Anda di halaman 1dari 24

GEOSTRATEGI INDONESIA DENGAN STUDI KASUS IMPOR KACANG KEDELAI

TERHADAP KETAHANAN PANGAN NASIONAL

MAKALAH

Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah

Pendidikan Kewarganegaraan

OLEH :

Nama : Sandy Muslim

NIM : 0910611047

Jurusan : S1 Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”


JAKARTA

2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga
penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah
”Geosrategi Indonesia Dengan Studi Kasus Impor Kacang Kedelai Terhadap
Ketahanan Pangan Nasional”. Penulisan makalah ini ditujukan intuk memenuhi salah
satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan semester genap
di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jakarta.

Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya
dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua, yang telah memberi dukungan dan membantu dalam
pembuatan makalah ini.
2. Dra. Aniek Irawatie, M.Si, selaku dosen Kewarganegaraan.
3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah
ini, yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para
pembaca. Namun, makalah ini mungkin memiliki kekurangan. Karena itu, sangat
diperlukannya kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini sehingga menjadi
lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas
segala kesalahan yang mungkin ada didalam makalah ini.

Jakarta,Juli 2010

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah.................................................................................... 3

1.3. Tujuan Penulisan...................................................................................... 4

1.4. Metode dan Teknik Penulisan.................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Geostrategi Indonesia

2.1.1 Pengertian Geostrategi.................................................................. 5

2.1.2. Sifat Geostrategi Indonesia........................................................... 5

2.1.3. Ketahanan Nasional dan Ketahanan Pangan............................... 6

2.2. Faktor Penurunan Ketahanan Pangan Indonesia.................................... 10

2.3. Cara Mengurangi Ketergantungan Terhadap Impor Kedelai Serta


Mewujudkan Swasembada Kedelai Nasional.......................................... 14

BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 18

Daftar Pustaka................................................................................................................ 22
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pangan adalah kebutuhan yang paling mendasar dari suatu negara.


Banyak negara dengan sumber ekonomi yang cukup memadai tetapi mengalami
kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi
penduduknya. Sejarah juga menunjukkan bahwa strategi pangan banyak
digunakan untuk menguasai pertahanan negara. Dengan adanya
ketergantungan pangan, suatu bangsa akan sulit lepas dari negara lain. Dengan
demikian upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan
pangan nasional bukan hanya dipandang dari sisi profit ekonomi saja harus
disadari sebagai bagian yang mendasar bagi ketahanan nasional yang harus
dilindungi.

Di Indonesia kedelai merupakan komoditas pangan yang sangat strategis,


mengingat kultur konsumsi masyarakat indonesia yang menggunakan kacang
kedelai sebagai bahan baku produksi, sehingga usaha untuk memenuhi
swasembada tidak hanya bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan kedelai dalam
negeri melainkan juga sebagai pendukung agroindustri nasional dan menghemat
devisa yang dikeluarkan dalam rangka ketergantungan terhadap impor kacang
kedelai serta mengurangi ketergantungan terhadap impor itu sendiri.
Ketergantungan terhadap bahan pangan dari luar negeri dalam jumlah yang
cukup besar, dapat melumpuhkan ketahanan nasional dan mengganggu
stabilitas sosial masyarakat, ekonomi serta politik. Ketahanan pangan dan
kedaulatan pangan berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan
masyarakat.

Sebagaimana di ketahui bahwa pemenuhan kebutuhan nasional terhadap


kacang kedelai belum tercapai, dimana jumlah kebutuhan masih relatif besar
dibandingkan kapasitas produksi dalam negeri yang hanya dapat memenuhi
sebagian kebutuhan kedelai nasional .

Ketahanan pangan merupakan konsep yang dinamis dalam arti dapat


digunakan mengukur secara langsung kualitas sumber daya manusia dengan
cara mengukur kecukupan pangan dan gizinya. Ketahanan pangan disuatu
negara sangat dipengaruhi tidak hanya dari produksi dan sistemnya melainkan
juga oleh kondisi sosial dan ekonomi negara tersebut.

