Anda di halaman 1dari 11

c  

(PSC) adalah pemeriksaan kapal-kapal asing di pelabuhan nasional


lainnya oleh petugas PSC (inspektur) untuk tujuan verifikasi bahwa kompetensi guru dan
petugas di atas kapal, kondisi kapal dan peralatan memenuhi persyaratan konvensi
internasional (misalnya SOLAS , MARPOL , STCW , dll) dan bahwa kapal tersebut berawak
dan dioperasikan sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.


 
In 1978, a number of European countries agreed in The Hague on memorandum that agreed
to audit whether the labour conditions on board vessels were according the rules of the ILO .
Pada tahun 1978, sejumlah negara Eropa sepakat di Den Haag pada memorandum yang
setuju untuk audit apakah kondisi tenaga kerja di atas kapal yang sesuai aturan ILO . After
the ë  sank that year, it was decided to also audit on safety and pollution. Setelah
ë  tenggelam tahun itu, diputuskan juga audit terhadap keselamatan dan polusi. To
this end, in 1982 the Paris Memorandum of Understanding (Paris MoU) was agreed upon,
establishing Port State Control, nowadays 26 European countries and Canada. Untuk tujuan
ini, di tahun 1982 Paris Memorandum of Understanding (MoU Paris) telah disepakati,
mendirikan Port State Control, saat ini 26 negara Eropa dan Kanada. In practice, this was a
reaction on the failure of the flag states - especially flags of convenience that have delegated
their task to classification societies - to comply with their inspection duties. Dalam
prakteknya, ini adalah reaksi terhadap kegagalan negara-negara bendera - terutama bendera
kemudahan yang telah mendelegasikan tugas mereka untuk masyarakat klasifikasi - untuk
memenuhi tugas-tugas inspeksi mereka.

Following on the foundation built by the Paris MOU, several other regional MOUs have been
signed, including the Tokyo MOU (Pacific Ocean) [ 1 ] , Acuerdo Latino or Acuerdo de Viña
del Mar (South and Central America) [ 2 ] , the Caribbean MOU [ 3 ] , the Mediterranean MOU
[4]
, the Indian Ocean MOU [ 5 ] , the Abuja MOU (West and Central Atlantic Africa) [ 6 ] , the
Black Sea MOU [ 7 ] , and the Riyadh MOU (Persian Gulf) [ 8 ] . Setelah di atas fondasi yang
dibangun oleh MOU Paris, beberapa daerah lainnya MoU telah ditandatangani, termasuk
MOU Tokyo (Samudera Pasifik) [1] , Acuerdo Latino atau Acuerdo de Viña del Mar (Selatan
dan Amerika Tengah) [2] , Karibia MOU [3] , MOU Mediterania [4] , MOU Samudera Hindia
[5]
, MOU Abuja (Atlantik Afrika Barat dan Tengah) [6] , MOU Laut Hitam [7] , dan MOU
Riyadh (Teluk Persia) [8] .

The United States Coast Guard verifies that all foreign vessels operating in United States
waters are in substantial compliance with international conventions, as well as all applicable
US laws, regulations and treaties. The United States Coast Guard memverifikasi bahwa
semua kapal asing yang beroperasi di Amerika Serikat perairan substansial telah sesuai
dengan konvensi internasional, serta semua AS berlaku hukum, peraturan dan perjanjian. The
US is not a member of any Port State Control MOU. AS bukan anggota dari setiap Port State
Control MOU.

    c   


c    c   
      c (     c

The main criteria for detention is that the ship is deemed unsafe to proceed to sea and that the
deficiencies on a ship are considered serious by the inspector. Kriteria utama untuk
penahanan adalah bahwa kapal dianggap aman untuk melanjutkan ke laut dan bahwa
kekurangan pada kapal dianggap serius oleh inspektur. These deficiencies must be rectified
before the ship may sail again. Kekurangan-kekurangan ini harus diperbaiki sebelum kapal
dapat berlayar lagi. In the annual report of Paris MOU [ 9 ] , it stated that the major
deficiencies are: Dalam laporan tahunan Paris MOU [9] , itu menyatakan bahwa kekurangan
utama adalah:
1. 1. Certification of crew Sertifikasi awak
2. 2. Safety Keselamatan
3. 3. Maritime Security Keamanan Laut
4. 4. Marine Pollution and Environment Laut Polusi dan Lingkungan
5. 5. Working and Living Condition Bekerja dan Kondisi Hidup
6. 6. Operational Operasional
7. 7. Management Manajemen
These deficiencies are the most common concern of a PSCO. Kekurangan-kekurangan ini
menjadi perhatian paling umum dari PSCO. When these deficiencies are clearly hazardous to
safety, health, or the environment, the PSCO would require the hazard to be rectified before
the ship can sail or detain the vessel or even issue a formal prohibition of the ship to operate. [
15 ]
Ketika kekurangan-kekurangan ini jelas berbahaya bagi keselamatan, kesehatan, atau
lingkungan, PSCO akan membutuhkan bahaya yang akan diperbaiki sebelum kapal dapat
berlayar atau menahan kapal atau bahkan mengeluarkan larangan formal kapal untuk
beroperasi. [15]

