: panning, shutter priority, slow speed, sport, tips

Rabu, 02 Maret 2011


"Lensa apa ya berikutnya?"

Pertanyaan di atas disampaikan oleh beberapa teman yang sudah memiliki kamera + lensa kit
dan menginginkan lensa tambahan yang lebih memenuhi seleranya. Mereka menanyakan, lensa
apa yang sebaiknya dibeli dan biasanya saya balik bertanya:
"Apa yang mau difoto?" atau
"Apa kekurangan yang paling terasa dari lensa kit?" atau
"Lensa seperti apa yang diinginkan?"
dan sejenisnya.

Memilih lensa menurut saya adalah preferensi pribadi, salah satu bentuk manifestasi kepribadian
dan kesenangan dalam fotografi. Lensa yang cocok untuk satu orang belum tentu sesuai untuk
yang lain. Misalnya ada teman yang menyarankan memakai Tamron 17-50 mm sebagai
pengganti lensa kit karena lebih tajam. Tapi saya gak terlalu peduli dengan ketajaman ekstra,
yang saya perlukan adalah lensa dengan tele yang cukup jauh, maka saya kemudian membeli
Tamron 18-200 mm yang "katanya" tidak tajam, lelet, berat, dsb.

Namun demikian, kita bisa saja mengelompokkan lensa-lensa itu dalam beberapa kelas:

1. Standard zoom lens merupakan lensa vario dengan jarak fokus yang dapat diubah-ubah
dan bukaan maksimal aperture berubah sesuai dengan jarak fokusnya. Lensa ini cocok
untuk berbagai keperluan dokumentasi pribadi. Lensa kit 18-55 mm, 18-70 mm, 28-80
mm dan sejenisnya termasuk jenis lensa ini. Karena kualitasnya seadanya, banyak yang
menghendaki alternatif yang lebih baik. Misalnya: untuk zoom range yang lebih luas
bisa dipilih 18-105 mm, 28-135 mm, 28-200 mm, dst. Untuk ketajaman lebih biasanya
digunakan Tamron 17-50 mm atau Carl Zeiss 16-80 mm
2. Prime lens memiliki jarak fokus yang tetap sehingga kualitas dan ketajamannya sangat
baik.Akan tetapi fotografer harus banyak berjalan kaki untuk menyesuaikan komposisi
dan proporsi foto. Lensa jenis ini di antaranya 50 mm f/1.8. Alternatifnya, misalnya 50
mm f/1.4, 50 mm f/1.2, 85 mm f/3.5, 135 mm f/4, dst.
3. Wide lens adalah lensa dengan jarak fokus pendek sehingga diperoleh ruang pandang
(FOV - Field Of View) yang lebih luas. Lensa yang termasuk jenis ini, di antaranya 10-22
mm, 11-18, dll. Pegembangan lain adalah ke lensa fishye, misalnya Samyang 8 mm.
4. Fast lens adalah lensa dengan bukaan lebar. Lensa-lensa ini memiliki angka aperture
f/2.8, f/2, f/1.8 atau lebih kecil. Keuntungannya, dengan aperture lebar, maka dapat
diperoleh shutter speed yang lebih tinggi. Itulah sebabnya lensa ini memperoleh sebutan
fast lens. Efek samping dari bukaan yang lebar adalah lens blur atau bokeh karena DoF
(Depth of Field) yang sempit.
5. Macro lens adalah lensa yang memiliki konstruksi khusus sehingga memungkinkan
untuk memotret obyek dari jarak dekat (50 cm atau kurang). Lensa macro yang
sesungguhnya memiliki kemampuan pembesaran 1:1, adapun spesifikasi yang banyak
dipakai adalah 100 mm f/2.8 Macro, 50 mm f/2.8 macro, dst. Namun demikian, produsen
lensa 3rd party seperti Sigma, Tamron, dan Tokina mengembangkan lensa vario dengan
kemampuan makro 1:4, !:5 atau !:7, seperti misalnya Tamron 18-200 Di II LD Aspherical
Macro yang memiliki jarak obyek minimum 45 cm dengan perbesaran 1:4
6. Super tele lens adalah lensa-lensa dengan jarak fokus di atas 180 mm, misalnya 100-400
mm, 170-500 mm, dst. Lensa-lensa jenis ini cocok untuk pemotretan olahraga, alam liar,
pengamatan burung, dan obyek-obyek lain yang tidak memungkinkan fotografer
mendekati obyek secara langsung.

