Anda di halaman 1dari 3

KH.

Ruhiat Cipasung

KH. RUHIAT CIPASUNG


Seorang Ajengan Patriot

KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah


pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun
generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan
puteranya yaitu KH Iyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah
menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa
dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu.
Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah
haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat.

Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling


berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan
masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya
mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia
pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang
mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Ajengan Patriot

Jika syarat seorang pahlawan nasional adalah mendukung kemerdekaan sejak


awal mula diproklamasikan, maka Ajengan Ruhiat (AR) memenuhi syarat itu. Tak
lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, AR segera
pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di
babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia
menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok
dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan
sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya
menghunus pedangnya itu. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang
melakukan hal itu.

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung,


ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran
menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya
‘mendirikan negara di dalam negara’ itu, karena melihatnya sebagai bughat
(pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu
regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami
keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam
hari, selama tiga tahun lamanya.

www.tris.co.nr 1
KH. Ruhiat Cipasung

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak


kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin
selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustofa. Alasan
penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan
Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas
kolonial. Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya
tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih
kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh
pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH.
Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah
lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul
Ulama (NU).

Kecintaan sang Ajengan pada NU sangat mendalam, oleh karena itu pada saat
Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat
kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi
dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak
tentara Jepang. Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar
dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk
dari perlawanannya--sesuatu yang sudah mereka perhitungkan--, organisasi NU
tidak akan terbawa-bawa dan AR tetap bisa mengembangkan NU di
Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat
lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat.

Karirnya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A’wan (pembantu) Syuriah PBNU


periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan
Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung. Keempat, ia dijebloskan
ke penjara Tasikmalaya selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan
dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa AR seorang
non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan
NICA itu. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda
datang ke pesantren pada waktu ia sedang solat ashar bersama tiga orang
santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan
peluru ke arah mereka yang sedang solat. AR luput dari tembakan, tetapi dua
santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.

Mungkin ia tidak disebut sebagai pahlawan karena tidak pernah menduduki


jabatan dalam pemerintahan, sebab konsisten memilih jalur pendidikan
pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. “Tarekat
Cipasung adalah mengajar santri,” ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi
politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, “Biarlah bagian politik itu
sudah

Sumber : nu.or.id

www.tris.co.nr 2
KH. Ruhiat Cipasung

www.tris.co.nr 3