Anda di halaman 1dari 12

Mengevaluasi Pembelajaran Berbicara

1. Pendahuluan

Salah satu kegiatan evaluasi dalam pendidikan adalah evaluasi pembelajaran.


Kegiatan ini dilakukan seorang guru paling tidak untuk mengetahui

1. Keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan;

2. Kemampuan dan daya serap peserta didik terhadap materi yang telah dibelajarkan;
dan

3. Informasi yang sangat berharga sebagai balikan (feedback) bagi guru dalam
memperbaiki kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Untuk dapat melaksanakan evaluasi pembelajaran dengan benar, terlebih
dahulu guru harus memahami terminologi evaluasi, pengukuran, dan penilaian.
Pengukuran (measurement) adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan suatu
formula atau skala tertentu yang sesuai dan bersifat kuantitatif. Skala yang digunakan
dari suatu pengukuran adalah nominal, ordinal, interval, atau rasio.
Penilaian (grading) adalah suatu proses pengambilan keputusan dengan
menggunakan informasi yang diperoleh dari suatu pengukuran dan bersifat kualitatif
(Alderson, 1992). Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa penilaian adalah
penafsiran skor dari suatu pengukuran untuk memutuskan sesuatu.
Sementara itu, evaluasi pembelajaran adalah kegiatan yang meliputi
pengukuran dan penilaian dalam suatu proses pendidikan yang melingkupi komponen
input, proses, maupun output pendidikan (Hughes, 1989; Alderson,1992). Evaluasi
dalam khasanah pendidikan di Indonesia menjadi identik dengan penilaian dan sering
disebut juga dengan asesmen (assessment) yang berarti pengambilan keputusan
berdasarkan pada suatu kegiatan pengukuran terlebih dahulu.
Keberhasilan pembelajaran merupakan suatu kondisi yang diperoleh dari
suatu upaya guru dalam berusaha membelajarkan peserta didik, sedangkan peserta
didik berupaya menguasai kompetensi yang telah dibelajarkan. Upaya pendidik dan
peserta didik ini akan diketahui dari kondisi keberhasilan pembelajaran, sehingga
akan diperoleh informasi seberapa efektif dan efisien kegiatan pembelajaran telah
dilakukan bersama antara pendidik dengan peserta didik.
Kemampuan dan daya serap peserta didik merupakan suatu kondisi yang
dimiliki peserta didik dalam menguasai seperangkat materi atau seperangkat
kompetensi yang dengan sengaja dibelajarkan. Kondisi ini dapat diketahui dari
evaluasi terhadap upaya pembelajaran yang sedang atau telah dilakukan guru.
Evaluasi yang dianjurkan berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22/2006 tentang Standar Isi adalah penilaian otentik (authentic
asessment).
Dari suatu evaluasi pembelajaran akan diperoleh informasi yang sangat
berharga, sebagai balikan (feedback) atau backwash dari kegiatan pembelajaran yang
dilakukan guru. Dari data hasil penilaian akan diperoleh informasi bagian materi atau
kompetensi yang pada umumnya belum dikuasai oleh peserta didik. Dari data yang
ada juga dapat diketahui informasi tentang kehandalan metode, teknik atau media
yang digunakan dalam pembelajaran. Apabila data-data tersebut diberi makna oleh
guru maka akan dapat memperbaiki kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya.
Selain itu, informasi ini berarti pula bagi peserta didik dalam merespon kegiatan
pembelajaran yang dilakukan.
Namun, kondisi di atas seringkali dipandang bahwa dari suatu evaluasi
pembelajaran hanya akan memperoleh informasi tentang nilai. Dari itu, kemudian
peserta didik tercipta dalam suatu fenomena yang tidak akademis. Peserta didik akan
memandang bahwa nilai sebagai sesuatu yang sangat penting. Pada saat Ujian
Nasional pun akhirnya tercipta suatu fenomena yang mengerikan, terjalin kerjasama
yang kurang sehat antara guru dengan peserta didik agar nilai UN-nya lebih baik.
Ketakutan yang sangat “serius” ini terjadi karena evaluasi hanya dipandang dari satu
aspek, hanya nilai. Marilah kita ubah citra evaluasi pembelajaran hanya untuk nilai
dengan menerapkan inovasi dalam mengevaluasi kompetensi peserta didik.
Penilaian otentik adalah proses asesmen yang melibatkan beberapa bentuk
pengukuran kinerja yang mencerminkan belajar siswa, prestasi, motivasi, dan sikap
yang sesuai dengan materi pembelajaran (Suurtamm, 2004: 497-513). Penilaian
otentik mengukur kemampuan siswa secara akurat tentang kondisi seseorang yang
telah belajar, sehingga metode atau teknik evaluasi harus mampu memeriksa
perkembangan kemampuannya. Penilaian otentik harus dapat menyajikan tantangan
dunia nyata sehingga peserta didik dituntut menggunakan kompetensi dan
pengetahuan yang relevan.
Penilaian otentik dilakukan oleh guru dalam bentuk penilaian kelas.
Penilaian ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa pada kompetensi yang
ditetapkan. Penilaian ini bersifat internal dan merupakan bagian dari pembelajaran.
Penilaian otentik juga sebagai bahan untuk peningkatan mutu hasil belajar. Penilaian
ini dilakukan dengan berorientasi pada kompetensi, mengacu pada patokan,
ketuntasan belajar, dan dilakukan melalui berbagai cara. Penilaian otentik dapat
dilakukan melalui penilaian kinerja (hasil karya), portofolio (kumpulan kerja siswa),
penugasan (projek), performansi (unjuk kerja), dan penilaian diri.

