Anda di halaman 1dari 16

Natural Fiber-

Reinforced
Composite as
Prosthesis
Paper Disain Rekayasa Material

Departemen Metalurgi dan Material FTUI

Gana Damar Kusuma 0806331582


Kuswarini 0806331651
M Dimas Sanjaya 0806331670
M Ekaditya Albar 0806331683
Mia Diniati 0806331720
BAB I
PENDAHULUAN

Akhir – akhir ini perkembangan penggunaan material logam sudah mulai tergantikan
dengan material komposit pada beberapa aplikasi, terutama aplikasi yang mengharuskan
menggunakan material dengan berat yang ringan namun tetap memiliki sifat mekanis yang
dibutuhkan. Selain itu, penggantian penggunaan material logam juga berhubungan dengan
sifat korosi logam yang tidak dimiliki oleh material komposit. Sifat korosif ini sangat
merugikan dari penggunaan material yaitu dapat menurunkan sifat mekanisnya dan dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan (failure) pada material tersebut. Oleh karena itu,
penggunaan material komposit sudah mulai dipertimbangkan untuk menggantikan material
logam namun hanya untuk aplikasi – aplikasi tertentu saja. Material komposit yang dimaksud
biasanya merupakan jenis komposit yang matriksnya berupa polimer yang diperkuat dengan
fiber atau serat alami (natural fiber). Material komposit jenis ini memiliki berat jenis yang
jauh lebih rendah dari berat jenis material logam namun memiliki sifat mekanis yang tidak
jauh berbeda dari beberapa jenis logam saja sehingga penggunaannya terbatas hanya sebagai
pengganti logam tertentu saja.
Salah satu aplikasi yang digunakan akhir – akhir ini adalah pemanfaatan material
komposit sebagai bahan untuk alat bantu buatan yang dipergunakan untuk mengganti fungsi
dari anggota tubuh yang hilang akibat terjadinya kecelakaan, terserang penyakit atau cacat
bawaan dari lahir. Alat ini dikenal sebagai prosthesis. Material komposit untuk aplikasi
prosthesis ini adalah karbon dan glass, namun kali ini penulis akan merancang dan mendesain
produk prosthesis yang terbuat dari material komposit berbahan pengguat serat alami
(natural fiber-reinforced composite). Alasan mengapa penulis adalah bahwa serat alami
menggantikan penguat komposit prosthesis yang biasanya terbuat dari karbon dan glass di
mana natural fiber memiliki kekuatan mekanis baik dan menghasilkan produk yang ramah
lingkungan dimana memerlukan energi yang lebih rendah dalam pembuatannya.

Disain Rekayasa Produk


1
BAB II
DASAR TEORI

Prosthesis merupakan sebuah alat tambahan buatan yang digunakan untuk mengganti
dari anggota tubuh yang hilang akibat kecelakaan, penyakit atau cacat. Material yang dipakai
umumnya adalah karbon dan glass composite, namun kali ini penulis akan merancang dan
mendesain prosthesis yang terbuat dari material komposit berbahan pengguat serat alami
(natural fiber-reinforced composite).
A. Material Biokomposit
Biokomposit atau green komposit didefinisikan sebagai material komposit yang
tersusun dari biofiber atau serat alami yang dapat terdegradasi sebagai penguatnya dan
polimer yang tidak dapat terdegradasi (non-biodegradable) atau yang dapat terdegradasi
(biodegradable) sebagai matriknya. Serat alami (natural fiber) yang digunakan terdiri dari:
 Serat Nabati: merupakan serat yang paling banyak digunakan, karena jumlahnya
dialam berlimpah dan tidak mahal. Cotohnya adalah katun, rami, goni dan serat
selulosa lain yang berasal dari tumbuhan.
 Serat Hewani: merupakan jenis yang kurang banyak digunakan tetapi memiliki
potensial, serat hewani yang sering digunakan adalah sutra, dan wool.
Berikut pembagian komposit berbahan penguat serat alami (natural fiber-reinforced
composite)

