Anda di halaman 1dari 12

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Pengertian: Hukum acara pidana adalah hukum yang mengatur tentang cara
bagaimana atau menyelenggarakan Hukum Pidana Material, sehingga
memperoleh keputusan Hakim dan cara bagaimana isi keputusan itu harus
dilaksanakan.

Hukum Acara Pidana di Indonesia saat ini telah diatur dalam satu undang-
undang yang dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP), yakni Undang-Undang No.8/1981, berlaku sejak 31 Desember
1981

Pengertian

1. Tersangka, menurut pasal 1 ayat 4 KUHAP adalah seseorang yang karena


perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan, patut
diduga sebagai pelaku tindak pidana. Tersangka belumlah dapat
dikatakan sebagai bersalah atau tidak (presumption of innocence) azas
praduga tak bersalah

2. Terdakwa, menurut pasal 1 ayat 5 KUHAP adalah seorang tersangka yang


dituntut, diperiksa dan diadili dipersidangan pengadilan.

3. Terpidana adalah yang dijatuhi hukuman oleh Pengadilan pidana

Jenis Pidana yang dapat dijatuhkan kepada seorang Terpidana menurut


pasal 10 KUHP, adalah:

1. Pidana pokok:

2. Pidana mati

3. Pidana penjara

4. Pidana kurungan

5. Pidana denda

6. Pidana Tambahan

7. Pencabutan hak-hak tertentu

8. Perampasan barang-barang tertentu

9. Pengumuman keputusan
Hak-hak Tersangka/Terdakwa

Hak adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang tersangka, atau


terdakwa. Apabila hak tersebut dilanggar, maka hak asasi dari tersangka,
atau terdakwa telah dilanggar.

Hak tersangka atau terdakwa:

1. mendapat pemeriksaan dengan segera (pasal 50:1)

2. perkaranya segera dilanjutkan ke Pengendilan (pasal 50:2)

3. segera diadili oleh Pengadilan (pasal 50:3)

4. mempersiapkan pembelaan (pasal 51 huruf a)

5. diberitahukan perihal apa yang didakwakan kepadanya (pasal 51 huruf


b)

6. memberikan keterangan secara bebas (pasal 52)

7. mendapat bantuan juru bahasa (pasal 52:1) bagi yang tidak mengerti
bahasa Indonesia

8. mendapat bantuan dalam bisu/tuli (pasal 53:2)

9. mendapat bantuan hukum (pasal 54,55)

10. untuk ditunjuk pembela dalam hak terdakwa dengan ancaman hukuman
mati (pasal 56)

11. menghubungi Penasehat Hukum (pasal 57:1)

12. menerima kunjungan dokter pribadi (pasal 58)

13. diberitahukan kepada keluarganya (pasal 59)

14. menghubungi dan menerima kunjungan keluarga (pasal 60,61)

15. mengirim dan menerima surat (pasal 62)

16. menghubungi dan menerima Rohaniawan (pasal 63)

17. untuk diadili di sidang yang terbuka untuk umum (pasal 64), kecuali
kasus susila, dan kasus terdakwa anak-anak yang masih di bawah umur
18. mengusahakan dan mengajukan saksi/saksi ahli atau saksi A De Charge
(saksi yang menguntungkan) (pasal 65)

19. tidak dibebani kewajiban pembuktian (pasal 66)

20. banding (pasal 67)

21. mendapat ganti rugi dan rehabilitasi (pasal 68)

22. mendapat salinan dari semua surat/berkas perkara (pasal 72)

Proses terjadinya Perkara Pidana

Perkara pidana dapat terjadi karena :

1. Tertangkap tangan artinya tertangkapnya seseorang pada waktu sedang


melakukan tindak pidana, atau segera sesudah beberapa saat tidak
pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak
ramai sebagai orang yang melakukannya. Atau saat itu ditemukan benda
yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
( pasal 1:19)

