Anda di halaman 1dari 16

1

GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN KINERJA


GURU PADA SMP NEGERI 8 BANDA ACEH
Oleh: RM. Bambang S
ABSTRAK
Gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor penentu
peningkatan kinerja guru di sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
konstribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru yang
tercermin dalam peningkatan disiplin, komitmen, tanggung jawab, motivasi kerja
dan kemampuan guru sebagai indikator kinerjanya. Pendekatan dalam penelitian ini
digunakan pendekatan kualitatif dengan metode diskriptif. Tehnik pengumpulan data
digunakan: observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Subyek penelitian
berjumlah sembilan orang terdiri dari satu orang kepala sekolah, tiga orang wakil
kepala sekolah dan lima orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Gaya
kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah memberikan konstribusi dalam
peningkatan: (a) disiplin guru, namun, masih terdapat beberapa orang guru yang
memperlihatkan perilaku yang kurang disiplin; (b) komitmen guru, namun, masih
terdapat beberapa orang guru yang memiliki komitmen yang rendah; (c) tanggung
jawab guru, namun masih terdapat beberapa orang guru yang memiliki tanggung
jawab rendah; (d) motivasi kerja guru; (e) kemampuan guru. (2) Gaya kepemimpinan
transformasional dan situasional merupakan gaya kepemimpinan yang dominan
digunakan kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru.
Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan dan Kinerja Guru
I. PENDAHULUAN
Peningkatan mutu pendidikan secara mikro, pada dasarnya sangat ditentukan
oleh operasionalisasi manajemen di tingkat sekolah. Peran utama dalam menjalankan
roda manajemen sekolah terletak pada kepala sekolah dan seluruh komunitas sekolah,
baik secara bersama-sama maupun masing-masing. Kepala sekolah orang yang
bertanggug jawab untuk menjalankan roda organisasi sekolah.Sehubungan dengan
hal tersebut Danim (2009:v) menyatakan “dalam kapasitas ini fungsi kepala sekolah
bukan saja sebagai manajer, melainkan sebagai pemikir dan pengembang terhadap
kemajuan sekolah”.
Menyikapi tentang peran, fungsi dan tangungjawab kepala sekolah, selayaknya
kepala sekolah memiliki komitmen moral yang tinggi atas pekerjaannya di samping
profesional dan berdedikasi. Sebagai pemimpin puncak di sekolah, kepala sekolah
merupakan subjek yang dituntut harus melakukan transformasi kemampuannya
melalui bimbingan, tuntunan dan pemberdayaan kepada seluruh komunitas sekolah,
demi mencapai tujuan sekolah yang optimal, sesuai dengan visi dan misi sekolah.
2

Namun demikian, berbagai fenomena di lapangan muncul kepermukaan


diantaranya masih banyaknya sekolah yang prestasi siswanya tergolong rendah,
guru dan siswa kurang disiplin, guru yang kemampuan dalam mengelola
pembelajaran dan komitmennya terhadap tugas relatif rendah, dan lambannya staf
tata usaha dalam melayani kebutuhan siswa. Pemandangan seperti ini merupakan
cerminan kurangnya kemampuan kepala sekolah dalam memberdayakan stafnya, di
samping rendahnya etos kerja komunitas sekolah secara keseluruhan.
Tinggi dan rendahnya kemampuan kepala sekolah dalam memberdayakan
stafnya, memiliki kaitan erat dengan pemilihan pola dan gaya kepemimpinan yang
dianut oleh kepala sekolah. Kaitan gaya kepemimpinan dengan situasi tertentu
menurut Rivai (2003:65) menyatakan “ada kaitan yang erat antara gaya
kepemimpinan dengan situasi yang dipersyaratkan”. Hal ini memberikan makna
bahwa seorang pemimpin akan efektif dalam memimpin, jika gaya kepemimpinan
yang digunakan oleh pemimpin sesuai dengan iklim, kultur dan kebutuhan dari
organisasi yang dipimpinnya.
Untuk merealisasi kondisi ini, dibutuhkan kepala sekolah yang kompeten dan
elegan, disertai dengan peningkatan kinerja seluruh komunitas sekolah, terutama
peningkatan kinerja guru selaku penanggungjawab terhadap proses pembelajaran
peserta didik di kelas. Mengenai kepala sekolah yang kompeten dan elegan, Danim
(2009:168) menyatakan “kepala sekolah yang bercirikan pemimpin sejati, efektif,
produktif, pemecah konflik, pendukung perubahan, komunikator ulung, penentu
standar kerja, pembangun disiplin, pencipta iklim kerja yang baik, dan mampu
mengakomudasikan lingkungannya”.
Hal ini memberikan makna bahwa seorang kepala sekolah harus memiliki
kemampuan yang tergolong representatif, bersikap proaktif, kreatif, inovatif dan
memenuhi standar kepala sekolah, dengan tidak mengeyampingkan fungsi-fungsi
kepemimpinannya, meliputi fungsi intruktif, konsultatif, partisipatif, delegasi dan
pengendalian (Rivai, 2003:51). Di sisi lain, ketersediaan tenaga guru yang memiliki
legitimasi guru professional, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai,
memberikan nuansa tersendiri bagi peningkatan kinerja guru, disamping kepala
sekolah yang kompeten dan elegan.
3

