Anda di halaman 1dari 20

Pneumonia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pneumonia merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai dengan gejala demam,
batuk, sesak napas, dan adanya ronkhi basah halus serta gambaran infiltrat pada foto polos
dada. World Health Organization (WHO) memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia
menderita pneumonia.. Sumber lain menyebutkan bahwa pasien pneumonia sudah
mencapai 300 juta orang di seluruh dunia dan terus meningkat selama 20 tahun belakangan
ini. Apabila tidak dicegah dan ditangani dengan baik, maka diperkirakan akan terjadi
peningkatan prevalensi yang lebih tinggi lagi pada masa akan datang serta mengganggu
proses tumbuh-kembang anak dan kualitas hidup pasien.
Pneumonia memberi dampak negatif bagi pengidapnya seperti sering menyebabkan
anak tidak masuk sekolah, membatasi kegiatan olahraga serta aktifitas seluruh keluarga
menurunkan kualitas hidup penderitanya, dan menimbulkan masalah pembiayaan. Selain
itu, mortalitas pneumonia relatif tinggi.

1.2 Batasan Topik

1.2.1. Konsep Pneumonia

1.2.2. Asuhan Keperawatan pada pasien pneumonia

1|Page
Pneumonia

BAB II

KONSEP DASAR PENYAKIT PNEUMONIA

2.1. Definisi Pneumonia


2.1.1. Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari
suatu infeksi. (Price, 1995)
2.1.2. Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul,
2001)
2.1.3. Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki
dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia
terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).
2.1.4. Pneumonia adalah suatu proses peradangan dimana terdapat konsolidasi yang
disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pertukaran gas tidak dapat
berlangsung pada daerah yang mengalami konsolidasi dan darah dialirkan ke
sekitar alveoli yang tidak berfungsi.(Asih,2003)

2.2. Etiologi
2.2.1. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus
pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella
pneumonia dan P. Aeruginosa.
2.2.2. Virus

Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.


Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia
virus.
2.2.3. Jamur

2|Page
Pneumonia

Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui


penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos.
2.2.4. Protozoa

Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya


menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi.

2.2.5. Aspirasi
Penyerapan suatu benda oleh paru yang biasanya diakibatkan oleh :
makanan, kerosin(minyak tanah,bensin), cairan amnion, dan benda asing lain.

2.3. Klasifikasi
 Berdasarkan anatominya, pneumonia dibagi atas :
1. Pneumonia lobaris
Adalah pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau lebih yang terkena
(percabangan besar dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.
2. Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)
Adalah pneumonia yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang
mempunyai pola penyebaran berbercak-bercak (ditandai dengan adanya bercak
infiltrate), teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam bronki dan
meluas ke parenkim paru yang berdekatan disekitarnya.
3. Pneumonia interstitialis (bronkiolitis)
Adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan
interlobular.

 Berdasarkan etiologi, dibagi atas :


a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif
seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan  streptococcus pyogenesis. Bakteri
gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
b.      Virus

3|Page
Pneumonia

Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.


Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c.       Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan
udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah
serta kompos.
d.      Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
e. Aspirasi
f. Pneumonia hipostatik
Pneumonia yang disebabkan karena bedrest terlalu lama.

 Berdasarkan tempat asal penyebabnya :


1. Hospital Acquired Pneumonia (HAP) / Pneumonia nosokomial
Pneumonia yang didapatkan dari rumah sakit, didefinisikan sebagai pneumonia
yang terjadi setetalh 48 jam perawatan di rumah sakit, tanpa inkubasi. HAP
meurpakan infeksi nosokomial (rumah sakit) kedua tersering infeksi di rumah
sakit, dan biasanya disebabkan oleh bakteri. Terjadinya infeksi ini disebabkan
ketidak seimbangan antara kemampuan pertahanan tubuh penderita
dibandingkan kemampuan bakteri untuk tumbuh dan berkembang
2. Environment Acquired Pneumonia / Pneumonia Komunitas
Pneumonia berasal dari lingkungan. Penyebab terjadinya pneumonia
komunitas ini dijumpai cenderung penderita dengan faktor resiko tertentu,
misalnya H. Influenza pada pasien perokok, patogen atipikal pada lansia, gram
negatif pada pasien dari rumah jompo.
Faktor resiko terjadinya pneumoni komunitas adalah (1) usia > 65 th, (2) infeksi
pada paru yang multilobuler / nekrotikans, (3) penyakit penyerta seperti (infeksi
paru kronis, DM, gagal ginjal kronik, gagal jantung, gangguan hati), (4) gangguan
fungsi organ lainnya.

