Anda di halaman 1dari 8

c  c  ?

c   c   adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari
kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian
dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri
kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku (Erna, 1999).

c   merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan
memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya
sebagai suami istri.

?
c  ?
cerceraian menurut UU perkawinan

Angka perceraian semakin meningkat dari waktu ke waktu. cerceraian terjadi apabila kedua
belah pihak baik suami maupun istri sudah sama-sama merasakan ketidakcocokan dalam
menjalani rumah tangga. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang cerkawinan tidak
memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus. casal 39 ayat (2) UU cerkawinan
serta penjelasannya secara kelas menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila
sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan. Definisi perceraian di cengadilan Agama
itu, dilihat dari putusnya perkawinan. cutusnya perkawinan di UUc kan dijelaskan, yaitu:

1. karena kematian
2. karena perceraian
3. karena putusnya pengadilan

Dengan demikian, perceraian merupakan salah satu sebab putusnya perceraian. UUc
perkawinan menyebutkan adanya 16 hal penyebab perceraian. cenyebab perceraian tersebut
lebih dipertegas dalam rujukan cengadilan Agama, yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI),
dimana yang pertama adalah melanggar hak dan kewajiban.

Dalam hukum Islam, hak cerai terletak pada suami. Oleh karena itu di cengadilan Agama
maupun pengadilan Negeri ada istilah Cerai Talak. Sedangkan putusan pengadilan sendiri ada
yang disebut sebagai cerai gugat. Disinilah letak perbedaannya. Bahkan ada perkawinan yang
putus karena li¶an, khuluk, fasikh dan sebagainya. cutusan pengadilan ini akan ada berbagai
macam produknya.

cada penyebab perceraian, pengadilan memberikan legal formal, yaitu pemberian surat sah
atas permohonan talak dari suami. Surat talak tersebut diberikan dengan mengacu pada
alasan-alasan sebagaimana diatur dalam pasal 39 ayat 2, dimana salah satu pihak melanggar
hak dan kewajiban. Sehingga, walaupun surat talak tersebut sah secara hukum, namun tidak
ada kata kesepakatan diantara dua pihak untuk bercerai. Sebagai contoh, apabila seorang
suami menjatuhkan talak satu kepada istrinya, maka talak satu yang diucapkan tersebut harus
dilegalkan telebih dahulu di depan pengadilan. Karena pada dasarnya secara syar¶i, talak
tidak boleh diucapkan dalam keadaan emosi. Sehingga, melalui proses legalisasi di depan
pengadilan, terdapat jenjang waktu bagi suami untuk merenungkan kembali talak yang telah
terucap. Saat ini cengadilan Agama memberikan sarana mediasi. Di pengadilan sekarang
sudah dimulai sejak adanya Surat Edaran dari Mahkamah Agung No, 1 Tahun 2002. Seluruh
hakim di cengadilan Agama benar-benar harus mengoptimalkan lembaga mediasi tersebut.

Melalui mediasi tersebut, banyak permohonan talak yang ditolak oleh cengadilan Agama,
dengan beberapa alasan. certama, karena tidak sesuai dengan ketentuan UU. Kedua, mungkin
dari positanya obscuur atau kabur, dan antara posita dan petitumnya bertentangan. Misalnya,
istri minta cerai, tetapi dia minta nafkah juga. Sedangkan dalam alasan perceraiannya, si istri
menyebutkan bahwa suaminya tidak memberi nafkah selama beberapa bulan berturut-turut.

Lembaga mediasi yang mulai dioptimalkan sejak tahun 2003, membawa banyak hasil positif.
Lembaga mediasi ini selalu berpulang pada syar¶i. Al-Qur¶an selalu kembali pada lembaga
hakam itu. Jadi, hakam dari pihak suami dan hakam dari pihak istri. Jadi, setiap perkara yang
bisa diarahkan dengan menggunakan lembaga hakam dan mengarah pada syiqoq, sebisa
mungkin menggunakan lembaga mediasi.

Alasan-alasan cerai yang disebutkan oleh UU cerkawinan yang pertama tentunya adalah
apabila salah satu pihak berbuat yang tidak sesuai dengan syariat. Atau dalam UU dikatakan
disitu, bahwa salah satu pihak berbuat zina, mabuk, berjudi, terus kemudian salah satu pihak
meninggalkann pihak yang lain selama dua tahun berturut-turut. Apabila suami sudah
meminta izin untuk pergi, namun tetap tidak ada kabar dalam jangka waktu yang lama, maka
istri tetap dapat mengajukan permohonan cerai melalui putusan verstek. Selain itu, alasan
cerai lainnya adalah apabila salah satu pihak tidak dapat menjalankan kewajibannya,
misalnya karena frigid atau impoten. Alasan lain adalah apabila salah satu pihak (biasanya
suami) melakukan kekejaman. Kompilasi Hukum Islam (KHI) menambahkan satu alasan
lagi, yaitu apabila salah satu pihak meninggalkan agama atau murtad. Dalam hal salah stau
pihak murtad, maka perkawinan tersebut tidak langsung putus. cerceraian merupakan delik
aduan. Sehingga apabila salah satu pasangan tidak keberatan apabila pasangannya murtad,
maka perkawinan tersebut dapat terus berlanjut. cengadilan Agama hanya dapat memproses
perceraian apabila salah satu pihak mengajukan permohonan ataupun gugatan cerai.

