Anda di halaman 1dari 62

47.

TITISARI

TATKALA Ratu Bagus Boang dahulu hiiang tiada kabar beritanya, Himpunan
Sangkuriang lantas saja pecah berantakan. Para Raja Muda saling memperebutkan
kedudukan kursi pim-pinan. Hanya Maulana Syafri seorang yang tidak memedulikan
perebutan itu. Ia yakin, bahwa Ratu Bagus Boang belum mati. Maka ia mencarinya
bertahun-tahun lamanya. Mengira Ratu Bagus Boang mungkin ditawan himpunan
para pendekar, ia lalu memusuhi mereka. Sarang mereka didatangi dan diaduk-
aduknya, sehingga banyak menimbulkan korban.

Maulana Syafri memiliki ilmu silat yang sudah mencapai kesempurnaan. Dalam
kalangannya sendiri, ia termasuk tokoh yang disegani sesudah Ratu Bagus Boang.
Maka tak mengherankan, bahwa tindakannya menimbulkan suatu kegemparan
hebat yang kelak menanamkan bibit permusuhan serta balas dendam. la sendiri
tiada terlawan. Belum per-nah ia dikalahkan. Sebaliknya dendam mereka
dialamatkan kepada setiap anggota Himpunan Sangkuriang. Namun hal itu tidak
diindahkan. Tujuannya hanya satu, Ratu Bagus Boang harus diketemukan kembali.

Akan tetapi betapa ia berusaha, tetap ia tak memperoleh hasil. Ratu Bagus Boang
tetap lenyap tiada kabar beritanya.

Dalam pada itu, ia mendengar rekan-rekan seperjuangan semakin seru


memperebutkan kursi pimpinan. Akhimya mereka saling mem-bunuh, saling
memfitnah dan saling ber-musuhan. Himpunan Sangkuriang pecah men-jadi
beberapa bagian dengan panji-panji kebe-saran masing-masing.

Kursi pimpinan memang merupakan pun-cak idaman setiap raja muda. Barangsiapa
menduduki kursi pimpinan, suaranya akan didengar oleh setiap pejuang.
Pengaruhnya akan meluas. Seumpama melampaui puncak-puncak gunung dan
permukaan laut.

Mendengar berita yang mengenaskan hati itu, Maulana Syafri berputus asa. Ia
masuk menjadi serdadu kompeni. Tujuannya perta-ma, hendak melindungkan diri
dari incaran balas dendam para pendekar. Kedua, menghisap-hisap berita rencana
penyerbuan kompeni dan ketiga, hendak menunggu saat pe-mulihan kembali
kewibawaan Himpunan Sangkuriang.

Pada suatu hari tatkala ia berada di wilayah Cirebon ia menjumpai suatu peristiwa
yang belum pernah dialami semenjak ia malang melintang tanpa tandingan. Ia
bentrok dengan Kebo Bangah. Grusannya hanya sepele saja. Pendekar gila itu
memaksa dirinya untuk memberi keterangan di manakah beradanya sang
Dewaresi.

Maulana Syafri tak tahu, bahwa Kebo Ba-ngah miring otaknya. Ia menganggapnya
sungguh-sungguh. Sedang ia sendiri lagi pu-sing mencari Ratu Bagus Boang,
mengapa ada orang yang berani memaksa untuk memberi keterangan tentang
beradanya sang Dewaresi yang tiada sangkut pautnya dengan kepenti-ngannya.
Dasar ia seorang pendekar yang selamanya mau menang sendiri, maka dalam
jengkelnya ia membentak.

"Apakah kau mencari orang itu?"

"Ya, di manakah anakku Dewaresi? Kau harus bisa memberi keterangan. Kalau
tidak, kau harus mengganti nyawanya," sahut Kebo Bangah.

"Dia mampus atau tidak, apa peduliku?"

"Siapa yang mampus?" Kebo Bangah terke-jut. Dan wajahnya berubah hebat.
Namun Maulana Syafri tidak memedulikan. Tiba-tiba di luar dugaannya, Kebo
Bangah menubruk sambil menggigit. lnilah suatu serangan tanpa aturan. Namun
demikian ia tak berani meman-dang rendah, karena suatu kesiur angin dah-syat
menghantam dirinya. Cepat ia melompat ke samping sambil menangkis. Plak!
Kedua-duanya tergetar mundur.

"Ha... kau bilang anakku mampus? Raja langit sekarang tiba untuk minta pengganti
nyawa. Mana nyawamu? Mana nyawamu?" teriak Kebo Bangah. Dan dengan mata
ber-putaran pendekar gila itu tertawa berkakak-an.