4|Page
Pneumonia

 Berdasarkan sindrome klinis :


1. Pneumonia Bakterial
Pneumonia yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae adalah pneumonia
bakterialis yang paling umum dan paling prevalen setara musim dingin dan
musim semi ketika infeksi traktus respiratorius atas paling sering terjadi. Kondisi
ini dapat terjadi sebagai bentuk bronkopneumonia/lobaris pada pasien segala
kelompok usia dan dapat menyertai penyakit pernafasan yang baru saja dialami.
2. Pneumonia Atipikal
Pneumonia yang berkaitan dengan mikoplasma, fungus, klamidia, demam-Q,
penyakit Legionnaires, Pneumocystis carinii dan virus termasuk kedalam sindrom
pneumonia atipikal. Pneumonia mikoplasma adalah penyebab pneumonia
atipikal primer yang paling umum. Mikoplasma adalah organisme kecil yang
dikelilingi oleh membran berlapis 3 tanpa dinding sel.

 Berdasarkan frekuensi nafas, tarikan dinding dada bagian bawah, bunyi


nafas/stridor :
1. Pneumonia
Batuk, demam lebih dari 38°C disertai sesak nafas. Frekuensi nafas lebih dari
40x/menit, ada tarikan dinding dada bagian bawah. Pada auskultasi didapati
bunyi stridor pada paru.
2. Non Pneumonia
Bila bayi dan balita batuk, demam 38°C tidak disertai nafas cepat lebih dari
40x/menit, tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada bunyi
stridor pada paru.

Umur Nafas normal Nafas cepat (takipnea)


0-2 bulan 30—50 x/menit 60 x/menit
2-12 bulan 25-40 x/menit 50 x/menit
1-5 tahun 20-30 x/menit 40 x/menit
(sumber : Pedoman perhitungan frekuensi nafas, WHO).(lilik dan akhyar 2009)

2.4. FAKTOR RESIKO


5|Page
Pneumonia

Faktor Risiko
Beberapa kelompok-kelompok mempunyai faktor risiko yang lebih tinggi
untuk terkena pneumonia, yaitu antara :
o Usia lebih dari 65 tahun
o Merokok
o Malnutrisi baik karena kurangnya asupan makan ataupun dikarenakan
o penyakit kronis lain.
o Kelompok dengan penyakit paru, termasuk kista fibrosis, asma, PPOK, dan
o emfisema.
o Kelompok dengan masalah-masalah medis lain, termasuk diabetes dan
penyakit jantung. Kelompok dengan sistem imunitas dikarenakan HIV,
transplantasi organ, kemoterapi atau penggunaan steroid lama.
o Kelompok dengan ketidakmampuan untuk batuk karena stroke, obat-obatan
sedatif atau alkohol, atau mobilitas yang terbatas.
o Kelompok yang sedang menderita infeksi traktus respiratorius atas oleh
virus(IKA FKUI,1995).
Faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya pneumonia
Umur dibawah 2 bulan
Jenis kelamin laki-laki
Gizi kurang
Berat badan lahir rendah
Tidak mendapat ASI memadai
Polusi udara
Kepadatan tempat tinggal
Imunisasi yang tidak memadai
Membedong bayi
Defisiensi vitamin A
Faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat pneumonia
a. Umur dibawah 2 bulan
b. Tningkat sosio ekonomi rendah
c. Gizi kurang

6|Page
Pneumonia

d. Berat badan lahir rendah


e. Tingkat pendidikan ibu rendah
f. Tingkat pelayanan kesehatan rendah
g. Kepadatan tempat tinggal
h. Imunisasi yang tidak memadai
i. Menderita penyakit kronis ((Underwood, 2000).

