Anda di halaman 1dari 17

Suhu Tubuh Manusia

Pemeriksaan suhu digunakan untuk menilai kondisi metabolisme di dalam tubuh,


dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme.
Keseimbangan suhu tubuh diatur oleh hipotalamus

Produksi panas dalam tubuh manusia diakibatkan oleh:


1. Metabolisme: metabolisme basal menghasilkan panas yang diproduksi tubuh saat
istirahat.
2. Gerakan volunter: aktivitas otot selama latihan membutuhkan tambahan energi
3. Menggigil: respon tubuh terhadap suhu yang berbeda dalam tubuh

Pembuangan atau pengeluaran panas dapat terjadi melalui proses:


1. Radiasi: proses pengeluaran panas melalui gelombang elektromagnet
2. Konveksi: proses penyebaran panas karena gesekan antara daerah yang
kepadatannya tidak sama
3. Evaporasi: proses perubahan cairan menjadui uap
4. Konduksi: proses pemindahan panas kepada objek lain melalui kontak langsung.

Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh:


1. Usia:
Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkat
seiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akan
normal setelah anak mencapai pubertas.
Lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya mekanisme kontrol
suhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan subkutan,
penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolisme
2. Olahraga:
aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak dan
karbohidrat.
3. Kadar Hormon:
suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria
4. Irama sirkardian
suhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius selama periode 24 jam.
suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari.
5. Stres:
stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan
persyarafan
6. Lingkungan:
mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar.

Suhu tubuh akan terganggu akibat:


1. Demam: mekanisme pengeluran panas tidak mampu mengimbangi produksi
panas. Demam terjadi karena perubahan set point hipotalamus
2. Kelelahan akibat panas: terjadi apabila diaforesis yang banyak mengakibatkan
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebih.
3. Hipertermia: peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk mengeluarkan panas.
4. Heat stroke: terpapar oleh panas dalam jangka yang cukup lama.
5. Hipotermia: pengeluaran panas akibat terpapar suhu dingin.

Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:


1. ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit
2. anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit
3. mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit

Adapun suhu tubuh normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut:
Usia Suhu (derajat celcius)
3 bulan 37,5
6 bulan 37,5
1 tahun 37,7
3 tahun 37,2
5 tahun 37
7 tahun 36,8
9 tahun 36,7
11 tahun 36,7
13 tahun 36,6
Dewasa 36,4
> 70 Tahun 36,0


Tekanan Darah Manusia

Pemeriksaan tekanan darah merupakan indikator dalam menilai fungsi


kardiovaskular
Tekanan darah adalah kekuatan lateral pada dinding arteri akibat dorongan atau
tekanan jantung.
Ada dua macam tekanan jantung, yaitu:
1. Tekanan Sistolik:
tekanan maksimum pada dinding arteri yang terjadi ketika bilik kiri jantung
memompa darah melalui klep aortik ke aorta; tekanan atas
2. Tekanan Diastolik:
pada titik terendah, tekanan yang konsisten terdapat di dinding arteri, tekanan saat
jantung beristirahat di antara pemompaan

Tekanan darah dapat berubah-ubah, dipengaruhi oleh;


1. Tolakan perifer
sistem peredaran darah yang memiliki sistem tekanan tertinggi (pada arteria) dan
sistem tekanan darah terendah (pada kapiler dan vena), diantara keduanya
terdapat arteriola dan pembuluh otot uang sangat halus.
2.Curah jantung
volume darah yang dipompakan jantung (volume sekuncup) selama 1 menit
3. volume darah
bertambahnya darah menyebabkan besarnya tekanan pada arteri
4. Viskositas/ kekentalan darah:
perbandingan antara sel darah dan plasma
5. Elastisitas arteri
jika tekanan meningkat, diameter dinding pembuluh darah meningkat untuk
menyesuaikan terhadap naiknya tekanan

Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan dengan cara:


1. metode langsung
metode dengan menggunakan kanula / jarum yang dimasukkan kedalam pembuluh
darah yang dihubungkan dengan manometer.
2. metode tidak langsung
metode dengan menggunakan sphygmomanometer. pengukuran ini dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
a. Palpasi: mengukur tekanan sistolok
b. Auskultasi: dapat mengukur tekanan sistolik dan tekanan diastolik dengan
menggunakan stetoskop

Pada saat memeriksa tekanan darah, selain mencantumkan hasil, perlu juga
dicatatkan posisi atau keadaan saat pemeriksaan (tidur, duduk, berbaring, atau
menangis). Posisi atau keadaan ini dapat mempengaruhi tekanan darah.