As these deficiencies are self-induced by the ship operator or the ship owner, detention under
PSC for the reasons listed above is not able to reach a frustration to discharge the contract on
the vessel. Seperti kekurangan diri sendiri yang disebabkan oleh operator kapal atau pemilik
kapal, penahanan di bawah PSC karena alasan yang tercantum di atas tidak dapat mencapai
frustrasi untuk melaksanakan kontrak di kapal.

             


  c     
     

The contract cannot be discharged by frustration if the time under detention is not long
enough to provoked the frustration doctrine. Kontrak tidak dapat diberhentikan oleh frustrasi
jika waktu di bawah penahanan tidak cukup lama untuk membangkitkan doktrin frustrasi.

R c      c  

The PSC [ 15 ] require a ship being detained to remedy the deficiencies which caused the
detention. PSC [15] memerlukan sebuah kapal yang ditahan untuk memperbaiki kekurangan
yang menyebabkan penahanan. If the deficiencies cannot be remedied in the port of
inspection, the port state would allow the ship to proceed to another port under special
condition. Jika kekurangan tidak dapat diperbaiki di pelabuhan pemeriksaan, negara
pelabuhan akan mengizinkan kapal untuk melanjutkan ke pelabuhan dalam kondisi khusus.
The ship become free of detention only when all the fee induced by the inspection and
detention is paid by the ship-owner. Kapal penahanan menjadi bebas hanya ketika semua
biaya yang disebabkan oleh pemeriksaan dan penahanan dibayar oleh pemilik-kapal.

R *         




Rationally, both the port state and the ship-owner do not want the ship to be detained for a
long time. Rasional, baik negara pelabuhan dan kapal-pemilik tidak ingin kapal yang akan
ditahan untuk waktu yang lama. For the port state, the hazard of the ship might affect the
condition of the port, and the ship-owner understand the vessel can only make money when it
is sailing. Untuk negara pelabuhan, bahaya kapal dapat mempengaruhi kondisi pelabuhan,
dan kapal-kapal pemilik memahami hanya bisa menghasilkan uang saat berlayar. Neither
party would have the intention to keep the vessel being detained for an extremely long period
of time. pihak tidak akan memiliki niat untuk menjaga kapal yang ditahan untuk jangka
waktu yang sangat lama. Therefore, the time of detention os normally not long enough to
provoke the detention doctrine to discharge a contract. Oleh karena itu, waktu os penahanan
biasanya tidak cukup lama untuk memprovokasi doktrin penahanan untuk melepaskan
kontrak.

       c   


 !   c    
 c      

In conclusion, a voyage contract can be frustrated when: The vessel is beyond the control of
the parties in the contract The time delayed is long enough to provoke the frustration doctrine
Kesimpulannya, kontrak perjalanan bisa frustrasi bila: Kapal ini di luar kendali para pihak
dalam kontrak tertunda adalah waktu cukup lama untuk memprovokasi doktrin frustrasi

Under PSC, detention is mostly caused by self-induced deficiencies which is neither


unforeseeable and unexpected, and the time for detention is not likely being long enough to
provoke the frustration doctrine. Dalam PSC, penahanan yang sebagian besar disebabkan
oleh kekurangan diri diinduksi yang tidak terduga dan tak terduga, dan waktu untuk
penahanan tidak mungkin yang cukup lama untuk memprovokasi doktrin frustrasi.

Therefore, detention a ship by PSC cannot discharge a voyage contract by frustration. Oleh
karena itu, penahanan sebuah kapal oleh PSC tidak bisa debit kontrak perjalanan oleh
frustrasi.