Selain dari jarak fokus dan aperture, perlu diperhatikan juga fitur tambahan pada lensa yang akan
memberikan kemudahan (dengan harga yang sesuai), di antaranya:

1. Motor lensa kualitas tinggi yang lebih responsif, sehingga menjamin ketajaman obyek
yang bergerak. Lensa jenis ini biasanya memiliki kode khusus yang berbeda dari setiap
pabrikan, misalnya SSM (Super Sonic Motor), HSM (High Speed Motor), DX, SAM,
dsb
2. Image stabilizer merupakan fitur yang berguna untuk meredam guncangan pada
pemotretan dengan speed rendah. Fitur ini juga memiliki kode yang berbeda-beda,
misalnya IS (Image Stabilizer) pada canon, VR (Vibration Reduction) pada Nikon, SSS
(Super Steady Shoot) pada Sony, dsb.
3. Coating (bahan kimia pelapis optik lensa) merupakan faktor penting karena respon
sensor digital terhadap cahaya berbeda dengan reaksi pada film. Permasalahan pada
coating dapat menimbulkan flare, chromatic aberration (CA), ghosting, dsb. Lensa-lensa
digital biasanya memiliki beberapa lapisan sehingga diberi tanda MC (multi coating)
yang secara umum memiliki performa lebih baik dibandingkan lensa lama yang
masih single coating.
4. Aspherical merupakan konstruksi lensa yang mengandung elemen lensa aspheric dan
berfungsi untuk mengurangi pembiasan spherical aberration yang disebabkan oleh
bentuk lensa yang cembung.
5. Low Dispersion adalah elemen optis yang minim dispersi (penyebaran) cahaya, sehingga
intensitas cahaya yang sampai pada sensor menjadi lebih tinggi dan detil yang diperoleh
lebih banyak.

Beberapa tulisan yang lalu tentang lensa mungkin bisa memberikan tambahan informasi:
Memilih Lensa untuk Anda
Memilih Lensa Sesuai Keperluan
Lensa Manual
Zoom Lens
Fast Lens
Prime Lens

Semoga bisa memberi pedoman untuk memilih lensa berikutnya :-)


Diposkan oleh Awan Wisudanto di 15:45 Link ke posting ini
Label: aksesoris, lensa, tips

Minggu, 20 Februari 2011


Stage Photography

Hari senin, 14 Februari 2011, saya berkesempatan menyaksikan penampilan live permainan
biola Idris sardi di Ballroom Hotel basko, Padang. Saat itu saya hanya membawa lensa all round
Tamron 18-200 mm f/3.5-6.3 yang sebetulnya kurang cocok untuk stage photography atau foto
panggung. Pemotretan seperti ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri, antara lain karena

• Cahaya yang tidak merata


• Penyanyi, penari, atau pemain yang selalu bergerak
• Jarak yang jauh antara fotografer dan panggung
• Waktu yang terbatas

Idealnya, untuk melakukan pemotretan seperti ini digunakan:lensa dengan jarak fokus cukup
panjang (135 mm atau lebih) dan aperture lebar (f/2.8, f/2 atau lebih besar lagi). Fitur image
stabilizer dan sejenisnya akan sangat membantu.

