Anda di halaman 1dari 57

44 ILMU SAKTI TUNGGULMANIK

Selamanya, Sangaji selalu beragu dalam mengambil setiap keputusan. Hal ini
disebabkan hatinya terlalu sederhana dan mulia. Terhadap para pendekar yang
menggerebeg dataran tinggi Gunung Cibugis, ia tak mempunyai permusuhan
langsung. Sebaliknya apabila mereka hendak membasmi seluruh anggota
Himpunan Sangkuriang, hatinya tak rela. Setiap melihat kemungkinan itu,
senantiasa berkelebatlah bayangan Ki Tunjungbiru di dalam benaknya. Mengingat
betapa kasih sayang orang tua itu terhadapnya, ia seperti mempunyai kewajiban
untuk membalas budinya. Coba seumpama dahulu dia tidak diantarkan ke Pulau
Edam untuk menghisap getah sakti pohon Dewadaru serta tidak memperoleh
petunjuk-petunjuknya dalam soal semedi, pastilah dia bukan menjadi manusia
seperti sekarang.

Pada waktu itu, dari arah Gedung Markas Besar keluarlah beberapa anggota
Himpunan Sangkuriang yang sudah tak bersenjata lagi. Di antara mereka nampak
pendekar lnu Kertapati, Sidi Mantera dan Kamarudin yang masih kena pengaruh
racun asap. Dengan berbareng mereka menyebut kebesaran Tuhan, "Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Tiga kali beruntun, kemudian duduk bersimpuh di
belakang pemimpin-pemimpin mereka untuk menerima saat ajalnya. Hebat
pengaruh pengliatan itu terhadap Sangaji. Teringat betapa kejam Edoh Permanasari
serta betapa licik anak-anak murid Gunung Gembol, sirnalah semua keragu-
raguannya. Melihat Jajang Kartamanggala sudah hampir mencapai Andangkara,
terus saja ia menyerobot masuk ke dalam gelanggang pertarungan seraya berkata
nyaring: "Nanti dulu! Caramu hendak membuat perhitungan, begitu licik dan
memalukan. Apakah engkau tidak mempunyai kehormatan diri lagi? Mundur!"

Karena didesak gelombang hati, dengan tak sadar Sangaji sudah menggunakan
tenaga saktinya penuh-penuh. Karuan saja, suaranya meledak melebihi guntur.
Pasukan yang sudah bergerak hendak melakukan perintah Alang-alang
Cakrasasmita, kaget mendengar suara bergemuruh itu sampai mereka terpaku
dengan tak disadarinya sendiri. Tak terkecuali semua pendekar-pendekar besar
yang memimpinnya.

Sebaliknya, tidaklah demikian halnya Jajang Kartamanggala. Melihat seorang


pemuda cilik mendadak ikut campur menyanggah kehendaknya, tangannya terus
menjulur dengan maksud mendorong Sangaji ke pinggir. Kemudian maju selangkah
hendak membinasakan Andangkara. Tak terduga, bahwa pemuda itu sesungguhnya
sudah mengantongi kesaktian keris Kyai Tunggulmanik. Tenaga saktinya luar biasa
hebatnya. Dapat dikendalikan sekehendaknya. Untuk melayani semua ilmu aliran
sakti di manapun juga, tidak akan mengecewakan. Sebab, guratan yang terdapat
pada keris sakti Tunggulmanik adalah puncak kesempurnaan hakekat ilmu manusia
yang terdapat di persada bumi ini.
Maka begitu Jajang Kartamanggala bermaksud mendorongnya, justru kena
sebaliknya. Tiba-tiba saja, suatu kekuatan dahsyat berbalik mendorongnya. Jajang
Kartamanggala kena diseret arus gelombang tenaga sakti yang dahsyat luar biasa
itu. Tahu-tahu tubuhnya terpental di udara dan jatuh berjungkir-balik dua tiga kali.
Tatkala kaki kanannya mencoba bertahan, masih saja ia kena seret. Maka untuk
memunahkan tenaga dorong itu, ia terpaksa berjungkir balik lagi sampai lima kali.
Dengan demikian, tiba-tiba saja ia sudah berada di luar garis gelanggang
pertarungan.

Mereka yang tidak mengerti apa sebab Jajang Kartamanggala berjungkir balik selagi
tangannya tinggal menghantam mampus Andangkara, kaget dan terkejut. Akhirnya
mereka mengira, bahwa Jajang Kartamanggala sudah berhasil memukul
Andangkara, lalu mundur dengan aksi jungkir balik agar memperoleh pujian.
Bukankah adiknya tadi juga bermain aksi pula tatkala menggempur Andangkara
dengan lewat udara?

Terkejut dan bergusar adalah Jajang Kartamanggala. Sejenak ia seperti kehilangan


diri sendiri. Kemudian bercelingukan hendak mencan kambing hitamnya. Mendadak
melototi Nanang Atmaja pendekar anak murid Mandalagiri. Terus mendamprat,
"Hm... kalau memang mau mencoba pukulan sakti Gumbala Geni, janganlah
memukul secara menggelap. Itu bukan ksatria."

Didamprat tanpa perkara, sudah barang tentu Nanang Atmaja berganti melototinya.

"Kau kira apa aku ini sampai main gelap-gelapan segala? Aku telah mengapakan
dirimu? Kau sendirilah yang berpura-pura aksi berjungkir balik seolah-olah hendak
mengesankan bahwa raja muda Andangkara sudah memukulmu balik. Hm, aksi
kampungmu macam begitu apa perlu kaupamerkan di hadapan kita?"

Jajang Kartamanggala terpaksa berpikir keras. Tadinya ia mengira, Nanang Atmaja


membantu Sangaji sewaktu ia bermaksud mendorongnya pergi. Ternyata dia
membantah keras. Dan nampaknya tidak berdusta. Memperoleh kesan demikian,
perlahan-lahan ia berputar menghadap Sangaji sambil menuding.

"Anak muda, kau siapa?"

"Aku bernama Sangaji," sahut Sangaji sambil membantu menyalurkan tenaga


saktinya ke punggung Andangkara. Suatu tenaga luar biasa kuat menyusup ke
tubuh Andangkara pada saat itu juga. Dan begitu tenaga sakti itu menggetarkan
jantung serta mengalirkan darah, Andangkara tersadar dengan sekaligus. Ia
menyenakkan rnata. Tatkala melihat wajah Sangaji, ia jadi terheran-heran.

Sebagai seorang ahli, ia kaget menerima bantuan suatu tenaga luar biasa dahsyat
dari seorang anak muda yang belum pernah dikenalnya. Begitu hebat tenaga sakti
Sangaji sampai sebelum Jajang Kartamanggala dapat menghampirinya kembali,
jalan darahnya sudah lancar seperti sediakala. Tak peduli belum kenal siapa yang
membantunya, ia terus berkata perlahan: "Anak muda terima kasih..." Setelah
mengucapkan kata-kata berterima kasih, mendadak ia melompat berdiri dengan
gagahnya sambil berkata nyaring: "Hai orang-orang dari Gunung Gembol, apa sih
kehebatan pukulan sakti yang kalian agung-agungkan? Pukulan Gumbala Geni?
Hm... hayo maju, ingin aku mencoba pukulan sakti yang kalian bangga-banggakan
itu."

Melihat Andangkara tiba-tiba saja sudah bisa berdiri kembali dengan gagah
perkasa, bukan main kagetnya Jajang Kartamanggala. Hatinya lantas saja
mengeluh. Memang sesungguhnya dia jeri terhadap jago tua itu. Dahulu hari,
pernah ia merasakan kehebatannya.Maka terpaksalah ia menyahut dengan suara
rendah, "Ilmu Gumbala Geni memang dimasyhurkan orang sangat berlebih-lebihan.
Tetapi apabila kau mau mencoba, hayo bukalah dadamu. Aku akan memukulmu
tiga kali beruntun dengan janji kau tak boleh menangkis atau membalas
menyerang. Dengan begitu engkau akan merasakan betapa hebat ilmu sakti kami."

Mendengar nama Gumbala Geni, Sangaji mengerenyitkan dahi. Nama ilmu itu
pernah ia dengar dari kakek gurunya Kyai Kasan Kesambi. Itulah suatu ilmu yang
konon dikabarkan untuk menaklukkan iblis. Di Jawa Tengah, ilmu tersebut terkenal
dengan nama: pukulan iblis atau pukulan gandarwa. Sesungguhnya ilmu pukulan
Gumbala Geni bukanlah ilmu pukulan murahan. Kalau saja pemiliknya mempunyai
tenaga sakti yang hebat, tidaklah sembarang orang tahan menerima pukulan
dahsyatnya. Tetapi Andangkara yang gagah perkasa menyahut dengan suara
berkobar-kobar:

"Jangan lagi tiga pukulan. Hayo pukullah aku dengan tiga puluh kali. Kalau ada
sehelai rambutku yang rontok ke bumi, nyatakan aku sudah kalah denganmu."

Dengan mata menyala ia menatap wajah Jajang Kartamanggala. Kemudian beralih


ke pada Alang-alang Cakrasasmita. Dan berseru nyaring, "Alang-alang
Cakrasasmita! Andangkara belum menyatakan kalah. Dengan sendirinya kau tak
boleh melanggar perjanjian. Perjanjian kita berbunyi, kalau Andangkara sudah mati,
nah bolehlah kalian bertindak membasmi semuanya. Sekarang lantaran
Andangkara masih kuat berdiri bunuhlah dahulu sampai mati."

Hebat kata-kata Andangkara, sampai Sangaji tergetar pula hatinya. Maka tahulah
dia, bahwa terjadinya perang tanding perorangan itu adalah akal Andangkara untuk
mengulur waktu. Dengan dipaksa mengikat suatu perjanjian bertanding
perorangan, maka berarti pula tidak boleh main keroyokan. Benar di pihaknya telah
banyak yang terluka parah ataii mati, namun hal itu berarti memberi kesempatan
besar bagi Tatang Sontani dengan rekan-rekannya untuk memulihkan tenaga
saktinya yang tergempur oleh serangan gelap Suryakusumah. Sekarang ia belum
mengaku kalah. Maka aba-aba Alang-alang Cakrasasmita untuk membasmi habis
sisa anggota Himpunan Sangkuriang, dengan sendirinya jadi batal. Maka
terpaksalah Alang-alang Cakrasasmita memberi isyarat agar menunda dahulu
perintah pembasmiannya.

Namun keadaan Andangkara sebenarnya belum pulih benar-benar. Tenaga sakti


yang dimiliki kini semata-mata lantaran diperolehnya dari bantuan Sangaji. Kalau
memaksa diri untuk menerima pukulan sakti Gumbala Geni belum tentu dapat
bertahan. Hal itu sebenarnya telah diinsyafi pula. Soalnya dalam hatinya sudah
terjadi suatu keputusan hendak gugur demi membela Himpunan Sangkuriang
peninggalan Gusti Ratu Bagus Boang yang dihormati sampai ke dasar hatinya.
Sangaji sudah terlanjur memasuki gelanggang. Maka ia mendekati Andangkara.
Berkata membisiki, "Aki Andangkara, biarlah aku yang mewakili menerima pukulan
Gumbala Geni. "Bilamana aku tak sanggup, nah biarlah Aki maju lagi." Andangkara
menoleh dengan terharu. Mendengar anak muda itu menyebut dirinya dengan Aki )
maka tahulah dia bahwa anak muda itu bukan dari kalangannya. Ia tahu, tenaga
sakti anak muda itu hebat. Barangkali lebih hebat daripada dirinya sendiri dalam
keadaan segar-bugar. Namun apabila sampai menjadi korban pukulan sakti
Gumbala Geni tanpa dasar perjuangan, bukankah berarti suatu korban sia-sia
belaka. Sebagai salah seorang tokoh Himpunan Sangkuriang yang wajib
bertanggung jawab atas baik buruknya himpunannya, tak sudi ia membawa orang
lain ke kancah masalahnya. Apalagi sampai menjadi korban. Maka berkatalah ia di
dalam hati, mungkin pula anak muda ini dapat menggugurkan ilmu sakti Gumbala
Geni. Namun walaupun kepandaiannya tinggi untuk menghadapi perlawanan secara
bergiliran, akhirnya ia akan terluka lantaran lelah. Kalau sampai tewas hm...
sungguh sayang nampaknya dia seorang pemuda yang gagah perkasa serta luhur
budi.

Setelah memperoleh pertimbangan demikian, dengan perlahan ia berkata kepada


Sangaji, "Anak muda, kau sebenarnya murid siapa? Rupanya engkau bukan anggota
Himpunan Sangkuriang. Kalau sampai terjadi sesuatu atas dirimu, betapa aku harus
bertanggung jawab terhadap gurumu?"

"Memang aku bukan anggota Himpunan Sangkuriang," sahutnya. "Tetapi pernah


aku menerima jasa-jasa baiknya. Kemudian aku menerima undangan agar datang.
Dalam sakuku ada sebuah logam undangan. Kalau aku kini diberi kesempatan
melawan musuh berdampingan dengan Aki, alangkah besar rasa hatiku."

Mendengar keterangan Sangaji, Andangkara terhenyak keheranan. Sebagai seorang


panglima Himpunan Sangkuriang berpanji-panji Garuda Sakti dimana Suhanda
termasuk salah seorang bawahannya, sudah barang tentu ia mengerti tentang
undangan itu. Maka suatu pertanyaan bertumpuk-tumpuk merumpun dalam
otaknya. Tatkala hendak membuka mulut. Jajang Kartamanggala sudah nampak
memasuki gelanggang sambil berseru, "Hai

Andangkara! Majulah! Kau bilang mau menerima tiga pukulanku."


Sebelum Andangkara menyahut, Sangaji sudah mendahului, "Raja muda
Andangkara bilang kau tak pantas melawan dia. Terlebih dahulu lawanlah aku!
Kalau aku kalah, baru boleh bergebrak dengan dia."

Mendengar ucapan Sangaji, Jajang Kartamanggala merasa terhina. Membentak


dengan gusar, "Bangsat cilik! Kau manusia macam apa sampai berani menerima
tiga pukulan sakti Gumbala Geni?"

Didamprat demikian, timbullah suatu pikiran dalam hati Sangaji. "Benar! Aku
seorang diri. Betapa mungkin aku sanggup mengalahkan mereka seorang demi
seorang. Satu-satunya jalan aku harus menghancurkan inti ilmu kebanggaan
masing-masing perguruan mereka."

Seperti diketahui, ilmu warisan keris Kyai Tunggulmanik merupakan puncak inti
hakekat semua ilmu sakti di seluruh jagat raya. Meskipun Sangaji belum pernah
mengenal macam ilmu sakti Gumbala Geni, namun ia pernah menerima penjelasan-
penjelasan dari kakek gurunya Kyai Kesambi. Dengan sendirinya ia tak menemui
kesulitan lagi untuk memecahkan. Maka dengan suara pasti ia berkata, "Ilmu sakti
Gumbala Geni memanghebat. Semua orang gagah di seluruh Nusantara
mengagumi. Bukankah ilmu sakti tersebut berasal dari Warok Suramenggala pada
zaman Majapahit? ) tetapi kalau kau mengira, ilmu Gumbal Geni merupakan ilmu
pukulan tersakti di atas dunia ini adalah salah."

Mendengar ucapan Sangaji bergaya seorang guru, Jajang Kartamanggala


mendongkol bukan main. Katanya, "Kau bangsat cilik ini tahu apa tentang hebatnya
ilmu Gumbala Geni? Apakah kau ini penjelmaan malaikat?"

Direndahkan demikian, Sangaji tetap bersikap tenang. Sebaliknya semua yang


mendengar tangkisan Jajang Kartamanggala tertawa bergemuruh. Terdengar suara
nyeletuk, "Hai bangsat cilik! Kau sebenarnya murid siapa sampai berani ngoceh tak
keruan?"

"Bocah ingusan itu barangkali tak waras. Buat apa mendengarkan pidato orang tak
waras?" seru lainnya.

Dan kembali lagi mereka tertawa bergemuruh. Dan mendengar suara tertawa
bergemuruh yang bernada mengejek itu yang paling resah adalah Manik Angkeran.
Tetapi melihat Sangaji tetap tenang-tenang saja, hatinya agak sedikit terhibur.

Tiba-tiba Sangaji berkata lantang, "Tuan-tuan! Untuk apa Tuan-tuan sekalian saling
bermusuhan dan saling bunuh membunuh? Bukankah Tuan-tuan sekalian sedarah
dan sebangsa? Coba aku ingin berbicara dengan ketua persekutuan
penggerebegan."

Kata-kata Sangaji itu diucapkan dengan nyaring dan terang walaupun di tengah
gemuruh tertawa riuh rendah. Dan hebatnya, tiap orang dapat menangkap setiap
patah kata-katanya dengan jelas. Keruan saja jago-jago tujuh aliran yang mendaki
dataran tinggi Gunung Cibugis terkesiap semua. Diam-diam mereka membatin,
"Bocah ini masih muda belia, apa sebab ilmu saktinya begini dahsyat?"

Dalam pada itu muncullah seorang laki-laki berberewok bersenjata sebuah tongkat
besar. Dialah Andi Apenda salah seorang murid perguruan Gunung Kencana.
Dengan mengulum senyum dia berkata, "Kau ini sebenarnya setan dari mana
sampai berteriak-teriak tak keruan juntrungnya?"

"Apakah Tuan yang menjadi ketua persekutuan?" Sangaji menegas.

"Hm, untuk meladeni orang gendeng seperti kau, masakan perlu ketua kami
segala?" sahut Andi Apenda cepat.

"Apakah kau sendiri Ketua Himpunan Sangkuriang? Bih, bih! Kalau benar engkau
Ketua Himpunan Sangkuriang, aku sendiri menganggap dirimu tak lebih dan tak
kurang adalah anak seorang janda. Anak seorang janda rudin. Daripada kau
berteriak-teriak tak keruan juntrungnya, lekaslah pulang! Siapa tahu, selagi kau
gembar-gembor di sini, ibumu dikawini orang!"

Sebenarnya ejekan Andi Apenda adalah sekenanya saja. Tak tahu, bahwa
ejekannya itu justru tepat mengenai sasaran yang paling menyakitkan hati.

Sangaji adalah anak seorang janda yang miskin. Terhadap ibunya, Sangaji
menghormati dan menjunjung tinggi melebihi jiwanya sendiri. Sekarang ia
mendengar ibunya dihina seolah-olah tak lebih daripada seorang janda pasaran.
Keruan saja suatu gumpalan perasaan meledak dalam dadanya. Pemuda yang
biasanya sangat sabar melebihi seorang pendeta itu, tiba-tiba saja tak sanggup lagi
menguasai luapan perasaannya. Meskipun semenjak tadi, ia selalu menyadarkan
diri sendiri, bahwa tujuannya yang pokok ialah berusaha sekuat tenaga untuk
mempersatukan kedua pihak agar di kemudian hari merupakan suatu himpunan
perjuangan rakyat seluruh Jawa Barat.

Ternyata kini ia seperti lupa daratan. Sekali melompat tangannya menjangkau


tubuh Andi Apenda. Dengan kegesitan yang sukar dilukiskan, ia mencengkeram
punggung Andi Apenda dan diangkatnya ke atas. Kemudian tangan kanannya
merampas tongkat besi Andi Apenda dengan sekali hentak.

Kena diterkam Sangaji yang memiliki tenaga dahsyat, Andi Apenda mati kutu
dengan tiba-tiba. Tenaganya sirna dan lumpuh sekaligus. Ia tak ubah seekor anak
ayam kena cengkeram seekor elang. Melihat berkelebatnya tangan kanan Sangaji
hendak mengemplang kepalanya dengan senjata tongkat besinya yang berat dan
gede, terus saja ia menutup matanya rapat-rapat.

Tetapi kalau nasib masih baik, sekonyong-konyong melompatlah dua orang


rekannya ke gelanggang. Sukra dan Kusna, namanya. Mereka berdua adalah kakak
seperguruannya. Dengan bersenjata tongkat besi raksasa pula, mereka langsung
merangsang dan berbareng mengemplang tubuh Sangaji. Hebat dan berbahaya
benar cara mereka berdua menyerang. Yang satu dari samping mengarah kepala.
Lainnya membabat kaki mengarah pinggang. Tujuan serangan demikian ialah agar
Sangaji melepaskan Andi Apenda dari cengkeramannya. Apabila masih membandel,
ia tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak.

Tetapi sambil menjinjing Andi Apenda di tangan kiri dan tangan kanan tetap
menggenggam tongkat besi raksasa, tiba-tiba Sangaji menggenjot kedua kakinya
dan terus meletik ke udara. Kedua penyerangnya sama sekali tak menduga dia bisa
lolos dengan terbang ke atas. Keruan saja mereka bertubrukan. Gntung sekali
senjata mereka masing-masing tidak mengemplang kepala mereka.

Di bawah pekik kaget para pendekar, Sangaji membawa Andi Apenda mengapung
di udara. Dengan sedikit berputaran ia turun * ke bumi enteng sekali. Pendekar
Sindung Riwut pemimpin penyerbuan dari perguruan Gunung Gembol tiba-tiba
berteriak. "Hai. Bukankah itu ilmu meletik ke udara ajaran Gunung Damar?"

Sudahlah menjadi suatu kelaziman, bahwa tiap-tiap perguruan mengenal corak


serta macam ajaran perguruan lainnya. Pelajaran itu termasuk pengetahuan umum.
Tujuan pokok pengetahuan umum itu, agar bisa berjaga-jaga dalam membawa diri.

Memang apa yang diperlihatkan Sangaji tadi ialah ilmu meletik ke udara ajaran Kyai
Kasan

Kesambi yang dipelajarinya lewat gurunya, Wirapati. Karena seringnya ia menekuni


ilmu itu, dalam keadaan terjepit mendadak saja tanpa berpikir lagi terus
menggunakan ilmu meletik untuk menghindari serangan gencetan yang sangat
berbahaya.