Memorandum of Understanding on Port State Control in the Asia-Pacific Region", as


amended 20 November 2008. " "Nota Kesepahaman tentang Port State Control di Asia-
Pasifik", sebagaimana telah diubah 20 November 2008. Available from: http://www.tokyo-
mou.org/ Tersedia dari: http://www.tokyo-mou.org/
Penandatangan MOU Paris (biru), Tokyo MOU (merah), Samudera Hindia MOU (hijau), Mediterania
MOU (hijau tua), Acuerdo Latino (kuning), Karibia MOU (zaitun), Abuja MOU (merah tua), Laut Hitam
MOU (cyan) dan Riyadh MOU (angkatan laut).

c#c   


1. STRUKTUR ORGANISASI KANTOR ADPEL UTAMA TANJUNG PRIOK KM No 62 TAHUN 2002 ADPEL
UTAMA TG. PRIOK BAGIAN TATA USAHA SUB BAG SUB BAG UMUM KEPEG & KEU BIDANG LALA
BIDANG KELAIK ANG LAUT & BIDANG LAUTAN KAPAL KEPELABUHANAN PENJAGAAN &
PENYELAMATAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKSI SEKSI SEKSI LALU LINTAS ANG LAUT
KESYAHBANDARAN KESELAMATAN KAPAL SEKSI SEKSI SEKSI PENUNJANG ANG LAUT &
PENYELAMATAN PENGUKURAN & STATUS TKBM HUKUM KAPAL SEKSI SEKSI PENGAWASAN
FASILITAS PAMTIB SEKSI PELABUHAN KEPELAUTAN
2. TUGAS DAN FUNGSI KANTOR ADMINISTRATOR PELABUHAN TANJUNG PRIOK KM 62 TAHUN 2002
ADMINISTRATOR PELABUHAN UTAMA TANJUNG PRIOK FU NG S I TUGAS POKOK PASAL 3:PASAL 2
ù KANTOR ADMINISTRATOR PELABUHAN MENYELENGGA RAKAN FUNGSI a PENGAWASAN
KEGIATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN LAU T YANG MELIPUTI LALU LINTAS KAPAL,KANTOR
ADMINISTRATOR PENUMPANG, BARANG, HEWAN, CONTAINER DAN PEMANTAUAN
PELAKSANAAN TARIF.PELABUHAN MEMPUNYAI TUGAS b PENGAWASAN KEGIATAN PENUNJANG
ANGKUTAN LAUT DAN PEMBINAAN TENAGA KERJA BONGKAR MUAT (TKBM)MELAKSANAKAN
PEMBERIAN LALU c PENILIKAN TERHADAP PEMENUHAN PERSYARATAN KELAIK LAUTAN KAPAL
DAN PEMBERIAN SURAT IJIN BERLAYARLINTAS DAN ANGKUTAN LAUT, d PELAKSANAAN
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN SERTA
PEMADAMANKEAMANAN DAN KESELAMATAN KEBAKARAN DI PERAIRAN PELABUHAN DAN
BANDAR e PELAKSANAAN PENGAMANAN, PENERTIBAN, PENEGAKAN PERATURAN DI BIDANG
PELAYARAN DANPELAYARAN DI PERAIRAN TINDAK PIDANA PELAYARAN DI PERAIRAN PELABUHAN
DAN BANDAR GUNA MENJAMIN KELANCARAN OPERASIONAL PELABUHANPELABUHAN UNTUK f
PENGAWASAN KELAIKAN DAN KESELAMATAN FASILITAS DAN PERALATAN PELABUHAN,
ALURMEMPERLANCAR ANGKUTAN LAUT. PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN SERTA
