Anda di halaman 1dari 15

MANUSIA DAN KEKERASAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna,
dimana manusia dilengkapi dengan bentuk fisik yang sesempurna mungkin, selain itu
manusia dibekali dengan akal dan pikiran yang memungkinkan manusia untuk bisa
berekspresi, berfikir dan memahami apa yang ada disekelilingnya. Karena
kesempurnaan itu juga manusia pun bisa melakukan banyak sekali kebaikan dan
banyak sekali kesalahan. Banyak sekali kita lihat kasus-kasus kejahatan yang tidak
memiliki hati nurani sampai nyawa pun beterbangan. Ternyata manusia itu memang
tidak selamanya sesempurna seperti apa yang manusia miliki sekarang ini.
Paradox manusia meliputi makhluk jasmani dan rohani, makhluk individu
maupun makhluk social, makhluk imanen maupun transeden, makhluk penuh cinta
sekaligus makhluk yang penuh dengan kebencian pula. Bahkan makhluk yang penuh
dengan kelembutan dan juga penuh dengan kekerasan. Tentu saja keparadoksalan itu
bukan sesuatu yang tanpa makna, ia mengisyaratkan tugas-tugas kemanusiaan,
kendatipun batas-batas antara keduanya sangat tipis. Tugas manusia untuk
meruhanikan hidupnya, mensosialisasikan hidupnya, mentransedensi hidupnya,
mengembangkan cinta kasih dan kelembutan, bukan sebaliknya
Kekerasan dalam kehidupan manusia merupakan fenomena yang sangat
menarik, karena bagaimanapun kekerasan merupakan salah satu ke-paradoksalan
manusia itu sendiri. Manusia memang oleh Allah diciptakan sebagai makhluk yang
mulia dan merupakan sebaik-baik ciptaan seperi pada surat Al-Quran surat Al Israa
ayat 70: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan”. Ternyata juga merupakan makhluk yang menyukai kekerasan
dan bahkan juga “tega” untuk saling menumpahkan darah, sebagaimana yang
sebelumnya telah dikhawatirkan oleh para malaikat ketika Allah hendak menjadikan
seorang khalifah-Nya di muka bumi.

1
MANUSIA DAN KEKERASAN

Sejak manusia pertama kali dilahirkan, bahkan telah terjadi kekerasan dengan
saling membunuh antara 2 bersaudara anak Adam yakni Habil dan Qabil. Selama
5000 tahun sejarah manusia, tercatat telah terjadi 8000 pertikaian baik dalam skala
besar maupun skala kecil. Sehingga muncul pertanyaan, apakah memang kekerasan
telah menjadi bawaan manusia itu sendiri yang tidak perlu dicegah?karena memang
persoalan kekerasan ini menjadi persoalan yang kompleks jikalau sudah menyangkut
kehidupan pribadi seseorang. Sehingga kehidpuan menjadi tidak aman dan tidak
adanya rasa toleransi antar manusia itu sendiri. Segala sesuatu yang ada di ala mini
harus berjalan sesuai dengan keseimbangan dan selaras agar tidak terjadinya
kejahatan-kejahatan dalam kehidupan sehari-hari.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Tujuan dari dibuatnya makalah ini salah satunya adalah memenuhi tugas individu
yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Selain
itu dari topik yang telah diberikan oleh dosen yaitu manusia dan kekerasan, maka
topik ini akan saya angkat sebagai topik yang paling fundamental dalam diri manusia
khususnya dan kita pun harus mengetahui ini sebagai pelaku dari kekerasan. Maka
dari itu tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah:

1. Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Ilmu
Sosial Budaya Dasar

2. Mengetahui bagaimana manusia dan kekerasan bisa terbentuk

3. Mengetahui bagaimana manusia selalu hidup tidak jauh dari kata kekerasan
padahal kita diibaratkan manusia yang paling sempurna sehingga mampu
membedakan mana baik dan salah