2. Teknik Evaluasi Pembelajaran


Teknik evaluasi yang digunakan dalam pendidikan terdiri atas teknik tes dan
teknik nontes. Pada umumnya teknik nontes yang dapat digunakan dalam evaluasi
pendidikan adalah wawancara (interview), pengamatan (observasi), skala bertingkat
(rating scale), daftar cocok (checklist), kuisoner (kuis), riwayat hidup, dan penilaian
otentik (autenthic assessment). Teknik tes dapat berbentuk lisan maupun tulisan,
bergantung pada respon (jawaban) yang diberikan oleh peserta didik. Jika peserta
didik memberikan jawaban secara tertulis sekalipun tes (soal) disampaikan dengan
lisan (dikte), tes tersebut termasuk ke dalam bentuk tes tulisan.
Dalam evaluasi pembelajaran dikenal jenis tes objektif dan subjektif. Jenis
tes objektif yang digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif, jenjang
Pengetahuan (K1), Pemahaman (2), Penerapan (K3), Analisis (K4), Hipotesis (K5),
dan Evaluasi (K6), sedangkan soal-soal subjektif hanya digunakan untuk mengukur
kemampuan kognitif tingkat tinggi, yaitu jenjang analisis (K4), hipotesis (K5),
evaluasi (K6), dan kreasi (K7) dalam Taksonomi Bloom (Bloom, 1997). Adapun
jenis-jenis tes tersebut adalah sebagai berikut.
a. Soal-soal Memilih
1) Pilihan Dua Alternatif
(a) Benar-Salah (B-S)
(b) Benar-Salah Beralasan (BSB)

2) Pilihan Ganda (memilih satu jawaban yang benar)


(a) Pilihan Ganda Biasa (PGB)
(b) Pilihan Ganda Kompleks (PGK)
(c) Pilihan Ganda Analisis Kasus (PGAK)
(d) Pilihan Ganda Sebab-Akibat (PGSA)

3) Menjodohkan (menggabungkan pernyataan bagian kiri dengan kanan)

b. Soal-soal Melengkapi
1) Isian Singkat (mengisi dalam bentuk kata/frasa)
2) Isian Panjang (mengisi dalam bentuk pernyataan singkat/klausa)
3) Isian Klosur (merumpang bagian tertentu agar dilengkapi)

c. Jawaban Singkat (jawaban diungkapkan singkat dalam bentuk kata/frasa)


d. Jawaban Terbatas (jawaban dibatasi oleh lingkup materi)