Konsep ketahanan pangan dapat dilihat dari segi individu dan nasional.
Konsep ketahanan pangan di tingkat individu mengacu pada suatu keadaan
yang dapat menjamin setiap individu dimanapun, kapanpun untuk memperoleh
pangan agar dapat mempertahankan hidup sehat. Sedangkan konsep ketahanan
pangan nasional berarti adanya jaminan kecukupan pangan dan gizi di tingkat
nasional dari waktu ke waktu. Untuk menjamin ketahanan pangan nasional
sampai tingkat individu, ketersediaan pangan dan keterjangkauan aksesnya oleh
semua orang merupakan dua syarat penting. Ketidakseimbangan antara
ketersediaan akses dapat menyebabkan ancaman ketahanan pangan (food
insecurity). Bukti empiris menunjukkan bahwa rapuhnya ketahanan pangan
nasional suatu negara dapat memicu timbulnya goncangan ekonomi dan
meningkatnya kriminalitas.

Ketahanan pangan yang kokoh akan menciptakan suatu keadaan


lingkungan yang kondusif bagi pembangunan. Tanpa adanya ketahanan pangan,
maka tidak mungkin tercipta sumber daya berkualitas tinggi yang diperlukan
sebagai faktor pendorong penggerak pembangunan. Ketahanan pangan
merupakan prasyarat bagi stabilitas sosial politik, sementara stabilitas sosial
politik merupakan syarat mutlak bagi adanya pembangunan. Kedelai merupakan
komoditas pangan yang terpenting ketiga setelah padi dan jagung yang
mempunyai posisi strategis dalam seluruh kebijakan pangan nasional karena
perannya yang sangat penting dalam menu pangan penduduk Indonesia. Hal
inilah yang melatar belakangi pemilihan judul ” GEOSTRATEGI INDONESIA
DENGAN STUDI KASUS IMPOR KACANG KEDELAI TERHADAP KETAHANAN
PANGAN NASIONAL”

1.2. Rumusan Masalah

Tingginya tingkat ketergantungan impor kacang kedelai Indonesia dan


semakin dominannya kacang kedelai impor di pasaran domestik menimbulkan
berbagai permasalahan. Pada tingkat petani, permasalahan timbul antara lain
diakibatkan oleh harga kacang kedelai impor yang relatif lebih murah
dibandingkan dengan harga kacang kedelai lokal. Akibatnya, dengan biaya
produksi yang masih tinggi para petani tidak sanggup menetapkan harga yang
sesuai agar dapat bersaing dengan kacang kedelai impor. Banyak diantaranya
mengalami kerugian dan akhirnya lebih memilih menanam komoditas lain yang
relatif dapat mendatangkan keuntungan.
Di tingkat produktifitas pangan nasional, Indonesia rentan menghadapi
permasalahan akibat krisis kacang kedelai yang dipicu oleh kelangkaan pasokan
dan tingginya harga kacang kedelai dunia. Tingginya permintaan kacang kedelai
dunia untuk pangan serta berkurangnya pasokan kacang kedelai dari negara-
negara produsen utama. Konsekuensinya adalah semakin besar devisa negara
yang harus dibelanjakan untuk membeli kacang kedelai dari luar negeri untuk
memenuhi kebutuhan nasional.
Dari uraian di atas, penulis dapat mengemukakan Beberapa
permasalahan sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan geostrategi dan geostrategi indonesia?

2. Bagaimanakah sifat-sifat geostrategi?

3. Apakah ketahanan nasional dan ketahanan pangan itu?

4. Apakah yang menjadi faktor lemahnya ketahanan pangan, khususnya


terhadap kacang kedelai di Indonesia?

5. Bagaimana cara mengurangi ketergantungan terhadap impor kacang kedelai


serta mewujudkan swasembada kedelai nasional?
1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sejauh mana ketahanan pangan Indonesia, khususnya


komoditas pangan kedelai.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab belum tercapainya swasembada


kedelai nasional.

3. Untuk mengetahui bagaimana mencapai swasembada kedelai nasional.

1.4. Metode dan Teknik Penulisan

Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis
ini adalah metode studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan
data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan
dijadikan dasar atau pedoman untuk melihat adanya ketidaksesuaian antara teori
dengan kenyataan sebagai penyebab dari permasalahan yang dibahas dalam
karya tulis ini. Sumber – sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi
pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan. Baik itu buku maupun situs –
situs yang ada di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Geostrategi Indonesia

2.1.1. Pengertian Geostrategi


Geostrategi adalah suatu strategi dalam memanfaatkan kondisi
lingkungan didalam upaya mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional.

