Anda di halaman 1dari 85

ED PSAK 101 12 Januari 2011

(revisi 2011)
exposure draft

Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan

Penyajian
Laporan Keuangan Syariah
Exposure draft ini dikeluarkan oleh
Dewan Standar Akuntansi Syariah

Tanggapan atas exposure draft ini diharapkan dapat


diterima paling lambat tanggal 30 Juni 2011 oleh
Dewan Standar Akuntansi Syariah

IKATAN AKUNTAN INDONESIA


ED PSAK Pernyataan
101 STANDAR AKUNTANSI keuangan
(revisi 2011)
Penyajian Laporan Keuangan syariah

Hak cipta © 2011, Ikatan Akuntan Indonesia

Dikeluarkan oleh
Dewan Standar Akuntansi Syariah
Ikatan Akuntan Indonesia
Jalan Sindanglaya No. 1
Menteng
Jakarta 10310
Telp: (021) 3190-4232
Fax : (021) 724-5078
Email: iai-info@iaiglobal.or.id, dsak@iaigglobal.or.id

Januari 2011
Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

Exposure draft ini diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi


Syariah hanya untuk ditanggapi dan dikomentari. Saran
dan masukan untuk menyempurnakan exposure draft ini
dimungkinkan sebelum diterbitkannya Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan

Tanggapan tertulis atas exposure draft ini paling lambat


diterima pada 30 Juni 2011. Tanggapan dikirimkan ke:

Dewan Standar Akuntansi Syariah


Ikatan Akuntan Indonesia
Jl. Sindanglaya No.1, Menteng,
Jakarta 10310

Fax: 021 724-5078


E-mail: iai-info@iaiglobal.or.id, dsak@iaiglobal.or.id

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia

Exposure draft dibuat dengan tujuan untuk penyiapan


tanggapan dan komentar yang akan dikirimkan ke Dewan
Standar Akuntansi Syariah. Penggandaan exposure draft oleh
individu/organisasi/lembaga dianjurkan dan diizinkan untuk
penggunaan di atas dan tidak untuk diperjualbelikan.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia iii


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

PENGANTAR

Dewan Standar Akuntansi Syariah telah menyetujui exposure draft


PSAK 101 (revisi 2011) tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah
dalam rapat pada tanggal 12 Januari 2011 untuk disebarluaskan dan
ditanggapi oleh perusahaan, regulator, perguruan tinggi, pengurus
dan anggota IAI, dan pihak lain.

Tanggapan akan sangat berguna jika memaparkan permasalahan


secara jelas dan alternatif saran yang didukung dengan alasan.

Exposure draft ini disebarluaskan dalam bentuk buku, sisipan


dokumen dalam majalah Akuntan Indonesia, dan situs IAI: www.
iaiglobal.or.id

Jakarta, 12 Januari 2011


Dewan Standar Akuntansi Syariah

M. Jusuf Wibisana Ketua


Agus Edy Siregar Anggota
Amin Musa Anggota
Arif Machfoed Anggota
Cecep Maskanul Hakim Anggota
Dewi Astuti Anggota
Dwi Yanto Anggota
Endy M. Estiwara Anggota
Hasanudin Anggota
Ikhwan A. Basri Anggota
Kalamuddinsjah Anggota
Kanny Hidaya Anggota
Setiawan Budi Utomo Anggota
Sri Yanto Anggota
Wasilah Anggota
Wiroso Anggota

iv Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

vi Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

PERMINTAAN TANGGAPAN

Penerbitan ED PSAK 101 (revisi 2011): Penyajian Laporan


Keuangan Syariah bertujuan untuk meminta tanggapan atas
semua pengaturan dan paragraf dalam ED PSAK 101 (revisi
2011) tersebut.

Untuk memberikan panduan dalam memberikan tanggapan,


berikut ini hal yang diharapkan masukannya:

1. FORMAT LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF


(PARAGRAF 80)
Secara umum format penyajian laporan laba rugi
komprehensif adalah sebagai berikut:
• Satu laporan laba rugi komprehensif (untuk menyajikan
komponen laba rugi dan komponen pendapatan
komprehensif lain); atau
• Satu laporan laba rugi (untuk menyajikan komponen
laba rugi) dan satu laporan laba rugi komprehensif
(untuk menyajikan saldo laba rugi dan komponen
pendapatan komprehensif lain).

Untuk penyajian laporan keuangan syariah, terdapat tiga


pendekatan terkait dengan penyajian laporan laba rugi
komprehensif yaitu:
• Laporan laba rugi komprehensif disajikan dalam satu
format laporan atau dua format laporan sebagaimana
yang diatur dalam PSAK 1: Penyajian Laporan
Keuangan. Berdasarkan pendekatan ini, entitas syariah
diberikan pilihan format penyajian laporan laba rugi
komprehensif. Hal ini supaya sejalan dengan ketentuan
dalam PSAK 1.
• Laporan laba rugi komprehensif disajikan dalam satu
format laporan. Berdasarkan pendekatan ini, hanya
satu format penyajian laporan laba rugi komprehensif
yang dapat digunakan oleh entitas syariah. Hal ini
supaya meningkatkan daya banding antar entitas
syariah. Menurut pendapat ini, komponen pendapatan

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia vii


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

komprehensif lain yang dimiliki oleh entitas syariah


akan lebih sedikit dibandingkan entitas konvensional.
Perbandingan pendapatan komprehensif lain yang akan
dimiliki oleh entitas syariah adalah sebagai berikut:

Entitas Entitas syariah Keterangan


konvensional
Surplus Surplus revaluasi
revaluasi aset aset tetap
tetap
Keuntungan Keuntungan
atau kerugian atau kerugian
aktuarial aktuarial
Keuntungan Keuntungan
atau kerugian atau kerugian
kurs penjabaran kurs penjabaran
laporan laporan keuangan
keuangan entitas asing
entitas asing
Keuntungan
atau kerugian
dari aset
keuangan
“tersedia untuk
dijual”

Bagian efektif Saat ini entitas syariah tidak


dari keuntungan diizinkan untuk melakukan
atau kerugian transaksi lindung nilai.
lindung nilai
arus kas

• Laporan laba rugi komprehensif disajikan dalam dua


format laporan. Berdasarkan pendekatan ini, laporan
laba rugi komprehensif yang sesuai dengan entitas
syariah adalah dua format laporan, dengan tujuan
untuk mengurangi potensi kesalahan pemahaman
oleh pengguna laporan keuangan. Misalnya untuk
mengurangi kebingungan dasar pembagian dividen
apakah berdasarkan laba rugi atau laba komprehensif.

ED PSAK 101 (revisi 2011) menggunakan pendekatan

viii Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

ketiga yaitu laporan laba rugi komprehensif disajikan


dalam dua format laporan.

Apakah anda setuju laporan laba rugi komprehensif


disajikan dalam dua format laporan?

2. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN (PARAGRAF


134)

Entitas dalam menjalankan operasinya akan dihadapkan


pada situasi yang mengharuskan untuk membuat estimasi
mengenai masa depan, menggunakan asumsi yang memiliki
risiko signifikan yang dapat mengakibatkan penyesuaian
material terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam
periode pelaporan berikutnya. Salah satu asumsi yang
digunakan adalah tingkat suku bunga/diskonto, yang
dianggap tidak sesuai dengan prinsip syariah. Hal ini
terjadi, misalnya, ketika menghitung kewajiban imbalan
kerja berdasarkan PSAK 24: Imbalan Kerja.

Terkait dengan penggunaan faktor bunga/diskonto


dalam pengungkapan untuk pengukuran pos-pos laporan
keuangan yang disajikan oleh entitas syariah, terdapat dua
pendekatan yaitu:
• Pertama, penggunaan faktor bunga/diskonto diatur di
SAK konvensional bukan dalam SAK syariah, dan
jika entitas syariah menerapkan SAK konvensional
tersebut maka entitas syariah menerapkannya secara
penuh. Pengaturan dalam ED PSAK 101 (revisi 2011)
yang menyebutkan faktor bunga/diskonto bukan
menjustifikasi penggunaannya dalam akuntansi
syariah. Pendekatan ini berasumsi bahwa hal tersebut
tidak terkait langsung dengan SAK syariah.
• Kedua, penggunaan faktor bunga/diskonto dalam ED
PSAK 101 (revisi 2011) akan menimbulkan kesalahan
pemahaman, seolah-olah menjustifikasi penggunaan
faktor bunga/diskonto dalam akuntansi syariah,

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia ix


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

walaupun faktor bunga/diskonto yang dimaksud


digunakan dalam konteks SAK konvensional bukan
dalam konteks SAK syariah. Namun, jika hal tersebut
disebutkan dalam ED PSAK 101 (revisi 2011), maka
akan berpotensi menimbulkan pertentangan dengan
konsep pengukuran yang digunakan dalam SAK
syariah (dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan Syariah secara eksplisit
disebutkan bahwa faktor bunga tidak digunakan dalam
akuntansi syariah). Saat ini, kajian untuk mencari
alternatif pengganti faktor bunga/diskonto masih
sedang dilakukan.

ED PSAK 101(revisi 2011) menggunakan pendekatan


kedua yaitu faktor bunga/diskonto tidak diungkapkan
terkait dengan sumber estimasi ketidakpastian yang
dihadapi oleh entitas syariah.

Apakah anda setuju entitas syariah tidak


mengungkapkan faktor suku bunga/diskonto terkait
dengan sumber estimasi ketidakpastian? Jika tidak
menggunakan hal tersebut, menurut anda apakah
alternatif penggantinya?

3. TANGGAL EFEKTIF (PARAGRAF 147)

ED PSAK 101 (revisi 2011) diterapkan untuk laporan


keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2012 dan
diperkenankan penerapan dini.

Alternatif lainnya, tanggal efektif ED PSAK 101 (revisi


2011) adalah 1 Januari 2011. Hal ini untuk meningkatkan
daya banding antara entitas syariah dan entitas konvensional
(yang menggunakan PSAK 1 (revisi 2009) dan efektif 1
Januari 2011) dan adanya keterkaitan penyajian laporan
keuangan dengan SAK lain yang sudah menggunakan
konsep ED PSAK 101 (revisi 2011), jika hal ini tidak

 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

dilakukan maka akan menimbulkan pertentangan konsep


penyajian laporan keuangan bagi entitas syariah.

Apakah anda setuju diterapkan 1 Januari 2012 dan boleh


penerapan dini?

4. KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN BANK


SYARIAH (PARAGRAF A01(E) DAN A07-A12)

Salah satu komponen laporan keuangan bank syariah


adalah laporan perubahan dana investasi terikat. Laporan
keuangan tersebut disusun dalam hal bank syariah
menerima dana dengan skema keagenan, bank syariah
sebagai agen investasi.

Terdapat dua pendekatan terkait dengan penyajian laporan


perubahan dana investasi terikat bagi bank syariah yaitu:
• Laporan perubahan dana investasi terikat bukan
sebagai komponen laporan keuangan lengkap bank
syariah. Pertimbangannya tidak semua bank syariah
melakukan transaksi keagenan investasi, sehingga
penyajian laporan perubahan dana investasi terikat
sebagai bagian laporan keuangan lengkap bank syariah
tidak sesuai dengan karakteristik kualitatif laporan
keuangan syariah yaitu relevan. Hal ini juga konsisten
dengan komponen laporan keuangan asuransi syariah
(lihat paragraf B01).
• Laporan perubahan dana investasi terikat sebagai
komponen laporan keuangan lengkap bank syariah.
Pertimbangannya masih ada bank syariah yang
melakukan transaksi keagenan investasi dan regulasi
yang berlaku bagi bank syariah mensyaratkan
penyajian komponen laporan keuangan tersebut.

Apakah anda setuju bank syariah tidak wajib menyajikan


laporan perubahan dana investasi terikat?

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia xi


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

5. PENGUNGKAPAN PENYIMPANGAN TERHADAP


SAK

PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan mengizinkan


entitas untuk mengungkapkan bahwa suatu PSAK telah
menyimpang dari tujuan laporan keuangan yang diatur
dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan (KDPPLK).

Dalam ED PSAK 101 (revisi 2011) pengungkapan tersebut


tidak diperkenankan dengan pertimbangan sebagai
berikut:
• SAK syariah dikembangkan berdasarkan Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah (KDPPLK Syariah). Sehingga dapat
dipastikan bahwa pengaturan dalam SAK syariah
tidak bertentangan dengan tujuan laporan keuangan
yang diatur dalam KDPPLK Syariah. Hal ini berbeda
dengan SAK konvensional yang dikembangkan
lebih dulu dibandingkan dengan KDPPLK, sehingga
ada kemungkinan pengaturan SAK konvensional
bertentangan dengan tujuan laporan keuangan dalam
KDPPLK.
• Proses penyusunan SAK syariah harus melewati
verifikasi aspek kesyariahan dari Majelis Ulama
Indonesia. Hal ini memastikan bahwa tidak ada
penyimpangan pengaturan dalam SAK syariah.

Apakah anda setuju dengan tidak


diperkenankannya untuk membuat pengungkapan
tentang penyimpangan SAK syariah?

xii Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

IKHTISAR RINGKAS

Secara umum perbedaan antara ED PSAK 101 (revisi 2011):


Penyajian Laporan Keuangan Syariah dengan PSAK 101:
Penyajian Laporan Keuangan Syariah adalah sebagai
berikut:

ED PSAK 101
Perihal PSAK 101
(revisi 2011)
Definisi SAK Pernyataan dan Interpre- Tidak diatur
tasi yang dikeluarkan oleh
DSAK dan DSAS IAI
Tujuan laporan Tambahan informasi ten- Tidak diatur
keuangan tang kontribusi dari dan
distribusi kepada pemilik
dalam kapasitasnya se-
bagai pemilik (transaksi
ekuitas)
Pos luar biasa Tidak diperkenankan Diperkenankan
Laporan posisi Laporan posisi keuangan Laporan posisi keuangan
keuangan kom- komparatif disajikan un- komparatif disajikan un-
p ar a t if ak i b a t tuk posisi awal periode tuk akhir periode sajian
akibat penera- sajian (selain akhir peri-
pan kebijakan ode sajian)
akuntansi secara
retrospektif, pe-
nyajian kembali,
dan reklasifikasi
pos
Komponen lapo- • Laporan posisi • Neraca
ran keuangan keuangan • Laporan laba rugi
• Laporan laba rugi • Laporan perubahan
komprehensif ekuitas
• Laporan perubahan • Laporan arus kas
ekuitas • Laporan sumber
• Laporan arus kas dan penggunaan
• Laporan sumber dan dana zakat
penggunaan dana • Laporan sumber
zakat dan penggunaan
• Laporan sumber dan dana kebajikan
penggunaan dana • Catatan atas
kebajikan laporan keuangan
• Catatan atas laporan
keuangan
Laporan laba rugi • Laporan laba rugi Laporan laba rugi
komprehensif • Laporan laba rugi
komprehensif
Pengungkapan Tujuan, kebijakan, dan Tidak diatur
permodalan proses mengelola per-
modalan

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia xiii


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

DAFTAR ISI

Paragraf
PENDAHULUAN .................................................. 01-08
Tujuan .................................................................... 01
Ruang lingkup . ........................................................ 02-06
Definisi .................................................................... 07-08

LAPORAN KEUANGAN ..................................... 09-45


Tujuan laporan keuangan ......................................... 09
Komponen laporan keuangan .................................. 10-16
Tanggung jawab atas laporan keuangan .................. 17
Karakteristik umum ................................................. 18-45
Penyajian secara wajar dan kepatuhan
terhadap SAK ..................................................... 18-23
Kelangsungan usaha ........................................... 24-25
Dasar akrual . ...................................................... 26-27
Materialitas dan agregasi . .................................. 28-30
Saling hapus ....................................................... 31-34
Frekuensi pelaporan ........................................... 35-36
Informasi komparatif .......................................... 37-43
Konsistensi penyajian . ....................................... 44-45