Teknik-teknik evaluasi sebagaimana di atas seringkali memiliki kelemahan,


sekalipun teknik ini dapat mengukur indikator dan prediktor performa akademis. Para
penyusun tes cenderung mengukur tentang hal-hal yang harus dikuasai bukan sesuatu
yang telah dikuasai siswa. Penyusunan soal cenderung bukan tentang masalah nyata,
tetapi sesuatu yang abstrak. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan guru dalam
menggunakan teknik tes tertulis agar dapat meminimalisasi kelemahan-kelemahan
tersebut.
Beberapa teknik nontes yang dapat dipilih guru untuk mengases kemampuan
siswa secara aktual adalah penilaian otentik. Berikut ini akan dibahas penilaian
portofolio (kumpulan kerja siswa), penugasan (projek), dan performansi (unjuk kerja).

2.1.Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio adalah kegiatan mengases kemampuan siswa dalam
mengumpulkan hasil kerja, pemikiran, minat, upaya, dan harapan siswa yang
berhubungan dengan standar kompetensi yang dikembangkan. Portofolio atau
kumpulan kerja siswa dapat membantu siswa dalam mengimplementasikan
pengetahuan dan pemahamannya dalam suatu kegiatan nyata. Kumpulan kerja ini
dapat mengingatkan siswa tentang perkembangan dirinya.
Penilaian portofolio sangat bermanfaat karena penilaian jenis ini

(1) merupakan bukti otentik dari kemampuan siswa;


(2) menggambarkan kemampuan siswa secara utuh;
(3) menggambarkan pengalaman siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran;
(4) kumpulan hasil pekerjaan siswa dalam belajar yang telah dikelompokkan;
(5) menakar kemampuan secara mandiri;
(6) merupakan bentuk kerja sama antara guru dengan siswa.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menerapkan asesmen portofolio


adalah:
1) Pengumpulan
Siswa mengumpulkan hasil kerja sebagai bukti pertumbuhan dan kemajuan
belajarnya. Pengumpulan koleksi ini disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau
standar kompetensi yang dikembangkan. Tentu saja tidak semua standar kompetensi
dapat diases melalui portofolio, oleh karena itu perlu kejelasan kompetensi yang
dikembangkan siswa secara mandiri.

2) Pengorganisasian
Siswa mengorganisasikan berbagai hasil kerja mereka berdasarkan
pengelompokan standar kompetensi yang dikembangkan atau berdasarkan aspek-
aspek yang perlu dinilai atau diketahui dari siswa sebagai hasil kerja siswa.
Pengelompokan ini dapat membantu guru dalam menentukan penilaian terhadap
kinerja siswa.

3) Merefleksi
Siswa melakukan refleksi terhadap bahan-bahan yang telah dikoleksi,
dikumpulkan, dan dikelompokan. Siswa harus mempu menjawab manfaat dari
pengumpulan portofolio itu bagi pengembangan kompetensi dirinya. Siswa juga harus
dapat memberikan penilaian pada kualitas karya yang telah dikumpulkan, sehingga
mengetahui kekuatan dan kelemahan serta bagaimana seharusnya memperbaiki karya
tersebut.
4) Mempresentasikan
Siswa memajangkan atau menyajikan hasil kerjanya agar diketahui yang
lain. Pemajangan dilakukan di tempat-tempat yang sudah disediakan. Pemajangan
juga dapat dilakukan melalui display artefak, baik dalam bentuk folder dinamis
maupun dalam bentuk gabungan karya.

2.2 Penilaian Projek


Penilaian projek merupakan bentuk asesmen yang menugaskan siswa untuk
menyelesaikan suatu kegiatan dalam kurun waktu tertentu. Tugas tersebut dapat
berupa investigasi, pengumpulan data, kemampuan menilai sesuatu atau kegiatan
tertentu, atau kemampuan mengorganisasikan. Penilaian projek dapat dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa, baik individu maupun kelompok dalam melakukan
dan memberikan pengalaman pada suatu topik atau kompetensi tertentu melalui
aktivitas berbahasa atau bersastra.
Penilaian projek atau penugasan dapat difokuskan pada dua bagian, yaitu
aktivitas siswa selama proses berlangsung dan pada hasil akhir dari kegiatan tersebut.
Aspek yang diases dari bagian proses adalah

(1) kegiatan perencanaan dan pengelolaan;


(2) kerjasama dalam kelompok;
(3) kegiatan mandiri; dan
(4) kemampuan memecahkan masalah.