Geostrategi Indonesia adalah merupakan strategi dalam memanfaatkan


konstelasi geografi negara Indonesia untukmenetukan kebijakan,tujuan dan
sarana-sarana untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia.

2.1.2. Sifat Geostrategi Indonesia

Bersifat daya tangkal. Dalam kedudukannya sebagai konsepsi


penangkalan geostrategi Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk
ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan terhadap identitas, integritas,
eksistensi bangsa dan negara Indoesia.

Bersifat developmental/pengembangan yaitu pengembangan potensi


kekuatan bangsa dalam ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan
dan keamanan sehingga tercapai kesejaheraan rakyat.

Geostrategi penunjang tugas Pemerintah :

- Menegakkan hukum dan ketertiban (Law and Order)

- Terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran (Welfare and Prosperity)

- Terselenggaranya pertahanan dan keamanan (Defense and Prosperity)

- Terwujudnya keadilan hukum dan keadilan sosial (Yuridical Justice and Social
Justice)
- Tersedianya kesempatan rakyat untuk mengaktualisasikan diri (Freedom of the
Act)

2.1.3. Ketahanan Nasional dan Ketahanan Pangan

Ketahanan Nasional adalah merupakan kondisi dinamis suatu bangsa


berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala
ancaman, gangguan, tantangan baik yang datang dari dalam maupun dari luar
yang langsung maupun tidak langsung, membahayakan integritas, identitas,
kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangn nasional.

Menurut RM Sunardi dalam Pengantar Teori Ketahanan Nasional,


konsepsi analitik tentang Ketahanan Nasional adalah kondisi dinamik satu
bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
untuk mengembangkan kekuatan nasional didalam mengatasi dan menghadapi
segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan baik dari luar maupun dari
dalam yang langsung maupun tidak langsung akan membahayakan integritas,
identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mengejar
tujuan perjuangan nasional. Dalam implementasinya untuk mewujudkan
ketahanan nasional telah menggunakan pendekatan kesejahteraan dan
keamanan dalam upaya melindungi eksistensi dan nilai-nilai Bhineka Tunggal
Ika dalam wadah NKRI.

Konsepsi ketahanan nasional Indonesia adalah konsepsi pengembangan


kekuatan nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan
keamanan yang seimbang, serasi, dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan
secara utuh dan menyeluruh dan terpadu berlandaskan pancasila, UUD 1945,
dan Wawasan nusantara.

Dengan kata lain, konsepsi ketahanan nasional Indonesia merupakan


sebuah pedoman untuk meningkatkan keuletan dan ketangguhan bagi bangsa
yang mengandung nilai kemampuan mengembangkan serta menghimpun
kekuatan nasional dengan melakukansebuah pendekatan kesejahteraan dan
keamanan. Kesejahteraan dapat digambarkan sebagai kemampuan bangsa
dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat secara adil dan merata. Sedangkan keamanan
adalah kemampuan bangsa untuk melindungi nilai-nilai nasionalnya terhadap
ancaman dari luar maupun dari dalam negeri.

Asas-asas Ketahanan Nasional Indonesia :

Asas ketahanan nasional Indonesia adalah tata laku berdasarkan nilai-nilai


Pancasila, UUD 1945, dan Wawasan Nusantara, yang terdiri dari :

a) Asas kesejahteraan dan keamanan

Kesejahteraan dan keamanan dapat dibedakan tetapi tidak dapat


dipisahkan dan merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dan
sangat esensial. Dengan demikian, kesejahteraan dan keamanan
merupakan asas dalam system kehidupan nasional. Tanpa tercapainya
sebuah taraf kesejahteraan dan keamanan, system kehidupan nasional,
tidak akan dapat berlangsung. Kesejahteraan dan keamanan
merupakannilai intrinsik yang ada pada system kehidupan nasional itu
sendiri. Kesejahteraan maupun keamanan harus selalu ada,
berdampingan pada kondisi apa pun.

kehidupan nasional, tingkat kesejahteraan dan keamanan nasional


yang dicapai merupakan tolak ukur ketahanan nasional.

b) Asas komprehensif integral atau menyeluruh terpadu

Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan


bangsa dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang
seimbang, serasi, dan selaras pada seluruh aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara.