Beberapa hal yang perlu dilakukan jika hendak melakukan pemotretan penampilan di panggung:

1. Datang lebih awal, tujuannya untuk melakukan survei lokasi & memperoleh tempat
terbaik untuk memotret. selama pertunjukan, mungkin Anda tidak dapat berpindah
tempat karena penuh, jadi pastikan untuk memproleh tempat terbaik sejak awal.
2. Sedekat mungkin dengan panggung, tujuannya agar pemotretan tidak terhalang oleh
pemirsa atau aktivitas lainnya. Jarak juga berpengaruh pada pencahayaan dan ketepatan
fokus
3. Gunakan shutter speed priority, (mode S atau Tv) tujuannya agar diperoleh kecepatan
yang cukup untuk mencegah motion blur akibat gerakan penampil. Idealnya, diperlukan
speed 1/40 s atau lebih cepat. Usahakan untuk memperoleh speed ini dengan
menggunakan bukaan terlebar dan naikkan ISO secukupnya, Pemilihan speed yang tepat
juga bisa menampilkan gerakan (motion blur) di panggung.
4. Metering centre weighted, disebabkan biasanya lokasi di sekitar penampil utama
memperoleh penerangan lebih kuat sedangkan lokasi lain cenderung gelap. Average atau
matrix metering akan beresiko over-exposed pada penampil utama sedangkan spot
metering justru akan menyebabkan bagian lain panggung terlalu gelap (under-exposed)
5. Jangan menggunakan flash, karena penggunaan flash mungkin mengganggu
konsentrasi penampil dan mengurangi suasana pencahayaan panggung yang
sesungguhnya (ambience). Penggunaan flash juga beresiko interferensi dengan flash lain
sehingga foto menjadi gelap. Lebih baik menggunakan ISO tinggi (800 , atau lebih)
untuk memperoleh foto yang lebih mendekati kenyataan.
6. Custom White Balance, pencahayaan panggung yang berubah-ubah sering
mengacaukan fungsi AWB, oleh karena itu sebaiknya gunakan Custom White Balance
dengan menggunakan Grey Card atau lakukan setting Kelvin WB pada 2900-3600 K.
7. Manual fokus, diperlukan jika lensa tidak dilengkapi USM atau SSM yang
memungkinkan respon cepat. Penampil yang selalu bergerak dan pencahayaan yang tidak
merata sering menyulitkan reaksi lensa sehingga banyak momen terlewat.
8. Potret sebanyak-banyaknya, merupakan kiat untuk memperoleh lebih banyak potensi
momen terbaik. Manfaatkan waktu Anda untuk memperoleh lebih banyak foto & jangan
habiskan untuk me-review (monkeying). Review singkat diperlukan untuk memperoleh
setting yang tepat, selain itu gunakan untuk memotret.
9.

Apabila memungkinkan, potretlah penampil saat bersiap naik ke panggung atau saat istirahat.
Pada situasi di luar panggung, ada lebih banyak kesempatan memperoleh foto yang tajam dengan
ekspresi yang menarik.

Karena ketidaksesuaian lensa, pemotretan penampilan di panggung malam itu hasilnya kurang
memuaskan, untunglah ada kesempatan untuk memotret Mas Idris saat ngobrol makan malam.
Yang lebih menarik, obrolan dengan Mas Idris & keluarga malam itu memberikan saya banyak
hal untuk direnungkan & dipraktekkan. Berbagai topik mengenai perjalanan hidup, sikap
bersyukur & optimis, serta nasionalisme disampaikan secara ringan oleh Mas Idris.

Karena blog ini khusus mengenai fotografi, silakan klik link berikut untuk membaca lebih lanjut
obrolan dengan mas Idris:
Belajar Tentang Hidup Bersama Idris Sardi
Diposkan oleh Awan Wisudanto di 18:44 Link ke posting ini
Label: ambience, centre weighted, shutter priority, stage photography, teknik fotografi, tips
Jumat, 11 Februari 2011
Photographer's Notes - Shot List

Ini sebetulnya sebagian dari percakapan saya dengan fotografer senior Aryono Huboyo Djati
(AHD) di Mall Ambassador beberapa bulan lalu. Baru terpikir untuk menuliskannya ketika
seorang teman mengeluh selalu ketinggalan momen sewaktu hunting Street Photography.

Masalahnya adalah, teman tersaebut tidak mengantisipasi, momen apa yang mungkin dia temui
dalam suatu lokasi di waktu tertentu. Akibatnya, dia gagal mengantisipasi setiap momen karena
masih berkutat dengan setting kamera saat sesuatu terjadi. Dia juga tidak sempat berinteraksi
untuk mengkondisikan subyek agar cocok dengan konsep. Fotografi adalah sebuah proses.
sebagaimana semua profesi yang lain, seorang fotografer tidak dapat mengandalkan kebetulan
tetapi harus berusaha untuk mendapatkan momen yang terbaik dengan properti yang tersedia.
Itulah perlunya memiliki Photographer's Notes atau Shot List.