Sementara itu, aspek yang diases jika penilaian projek memfokuskan pada
bagian hasil akhir adalah

(1) kemampuan mengumpulkan data atau materi yang ditugaskan;


(2) kemampuan menafsirkan dan mengevaluasi data atau materi; dan
(3) kemampuan menyajikan atau mendisplay hasil pengumpulan data dan
penafsirannya.
Dalam menentukan kualitas kegiatan yang dilakukan, baik pada proses
maupun pada hasil akhir siswa dapat mengases secara mandiri. Hasil asesmen
siswa ini kemudian divalidasi oleh guru ketika mengases.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penilaian projek ini adalah:
(1) Guru menetapkan kompetensi dasar yang perlu diases melalui penilaian
projek;
(2) Guru menetapkan projek yang harus dikerjakan siswa secara mandiri dan yang
harus dikerjakan secara berkelompok;
(3) Guru menentukan kompetensi dasar yang harus diases selama kegiatan
berlangsung (proses) atau diases hanya pada hasil akhir;
(4) Siswa merencanakan dan melakukan kegiatan projek selama kurun waktu yang
ditentukan. Sewaktu-waktu guru dapat mengecek projek yang dikerjakan oleh
siswa sebagai bentuk monitoring dan evaluasi.
(5) Selama atau setelah kegiatan projek dikerjakan, guru mengajak siswa untuk
menakar diri (mengases secara mandiri) proses atau hasil akhir (produk) yang
dikerjakan.
(6) Guru memvalidasi atau menilai ulang proses atau produk dari kegiatan yang
dilakukan siswa. Nilai guru merupakan pembanding dari asesmen mandiri yang
dilakukan siswa.

1. 2.3 Penilaian Performansi


Penilaian performansi merupakan asesmen yang menuntut siswa untuk
melakukan unjuk kerja atau perbuatan. Penilaian jenis ini mengukur kemampuan
siswa berbahasa atau bersastra, baik secara lisan maupun tulisan sesuai dengan
konteks berkomunikasi. Penilaian performansi dapat dilakukan guru, baik pada
saat atau setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Dalam melaksanakan penilaian performansi, guru dapat menggunakan
format atau pedoman penilaian dalam bentuk pengamatan (observasi), skala
bertingkat (rating scale), daftar cocok (checklist), atau format isian yang terbagi
atas kategori prilaku. Untuk mendapatkan data kuantitatif dari penilaian
performansi ini maka setiap kualitas kategori dapat diberi skor yang sesuai.
Penilaian performansi digunakan untuk mengukur kompetensi yang
menuntut siswa berpikir tingkat tinggi. Performansi yang dinilai harus bermakna
bagi siswa dalam kehidupannya. Performansi yang dinilai berdasarkan suatu
kriteria dari indikator kompetensi yang dikukur dan harus diberitahukan kepada
siswa. Oleh karena itu, siswa dapat melatih diri untuk mewujudkan indikator yang
telah disampaikan dan dapat pula menilai diri berdasarkan kriteria yang sudah
diketahuinya.
Penilaian performansi dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa
secara nyata. Guru dapat memilih dan memilah kompetensi dasar yang dapat
diases dengan menggunakan jenis penilaian performansi. Terdapat beberapa
kompetensi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dari siswa yang hanya
dapat diases melalui kegiatan nyata sehingga guru dapat merancang penilaian
jenis ini sejak awal berdasarkan analisis terhadap komptensi dasar tersebut.
Langkah-langkah yang ditempuh guru dalam melaksanakan penilaian performansi
ini adalah:
(1) Mengidentifikasi aspek-aspek penting dari kompetensi yang harus dinilai;
(2) Menyusun kriteria sebagai deskriptor dari kemampuan yang diukur;
(3) Mengurutkan kemampuan yang akan diukur berdasarkan aspek-aspek yang
penentu kemampuan tersebut;
(4) Menentukan kualitas setiap kriteria dari aspek yang diamati.