2. Laporan/pemberitahuan, artinya suatu pemberitahuan yang disampaikan


oleh seorang karena hak atau kewajibannya berdasarkan undang-undang
kepada pihak yang berwewenang tentang telah atau sedang atau diduga
akan terjadinnya peristiwa pidana.(pasal 1:21). Pihak yang berhak
mengajukan laporan (pasal 103) adalah setiap orang yang : (a)
mengetahui peristiwa yang diduga merupakan tindakan pidana (b)
melihat suatu peristiwa yang diduga merupakan tindakan pidana, (c.)
menyaksikan suatu peristiwa yang diduga merupakan tindakan pidana ,
(d) menjadi korban dari peristiwa tindak pidana, (e) mengetahui
pemufakatan jahat untuk melakukan tindakan pidana terhadap :
-ketentraman/keamanan umum, - jiwa atau hak milik, dan (f) setiap
pegawai negeri, dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui
tentang terjadinya peristiwa pidana. Bentuk laporan: -lisan, - tulisan;
pelor wajib diberikan tanda penerimaan laporan (pasal 108:6)

3. Pengaduan, artinya pemberitahuan resmi disertai permintaan oleh pihak


yang berkepentingan kepada pihak berwenang untuk menindak, menurut
hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang
merugikan (pasal 1:25). Pihak yang berhak membuat pengaduan (pasal
108) adalah setiap orang yang : (a) mengetahui peristiwa yang diduga
merupakan tindakan pidana (b) melihat suatu peristiwa yang diduga
merupakan tindakan pidana, (c.) menyaksikan suatu peristiwa yang
diduga merupakan tindakan pidana , (d) menjadi korban dari peristiwa
tindak pidana, (e) mengetahui pemufakatan jahat untuk melakukan
tindakan pidana terhadap: -ketentraman/keamanan umum, - jiwa atau
hak milik, dan (f) setiap pegawai negeri, dalam rangka melaksanakan
tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa pidana. Bentuk
pengaduan: -lisan, - tulisan (pasal 108:6). Tindak pidana aduan dalam
KUHP: pasal: 72, 73, 278, 284, 287, 310, 311, 315, 319, 321, 332, 320

Penegak Hukum dan Wewenangnya

1. Penyelidik, setiap pejabat Polisi RI, yang berwenang untuk melakukan


penyelidikan (serangkaian tindakan penyelidikan untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara
yang diatur uu) (pasal 1;5). Menurut pasal 4, penyelidik berwenang : a,
karena jabatan untuk; (1) meneriam laporan, atau pengaduan tentang
adanya tindak pidana, (2) mencari keterangan dan barang bukti, (3)
menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri, (4) mengadakan tindakan lain menurut
hukum, dan b. atas perintah penyidik, penyelidik, dapat melakukan
tindakan berupa : (1) penangkapan, larangan meninggalkan tempat,
penggeledahan dan penyitaan (2) pemeriksaan dan penyitaan surat, (30
mengambil sidik jari dan memotret seseorang (4) membawa dan
menghadapkan seseorang kepada penyidik

2. Penyidik (pasal 1:1), setiap pejabat Polisi RI atau pejabat pegawai negeri
sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh UU untuk melakukan
penyidikan. Kepangkatan untuk menjadi penyidik: (1) Pejabat Polisi RI,
sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi, (2) Pejabat
Pegawai Negeri Sipil sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda
Tingkat I/Golongan II-b. Wewenang penyidik menurut pasal 7: (a)
menerima laporan atau pengaduan tentang adanya tindak pidana, (b)
melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian, (c.)
menyuruh berhenti dan memeriksa tanda pengenal diri seseorang
tersangka, (d) melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan
penyitaan (e) melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, (f)
mengambil sidik jari dan memotret seseorang, (g) memangil orang untuk
didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi, (h) mendatangkan
seorang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan pemeriksaan
perkara, (I) mengadakan penghentian penyidikan