2.5. MANIFESTASI KLINIS


Menurut Said (2008), dalam ahmad ghozali,2010 menyatakan gambaran
klinis pneumonia secara umum adalah sebagai berikut :
1. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan GIT seperti mual, muntah atau diare: kadang-kadang
ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
2. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea,
napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

2.6. PATOFISIOLOGI
Di antara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia pneumokokus
merupakan yang paling banyak diselidiki. Pneumokokus umumnya mencapai alveoli
lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru-paru paling sering terkena
karena efek gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan
respon yang khas terdiri dari empat tahap yang berurutan (Price, 1995 : 711) :

a. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama, eksudat yang kaya protein
keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor,
disertai kongesti vena. Paru menjadi berat, edematosa dan berwarna merah.
b. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : Terjadi pada stadium kedua, yang berakhir
setelah beberapa hari. Ditemukan akumulasi yang masif dalam ruang alveolar,
bersama-sama dengan limfosit dan magkrofag. Banyak sel darah merah juga
dikeluarkan dari kapiler yang meregang. Pleura yang menutupi diselimuti eksudat
fibrinosa, paru-paru tampak berwarna kemerahan, padat tanpa mengandung udara,

7|Page
Pneumonia

disertai konsistensi mirip hati yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti
hepar).

c. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi fibrin
yang berlanjut disertai penghancuran sel darah putih dan sel darah merah. Paru-paru
tampak kelabu coklat dan padat karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di
dalam alveoli yang terserang.

d. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini, eksudat mengalami lisis dan
direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan
mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya, sehingga jaringan
kembali pada strukturnya semula.(Underwood, 2000 : 392).

2.7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m dengan
pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi paru-
paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat menentukan / mencari
etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat
terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto rontgen dilakukan untuk
melihat :
1. Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
2. Luas daerah paru yang terkena.
3. Evaluasi pengobatan
Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau
beberapa lobur.
1. Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan sputum
 Pemeriksaan darah lengkap
 Pemeriksaan gas darah
2. Pemeriksaan Radiologi (foto thoraks)
3. Pemeriksaan penunjang (histologi dan serologi )
4. Pemeriksaan fungsi paru

2.8. PENATALAKSANAAN MEDIS


a. Antibiotik

8|Page
Pneumonia

Antibiotik yang sering digunakan adalah penicillin G. Mediaksi efektif lainnya termasuk
eritromisin, klindamisin dan sefalosporin generasi pertama.

b. Kortikosteroid

Kortikosteroid diberikan pada keadaan sepsis berat.

c. Inotropik

Pemberian obat inotropik seperti dobutamin atau dopamine kadang-kadang diperlukan bila
terdapat komplikasi gangguan sirkulasi atau gagal ginjal pre renal.

d. Terapi oksigen

Terapi oksigen diberikan dengan tujuan untuk mencapai PaO 2 80-100 mmHg atau saturasi
95-96 % berdasarkan pemeriksaan analisa gas darah.

e. Nebulizer

Nebulizer digunakan untuk mengencerkan dahak yang kental. Dapat disertai nebulizer untuk
pemberian bronchodilator bila terdapat bronchospasme.

f. Ventilasi mekanis

Indikasi intubasi dan pemasangan ventilator pada pneumonia :

 Hipoksemia persisten meskipun telah diberikan oksigen 100 % dengan menggunakan


masker

 Gagal nafas yang ditandai oleh peningkatan respiratory distress, dengan atau didapat
asidosis respiratorik.

 Respiratory arrest

 Retensi sputum yang sulit diatasi secara konservatif.

I. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN

1. Identitas pasien
Nama :An. Berry

Umur :7 bulan
Tgl MRS :6 Maret 2011

Tgl pengkajian :6 Maret 2011

2. Penanggung jawab

9|Page
Pneumonia

Nama :Ibu Berry


Umur :45 th

Hub. Dg pasien :Ibu


3. Keluhan Utama

Sesak napas, malas makan dan minum, pilek dan batuk


4. Riwayat penyakit sekarang

Anak Berry dirawat dengan menunjukkan gejala sesak napas, malas makan dan
minum, serta pilek dan batuk.

5. Riwayat kesehatan masa lalu


-(perlu dikaji :

o riwayat alergi

o sesak napas sebelumnya

o riwayat imunisasi

o MRS sebelumnya ).

6. Riwayat penyakit keluarga


- (perlu dikaji :riwayat penyakit saluran napas)

7. Riwayat psikososial
-
8. Pola kebiasaa sehari-hari
a. Nutrisi

(tanyakan pada ibu :


- Pasien minum ASI atau susu formula

- Frekuensi makan atau minum


- Makanan selain ASI

- Nafsu makan
- Kebersihan alat).

b. Pola eliminasi
(tanyakan pada ibu :

- Berapa kali BAB dan BAK

10 | P a g e
Pneumonia

- Frekuensi penggantian popok)


c. Pola aktivitas dan bermain

(tanyakan pada ibu :pasien sudah bias apa (terkait proses tumbuh kembang))
d. Pola istirahat dan tidur

(tanyakan pada ibu :


- Berapa jam rata tidur pasien

- Pola tidur(sering bangun)).


9. Riwayat kehamilan

(tanyakan pada ibu :

 Apakah ada masalah kehamilan?


 Apakah pernah mengkonsumsi obat-obatan saat hamil?)

10. Riwayat persalinan

(tanyakan pada ibu :

 Bagaimana proses persalinannya?


 Berapa lama kehamilannya?
 Berapa berat badan lahirnya?)

11. Riwayat imunisasi

(tanyakan pada ibu :Apakah pasien mendapat imunisasi secara lengkap?)

12. Riwayat tumbuh kembang

(tanyakan pada ibu : Bagaimana proses tumbuh kembangnya?)

13. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum
Somnolen

b. TTV
- RR :55x/mnt

- HR :140x/mnt
- T :37,2ºC

c. Head to toe

11 | P a g e
Pneumonia

1. Kepala
- Mata :simetris

- Hidung:PCH
- Mulut :-

- Telinga:-
b). leher dan tenggorokan

- I :-
- P :-

c). thorak
- I :RR :55x/mnt

- P :RR:55x/mnt,retraksi substernum
- P :-

- A :ronkhi (+)
d). Abdomen

- I :-
- A :-

- P :-
- P :-

e). ekstremitas
-

f). genetalia dan anus


-

g). integument :sianosis


14. Pemeriksaan penunjang

1. Hematologi
- Hb :10,3

- Hematokrit :31
- Trombosit :289.000

- Eritrosit :3,7

12 | P a g e
Pneumonia

- Leukosit :8.600
2. Analisa gas darah

- pH :7,28
- PCO2 :49

- PO2 :53,9
- HCO3 :25,9

3. Foto thoraks
Bercak-bercak infiltrate pada beberapa lobus

ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah keperawatan


DS :Ibu klien mengeluh klien Kuman etiologi Ketidakefektifan bersihan
sesak, pilek dan batuk ↓ jalan napas
DO :-Ronkhi (+) Aspirasi
-RR :55x/mnt ↓
-foto thoraks : Bercak-bercak Reaksi imun
infiltrate pada beberapa ↓
lobus Infeksi sal.napas atas


Secret bronkus ↑


Pertukaran O2 inefektif


Dispnea


Ketidakefektifan bersihan
jalan napas
DS :ibu klien mengeluh sesak Kuman etiologi Gangguan pola napas
napas ↓

