Anda di halaman 1dari 15

42 MENGADU NYAWA

Dadang Wiranata tahu bahwa tenaga Otong Surawijaya yang belum pulih lantaran tadi menolong dirinya
membuyarkan racun. Pastilah dia takkan tahan menerima serangan balasan Tatang Sontani. Maka cepat
ia memotong dengan pukulan Aji Gineng yang terkenal ditakuti lawan dan kawan. Bres!

Kedua pukulan itu berbenturan sangat keras. Ajaib! Ternyata kedua tangan yang berbenturan itu, kini
mendadak lengket tak terpisahkan. Masing-masing seolah-olah memiliki daya hisap yang sama
tangguhnya.

Sebenarnya mengingat sesama anggota himpunan. Tatang Sontani tak bermaksud jahat. Betapapun
juga, ia tak mau melukai Otong Surawijaya dengan sungguh-sungguh. Pukulan ilmu sakti Tunggulwulung
hanya digunakan sebagian saja sekedar membendung berbareng menangkis tenaga sakti Gumbala Geni
andalan Otong Surawijaya. Di luar dugaan, Dadang Wiranata menggempur dengan tenaga penuh-penuh.
Lantas saja Aji Gineng yang mempunyai hawa sakti serba dingin merayap masuk ke dalam tulang
belulangnya. la kaget setengah mati. Buru-buru ia mengerahkan tenaga saktinya penuh-penuh pula
untuk mengimbangi. Karena kekuatan mereka seimbang, tangannya tak terpisahkan lagi.

"Tatang Sontani. Kau kentut busuk harus merasakan pukulanku," bentak Otong Surawijaya. Ia tadi hanya
kena tangkis, karena pukulan Tatang Sontani kena dipotong Dadang Wiranata.

"Otong! Jangan gegabah!" Tubagus Simuntang memperingatkan.

Tapi kasep. Pukulan Otong Surawijaya yang mengarah dada Tatang Sontani terlengket pula. Buru-buru
Walisana berteriak dengan suara memohon: "Tatang Sontani, jangan turuti rasa mendongkolmu!
Kasihanilah mereka! Mereka belum sembuh benar-benar. Nah, tarik semua pukulan sakti!"

Anjuran itu gampang diucapkan, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Masing-masing sudah terlanjur
ngotot. Tangan mereka malahan bertambah lengket.

Walisana tersinggung kehormatannya. Terus saja ia mengayunkan tangan dengan maksud menggertak.
Tak tahunya Tatang Sontani mengegos ke samping. Tangan kirinya menangkis. Dan tangan Walisana
terlengket pula.

"Walisana! Kau ksatria macam apa sampai ikut-ikutan pula mengeroyok Tatang Sontani!" tegur Tubagus
Simuntang. Dengan sekali gerak, ia menjambret pundak Walisana dengan maksud menariknya. Tak
terduga! Belum lagi pundak Walisana tersentuh tangannya, Otong Surawijaya menggigil seperti terluka
berat. Cepat ia menarik tangannya.

Teringatlah dia! Tatang Sontani seorang tokoh tinggi yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula
semenjak dahulu. Apakah Otong Surawijaya kena pukulan yang mematikan. Memikir demikian, segera ia
berseru lagi: "Tatang! Betapapun juga Otong adalah rekan seperjuanganmu sendiri. Apa perlu mengadu
nyawa begini sungguh-sungguh?" Setelah berkata demikian, baru ia menarik pundak temannya itu.
Di luar dugaan, tubuh Otong Surawijaya tak bergeming kena tarikannya. Heran dia masakan tenaganya
tak mampu memisahkan mereka. Secara wajar ia menambah tenaganya. Suatu hawa dingin luar biasa
menembus jantungnya. Ia kaget setengah mati. Hai! Bukankah ini hawa sakti Aji Gineng milik Dadang
Wiranata? Apakah Tatang Sontani memiliki ilmu ini pula? pikirnya kaget. Kalau benar demikian, alangkah
berbahaya. Ilmu saktinya Tunggulwulung sudah berbisa. Kini ditambah dengan Aji Gineng. Bukankah tak
ubah raksasa terbangun dari tidurnya? la hanya dapat berpikir sekejap saja. Tubuhnya terus menggigil
sampai giginya berceratukan. Cepat-cepat ia berjuang membendung gelombang hawa dingin yang mulai
mengamuk keseluruh tubuh.

Menyaksikan peristiwa itu, Dwijendra segera maju membantu Tubagus Simuntang. Dengan demikian,
Tatang Sontani kena kerubut lima orang. Tak mengherankan bahwa hawa dingin yang luar biasa
dahsyatnya itu dapat mereka bendung sedikit demi sedikit.

Tenaga serangan Tatang Sontani sendiri terasa berubah-ubah. Sebentar keras sebentar lunak. Kadang-
kadang malahan terlalu kuat dan terlalu lemah seakan-akan lenyap. Karena perubahannya sukar diduga,
mereka berlima tak berani menarik .tangannya dengan sembarangan saja. Siapa tahu, pada saat mereka
hendak menarik tangannya masing-masing, Tatang Sontani justru lagi mengerahkan tenaga dahsyatnya.
Kalau sampai terjadi demikian, mereka akan menderita luka berat. Menurut pengalaman, akan menjadi
cacat seumur hidupnya.

"Tatang!" tiba-tiba Tubagus Simuntang berkata terengah-engah. Terang sekali, ia memaksa diri untuk
berbicara. "Kami tiada bermaksud..." baru sampai di situ, hawa dingin luar biasa kembali menyerang
jantung. Terus saja ia berceratukan. Memang berbicara dalam keadaan demikian, merupakan suatu
pantangan besar.

Hebat suasana adu tenaga sakti itu. Dadang Wiranata kelihatan tegang. Sebaliknya Tatang Sontani
tenang-tenang saja seolah-olah tiada terjadi sesuatu atas dirinya.

Menyaksikan perbedaan itu, Ratna Bumi yang selama itu tidak bergerak dari tempatnya heran
tercengang-cengang. Pikirnya, meskipun ilmu sakti Tatang Sontani sudah mencapai tingkat tinggi, tapi
tidak melebihi ilmu sakti Dadang Wiranata. Sekarang ditambah pula dengan Tubagus Simuntang, Otong
Surawijaya, Dwijendra, Walisana yang membantu Dadang Wiranata dengan berbareng. Apa sebab
Tatang Sontani tidak merasakan sesuatu pengaruh? Malahan nampak lebih unggul. Aneh!"