Tekanan darah normal menurut usia:


Umur tekanan sistolik / tekana diastolik (mmHg)
1 bulan 86/54
6 bulan 90/60
1 tahun 96/65
2 tahun 99/65
4 tahun 99/65
6 tahun 100/65
8 tahun 105/60
10 tahun 110/60
12 tahun 115/60
14 yahun 118/60
16 tahun 120/65

Tabulasi kategori ukuran tekanan darah


Kategori tekanan sistolik tekanan diastolik
Hipotensi <=90> <=60>
Normal 90-119 60-79
Hipertensi fase 1 120-139 80-89
Hipertensi fase 2 140-159 90-99
hipertensi fase 3 >=160 >=100

Nadi dan Pola Nadi
Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang terjadi akibat proses
pemompaan jantung. Denyut nadi tidak selamanya konstan, kecepatan dan jumlah
denyut nadi dipengaruhi oleh perubahan kecepatan jantung terhadap rangsangan
yang ditimbulkan oleh sistem saraf simpatis dan parasismpatis.

Besarnya rangsangan simpatis dipengaruhi oleh:


- rasa cemas
- emosi
- rasa takut
- dan marah

Rangsangan saraf simpatis mempercepat laju denyut nadi, sedangkan rangsangan


saraf parasimpatis memperlambat denyut nadi. Pemeriksaan denyut nadi baik
dilakukan pada posisi tidur dan istirahat.

Kita perlu mengetahui frekuensi nadi menurut umur untuk menentukan normal
tidaknya denut nadi orang tersebut. Berikut ini adalah tabel rata-rata denyut nadi
menurut umur.
Umur Jumlah Nadi (n kali / Menit)
baru lahir 120-160
1-12 bulan 80-140
1-2 tahun 80-130
2-6 tahun 75-120
6-12 tahun 75-110
12-dewasa 60-100
Usia lanjut 60-70

Jika kita melakukan pemeriksaan nadi, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan


denyut jantung, untuk mengetahui ketidak normalan denyut nadi terhadap denyut
jantung. Dibawah ini adalah pola nadi
Pola nadi Deskripsi
Pulsus defisit: denyut jantung tidak adekuat untuk menimbulkan denyut nadi
(denyut nadi tidak terasa) sehingga kecepatan denyut jantung lebih tinggi daripada
kecepatan denyut nadi.
Takikardia:
* Takikardia sinus
* takikardia supraventrikular paroksimal: :- frekuensi nadi meningkat, dalam
keadaan takut, menangis, aktivitas meningkat, atau demam yang menunjukkan
penyakit jantung.
- denyut jantung cepat
:ditandai dengan variasi 10-15 denyutan dari menit ke menit
:denyut nadi sulit dihitung karena terlalu cepat(lebih dari 200 kali / menit) dan
kecepatan nadi normal sepanjang serangan
Bradikardia:
* brakikardia sinus dan brakikardia relatif: - frekuensi nadi lambat
- frekuensi jantung lambat
:denyutan nadi lebih sedikit dibandingkan kenaikan suhu.
Disritmia (aritmia ) sinus: denyut nadi tidak teratur, denyut nadi lebih cepat saat
inspirasi dan lebih lambat saat ekspirasi. sinus aritmia merupakan variasi normal
pada anak saat tidur.
Pulsus bigeminus: nadi terasa sepasang-sepasang yang berhubungan dengan
denyutan prematur
Pulsus trigeminus: nadi terasa tiga kelompok
Pulsus seler: nadi terasa sangat kuat dan turun dengan cepat akibat tekanan
nadi( sistolik dan diastolik jantung perbedaannya terlalu besar), dan apabila lemah
menunjukkan adanya kegagalan dalam sirkulasi.
Pulsus parvus et tardus: amplitudo nadi lemah dan teraba lambat naik dapat terjadi
pada stenosis aorta.
Pulsus alterans : denyut nadi berselang-seling kuat dan lemah dan kemungkinan
menunjukkan kemungkinan gagal jantung
Pulsus paradoksus: nadi terasa lemah saat inspirasi dan teraba normal/ kuat saar
ekspirasi
Thready pulse: denyutan nadi cepat dan lemah menunjukkan adanya tanda shok,
nadi sukar dipalpasi, tampak muncul dan menghilang
Pulsus corrigan: denyut nadi kuat dan berdetak-detak disebabkan oleh variasi yang
luas pada tekanan nadi.