Bukan main herannya Maulana Syafri. Biasanya seorang pendekar meski memiliki
ilmu tinggi, tidakkan berani beradu tangan dengan dia. Kini orang itu tidak hanya
sudah beradu tangan, tapipun masih bisa tertawa se-olah-olah kebal dan segala.
Diam-diam hati-nya tercekat pula. Cepat ia melolos pedangnya dan maju
menyerang tanpa segan-segan lagi.

Kebo Bangahpun tidak tinggal diam. Melihat lawannya menggunakan pedang, ia


segera menjumput tongkatnya. Lantas saja mereka bergebrak dengan serunya.

Setelah bertempur beberapa jurus, Maulana Syafri menjadi heran ilmu silat lawan
ini benar-benar aneh. Dia berkelahi dengan ber-nafsu. Anehnya, kadangkala ia
mencakar mu-kanya sendiri. Adakalanya, ia menyentil, men-dupak lututnya sendiri.
Pada suatu saat ia me-nyerang dahsyat. Mendadak menarik serang-annya kembali
di tengah jalan. Lalu mengubah dengan jurus lain sambil berjungkir balik.

Ilmu silat Maulana Syafri sendiri, sebenarnya banyak ragamnya. Ia sering


mencampur aduk-kan. Namun jurus-jurusnya teratur. Dan bukan saling
bertentangan seperti cara berkelahi Kebo Bangah.

Menyaksikan cara berkelahi demikian, Maulana Syafri mengambil sikap membela


diri. Ia mencoba menyelami ilmu silat lawannya.

Lewat beberapa jurus, kembali Kebo Bangah memperlihatkan keanehannya. Tiga


kali beruntun, menggaplok mukanya sendiri dan memekik-mekik kesakitan. Setelah
itu dengan sekonyong-konyong ia merayap menghampiri Maulana Syafri dengan
melonjorkan kedua lengannya kencang-kencang.

Maulana Syafri tidak mengetahui, bahwa Kebo Bangah miring otaknya akibat
gempuran ilmu sakti Sangaji. Maka gerak geriknya serba aneh dan memang gila
benar-benar.

Namun Maulana Syafri memiliki jiwa liar pula. Meskipun belum boleh disebut gila,
seti-dak-tidaknya boleh digolongkan pendekar gila pula. Pada saat itu dia berpikir,
keistimewa-anku memang menggebuk anjing-anjing Belanda. Kau sekarang
merayap seperti anjing. Jangan salahkan aku mengirim nyawa anjing-mu ke neraka
jahanam!

Memikir demikian, pedangnya menusuk pinggang lawan. Di luar dugaan, Kebo


Bangah dapat bergerak sangat gesit Tiba-tiba ia mem-balikkan tubuhnya. Ojung
pedang ditindihnya. Dan tubuhnya menggulung bergulungan mendekati pangkal
pedang. Keruan saja, Maulana Syafri terkejut setengah mati. Cepat ia melepaskan
pedangnya dan melompat ke samping. Tak terduga, Kebo Bangah mendadak
melesat ke udara. Dengan dibarengi teriakkan tinggi, kedua kakinya menendang ke
arah mata Maulana Syafri. Juga kedua tangan-nya menghantam dari atas.

Dengan hati mencelos, Maulana Syafri melompat mundur. Kemudian menyongsong


gempuran Kebo Bangah dengan pukulan pula. Bres! Kedua-duanya terpelanting
berjungkir balik.

Begitu kakinya mendarat di tanah, Maulana Syafri duduk berjongkok menguasai


darahnya yang bergolak belingsatan. Sebaliknya setelah berkaok-kaok sebentaran
Kebo Bangah terus berteriak dengan mengaduh-aduh.

"Dewaresi anakku... kau benar-benar mam-pus, anakku? Ah, ayahmu ini manusia
tidak berguna sampai tak dapat melindungi jiwa-mu ..."

Sehabis berkata demikian, dengan sekali melesat ia menghampiri Maulana Syafri


de-ngan gaya merangkul. Saat itu Maulana Syafri lagi bergulat menguasai aliran
darahnya. la belum berani bergerak. Sekali kena rangkulan Kebo Bangah, jiwanya
akan lenyap. Maka begitu melihat Kebo Bangah mendekatinya, ia memejamkan
mata menunggu maut. Pada detik-detik kematian berada di ujung rambut, tiba-tiba
ia mendengar suara bentakan. "Kebo Bangah! Kau tak kenal aku? Bagus! Inilah
Sangaji!"

Heran, Maulana Syafri menjenakkan mata. la melihat seorang gadis berdiri


menghadang di depannya. la menyebut diri Sangaji. Apakah dia bernama Sangaji.

Selagi menebak-nebak dalam saat selin-tasan itu, ia menyaksikan suatu kejadian


aneh lagi. Kebo Bangah mendadak saja memekik terkejut. Dengan berjungkir balik
ia melesat mundur sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Sangaji? Sangaji? Hayaaaaa...." Dan sebentar saja tubuhnya lenyap dari
penglihatan.