Loncatan meletik ke udara, sebenarnya dapat dilakukan oleh beberapa pendekar


lainnya. Seperti Kusuma Winata dengan sekalian adik seperguruannya atau Edoh
Permanasari serta beberapa murid pilihannya. Tetapi kalau sebelah tangan
menjinjing tubuh segede Andi Apenda berbareng membawa sebuah tongkat raksasa
terbuat dari besi dan kegesitan corak loncatannya harus sama ringannya dengan
membawa dirinya seorang, itulah sesuatu hal yang tak dapat mereka lakukan.

Para pendekar golongan Gunung Kencana mati kutu melihat Andi Apenda jatuh di
dalam cengkeraman Sangaji. Mereka berada pada jarak sepuluh meteran. Gntuk
berusaha menolong menyelamatkan rekannya itu, tidak mungkin lagi. Sebab sekali
Sangaji mengemplang kepala Andi Apenda dengan tongkat besi yang dirampasnya,
dia akan mampus dengan kepala pecah sumyur. Siapakah di dunia ini yang
sanggup bergerak melebihi kecepatan ayunan tangan yang tinggal turun saja. Maka
mereka hanya berdiri tegak dengan doa panjang pendek.

Pendekarpendekar yang datang meluruk ke dataran tinggi Gunung Cibugis adalah


pendekar-pendekar kelas satu. Seperti, Kusuma Winata, Panjang Mas dari Gunung
Kencana, Ratu Kenaka dari Gunung Aseupan. Begog dan Sianyer dari
Muarabinuangeun, Alang-alang Cakrasasmita dari Gunung Gilu dan Sindung Riwut
pendekar sakti dari Gunung Gembol. Namun menghadapi Sangaji mereka tak
berdaya sama sekali. Sebab gerakan Sangaji meletik ke udara terjadi dengan tiba-
tiba. Seumpama dapat menebak pastilah mereka akan menghujani senjata
sebelumnya, untuk menolong Andi Apenda.

Pada saat" itu Sangaji sedang menerkam tongkat besi raksasa erat-erat.
Pandangnya penuh rasa benci serta gemas. Perlahan-lahan ia mengangkat tongkat
besinya dan tinggal menurunkan deras. Dan kepala Andi Apenda akan remuk
berantakan. Melihat adegan ngeri itu, banyak kawan-kawannya yang menutup
mata. Tetapi kakak-kakak seperguruannya bersiaga untuk segera mengkerubut
membalaskan dendam.

Tak terduga, bahwa tangan Sangaji yang sudah mengangkat tongkat besi itu tidak
juga segera mengemplangkan. Air mukanya berubah-ubah. Terang sekali di dalam
hati pemuda itu sedang bergumul suatu derum hati yang saling mengendapkan.
Dan tiba-tiba ia menurunkan tongkat besinya, kemudian meletakkan tubuh Andi
Apenda perlahan-lahan ke tanah. la menarik napas panjang.

Sesungguhnya dalam sekejap itu, timbullah suatu perjuangan seru dalam hati
Sangaji. Teringat betapa tajam penghinaan Andi Apenda kepadanya ingin ia
mengemplangnya untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Tetapi tiba-tiba
timbullah suatu pikiran lain entah dari mana asalnya. Begini bunyinya, kalau aku
membinasakan salah seorang di antara ketujuh aliran sakti yang mendaki dataran
ketinggian Gunung Cibugis, bukankah aku lantas menjadi musuh ketujuh golongan
besar ini? Dan sekali bermusuhan selamanya aku takkan mendapat kepercayaan
mereka untuk mempersatukan. Dengan begitu aku akan gagal, semata-mata
karena menuruti luapan rasa hatiku sendiri. Aku harus berani menahan hati. Tak
peduli betapa mereka menghina aku.

Darimanakah asal datangnya suara hati itu? Dasar hati Sangaji adalah jujur,
sederhana dan mulia. Pada saat itu ia menghadapi suatu masalah yang maha besar
dan luar biasa sulitnya. Sehingga secara wajar, banyak ia menggunakan
pertimbangan-pertimbangan rasa. Dan karena itu banyak menggunakan getaran
rasa, secara naluriah tergetarlah darahnya. Seketika itu juga terjadilah suatu
gelombang dahsyat dalam diri Sangaji.

Seperti diketahui dalam diri Sangaji mengalirlah ilmu sakti manunggalnya getah
sakti Dewadaru, madu Tunjungbiru, ilmu sakti Kumayan Jati, ilmu Kyai Kasan
Kesambi dengan guratan keris sakti Kyai Tunggulmanik warisan ilmu sakti pada
zaman 4900 tahun yang lalu. Ilmu sakti tersebut secara otomatis akan bekerja
apabila kena sentuh dari luar. Tapi sekarang sama sekali tiada persentuhan dari
luar. Yang ada hanya getaran rasa. Maka dalam sekejap itu terjadilah suatu
perkembangan baru di dalam diri Sangaji di luar pengamatan manusia.
Sekonyong-konyong dunia pikiran Sangaji seperti terbuka dengan tak disadarinya
sendiri. Pikirannya lantas menjadi tajam luar biasa. Maka benarlah konon yang
dikabarkan dalam kisah sejarah bahwa pusaka sakti di kemudian hari menjanjikan
kepada pemiliknya akan menjadi manusia yang berotak cerdas. Tapi dasar watak
Sangaji sederhana, berhati polos serta mulia, maka perubahan itu tidak nampak
dari luar. la tetap seperti sediakala, sebagai seorang pemuda yang tak pandai
berbicara dan berhati beku.

Demikianlah setelah Sangaji memperoleh bentuk pikirannya secara tak disadarinya


sendiri, ia segera membebaskan Andi Apenda. Katanya kemudian dengan tenang,
"Aku memang anak seorang janda. Seorang janda yang terpaksa hidup berlarat-
larat sampai di Jakarta. Lantaran ditinggal suaminya gugur dalam suatu
pertarungan. Apakah buruknya anak seorang janda? Apakah menurut pendapatmu,
ibuku tak berhak lagi hidup tenteram sebagai manusia lainnya? Karena kebetulan
sudah menjadi janda?"

Andi Apenda tertegun-tegun. la telah lolos dari suatu maut secara ajaib. Keduanya
sama sekali tak pernah menduga bahwa ejekannya merupakan suatu hal yang
sangat menusuk hati Sangaji, karena kebetulan pemuda itu anak seorang janda
pula. Maka tatkala Sangaji mengangsurkan tongkat besinya, dengan menundukkan
kepala dia menerima senjatanya kembali dengan tersipu-sipu.

Setelah Andi Apenda keluar gelanggang perhatian penonton beralih kembali kepada
Jajang Kartamanggala. Pendekar ini diam-diam menjadi kecil hati, menyaksikan
kepandaian Sangaji yang berada di luar kemampuannya sendiri. Seumpama tidak di
depan mata para pendekar di seluruh Jawa Barat, sudah sedari tadi dia menyelinap
keluar gelanggang dengan diam-diam. Apa boleh buat sekarang sudah kepepet.
Maka teriaknya nyaring, "Hai anak muda! Kau tadi ingin berbicara dengan ketua
kami. Sebenarnya siapakah yang mendalangi engkau? Bilanglah yang terang,
barangkali aku masih bisa mengampuni."

"Aku datang ke mari atas namaku sendiri. Meskipun aku dibesarkan di Jakarta,
tetapi aku berasal dari Jawa Tengah. Sekarang aku melihat dan menyaksikan
betapa para pendekar Jawa Barat saling bertengkar dan bunuh membunuh.
Menuruti kata hatinya, aku memberanikan diri untuk tampil ke muka agar kalian
bersatu padu."

"Hm, aku kau suruh berdamai dengan pihak Himpunan Sangkuriang? Itu tidak
mudah. Bangsat tua Andangkara masih berutang tiga kali pukulan sakti Gumbala
Geni. Suruhlah dia membayar utangnya dahulu! Dan nanti baru kita berbicara."
Setelah berkata demikian ia menggulung lengan bajunya.

"Rupanya engkau paling senang membicarakan ilmu sakti Gumbala Geni. Baiklah
memang hebat ilmu sakti tersebut. Tetapi sayangnya, engkau tidak sedahsyat
pemiliknya dahulu. Apa yang kau capai belum lagi jatuh separohnya," kata Sangaji
sambil tersenyum.
"Kau bilang apa?" bentak Jajang Kartamanggala.

"Aku bilang, engkau belum mencapai separohnya. Itu malah kebetulan. Sebab kalau
engkau berani maju satu tingkat lagi, jiwamu akan terancam suatu kematian
runyam."

"Darimana kau tahu?" Jajang Kartamanggala penasaran.

"Sebab tenaga dasarmu belum kuat. Seumpama sebuah balon kau akan meledak
apabila menambah satu tiupan lagi," sahut Sangaji.

Mendengar ceramah Sangaji, wajah Jajang Kartamanggala berubah hebat. Ia


melihat pemuda itu berkata dengan setulus-tulusnya. Tidak mungkin berdusta.
Teringat betapa dahsyat tenaga sakti pemuda itu, ia akan dapat membuktikan
manakala diajaknya bertanding mengadu kekuatan.

Sebaliknya anak Gunung Gembol angkatan muda yang masih berdarah panas,
mendongkol mendengar ujar Sangaji. Terus saja mereka memaki-maki kalang
kabut. Di luar dugaan Jajang Kartamanggala maju selangkah sambil berkata
menegas.

"Kau bilang, aku bisa mati runyam manakala aku mencapai satu tingkat lagi,
Agaknya keteranganmu masuk akal pula. Tapi masakan ilmu pukulanku tiada
gunanya?"

Sangaji menggeleng kepala sambil menjawab, "Tenaga sakti Gumbala Geni yang
kau-miliki sekarang memang dapat menggertak kurcaci-kurcaci. Tetapi berhadapan
dengan seorang seperti raja muda Andangkara, sama sekali tiada guna. Malahan
engkau bisa berada dalam bahaya."

"Bahaya bagaimana?"

"Sebab bilamana lawanmu seorang yang memiliki tenaga sakti melebihi dirimu,
maka pukulanmu akan terpental berbalik memukulmu," sahut Sangaji dengan
sungguh-sungguh.

Tetapi berbareng dengan itu, berkelebatlah sesosok bayangan yang terus memukul
punggung Sangaji sambil membentak, "Coba rasakan, kau bisa hidup tidak?"

Cepat sekali gerakan penyerang itu, sampai semua orang terkesiap. Dan dia adalah
Aceng Suwirya kakak seperguruan Jajang Kartamanggala. Betapa hebat pukulannya
tidak usah diragukan. Tenaga saktinya setingkat lebih tinggi daripada Jajang
Kartamanggala. Maka dapat dibayangkan akibat pukulannya. Apalagi mengenai
punggung dengan telak.

Siapa saja akan terjungkal melontakkan darah. Dan jiwanya takkan tertolong lagi,
walaupun umpamanya ada malaikat turun dari langit.
Gerakannya yang cepat itu, bagi Sangaji mudah untuk mengelakkan. Tetapi Sangaji
sudah memutuskan hendak menaklukkan pendekar-pendekar penyerbu dengan
berbareng, agar dapat dihindari pertarungan secara bergiliran. Maka ia sengaja
menerima pukulan Gumbala Geni tanpa mengelak sedikitpun jua.

Tatkala itu terdengarlah suara langkah tertatih-tatih sambil mendamprat.

"Bagus ya! Kau sampai memukul dengan cara menggelap. Macam ksatria apa?"

Dialah Manik Angkeran. Kesehatannya belum pulih kembali. Tetapi berkat


pertolongan tenaga sakti Sangaji serta pengetahuannya sendiri tentang rahasia
ilmu pertabiban, ia sudah sanggup bergerak. Kalau perlu masih bisa dia berkelahi
meskipun untuk selintasan. Namun melawan Aceng Suwirya sudah barang tentu dia
bukan merupakan lawan yang berarti, sekalipun andaikata dalam keadaan segar
bugarpun. Maka baru ia mengangkat tangan, ia sudah kena terpentalkan ke
samping. Dan sekali lagi Aceng Suwirya menggebuk punggung Sangaji dengan
tepat sampai dua kali berturut-turut.

Dipukul demikian, Sangaji seperti kebal dari segala. Ia pun tidak mengadakan suatu
pembelaan untuk memukul balik penyerangannya. Bahkan ia lantas berkata kepada
Manik Angkeran dengan tersenyum.

"Tak usahlah engkau khawatir. Pukulan Gumbala Geni dengan tenaga semacam ini,
sedikitnya tiada gunanya."

Mendengar keterangan Sangaji, barulah Manik Angkeran bernapas lega. Dengan


wajah menyatakan rasa kagum dan penuh pengertian, ia menyahut: "Ah, ya,
bukankah engkau cucu murid Kyai Kasan Kesambi..." sampai di sini ia cepat-cepat
menutup mulutnya. Kemudian dengan terpincang-pincang ia kembali ke tempatnya
semula.

Menyaksikan adegan serta mendengar keterangan Sangaji, jago dari Gunung


Gembol itu seperti bermimpi di siang hari. Heran ia mengamatamati wajah Sangaji
yang menentangnya dengan tenang-tenang. Setelah beberapa saat baru ia
membuka mulut, "Apakah perguruan Kyai Kasan yang termasyhur pula sampai di
Jawa Barat, mengajarkan ilmu kebal ini?"

Dengan sedikit mengangguk, Sangaji menjawab: "Aku memang cucu murid Kyai
Kasan Kesambi. Tetapi kalau dibandingkan dengan kesaktian kakek guruku
bagaikan bumi dan langit..."

Sebagai anak-murid yang mendalami ilmu sakti Gumbala Geni, ia percaya tentang
ilmu kebal Warok Suramenggala yang hidup pada zaman Majapahit ) dahulu
terkenal akan kekebalannya. Dan pendekar sakti itulah yang mewariskan ilmu
pukulan sakti Gumbala Geni. Dahulu Warok Suramenggala pernah bertempur tiga
hari tiga malam melawan Warok Cadarma. Karena mereka berdua sangat kebal dan
bertenaga sakti seimbang, maka hampir saja tidak dapat memutuskan siapakah
yang lebih unggul. Akhirnya hanya karena kelalaian sedikit saja, Warok Cadarma
kena digempur sampai tewas. Ialah pada bagian mulutnya sewaktu diajak
berbicara.

Memang selagi mengadu kekuatan sakti, berbicara merupakan pantangan besar.


Kini, ia melihat Sangaji sedang berbicara. Tak sudi ia menyia-nyiakan kesempatan
yang bagus itu. Dengan menggerung ia melompat dan menggempur tubuh Sangaji
dengan seluruh kekuatannya. Tetapi sekali lagi tertegun keheran-heranan. Sangaji
ternyata tak bergeming. Bahkan pemuda itu lantas tertawa sambil berkata, Tadi
sudah kukatakan manakala kalian sudah memiliki tenaga sakti tinggi kalian dapat
bertempur sambil berbicara. Dan sekali menggempurkan tenaga sakti pukulan
Gumbala Geni, maka dahsyatnya tak dapat dilukiskan. Tapi apa yang kalian miliki
sekarang tidak berarti. Kau tak percaya? Nah, pukullah sekali lagi. Sepuluh dua
puluh kali, boleh juga. Silakan!"

Benar juga. Aceng Suwirya yang penasaran terus menggebuki Sangaji dengan
pukulan dahsyat lebih dari sepuluh kali, Tidak hanya menghantam punggung saja,
tetapi juga kepala, mulut, perut dan pinggang. Namun Sangaji-tidak bergeming
sama sekali.

Kini tidak hanya Aceng Suwirya dan Jajang Kartamanggala yang terheran-heran
tetapi para pendekar kedua belah pihak jadi gempar. Mereka semua tahu betapa
dahsyat pukulan ilmu sakti Gumbala Geni seumpama sebuah bukitpun bisa runtuh
berguguran. Walaupun kabar itu terlalu dilebih-lebihkan, namun betapa berbahaya
ilmu sakti tersebut di tangan para pendekar kelas satu tidak dapat dibantah lagi.

Anak murid Mandalagiri yang masih mendongkol terhadap kelicikan pendekar-


pendekar Gunung Gembol, terus saja mengejek.

"Kabarnya pukulan Gumbala Geni dapat menggugurkan gunung. Tak tahunya cuma
bisa menggugurkan semangatnya sendiri. Ai... ai... sungguh hebat!"

Yang lain berkata lagi, "Pantas pendekar yang berilmu Gumbala Geni hanya berani
berhadapan dengan lawan yang sudah luka parah. Sungguh seorang ksatria
jempolan!"

Mendengar bunyi ejekan itu, muka Jajang Kartamanggala merah padam. Meskipun
tidak langsung menyebut namanya, namun dia merasa sendiri. Seketika itu juga
meledaklah amarahnya. Sekali maju selangkah, ia menghantam dada Sangaji. Bres!
Kakak seperguruannya membarengi pula memukul dari belakang. Dengan begitu,
Sangaji kena gencet. Orang-orang terkesiap. Mereka berpikir, kalau tidak tewas,
pada saat itu juga, pastilah tulang-belulangnya akan remuk.

Tetapi sekali lagi, Sangaji menunjukkan kelebihannya. Getah sakti Dewadaru yang
mengalir dalam tubuhnya lantas saja bekerja. Kedua tangan lawannya kena dihisap.
Aceng Suwirya dan Jajang Kartamanggala kaget setengah mati. Buru-buru mereka
hendak menarik tangannya, namun sudah kasep. Tangannya terlengket. Clntung
Sangaji tiada berniat jahat. Ia bahkan mengirimkan tenaga saktinya, sehingga
badan kedua anak murid

Gunung Gembol malahan terasa menjadi nyaman sekali.

"Beginilah baru benar," kata Sangaji dengan berbisik. "Jalan darah kalian sudah
tertembus. Di kemudian hari, kalian akan dapat mencapai tingkatan ilmu sakti
Gumbala Geni lebih tinggi lagi. Sekarang biarlah kubuktikan, manakala musuh
kalian bermaksud mementalkan kalian. Awas!"

Setelah berkata demikian, kedua tubuh anak murid Gunung Gembol tiba-tiba saja
terpental ke udara. Dan dengan berjungkir-balik mereka turun ke tanah. Ajaibnya
begitu kepalanya menukik nyaris terbentur tanah, sekonyong-konyong membalik
dengan cepat. Berbareng dengan gerakan itu, mereka sudah berdiri tegak di atas
tanah dengan tak kurang suatu apa.

Betapa garang mereka tapi kena diperlakukan demikian, sirnalah rasa


permusuhannya. Seperti berjanji mereka membungkuk hormat dan berjalan keluar
gelanggang dengan muka pucat lesi. Itulah untuk yang pertama kalinya, mereka
merasa takluk benar: benar terhadap seorang lawan.

Sangaji lalu memanggil Manik Angkeran. Berkata, "Paman! Sekarang aku


membutuhkan tenagamu."

"Mengapa paman?" Manik Angkeran menegas dengan pandang heran.

Sangaji terdiam sejenak. Sekilas berkelebatlah bayangan Fatimah di depan


matanya. Tapi pada waktu itu juga, teringatlah dia betapa Manik Angkeran gusar
tatkala anak-anak murid Tatang Manggala menyebut nama Fatimah di depan
pertapaan tabib sakti Maulana Ibrahim. Hampir ia berkata, "Fatimah tunanganmu
adalah adik guruku Wirapati. Dengan sendirinya aku harus menyebutmu dengan
paman..." Tapi kemudian berlatih cepat. "Eh... Maksudku adik. Maaf."

Manik Angkeran memandangnya dengan mata penuh selidik. Maka cepat-cepat


Sangaji membelokkan perhatian. "Kau tolonglah anak murid Gunung Gembol.
Dengan begitu, kau akan dapat menolong kelangsungan hidup Himpunan
Sangkuriang."

Manik Angkeran mengalihkan pandang kepada Kartasasmita yang masih saja belum
dapat berkutik di dekat Andangkara. Sebagai seorang tabib yang merasa diri
mampu untuk menolong menyembuhkan, sudah sedari tadi ia ingin bekerja.
Sekarang di depan ratusan orang, ia mendapat kesempatan untuk memperlihatkan
sedikit kecepatannya. Sudah barang tentu, ia merasa diri memperoleh kehorrsan
besar. Terus saja, ia menyingsingkan tengan dan kemudian menyambung tulangtu-
lang Kartasasmita dengan cekatan. Setelah itu ia minta beberapa obat sambung
tulang dari para pendekar yang sudi memberi bantuan. Dengan begitu, pekerjaan
itu dapat diselesaikan dengan cepat.

"Maksud Saudara memang bagus," tiba-tiba terdengar seorang berkata. "Tetapi


janganlah mengharap, bahwa dengan jasa-jasa baikmu lantas kami merasa
berkewajiban memenuhi permintaanmu agar mengampuni bangsat-bangsat
Himpunan Sangkuriang. Mana bisa begitu? Kalau kau menjadi kecewa atas
pernyataanku ini, nah patahkan sekali lagi tulang-tulang muridku itu. Aku gurunya,
Sindung Riwut namaku."

Mendengar nama Sindung Riwut, gemparlah para pendekar kedua belah pihak. Ya,
siapakah yang tak kenal nama yang menakutkan itu. Ia berperawakan pendek tipis
dengan rambut putih terurai panjang. Pandangan matanya menyala. Hidungnya
bengkok seperti burung betet. Giginya belingsatan sehingga lebih menyerupai
kumpulan taring. Dengan begitu muka berkesan kejam serta bengis.

"Hai, anak muda! Siapa namamu?" bentaknya. "Asal dari mana sampai berani
memberi ceramah perkara Gumbala Geni segala...."

"Anak muda, hati-hati!" Andangkara memperingatkan. Sebagai seorang pemuda


yang sudah memiliki puncak semua tenaga sakti serta puncak ilmu sakti di jagat ini,
sudah barang tentu ia mengetahui tinggi rendahnya tenaga sakti lawan dengan
otomatis. Namun melihat majunya Sindung Riwut ia masih nampak acuh tak acuh
saja. Katanya tenang, "Namaku Sangaji anak seorang janda miskin. Mengapa?"

"Kau mengoceh perkara Gumbala Geni. Apakah kau sudah mengenal kehebatan
ilmu sakti tersebut?"