STRUKTUR DAN ISI ........................................... 46-146


Pendahuluan . ........................................................... 46-47
Identifikasi laporan keuangan .................................. 48-52
Laporan posisi keuangan ......................................... 53-79
Informasi yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan .................................................. 53-58
Pembedaan aset lancar dan tidak lancar
serta liabilitas jangka pendek dan jangka panjang 59-64
Aset lancar ......................................................... 65-67
Liabilitas jangka pendek .................................... 68-75
Informasi yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan atau catatan atas
laporan keuangan ............................................... 76-79
Laporan laba rugi komprehensif .............................. 80-103
Informasi yang disajikan dalam laporan
laba rugi komprehensif ...................................... 81-86
Laba rugi ............................................................ 87-88
Pendapatan komprehensif lain............................ 89-94

xiv Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

Informasi yang disajikan dalam laporan


laba rugi komprehensif atau catatan
atas laporan keuangan ........................................ 95-103
Laporan perubahan ekuitas ...................................... 104-108
Laporan arus kas ...................................................... 109
Laporan sumber dan penggunaan dana zakat........... 110-114
Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan.... 115-119
Catatan atas laporan keuangan . ............................... 120-146
Struktur ............................................................... 120-124
Pengungkapan kebijakan akuntansi..................... 125-132
Sumber estimasi ketidakpastian........................... 133-141
Modal................................................................... 142-144
Pengungkapan lain............................................... 145-146
TANGGAL EFEKTIF............................................ 147
PENARIKAN ......................................................... 148
LAMPIRAN A
LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH
Komponen laporan keuangan................................... A01
Laporan posisi keuangan ......................................... A02
Laporan laba rugi komprehensif............................... A03
Laporan perubahan ekuitas....................................... A04
Laporan arus kas....................................................... A05
Laporan perubahan dana investasi terikat................. A06-A12
Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil....... A13-A15
Laporan sumber dan penggunaan dana zakat........... A16
Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan.... A17
Catatan atas laporan keuangan.................................. A18
LAMPIRAN B
LAPORAN KEUANGAN ENTITAS
ASURANSI SYARIAH
Komponen laporan keuangan................................... B01-B03
Laporan posisi keuangan ......................................... B04
Laporan surplus defisit underwriting dana tabarru’.. B05
Laporan perubahan dana tabarru'.............................. B06
Laporan laba rugi komprehensif............................... B07
Laporan perubahan ekuitas....................................... B08
Laporan arus kas....................................................... B09
Laporan sumber dan penggunaan dana zakat........... B10
Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan.... B11
Catatan atas laporan keuangan.................................. B12

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia xv


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


2 NO.101
3
4 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH
5
6 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101 (revisi 2011):
7 Penyajian Laporan Keuangan Syariah terdiri dari paragraf
8 1-148 dan Lampiran. Seluruh paragraf dalam PSAK ini
9 memiliki kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang
10 dicetak dengan huruf tebal dan miring mengatur prinsip-
11 prinsip utama. PSAK 101 (revisi 2011) harus dibaca dalam
12 kontek tujuan pengaturan dan Kerangka Dasar Penyusunan
13 dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. PSAK 25:
14 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi,
15 dan Kesalahan memberikan dasar untuk memilih dan
16 menerapkan kebijakan akuntansi ketika tidak ada panduan
17 yang eksplisit. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk
18 unsur yang tidak material.
19
20 PENDAHULUAN
21
22 Tujuan
23
24 01. Pernyataan ini menetapkan dasar bagi penyajian
25 laporan keuangan bertujuan umum untuk entitas syariah
26 yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar dapat
27 dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode
28 sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas syariah
29 lain. Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian
30 laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan
31 minimal isi laporan keuangan.
32
33 Ruang Lingkup
34
35 02. Entitas syariah menerapkan Pernyataan ini dalam
36 penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan
37 umum sesuai dengan SAK.
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 03. Entitas syariah yang dimaksud di Pernyataan ini


2 adalah entitas yang melaksanakan transaksi syariah sebagai
3 kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dinyatakan
4 dalam anggaran dasarnya.
5
6 04. SAK lain mengatur persyaratan pengakuan,
7 pengukuran, dan pengungkapan transaksi dan peristiwa lain.
8
9 05. Pernyataan ini menggunakan terminologi yang
10 cocok bagi entitas syariah yang berorientasi laba, termasuk
11 entitas bisnis syariah sektor publik. Jika entitas syariah tidak
12 berorientasi laba menerapkan Pernyataan ini, maka entitas
13 tersebut perlu menyesuaikan deskripsi beberapa pos yang
14 terdapat dalam laporan keuangan dan istilah laporan keuangan
15 itu sendiri.
16
17 06. Entitas syariah seperti reksa dana dan entitas
18 yang modalnya tidak terbagi atas saham, misalnya koperasi,
19 memerlukan penyesuaian terhadap penyajian dalam laporan
20 keuangannya.
21
22 Definisi
23
24 07. Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan
25 dalam Pernyataan ini:
26
27 Catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan
28 keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang
29 disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi
30 komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus
31 kas, laporan sumber dan penggunaan zakat, dan laporan
32 sumber dan penggunaan dana kebajikan. Catatan atas
33 laporan keuangan memberikan penjelasan atau rincian
34 dari pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan dan
35 informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuhi kriteria
36 pengakuan dalam laporan keuangan.
37
38

101. Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak


2 termasuk komponen pendapatan komprehensif lain.
3
4 Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut
5 sebagai ’laporan keuangan’) adalah laporan keuangan
6 yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama
7 sebagian besar pengguna laporan.
8
9 Material. Kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan
10 dalam mencatat pos laporan keuangan adalah material
11 jika, baik secara sendiri maupun bersama, dapat
12 mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan
13 keuangan. Materialitas bergantung pada ukuran dan sifat
14 dari kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam
15 mencatat tersebut dengan memperhatikan kondisi terkait.
16 Ukuran atau sifat dari pos laporan keuangan tersebut, atau
17 gabungan dari keduanya, dapat menjadi faktor penentu.
18
19 Penilaian apakah suatu kelalaian dalam mencantumkan atau
20 kesalahan dalam mencatat dapat memengaruhi keputusan
21 ekonomi dari pengguna laporan keuangan, dan dengan
22 demikian menjadi material, membutuhkan pertimbangan
23 mengenai karakteristik dari setiap pengguna laporan tersebut.
24 Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
25 Keuangan Syariah paragraf 45 menyatakan bahwa “pengguna
26 laporan keuangan diasumsikan memiliki pengetahuan yang
27 memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi
28 serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan
29 ketekunan yang wajar”. Oleh karena itu, penilaian tersebut
30 perlu memerhatikan bagaimana pengguna laporan keuangan
31 dengan karakteristik tersebut diharapkan terpengaruh dalam
32 membuat keputusan ekonomi.
33
34 Pemilik adalah pemegang instrumen yang diklasifikasikan
35 sebagai ekuitas.
36
37 Pendapatan komprehensif lain berisi pos pendapatan dan
38 beban (termasuk penyesuaian reklasifikasi) yang tidak

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 diakui dalam laba rugi sebagaimana disyaratkan oleh SAK


2 lain.
3
4 Komponen pendapatan komprehensif lain mencakup:
5 (a) perubahan dalam surplus revaluasi (lihat PSAK 16: Aset
6 Tetap dan PSAK 19: Aset Takberwujud);
7 (b) keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat
8 pasti yang diakui sesuai dengan PSAK 24: Imbalan
9 Kerja;
10 (c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran
11 laporan keuangan dari entitas asing (lihat PSAK 10:
12 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing).
13
14 Penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi
15 ke bagian laba rugi periode berjalan yang sebelumnya
16 diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada periode
17 berjalan atau periode sebelumnya.
18
19 Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan
20 dan Interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar
21 Akuntansi Keuangan dan Dewan Standar Akuntansi
22 Syariah Ikatan Akuntan Indonesia.
23
24 Tidak praktis. Penerapan suatu persyaratan dianggap tidak
25 praktis jika entitas syariah tidak dapat menerapkannya
26 setelah melakukan segala upaya yang rasional.
27
28 Total laba komprehensif adalah perubahan ekuitas selama
29 satu periode yang dihasilkan dari transaksi dan peristiwa
30 lain, selain perubahan yang dihasilkan dari transaksi
31 dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.
32
33 Total laba komprehensif terdiri dari komponen “laba rugi”
34 dan “pendapatan komprehensif lain”.
35
36 08. Meskipun Pernyataan ini menggunakan istilah
37 “pendapatan komprehensif lain”, “laba rugi”, dan “total laba
38 komprehensif”, entitas syariah dapat menggunakan istilah

101. Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 lain untuk menjelaskan jumlah tersebut sepanjang maksudnya


2 jelas. Misalnya, entitas dapat menggunakan istilah “laba neto”
3 untuk menggambarkan laba rugi.
4
5 LAPORAN KEUANGAN
6
7 Tujuan Laporan Keuangan
8
9 09. Laporan keuangan adalah suatu penyajian
10 terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu
11 entitas syariah. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan
12 informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
13 arus kas entitas syariah yang bermanfaat bagi sebagian besar
14 pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan
15 ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil
16 pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber
17 daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka
18 mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan
19 informasi mengenai entitas syariah yang meliputi:
20 (a) aset;
21 (b) liabilitas;
22 (c) dana syirkah temporer;
23 (d) ekuitas;
24 (e) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan
25 kerugian;
26 (f) kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam
27 kapasitasnya sebagai pemilik;
28 (g) arus kas;
29 (h) dana zakat; dan
30 (i) dana kebajikan.
31 Informasi tersebut, beserta informasi lain yang terdapat dalam
32 catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan
33 keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan dan,
34 khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas
35 dan setara kas.
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Komponen Laporan Keuangan


2
3 10. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari
4 komponen berikut ini:
5 (a) laporan posisi keuangan pada akhir periode;
6 (b) laporan laba rugi komprehensif selama periode;
7 (c) laporan perubahan ekuitas selama periode;
8 (d) laporan arus kas selama periode;
9 (e) laporan sumber dan penggunaan dana zakat selama
10 periode;
11 (f) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan
12 selama periode;
13 (g) catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan
14 kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan
15 lain; dan
16 (h) laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif
17 yang disajikan ketika entitas syariah menerapkan suatu
18 kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat
19 penyajian kembali pos laporan keuangan, atau ketika
20 entitas syariah mereklasifikasi pos dalam laporan
21 keuangannya.
22
23 11. Entitas syariah menyajikan semua komponen
24 laporan keuangan lengkap dengan tingkat keutamaan yang
25 sama.
26
27 12. Jika entitas syariah merupakan lembaga
28 keuangan, selain komponen laporan keuangan yang
29 disebutkan di paragraf 10, maka entitas syariah juga
30 menyajikan komponen laporan keuangan tambahan yang
31 menjelaskan karakteristik utama entitas syariah tersebut
32 jika substansi informasinya belum tercakup di paragraf 10.
33
34 13. Komponen tambahan dan penyajian pos-pos
35 laporan keuangan yang mencerminkan karakteristik
36 khusus untuk industri tertentu akan diatur dalam lampiran
37 Pernyataan ini yang merupakan bagian yang tidak
38 terpisahkan.

101. Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 14. Jika entitas syariah belum melaksanakan fungsi


2 sosial secara penuh, maka entitas syariah tetap menyajikan
3 komponen laporan keuangan di paragraf 10(e) dan (f).
4
5 15. Beberapa entitas syariah menyajikan, terpisah dari
6 laporan keuangan, suatu kajian keuangan oleh manajemen
7 yang menjelaskan karakteristik utama dari kinerja keuangan
8 dan posisi keuangan, dan kondisi ketidakpastian utama yang
9 dihadapi. Laporan tersebut dapat meliputi kajian mengenai:
10 (a) faktor dan pengaruh utama yang menentukan kinerja
11 keuangan, termasuk perubahan lingkungan tempat entitas
12 syariah beroperasi, tanggapan terhadap perubahan dan
13 pengaruhnya, dan kebijakan investasi untuk memelihara
14 serta meningkatkan kinerja keuangannya, termasuk
15 kebijakan dividen;
16 (b) sumber pendanaan dan target rasio liabilitas terhadap
17 ekuitas; dan
18 (c) sumber daya yang tidak diakui dalam laporan posisi
19 keuangan sesuai dengan SAK.
20
21 16. Entitas syariah dapat pula menyajikan, terpisah dari
22 laporan keuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan
23 laporan nilai tambah, khususnya bagi industri yang faktor
24 lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri
25 yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna
26 laporan keuangan yang memegang peranan penting. Laporan
27 tambahan tersebut di luar ruang lingkup SAK.
28
29 Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan
30
31 17. Manajemen bertanggungjawab atas penyusunan
32 dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.
33
34 Karakteristik Umum
35
36 Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK
37
38 18. Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas


2 syariah. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian
3 secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi
4 lain, sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset,
5 liabilitas, dana syirkah temporer, pendapatan, dan beban
6 yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan
7 Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Penerapan SAK,
8 dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap
9 menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
10
11 19. Entitas syariah yang laporan keuangannya telah
12 patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit
13 dan tanpa terkecuali tentang kepatuhan terhadap SAK
14 dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas syariah
15 tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah
16 patuh terhadap SAK kecuali laporan keuangan telah patuh
17 terhadap semua persyaratan dalam SAK.
18
19 20. Dalam hal tidak ada PSAK yang secara spesifik
20 berlaku untuk transaksi, peristiwa atau kondisi lain,
21 maka manajemen menggunakan pertimbangannya dalam
22 mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan
23 akuntansi yang menghasilkan informasi yang:
24 (a) relevan untuk kebutuhan pengambilan keputusan
25 ekonomi pengguna laporan keuangan; dan
26 (b) andal, dalam laporan keuangan yang:
27 (i) menyajikan secara jujur posisi keuangan, kinerja
28 keuangan, dan arus kas;
29 (ii) mencerminkan substansi ekonomi transaksi,
30 peristiwa, atau kondisi lain, dan bukan hanya
31 bentuk hukum;
32 (iii) netral, yaitu bebas dari bias;
33 (iv) pertimbangan sehat; dan
34 (v) lengkap dalam semua hal yang material.
35
36 21. Dalam hampir semua kondisi, entitas syariah
37 mencapai penyajian laporan keuangan secara wajar dengan
38 memenuhi SAK yang relevan. Penyajian secara wajar juga

101. Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 mensyaratkan entitas syariah untuk:


2 (a) memilih dan menerapkan kebijakan yang sesuai
3 dengan prinsip syariah. Manajemen mengacu dan
4 mempertimbangkan keterterapan dari sumber berikut ini
5 sesuai dengan urutan menurun:
6 (i) definisi, kriteria pengakuan, dan konsep pengukuran
7 untuk aset, liabilitas, dana syirkah temporer, penghasilan,
8 dan beban dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan
9 Penyajian Laporan Keuangan Syariah;
10 (ii) persyaratan dan panduan dalam SAK umum yang
11 sesuai dengan syariah, yang berhubungan dengan
12 masalah serupa dan terkait; dan
13 (iii) standar akuntansi terkini yang dikeluarkan oleh badan
14 penyusun standar akuntansi lain yang menggunakan
15 kerangka dasar yang sama untuk mengembangkan
16 standar akuntansi, literatur akuntansi lain, dan
17 praktik akuntansi industri yang berlaku, sepanjang
18 tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
19 (b) menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi,
20 sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi
21 yang relevan, andal, dapat dibandingkan, dan mudah
22 dipahami.
23 (c) memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian
24 dengan persyaratan spesifik dalam SAK tidak cukup bagi
25 pengguna laporan keuangan untuk memahami pengaruh
26 dari transaksi, peristiwa, dan kondisi lain tertentu terhadap
27 posisi keuangan dan kinerja keuangan.
28
29 22. Entitas syariah tidak dapat memperbaiki kebijakan
30 akuntansi yang tidak tepat baik dengan pengungkapan
31 kebijakan akuntansi yang digunakan maupun
32 pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan atau
33 materi penjelasan.
34
35 23. Dalam hal tidak ada PSAK syariah yang
36 mengatur transaksi, peristiwa, atau kondisi lain, maka
37 dianjurkan untuk mengacu ke SAK umum, sepanjang tidak
38 bertentangan dengan prinsip syariah.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Kelangsungan Usaha
2
3 24. Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen
4 membuat penilaian tentang kemampuan entitas syariah
5 untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas
6 syariah menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi
7 kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan
8 untuk melikuidasi entitas syariah atau menghentikan
9 perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lain yang
10 realistis selain melakukannya. Jika manajemen menyadari
11 (dalam membuat penilaian) mengenai adanya ketidakpastian
12 yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi
13 yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang
14 kemampuan entitas syariah untuk mempertahankan
15 kelangsungan usaha, maka entitas syariah mengungkapkan
16 ketidakpastian tersebut. Jika entitas syariah menyusun
17 laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan
18 usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut,
19 bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan
20 laporan keuangan dan alasan mengapa entitas syariah tidak
21 dipertimbangkan dapat menggunakan asumsi kelangsungan
22 usaha.
23
24 25. Dalam mempertimbangkan apakah dasar asumsi
25 kelangsungan usaha adalah tepat, manajemen memperhatikan
26 semua informasi masa depan, paling sedikit (namun tidak
27 dibatasi untuk) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan.
28 Tingkat pertimbangan bergantung pada fakta dari setiap
29 kasus. Jika selama ini entitas syariah menghasilkan laba
30 dan mempunyai akses ke sumber pendanaan, maka dapat
31 disimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai
32 tanpa melalui analisis rinci. Dalam kasus lain, manajemen
33 perlu memperhatikan faktor yang mempengaruhi profitabilitas
34 masa kini maupun masa depan, jadwal pembayaran utang,
35 dan sumber potensial pendanaan pengganti sebelum dapat
36 menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah
37 sesuai.
38