Bertitik tolak dari uraian tersebut, timbullah permasalahan dalam penelitian ini
apakah gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat meningkatkan kinerja guru ? Untuk
menjawab permasalahan ini, dibutuhkan suatu penelitian yang cermat dan
mendalam, yang penulis tuangkan dalam judul penelitian: “Gaya Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru Pada SMP Negeri 8 Banda Aceh”.
II. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
dengan menggunakan metode diskriptif. Pendekatan ini dimaksudkan untuk
mengkaji permasalahan dan memperoleh jawaban yang bermakna dan mendalam
tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru pada
SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Moleong (2006:242) menegaskan bahwa penelitian kualitatif pada hakekatnya
mengawasi orang dalam lingkungannya, berintegrasi dengan mereka,
berusaha memahami bahasa dan tafsirannya tentang dunia sekitarnya.
Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan beberapa
pertimbangan sebagai berikut: pertama; peneliti bermaksud ingin mengembangkan
konsep pemikiran dari pemahaman yang terkandung dalam gaya kepemimpinan
kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru pada SMP Negeri 8 Banda Aceh,
yaitu dengan cara mengamati secara cermat gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerja guru, dan sensitif terhadap subjek yang diteliti serta
mendeskripsikannya secara induktif. Kedua; peneliti bermaksud untuk menganalisis
dan menafsirkan fakta, gejala, dan peristiwa yang berkaitan dengan gaya
kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru, dalam konteks ruang
dan waktu serta situasi yang dialami. Ketiga; bidang kajian penelitian ini berkenaan
dengan suatu proses dan kegiatan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam
peningkatan kinerja guru pada SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Sesuai dengan pendekatan yang dilakukan, maka tehnik yang digunakan dalam
pengumpulan data adalah : (1) observasi; (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Fatah (2004: 216) tentang teknik pengumpulan data peneltian
kualitatif adalah sebagai berikut:
1. Observasi (pengamatan), yaitu mengumpulkan data dengan jalan
mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.
4

2. Wawancara (interview) yaitu pengumpulan data yang dilaksanakan secara


lisan dalam pertemuan tatap muka secara individu dengan tujuan untuk
menggali dan memperoleh data atau informasi yang lebih mendalam dan
relevan dengan masalah yang diteliti
3. Studi dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan menghimpun dan
menganalasis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun
elektronik.
Analisis data dilakukan dengan mengikuti prosedur sebagaimana yang
disarankan oleh Nasution (2001:129-130), yaitu:
1) Reduksi data, adalah membuat abstraksi dari seluruh data yang diperoleh dari
dilapangan yang sesuai dengan fokus penelitian
2) Pengorganisasian dan pengolahan data sesuai dengan tujuan penelitian,
baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, maupun hasil.
3) Penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian yaitu merakit unsur-unsur data
penelitian serta memberi makna berdasarkan pandangan penelitian untuk
mencapai suatu kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian secara
keseluruhan dan berkesinambungan.
4) Verifikasi data dilakukan untuk menguji atau memeriksa kesimpulan yang
diambil dibandingkan dengan teori-teori yang relevan apakah sudah tepat atau
belum dalam mencapai tujuan penelitian. Seluruh kegiatan analisa data
tersebut dilakukan secara terus-menerus dan saling berhubungan dari awal
sampai akhir tujuan.
Sedangkan yang menjadi subjek penelitian ini berjumlah sembilan orang,
dengan rincian satu orang kepala sekolah, tiga orang wakil kepala sekolah dan lima
orang guru, dengan mengambil lokasi penelitian pada SMP Negeri 8 Banda Aceh
yang terletak di Jalan Hamzah Fansuri No.1 Kopelma Darussalam.
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kontribusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Disiplin
Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Untuk memperoleh data tentang kontribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam peningkatan disiplin guru , dilakukan observasi, wawancara dan telaah
dokumentasi . Observasi dimaksudkan untuk mengetahui kondisi yang sesungguhnya
tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah dan disiplin guru. Kedisiplinan guru
yang diamati meliputi: disiplin kehadiran datang dan pulang; disiplin dalam
melaksanakan tugas mengajar; disiplin dalam melaksanakan tugas sekolah bukan
5