Tujuan mengetahui jumlah denyut nadi:


- Untuk mengetahui kerja jantung
- Untuk menentukan diaknosa
- Untuk mengetahui adanya kelainan pada seseorang

Untuk memeriksa denyut nadi kita dapat memeriksanya pada tempat-tempat


berikut ini:
1. Arteri radalis: pada pergelangan tangan
2. Arteri temporalis: pada tulang pelipis
3. Arteri caratis: pada leher
4. Arteri femoralis: pada bagian selangkangan paha
5. Arteri dorsalis pedis: pada punggung kaki
6. Arteri politela: pada lipatan lutut
7. Arteri brachialis: pada siku bagian dalam
8. Ictus cordis: pada dinding iga 5-7
Faktor yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi:
FAKTOR MENINGKATKAN FREKUENSI MENURUNKAN FREKUENSI
Latihan Fisik latihan fisik jangka pendek latihan fisik jangka panjang
Suhu demam dan panas hipotermia
Emosi nyeri akut dan ansietas nyeri berat yang tidak hilang, rileks
Obat obat kronotropik positif obat kronotropik negatif
Hemoragi kehilangan darah
Postur berdiri dan duduk berbaring
Gangguan paru penyakit yang menyebabkan oksidasi buruk

Hipotermi
Hipotermi pada neonatus adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan suhu
tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan terutama karena tingginya
konsumsi
oksigen dan penurunan suhu ruangan. Mempertahankan suhu tubuh dalam
batas normal
sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir
terutama
bagi bayi prematur.
Pengaturan suhu tubuh tergantung pada faktor penghasil panas dan
pengeluarannya, sedang produksi panas sangat tergantung pada oksidasi
biologis dan
aktifitas metabolisme dari sel-sel tubuh waktu istirahat (Lubis, 2007).
Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin kebutuhan oksigen bayi secara
individual (dapat terpenuhi dengan suhu bayi stabil dengan suhu aksila antara
36,50 C –
37,50 C (Affandi, 2007).
Hipotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan
kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan
otot-otot
yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya
sistem
saraf yang mengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar
dibanding
dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas (Surasmi, 2006).
Untuk mengukur hipotermi diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat
mengukur suhu hingga 250C. Hipotermi dapat menyebabkan penyempitan
pembuluh
darah dan mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan
kematian
(Saifuddin, 2006).
Menurut diagnosis banding pada suhu tubuh hipotermi ada dua yakni :
hipotermi
sedang 320 C – 36,40 C dan suhu tubuh kurang dari 320 C disebut hipotermi
berat
(Subekti, 2008).
1. Mekanisme Terjadinya Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir timbul karena adanya penurunan suhu tubuh
yang dapat terjadi melalui cara hipoksemin yaitu kadar O2 dalam darah.
a. Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban yang melekat
pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera dikeringkan.
Contoh : air ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan
serta bayi segera dimandikan.
b. Konduksi
Adalah kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak langsung
antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti : meja, tempat
tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi
akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila
bayi diletakan di atas benda tersebut.
c. Konveksi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar udara sekitar
yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika konveksi aliran
udara dan kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin
ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat
benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi
karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas tubuh bayi
(Saifuddin, 2002).
Banyak faktor resiko dari hipotermi, antara lain bayi baru lahir tidak segera
dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah dikeringkan tidak segera diberi
pakaian,
tidak segera didekap pada tubuh ibu, bayi baru lahir dipisahkan dari ibunya,
tidak segera
disusui ibunya, berat badan bayi baru lahir rendah, bayi tidak segera dibungkus
dan bayi
sakit (Departemen Kesehatan RI, 1998).
2. Gejala Hipotermi
Hipotermi memiliki gejala sebagai berikut :
a. Bayi tidak mau menetek.
b. Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
c. Tubuh bayi teraba dingin.
d. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi
mengeras (sklerema).
e. Bayi menggigil.
f. Suhu (aksila) bayi turun dibawah 360 C.
g. Kulit pucat.
(Sarwono, 2001).

Menurut tingkat keparahannya, gejala klinis hipotermia dibagi menjadi 3 ,

1. Mild atau ringan


>Sistem saraf pusat: amnesia, apati, terganggunya persepsi halusinasi
>Cardiovaskular: denyut nadi cepat lalu berangsur melambat, meningkatnya
tekanan darah,
>Penafasan: nafas cepat lalu berangsur melambat,
>Saraf dan otot: gemetar, menrunnya kemampuan koordinasi otot

2. Moderate,sedang

>Sistem saraf pusat: penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran pupil


>Cardiovaskular: penurunan denyut nadi secara berangsur
>Pernafasan: hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin)
>Saraf dan otot: menurunnya reflex, berkurangnya respon menggifgil, mulai
munculnya kaku tubuh akibat udara dingin

3. Severe..parah

-Sistem saraf pusat: koma,menurunnya reflex mata(seperti mengdip)


