Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai negara berkembang, Indonesia saat ini sedang membangun

diberbagai sektor. Dilihat dari sudut pandang ekonomi politik, globalisasi

merupakan proses perubahan organisasi dari fungsi kapitalisme yang ditandai

dengan munculnya integrasi pasar dan perusahaan-perusahaan transnasional dan

tertinggalnya institusi supranasional. Pengertian globalisasi disini memberikan

indikasi bahwa deregulasi dan privatisasi merupakan ciri utama globalisasi yang

mengarah pada pengurangan peran pemerintah dibidang ekonomi termasuk di

bidang ketenagakerjaan di satu pihak, dan peningkatan peran pasar di lain pihak.

Berangkat dari konsep globalisasi tersebut, pembahasan implikasi globalisasi

terhadap masalah hokum ketenagakerjaan menjadi sangat penting dan menarik

untuk ditelaah.Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini banyak permasalahan yang

timbul terhadap para pekerja (buruh) baik mengenai tidak sesuainyaUMR (upah

minimum regional), PHK (pemutusan hubungan kerja), kurang harmonisnya

hubungan serikat pekerja dengan pengusaha maupun antar serikat pekerja, dll.

Sesuai dengan UU Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 harapan buruh

cara-cara untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum adalah

melaluiPengadilan Hubungan Industria, PTUN serta Pegawai Pengawas

Ketenagakerjaan (PPK) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengekana hukum ketenagakerjaan secara perdata?

2. Bagaimana Penegakan hukum ketenenagakerjaan secara administrasi

Negara?

3. Bagaimana Penegakan hukum ketenagakerjaan secara pidana?


BAB II

PEMBAHASAN

A.Penegakan Hukum Ketenagakerjaan secara Hukum Perdata

Penyelesaian sengketa ketenagakerjaan melalui PHI merupakan jalan

terakhir, maka diberikan kesempatan kepada para pihak yang berselisih

melakukan penyelesaian melalui beberapa macam cara, seperti :bipartit, mediasi,

konsiliasi, dan arbitrasi.

Segi positif dalam sistem penyelesaian sengketa perselisihan hubungan

industrial menurut Undang-Undang tentang PPHI adalah penyelesaian lewat PHI

lebih sederhana karena proses penyelesaian sengketa harus sudah selesai dalam

kurun waktu kurang lebih 140 hari (2), dan ini berbeda dengan penyelesaian

perselisihan ketenagakerjaan sebelumnya yang bisa memakan waktu sampai 3

tahun.

Tugas dan wewenang PHI menurut Pasal 55 Undang-Undang tentang PPHI

adalah memeriksa dan memutus :

1. Perselisihan Hak sebagai pengadilan tingkat pertama.

2. Perselisihan Kepentingan sebagai pengadilan tingkat pertama sekaligus

terakhir.

3. Perselisihan PHK sebagai pengadilan tingkat pertama.


4. Perselisihan antar SP/SB dalam satu perusahaan sebagai pengadilan tingkat

pertama sekaligus terakhir.

Dari ketentuan tersebut dapatlah disimpulkan ada dua perkara

(perselisihan hak dan PHK) yang dapat diupayakan hukum lagi yaitu langsung

melalui Kasasi (tanpa ada Banding). Sedangkan untuk dua perkara yang lain yaitu

perselisihan kepentingan dan perselisihan antar SP/SB dalam satu perusahaan

tidak ada upaya hukum lagi melainkan putusan yang ada sudah bersifat final dan

mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).Yang menarik untuk

dikaji dalam hal komposisi Majelis Hakim pada PHI adalah satu orang

Hakim.Pengadilan Negeri (yang diangkat oleh Ketua MA), satu orang Hakim Ad-

hoc dari kalangan serikat pekerja/buruh, dan satu orang Hakim Ad-hoc dari

kalangan organisasi pengusaha. Dikatakan menarik karena prosedur pengangkatan

Hakim tidak sebagaimana umumnya/ layaknya yaitu dari kalangan SP/SB serta

Pengusaha, hanya berdasarkan pengusulan yang selanjutnya ditetapkan oleh

Ketua Pengadilan Negeri untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diangkat kembali

untuk 1 kali masa jabatan. Selain itu salah satu persyaratan penting untuk menjadi

Hakim Ad-hoc bukan harus dari seorang sarjana hukum melainkan strata satu (S1)

yang berpengalaman di bidang hubungan industrial minimal 5 tahun. Sedangkan

mengenai hukum acara yang digunakan adalah hukum acara perdata disamping

hukum acara yang ada dalam Undang-Undang tentang PPHI.