Ketahanan nasional mencakup ketahanan segenap aspek


kehidupan bangsa secara utuh, menyeluruh, dan terpadu (komprehensif
integral).

c) Asas mawas ke dalam dan mawas ke luar

System kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek


kehidupan bangs yang saling berinteraksi. Disamping itu, system
kehidupan nasional juga berinteraksi dengan lingkungan sekelililngnya.
Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik yang
bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas ke
dalam maupun ke luar.

• Mawas ke dalam

Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan


kondisi kehidupan nasional itu sendiri berdasarkan nilai-nilai
kemandirianyang proporsional untuk meningkatkan kulitas derajat
kemandirian bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa
Ketahanan Nasional mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit.

• Mawas ke luar

Mawas ke luar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan berperan


serta mengatasi dampak lingkungan strategis luar negeri dan menerima
kenyataan adanya interaksi dan ketergantungan dengan dunia
internasional. Kehidupan nasional harus mampu mengembangkan
kekuatan nasional untuk memberikan dampak ke luar dalam bentuk daya
tangkal dan daya tawar. Interaksi dengan pihak lain diutamakan dalam
bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
d) Asas kekeluargaan

Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan,


kesamaan, gotong royong, tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Asas ini mengakui
adanya perbedaan . dan perbedaan tersebut harus dikembangkan secara
serasi dalam hubungan kemitraan agar tidak berkembang menjadi konflik
yang bersifat saling menghancurkan.

Ketahanan pangan nasional merupakan suatu sistem pertahanan


ideal yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi.
Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan
untuk memenuhi kebutuhan terhadap pangan seluruh penduduk Negara ,
baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya.

Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang


efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat
memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang
waktu dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi
berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional
memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan
kehalalannya serta pemanfaatan bahan pangan secara efektif dan
efisien..

2.2. Faktor Penurunan Ketahanan Pangan Nasional

1. Potret Kebijakan Pertanian Indonesia

Sangat disayangkan, Indonesia sebagai negara agraris (sebagian besar


penduduknya hidup sebagai petani) dengan tanah vulkanik yang sangat subur
dan sebagai negara maritim dengan laut yang luas dan garis pantai terpanjang di
dunia, belum mempunyai tekad seperti ditunjukkan oleh Cina, India, Thailand
ataupun Malaysia. Sebagai negara yang dianugerahi kekayaan sumberdaya
hayati terbesar di dunia, laut yang begitu luas, cahaya matahari yang berlimpah,
tanah vulkanik yang sangat subur, sesungguhnya jika dikelola dengan baik tidak
mungkin Indonesia kurang pangan, bahkan sangatlah layak menjadi lumbung
pangan dunia.
Membangun pertanian merupakan bagian penting dari pembangunan
nasional. Pembangunan di sektor ini kenyataannya sangat memprihatinkan.
Sistem yang diciptakan lebih berpihak kepada para konglomerat dan
memberikan keuntungan kepada produsen benih, pupuk dan pestisida
(perusahaan raksasa negara maju bukan industri Nasional).

Sebaliknya, kegiatan ini secara nyata telah memberikan kontribusi


terhadap kerusakan alam pengkerdilan sistem dan budaya tradisional yang
dikembangkan berdasarkan kearifan masyarakat tani secara turun menurun
selama berabad-abad. Pertanian yang seharusnya menjadi sarana
mensejahterakan rakyat, justru menjadi objek segelintir orang untuk mengeruk
keuntungan. Kehidupan dan kesejahteraan hidup petani merosot dan selalu
bertambah miskin.

Petani kehilangan gairahnya untuk bertani dengan rumitnya prosedur


tataniaga, akses permodalan dan sulitnya mendapatkan fasilitas pertanian.
Akibatnya, impor pangan tidak dapat dihindarkan. Setiap tahun devisa negara
hilang. Pengangguran tidak dapat diserap oleh sektor pertanian karena tidak ada
dukungan kebijakan modal atau bank yang berpihak kepada petani untuk dapat
membesarkan skala usaha dan pengembangan produksinya. Di sisi lain
kebijakan harga dalam satu periode telah membunuh pasar petani dan petani
selalu mendapatkan harga pasar produknya yang terus merugi sehingga
berdampak nyata menurunnya minat petani untuk bertanam komoditas pangan.