PENGAWASAN PEMBANGUNAN FASILITAS PELABUHAN DAN PENILIKAN KINERJA OPERASIONAL
PELABUHAN g PELAKSANAAN PEMERIKSAAN NAUTIS, TEKNIS, RADIO, PERALATAN PENCEGAHAN
PENCEMARAN, PEMBANGUNAN DAN PEROMBAKAN KAPAL SERTA VERIFIKASI MANAGEMEN
KESELAMATAN KAPAL DAN PENERTIBAN SERTIFIKASI SURAT KEBANGSAAN DAN HIPOTEK KAPAL.
h PELAKSANAAN PENGUKURAN DAN STATUS HUKUM KAPAL, SURAT KEBANGSAAN KAPAL DAN
HIPOTEK KAPAL SERTA PENGURUSAN DOKUMEN PELAUT, PENYIJILAN AWAK KAPAL DAN
PENERBITAN SERTIFIKASI, SURAT KEBANGSAAN DAN HIPOTEK KAPAL i PELAKSANAAN URUSAN
ADMINISTRASI DAN KERUMAHTANGGAAN
3. WHAT IS PORT STATE CONTROLͻ AN INSPECTIONͻ OF A FOREIGN SHIPͻ BY AN OFFICER
DULY AUTHORIZED BY THE GOVERNMENTͻ TO VERIFY COMPLIANCE WITH
INTERNATIONAL CONVENTION REQUIREMENTSͻ ANDͻ IF NECESSARY, TO TAKE STEPS TO
ENSURE THE SHIP COMPLIES WITH THE CONVENTION REQUIREMENTS
4. APAKAH PORT STATE CONTROL ?ͻ SUATU KEGIATAN PEMERIKSAAN TERHADAP SUATU
KAPAL BERBENDERA ASING OLEH PETUGAS YANG DITUNJUK DAN DIBERI BERI HAK OLEH
PEMERINTAH UNTUK MEMVERIFIKASI KEADAAN KAPAL DALAM RANGKA PEMENUHAN
PERSYARATAN KONVENSI INTERNASIONALͻ DAN JIKA DIPERLUKAN,ͻ DAPAT MENGAMBIL
TINDAKAN UNTUK MEMASTIKAN KAPAL TERSEBUT AMAN SERTA MEMENUHI
PERSYARATAN KONVENSI
5. PROSEDUR PEMERIKSAAN KAPAL ASING OLEH PSCO PEMERIKSAAN KAPAL TIDAK ADA
TEMUAN FORM A DIKELUARKAN OLEH PSC KEKURANGAN TEMUAN KEKURANGAN FORM
A & FORM B KAPAL BERLAYAR MINOR MAJOR FORM C LANGSUNG DIPERBAIKI KAPAL
DITAHAN ** DIPERBAIKI DIPELABUHAN DIPERBAIKI DIPELABUHAN BERIKUT BERIKUT
DIPERBAIKI PERIKSA ULANG PERIKSA ULANG KAPAL BERLAYAR PUNGUTAN US$250 ** KM
36 Tahun 2000 Bab III Pasal 18 & PUP 8 PP No 14 Tahun 2000** Negara Pantai, Negara
Pelabuhan, PSCO setempat dan badan-badan terkait di informasikan
6. LATAR BELAKANG PSCMEMBANTU NEGARA BENDERA UNTUKMENJAMIN BAHWA
KAPALNYA AMANUNTUK DIOPERASIKAN DAN BERLAYARSEHINGGA TIDAK MENIMBULKAN
BAHAYABAGI JIWA MANUSIA & LINGKUNGANMARITIM
7. KEWAJIBAN NEGARA PELABUHAN MASIH DIKETEMUKANNYA KAPAL-KAPAL
BERBENDERA ASING YANG BEROPERASI DARI DAN KE PELABUHAN TANJUNG PRIOK YANG
SECARA SUBSTANSI TIDAK MEMENUHI PERSYARATAN YANG DIATUR DALAM KONVENSI-
KONVENSI INTERNASIONAL, SOLAS DLL.  KEWAJIBAN DARI NEGARA PELABUHAN UNTUK
MELINDUNGI PELABUHANNYA DARI PENGOPERASIAN KAPAL ASING YANG TIDAK AMAN. 