"Ilmu sakti di seluruh dunia ini, bukanlah bersumber satu? Kalau saja pukulan
Gumbala Geni dilakukan seseorang yang sudah memiliki tenaga penuh, siang-siang
aku akan lari menjauhi. Lihat!"

Terhadap seorang yang berusia tua selamanya Sangaji menaruh hormat


kepadanya. Tak peduli dia berada di pihak mana. Dan kembalilah sifatnya yang asli.
lalah tak senang banyak berbicara. Maka segera mengalihkan pandang ke arah
sebatang pohon sebesar sepelukan orang. Setelah semua penonton memutar
kepalanya, ia terus menghantam dari tempatnya.

Sangaji sudah mahir dalam ilmu sakti Kumayanjati. Karena tenaga saktinya
melebihi tenaga sakti Gagak Seta, maka dahsyatnya jauh melebihi. la tahu, bahwa
inti pukulan Gumbala Geni ialah merupakan urat nadi berbareng tulang
belulangnya. Hal itu baru diketahui setelah seminggu kemudian. Ini terlalu lama dan
bukan maksudnya untuk memamerkan tenaga saktinya. Tujuannya yang pokok
ialah hendak menggertak. Maka ia menggunakan ilmu sakti Kumayanjati yang keras
dan lembek dengan berbareng. Tak mengherankan bahwa pada saat itu juga,
terdengarlah suara gemeretak.
Dahan sekalian ranting dan mahkota daunnya, terbang berhamburan. Yang tinggal
hanya batang pohonnya tak ubah sebatang pohon kelapa kena tersambar geledek.

Menyaksikan pukulan sedahsyat itu, semua pendekar kagum. Hati mereka tercekat.
Pikir mereka, ia memukul dari jarak jauh. Sekalipun demikian akibatnya begitu
hebat. Apalagi kalau memukul langsung, barangkali pohon itu tumbang berkeping-
keping....

Tetapi Sindung Riwut terdengar tertawa berkakakan. Katanya, "Itu kan bukan ilmu
sakti Gumbala Geni. Mana dapat kauingusi?"

Tetapi sebentar kemudian terdengarlah suara beberapa orang menyatakan kagum


luar biasa. Ternyata pohon itu tidak hanya patah berantakan, tetapipun urat-
uratnya hangus remuk. Apalagi kalau bukan akibat getaran pukulan ilmu sakti
Gumbala Geni?

Sebentar mereka heran ternganga-nganga, kemudian menyusullah sorak-sorai


gemuruh sampai lama sekali.

"Guru!" seru Jajang Kartamanggala. "Memang benar. Inilah Gumbala Geni."

"Kau tahu apa?" bentuk Sindung Riwut. Kemudian beralih kepada Sangaji. "Anak
muda, kau memang hebat! Tapi untung mataku belum lamur."

Mendengar ujar Sindung Riwut, diam-diam Sangaji kagum padanya. Pikimya dalam
hati: "Orang tua ini memang hebat. Ilmu Gumbala Geni berpokok pada pukulan
keras dan lembek berbareng. Akupun tadi menggunakan ilmu Kumayanjati keras
dan lembek dengan berbareng pula. Namun masih bisa dia membedakan."

"Kau tadi bisa mengoceh perkara Gumbala Geni. Coba terka, apa ini!" bentak
Sindung Riwut dengan suara mengguntur.

Belum lagi Sangaji menentukan sikap, Sindung Riwut sudah melompat


mencengkeram kepala. Melihat gerakan tangannya,

Andangkara yang berada tak jauh dari Sangaji segera memberi peringatan lagi.

"Awas! ltulah Gumbala Geni. Jangan berkhayal dahulu!"

Bukan main dahsyat serangan itu. Maklumlah, Sindung Riwut bukan seperti Aceng
Suwirya atau Jajang Kartamanggala. Dialah gurunya yang sudah menyelami inti
ilmu sakti Gumbala Geni semenjak belasan tahun yang lalu. Tenaga saktinya
hampir sejajar dengan ketujuh tokoh sakti di Jawa Tengah. Karena itu, serangannya
menerbitkan kesiur angin bergulungan serta berhawa panas. Tetapi dengan sedikit
mengelakkan diri, Sangaji luput dari serangannya. Para pendekar yang
menumpahkan seluruh perhatiannya semenjak Sangaji memperlihatkan sedikit
kepandaiannya, tidak dapat menangkap gerakan Sangaji yang cepat dan ajaib.
Mereka hanya melihat gerakan Sangaji yang enteng luar biasa dan tahu-tahu
pemuda itu sudah berada di luar bidang serangan lawan.

Akan tetapi Sindung Riwut adalah satu di antara ke tujuh jago kelas utama di Jawa
Barat. Ilmu sakti Gumbala Geni yang ditekuninya semenjak masa mudanya, sudah
mencapai tingkat kesempurnaan. Sangaji sendiri tadi mengakui, bahwa apabila
seseorang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, ia sendiri akan lari jauh-jauh
sebelum kena pukulan ilmu sakti Gumbala Geni yang memang hebatnya tiada
taranya. Itulah sebabnya pula, ia tak berani menyongsong serangan Sindung Riwut.
Maka begitu serangannya kena dielakkan, Sindung Riwut terus menyusulkan
serangannya yang kedua. Kali ini lebih cepat dan lebih hebat.

Tetapi sekali lagi, Sangaji dapat mengelakkan serangan itu dengan enteng di luar
pengamatan mata. Tak terduga, mendadak Sindung Riwut telah mencegat dengan
serangannya yang ketiga, keempat dan kelima yang dilontarkan secara berturut-
turut. Begitu cepat serangannya itu, sehingga tubuh Sindung Riwut berkelebatan
tak ubah raksasa menggunturi pintu kahyangan para dewa.

Kali ini, Sangaji benar-benar repot. Ia tak dapat main mengelak lagi. Dalam
kegugupannya, tiba-tiba baju lengannya kena sobek. Bret! Gesit ia melompat ke
samping. Namun tak urung lengannya nampak terkena cakaran yang segera
mengeluarkan darah bertetesan.

Melihat Sangaji teiiuka, para pendekar di pihak penyerbu bersorak mengguntur.


Sebaliknya terdengarlah suara Andangkara cemas.

"Anak muda! Kukunya mengandung racun jahat!"

Mendengar disebutnya racun jahat, Manik Angkeran memekik terkejut. Tanpa


memedulikan akibatnya, ia terus masuk gelanggang sambil berseru: "Kau harus
berhati-hati! Apakah ... apakah...."

Hati Sangaji terguncang. Katanya di dalam hati, tunangan Fatimah ini benar-benar
seorang pemuda yang baik hati. Ia begitu memperhatikan diriku....

Manik Angkeran tak tahu, bahwa di dalam diri Sangaji mengalir getah sakti
Dewadaru yang kebal dari sekalian racun atau bisa di dunia. Itulah sebabnya, ia tak
merasakan akibat cengkeraman beracun itu. Malahan darah yang merembes ke
luar mendadak saja berhenti mengalir. Rasa pedih pun lenyap pula.

"Lekaslah keluar! Serangan cengkeraman Gumbala Geni bukan main bahayanya,"


katanya dengan tersenyum. Dan melihat Sangaji tersenyum serta yakin bahwa
racun Sindung Riwut tidak mempengaruhi dirinya, dengan tenang Manik Angkeran
kembali ke tempatnya.

Kiranya Sangaji tadi sudah berusaha sedapatnya untuk menghindari serangan


berondongan yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya. Mendadak ia melihat
Sindung Riwut mulai bergerak lagi. Rupa-rupanya pendekar tua itu tidak sudi
kehilangan kesempatan bagus. Begitu melihat Sangaji sedang berbicara dengan
Manik Angkeran, ia terus menyambar. Keruan saja hati Sangaji tercekat. Untuk
membebaskan Manik Angkeran dari sasaran serangan lawan, cepat ia melesat
mundur ke arah lain. Benar saja. Sindung Riwut terus mengubernya. Dengan
demikian, Manik Angkeran dapat diselamatkan.

Mereka bertarung secara aneh sekali seakan-akan kanak-kanak bermain petak.


Yang satu menubruk dari depan dan yang lain melompat mundur. Gerakan
menubruk dari depan lebih mudah dan lebih leluasa dilakukan. Sebaliknya gerakan
meloncat mundur, dua kali lebih sulit. Meskipun demikian, tak pernah lagi Sindung
Riwut berhasil menyentuh tubuhnya. Maka teranglah siapa yang lebih unggul dalam
hal mengadu kegesifan.

Sebenarnya Sangaji dapat dengan mudah lari menghindari. Asal saja ia terus
melesat lari menjauhi. Tetapi wataknya yang asli tidak mengizinkan. Itulah watak
yang terus-terang. Watak yang senantiasa berhadap-hadapan dalam menghadapi
tiap persoalan betapa sulitpun. Kecuali itu, pengamatannya akan hilang, apabila
terus lari menghindari. Itulah sebabnya pula, lompatannya ke belakang hanya
sejauh dua tiga langkah. Matanya tak pernah beralih dari tipu muslihat gerakan
lawan. Bagi mata para ahli tahulah sudah, bahwa Sangaji sedang menyelami ilmu
Gumbala Geni sampai ke dasarnya.

Sesungguhnya ilmu sakti pukulan Gumbala Geni mempunyai 47 jurus. Gaya


pukulannya tidak banyak keragamannya. Inti gerakannya berdasarkan pada
kecepatan dan tenaga. Sederhana nampaknya, tetapi sebenarnya dahsyat bukan
kepalang. Karena gerakan kaki dan tipu muslihatnya memenuhi bidang gerak.
Selama hidupnya, Sindung Riwut belum pernah menghancurkan lawan lebih dari
enam belas jurus. Itulah sebabnya, ia terkenal di seluruh Jawa Barat sebagai hantu
yang memiliki pukulan maut tak terlawan. Tak pernah terlintas dalam benaknya,
bahwa untuk melawan seorang lawan yang muda belia dia sudah hampir
menghabiskan ke 47 jurusnya. Namun satu juruspun tidak pernah dapat menyentuh
tubuhnya. Dalam kemendongkolannya ia berpikir dalam hati, pemuda ini hanya
mengadu kegesitannya belaka. Coba dia berani-bertarung dengan berhadap-
hadapan, masakan dia sanggup bertahan sampai 20 jurus saja. Aku ingin melihat.

Dalam pada itu, Sangaji sudah memperoleh pegangan kini. Tatkala Sindung Riwut
terpaksa mengulangi jurusnya yang pertama, tahulah dia bahwa jurus pukulan sakti
Gumbala Geni hanya berjumlah 47 jurus. Ia kini bukan lagi Sangaji pada zaman
berguru kepada Jaga Saradenta dan Gagak Seta. Otaknya sudah berubah cerdas
luar biasa. Apa yang dilihatnya dengan tak disadarinya sendiri terus saja sudah
dapat menangkap intinya dan malahan sanggup menirukan gerakannya sampai
sekecil-kecilnya. Meskipun demikian masih saja ia ragu-ragu hendak memutuskan
cara mengadakan perlawanan yang tepat. Pikirnya dalam hati, kalau aku hendak
mencabut nyawanya gampangnya seperti membalikkan tanganku sendiri. Tetapi
bila aku berbuat demikian, aku akan gagal mempersatukan mereka. Malahan bisa-
bisa aku justru menanamkan bibit dendam yang akan jadi berlarut-larut.

Selagi ia dalam keragu-raguan didengarnya Sindung Riwut membentak.. "Anak


muda! Kau cuma bisa mengelak untuk menyelamatkan diri. Ini namanya bukan
bertanding."

Sangaji hendak menyahut, tiba-tiba Sindung Riwut menyerangnya dahsyat. Tahulah


Sangaji, bahwa Sindung Riwut mencoba memancingnya agar berbicara. Sebab
berbicara merupakan suatu pantangan besar bagi seorang yang lagi bertanding.
Setidak-tidaknya bisa lengah. Tapi Sangaji justru tersenyum, berkata seenaknya:
"Apakah kau menghendaki aku melawanmu sungguh-sungguh? Kalau aku menang
apakah taruhannya?"

Sambil berkata-kata, Sangaji tetap mengelak tiap serangan Sindung Riwut dengan
gesit serta tangkas. Mau tak mau Sindung Riwut terpaksa memuji dalam hati.
Katanya, "Kau memang gesit. Tapi dalam hal mengadu pukulan kau takkan
menang."

"Belum tentu. Paling tidak, tenagaku lebih muda dari padamu."

"Bagus! Jika aku kalah, aku akan membunuh diri di depanmu, atau kau boleh
mencincang aku sekehendak hatimu."

"Ah, aku tak berani bertaruh begitu," sahut Sangaji cepat. "Begini saja, bila kau
kalah kau harus membawa rekan-rekanmu turun gunung. Dan habisi
permusuhanmu dengan pihak Himpunan Sangkuriang."

"Grusan ini bukan berada di tanganku. Itulah Alang-alang Cakrasasmita. Dialah


yang memegang pucuk pimpinan. Aku hanya bisa mempertanggung jawabkan
diriku sendiri. Ah anak muda! Bagaimana kau sampai berani bilang, bahwa aku bisa
kaukalahkan?"

Sangaji mengerenyitkan dahi mencari akal. Tiba-tiba timbullah keputusannya.


Katanya di dalam hati, biarlah aku mengandalkan ilmu sakti keris Kyai
Tunggulmanik. Aku ingin merasakan sendiri, apakah guratan keris Kyai
Tunggulmanik berisikan pula rahasia ilmu sakti Gumbala Geni. Dan setelah berpikir
demikian ia berkata, "Kakek Sindung Riwut! Sudah kukatakan tadi kepada murid-
muridmu, bahwa jauh-jauh aku akan melarikan diri manakala aku bertemu dengan
seorang yang sudah memiliki inti tenaga sakti ilmu Gumbala Geni dengan
sempurna. Tetapi, maaf Kakek Sindung Riwut walaupun sudah mencapai tingkat
kesempurnaan, tetapi belum sempurna benar-benar. Karena itu masih banyak
terdapat kelemahannya."

"Bagus," bentak Sindung Riwut mendongkol. "Jika kau dapat mematahkan setiap
jurus seranganku, aku akan menutup perguruanku. Dan selamanya aku takkan
muncul lagi dalam percaturan masyarakat."
"Itupun tak perlu," kata Sangaji.

la tahu maksud Sindung Riwut hendak menutup perguruannya. Lantaran selama


hidupnya mengagul-agulkan ilmu saktinya Gumbala Geni sebagai suatu ilmu sakti
yang tiada tandingnya dalam jagat ini. Tak tahunya, justru di depan murid-muridnya
ia kena dipermainkan oleh seorang pemuda, sehingga kegarangan Gumbala Geni
seakan-akan hilang dayanya.

Tetapi Sangaji adalah seorang pemuda yang halus budi. Gntuk mengalihkan
perhatian penonton, tiba-tiba ia menjejak tanah dan melesat tinggi di udara.
Kemudian berputar-putar sampai empat lima kali dan setiap kali berputar tubuhnya
mendaki lebih tinggi lagi. Setelah itu dengan mendadak pula ia menukik ke bawah
dan turun ke bumi dengan gerakan yang enteng sekali.

Saking takjubnya, penonton sampai terpaku. Malah dalam cerita anak-anak, rata-
rata mereka pernah mendengar tentang seorang sakti yang bisa melesat ke udara
dengan berputar-putar tak ubah burung dara. Tetapi setelah menjadi dewasa
dengan demikian sima dari ingatannya. Tak tahunya, hari itu mereka menyaksikan
dengan mata kepala sendiri. Seumpama tidak, mereka takkan percaya selama
hidupnya. Sebab di jagat ini tiada seorangpun dapat berlatih sampai mencapai ilmu
kepandaian demikian. Maka setelah terpaku beberapa saat lamanya, mereka berso-
rak gemuruh seperti tersontakkan.

Tubagus Simuntang yang selama hidupnya membanggakan diri sebagai manusia


paling cepat bergerak dan ilmu meletiknya ke udara tiada yang membandingi di
seluruh nusantara, mau tak mau terpaksa menghela napas oleh rasa kagumnya
yang tak terhingga begitu menyaksikan kesanggupan Sangaji.

Dan begitu Sangaji turun ke tanah, Sindung Riwut sudah memburunya. Kali ini ia
tak mau menyerang seperti tadi. Setelah menatap wajah Sangaji, lalu berkata
tenang:

"Nah, anak muda! Sekarang kita mulai bertanding mengadu ilmu pukulan, bukan?"

"Silakan!" sahut Sangaji.

"Pasti pula kau takkan main mundur, bukan?"

"Tidak," sahut Sangaji dengan tersenyum. "Kalau aku sampai mundur meski hanya
selangkah, nyatakan aku kalah."

Tatang Sontani dan rekan-rekannya meskipun masih saja belum bisa bergerak,
namun panca inderanya tetap bekerja seperti sediakala. Mereka adalah gembong-
gembong yang terlalu besar keyakinannya kepada kemampuan diri sendiri. Tapi
begitu mendengar ucapan Sangaji, mereka kaget. Mereka kenal tentang kehebatan
serta kedahsyatan pukulan ilmu sakti Gumbala Geni. Apalagi dimainkan sendiri oleh
cikal bakalnya di Jawa Barat. Meskipun ilmu kepandaian Sangaji nampak lain
daripada yang lain, namun masakan tidak akan mengalami langkah mundur dalam
suatu gebrakan seru?

Gntung, pada saat itu terdengarlah ucapan Sindung Riwut. "Itupun tak perlu. Aku
hanya ingin menguji saja. Ingin membuktikan kebenaran ucapanmu. Pabila aku
kalah. Biarlah aku kalah. Pabila menang itupun sudah sewajarnya." Setelah berkata
demikian, dengan menggerung ia menubruk. "Awas!" serunya. Segera ia
menyerang pundak dengan cengkeraman tangan kanan, sedangkan tangan kiri
meliuk menubruk dada.

Di luar dugaan siapa saja, tiba-tiba Sangajipun bergerak serupa pula. Tetapi ia
menyerang pundak Sindung Riwut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya
menangkap tangan Sindung Riwut yang meliuk menubruk dada. Dengan demikian
gerakannya terbalik, namun jurusnya sama. Dan anehnya, sebelum tangan kanan
Sindung Riwut tiba pada sasarannya, tangan Sangaji sudah mencakar kepala
Sindung Riwut.

Sindung Riwut kaget bukan kepalang. Tahu-tahu tangannya tergetar timbunan


tenaga ilmu sakti Gumbala Geni sirna dengan mendadak. la sudah menutup mata,
tatkala melihat berkelebatnya tangan Sangaji hendak mencengkeram ubun-
ubunnya. Di luar dugaan, Sangaji justru menarik tangannya yang sudah hampir tiba
pada sasarannya yang cepat.

Sindung Riwut tertegun sejenak. Lalu dengan kecepatan yang tak terduga, kedua
tangannya mencengkeram kedua pelipis Sangaji. Tetapi Sangaji tetap menirukan
pula. Sudah barang tentu, gerakannya lebih lambat daripada gerakan Sindung
Riwut. Namun yang mengherankan datangnya lebih cepat beberapa detik daripada
cengkerman Sindung Riwut. Dan kedua pelipis Sindung Riwut tiba-tiba sudah kena
tersentuh.

Pelipis merupakan bagian tubuh yang mematikan bilamana kena tembus. Dalam
suatu pertarungan, bilamana pelipis sampai kena terserang, maka tiada harapan
lagi untuk bisa ditolong. Dia akan tewas pada saat itu juga. Akan tetapi Sangaji
hanya mengusap saja. Setelah itu, tangannya meliuk ke belakang tengkuk seolah-
olah hendak mengancam batang leher.

Tatkala pelipisnya kena teraba Sangaji, Sindung Riwut sudah tertegun lagi.
Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya tangan Sangaji hendak mengancam
tengkuknya. Cepat ia meloncat mundur sambil membentak:

"Hai! Darimanakah engkau mengenal pukulan ilmu sakti Gumbala Geni...?"

Dengan menunjuk dadanya, Sangaji menjawab: "Dari sini."

Sebenarnya jawaban Sangaji jujur. Ia menunjuk tepat di tengah dadanya.


Maksudnya, di dalam dirinya mengalir rasa sarwa sakti manunggalnya guratan
rahasia keris Kyai Tunggulmanik dan ilmu-ilmu sakti lainnya yang pernah
dipelajarinya. Tetapi Sindung Riwut menganggap menghinanya. Dengan garang ia
membentak lagi. "Bagus! Kalau begitu jangan salahkan aku."

Setelah membentak demikian, ia memberondongi serentetan serangan. Tetapi


seperti tadi Sangajipun bergerak serupa pula dan tibanya lebih cepat pada
sasarannya. Dengan gemas Sindung Riwut kini mengadakan jebakan. Ia menyerang
kembali dengan dua jurus sekaligus. Jurus 47 dan jurus 14. Dua jurus yang
bertentangan. Lemah nampaknya, tapi sesungguhnya mengandung jebakan.

Ternyata jebakannya membawa hasil. Tiba-tiba Sangaji melangkah maju dan


menirukan gaya jurus tersebut setelah meliuk ke kiri, badannya nyelonong masuk
dan tangannya dengan cepat menerkam dada Sindung Riwut.

Buru-buru Sindung Riwut mundur selangkah, agar diburu. Benar saja, Sangaji
menubruk maju. Girang Sindung Riwut membatin, kau setan cilik! Sekarang tiba
saatmu kau termakan jebakanku.

Ia menarik serangan Sangaji lebih ke dalam. Mendadak kedua tangannya


menghantam kedua siku Sangaji dengan tenaga sedahsyat-dahsyatnya. Ontung-
untungan, kalau tepat kedua lengan Sangaji akan terlepas dari tulang sambungnya.
Kalau tertangkis, paling tidak akan patahlah pergelangan tangan Sangaji.

Tak pernah terduga, bahwa di dalam diri Sangaji mengalirlah getah sakti Dewadaru
yang mempunyai sifat menghisap. Begitu cengkeraman Sindung Riwut menyambar
siku Sangaji, tiba-tiba saja kena sedot. Dan tenaga pukulannya sima dengan begitu
saja. Keruan saja ia kaget setengah mati. Dan berbareng dengan kesadarannya,
tangan Sangaji sudah meraba dada dan tengkuknya. lnilah tempat mematikan.
Tetapi Sangaji tidak meneruskan serangannya. la menarik kedua tangannya
kembali dengan sikap menunggu.