3. Penangkapan, suatu tindakan penyidik, berupa penggekangan sementara


waktu kebebasan tersangka atau terdakwa, apabila terdapat cukup bukti
guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan, dalam
hal serta menurut yang diatur dalam UU (pasal 1:2). Berwenang
melakukan penangkapan: (a) penyidik, (b) penyidik pembantu, (c.)
penyelidik atas perintah penyidik. Bukti permulaan menurut SK Kapolri
No. Pol SKEEP/04/I/1982, 18 Februari 1982, merupakan keterangan dan
data yang terkandung didalam dua di antara: (1) laporan polisi, (2) Berita
Acara Pemeriksaan di TKP, (3) Laporan Hasil Penyelidikan, (4)
Keterangan saksi, saksi ahli, dan (5) barang bukti. Saat melakukan
penangkapan petugas wajib (a) menyerahkan Surat Perintah
Penangkapan kepada tersangka, yang memuat identitas tersangka (nama
lengkap, umur, pekerjaan, agama), alasan penangkapan yang dilakukan
atas diri tersangka dan uraian singkat perkara kejahatan yang
dipersangkakan, serta tempat tersangka diperiksa, (b) menyerahkan
tembusan surat perintah penangkapan kepada keluarga tersangka
(tersangka tertangkap tangan dalam waktu 24 jam harus menyerahkan
tersangka dan barang bukti kepada Penyidik)

4. Penahanan (pasal 1:21), penempatan tersangka atau terdakwa di tempat


tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan
penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatut UU. Berwenang
menahan adalah, penyidik, penuntut umum dan hakim. Alasan
penahanan menurut pasal 20:3 adalah tersangka/terdakwa dikuatirkan:
(a) melarikan diri, (b) akan merusak/menghilangkan barang bukti, dan
(c.) akan melakukan lagi tindak pidana. Untuk melaksanakan penahanan,
petugas harus dilengkapi, surat penahanan dari penyidik, atau jaksa
penuntut umum, atau hakim yang memuat identitas tersangka (nama
lengkap, umur, pekerjaan, agama), alasan penangkapan yang dilakukan
atas diri tersangka dan uraian singkat perkara kejahatan yang
dipersangkakan, serta tempat tersangka diperiksa. Penahanan ini hanya
dapat dikenakan terhadap tersangka/terdakwa yang disangka/didakwa
melakukann tidak pidana atau percobaan, maupun perbuatan bantuan
dalam tindak pidana menurut pasal 20:4 KUHAP, yaitu tindak pidana
yang diancam dengan pidana penjara minimal lima tahun dan atau tindak
pidana tersebut dalam pasal-pasal 283:3, 296, 335:1, 372, 378, 379a,
453, 454, 455, 459, 480, dan 506 KUHP. Adapun jenis penahanan: (1)
Penahanan Rumah Tahanan Negara, (2) Penahanan Rumah, (3)
Penahanan Kota. Lama penahanan oleh penyidik 20 hari (ps 24:1)
perpanjang 40 hari oleh JPU (ps 24:2), penuntut umum 20 hari (ps
25:1). Perpanjang 30 hari oleh Ketua PN (ps 25:2, hakim pengadilan
negeri 30 hari (ps 26:1) perpanjang 60 hari oleh Ketua PN (ps 26:2),
hakim pengadilan tinggi 30 hari (ps 27:1) perpanjang 60 hari oleh Ketua
PT (ps 27:2), dan hakim mahkama agung 50 hari (ps 28:1) perpanjang
60 hari oleh Ketua MA (ps 28:2) . Penangguhan penahanan dapat
dilakukan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim dengan jaminan
uang atau barang, dengan syarat, tersangka/terdakwa wajib lapor, tidak
boleh keluar rumah, atau tidak boleh keluar kota

5. Penggeledahan (pasal 1:17), mendapatkan bukti-bukti yang


berhubungan dengan suatu tindak pidana, penyidik harus memeriksa
suatu tempat tertutup atau badan orang. Menurut pasal 33
penggeledahan oleh penyidik harus; dengan izin Ketua Pengadilan Negeri,
dengan perintah tertulis dari penyidik, disertai dua saksi (apabila
tersangka/penghuninya menyetujui), disaksikan oleh Kepala Desa, atau
Ketua lingkungan dengan dua orang saksi dalam hal tersangka/penghuni
menolak atau tidak hadir, dan membuat berita acara yang ditembuskan
kepada pemilik/penghuni rumah, dalam waktu 48 jam setelah
penggeledahan dilakukan

6. Penyitaan (pasal 1:16), serangkaian tindakan penyidik mengambil alih


dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak
bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktiaan
dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.

7. Penyidikan. Pemeriksaan tersangka oleh penyidik dilakukan dengan


sistem inquisitoir, dimana pemeriksaan dilakukan dengan menganggap
tersaka sebagai obyek pemeriksaan. Penyidikan dianggap telah selesai,
apabila dalam waktu 14 hari penuntut umum tidak mengembalikan hasil
penyidikan .Penghentian penyidikan dengan memberitahukan kepada
penuntut umum dapat dilakukan, apabila tidak terdapat cukup bukti,
peristiwa ternyata bukan merupakan tindakan ridana, dihentikan demi
hukum (karena lampau waktu (verjarig) persoalan yang sama sudah
pernah diadili dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Nebis in
Idem)) , dan tidak ada pengaduan/pengaduan dicabut dalam hal tindak
pidana

8. Penuntutan (pasal:7) tindakan penuntutan umum untuk melimpahkan


perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan
menurut UU dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim
di sidang pengadilan. Proses penuntutan: Penyidik penyerahkan hasil
penyidikan kepada penuntut umum untuk diperiksa dalam jangka waktu
7 hari harus segera melaporkan kepada penyidik, apakah hasil penyidikan
telah selesai atau belum (pasal 138:1). Apabila belum lengkap, hasil
penyidikan dikembalikan untuk diperbaiki oleh penyidik dalam jangka
waktu 14 hari harus sudah balik ke penuntut umum. Jika hasil penyidikan
telah dapat dilakukan penuntutan, maka penuntut dalam waktu
secepatnya membuat "Surat Dakwaan"
9. Koneksitas, percampuran orang-orang yang sebenarnya termasuk
jurisdiksi Pengadilan yang berbeda dalam suatu perkara, misalnya
seorang sipil dan seorang yang bersatus militer melakukan suatu
kejahatan bersama-sama. Tersangka/terdakwa terdiri dari dua orang
atau lebih yang tunduk kepada lingkungan peradilan umum dan
lingkungan peradilan militer. Untuk penyilidikan dilakukan berdasar Pasal
2 SK Bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Menteri Kehakiman
No.KEP.10/M/XII/1985 .No.KEP.57.ir.09.05 Th.1985 . terdiri dari unsur-
unsur (a) Tim Pusat: Penyidik dari Mabes Polri, Penyidik dari PM ABRI
pada Pusat PM ABRI, Oditur Militer dari Oditur Jenderal ABRI, dengan
tugas melakukan penyidikan apabila perkara dan atau tersangka
mempunyai bobot nasional dan atau internasional, dan apabila dilakukan
atau akibat yang ditimbulkannya terdapat dalam lebih dari satu daerah
Hukum Pengadilan Tinggi (b) Dalam daerah Hukum Pengadilan Negeri:
penyidik pada markas komando wilayah kepolisian, markas komando
kota besar, markas komando resort dan markas komando sektor,
penyidik dari PM ABRI pada Detasemen POM ABRI, dan Oditur Militer dari
Oditur Militer dengan tugas (1) dalam daerah Hukum Pengadilan Tinggi,
apabila dilakukan atau akibat yang ditimbulkannya lebih dari satu Daerah
Hukum Pengadilan Negeri, tetapi masih dalam suatu Darah Hukum
Pengadilan Tinggi, apabila pelaksanaan penyidikannya tidak dapat
diselesaikan oleh Tim Tetap yang ada dalam Daerah Hukum Pengadilan
Negeri dan masih dalam Daerah Hukum Pengadilan Tinggi yang
bersangkutan (2) dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri, apabila
dilakukan tindak pidana Koneksitas atau akibat yang ditimbulkannya
terjadi dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan.
Susuna majelis hakim yang mengadili perkara koneksitas adalah sebagai
berikut: (1) Apabila perkara koneksitas diadili oleh pengadilan dalam
lingkungan peradilan umum, hakim ketua dari lingkungan peradilan
umum, hakim anggota masing-masing ditetapkan dari peradilan umum
dan peradilan militer secara berimbang, (2) Apabila perkara koneksitas
diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer, hakim ketua
dari lingkungan peradilan militer, hakim anggota masing-masing
ditetapkan dari peradilan umum dan peradilan militer secara berimbang
(hakim dari peradilan umum diberi pangkat Tituler

10. Bantuan Hukum. Orang yang dapat memberikan "bantuan hukum'"


kepada tersangka/terdakwa disebut Penasehat Hukum (pasal 1:13) atau
seorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh atau berdasarkan
UU untuk memberikan bantuan hukum. Hak seorang penasehat hukum
yaitu menghubungi tersangka sejak saat ditangkap atau ditahan pada
semua tingkat pemeriksaan (pasal 69), menghubungi dan berbicara
dengan tersangka pada setiap tingkat pemeriksaan dan setiap waktu
untuk kepentingan pembelaan perkaranya (pasal 70:1), menerima
turunan berita acara pemeriksaan (pasal 72), mengirim dan menerima
surat dari tersangka setiap kali dikehendaki olehnya (pasal 73), dan
dapat mengikuti jalannya pemeriksaan dengan jalan melihat tetapi tidak
dapat mendengar pemeriksaan terdapat tersangka (pasal 115:1)

Acara Pemeriksaan dalam Sidang Peradilan

1. Sistem pemeriksaan. Adapun 2 cara sistem pemeriksaan yaitu: (1)


Sistem Accusatoir, tersangka/terdakwa diakui sebagai subjek
pemeriksaan dan diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan
pembelaan diri atas tuduhan atau dakwaan yang ditujukan atas dirinya.
Dalam sistem ini pemeriksaan terbuka untuk umum (depan sidang
pengadilan) (2) Sistem Inquisitoir, tersangka/terdakwa dianggap sebagai
obyek pemeriksaan. Dalam sistem ini pemeriksaan tertutup, dan
tersangka /terdakwa tidak mempunyai hak untuk membela diri (di depan
penyidik). Namun kedua sistem ini mulai ditinggalkan, setelah diterapkan
UU No.8/1981 tentang KUHAP, dengan diberinya hak tersangka/terdakwa
didampingi penasehat hukum

2. Exceptie (tangkisan), suatu jawaban yang tidak mengenai pokok perkara.


Exceptie sangat penting bagi terdakwa dan penasehat hukum, sebab
dengan hal ini suatu surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum
dapat berakibat: dinyatakan batal demi hukum (pasal 143:3), dinyatakan
tidak dapat diterima (pasal 143:2 a), perkara dinyatakan sudah nebis in
idem, dinyatakan ditolak, pengadilan menyatakan dirinya tidak
berwenang mengadili perkara tersebut, karena menjadi wewenang
pengadilan lain, penuntutan dinyatakan telah daluwarsa, dan pelaku
pidana dinyatakan tidak dapat dipertanggungjawabkan (pasal 14). 2 Jenis
exceptie yaitu: (1) exceptie absolut, suatu tangkisan mengenai
kompetensi pengadilan. Kompetensi ini menyangkut kompetensi absolut,
menyangkut kewenangan dari jenis pengadilan yang berwenang untuk
mengadili perkara itu, dan kompetensi relatif, menyangkut wewenang
pengadilan mana untuk mengadilinya. Jika tidak dipenuhinya tenggang
waktu tersebut, maka perlawanan diajukan menjadi batal. Untuk (b)
exceptie relatif hanya dapat diajukan pada sidang pertama, setelah
penuntut umum membacakan dakwaannya. Exceptie relatif tidak harus
ada putusan sela, tapi ia dapat diperiksa dan diputus bersama pokok
perkara. Dua alasan diajukannya exceptie, yaitu: (1) menyangkut
kompetensi pengadilan (kompetensi absolut, bahwa perkara tersebut
menjadi wewenang pengadilan lain yang tidak sejenis untuk
memutuskan, dan atau kompetensi relatif, bahwa perkara bukan menjadi
wewenang pengadilan negeri tertentu untuk mengadinya, tetapi menjadi
wewenang pengadilan negeri yang lain) (2) menyangkut syarat
pembuatan surat dakwaan; (a) syarat formil (pasal 143:2a) tidak diberi
tanggal, tidak ditandatangi oleh penuntut umum, dan tidak memuat
identitas terdakwa secara lengkap, (b) syarat materil (pasal 145:2b)
surat dakwaan tidak memuat uraian secara cermat, jelas dan lengkap
tentang tidak pidana yang didakwakan, surat dakwaan yang tidak
memuat waktu (tempos delictei), tempat (locus delictie) tindak pidana itu
dilakukan

3. Pembuktian, bahwa benar suatu peristiwa pidana telah terjadi dan


terdakwalah yang bersalah melakukannya, sehingga harus
mempertanggungjawabkannya. 4 teori pembuktian, yakni (1) teori
pembuktian positif, bahwa bersalah atau tidaknya terdakwa tergantung
sepenuhnya pada sejumlah alat bukti yang telah ditetapkan terlebih
dahulu (keyakinan hakim diabaikan), (2) teori pembuktian negatif, bahwa
hakim hanya boleh menjatuhkan pidana, apabila sedikit-dikitnya alat-alat
bukti yang telah ditentukan dalam UU ada, ditambah keyakinan hakim
yang diperoleh dari adanya alat-alat bukti, (3) teori pembuktian bebas,
bahwa mengakui adanya alat-alat bukti dan cara pembuktian, namun
tidak ditentukan dalam UU, dan (4) teori pembuktian berdasarkan
keyakinan, bahwa hakim menjatuhkan pidana semata-mata berdasarkan
keyakinan pribadinya dan dalam putusannya tidak perlu menyebut
alasan-alasan putusannya. Alat-alat bukti yang sah, apabila ada
hubungan dengan suatu tindak pidana, menurut pasal 184:1, alat bukti
yang sah: (1) keterangan saksi (pasal 1:27), keterangan mengenai suatu
peristiwa pidana yang ia saksi dengan sendiri, ia lihat sendiri, dan ia
alami sendiri, dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu
(tidak termasuk keterangan diperoleh dari orang lain/testimonium de
auditu), dengan 2 syarat: syarat formil, apabila keterangan tersebut
diberikan oleh saksi di bawah sumpah, sedangkan syarat materil, bahwa
ketarangan saksi, hanya salah satu dari alat bukti yang sah, serta
terlepas dari hal mengundurkan diri sebagai saksi (pasal 168), bahwa
yang tidak didegar keterangannya adalah keluarga sedarah atau semenda
dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ke tiga dari
terdakwa, saudara dari terdakwa atau yang sama-sama terdakwa, dan
suami atau istri terdakwa, walaupun telah bercerai. 2 jenis saksi: (a)
saksi A Charge (memberatkan terdakwa), saksi yang dipilih dan diajukan
oleh penuntut umum, dikarenakan kesaksiannya yang memberatkan
terdakwa, (b) saksi A De Charge (menguntungkan terdakwa), saksi yang
dipilih atau diajukan oleh penuntut umum atau terdakwa atau penasehat
hukum, yang sifatnya meringankan terdakwa. (2) Keterangan ahli (pasal
1:28), keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang tentang suatu
perkara pidana, guna kepentingan pemeriksaan. (3) Surat (pasal 187).
(4) Petunjuk (pasal 189), perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena
persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan
tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak
pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk diperoleh dari keterangan saksi,
surat, dan keterangan terdakwa. Penilaian atas kekuatan pembuktian dari
suatu petunjuk ditentukan oleh hakim. (5) Keterangan terdakwa (pasal
189), apa yang terdakwa nyatakan disidang tentang perbuatan yang ia
lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan
tersebut hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri

4. Requisitoir penuntut umum, surat yang dibuat oleh penuntut umum


setelah pemeriksaan selesai dan kemudian dibacakan dan diserahkan
kepada hakim dan terdakwa atau penasehat hukum. Isi requisitoir (surat
tutntutan umum) adalah: (1) identitas terdakwa, (2) isi dakwaan, (3)
fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, seperti: keterangan saksi,
keterangan terdakwa, alat bukti, visum et repertum, dan fakta-fakta
juridis, (4) pembahasan juridis, (50 hal-hal yang memberatkan dan
meringankan terdakwa, (6) tuntutan hukum, dan (7) surat tuntutan yang
telah diberi nomor , tanggal, dan tanda tangan penuntut umum