101.10 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Dasar Akrual
2
3 26. Entitas syariah menyusun laporan keuangan atas
4 dasar akrual, kecuali laporan arus kas dan penghitungan
5 pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha. Dalam
6 penghitungan pembagian hasil usaha didasarkan pada
7 pendapatan yang benar-benar telah direalisasikan menjadi
8 kas (dasar kas).
9
10 27. Jika akuntansi berdasarkan akrual digunakan,
11 entitas syariah mengakui pos-pos sebagai aset, liabilitas,
12 dana syirkah temporer, ekuitas, penghasilan, dan beban
13 (unsur unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut
14 memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur-unsur
15 dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
16 Keuangan Syariah.
17
18 Materialitas dan Agregasi
19
20 28. Entitas syariah menyajikan secara terpisah
21 kelompok pos sejenis yang material. Entitas menyajikan
22 secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi
23 berbeda kecuali pos tersebut tidak material.
24
25 29. Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan
26 sejumlah transaksi atau peristiwa lain yang diklasifikasikan
27 sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses
28 penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam
29 laporan keuangan. Jika suatu klasifikasi pos tidak material,
30 maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis dalam
31 laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan.
32 Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan
33 terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup material untuk
34 disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.
35
36 30. Entitas syariah tidak perlu untuk memberikan suatu
37 pengungkapan spesifik yang diminta oleh suatu PSAK jika
38 informasi tersebut tidak material.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.11


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Saling Hapus
2
3 31. Entitas syariah tidak boleh melakukan saling
4 hapus atas aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer atau
5 penghasilan dan beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan
6 oleh suatu PSAK.
7
8 32. Entitas syariah melaporkan secara terpisah untuk
9 aset, liabilitas, dana syirkah temporer serta penghasilan dan
10 beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau
11 laporan posisi keuangan mengurangi kemampuan pengguna
12 laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa
13 dan kondisi lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus
14 kas di masa depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan
15 substansi transaksi atau peristiwa lain. Pengukuran aset
16 secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya,
17 penyisihan keusangan atas persediaaan dan penyisihan piutang
18 tidak tertagih) bukan termasuk kategori saling hapus.
19
20 33. PSAK 23: Pendapatan mendefinisikan pendapatan
21 dan mensyaratkan untuk mengukurnya berdasarkan nilai
22 wajar dari jumlah yang diterima atau akan diterima, dengan
23 mempertimbangkan jumlah potongan dagang dan rabat
24 volume yang diperbolehkan. Dalam aktivitas normal, entitas
25 syariah juga melakukan transaksi lain yang bukan merupakan
26 penghasil utama pendapatan dan bersifat insidentil.
27 Entitas menyajikan hasil dari transaksi tersebut dengan
28 mengurangkan setiap penghasilan dengan beban terkait yang
29 timbul dari transaksi yang sama sepanjang penyajian tersebut
30 mencerminkan substansi dari transaksi atau peristiwa lain.
31 Misalnya:
32 (a) entitas syariah menyajikan keuntungan dan kerugian
33 atas pelepasan aset tidak lancar, termasuk investasi dan
34 aset operasional, dilaporkan dengan mengurangkan
35 penerimaan dari pelepasan dengan jumlah tercatat dan
36 beban yang timbul dari pelepasan aset tersebut;
37 (b) entitas syariah dapat mengurangkan pengeluaran yang
38 terkait dengan provisi yang diakui sesuai dengan PSAK

101.12 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi


2 dan diganti berdasarkan perjanjian kontraktual dengan
3 pihak ketiga (seperti perjanjian garansi dari pemasok)
4 dengan penggantian yang diterima.
5
6 34. Entitas syariah menyajikan keuntungan dan kerugian
7 yang timbul dari suatu kelompok transaksi yang sejenis
8 secara neto, misalnya keuntungan dan kerugian dari transaksi
9 valuta asing. Namun, entitas syariah menyajikan keuntungan
10 dan kerugian tersebut secara terpisah jika keuntungan atau
11 kerugian tersebut material.
12
13 Frekuensi Pelaporan
14
15 35. Entitas syariah menyajikan laporan keuangan
16 lengkap (termasuk informasi komparatif) setidaknya secara
17 tahunan. Jika akhir periode pelaporan berubah dan laporan
18 keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih
19 panjang atau lebih pendek daripada periode satu tahun,
20 sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan
21 keuangan, maka entitas syariah mengungkapkan:
22 (a) alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih
23 panjang atau lebih pendek; dan
24 (b) fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan
25 keuangan tidak dapat dibandingkan secara
26 keseluruhan.
27
28 36. Umumnya entitas syariah secara konsisten
29 menyiapkan laporan keuangan untuk periode satu tahun.
30 Namun, untuk alasan praktis, beberapa entitas syariah lebih
31 memilih untuk melaporkan, sebagai contoh, untuk periode
32 lima puluh dua minggu. Pernyataan ini tidak menghalangi
33 praktik tersebut.
34
35 Informasi Komparatif
36
37 37. Informasi kuantitatif diungkapkan secara
38 komparatif dengan periode sebelumnya untuk seluruh

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.13


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode


2 berjalan, kecuali dinyatakan lain oleh SAK. Informasi
3 komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan
4 keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika
5 relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode
6 berjalan.
7
8 38. Entitas syariah yang mengungkapkan informasi
9 komparatif menyajikan minimal dua laporan posisi keuangan,
10 dua laporan untuk setiap komponen laporan keuangan lain,
11 dan catatan atas laporan keuangan. Jika entitas syariah
12 menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atau
13 membuat penyajian kembali secara retrospektif atas pos dalam
14 laporan keuangan atau mereklasifikasi pos dalam laporan
15 keuangan, maka entitas syariah menyajikan minimal tiga
16 laporan posisi keuangan, dua laporan untuk setiap komponen
17 laporan keuangan lain, dan catatan atas laporan keuangan.
18 Entitas syariah menyajikan laporan posisi keuangan pada:
19 (a) akhir periode berjalan,
20 (b) akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal
21 periode berjalan), dan
22 (c) permulaan dari periode komparatif terawal.
23
24 39. Pada beberapa kasus, informasi naratif yang
25 disajikan dalam laporan keuangan periode sebelumnya masih
26 tetap relevan untuk diungkapkan pada periode berjalan.
27 Misalnya, rincian tentang sengketa hukum yang dihadapi
28 yang hasil akhirnya belum diketahui secara pasti pada periode
29 sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian, perlu
30 diungkapkan kembali pada periode berjalan. Pengguna laporan
31 keuangan akan memperoleh manfaat dari informasi adanya
32 ketidakpastian pada akhir periode pelaporan sebelumnya, dan
33 langkah yang telah dilakukan selama periode berjalan untuk
34 mengatasi ketidakpastian tersebut.
35
36 40. Jika entitas syariah mengubah penyajian atau
37 klasifikasi pos dalam laporan keuangan, maka entitas syariah
38 mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali reklasifikasi

101.14 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 tersebut tidak praktis. Jika entitas syariah mereklasifikasi


2 jumlah komparatif, maka mengungkapkan:
3 (a) sifat reklasifikasi;
4 (b) jumlah setiap pos atau gabungan beberapa pos yang
5 direklasifikasi; dan
6 (c) alasan reklasifikasi.
7
8 41. Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis,
9 maka entitas syariah mengungkapkan:
10 (a) alasan tidak mereklasifikasi jumlah tersebut;
11 (b) sifat penyesuaian yang akan dilakukan jika jumlah
12 tersebut direklasifikasi.
13
14 42. Peningkatkan daya banding informasi antar periode
15 membantu pengguna laporan keuangan dalam membuat
16 keputusan ekonomi, khususnya memungkinkan penilaian atas
17 kecenderungan informasi keuangan untuk tujuan prediksi.
18 Dalam beberapa keadaan, reklasifikasi informasi komparatif
19 tidak praktis untuk periode tertentu sebelumnya untuk
20 mencapai daya banding dengan periode berjalan. Misalnya,
21 entitas syariah mungkin belum mengumpulkan data pada
22 periode sebelumnya yang memungkinkan untuk melakukan
23 reklasifikasi, dan mungkin tidak praktis untuk menyusun
24 kembali informasi tersebut.
25
26 43. PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan
27 Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan mengatur penyesuaian
28 terhadap informasi komparatif yang disyaratkan ketika entitas
29 melakukan perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas
30 kesalahan.
31
32 Konsistensi Penyajian
33
34 44. Penyajian dan klasifikasi pos dalam laporan
35 keuangan antar periode dilakukan secara konsisten,
36 kecuali:
37 (a) setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat
38 operasi entitas syariah atau kaji ulang atas laporan

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.15


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau


2 klasifikasi lain akan lebih tepat untuk digunakan
3 dengan mempertimbangkan kriteria dalam penentuan
4 dan penerapan kebijakan akuntansi; atau
5 (b) perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK.
6
7 45. Misalnya, suatu akuisisi atau pelepasan yang
8 signifikan, atau kaji ulang atas penyajian laporan keuangan,
9 mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan
10 keuangan perlu disajikan secara berbeda. Namun demikian,
11 perubahan penyajian dapat dilaksanakan jika perubahan
12 tersebut memberikan informasi yang andal dan lebih relevan
13 bagi pengguna laporan keuangan atau struktur yang baru
14 mempunyai kecenderungan akan digunakan seterusnya. Jika
15 dilakukan perubahan penyajian laporan keuangan, maka
16 entitas syariah mereklasifikasi informasi komparatif sesuai
17 dengan paragraf 40 dan 41.
18
19 STRUKTUR DAN ISI
20
21 Pendahuluan
22
23 46. Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan
24 tertentu dalam laporan posisi keuangan atau laporan laba rugi
25 komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan sumber dan
26 penggunaan zakat, atau laporan sumber dan penggunaan dana
27 kebajikan, dan mensyaratkan pengungkapan dari pos lain
28 dalam laporan keuangan tersebut atau catatan atas laporan
29 keuangan. PSAK 2: Laporan Arus Kas mengatur persyaratan
30 untuk penyajian informasi arus kas.
31
32 47. Pernyataan ini terkadang menggunakan istilah
33 “pengungkapan” dalam arti luas, meliputi pos yang disajikan
34 dalam laporan keuangan. Pengungkapan juga disyaratkan
35 oleh SAK lain. Kecuali dinyatakan lain dalam Pernyataan ini
36 atau SAK lain, pengungkapan tersebut dapat dilakukan dalam
37 laporan keuangan.
38

101.16 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Identifikasi Laporan Keuangan


2
3 48. Entitas syariah mengidentifikasikan laporan
4 keuangan secara jelas dan membedakannya dari informasi
5 lain dalam dokumen publikasi yang sama.
6
7 49. SAK hanya berlaku untuk laporan keuangan, dan
8 tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam laporan
9 tahunan, dokumen yang disampaikan kepada regulator, atau
10 dokumen lain. Oleh karena itu, sangat penting bahwa pengguna
11 laporan keuangan dapat membedakan antara informasi yang
12 disusun sesuai SAK dan informasi lain yang juga bermanfaat
13 bagi pengguna laporan keuangan.
14
15 50. Entitas syariah mengidentifikasikan secara
16 jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan
17 keuangan. Di samping itu, entitas syariah menyajikan
18 informasi berikut ini secara jelas, dan mengulangnya jika
19 dibutuhkan sehingga dapat dipahami:
20 (a) nama entitas syariah pembuat laporan keuangan atau
21 identitas lain, dan setiap perubahan informasi dari
22 akhir periode pelaporan sebelumnya;
23 (b) apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau
24 suatu kelompok entitas;
25 (c) tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang
26 dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas
27 laporan keuangan;
28 (d) mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam
29 PSAK 10: Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing;
30 dan
31 (e) pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah
32 dalam laporan keuangan.
33
34 51. Entitas syariah telah memenuhi persyaratan paragraf
35 50 dengan menyajikan judul yang tepat untuk halaman,
36 laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan, kolom
37 dan sejenis. Pertimbangan diperlukan untuk menentukan
38 cara terbaik dalam menyajikan informasi tersebut. Misalnya,

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.17


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ketika entitas syariah menyajikan laporan keuangan secara


2 elektronik, maka halaman-halaman terpisah tidak selalu
3 digunakan; selanjutnya entitas syariah menyajikan hal-hal di
4 atas untuk memastikan bahwa informasi yang dicakup dalam
5 laporan keuangan dapat dipahami.
6
7 52. Agar lebih dapat dipahami, entitas syariah pada
8 umumnya menyusun laporan keuangan dengan menyajikan
9 informasi mata uang dalam unit ribuan atau jutaan. Hal ini
10 diperkenankan sepanjang diungkapkan tingkat pembulatan
11 dan tidak menghilangkan informasi yang material.
12
13 Laporan Posisi Keuangan
14
15 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan
16
17 53. Laporan posisi keuangan minimal mencakup
18 penyajian jumlah pos-pos berikut:
19 (a) kas dan setara kas;
20 (b) piutang dagang dan piutang lain;
21 (c) persediaan;
22 (d) aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan
23 di (a), (b) dan (i));
24 (e) total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki
25 untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok
26 lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk
27 dijual sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak
28 Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang
29 Dihentikan;
30 (f) properti investasi;
31 (g) aset tetap;
32 (h) aset tidak berwujud;
33 (i) investasi dengan menggunakan metode ekuitas;
34 (j) utang dagang dan terutang lain;
35 (k) liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang
36 disajikan di (j) dan (o));
37 (l) liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana
38 didefinisikan dalam PSAK 46: Pajak Penghasilan;

101.18 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (m) liabilitas dan aset pajak tangguhan, sebagaimana


2 didefinisikan dalam PSAK 46;
3 (n) liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang
4 diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai
5 dengan PSAK 58;
6 (o) provisi;
7 (p) kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian
8 dari ekuitas; dan
9 (q) modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan
10 kepada pemilik entitas induk.
11
12 54. Entitas syariah menyajikan pos tambahan, judul,
13 dan subtotal dalam laporan posisi keuangan jika penyajian
14 tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan.
15
16 55. Jika entitas syariah menyajikan aset lancar
17 dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka
18 panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan
19 posisi keuangan, maka aset (liabilitas) pajak tangguhan
20 tidak boleh diklasifikasikan sebagai aset lancar (liabilitas
21 jangka pendek).
22
23 56. Pernyataan ini tidak mengatur susunan atau format
24 penyajian pos. Paragraf 54 menjelaskan daftar pos yang
25 berbeda berdasarkan sifat atau fungsinya untuk menjamin
26 penyajian terpisah dalam laporan posisi keuangan. Sebagai
27 tambahan:
28 (a) suatu pos disajikan terpisah jika ukuran, sifat, atau
29 fungsinya atau agregasi pos yang sama menyebabkan
30 penyajian terpisah menjadi relevan untuk memahami
31 posisi keuangan; dan
32 (b) penjelasan yang digunakan dan urutan dari pos atau
33 agregasi pos yang sama dapat diubah sesuai dengan
34 sifat entitas syariah dan transaksinya, untuk memberikan
35 informasi yang relevan untuk memahami posisi keuangan.
36 Misalnya, institusi keuangan mungkin mengubah
37 penjelasan di atas dalam rangka memberikan informasi
38 yang relevan mengenai operasinya.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.19


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 57. Entitas syariah mempertimbangkan apakah pos