Photographer Notes atau Shot List adalah sebuah catatan yang berisi konsep atau sketsa kondisi
yang bisa ditemui dalam sebuah proses hunting atau sesi foto. Dalam catatan ini fotografer -
berdasarkan pengalaman atau eksplorasinya - sudah memperkirakan momen apa saja yang dapat
terjadi dengan memperhitungkan kondisi lokasi, cuaca, dan berbagai faktor lainnya. Sebagai
seorang fotografer yang banyak berkarya dalam kategori human interest, AHD beberapa kali
menyebutkan bahwa human interest ataupun street photography tidaklah sama dengan candid

AHD waktu itu memberi contoh:


Lokasi pemotretan: Jembatan Penyeberangan
Waktu: Siang hari menjelang sore
Dari data tersebut, maka dibuat pemetaan yang lebih spesifik untuk dieksplorasi, misalnya:
(1) Bagian mana dari jembatan yang akan dimanfaatkan: tiangnya, tangganya, di atas jembatan
dsb
(2) Siapa subyek yang dapat ditemui: anak-anak, gadis remaja, nenek tua, dsb
(3) Sedang apa subyek saat itu: berjalan, menunggu, berjualan, dsb
(4) Faktor highlight & bayangan
(5) dsb
Tambahan dari AHD setelah membaca artikel ini, tentang pentingnya konsep:
"konsistensi terhadap tema yg mau difoto, semisal di jembatan penyeberangan banyak yg bagus
utk direkam,... dalam prakteknya kita kudu targetin semisal 'kaki2 penyeberang',... kalo toh
nantinya diantara kaki2 ada pengemis tertidur,... anggap saja bonus dari variant kaki2
dimaksud"

(dikirim via Facebook, matur nuwun sanget untuk tambahan ilmunya)

AHD juga memberikan link sebagai bahan bacaan tambahan: Lihat Sekitar & Lebih Sensitif

Dari contoh tersebut, kita dapat mengembangkannya ke berbagai lokasi lain, seperti: lampu lalu
lintas, taman kota, monumen, museum, dsb. Kalau perlu, kita dapat melakukan conditioning,
mengkondisikan subyek agar berada di lokasi terbaik pada waktu yang paling tepat. Survei
sebelum pemotretan tentu akan memberi manfaat yang besar. Seringkali seorang fotografer harus
datang lagi ke suatu tempat untuk memperoleh momen yang terbaik. Dengan langkah-langkah
dan persiapan yang baik, maka kita tidak perlu membuang terlalu banyak frame untuk foto-foto
yang kurang memuaskan.

Catatan ini juga dapat dipelajari & dievaluasi kembali sehingga fotografer semakin terlatih &
tanggap terhadap kondisi sekelilingnya. Oleh karena itu, saya setuju sekali dengan kutipan yang
digunakan Frunze (seorang rekan di komunitas Alpharian) dalam signature-nya: "Fotografer
sejati adalah Fotografer yang mau menghargai sebuah foto tidak hanya dari hasilnya, tetapi
juga prosesnya."

Keep jepret!
Salam :)
Diposkan oleh Awan Wisudanto di 01:11 Link ke posting ini
Label: candid, conditioning, human interest, Notes, Shot list, street photography, tips

Selasa, 25 Januari 2011


Macro dengan Extension Tube

Fotografi makro merupakan kategori yang menarik bagi banyak orang. Banyak alternatif untuk
membuat foto makro, sebagaimana yang sudah saya tulis dalam artikel terdahulu, atau
menggunakan reversed lens seperti yg dilakukan rekan saya Roi Rungkadi Ismail dan Adrianus
Juniarno. Artikel & diskusi lengkap silakan di-klik ke Fotografer.Net
Reversed lens & flash diffuser by Roi Ismail