4. Mengetahui pengaruh kekerasan dalam kehidupan sehari-hari

5. Mengetahui peran dan serta manusia dalam menghadapi persoalan kekerasan


ini

6. Agar mahasiswa mampu membedakan antara mana hal yang baik dan buruk

2
MANUSIA DAN KEKERASAN

BAB II
PERMASALAHAN

Dalam penyusunan makalah ini banyak sekali masalah-masalah mengenai


manusia dan kekerasan serta hubungannya dengan kehidupan manusia sekarang ini.
Seperti yang sudah kita ketahui di berita-berita televisi banyak sekali berita
pembunuhan, terror-teror bom yang membuat kehidupan manusia tidak normal
sebagaimana seharusnya mengingat nyawa manusia tidak menjadi harga mati, namun
sudah menjadi kebiasaan para pelaku kekerasan dalam melakukan aksinya.
Pertanyaan yang timbul dari dalam diri kita bagaimana manusia bisa bertindak
setega itu terhadap sesame manusia atau bahkan dengan makhluk Tuhan yang lain
yang tidak mengerti apa-apa. Sehingga menimbulkan pertanyaan bagaimana manusia
bisa berfikir untuk melakukan kekerasan, padahal tentunya hidup damai dalam
ketentraman lebih baik dan lebih nyaman tentunya.
Manusia yang dikatakan makhluk yang paling sempurna saja bisa melakukan hal
tersebut dengan sadis. Maka dari itu beberapa pertanyaan yang akan diajukan pada
makalah ini kami batasi pada masalah-masalah yang umumnya terjadi disekitar kita
yang tentunya membuat kita tidak pernah nyaman dalam menjadi hidup. Sehingga
rumusan masalah yang saya ajukan antara lain:
1. Apa pengertian kekerasan?
2. Apa saja jenis kekerasan dan definisinya?
3. Bagaimana sejarah manusia dan kekerasan?
4. Bagaimana Hubungan manusia dan kekerasan?
5. Apa pengertian toleransi?
6. Manusia tanpa kekerasan?

3
MANUSIA DAN KEKERASAN

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kekerasan
Kekerasan atau (bahasa Inggris: Violence ejaan Inggris: [/vaɪ(ə)ləns/]
berasal dari (bahasa Latin: violentus yang berasal dari
kata vī atau vīs berarti kekuasaan atau berkuasa) adalah dalam prinsip dasar
dalam hukum publik dan privat Romawi yang merupakan sebuah ekspresi baik
yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada
tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang
dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang, umumnya berkaitan
dengan kewenangannya yakni bila diterjemahkan secara bebas dapat diartinya
bahwa semua kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan penggunaan atau
tindakan kesewenang-wenangan itu dapat pula dimasukan dalam rumusan
kekerasan iniPertanyaan penting pertama yang harus diajukan berkaitan dengan
perilaku kekerasan adalah apakah yang mendorong manusia melakukan tindakan
kekerasan. Jawaban terhadap pertanyaan ini diharapkan akan mengantarkan pada
pengertian tentang perilaku kekerasan. Menurut T. Robert Gurr, di dalam
kompleksitas motivasi manusia, para neurofisiologis menemukan dua sistem hasrat
(appetitive system) besar sebagai pembentuk motivasi yang terjadi pada manusia.
Stimulasi dari salah satu sistem ini menghasilkan perasaan gembira, kepuasan, dan
cinta. Stimulasi sistem lainnya menghasilkan sensasi kecemasan, teror, depresi,
dan kemarahan. Perasaan-perasaan ini mewarnai persepsi manusia tentang dunia
dan mendorong tindakan-tindakannya.
Namun lingkungan manusia berubah dan apa yang dipelajari manusia tidak
selalu terbukti cocok untuk menghasilkan kepuasan dirinya. Menghadapi
kenyataan yang demikian manusia akan menjadi frustasi. Frustasi yang dialami
manusia kemungkinan akan menimbulkan tindakan agresi. Hubungan frustasi-
agresi menyebabkan terjadinya dinamika psikologis untuk hubungan antara