2. Pergeseran Kultur Budaya Pangan Indonesia

Bangsa Indonesia terdiri atas segala macam etnis, suku bangsa. Indonesia
sangat kaya dengan adat istiadatnya termasuk adat istiadat makan dan cara
membuat makanan. Jenis makanan mulai dari Sabang hingga Marauke
sangatlah beragam. Setiap daerah mempunyai keunikan resep memasaknya
sehingga jenis masakan dari daerah ke daerah di seluruh nusantara ini sangat
bervariasi. Jika kita berkeinginan agar kearifan masyarakat lokal tentang
makanan khas dan asli Indonesia dengan segala jenis resep dan tata cara
mengolah, memasak termasuk cara menyajikannya tidak terlindas lebih jauh
oleh makanan asing, bangsa ini masih harus bekerja keras. Salah satu upaya
adalah dengan cara mengawinkan budaya dan kearifan leluhur bangsa ini
dengan ilmu pengetahuan modern.

Dengan melakukan cara ini, tidak mustahil bangsa ini dapat


mengembangkan sebuah inovasi untuk mengantarkan berbagai jenis makanan
asli Indonesia menjadi makanan yang dibanggakan oleh bangsanya sendiri dan
tidak terus menerus terpinggirkan seperti saat ini tengah terjadi. Tidaklah
mustahil, melalui kerja keras dan saling percaya, bangsa ini dapat menyodorkan
berbagai jenis pangan yang mampu bersaing dengan produk impor. Melalui
inovasi dan sentuhan teknologi, berbagai jenis makanan lokal dapat
dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan generasi kedua, ketiga dan
seterusnya.
Pada saat ini, bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kultural di bidang
pangan. Kita cenderung lebih menghargai jenis makanan asing. Membeli dan
mengkonsumsi makanan asing sekalipun belum tentu gizinya baik sudah
merasakan lebih bergengsi dibandingkan mengkonsumsi makanan lokal.
Sebagai akibat dari krisis ini, tercatat ada dua kelompok besar masyarakat
Indonesia. Kelompok pertama adalah kelompok kekurangan gizi dan kelompok
yang kedua adalah kelompok kelebihan gizi. Sementara itu kelompok dengan
gizi seimbang adalah kelompok minoritas. Jika hal ini dibiarkan, maka tidak
mustahil, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang
tidak produktif. Indikasi ini sudah dijelaskan oleh FAO bahwa kualitas sumber
daya manusia balita Indonesia tercatat paling rendah di ASEAN.
3. Pengalihan Fungsi Lahan Pertanian Menjadi Lahan Industri
Pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan industri berdampak
secara langsung mengurangi kapasitas produksi komoditas pangan khususnya
kedelai. Dengan berkurangnya kapasitas produksi yang berbanding terbalik
dengan kapasitas kosumsi kedelai yang semakin meningkat, mengingat kultur
atau pola konsumsi pangan masyarakat indonesia yang masih menempatkan
kedelai salah satu bahan pangan utama. Hal ini tentunya mempengaruhi tungkat
impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang belum dapat
dipenuhi oleh produsen lokal.

4. Pembenihan Pangan yang Kurang Dikembangkan


Sentra perbenihan pangan kurang di kembangkan sebagai industri benih
Nasional yang utama dan berkelanjutan. Para produsen benih baik swasta
maupun petani penangkar kuang mampu menghasilkan benih yang unggul dan
berdaya hasil tinggi dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu perlu perhatian
yang serius terhadap jaminan ketersediaan benih, pemberian insentif produsen
benih, teknologi produksi, keterjaminan akan konsumsi benih dan tata
perbenihan komoditi pangan yang bermutu (pengadaan, persebaran dan
ketersediaan, dll.) merupakan titik awal untuk memulai bangkit Pangan.
5. Lemahnya Permodalan Petani
lemahnya permodalan petani untuk menanam dalam lahan yang lebih
luas. Kredit yang dapat menjamin usaha di sektor ini tidak ada. Kalaupun ada
hanya sebatas diwacanakan. Lemahnya modal untuk membiayai usaha tani
kedelai berdampak langsung pada rendahnya produktivitas dimana ketiadaan
modal petani tidak melakukan budidaya dengan tepat seperti tidak dipupuk
(tidak mampu beli benih unggul, pupuk dan pestisida), tidak diurus atau diberi air
irigasi, tidak mampu menahan saat harga turun (stok gudang), bahkan petani
terbelit sistem penjualan ijon (tanaman dijual atau digadai sebelum panen)
dengan harga murah.