Gambar 1. Klasifikasi serat alami untuk penguat komposit


Keunggulan menggunakan serat alami (natural fiber) untuk menggantikan sebagian
serat kaca pada komposit dengan penguat plastik , dapat diperoleh penampilan yang lebih
baik dan juga memperbaiki sifat sifatnya:

Disain Rekayasa Produk


2
 Mengurangi berat
 Dapat didaur ulang
 Sebagai langkah untuk bumi hijau (green movement)
 Mengurangi molding cycle
 Biaya yang lebih kompetitif
 Performance material yang lebih baik
Pada material komposit, serat merupakan penguat yang memiliki kekuatan tarik dan
kekakuan yang tinggi, sementara matriks berikatan/menempel bersama dengan serat
mentransmisikan shear forces dan juga berfungsi sebagai coating. Sifat mekanik dari serat
ditentukan oleh kekuatan tariknya dan kekakuannya. Kekuatan dari komposit yang dihasilkan
sendiri ditentukan dari luas permukaan kontak antara matriks dan penguatnya, serat yang
lebih kecil akan memiliki luas permukaan kontak yang lebih besar sehingga sifat adhesi yang
lebih baik. Kriteria pemilihan fiber-reinforced yang baik tergantung dari:
 Elongasi saat patah
 Kestabilan thermal
 Sifat tarik menarik (adhesi) antara serat dan matriks
 Harga dan biaya produksinya
Saat ini sebagian besar industri biokomposit masih menggunakan matriks yang
berasal dari material non-biodegradable, seperti material thermoplastic atau thermoset
sintetis. Sedangkan untuk material yang berasal dari alam (material biodegradable) masih
sedang dikembangkan.
Serat alami (natural fiber) dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber dari fiber
tersebut, yaitu:
a. Vegetable fiber
Serat ini berasal dari bagian tumbuhan yang dipadukan dengan resin. Resin yang
sering digunakan adalah polimer dispersions dan phenolic resin. Jenis serat ini terdiri
dari 3 jenis, yaitu
a.1 Serat buah (Fruit Fiber): Serat yang didapatkan dari bagian buah. Buah yang
sering digunakan adalah buah kapas dan buah kelapa (serabut kelapa). Serat ini
bersifat ringan dan berbulu.
a.2 Serat kulit pohon (Steam Fiber): Serat yang didapatkan dari batang tumbuhan.
Jenis serat ini adalah Jute, Flax, Ramie dan Hemp.
a.3 Serat daun (Leaf Fiber): Serat yang didapatkan dari daun-daun yang kokoh dan
keras serta kasar. Contohnya adalah sisal yang merupakan serat yang kuat dan

Disain Rekayasa Produk


3
kokoh
Berikut sifat dari serat alami (natural fiber) jika dibandingkan dengan glass

b. Animal fiber
Serat yang dihasilkan dari hewan. Serat jenis ini memiliki kelebihan dibandingkan
polimer yaitu harga yang lebih murah dan bahan baku yang dapat diperbaharui. Jenis
serat ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
a.1 Serat wol (Wool Fiber): serat yang dibuat dari bulu hewan. Contohnya wol
(bulu domba), bulu kambung
a.2 Serat sutra (Silk Fiber): serat yang dihasilkan dari serangga. Bahan bakunya
biasanya berasal dari laba – laba.
a.3 Serat burung (Avian Fiber): serat yang berasal dari unggas atau bulu unggas.
c. Mineral Fiber
Bagian dari komposit alami dimana serat penyusunnya berasal dari mineral bumi.
Serat mineral ini terbagi atas serat mineral yang langsung digunakan dari alamnya
tanpa proses lebih lanjut (naturally occurred) serta serat mineral yang harus diolah
terlebih dahulu dengan separasi dan pengayaan. Serat mineral alami yang langsung
digunakan dikenal sebagai kelas asbestos, sedangkan serat mineral yang harus diolah
lebih lanjut dibagi atas serat keramik dan serat logam.
B. Prosthesis
Prosthesis merupakan sebuah alat tambahan buatan yang digunakan untuk mengganti
dari anggota tubuh yang hilang akibat kecelakaan, penyakit atau cacat. Prosthesis berasal dari