Biasanya otak Ratna Bumi jauh lebih encer daripada mereka yang mengeroyok Tatang Sontani. Tapi kali
ini meskipun memeras otak, tetap saja ia tak mengerti sebab musababnya.

"Ratna Bumi!... se ... serang ... punggungnya!" seru si berangasan Otong Surawijaya terengah-engah.

Ratna Bumi bukan seperti dia yang senang mengumbar adat. Dalam segala halnya tak pernah dia
berlaku semberono dan gegabah. Apalagi ia belum memperoleh pegangan yang berdasar. Memang, di
pihak Otong Surawijaya tinggal dia seorang yang bisa menentukan. Tetapi masih saja ia bersangsi
kepada kemampuannya sendiri. Siapa tahu, dia akan kena lengket juga.
Dalam kebimbangannya, dilihatnya wajah Otong Surawijaya, Walisana, Dwijendra dan Tubagus
Simuntang berubah tak keruan macam. Sebentar pucat sebentar pula merah membara. Terang sekali
mereka kena serang hawa dingin serta panas dengan bergantian. Kalau dibiarkan terus, isi perut mereka
bisa rusak. Terpaksalah ia mengeluarkan senjatanya yang berbentuk rantai bercabang lima, seraya
berkata:

"Tatang Sontani! Terpaksa aku menggunakan senjata sebagai pengganti tanganku. Punggungmu akan
kuserang. Awas!"

Apabila Ratna Bumi bermaksud menyerang dengan sungguh-sungguh tentu saja tak bakal dia memberi
peringatan demikian. Dia hanya ingin mengesankan, bahwa sebenarnya ia tak bermaksud hendak
menyerang dengan sungguh-sungguh. Tujuannya semata-mata hendak memisah mereka. Di luar dugaan
Tatang Sontani hanya tersenyum saja. Malahan ia seperti menantang pula.

"Kalau begitu, maaf!" seru Ratna Bumi sambil mengayunkan senjata rantainya.

Dengan tenang Sontani menunggu sampai senjata rantai Ratna Bumi nyaris menyentuhnya. Sekonyong-
konyong ia menggeserkan punggung kelima pengeroyoknya. Keruan saja, senjata rantai menghantam
sasaran yang bukan sasaran semestinya. Dengan suara tertahan, Otong Surawijaya, Dwijendra, Walisana
dan Tubagus Simuntang menerima gebuk. Terus saja mereka punah tenaganya, meskipun tenaga
pukulan yang digunakan Ratna Bumi sangat enteng.

"Itulah ilmu sakti Maruti Buwana," bisik Dwijendra dan Walisana dengan berbareng.

Mendengar kisikan itu, tersadarlah Ratna Bumi. Ilmu sakti Maruti Buwana bagi keluarga Himpunan
Sangkuriang bukanlah asing lagi. Itulah ilmu sakti warisan Ki Tapa guru Ratu

Bagus Boang, yang kemudian diturunkan kepada Ratu Bagus Boang. Pada zaman dahulu milik Raja
Karawelang. Diwariskan kepada Ratu Angin-angin dan kemudian entah bagaimana sejarahnya, ilmu sakti
tersebut tersimpan di perbendaharaan bumi Banten. Ilmu sakti itu konon dikabarkan berasal dari Hyang
Tunggal. Dalam cerita pedalangan diceritakan mempunyai kesaktian memutar jagat serta membalikkan
bumi. Makanya yang benar adalah meminjam tenaga lawan untuk dihantamkan kembali. Mudah
kedengarannya. Tetapi sesungguhnya sukar dilaksanakan. Gntuk meyakinkan ilmu sakti tersebut
membutuhkan waktu tekun selama dua puluh tahun lebih. Itulah sebabnya pula, setelah Gusti Ratu
Bagus Boang musna, ilmu sakti Maruti Buwana hilang dari percaturan lantaran tiada seorangpun
sanggup mewarisi. Tak terduga, Tatang Sontani tiba-tiba saja bisa mempertontonkan kembali di depan
mereka.

Sekarang jadi gamblang, apa sebab Tatang Sontani seolah-olah tiada merasakan sesuatu pengaruh
meskipun dikeroyok lima orang sakti dengan berbareng. Sebab yang digunakan untuk menghantam balik
adalah Aji Gineng. Dengan demikian yang bertempur sesungguhnya adalah Dadang Wiranata melawan.
empat orang rekannya.

Tatang Sontani menggunakan hawa sakti Aji Gineng untuk menyerang empat orang lawannya.
Sedangkan tenaga tangkisan empat orang tersebut, digunakan untuk menggempur Dadang Wiranata.
Keadaannya tak ubah seperti seorang dalang yang sedang mengadu wayangnya. Sama sekali ia tak
merasa apa-apa. Sebaliknya wajah Dadang Wiranata menjadi tegang luar biasa. Sedangkan keempat
rekannya kebingungan kena diserang hawa Aji Gineng yang dingin.

"Selamat! Selamat!" seru Ratna Bumi. Ia adalah seorang pendekar yang tak bisa berbicara banyak.
Maksud seruannya itu adalah memberi ucapan selamat atas berhasilnya Tatang Sontani mewarisi ilmu
sakti Maruti Buwana. Kemudian berkata lagi, "Kami datang kemari, bukan untuk memusuhi engkau."

Tatang Sontani kenal tabiat Ratna Bumi. Orang itu tidak pernah berdusta. Pendek kata-katanya, tapi
dapat dipercayai. Selain itu, dia sendiri tidak bermaksud hendak mencelakakan rekan-rekan
seperjuangannya. Kalau ia berkutat adalah semata-mata lantaran diserang dengan berbareng. Sekarang
oleh hantaman Ratna Bumi yang menyasar tadi tenaga mereka punah. Dengan sendirinya menjadi
renggang. Inilah kesempatan yang sebaikbaiknya untuk menghabisi perselisihan. Dengan tertawa dia
lalu berkata, "Dadang Wiranata, Otong Surawijaya, Dwijendra, Walisana dan Tubagus Simuntang. Mari
kita renggangkan tangan kita terlebih dahulu. Setelah aku menghitung sampai tiga kali, dengan
berbareng kita menarik tangan serentak. Bagaimana?" Mereka mengangguk.

"Nah, kita mulai. Satu ... dua ... tiga ...!" Hitung Tatang Sontani. Baru saja kata-kata tiga diucapkan, diluar
dugaan punggungnya terasa dingin luar biasa. Terang sekali ia kena suatu serangan gelap. Seketika itu
juga, meluaplah dia karena merasa dikhianati. Kutuknya di dalam hati, "Keji benar hati Dadang Wiranata.
Kenapa selagi kutarik tenaga saktiku, ia membarengi menyerang dengan menggelap."