NEGARA PELABUHAN BERHAK MENOLAK MASUKNYA KAPAL ASING YANG DAPAT
MENGANCAM KESELAMATAN ORANG DAN LINGKUNGANNYA
8. INDONESIA ISSUE IMOBAHWA FAKTA TERAKHIR YANGDIYAKINI OLEH TOKYO MOU
SALAHSATUNYA ANGGOTA INDONESIABELUM MENJALANKAN PORT STATECONTROL
SECARA EFEKTIF &BENAR
9. DASAR HUKUM PERATURAN INTERNATIONALš SOLAS 74 & PROTOKOL 1988 (S74C1.19 ʹ
S74 C11 REG4 )š LOAD LINE 1966 & PROTOKOL ARTICLE 21š STCW 78 & AMMEND 1995
ARTICLE 10š MARPOL 73/78š TMS 1969š ILO CONVENTION No 147
10. PERATURAN NASIONALUU No 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARANSYAHBANDAR
BERWENANG MELAKUKANPEMERIKSAAN KELAIKLAUTAN DANKEAMANAN KAPAL ASING
DI PELABUHANSESUAI DENGAN KETENTUAN PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN.
11. DEFINISIKESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARANADALAH SUATU KEADAAN
TERPENUHINYAPERSYARATAN KESELAMATAN DANKEAMANAN YANG MENYANGKUT
ANGKUTANDI PERAIRAN, KEPELABUHANAN, DANLINGKUNGAN MARITIM
12. DEFINISIͻ CLEAR GROUND : BUKTI-BUKTI BAHWA KAPAL, PERLENGKAPAN, DAN KRU-NYA
SECARA SUBSTANSI TIDAK SESUAI DENGAN PERSYARATAN DALAM KONVENSI, NAKHODA
ATAU KRU KAPAL TIDAK FAMILIAR DENGAN PROSEDUR UTAMA TENTANG KESELAMATAN
KAPAL ATAU PENCEGAHAN POLUSIͻ DEFICIENCY : SUATU KONDISI YANG TIDAK SESUAI
DENGAN PERSYARATAN KONVENSI TERTENTU
13. DEFINISIͻ DETENTION: TINDAKAN YANG DIAMBIL OLEH NEGARA PANTAI, JIKA KONDISI
KAPAL & KRU TIDAK SESUAI DENGAN KONVENSI. MEMASTIKAN KAPAL TIDAK BERLAYAR
SAMPAI MEMASTIKAN KAPAL BERLAYAR TIDAK MEMBAHAYAKAN KAPAL DAN ORANG
ATAU LINGKUNGAN MARITIM. TINDAKAN TERSEBUT DIAMBIL DENGAN ATAU TANPA
MENGGANGGU OPERASIONAL KAPAL.
14. DEFINISIͻ INSPECTION: KUNJUNGAN KE KAPAL UNTUK MENGECEK KEABSAHAN
SERTIFIKAT DAN DOKUMEN LAIN, SERTA KONDISI KESELURUHAN KAPAL, PERLENGKAPAN
DAN KRU-NYA.ͻ MORE DETAILED INSPECTION: PEMERIKSAAN DILAKUKAN BILA ADA
CLEAR GROUND BAHWA KONDISI KAPAL, PERLENGKAPAN, ATAU KRU-NYA TIDAK SESUAI
DENGAN YANG DISEBUTKAN DALAM SERTIFIKAT.
15. D E F I N I S Iͻ PORT STATE CONTROL OFFICER (PSCO): ORANG YANG DIBERI HAK OLEH
PIHAK BERWENANG (MARAD)UNTUK MELAKSANAKAN INSPEKSI PENGAWASAN NEGARA
PANTAI DAN BERTANGGUNG JAWAB KE PARTY.ͻ RECOGNIZED ORGANIZATION:
ORGANISASI YANG MEMENUHI KRITERIA SESUAI DENGAN RESOLUSI A.739(18) DAN TELAH
DIANGKAT SEBAGAI PERWAKILAN OLEH MARAD UNTUK MEMBERIKAN PELAYANAN DAN