Sejak 14 Januari 2004 Undang-Undang tentang PPHI secara hukum sudah berlaku

sah serta dapat diterapkan, dan beberapa wilayah di Indonesia saat ini sudah

memiliki lembaga PHI sepeti : Jakarta, Medan, Semarang, dll.


B. Penegakan Hukum Ketenagakerjaan Secara Pidana

Dalam Pasal 176 UUK PPK/PPNS mempunyai kompetensi dan

independen guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan

ketenagkerjaan. Untuk menjaga kompetensi dan independesi inilah maka UUK

menetapkan bahwa pengangkatan PPK ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang

ditunjuknya.

Dengan demikian PPK dapat independen dari pengaruh-pengaruh kebijakan

politik yang berkembang di daerah-daerah (termasuk kabupaten/kota). Jadi PPK

dapat ”menolak” kepentingan-

Kewenangan PPK sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) secara

khusus adalah melakukan penyidikan di bidang ketenagakerjaan (sama dengan

dengan kewenangan dari Penyidik Pejabat POLRI) sebagaimana diatur pada pasal

182 (2) UUK, yaitu :

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak

pidana di bidang ketenagakerjaan ;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana

di bidang ketenagakerjaan ;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan

dengan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan ;


d. melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam pekara

tindak pidana di bidang ketenagakerjaan ;

e. melakukan pemeriksaan atas surat dan / atau dokumen lain tentang tindak

pidana di bidang ketenagakerjaan ;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas penyidikan

tindak pidana di bidang ketenagakerjaan ; dan

g. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang

membuktikan tentang adanya tindak pidana di bidang ketenagakerjaan.

Menjalankan kewenangan tersebut tentulah tidak mudah, karena yang

diawasi adalah pengusaha yang memiliki kekuasaan (uang). Sehingga dengan

kekuasaan yang dimiliki pengusaha dapat mempengaruhi berbagai pihak demi

kepentingannya. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa selama ini pengusaha

mengeluarkan biaya siluman demi kelancaran usahanya baik secara terpaksa

maupun dengan sukarela.

Oleh karena itu dalam menjalankan peran dan fungsinya PPK/PPNS harus

memiliki komitment yang kuat dan konsistensi melakukan tugas-tugas

pengawasannya. Kekecewaan terhadap praktek PHI akhir-akhir ini akan memaksa

buruh mencari alternatif untuk menemukan keadilan dan kepastian hukum

khususnya mengenai pelanggaran hak-hak buruh sebagaimana diatur oleh UU.


Para PPK/PPNS tak perlu kuatir atas hal ini, karena serikat-serikat buruh

pastilah mendukung kerja PPK/PPNS untuk menegakkan pelaksanaan hak-hak

buruh yang diabaikan oleh pengusaha selama ini. Begitu banyak pelanggaran hak-

hak buruh yang terjadi selama ini, misalnya : upah dibawah UMP/UMK, buruh

tidak didaftarkan menjadi peserta Jamsostek, penggelapan dana jamsostek, dll,

tetapi sampai sekarang sangat jarang (bisa dikatakan tak pernah ada) pengusaha

yang diperiksa dan diadili di pengadilan. Tumpuan harapan ini tentulah tidak

berlebihan jika ditujukan kepada PPK/PPNS.

Sebagaimana diatur dalam UUK pelanggaran atas hak-hak buruh dibagi

dalam 2 kategori tindak pidana, yaitu :

1. Tindak Pidana Kejahatan, terdiri dari :

- Pelanggaran atas Pasal 74 UUK (larangan mempekerjakan anak-anak pada

pekerjaan terburuk) ;

- Pelanggaran atas Pasal 167 ayat (5) UUK (buruh yang diphk karena pensiun

tetapi pengusaha tidak mau membayar pesangonnya 2 x ketentuan Pasal 156

UUK;

- Pelanggaran atas Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2) (larangan pekerja asing tanpa ijin

dan perorangan yang mempekerjakan pekerja asing);