Disain Rekayasa Produk


4
bahasa yunani, yaitu prostithenai, yang berarti “menambahkan”. Jadi, prosthesis dalam
kehidupan sehari-hari mempunyai arti alat tambahan yang dipasang untuk menggantikan
bagian tubuh yang hilang atau rusak. Selain digunakan sebagai pengganti dari tungkai bawah,
prosthesis juga dapat menggantikan banyak bagian tubuh yang lain, yaitu sebagai sambungan
pinggul, pengganti lengan, kaki, pengganti telinga, bahkan mata bionik. Contohnya adalah
bagian kaki tungkai bawah. Tungkai bawah yang diamputasi dapat disebabkan oleh beberapa
hal:
 Penyakit pembuluh darah arteri perifer akibat merokok atau komplikasi diabetes
 Frostbite (Kerusakan jaringan akibat suhu yang teramat rendah)
 Luka bakar
 Kanker tulang
 Infeksi tulang berat, contohnya osteomielitis
 Bawaan lahir
 Kecelakaan kendaraan
Alat ini berguna sebagai rangka, otot manusia dan sistem saraf untuk membantu
bagian tubuh yang rusak dari manusia akibat kecelakaan, penyakit atau cacat. Letak dari alat
tambahan ini bisa di luar tubuh atau di dalam tubuh, seperti katup jantung buatan yang sedang
dikembangkan akhir –akhir ini. Alat ini telah lama digunakan yaitu sejak zaman Yunani
dahulu. Berikut contoh prosthesis yan digunakan sebagai alat bantu untuk berjalan

Gambar 2. Alat prosthesis untuk kaki palsu

Disain Rekayasa Produk


5
BAB III
DESAIN PRODUK

Prosthesis pada umumnya terbuat dari komposit dengan polimer sebagai matriksnya
dengan karbon dan glass fiber sebgai penguatnya. Oleh sebab penulis akan merancang
prosthesis yang terbuat dari komposit dengan dengan matriks yang terbuat dari polimer dan
penguat yang ramah lingkungan dengan tetap memiliki kekuatan yang diperlukan untuk
prosthesis yang terbuat dari natural fiber.
Untuk aplikasi sebagai prosthesis, komposit yang digunakan harus memenuhi
beberapa kriteria sebagai berikut:
A. Client Requirement
Material komposit berbahan penguat serat alami harus memenuhi kriteria dari sisi
pelanggan yang akan menggunakannya sebagai prosthesis. Berikut persyaratan yang
wajib dipenuhi material, yaitu Natural fiber reinforce composites as Prosthesis
memiliki berat jenis yang ringan, memiliki kekuatan dan fleksibilitas yang baik,
memiliki ketahanan terhadap air yang baik, mudah untuk digunakan, dan memiliki
waktu penggunaan yang lebih lama (durability)
B. Design Requirement
Dalam penyusunan sebuah produk, harus pula diperjelas persyaratan desain yang akan
dibuat. Persyaratan desain ini meliputi banyak hal, berikut akan dijabarkan satu persatu:
B. 1. Physical and Operational Characteristics
Pertama kali yang penting dalam penyusunan sebuah persyaratan desain adalah
mempertimbangkan dari sisi persyaratan pengoperasian dan mekanisnya karena
material ini akan digunakan pada beban tertentu, berikut penjabarannya:
a. Performance Requirements
Persyaratan kinerja yang harus dipenuhi material tersebut yang
diaplikasikan sebagai prosthesis, yaitu:
 Penyimpanan dan pelepasan energi (penyimpanan energi yang
diperoleh saat kontak dengan tanah dan penggunaan energi yang
tersimpan tadi untuk tenaga pendorong atau penggerak)
 Energi absorpsi (meminimalisasi efek impak yang tinggi pada sistem
musculoskeletal)
 Kestabilan terhadap kondisi tanah (kestabilan terhadap tipe dan sudut