2 tambahan disajikan secara terpisah yang didasarkan pada
3 penilaian dari:
4 (a) sifat dan likuiditas aset;
5 (b) fungsi aset; dan
6 (c) jumlah, sifat, dan jangka waktu liabilitas.
7
8 58. Penggunaan dasar pengukuran yang berbeda untuk
9 kelompok aset yang berbeda menunjukkan bahwa sifat dan
10 fungsi aset tersebut berbeda dan, oleh karena itu, entitas
11 syariah menyajikan kelompok aset yang berbeda secara
12 terpisah. Misalnya, kelompok aset tetap yang berbeda dapat
13 dicatat berdasarkan biaya perolehan atau jumlah revaluasian
14 sesuai dengan PSAK 16: Aset Tetap.
15
16 Pembedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar serta Liabilitas
17 Jangka Pendek dan Jangka Panjang
18
19 59. Entitas syariah menyajikan aset lancar dan tidak
20 lancar serta liabilitas jangka pendek dan jangka panjang
21 sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi
22 keuangan sesuai dengan paragraf 65-75, kecuali penyajian
23 berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang lebih
24 relevan dan dapat diandalkan. Jika pengecualian tersebut
25 diterapkan, maka entitas syariah menyajikan seluruh aset
26 dan liabilitas berdasarkan urutan likuiditas.
27
28 60. Apa pun metode penyajian yang digunakan,
29 entitas syariah mengungkapkan jumlah yang diperkirakan
30 dapat dipulihkan atau diselesaikan setelah lebih dari
31 dua belas bulan untuk setiap pos aset dan liabilitas yang
32 menggabungkan jumlah yang diperkirakan akan dipulihkan
33 atau diselesaikan:
34 (a) tidak lebih dari dua belas bulan setelah periode
35 pelaporan; dan
36 (b) lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan.
37
38

101.20 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 61. Jika entitas syariah menyediakan barang atau jasa


2 dalam siklus operasi yang dapat diidentifikasi secara jelas,
3 maka klasifikasi aset lancar dan tidak lancar serta liabilitas
4 jangka pendek dan jangka panjang dalam laporan posisi
5 keuangan memberikan informasi yang bermanfaat dengan
6 membedakan aset neto yang digunakan secara terus menerus
7 sebagai modal kerja dan aset neto yang digunakan dalam
8 operasi jangka panjang. Pengklasifikasian tersebut juga
9 menunjukkan aset yang diperkirakan akan direalisasikan
10 dalam siklus operasi berjalan dan liabilitas yang akan jatuh
11 tempo pada periode yang sama.
12
13 62. Untuk beberapa entitas syariah, seperti institusi
14 keuangan, penyajian aset dan liabilitas berdasarkan urutan
15 likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat
16 diandalkan dibandingkan penyajian berdasarkan lancar dan
17 tidak lancar atau jangka pendek dan jangka panjang karena
18 entitas syariah pada industri tersebut tidak menyediakan
19 barang atau jasa selama siklus operasi yang dapat diidentifikasi
20 secara jelas.
21
22 63. Dalam menerapkan paragraf 59, entitas syariah
23 diperkenankan untuk menyajikan beberapa aset menggunakan
24 klasifikasi lancar dan tidak lancar, dan liabilitas menggunakan
25 jangka pendek dan jangka panjang dan lainnya berdasarkan
26 likuiditas jika hal tersebut memberikan informasi yang
27 lebih relevan dan dapat diandalkan. Kebutuhan untuk
28 mengkombinasikan dasar penyajian dimungkinkan jika
29 entitas syariah memiliki operasi yang beragam.
30
31 64. Informasi mengenai tanggal perkiraan realisasi
32 aset dan liabilitas berguna dalam penilaian likuiditas dan
33 solvabilitas entitas syariah. PSAK 60: Instrumen Keuangan:
34 Pengungkapan mensyaratkan pengungkapan tanggal jatuh
35 tempo aset keuangan dan liabilitas keuangan. Aset keuangan
36 termasuk piutang usaha dan piutang lain, dan liabilitas
37 keuangan termasuk utang usaha dan terutang lain. Informasi
38 tentang tanggal perkiraan pemulihan aset nonmoneter, seperti

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.21


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 persediaan, dan tanggal perkiraan dari penyelesaian liabilitas


2 seperti provisi juga bermanfaat, terlepas dari apakah aset
3 diklasifikasikan sebagai lancar dan tidak lancar dan liabilitas
4 sebagai jangka panjang dan jangka pendek. Misalnya, entitas
5 syariah mengungkapkan jumlah persediaan yang diperkirakan
6 dapat dipulihkan lebih dari dua belas bulan setelah periode
7 pelaporan.
8
9 Aset Lancar
10
11 65. Entitas syariah mengklasifikasikan aset sebagai
12 aset lancar jika:
13 (a) entitas syariah memperkirakan akan merealisasikan aset,
14 atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya,
15 dalam siklus operasi normal;
16 (b) entitas syariah memiliki aset untuk tujuan
17 diperdagangkan;
18 (c) entitas syariah memperkirakan akan merealisasikan
19 aset dalam jangka waktu dua belas bulan setelah
20 periode pelaporan; atau
21 (d) kas atau setara kas (sebagaimana yang didefinisikan
22 dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas), kecuali aset
23 tersebut dibatasi pertukaran atau penggunaannya
24 untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya
25 dua belas bulan setelah periode pelaporan.
26 Entitas syariah mengklasifikasikan aset yang tidak termasuk
27 kategori tersebut sebagai aset tidak lancar.
28
29 66. Pernyataan ini menggunakan istilah “tidak lancar”
30 untuk mencakup aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset
31 keuangan yang bersifat jangka panjang. Pernyataan ini tidak
32 melarang penggunaan istilah lain sepanjang pengertiannya
33 jelas.
34
35 67. Siklus operasi entitas syariah merupakan jangka
36 waktu antara perolehan aset untuk pemrosesan dan realisasinya
37 dalam bentuk kas atau setara kas. Jika siklus operasi normal
38 tidak dapat diidentifikasikan secara jelas, maka diasumsikan

101.22 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 selama dua belas bulan. Aset lancar mencakup aset (seperti


2 persediaan dan piutang dagang) yang dijual, dikonsumsi atau
3 direalisasikan sebagai bagian siklus operasi normal meskipun
4 aset tersebut tidak diperkirakan untuk direalisasikan dalam
5 jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan. Aset
6 lancar juga mencakup aset yang dimiliki untuk diperdagangkan
7 dan bagian lancar dari aset keuangan tidak lancar.
8
9 Liabilitas Jangka Pendek
10
11 68. Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai liabilitas
12 jangka pendek jika:
13 (a) entitas syariah memperkirakan akan menyelesaikan
14 liabilitas dalam siklus operasi normalnya;
15 (b) entitas syariah memiliki liabilitas untuk tujuan
16 diperdagangkan;
17 (c) liabilitas jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka
18 waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan; atau
19 (d) entitas syariah tidak memiliki hak tanpa syarat untuk
20 menunda penyelesaian liabilitas selama sekurang
21 kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.
22 Entitas syariah mengklasifikasikan liabilitas yang tidak
23 termasuk kategori tersebut sebagai liabilitas jangka
24 panjang.
25
26 69. Beberapa liabilitas jangka pendek, seperti utang
27 dagang, beberapa akrual untuk biaya karyawan dan biaya
28 operasi lain, merupakan bagian modal kerja yang digunakan
29 dalam siklus operasi normal. Entitas syariah mengklasifikasikan
30 liabilitas tersebut sebagai liabilitas jangka pendek meskipun
31 liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan lebih dari
32 dua belas bulan setelah periode pelaporan. Siklus operasi
33 normal yang sama diterapkan pada aset dan liabilitas entitas
34 syariah. Jika tidak dapat diidentifikasikan secara jelas, maka
35 siklus operasi normal diasumsikan dua belas bulan.
36
37 70. Liabilitas jangka pendek lain tidak diselesaikan
38 dalam siklus operasi normal, tetapi jatuh tempo untuk

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.23


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode


2 pelaporan atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan.
3 Misalnya, cerukan bank, dan bagian jangka pendek dari
4 liabilitas keuangan jangka panjang, dividen terutang, pajak
5 penghasilan terutang, dan terutang nonusaha lain. Liabilitas
6 keuangan yang merupakan pembiayaan jangka panjang
7 (bukan bagian dari modal kerja yang digunakan dalam siklus
8 operasi normal) dan tidak jatuh tempo dalam waktu dua belas
9 bulan setelah periode pelaporan merupakan liabilitas jangka
10 panjang, sebagaimana diatur di paragraf 73 dan 74.
11
12 71. Entitas syariah mengklasifikasikan liabilitas
13 keuangan sebagai liabilitas jangka pendek jika liabilitas
14 tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas
15 bulan setelah periode pelaporan, meskipun:
16 (a) kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka
17 waktu lebih dari dua belas bulan; dan
18 (b) penjadwalan kembali pembayaran, atas dasar jangka
19 panjang telah diselesaikan setelah periode pelaporan dan
20 sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan.
21
22 72. Jika entitas syariah memperkirakan, dan memiliki
23 diskresi, untuk melakukan perpanjangan suatu kewajiban
24 selama sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode
25 pelaporan dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang ada,
26 maka entitas syariah mengklasifikasikan kewajiban tersebut
27 sebagai liabilitas jangka panjang, meskipun kewajiban
28 tersebut akan jatuh tempo dalam periode yang lebih pendek
29 dari dua belas bulan. Namun, jika perpanjangan kembali
30 bukan merupakan diskresi entitas syariah, maka entitas syariah
31 mengklasifikasikannya sebagai liabilitas jangka pendek.
32
33 73. Jika entitas syariah melanggar ketentuan perjanjian
34 pinjaman jangka panjang pada saat atau sebelum akhir periode
35 pelaporan yang menyebabkan liabilitas harus segera dibayar
36 sesuai permintaan, maka entitas syariah mengklasifikasikan
37 liabilitas tersebut sebagai liabilitas jangka pendek, meskipun
38 pemberi pinjaman menyetujui (setelah periode pelaporan dan

101.24 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 sebelum tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit)


2 untuk tidak mensyaratkan pembayaran sebagai konsekuensi
3 atas pelanggaran tersebut. Entitas syariah mengklasifikasikan
4 liabilitas tersebut sebagai liabilitas jangka pendek karena
5 (pada akhir periode pelaporan) entitas syariah tidak memiliki
6 hak untuk menunda penyelesaian liabilitas dalam jangka
7 waktu sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah tanggal
8 pelaporan.
9
10 74. Namun, entitas syariah mengklasifikasikan liabilitas
11 sebagai liabilitas jangka panjang jika pemberi pinjaman
12 menyetujui pada akhir periode pelaporan untuk memberikan
13 tenggang waktu pembayaran yang berakhir sekurang-
14 kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan, selama
15 entitas syariah dapat memperbaiki pelanggaran terhadap
16 persyaratan perjanjian dan pemberi pinjaman tidak dapat
17 meminta percepatan pembayaran segera.
18
19 75. Berkaitan dengan pinjaman yang diklasifikasikan
20 sebagai liabilitas jangka pendek, jika peristiwa berikut ini
21 terjadi antara akhir periode pelaporan dan tanggal laporan
22 keuangan diotorisasi untuk terbit, maka peristiwa tersebut
23 diungkapkan sebagai peristiwa nonpenyesuai sesuai dengan
24 PSAK 8: Peristiwa Setelah Periode Pelaporan:
25 (a) perbaikan pelanggaran perjanjian pinjaman jangka
26 panjang; dan
27 (b) pemberian tenggang waktu pembayaran oleh pemberi
28 pinjaman untuk memperbaiki pelanggaran perjanjian
29 pinjaman jangka panjang yang berakhir sekurang-
30 kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan.
31
32 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan
33 atau Catatan atas Laporan Keuangan
34
35 76. Entitas syariah mengungkapkan dalam laporan
36 posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan,
37 subklasifikasi pos yang disajikan, dan diklasifikasikan
38 dengan cara yang tepat sesuai dengan operasinya.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.25


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 77. Rincian subklasifikasi bergantung pada ketentuan


2 SAK, serta ukuran, sifat, dan fungsi dari jumlah terkait.
3 Entitas syariah juga menggunakan faktor faktor yang diatur
4 di paragraf 57 untuk menentukan dasar subklasifikasi.
5 Pengungkapan berbeda untuk setiap pos, misalnya:
6 (a) pos aset tetap dipisahkan sesuai dengan PSAK 16: Aset
7 Tetap;
8 (b) piutang dipisahkan menjadi jumlah piutang dagang,
9 piutang dari pihak-pihak berelasi, pembayaran di muka
10 dan jumlah lain;
11 (c) persediaan dipisahkan sesuai dengan PSAK 14:
12 Persediaan menjadi kelompok barang dagangan, barang
13 produksi, bahan baku, barang dalam proses, dan barang
14 jadi;
15 (d) provisi dipisahkan menjadi provisi untuk imbalan kerja
16 dan provisi lain; dan
17 (e) ekuitas dan cadangan dipisahkan menjadi berbagai
18 kelompok seperti modal disetor, tambahan modal disetor,
19 dan cadangan.
20
21 78. Entitas syariah mengungkapkan hal berikut
22 dalam laporan posisi keuangan atau laporan perubahan
23 ekuitas, atau dalam catatan atas laporan keuangan:
24 (a) untuk setiap jenis saham:
25 (i) jumlah saham modal dasar;
26 (ii) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh,
27 dan yang diterbitkan tetapi tidak disetor penuh;
28 (iii) nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang
29 tidak memiliki nilai nominal;
30 (iv) rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan
31 akhir periode;
32 (v) hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat
33 pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan
34 atas dividen dan pembayaran kembali atas modal;
35 (vi) saham entitas syariah yang dikuasai oleh entitas
36 syariah itu sendiri atau oleh entitas anak atau
37 entitas asosiasi; dan
38 (vii) saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan

101.26 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 hak opsi dan kontrak penjualan saham, termasuk


2 jumlah dan persyaratan;
3 (b) penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos
4 cadangan dalam ekuitas.
5
6 79. Entitas syariah yang modalnya tidak terbagi
7 dalam saham, seperti persekutuan atau unit perwalian,
8 mengungkapkan informasi yang setara sesuai dengan
9 paragraf 78(a), yang memperlihatkan perubahan selama
10 suatu periode dari setiap jenis kepentingan ekuitas, serta
11 hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada
12 setiap jenis kepentingan ekuitas.
13
14 Laporan Laba Rugi Komprehensif
15
16 80. Entitas syariah menyajikan seluruh pos
17 penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu periode
18 dalam bentuk dua laporan:
19 (a) laporan yang menunjukkan komponen laba rugi
20 (laporan laba rugi); dan
21 (b) laporan yang dimulai dengan laba rugi dan
22 menunjukkan komponen pendapatan komprehensif
23 lain (laporan laba rugi komprehensif).
24
25 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi
26 Komprehensif
27
28 81. Laporan laba rugi komprehensif minimal
29 mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut untuk
30 periode:
31 (a) pendapatan usaha;
32 (b) bagi hasil untuk pemilik dana;
33 (c) bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan ventura
34 bersama yang dicatat dengan menggunakan metode
35 ekuitas;
36 (d) beban pajak;
37 (e) suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:
38 (i) laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan;

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.27


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 dan
2 (ii) keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui
3 dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya
4 untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok
5 lepasan dalam rangka operasi yang dihentikan;
6 (f) laba rugi;
7 (g) setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain
8 yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat (selain jumlah
9 dalam huruf (h));
10 (h) bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas
11 asosiasi dan ventura bersama yang dicatat dengan
12 menggunakan metode ekuitas; dan
13 (i) total laba komprehensif.
14
15 82. Entitas syariah mengungkapkan pos di bawah
16 ini dalam laporan laba rugi komprehensif sebagai alokasi
17 untuk periode:
18 (a) laba rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan
19 kepada:
20 (i) kepentingan nonpengendali; dan
21 (ii) pemilik entitas induk.
22 (b) total laba komprehensif periode berjalan yang dapat
23 diatribusikan kepada:
24 (i) kepentingan nonpengendali; dan
25 (ii) pemilik entitas induk.
26
27 83. Entitas syariah menyajikan pos-pos tambahan,
28 judul dan subtotal dalam laporan laba rugi komprehensif
29 jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman kinerja
30 keuangan.
31
32 84. Disebabkan dampak dari berbagai kegiatan, transaksi,
33 dan peristiwa lain entitas syariah berbeda dalam frekuensi,
34 potensi keuntungan atau kerugian dan kemampuan untuk
35 dapat diprediksi, maka pengungkapan unsur kinerja keuangan
36 membantu pengguna laporan keuangan dalam memahami
37 kinerja keuangan yang dicapai dan dalam membuat proyeksi
38 kinerja keuangan masa depan. Entitas syariah memasukkan pos

101.28 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 tambahan dalam laporan laba rugi komprehensif dan mengubah


2 istilah yang dipakai dan perubahan urutan dari pos-pos jika
3 hal ini diperlukan untuk menjelaskan unsur kinerja keuangan.
4 Entitas mempertimbangkan faktor termasuk materialitas,
5 sifat, dan fungsi dari berbagai komponen penghasilan dan
6 beban. Misalnya, suatu institusi keuangan dapat mengubah
7 istilah untuk memberikan informasi yang relevan dengan
8 operasinya. Entitas syariah tidak diperkenankan melakukan
9 saling hapus penghasilan dan beban kecuali memenuhi kriteria
10 di paragraf 31.
11
12 85. Jika terdapat pendapatan nonhalal, maka pendapatan
13 tersebut tidak boleh disajikan di dalam laporan laba rugi
14 komprehensif entitas syariah maupun entitas konvensional
15 yang mengkonsolidasikan entitas syariah. Informasi
16 pendapatan nonhalal tersebut disajikan dalam laporan sumber
17 dan penggunaan dana kebajikan.
18
19 86. Entitas syariah tidak diperkenankan menyajikan
20 pos-pos penghasilan dan beban sebagai pos luar biasa
21 dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas
22 laporan keuangan.
23
24 Laba Rugi
25
26 87. Entitas syariah mengakui seluruh pos penghasilan
27 dan beban pada suatu periode dalam laba rugi kecuali suatu
28 PSAK mensyaratkan atau memperkenankan lain.
29
30 88. Beberapa SAK menentukan kondisi kapan entitas
31 syariah mengakui pos-pos tertentu di luar laba rugi pada
32 periode berjalan. PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan
33 Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan menentukan dua kondisi
34 tersebut: koreksi kesalahan dan dampak perubahan kebijakan
35 akuntansi. SAK lain mensyaratkan atau memperkenankan
36 suatu komponen penghasilan komprehensif lain yang
37 memenuhi definisi pendapatan dan beban dalam Kerangka
38 Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.29


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Syariah dikeluarkan dari laba rugi (lihat paragraf 07).