Tetapi ia kaget. Ternyata tuduhannya kepada Dadang Wiranata meragukan hatinya. Ia melihat Dadang
Wiranata jatuh sempoyongan. Agaknya dia pun kena serangan gelap. "Siapa yang main gila?"

Selama hidupnya entah sudah-berapa kali, Tatang Sontani dihadapkan kepada kelicikan lawan dalam
pertempuran-pertempuran dan sudah dilaluinya dengan selamat. Sadar, bahwa ia sedang menghadapi
suatu serangan gelap terus saja ia memutar tubuhnya. Berbareng dengan gerakannya itu, ia melihat
Otong Surawijaya, Dwijendra, Tubagus Simuntang dan Walisana berturut-turut roboh dengan memekik.
Dan di sana Ratna Bumi sedang berhantam seru melawan seorang yang mengenakan pakaian hitam
lekam. Orang itu sudah tua kira-kira berumur 70 tahun tetapi gerak-geriknya gesit. Sekali membalikkan
tangan, Ratna Bumi menggeliat dengan suara tertahan. Terang sekali ia menanggung kesakitan.

Dengan menarik napas, Tatang Sontani melompat hendak membantu. Sekonyong-konyong suatu hawa
panas luar biasa merayap naik. Sebentar saja sudah merayapi seluruh urat nadinya. Keruan ia kaget
bukan main.

Hatinya mengeluh. Tahulah dia, bahwa ilmu sakti orang itu tinggi. Mungkin lebih tinggi daripada dirinya
sendiri. Selain itu berhati keji dan kejam.

Rupanya selagi dia menarik tangan berbareng melepaskan tenaga saktinya, orang itu menyerang dari
belakang punggung.

Sudah barang tentu, ia dalam keadaan terbuka dan sama sekali tak berjaga-jaga. Maka terpaksalah ia
kini mengerahkan tenaga saktinya untuk melawan hawa panas yang merayap tak keruan-keruan.
Seringkali ia bertempur melawan seseorang yang memiliki tenaga sakti berhawa panas. Namun hawa
panas yang merayapi seluruh tubuhnya kini, bersifat lain. Kecuali panas luar biasa mendadak
melumpuhkan tenaga urat nadi. Aliran darahnya serasa menjadi beku dengan tiba-tiba. Luar biasa hebat
macam ilmu sakti itu. Namun andaikata dia kena pukulan selagi bergerak, belum tentu tenaga saktinya
tak kuasa melawan. Soalnya dia kena pukulan selagi tubuhnya kosong dari aliran tenaga sakti
Tunggulwulung. Jangan lagi kena pukulan seorang sakti. Seumpama dipukul seseorang yang tidak
mempunyai ilmu saktipun, ia akan mengaduh kesakitan.

Ia memaksa diri untuk melangkah berbareng mengayunkan tangan. Mendadak sekujur badannya
menggigil. Tenaga pukulannya lenyap dengan begitu saja. Ia bergusar dan kaget setengah mati. Selintas
pandang, ia melihat Ratna Bumi sudah memasuki gebrakan yang keduapuluh. Meskipun repot, namun
masih sanggup bertahan. Pikir Tatang Sontani, Ratna Bumi bisa melawan sampai 20 gebrakan lebih.
Kalau begitu seumpama berhadap-hadapan belum tentu dia bisa merobohkan aku dengan gampang.
Tapi celaka! Kenapa tenagaku kini mendadak bisa lenyap tak keruan.

Dengan geram dan cemas ia mengikuti pertarungan mati-matian itu. Melihat gelagatnya, Ratna Bumi
sebentar pasti tak tahan lagi. Benar juga. Setelah dua gebrakan lagi, betis Ratna Bumi kena tendang
lawannya. Dan ia jatuh terguling dengan napas kempis-kempis.

Manik Angkeran yang selama itu duduk dengan diam-diam di pqjok ruang terkejut pula melihat
perubahan peristiwa yang terjadi dengan tiba-tiba itu. Tadinya ia ikut berdegup-degup menyaksikan
perselisihan ketujuh tokoh Himpunan Sangkuriang. Masing-masing pasti memiliki ilmu simpanan
andalannya. Kalau sampai terluka, bukankah dia yang bakal bertanggung jawab? Mau tak mau ia
terpaksa harus mengeluarkan dua buah buku warisan gurunya. Kalau sampai ketahuan, bukankah
berarti bunuh diri? Sebab gurunya berada di pihak Ratu Fatimah, musuh Himpunan Sangkuriang turun
temurun.

Selagi dia dalam k'eadaan gelisah, Ratna Bumi sudah berhasil melerai adu tenaga sakti. Mendadak ia
melihat berkelebatnya sesosok bayangan yang terus menghantam punggung Tatang Sontani. Kemudian
dengan cepat pula menyerang Dadang Wiranata, Otong Surawijaya, Walisana, Dwijendra, dan Tubagus
Simuntang. Sesudah itu, ia bertarung melawan Ratna Bumi.

Sekarang Ratna Bumi sudah jatuh terguling. Mapasnya kempas-kempis. Tinggal Tatang Sontani sendiri
yang masih bisa berdiri. Pendekar itu hendak menerjang, namun napasnya terdengar sangat berat.
Badannya menggigil, sedang giginya berceratukan. Melihat bahaya itu entah apa sebabnya Manik
Angkeran terus melesat maju sambil membentak, "Siapa kau?"

Orang berpakaian hitam itu heran sejenak. Lalu menyahut, "Kau siapa?"

Melihat adegan itu tiba-tiba Tubagus Simuntang berseru, "Tatang! Lindungi dia! Kalau dia hidup, kita
selamat. Percayalah!"

Tatang Sontani tereengang sejenak. Teringat bahwa pemuda itu tadi dapat mengusir racun Dadang
Wiranata segera ia sadar akan maksud Tubagus Simuntang. Cuma saja apa sebab diucapkan di depan
musuh. Pastilah dia tak pernah mengira, bahwa dirinyapun menderita luka hebat tak beda dengan yang
lain.

Mendengar ucapan Tubagus Simuntang, orang berpakaian hitam itu terus tertawa terbahak-bahak.
Katanya, "Bagus! Dia harus selamat? Justru aku menghendaki dia mampus."