mengajar. Hasil observasi dan wawancara diperoleh bahwa sebahagian besar guru
memperlihatkan tingkat kedisiplinan yang tinggi.
Aktivitas dan upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam peningkatan disiplin
guru meliputi: mengembangkan visi secara bersama; mendistribusikan
wewenang/peran; membangun dan mengembangkan kultur sekolah; melakukan
komunikasi persuasif; melakukan aksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang;
melakukan perhatian secara individual; memberikan teguran, nasehat dan
bimbingan tentang pelaksanaan tugas guru; melakukan kesepakatan tentang tugas;
dan memberikan teladan kepada guru.
Mengacu kepada aktivitas dan upaya tersebut, ternyata kepala sekolah dalam
peningkatan disiplin guru menggunakan gaya kepemimpinan transformasional,
visioner, transaksional dan situasional. Penggunaan ke empat gaya ini memberikan
konstribusi dalam peningkatan disiplin guru, yakni sebahagian besar dari guru
memperlihatkan kedisiplinan yang tinggi. Namun, masih terdapat adanya beberapa
orang guru yang memperlihatkan perilaku yang kurang disiplin.
2. Konstribusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatkan Komitmen
Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Untuk memperoleh data tentang konstibusi gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam peningkatan komitmen guru, dilakukan observasi dan wawancara dengan
subyek penelitian. Hasil observasi dan wawancara diperoleh bahwa: aktivitas dan
upaya kepala sekolah meliputi: mensosialisasikan visi, misi dan tujuan sekolah;
memberikan dukungan moral kepada guru; membantu memaknai tugas guru sebagai
bahagian dari kehidupan; memberikan arahan dan bimbingan terhadap pelaksanaan
tugas guru.
Mengacu kepada aktivitas dan upaya diatas, jelaslah bahwa gaya
kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan komitmen guru terhadap tugas
menggunakan gaya transformasional dan situasional. Penggunaan kedua gaya ini
memberikan konstribusi dalam peningkatan komitmen guru terhadap tugas, namun
masih terdapat beberapa orang guru yang memperihatkan komitmen yang rendah.
3. Konstribusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Tanggung
Jawab Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Untuk memperoleh data tentang konstribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam peningkatkan tanggung jawab, dilakukan observasi, wawancara dan telaah
6

dokumentasi. Hasil observasi dan wawancara diperoleh bahwa aktivitas dan upaya
kepala sekolah dalam peningkatan tanggung jawab guru meliputi: melakukan
supervisi kelas; memeriksa perangkat pembelajaran RPP dan silabus yang dibuat
guru; membuat kesepakatan terhadap pelaksanaan tugas guru; mentransformasikan
peran kepemimpinan; dan memberikan penghargaan terhadap keberhasilan
pelaksanaan tugas guru.
Mengacu kepada aktivitas dan upaya tersebut, ternyata kepala sekolah
menggunakan gaya kepemimpinan transformasional, visioner, dan transaksional.
Penggunaan ke tiga gaya ini memberikan konstribusi dalam peningkatan tanggung
jawab guru , yakni sebahagian besar guru memiliki tanggung jawab yang tinggi
terhadap tugas. Namun, masih terdapat beberapa orang guru yang memiliki tanggung
jawab yang rendah, terutama bagi yang tergolong rendahnya disiplin dan komitmen.
4. Konstribusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi
Kerja Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Untuk memperoleh data tentang konstribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam peningkatkan motivasi guru, dilakukan observasi, wawancara dan telaah
dokumentasi. Hasil observasi dan wawancara diperoleh aktivitas dan upaya kepala
sekolah dan guru meliputi: membangun komunikasi persuasif dengan guru;
memberdayakan potensi guru; mendorong tumbuhnya motif berprestasi;
membangun hubungan dengan cara mendorong sosio emosional guru; memberikan
arahan dan bimbingan terhadap pelaksanaan tugas guru; dan menghargai setiap
keberhasilan dari pelaksanaan tugas guru
Mengacu kepada aktivitas dan upaya tersebut ternyata kepala sekolah dalam
peningkatan motivasi kerja guru, menggunakan gaya kepemimpinan transformasional
dan situasional.
5. Konstribusi Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan
kemampuan guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Untuk memperoleh data tentang konstribusi gaya kepemimpinan kepala sekolah
dalam peningkatkan kemampuan guru, dilakukan observasi, wawancara dan telaah
dokumentasi berupa RPP yang dibuat oleh guru. Hasil observasi dan wawancara
diperoleh bahwa aktivitas dan upaya kepala sekolah dalam peningkatan kemampuan
meliputi: melakukan supervisi kelas; memeriksa RPP dan silabus yang dibuat guru;
melakukan komunikasi persuasif dengan guru; mempertahankan kesempurnaan
7