13 | P a g e
Pneumonia

DO : -RR :55x/mnt Aspirasi


-foto thoraks : Bercak-bercak ↓
infiltrate pada beberapa Reaksi imun
lobus ↓
-PCH(+) Infeksi sal.napas atas
-sianosis ↓

Infeksi sal.napas bawah


Edema paru

Pengerasan dinding paru


compliance↓

Suplai O2 ↓

Hiperventilasi

Dispnea

PCH/retraksi dada

Gangguan pola napas


DS :ibu klien mengeluh sesak Kuman etiologi Gangguan pertukaran gas
napas,pilek dan batuk ↓
DO : -RR :55x/mnt Aspirasi
-foto thoraks : Bercak-bercak ↓
infiltrate pada beberapa Reaksi imun
lobus ↓

14 | P a g e
Pneumonia

-PCH(+) Infeksi sal.napas atas


-GDA : ↓

pH :7,28 Infeksi sal. Napas bawah


PCO2 :49 ↓

PO2 :53,9 Dilatasi pembuluh darah


HCO3 :25,9 ↓

Eksudat plasma masuk


alveoli


Gangguan eksudat dalam
plasma

Gangguan pertukaran gas

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d. peningkatan produk sekresi

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, jalan napas kembali
efektif

Kriteria Hasil : - Secara verbal, ibu klien menyatakan keluhan sesak menurun
- Ronchii (+)

- RR = 30 – 50*/menit
Intervensi

1. Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas, kecepatan, irama, kedalaman, dan penggunaan
otot bantu napas)

2. Auskultasi area paru. Catat ada / tidaknya aliran udara.


3. Penghisapan sekresi sesuai indikasi: lakukan setiap penghisapan selama 5 detik
dengan selang waktu yg cukup untuk memungkinkan reaksi gerasi (nebulizer).
4. Berikan penatalaksanaan nyeri dengan tepat.

5. Berikan cairan yg adekuat.

15 | P a g e
Pneumonia

6. Jelaskan pentingnya ekspetorasi pada keluarga.

Rasional
1. Penurunan bunyi napas dapat mengindikasikan atelektasis. Ronchii (+) menunjukkan
akumulasi sekret / ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas yg dapat
menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan & peningkatan keja pernapasan

2. Penurunan aliran udara terjadi pada area yg mengalami konsolidasi cairan.


3. Penghisapan sekresi harus dilakukan untuk membersihkan jalan nafas pada pasien yg
tak mampu melakukan batuk efektif / penurunan tingkat kesadaran.
4. Anak-anak / bayi belum mampu menahan rasa sakit saat timbul gejala (sesak napas)
sehingga diperlukan intervensi menangani nyeri.
5. Cairan akan memobilisasi dan mengencerkan sekret.

6. Mengurangi kecemasan keluarga terhadap tindakan pengobatan pada pasien.

2. Pola napas tak efektif b/d proses inflamasi dan penumpukan cairan di dalam rongga
paru

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, klien akan menunjukkkan
pola napas yang kembali normal

Kriteria Hasil : - RR : 30 – 50*/menit

- Ronchii (-)

- Sianosis (-)

- Hasil pemeriksaan thoraks bersih, tidak ada gambaran akumulasi cairan

Intervensi :

1. Kaji fungsi pernapasan, catat kecepatan pernapasan, dispnea, sianosis dan perubahan TTV.

2. Auskultasi bunyi napas.

3. Posisikan klien untuk ventilasi maksimum :

 Hindari pakaian/ bedong yg kuat.

 Gunakan bantal dan bantalan pada bayi untuk membuka jalan napas.

 Periksa posisi klien dengan sering untuk memastikan bahwa anak tidak merosot dan
untuk menghindari penekanan diafragma.

4. Tingkatkan istirahat dan tidur dengan jadwal yg kuat.

16 | P a g e
Pneumonia

5. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi. Aturannya :

 Konsentrasi diatur sesuai kebutuhan anak (biasanya 40-50%) atau 4-6 liter cairan.

 Jangan membiarakan oksigen mengalir langsung ke wajah bayi.