Disain Rekayasa Produk


6
tanah)
 Rotasi (kemudahan untuk perubahan arah)
 Berat (harus ringan untuk memaksimalisasi kenyamanan,
keseimbangan dan kecepatan)
 Suspensi (bagaimana soket tersambung dan tepat terpasang dengan
anggota badan)
 Memungkinkan pasien yang memiliki bagian teramputasi untuk
melakukan mobilitas dan melakukan aktivitas secara independen
 Memiliki ketahanan terhadap air yang baik
 Hemat biaya
b. Safety
Dalam persyaratan desain pun, perlu diperhatikan batas aman penggunaan
dari produk ini, yaitu:
 Mengunjungi physical therapist untuk penyesuaian penggunaan alat
 Alat harus dibersihkan setiap hari dan bagian yang teramputasi harus
rutin mengecek ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada yang rusak.
c. Life In Service
Dalam menjaga keselamatan pengguna produk ini, produsen perlu
memerhatikan kapan produk itu masih layak dipakai atau tidak. Untuk
produk prosthesis, produk dapat digunakan hingga 3 – 4 tahun tergantung
dari perawatan dan penggunaan produk oleh pengguna
d. Operating Environment
Untuk menjaga produk agar tetap tahan lama dan dapat memenuhi target
umur dari yang diprediksikan oleh produsen, maka perlu diperhatikan
lingkungan yang memenuhi persyaratan itu. Untuk produk prosthesis, suhu
penggunaan tergantung dari suhu tubuh pengguna yaitu sekitar 37oC.
e. Ergonomics
Dengan menggunakan natural fiber reinforced composites sebagai bahan
baku pembuatan Prosthesis akan didapatkan produk yang ringan yang akan
memberikan kenyamanan pada pengguna.
f. Size
Ukuran dari Prosthesis ini tergantung dari ukuran kaki dari pasien yang
akan digantikan, dengan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu dan

Disain Rekayasa Produk


7
dilanjutkan oleh prosthetist untuk melakukan pengukuran sebelum (body
segments dan memastikan lokasi tulang dan otot) dan sesudah Prosthesis
diproduksi hingga pasien merasa nyaman untuk menggunakannya.
g. Weight
Penggunaan prosthesis (kaki palsu) lebih ringan daripada kaki alami
dimana kedua kaki kita memiliki berat 30-40 % dari total berat badan
dengan tujuan agar terasa ringan saat kita menggunakannya.
h. Aesthetics, Appearance, and Finish
Penggunaan prosthesis ini memperhatikan kenyamanan dan tampilannya.
Desain dari Prosthesis disesuaikan dengan bentuk kaki pasien. Foam cover
akan dilapisi dengan artificial skin dengan warna dari cover akan
disesuaikan dengan warna kulit pasien atau foam cover dapat dilapisi juga
dengan kaos kaki.
B. 2. Standards and Specifications
Dalam pembuatan produk ini, penulis menggunakan beberapa standar ,yaitu:
a. ISO 22675 = International Standars for Prosthetic Feet
b. ASTM D 4762-04 = Standard Guide for Testing Polymer Matrix
Composite Materials
c. ASTM D 3039 = Test Method for Tensile Properties of Polymer Matrix
Composites Material
d. ASTM D 5229 = Test Method for Moisture Adsorption Properties and
Equilbrium Conditioning of Polymer Matrix Composites
e. ASTM E 1049 = Standard Practices for Cycle Counting in Fatigue
Analysis
f. ASTM 3479 = Test Method for Tension – Tension Fatigue of Polymer
Matrix Composite Material