pelayanan terhadap guru; mengatur sumber daya guru; sensitif terhadap


kepentingan guru dan organisasi; memberikan perhatian secara individual terhadap
guru; mengembangkan visi secara bersama; mengembangkan kultur sekolah;
memberikan bimbingan dan arahan terhadap pelaksanaan tugas guru.
Data tentang kemampuan guru diperolh melalui observasi dan wawancara
dengan guru dan telaah dokumentasi. Wawancara terhadap guru tidak lain untuk
mengetahui tentang perangkat pembelajaran yang disiapkan guru untuk mendukung
proses pembelajaran . Observasi dilakukan terhadap tiga orang guru, dengan
mengamati kemampuan mengajarnya di kelas. Penilaian kemampuan mengajar guru,
digunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru II (APKG II) . Sedangkan untuk
penilaian rencana proses pembelajaran (RPP) digunakan Alat Penilaian Kemampuan
Guru I (APKG I) .
Hasil observasi yang terungkap bahwa kemampuan mengajar guru dalam
kategori baik. Sedangkan kemampuan membuat rencana proses pembelajaran (RPP)
juga tergolong baik. Aktivitas kepala sekolah dan guru, ternyata kepala sekolah
dalam peningkatan kemampuan guru menggunakan gaya tranformasional, situasional
dan transaksional. Penggunaan ke tiga gaya kepemimpinan ini memberikan
konstribusi dalam peningkatan kemampuan guru.
6. Gaya Kepemimpinan yang Dominan Digunakan Kepala Sekolah dalam Pe
ningkatkan Kinerja Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Hasil wawancara dengan subyek penelitian terhadap masing-masing indikator
kinerja, terungkap bahwa gaya kepemimpinan yang dominan digunakan kepala
sekolah dalam peningkatan kinerja guru adalah gaya kepemimpinan transformasional
dan situasional. Gaya kepemimpinan transformasional diperlihatkan oleh aktivitas
kepala sekolah meliputi: kharisma dan inspirasional; membangun komunikasi
persuasif dengan guru dan seluruh komunitas sekolah; memberi perhatian secara
individual; mengembangkan visi dan kultur sekolah.; mentranformasikan peran dan
tanggung jawab; memiliki sikap sensitif terhadap pengembangan organisasi sekolah;
memiliki kemampuan untuk melakukan usaha-usaha rekonnstruksi di sekolah.
Gaya kepemimpinan situasional yang digunakan kepala sekolah terlihat dari
aktivitas kepala sekolah meliputi: menaruh perhatian terhadap guru; memberikan
bimbingan dan arahan serta dukungan emosional; membangkitkan motivasi dan
8

meningkatkan komitmen guru terhadap tugas; dan memperhatikan kematangan dan


kesiapan guru.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Konstribusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Disipilin
Guru SMP Negeri 8 Bandas Aceh
Temuan lapangan mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
yang digunakan dalam peningkatan disiplin guru, menggunakan tiga gaya
kepemimpinan yakni, gaya kepemimpinan transformasonal, visioner dan situasional.
Temuan ini didasarkan atas aktivitas yang dilakukan kepala sekolah meliputi:
menggiring guru kearah tumbuhnya sentivitas pengembangan visi secara bersama;
pendistribusian wewenang; dan membangun kultur organisasi sekolah.Pemilihan
gaya kepemimpinan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya harus
mengacu kepada situasi dan iklim sekolah serta karakteristik guru yang dipimpinnya.
Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Wahyudi (2009:120) sebagai berikut:
“Penerapan gaya kepemimpinan sangat ditentukan oleh situasi kerja atau keadaan
anggota/bawahan dan sumber daya pendukung organisasi.