4
MANUSIA DAN KEKERASAN

intensitas deprivasi dan potensi bagi kekerasan kolektif. Menurut T. Robert Gurr
deprivasi relatif (relative deprivation) adalah istilah yang digunakan untuk
menyatakan ketegangan yang terjadi akibat suatu kesenjangan antara yang harus
menjadi (ought) dan yang menjadi (is) dalam kepuasan nilai kolektif, dan yang
amendorong manusia untuk melakukan kekerasan.
Menurut Jack D. Douglas dan F.C. Waksler istilah kekerasan digunakan untuk
menggambarkan perilaku, baik yang terbuka (overt) atau tertutup (covert), dan
baik yang bersifat menyerang (offensif) atau bertahan (deffensive), yang disertai
penggunaan kekuatan kepada orang lain.

B. Jenis-jenis kekerasan dan definisinya.

1. Kekerasan yang dilakukan perorangan perlakuan kekerasan dengan


menggunakan fisik (kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina),
psikologis (pelecehan), oleh seseorang dalam lingkup lingkungannya.
2. Kekerasan yang dilakukan oleh negara atau kelompok, yang oleh Max
Weber didefinisikan sebagai "monopoli, legitimasi untuk melakukan
kekerasan secara sah" yakni dengan alasan untuk melaksanakan putusan
pengadilan, menjaga ketertiban umum atau dalam keadaan perang yang dapat
berubah menjadi semacam perbuatanan terorisme yang dilakukan oleh negara
atau kelompok yang dapat menjadi salah satu bentuk kekerasan ekstrem
(antara lain, genosida, dll.). [6]
3. Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik yakni
tindakan kekerasan yang diancam oleh hukum pidana (sosial, ekonomi atau
psikologis (skizofrenia, dll.)).
4. Kekerasan dalam politik umumnya pada setiap tindakan kekerasan
tersebut dengan suatu klaim legitimasi bahwa mereka dapat melakukannya
dengan mengatas namakan suatu tujuan politik (revolusi, perlawanan terhadap
penindasan, hak untuk memberontak atau alasan pembunuhan terhadap raja
lalim walaupun tindakan kekerasan dapat dibenarkan dalam teori hukum untuk
pembelaan diri atau oleh doktrin hukum dalam kasus perlawanan terhadap
penindasan di bawah tirani dalam doktrin hak asasi manusia.[7]

5
MANUSIA DAN KEKERASAN

5. Kekerasan simbolik (Bourdieu, Theory of symbolic power),


[8]
merupakan tindakan kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan secara
struktural dan kultural (Johan Galtung,Cultural Violence)[9] dalam beberapa
kasus dapat pula merupakan fenomena dalam penciptaan stigmatisasi.

Kekerasan antara lain dapat pula berupa pelanggaran


(penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau
dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan -
hingga batas tertentu - kepada binatang dan harta-benda. Istilah "kekerasan" juga
berkonotasi kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.

Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk —kekerasan


sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak
terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh kelompok-
kelompok baik yang diberi hak maupun tidak —seperti yang terjadi
dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme.

Sejak Revolusi Industri, kedahsyatan peperangan modern semakin


meningkat hingga mencapai tingkat yang membahayakan secara universal. Dari
segi praktis, peperangan dalam skala besar dianggap sebagai ancaman langsung
terhadap harta benda dan manusia, budaya, masyarakat, dan makhluk hidup
lainnya di muka bumi.

Secara khusus dalam hubungannya dengan peperangan, jurnalisme, karena


kemampuannya yang kian meningkat, telah berperan dalam membuat kekerasan
yang dulunya dianggap merupakan urusan militer menjadi masalah moral dan
menjadi urusan masyarakat pada umumnya.