2.3. Cara Mengurangi Ketergantungan Terhadap Impor Kedelai Serta


Mewujudkan Swasembada Kedelai Nasional
Pembangunan pertanian Pangan harus dipandang dari sisi strategis dan
politis yang menjadi bagian mendasar dari ketahanan dan kemandirian pangan
nasional sebagai bagian dari Ketahanan Nasional dan jangan hanya dipandang
dari sisi untung rugi ekonomi saja. Belajar dari sukses negara-negara yang
swasembada pangan yang pada umumnya memprioritaskan kebijakan perluasan
lahan pertanian dan penerapan teknologi serta insentif sektor pertanian, maka
dengan paradigma baru program transmigrasi yang salah prioritasnya adalah
mendukung revitalisasi ketahanan pangan, dengan pembukaan lahan pertanian
baru (ekstensifikasi), penempatan tenaga kerja pertanian (lapangan kerja) dan
penerapan teknologi pertanian (intensifikasi) sangatlah tepat.
Melihat kondisi saat ini dan kecenderungan produksi pangan yang semakin
menggantungkan diri kepada impor, maka yang perlu ditekankan adalah:
perluasan areal pertanian pangan dan optimalisasi pemberdayaan sumber daya
pendukung lokalnya, kebijakan tataniaga kedelai dan pembatasan impor kedelai,
pemberian kredit produksi dan subsidi bagi petani Kedelai, pemacuan kawasan
sentra produksi dan fasilitas pasca panen serta ketersediaan stok pangan
sampai tingkat terkecil. Untuk mewujudkan usaha ini, setiap daerah di Indonesia
yang memungkinkan harus turut mendukung dan memfasilitasi pembukaan
lahan pertanian melalui transmigrasi dengan kemudahan kebijakan di daerah.
Untuk itu pemacuan peningkatan produksi pangan nasional harus ditunjang
dengan kesiapan dana, penyediaan lahan, teknologi, masyarakat (petani) dan
infrastrukturnya yang dijadikan sebagai kebijakan ketahanan dan kemandirian
pangan nasional.

• Kebijakan Makro Tata Niaga Pangan Nasional

Fasilitasi kebijakan yang memberikan kemudahan patani pangan


untuk mendapatkan subsidi teknologi, mekanisasi dan fasilitas penunjang
budidaya (seperti infrastruktur untuk pertanian seperti irigasi, transportasi, dan
kredit produksi), perlindungan pasar serta kebijakan impor terbatas diperlukan
untuk kembali menggairahkan pertanian pangan. Dalam hal ini perlu adanya
rencana dan program yang jelas dan sistematis serta komitmen terhadapnya
yang mengikat pihak-pihak yang berwenang khususnya dari pemerintah melalui
Departemen Pertanian dan departemen terkait dalam mewujudkan kemandirian
pangan nasional yang tangguh sebagai keputusan nasional (presiden) yang
didukung oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana di lapangan.

Hadirnya kelembagaan seperti Assosiasi pengembang dan


kelembagaan pertanian lain seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
dan lain-lain yang turut serta memperjuangkan dan mengawal program kedelai
memegang peranan yang penting. Kebijakan tataniaga khususnya penerapan
tarif bea masuk, pembatasan kuota impor, kebijakan harga panen di tingkat
petani melalui mekanisme penyerapan program dan insentif harga panen di
konsumen dalam negeri perlu di atur sedemikian rupa untuk melindungi petani.

• Pencanangan Target Produksi Nasional Menuju Swasembada

Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat,


bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan
memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembangkan menuju arah
kemajuan. Pertanian pangan hendaknya jangan dipandang sebagai lahan untuk
menyerap tenaga kerja atau petani dikondisikan untuk terus memberikan
subsidia atau penopang bagi pertumbuhan ekonomi sektor lain. Seperti dengan
kenyataan nilai jual hasil panen harus rendah dan biaya sarana produksi untuk
tanam terus melambung. Tetapi seharusnya petani pangan juga mendapatkan
beberapa prioritas perlindungan oleh pemerintah melalui harga jual yang layak
dan mendapat subsidi produksi karena petani membawa kepercayaan dari
masyarakat dan negara bagi ketahanan pangan, serta petani perlu mendapatkan
kesejahteraan yang layak.