Sindung Riwut benar-benar menjadi putus asa. Berpuluh tahun ia berlatih.


Berkalikali ia menang dalam suatu pertarungan di mana saja dia berada. Namun
menghadapi seorang pemuda yang mengenal ilmu Gumbala Geni pula, latihannya
selama itu tiada gunanya sama sekali. la mati kutu benar-benar. Maka dengan
suara tertahan-tahan ia berkata setengah berbisik, "Anak muda...! Ilmu
kepandaianmu ternyata jauh berada di atasku."

Setelah berkata demikian, kedua tangannya menghantam kepalanya sendiri. Tetapi


belum lagi dapat meraba rambutnya, kedua lengannya runtuh lunglai. Sekali lagi ia
kalah cepat dengan gerakan tangan Sangaji yang mencegah perbuatannya hendak
bunuh diri.

"Ilmu sakti Gumbala Geni siapakah yang dapat mengatasi kehebatannya," kata
Sangaji dengan nyaring. "Kalau aku tidak melawannya dengan ilmu Gumbala Geni
pula, tak bakal aku menang. Sebab sesungguhnya, ilmu Gumbala Geni merupakan
pukulan yang paling tinggi di atas dunia ini."
Mendengar ucapan Sangaji, celeret cahaya bergelimang pada wajah Sindung Riwut.
Maklumlah, ia kalah di depan hidung murid-muridnya sendiri. Dan yang terhebat,
lebih-lebih di depan para pendekar ia bersumpah akan menutup perguruannya. Di
luar dugaan, Sangaji malahan memuji keunggulan ilmu sakti Gumbala Geni yang
diagul-agulkan. Keruan saja, di dalam hatinya tumbuhlah rasa terima kasih tak
terhingga besarnya. Oleh rasa harunya, air matanya hampir saja terbintik ke luar.
Cepat-cepat ia berkata, "Anak muda! Perkenankan aku mengagumi keluhuran serta
kemuliaan hatimu. Sekarang aku akan membawa murid-muridku. Aku tak peduli
lagi, mereka akan mengatakan apa kepadaku. Lantaran terbukti engkaulah yang
memelihara kelangsungan hidup kami. Terima kasih."

Sindung Riwut benar-benar membuktikan ucapannya. Setelah kembali ke


tempatnya, segera memerintahkan murid-muridnya agar turun gunung. Mendadak
saja terdengarlah suara melengking.

"Sindung Riwut! Bagaimana ini?"

"Bagaimana ini?" potong Sindung Riwut. "Aku sudah dikalahkan. Mau apa lagi?"

"Bagus! Kau akan lari turun gunung tanpa izin Alang-alang Cakrasasmita. Benar-
benar kau melanggar sumpah."

"Aku hanya berikrar dalam penggerebegan ini. Tapi Sindung Riwut bukan di bawah
perintah Alang-alang Cakrasasmita. Apakah dia bermaksud menghalang-halangi
aku? Boleh coba!"

Edoh Permanasari tak meladeni lagi. Ia hanya tertawa dingin. Kemudian dengan
membawa pedang Sangga Buwana yang tajamnya tiada bandingnya di jagat ini,
masuklah ia ke gelanggang.

"Kusuma Winata!" katanya lagi. "Apakah kau tidak mencoba-coba kekuatan bocah
ini?"

Dengan membungkuk hormat Kusuma Winata menjawab, "Tadi aku sudah


dikalahkan raja muda Andangkara. Dengan sendirinya, kami anak murid
Mandalagiri tidak berhak lagi terjun ke gelanggang."

"Hm," dengus Edoh Permanasari dengan wajah masam.

Melihat wajah Edoh Permanasari, hati Wijaya merasa tidak enak. Ia menaruh hati
terhadap Ida Kusuma. Kalau ingin merebut hati Ida Kusuma, terlebih dahulu ia
berkewajiban mencuri hati Edoh Permanasari. Maka diam-diam ia berpikir,
meskipun kepandaian Edoh Permanasari adalah warisan Ratu Fatimah, tetapi
takkan melebihi kepandaian kakak Kusuma Winata atau Sindung Riwut. Kalau dia
kalah, bukankah kita semua ikut terjungkal habis-habisan? Biarlah aku mencobanya
dahulu.
Setelah berpikir demikian, ia masuk ke gelanggang seraya mengencangkan ikat
pinggangnya. Berkata keras, "Bibi! Biarlah kami berlima mencoba-coba kepandaian
pemuda terlebih dahulu. Kemudian baru bibi. Pastilah bibi akan dapat
memenangkan pertandingan ini dengan mudah."

Edoh Permanasari tahu maksudnya. Meskipun Sangaji mempunyai tenaga sakti


bagaikan gelombang yang tiada habis-habisnya, namun apabila dipaksa berkelahi
secara bergiliran masakan tidak letih? Dengan pedang pusaka Sangga Buwana di
tangan, pastilah dia dapat menghabisi jiwa Sangaji dengan mudah. Tetapi Edoh
Permanasari adalah seorang wanita yang angkuh. Katanya, "Terima kasih!
Selamanya kami biasa hidup berdiri sendiri. Seumpama aku menang, apakah arti
menang melawan seorang lawan yang keletihan? Rasanya kurang menyenangkan.
Silakan mundur."

Pernyataan Edoh Permanasari ini di luar dugaan Wijaya. lapun lantas tak berani
membantah. Demikianlah, maka dengan pedang terhunus Edoh Permanasari
menghampiri Sangaji.

Banyaklah sudah anggota-anggota Himpunan Sangkuriang yang tewas oleh pedang


Sangga Buwana itu. Maka begitu pedang Sangga Buwana nampak di mata mereka,
terdengarlah suara kemurkaan mereka. Sidi Mantera yang benci benar pada
pendekar wanita itu, terus saja mengutuk kalang-kabut. Hanya Inu Kertapati dan
Kamarudin saja yang menutup mulut. Diam-diam mereka menghela napas.

"Kalian ribut-ribut apa perlu?" bentak Edoh Permanasari. "Tunggulah barang


sebentar! Kalau aku sudah membereskan bocah ini, nah barulah datang giliran
kalian menyusul ke neraka. Sekarang tenang-tenanglah dulu!"

"Huuuu... siapa kesudian mendengarkan ocehan nona tuaaa..." Mereka menyahut


beramai-ramai. Rupanya mereka semua kenal siapa Edoh Permanasari. Dan
pendekar wanita itu paling benci manakala diejek sebagai nona tua. Maka tak
mengherankan, bahwa wajahnya jadi beringas.

Dalam pada itu, Sangaji sadar bahwa pedang Sangga Buwana memang sangat
susah untuk dilawan. Kecuali ada niatnya hendak mengambil jiwa pemiliknya. Dan
hal itu tidaklah diinginkannya, meskipun ia mempunyai kesan buruk terhadap Edoh
Permanasari.

"Hai anak muda! Kau ambillah senjatamu! Lebih cepat, lebih baik," bentak Edoh
Permanasari tak sabar. Dan sekali lagi penonton di pihak Himpunan Sangkuriang
menyahut haaaa atau huuu karena rasa dengkinya.

"Aku tidak mempunyai senjata apa pun sahut Sangaji." Dan oleh jawaban Sangaji,
suasana gelanggang menjadi hening sejenak.

Tiba-tiba terdengarlah Andangkara menarik pedang pusakanya perlahan-lahan dari


sarungnya. Kemudian berkata, "Pedang ini adalah pedang warisan leluhur kami.
Namanya Tunjungbiru. Itulah sebabnya, kakakku menggunakan nama pedang ini
sebagai suatu pernyataan berbakti. Nah, pakailah anak muda. Memang ia kalah
tajam daripada Sangga Buwana. Walaupun demikian, termasuk pula pedang yang
tiada duanya di Jawa Barat."

Setelah berkata demikian, ia mementil pedang Tunjungbiru. Cring! Pedang itu


memantul melengkung lantas tegak lurus. Suaranya nyaring tak ubah sebuah
rencong.

Dengan sangat hormat, Sangaji menerima pedang Tunjungbiru seraya berkata,


"Terima kasih, Aki."

"Sudah belasan tahun, pedang ini berada di pinggangku. Selama berhamba padaku,
entah sudah berapa puluh manusia rendah dan jahat terbunuh olehnya," kata
Andangkara dengan tertawa melalui dada. "Hari ini, mudah-mudahan dia
berkesempatan pula mereguk darah nona tua. Kalau berhasil, matipun aku akan
rela sampai ke dasar hatiku."

"Mudah-mudahan, aku dapat memenuhi harapan Aki," sahut Sangaji.

la terus menyabetkan pedang Tunjungbiru dan menghadap Edoh Permanasari.


Memang dalam hati, ia sudah gemas melihat wanita itu. Dahulu menurut suara
hatinya, pernah ia menantang Edoh Permanasari tatkala pendekar wanita itu
membakar sebuah perkampungan nelayan. Kini dengan mata menyala ia
menentang wajah Edoh Permanasari. Lalu berkata, "Ilmu pedang warisan Ratu
Fatimah, pastilah merupakan ilmu pedang yang tiada terlawan. Sesungguhnya tak
berani aku melawan engkau. Tetapi kau sudah menantang aku, maka terpaksalah
aku melayanimu sebisa-bisaku. Mudah-mudahan arwah Rostika membantu aku dari
angkasa."

Mendengar Sangaji menyebut nama Rostika, hati Edoh Permanasari tercekat


sampai alisnya berdiri tegak.

"Kau bicara apa?" ia menegas.

Belum lagi Sangaji menjawab, tiba-tiba terdengar Sidi Mantera berteriak nyaring,
"Hai Edoh! Kalau kau berani, coba lawan dengan bertangan kosong!"

Dan Inu Kertapati yang semenjak tadi berdiam diri, akhirnya tak kuat juga menahan
hati. Terus menyambung, "Ilmu kepandaian apa sih yang hendak dipamerkan?
Paling-paling cuma mengandalkan pedangnya melulu."

"Atau begini saja," sahut Sidi Mantera. Pendekar ini memang muak terhadap Edoh
Permanasari. "Tukar pedang Sangga Buwana dengan pedang pusaka lainnya.
Sekarang boleh bertanding dengan saudara Sangaji. Kalau sampai bisa melampaui
tiga jurus, aku boleh mencarikan jodohnya si nona tua itu."
"Apa? Tiga jurus. Mana bisa sampai tiga jurus? Sejuruspun takkan mampu,"
sambung yang lain.

Bukan main mendongkolnya Edoh Permanasari. Dengan tak sabar lagi, ia terus
meng: gertak, "Hayo, seranglah!"

Sangaji sendiri, resminya tak pernah belajar ilmu pedang. Sekarang ia disuruh
menyerang. Karuan saja ia jadi ragu-ragu. Mendadak teringatlah dia kepada ilmu
pedang paman gurunya, Suryaningrat yang mahir memainkan ilmu pedang
Mayangga Seta. Maka terus saja ia menusuk ke depan sambil menggetarkan
ujungnya. Hebat akibatnya. Karena tenaga saktinya luar biasa kuat, pedang
Tanjungbiru yang bersifat keras lembek mendadak menggaung memperdengarkan
kegarangannya. Karuan saja, Edoh Permanasari kaget setengah mati. Gesit ia
melompat ke samping sambil berpikir di dalam hati, untung aku membawa pedang
Sangga Buwana. Tak kusangka pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian banyak
sekali ragamnya. Kalau begitu, aku tak boleh berayal lagi. Tiap kesempatan harus
kugunakan untuk membabat pedangnya.

Benar saja. Dengan menggerakkan tangkai pedangnya, Sangga Buwana terus


menikam perut Sangaji.

Sangaji terkejut. Cepat ia mengelak ke samping. Tahu-tahu ujung pedang Sangga


Buwana sudah mengancam tenggorokan. Memang sesungguhnya ilmu pedang
warisan Ratu Fatimah bukan suatu ilmu sembarangan. Karena kecerdikan serta
kelicikan Ratu Fatimah, ilmu pedangnya merupakan puncak-puncak gabungan ilmu
pedang di seluruh Jawa Barat ). Tak mengherankan, bahwa tiap gerakannya
merupakan puncak tipu muslihat yang tinggi nilainya.

Diancam begitu mendadak sedangkan baru saja mengelak, Sangaji kaget setengah
mati. Dalam seribu kerepotannya, ia mengendap lalu menjatuhkan diri dengan
bergulingan. Tetapi baru saja ia hendak bangkit, kembali lagi pedang Sangga
Buwana sudah mengancam punggungnya. Dalam sekilas pandang, ia melihat
berkelebatnya pedang menetak pinggangnya. Sadarlah dia, bahwa dirinya dalam
bahaya. Tanpa berpikir lagi, ujung kakinya menjejak tanah. Sekaligus meletiklah ia
dan terbang miring melewati garis tebasan.

Gerakan itu dilakukan dalam keadaan yang tak mungkin dapat dilakukan orang lain.
Selagi kaum Himpunan Sangkuriang hendak bersorak memuji, sekonyong-konyong
Edoh Permanasari melesat pula ke udara berbareng menyabetkan pedangnya
membabat pinggang. Benar-benar Sangaji dalam bahaya.

la belum lagi turun ke tanah dan sama sekali tak diduganya bahwa Edoh
Permanasari akan mengubernya dengan melesat ke udara pula. Sekarang terjadilah
suatu keajaiban. Ilmu keris sakti Kyai Tunggulmanik mengadakan reaksi lantaran
rasa hati Sangaji yang terkejut bukan kepalang. Mendadak saja dengan menukik,
ujung pedang Tunjungbiru menumbuk pedang Sangga Buwana dan tubuh Sangaji
terus dipentalkan ke udara lagi.

Akan tetapi Edoh Permanasari tidak mengenal ampun. la melompat maju pula
mencegah turunnya Sangaji ke tanah. Begitu Sangaji turun dari udara, cepat ia
menyerang lagi dengan suatu tikaman berbareng membabat. Melihat bahaya yang
ketiga kalinya, Sangaji terpaksa menangkis dengan pedangnya.

Tahu-tahu pedang Tunjungbiru tinggal separoh. Sedetik itu pula tangan kirinya
menghantam. Suatu tenaga dahsyat menindih dada Edoh Permanasari dari atas. Ia
seperti melesak. Gerakannya macet. Namun wataknya yang bandel masih saja bisa
membabatkan pedang Sangga Buwana sekenanya. Untung Sangaji dapat bertindak
lebih cepat lagi. Kutungan pedang Tunjungbiru lantas disambitkan dan tepat
mengenai ujung pedang Sangga Buwana. Dia sendiri terus melesat menjauhi.

Kena sambitan kutungan pedang, lengan Edoh Permanasari terasa pegal luar biasa.
Hampir saja Sangga Buwana terpental dari genggamannya. Benar-benar ia terkejut.
Dengan sekali pandang ia melihat Sangaji sudah berada sepuluh langkah jauhnya
dengan menimang-nimang kutungan pedangnya. Rupanya begitu kutungan pedang
terpental dari ujung pedang Sangga Buwana, Sangaji menyambarnya kembali
berbareng dengan melesat menjauhi.

Gebrakan itu hanya terjadi sekejapan saja. Namun bahayanya jauh melebihi
pertarungan yang lampau. Dengan gerakan kilat Edoh Permanasari sudah
memberondongi Sangaji dengan sembilan serangan yang dilakukan tanpa
mengenai ampun. Tetapi semuanya dapat dipecahkan Sangaji dalam keadaan
buruk. Setiap kali ia seperti lolos dari lubang jarum.

Andangkara Tatang Sontani dan gembong-gembong lainnya yang mengikuti


gebrakan kilat itu semuanya menahan napas dengan rasa kagum. Itulah
pertarungan luar biasa cepatnya. Yang menyerang cepat dan yang diserang cepat
pula. Setiap kali melihat betapa kedudukan Sangaji sangat sulit, mereka menahan
napas. Dan apabila ternyata masih saja bisa luput dari serangan yang bertubi-tubi
datangnya, dengan serentak mereka melepaskan napas lega. Tapi tak urung
keringat dinginnya membasahi tubuhnya. Sekarang mereka melihat Sangaji sudah
berdiri jauh dengan tak kurang suatu apa. Saking kagumnya, mereka bersorak
memuji. Dan soraknya disambung seluruh pasukan Himpunan Sangkuriang dengan
riuh rendah.

Sembilan kali serangan. Dan Sangaji berada di pihak yang diserang. Sama sekali tak
membalas. Malahan pedangnya kutung menjadi dua potong. Jelaslah sudah, bahwa
dalam gebrakan itu ia telah kalah. Tetapi dia tadi dapat menahan serangan
berondongan dengan menghantam ujung Sangga Buwana sampai Edoh
Permanasari membungkuk-bungkukkena ditahan suatu tenaga dahsyat. Dengan
demikian apabila dia mau membalas pastilah ia takkan kena desak lagi.
Sudah barang tentu, penilaian yang benar hanya ada pada Edoh Permanasari.
Untuk pertama kali itulah ia bertempur dengan sungguh-sungguh. la sudah
memberondong sembilan kali dengan menggunakan puncak-puncak jurus ilmu
pedangnya, namun masih saja belum mengenal sasarannya. Diam-diam ia heran.
Dasar ia seorang wanita yang angkuh, maka lantas berkata: "Pergilah, cari senjata
yang lain. Tak mau aku menang dengan mengandalkan pedang."

Sekarang pihak Himpunan Sangkuriang tak lagi berani melontarkan kata-kata


ejekan. Melihat betapa tangguh Edoh Permanasari, mereka malahan jadi prihatin.

Sangaji sendiri tidak menyahut. Dengan berdiam diri ia merenungi pedang pusaka
Tunjungbiru. Pikirnya, benar-benar aku mengecewakan hati Aki Andangkara.
Pedang ini menjadi pusaka turun temurun. Tapi akhirnya kutung di tanganku....

Tiba-tiba terdengarlah suara Andangkara yang didahului dengan gelak tertawa.

"Pedang patah di dalam suatu pertarungan, apakah yang harus disayangkan?"

Sangaji menoleh. Sewaktu hendak membuka mulut, Otong Surawijaya berteriak


nyaring, "Aku mempunyai sebatang luwuk ) pusaka. Pakailah! Mudah-mudahan
jahanam itu tumpas oleh golokku."

"Tetapi pedang Sangga Buwana terlalu tajam. Golok Paman akan rusak pula."

"Biar kutung menjadi beberapa potong, apalah artinya? Kalau kau kalah, bukankah
kita semua bakal mampus? Ambillah!" * Benar juga, pikir Sangaji. Lalu ia maju
menerima golok pusaka Otong Surawijaya.

"Saudara Sangaji," bisik Tatang Sontani. "Pedang Edoh Permanasari sangat tajam.
Karena itu jangan biarkan dirimu kena serang. Sebaliknya engkau harus
menyerangnya terlebih dahulu."

Mendengar Tatang Sontani menyebut namanya, Sangaji tercengang sejenak.


Setelah dipikirpikir sadarlah dia. la tadi sudah memperkenalkan namanya, rupanya
Tatang Sontani merasukkan ke dalam ingatannya. Melihat betapa pendekar itu
masih tak bisa berkutik akibat kena racun Suryakusumah tapi masih sudi
mengingatingat namanya, timbullah rasa senang dalam hati Sangaji. Maka dengan
membungkuk ia menyahut, "Terima kasih atas petunjuk Paman."

"Gunakan kecepatanmu bergerak. Kegesitanmu takkan terlawan oleh siapapun


juga," bisik Tubagus Simuntang. Teringat betapa Tubagus Simuntang pernah
mempermainkan Edoh Permanasari, hati Sangaji jadi girang. Dengan serta merta ia
menyahut, "Terima kasih atas saran Paman."

Tatang Sontani, Dadang Wirahata dan Tubagus Simuntang adalah tokoh-tokoh


Himpunan Sangkuriang yang berkepandaian tinggi. Benar mereka semua dalam
keadaan lumpuh tetapi panca inderanya bekerja seperti sediakala. Dengan
sendirinya pengamatannya sebagai seorang ahli tidaklah luput. Seumpama mereka
dalam keadaan segar bugar, kepandaiannya malah lebih tinggi daripada Edoh
Permanasari. Sayang, mereka kena serangan gelap justru pada saat menghadapi
mati hidupnya Himpunan Sangkuriang.

Demikianlah setelah menggenggam golok pusaka Sangaji kembali ke tengah


gelanggang dengan hati besar. Ia sudah berlatih dengan pedang Sokayana yang
beratnya lebih dari 100 kati. Dengan sendirinya golok pusaka Otong Surawijaya
yang mempunyai berat kurang dari 50 kati, bukan menjadi suatu halangan baginya.
Dalam hati sudah timbul suatu keputusan, takkan membiarkan golok Otong
Sarawijaya terkutung seperti pedang Tunjungbiru. Segera ia menghimpun tenaga
saktinya.

"Bagus!" sahut Edoh Permanasari.

"Awas! Aku mulai menyerang," Sangaji memberi peringatan. Sehabis berkata


demikian, tiba-tiba tubuhnya kelepat dan hilang dari pengamatan.

Bukan main kagetnya Edoh Permanasari. Belum lagi ia sempat memutar badannya,
Sangaji sudah berada di sampingnya. Cepat ia membalik dan berputar ke kiri.
Tetapi Sangaji sudah berada di sebelah kanan. Lalu kembali lagi berputar ke kiri
dan menyelonong ke belakang sambil memberondongi serangan dua kali berturut-
turut.

Gugup Edoh Permanasari menangkis sekenanya. Ia hanya mengandalkan


ketajaman pedangnya. Maka ia hanya membabat saja. Tatkala melihat
berkelebatannya tubuh Sangaji, ia mencoba menyerang. Namun kembali lagi tubuh
Sangaji lenyap dari pengamatannya.