Transkulturasi, karena teknologi modern, telah berperan dalam


mengurangi relativisme moral yang biasanya berkaitan dengan nasionalisme, dan
dalam konteks yang umum ini, gerakan "antikekerasan" internasional telah
semakin dikenal dan diakui peranannya.

C. Sejarah manusia dan kekerasan


Kekerasan sendiri mempunyai sejarah panjang yang seumur dengan umat
manusia. Sejak anak Adam Qabil merupakan tokoh yang melakukan

6
MANUSIA DAN KEKERASAN

pembunuhan pertama dengan membunuh saudara laki-lakinya Habil lantaran


kurban persembahannya tidak diterima oleh Allah karena ketidaktulusannya
dengan mempersembahkan hasil pertaniannya yang sudah agak busuk.
Dikisahkan pula bahwa Qabil merupakan orang pertama yang melakukan
pemakanman untuk menguburkan Habil setelah melihat seekor gagak
menguburkan gagak lainnya yang mati.
Kekerasan yang paling dramatis dilakukan manusia adalah perang. Perang
sendiri dimulai sejak ekspansi Romawi (220 SM), diteruskan dengan perang
besar lainnya, perang ekspansi Muslim ke Afrika dan Eropa, Perang Dunia dan
lain-lain. Perang merupakan turunan sifat dasar manusia yang tetap sampai
sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat
eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi.
Kekerasan lain yang tercatat dalam sejarah adalah pembunuhan terhadap
tokoh-tokoh besar dan penting di berbagai negara. Tercatat hampir terdapat di
semua negara di dunia. Mau lihat daftar lengkapnya bisa klik DISINI. Kalau di
Indonesia punya daftar panjang mulai pembunuhan raja-raja kerajaan Hindu
Budha yang fenomenal seperti cerita Singosari dengan tokoh Ken Arok, kerajaan
bercorak Islam, hingga pembunuhan tokoh HAM Munir.
Kekerasan yang terbaru adalah terorisme, dalam teorinya terorisme adalah
serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror
terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak
tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba
dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual
terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York,
Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September
Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak
menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik
perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika
Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya
ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung
Pentagon.

7
MANUSIA DAN KEKERASAN

D. Manusia dan kekerasan

Kekerasan dalam kehidupan manusia merupakan fenomena yang sangat


menarik, karenabagaimanapun kekerasan merupakan salah satu ke-paradoksalan
manusia itu sendiri. Manusia memang oleh Allah diciptakan sebagai makhluk yang
mulia dan merupakan sebaik-baik ciptaan1. Ternyata juga merupakan makhluk
yang menyukai kekerasan dan bahkan juga “tega” untuk saling menumpahkan
darah, sebagaimana yang sebelumnya telah dikhawatirkan oleh para malaikat
ketika Allah hendak menjadikan seorang khalifah Nya di muka bumi (Al Baqarah:
30).
Paradoks manusia meliputi ia makhluk jasmani sekaligus ruhani, makhluk
individu sekaligus sosial, makhluk imanen sekaligus transenden, makhluk penuh
cinta sekaligus kebencian, makhluk yang penuh kelembutan sekaligus kekerasan.
Tentu saja keparadoksalan itu bukan sesuatu yang tanpa makna, ia mengisyaratkan
tugas-tugas kemanusiaan, kendatipun batas-batas antara keduanya amat tipis.
Tugas manusia untuk meruhanikan hidupnya, mensosialisasikan hidupnya,
mentransendensikan hidupnya, mengembangkan cinta kasih dan kelembutan,
bukan sebaliknya.
Sejak manusia pertama kali dilahirkan, bahkan telah terjadi kekerasan dengan
saling membunuh antara dua bersaudara anak Adam yakni Habil dan Qabil.
Selama 5000 tahun sejarah ummat manusia, tercatat telah terjadi 8000 pertikaian
yang diselesaikan melalui adu senjata. Sehingga dapat dikatakan hampir setiap
tahun terjadi dua kali aksi kekerasan antar ummat manusia berupa peperangan
yang melibatkan kelompok besar atau bangsa. Belum terhitung pertikaian antar
kelompok kecil, antar dua bersaudara, antar suami-isteri, dan sebagainya.
Sehingga muncul pertanyaan, apakah memang kekerasan telah menjadi bawaan
manusia itu sendiri yang tidak perlu dicegah? Toh dengan melihat kenyataan
bahwa sejarah ummat manusia selalu diwarnai dengan kekerasan, telah menjadikan
himbauan moral hanya basa-basi.
Para pemikir barat seperti Thomas Hobbes seorang penganut empirisme dari
Inggris (1588-1679) mengatakan bahwa kekerasan merupakan keadaan alamiah
manusia.Pandangan ini didasarkan atas anggapannya bahwa manusia merupakan
makhluk yang dikuasai oleh dorongan-dorongan irasional, anarkis, serta bersifat