Menuruti kata hati, ingin Maulana Syafri segera menghaturkan terima kasih. Tapi
teringat bahwa luka yang dideritanya tidak ringan, ia tidak berani bergerak. Tak
terduga gadis itu menghampirinya dan mengirim-kan tenaga bantuan pula. Oleh
bantuan tena-ga itu, luka dalam yang diderita Maulana Syafri sembuh dengan
cepat, meskipun belum boleh dikatakan pulih seperti sediakala. Tapi dengan
demikian, ia sudah berutang budi dua kali.

Akhirnya setelah berhasil meluruskan per-napasan, Maulana Syafri memaksa diri


untuk menyatakan rasa terima kasih.

"Nona, budimu sangat besar. Aku seorang tua berjanji takkan mampus dahulu
sebelum membalas budimu."

"Hm..." gadis itu mendengus. "Dalam hidup-ku sudah sering aku menerima janji dan
budi. Kedua-duanya memang enak untuk didengar-kan."

Maulana Syafri adalah seorang pendekar yang mudah tersinggung. Maka begitu
men-dengar ucapan gadis itu, ia merasa diri diren-dahkan. Lalu berkata nyaring,
"Meskipun aku ini tergolong manusia tak berguna, tanpa bantuanmu masakan aku
sudah memiliki nyawa anjing?"

"Bagus," sahut gadis itu dengan cepat. "Kau berjanji hendak membalas budi. Budi
yang mana?"

"Engkau sudah menyelamatkan jiwaku sampai dua kali."

"Apakah itu suatu budi?" potong gadis itu Iagi. "Selama hidupku, belum pernah aku
jual beli perkara budi. Kalau aku mau menolong, sebenarnya untuk kepentingan
sendiri. Kalau tadi aku tidak mempunyai kepentingan, biarpun engkau mampus apa
peduliku?"

Maulana Syafri tercengang mendengar kata-kata gadis itu. Karena jiwanya rada-
rada liar, maka ia segera merasa diri cocok dengan lagak lagu gadis itu. Terus saja
ia berkata, "Bagus! Kau tak mau jual beli perkara budi, aku pun tak sudi berpegang
perkara budi pula. Tapi ada utang ada pula piutang. Aku merasa berutang dan aku
pasti membayar."

"Hm," dengus gadis itu lagi. "Kau pernah mengenal burung gagak?"

"Mengapa?"

"Itulah engkau manusia yang banyak mulut."

Bukan main tajamnya lidah gadis itu. Kalau menuruti hati seseorang bersikap
kurang hor-mat kepadanya, ia sudah turun tangan. Tapi kali ini, entahlah. Selain ia
merasa berutang budi, hatinya semakin tertarik. Dan karena ke-jadian itu
bertentangan dengan kebiasaannya, jadi tergugu. Kemudian tercengang-cengang.
Dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Nona! Kau ini lucu!" katanya meledeki.

"Apanya yang lucu?"

"Masakan aku kausamakan dengan burung gagak?"

"Masakan tidak?"

"Hm" dengus Maulana Syafri mendongkol.

"Hm" balas gadis itu. Dan diperlakukan de-mikian, Maulana Syafri merasa
kuwalahan. Akhirnya ia mau mengalah. Katanya minta ke-terangan, "Baiklah-
baiklah. Memang aku tak lebih dari seekor burung gagak. Memangnya aku ini
manusia tak ada gunanya."

"Mengapa tiada gunanya?" Gadis itu memo-tong.

"Aku bilang tak ada gunanya, ya tidak ada gunanya."

"Mengapa Nona begini melit?"

"Aku melit atau tidak, apa pedulimu?"

"Baik-baik...."

"Apa yang baik?"

Maulana Syafri mendongkol, lalu tertawa geli. Katanya lagi, "Nona... kau tadi bilang,
bahwa engkau merasa tidak menyelamatkan nyawaku. Mengapa?"

"Kau ini memang benar-benar burung gagak," potong gadis itu dengan sengit.
"Siapa bilang, aku merasa tidak menyelamatkan nyawamu?"

"Ah, Nona yang baik hati. Masakan ku-pingku bisa tuli?"

"Kau memang tuli!" sahut gadis itu cepat. "Aku tadi bilang, selama hidupku belum
per-nah aku jual beli perkara budi. Kalau aku mau menolong, sebenarnya untuk
kepentinganku sendiri."

"Ah, ya," Maulana Syafri tersadar. Kemudian berkata merasa: "Ya, memang pantas.
Aku memang burung gagak."