3. Prinsip Dasar Evaluasi Pembelajaran


Prinsip dasar evaluasi dalam pendidikan adalah

(1) berorientasi pada tujuan;


(2) berkesinambungan;
(3) menyeluruh;
(4) berimbang;
(5) terencana;
(6) adil;
(7) objektif; dan
(8) memenuhi kriteria validitas, reliabilitas, dan praktibilitas.
Prinsip berorientasi pada tujuan berarti bahwa guru harus memahami tujuan
pembelajaran. Tujuan pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa memiliki
kemampuan berikut.

1) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,
baik secara lisan maupun tulis
2) Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan dan bahasa negara
3) Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan
kreatif untuk berbagai tujuan
4) Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan
intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa
6) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya
dan intelektual manusia Indonesia.

Prinsip berkesinambungan berarti bahwa asesmen tidak hanya dilakukan satu


kali saja, melainkan dilakukan secara berkesinambungan dengan memanfaatkan
berbagai jenis evaluasi. Oleh karena itu, evaluasi bukan merupakan bagian terpisah
dari pembelajaran, melainkan suatu kesatuan. Dengan demikian, evaluasi dapat
dilakukan secara berkesinambungan. Guru melakukan evaluasi pada setiap satu satuan
pelajaran. Dengan demikian, evaluasi bukan hanya Ujian Tengah Semester (UTS) dan
Ujian Akhir Semester (UAS).
Prinsip menyeluruh berarti bahwa bahan asesmen meliputi seluruh bagian
bahan ajar yang dibelajarkan. Apabila bahan ajar itu banyak, misalnya meliputi bahan
satu semester atau satu tahun maka dilakukan keterwakilan bahan tersebut untuk
dievaluasi melalui penyusunan kisi-kisi.
Prinsip berimbang berarti bahwa bahan asesmen itu harus berimbang antara bahan
yang satu dengan yang lain. Berimbang antara kompetensi menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis baik bidang bahasa maupun sastra. Berimbang antara asesmen
yang sulit dengan yang mudah.
Prinsip terencana berarti bahwa kegiatan asesmen harus direncanakan. Perencanaan
itu meliputi

(1) perumusan tujuan evaluasi;


(2) penentuan aspek-aspek yang akan diukur;
(3) penentuan teknik dan waktu pelaksanaan evaluasi;
(4) penguji-cobaan instrumen evaluasi. Asesmen harus direncanakan tidak
dilakukan secara tiba-tiba atau serta merta.

Prinsip adil dan objektif berarti bahwa asesmen yang dilakukan guru
harus berlaku secara umum, tidak ada pengecualian kedalaman materi yang diukur.
Objektif berarti bahwa proses dan hasil asesmen diolah secara objektif berdasarkan
suatu kriteria pengolahan skor. Hasil pengukuran biasanya berupa skor, sehingga
untuk menentukan nilai harus diolah dengan kriteria Penilaian Acuan Patokan (PAP)
atau Penilaian Acuan Norma (PAN).

4. Pengembangan Instrumen Evaluasi Pembelajaran


Evaluasi pembelajaran berorientasi pada kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik. Apabila kita cermati, ruang lingkup materi pelajaran Bahasa Indonesia
berdasarkan Standar Isi terdiri atas standar kompetensi menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Oleh karena itu, pengembangan instrumen evaluasi
pembelajaran didasarkan pada keempat kompetensi tersebut.

4.1 Standar Kompetensi Menyimak


Kompetensi menyimak dalam pelajaran Bahasa Indonesia diases melalui
instrumen yang dapat mengukur kemampuan siswa mendengarkan tuturan lisan, baik
disampaikan melalui tuturan langsung maupun dalam bentuk rekaman. Kemampuan
yang diukur di antaranya kemampuan menemukan suatu hal dari tuturan lisan yang
didengarkan.
Kemampuan lain yang diukur, misalnya kemampuan siswa menjawab
pertanyaan yang berhubungan dengan tuturan lisan yang didengarkan. Dengan
demikian, asesmen kompetensi menyimak harus melibatkan siswa menggunakan
indra pendengaran, kemudian dapat diukur melalui kemampuan lisan (menjawab) atau
tulisan (menuliskan) sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan siswa dalam
mendengarkan. Oleh karena itu, asesmen kompetensi menyimak diarahkan pada
aktivitas nyata dalam menyimak atau mendengarkan tuturan lisan.