8
MANUSIA DAN KEKERASAN

mekanistik yang saling mengiri dan membenci sehingga menjadi kasar, jahat dan
“buas”. Pendapat serupa dikemukakan oleh Konrad Zacharias Lorenz (1903-1989)
dari Austria yang mengatakan bahwa kekerasan merupakan salah satu dari empat
naluri dasar manusia, di samping rasa takut, keinginan seksual dan rasa lapar.
Kebudayaan pada dasarnya merupakan pengolahan dan upaya mentransendensikan
naluri tersebut.
Johan Galtung sosiolog dari Universitas Oslo mengatakan bahwa kekerasan
ada apabila manusia dipengaruhi sedemikian rupa oleh situasi tertentu. Sehingga
realisasi jasmani dan mental aktual berada dibawah realisasi potensialnya. Naluri
kekerasan akan muncul bila ada kondisi yang mendorongnya. Salah satu picu
pelatuk utama dari munculnya naluri kekerasan ini adalah ketidak adilan. Ketidak
adilan berarti membiarkan orang lain dianiaya, dari segi ini ketidak adilan menjadi
kekerasan pada dirinya sendiri. Kepemimpinan yang tidak adil akan cenderung
berubah menjadi kekuasaan, dan penyalahgunaan kekuasaan akan menjadi picu
dari tindakan kekerasan. Michel Foucault (1926-1984) mengatakan bahwa dalam
hal ini adadua pihak yang saling berhadapan, pihak yang berkuasa dan pihak yang
tidak berkuasa atau dikuasai. Dari kondisi ini saja sudah tercermin ketidak adilan.
Kepemimpinan adalah bagian penting dari kehidupan manusia, tetapi kalau sudah
disalah artikan menjadi kekuasaan yang menindas maka akan terjadi kekerasan
sebagai bentuk perlawanan. Dari sisi lain, kekerasan manusia juga akan muncul
ketika tolok ukur normatif manusiabergeser dari tolok ukur transenden ke arah
imanen. Keparadoksalan manusia seperti yang dikatakan di depan memiliki batas
yang amat tipis. Sehingga manusia dapat saja berubah secara cepat untuk
mengabaikan tugas-tugasnya selaku khalifah Allah di muka bumi ini.
Ketika jasmani menjadi ukuran, individualitas menjadi ukuran, hal-hal yang
bersifat imanen seperti harta-benda menjadi ukuran, maka hal tersebut akan
memudahkan pula munculnya kekerasan karena dalam kondisi tersebut amat
mudah timbul kedengkian dan kebencian. Sehingga kedua faktor kunci yakni:
ketidak adilan dan tolok ukur yang keliru dalam memandang kehidupan
seharusnya menjadi bahan pertimbangan munculnya tindak
kekerasan manusia

E. Pengertian toleransi

9
MANUSIA DAN KEKERASAN

Kata toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare yang berarti bertahan atau
memikul. Toleran di sini diartikan dengan saling memikul walaupun pekerjaan itu
tidak disukai; atau memberi tempat kepada orang lain, walaupun kedua belah pihak
tidak sependapat (Siagian, 1993:115). Dengan demikian toleransi menunjuk pada
adanya suatu kerelaan untuk menerima kenyataan adanya orang lain yang berbeda.
Menurut Webster’s New American Dictionary arti toleransi adalah liberty to ward
the opinions of others, patients with others (memberi kebebasan (membiarkan)
pendapat orang lain, dan berlaku sabar menghadapi orang lain). Toleransi diartikan
memberikan tempat kepada pendapat yang berbeda. Pada saat bersamaan sikap
menghargai pendapat yang berbeda itu disertai dengan sikap menahan diri atau
sabar. Oleh karena itu di antara orang yang berbeda pendapat harus
memperlihatkan sikap yang sama yaitu saling mengharagai dengan sikap yang
sabar.
Padanan kata toleransi dalam bahasa Arab adalah kata tasamuh. Tasamuh
dalam bahasa Arab berarti membiarkan sesuatu untuk dapat saling mengizinkan
dan saling memudahkan. Dari kata tasamuh tersebut dapat diartikan agar di antara
mereka yang berbeda pendapat hendaknya bisa saling memberikan tempat bagi
pendapatnya. Masing-masing pendapat memperoleh hak untuk mengembangkan
pendapatnya dan tidak saling menjegal satu sama lain. Dari beberapa pendapat di
atas toleransi dapat diartikan sebagai sikap menenggang, membiarkan,
membolehkan, baik berupa pendirian, kepercayaan, dan kelakuan yang dimiliki
seseorang atas yang lainnya. Dengan kata lain toleransi adalah sikap lapang dada
terhadap prinsip orang lain. Toleransi tidak berarti seseorang harus mengorbankan
kepercayaan atau prinsip yang dianutnya. Dalam toleransi sebaliknya tercermin
sikap yang kauat atau istiqamah untuk memegangi keyakinan atau pendapatnya
sendiri.

F. Manusia tanpa kekerasan

Kekerasan menjadi “tren” baru dalam masyarakat. term ini agak “seksi”
menurut saya karena setiap peristiwa selalu berujung pada kekerasan. Kekerasan
yang berujung pada darah dan air mata adalah kata yang sudah melekat jauh dalam
diri manusia. Umur kekerasan (yang berujung pada pertumpahan darah) konon se-
tua umur manusia atau paling tidak hampir se-tua umur manusia. Dikisahkan

10
MANUSIA DAN KEKERASAN

dalam cerita agama samawi, anak adam adalah manusia pertama yang membuka
kekerasan (awal menetesnya darah manusia di bumi) dengan terbunuhnya Habil.

Kekerasan pun berlanjut hari ini, darah manusia seperti halnya darah hewan
yang dianggap tak memiliki nilai. Kekerasan yang jamak terjadi menjadi cerminan
menguapnya nilai-nilai humanisme universalsebagian lain manusia. Tapi sekian
banyak orang yang (suka) melakukan kekerasan, ada juga manusia yang pantang
dengan kekerasan.

Tokoh ini adalah guru spritualitas sekaligus pencerah di muka bumi. Banyak
orang yang pantang dengan kekerasan, dari sekian banyak, tak sanggup laut
dijadikan tinta dan kayu sebagai pena untuk menuliskan nama, kearifan dan
keagungan akan kedamainan yang mereka bawa.

Karena saya muslim, maka tak akan hilang kecintaan pada junjungan
Rasulullah Muhammad SAW, bagaimana tingkah laku dan ucapannya seperti kitab
suci yang berjalan. Lantas kedamaian apa yang disampaikan Muhammad SAW,
saking banyaknya, hanya satu yang sanggup terkutip disini :

sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara*

Manusia yang berbudi luhur datang dari tokoh spritualis, dan naturalis Gandhi
dengan pantang kekerasan (ahimsa) :

Tiada yang baru saya ajarkan kepada dunia. Kebenaran dan pantang
kekerasan sama tuanya dengan bukit-bukit dan gunung**

Menyusul manusia dengan lahir dari kata-kata puitisnya, syairnya


mengalunkan harmoni alam :

Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi***

Seperti ungkapan sebelumnya, jika dideretkan manusia-manusia yang cinta


dengan kedamaian (pantang kekerasan) seakan tak habis udara untuk dihela, jalan
terasa panjang untuk disusuri (masih banyak tokoh agung yang menyoal
perdamaian tapi tak tercantum disini).

11
MANUSIA DAN KEKERASAN

Kedamaian juga “kata” lama, malah bisa menjadi se-tua umur manusia. Jadi
ingat salah satu petuah bijak, jika mau melihat bagaimana kedamaian dan
penderitaan itu menyatu, maka lihatlah lingkarang yin-yang, disitu akah terlihat
mereka berbeda namun menyatu menjadi lingkaran. Itulah hidup. Jadi ingat istilah
Gadamer, lingkaran hermenuetik – saling mempengaruhi. Disatu sisi manusia lain
(suka) menumpahkan darah (kekerasan), namun disisi lain ada manusia (tak suka)
kekerasan. Hidup bersama dalam lingkaran kehidupan. Absurd jika
memikirkannya terus (maka tak usah memikirkannya). (sambil senyum-senyum).

The last but not least. Ada ungkapan indah dari salah satu mistikus Bali, Gede
Prama. Ia mengungkapkan hidup bagusnya seperti

…matahari dan bulan. berjalan, berjalan, berjalan. bercahaya, bercahaya


dan bercahaya. Tanpa berfikir akankah sampai di mana nantinya. akankah
berakhir di sebuah tujuan yang menyenangkan atau menjengkelkan. bercahaya
tanpa mengeluh apakah orang lain membuka jendelanya atau tidak. bila demikian
caranya, kelelahan lebih jarang berkunjung. kalaupun kelelahan berkunjung, kita
masih bisa duduk sebentar, tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanan
lagi.****

Biarkan kisah ini lewat sejenak dalam hidup. Karena berbagi pengetahuan
tidak “diharamkan”. kita semua yakin hidup mengharapkan kedamaian.

12
MANUSIA DAN KEKERASAN

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam beberapa hari belakangan, berita elektronik dan online ramai
memberitakan ‘kekerasan‘ yang terjadi di dua tempat sekaligus yaitu di Cikeusik,
Pandeglang dan Temanggung, Jawa Tengah. Banyak pendapat dan komentar dari
peristiwa itu, mulai dari yang menghujat pelaku kekerasan, menyalahkan
pemerintah dan aparat, hingga mencari provokator peristiwa kekerasan tersebut.
Bagi saya yang lebih penting adalah menghilangkan akar kekerasan itu,
mengutip Mahatma Gandhi bahwa akar kekerasan itu adalah ‘Wealth without
work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce
without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics
without principles’. Yang kalau di Indonesia-kan, ‘Kekayaan tanpa kerja,
Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa watak, Perdagangan tanpa moralitas,
Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, Politik tanpa prinsip.
Sedang jenis kekerasan terbagi dalam berbagai jenis :
* Kekerasan yang dilakukan perorangan perlakuan kekerasan dengan
menggunakan fisik (kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina), psikologis
(pelecehan), oleh seseorang dalam lingkup lingkungannya.
* Kekerasan yang dilakukan oleh negara atau kelompok, yang oleh Max
Weber didefinisikan sebagai “monopoli, legitimasi untuk melakukan kekerasan
secara sah” yakni dengan alasan untuk melaksanakan putusan pengadilan, menjaga
ketertiban umum atau dalam keadaan perang yang dapat berubah menjadi semacam
perbuatanan terorisme yang dilakukan oleh negara atau kelompok yang dapat
menjadi salah satu bentuk kekerasan ekstrem (antara lain, genosida, dll.). [6]
* Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik yakni tindakan
kekerasan yang diancam oleh hukum pidana (sosial, ekonomi atau psikologis
(skizofrenia, dll.)).
* Kekerasan dalam politik umumnya pada setiap tindakan kekerasan
tersebut dengan suatu klaim legitimasi bahwa mereka dapat melakukannya dengan

13
MANUSIA DAN KEKERASAN

mengatas namakan suatu tujuan politik (revolusi, perlawanan terhadap penindasan,


hak untuk memberontak atau alasan pembunuhan terhadap raja lalim walaupun
tindakan kekerasan dapat dibenarkan dalam teori hukum untuk pembelaan diri atau
oleh doktrin hukum dalam kasus perlawanan terhadap penindasan di bawah tirani
dalam doktrin hak asasi manusia.
* Kekerasan simbolik (Bourdieu, Theory of symbolic power),[8]
merupakan tindakan kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan secara struktural
dan kultural (Johan Galtung, Cultural Violence)[9] dalam beberapa kasus dapat
pula merupakan fenomena dalam penciptaan stigmatisasi. Kekerasan bisa
merupakan suatu aktivitas individu atau kelompok, yang disebut kekerasan
individu dan kolektif. Seiring dengan perilaku kekerasan tersebut para partisan
(pihak yang terlibat) pada umumnya akan bisa memberikan penjelasan atas
tindakan mereka. Suatu persoalan kunci yang berkaitan dengan perilaku kekerasan
adalah adanya faktor penting dan ketidakmungkinan mengetahui maksud „riil‟
(sebenarnya) orang lain
Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam
mengajarkan agar umat Islam berbuat baik dan bertindak adil kepada siapapun
karena agama yang dianut. Al-Qur‟an juga mengajarkan agar umat Islam
mengutamakan terciptanya suasana perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang di
antara umat Islam dengan umat beragama lain. Adanya kerjasama yang baik antara
umat Islam dan umat beragama lain tidaklah menjadi halangan dalam Islam
Toleransi diartikan memberikan tempat kepada pendapat yang berbeda. Pada saat
bersamaan sikap menghargai pendapat yang berbeda itu disertai dengan sikap
menahan diri atau sabar. Oleh karena itu di antara orang yang berbeda pendapat
harus memperlihatkan sikap yang sama yaitu saling mengharagai dengan sikap
yang sabar.

B. SARAN
Seandainya semua orang mau mendengarkan hati nurani, dan mau
memahami setiap hal dengan hati yang terbuka, mungkin kekejaman dan korban
tidak akan menjamur dalam sejarah kehidupan manusia.

14
MANUSIA DAN KEKERASAN

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Suryadi M.P. 1984. Buku Materi Pokok Ilmu Budaya Dasar. Depdikbud: Jakarta.
Hartono Drs, dkk, 1996. Ilmu Budaya Dasar untuk Pegangan Mahasiswa, CV
pelangi: Surabaya.
M. Yudhi Batubara. 1983. Manusia dan Keadilan. Dalam M. Habib Mustopo (Ed),
Manusia dan Budaya: Kumpulan Essay Ilmu Budaya Dasar, Usaha Nasional:
Surabaya.
Mattulada. 1979. Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial. LP3ES: Jakarta.
Sudrajat,Ajat.(1999). “Agama dan Masalah Kekerasan”. Makalah. UNY: Yogyakarta.
Soeyadi. M. P Drs, 1985. Ilmu Budaya Dasar Modul 1-3, UNIKA: Jakarta.
Sunoto. 1985. Menuju Filsafat Indonesia. Hanindita: Yogyakarta.
http://apunpipet.blogspot.com/2010/05/manusia-dan-kekerasan.html
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kekerasan&action=edit
http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/item/2296/Ideologi_Vs_Hati_Nura
ni
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/18/manusia-tanpa-kekerasan/#
http://www.muslimdaily.net/opini/3726/bom-mega-kuningancarut-marut
penangangan-kasus-terorisme

15