Pemilihan gaya tranformasional, visioner dan situasional oleh kepala sekolah


dalam peningkatan disiplin guru, sangat terkait dengan situasi dan iklim orgasasi serta
karakter guru . Pemilihan gaya transformasional mengisyaratkan bahwa proses
transformasi akan lebih memotivasi dan membentuk sikap disiplin guru .. Pemilihan
gaya transformasional oleh kepala sekolah, tidak lain berupaya
Menyangkut dengan gaya transformasional yang digunakan oleh kepala
sekolah, Mulyasa (2006:59) menjelaskan bahwa “gaya kepemimpinan yang dapat
berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pelbagai keputusan tanpa ada
pihak yang dirugikan”.
Pemilihan gaya visioner yang digunakan oleh kepala sekolah dalam
peningkatan disiplin guru, terlihat dari aktivitas kepala sekolah meliputi: mengatur
sumber daya manusia; menciptakan dan mengartikulasikan visi yang realistic.
Kartanegara (2003:3) menjelaskan tentang gaya kepemimpinan visioner adalah pola
kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kinerja dan usaha yang perlu
dilakukan bersama-sama oleh para anggota organisasi dengan cara memberikan
arahan dan makna pada kinerja dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas.
9

Lebih lanjut Komariah (2005:72) mengatakan “gaya kepemimpinan visioner adalah


gaya kepemimpinan yang kerja pokoknya difokuskan pada rekayasa masa depan
yang penuh tantangan dan menjadi agen perubahan yang unggul dan menjadi
penentu arah organisasi yang memahami prioritas, menjadi pelatih yang profesional,
serta membimbing personil lainnya kearah profesionalisme kerja yang diharapkan”.
Di samping itu pemilihan gaya kepemimpinan situasional yang digunakan oleh
kepala sekolah dalam peningkatan disiplin guru, diperlihatkan oleh aktivitas kepala
sekolah meliuputi: membangun komunikasi dengan mengacu pada perilaku tugas
dan hubungan; memberikan arahan dan bimbingan; memberikan dorongan
emosional. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Mulyasa (2006:125) sebagai
berikut: Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah dalam
meningkatkan disiplin Guru yaitu: membantu guru mengembangkan pola prilakunya;
membantu guru meningkatkan standar prilakunya; dan menggunakan pelaksanaan
aturan .
Temuan lapangan tentang gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala
sekolah dalam peningkatan disiplin guru, yakni gaya kepemimpinan
transformasional, visioner dan situasional. Penggunaan ketiga gaya kepemimpinan
tersebut memberikan konstribusi terhadap peningkatan disiplin guru. Sekalipun
demikian, temuan tentang disiplin guru yang tergolonng relatif tinggi, namun masih
ada beberapa orang guru yang memperlihatkan disiplin guru terhadap tugas. Hal ini
mengisyarakan bahwa gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah meliputi
gaya kepemimpinan transformasional, visioner dan situasional secara bersama-sama
memberikan konstribusi dalam peningkatan disiplin guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
2. Konstribusi Gaya Ke pemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Komitmen
Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Temuan lapangan mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
yang digunakan dalam peningkatan komitmen, menggunakan dua gaya
kepemimpinan yakni, gaya kepemimpinan transformasonal dan situasional. Kedua
gaya ini muncul diakibatkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam
melaksanakan kepemimpinannya, terutama dalam upaya peningkatan komitmen guru
terhadap tugas kesehariannya. Pemunculan kedua gaya ini juga sangat terkait dengan
kebutuhan guru, situasi dan iklim sekolah dan karaktristik guru itu sebagai bentuk
10

perilaku yang melahirkan komitmen itu sendiri. Adapun sikap dan perilaku yang
diperlihatkan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan komitmen guru diantaranya
adalah memperlihatkan unsur yang kharismatik, inspiratif, memiliki rangsangan
intelektual, mendorong kinerja guru. Di samping itu kepala sekolah juga
melakukan kumunikasi persuasif dengan guru dan cenderung menyarankan kepada
guru untuk memiliki motif berprestasi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh
Danim (2009:62) tentang indikator gaya kepemimpinan transformasional sebagai
berikut : (1) pembaharu; (2) memberi teladan; (3) mendorong kinerja bawahan; (4)
mengharmoniskan lingkungan kerja; (5) memberdayakan bawahan; (6) bertindak atas
system nilai; (7) meningkatkan kemampuan terus menerus; (8) mampu menghadapi
situasi yang rumit.