SERTIFIKASI.
16. DEFINISIͻ SUBSTANDARD SHIP: SEBUAH KAPAL DENGAN LAMBUNG, PERMESINAN,
PERLENGKAPAN ATAU KESELAMATAN OPERASINYA DIBAWAH STANDAR YANG
DIPERSYARATKAN OLEH KONVENSI ATAU KRU-NYA TIDAK SESUAI DENGAN SAFE
MANNING DOCUMENT
17. ALUR PEMERIKSAAN KAPAL OLEH PSCO TANPA KEKURANGAN KAPAL BERLAYAR DENGAN
KEKURANGAN PEMERIKSAAN KAPAL OLEH PSCO PERBAIKAN OLEH KAPAL KAPAL DITAHAN
PERBAIKAN OLEH DOK
18. PORT STATE NO PORT CLEARENCE INSPECTION DEFICIENCY NO CHARGES MAJOR ACTION
TAKEN DEFICIENCY 15 (next port) WITH 16 (within 14 days) DEFICIENCY 17 (Before sailing)
MINOR 30 (ship detained) DEFICIENCY DAPAT PORT MENGHARUSKAN DIPERBAIKI
CLEARENCE RE ʹ INSPECTIONPROCEED TO SEA PUP 8 US$250 MASUK DOK
PERBAIKAN/PEMBERITAHUAN KEPADA : DOK TERDEKATš NEGARA BENDERAš KELASš
TOKYO-MOU DETAINABLE DEFICIENCYš PORT AUTHORITY (DAPAT MENUNDA BERLAYAR)
19. MENGAPA KAPAL DITAHAN OLEH PSCO ?JIKA SECARA SUBSTANSIAL KEKURANGAN
YANGMENJADI TEMUAN DAPAT MENGANCAMTERHADAP : š KESELAMATAN
OPERASIONAL KAPALš KESELAMATAN AWAK KAPALš KESELAMATAN LINGKUNGAN
MARITIME
20. KEWENANGAN PSCO UNTUK MELAKUKAN :1. INSPEKSI2. PENILAIAN3. KEPUTUSAN ù A.
KAPAL PROCEED TO SEA (BERLAYAR) B. REPAIR AT DOCK YARD (DITUNDA)
21. KEWENANGAN PSCO (SAAT KAPAL DI TEMUKAN DETAINABLE)ͻ MENUNDA PELAYARAN
SAMPAI PERSYARATAN KONVENSI TERPENUHIͻ MEMERINTAHKAN KAPAL UNTUK
MENGHENTIKAN KEGIATAN BONGKAR MUATͻ MEMERINTAHKAN KAPAL UNTUK DOK
GUNA MELAKSANAKAN PERBAIKANͻ MENGIZINKAN KAPAL MENUJU PELABUHAN
TERDEKAT YANG MEMILIKI FASILITAS UNTUK MELAKSANAKAN PERBAIKAN JIKA
DIPELABUHAN PERTAMA TIDAK TERSEDIA FASILITAS YANG DIBUTUHKAN
22. INSPEKSI NEGARA PELABUHAN PARTIES (NEGARA PELABUHAN) BOLEH MELAKSANAKAN
INSPEKSI TERHADAP KAPAL-KAPAL ASING. INSPEKSI DILAKUKAN ATAS DASAR : š INISIATIF
NEGARA ANGGOTA (PARTY)ù š PERMINTAAN ATAU INFORMASI MENGENAI SEBUAH KAPAL
OLEH NEGARA ANGGOTA LAINNYAù š INFORMASI MENGENAI KAPAL OLEH KRU, LEMBAGA
PROFESI, ASOSIASI, PERSATUAN PERDAGANGAN, ATAU INDIVIDU LAINNYA YANG
BERKEPENTINGAN DENGAN KESELAMATAN KAPAL, KRU, PENUMPANG, ATAU
PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM
23. INSPEKSI NEGARA PELABUHANͻ SEMUA USAHA HARUS DIJALANKAN UNTUK
MENGHINDARI PENAHANAN DAN PENUNDAAN YANG TIDAK PERLU/WAJAR.ͻ JIKA KAPAL
DITAHAN ATAU DITUNDA SECARA TIDAK WAJAR, MAKA BERHAK UNTUK MENDAPATKAN