Reversed lens by Adrianus Juniarno

Extension Tube merupakan alat tambahan yang murah & efektif untuk foto macro. Prinsip dasar
alat ini adalah menjauhkan jarak lensa dari kamera, sehingga bayangan obyek paling tajam jatuh
pada R3, yaitu jarak antara 2f dan tak hingga (f = focal length, jarak fokus lensa). Efeknya,
image yang diterima oleh sensor adalah sama atau lebih besar daripada obyek aslinya.
Dengan prinsip seperti di atas, extension tube dapat dibuat sendiri dengan menggunakan
berbagai macam tabung, di seperti pipa paralon, tutup botol hairspray, kaleng minuman ringan,
dsb sepanjang diameternya cocok dengan lensa yang akan kita gunakan. Pada test kali ini, saya
menggunakan lensa M42 dengan extension tube yang saya beli dari Mas Teguh (paijo43) di
bursa Alpharian.com seharga Rp 100.000. bentuk barangnya seperti ini:

Extension tube ini terdiri dari 3 bagian, yaitu tabung 1 cm, 2 cm, dan 4 cm. Kita bisa
mengkombinasikan pemakaiannya sehingga diperoleh variasi jarak antara 1 cm s.d 7 cm.
Extension tube ini saya pasangkan pada lensa Helios 2/58 M44-2 seperti ini:

Lalu dipasangkan pada kamera Sony a200 seperti ini:


Hasilnya, lensa Helios M44-2 yang memiliki jarak obyek normal minimum 48 cm, dengan
berbagai kombinasi dapat memotret obyek pada jarak 7 s.d 20 cm. Keuntungan dari penggunaan
macro extension tube dibandingkan metode yang lain adalah:

1. Pemasangan yang mudah


2. Dapat dikombinasi sedemikian untuk memperoleh jarak ideal
3. Tidak memiliki elemen optik sehingga tidak mempengaruhi kualitas lensa

Namun demikian, macro extension tube tetap memiliki kelemahan, yaitu:

1. Focusing ring tidak bekerja, kamera harus digerakkan maju mundur untuk memperoleh
hasil paling tajam
2. F-stop turun 1-2 stop tergantung panjang tube yang digunakan

Hasil pemotretan dengan extension tube sebagai berikut:

Obyek test
Jarak terdekat normal: 48 cm

Sony A200 + Helios + Macro ext 1 cm

Sony A200 + Helios + Macro ext 3 cm


Sony A200 + Helios + Macro ext 7 cm
Selamat mencoba
Diposkan oleh Awan Wisudanto di 10:30 Link ke posting ini
Label: extension tube, lensa manual, macro, teknik fotografi, tips

Jumat, 21 Januari 2011


Lensa Manual di Body Digital

Yang dimaksud dengan lensa manual adalah lensa-lensa dari jaman kamera film (analog) yang
belum memiliki fasilitas autofocus. Karena belum ada fasilitas autofocus tersebut, jadi kita harus
memutar-mutar focusing ring-nya untuk memperoleh fokus yang tepat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lensa manual menjadi menarik, di antaranya:

1. Unik, karena mengundang pertanyaan dari rekan-rekan kalau hunting


2. Bokeh, beberapa memiliki ciri yang khas dan menghasilkan foto yang menarik.
3. Optik, kualitas & ketajamannya tidak kalah dengan lensa-lensa baru
4. Harga yang relatif lebih murah daripada lensa baru.

Beberapa lensa manual memiliki bokeh yang swirly, istilah yang merujuk pada bentuk melingkar
pada latar belakang yang blur sebagaimana pada contoh berikut:
Coating pada lensa manual juga dapat menghasilkan tonal warna yang khas, seperti
perbandingan berikut:

Asyiknya, banyak lensa manual yang dapat dimiliki dengan harga di bawah Rp 1.000.000.
Bahkan ada yang harganya di bawah Rp 500.000.
Namun demikian, adabeberapa hal yang harus diperhatikan dari lensa-lensa ini, yaitu:

1. Adapter yangtepat, diperlukan untuk "menyambung" lensa ke body. Adapter ini juga
diperlukan untuk "menipu" body karena beberapa body kamera tidak mau melepas
shutter jika tidak ada lensa yang terpasang.
2. Coating, kebanyakan masih memakai single coating atau bahkan tanpa coating, sehingga
sangat rentan terhadap flare jika memotret dengan arah cahaya yang tidak tepat.
3. Keausan mekanis, menyebabkan beberapa lensa lama ambrol bagian aperture-nya walau
baru dipakai beberapa kali. Ini bisa dirasakan dari kelancaran saat memutar focusing ring
dan aperture ring.
4. Kerjasama tangan & mata harus baik untuk menjamin diperolehnya gambar yang tajam.