Hampir berbareng dengan habisnya perkataannya, ia melesat menghantam tengkuk

Manik Angkeran. Tapi Tatang Sontani lebih cepat lagi. Sayang dia kehabisan tenaga. Meskipun demikian,
dia masih bisa bertindak cepat. Dengan tak memikirkan keselamatan diri, terus saja ia menghadang
pukulan orang itu. Seketika itu juga, ia terpental. Dan jatuh terkulai di atas lantai. Tetapi pukulan orang
itu meleset dari sasaran. Meskipun masih mengenai tubuh Manik Angkeran namun tidak mendarat pada
bagian yang mematikan.

"Hem, bocah itu sudah terkena pukulan Aji Marantaka. Masakan bisa hidup lebih dari tiga hari lagi?"

"Hebat! Sungguh hebat! Seorang tokoh berilmu tinggi kenapa menyerang dari belakang punggung?
Terhitung manusia gagah macam apa?" ejek Tatang Sontani.

Orang itu tercengang. Lalu berkata, "Ajaib! Benar-benar Tatang Sontani bukan suatu nama kosong
melompong. Kau masih sanggup berbicara setelah menerima dua pukulanku berturut-turut. Sungguh
hebat."

"Lebih hebat lagi adalah engkau. Kukira tujuh aliran sakti yang meluruk ke mari adalah laki-laki sejati, tak
tahunya cuma macam begini. Meskipun kami dari Himpunan Sangkuriang kau juluki iblis liar, namun tak
pernah kita main gelap. Kita hadapi setiap lawan dengan dada terbuka. Mana dadamu?" damprat Tatang
Sontani.

Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Menggunakan akal, siasat dan tipu-muslihat, bukankah sudah lumrah? Lihatlah! Jumlah kalian tujuh
orang, sedangkan aku cuma seorang. Masakan mesti harus mengadu kekuatan jasmani? Itulah
perbuatan orang goblok yang berotak udang."

Tatang Sontani mengeluh. Dalam keadaan demikian, perang mulut tiada gunanya. Hanya saja hatinya
penuh penasaran, lantaran kalah secara tak wajar. Akhirnya dia berkata menyabarkan diri, "Kau seorang
diri dapat memasuki dataran ketinggian Gunung Cibugis tanpa halangan, betapa mungkin? Pastilah
engkau mempunyai ilmu siluman."

Orang itu tertawa terbahak-bahak lagi. Kali ini tubuhnya sampai terguncang-guncang. Itulah lantaran
ucapan Tatang Sontani mengandung rasa kagum terhadap dirinya. Lantas saja berkata dengan angkuh,
"Meskipun loronglorong dan semua jalan terjaga rapat oleh pasukanmu, apa sih kesukarannya untuk
menerobos kemari. Itulah lantaran kamu saling bermusuhan dan saling bersaingan. Ha ha ha ... Sudah
barang tentu, aku harus menggunakan waktu lama untuk menyelidiki keadaan tubuh Himpunan
Sangkuriang. Mula-mula kuketahui, bahwa tuanku pendekar Tubagus Simuntang yang menjadi mata
rantai penghubung. Nah, kupelajari lengkak-lengkok lukisan dan rahasia sandi warta beritanya. Apa sih
susahnya. Seperti kali ini. Gntuk memancing agar pasukan kalian turun gunung, aku hanya cukup
memasang tanda gambar obor menyala dengan kilat. Bukankah itu tanda bahaya?"

Tubagus Simuntang mengeluh berbareng memaki di dalam hati. Pantas! Sekitar dataran ketinggian tidak
nampak seorangpun jua. Rupanya mereka kena digiring oleh warta tanda bahaya yang palsu. Dan tanda
bahaya inilah yang dilihat Sangaji dan Kosim di kaki gunung.

Melihat betapa Tubagus Simuntang berkomat-kamit hendak memaki, orang itu jadi senang. Berkata lagi,
"Pada saat ini, dua pasukan besar bawahanku sedang menuju ke mari. Bahkan mereka sudah bersiaga
menunggu perintahku. Kalian tahu di mana mereka kini berada. Tuu ... di sana! Di depan hidung kalian.
Bersembunyi di balik bukit-bukit yang memagar dataran ini. Ha ha ha ... Sebentar lagi mereka akan
membakar gedung ini beserta penghuninya. Termasuk kalian pula ... Ini namanya Himpunan Sangkuriang
hancur lebur di tangan seorang saja. Seorang musuh Bagus Boang yang kebetulan bernama
Suryakusumah...."

Mendengar ujar orang yang bernama Suryakusumah, Tatang Sontani dan rekan-rekannya mengeluh
dalam hati. Mereka sadar, bahwa Suryakusumah bisa membuktikan apa yang dikatakan. Kalau hanya
korban jiwanya sendiri, tak apalah. Tapi apabila mengakibatkan terbasminya Himpunan Sangkuriang,
itulah soal yang menyedihkan.

Himpunan Sangkuriang didirikan oleh Ratu Bagus Boang yang ditakuti lawan dan disegani kawan.
Mereka bertujuh disebut raja-raja muda. Menurut pantas, merekalah yang berkewajiban mengasuh,
membina dan memperkokoh tiang agung Himpunan Sangkuriang sepanjang zaman. Tak pernah terlintas
dalam pikirannya, bahwa oleh kesemberonoan mereka kelangsungan hidup Himpunan Sangkuriang
bakal hancur ludes oleh tangan seorang saja. Alangkah pedih dan menyakitkan hati!"

Rupanya Suryakusumah puas dengan omongannya sendiri. Karena tiap-tiap katanya ternyata menikam
ulu hati ketujuh raja muda tersebut. Pikirnya senang, biar kutikamnya dahulu hatinya, baru kucabuti
nyawanya seorang demi seorang. Memikir demikian, ia jadi bersemangat. Katanya nyaring, "Himpunan
Sangkuriang sebenarnya bukan suatu himpunan dengan nama kosong. Di dalamnya banyak terhimpun
pendekar-pendekar sakti manusia pilihan seluruh bumi Jawa Barat. Tapi sayang seribu sayang. Kalian
saling membunuh, sehingga lambat laun kekuatan kalian jadi berkurang. Perhatian kalian lebih terpusat
pada persaingan itu daripada menghadapi musuh yang datang dari luar. Inilah suatu anugerah Tuhan,
sebaliknya merupakan malapetaka kalian. Coba andaikata tadi kalian tidak saling labrak, masakan aku
dapat merobohkan kalian dengan sekali pukul? Biarpun aku mempunyai kepandaian setinggi langit,
betapa mungkin dapat melawan kalian? Ha ha ha ... sungguh tidak terduga. Himpunan Sangkuriang yang
dahulu pernah menggoncangkan jagat, sekarang terpaksa gulung tikar macam begini. Hai... Bagus
Boang! Sayang kau sudah mampus. lngin aku melihat tampangmu, betapa aku akhirnya dapat
membasmi jerih payahmu pada hari ini..."