-Cardiovascular: penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya
tekanan darah sistolik
-Pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen
-Saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer
3. Tanda Hipotermi
Hipotermi sedang (stres dingin) :
a. Aktifitas berkurang, letargis.
b. Tangisan lemah.
c. Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata).
d. Kemampuan mengisap lemah.
e. Kaki teraba dingin.
Hipotermi lanjut :
a. Bibir dan kuku kebiruan.
b. Ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
c. Pernapasan lambat dan tak teratur.
d. Bagian tubuh lainnya pucat.
e. Bunyi jantung lambat.
f. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung kaki dan
tangan (Sarwono, 2001).
4. Penyebab Hipotermi
Hipotermi dapat disebabkan oleh :
a. Kehilangan panas yang berlebihan seperti lingkungan atau cuaca dingin
basah atau bayi telanjang.
b. Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir relatif besar sehingga
penguapannya bertambah.
c. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas tubuhnya masih
rendah.
d. Otot bayi masih lemah (Manuaba, 1998).
5. Pencegahan Hipotermi
a. Keringkan bayi dengan seksama.
Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir untuk mencegah kehilangan
panas disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi.
Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut
ibu.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, serta segera
mengganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban.
c. Selimuti bagian kepala
Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian
kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan
dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Tempatkan bayi pada ruangan yang panas
Suhu ruangan atau kamar hendaknya dengan suhu 280 C – 300 C untuk
mengurangi kehilangan panas karena radiasi.
e. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan
mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
segera setelah lahir. Pemberian ASI lebih baik ketimbang glukosa karena
ASI dapat mempertahankan kadar gula darah.
f. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya
(terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan penimbangan terlebih
dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering
(Affandi, 2007).
6. Penanganan Hipotermi
a. Mengeringkan tubuh bayi dengan cepat mulai dari kepala dan seluruh
tubuh.
b. Tubuh bayi segera dibungkus dengan selimut, topi atau tutup kepala, kaos
tangan dan kaki.
c. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung
ibu dan bayi. Untuk menjaga bayi agar tetap hangat dan bayi harus berada
di dalam suatu pakaian atau yang disebut sebagai metode kanguru.
d. Bila tubuh bayi masih dingin, segera menghangatkan bayi di dalam
inkubator atau melalui penyinaran lampu.
e. Periksa suhu bayi setiap jam.
f. Pemberian ASI sedini dan sesering mungkin.
g. Jika bayi tidak dapat menyusui, berikan perasan ASI dengan menggunakan
metode pemberian alternatif (dipompa).
(Saifuddin, 2002).
C. Ibu
1. Ibu adalah seorang perempuan yang telah melahirkan anak dan
menyayanginya.
2. Suatu sebutan untuk wanita yang sudah bersuami.
3. Panggilan yang lazim kepada wanita yang sudah bersuami (Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 1991).
D. Neonatus
Adalah bayi baru lahir berusia 0 – 4 minggu (Maimunah, 2004).
Neonatus Resiko Tinggi