Tata cara pengajuan permohonan dan gugatan perceraian merujuk pada casal 118 HIR, yaitu
bisa secara tertulis maupun secara lisan. Apabila suami mengajukan permohonan talak, maka
permohonan tersebut diajukan di tempat tinggal si istri. Sedangkan apabila istri mengajukan
gugatan cerai, gugatan tersebut juga diajukan ke pengadilan dimana si istri tinggal. Dalam hal
ini, kaum istri memang mendapatkan kemudahan sebagaimana diatur dalam hukum Islam.

Setelah cerai, maka bagi istri berlaku masa tunggu (masa iddhah), yaitu selama tiga nulam
sepuluh hari. Sedangkan bagi wanita yang sedang hamil, maka masa iddhah nya adalah
sampai dia melahirkan. Masa idhah tersebut berlaku ketika putusan hakim berkekuatan
hukum tetap. Sedangkan untuk kasus cerai talak, maka masa iddhah berlaku setelah
permohonan talak suami dilegalkan oleh cengadilan Agama.

Apabila masa iddhah telah lewat dan mantan suami istri ingin kembali rujuk, maka mereka
pun dapat kembali rujuk, namun harus dilihat jenis talaknya terlebih dahulu. Secara umum,
talak artinya adalah kembali. Terdapat dua jenis talak, yaitu talak Ba¶in dan talak Raj¶i. Talak
Raj¶i adalah talak yang diucapkan oleh suami, dan apabila ingin rujuk dalam masa iddhah,
maka tidak perlu ada akad nikah baru. Cukup adanya pernyataan dari pihak suami bahwa
mereka sudah rujuk. Sedangkan untuk talak Ba¶in, yaitu perceraian karena diajukan oleh sang
istri. Talak Ba¶in terdiri atas dua jenis, yaitu Ba¶in Kubro dan Ba¶in sugro. Talak Ba¶in Kubro
dapat diupayakan rujuk, namun harus melalui penghalalan (muhalil). Sedangkan untuk Ba¶in
Sugro terlepas dari adanya masa masa iddhah atau tidak, tetap harus melalui akad nikah
untuk rujuk dan harus melewati prosesi pernikahan sebagaimana awal menikah dulu.

Secara umum, masyarakat hanya mengenal istilah talak sebatas sebutan talak satu, talak dua
dan talak tiga. Talak yang dijatuhkan oleh suami disebut sebagai cerai talak. Sedangkan talak
yang diajukan oleh istri dinamakan cerai gugat. Jadi sebenarnya ada dua jenis talak. Dari
kedua talak ini, akan ada beberapa produk talak. croduk Cerai talak adalah Talak Raj¶i,
dimana untuk rujuk tidak harus melalui akad baru. Rujuk dalam Talak Raj¶i cukup hanya
dengan pernyataan suami bahwa dia telah rujuk dengan sang istri. Sedangkan produk cerai
gugat adalah talak Ba¶in, sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Dalam Talak Bail Kubro,
terdapat Li¶an dan dzihar. Li¶an artinya adalah sumpah seorang suami dan istri bahwa satu
sama lain telah berzina. Jadi, masing-masing pihak telah siap dengan konsekuensi dan azhab
dari Allah, apabila memang benar mereka berbohong.

Sedangkan dzihar adalah tindakan suami yang mempersamakan istrinya dengan ibu
kandungnya. Dalam syariat sama saja dengan mencampuri ibunya. Oleh karena itu, Li¶an
merupakan perbuatan yang harus diceraikan dengan talak Ba¶in Kubro. Dalam hal muhalil,
maka si muhalil wajib kumpul dengan istrinya tanpa basa basi. Muhalil tidak boleh disertai
dengan mut¶ah

Dalam hal sang istri ingin mengajukan gugatan, maka hal utama yang harus dipersiapkan
oleh sang istri adalah surat gugatan. Sedangkan untuk cerai talak, kurang lebih sama. Namun
yang perlu dipersiapkan oleh sang suami bukan gugatan, melainkan permohonan untuk
melegalkan talak yang sudah terucap.