Mendengar kata-kata Suryakusumah dan menghadapi bahaya kemusnahan, dalam hati ketujuh raja
muda itu terbersit rasa sesal luar biasa besarnya. Sekarang tersadarlah mereka apa akibat percekcokan
yang berlarutlarut semata-mata memperebutkan kedudukan seorang pemimpin besar. Andaikata tak
pernah terjadi suatu perselisihan andaikata mereka tetap bersatupadu musuh yang datang dari luar
pasti diketahui sebelumnya sempat bergerak.

"Tatang Sontani!" seru Otong Surawijaya dengan sekonyong-konyong. "Aku Otong Surawijaya pantas
mampus tak berkubur. Aku Otong Surawijaya selalu menjadi pokok pangkal runcingnya perselisihan.
Meskipun kau sendiri tidak bebas dari suatu kesalahan, tapi bilamana engkau menjadi pemimpin besar
kami, jauh lebih baik dari pada berakhir dengan suatu kehancuran dan suatu kemusnahan terkutuk ini.
Ya, engkau pantas menjadi pembina kami. Aku Otong Surawijaya pantas mampus tak berkubur!"

"Otong Surawijaya!" sahut Tatang Sontani, dengan tersenyum pahit. "Aku mempunyai kepandaian apa
sampai berani menjadi Pembina Himpunan Sangkuriang? Bencana ini memang kita semua yang
bertanggung jawab. Inilah kesalahan terkutuk sampai membuat Himpunan Sangkuriang jadi runyam tak
keruan macamnya. Sebentar lagi kita mampus dengan berbareng. Apakah kita masih mempunyai muka
untuk menghadap Gusti Ratu Bagus Boang di alam baka sana?"

"Sekarang kau baru menyesal, bukan!" ejek Suryakusumah. "Aku Suryakusumah menyesal juga."

"Kentutmu!" maki Otong Surawijaya.

"Kau tahu apa tentang diriku?" bentak Suryakusumah. "Sebelum kau kenal Bagus Boang, aku sudah
mengenalnya lebih dahulu. Tak apalah, kalian bakal mampus. Biarlah kujelaskan siapa sebenarnya diriku
ini. Dengan begitu kalian akan mampus dengan mata merem."

"Kentutmu! Siapa kesudian mendengarkan mulutmu yang busuk."

"Bagus! Mah, dengarkan dulu ceritaku ini. Kau nanti orang pertama yang bakal kusembelih dengan
tanganku sendiri," kata Suryakusumah. Lalu tertawa gelak. Setelah itu melanjutkan, "Bagus Boang
adalah kakakku. Kami berdua selalu runtang-runtung. Dimana dia berada, selalu aku di sampingnya.
Kemudian terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa terkutuk! Dia mencintai seorang wanita yang paling
cantik di jagat ini. Namanya: Ratna Permanasari. Itulah salahnya."

"Kentutmu! Apakah salahnya seorang lakilaki mencintai seorang wanita," potong Otong Surawijaya si
berangasan.

"Salahnya kenapa dia mencintai Ratna Permanasari. Salahnya pula kenapa Ratna Permanasari membalas
cintanya. Salahnya, kenapa Ratna Permanasari tidak membalas cintaku," ujar Suryakusumah. Dan
mendengar ujarnya, Otong Surawijaya mendongkol berbareng geli. Dampratnya, "Mereka berdua saling
mencintai. Di manakah letak kesalahannya? Kaulah babi kudisen yang tak tahu diri."

Didamprat demikian, meluaplah amarah Suryakusumah. Sekali melesat ia mendepak pantat Otong
Surawijaya sampai pendekar berangasan itu terguling-guling.

"Kau tahu apa tentang dia?" bentak Suryakusumah dengan mata beringas. "Dialah wanita paling cantik
yang pernah kulihat. Dan wanita secantik dia, masakan pantas mencintai Bagus Boang. Kenapa tidak
kepadaku? Mengapa? Mengapa?"
Tubuh Otong Surawijaya masih bergulungan. Meskipun demikian, mulutnya yang jahil menyahut juga!
"Karena tampangmu seperti kentut!"

"Siapakah bilang tampangku seperti kentut? Masakan kentut seperti tampangku?"

"Ya, malahan seperti kentut babi!"

Mendengar mulut jahil Otong Surawijaya, dada Suryakusumah seperti hendak meledak. Mukanya merah
padam. Sewaktu hendak melesat menghajar pendekar mulut jahil itu, terdengar suara Tatang Sontani.
"Teruskan! Kisahmu sangat menarik. Aku akan mati merem. Dan tak perlu menjadi setan untuk
menuntut dendam."

Tatang Sontani lebih dapat menggunakan pikiran dari pada Otong Surawijaya. Ia cerdik pula. Mendengar
ucapan-ucapan Suryakusumah dengan cepat ia bisa menarik kesimpulan tentang tabiatnya.

Kalau orang itu sampai berbicara berkepanjangan, bukankah berarti membutuhkan waktu? Ia
mengharapkan dirinya sendiri dapat memulihkan tenaganya. Memperoleh pikiran demikian, ia harus
dapat mengulur waktu.

"Ah, Ya! Tapi jangan bermimpi engkau akan bisa menggunakan waktu untuk memulihkan tenagamu,"
sahut Suryakusmah dengan tersenyum mengejek. Mendengar kata-katanya, Tatang Sontani mengeluh.
Makinya dalam hati, "Setan ini cerdik juga." Lalu berkata seolah-olah tidak memedulikan, "Kalau engkau
seorang laki-laki apa sebab tak berani merebut secara ksatria?"

"Bagus Boang lebih kuat dariku," sahut Suryakusmah. Kemudian mencak-mencak. "Satu kali aku
menantang dia, aku kena dikalahkan. Aku pergi mencari guru pandai. Masih saja kalah. Dan pada
pertarungan yang ketiga kalinya, aku merasa tak pantas lagi hidup dalam dunia. Kakiku patah dan
terpaksa guru ... ya guru memotong kakiku untuk merebut umurku. Sekarang, lihat!"

Dengan mata berapi-api, ia merobek celana panjangnya. Dan nampaklah kedua kakinya sebatas paha
bersambung bambu.