2
3 Pendapatan Komprehensif Lain
4
5 89. Entitas syariah mengungkapkan jumlah
6 pajak penghasilan terkait dengan setiap komponen dari
7 pendapatan komprehensif lain, termasuk penyesuaian
8 reklasifikasi, baik dalam laporan pendapatan komprehensif
9 atau catatan atas laporan keuangan.
10
11 90. Entitas syariah dapat menyajikan komponen
12 pendapatan komprehensif lain:
13 (a) jumlah neto dari dampak pajak terkait, atau
14 (b) jumlah sebelum dampak pajak terkait disertai dengan
15 total pajak penghasilan yang terkait dengan komponen
16 tersebut.
17
18 91. Entitas mengungkapkan penyesuaian reklasifikasi
19 yang terkait dengan komponen pendapatan komprehensif
20 lain.
21
22 92. SAK lain menjelaskan bagaimana dan kapan jumlah
23 yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif
24 lain direklasifikasi ke laba rugi. Reklasifikasi yang dimaksud
25 pada Pernyataan ini adalah penyesuaian reklasifikasi.
26 Penyesuaian reklasifikasi dimasukkan dengan komponen
27 pendapatan komprehensif lain yang terkait pada periode
28 ketika penyesuaian tersebut direklasifikasikan ke laba rugi.
29 Jumlah tersebut mungkin telah diakui dalam pendapatan
30 komprehensif lain sebagai keuntungan yang belum direalisasi
31 pada periode berjalan atau periode sebelumnya. Keuntungan
32 yang belum direalisasi tersebut dikurangkan dari pendapatan
33 komprehensif lain pada periode ketika keuntungan yang telah
34 direalisasi direklasifikasi ke laba rugi untuk menghindari
35 memasukkan keuntungan yang belum direalisasi tersebut dua
36 kali dalam total laba komprehensif.
37
38

101.30 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 93. Entitas syariah dapat menyajikan penyesuaian


2 reklasifikasi dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan
3 atas laporan keuangan. Entitas yang menyajikan penyesuaian
4 reklasifikasi dalam catatan atas laporan keuangan menyajikan
5 komponen pendapatan komprehensif lain setelah penyesuaian
6 reklasifikasi terkait.
7
8 94. Penyesuaian reklasifikasi tidak menimbulkan
9 perubahan surplus revaluasi yang diakui berdasarkan PSAK
10 16: Aset Tetap atau PSAK 19: Aset Takberwujud atau pada
11 keuntungan dan kerugian aktuarial yang diakui dalam
12 program dana pensiun manfaat pasti yang diakui berdasarkan
13 PSAK 24: Imbalan Kerja. Komponen tersebut diakui dalam
14 pendapatan komprehensif lain dan tidak direklasifikasi ke laba
15 rugi pada periode berikutnya. Perubahan surplus revaluasi
16 dapat dialihkan ke saldo laba pada periode berikutnya ketika
17 aset tersebut digunakan atau dihentikan pengakuannya
18 (lihat PSAK 16 dan PSAK 19). Keuntungan dan kerugian
19 aktuarial dilaporkan dalam saldo laba pada periode diakuinya
20 keuntungan dan kerugian aktuarial tersebut sebagai pendapatan
21 komprehensif lain (lihat PSAK 24).
22
23 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi
24 Komprehensif atau Catatan atas Laporan Keuangan
25
26 95. Jika pos penghasilan atau beban adalah material,
27 maka entitas syariah mengungkapkan sifat dan jumlahnya
28 secara terpisah.
29
30 96. Keadaan yang menyebabkan pengungkapan secara
31 terpisah atas pos penghasilan dan beban adalah sebagai berikut:
32 (a) penurunan nilai persediaan menjadi nilai realisasi neto atau
33 penurunan nilai aset tetap menjadi jumlah terpulihkan,
34 sebagaimana pembalikan atas penurunan tersebut;
35 (b) restrukturisasi atas aktivitas entitas syariah dan untuk
36 setiap provisi atas biaya restrukturisasi;
37 (c) pelepasan aset tetap;
38 (d) pelepasan investasi;

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.31


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (e) operasi yang dihentikan;


2 (f) penyelesaian tuntutan hukum; dan
3 (g) pembalikan provisi lain.
4
5 97. Entitas syariah menyajikan analisis beban yang
6 diakui dalam laba rugi dengan menggunakan klasifikasi
7 berdasarkan sifat atau fungsinya, mana yang dapat
8 menyediakan informasi yang andal dan lebih relevan.
9
10 98. Entitas syariah dianjurkan untuk menyajikan analisis
11 di paragraf 97 dalam laporan laba rugi komprehensif.
12
13 99. Beban disubklasifikasikan menjadi komponen
14 utama dari kinerja keuangan yang dapat berbeda dalam
15 frekuensi, potensi keuntungan atau kerugian dan kemampuan
16 untuk dapat memprediksi. Analisis ini diberikan dalam satu
17 dari dua bentuk.
18
19 100. Bentuk pertama analisis ini adalah metode “sifat
20 beban”. Entitas syariah menggabungkan beban dalam laba
21 rugi berdasarkan sifatnya (misalnya, penyusutan, pembelian
22 bahan baku, biaya transportasi, imbalan kerja, dan biaya iklan),
23 dan tidak merealokasikan menurut berbagai fungsi dalam
24 entitas syariah. Metode ini mudah diterapkan karena tidak
25 memerlukan alokasi beban menurut klasifikasi fungsional.
26 Contoh dari klasifikasi dengan menggunakan metode sifat
27 beban adalah sebagai berikut:
28
29 Pendapatan xxx
30 Pendapatan lain xxx
31 Perubahan atas persediaan barang jadi
32 dan barang dalam proses xxx
33 Bahan baku yang digunakan xxx
34 Beban imbalan kerja xxx
35 Beban penyusutan dan amortisasi xxx
36 Beban lain xxx
37 Total beban (xxx)
38 Laba sebelum pajak xxx

101.32 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 101. Bentuk kedua analisis ini adalah metode “fungsi


2 beban” atau “biaya penjualan” dan mengklasifikasikan beban
3 berdasarkan fungsinya sebagai bagian dari biaya penjualan
4 atau, misalnya, biaya aktivitas distribusi atau administratif.
5 Sekurang-kurangnya entitas syariah mengungkapkan biaya
6 penjualan berdasarkan metode ini secara terpisah dari beban
7 lain. Metode ini dapat memberikan informasi yang lebih
8 relevan kepada pengguna laporan keuangan dibandingkan
9 dengan metode klasifikasi beban berdasarkan sifat,
10 namun pengalokasian biaya berdasarkan fungsi mungkin
11 membutuhkan pengalokasian secara arbiter dan pertimbangan
12 yang matang. Contoh klasifikasi berdasarkan metode fungsi
13 beban adalah sebagai berikut:
14
15 Pendapatan xxx
16 Beban penjualan (xxx)
17 Laba bruto xxx
18 Pendapatan lain xxx
19 Beban distribusi (xxx)
20 Beban administratif (xxx)
21 Beban lain (xxx)
22 Laba sebelum pajak xxx
23
24 102. Entitas syariah yang mengklasifikasikan beban
25 berdasarkan fungsi mengungkapkan informasi tambahan
26 tentang sifat beban, termasuk beban penyusutan dan
27 amortisasi, dan beban imbalan kerja.
28
29 103. Pemilihan antara metode fungsi beban dan sifat
30 beban bergantung pada faktor historis dan industri serta sifat
31 entitas syariah. Kedua metode tersebut memberikan indikasi
32 tentang biaya yang mungkin berbeda, baik langsung maupun
33 tidak langsung, dengan tingkat penjualan atau produksi.
34 Disebabkan setiap metode penyajian memiliki manfaat untuk
35 jenis entitas yang berbeda, Pernyataan ini mensyaratkan
36 manajemen untuk memilih penyajian yang andal dan lebih
37 relevan. Namun demikian, disebabkan informasi atas sifat
38 beban bermanfaat dalam memprediksi arus kas masa depan,

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.33


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 maka pengungkapan tambahan diperlukan ketika metode


2 fungsi beban digunakan. Dalam paragraf 104, “imbalan
3 kerja” memiliki pengertian yang sama sebagaimana di PSAK
4 24: Imbalan Kerja.
5
6 Laporan Perubahan Ekuitas
7
8 104. Entitas syariah menyajikan laporan perubahan
9 ekuitas yang menunjukkan:
10 (a) total laba komprehensif selama suatu periode, yang
11 menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat
12 diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada
13 kepentingan nonpengendali;
14 (b) untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan
15 retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif
16 yang diakui sesuai dengan PSAK 25: Kebijakan
17 Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan
18 Kesalahan;
19 (c) untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara
20 jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara
21 terpisah mengungkapkan setiap perubahan yang timbul
22 dari:
23 (i) laba rugi;
24 (ii) setiap pos pendapatan komprehensif lain; dan
25 (iii) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya
26 sebagai pemilik, yang menunjukkan secara
27 terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi
28 kepada pemilik dan perubahan kepemilikan pada
29 entitas anak yang tidak menyebabkan hilang
30 pengendalian.
31
32 105. Entitas syariah menyajikan, baik dalam laporan
33 perubahan ekuitas atau catatan atas laporan keuangan,
34 jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada
35 pemilik selama periode, dan nilai dividen per saham.
36
37
38

101.34 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 106. Pada paragraf 105 komponen ekuitas termasuk,


2 misalnya, setiap jenis modal disetor, saldo akumulasi dari
3 setiap jenis pendapatan komprehensif lain dan saldo laba.
4
5 107. Perubahan ekuitas entitas syariah antara awal dan
6 akhir periode pelaporan mencerminkan naik turunnya aset neto
7 selama periode. Kecuali untuk perubahan yang timbul dari
8 transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik
9 (seperti kontribusi modal, perolehan kembali instrumen
10 ekuitas, dan dividen) dan biaya transaksi yang secara langsung
11 berkaitan dengan tranksaksi tersebut, perubahan keseluruhan
12 atas ekuitas selama periode yang menggambarkan jumlah total
13 penghasilan dan beban (termasuk keuntungan dan kerugian)
14 yang diakibatkan oleh aktivitas selama periode tersebut.
15
16 108. PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan
17 Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan mensyaratkan penyesuaian
18 retrospektif atas pengaruh perubahan kebijakan akuntansi,
19 sepanjang praktis, kecuali jika ketentuan transisi pada suatu
20 PSAK mensyaratkan lain. PSAK 25 juga mensyaratkan
21 penyajian kembali untuk mengoreksi kesalahan secara
22 retrospektif, sepanjang praktis. Penyesuaian retrospektif
23 dan penyajian kembali secara retrospektif bukan merupakan
24 perubahan dalam ekuitas tetapi merupakan penyesuaian atas
25 saldo laba awal, kecuali jika suatu PSAK mensyaratkan
26 penyesuaian retrospektif atas komponen ekuitas lain. Paragraf
27 104(b) mensyaratkan pengungkapan dalam laporan perubahan
28 ekuitas, total penyesuaian atas setiap komponen ekuitas yang
29 diakibatkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan, secara
30 terpisah, koreksi atas kesalahan. Penyesuaian ini diungkapkan
31 untuk setiap periode sebelumnya dan pada awal periode.
32
33 Laporan Arus Kas
34
35 109. Informasi arus kas memberikan dasar bagi
36 pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan
37 entitas syariah dalam menghasilkan kas dan setara kas dan
38 kebutuhan dalam menggunakan arus kas tersebut. PSAK

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.35


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 2: Laporan Arus Kas mengatur persyaratan penyajian dan


2 pengungkapan informasi arus kas.
3
4 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat
5
6 110. Entitas syariah menyajikan laporan sumber dan
7 penggunaan dana zakat sebagai komponen utama laporan
8 keuangan, yang menunjukkan:
9 (a) dana zakat berasal dari wajib zakat:
10 (i) zakat dari dalam entitas syariah;
11 (ii) zakat dari pihak luar entitas syariah;
12 (b) penggunaan dana zakat melalui lembaga amil zakat
13 untuk:
14 (i) fakir;
15 (ii) miskin;
16 (iii) riqab;
17 (iv) orang yang terlilit hutang (gharim);
18 (v) muallaf;
19 (vi) fiisabilillah;
20 (vii) orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan
21 (viii) amil;
22 (c) kenaikan atau penurunan dana zakat;
23 (d) saldo awal dana zakat; dan
24 (e) saldo akhir dana zakat.
25
26 111. Zakat adalah sebagian dari harta yang wajib
27 dikeluarkan oleh wajib zakat (muzakki) untuk diserahkan
28 kepada penerima zakat (mustahiq). Pembayaran zakat
29 dilakukan apabila nisab dan haulnya terpenuhi dari harta yang
30 memenuhi kriteria wajib zakat.
31
32 112. Komponen dasar laporan sumber dan penggunaan
33 dana zakat meliputi sumber dana, penggunaan dana selama
34 suatu jangka waktu, serta saldo dana zakat yang menunjukkan
35 dana zakat yang belum disalurkan pada tanggal tertentu.
36
37 113. Dana zakat tidak diperkenankan untuk menutup
38 penyisihan kerugian aset.