- Pelanggaran Pasal 68 (larangan mempekerjakan anak) ;

- Pelanggaran Pasal 69 ayat (2) (mempekerjakan anak tanpa ijin orang tuanya) ;
- Pelanggaran Pasal 80 (jaminan kesempatan beribadah yang cukup) ;

- Pelanggaran Pasal 82 (cuti karena melahirkan dan keguguran) ;

- Pelanggaran Pasal 90 ayat (1) (pembayaran upah di bawah Upah Minimum) ;

- Pelanggaran Pasal 143 (menghalang-halangi kebebasan buruh utk berserikat) ;

- Pelanggaran Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7) (mempekerjakan buruh yang tidak

bersalah dalam 6 bulan sebelum perkara pidana diadili dan kewajiban pengusaha

membayar uang penghargaan masa kerja bagi buruh yang diphk karena diadili

dalam perkara pidana);

- Tindak pidana kejahatan atas pelanggaran hak-hak buruh juga diatur pada UU

No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja ; dan

- Tindak pidana kejahatan atas pelanggaran UU No. 21 tahun 2000 tentang Serikat

Pekerja/Serikat Buruh

Segala perbuatan pengusaha yang melanggar ketentuan-ketentuan tersebut di atas

diancam dengan hukum pidana (penjara) bervariasi sekurang-kurangnya satu (1)

tahun dan paling lama lima (lima) tahun. Juga ada ancaman denda sekurang-

kurangnya 100 juta rupiah dan 500 juta rupiah.

2. Tindak Pidana Pelanggaran, terdiri dari :

- Pelanggaran Pasal 35 ayat (2) UUK (kewajiban pelaksana penempatan tenaga

kerja memberi perlindungan sejak rekruitment sampai penempatan tenaga kerja) ;


- Pelanggaran Pasal 35 ayat (3) UUK (perlindungan oleh pemberi kerja atas

kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan mental dan fisik) ;

- Pelanggaran Pasal 93 ayat (2) UUK (pembayaran upah karena sakit/karena tugas

negara/pengusaha tdk mau mempekerjakan buruh sesuai perjanjian/hak istirahat

buruh/tugas melaksanakan fungsi serikat),

- Pelanggaran Pasal 137 UUK (hak mogok) ;

- Pelangaran Pasal 138 ayat (1) UUK (menghalangi maksud serikat buruh untuk

mogok kerja)

- Pelanggaran Pasal 37 ayat (2) UUK (lembaga penempatan tenaga kerja tanpa ijin

tertulis dari Menteri/pejabat yg ditunjuk) ;

- Pelanggaran Pasal 44 ayat (1) UUK (pemberi tenaga kerja asing wajib menaati

standart dan kompetensi yang berlaku) ;

- Pelanggaran Pasal 45 ayat (1) UUK (tenaga kerja WNI sebagai pendamping

tenaga kerja asing) ;

- Pelanggaran Pasal 67 ayat (1) UUK (pembayaran pesangon bagi buruh yang

pensiun) ;

- Pelanggaran Pasal 71 ayat (2) UUK (syarat-syarat mempekerjakan anak)

- Pelanggaran Pasal 76 UUK (perlindungan bagi buruh perempuan)


- Pelanggaran Pasal 78 ayat (2) UUK (wajib bayar upah pada jama kerja Lembur)

- Pelanggaran Pasal 79 ayat (1) dan ayat (2) UUK (waktu istirahat bagi buruh),

- Pelanggaran Pasal 85 ayat (3) UUK (pembayarn upah lembur pada hari libur

resmi),

- Pelanggaran Pasal 144 UUK (mengganti buruh yang mogok dengan buruh yan

baru)

- Pelanggaran atas Pasal 14 ayat (2) UUK (perijinan bagi lembaga pelatihan kerja

swasta) ;

- Pelanggaran Pasal 38 ayat (2) UUK (biaya penempatan tenaga kerja oleh swasta)

- Pelanggaran Pasal 63 ayat (1) UUK (PKWT secara lisan, pengusaha wajib

membuat surat pengangkatan) ;

- Pelanggaran atas Pasal 78 ayat (1) UUK syarat-syarat mempekerjakan buruh di

luar jam kerja) ;