KOMPENSASI.
24. PROFESIONALISME PSCOͻ PEMERIKSAAN NEGARA PANTAI HANYA BOLEH DILAKUKAN
OLEH PSCO YANG BERKUALITAS.ͻ TIDAK MEMILIKI KEPENTINGAN KOMERSIAL BAIK DI
PELABUHAN MAUPUN DIKAPAL, MESKIPUN DIBAWAH ORGANISASI YANG DITUNJUK.ͻ
MEMILIKI IDENTITAS YANG JELAS DAN DIBERI HAK UNTUK MELAKUKAN PEMERIKSAAN.
25. KUALIFIKASI PSCOͻ MEMILIKI PENGALAMAN PORT STATE SURVEYOR YANG
BERKUALITAS.ͻ DAPAT BERKOMUNIKASI DALAM BAHASA INGGRIS DENGAN AWAK KAPAL
YANG BERWENANG.ͻ PELATIHAN PSCO, DENGAN MENGGUNAKAN IMO MODEL COURSE
FOR PSC.ͻ KUALIFIKASI NAKHODA ATAU KKM DENGAN PENGALAMAN YANG CUKUPͻ
SEMINAR SECARA PERIODIK UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN PARA PSCO
26. SURVEY DAN INSPEKSISURVEY DAN INSPEKSI OLEH INSPEKTOR YANG DIANGKATATAU
ORGANISASI YANG DIAKUI, MAKA NEGARA BENDERAHARUS MEWASPADAI BAHWA
KAPALNYA DAPATDIPERIKSA OLEH NEGARA PELABUHAN (TERMASUK NAIKKAPAL,
INSPEKSI, TINDAKAN PERBAIKAN, KEMUNGKINANPENAHANAN KAPAL OLEH HANYA
SEORANG PSCO).
27. INSPEKSI NEGARA PELABUHANCLEAR GROUND ADALAH INSPEKSI YANG LEBIHDETAIL
TERMASUK:ͻ KESAN DAN PENGAMATAN UMUM PSCO BAHWA LAMBUNG DAN
BANGUNAN KAPAL TIDAK LAYAK DAN AKAN MEMBAHAYAKAN TERHADAP KEDAP AIR
ATAU CUACA.ͻ KESAN DAN PENGAMATAN UMUM PSCO BAHWA ADANYA DEFISIENSI
TERHADAP KESELAMATAN, PENCEGAHAN PENCEMARAN ATAU PERLENGKAPAN
NAVIGASI.
28. INSPEKSI NEGARA PELABUHANCLEAR GROUND ADALAH INSPEKSI YANG LEBIH
DETAILTERMASUK:ͻ TIDAK ADANYA PERLENGKAPAN ATAU SUSUNAN UTAMA YAND
DINYATAKAN KONVENSI,ͻ BUKTI DARI REVIEW BAHWA SERTIFIKAT NYATA2 TIDAK SAH,ͻ
BUKTI BAHWA DOKUMEN TERSEBUT TIDAK DIKAPAL, TIDAK LENGKAP, TIDAK TERJAGA
ATAU SALAH MENJAGA.
29. INSPEKSI NEGARA PELABUHANCLEAR GROUND ADALAH INSPEKSI YANGLEBIH DETAIL
TERMASUK:ͻ PEMANCARAN DARI BERITA BAHAYA PALSU TIDAK DIIKUTI DENGAN
PROSEDUR PEMBATALAN YANG BENAR.ͻ MENERIMA LAPORAN ATAU KOMPLAIN YANG
BERISI INFORMASI BAHWA KAPAL DIBAWAH STANDAR.
30. INSPEKSI NEGARA PELABUHANCLEAR GROUND ADALAH INSPEKSI YANG LEBIHDETAIL
TERMASUK :ͻ INFORMASI ATAU BUKTI BAHWA NAKHODA ATAU KRU KAPAL TIDAK MENGUASAI
OPERASIONAL UTAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESELAMATAN, PENCEMARAN, ATAU
OPERASIONAL TERSEBUT TIDAK DILAKSANAKAN.ͻ INDIKASI BAHWA POSISI KUNCI AWAK KAPAL
TIDAK DAPAT BERKOMUNIKASI SATU SAMA LAIN ATAU DENGAN YANG LAIN.