Dalam hal ini adalah wajar jika pemerintah berpihak kepada petani dan
pelaku produksi pertanian pangan karena merupakan golongan terbesar dari
masyarakat Indonesia, penyerap 45% lapangan kerja di Indonesia.
Impor yang sangat menonjol sebagai solusi termudah untuk mengatasi
kekurangan produksi pangan, justru membuat petani semakin terpuruk dalam
produksi pangan dan tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan
pangan yang tidak tegas. Akibat kelebihan cadangan pangan dari impor
seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah tidak
sebanding dengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung
kerugian. Oleh karena itu dalam kurun waktu satu dasa warsa ke depan
Indonesia harus mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi
masyarakatnya.

Hanya dengan regulasi dan kebijakan yang tegas dan berani dari
pemerintah dalam mengatur dorongan budidaya dan tataniaga kedelai,
Indonesia dapat kecukupan pangan dan tidak perlu lagi Impor mengingat
teknologi produktivitas yang tepat telah ada, ketersediaan lahan pengembangan
dan pasar di dalam negeri berpotensi mendukung.

BAB III
PENUTUP

ketergantungan indonesia pada impor kedelai, yang meningkat baik volume


mampu nilainya sangat membahayakan terhadap ketahanan pangan nasional. adanya
kebijakan impor kedelai yang sebenarnya dapat diproduksi petani dalam negeri,
membuat turunnya semangat petani untuk meningkatkan produksi. dalam hal ini
pemerintah harus memiliki keberanian dan mampu memberikan perlindungan harga
kepada petani, sehingga petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi kedelai
dalam negeri.
peningkatan produksi kedelai dalam negeri menjadi amat penting guna
memperkuat ketahanan pangan. terus menurunnya produksi kedelai dalam negeri
dengan konsekuensi mengimpor kedelai dalam jumlah yang sangat besar telah
mengancam ketahanan pangan nasional. diperlukan perluasan areal pertanian yang
disertai peningkatan produktivitas, stabilitas hasil, pengurangan kehilangan hasil panen
dan pasca panen. upaya lain yang perlu mendapat prioritas adalah perbaikan
infrastruktur (fisik dan kelembagaan) dan mengefektifkan kerja penyuluahn yang
dikaitkan dengan penelitian serta melibatkan pihak swasta untuk menjalin kemitraan
dengan petani atau kelompok tani yang didukung kebijakan makro yang kondusif.
langkah konkrit yang sangat penting dilakukan adalah penekanan terhadap tingkat
pertumbuhan penduduk dengan menggencarkan kembali program keluarga berencana.
terjadinya lonjakan harga kedelai akhir-akhir ini memunculkan peluang untuk
dihidupakannya kembali sebuah sistem tata niagayang ideal dan dikembalikannya
fungsi bulog seperti masa lalu. pemulihan peran bulog tersebut hendaknya disertai
dengan transparansi dan mekanisme kontrol yang ketat terhadap bulog. pemberian izin
impor kepada swasta (importir umum) perlu dikaji ulang. impor kedelai hanya dilakukan
pemerintah saja lewat bulog. denga kata lain dalam persoalan kedelai yang sangat
strategis ini pemerintah harus melakukan pengendalaian agar masyarakat tidak menjadi
objek mencari keuntungan.
ditinjau dari semangat untuk membangun perekonomian Indonesia dengan
kekuatan sendiri, terutama untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri, hal ini sangat
sejalan dengan catatan historis keberadaan dan kelangsungan hidup masyarakat
Indonesia bukan semata-mata sebagai komoditas bernilai ekonomi juga sekaligus
mengandung nilai sosial., psikologis, dan politik. dalam hal ini Indonesia tidak perlu
memperluas dan memperdalam liberalisasi perdagangan pangan dunia, terutama untuk
melindungi petani dari persaingan yang tidak adil dalam perdagangan kedelai dunia.