I. HIPOTERMI
a. Pengertian
Hipotermi merupakan keadaan suhu tubuh rendah dibawah batas normal yaitu 36,5oC.
Hal ini karena hilangnya panas secara cepat dari kulit yang basah. Pada bayi aterm sudah
menyimpan lemak dalam jaringan adiposa coklat dan dapat menggunakannya untuk
menghasilkan panas. Namun pada bayi preterm mempunyai jumlah lemak coklat yang lebih
sedikit sehingga dapat mengalami hipotermi.
b. Klasifikasi suhu tubuh abnormal
Anamnesis Pemeriksaan Klasifikasi
- Bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah
- Waktu timbulnya kurang dari 2 hari - suhu tubuh 32 derajat celcius-36,4 derajat celsius
- gangguan napas
- Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
- Malas minum
- Letargi Hipotermia sedang
- Bayi terpapar suhu lingkungan yang rendah
- Waktu timbulnya kurang dari 2 hari - Suhu tubuh < 32 derajat celsius - Kulit teraba keras -
Napas pelan dan dalam - Tanda lain hipotermia sedang Hipotermia berat Tidak terpapar dengan
dingin atau panas yang berlebihan - suhu tubuh berfluktuasi antara 36 derajat celsius-39 derajat
celsius meskipun berada di suhu lingkungan yang stabil - Fluktuasi terjadi sesudah periode suhu
stabil Suhu tubuh tidak stabil c. Mekanisme kehilangan panas Kehilangan panas tubuh pada bayi
baru lahir dapat melalui beberapa mekanisme yaitu: 1) Konduksi Panas dihantarkan dari tubuh
bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi (Pemindahan panas dari tubuh
bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Contoh : - Menimbang bayi tanpa alas timbangan -
Tangan penolong yang dingin memegang BBL - Menggunakan stetoskop dingin untuk
pemeriksaan BBL. 2) Konveksi Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang
bergerak ( jumlah panas yang hilang tergantung kepada kecepatan dan suhu udara). Contoh : -
Membiarkan atau menempatkan BBL dekat jendela. - Membiarkan BBL di ruang yang terpasang
kipas angin. 3) Radiasi Panas dipancarkan dari BBL, keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih
dingin ( Pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda). Contoh : - BBL
dibiarkan dalam ruangan AC tanpa diberikan pemanas (Radiant Warmer). - BBL dibiarkan
dalam keadaan telanjang - BBL ditidurkan berdekatan dengan ruang yang dingin, misalnya dekat
tembok. 4) Evaporasi Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada kecepatan dan
kelembaban udara (Perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadi uap). Evaporasi
dipengaruhi oleh : - Jumlah panas yang dipakai. - Tingkat kelembaban udara - Aliran udara yang
melewati c. Langkah preventif • Rawat bayi kecil di ruang yang hangat (tidak kurang 250Cdan
bebas dari aliran angin). • Jangan meletakkan bayi dekat benda yang dingin (misall dinding
dingin atau jendela) walaupun bayi dalam inkubatoratau di bawah pemancar panas • Jangan
meletakkan bayi langsung di permukaan yang dingin (mis. alasi tempat tidur atau meja periksa
dengan kain atau selimut hangat sebelum bayi diletakkan). • Pada waktu dipindahkan ke tempat
lain, jaga bayi tetap hangat dan gunakkan pemancar panas atau kontak kulit dengan perawat. •
Bayi harus tetap berpakaian atau diselimuti setiap saat, agar tetap hangat walau dalam keadaan
dilakukan tindakan. Misal bila dipasang jalur infus intravena atau selama resusitasi dengan cara :
o Memakai pakaian dengan mengenakan topi. o Bungkus bayi dengan pakaian yang kering dan
lembut dan selimuti. o Buka bagian tubuh yang diperlukan untuk pemantauan atau tindakan. •
Berikan tambahan kehangatan pada waktu dilakukan tindakan (mis. menggunakan pemancar
panas). • Ganti popok setiap kali basah. • Bila ada sesuatu yang basah ditempelkan di kulit (mis.
kain kasa yang basah) usahakan agar bayi tetap hangat. • Jangan memandikan bayi atau
menyentuh bayi dengan tangan dingin. • Ukur suhu tubuh sesuai jadwal pada tabel (lihat
lampiran) d. Manajemen hipotermi berat - Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas yang
telah dinyalakan sebelumnya, bila mungkin. Gunakan inkubator atau ruangan hangat. - Ganti
baju yang dingin dan basah. Beri pakaian yang hangat, pakai topi dan selimuti dengan seliut
hangat - Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering dirubah - Pasang infus -
Periksa glukose darah, tangani bila terdapat hipoglikemi - Nilai tanda kegawatan bayi (misalnya
gangguan napas, kejang atau tidak sadar) setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4
jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal - Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi
siap : • Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif
cara pemberian minum • Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan
beri ASI peras begitu suhu tubuh bayi mencapai 35 derajat celius - Periksa suhu tubuh bayi
setiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0,5 derajat celsius/jam berarti upaya menghangatkan
berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam - Periksa juga suhu alat
yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu ruangan setiap jam. - Setelah suhu tubuh bayi
normal : • Lakukan perawatan lanjutan untuk bayi • Pantau bayi selama 12 jam kemudian, dan
ukur suhunya setiap 3 jam - Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila
suhu bayi tetap dalam batas normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada masalah lain
yang memerlukan perawatan di RS, bayi dapat dipulangkan dan nesehati ibu bagaimana cara
menjaga bayi tetap hangat selama di rumah - Di RS : memakai matras pemanas yang dikontrol
dengan termostat pada suhu 37-38 derajat celsius untuk mengurangi kehilangan panas. Cegah
agar tidak terjadi hipertermia. Manajemen hipotermi sedang - Ganti pakaian yang dingin dan
basah dengan pakaian yang hangat, memakai topi dan selimuti dengan selimut hangat - Bila ada
ibu/pengganti ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit dengan kulit -
Bila ibu tidak ada : • Hangatkan kembali bayi dengan menggunakan pemancar panas. Gunakan
inkubator dan ruangan hangat • Periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI peras
dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan sesuaikan pengatur suhu •
Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering dirubah - Anjurkan ibu untuk
menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras menggunakan salah
satu alternatif cara pemberian minum - Mintalah ibu untuk mengamati tanda kegawatan (misal
gangguan napas, kejang, tidak sadar) dan segera mencari pertolongan - Atasi hipoglikemia, bila
ada - Tagani bila ada gangguan napas - Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik 0,5
derajat celsius/jam berarti usaha menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam
- Bila suhu tidak naik atau naik terlalu pelan, kurang 0,5 derajat celsius, cari tanda sepsis -
Setelah suhu tubuh normal : • Lanjutkan perawatan lanjutan • Pantau bayi selama 12 ja
berikutnya, periksa suhu setiap 3 jam - Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum
dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di RS, bayi dapat
dipulangkan. Nasehatkan ibu cara menghangatkan bayi di rumah Berat badan Suhu kamar bayi 1
– 1,5 kg 34 - 35 derajat celsius 1,5 – 2 kg 32 – 34 derajat celsius 2 – 2,5 kg 30 – 32 derajat
celsius > 2,5 kg 28 – 30 derajat celsius
II. HIPERTERMI
a. Pengertian
Peningkatan suhu tubuh yang disebabkan oleh suhu lingkungan yang berlebihan, infeksi,
dehidrasi atau perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma
lahir pada otak atau malformasi.