4.2 Standar Kompetensi Berbicara


Kompetensi berbicara diases melalui instrumen yang dapat mengukur
kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan. Kemampuan yang ingin
diketahui dari kompetensi ini adalah kemampuan siswa mengekspresikan pikiran dan
perasaan melalui kegiatan berbicara.

Dalam mengases kemampuan berbicara, seorang guru dapat mengetahui


kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa, misalnya pilihan kata (diksi), kalimat
efektif, kalimat yang jelas, bahasa yang santun, bahasa yang baik dan benar, bahasa
yang lugas, etika berwawancara, dan prinsip diskusi.
Kemampuan lain dalam berbicara yang diases di antaranya kemampuan
menggunakan artikulasi yang tepat, intonasi yang jelas, menggunakan gerak-gerik dan
mimik sesuai dengan watak tokoh, dan lafal, dan ekspresi yang tepat. Dengan
demikian asesmen kompetensi berbicara dimaksudkan mengukur kemampuan siswa
dalam menggunakan bahasa dan parabahasa dalam berkomunikasi.

4.3 Standar Kompetensi Membaca


Kompetensi membaca diases melalui instrumen yang dapat mengukur
kemampuan siswa dalam memahami berbagai ragam teks (bacaan) tertulis yang
diungkapkan melalui lisan atau tulisan. Kemampuan yang diukur itu meliputi
kemampuan siswa dalam memahami, mengidentifikasi, menganalisis, menemukan,
menyimpulkan, membedakan, dan sebagainya dari bacaan yang dibaca baik berupa
teks nonfiksi maupun fiksi. Kemampuan membaca yang diukur adalah membaca
cepat, membaca dalam hati, membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca
nyaring, membaca memindai, membaca indah, dan sebagainya.
Selain itu, mengukur pula kemampuan siswa dalam membaca dan
membacakan teks dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang
jelas. Kemampuan siswa yang diukur dalam bidang kebahasaan adalah pemahaman
terhadap bentuk-bentuk kata serta penguasaan terhadap makna kata. Dalam hal
membacakan puisi, kemampuan yang diukur itu selain lafal, nada, tekanan, dan
intonasi yang tepat, juga diukur kemampuan memahami, menganalisis, menemukan,
dan sebagainya dari puisi yang dibacakan. Berdasarkan hal ini, maka kemampuan
yang diukur itu kemampuan merefleksikan bacaan, baik untuk kepentingan dirinya
maupun orang lain berdasarkan suatu teks yang dibaca.

4.4 Standar Kompetensi Menulis


Kompetensi menulis diases melalui instrumen yang dapat mengukur
kemampuan siswa dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan secara tertulis.
Dalam mengases kemampuan menulis, seorang guru dapat mengetahui kemampuan
siswa dalam menggunakan bahasa, misalnya menuliskan pilihan kata (diksi), kalimat
efektif, kalimat bervariasi, kalimat langsung dan tak langsung, bahasa yang baku,
bahasa yang baik dan benar, bahasa yang efektif, bahasa yang singkat, padat, jelas,
bahasa yang santun dan sebagainya.
Selain itu, kemampuan yang diukur dari siswa adalah kemampuan
memahami bacaan dan bentuk-bentuk sastra yang diungkapkan secara tertulis.
Ungkapan tertulis ini dapat dilakukan siswa jika memahami bentuk-bentuk paragraf
naratif, ekspositif, argumentatif, deskriptif, persuasif, surat dinas, karya tulis ilmiah,
teks pidato, puisi, pantun, cerpen, resensi, dan sebagainya. Pemahaman terhadap
bentuk bacaan itu serta penguasaan unsur bahasa dapat berwujud kemampuan
mengungkapkan pikiran dan perasaan secara tertulis. Dengan demikian, dalam
mengukur kemampuan menulis perlu mencermati aspek-aspek tersebut.