- Pelanggaran Pasal 108 ayat (1) UUK (wajib membuat peraturan perusahaan

dengan 10 orang buruh) ;

- Pelanggaran Pasal 111 ayat (3) UUK (masa berlaku Peraturan 2 tahun dan wajib

diperbaharui) ;
- Pelanggaran Pasal 114 UUK (peraturan perusahaan wajib dijelaskan kepada

buruh dan perubahannya) ;

- Pelanggaran Pasal 148 UUK (syarat-syarat lock out ) ;

- Pelanggaran di bidang ketenagakerjaan juga diatur pada UU No. 3 tahun 1992

tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja ;

- PelanggaranUU No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh ;

Segala perbuatan pengusaha melanggaran pasal-pasal tersebut diatas

diancam dengan ancaman hukuman kurungan sekurang-kurangnya 1 bulan dan

paling lama 4 bulan. Juga diancam dengan hukuman denda sekurang-kurangnya

10 juta rupiah dan sebanyak-banyaknya 100 juta rupiah.

Pengaturan tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di

bidang ketenagakerjaan tersebut adalah merupakan suatu peluang bagi kalangan

pejuang buruh untuk memperjuangkan hak-hak dari kaum buruh. Oleh karena itu

aktivis buruh jangan terfokus pada penyelesaian ala PPHI, tetapi setiap

pelanggaran hak-hak buruh harus didorong melalui jalur pidana yaitu PPK/PPNS

ataupun langsung kepada Polri selaku penyidik tindak pidana sesuai dengan

KUHAP (UU No. 8 tahun 1981). Memang pengaturan tindak pidana dalam UU

tersebut belum mengatur semua kejahatan – kejahatan yang terjadi terhadap

buruh, seperti : penerapan outsourcing, kontrak, borongan dan harian lepas secara

berlebihan (tidak sesuai dengan UU). Tetapi apa yang menjadi kewenangan dari

PPK/PPNS tersebut, jika dimaksimalkan akan dapat memberikan shock therapy


bagi pengusaha untuk menghargai hukum dan buruh sebagai tulang punggung

perekonomian suatu bangsa.

Pada prakteknya pelaksanaan tugas PPK/PPNS tidak mudah. Banyak

situasi internal pemerintahan yang mengakibatkan tugas PPK tidak dapat berjalan.

Antara lain : lemahnya dukungan pemerintah mengenai fasilitas dan rendahnya

tingkat profesionalisme dan rendahnya militansi PPK dalam berhadapan dengan

pengusaha (sumber : notulensi pendidikan dan pelatihan bagi PPNS se Sumut

kerja sama KOMNAS HAM dan KPS di Hotel Garuda Plaza Medan tgl 30 – 31

Juli 2007). Untuk itu, pemerintah perlu serius mendukung dan membenahi kinerja

PPK/PPNS .

Di samping itu dalam melaksanakan tugasnya, PPK diharapkan mau

bekerja sama atau meminta informasi dan data-data secara rutin (reguler) kepada

pengurus-pengurus serikat buruh tingkat kabupaten/kota termasuk serikat buruh

pada tingkat perusahaan. Informasi dan data-data dari serikat-serikat buruh tentu

akan menjadi informasi yang sangat penting tentang ada atau tidak adanya

pelanggaran hak-hak buruh di perusahaan-perusahaan.

Tugas pengawasan dan penyidikan atas pelanggaran hak-hak dari buruh di

perusahaan-perusahaan yang dilakukan oleh PPK tentu akan semakin efektif jika

PPK mampu membangun koordinasi dan kerjasama dengan Kepolisian dan

Kejaksaan. Harapan buruh kepada PPK saat ini sangat besar untuk berani

bertindak tegas kepada pengusaha-pengusaha nakal yang selalu melanggar /

melawan ketentuan UU. UU mengatakan pengusaha dapat dipenjara karena


melanggar UU, bukan hanya buruh yang dapat dipenjara. Semua orang sama

kedudukannya dihadapan hukum.