101.36 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 114. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan


2 atas laporan keuangan, tetapi tidak terbatas pada:
3 (a) sumber dana zakat yang berasal dari internal entitas
4 syariah;
5 (b) sumber dana zakat yang berasal dari eksternal entitas
6 syariah;
7 (c) kebijakan penyaluran zakat terhadap masing-masing
8 asnaf;dan
9 (d) proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing
10 penerima zakat diklasifikasikan atas pihak berelasi,
11 sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7: Pengungkapan
12 Pihak-pihak Berelasi, dan pihak ketiga.
13
14 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
15
16 115. Entitas syariah menyajikan laporan sumber
17 dan penggunaan dana kebajikan sebagai komponen utama
18 laporan keuangan, yang menunjukkan:
19 (a) sumber dana kebajikan berasal dari penerimaan:
20 (i) infak;
21 (ii) sedekah;
22 (iii) hasil pengelolaan wakaf sesuai dengan perundang-
23 undangan yang berlaku;
24 (iv) pengembalian dana kebajikan produktif;
25 (v) denda; dan
26 (vi) pendapatan nonhalal.
27 (b) penggunaan dana kebajikan untuk:
28 (i) dana kebajikan produktif;
29 (ii) sumbangan; dan
30 (iii) penggunaan lain untuk kepentingan umum.
31 (c) kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan;
32 (d) saldo awal dana penggunaan dana kebajikan; dan
33 (e) saldo akhir dana penggunaan dana kebajikan.
34
35 116. Komponen dasar laporan sumber dan penggunaan
36 dana kebajikan meliputi sumber dan penggunaan dana selama
37 jangka waktu tertentu, serta saldo dana kebajikan yang
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.37


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 menunjukkan dana kebajikan yang belum disalurkan pada


2 tanggal tertentu.
3
4 117. Penerimaan dana kebajikan oleh entitas syariah
5 diakui sebagai liabilitas paling likuid dan diakui sebagai
6 pengurang liabilitas ketika disalurkan.
7
8 118. Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan
9 dari kegiatan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah antara
10 lain penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank
11 konvensional. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi
12 dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh
13 entitas syariah karena secara prinsip dilarang.
14
15 119. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan
16 atas laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada:
17 (a) sumber dana kebajikan;
18 (b) kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-
19 masing penerima;
20 (c) proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing
21 penerima dana kebajikan diklasifikasikan atas pihak
22 berelasi, sesuai dengan yang diatur dalam PSAK 7:
23 Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi, dan pihak
24 ketiga; dan
25 (d) alasan terjadinya dan penggunaan atas penerimaan
26 nonhalal.
27
28 Catatan atas Laporan Keuangan
29
30 Struktur
31
32 120. Catatan atas laporan keuangan:
33 (a) menyajikan informasi tentang dasar penyusunan
34 laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu
35 yang digunakan sesuai dengan paragraf 125-132;
36 (b) mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK
37 yang tidak disajikan di bagian mana pun dalam laporan
38 keuangan; dan

101.38 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (c) memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian


2 mana pun dalam laporan keuangan, tetapi informasi
3 tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.
4
5 121. Entitas syariah, sepanjang praktis, menyajikan
6 catatan atas laporan keuangan secara sistematis. Entitas
7 syariah membuat referensi silang atas setiap pos dalam
8 laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif,
9 laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan
10 sumber dan penggunaan dana zakat, dan laporan pengunaan
11 dana kebijakan untuk informasi yang berhubungan dalam
12 catatan atas laporan keuangan.
13
14 122. Entitas biasanya menyajikan catatan atas laporan
15 keuangan dengan urutan sebagai berikut, untuk membantu
16 pengguna laporan keuangan memahami dan membandingkan
17 dengan laporan keuangan entitas lain:
18 (a) pernyataan atas kepatuhan terhadap SAK (lihat paragraf
19 19);
20 (b) ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan
21 (lihat paragraf 125);
22 (c) informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam
23 laporan perubahan posisi keuangan, laporan laba rugi
24 komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus
25 kas, laporan sumber dan penggunaan dana zakat, dan
26 laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan sesuai
27 dengan urutan penyajian laporan dan penyajian masing-
28 masing pos; dan
29 (d) pengungkapan lain, termasuk:
30 (i) liabilitas kontinjensi (lihat PSAK 57: Provisi,
31 Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi) dan
32 komitmen kontraktual yang belum diakui; dan
33 (ii) pengungkapan informasi nonkeuangan, misalnya
34 tujuan dan kebijakan manajemen risiko keuangan (lihat
35 PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan).
36
37 123. Dalam beberapa keadaaan, mungkin dibutuhkan
38 atau dikehendaki untuk membedakan urutan pos tertentu

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.39


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 dalam catatan atas laporan keuangan. Misalnya, entitas syariah


2 dapat menggabungkan informasi perubahan nilai wajar yang
3 diakui dalam laba rugi dengan informasi tentang jatuh tempo
4 instrumen keuangan, meskipun pengungkapan pertama
5 berhubungan dengan laporan laba rugi komprehensif dan yang
6 kedua berhubungan dengan laporan posisi keuangan. Namun
7 demikian, entitas tetap menjaga struktur yang sistematis
8 dalam catatan atas laporan keuangan sepanjang praktis.
9
10 124. Entitas syariah dapat menyajikan catatan atas
11 laporan keuangan yang memberikan informasi tentang dasar
12 penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu
13 sebagai bagian yang terpisah dalam laporan keuangan.
14
15 Pengungkapan Kebijakan Akuntansi
16
17 125. Entitas syariah mengungkapkan dalam ringkasan
18 kebijakan akuntansi signifikan:
19 (a) dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun
20 laporan keuangan; dan
21 (b) kebijakan akuntansi lain yang diterapkan yang relevan
22 untuk memahami laporan keuangan.
23
24 126. Hal yang penting bagi entitas syariah untuk
25 menginformasikan kepada pengguna laporan keuangan
26 mengenai dasar pengukuran yang digunakan dalam laporan
27 keuangan (misalnya, biaya historis, biaya perolehan kini,
28 nilai realisasi neto, nilai wajar, atau jumlah terpulihkan)
29 karena dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan
30 laporan keuangan mempengaruhi analisis pengguna laporan
31 keuangan secara signifikan. Jika entitas syariah menggunakan
32 lebih dari satu dasar pengukuran dalam laporan keuangan,
33 misalnya ketika suatu kelompok aset direvaluasi, maka hal
34 tersebut memadai dengan memberikan suatu indikasi untuk
35 setiap kelompok aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer
36 untuk setiap dasar pengukuran yang diterapkan.
37
38

101.40 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 127. Dalam memutuskan apakah kebijakan akuntansi


2 tertentu diungkapkan, manajemen mempertimbangkan apakah
3 pengungkapan tersebut akan membantu pengguna laporan
4 keuangan untuk memahami bagaimana transaksi, peristiwa,
5 dan kondisi lain yang tercermin dalam kinerja keuangan dan
6 posisi keuangan yang dilaporkan. Pengungkapan kebijakan
7 akuntansi tertentu bermanfaat bagi pengguna laporan
8 keuangan terutama ketika kebijakan akuntansi tersebut dipilih
9 dari beberapa alternatif yang diperkenankan dalam SAK.
10 Misalnya pengungkapan apakah venturer mengakui bagian
11 partisipasinya dalam pengendalian bersama entitas dengan
12 menggunakan konsolidasi proporsional atau metode ekuitas
13 (lihat PSAK 12: Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama).
14 Beberapa SAK secara spesifik mensyaratkan pengungkapan
15 kebijakan akuntansi tertentu, termasuk pilihan yang dibuat
16 oleh manajemen di antara kebijakan akuntansi berbeda yang
17 diperkenankan. Misalnya, PSAK 16: Aset Tetap mensyaratkan
18 pengungkapan dasar pengukuran yang digunakan dalam
19 mengelompokkan aset tetap.
20
21 128. Setiap entitas syariah mempertimbangkan sifat
22 kegiatan operasi dan kebijakan yang diperkirakan pengguna
23 laporan keuangan untuk diungkapkannya. Misalnya, pengguna
24 laporan keuangan akan memperkirakan suatu entitas syariah
25 yang menjadi subjek pajak penghasilan untuk mengungkapkan
26 kebijakan akuntansi tentang pajak penghasilan, termasuk
27 kebijakan yang diterapkan atas aset dan liabilitas pajak
28 tangguhan. Jika entitas syariah memiliki kegiatan usaha luar
29 negeri atau transaksi dalam valuta asing yang signifikan, maka
30 pengguna akan memperkirakan pengungkapan kebijakan
31 akuntansi untuk pengakuan keuntungan dan kerugian selisih
32 kurs valuta asing.
33
34 129. Suatu kebijakan akuntansi mungkin menjadi
35 signifikan karena sifat dan kegiatan operasi entitas syariah
36 meskipun jumlah pada periode berjalan dan periode
37 sebelumnya tidak material. Entitas syariah juga dapat
38 mengungkapkan setiap kebijakan akuntansi yang tidak secara

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.41


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 spesifik disyaratkan oleh SAK tetapi entitas syariah memilih


2 dan menerapkannya.
3
4 130. Entitas syariah mengungkapkan, dalam
5 ringkasan kebijakan akuntansi signifikan atau catatan
6 atas laporan keuangan lain, pertimbangan (selain yang
7 telah tercakup dalam estimasi (lihat paragraf 133)) yang
8 telah dibuat manajemen dalam proses penerapan kebijakan
9 akuntansi dan memiliki dampak yang paling signifikan
10 terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan.
11
12 131. Dalam proses penerapan kebijakan akuntansi,
13 manajemen membuat berbagai pertimbangan (selain yang
14 telah tercakup dalam estimasi) yang secara signifikan dapat
15 mempengaruhi jumlah yang diakui dalam laporan keuangan.
16 Misalnya, manajemen membuat pertimbangan dalam
17 menentukan apakah substansi hubungan antara entitas syariah
18 dan entitas bertujuan khusus menunjukkan bahwa entitas
19 syariah tersebut mengendalikan entitas bertujuan khusus.
20
21 132. Beberapa pengungkapan yang dibuat sesuai
22 dengan paragraf 132 disyaratkan oleh SAK lain. Misalnya,
23 PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
24 Keuangan Tersendiri mensyaratkan entitas syariah untuk
25 mengungkapkan alasan mengapa kepentingan kepemilikannya
26 tidak menimbulkan pengendalian, dalam hal investee bukan
27 merupakan suatu entitas anak meskipun lebih dari setengah
28 hak suara atau hak suara potensial dimiliki secara langsung
29 atau tidak langsung melalui entitas anak lain. PSAK 13:
30 Properti Investasi mensyaratkan pengungkapan kriteria
31 yang dikembangkan oleh entitas syariah untuk membedakan
32 properti investasi dari properti yang digunakan sendiri dan
33 properti yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan bisnis
34 normal jika pengklasifikasian properti sulit dilakukan.
35
36
37
38

101.42 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Sumber Estimasi Ketidakpastian


2
3 133. Entitas syariah mengungkapkan informasi
4 tentang asumsi yang dibuat mengenai masa depan, dan
5 sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain pada akhir
6 periode pelaporan, yang memiliki risiko signifikan yang
7 mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah
8 tercatat aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer pada
9 periode pelaporan berikutnya. Berkaitan dengan aset,
10 liabilitas, dan dana syirkah temporer tersebut, catatan atas
11 laporan keuangan memasukkan rincian atas:
12 (a) sifat; dan
13 (b) jumlah tercatat pada akhir periode pelaporan.
14
15 134. Penetapan jumlah tercatat dari beberapa aset,
16 liabilitas, dan dana syirkah temporer mensyaratkan estimasi
17 pengaruh ketidakpastian atas peristiwa masa depan terhadap aset,
18 liabilitas, dan dana syirkah temporer tersebut pada akhir periode
19 pelaporan. Misalnya, dalam hal tidak tersedianya harga pasar
20 kini yang diobservasi, maka estimasi berorientasi masa depan
21 diperlukan untuk mengukur jumlah terpulihkan atas kelompok
22 aset tetap, dampak keusangan teknologi atas persediaan, provisi
23 yang bergantung pada hasil masa depan dari proses tuntutan
24 hukum yang masih berjalan, dan liabilitas imbalan kerja
25 jangka panjang seperti kewajiban pensiun. Estimasi tersebut
26 memasukkan asumsi tentang penyesuaian risiko atas arus kas,
27 perubahan gaji di masa depan, dan perubahan harga di masa
28 depan yang mempengaruhi biaya lain.
29
30 135. Asumsi dan sumber estimasi ketidakpastian lain
31 yang diungkapkan sesuai dengan paragraf 133 terkait dengan
32 estimasi yang membutuhkan pertimbangan manajemen
33 yang paling sulit, subjektif, atau kompleks. Dengan semakin
34 bertambahnya variabel dan asumsi yang mempengaruhi
35 kemungkinan penyelesaian masa depan atas ketidakpastian,
36 maka pertimbangan tersebut menjadi semakin subjektif dan
37 kompleks, dan potensi dilakukannya penyesuaian material
38 terhadap jumlah tercatat aset, liabilitas, dan dana syirkah

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.43


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 temporer semakin meningkat.


2
3 136. Pengungkapan sebagaimana dimaksud di paragraf
4 133 tidak disyaratkan bagi aset, liabilitas, dan dana syirkah
5 temporer dengan risiko signifikan yang jumlah tercatatnya
6 dapat berubah secara material selama periode tahun berikutnya
7 jika, pada akhir periode pelaporan, aset, liabilitas, dan dana
8 syirkah temporer tersebut diukur dengan menggunakan nilai
9 wajar berdasarkan pada harga pasar kini yang diobservasi.
10 Nilai wajar tersebut dapat berubah secara material selama
11 periode pelaporan berikutnya namun perubahan ini tidak
12 berasal dari asumsi atau sumber estimasi ketidakpastian lain
13 pada akhir periode pelaporan.
14
15 137. Entitas syariah menyajikan pengungkapan di
16 paragraf 133 dalam suatu cara yang dapat membantu pengguna
17 laporan keuangan untuk memahami pertimbangan yang dibuat
18 manajemen tentang masa depan dan tentang sumber estimasi
19 ketidakpastian lain. Sifat dan luas informasi yang diberikan
20 bervariasi sesuai dengan sifat asumsi dan kondisi lain. Contoh
21 pengungkapan yang dibuat adalah:
22 (a) sifat asumsi atau estimasi ketidakpastian lain;
23 (b) sensitivitas jumlah tercatat terhadap metode, asumsi dan
24 estimasi yang mendasari penghitungan jumlah tercatat,
25 termasuk alasan atas sensitivitas tersebut;
26 (c) penyelesaian yang diperkirakan atas ketidakpastian dan
27 kisaran hasil yang mungkin selama periode pelaporan
28 berikutnya atas jumlah tercatat aset, liabilitas, dan dana
29 syirkah temporer yang terpengaruh; dan
30 (d) penjelasan tentang perubahan yang dilakukan terhadap
31 asumsi sebelumnya yang terkait dengan aset, liabilitas,
32 dan dana syirkah temporer, jika ketidakpastian tetap
33 belum dapat diselesaikan.
34
35 138. Pernyataan ini tidak mensyaratkan entitas syariah
36 untuk mengungkapkan informasi anggaran atau prakiraan
37 dalam membuat pengungkapan di paragraf 133.
38

101.44 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 139. Seringkali tidak praktis untuk mengungkapkan


2 dampak yang mungkin timbul dari asumsi atau sumber estimasi
3 ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan. Dalam
4 kondisi tersebut, berdasarkan pengetahuan yang dimiliki saat
5 itu, entitas syariah mengungkapkan hal yang mungkin terjadi
6 bahwa hasil selama periode berikutnya yang berbeda dari asumsi
7 akan membutuhkan penyesuaian material terhadap jumlah
8 tercatat dari aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer yang
9 terpengaruh. Dalam semua hal, entitas syariah mengungkapkan
10 sifat dan jumlah tercatat dari aset, liabilitas, dan dana syirkah
11 temporer tertentu (atau kelompok aset, liabilitas, dan dana
12 syirkah temporer) yang terpengaruh oleh asumsi tersebut.
13
14 140. Pengungkapan di paragraf 130 tentang pertimbangan
15 tertentu yang dibuat manajemen dalam menerapkan kebijakan
16 akuntansi tidak terkait dengan pengungkapan sumber estimasi
17 ketidakpastian di paragraf 133.
18
19 141. SAK lain mensyaratkan pengungkapan dari
20 beberapa asumsi yang mungkin sebaliknya disyaratkan
21 sesuai dengan paragraf 133. Misalnya, PSAK 57: Provisi,
22 Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi mensyaratkan
23 pengungkapan (dalam kondisi tertentu) mengenai asumsi
24 utama yang berhubungan dengan peristiwa masa datang yang
25 mempengaruhi beberapa jenis provisi. PSAK 60: Instrumen
26 Keuangan: Pengungkapan mensyaratkan pengungkapan
27 asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi nilai
28 wajar dari aset yang dicatat pada nilai wajar. PSAK 16: Aset
29 Tetap mensyaratkan pengungkapan asumsi signifikan yang
30 digunakan dalam mengestimasi nilai wajar dari aset tetap
31 yang direvaluasi.
32
33 Modal
34
35 142. Entitas syariah mengungkapkan informasi
36 yang memungkinkan pengguna laporan keuangan
37 untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses dalam
38 mengelola permodalannya.