Disain Rekayasa Produk


8
BAB IV
PROSES MANUFAKTUR

Material yang cocok digunakan untuk pembuatan desain produk prosthesis berbahan
komposit berbahan penguat serat alami adalah komposit serat alami yang berasal dari pohon
bambu dan berbahan dasar polimer epoksi. Berikut penjelasan pemilihan material dan
pemrosesan dari material tersebut:
A. MATERIAL EPOKSI
Pemakaian epoksi sebagai matriks dasar pada komposit serat alami ini didasarkan pada
material epoksi yang bersifat thermoset dimana memiliki sifat mekanis yang baik. Sifat
dari thermoset sendiri adalah material polimer yang memiliki ikatan jaring silang yang
keras dan kaku sehingga tidak mengalami pelunakan dan menjadi leleh saat
dipanaskan. Material thermoset kaku dan tidak mengalami perubahan bentuk seperti
material elastomer dan thermoplastik. Keuntungan penggunaan dari material epoksi
thermoset adalah material epoksi memiliki respons terhadap perlakuan panas dan
kimiawi lebih baik dari material thermoplastic dan sifat mekanis yang baik. Material
thermoset juga sudah banyak digunakan sebagai matriks komposit. Proses untuk
mendapatkan epoksi dengan memanfaatkan material epoksi yang sudah ada di pasaran
dan proses pembuatannya sama seperti material thermoset lainnya.
B. SERAT ALAMI BAMBU (BAMBOO NATURAL FIBER)
Pemilihan serat bamboo sebagai penguat untuk material komposit berbahan dasar
epoksi didasarkan pada sifat ramah lingkungannya yang menjadi pertimbangan utama
daripada komposit karbon atau glass walaupun sifat mekanisnya berbeda antara kedua
komposit ini. Berikut perbandingan sifat mekanis antara serat bamboo dengan karbon
dan glass
Material Densitas Kekuatan tarik Modulus young Elongasi (%)
(g/cm2) (MPa) (GPa)
Bamboo 1,4 500-740 30-50 2

E-glass 2,5 1200-1800 72 2,5

Carbon 1,4 4000 235 2

Pertimbangan utama lebih cenderung memilih serat bamboo adalah sifat ramah

Disain Rekayasa Produk


9
lingkungannya. Berikut beberapa fakta tentang sifat ramah lingkungan dari bamboo,
yaitu:
 Bambu tumbuh tanpa pestisida atau pupuk kimia.
 Bambu merupakan tanaman yang tumbuh tanpa irigasi.
 Bamboo tumbuh secara alami tanpa perawatan pertanian dan tanpa penggunaan
alat berat untuk penanaman bibit serta pengolahan tanahnya.
 Bambu merupakan tanaman yang 100% biodegradable dan dapat
terdekomposisi secara sempurna oleh tanah dengan bantuan mikroorganisme
dan sinar matahari tanpa menghasilkan adanya polutan seperti gas metana yang
biasanya dihasilkan dari proses dekomposisi.
 Bambu tumbuh secara cepat dan dapat dipanen dalam 3 sampai 5 tahun.
 Bambu menyerap karbon dioksida 5 kali lebih banyak dan memproduksi 35%
oksigen lebih banyak daripada pohon pada umumnya.
 Bambu merupakan system fotosintesis yang besar dan mengurangi gas rumah
kaca.
 Bambu adalah inhibitor erosi tanah yang sangat baik.

Untuk pembuatan serat bamboo sendiri ada beberapa metode yang bisa digunakan,
namun umumnya digunakan metode pembuatan serat bamboo secara kimiawi
menggunakan hydrolysis alkalization dengan multi-phase bleaching. Metode ini sudah
banyak digunakan untuk teknologi pembuatan. Berikut tahapan proses tersebut:
1. Daun bamboo dan batang yang yang keras diekstrak dan dihancurkan.
2. Selulosa bamboo hasil penghancuran direndam pada larutan natrium hidroksida
dengan kadar 15-20% pada suhu antara 200-250C selama 1-3 jam untuk
membentuk selulosa basa.
3. Selulosa basa dari bamboo lalu ditekan untuk menghilangkan larutan natrium
hidroksida yang berlebih. Selulosa basa dihancurkan dengan grinder dan
dikeringkan selama 24 jam.
4. Proses berikutnya adalah penambahan carbon disulfide untuk mensulfurisasi
agar campuran menjadi kental.
5. Carbon disulfide yang tersisa dihilangkan dengan menguapkannya melalui
proses decompression dan menghasilkan selulosa natrium xanthogenate.
6. Natrium hidroksida yang telah dicairkan ditambahkan ke selulosa natrium