C. Penegakan Hukum Ketenagakerjaan Secara Hukum Administrasi Negara

Pangkal sengketa dalam Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) adalah

Keputusan TUN. Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis yang

dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual,

dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum

perdata. Selain itu Keputusan TUN meliputi beberapa bidang, seperti : bidang

kepegawaian, pertanahan, perpajakan, ketenagakerjaan/perburuhan, dll. Sepanjang

Badan atau Pejabat TUN mengeluarkan keputusan dalam rangka menjalankan

urusan pemerintahan dan masuk dalam kriteria Pasal 1 angka 3 Undang-Undang

tentang PTUN, maka apabila ada sengketa yang berkenaan dengannya sudah

masuk kewenangan absolut PTUN untuk menyelesaikannya.

Menurut hukum administrasi negara (hukum publik), wewenang-

wewenang dalam urusan pemerintahan (eksekutif) bukanlah merupakan monopoli

instansi-instansi resmi di lingkungan pemerintah dibawah Presiden saja. Demikian

halnya karena dalam kenyataan kehidupan sehari-hari berbagai tugas

pemerintahan berada pada instansi-instansi di luar pemerintah, seperti : badan-

badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah sendiri (mis :

BUMN/BUMD dan Bank Pemerintah), instansi-instansi yang merupakan hasil

kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta (mis : Pemda DKI kerjasama
dengan PT Pembangunan Jaya), dan kadangkala suatu badan swasta murni

melalui peraturan perundang-undangan atau sistem perizinan diberi wewenang

untuk melaksanakan dan bertindak sebagai pelaksana suatu bidang urusan

pemerintahan (mis : lembaga-lembaga swasta yang bergerak dibidang pendidikan,

kegiatan sosial, kesehatan, dll). Dengan alasan itulah, menurut Indroharto bahwa

apa saja atau siapa saja yang dapat disebut sebagai Badan atau Pejabat TUN

dengan nama apapun secara garis besar dapat dikelompokkan dalam:

1. Instansi-instansi resmi pemerintah yang berada di bawah Presiden sebagai

kepala eksekutif.

2. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara di luar lingkungan

kekuasaan eksekutif yang berdasarkan peraturan perundang-undangan

melaksanakan suatu urusan pemerintahan.

3. Badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah dengan maksud

untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

4. Instansi-instansi yang merupakan kerjasama antara pihak pemerintah dengan

pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

5. Lembaga-lembaga hukum swasta yang berdasarkan peraturan perundang-

undangan dan sistem perizinan melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

Berdasarkan uraian yuridis diatas sepanjang sengketa TUN tersebut berupa

keputusan TUN sebagaimana dimaksud dengan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang

tentang PTUN dan dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN menurut Pasal 1

angka 1, 2, dan 6 Undang-Undang tentang PTUN, maka tetap menjadi


kewenangan PTUN untuk memeriksa dan mengadilinya, tanpa memilah-milah

bidang apa pun.

Sedangkan mengenai penyelesaian sengketa melalui upaya administrasi

sebagaimana dimaksud Pasal 48 Undang-Undang tentang PTUN, penulis

berpendapat setelah dibentuknya PHI berdasarkan Pasal 125 Undang-Undang

tentang PPHI, PTTUN selaku pengadilan tingkat pertama sudah tidak berwenang

lagi menyelesaikan perselisihan ketenagakerjaan/perburuhan karena P4D dan P4P

sudah tidak ada lagi eksistensinya.


BAB III

KESIMPULAN

1. Penegakan hukum ketenagakerjaan secara perdata adalah melalui jalan

litigasi dI PHI dan nono-litigasi

2. Penegakan hukum ketenenagakerjaan secara administrasi Negara

dilakukan melalui PTUN.

3. Penegakan hukum ketenagakerjaan secara pidana penyidik khusus yang

dientuk berdasarkan UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan .


DAFTAR PUSTAKA

http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:YSnjOtZIak8J:www.ptun-
bengkulu.go.id/artikel/artikel4.doc+PENEGAKAN+HUKUM+KETENAGA
KERJAAN+B.
+ASPEK+HUKUM+PERDATA+1.+Penyelesaian+di+Luar+Pengadilan&hl=
id&gl=id
PENEGAKAN HUKUM KETENAGAKERJAAN

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas terstrukturmata kuliah Hukum

Ketenagakerjaan

Disusun Oleh
Adi Darsono
Alphan Zulfizar
Dadang Suhendar
Deny Wahyudin Nurlette
Dewi Yuliani
Fitry Nopayanti

Ilmu Hukum A /VI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG
2011