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.45


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 143. Untuk mematuhi paragraf 142, entitas syariah


2 mengungkapkan hal berikut:
3 (a) informasi kualitatif tentang tujuan, kebijakan, dan proses
4 dalam mengelola permodalannya, termasuk:
5 (i) uraian tentang apa yang dikelola sebagai modal;
6 (ii) jika diharuskan untuk memenuhi persyaratan
7 permodalan eksternal, sifat persyaratan dan
8 bagaimana persyaratan tersebut diimplementasikan
9 dalam pengelolaan permodalan; dan
10 (iii) bagaimana memenuhi tujuan dalam mengelola
11 permodalan.
12 (b) ringkasan data kuantitatif tentang apa yang dikelolanya
13 sebagai modal. Beberapa entitas syariah menganggap
14 liabilitas keuangan sebagai bagian dari modal. Entitas
15 syariah lain menganggap modal tidak termasuk beberapa
16 komponen ekuitas.
17 (c) setiap perubahan di (a) dan (b) dari periode sebelumnya.
18 (d) apakah mematuhi setiap persyaratan permodalan
19 eksternal; dan
20 (e) jika entitas tidak mematuhi persyaratan permodalan
21 eksternal tersebut, konsekuensi dari ketidakpatuhan
22 tersebut.
23 Entitas syariah mendasarkan pengungkapan tersebut dari
24 informasi yang diberikan secara internal kepada personil
25 manajemen kunci.
26
27 144. Entitas syariah dapat mengelola modal dalam
28 beberapa cara dan dapat bergantung pada persyaratan
29 permodalan yang berbeda. Misalnya, entitas syariah
30 konglomerasi mungkin mencakup entitas syariah yang
31 melakukan kegiatan asuransi dan perbankan dan aktivitas
32 tersebut mungkin melakukan kegiatan operasi di beberapa
33 jurisdiksi. Jika pengungkapan keseluruhan atas persyaratan
34 modal dan bagaimana modal dikelola tidak memberikan
35 informasi yang berguna atau dapat mengacaukan pemahaman
36 pengguna laporan keuangan atas sumber permodalan entitas
37 syariah, maka entitas syariah mengungkapkan informasi
38 terpisah untuk setiap persyaratan modal yang berlaku.

101.46 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Pengungkapan Lain
2
3 145. Entitas syariah mengungkapkan dalam catatan
4 atas laporan keuangan:
5 (a) jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan
6 sebelum tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk
7 terbit tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada
8 pemilik selama periode serta jumlah dividen per lembar
9 saham; dan
10 (b) jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui.
11
12 146. Entitas syariah mengungkapkan hal berikut ini,
13 jika tidak diungkapkan di bagian mana pun dalam informasi
14 yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan:
15 (a) domisili dan bentuk hukum, negara tempat pendirian,
16 alamat kantor pusat entitas (atau lokasi utama kegiatan
17 usaha, jika berbeda dari lokasi kantor);
18 (b) keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan
19 utama;
20 (c) nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir
21 dalam kelompok usaha; dan
22 (d) bagi entitas syariah yang mempunyai umur terbatas,
23 informasi tentang lama umur.
24
25 TANGGAL EFEKTIF
26
27 147. Entitas syariah menerapkan Pernyataan ini untuk
28 periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1
29 Januari 2012. Penerapan dini diperkenankan.
30
31 PENARIKAN
32
33 148. Pernyataan ini menggantikan PSAK 101 (revisi
34 2008): Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
35
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.47


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 LAMPIRAN
2
3 Lampiran adalah bagian tak terpisahkan dari PSAK 101.
4
5 Laporan keuangan entitas syariah yang lengkap terdiri dari:
6 (a) Laporan posisi keuangan;
7 (b) Laporan laba rugi komprehensif;
8 (c) Laporan perubahan ekuitas;
9 (d) Laporan arus kas;
10 (e) Laporan sumber dan penggunaan dana zakat;
11 (f) Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan
12 (g) Catatan atas laporan keuangan.
13
14 Setiap jenis entitas syariah dapat menambahkan komponen
15 laporan keuangan lain, selain komponen laporan keuangan di
16 atas. Dalam lampiran ini disajikan laporan keuangan bank syariah
17 dan laporan keuangan entitas asuransi syariah.
18
19 LAMPIRAN A
20 LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH
21
22 Komponen Laporan Keuangan
23
24 A01. Laporan keuangan bank syariah yang lengkap
25 terdiri dari:
26 (a) laporan posisi keuangan;
27 (b) laporan laba rugi komprehensif;
28 (c) laporan perubahan ekuitas;
29 (d) laporan arus kas;
30 (e) laporan perubahan dana investasi terikat;
31 (f) laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil;
32 (g) laporan sumber dan penggunaan dana zakat;
33 (h) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan
34 (i) catatan atas laporan keuangan.
35
36
37
38

101.48 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Laporan Posisi Keuangan


2
3 A02. Bank syariah menyajikan dalam laporan posisi
4 keuangan, dengan memperhatikan ketetentuan dalam SAK
5 yang relevan, mencakup, tetapi tidak terbatas pada pos-pos
6 berikut:
7 Aset
8 (a) Kas;
9 (b) Penempatan pada Bank Indonesia;
10 (c) Giro pada bank lain;
11 (d) Penempatan pada bank lain;
12 (e) Investasi pada surat berharga;
13 (f) Piutang:
14 (i) piutang murabahah;
15 (ii) piutang salam;
16 (iii) piutang istishna’; dan
17 (iv) piutang pendapatan ijarah;
18 (g) Pembiayaan:
19 (i) pembiayaan mudharabah;
20 (ii) pembiayaan musyarakah;
21 (h) Persediaan (aset yang dibeli untuk dijual kembali kepada
22 nasabah);
23 (i) Tagihan dan liabilitas akseptasi;
24 (j) Aset yang diperoleh untuk ijarah;
25 (k) Aset istishna dalam penyelesaian (setelah dikurangi
26 termin istishna);
27 (l) Investasi yang dicatat dengan metode ekuitas;
28 (m) Aset tetap dan akumulasi penyusutan.
29
30 Liabilitas
31 (a) Liabilitas segera;
32 (b) Bagi hasil yang belum dibagikan;
33 (c) Simpanan:
34 (i) giro wadiah;
35 (ii) tabungan wadiah;
36 (d) Simpanan bank lain:
37 (i) giro wadiah;
38 (ii) tabungan wadiah;

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.49


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (e) Utang salam;


2 (f) Utang istishna;
3 (g) Liabilitas kepada bank lain;
4 (h) Pembiayaan yang diterima;
5 (i) Utang pajak;
6 (j) Estimasi kerugian dan komitmen kontinjensi;
7 (k) Pinjaman yang diterima;
8 (l) Pinjaman subordinasi.
9
10 Dana Syirkah Temporer
11 (a) Syirkah temporer dari bukan bank:
12 (i) tabungan mudharabah;
13 (ii) deposito mudharabah;
14 (b) Syirkah temporer dari bank:
15 (i) tabungan mudharabah;
16 (ii) deposito mudharabah;
17 (c) Musyarakah.
18
19 Ekuitas
20 (a) Modal disetor;
21 (b) Tambahan modal disetor;
22 (c) Saldo laba.
23
24 Ilustrasi 1
25
26 Bank Syariah “X”
27 Laporan Posisi Keuangan
28 Per 31 Desember 20X1
29
30 ASET
31 Kas xxx
32 Penempatan pada Bank Indonesia xxx
33 Giro pada bank lain xxx
34 Penempatan pada bank lain xxx
35 Investasi pada surat berharga xxx
36 berlanjut...
37
38

101.50 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Piutang:
3 Murabahah xxx
4 Salam xxx
5 Istishna’ xxx
6 Ijarah xxx
7 Pembiayaan:
8 Mudharabah xxx
9 Musyarakah xxx
10 Persediaan xxx
11 Tagihan dan liabilitas akseptasi xxx
12 Aset ijarah xxx
13 Aset istishna dalam penyelesaian xxx
14 Investasi pada entitas lain xxx
15 Aset tetap dan akumulasi penyusutan xxx
16 Jumlah Aset xxx
17
18 LIABILITAS
19 Liabilitas segera xxx
20 Bagi hasil yang belum dibagikan xxx
21 Simpanan xxx
22 Simpanan dari bank lain xxx
23 Utang:
24 Salam xxx
25 Istishna’ xxx
26 Liabilitas kepada bank lain xxx
27 Pembiayaan yang diterima xxx
28 Utang pajak xxx
29 Estimasi kerugian komitmen
30 dan kontinjensi xxx
31 Pinjaman yang diterima xxx
32 Pinjaman subordinasi xxx
33 Jumlah Liabilitas xxx
34 berlanjut...
35
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.51


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 DANA SYIRKAH TEMPORER
3 Dana syirkah temporer dari bukan bank:
4 Tabungan mudharabah xxx
5 Deposito mudharabah xxx
6 Dana syirkah temporer dari bank:
7 Tabungan mudharabah xxx
8 Deposito mudharabah xxx
9 Musyarakah xxx
10 Jumlah Dana Syirkah Temporer xxx
11
12 EKUITAS
13 Modal disetor xxx
14 Tambahan modal disetor xxx
15 Saldo laba xxx
16 Jumlah Ekuitas xxx
17
18 Jumlah Liabilitas, Dana Syirkah Temporer,
19 dan Ekuitas xxx
20
21 Laporan Laba Rugi Komprehensif
22
23 A03. Komponen laporan laba rugi komprehensif bank
24 syariah disusun dengan mengacu pada SAK untuk pos-
25 pos umum. Dengan memperhatikan ketentuan dalam SAK
26 yang relevan, bank syariah menyajikan laporan laba rugi
27 komprehensif yang mencakup, tetapi tidak terbatas, pada pos-
28 pos berikut:
29 (a) Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai
30 mudharib:
31 (i) Pendapatan dari jual beli:
32 (1) pendapatan marjin murabahah;
33 (2) pendapatan neto salam paralel;
34 (3) pendapatan neto istishna paralel;
35 (ii) Pendapatan dari sewa:
36 (iii) Pendapatan dari bagi hasil:
37 (1) pendapatan bagi hasil mudharabah;
38 (2) pendapatan bagi hasil musyarakah;

101.52 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (iv) Pendapatan usaha utama lain;


2 (b) Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer;
3 (c) Pendapatan usaha lain;
4 (i) Pendapatan imbalan jasa perbankan;
5 (ii) Pendapatan imbalan investasi terikat.
6 (d) Beban usaha;
7 (e) Laba usaha;
8 (f) Pendapatan nonusaha;
9 (g) Beban nonusaha;
10 (h) Beban pajak;
11 (i) Laba neto;
12 (j) Pendapatan komprehensif lain;
13 (k) Laba komprehensif.
14
15 Ilustrasi 2
16
17 Bank Syariah “X”
18 Laporan Laba Rugi
19 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
20
21 Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai
22 Mudharib
23 Pendapatan dari jual beli:
24 Pendapatan marjin murabahah xxx
25 Pendapatan neto salam paralel xxx
26 Pendapatan neto istishna paralel xxx
27 Pendapatan dari sewa:
28 Pendapatan neto ijarah xxx
29 Pendapatan dari bagi hasil:
30 Pendapatan bagi hasil mudharabah xxx
31 Pendapatan bagi hasil musyarakah xxx
32 Pendapatan usaha utama lain xxx
33 Jumlah pendapatan pengelolaan dana
34 oleh bank sebagai mudharib xxx
35
36 Hak pihak ketiga atas bagi hasil (xxx)
37 Hak bagi hasil milik Bank xxx
38 berlanjut...

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.53


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Pendapatan Usaha Lain
3 Pendapatan imbalan jasa perbankan xxx
4 Pendapatan imbalan investasi terikat xxx
5 Jumlah pendapatan usaha lain xxx
6
7 Beban Usaha
8 Beban kepegawaian (xxx)
9 Beban administrasi (xxx)
10 Beban penyusutan dan amortisasi (xxx)
11 Beban usaha lain (xxx)
12 Jumlah beban usaha (xxx)
13
14 Laba Usaha xxx
15
16 Pendapatan dan Beban Nonusaha
17 Pendapatan nonusaha xxx
18 Beban nonusaha (xxx)
19 Jumlah pendapatan nonusaha xxx
20
21 Laba Sebelum Pajak xxx
22
23 Beban pajak (xxx)
24
25 Laba Neto xxx
26 Laba neto yang dapat diatribusikan kepada:
27 Pemilik entitas induk xxx
28 Kepentingan nonpengendali xxx
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

101.54 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1
2 PT Bank Syariah “X”
3 Laporan Laba Rugi Komprehensif
4 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
5
6 Laba Neto xxx
7
8 Pendapatan Komprehensif Lain
9 Surplus revaluasi aset tetap xxx
10 Keuntungan aktuarial xxx
11 Keuntungan penjabaran laporan keuangan xxx
12 Jumlah pendapatan komprehensif lain xxx
13
14 Laba Komprehensif xxx
15 Laba komprehensif yang dapat
16 diatribusikan kepada:
17 Pemilik entitas induk xxx
18 Kepentingan nonpengendali xxx
19
20 Laporan Perubahan Ekuitas
21
22 A04. Bank syariah menyajikan laporan perubahan
23 ekuitas sesuai dengan SAK yang relevan.
24
25 Laporan Arus Kas
26
27 A05. Bank syariah menyajikan laporan arus kas sesuai
28 dengan SAK yang relevan.
29
30 Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
31
32 A06. Laporan perubahan dana investasi terikat
33 memisahkan dana investasi terikat berdasarkan sumber dana
34 dan memisahkan investasi berdasarkan jenisnya.
35
36 A07. Bank syariah menyajikan laporan perubahan dana
37 investasi terikat sebagai komponen utama laporan keuangan,
38 yang menunjukkan:

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.55


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (a) saldo awal dana investasi terikat;


2 (b) jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi
3 dan nilai per kelompok pada awal periode;
4 (c) dana investasi yang diterima dan kelompok investasi
5 yang diterbitkan bank syariah selama periode laporan;
6 (d) penarikan atau pembelian kembali kelompok investasi
7 selama periode laporan;
8 (e) keuntungan atau kerugian dana investasi terikat;
9 (f) imbalan bank syariah sebagai agen investasi;
10 (g) beban administrasi dan beban tidak langsung lainnya
11 yang dialokasikan oleh bank syariah ke dana investasi
12 terikat;
13 (h) saldo akhir dana investasi terikat;
14 (i) jumlah kelompok investasi pada setiap jenis investasi
15 dan nilai per kelompok pada akhir periode.
16
17 A08. Investasi terikat adalah investasi yang bersumber
18 dari pemilik dana investasi terikat dan sejenisnya yang dikelola
19 oleh bank syariah sebagai agen investasi. Investasi terikat
20 bukan merupakan aset maupun liabilitas karena bank syariah
21 tidak mempunyai hak untuk menggunakan atau mengeluarkan
22 investasi tersebut, serta bank syariah tidak memiliki kewajiban
23 mengembalikan atau menanggung risiko investasi.
24
25 A09. Dana yang diserahkan oleh pemilik investasi
26 terikat dan sejenisnya adalah dana yang diterima bank syariah
27 sebagai agen investasi. Dana yang ditarik oleh pemilik dana
28 investasi terikat adalah dana yang diambil atau dipindahkan
29 sesuai dengan permintaan pemilik dana.
30
31 A10. Keuntungan atau kerugian investasi terikat adalah
32 jumlah kenaikan atau penurunan bersih nilai investasi terikat,
33 selain kenaikan yang berasal dari penyetoran atau penurunan
34 yang berasal dari penarikan.
35
36 A11. Dalam hal bank syariah bertindak sebagai agen
37 investasi, imbalan yang diterima adalah sebesar jumlah yang
38 disepakati tanpa memperhatikan hasil investasi.