"Patah kaki—buntung kaki—muka rusak— isi perut keluar, bukankah suatu kejadian lumrah dalam suatu
pertarungan? Apakah yang kausesalkan?" ujar Tatang Sontani.

"Sudah tentu aku bersakit hati. Lantaran aku tiada mempunyai muka lagi untuk melihat Ratna
Permanasari. Hidup begitu apa untungnya?" sahut Suryakusumah dengan suara bergemetaran.
Meneruskan, "Semenjak itu, aku bersumpah tak mau hidup dengan dia berbareng dalam jagat ini. Aku
bertapa berpuluh tahun lamanya. Bertapa sambil mencari akal. Lalu aku mendengar kabar, Bagus Boang
mendirikan suatu himpunan dengan tujuan hendak meruntuhkan tahta Kerajaan Banten. Mendengar
kabar ini, terus terang saja aku bertambah berkecil hati. Agaknya susah sekali aku melaksanakan angan-
anganku. Lantaran dia nampak makin gagah. Tapi Tuhan maha Adil! Akhirnya kudengar dia musnah tiada
kabarnya. Nah, inilah kesempatan sebaik-baiknya untuk membalas dendam. Bagus Boang tanpa
Himpunan Sangkuriang apalah artinya dalam sejarah dunia? Maka seluruh perhatianku kupusatkan
untuk membasmi habis himpunannya. Mula-mula tak gampang dapat kuwujudkan, karena pendekar
Himpunan Sangkuriang ternyata pendekar-pendekar pilihan. Eh, tak tahunya kalian berpecah-pecah.
Inilah suatu bukti, bahwa Tuhan selalu membantu manusia baik hati."

"Kentutmu!" potong Surawijaya di kejauhan.

"Kini jerih payahku diridoi Tuhan benar-benar. O, Tuhan terima kasih. Tapi sayang... sayang ... mengapa
Bagus Boang sudah mampus. Coba kalau belum mampus, kayak apa tampangnya. Aku kepengin melihat.
Ah, Bagus Boang! Kenapa kau tak mau menunggu.... Kau memang bangsat!" Dan tiba-tiba Suryakusumah
menangis menggerung-gerung. Setelah puas lalu mengumpat lagi, "Bagus Boang anak setan! Bagus
Boang bangsat...."

Baru sampai di situ, tiba-tiba ia menjerit tertahan. Punggungnya kena gablok dan ia terjungkal di lantai.
Secepat kilat ia menoleh. Ternyata ia kena pukul Dadang Wiranata dengan pukulan saktinya Aji Gineng.
Terus saja ia membalas. Karena tenaga Dadang Wiranata belum pulih, ia kurang gesit. Dengan tepat
pukulan Suryakusumah menghantam dadanya. Dan Dadang Wiranata terguling tanpa bersuara.

Dadang Wiranata sesungguhnya seorang pendekar yang cerdik. Ia bisa berpikir jauh dalam keadaan
terjepit. Tatkala kena dilukai Suryakusumah dengan pukulan gelap, ia jatuh tanpa dapat membalas.
Tetapi tenaga saktinya sebenarnya jauh lebih tinggi daripada rekan-rekannya. Meskipun habis mengadu
tenaga sakti melawan Tatang Sontani dan sebelumnya terluka pula oleh suatu racun, namun masih saja
ada sisanya. Sadar bahwa ia takkan mampu bergebrak dengan Suryakusumah berpura-puralah dia jatuh
pingsan menunggu saat yang tepat. la melihat Suryakusmah menangis menggerung-gerung. Hatinya
terkesiap. Inilah saat yang sebaik-baiknya. Begitu Suryakusmah mulai mengumbar ganjelannya, terus
saja ia melesat menghantamkan Aji Gineng dengan tenaganya yang penghabisan.

Suryakusumah adalah adik Ratu Bagus Boang. Dengan sendirinya tangguh luar biasa.

Namun begitu kena pukulan Aji Gineng, masih saja kekebalan dirinya tak mampu menahan. Secara
untung-untungan ia membalas. Pukulannya ternyata tepat mengenai dada Dadang Wiranata.

"Bagus! Kau bangsat bermaksud hendak gugur bersama aku bukan? Jangan mimpi!" bentak
Suryakusumah. Mendadak saja kepalanya pusing dan penglihatannya berkunang-kunang. Suatu hawa
yang dingin luar biasa menyerang ulu hatinya. Dadanya serasa mau meledak. Maka cepat-cepat ia
menguasai mulutnya dan duduk bersimpuh menentramkan diri.

Dengan demikian di dalam ruang perjamuan yang terletak di paseban Gedung Markas Besar Himpunan
Sangkuriang menjadi sunyi tegang. Masing-masing lagi berlomba menghimpun tenaga saktinya kembali.
Hanya Dadang Wiranata yang terlalu parah luka dalamnya, sampai napasnya kempas-kempis seperti
sebuah pelita nyaris kehabisan minyak.

Sebaliknya meskipun tenaga saktinya yang paling lemah Manik Angkeran menderita luka paling ringan.
Selagi mereka belum bisa berkutik, ia sudah dapat bergerak. Melihat hal itu, timbullah harapan dalam
hati Tubagus
Simuntang. Terus saja ia menyeru, "Adikku yang baik! Kau sudah dapat bergerak. ltulah bagus... Tadi
kulihat engkau sudah berani menegur kunyuk itu tanpa memikirkan keselamatanmu sendiri. ltulah suatu
tanda, bahwa budimu luhur. Kini jiwa kami terancam bahaya. Kau tolonglah kami. Kalau tidak kami akan
hancur lebur."

"Bagaimana caraku menolong?" sahut Manik Angkeran.

"Kau hantam jahanam itu, dia pasti mampus."

"Tenagaku tak ada lagi. Aku hanya bisa bergerak. Gntuk memukul orang, rasanya tak mungkin."

"Kalau begitu, carilah sebuah tongkat. Pukul kepalanya seratus dua ratus kali tak mengapa, asal dia
lantas mampus."

"Tak boleh begitu! Tak boleh begitu!"

"Mengapa tak boleh?" Tubagus Simuntang menebak-nebak.

"Aku seorang tabib. Seorang tabib tidak boleh membunuh. Apalagi membunUh seseorang yang lagi
menderita luka."

Tubagus Simuntang terhenyak sejenak. Lalu tersenyum memaklumi. Katanya mengalah, "Ah, adikku
yang baik. Kau memang berbudi luhur. Tetapi engkau sedang menghadapi seorang jahanam. Kau harus
bertindak tegas."