Disain Rekayasa Produk


10
xanthogenate untuk membentuk larutan viscose yang mengandung 5% natrium
hidroksida dan 7-15% serat selulosa bamboo.
7. Serat selulosa bamboo dipaksa melalui pipa semprot yang berputar ke container
besar yang mengandung larutan asam sulfur yang akan mengeraskan selulosa
viscose natrium xanthogenate dan mengubah kembali menjadi benang serat
selulosa bamboo yang diputar menjadi benang serat bamboo dan siap digunakan
untuk fabrikasi.
C. PROSES PEMBUATAN KOMPOSIT
Untuk pembuatan natural fiber-reinforced composite, proses yang umumnya digunakan
adalah proses Resin Transfer Moulding (RTM). Proses ini membutuhkan cetakan yang
berguna sebagai pembentuk desain produk prosthesis yang diinginkan. Berikut gambar
dan tahapan dalam proses Resin Transfer Moulding (RTM):

Gambar 3. Proses Resin Transfer Moulding


Tahapan dari proses ini, yaitu:
1. Serat alami bamboo yang akan digunakan sebagai penguat composite diletakkan
di cetakkan. Kadar serat alami antara 10-20% dari volume total produk. Dengan
kadar sejumlah itu, akan menghasilkan gaya pembahasan dan ikatan yang baik
antara matriks dengan serat alami. Apabila melebihi 30%, maka akan
menghambat kemampuan permeabilitasnya.
2. Cetakan ditutup dengan menggunakan tekanan rendah (low pressure)
3. Resin epoksi diinjeksikan melalui nozzle yang ada.
4. Lakukan penekanan lagi dengan tekanan rendah (low pressure)
Keuntungan proses ini adalah:
1. Hasil produksi memiliki permukaan yang baik pada kedua sisinya
2. Menghasilkan ketebalan yang sama pada produk

Disain Rekayasa Produk


11
3. Menggunakan tekanan yang rendah (low pressure)
4. Produk yang dihasilkan sudah hampir mendekati produk jadi.
5. Menyisakan sedikit sampah/waste
6. Dapat memproduksi produk dengan bentuk yang susah dan berongga.
7. Menghasilkan produk dengan dimensi yang akurat
Berdasarkan desain yang diinginkan adalah alat prosthesis untuk penggunaan kaki
palsu/bantu sehingga dapat digunakan untuk membantu seseorang dalam berjalan.
Berikut desain untuk kaki palsu yang terbuat dari natural fiber-reinforced composite:

Gambar 4. Desain kaki palsu prosthesis


Prosthesis ini merupakan produk yang diproduksi tidak secara massal oleh karena itu
produksinya dilakukan apabila ada pemesanan saja yang dilakukan oleh pengguna yang
telah berkonsultasi sebelumnya dengan dokter yang bersangkutan. Dengan penggunaan
natural fiber-reinforced composites akan dihasilkan Prosthesis yang ramah lingkungan
dan juga murah dibandingkan dengan carbon dan glass composite. Total dari product
cost akan disesuaikan dengan kebutuhan untuk produksi sejumlah produk dan juga
banyaknya permintaan.

Disain Rekayasa Produk


12
BAB V
PEMAKAIAN PRODUK

Pemakaian prosthesis sebagai alat bantu manusia untuk menggantikan fungsi alat
tubuh yang hilang. Jenis prosthesis ini banyak tergantung dari bagian tubuh mana yang
hilang. Pada umumnya, pengguna prosthesis adalah mereka yang memiliki kelainan fisik
akibat telah diamputasi karena kecelakaan, penyakit, atau cacat lahir. Pemakaian prosthesis
harus memenuhi kenyamanan bagi penggunanya karena alat ini akan dipakai setiap hari
untuk memperlancar aktifitas dari penggunanya. Selain itu alat ini harus mudah dibersihkan,
mudah dilepas-pasang, dan terlihat natural. Selain itu alat harus kuat, namun ringan, sehingga
energi yang dibutuhkan pasien untuk berjalan, berlari, dan melakukan berbagai aktifitas
lainnya lebih rendah. Alat prosthesis ini sudah ada yang membuat namun materialnya yang
digunakan adalah carbon fiber (carbon fiber reinforced plastic). Menggunakan epoksi
sebagai material penyusunnya. Carbon fiber mempunyai rasio berat-kekuatan yang sangat
bagus, tetapi harganya sangat mahal. Nama komersil alatnya adalah GENER8.
Pada dasarnya, pemanfaatan prosthesis legs dapat dibagi menjadi 2 tipe:
1. Below the knee prosthetics atau trans-tibial prosthetics. Bagian yang diganti
adalah lutut kebawah
2. Above the knee prosthetics atau Transfemoral prosthesis. Jenis ini lebih rumit
dan komplet dibandingan dengan trans-tibial prosthetics karena mencakup lutut
buatan juga.
Berikut ini adalah cara untuk memasang artificial legs (tipe trans tibial)