Alasan untuk mengajukan cerai talak dan cerai gugat kurang lebih sama. Hanya saja dalam
cerai talak ada satu perbedaan, yaitu seorang istri yang nusyuz, artinya seorang istri yang
tidak taat kepada suami.

Timbul suatu pertanyaan, mengapa apabila yang mengajukan cerai adalah perempuan, maka
perempuan harus melewati masa iddhah dan membuat akad nikah baru. Hal ini berpulang
bahwa awalnya cerai talak itu adalah hak dari laki-laki dalam artian suami mohon dilegalkan
perceraiannya dengan alasan-alasan yang disampaikan sesuai dengan alasan hukum dan UU.

Apabila setelah bercerai baik suami maupun istri ingin rujuk kembali, maka peristiwa hukj
tersebut akan tercatat dalam lembar terakhir buku nikah. Demikian halnya apabila para pihak
memiliki perjanjian pranikah, maka perjanjian tersebut akan tercatat dalam lembar terakhir
buku nikah itu juga, dengan sepengetahuan instansi yang berwenang, yaitu KUA.

Dampak dari suatu perceraian selain mengenai masalah harta, juga mengenai masalah hak
wali anak, yaitu bisa terhadap pemeliharaan anak atau hak hadhonah. Masalah lain yang juga
cukup pelik adalah masalah pemberian nafkah, yaitu sampai kapankah suami wajib
memberikan nafkah terhadap mantan istri setelah mereka bercerai? Apabila talak tersebut
datang dari pihak suami, maka suami wajib menafkahi istri sampe masa iddhah nya selesai.
Dalam hal talak, maka salah satu pihak dapat mengajukan tuntutan mengenai hak haddhonah
dan juga mengenai harta secara bersamaan.

cermasalahan unik lainnya dalam cengadilan Agama adalah apabila pasangan suami sitri
menikah secara Islam. Namun ditengah bahtera rumah tangga, mereka pindah agama.
Beberapa tahun kemudian mereka bercerai. Kembali kepada UU cerkawinan UU No.1 Tahun
1974 UU cerkawinan serta merujuk kembali pada UU NO. 7 Tahun 1989 tentang ceradilan
Agama, telah diatur secara lex specialis bahwa pengadilan agama menyelesaikan menerima
menyelesaikan dan memeriksa serta menyelesaikan perkara-perkara khususnya tentang
masalah berkaitan perceraian yang dilakukan pernikahannya secara agama Islam. Sehingga
walaupun di tengah perkawinan mereka telah pindah agama dan memutuskan untuk bercerai,
maka perkara perceraian tersebut diselesaikan di cengadilan Agama sepanjang pernikahan
mereka dilaksanakan secara Islam.

Banyak pasangan yang membuat perjanjian pranikah mengenai pemisahan harta. Biasanya
masing-masing pihak baik istri maupun suami membuat perjanjian pranikah yang secara garis
besar isinya adalah tidak adanya percampuran harta. Sehingga apabila mereka meutuskan
untuk bercerai, maka baik istri maupun suami tetap berhak atas harta yang mereka peroleh
selama perkawinan tanpa mengkhawatirkan adanya upaya pengambilalihan oleh pihak lain.
Apabila mereka bercerai, maka perjanjian pranikah tersebut dapat langsung dieksekusi, yaitu
setelah perkara percerain telah memiliki putusan yang berkekuatan hukum tetap.

d? Share this:
d? StumbleUpon
d? Digg
d? Reddit

9 
     ?

9   
       ?

c  c  ?

c
? c   adalah cerai hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari
kegagalan mereka menjalankan obligasi peran masing-masing. Dalam hal ini perceraian
dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri
kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku (Erna, 1999Â).

c   merupakan terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan
memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya
sebagai suami istri.


 c  ?
c   bagi anak adalah ³tanda kematian´ keutuhan keluarganya, rasanya separuh ³diri´
anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka
harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus
memendam rasa rindu yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal
bersamanya lagi.

Dalam sosiologi, terdapat t eori pertukaran yang melihat perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan
kewajiban serta penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena perkawinan merupakan
proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta
kebutuhan mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa dirundingkan dan disepakati
bersama. ?

^  
  c  ?

Situasi dan kondisi menjelang perceraian yang diawali dengan proses negosiasi antara
pasangan suami istri yang berakibat pasangan tersebut sudah tidak bisa lagi menghasilkan
kesepakatan yang dapat memuaskan masing-masing pihak. Mereka seolah-olah tidak dapat
lagi mencari jalan keluar yang baik bagi mereka berdua. cerasaan tersebut kemudian
menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kedua belah pihak yang membuat
hubungan antara suami istri menjadi semakin jauh.