"Tidak! Aku ... aku ..." Manik Angkeran bingung. la tahu, Suryakusumah berhati keji dan jahat. Dia sendiri
merasakan bogem mentahnya. Kalau saja tidak dihalang-halangi Tatang Sontani, nyawanya sudah
berada di alam baka. Namun untuk membunuh seseorang yang sedang luka parah, benar-benar
bertentangan dengan undang-undang tabib.

Kaget luar biasa adalah Suryakusumah. Lantaran perhatiannya terpusat kepada ketujuh tokoh Himpunan
Sangkuriang dan terbenam dalam kisahnya sendiri, ia sampai melupakan pemuda cilik itu. Tadinya ia
mengira, bahwa pemuda itu pasti takkan tahan membendung apalagi mengusir pukulan saktinya.
Mengingat tenaga jasmaninya sangat lemah dibandingkan dengan yang lain. Tak pernah terlintas dalam
pikirannya, bahwa Manik Angkeran adalah murid seorang tabib sakti. Dengan sendirinya paham akan
lika-liku rahasia ketabiban. Begitu kena pukulan, tahulah dia bagaimana cara mengatasi tenaga sakti
lawan yang merayap ke dalam urat-nadinya. Meskipun tenaga saktinya lemah, berkat pengetahuannya
ternyata dialah yang paling bisa menolong diri. Sekarang Suryakusumah mendengar percakapannya
dengan Tubagus Simuntang. Keruan saja, hatinya tergetar. Waktu itu dia sedang berkutat mengusir
tenaga sakti Aji Gineng yang dingin luar biasa. Hampir-hampir dia berhasil. Sayang lantaran terkejut
tenaga pendorongnya lantas buyar. Dan seperti seekor burung kena tembak sayapnya, ia jatuh terkulai
menelungkupi lantai.

"Adikku!" kata Tubagus Simuntang. Manusia jahanam itu, berjiwa keji. Kalau kau membiarkan dia hidup,
berarti puluhan ribu orang mati tak terkubur. Sebaliknya, kalau kau membunuhnya, berarti kau telah
menyelamatkan puluhan ribu nyawa. Manakah yang lebih berharga? Nyawa satu orang yang berhati keji
atau puluhan ribu nyawa yang tak berdosa?"

Hebat ucapan Tubagus Simuntang, sampai hati Manik Angkeran terguncang. Dan mendengar ucapan
yang berbisa itu, Suryakusumah memaksa diri untuk berbicara. Katanya, "Adik cilik, dengarkan. Tadi aku
hanya menyerituhmu. Itu suatu bukti bahwa tiada niatku hendak mencelakai dirimu. Apalagi
membunuhmu. Sekarang engkau hendak membunuh seorang yang lagi menderita luka berat. Engkau
seorang calon tabib sakti, masakan akan membunuh seorang yang sedang luka berat. Bukankah kau
kelak bakal ditertawakan oleh manusia di seluruh jagat?"

"Kentut! Kentut!" maki Otong Surawijaya dengan mendongkol. Kau mengaku sebagai adik Gusti Ratu
Bagus Boang. Tapi ternyata sepak terjangmu seperti bumi dan langit. Kau main gelap. Menyerang dari
belakang punggung. Apakah perbuatan begitu tidak bakal ditertawakan oleh manusia seluruh jagat? Kau
memang bangsat pintar putar lidah."

Mendengar ucapan Otong Surawijaya, Manik Angkeran seperti tersadar. Ia mencoba berdiri, tapi
terjatuh kembali. Dan ketujuh raja muda Himpunan Sangkuriang, diam-diam mengeluh. Mereka sadar
bahwa untuk menolong keselamatan jiwa dan Himpunan Sangkuriang tidak boleh menyandarkan
harapannya kepada orang lain. Satu-satunya jalan harus dapat menghimpun kembali tenaga saktinya
yang lenyap berguguran kena pukulan Aji Narantaka. Tetapi mereka sadar pula, bahwa hal itu tidak
boleh dilakukan dengan gegabah serta merta memaksa diri. Akibatnya malahan menjadi runyam.

Ratna Bumi yang terkena betisnya, berusaha dengan sekuat tenaga hendak mendahului pulihnya tenaga
saktinya Suryakusumah yang kena pukulan sakti Aji Gineng. Tapi setelah beberapa kali mengatur
pernapasannya, ia merasa diri gagal. Maka harapan satu-satunya ialah, moga-moga ada salah seorang
bawahan yang kebetulan menjenguk ke paseban. Sebab ia melihat Manik Angkeran benar-benar
kehilangan tenaga.

Akan tetapi setelah ditunggu sekian lamanya, tetap sunyi. Tanda-tanda bakal ada seseorang yang datang
tiada sama sekali.

Sebaliknya Suryakusmah berpikir lain. Ia tak usah khawatir bakal ada seseorang yang datang menjenguk
paseban. Sebab selain sudah terjaga, ia sudah membersihkan terlebih dahulu. Satu-satunya jalan untuk
mengulur waktu ialah dengan mencoba:

"Adik kecil! Selama hidupku tak pernah aku bermusuhan dengan dirimu. Ya, bukan? Mengapa engkau
berniat hendak membunuh aku? Bukankah itu suatu karma? Ingat, bahwa di atas kita ada Tuhan yang
selalu mengawasi perbuatan kita."

"Kentutmu!" maki Otong Surawijaya. Tetapi ucapan Suryakusmah benar-benar meresap ke dalam lubuk
hati Manik Angkeran, sehingga pemuda itu jadi bersangsi. Melihat demikian, Tubagus Simuntang cepat-
cepat berkata: "Adik! Dalam dunia ini, memang banyak orang bermulut manis.

Lain di mulut lain di hati. Coba pikir. Jahanam itu bisa ngomong perkara karma dan Tuhan. Tapi
nyatanya, dia sendiri mau menyembelih kita. Kau bisa percaya akan kejujurannya?"
Dan demikianlah dengan napas tersengal-sengal kedua belah pihak berusaha sekuat mungkin untuk
menanamkan pengaruh dalam lubuk hati Manik Angkeran. Yang tercebur dalam kesangsian luar biasa
ialah Manik Angkeran. la bingung dan tak tahu apa yang paling baik untuk dilakukan. Mendadak suatu
pikiran menusuk benaknya. Lalu berkata, "Paman Tubagus Simuntang! Bagian manakah yang kena
pukulan orang itu?"