3 4 5
2

7 8 9
6

Gambar 5. Pemakaian artificial legs

Disain Rekayasa Produk


13
Proses pemasangannya cukup mudah, seperti memasang kaus kaki. Tetapi,
penggantian ini mempunyai kelemahan karena tidak bertahan seumur hidup, sehingga mereka
memerlukan perawatan. Selama ini kelonggaran adalah masalah komplikasi utama pada
artificial legs ini. Untuk aplikasi dari prosthesis legs ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pembuatan alat tersebut:
1. Pemilihan material; Harus biocompatible. Alat tidak memberikan pengaruh buruk
kepada tubuh, dan juga sebaliknya. Selain itu, pengguna alat tersebut harus merasa
nyaman dalam pemakaian.
2. Kekuatan material; Material yang mempunyai kekuatan elastisitas yang besar mampu
menahan tegangan yang lebih besar sehingga produk tidak mudah mengalami
deformasi, sedangkan material dengan kekuatan elastisitas yang kecil akan mudah
mengalami cacat.
Sampai sekarang, prosthesis masih terus berkembang teknologinya. Pada kaki
manusia normal, terdapat 22 macam gerakan, sedangkan saat ini artificial legs baru mencapai
7 gerakan. Para peneliti terus berusaha mengembangkan teknologi prosthesis agar orang yang
tidak mempunyai bagian tubuh tertentu, seperti kaki, lengan, dan lain-lain, dapat beraktivitas
dengan normal dengan aman dan nyaman.

Disain Rekayasa Produk


14
DAFTAR PUSTAKA

1. Zulfia, Anne. Bio composite and Nature Fiber Composite. Handsout Kuliah Material
Komposit 2010. Teknik Metalurgi dan Material FTUI.
2. http://composites-by-design.com/?page_id=61 diakses pada 17 Maret 2011
3. http://www.fao.org/DOCREP/004/Y1873E/y1873e0a.htm diakses pada 17 Maret 2011
4. http://www.ctihuatai.com/Products-RtmEN.htm diakses 17 Maret 2011
5. composite artificial limbs. TIFAC. Department of Science and Technology Govt. of
India
(http://www.tifac.org.in/index.php?option=com_content&view=article&id=489&Itemi
d=190) diakses pada 17 Maret 2011
6. Shasmin, H.N, N.A.Abu Osman, L.Abd. Latif.2008.Economical Tube Adapter Material
in Below Knee Prosthesis.Malaysia.
7. artificial/prosthetic limbs.(http://www.medindia.net/patients/patientinfo/artificial-limbs-
about.htm) diakses pada 17 Maret 2011
8. American Standard Testing Materials
9. Rousion, D. Prof. M. Sain, Prof. M. Couturier. Resin Transfer Molding of
Polyester/natural diber composites for performance application
10. http://www.reachoutmichigan.org/funexperiments/agesubject/lessons/newton/prosthetic
05.html diakses pada 29 Maret 2011
11. http://www.scipolicy.net/prosthetic-legs/ diakses pada 29 Maret 2011
12. http://www.ehow.com/about_6694006_technology-prosthetic-legs.html diakses pada
29 Maret 2011
13. http://www.wisegeek.com/what-is-a-prosthetic-leg.htm diakses pada 29 Maret 2011
14. http://books.google.co.id/books?id=hnE6vUMjqmwC&pg=PT27&lpg=PT27&dq=aplik
asi+Prosthesis&source=bl&ots=10LKYih9nF&sig=crOWJATuUaoyLFekQ1iF7BFscz
o&hl=id&ei=8PWRTbiKBYOecOzGrIkH&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum
=5&ved=0CC8Q6AEwBA#v=onepage&q&f=false diakses pada 29 Maret 2011

Disain Rekayasa Produk


15