Berikut ini adalah Ancaman, Tantangan, Hambatan, serta Gangguan terhadap


ketahanan pangan nasional.
• Ancaman
Liberalisasi perdagangan pangan dunia yang dapat menyebabkan
harga jual hasil panen petani menjadi rendah, maka tidak sebanding
dengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung kerugian.
Hal ini tentunya akan menimbulkan sebuah kondisi dimana komoditas lokal
semakin terpuruk, sebagai akibat liberalisasi perdagangan pangan, dalam
hal ini impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang berbanding
terbalik dengan jumlah produksi dalam negeri.
• Tantangan
Peran serta pemerintah dalam membatasi regulasi serta
menerapkan kuota terhadap impor kacang kedelai. Dan memberikan
kemudahan petani pangan untuk mendapatkan subsidi teknologi,
mekanisasi dan fasilitas penunjang budidaya (seperti infrastruktur untuk
pertanian seperti irigasi, transportasi, dan kredit produksi), perlindungan
pasar serta kebijakan terhadap impor terbatas diperlukan untuk kembali
meningkatkan pertanian pangan. Dalam hal ini perlu adanya sebuah
rencana dan program yang jelas, sistematis dan juga menyeluruh serta
komitmen terhadapnya yang mengikat pihak berwenang yang terkait
khususnya dari pemerintah melalui Departemen Pertanian dan
departemen-departemen terkait dalam rangka mewujudkan kemandirian
pangan nasional yang tangguh sebagai keputusan nasional yang didukung
oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana di lapangan.

• Hambatan
Pembenihan pangan kurang di kembangkan sebagai industri benih
Nasional yang utama dan berkelanjutan. Para produsen benih baik swasta
maupun petani penangkar kurang mampu menghasilkan benih yang unggul
dan berdaya hasil tinggi dalam jumlah yang cukup. Serta lemahnya
permodalan petani untuk menanam dalam lahan yang lebih luas.

• Gangguan

Semakin gencarnya invasi produk-produk pangan dari luar negeri yang


menyebabkan pergeseran kultur budaya pangan Indonesia yang lebih
menghargai jenis makanan asing. Membeli dan mengkonsumsi makanan
asing sekalipun belum tentu gizinya baik sudah merasakan lebih bergengsi
dibandingkan mengkonsumsi makanan lokal. Sebagai akibat dari krisis ini,
tercatat ada dua kelompok besar masyarakat Indonesia. Kelompok
pertama adalah kelompok kekurangan gizi dan kelompok yang kedua
adalah kelompok kelebihan gizi. Sementara itu kelompok dengan gizi
seimbang adalah kelompok minoritas. Jika hal ini dibiarkan begitu saja,
maka tidak mustahil, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lemah,
bangsa yang tidak produktif. Indikasi ini sudah dijelaskan oleh FAO bahwa
kualitas sumber daya manusia balita Indonesia tercatat paling rendah di
ASEAN.
Daftar Pustaka

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/03/02/pemerintah-impor-1-juta-ton-kedelai

http://www.kabarbisnis.com/aneka-bisnis/perdagangan/289769
Pemerintah_Impor_kedelai_1_juta_ton_.html

Irawatie,aniek.2010.Handout dan Evaluasi.Pendidikan kewarganegaraan.jakarta.

Sumarmo.s,dkk.2008.PENDIDIKANKEWARGANEGARAAN.Gramedia.Jakarta.
Pemerintah Impor 1 Juta Ton Kedelai

JAKARTA (Pos Kota) -Tingginya tingkat konsumsi rakyat Indonesia terhadap kedelai
seperti untuk pembuatan tahu dan tempe membuat produksi dalam negeri tidak
mencukupi. Karenanya, pemerintah pada 2010 berencana mengimpor sekitar satu juta
ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Sampai saat ini petani kita baru mampu memproduksi kedelai sekitar 1 juta ton.
Padahal kebutuhan rata-rata per tahun sekitar 2 juta ton,” kata Dirjen Tanaman Pangan
Kementerian Pertanian Soetarto Alimoeso, kemarin.

Diakui untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang cukup besar pemerintah tidak
bisa menghindari impor kedelai. Hal ini diperlukan agar keseimbangan harga tetap
terjaga dan kebutuhan rakyat tetap terpenuhi.

Impor juga tidak akan dilakukan secara berlebihan sehingga harga kedelai dalam negeri
tidak jatuh. Dengan cara ini diharapkan stabilitas harga terjaga dan petani tetap
bergairah menanam komoditas ini.

Negara yang menjadi asal impor kedelai selama ini antara lain China dan Amerika
Serikat. Namun jumlah terbanyak tetap berasal dari Amerika Serikat.

Ke depan pemerintah akan terus mendorong petani agar lebih tertarik menanam
kedelai. Dengan cara ini diharapkan Indonesia tidak akan lagi tergantung dari kedelai
impor. (faisal/B)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/03/02/pemerintah-impor-1-juta-ton-kedelai