Kondisi ini semakin menghilangan pujian serta penghargaan yang diberikan kepada suami
istri padahal pujian dan penghargaan tersebut merupakan dukungan emosional yang sangat
diperlukan dalam suatu perkawinan. Hal ini mengakibatkan hubungan suami istri semakin
jauh dan memburuk.

Mereka semakin sulit untuk berbicara dan berdiskusi bersama serta merundingkan segala
masalah-masalah yang perlu dicari jalan keluarnya. Masing-masing pihak kemudian merasa
bahwa pasangannya sebagai orang lain. Akibatnya akan terjadi perceraian (Scanzoni dan
Scanzoni, 1981)

?
´ ´´ ? ??

´angguan jiwa, Halusinasi, Ilusi,Terapi Kognitif, Terapi Keluarga, Model Keperawatan Jiwa,
cakar Keperawatan Jiwa, Asuhan Keperawatan ´angguan Jiwa, terapi spiritual, cerita
gangguan jiwa, terapi psikofarmaka, model konsep keperawatan jiwa, terapi aktivitas
kelompok, Diagnosa keperawatan jiwa, psikopat, Rumah Sakit Jiwa, Trauma

¦  ? ???


c  ?c  ?c ? ?
D?? ? ?  ?  ? ? ?? 9?? ???
 ?  ? ?   ? ? ?  ?  ?   ?   ? ? ? ? ? ?
? 9?   ? ? ?  9? ?   ?  ?  ?  ?
 ? ??  ???  ??  ?  9? ?? 9??
? ? ?  ??? ???  9?? ?!???? ??
???  ? ? ?? ?  ? 9 ?? ?   ?
"? ? 9 ?   9?  ?   ?  ?   ? ? ?  ?  ?
Ê ÊÊ   ?
?
#?  ?  ?   ? ? ?  ?  ?   ? ?  ? ? ?  !? ?
 ?  9? ?  ?  ?  ?   9 ? $9?  ?  ? 9 ? 9?
 ? ? ?? ?? ? 9? ? ? ? ? ??
 ? ? ? ? 9? ?? ?9? ?? ??  ? ??
9?? ?? ???? ?

 ? #? ?% ??"? ? ? ??  ?  ??   9?


9?   ? ?    ? ?  ? 9 ? ?  9?   ?
 ?  ? ? ?  ? ? ? 9 ?  ?  ? 9?
  ?  9? ?  ?   ? ?  9?  ? ¬  ?  ?
 9 ? ? ?  ? ? & ? ?  ? ? 9?   ?
9?? ?
 ?? ??9 ?9 ?  ?? 9?

  ?  ?  ?   9? ? ?  ? ' 9?  9? ? 9?  ?
  ? ?  ?    ? Ê ÊÊ   ?  ?  ? ?  ?  9?
??  ?  ?? ?????? ?9 ?
 ? %? ?"??D?? ?9 ? ? ???9? ?  ?
 ? ? ???? ?? 
??? ?  ?
9? ?  ?   ? ? 9 ?  ?  ?x  ?  9? ? ?
  ?  ? ?  ? ? 9? ? ? ? 9 ? ?   ?   ?
 ? ? 9?  ?  
? ?  ?  ¬¬ ? ?  9?x  ?
?9 ? ??   ? ? 9 ?
 ? # ?(??)? ?? ?  ? 9?
 ? ?? ? ?

 ? 9??? ?  ?
 ?   ??9 ? ?
9?  ?*? ? 9??? ? 9? ? 9 ?    ??
?   ?  ?  9? ? ? ? ? ?   ?  ?  ? ?
 ?   ?
* ? #9 ??? ?9 ?  ? ??+??,????  ? ?

 ?   ?  ? ? -? +?  ?  9? ? ?  ?  ? ?
9 ? ?  ? -?? ? ?9? ? ?   ?
 ?  ? -? 9? ?   ?   
?  ? +? ? 9?   ?
  ? ?  ?  9? +? ? ?    ?   ? & 9? 9
? ,? ? 9?
  ?-? 9?  9? ?? ??,??-?9? ?,?  ?-?
????-??  ? ? &?? ?  ?
 ? ( 9?? ? ?  ? ????? ? ? ? ?9?
-??  ? ? ?,?  ???+?? 9?   ?

?
#   ? ? ?   ? ? ?   ?   ?Ê ÊÊ   ?  ?
?? ? ?  ?   ?  ?? ?? ? ?
? ? ? ??? ? ??  9???9?
  ? ? ?  9? ? 9  ? D? ?  ? 9?   9? ?
 ? ??? ?9?? ?   Ê Ê  ?? ???
 ? ?   ?  ? ? ? ?  9? 9? ?   ? ?   9?
? ?????  ?   ? 9? ? ?  9???
? ? ????? ? ?  ? ?  ? ?
?