Dahulu saja sewaktu mengkhawatirkan keadaan Padepokan Gunung Damar ia


menang cepat daripada Ki Hajar Karangpartdan yang memiliki ilmu berlari sepi
angin. Apalagi kini, sesudah mempunyai waktu untuk berlatih.

Maka di bawah sorak-sorai bergemuruh, tubuhnya berkelebatan tak ubah kilat. Ia


datang menjauh untuk kemudian lenyap tak karuan tempatnya. Jangan lagi Edoh
Permanasari, Tubagus Simuntang sendiri kagum luar biasa dan merasa diri tak
mampu menandingi.

Edoh Permanasari bingung bukan main dikocak demikian. Karena bingungnya ia


membacok serabutan. Namun bayangan Sangaji sama sekali tak dapat
disentuhnya. Lantaran cepatnya, bayangannya nampak pecah menjadi berpuluh-
puluh sehingga mata Edoh Permanasari menjadi kabur.

Gebrakan dalam babak kedua ini, jatuh sebaliknya. Kalau tadi Sangaji menjadi pihak
yang diserang, kini Edoh Permanasari yang menjadi bulan-bulanan tanpa dapat
mengadakan serangan balasan biar selintaspun. Sayang Sangaji agak jeri dengan
pedang Sangga Buwana, sehingga tidak berani mendekati Edoh Permanasari. la
khawatir terpaksa menangkis babatan Edoh Permanasari meskipun dilakukan
dengan serabutan. Dalam hati, tak mau lagi ia sampai mengutungkan golok Otong
Surawijaya. Dengan demikian, terpaksalah ia melancarkan serangan dari jauh saja.
Tubuhnya tak ubah seekor burung seriti menyambar belalang.

Melihat gelagat buruk, Suwega murid Edoh Permanasari segera berteriak nyaring,
"Saudara-saudara! Mari kita serbu sisa Himpunan Sangkuriang! Tunggu apa lagi?"

Mendengar seruan itu, rekan-rekan seperguruannya tersadar dengan sekaligus.


Lantas saja mereka menghunus pedangnya masing-masing. Kemudian bergerak
menyeberang gelanggang. Melihat gerakan itu, kaum Himpunan Sangkuriang jadi
gempar.

Namun mereka tak bergerak dari tempatnya, seolah-olah bersedia menerima


mautnya dengan ikhlas.

Tetapi tidak demikianlah halnya dengan Sangaji. Melihat mereka bergerak, terus
saja ia melesat menghadang. la sudah berpengalaman melawan barisan Jala Sutra
Indrajaya. Maka dengan mudah saja, ia merabu pedang mereka dengan sekaligus.

Edoh Permanasari tentu saja tidak sudi menyia-nyiakan kesempatan yang bagus
itu. Mau ia mengadakan serangan balasan, mendadak saja pedang murid-muridnya
berhamburan menyerang dirinya. Maka mau tak mau, terpaksalah ia menangkis
kalang kabut.

"Beginilah caramu melawan aku?" ejeknya dengan raut muka masam.

Sangaji melesat ke tengah gelanggang. Mau ia menjawab, tetapi Otong Surawijaya


si pendekar berangasan sudah mendahului.

"Kau membiarkan murid-muridmu memasuki gelanggang. Begitulah caramu hendak


merebut kemenangan?"

Didamprat demikian, timbullah keangkuhan Edoh Permanasari. Serentak ia


memerintahkan murid-muridnya agar kembali ke tempatnya masing-masing.
Kemudian memutar menghadap Sangaji dan berkata sambil menuding, "Kau yang
berlagak jantan, mengapa melayani murid-muridku yang tidak berarti."

"Siapa yang mendahului?" damprat Otong Surawijaya lagi.

"Hm," dengus Edoh Permanasari.

"Hm hm apa?" Otong Surawijaya tak mau mengalah.

"Kau manusia bergelimpangan tiada gunanya, apa perlu ikut-ikut berbicara."

"Sekalipun aku tak bisa berkutik begini, tapi kalau disuruh mengawini nona tua
masakan sudi?" Otong Surawijaya penasaran. la adalah seorang pendekar bermulut
jahil. Sekali sumbunya kena sulut, mulutnya akan mengoceh tak keruan. Dan
rupanya Edoh Permanasari kenal siapa Otong Surawijaya. Maka ia membuang
mukanya dan kembali menatap Sangaji, menegas: "Jadi beginilah caramu melawan
aku?"

Dengan tenang Sangaji menyahut, "Bagaimana aku harus mengiringkan


kehendakmu?"

"Kau becus melawan aku atau tidak?"

"Kalau aku menang, apakah taruhannya?"

Edoh Permanasari menimbang-nimbang sejenak. Menyahut, "Baiklah kalau aku


sampai kalah, aku akan meninggalkan gunung ini. Biarlah lain kali aku membuat
perhitungan dengan bangsat-bangsat Himpunan Sangkuriang."

Tiga kali sudah, Sangaji berhadap-hadapan kembali dengan Edoh Permanasari. Ia


terpaksa berpikir keras. Pedang pusaka Sangga Buwana memang menakutkan
hatinya. Akan mendahului menyerang, ia khawatir kena tangkis. Sebaliknya hendak
mengadu kegesitan bergerak, lambat laun ia akan lelah juga. Padahal lawannya
masih banyak.

"Ha, bagaimana?" gertak Edoh Permanasari. "Engkau akan berlari-lari lagi?"

Hati Sangaji terkesiap. Ia adalah seorang pemuda yang tak boleh tersinggung
perasaannya. Apabila tersinggung perasaannya akan muncullah suatu ketekatan di
luar perhitungan manusia. Seperti dahulu, tatkala ia kena dihina

Mayor de Groote. Maka ia melawannya dengan mati-matian, meskipun kepalanya


kena tumbuk gagang pedang berkali-kali. Juga sewaktu kena hinaan Tako Weidema,
Jan de Groote dan kedua temannya. Meskipun dikerubut empat orang ia berani
melabraknya juga. Sekalipun akhirnya pingsan tak sadarkan diri, lantaran
dilemparkan ke dalam parit.

Sekarang ia kena ejekan Edoh Permanasari. Meskipun luapan hatinya tidaklah


sebesar sewaktu diejak Andi Apenda, namun terasa mendidih juga. Tiba-tiba suatu
ingatan menusuk dalam benaknya. Itulah ilmu sakti ciptaan Kyai Kasan Kesambi:
Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti, yang dahulu pernah dicobanya
melawan Warok Kuda Wanengpati dan Watu Gunung untuk yang pertama kalinya.
Teringat akan hal itu, terus saja ia menyahut: "Sebenarnya kalau aku mau aku akan
melawanmu tanpa bersenjata. Dan apabila aku sampai meninggalkan satu langkah
saja, kau boleh mengutungi kedua lenganku."

Pernyataan Sangaji itu diucapkan dengan nyaring dan jelas, sehingga menerbitkan
suatu kegemparan. Betapa mungkin? Dua kali bergebrak, ternyata pemuda itu tak
berani menghampiri Edoh Permanasari dalam jarak dekat
Sekarang, ia berani berkata takkan meninggalkannya biarpun satu langkahpun?
Itulah Sangaji, seorang pemuda yang tak boleh tersinggung kehormatannya. Sekali
tersinggung akan meletupkan suatu keputusan yang menggemparkan.

Sangaji sendiri lantas mengembalikan golok pusaka. Sudah barang tentu, Otong
Surawijaya yang biasa bermulut usilan kali ini jadi terlongoh-longoh. Belum lagi
pendekar bermulut jahil itu membuka suara, Sangaji sudah melesat mematahkan
sebatang dahan pohon. Kemudian berbalik memasuki gelanggang pertarungan
dengan amat tenang.

Edoh Permanasari mengamat-amati sebentar, lalu berkata acuh tak acuh.

"Kau sudah memilih jalan mampusmu sendiri. Bagus, itu bukan salahku. Hayo
mulai!"

Dengan tenang Sangaji melintangkan pedang kayunya di depan dadanya.


Kemudian digoreskan ke depan setengah lingkaran. Orang-orang yang menonton
tiada mengerti apa maksudnya. Mereka tahu, pemuda itu sedang diancam
ketajaman Sangga Buwana. Tetapi mengapa malahan bermain-main menggores
udara segala? Mereka sama sekali tak tahu, bahwa pada saat itu mendadak
terdengariah suara mencicit. Itulah tenaga sakti Sangaji yang tersalur lewat pedang
kayunya. Coba ia menggunakan pedang Sokayana, pastilah tenaga saktinya akan
membanjir keluar tak ubah badai. Walaupun demikian pedang Sangga Buwana
tertindih dengan sekaligus. Sudah barang tentu Edoh Permanasari kaget setengah
mati. Mimpipun tidak, kalau pedang kayu bisa dibuat menandingi pedangnya yang
terkenal tajam tiada bandingnya. Tanpa sadar, ia berseru nyaring: "Hai! Ilmu
Siluman!"

Cepat ia menarik pedangnya dan terus membabat pinggang Sangaji. Sangaji segera
menyongsong sabetan pedang Sangga Buwana dengan kayunya pula. Dengan
tenaga dahsyatnya ia menempel punggung pedang lawan. Dan seketika itu juga,
lengan Edoh Permanasari tergetar. Pedang Sangga Buwana berdengung nyaring.

"Bagus!" Otong Surawijaya bersorak memuji. Dialah tadi yang paling mencemaskan
maksud Sangaji hendak melawan pedang Sangga Buwana dengan ranting pohon.
Mula-mula terlongoh-longoh. Lalu mencakari telinganya. Kemudian menggaruk-
garuk kepalanya. Akhirnya berteriak kagum dan lega luar biasa manakala melihat
betapa pedang Sangaji yang istimewa itu bisa menindih pedang Sangga Buwana.

Meskipun kedua pedang sama sekali berbeda tetapi begitu punggung pedang
Sangga Buwana kena ditempel pedang kayu Sangaji lantas saja sirna dayagunanya.

Inilah ilmu Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti ciptaan Kyai Kasan Kesambi
yang sangat tinggi nilainya yang bersumber pada kekuatan hidup manusia.
Ternyata pedang kayu dapat memusnahkan ketajaman pedang Sangga Buwana
yang tiada taranya di jagat ini.
Sesungguhnya yang diajarkan Kyai Kasan Kesambi kepada Sangaji hanyalah
merupakan suatu coretan huruf. Nampaknya sederhana. Tapi sesungguhnya
gerakan itu adalah gerakan menghimpun tenaga sakti yang tersekap dalam tiap
dada manusia. Mula-mula ciptaannya diambil dari ilham ilmu Pancawara
(gelombang angin pegunungan yang datang dan perginya cepat serta tak terduga).
Kemudian tatkala Sangaji berlatih dengan pedang Sukayana yang beratnya 100 kati
lebih, ia menggabungkan dengan jurus-jurus Kumayanjati yang sederhana, ternyata
serasi dan sejiwa. Dahsyatnya tak terkirakan. Permukaan laut yang kena sapunya
melompat tinggi di udara dan melanda pantai dengan bergemuruh. Ini disebabkan
karena sifat Kumayanjati dan pedang Sokayana yang ternyata terbuat sebagian
besar dari campuran baja, besi berani dan monel. Menghadapi Edoh Permanasari,
Sangaji tak mau menggunakan senjata berukuran besar dan terbuat dari besi
campuran. la takut akan merupakan saluran tenaga sakti yang luar biasa
dahsyatnya. Maka dipilihnya sebatang kayu yang sifatnya justru memusnahkan
daya getaran. Perlunya, ia hanya menyalurkan tenaga angin saja yang kurang
berbahayanya daripada daya getaran.

Pada saat itu, di gelanggang pertarungan terdengarlah suara pedang Sangga


Buwana meraung berdengungan. Edoh Permanasari memutar pedangnya luar biasa
cepat. Penonton menjadi kabur dibuatnya. Namun dengan tenangnya Sangaji masih
saja menggores-gores udara seakanakan tidak memedulikan. Sekalipun demikian,
gerakan Sangga Buwana seperti terbendung tembok yang tiada kelihatan. Kemana
saja larinya pedang Sangga Buwana, selalu terpental balik. Bahkan 1ambat-laun
gerakan Edoh Permanasari makin lambat seolah-olah terbungkus oleh suatu
perangkap halimun.

Perlahan-lahan Sangaji menindihnya. Gerakan ilmu saktinya makin lama makin


padat.

Itu suatu tanda, bahwa angin pancawara sudah tertimbun berjejal-jejal. Kalau mau,
ia tinggal melontarkan saja. Dan Edoh Permanasari akan terpental ke udara.

Edoh Permanasari sendiri nampak bertambah kuwalahan. Berat pedangnya terasa


bertambah berat dan berat. Manakala tenaganya susut, pedang Sangga Buwana
terseret arus tenaga sakti Sangaji. la mencoba menarik untuk menyingkir. Tetapi
malahan terseret melingkar-lingkar. Gugup ia menebas. Namun pedangnya tak
pemah dapat menyentuh pedang kayu. Ia jadi kebingungan. Sebab pedangnya tak
bisa lagi ditarik atau ditusukkan. Sekarang ia menjadi jeri. Dan selama hidupnya
baru kali itu, ia berkecil hati. Suatu peristiwa yang baru dialami.

Setelah mendekati 400 jurus, makin nampaklah ia kepayahan. Ia mencoba


mengganti ilmu pedangnya yang lain. Namun hasilnya masih nol besar. Mau tak
mau ia benar-benar merasa keripuhan.

Dalam pada itu, Sangaji sudah memasang jaring-jaring serangan. Sedikit demi
sedikit ia mempersempit lingkarannya. Bagi orang lain, tiada mengetahui dengan
pasti apakah dia lagi menyerang atau bertahan. Hanya Andangkara, Tatang
Sontani, Tubagus Simuntang,

Dwijendra, Walisana, Dadang Wiranata dan Ratna Bumi yang tahu. Sedang Otong
Surawijaya yang ilmu kepandaiannya setingkat lebih rendah dari mereka belum
dapat menangkap inti jingkaran Sangaji yang makin lama makin menjadi sempit.

Memang ilmu sakti Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti ciptaan Kyai Kasan
Kesambi isinya gerakan lingkaran melulu. Lingkaran kecil dan lingkaran besar.

Namun tetap bergerak tak ubah gelombang samudera yang tiada hentinya. Tetapi
tahu-tahu terdengar suara pekik Edoh Permanasari terkejut.

Semua penonton menajamkan penglihatan. Edoh Permanasari nampak mundur


selangkah. Kemudian dengan memekik tinggi, tiba-tiba masuk ke dalam perangkap
jaringan sambil menusukkan Sangga Buwana. Itulah suatu jurus mati bersama
lawan.

Dalam terkejutnya, Sangaji menjepit ujung punggung pedang. Dengan tenaga


saktinya yang luar biasa dahsyatnya, seketika itu juga pedang Sangga Buwana
terlengket erat. Kemudian tangan kanannya yang memegang pedang kayu
terangkat ke atas dan turun hendak menabas. Tiba-tiba terdengarlah suara,
"Ampunilah dia!"

Mendengar suara itu, Sangaji kaget. la sudah terlanjur menurunkan pedang


kayunya dengan deras hendak menebas lengan. Tetapi tak kecewa ilmu sakti Keris
Kyai Tunggulmanik yang meresap dalam dirinya. Dalam rasa kagetnya, masih saja
ia bisa memencengkan tebasan. Karena terjadi suatu pertentangan, terbitlah kesiur
angin timbunan Pancawara. Dan dengan tak terkendalikan lagi, meledaklah
gumpalan ilmu Kumayanjati. Sebelum sadar apa akibatnya, tubuh Edoh
Permanasari terangkat naik dan terbanting tinggi seperti benda tipis ringan yang
terlemparkan ke udara.

Di tengah gemuruh sorak dan pekikan, Sangaji menoleh ke arah suara tadi. la
melihat Kamarudin berdiri sempoyongan dengan gumpalan darah di mulutnya.
Dengan hati terkesiap ia melesat menghampiri.

Kiranya semenjak tadi dalam diri Kamarudin terjadilah suatu pergulatan seru antara
dendam dan kisah asmaranya. Melihat Edoh Permanasari, hatinya meledak
bagaikan guntur. Itulah disebabkan, lantaran teringat seluruh anggota keluarganya
dibinasakan oleh iblis itu. Tetapi begitu melihat Edoh Permanasari dalam bahaya,
tanpa disadarinya memintakan ampun. Bagus, itu suatu tanda bahwa ia sudah
dapat memenangkan rasa dendamnya dengan suatu keikhlasan. Namun bagi
dirinya sendiri, akibatnya sangat runyam. Seperti diketahui ia baru saja kena racun
berbahaya. Pertolongan Sangaji terhadapnya sekedar pertolongan pertama. la
belum sempat merawat, lantaran terjadilah perkembangan peristiwa.
Dengan demikian, racun itu berkembang lagi. Dan lantaran dalam dirinya terjadi
suatu guncangan racun lantas saja menyerang jantung. Itulah sebabnya, begitu
habis melepaskan ucapan, segumpal darah meloncat ke tenggorokan.

"Paman...! Kau... kau... sebenarnya belum boleh mengeluarkan tenaga ..." kata
Sangaji dengan gugup.

Dengan mata jernih, Kamarudin menentang pandang Sangaji. Kemudian


mengalihkan pandang kepada tubuh Edoh Permanasari yang mulai turun deras dari
udara. Ia tersenyum di pinggir mulut berbareng berbisik, "Terima kasih ..." Setelah
berkata demikian, tubuhnya lunglai.

Cepat Sangaji menyambar tubuh Kamarudin hendak membantu dengan tenaga


getah saktinya. Tetapi maut lebih cepat lagi. Kepala Kamarudin tunduk. Dan ia
sudah tidak lagi di dalam percaturan dunia, dengan membawa suatu kemenangan
besar dalam dirinya.

Dalam pada itu Edoh Permanasari sudah turun ke bumi dengan selamat, wajahnya
pucat lesi. Melihat Kamarudin mati dalam pelukan Sangaji, ia memutar badan dan
berjalan tertatih-tatih meninggalkan gelang-gang.

"Hai!" seru Sangaji. "Ini... ini..."

"Hai, hai apa? Bukankah kau yang membunuhnya?" sahutnya.

"Mengapa aku?" Sangaji heran.

"Buktinya dia mati di pelukanmu."

Mendengar jawabannya, Sangaji tergugu. Lantas saja teringatlah dia kepada


persoalannya sendiri. "Hai, kenapa Kamarudin mati dalam pelukannya? Apakah ini
suatu lambang kisah asmara yang buruk baginya?"

Betapapun juga, kisah asmara itu merunyam pula dalam diri Edoh Permanasari.
Tanpa menoleh, terus saja ia turun gunung. Murid-muridnya segera mengikuti.

Melihat kepergian Edoh Permanasari beserta murid-muridnya, Sangaji buru-buru


memanggil Ida Kusuma.

"Nona...! Tolong haturkan pedang Sangga Buwana ini. Maaf dengan terpaksa aku
tadi merampas pedang pusaka yang sangat menakutkan hatiku."

Wajah Ida Kusuma menjadi merah jambu.

Tiba-tiba saja ia menjadi kikuk ) pula. Kiranya semenjak ia melihat kegagahan


Sangaji, hatinya sudah terampas dengan tak disadarinya sendiri. Keruan saja begitu
ia berhadap-hadapan dengan Sangaji secara tak terduga-duga, jantungnya
berdegupan. Sebaliknya Sangaji mempunyai kesan baik terhadap gadis yang molek
itu. Itulah sebabnya ia bersikap ramah.

Sekali lagi Sangaji mengangsurkan pedang Sangga Buwana lebih dekat lagi. Kali ini
Ida Kusuma tersadar. Tersipu-sipu ia menerima sambil berkata setengah berbisik,
"Terima kasih..."

Hanya sekejap adegan itu, namun bagi Ida Kusuma akan merupakan kenangan
yang paling indah. Dengan perlahan-lahan ia memutar badannya dan segera
mengikuti gurunya menuruni dataran tinggi.

"Wah!" kata si jahil Otong Surawijaya, "Coba dia tak dititipi pedang Sangga Buwana,
pastilah akan betah berada di sini..."

Mendengar kata-kata Otong Surawijaya, wajah Sangaji terasa menjadi panas.


Sekonyong-konyong terdengarlah suara melengking panjang. "Hai anak muda!
Numpang tanya siapakah namamu?"

Dengan tersipu-sipu Ida Kusuma menerima pedang Sangga Buana dari tangan
Sangaji sambil berkata setengah berbisik, "Terima kasih..." Hanya sekejap adegan
itu, namun bagi Ida Kusuma akan merupakan kenangan yang paling indah.

Sangaji menoleh. Melihat seorang kakek berperawakan pendek tipis, cepat-cepat ia


membungkuk hormat seraya menyahut, "Aku bernama Sangaji."

"Nama bagus," kata kakek itu. Tiba-tiba seorang kakek pula berperawakan tinggi
jangkung muncul di belakang kakek yang pertama. Terus menyambung, "Hei, hei ...
nama itu seperti namaku waktu bayi."

"Mana bisa?" bentak kakek pendek tipis.

"Benar. Ibu yang bilang. Tapi lantaran aku sakit bengek terus menerus lantas
namaku diganti dengan si Begog." la menungkas dengan sungguh-sungguh. Lalu
berkata nyaring kepada Sangaji, "Anak muda... kakek ini adalah kakak
seperguruanku. Namanya Sianyer."

"Begog! Orang tidak bertanya, mengapa kauusilan?"

"Habis, belum-belum kau sudah menumpang tanya namanya. Menurut pantas kau
harus membalas."

Mendengar serentetan tanya jawab antara kedua kakek itu, Sangaji tersenyum.
Rupanya yang bemama Begog lebih jujur dan lebih ramah daripada kakek Sianyer.
Ketujuh aliran penggerebeg dataran tinggi Gunung Cibugis, tinggal empat golongan
yang belum maju ke gelanggang. Edoh Permanasari dan Sindung Riwut dari Gunung
Gembol sudah meninggalkan gunung. Sedang anak murid Mandalagiri sudah
menyatakan tidak berhak maju ke gelanggang, karena Kusuma Winata dikalahkan
Andangkara. Kini tinggal pendekar-pendekar dari Gunung Kencana, Gunung
Ascupan. Gunung Gilu dan Muarabinuangeun. Maka berkatalah Sangaji minta
keterangan, "Sebenarnya Aki berdua mewakili golongan manakah?"