101.56 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 A12. Catatan atas Laporan Perubahan Dana Investasi


2 Terikat harus mengungkapkan:
3 (a) sifat hubungan antara entitas syariah dan pemilik dana
4 investasi terikat;
5 (b) hak dan kewajiban yang terkait dengan setiap jenis dana
6 investasi terikat atau unit investasi.
7
8 Ilustrasi 3
9 Bank Syariah “X”
10 Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat
11 Periode yang berakhir pada 31 Desember 20X1
12
13 Saldo awal xxx
14 Jumlah kelompok investasi awal periode xxx
15 Nilai per kelompok investasi xxx
16 Penerimaan dana xxx
17 Penarikan dana (xxx)
18 Keuntungan investasi xxx
19 Biaya administrasi (xxx)
20 Imbalan bank sebagai agen investasi (xxx)
21 Saldo investasi pada akhir periode xxx
22 Jumlah kelompok investasi pada akhir periode xxx
23 Nilai kelompok investasi pada akhir periode xxx
24
25 Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil
26
27 A13. Bank syariah menyajikan laporan rekonsiliasi
28 pendapatan dan bagi hasil yang merupakan rekonsiliasi antara
29 pendapatan bank syariah yang menggunakan dasar akrual
30 dengan pendapatan yang dibagihasilkan kepada pemilik dana
31 yang menggunakan dasar kas.
32
33 A14. Perbedaan dasar pengakuan tersebut
34 mengharuskan bank syariah menyajikan laporan rekonsiliasi
35 pendapatan dan bagi hasil sebagai bagian komponen utama
36 laporan keuangan.
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.57


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 A15. Dalam laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi


2 hasil, bank syariah menyajikan:
3 (a) Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai
4 mudharib;
5 (b) Penyesuaian atas:
6 (i) pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai
7 mudharib periode berjalan yang kas atau setara
8 kasnya belum diterima;
9 (ii) Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai
10 mudharib periode sebelumnya yang kas atau setara
11 kasnya diterima di periode berjalan;
12 (c) Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil;
13 (d) Bagian bank syariah atas pendapatan yang tersedia untuk
14 bagi hasil;
15 (e) Bagian pemilik dana atas pendapatan yang tersedia untuk
16 bagi hasil:
17 (i) Bagi hasil yang sudah didistribusikan ke pemilik
18 dana;
19 (ii) Bagi hasil yang belum didistribusikan ke pemilik dana.
20
21 Ilustrasi 4
22 Bank Syariah “X”
23 Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil
24 Periode 1 Januari s.d 31 Desember 20X1
25
26 Pendapatan Usaha Utama xxx
27
28 Pengurang:
29 Pendapatan periode berjalan yang kas atau
30 setara kasnya belum diterima:
31 Pendapatan margin murabahah (xxx)
32 Pendapatan istishna’ (xxx)
33 Hak bagi hasil:
34 Pembiayaan mudharabah (xxx)
35 Pembiayaan musyarakah (xxx)
36 Pendapatan sewa (xxx)
37 Jumlah pengurang (xxx)
38 berlanjut...

101.58 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Penambah:
3 Pendapatan periode sebelumnya yang kasnya
4 diterima pada periode berjalan:
5 Penerimaan pelunasan piutang:
6 Margin murabahah xxx
7 Istishna’ xxx
8 Pendapatan sewa xxx
9 Penerimaan piutang bagi hasil:
10 Pembiayaan mudharabah xxx
11 Pembiayaan musyarakah xxx
12 Jumlah penambah xxx
13
14 Pendapatan Tersedia untuk Bagi Hasil xxx
15 Bagi hasil yang menjadi hak bank syariah xxx
16 Bagi hasil yang menjadi hak pemilik dana xxx
17 Dirinci atas:
18 Hak pemilik dana atas bagi hasil
19 yang sudah didistribusikan xxx
20 Hak pemilik dana atas bagi hasil
21 yang belum didistribusikan xxx
22
23 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat
24
25 A16. Bank syariah menyajikan laporan sumber dan
26 penggunaan dana zakat sesuai PSAK 101 dan SAK yang relevan.
27
28 Ilustrasi 5
29
30 Bank Syariah “X”
31 Laporan Sumber Dan Penggunaan Dana Zakat
32 Periode 1 Januari s.d 31 Desember 20X1
33
34 Sumber Dana Zakat
35 Zakat dari dalam bank syariah xxx
36 Zakat dari pihak luar bank syariah xxx
37 Jumlah sumber dana zakat xxx
38 berlanjut...

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.59


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Penggunaan Dana Zakat
3 Fakir (xxx)
4 Miskin (xxx)
5 Amil (xxx)
6 Muallaf (xxx)
7 Gharim (xxx)
8 Riqab (xxx)
9 Fisabilillah (xxx)
10 Ibnu sabil (xxx)
11 Jumlah penggunaan dana zakat (xxx)
12
13 Kenaikan dana zakat xxx
14
15 Saldo awal dana zakat xxx
16
17 Saldo akhir dana zakat xxx
18
19 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
20
21 A17. Bank syariah menyajikan laporan sumber dan
22 penggunaan dana kebajikan sesuai PSAK 101 dan SAK lain
23 yang relevan.
24
25 Ilustrasi 6
26
27 Bank Syariah “X”
28 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
29 Periode 1 Januari s.d 31 Desember 20X1
30
31 Sumber Dana Kebajikan
32 Infak dari dalam bank syariah xxx
33 Sedekah xxx
34 Hasil pengelolaan wakaf xxx
35 Pengembalian dana kebajikan produktif xxx
36 Denda xxx
37 Pendapatan nonhalal xxx
38 Jumlah sumber dana kebajikan xxx
berlanjut...
101.60 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia
Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Penggunaan Dana Kebajikan
3 Dana kebajikan produktif (xxx)
4 Sumbangan (xxx)
5 Penggunaan lainnya
6 untuk kepentingan umum (xxx)
7 Jumlah Penggunaan Dana Kebajikan (xxx)
8
9 Kenaikan dana kebajikan xxx
10
11 Saldo awal dana kebajikan xxx
12
13 Saldo akhir dana kebajikan xxx
14
15 Catatan atas Laporan Keuangan
16
17 A18. Bank syariah menyajikan catatan atas laporan
18 keuangan sesuai PSAK 101 dan SAK yang relevan.
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.61


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 LAMPIRAN B
2 LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASURANSI SYARIAH
3
4 Komponen Laporan Keuangan
5
6 B01. Laporan keuangan entitas asuransi syariah yang
7 lengkap terdiri dari:
8 (a) laporan posisi keuangan;
9 (b) laporan surplus defisit underwriting dana tabarru’;
10 (c) laporan perubahan dana tabarru’;
11 (d) laporan laba rugi komprehensif;
12 (e) laporan perubahan ekuitas;
13 (f) laporan arus kas;
14 (g) laporan sumber dan penggunaan dana zakat;
15 (h) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan
16 (i) catatan atas laporan keuangan.
17
18 B02. Dalam hal pengelolaan asuransi syariah dilakukan
19 oleh bukan entitas asuransi syariah, maka komponen laporan
20 keuangannya mengacu ke SAK yang relevan.
21
22 B03. Bagi entitas asuransi syariah yang memiliki
23 kegiatan signifikan berkaitan dengan pengelolaan investasi
24 terikat sebagai wakil dan atau pengelolaan investasi dengan
25 pola bagi hasil, maka entitas asuransi syariah tersebut
26 menyiapkan laporan di bawah ini yang relevan:
27 (a) laporan perubahan dana investasi terikat; dan atau
28 (b) laporan rekonsiliasi bagi hasil.
29 Kedua komponen laporan keuangan di atas dapat dilihat di
30 Lampiran A
31
32 Laporan Posisi Keuangan
33
34 B04. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan posisi
35 keuangan, dengan memperhatikan ketentuan dalam SAK yang
36 relevan, mencakup tetapi tidak terbatas pada:
37
38

101.62 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Aset
2 (a) kas dan setara kas;
3 (b) piutang kontribusi;
4 (c) piutang reasuransi;
5 (d) piutang;
6 (i) murabahah;
7 (ii) salam;
8 (iii) istishna’;
9 (e) investasi pada surat berharga;
10 (f) pembiayaan;
11 (i) mudharabah;
12 (ii) musyarakah;
13 (g) investasi pada entitas lain;
14 (h) properti investasi;
15 (i) aset tetap dan akumulasi penyusutan.
16
17 Liabilitas
18 (a) penyisihan kontribusi yang belum menjadi hak;
19 (b) utang klaim;
20 (c) klaim yang sudah terjadi tetapi belum dilaporkan;
21 (d) bagian reasuransi dari pihak lain atas klaim yang masih
22 harus dibayar;
23 (e) bagian peserta atas surplus underwriting dana tabarru’
24 yang masih harus dibayar;
25 (f) utang reasuransi;
26 (g) utang dividen;
27 (h) utang pajak.
28
29 Dana peserta
30 (a) dana syirkah temporer (mudharabah);
31 (b) dana tabarru’.
32
33 Ekuitas
34 (a) modal disetor;
35 (b) tambahan modal disetor;
36 (c) saldo laba.
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.63


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Ilustrasi 1
2
3 Asuransi Syariah “X”
4 Laporan Posisi Keuangan
5 Per 31 Desember 20X1
6
7 Aset
8 Kas dan setara kas xxx
9 Piutang kontribusi xxx
10 Piutang reasuransi xxx
11 Piutang xxx
12 Murabahah xxx
13 Salam xxx
14 Istishna’ xxx
15 Investasi pada surat berharga xxx
16 Pembiayaan xxx
17 Mudharabah xxx
18 Musyarakah xxx
19 Investasi pada entitas lain xxx
20 Properti investasi xxx
21 Aset tetap dan akumulasi penyusutan xxx
22 Jumlah aset xxx
23
24 Liabilitas
25 Penyisihan kontribusi yang belum menjadi hak xxx
26 Utang klaim xxx
27 Klaim yang sudah terjadi tetapi belum dilaporkan xxx
28 Bagian reasuransi dari pihak lain atas klaim yang
29 masih harus dibayar xxx
30 Bagian peserta atas surplus underwriting
31 dana tabarru’ yang masih harus dibayar xxx
32 Utang reasuransi xxx
33 Utang dividen xxx
34 Utang pajak xxx
35 Jumlah liabilitas xxx
36 berlanjut...
37
38

101.64 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 ...lanjutan
2 Dana Peserta
3 Dana syirkah temporer xxx
4 Dana tabarru’ xxx
5 Jumlah dana peserta xxx
6
7 Ekuitas
8 Modal disetor xxx
9 Tambahan modal disetor xxx
10 Saldo laba xxx
11 Jumlah ekuitas xxx
12
13 Jumlah liabilitas, ekuitas peserta, dan ekuitas xxx
14
15 Laporan Surplus Defisit Underwriting Dana Tabarru’
16
17 B05. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan laba
18 rugi peserta, dengan memperhatikan ketentuan dalam SAK
19 yang relevan, mencakup tetapi tidak terbatas pada:
20 (a) kontribusi bruto;
21 (b) bagian reasuransi atas kontribusi;
22 (c) perubahan kontribusi yang belum menjadi hak;
23 (d) penerimaan kontribusi untuk periode berjalan;
24 (e) pembayaran klaim bruto;
25 (f) bagian reasuransi dan pihak lain atas pembayaran klaim
26 bruto;
27 (g) perubahan klaim yang masih harus dibayar (outstanding
28 claim);
29 (h) perubahan bagian reasuransi atas klaim yang masih harus
30 dibayar;
31 (i) penyisihan teknis;
32 (j) beban pengelolaan asuransi;
33 (k) pendapatan investasi;
34 (l) surplus atau defisit underwriting dana tabarru’.
35
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.65


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Ilustrasi 2
2
3 Asuransi Syariah “X”
4 Laporan Surplus Defisit Underwriting Dana Tabarru’
5 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
6
7 Pendapatan Asuransi
8 Kontribusi bruto xxx
9 Ujrah pengelola (xxx)
10 Bagian reasuransi (atas risiko) (xxx)
11 Perubahan kontribusi yang belum menjadi hak (xxx)
12 Jumlah pendapatan asuransi xxx
13
14 Beban Asuransi
15 Pembayaran klaim xxx
16 Klaim yang ditanggung reasuransi dan pihak lain (xxx)
17 Klaim yang masih harus dibayar xxx
18 Klaim yang masih harus dibayar yang
19 ditanggung reasuransi dan pihak lain (xxx)
20 Penyisihan teknis:
21 Beban Penyisihan teknis xxx
22 Jumlah beban asuransi xxx
23
24 Surplus Neto Asuransi xxx
25
26 Pendapatan Investasi
27 Total pendapatan investasi xxx
28 +/- Beban pengelolaan portofolio investasi xxx
29 Pendapatan investasi neto xxx
30
31 Surplus Underwriting Dana Tabarru’ xxx
32
33 Laporan Perubahan Dana Tabarru'
34
35 B06. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan
36 perubahan dana tabarru’ yang mencakup, tetapi tidak terbatas,
37 pada pos pos berikut:
38 (a) surplus atau defisit periode berjalan;

101.66 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 (b) bagian surplus yang didistribusikan ke peserta dan atau;


2 (c) surplus yang yang tersedia untuk dana tabarru’;
3 (d) saldo awal;
4 (e) saldo akhir.
5
6 Ilustrasi 3
7
8 Asuransi Syariah “X”
9 Laporan Perubahan Dana Tabarru
10 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
11
12 Surplus underwriting dana tabarru’ (dasar akrual) xxx
13 Distribusi ke peserta (xxx)
14 Distribusi ke pengelola (xxx)
15 Surplus yang tersedia untuk dana tabarru’ xxx
16 Saldo awal xxx
17 Saldo akhir xxx
18
19 Laporan Laba Rugi Komprehensif
20
21 B07. Laporan laba rugi komprehensif disusun dengan
22 mengacu pada SAK yang relevan. Entitas asuransi syariah
23 menyajikan laporan laba rugi yang mencakup, tetapi tidak
24 terbatas, pada pos-pos berikut:
25 (a) pendapatan pengelolaan asuransi;
26 (b) pendapatan pengelolaan investasi dana peserta;
27 (c) pendapatan pembagian surplus underwriting;
28 (d) pendapatan investasi;
29 (e) beban usaha;
30 (f) laba usaha;
31 (g) beban pajak;
32 (h) laba rugi;
33 (i) pendapatan komprehensif lain;
34 (j) laba komprehensif.
35
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.67


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Ilustrasi 4
2
3 Asuransi Syariah “X”
4 Laporan Laba Rugi
5 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
6
7 Pendapatan
8 Pendapatan pengelolaan operasi asuransi (ujrah) xxx
9 Pendapatan pengelolaan portofolio investasi
10 dana peserta xxx
11 Pendapatan pembagian surplus underwriting xxx
12 Pendapatan investasi xxx
13 Jumlah pendapatan xxx
14
15 Beban komisi xxx
16 Ujrah dibayar xxx
17 Beban umum dan administrasi xxx
18 Beban pemasaran xxx
19 Beban pengembangan xxx
20 Jumlah beban xxx
21
22 Laba Usaha xxx
23
24 Pendapatan (beban) Nonusaha Neto xxx
25
26 Laba Sebelum Pajak xxx
27 Beban pajak xxx
28
29 Laba Neto xxx
30 Laba neto yang dapat diatribusikan kepada:
31 Pemilik entitas induk xxx
32 Kepentingan nonpengendali xxx
33
34
35
36
37
38

101.68 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1
2 Asuransi Syariah “X”
3 Laporan Laba Rugi Komprehensif
4 Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X1
5
6 Laba Neto xxx
7
8 Pendapatan Komprehensif Lain
9 Surplus revaluasi aset tetap xxx
10 Keuntungan (kerugian) aktuarial xxx
11 Keuntungan (kerugian) penjabaran
12 laporan keuangan xxx
13 Jumlah pendapatan komprehensif lain xxx
14
15 Laba Komprehensif xxx
16 Laba komprehensif yang dapat
17 diatribusikan kepada:
18 Pemilik entitas induk xxx
19 Kepentingan nonpengendali xxx
20
21 Laporan Perubahan Ekuitas
22
23 B08. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan
24 perubahan ekuitas sesuai dengan SAK yang relevan.
25
26 Laporan Arus Kas
27
28 B09. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan arus
29 kas sesuai dengan SAK yang relevan.
30
31 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat
32
33 B10. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan
34 sumber dan penggunaan dana zakat sesuai Lampiran A
35 paragraf A16.
36
37
38

Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia 101.69


Penyajian Laporan Keuangan Syariah ED PSAK 101 (revisi 2011)

1 Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan


2
3 B11. Entitas asuransi syariah menyajikan laporan
4 sumber dan penggunaan dana kebajikan sesuai dengan
5 Lampiran A paragraf A17.
6
7 Catatan atas Laporan Keuangan
8
9 B12. Entitas asuransi syariah menyajikan catatan atas
10 laporan keuangan sesuai dengan PSAK 101 dan SAK yang
11 relevan
12
13 Tanggal Efektif
14
15 B13. (Dihilangkan).
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

101.70 Hak Cipta © 2011 Ikatan Akuntan Indonesia