Gaya kepemimpinan transformasional yang digunakan kepala sekolah dalam


peningkatan komitmen guru, adalah dengan cara menanamkan rasa percaya diri,
belajar dari kesalahan, memberikan bayangan terhadap masa depan, berani
mengambil resiko yang pada akhirnya akan mampu melahirkan komitmen yang
tinggi pada guru terhadap tugas yang diembannya.
Temuan gaya kepemimpinan situasional yang digunakan kepala sekolah dalam
peningkatan komitmen guru, memberikan makna bahwa komitmen guru terhadap
tugas dapat dibentuk dan ditingkatkan melalui perilaku hubungan yang dibangun
kepala sekolah, dengan cara memberikan dorongan sosio emosional terhadap guru
dalam setiap aspek yang melibatkan guru. Disamping itu komitmen guru terhadap
tugas dapat dibangun melalui perilaku tugas yang diemban oleh guru dengan cara
memberikan arahan dan bimbingan oleh kepala sekolah dalam pelaksanaan tugas
keseharian guru. Lebih lanjut pemilihan gaya kepemimpinan situasional oleh kepala
sekolah diharapkan mampu membangun komitmen guru dengan mengacu kepada
kematangan melaksanakan tugas.
Temuan gaya kepemimpinan situasional yang digunakan kepala sekolah dalam
membangun komitmen guru, dilakukan dengan cara membangun pemahaman
terhadap visi dan misi serta tujuan sekolah yang ingin dicapai. Di samping itu kepala
sekolah dalam membangun komitmen guru, dengan cara melibatkan guru dalam
tugas tertentu, menciptakan iklim sekolah yang kondusif untuk pelaksaan tugas guru,
11

menjalin dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan guru dan sesama guru,
sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan komitmen terhadap tugas guru.
Temuan ini senada dengan apa yang dungkapkan oleh Wahjosumidjo
(2001:153) mengungkapkan bahwa: “Komitmen dalam kerja baik individu,
kelompok maupun organisasi di pengaruhi oleh lingkungan kerja dan teman kerja”.
Dengan demikian dapatlah dimaknai bahwa gaya kepemimpinan transformasional
dan situasional yang digunakan kepala sekolah memberikan konstribusi dalam
peningkatan komitmen guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
3. Konstibusi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Tanggung
jawab Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh 8 Banda Aceh
Temuan lapangan mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
yang digunakan dalam peningkatan tanggung jawab guru, menggunakan ketiga gaya
kepemimpinan digunakan oleh kepala sekolah yakni, gaya kepemimpinan
transformasonal, visioner dan transaksional.
Gaya kepemimpinan transformasional yang digunakan kepala sekolah dalam
peningkatan tanggung jawab , diperlihatkan oleh aktivitas kepala sekolah dalam
melakukan pendistribusian peran, memperlihatkan sikap sensitivitasnya terhadap
guru. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Danim (2009:60) sebagai berikut :
“kepemimpinan transformasional menggiring sumber daya manusia kearah
tumbuhnya sensitivitas pembinaan, pengembangan visi secara bersama,
pendistribusia kewenangan dan membangun kultur sekolah”.
Seterusnya gaya kepemimpinan visioner yang digunakan kepala sekolah dalam
peningkatan tanggung jawab , diperlihatkan melalui kemampuan kepala sekolah
mengatur sumber daya guru, dalam bentuk pengawasan terhadap tugas, meminta
pertanggungjawaban, kemampuan bereaksi secara cepat atas segala ancaman dan
peluang.
Mengenai gaya kepemimpinan transaksional yang digunakan kepala sekolah
dalam peningkatan tanggung jawab, diperlihatkan oleh kepala sekolah melalui
aktivitas kesepakatan penugasan terhadap tanggung jawab guru dalam melaksanakan
tugas, adanya kesepakatan penghargaan dalam peningkatan tanggung jawab guru.
Hal ini dilakukan untuk mendorong guru melaksanakan tugas dengan penuh tanggung
jawab. Temuan lapangan tentang tanggung jawab guru terhadap tugas, memberikan
12

sesuatu yang cukup bermakna terhadap gaya kepemimpinan yang digunakan oleh
kepala sekolah . Hal ini ditunjukkan oleh tingginya tanggung jawab guru dalam
melaksanakan tugas kesehariannya. Dengan demikian dapatlah dimaknai bahwa gaya
kepemimpinan transformasional , visioner dan transaksional yang digunakan kepala
sekolah memberikan konstribusi dalam peningkatan tanggung jawab guru SMP
Negeri 8 Banda Aceh.
4. Konstribui Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Motivasi
Kinerja Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Temuan lapangan mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
yang digunakan dalam peningkatan motivasi, menggunakan dua gaya kepemimpinan
yakni, gaya kepemimpinan transformasonal dan situasional. Kedua gaya ini muncul
diakibatkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam upaya
peningkatan motivasi guru. Pemunculan kedua gaya ini juga sangat terkait dengan
kebutuhan guru, situasi dan iklim sekolah dan karaktristik guru itu sebagai bentuk
perilaku yang melahirkan motivasi kerja itu sendiri.Temuan ini dapat dipahami
dengan mencermati sikap dan perilaku kepala sekolah dalam membentuk dan
meningkatkan motivasi kerja guru.
Aktivitas kepala sekolah dalam meningkatkan motivasi kerja guru meliputi:
melakukan komunikasi persuasif; memiliki kekaguman intelektual; memiliki
kapasitas memotivasi; memberdayakan potensi guru dan menyarankan guru untuk
memiliki motif berprestasi. Hal ini sebagaimana yang dikemukan oleh Syafaruddin
(2010:98) bahwa strategi transformasional berjalan atas persuasif idealisme,
kekaguman intelektual, memotivasi dan membagi visi.
Temuan gaya kepemimpinan situasional yang digunakan kepala sekolah dalam
peningkatan motivasi kerja guru , memberikan makna bahwa motivasi kerja guru
terhadap tugas dapat dibentuk dan ditingkatkan melalui perilaku hubungan yang
dibangun kepala sekolah meliputi: memberikan dorongan sosio emosional terhadap
guru; memberikan arahan dan bimbingan; membangun motivasi guru mengacu
kepada kematangan melaksanakan tugas; membangun pemahaman terhadap visi
dan misi; melibatkan guru-guru dalam tugas-tugas tertentu; menciptakan iklim
sekolah yang kondusif; menjalin dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan
guru dan sesama guru. Temuan ini senada dengan apa yang diungkap oleh Danim
13