"Aku sih ... mewakili diriku sen ..." sahut Begog. Tetapi mendadak dipotong Sianyer.

"Begog! Kenapa sih mulutmu ngoceh tak keruan?"

"Eh, hiya... mulut kranjingan... anak muda, lantaran mulutku keranjingan, kata-
kataku tadi jangan kau anggap."

Sangaji tersenyum. Sewaktu hendak menyahut, Sianyer berkata dengan suara


nyaring, "Kami mewakili perguruan Muara-binuangeun. Karena kau sudah merusak
nama baik para pendekar yang datang ke mari, maka kami berdua terpaksa
menyelesaikan dengan jalan mengambil nyawa." Setelah berkata demikian, ia
menghunus goloknya.

Begog menghunus goloknya pula sambil berkata, "Kau hendak kami keroyok seperti
lalat mengeroyok onde-onde kerbau. Karena itu yang hati-hati."

Dengan hormat Sangaji menyahut, "Apakah tiada jalan lain?"

"Tidak. Sama sekali tidak," tungkas Sianyer.

"Menurut pendapatku, tidak benar. Mengambil nyawa adalah kejam. Kita tadi
bertanding secara ksatria. Menang kalah, bukankah sudah lumrah terjadi dalam
suatu pertarungan? Mengapa Aki berkata aku merusak nama baik para pendekar
yang kuhormati?" kata Sangaji.

"Eh benar juga," sahut Begog. "Jadi menurut pendapatmu kalau kita kalah, nama
kita tidak jadi rusak?"

"Sama sekali tidak."

"Kalau begitu... eh Kak Sianyer... anak muda ini bilang tidak merusak nama baik.
Kalau begitu..."

"Diam!" bentak Sianyer geregetan. "Mulutmu kenapa ngoceh tak keruan?"

"O, hiya... mulut keranjingan." Begog mengumpat mulutnya sendiri dan terus
mendekapnya erat-erat.

Kemudian berkatalah Sianyer, "Ini soal hidup dan soal mati. Karena itu, terpaksa
aku mengambil nyawamu. Anak-anak murid Muarabinuangeun sudah terlalu banyak
tewas di ujung pedang kaum Himpunan Sangkuriang."

Mendengar ujar Sianyer, rupanya Begog tak kuasa lagi mendekap mulutnya. Terus
saja menyahut, "Baiknya kau mengaku kalah. Habis sih ... jurus kita berdua ini
kalau main keroyok sangat berbahaya. Rasanya tidak adil. Lekaslah mengaku kalah.
Lantaran jurus keroyokan kita itu ... lihat ... aku akan berada di sini dengan golok
melintang, sedang kakakku seperguruan menyerang dari sana dengan golok kita ..."

"Diam! Diam! Diam!" bentak Sianyer sambil menumbuk-numbukkan kakinya di atas


tanah. "Kenapa mulutmu ngoceh tak karuan?"

"O, hiya ... mulut keranjingan!" umpat Begog kepada mulutnya sendiri. Kali ini dia
hendak berusaha sungguh-sungguh menguasai mulutnya. Maka goloknya dikempit
dan kedua tangannya mendekap mulutnya kencang-kencang.

Mau tak mau Sangaji tersenyum juga. Teringatlah betapa pendekar-pendekar sakti
itu kerap kali mempunyai adat aneh, mirip manusia gendeng. Maka di dalam
hatinya, tak mau ia meremehkan. Benar saja. Sekonyong-konyong Sianyer bersuit
nyaring. Dan Begog yang masih mendekap mulutnya, cepat-cepat menyambar
goloknya. Dan mulutnya lantas ngoceh lagi, "Anak muda! Kau bersenjata apa?"

"Ini," sahut Sangaji sambil memperlihatkan pedang kayunya.

"Tak mau! Tak mau!" kata Begog seraya mundur.

"Mengapa?" Sangaji heran.

"Kami berdua bersenjata golok pusaka peninggalan Raja Ciung Wanara, masakan
kau akan melawan dengan ranting kayu? Itu tak adil. Tak mau! Tak mau!"

"Ah benar," Sangaji menyahut dengan suara ramah.

"Melawan Aki berdua masakan pantas hanya menggunakan ranting pohon. Tapi
karena pedang kayu ini sudah berjasa besar, biarlah kutanamnya baik-baik."

Dengan menjepit pada kedua jarinya, pedang kayu lalu disambitkan ke tanah. Cet!
Dan pedang kayu itu lenyap ke dalam bumi. Yang nampak hanyalah lubang kecil
tak ubah lubang jangkrik.

Pameran tenaga sakti, tiada seorangpun di antara mereka yang sanggup


melakukan. Itulah sebabnya setelah terdiam sebentar, para pendekar kedua belah
pihak bersorak-sorak dengan tepukan riuh rendah.

Begogpun tak mau ketinggalan. Dengan mengempit goloknya, ia bertepuk-tepuk


tangan sambil berjingkrakan. Masih mulutnya nerocos, "Bagus! Bagus! Sekarang
kau bersenjata apa?"

Sebenamya menilik watak Sangaji yang sederhana dan berhati mulia, tidak
mungkin dia memamerkan kepandaiannya di hadapan umum. Hari itu tidak hanya
memamerkan kepandaiannya saja, tapipun banyak berbicara. Soalnya ia
menghadapi satu persoalan yang luar biasa sulit. Ia harus menggertak dahulu
berbareng menanamkan rasa persahabatan agar kaum penyerbu mau menarik diri
dan meninggalkan gunung.
Maka begitu mendengar ujar Begog, segera ia menyahut: "Aku sendiri tidak
membawa senjata apa pun. Menurut pendapat Aki, aku harus bersenjata apa?"

"Ha kau ini lucu, anak muda. Aku bukan gurumu maupun temanmu bergurau.
Sebaliknya aku adalah lawanmu. Masakan aku harus mencarikan senjata yang
cocok bagimu? Tentu saja akan membuatmu rugi. Ya tidak?"

"Biarlah Aki yang memilihkan senjata," kata Sangaji setelah berpikir sejurus.

"Aih ... aneh. Jadi kau menurut senjata apa saja yang kupilihkan untukmu?"

Sangaji mengangguk. Dan Begog mengusap-usap jenggotnya yang tumbuh


serabutan. Katanya berkomatkamit, "Melihat gerak-gerikmu tadi, kau ini seorang
pemuda penjelmaan malaikat. Dengan tangan kosongmu, agaknya kau mampu
juga melawan kami berdua."

"Baiklah. Kalau perlu aku akan bertangan kosong saja."

"Eh, mana bisa begitu? Mana bisa begitu?" Begog berjingkrakan. "Begini saja..." Ia
melayangkan penglihatan. Matanya berhenti kepada sebuah tiang paseban Gedung
Markas Besar yang sudah terbakar separuh. Di antara puing-puing temboknya,
tiang paseban terang terbuat dari besi. Gkuran tiang itu sebesar sepelukan kanak-
kanak. Beratnya tak kurang dari setengah ton (500 kg). Tingginya tiga meter lebih.
Dan melihat tiang paseban itu, timbullah kenakalan Begog. Terus saja ia menuding
sambil berseru, "Itu saja. Kukira kau paling cocok bersenjata galah besi segede itu."

Terang sekali maksud Begog hanya bergurau. Tak terduga, Sangaji terus
menghampiri tiang paseban dan dicabutnya. Dengan sekali tarik, ambrollah tiang
itu. Dan tembok yang sudah hangus termakan api, runtuh berguguran.

"Hai-hai! Aku cuma bergurau saja ... Kau ... kau," seru Begog kebingungan.

Namun seolah-olah memegang sebatang senjata yang enteng, tiang besi itu
diputer-puter di atas kepalanya. Dahulu ia pernah mencoba kekuatannya. Ternyata
dia dapat menjebol batu pegunungan untuk dibuatnya sebuah kubu pertahanan
darurat. Tenaga dahsyat demikian membuat kagum pendekar-pendekar sakti dan
kinipun demikian. Melihat Sangaji dapat menjebol tiang paseban dan kemudian
memutar-mutarkan di atas kepala, semua orang ternganga sampai suasana
gelanggang jadi sunyi hening.

"Ai... benar-benar kau penjelmaan malaikat... Bagaimana mungkin kau... kau..." jerit
Begog kagum. Dan mendengar suara Begog, barulah semua orang bersorak dengan
gemparnya.

Sianyer yang semenjak tadi berdiam diri, saat itu tersadar. la insyaf, bahwa lawan
yang dihadapinya bukan lawan lumrah. Selama hidupnya, baru kali itu ia
menjumpai seorang pemuda yang memiliki tenaga raksasa begitu dahsyat. Maka ia
melintangkan golok pusakanya untuk segera menyerang.

"Maaf!" katanya. Dan sekali berkelebat, goloknya menebas kepala. Dengan


memutar tiang besinya, Sangaji menangkis tebasan golok. Trang!

"Begog hayooo!" seru Sianyer.

"Apakah kita berkelahi dengan sungguh-sungguh?" Begog menegas.

"Eh, masakan tolol begitu? Tentu saja. Apakah kau mau mampus?"

"Ah, ya!" Begog terkesiap. Terus saja ia membabat pinggang.

Kedua kakek itu meskipun nampaknya ketolol-tololan sebenarnya ilmu


kepandaiannya sangat tinggi. Mereka adalah adik seperguruan Ganis Waluran
seorang tokoh sakti di Jawa Barat yang mendirikan aliran Muarabinuangeun. Dalam
penggerebegan ke dataran tinggi Gunung Cibugis, Sianyer dan Begog ditugaskan
oleh kakak seperguruannya untuk mewakili dirinya. Ilmu golok mereka serasi dan
senyawa. Mereka mempunyai cara bermain golok sendiri yang sukar diduga lawan.
Lantaran cara menyerang dan pertahanannya bertentangan dan tak menurut
aturan. Sehingga nampaknya berserabutan sesuka hatinya.

Ontunglah Sangaji bersenjata tiang besi berukuran panjang tiga meter lebih. Maka
dengan hanya memutarkan tiang besinya, sudah dapat menyapu kedudukan
mereka. Dan merekapun sebaliknya tak dapat mendekati.

Sesudah bertarung kira-kira lima belas jurus, tiba-tiba Sangaji melemparkan senjata
tiang besinya tinggi di udara. Sebelum Begog dan Sianyer sadar apa yang hendak
dilakukan, tengkuk mereka sudah kena cekuk dengan berbareng. Karena tenaga
sakti Sangaji sangat dahsyatnya, mereka mati kutu dengan mendadak.

Sangaji sendiri dengan cepat melesat mundur. Dan tiang besi yang terlempar di
udara mulai terjun dengan dahsyat mengancam kepala Begog dan Sianyer.

Dalam keadaan tak dapat berkutik, kepala mereka pasti remuk apabila tertimpa
tiang besi demikian besarnya. Dan melihat adegan demikian, semua orang menjerit
cemas.

Sekonyong-konyong Sangaji mengayunkan tangannya mengibas tak ubah sebatang


pedang. Tak! Tiang besi itu terpotong menjadi dua bagian dan terdorong minggir.
Dan dengan tersenyum, Sangaji menepuk pundak Begog dan Sianyer seraya
berkata hormat, "Maaf... Aki senang bergurau, jadi akupun ikut-ikutan pula."

Begog dan Sianyer dapat bergerak seperti sediakala. Mereka terlongong-longong.


Sianyer nampak bersedih hati. Dengan muka penuh prihatin ia memandang Sangaji.
Kemudian berkata dengan putus asa, "Sudahlah, anak muda. Kami menyatakan
kalah."

"Tidak bisa! Tidak bisa!" tungkas Begog. "Ini tadi kan bersenda gurau, bukan?"

Sangaji tidak melayani. la hanya tersenyum. Kemudian berkata, "Lalu kehendak Aki
bagaimana?"

Belum lagi Begog menyahut, tiba-tiba terdengarlah suara Manik Angkeran.


"Memang kakek jelek bermuka tebal. Huuu ..."

Mendengar ujar Manik Angkeran, Begog menoleh sambil melototi. Katanya galak,
"Kau tahu apa?"

"Kau tahu apa?" Manik Angkeran membalas mendamprat.

"Huuu..." Begog mencibirkan bibirnya. "Huuu..." Manik Angkeran menirukan pula.


"Eh kenapa usilan?" "Eh kenapa usilan?"

Ditirukan demikian, Begog kebingungan juga. Dengan menggaruk-garuk kepala ia


mencoba mencari jalan lain. Sianyer tidak bersabar lagi. Mendamprat, "Kenapa sih
mulutmu ngoceh tak keruan?"

"He biasa... mulut keranjingan!" dan terus saja Begog mendekap mulutnya kuat-
kuat.

Dalam pada itu, terbitlah suatu kegemparan

di pihak kaum penyerbu. Alang-alang Cakrasasmita yang menjadi pucuk pimpinan


penyerbuan, gusar bukan kepalang. Kemenangan sudah berada di depan
hidungnya. Tapi lantaran anak muda yang tak dikenal itulah, membuat rencana
penghancurannya runyam tak karuan. Memikir demikian ia terus berteriak, "Hai,
rekan Panjang Mas dari Gunung Kencana! Dan rekan Ratu Kenaka dari Gunung
Aseupan. Di antara kita, tinggallah kita bertiga. Mari kita maju berbareng."

Terang sekali, ia menganjurkan suatu pengeroyokan dengan sekaligus. Sudah


barang tentu, kaum Himpunan Sangkuriang memaki-maki kalang-kabut. Otong
Surawijaya si mulut jahil lantas saja berteriak nyaring.

"Macam manusia begitu, masakan termasuk golongan Ksatria? Hai Alang-alang!


Mukamu kau sembunyikan di mana?"

Tetapi Sangaji bahkan menjadi senang. Semenjak tadi ia berprihatin mengingat


lawannya akan bertempur secara bergiliran. Inilah bahaya. Sebab betapapun juga,
ia akan menjadi letih. Terus saja ia mengencangkan ikat pinggangnya bersiaga
penuh-penuh.
"Hai, anak muda!" seru Begog. "Alang-alang, Panjang Mas dan Ratu Kenaka
mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Corak ilmunya seragam dengan
ilmu kami berdua. Jika mereka bergabung, dahsyatnya tak dapat diukur. Biarpun
malaikat akan lari terbirit-birit. Masakan kau bisa melawan tenaga gabungan kami?"

"Aku akan mencoba, Aki..." jawab Sangaji.

"Hai, jangan main coba-coba. Ini soal nyawa. Kalau kau sampai tewas, siapa yang
rugi? Hai, anak muda! Apakah kau sudah kawin?"

Sangaji terkejut. Entah apa sebabnya, mendadak saja berkelebatlah dua bayangan
dalam otaknya. Sonny de Hoop dan Titisari. Melihat mereka dalam benaknya,
timbullah suatu kegelisahan dalam hati.

Sonny de Hoop hari ini pasti mencari aku. Dan hari ini di manakah Titisari berada?

Ia jadi bersedih hati. Alangkah akan Iain keadaan hatinya, apabila waktu itu Titisari
berada di sampingnya. Gadis yang berotak encer itu, pasti bisa memecahkan
persoalan yang sedang dihadapinya. Tetapi di mana Titisari pada hari itu berada,
hanya setan dan malaikat-malaikat yang tahu.

Melihat Sangaji hendak dikerubut lima tokoh-tokoh sakti, Manik Angkeran tak dapat
menahan hatinya. Terus saja ia memasuki gelanggang. Dengan menuding Begog ia
berkata nyaring, "Ini tidak adil! Tidak adil kalian sudah pantas menjadi kakekku.
Masakan main kerubut terhadap cucunya."

Di antara kelima tokoh sakti tersebut, hanya Begog yang berhati jujur. Ditegur
Manik Angkeran, ia tak bersakit hati. Setelah berpikir-pikir sebentar, ia mengempit
goloknya. Kemudian sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia menyahut.

"Ya, benar. Rasanya memang tidak adil. Tapi dia bilang mewakili Himpunan
Sangkuriang. Kalau dipikir, Himpunan Sangkuriang tinggal runtuhnya saja. Namun
kami tunduk pula kepada kehendaknya. Masakan begini tidak adil?"

Sianyer mengenai Iagak-lagu adik seperguruannya itu. Nampaknya seperti orang


tolol, tetapi sebenarnya berotak jujur dan cerdik. Kalau tidak, masakan dia bisa
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka mendengar adik seperguruannya berkata
demikian, ia mengangguk kecil menyetujui.

Sebaliknya Manik Angkeran mempunyai bakat setengah liar seperti Fatimah.


Meskipun ujar pendekar Begog masuk akal, namun tetap ia membantah. Katanya,
"Tetap tidak adil. Tetap tidak adil! Kalian berdua tadi sudah kalah. Masakan
sekarang mau ikut-ikutan mengkerubut pula? Coba bilang, masakan begini adil?"

Begog menggaruk-garuk kepalanya. Dahinya berkerut-kerut, seakan-akan otaknya


mendadak menjadi ruwet tak keruan. Sebagai orang jujur ia mengakui kebenaran
ucapan Manik Angkeran. Namun ia tak boleh mengalah. Akhimya ia melemparkan
pandang kepada Sangaji.

Sangaji sendiri masih disibukkan urusan pribadinya. Tatkala mendengar serentetan


perbantahan Manik Angkeran dan Begog, ia mempunyai kesempatan untuk
mengamat-amati segenap lawannya.

Terhadap pendekar Alang-alang Cakrasasmita dan Panjang Mas, ia masih asing.


Tapi begitu melihat wajah pendekar Ratu Kenaka, hatinya terkesiap. Dialah yang
semalam meracun Kamarudin dan dirinya juga setelah mengadu kekuatan.
Terhadap tenaga sakti orang itu, ia tak usah khawatir. Sebaliknya ia harus berjaga
terhadap bisa dan racunnya. Orang demikian, pasti pula dapat beriaku licik di luar
dugaan.

"Orang itu bernama Ratu Kenaka. Berasal dari perguruan Gunung Aseupan."
Terdengar Andangkara mengisiki.

"Tiada istimewanya. Hanya saja harus berjaga-jaga terhadap tipu muslihatnya yang
licik."

Mendengar bisikan itu, hati Sangaji terbangun. Entah apa sebabnya, tiba-tiba
pandangnya menyala tanpa dikehendakinya sendiri.

Dalam pada itu, terdengar Begog berkata kepada Panjang Mas. "Ah, inilah si
Panjang Mas. Sebentar kalau tak tahan, akan jadi si Panjang Kaki... Wah, bakal
hebat jadinya..."

Panjang Mas adalah pendekar angkuh. Di atas Gunung Kencana ia hidup tak ubah
seorang raja yang diagung-agungkan. Kini mendadak diolok-olok oleh seorang adik.
yang ketolol-tololan. Keruan hatinya murka. Sekali menarik pedangnya, ia terus
menikam.

Gerakan serangannya ternyata cepat luar biasa. Seperti kilat menusuk cakrawala, ia
menebas pinggang dan pundak Begog dengan sekali gerakan. Dalam terkejutnya,
cepat-cepat Begog menangkis dengan goloknya. Trang! Golok dan pedang
berbenturan hebat. Serangan Panjang Mas kena ditangkis dalam satu gerakan pula.

Si kakek Begog yang nampaknya ketolol-tololan itu, ternyata seorang pendekar


yang memiliki kepandaian tinggi. Seumpama ilmu goloknya belum mencapai
tingkatan tinggi tidaklah mudah menangkis serangan pendekar Panjang Mas yang
begitu cepat dan terjadi dengan tiba-tiba pula.

Panjang Mas kaget. Ia kena tergetar mundur. Ia tercengang. Begogpun kena


tergetar mundur pula. Diapun tercengang. Akhimya kedua pendekar itu saling
tercengang dan saling mengagumi ilmu kepandaian masing-masing. Selama
hidupnya belum pernah mereka bertemu. Dengan gebrakan itu, tahulah mereka
bahwa ilmu simpanannya masing-masing ternyata datang dari satu sumber yang
sama.

Pikir Panjang Mas, ilmu perguruan Muara-binuangeun ternyata hebat juga. Kalau
kita berempat bergabung menjadi satu, betapa hebatpun bocah itu pasti takkan
tahan dalam beberapa gebrakan saja. Setelah berpikir demikian, segera ia
berpaling kepada Alang-alang Cakrasasmita. Katanya, "Kau sudah bersiaga?"

Pada zaman mudanya, Alang-alang pernah mengadu kepandaian melawan Panjang


Mas. Dalam suatu pertempuran seru, ia kalah seurat. Menurut pantas, sudahlah
wajar Panjang Mas berada pada tingkatan lebih atas. Namun di depan umum, tak
sudi ia kalah perbawa. Apalagi ia dipilih pula sebagai ketua dalam aksi
penggerebegan itu. Maka dengan mengangkat hidungnya ia berjalan dengan lagak
tuan besar. Kemudian memberi perintah kepada bawahannya agar membawa
pedang pusakanya.

Pedang pusaka Gunung Gilu terkenal tuahnya. Racun dan bisanya sangat
berbahaya. Itulah sebabnya, murid-murid Gunung Gilu disegani orang. Bukan
karena ilmu kepandaiannya tetapi racun serta tipu muslihatnya. Kini empat orang
datang dengan membawa sebuah niru panjang. Di atasnya nampak sebilah pedang
bersarung hijau. Tahulah orang, bahwa itulah pedang yang sangat berbahaya.

"Apakah bocah itu benar-benar memiliki ilmu siluman?" katanya angkuh sambil
mengambil pedangnya.

Panjang Mas menunggu sampai empat orang murid Gunung Gilu keluar dari
gelanggang, kemudian menyahut, "Nanti bisa kita buktikan bersama. Cuma kakek
tolol ini rupanya memiliki ilmu golok lumayan juga."

"Terima kasih Gan )," ujar Begog dengan meninggikan hidungnya.