Dalam suatu organisasi fungsi pengawasan sangat dibutukhakn, dengan engawasan yang baik dapat

mencegah timbulnya penyimpangan dan menjamin bahwa pelaksanaan kegiatan organisasi berjalan

sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Menurut Siagian (1982 : 135) pengawasan adalah :

͞Proses pengawasan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua

pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan

sebelumnya͟.

Sedangkan menurut Sarwoto (1981 : 93) pengawasan adalah :

͞Kegiatan pimpinan yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan

rencana yang telah ditetapkan atau hasil yang dikehendaki͟.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa

pengawasan adalah proses pengamatan yang dilakukan pimpinan untuk mengetahui dan menilai

kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan pekerjaan dari pegawai-pegawai yang menjadi

bawahannya agar pelaksanaan pekerjaan tersebut bisa sesuai dengan rencana yang telah

ditetapkan.

Niti Semito (1984 : 17) mengemukakan definisi pengawasan (controlling) sebagai berikut :

͞Pengawasan adalah usaha untuk dapat mencegah kemungkinan-kemungkinan penyimpangan

daripada rencana-rencana, instruksi-instruksi, saran-saran dan sebagianya yang telah ditetapkan͟.

Pendapat tersebut menekankan pada usaha pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya

penyimpangan-penyimpangan. Oleh karena itu, kegiatan pengawasan sudah mulai dilaksanakan

meskipun pelaksanaan pekerjaan para pegawai belum selesai. Mencegah kemungkinan timbulnya

penyimpangan, akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi suatu organisasi dalam

menanggulangi penyimpangan yang sudah terjadi, karena apabila penyimpangan dapat dicegah,

maka kerugian yang besar dapat dihindarkan sehingga tujuan organisasi akan dapat tercapai dengan

cara yang efektif dan efisien.


Pengawasan merupakan usaha mengevaluasi prestasi kerja pada pegawai dan mengadakan tindakan

yang dianggap perlu untuk menyasuaikan hasil pekerjaan agar dapat sesuai dengan yang diharapkan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Terry (dalam Winardi, 1986 : 395) yang mengatakan sebagai berikut :

͞Pengawasan berarti mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi

prestasi kerja yang apabila perlu menerapkan tindakant-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan

sesuai dengan rencana-rencana͟.

Dengan tindakan pengawasan akan dapat diketahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan para

pegawai sudah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan apabila ternyata ada penyimpangan

dari rencana, kebijaksanaan maupun pemerintah yang telah dikeluarkan, dapat segera diketahui dan

selanjutnya diadakan tindakan perbaikan dan penyesuaian agar hasil pekerjaan sesuai dengan yang

diharapkan.

Dari beberapa definisi pengawasan tersebut, dapat dimpulkan pengertian pengawasan sebagai

berikut pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk dapat mencegah

terjadinya penyimpangna, mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan pegawai dan mengadkana tindakan

perbaikan apabila diperlukan untuk menjamin tercapainya sasaran hasil kerja dan saran lainnya

sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

Oke mungkin hanya itu yang dapat saya share dengan sobat terkait dengan pengertian pengawasan,

kritik, saran, masukan silahkan isi komentar di bawah ini͙

c c

Ada banyak alasan untuk menentukan penyebab kegagalan suatu organisasi atau

keberhasilan organisasi lainnya. Tetapi masalah yang selalu berulang dalam semua

organisasi yang gagal adalah tidak atau kurang adanya pengawasan yang memadai.

Menurut Winardi (2000, hal. 585) "Pengawasan adalah semua aktivitas yang

dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai

dengan hasil yang direncanakan".


Sedangkan menurut Basu Swasta (1996, hal. 216) "Pengawasan merupakan fungsi

yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang

diinginkan".

Lebih lanjut menurut Komaruddin (1994, hal. 104) "Pengawasan adalah

berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana, dan awal Unk

langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti".

Lebih lanjut menurut Kadarman (2001, hal. 159)

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada
perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan
kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah
terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang
diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan telah digunakan
seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan.

Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan

merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan. Dengan adanya

pengawasan maka perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan

berjalan dengan baik.

Tanpa adanya pengawasan dari pihak manajer/atasan maka perencanaan yang telah

ditetapkan akan sulit diterapkan oleh bawahan dengan baik. Sehingga tujuan yang

diharapkan oleh perusahaan akan sulit terwujud.

Pemeriksaan muncul karena adanya penyelewengan. Pajak merupakan kewajiban yang tak
terelakan. Kita tahu bahwa dengan membayar pajak itu tidak memberikan keuntungan secara
langsung atau keuntungan yang bersifat ekonomis bagi yang membayarnya atau wajib pajak.
Oleh karena itu menyebabkan banyak sekali bentuk penyelewengan dan penghindaran
terhadap pajak. Pajak menjadi momok yang sangat menakutkan bagi semua manusia yang
hidup dalam tatana birokrasi. Sejak 1984 sistem O  OO O  di bidang perpajakan di
Indonesia telah di berlakukan. Sistem tersebut berarti wajib pajak di berikan wewenang untuk
menghitung, membayar dan melaporkan sendiri. Jikalau begitu sistem tersebut, jadi apa peran
pemerintah. Fungsi DJP melakukan pembinaan, pelayanan, pengadministrasi dan
pengawasan. Pengawasan di sini dilakukan dengan pemeriksaan pajak dengan tujuan untuk
melihat kepatuhan dari wajib pajak.

Menurut Pasal 1 ayat (2) Peraturan Mentri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 pemeriksaan
didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan
dan/atau bukti yang di laksanakan secara obyektif dan profesional berdasarkan suatu standar
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan.