Anda di halaman 1dari 14

INTERAKSI FAUNA EKOSISTEM RAWA

GAMBUT

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Ekologi


Hewan

Disusun oleh :

Natassa Wiradikusumah 140410080007


Utami Ningtias R 140410080008
M. Rauful Mizan 140410080014
Azka Manzilah 140410080025
Fidyaningrum Anandita
140410080035
Alfa Pratista 140410080061

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN

2010
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat


Allah SWT. karena dengan berkat, rahmat, dan ridha-Nyalah kami
akhirnya dapat menyelesaikan makalah ini selesai pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tetap senantiasa tercurah kepada suri
teladan kita yang cahayanya tidak akan pernah pudar hingga akhir
zaman, Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi
Hewan di Jurusan Biologi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran. Makalah ini berjudul “Interaksi Fauna Ekosistem
Rawa Gambut”.
Para penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu penyusun sangat terbuka dalam menerima
kritik dan saran untuk perbaikan kedepannya. Akhir kata penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, bagi penyusun
khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jatinangor, Desember 2010

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia memiliki Lahan rawa gambut sekitar 20,6 juta ha, atau
sekitar 10,8 % dari luas daratan Indonesia. Lahan rawa tersebut sebagian
besar terdapat di empat Pulau besar yaitu Sumatera 35%, Kalimantan
32%, Sulawesi 3% dan Papua 30%. Hasil perhitungan kandungan karbon
tanah gambut di Sumatera menunjukkan bahwa pada kondisi tahun 1990
adalah sebesar + 22.283 juta ton, tertinggi terdapat di Propinsi Riau
(16.851 juta ton C atau 75,62 % dari total Sumatera). Sedangkan pada
kondisi 2002, kandungan karbon Riau mengalami perubahan menjadi
14.605,04 juta ton. Perubahan kandungan karbon tersebut terutama
disebabkan adanya perubahan ketebalan gambut, sebagai akibat
perubahan penggunaan lahan selama kurun waktu 12 tahun. Penyusutan
gambut tertinggi terjadi pada tanah gambut dengan kedalaman sedang
yang pada tahun 1990-an telah dibuka untuk pemukiman/pertanian
tanaman semusim, kemudian menyusul tanah gambut dengan kedalaman
sangat dalam yang akhir-akhir ini dibuka untuk perkebunan kelapa sawit
dan areal hutan tanaman industri.

Gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh tahun


terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa sumberdaya alam ini tidak
hanya sekedar berfungsi sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi
keanekaragaman hayati, tempat budi daya, dan sumber energi; tetapi
juga memiliki peran yang lebih besar sebagai pengendali perubahan iklim
global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan
cadangan karbon dunia.

Setiap konversi dan eksploitasi lahan gambut akan menyebabkan


terlepasnya emisi karbon (CO2) yang mencemari lingkungan global
karena terganggunya sistem water table (sistem hidrologis) dimana pada
akhirnya mengakibatkan gambut menjadi kering sehingga mudah
terbakar. Apabila emisi dari lahan gambut diperhitungkan kontribusinya
bagi perubahan iklim di dunia, maka Indonesia tercatat sebagai negara
urutan tiga penghasil emisi karbon (CO2) terbesar di dunia. Kemampuan
gambut menyerap karbon rata-rata 7 x 102ton/ha/tahun namun
dipengaruhi oleh vegetasi diatasnya dan jenis gambut. Salah satu sifat
gambut adalah mampu menyimpan air 15-20 kali berat kering gambut
dan bersifat Irreversible (tidak mudah balik) sehingga apabila gambut
telah rusak (mati) sangat sulit untuk dikembalikan seperti semula.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

HUTAN RAWA GAMBUT DAN FAUNA YANG TERDAPAT DI


DALAMNYA

2.1 Hutan Rawa Gambut

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat


oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini
terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai
penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan,
modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah
satu aspek biosfer Bumi yang paling penting. Hutan adalah bentuk
kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan
baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah
maupun dipegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Hutan
merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau
tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas
(Anonim,2010).

Jenis-jenis hutan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kategori


penentu. Berdasarkan sifat tanah, jenis hutan di Indonesia mencakup
hutan pantai, hutan mangrove, dan hutan rawa.
 Hutan pantai terdapat sepanjang pantai yang kering, berpasir, dan
tidak landai, seperti di pantai selatan Jawa. Spesies pohonnya
seperti ketapang (Terminalia catappa), waru (Hibiscus tiliaceus),
cemara laut (Casuarina equisetifolia), dan pandan (Pandanus
tectorius).
 Hutan mangrove Indonesia mencapai 776.000 ha dan tersebar di
sepanjang pantai utara Jawa, pantai timur Sumatera, sepanjang
pantai Kalimantan, dan pantai selatan Papua. Jenis-jenis pohon
utamanya berasal dari genus Avicennia, Sonneratia, dan
Rhizopheria.
 Hutan rawa terdapat di hampir semua pulau, terutama Sumatera,
Kalimantan, dan Papua. Spesies pohon rawa misalnya adalah nyatoh
(Palaquium leiocarpum), kempas (Koompassia spp), dan ramin
(Gonystylus spp)
(Anonim,2010).

Rawa merupakan sebutan untuk semua daerah yang tegenang air,


yang penggenangannya dapat bersifat musiman ataupun permanen dan
diumbuhi oleh tumbuhan (vegetasi). Hutan rawa memiliki
keanekaragaman hayati yang sagat kaya, baik itu flora mauapun
faunanya. Jenis floranya adalah durian burung (Durio carinatus), ramin
(Gonystylus sp), terentang (Camnosperma sp.), kayu putih (Melaleuca sp),
sagu (Metroxylon sp), rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis
liana. Faunanya antara lain : harimau (Panthera tigris), Orang utan (Pongo
pygmaeus), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), babi
hutan (Sus scrofa), badak, gajah, musang air dan berbagai jenis ikan
(Anonim,2001).
Jenis-jenis rawa :
1. Hutan rawa air tawar, memiliki permukaan tanah yang kaya akan
mineral. Biasanya ditumbuhi hutan lebat;
2. Hutan rawa gambut, terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang
proses penguraiannya sangat lambat sehingga tanah gambut memiliki
kandungan bahan organik yang sangat tinggi;
3. Rawa tanpa hutan, merupakan bagian dari ekosistem rawa hutan.
Namun hanya ditumbuhi tumbuhan kecil seperti semak dan rumput liar.
(Anonim,2001)

Peran dan manfaat hutan rawa :


> Sumber cadangan air, dapat menyerap dan
menyimpan kelebihan air dari daerah
sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan
air tersebut pada saat daerah sekitarnya
kering;
> mencegah terjadinya banjir;
> mencegah intrusi air laut ke dalam air tanah
dan sungai
> sumber energi
> sumber makanan nabati maupun hewani

Jika hutan rawa hilang :


+ dapat mengakibatkan kekeringan
+ dapat mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan
+dapat mengakibatkan banjir
+ hilangnya flora dan fauna di dalamnya
+sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang
(Anonim,2001)

Hutan gambut merupakan jenis hutan rawa yang relatif tergenang


sepanjang tahun, dengan karakteristik kondisi tanah yang mempunyai
tingkat keasaman yang sangat ekstrem dimana pH tanah selalu di bawah
angka 3, sehingga secara alami flora yang tumbuh di hutan gambut
adalah jenis flora yang khas dan toleran terhadap keasaman tanah yang
tinggi, secara awam hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas
tanah gambut (Anonim, 2010).

Tanah gambut sendiri merupakan jenis tanah histosol yang kandungannya


lebih banyak berupa gambut. Gambut sendiri di definisikan sebagai hasil
proses dekomposisi tidak sempurna dari bagian bagian tumbuhan, sejak
berjuta juta tahun yang lalu, tanah gambut mempunyai sifat fisik dan
kimia tanah yang sangat khas, dengan tekstur tanah yang lebih mirip spon
karena kerapatan tanah rendah dan sifat kimia tanah berupa pH yang
sangat rendah membuat lahan gambut bukanlah tempat yang potensial
untuk pengembangan ekstensifikasi pertanian. Hutan gambut bisa tumbuh
subur di atas tanah gambut karena terjadi siklus hara tertutup
(Anonim,2010).

Karena hutan rawa gambut adalah dalam kondisi murni air tawar, maka
mereka memiliki karakteristik kimiawi yang khas. Airnya sangat asam (pH
3,0 – 4,5) dan unsur hara yang sangat rendah, karena tidak ada nutrisi
atau komponen penyangga yang dapat mengalir masuk dari luar area
gambut tersebut. Tanah gambut dalam kondisi yang tak terganggu itu
mengandung 80 – 90 persen air. Karena kemampuannya untuk
menyimpan air dalam jumlah besar itu, hutan rawa gambut berperan
penting dalam mengurangi banjir dan menjamin pasokan air yang
berkelanjutan. Hutan rawa gambut seringkali digolongkan sebagai
Blackwater Systems (Sistem Air Hitam), karena air yang mengalir dari area
tersebut dipengaruhi oleh bahan dari tanah gambut, yang menyebabkan
airnya berwarna seperti “cola” gelap (Anonim,2010).

Tingkat akumulasi gambut selalu berubah dari waktu ke waktu. Gambut


yang masih muda, terakumulasi maksimal sebanyak 4,7 milimeter per
tahun. Semakin lama tingkat akumulasi ini semakin berkurang, hingga
kurang dari 2,2 milimeter per tahun. Kedalaman lapisan gambut tersebut
berbeda-beda di masing-masing tempat, berkisar sebanyak kurang dari
satu meter pada gambut muda, hingga mencapai kedalaman 24 meter
pada lumpur gambut tua di Provinsi Riau, Sumatra. Pembentukan gambut
berhubungan dengan kemampuannya untuk menahan air, oleh karena itu
gambut tersebut berbentuk kubah, seperti tetesan air pada suatu
permukaan yang rata. Sistem tersebut bergantung pada keseimbangan
hidrostatik yang membuat gambut dapat menahan air hujan di atas
permukaan air normal. Jika ada suatu hal yang mengganggu
keseimbangan ini, misalnya dengan menggali parit kecil untuk drainase /
pengairan, maka keseimbangan air dalam jumlah besar ini akan terganggu
dan menyebabkan adanya kekeringan lahan gambut secara luas. Hal
tersebut juga mengakibatkan terjadinya oksidasi di kawasan yang kering,
menghasilkan molekul karbon yang menyatu dengan oksigen, sehingga
menghasilkan karbon dioksida, gas rumah kaca yang kemudian secara
otomatis dilepaskan ke atmosfir (Anonim,2010).

Gambut tropis tersebar luas di seluruh dunia. Sejumlah kecil terdapat di


sebagian Amerika Latin, Afrika dan Karibia. Jumlah terbanyak terutama
ditemukan di Asia Tenggara. Jumlah keseluruhan lahan gambut yang ada
di kawasan tersebut diperkirakan sebanyak 33 juta hektar. Sebagian
besarnya, yaitu sekitar 27 juta hektar, terdapat di dataran rendah di
Indonesia. Lahan yang lebih kecil terdapat di Malaysia, Filipina, Thailand
dan Vietnam. Banyak negara yang telah kehilangan lahan gambutnya
dalam jumlah yang cukup besar. Gangguan yang terjadi seperti
kebakaran, pembukaan lahan dan penebangan, akan menyebabkan
berkurangnya kawasan lahan gambut lebih banyak lagi (Anonim,2010).

2.2 Fauna yang terdapat di dalam Ekosistem Hutan Rawa Gambut

Taman Nasional ialah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai


ekosistem asli dan dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan
untuk tujuan melindungi habitat, penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi (UU Kehutanan
No. 41, 1999). Berdasarkan pengertian tersebut pada tanggal 19 Oktober
2004, Kawasan Sebangau ditunjuk sebagai Taman Nasional melalui Surat
Keputusan Menteri Kehutanan No.SK. 423/Menhut/II/2004 dengan luas +
568.700 ha. Sedangkan Balai Taman Nasional Sebangau adalah institusi
yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan TNS dan dibentuk
berdasarkan Keputusan Menhut No.P.59/Menhut-II/2006 tanggal 2 Juni
2006 tentang perubahan Pertama Atas Keputusan Menteri Kehutanan No.
6186/Kpts-II/2002 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman
Nasional, selanjutnya diperbaharui kembali dengan Peraturan Menteri
Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Pebruari 2007 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Taman Nasional (Khulfi, 2010).

Jika ditinjau dari penutupan lahan Provinsi Kalteng terlihat bahwa


kawasan Ekosistem Gambut Sebangau adalah salah satu kawasan yang
sangat penting keberadaannya bagi perlindungan dan pelestarian satwa
liar. Dari hasil observasi mamalia yang dilaksanakan oleh CIMTROP UNPAR
(2002), diketahui bahwa di dalam kawasan ini dapat dijumpai 35 jenis
mamalia dan 13 diantaranya telah diidentifikasikan sebagai satwa dengan
kategori mendekati kepunahan antara lain : Bekantan (Hylobates agilis),
Orangutan (Pongo pygmaeus), Beruk (Macaca namestrina), Kelasi
(Presbytis rubicunda), Beruang madu (Helarctos malayanus), Macan
dahan (Neofelis nebulosa), Kucing hutan (Felis bengalensis), Kucing batu
(Felis marmorata), Kucing kepala pipih (Felis planiceps), Binturong
(Arctitis binturong), Musang pohon (Arctogalidia triirgata), Bajing
(Exilisciurus axilis) dan Tupai (Tupaia picta) (Khulfi,2010).

Jenis-jenis reptilia yang telah teridentikasi antara lain adalah Sanca


(Phyton Reticulatus), Ular air (Homalopsis buccata), Ular pipa berekor
merah (Cylindropsis rufus), Kobra (Naja sumatrana), Ular hijau (Ahaetulla
prasina), Biawak (Varanus salvator), Kura-kura kotak (Cuora amboinensis)
dan kura-kura berduri (Heosemys spinosa). Selain itu, di dalam Kawasan
TNS akan sering dijumpai jenis burung seperti Enggang, Pecuk ular,
Cangak merah, dll. Kawasan TNS juga kaya akan jenis ikan, seperti jenis
Bapuyu, Gabus, Sambaling, dll, sehingga juga menjadi tumpuan ekonomi
masyarakat terutama untuk sumber protein (Khulfi,2010).

Pengelolaan satwa liar merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan


sumberdaya hayati dan ekosistem yang dilakukan di TNS. Yaitu meliputi
dua kegiatan utama, diantaranya pengelolaan populasi satwa liar dan
pengelolaan habitat satwa liar. Pengelolaan populasi satwa liar dilakukan
dengan dua cara, yaitu pengelolaan populasi di habitat alamiahnya dan
konservasi satwa liar insitu di zona pemanfaatan. Sedangkan program
pengelolaan habitat satwa liar di TNS dititik beratkan pada upaya
restorasi ekologis berupa perbaikan dan pemeliharaan struktur dan
komposisi vegetasi yang telah mengalami degradasi akibat pengelolaan
dan aktifitas tidak resmi pada masa lampau (Khulfi,2010).
Mengingat tingginya keanekaragaman dan distribusi jenis tanaman
dan satwa liar di dalam kawasan serta rentang waktu pengelolaan untuk
mempertahankan keseimbangan jejaring makanan yang relatif cukup
lama, maka pelibatan multipihak adalah program prioritas yang terus
dibangun unit manajemen TNS. Berbagai bentuk program kemitraan
dilakukan untuk menjaga kelestarian fungsi kawasan baik dalam hal
pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistemnya, pemanfaatan
kawasan, kegiatan penelitian dan pengembangan maupun dalam hal
perlindungan dan pengamanan potensi kawasan (Khulfi, 2010).

2.3 Interaksi fauna Pada Ekosistem Rawa Gambut

Keberadaan fauna hutan gambut terbatas (langka), seperti :


• Itik Bersayap Putih (White-winged Duck)
• Burung bangau Storm
• Harimau Sumatra
• Badak
KESIMPULAN

• Hutan rawa adalah hutan yang permukaanya selalu tergenang air,


dan terdiri dari rawa air tawar, rawa ganbut dan rawa tanpa hutan.

• Hutan gambut merupakan jenis hutan rawa yang relatif tergenang


sepanjang tahun, dengan karakteristik kondisi tanah yang
mempunyai tingkat keasaman yang sangat ekstrem dimana pH
tanah selalu di bawah angka 3 dan flora maupun fauna yang ada di
kawasan tersebut sifatnya sangat toleran terhadap tingkat
keasaman tanah yang tinggi.

• Jenis flora yang hidup di kawasan hutan rawa gambut adalah durian
burung (Durio carinatus), ramin (Gonystylus sp), terentang
(Camnosperma sp.), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon
sp), rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis liana.
• Sedangkan jenis fauna yang terdapat di kawasan hutan rawa
gambut adalah Sanca (Phyton Reticulatus), Ular air (Homalopsis
buccata), Ular pipa berekor merah (Cylindropsis rufus), Kobra (Naja
sumatrana), Ular hijau (Ahaetulla prasina), Biawak (Varanus
salvator), Kura-kura kotak (Cuora amboinensis) dan kura-kura
berduri (Heosemys spinosa).

• Jenis interaksi yang terdapat pada hutan rawa gambut merupakan


jenis interaksi untuk memenuhi kekurangan nutrisi yang dibutuhkan
suatu individu.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2008. http://kakisinggalang.blogspot.com/2008/11/hutan-rawa-


gambut.html

Anonim2.. 2010. http://tfcasumatera.org/grant-scheme/priority-


areas/kampar-senepis/

Anonim3. 2010. http://www.warsi.or.id/Highlight/Advocacy/Kerumutan.htm

Anonim4.. 2010. http://lablink.or.id/Eko/Wetland/lhbs-rawa.htm 2001

Khulfi. 2010. http://khulfi.wordpress.com/2010/07/24/mengenal-lebih-


dekat-taman-nasional-sebangau/