"Baiklah! Mari kita mulai!" ajak Alang-alang Cakrasasmita. Ia menghunus


pedangnya. Suatu sinar hijau berkeredip jernih suatu bukti bahwa pedang itu benar-
benar bukan sembarang pedang. Lalu berkata kepada Sangaji, "Kau sudah siap?
Senjata apa yang hendak kaugunakan?"

Melihat ketua pihak penggerebek sudah maju ke dalam gelanggang, timbullah


maksud Sangaji hendak membuatnya takluk benar-benar. Dengan demikian, di
kemudian hari mereka takkan bakal mengulang macam penggerebegan lagi. Sekali
mengibaskan tangannya, pedang kayu yang tadi berhasil mengalahkan pedang
Sangga Buwana sudah berada dalam genggamannya. Lalu berkata:

"Aku datang ke mari tanpa senjata. Senjata yang kumiliki hanyalah pedang kayu
ini."

Mendengar keputusan Sangaji, pendekar-pendekar Himpunan Sangkuriang


terkesiap. Memang mereka tadi menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa
perkasa pedang kayu di tangan Sangaji sampai dapat mengalahkan ketajaman
pedang Sangga Buwana yang tiada duanya dalam dunia ini.

TAPI kini, dia harus menghadapi lima orang dengan sekaligus yang masing-masing
bersenjata pusaka andalannya. Sedikit saja terbentur salah sebuah senjata lawan,
pasti akan patah.

"Bagus! Jadi kau tak memandang mata kepada ilmu himpunan Jawa Barat, bukan?"
ujar Alang-alang Cakrasasmita.

"Sama sekali tidak," sahut Sangaji dengan takzim. "Aku hanya pernah mendengar,
betapa perkasa pendekar Ciung Wanara tatkala mengalahkan Aria Singgela yang
sakti pada zaman Pajajaran. Sayang, apa sebab aku lahir terlambat. Dengan begitu
tak dapat menyaksikan keperkasaan leluhur kita pada zaman dahulu."

Pendekar Begog yang berhati jujur menggaruk-garuk kepalanya. Setelah berdiam


sejenak, lalu menghela napas panjang. Menyahut, "Aih benar... memang ilmu kita
tak dapat dibandingkan dengan ilmumu yang tinggi. Cuma saja, berilah kami
kesempatan mengeroyokmu. Tapi berhati-hati looo... sebab ilmu gabungan kita
sangat hebat. Mereka di sana dan kami di sini. Lantas..."

"Diam? Kenapa mulutmu ngoceh tak keruan?" bentak Sianyer kakak


seperguruannya.

"O, iya... mulut keranjingan!" umpat Begog kepada mulutnya sendiri.

Dalam pada itu mereka berempat sudah mengambil sudut serangan. Hanya Ratu
Kenaka yang masih saja berada di luar garis pertempuran. Tiba-tiba membentak,
"Anak janda Rudin! ) Meskipun hebat kepandaianmu, masakan berani menghina
tumpuan ilmu sakti Jawa Barat? Kau memang bocah bosan hidup!"

Belum lagi suaranya lenyap, pedangnya berkeredip menusuk punggung dengan


cepat. Terang sekali ia sengaja hendak menyerang secara menggelap, selagi
Sangaji terlibat dalam suatu percakapan.

Tetapi Sangaji sama sekali tak memutar tubuhnya untuk menghadapinya. Ia


menunggu sampai ujung pedang Ratu Kenaka nyaris meraba bajunya. Kemudian
dengan mendadak, ia mengayunkan kakinya ke belakang. Tahu-tahu ujung pedang
Ratu Kenaka kena injak. Dan Ratu Kenaka sendiri berusaha dengan sekuat
tenaganya hendak menarik pedangnya. Namun sama sekali tak bergeming,
sehingga keringat dinginnya membasahi tubuhnya.

Perlahan-lahan Sangaji memutar tubuhnya dan menatap wajah Ratu Kenaka


dengan mata menyala. Selama hidupnya, memang ia membenci manusia yang
senang menggunakan racun. Itulah disebabkan, karena gurunya hampir tewas
semata-mata kena racun jahat. Juga dirinya sendiri pernah mengalami kena
serangan beracun beberapa kali. Gntung dalam dirinya mengalir getah sakti
Dewadaru sehingga ia terbebas dari akibatnya. Sekarang, ia menghadapi seseorang
yang kemarin malam hampir saja berhasil menewaskan Inu Kertapati dan kawan-
kawannya karena racun berasapnya. Maka tidaklah mengherankan, bahwa hatinya
tiba-tiba menjadi geram. Katanya kemudian, "Kenapa kau senang menyerang lawan
dengan cara menggelap? Bukankah namamu yang agung akan jadi merosot?"

Wajah Ratu Kenaka waktu itu nampak merah padam. Seluruh tenaganya lagi
dikerahkan untuk menarik pedangnya yang kena injak. Itulah sebabnya, tak sempat
ia menyahut. Melihat begitu, Sangaji tiba-tiba mengendorkan injakannya dengan
dibarengi gerakan mendorong. Hebat akibatnya karena Ratu Kenaka sama sekali
tak menduga perubahan dengan mendadak itu. la sudah terlanjur mengerahkan
segenap tenaganya untuk menarik. Di luar dugaan, sekonyong-konyong menjadi
kendor dibarengi tenaga dorongan pula. Keruan saja, ia kehilangan keseimbangan.
Seketika itu juga, ia terhuyung ke belakang. Kemudian suatu tenaga luar biasa
besarnya, menumbuk dadanya lewat pedangnya. Ia terpelanting mundur lagi tanpa
dapat mempertahankan diri sedikit pun juga. Pedangnya terdengar bergemerincing
beberapa kali. Tahu-tahu ia tinggal menggenggam hulu pedangnya sedangkan
pedang itu sendiri, patah menjadi sembilan potong.

Ratu Kenaka kaget bercampur malu. Gntuk menjaga kehormatan dirinya, cepat-
cepat ia membentak sambil membuang sisa pedangnya.

"Jahanam! Kau hanya bisa mematahkan pedang, tapi tak becus meraba selembar
kulitku..."

Sangaji tersenyum. la mengibaskan pedang kayunya sambil berkata mengajak


kepada empat pendekar penantangnya.

"Mari kita mulai...!"

Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita yang tidak sabar lagi, segera
membentak kepada Ratu Kenaka.

"Kau pergi atau ikut bertempur?"

"Ya, ya, ya..." sahut Ratu Kenaka tergagap-gagap.

"Ya, ya, ya... bagaimana?"

"Ya ... aku ... aku ..."

Panjang Mas tak sabar lagi. Terus saja ia mendorong. Di luar dugaan Ratu Kenaka
tidak mengelak. Bahkan tubuhnya lantas kena geser, namun sikapnya tidak
berubah. Maka tahulah orang, bahwa tubuh Ratu Kenaka tak bisa berkutik lagi
entah apa sebabnya.

Itulah akibat ilmu sakti Sangaji. Di tepi pantai dahulu, ia sudah berlatih
menyalurkan hawa sakti lewat pedang Sokayana. Kini dengan lewat pedang
kayunya, ia menyerang Ratu Kenaka. Tak ampun lagi, Ratu Kenaka kena diserang
suatu tenaga sakti yang tiada nampak. Tahu-tahu, tubuhnya menjadi kejang.
Kakinya tertanam di dalam tanah tak ubah sebuah area.

"Waaah... belum lagi menjenguk neraka, tubuhnya sudah kaku. Hai, anak muda!
Lain kali, kau ajari aku ilmu siluman begini tanggung biniku, tak bisa mengumbar
mulut lagi," seru Begog.

Diam-diam Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita terkejut. Seperti berjanji,


mereka memijat-mijat tubuh Ratu Kenaka hendak melancarkan aliran darahnya.
Namun betapa mereka berusaha, tetap saja Ratu Kenaka tak dapat dipulihkan
seperti sediakala. Dengan peristiwa itu, teranglah sudah bahwa mereka sudah kalah
dalam satu babak.

"Mulai!" tiba-tiba Alang-alang Cakrasasmita menggerung. Pedangnya berkelebat


membabat kepala Sangaji. Panjang Mas tak mau ketinggalan pula. Cepat ia
membarengi menusuk dada. Setelah itu, kakek Begog dan Sianyer menyapu kaki
dan pinggang.

Luar biasa cepat dan berbahaya serangan berbareng itu. Namun dengan sedikit
menggeserkan tubuh, tiba-tiba Sangaji sudah lolos dari rantai serangan. Tubuhnya
berkelebat menerobos tebasan senjata mereka tak ubah bayangan yang tak dapat
tersentuh. Tatkala mereka hendak menyusuli serangannya yang kedua, Sangaji
sempat mengibaskan pedang kayunya. Mereka mundur dengan berbareng.

Cepat Panjang Mas membelokkan pedangnya menusuk tulang rusuk. Ia berharap


agar Sangaji menarik pedang kayunya untuk mempertahankan diri. Sangaji
terpaksa menangkiskan pedang kayunya. Tangan kirinya mengebas golok Sianyer.

"Bagus!" seru Panjang Mas di dalam hati. "Kau berani menangkis pedangku. Tapi
masakan pedang kayumu tahan beriawanan dengan pedang pusaka."

Ia mengedipi Alang-alang Cakrasasmita. Pendekar ahli pedang itu, dengan cepat


dapat menangkap isyarat rekannya. Pedangnya terus saja miring sambil
mengeluarkan bunyi suara berdengung. "Mampus!" teriaknya sambil menebas.

Di luar dugaan, Sangaji masih dapat menyelamatkan pedang kayunya. Bahkan


dengan gerakan lembut, tiba-tiba pedangnya sudah menempel pedang Alang-alang
Cakrasasmita. Kemudian suatu tenaga halus, menggoncangkan pedang Panjang
Mas.

Trang! Pedang Panjang Mas terdorong ke samping menangkis golok Begog.

"Haiyah ... kenapa kau menangkis seranganku?" teriak kakek angin-anginan itu.

Muka Panjang Mas berubah. Meskipun benar tuduhan kakek Begog, namun tak sudi
mengakui. Bentaknya, "Kaulah yang kurang waspa-da!"
Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita meskipun anak didik perguruan lain,
namun intisari ilmu pedangnya boleh dikatakan sama. Setiap kali Panjang Mas
melontarkan serangan, secara wajar serangan Alang-alang Cakrasasmita
membantu dari sudut lain. Sehingga dengan tak sengaja, merupakan ilmu pedang
gabungan yang serasi dan rapat. Sedangkan ilmu golok kakek Sianyer dan Begog
sudah diketahui berasal dari satu sumber dengan ilmu pedang mereka. Hanya saja,
gerakan jurusnya bercorak lain, karena mereka bersenjata golok. Namun setelah
mereka bekerja sama, permainan mereka lambat laun menjadi serasi dan saling
menambal kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Dengan begitu,
permainan mereka makin nampak menjadi teratur dan Iancar sekali.

Semenjak tadi Sangaji sadar, bahwa ia akan menghadapi suatu perlawanan yang
berbahaya. Namun tak pernah ia menduga, bahwa permainan mereka yang timbal
balik dan rapat itu, benarbenar tak dapat dipecahkan. Beberapa kali ia menghadapi
detik-detik bahaya. Sayang, ia tak bersenjata pedang besi atau baja. Karena itu, tak
berani ia menangkis suatu gempuran langsung. Sekali pedang kayunya patah, ia
akan bertambah sulit.

Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya golok Sianyer yang membabat dari


bawah. Cepat ia melejit. Di luar dugaan pedang Alang-alang Cakrasasmita memegat
gerakannya. Pada saat itu juga, terdengarlah suara Panjang Mas berteriak pasti.

"Mampus!" Dan pedangnya bersuing membabat lehernya..

Tanpa berpikir panjang lagi, Sangaji menggerakan jari-jarinya. Ia menempel pedang


Alang-alang Cakrasasmita sambil memunahkan golok Sianyer. Kemudian tenaga
saktinya membendung pedang Panjang Mas. Tetapi golok Begog tiba-tiba
merangsang hebat. Belum lagi ia mengerahkan tenaga untuk menyapunya, mereka
bertiga yang kena tangkis sudah dapat membebaskan diri. Kemudian dengan
serentak mencecar suatu serangan berantai yang dahsyat luar biasa. Tak
mengherankan, bahwa Sangaji benar-benar repot. Dalam seribu kerepotannya
mendadak teringatlah dia kepada Ratu Kenaka. Terus saja ia melesat bersembunyi
di belakang tubuh Ratu Kenaka.

Pada saat itu Panjang Mas melontarkan suatu serangan berbahaya. Cepat Sangaji
berputar di belakang punggung Ratu Kenaka. Kalau Panjang Mas tidak menarik
pedangnya, pasti tubuh Ratu Kenaka akan terbelah menjadi dua. Dalam kagetnya,
Ratu Kenaka sampai menjerit. "Hai! Hai!"

Apabila Alang-alang Cakrasasmita mencegat dari arah yang bertentangan, kembali


lagi, Sangaji berlindung di balik punggung Ratu Kenaka. Demikianlah terjadi
beberapa kali. Sekali ia pernah mencoba meraba mereka dengan pedang kayunya.
Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pahanya kena tusuk golok Sianyer. Maka cepat-
cepat ia berlindung di belakang punggung Ratu Kenaka sambil mengamat-amati
corak permainan mereka yang bagus luar biasa. Namun tetap saja ia belum
memperoleh titik-tolak serangan mereka, sehingga terpaksalah ia bermain kucing-
kucingan. Pikirnya di dalam hati, benar-benar mataku picak sekali. Terlalu rendah
aku menilai ksatria-ksatria Jawa Barat. Kini aku benar-benar menumbuk batu.
Apakah yang harus kulakukan untuk melawan mereka?

Sangaji benar-benar dalam keadaan bingung. Ia mengira bahwa setelah


mengantongi ilmu sakti keris Kyai Tunggulmanik, akan dapat melawan semua ilmu
sakti di persada bumi ini. Ia lupa, bahwa dirinya belum memiliki ilmu sakti yang
berada pada guratan pusaka Bende Mataram yang masih merupakan teka-teki
besar baginya. Karena itu, meskipun guratan ilmu sakti Kyai Tunggulmanik
merupakan sumber pokok dari sekalian ilmu sakti di kolong jagat ini, namun belum
memuat titik tolak rahasianya. Sangaji bukan Titisari yang berotak cerdas luar
biasa. Meskipun tidak boleh digolongkan manusia berotak bebal, namun reaksi atau
daya tanggapan pikirannya tidaklah secepat Titisari. Maka untuk sekian lamanya,
tetap saja ia belum menemukan titik rahasia permainan gabungan mereka.

Waktu itu, darahnya terus menetesi bumi tiada hentinya. Meskipun luka yang
dideritanya tidak parah, namun nampaknya ia menanggung suatu kerunyaman.

Dalam pada itu, terdengarlah suara tertawa penonton bergegaran. Mereka bukan
mentertawakan keadaan Sangaji tetapi Ratu Kenaka yang tetap berdiri tegak
bagaikan sebuah patung belaka. Karena itu dipergunakan sebagai perisai oleh
Sangaji, maka setiap kali suatu serangan tiba-tiba, hatinya seperti tercabut dari
dadanya. Oleh rasa kagetnya, ia memekik-mekik: "Hai-hai, uh ... eh atau hayaaah."
Terang sekali, ia mau mengelak atau menghindar. Namun tubuhnya tak dapat
digerakkan, sehingga ia hanya dapat mempergunakan suara mulutnya belaka.
Inilah yang menggelikan penonton kedua belah pihak.

Panjang Mas rupanya tidak begitu senang dengan Ratu Kenaka. Apalagi, ia kini
merasa dirintanginya. Setiap kali serangannya nyaris mengenai tubuh Sangaji,
selalu gagal karena Sangaji berlindung di belakangnya. Seketika itu juga timbullah
rasa gemasnya hendak membelah tubuh Ratu Kenaka saja. Namun mengingat,
bahwa Ratu Kenaka adalah seorang pendekar besar pula, terpaksalah ia
membatalkan maksudnya.

Kakek Begog rupanya tahu membaca keadaan hati Panjang Mas. Jangan dikira ia
seorang pendekar yang tolol benar-benar. Terus saja ia berteriak, "Panjang Mas!
Kau tak sampai hati membunuh pendekar beracun ini? Baik, kau tak sampai hati
tapi aku tidak. Lihat!"

"Siapa bilang aku tak sampai hati?" tungkas Panjang Mas dengan sengit.

Mereka berdua membabat tubuh Ratu Kenaka dengan berbareng. Sangaji terkejut.

Dalam detik-detik itu teriintaslah suatu pertimbangan dalam benaknya. Pikirnya, dia
mati, karena aku menggunakannya sebagai perisai. Kalau sampai mati, pastilah
akan timbul suatu ( persoalan baru lagi. lnilah yang tidak kuinginkan.
Dengan tangan kirinya ia mengibas. Suatu tenaga dahsyat luar biasa membendung
golok kakek Begog sampai terguncang miring. Sedangkan pedang Panjang Mas
hamper-ham-pir terpatah dari genggamannya.

Tetapi pada saat itu mendadak terdengar suatu kesiur angin. Itulah sambaran golok
Sianyer yang turun menebas pundak. Cepat Sangaji mengelak. Di luar dugaan,
golok Sianyer menyelonong terus mengancam tubuh Ratu Kenaka. Betapa dahsyat
tebasan itu, tapi apabila Sianyer mau pasti dapat ditahannya. Sebaliknya Sianyer
tidak bermaksud demikian. la hanya berteriak nyaring. "Hai Ratu Kenaka! Awas!"

Terang sekali, Sianyer bisa berbuat licik. Setiap orang tahu, bahwa Ratu Kenaka tak
dapat berkutik. Namun ia berpura-pura tak dapat menguasai goloknya. Di luar
dugaan, begitu golok Sianyer hampir tiba pada sasarannya, suatu tenaga besar
membentur goloknya. Sianyer mundur dua langkah dengan terhuyung-huyung.

Melihat Sangaji menyelamatkan jiwanya dua kali berturut-turut, gugurlah rasa


permusuhan Ratu Kenaka. Malahan dengan diam-diam. Ratu Kenaka mengucapkan
rasa terima kasih tak terhingga. Tetapi waktu itu serangan mereka berempat justru
beralih kepadanya. Mau tak mau hatinya menjadi kecut.

Menyaksikan perbuatan mereka, anak murid Gunung Mandalagiri serta pendekar-


pendekar pihak penyerbu lainnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tak
sependapat dengan perbuatan itu. Bahkan dalam hati mereka merasa malu.
Seumpama Sangaji akhirnya tertimpa suatu malapetaka semata-mata
menyelamatkan jiwa Ratu Kenaka, mereka akan ikut berduka cita.

Serangan Sianyer dan Begog tak pernah surut. Juga Panjang Mas dan Alang-alang
Cakrasasmita. Mereka mencecar Sangaji terus menerus dan sekali-kali menyerang
Ratu Kenaka yang tak dapat berkutik, Mereka sadar, bahwa untuk menyerang
Sangaji, tidaklah mudah. Satu-satunya pancingan ialah apabila mereka tiba-tiba
menyerang Ratu Kenaka. Dengan serangan itu, Sangaji terpaksa bergerak untuk
menolong. Kesempatan itu, dipergunakan sebaik-baiknya oleh Panjang Mas dan
Alang-alang Cakrasasmita untuk melontarkan suatu serangan dari belakang
punggung.

Setelah berlangsung beberapa kali, lambat laun serangan mereka beralih kepada
Ratu Kenaka. Tipu muslihat demikian benar-benar merisaukan hati Sangaji. Sebab
ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri saja, tetapi pun keselamatan nyawa Ratu
Kenaka.

Mereka pandai berpikir juga. Kalau aku sampai lengah, bukankah nyawa Ratu
Kenaka akan musnah? Apa perlu mengorbankan dia? pikir Sangaji. Memperoleh
pikiran demikian, segera ia melontarkan suatu pukulan dahsyat. Mereka kena
dimundurkan dengan berbareng dan pada saat itu pula ia membebaskan tubuh
Ratu Kenaka.
Kakek Sianyer rupanya berpenasaran. Begitu ia tegak kembali terus saja
menyerang Sangaji. Tapi serangannya kena dipunahkan dengan gampang. la
terpental ke samping dan tepat berada di depan Ratu Kenaka. Tanpa menyia-
nyiakan waktu yang baik, ia mengayunkan tangannya hendak menebas leher Ratu
Kenaka. Namun Sangaji benar-benar waspada. Tangan kirinya segera menghadang,
sehingga mau tak mau Sianyer terpaksa menarik serangannya. Tak terduga, bahwa
Ratu Kenaka kini sudah bisa bergerak dengan bebas. Begitu ia menarik goloknya,
tinju Ratu Kenaka singgah di hidungnya. Plak! Seketika itu juga, darahnya
menyembur dari lubang hidungnya.

Peristiwa itu terjadi dengan tak terduga sama sekali. Para pendekar kedua belah
pihak tahu, bahwa ilmu Sianyer jauh lebih tinggi daripada Ratu Kenaka. Apa sebab
sampai kena kemplangan begitu mudah? Soalnya, karena kakek itu tak pernah
menduga bahwa Ratu Kenaka dapat bergerak seperti sediakala berkat pertolongan
Sangaji. Perubahan yang mendadak itu benar-benar mengibuli penglihatannya.

"Hai! Kenapa kau ... kau ..." kata Sianyer.

"Kenapa bagaimana?" bentak Ratu Kenaka.

Alang-alang Cakrasasmita menengahi, "Ambil senjatamu dan bantulah kami!"

"Eh, enak saja kau main perintah. Aku ini apamu, sampai kau berani memerintah?"
potong Ratu Kenaka, tanpa memedulikan mereka, ia terus hendak memundurkan
diri. Di luar dugaan Begog, menghadang di tengah jalan dan terus menyerang.
Namun Ratu Kenaka bukan pula seorang pendekar murahan. Meskipun tak
bersenjata, masih bisa ia mengelak. Hanya saja, ia kalah cepat. Tahu-tahu siku
Begog menyodok dadanya. Dan ia terhuyung mundur sambil melontarkan darah
segar.