b. Penyebab
Suhu lingkungan yang terlalu panas dapat disebabkan oleh suhu inkubator yang terlalu tinggi,
radiasi sinar matahari pada waktu bayi berada dalam inkubator, terlalu banyak dan terlalu panas
dalam dalam tempat tidur bayi atau berada dekat radiator panas dan sebagainya.

c. Tanda dan gejala


- Pada suhu aksiler didapatkan suhu lebih 37,5 derajat celsius
- Terdapat tanda dehidrasi (elastisitas kulit turun, mata dan ubun-ubun besar cekung, lidah dan
membran mukosa kering )
- Malas minum
- Frekwensi nafas >60 kali /menit
- Denyut jantung >160 kali/menit
- Letargi
- Iritabel

Bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Suhu normal
pada bayi neonatus adalah adalah 36,5-37,5 derajat Celsius (suhu ketiak). Gejala
awal hipotermi apabila suhu kurang dari 36 derajat Celsius atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin.

Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang
(suhu 32–36 derajat Celsius). Disebut hipotermi berat bila suhu < 32 derajat
Celsius, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang
dapat mengukur sampai 25 derajat Celsius.

Gejala

Adapun beberapa gejala hipotermi yang biasa ditemukan pada bayi baru lahir
adalah:

• Bayi tidak mau minum/menyusu


• Bayi tampak lesu atau mengantuk saja
• Tubuh bayi terasa dingin
• Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi
mengeras (sklerema).

Hangatkan Tubuh Bayi

Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir (utamanya jika berat badannya
rendah), relatif lebih besar dibandingkan dengan berat badannya sehingga panas
tubuhnya cepat hilang.

Nah, pada cuaca dingin, suhu tubuh bayi cenderung menurun. Hal itu lah yang
memungkinkan terjadinya hipotermia. Yang dapat Moms lakukan adalah mengenali
gejala-gejalanya dan memberikan pertolongan pertama yang tepat. Langkah
sederhana yang bisa dilakukan adalah menghangatkan tubuh si bayi dengan
metoda kanguru yakni mendekap bayi di dada ibu dan keduanya diselimuti.

Kenali Sebabnya!
Berdasarkan kejadiannya, hipotermia dibagi atas:
1. Hipotermia sepintas, yaitu penurunan suhu tubuh 1–2 derajat Celsius sesudah
lahir. Suhu tubuh akan menjadi normal kembali sesudah bayi berumur 4-8 jam, bila
suhu lingkungan diatur sebaik-baiknya. Biasanya hal ini terdapat pada BBLR,
hipoksia (suatu keadaan dimana suplai oksigen tidak mencukupi untuk keperluan
sel, jaringan atau organ), ruangan tempat bersalin yang dingin, bila bayi tidak
segera dibungkus setelah lahir, terlalu cepat dimandikan (kurang dari 4 jam
sesudah lahir), dan pemberian morfin pada ibu yang sedang bersalin.

2. Hipotermia akut terjadi bila bayi berada di lingkungan yang dingin selama 6-12
jam. Umumnya terdapat pada bayi dengan BBLR di ruang tempat bersalin yang
dingin, inkubator yang tidak cukup panas, kelalaian terhadap bayi yang akan lahir,
yaitu diduga mati dalam kandungan tetapi ternyata hidup dan sebagainya.
Gejalanya adalah lemah, gelisah, pernapasan dan bunyi jantung lambat serta kedua
kaki dingin.

Terapi yang dilakukan adalah dengan segera memasukkan bayi ke dalam inkubator
yang suhunya telah diatur menurut kebutuhan bayi dan dalam keadaan telanjang
supaya dapat diawasi dengan teliti.

3. Hipotermia sekunder. Penurunan suhu tubuh yang tidak disebabkan oleh suhu
lingkungan yang dingin, tetapi oleh sebab lain seperti sepsis, sindrom gangguan
pernapasan dengan hipoksia atau hipoglikemia, perdarahan intra-kranial tranfusi
tukar, penyakit jantung bawaan yang berat, dan bayi dengan BBLR serta
hipoglikemia. Pengobatannya ialah dengan mengobati penyebabnya, misalnya
dengan pemberian antibiotik, larutan glukosa, oksigen, dan sebagainya.