Alhamdulillah, saya dapat "warisan" adapter M42 to Sony Alpha dari AHD. Adapter dengan
chip AF confirm ini sangat membantu dalam pemotretan karena ada bunyi "beep" yang muncul
saat obyek masuk ke fokus. Untuk latihan, saya dapat pinjaman Carl Zeiss Pancolar 50 mm f/1.8
dari kang Irfan Tachrir. Belakangan, saya dapat Helios M44-2 dengan jarak fokus 58 mm dan
bukaan maksimal f/2 yang saya beli dari Kang Saeful di Bogor.

Ini foto lensa Helio M44-2 yang terpasang di body Sony Alpha A-200:

Mau tau le bih banyak soal lensa manual dan community-nya? Silakan klik Lensa-Manual.Net
Diposkan oleh Awan Wisudanto di 18:26 Link ke posting ini

Minggu, 09 Januari 2011


Prosumer Superzoom Masih Tetap Menarik

Walaupun kamera DSLR semakin terjangkau dan banyak inovasi dari kamera tanpa cermin yang
ringkas, tetapi produk prosumer superzoom tetap menarik minat para pehobi fotografi. Dari
catatan di blog ini saja, tanggapan untuk artikel Kamera Superzoom 2 Jutaan masih terus
muncul. Saya, dengan berbagai pertimbangan, terpaksa mengabaikan beberapa pertanyaan yang
pada dasarnya sudah pernah ditanyakan.
Paling tidak, ada 5 keunggulan dari kamera prosumer superzoom ini:
1. Range fokus lensa yang lebar, cocok dipakai di berbagai kesempatan
2. Bentuk yang ringkas
3. Bobot yang ringan
4. Keleluasaan setting (P, A, S, M dan Scene program)
5. Harga yang terjangkau
Sudah tentu tiada gading yang tak retak, semua produk mempunyai kelemahan. Sensor yang
kecil akan memberi keterbatasan dalam kondisi cahaya yang kurang (lowlight) dan penggunaan
ISO tinggi. Namun jika Anda penyuka fotografi makro, kamera prosumer superzoom ini sangat
menguntungkan, silakan lihat artikel Close Up Macro Photography dan beberapa artikel tentang
macro lainnya.

Perkembangan teknologi dan munculnya produk-produk baru membuat pilihan yang tertulis
dalam artikel sebelumnya menjadi out-of-date . Jika Anda bermaksud membeli prosumer
superzoom saat tulisan ini dibuat, beberapa pilihan di kisaran harga Rp 2.000.000 yang dapat
dipertimbangkan adalah:
- Canon SX130 IS atau SX210IS
- Casio exilim EX-H5
- Fujifilm S1600, S1800, S1900, S2500, S2550, S2800
- Nikon L110, P8000, P9100
- Olympus SP600UZ
- Panasonic Lumix TZ7, FZ28
- Sony H55

Mungkin masih ada yang lain belum tertulis, tapi saya yakin alternatif pilihan yang sudah disebut
di atas itu cukup membingungkan Anda untuk memilih salah satu yang paling cocok ...hehehe ...
Penekanannya, pilih yang paling cocok. Kenapa bukan yang terbaik?
Karena yang terbaik mungkin tidak tersedia di lokasi Anda. mungkin pula harganya tak
terjangkau, dsb. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pilih kamera yang bergaransi
resmi dan service point-nya mudah dijangkau dari lokasi Anda. Ini akan memudahkan Anda
jika ada kesulitan atau masalah pada unit yang Anda beli.