 Pantau warna kulit, pernapasan, dan saturasi Hb.

 Secara periodik analisa konsentrasi oksigen u/ mempertahankan konsentrasi yg


diinginkan.

6. Berikan kenyamanan & ketenangan pada anak.

7. Berikan kortikosteroid sesuai indikasi

3. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan suplai dan perubahan pada membran alveoli
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, klien menunjukkan
perbaikan kapasitas ventilasi dan pertukaran gas

Kriteria hasil : - Dypnea menurun / hilang

- RR = 30 – 50*/menit
- Sianosis (-)

- PCH (-)
- Hasil analisa gas darah normal

Intervensi :
1. Kaji dispnea, bunyi napas, suara tambahan, peningkatan upaya pernapasan dan
kelemahan.
2. Berikan posisi yang normal pada pasien untuk meningkatkan ekspansi paru yang
optimal :
 Tinggikan kepala, kecuali jika dikontraindikasikan/ posisi yg mudah untuk
bernapas.
 Periksa posisi dgn sering karena bila anak-anak merosot ke bawah, abdomen
akan menekan diafragma dan menyebakan pe↓ ekspansi paru.
 Pertahankan kesejajaran tubuh yg tepat.

3. Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.


4. Tingkatkan tirah baring, batasi aktivitas, dan rencanakan periode tidur yang cukup.

17 | P a g e
Pneumonia

5. Awasi TTV dan irama jantung.


6. Sediakan alat-alat & obat darurat untuk mencegah keterlambatan dalam tindakan.

7. Implementasikan tindakan yg menurunkan rasa takut & ansietas saat timbul gejala
penyakit (sesak napas).

8. Awasi (gambarkan nilai GDA)


9. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi. Aturannya :

 Konsentrasi diatur sesuai kebutuhan anak (biasanya 40-50%) atau 4-6 liter
cairan.

 Jangan membiarkan oksigen mengalir langsung ke wajah bayi.


 Pantau warna kulit, pernapasan, dan saturasi Hb.

 Secara periodik analisa konsentrasi oksigen untuk mempertahankan konsentrasi


yg diinginkan.

 Berikan kenyamanan & ketenangan pada anak


Rasional :

1. Gejala distress pernapasan memperberat kerusakan membran alveoli dan suplai


terganggu.

2. Pengiriman dapat diperbaiki dengan posisi yanglebih tinggi dan peningkatan


ekspansi paru akan mengurangi upaya untuk bernapas.

3. Sianosis mungkin perifer (pada kuku) / sentral (sekitar bibir / daun telinga), keabu-
abuan dan sianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.

4. Menurunkan kebutuhan konsumsi oksigen selama periode penurunan pernapasan


mampu menurunkan beratnya gejala.

5. Takikardia, disritmia & perubahan TD dpt menunjukkan efek hipoksia sistemik pada
fungsi jantung.

6. Klien anak-anak / bayi sangat sulit untuk diberikan perawatan yg sesuai & tidak
kooperatif.

7. Ansietas & gelisah akan meningkatkan kebutuhan oksigen pada pasien dan akan
memperberat gejala.

18 | P a g e
Pneumonia

8. Nilai akan meningkatkan jika kebutuhan tubuh meningkatkan. Nilai menurunkan dan
pH darah berubah menjadi pH alkali. Keadaan ini akan menyebabkan terjadinya
hipoksia dgn derajat lebih kecil / lebih besar.
9. Terapi oksigen dapat mengembalikan fungsi jaringan akibat proses penyakit dan
menambah jumlah udara dalam ruang alveoli.

19 | P a g e
Pneumonia

DAFTAR PUSTAKA

Jennifer, P. 2009. Buku Pegangan Uji Diagnostic. Jakarta : EGC.

Ningsih, Nurno, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem R
espirasil. Jakarta: Salemba Medika

Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi (konsep klinis proses – proses penyakit). Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C., Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth ed.8 vol.3. Jakarta: EGC
Scanlon C, Valerie, dkk. 2000. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC

20 | P a g e