(2009:83) adalah sebagai berikut : “Dalam rangka peningkatan motivasi kerja guru,
kepala sekolah harus mengembangkan kemampuan bekerjasama dengan guru,
menciptakan iklim kerja yang kondusif, memberikan penghargaan (reward) yang
sesuai dan membangun kerja yang relevan dengan visi dan misi”.
5. Konstribusi Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kemampuan
Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh.
Temuan lapangan mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
yang digunakan dalam peningkatan kemampuan guru, menggunakan tiga gaya
kepemimpinan yakni, gaya kepemimpinan transformasonal, visioner dan situasional.
Temuan gaya kepemimpinan ini didasarkan atas aktivitas yang dilakukan oleh kepala
sekolah dalam peningkatan kemapuan guru terhadap tugas, yang diperoleh melalui
observasi, wawancara dan telaah dokumentasi.
Temuan ini juga mengisyaratkan bahwa penggunaan lebih dari satu gaya
kepemimpinan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan kepala sekolah, merupakan
suatu fenomena kepemimpinan yang dinamis dan adaptif, dan dapat menjawab
persoalan-persoalan kepemimpinan terutama dalam penigkatan kemampuan guru baik
yang menyangkut pengelolaan proses pembelajaran maupun rencana proses
pembelajaran.
Temuan gaya kepemimpinan transformasional, visioner dan situasional dalam
peningkatan kemampuan guru, diperlihatkan oleh aktivitas dan upaya kepala
sekolah me;iputi: menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan
terhadap guru; kemampuan mengatur sumber daya guru; sensitivitas terhadap guru
dan organisasi; memiliki perhatian secara individual; mengembangkan visi bersama;
mengembangkan kultur sekolah; melakukan kesepakatan kerja baik menyangkut
klasifikasi sasaran, standar kerja, penugasan maupun penghargaan kerja.
Kesemuaanya ini mengacu kepada pemberian bimbingan dan pengarahan, pemberian
dukungan sosio emosional dan kematangan melaksanakan tugas. Tentang
kemampuan itu sendiri Robbins (2003:40) menjelaskan bahwa “kemampuan (ability)
adalah suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu
pekerjaan. Kemampuan seseorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua
perangkat faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.
14

Kemampuan melaksanakan tugas oleh guru dapat dimaknai sebagai


penguuasaan kompetensi yang terdapat pada diri guru, baik yang menyangkut
kompetensi kepribadian, paedagodgik, professional maupun sosial. Mengenai
kompetensi guru, Mulyasa (2006:38) menjelaskan kompetensi dapat diartikan
sebagai “pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai seseorang telah
menjadi bagian dari dirinya sehingga dia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif
dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya”.

6. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Dominan Digunakan dalam


Peningkatan Kinerja Guru SMP Negeri 8 Banda Aceh
Mengacu kepada uraian yang terdahulu, ternyata secara keseluruhan gaya
kepemimpinan yang dominan digunakan oleh kepala sekolah dalam peningkatan
kinerja guru yakni dua gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan
transformsional dan gaya kepemimpinan situasional. Hal ini dapat dipahami, bahwa
pemilihan gaya kepemimpinan transformasional dan situasional yang digunakan
kepala sekolah dalam peningkatan kinerja guru SMP Negeri 8 Banda Aceh,
merupakan tuntutan yang harus digunakan kepala sekolah untuk memenuhi
kebutuhan iklim dan budaya organisasi serta tuntutan kinerja guru di SMP Negeri 8
Banda Aceh.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan temuan penelitian yang mengacu pada pembahasan
penelitian, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
(1) Gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah dalam peningkatan disiplin
guru, menggunakan empat gaya kepemimpinan, yakni gaya kepemimpinan
transformasional, transaksional, visioner dan situasional. Penggunaan ke empat
gaya ini memberikan konstribusi dalam peningkatan disiplin guru SMP Negeri 8
Banda Aceh, yakni sebahagian besar dari guru memperlihatkan kedisiplinan yang
tinggi. Namun, masih terdapat beberapa orang guru yang memperlihatkan
perilaku yang kurang disiplin.
(2) Gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah dalam peningkatan
komitmen guru , yaitu menggunakan dua gaya kepemimpinan, yakni: gaya
kepemimpinan tranformasional dan situasional. Penggunaan kedua gaya
15

kepemimpinan ini memberikan kontribusi dalam peningkatan komitmen guru


terhadap tugas pada SMP Negeri 8 Banda Aceh, yakni sebahagian besar guru
memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas. Namun, masih terdapat beberapa
orang guru yang memiliki komitmen yang rendah.
(3) Gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah dalam peningkatan tanggung
jawab guru , menggunakan tiga gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan
transformasional, visioner, dan transaksional. Namun, masih terdapat beberapa
orang guru yang memiliki tanggung jawab yang rendah.
(4) Gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah dalam peningkatan
motivasi , menggunakan dua gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan
transformasional dan situasional. Penggunaan ke dua gaya ini memberikan
kontribusi dalam peningkatan motivasi kerja guru pada SMP Negeri 8 Banda
Aceh.
(5) Gaya kepemimpinan yang digunakan kepala sekolah dalam peningkatan
kemampuan guru, menggunakan tiga gaya kepemimpinan, yaitu gaya
kepemimpinan transformasional, visioner dan situasional. Penggunaan ke tiga
gaya kepemimpinan ini memberikan konstribusi dalam peningkatan kemampuan
guru pada SMP Negeri 8 Banda Aceh.
(6) Gaya kepemimpinan yang dominan digunakan kepala sekolah dalam peningkatan
kinerja guru SMP Negeri 8 Banda Aceh, yaitu dua gaya kepemimpinan, yakni
gaya kepemimpinan transformasional dan situasional.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapatlah disarankan
sebagai berikut:
(1) Kepada kepala sekolah SMP Negeri 8 Banda Aceh, agar dapat mempertahankan
gaya kepemimpinannya dalam peningkatan disiplin, komitmen, tanggung jawab,
motivasi dan kemampuan guru. Hal ini dikarenakan gaya kepemimpinan yang
digunakan oleh kepala sekolah memberikan konstribusi dalam peningkatan
masing-masing indikator kinerja guru.
(2) Kepada wakil kepala sekolah dan guru SMP Negeri 8 Banda Aceh agar terus
dapat meningkatkan kinerjanya, meliputi: disiplin, komitmen terhadap tugas
16

yang di emban, tanggung jawab, motivasi kerja dan kemampuan personal demi
mencapai visi, misi dan tujuan sekolah yang optimal.
(3) Kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Banda Aceh, diharapkan
dapat melakukan supervisi ke sekolah secara terjadwal, baik menyangkut
kinerja guru maupun kinerja kepala sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. dan Suparno. (2009). Manajemen dan Kepemimpinan


Transformasional Kekepalasekolahan, Visi dan Strategi Sukses Era
Tehnologi, Situasi Krisis, dan Internasionalisasi Pendidikan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Fattah, Nanang. (2004). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan
Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.
Kartanegara, Diana. (2003). Strategi Membangun Eksekutif. Tersedia :
http://www.pln.co.id/fokus/ArtikelTunggal.asp?ArtikelId=268
Komariah, Aan dan Triatna, Cepi. (2005). Visionary Ledhership Menuju Sekolah
Efektif. Jakarta : Bumi Aksara.
Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja
Mulyasa, E. ( 2006). Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nasution. S. (2001). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung : Tarsito.
Rivai. (2003). Kepemimpinan Perilaku Organisasi,Jakarta: Grafindo Persada.
Syafaruddin. (2010). Kepemimpinan Pendidikan, Akuntabilitas Pimpinan
Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta : Quantum Teaching.
Tondok, Marselius Sampe. et al. (2004). Hubungan Antara Persepsi Gaya
Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional dengan Kepuasan
Kerja Karyawan. Jurnal PSYCHE. Vol 1. Hal 35
Wahjosumidjo. (2001). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia..
Wahyudi. (2009). Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Organisasi Pembelajar
(Learning Organization). Bandung : Alfabeta.

Anda mungkin juga menyukai