5. Pledooi (nota pembelaan) (pasal 182:1b), pidato pembelaan yang


diucapkan oleh terdakwa maupun penasehat hukum yang berisikan
tangkisan terhadap tuntutan penuntut umum dan mengguakan hal-hal
yang meringankan dan kebenaran dirinya. Isi pledooi pada dasarnya,
terdakwa minta dibebaskan dari segala dakwaan (vrijspraak) karena tidak
terbukti, terdakwa supaya dilepaskan dari segala tuntutan hukum (anslag
van rechtsvervolging) karena dakwaan terbukti, tetapi bukan merupakan
suatu tindakan pidan dan atau terdakwa minta dihukum yang seringan-
ringannya, karena telah terbukti melakukan suatu tindak pidana yang
didakwakan kepadanya

6. Contempt of court, suatu tindakan merendahkan martabat pengadilan.


Jenis contempt of court: (1) direct contempt of court, tindakan
penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang yang hadir dan
menyaksikan secara langsung sidang pengadilan, (2) construjtive
contempt of court, tindakan yang dilakukan tidak di dalam ruang sidang
pengadilan

Upaya Hukum

Upaya hukum (pasal 1:12), hak dari terdakwa atau penuntut umum untuk
tidak menerima putusan pengadilan yang berupa untuk mengajukan
permohonan peninjauan kembali dalam hal serta menurut cara yang diatur
dalam UU. Dua upaya yang dapat ditempuh: (1) upaya hukum biasa: (a)
banding (pasal 67), suatu alat hukum (rechtsniddel) yang merupakan hak
terdakwa dan hak penuntut umum untuk memohon, agar putusan
pengadilan negeri diperiksa kembali oleh pengadilan tinggi, dengan tujuan
memperbaiki kemungkinan adanya kekhilafan pada putusan pertama.
Permohonan ini dapat dilakukan dalam waktu 7 hari setelah vonnis
diberitahukan kepada terdakwa, (b) kasasi, suatu alat hukum yang
merupakan wewenang dari mahkamah agung untuk memeriksa kembali
putusan-putusan terdahulu dan ini merupakan peradilan terakhir.
Permohonan ini diajukan dalam kurung waktu 14 hari setelah vonnis
dibacakan. Pada pengajuaan kasasi, terdakwa diwajibkan membuat memori
kasasi yang diserahkan kepada panitera pengadilan negeri dan untuk itu
panitera memberi suarat tanda terima. Alasan kasasi diajukan, karena
pengadilan tidak berwenang atau melampau batas wewenang, salah
menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku, dan lalai memenuhi
syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan (pasal
253:1). (2) upaya hukum luar biasa, (a) kasasi demi kepentingan hukum
(pasal 259), semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
dari pengadilan selaian dari putusan MA, Jaksa Agung, dapat mengajukan
satu kali permohonan, putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh
merugikan pihak yang berkepentingan. (b) Herziening, peninjauan kembali
terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(pasal 263:1). Peninjauan ini diajukan oleh terpidana atau ahli warisnya.
Alasan pengajuan (pasal 263:2), apabila terdapat keadaan baru yang
menimbulkan dugaan kuat, bahwa apabila keadaan itu sudah diketahui
sebelum sidang berlangsung hasilnya akan berupa putusan bebas atau
putusan bebas dari segala tuntutan, atau ketentuan lebih ringan (novum),
apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim
atau kekeliruan nyata.pengadilan ditetapkan. (3) Upaya hukum grasi,
wewenang dari Kepala Negara untuk memberikan pengampunan terhadap
hukuman yang telah dijatuhkan oleh Hakim, untuk menghapus seluruhnya,
sebagian atau merobah sifat/bentuk hukuma (pasal 14 UUD 1945)

Praperadilan (pasal 1:10) wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa


dan memutus menurut cara yang diatur dalam UU tentang; sah atau
tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan
tersangka atau keluarga atau pihak lain atas kuasa tersangka, sah atau
tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas
permintaan tersangka/penyidik/penuntut umum, demi tegaknya hukum dan
keadilan, dan permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka,
keluarga atau pihak lain yang dikuasakan.

Data Pustaka : Prints, Darmawan, SH, Hukum Acara Pidana Suatu


Pengantar, Djambatan, Jakarta 1989

Data terbaru 31 Maret 2001


web hosting • domain names
web design • online games