Tubagus Simuntang tercengang sejenak. Minta keterangan, "Mengapa engkau membicarakan soal yang
tidak penting?

"Aku akan menolongmu. Dengan begitu, engkau bisa melakukan maksudmu. Aku seorang tabib. Selama
hidupku aku bersumpah takkan membunuh orang."

Kembali lagi Tubagus Simuntang tercengang sejenak. Akhirnya berkata dengan menghela napas,
"Adikku! Tak gampang-gampang engkau dapat mengatasi pukulan jahanam itu. Seumpama dapat,
pastilah akan membutuhkan waktu lama," ia berdiam menimbang-nimbang.

Katanya di dalam hati, tapi baiklah kuturuti saja maksud baiknya. Kalau dia merasa senang, mungkin aku
berhasil membujuknya. Setelah memperoleh keputusan demikian, dengan tersenyum ia berkata:
"Baiklah, adikku. Mari, tolonglah aku."

Dengan merangkak-rangkak, Manik Angkeran menghampiri. Setelah mendengarkan keterangan Tubagus


Simuntang tentang akibat pukulan sakti Aji Narantaka, ia segera memijit-mijit kempungan, pinggang dan
lubang syaraf. Memang Tubagus Simuntang merasakan suatu kelegaan, tetapi tenaga Manik Angkeran
terlalu lemah sehingga hampir-hampir tak terasa perubahannya.

Selagi demikian, terdengarlah suara Tatang Sontani:

"Adik kecil! Engkau memang seorang pemuda yang berbudi luhur. Aku percaya, kau pasti berhasil
menolong Tubagus Simuntang. Hanya saja, waktunya begini sempit. Nah, begini saja. Memang tak patut
seorang tabib sampai membunuh orang. Sekarang maukah engkau menolong kami dengan perbuatan
lain?"

Manik Angkeran menoleh. Menyapa, "Apa, itu?"

"Bakarlah rumah-rumah di seberang itu!"

Manik Angkeran heran. Menegas lagi, "Mengapa dibakar?"

Tatang Sontani menimbang-nimbang sebentar. Lalu meyakinkan, "Jahanam itu hendak membakar
rumah kita. Daripada dibakar olehnya, bukankah lebih baik terbakar oleh perintahku?"

Mendengar keterangan Tatang Sontani, Suryakusumah tertawa gelak.

Katanya, "Bagus! Nah, bakarlah! Begitu api menyala, pastilah seluruh pasukanku akan meluruk ke mari.
Sebab memang itulah tanda sandiku."
"Jangan dengarkan ocehannya!" sambung Dwijendra. Pendekar ini segera dapat menangkap maksud
Tatang Sontani. "Lakukan perintah Tatang Sontani!"

Manik Angkeran menatap wajah Tatang Sontani mencari keyakinan.

"Ya, benar. Bakarlah! Jahanam itu bilang, bahwa pasukannya akan tiba. Sebaliknya apa-bila pasukan kita
bertujuh melihat api menyala pastilah akan datang pula. Dengan demikian, engkau berjasa menolong
kami. Nah, berangkatlah!"

Sekarang Manik Angkeran tidak ragu-ragu lagi. Dengan memaksa diri ia berdiri. Kemudian berjalan
tertatih-tatih. Dua tiga langkah maju, ia jatuh tersungkur. Tapi berdiri kembali. Begitulah berulang-ulang
terjadi, sampai ia hampir melewati ruang paseban.

"Selamat adikku! Sementara ini, biariah aku melakukan nasihatmu memijit-mijit kempungan, pinggang
dan lobang syaraf!" seru Tubagus Simuntang menyenangkan hati pemuda itu.

Sekarang di dalam ruang paseban benar-benar terjadi suatu lomba pemulihan tenaga sendiri. Tatang
Sontani, Dwijendra, Walisana, Ratna Bumi, Otong Surawijaya, apalagi Dadang Wiranata tidak
mempunyai harapan untuk bisa memenangkan perlombaan itu. Yang ada harapan besar, hanyalah
Tubagus Simuntang lantaran telah menerima petunjuk Manik Angkeran. Tapi tenaganya terlalu lemah
bila dibandingkan dengan Suryakusumah. Dengan demikian, keadaannya tetap mengkhawatirkan.

Tak lama kemudian, malam hari tiba dengan diam-diam. Suasana dalam ruang paseban benar-benar
menegangkan urat syaraf. Sebab selain menjadi gelap gulita, mereka semua sedang mempertaruhkan
jiwanya.

Di tengah kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tatang Sontani. "Tubagus Simuntang! Kau tadi
sudah bersintuh tangan dengan bocah itu. Apakah dia masih mempunyai tenaga untuk membakar
rumah? Lagi pula siapakah dia sebenarnya?"

Tubagus Simuntang menjenak napas. Seperti terpaksa ia menyahut, "Meskipun tidak bertenaga lagi,
tetapi kalau hanya menyulut api masakan tak mampu. Soalnya, di manakah dia akan memperoleh
lentikan api?" Ia berhenti dengan hati bersedih. Berkata lagi. "Tentang asal usul bocah itu, sebenarnya
aku sendiri kurang terang. Melihat gerak-geriknya, dia memiliki warisan ilmu perguruan Sadewata.
Caranya dia lari mengingatkan aku kepada Diah Kartika. Dia kuketemukan selagi berdiri terlongong-
longong mencari seorang kemenakan perempuannya yang dibawa lari oleh salah seorang bawahan kita.
Siapa namanya, tak terang. Hanya saja, kalau dia berhasil melakukan perintahmu, maukah engkau
menolong aku mencarikan kemenakannya?"

Tatang Sontani tak menyahut. Pikirannya kusut. Ia kenal siapakah Diah Kartika. Dialah murid seorang
pertapa sakti bernama Sadewata. Dia sendiri termasuk salah seorang anggota. Himpunan Sangkuriang.
Tetapi dua saudaranya yang lain, terang-terangan berpihak kepada musuh. Tadi, pemuda itu menyebut
diri sebagai murid seorang tabib sakit. Bukankah tabib sakti itu si Maulana Ibrahim?
Pada saat itu, mendadak ia melihat kejapnya letikan api. Dan tak lama kemudian, gelap malam di luar
paseban menjadi cerah berjilatan.

"Api! Api!" seru Tubagus Simuntang. "Kalau begitu ... kalau begitu

"Ya. Aku akan membantumu. Tak peduli darimana asal usul bocah itu!" sambung Tatang Sontani.
Hatinya penuh dengan harapan....

Anda mungkin juga menyukai