Pemeriksaan suhu tubuh pada bayi yang sedang mendapat tranfusi tukar harus
dilakukan beberapa kali karena hipotermia harus diketahui secepatnya. Bila suhu
tubuh bayi sekitar 32 derajat Celsius, tranfusi tukar harus dihentikan untuk
sementara waktu sampai suhu tubuh menjadi normal kembali.

4. Cold injury, yaitu hipotermia yang timbul karena terlalu lama dalam ruangan
dingin (lebih dari 12 jam). Gejalanya ialah lemah, tidak mau minum, badan dingin,
suhu berkisar antara 29,5–35 derajat Celsius, tak banyak bergerak, edema, serta
kemerahan pada tangan, kaki, dan muka seolah-olah bayi dalam keadaan sehat;
pengerasan jaringan subkutis.

Bayi seperti ini sering mengalami komplikasi infeksi, hipoglikemia, dan perdarahan.
Pengobatannya ialah dengan memanaskan secara perlahan-lahan, antibiotik,
pemberian larutan glukosa 10 persen, dan kortikosteroid. (Sumber: Tabloid
Mom/Kiddie)

Bayi hipotermia adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Suhu normal
pada bayi neonatus adalah adalah 36,5-37,5 derajat Celsius (suhu ketiak). Gejala
awal hipotermi apabila suhu kurang dari 36 derajat Celsius atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin.

Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang
(suhu 32–36 derajat Celsius). Disebut hipotermi berat bila suhu < 32 derajat
Celsius, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang
dapat mengukur sampai 25 derajat Celsius.

HIPOTERMIA

Suhu normal pada neonatus berkisar antara 360C – 37,50C pada suhu ketiak. Gejala
awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami
hipotermia sedang (suhu 320C – <360C). Disebut hipotermia berat bila
suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia
diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai
250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal
penyakit yang berakhir dengan kematian.

Yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi
oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis
anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori
tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake
kalori.