Alang-alang Cakrasasmita rupanya panas hati pula, karena kena dampratan. Sekali
ia mengayunkan tangan kirinya dan tubuh Ratu Kenaka terangkat naik. Kemudian
dilemparkan jauh nyaris tiba pada garis gelanggang. Hebatnya lagi, ia masih bisa
pula melontarkan serangan berantai terhadap Sangaji.

Ilmu pedang Alang-alang Cakrasasmita sesungguhnya merupakan ilmu pedang


bernilai tinggi. Sekarang ia bergabung dengan Panjang Mas. Hebatnya tak
terkatakan lagi.

Dalam pada itu kedua kakek dari Muara-binuangeun tidak membuka mulut lagi.
Mereka nampak bersungguh-sungguh. Serangan-serangan mereka kian teratur dan
berbahaya. Ini disebabkan, karena tiada lagi halangan. Ratu Kenaka sudah
terbuang jauh. Dengan demikian, serangan mereka benar-benar mengancam
keselamatan Sangaji.

Sangaji sendiri sebenarnya tidak terlalu khawatir menghadapi mereka. Tenaga


saktinya yang tiada bandingnya di dunia jauh lebih ulet daripada mereka.
Seumpama dipaksa untuk bertempur satu hari satu malam, takkan mengalami
suatu kemunduran. Sebaliknya kerja sama mereka berempatpun tidak gampang-
gampang untuk dapat digempur hancur. Sebab yang satu menjaga, sementara
lainnya bergerak menyerang. Lagi pula, tipu muslihat dan keragaman corak
pertempurannya selalu berubah dan tiada habis-habisnya.

Pertarungan sengit ini membuat setiap penonton berdebar-debar hatinya. Mereka


tahu, bahwa ilmu gabungan Jawa Barat merupakan suatu ilmu sakti yang bernilai
sangat tinggi. Sebaliknya, tenaga sakti Sangaji yang luar biasa bukan pula berada di
bawahnya. Kedua corak permainan mereka, benar-benar bermutu sangat tinggi.
Rupanya bertitik tolak pada suatu sumber yang sama. Bedanya corak ilmu
gabungan mereka lebih banyak ragamnya. Sedangkan ilmu pertahanan Sangaji
yang diperlihatkan sangat sederhana dan utuh.

Kedua pedang Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita terus mendesak dengan
tekanan makin lama makin berat. Sedangkan kedua golok Begog Sianyer terus-
menerus merangsak dari arah yang bertentangan. Beberapa kali Sangaji mencoba
meloloskan diri dari kepungan mereka dengan menggunakan ilmu Mayangga Seta.
Ia selalu berhasil. Dan apabila mau, sebenarnya ia bisa melarikan diri dengan
mengandalkan ilmu larinya yang takkan terkejar oleh mereka. Tapi hai itu berarti
pula, bahwa ia gagal hendak menolong keruntuhan Himpunan Sangkuriang. Satu-
satunya jalan, ia harus bertahan serapat-rapatnya dengan sekali-kali melontarkan
pukulan ilmu sakti Kumayanjati. Dan kemudian setelah letih, ia akan melancarkan
serangan balasan.

Sama sekali tak diduganya, bahwa mereka berempat sesungguhnya merupakan


empat pendekar yang ulet dan tabah. Serangan-serangan mereka tiada nampak
kendor. Malahan sama sekali tiada nampak tanda-tanda letih atau payah. Maka
terpaksalah Sangaji bertahan sedapat-dapatnya sambil mengamat-amati rahasia
ilmu mereka.

Alang-alang Cakrasasmita dan kawan-kawannya meskipun merasa diri unggul,


namun dalam hati mereka termasuk tokoh-tokoh pimpinan penyerbu. Menurut
pantas, mereka tak boleh main keroyok terhadap seorang lawan. Untung, Sangaji
tadi sudah mengalahkan pendekar Sindung Riwut yang disegani lawan dan kawan.
Dengan demikian, mereka tak usah khawatir akan merosot pamornya dalam
percaturan hidup.

Lambat laun, serangan Sangaji terasa makin sempit. Malahan hampir-hampir tak
dapat membuat suatu serangan balasan. Tetapi sebaliknya, mereka berempat tak
dapat juga menyentuh tubuhnya. Apabila senjata mereka nyaris meraba kulit
Sangaji, tiba-tiba saja menebas udara kosong. Dan tubuh Sangaji sudah berada di
tempat lain dengan suatu gerakan yang sukar dimengerti.

Namun mereka adalah golongan pendekar yang sudah banyak makan garam. Makin
sudah menghadapi lawan, makin sadarlah mereka. Seperti berjanji, mereka kian
tekun dan tidak gegabah. Mereka sadar, apabila keburu nafsu pastilah akan gagal.
Dengan demikian, serangan mereka kini berubah menjadi tertib. Dan tidak lagi asal
menyerang seperti tadi. Maka corak pertempuran mereka kini berubah seperti
saling bertahan dan saling mengamat-amati. Saat demikian, dipergunakan dengan
sebaik-baiknya oleh tiap-tiap perguruan untuk memberi keterangan atau
pengajaran terhadap murid-murid dari tingkatan rendah.

Para pendekar Himpunan Sangkuriang yang masih saja belum bisa berkutik, tidak
pula tinggal diam. Otong Surawijaya yang sela manya bermulut usilan terus saja
berseru, "Hai Tatang Sontani! Selamanya kau berotak encer. Coba bagaimana
pendapatmu?"

"Andangkara lebih hebat daripadaku," sahut Tatang Sontani pendek.

"Aku bertanya kepadamu, bukan dia!" damprat Otong Surawijaya,. "Lihatlah! Ilmu
pemuda itu sangat aneh. Meskipun ia masih bisa mengelak, namun ilmu gabungan
mereka makin lama makin sukar diraba. Apa sebab?"

"Hm, apa sih hebatnya? Bukankah mereka bertitik tolak pada delapan penjuru
angin?" sahut Tatang Sontani.

"Delapan penjuru angin bagaimana?" Otong Surawijaya mendesak.

Tokoh-tokoh Himpunan Sangkuriang yang menggeletak tak dapat berkutik itu,


bukanlah pendekar-pendekar lumrah. Mereka berkepandaian sangat tinggi.
Meskipun tubuhnya kini tak dapat berkutik, namun pikirannya masih bekerja seperti
biasa. Itulah sebabnya, mereka bisa berpikir dengan leluasa.

Dan semenjak tadi, Sangaji tahu bahwa mereka ikut berprihatin. Dan begitu
mendengar percakapan mereka, segera ia menaruh perhatian. Kata Tatang Sontani,
"Delapan penjuru angin yang diputar balik. Lihatlah dengan saksama! Setiap kali
mereka hendak menyerang, pasti mereka bergerak mundur. Kemudian maju ke titik
pusat. Tiba-tiba memasuki penjuru seorang di depannya."

"Ya, ya ... ya, aku tahu. Cuma garis serangan mereka tidak lurus. Apa sebab?"

"Baiklah kuterangkan agak jelas. Penjuru satu: timur. Lantas barat, selatan dan
utara. Terbagi empat penjuru lagi. Timur laut, tenggara. Barat laut dan barat daya.
Jadi delapan penjuru. Tetapi mereka tidak melalui garis lurus. Mereka membagi lagi
menjadi delapan garis pecahan. Dengan demikian menjadi enam belas pecahan.
Kemudian mereka membuat garis lingkaran menjadi empat bagian. Jumlahnya
sekaligus menjadi 4 x 16 = 64 garis titik tolak. Kalau ini dikalikan secara timbal
balik sekaligus berjumlah 64 x 64. Masih pula mereka menggunakan garis-garis
miring yang berjumlah 64 x 9. Nah, berapa jumlahnya?"

"Kau hitunglah sendiri! Biar aku mendengarkan saja!" gerutu Otong Surawijaya.
Tiba-tiba Tubagus Simuntang menyahut, "Itulah mudah. Semua berjumlah 4096 +
666 = 4762 garis.

"Bagus! Sekarang kalikan timbal baliknya!" seru Tatang Sontani.

"Itulah ruwet sekali. Apakah maksudmu 4762 x 4762 ? (= 22.676.644).

"Ya."

"Ouuu ... siapa mau menghitung begitu?" tungkas Otong Surawijaya. "Kalau begitu,
masakan berarti pula bahwa pemuda itu tidak dapat mengatasi mereka?"

Tatang Sontani tak segera menjawab. Sebaliknya Andangkara yang selama itu
berdiam diri, kemudian menyambungi.

"Otong Surawijaya! Kau menguasai ilmu Jala Sutra lndrajaya. Masakan tak mengerti
perdamaian mereka?"

"Eh, apakah titik-tolaknya sama?"

"Kenapa tidak? Betapa ruwet permainan mereka, namun kaki mereka tetap berpijak
pada titik-tolak serangan mereka. Apabila anak muda itu bisa mendahului, pastilah
mereka bakal keripuhan. Karena sekali kena didahului, membuat permainan timbal
balik mereka macet di tengah jalan."

"Ya, bagus! Bagus!" seru Otong Surawijaya gembira. Namun tiba-tiba jadi prihatin.
Katanya, "Tapi iblis siapa yang bisa bergerak sece-pat itu?"

"Simuntang pasti mampu," kata Dadang Wiranata.

"Ah ya ... Apakah pemuda itu bisa menyamai kegesitan Simuntang? Itulah soalnya,"
kata Otong Surawijaya.

"Otong!" seru Simuntang. "Kunyatakan sekarang, bahwa dibandingkan dengan


pemuda itu, ilmu lariku jauh berada di bawahnya. Bahkan aku pantas menjadi
muridnya. Kau percaya, tidak?"

Mendengar percakapan mereka, Sangaji tersadar. Ia sudah mempunyai


pengalaman melawan barisan Jala Sutra lndrajaya. Ontuk melawan mereka, ia
harus mengadu kegesitannya. Dan ia berhasil.

Oleh ingatan itu segera ia mengamat-amati gerak tipu mereka. Benar juga.
Meskipun sangat ruwet dan selalu berubah, namun kedua kaki mereka tetap
berpijak kepada kiblat delapan penjuru angin. Gerak-gerik mereka serasi dan saling
menutup. Apabila yang satu maju, lainnya menimpali. Dan yang dua menjaga
kelemahan mereka. Begitu terjadi suatu perubahan, dengan cepat mereka
menggeser dan kembali saling menimpali.
Sebenarnya, Sangaji bukanlah seorang pemuda yang pandai ilmu berhitung seperti
Titisari. Namun ia sudah memiliki ilmu sakti tertinggi di dunia. Begitu melihat, maka
berkelebatlah ragam ukiran keris sakti Kyai Tunggulmanik dalam benaknya.
Bagaimana cara memecahkan, segera ia mengetahui dengan jelas. Itulah
disebabkan, karena kunci titik tolaknya sudah terdapat dengan terang gamblang.
Maka kini, ia tidak lagi kelabakan melayani gerak tipu muslihat mereka.

Biarlah aku mengamat-amati sekali lagi, pikirnya.

Alang-alang Cakrasasmita dan Panjang Mas waktu itu nampak makin bersemangat.
Apalagi kedua kakek Sianyer dan Begog benar menguasai gerak tipu muslihat ilmu
goloknya. Maka serangan mereka mendadak menjadi kian rapat dan dahsyat.

Sebaliknya Manik Angkeran yang juga mendengarkan uraian tokoh-tokoh sakti


Himpunan Sangkuriang menjadi khawatir. Sebagai seorang tabib, ia lebih cepat
dapat dibuatnya mengerti tentang lika-liku persoalan betapa rumitpun. la sadar,
bahwa pemecahannya tidaklah mudah. Mengingat Sangaji masih saja belum
berdaya menghadapi mereka, hatinya tak tahan lagi. Terus saja ia berteriak.

"Apa-apaan ini? Empat orang mengeroyok seorang lawan. Masakan tidak malu?"

"Bangsat!" maki Panjang Mas. "Kau monyet kecil apa perlu ikut campur?'*

"Hm ... kau tahu, bahwa kawanmu bakal mampus bukan?" ejek Alang-alang
Cakrasasmita.

Karena rahasia hatinya kena terbongkar, mulut Manik Angkeran mendadak tergugu.
Sebaliknya diam-diam Sangaji terharu melihat sepak-terjang Manik Angkeran yang
selalu menaruh perhatian atas keselamatannya. Maka dengan tertawa gelak ia
berkata, "Kau tak usahlah gelisah. Ilmu begini macam, sebenarnya belum bisa
merobohkan aku. Kau percaya, tidak?"

"Tentu saja aku percaya!" sahut Manik Angkeran.

"Eh enak saja kau mengumbar mulut," potong Panjang Mas. "Kalau bisa
meruntuhkan kami, hayo buktikan!"

"Kalian ingin aku membuktikan?" kata Sangaji.

"Cobalah, kalau mampu!" bentak Alang-alang Cakrasasmita. "Apa taruhannya?"

"Kalau kami kena kauruntuhkan, kami semua akan meninggalkan gunung."

"Benarkah itu?"

"Ucapan seorang laki-laki!"

"Bagus! Dan kau bagaimana Aki?"


"Aku?" sahut Begog. "Aku sih ... mau saja. Tapi anak muda, bagaimana kau bisa
mengalahkan kami?"

"Jangan cerewet!" bentak Sianyer.

Mereka berempat terus melancarkan serangan lagi. Tiba-tiba Sangaji melangkah


dua langkah ke kiri. Pedang kayunya dikibaskan ke kanan. Suatu angin dahsyat
berkesiur menghantam punggung Sianyer. la terpaksa ber-geser mundur. Karena
pergeseran itu, mereka ikut merubah titik serangan. Tak terduga, Sangaji
mendesak lagi ke kiri dan membarengi mengibaskan pedang kayunya. Trang! Entah
apa sebabnya, pedang Panjang Mas sekonyong-konyong membentur golok Begog.

Itulah ilmu sakti ukiran Kyai Tunggulmanik yang tertinggi. Namanya, ilmu Guntur
Wijaya atau ilmu adu sakti. Maksudnya mengadu dua kekuatan lawan yang saling
bertentangan kedudukannya.

Sudah barang tentu, ilmu demikian tak pernah termasuk dalam perhitungan
mereka. Panjang Mas hanya terkejut. la mengira, dirinya tak becus menguasai
sasaran pedangnya. Sebaliknya, Begog yang kena bentur segera memutar goloknya
kencang-kencang. Dengan memberi isyarat kepada Sianyer ia merangsak Sangaji.
Tak terduga, golok mereka tiba-tiba menjadi miring arahnya dan menghantam
pedang Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita dengan berbareng.

Cepat-cepat mereka berputar arah. Tapi sekali lagi, mereka saling berhantam,
sehingga kakek Begog berkaok-kaok.

"Hai! Hai! Bocah ini mempunyai ilmu siluman. Awas jangan sampai kena
perangkapnya."

Mendengar seruan Begog, Panjang Mas tersadar. Segera ia menggeser tempat ke


kiri. Tapi dengan gerakan sedikit, Sangaji kembali mengacaukan serangan
gabungan mereka. Dan kembali mereka saling menikam. Pantat Begog kena tusuk.
Sebaliknya lengan Panjang Mas terluka pula. Sianyer dan Alang-alang Cakrasasmita
tidak bebas pula dari suatu luka. Masing-masing mendapat hadiah satu tusukan
yang agak lumayan pula parahnya.

Perubahan yang aneh itu, membuat Sianyer berseru dengan tergopoh-gopoh.

"Begog! Jangan bingungJ Bocah ini pandai ilmu gila."

la terus menjejak tanah menyambar dari atas. Sangaji mengibaskan tangan. Dan
serangan Sianyer beralih mengarah Panjang Mas. Gugup Panjang Mas menyabetkan
pedangnya hendak menangkis. Tahu-tahu golok Begog menebas perutnya. Dalam
gugupnya, ia sampai menjerit, maka dengan mati-matian Alang-alang Cakrasasmita
memegat arah tebasan golok itu. Tak terduga sama sekali, bahwa golok Sianyer
tiba-tiba memukul kepalanya. Itulah akibat ilmu sakti Sangaji yang diatur demikian
rupa, sehingga sekali lagi mereka saling melukai.
Dan begitulah, dalam sekejap mata saja ilmu gabungan mereka hancur. Penonton
kedua belah pihak menjadi gempar berbareng heran. Mereka melihat Sangaji
menggoyang-goyangkan pedang kayunya. Dan golok Begog kembali kena
dibelokkan menghantam pinggang Alang-alang Cakrasasmita. Sebaliknya pedang
Panjang Mas menusuk tulang rusuk Sianyer.

Beberapa saat kemudian, sekonyong-konyong kedua pedang Panjang Mas dan


Alang-alang Cakrasasmita saling menghantam. Dan kedua kakek itupun saling
bertempur dengan serunya seperti kemasukan setan.

Sampai di situ, teranglah sudah, bahwa Sangaji berhasil menghancurkan ilmu


gabungan keempat pendekar sakti yang merupakan tokoh pimpinan penyerbuan.
Hanya saja, mereka tak mengerti bagaimana cara Sangaji mengacaukan permainan
mereka.

Di antara para pendekar Himpunan Sangkuriang, hanya Tatang Sontani sendiri yang
memahami ilmu sakti Sangaji.

Ia memiliki ilmu sakti Tunggulwulung yang dapat pula mengalihkan tenaga lawan
seperti yang pernah dibuktikan tatkala ia dikeroyok rekan-rekannya di pendapa
agung. Namun tak pernah ia mengira, bahwa di jagat ini ada seorang pemuda yang
dapat melatih ilmu sakti semacam itu demikian sempumanya. Maka kali ini, benar-
benar ia merasa kagum dan takluk.

Makin lama Sangaji makin keras menggoyangkan pedang kayunya. Itulah cara dia
mengalihkan titik pusat sasaran serangan. Sewaktu keempat lawannya kena ditarik
ke titik pusat, tangan kirinya berputar-putar melepaskan ilmu ciptaan Kyai Kasan
Kesambi, Sura Dira Lebur dening Pangastuti. Hebat akibatnya. Keempat pendekar
itu mendadak saja seperti kena seret suatu arus gelombang dahsyat. Tahu-tahu
mereka saling bertempur dengan serunya. Tidak peduli mereka berusaha hendak
membebaskan diri, namun tetap saja mereka terlengket pada garis lingkaran.

"Sianyer!" teriak Begog. "Kenapa kau malah menggebuk aku?"

"Aku hendak menebas bangsat cilik ini. Masakan aku menyerang kau?" damprat
Sianyer.

"Kalau begitu... kalau begitu... golokku mungkin menghantam tengkukmu!" seru


Begog. Benar juga. Begitu ia menebaskan goloknya ke arah leher Sangaji,
mendadak saja berubah arah. Dengan derasnya, goloknya benar-benar mengancam
tengkuk kakak seperguruannya.

Alang-alang Cakrasasmita yang . bergerak hendak menimpali permainan mereka,


terguncang pula pedangnya. Hampir saja pedangnya menusuk ulu hati Panjang
Mas. Dan mengalami perubahan demikian, Panjang Mas lalu melemparkan
pedangnya ke tanah. Kemudian mundur meninggalkan gelanggang.
Sebaliknya Begog masih penasaran. la melemparkan goloknya pula, tapi dengan
mendadak menghantam dada Sangaji dengan tinjunya. Dengan tersenyum Sangaji
mengibaskan tangan. Dan tinju Begog membelok arahnya dan menggebuk tengkuk
Panjang Mas yang sedang berjalan meninggalkan gelanggang. Keruan saja Panjang
Mas terkejut mendengar kesiur angin. Cepat ia menyongsong serangan itu. Bres!
Kedua pendekar itu terjengkang mundur dengan berbareng.

Panas hati Alang-alang Cakrasasmita melihat rekannya diserang kakek Begog.


dalam keadaan tak berjaga-jaga, pedangnya hendak menyambar. Sekonyong-
konyong Panjang Mas berteriak, "Lemparkan pedangmu! Dia tak bermaksud
menyerang aku!"

Mendengar teriakan itu, Alang-alang Cakrasasmita membuang pedangnya jauh-


jauh. Kemudian dengan pandang kagum luar biasa, ia mengamat-amati wajah
Sangaji.

"Anak muda! Kau hebat! Aku akan menepati ucapanku," katanya dengan menghela
napas. "Agaknya Himpunan Sangkuriang masih jaya. Sudah terang keruntuhannya
tinggal di ambang pintu siapa mengira, tiba-tiba muncullah engkau sebagai dewa
penolong. Selamat!"

Setelah berkata demikian, ia melambaikan tangannya. Lalu mendahului turun


gunung.

Para pendekar lainnya dengan berdiam diri pula mengikuti dari belakang. Panjang
Mas, kakek Begog dan Sianyer serta Ratu Kenaka tidak lagi membuka suara.
Mereka mengakui Alang-alang Cakrasasmita sebagai pimpinan penggerebegan.
Sekarang ia sudah menyatakan turun gunung. Maka mereka tak berhak untuk
membangkang. Demikianlah sebelum sore hari tiba, lembah ketinggian Gunung
Cibugis telah bersih dari kaum penyerbu. Ketenangannya mulai meresap dan
mengalir ke dalam tubuh tiap Himpunan Sangkuriang.

Sangaji sendiri waktu itu mendadak saja terpaku tak ubah area. Seluruh tubuhnya
terasa lemah lunglai. Bukan karena ia telah kehilangan tenaga, tetapi semata-mata
oleh kegoncangan hatinya.

Selama hidupnya belum pernah ia berbicara selincah itu. Menilik wataknya yang
sederhana dan pendiam, terang sekali bahwa kejadian demikian adalah semata-
mata memaksa diri, demi keselamatan Himpunan Sangkuriang. Oleh hebatnya
pertentangan antara wataknya yang asli dan kesadaran akalnya, kini ia tergempur
dari dalam. Seperti tiada bersendi tulang, sekonyong-konyong ia jatuh terjongkok.
Dan ia berdiam diri seolah-olah kehilangan kesadarannya.

Anda mungkin juga menyukai