Etiologi dan faktor presipitasi


- Prematuritas
- Asfiksia
- Sepsis
- Kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral
- Pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran
- Eksposure suhu lingkungan yang dingin
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan
hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia.
Tanda-tanda klinis hipotermia:
1. Hipotermia sedang:
- Kaki teraba dingin
- Kemampuan menghisap lemah
- Tangisan lemah
- Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
1. Hipotermia berat
- Sama dengan hipotermia sedang
- Pernafasan lambat tidak teratur
- Bunyi jantung lambat
- Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik
1. Stadium lanjut hipotermia
- Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
- Bagian tubuh lainnya pucat
- Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan
(sklerema)
HIPERTERMIA
Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan
dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas, terlalu banyak pakaian dan
selimut.
Gejala hipertermia pada bayi baru lahir :
- Suhu tubuh bayi > 37,5 C
- Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
- Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, jumlah urine
berkurang
Pengkajian hipotermia & hipertermia
1. Riwayat kehamilan
- Kesulitan persalinan dengan trauma infant
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Penggunaan anestesia atau analgesia pada ibu
1. Status bayi saat lahir
- Prematuritas
- APGAR score yang rendah
- Asfiksia dengan rescucitasi
- Kelainan CNS atau kerusakan
- Suhu tubuh dibawah 36,5 C atau diatas 37,5 C
- Demam pada ibu yang mempresipitasi sepsis neonatal
1. Kardiovaskular
- Bradikardi
- Takikardi pada hipertermia
1. Gastrointestinal
- Asupan makanan yang buruk
- Vomiting atau distensi abdomen
- Kehilangan berat badan yang berarti
1. Integumen
- Cyanosis central atau pallor (hipotermia)
- Kulit kemerahan (hipertermia)
- Edema pada muka, bahu dan lengan
- Dingin pada dada dan ekstremitas(hipotermia)
- Perspiration (hipertermia)
1. Neorologic
- Tangisan yang lemah
- Penurunan reflek dan aktivitas
- Fluktuasi suhu diatas atau dibawah batas normal sesuai umur dan berat badan
1. Pulmonary
- Nasal flaring atau penurunan nafas, iregguler
- Retraksi dada
- Ekspirasi grunting
- Episode apnea atau takipnea (hipertermia)
1. Renal
- Oliguria
1. Study diagnostik
- Kadar glukosa serum, untuk mengidentifikasi penurunan yang disebabkan energi yang
digunakan untuk respon terhadap dingin atau panas
- Analisa gas darah, untuk menentukan peningkatan karbondoksida dan penurunan kadar
oksigen, mengindikasikan resiko acidosis
- Kadar Blood Urea Nitrogen, peningkatan mengindikasikan kerusakan fungsi ginjal dan
potensila oliguri
- Study elektrolit, untuk mengidentifikasi peningkatan potasium yang berhubungan dengan
kerusakan fungsi ginjal
- Kultur cairan tubuh, untuk mengidentifikasi adanya infeksi
Diagnosa keperawatan
Dx.1. Suhu tubuh abnormal berhubungan dengan kelahiran abnormal, paparan suhu lingkungan
yang dingin atau panas.
Tujuan 1 : Mengidentifikasi bayi dengan resiko atau aktual ketidakstabilan suhu tubuh
Tindakan :
1. Kaji faktor yang berhubungan dengan resiko fluktuasi suhu tubuh pada bayi
seperti prematuritas, sepsis dan infeksi, aspiksia atau hipoksia, trauma CNS,
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, suhu lingkungan yang terlalu panas
atau dingin, trauma lahir dan riwayat penyalahgunaan obat pada ibu
2. Kaji potensial dan aktual hipotermia atau hipertermia :
- Monitor suhu tubuh, lakukan pengukuran secara teratur
- Monitor suhu lingkungan
- Cegah kondisi yang menyebabkan kehilangan panas pada bayi seperti baju basah atau
bayi tidak kering, paparan uadara luar atau pendingin ruangan
- Cek respiratory rate (takipnea), kedalaman dan polanya
- Observasi warna kulit
- Monitor adanya iritabilitas, tremor dan aktivitas seizure
- Monitor adanya flushing, distress pernafasan, episode apnea, kelembaban kulit, dan
kehilangan cairan.
Tujuan 2. Mencegah kondisi yang dapat mencetuskan fluktuasi suhu tubuh
Tindakan :
1. Lindungi dinding inkubator dengan
- Meletakkan inkubator ditempat yang tepat
- Suhu kamar perawatan/kamar operasi dipertahankan + 24 C
- Gunakan alas atau pelindung panas dalam inkubator
1. Keringkan bayi baru lahir segera dibawah pemanas
2. Air mandi diatas 37 C dan memandikannnya sesudah bayi stabil dan 6 – 12
jam postnatal, keringkan segera
3. Pergunakan alas pada meja resusitasi atau pemanas
4. Tutup permukaan meja resusitasi dengan selimut hangat, inkubator
dihangatkan dulu
5. Pertahankan suhu kulit 36 – 36,5 C
6. Sesedikit mungkin membuka inkubator
7. Hangatkan selalu inkubator sebelum dipakai
8. Gendong bayi dengan kulit menempel ke kulit ibu (metode kangguru)
10. Beri topi dan bungkus dengan selimut
Tujuan 3: Mencegah komplikasi dingin
Tindakan :
1. Kaji tanda stress dingin pada bayi :
- Penurunan suhu tubuh sampai < 32,2 C
- Kelemahan dan iritabilitas
- Feeding yang buruk dan lethargy
- Pallor, cyanosis central atau mottling
- Kulit teraba dingin
- Warna kemerahan pada kulit
- Bradikardia
- Pernafasan lambat, ireguler disertai grunting
- Penurunan aktivitas dan reflek
- Distesi abdomen dan vomiting
1. Berikan treatment pada aktual atau resiko injury karena dingin sebagai
berikut :
- Berikan therapy panas secara perlahan dan catat suhu tubuh setiap 15 menit
- Pertimbangkan pemberian plasma protein (Plasmanate) setelah 30 menit
- Berikan oksigen yang telah diatur kelembabannya
- Monitor serum glukosa
- Berikan sodium bikarbonat untuk acidosis metabolik
- Untuk menggantikan asupan makanan dan cairan, berikan dekstrose 10% sampai
temeperatur naik diatas 35 C
Dx.2. Deficit pengetahuan (orangtua) berhubungan dengan kondisi bayi baru lahir dan cara
mempertahankan suhu tubuh bayi.
Tujuan : Memberikan informasi yang cukup kepada orangtua tentang kondisi bayi dan
perawatan yang diberikan untuk mempertahankan suhu tubuh bayi
Tindakan :
1. Beri informasi pada orangtua tentang :
- Penyebab fluktuasi suhu tubuh
- Kondisi bayi
- Treatment untuk menstabilkan suhu tubuh
- Perlunya membungkus/menyelimuti bayi saat menggendong dan bepergian
1. Ajari orangtua cara mengukur suhu tubuh aksila pada bayi dan minta mereka
untuk mendemontrasikannya
2. Informasikan kepada orangtua tentang perawatan saat bayi di inkubator
3. Anjurkan pasien bertanya, mengklarifikasi yang belum jelas dan
menunjukkan prilaku seperti diajarkan