Gadis itu tertawa geli. Katanya nakal, "Aku tadi cuma mengumpamakan. Tak
tahunya, kau kini benar-benar mengakui memang burung gagak. Kau jangan
menuduh, aku tak menghargai atau menghinamu."
"Ya—ya—ya..." Maulana Syafri memanggut-manggut. Dalam hatinya ia mendongkol
berbareng geli. Selama hidupnya, inilah untuk pertama kalinya, ia kena diselomoti
seorang gadis muda belia terang-terangan di depan hidungnya. "Baiklah kau
memang cerdik," katanya sejenak kemudian. "Baiklah—Nah sekarang terangkan,
apa kepentinganmu sam-pai kau sudi menolong aku?"

"Kepentinganku ialah kepentinganku. Ma-sakan perlu dikabarkan kepada lain


orang?"

Mendengar ujar gadis itu yang menjeng-kelkan hati, habislah sudah kesabarannya.
Maulana Syafri lantas membentak, "Karena kepentinganmu bersangkut-paut
dengan kepentinganku. Kau mau bilang tidak?"

"Kalau tidak mau bilang kau mau apa?"

"Aku cuma ingin tahu!" jerit Maulana Syafri karena mendongkol.

Gadis itu terdiam sejenak. la seperti lagi menimbang-nimbang. Mendadak berkata


di luar dugaan.

"Kau tadi mengaku sendiri: seekor burung gagak, masakan bisa menghargai
keterang-anku?"

Setelah berkata demikian, gadis itu tertawa geli. Dan hati Maulana Syafri
bertambah men-dongkol sampai matanya melotot. Dengan bergusar ia berkata:

"Nona! Selama hidupku, inilah untuk yang pertama kali aku bersikap sabar
kepadamu. Selamanya aku main paksa. Dan selamanya tidak seorangpun berani
membantah perin-tahku. Bukankah sedikit banyak aku lebih ber-harga daripada
burung gagak?"

Kata-kata Maulana Syafri sebenarnya bukan bualan kosong. Ia seorang Raja Muda
Himpunan Sangkuriang dan menduduki kursi Dewan Penasihat. Kata-katanya
berharga seumpama sebutir mutiara. Selain ilmu silat-nya tinggi, ia dijunjung tinggi
pula oleh kawan dan lawan. Tetapi gadis itu yang tak tahu siapa dia, tetap saja
membawa wataknya yang angin-anginan. Acuh tak acuh ia menyahut, "Kau bilang
selamanya kau main paksa. Baik, kau sekarang memaksa aku memberi ke-
terangan, bukan?"

"Aku main paksa atau tidak, pendeknya kau harus memberi keterangan," kata
Maulana Syafri penasaran.

"Hm baik," gadis itu menyahut setelah diam menimbang-nimbang. "Memang akulah
tadi yang sial, mengapa aku mempunyai kepen-tingan. Sebenarnya, lebih baik kau
mampus."

"Mengapa?"
"Karena engkau bertampang mirip burung gagak, timbullah keinginanku hendak
memeli-hara engkau."

"Memelihara?" Maulana Syafri kaget sampai berjingkrak.

"Memelihara bagaimana?"

"Memelihara ya, memelihara. Mengapa sih kau begini usilan?"

"Nona dengarkan!" bentak Maulana Syafri mendongkol. "Omurku sudah melampaui


setengah abad. Engkau ini pantas menjadi anakku. Tapi kenapa kau bersikap begini
ter-hadapku?"

"Aku bersikap bagaimana?"

"Kau bisa menghargai aku atau tidak?"

"Dalam hal apa? Kita baru saja ketemu, manakah ada persoalan harga menghargai.
Kalau kau memaksa aku harus menghar-gaimu, mengapa kau tidak bilang sendiri
bahwa dirimu adalah seekor burung gagak? Nah, siapakah yang tidak menghargai
dirimu? Bukankah engkau sendiri?" sahut gadis itu cepat. Dan mendengar kata-kata
gadis itu, benar-benar Maulana Syafri tercengang-cengang sampai tergugu. Tanpa
disadari sendiri, ia menggaruk-garuk kepalanya. Akhirnya ia tertawa geli lagi.

Adat seorang pendekar memang aneh. Makin kuwalahan menghadapi sesuatu,


makin ia tertarik. kulah disebabkan oleh suatu watak ingin menang sendiri. Dan
sekarang, ia meng-hadapi seorang gadis muda belia. Seorang gadis yang selain
tajam mulut, kecerdikannya berada di atasnya. Maka untuk kesekian kali-nya, ia
bersedia mengalah. Katanya menya-barkan diri, "Baiklah kau menang. Sekarang
terangkan maksudmu dengan istilah memeli-hara. Memelihara bagaimana?"

"Aku ingin mengambilmu sebagai budak. Bukankah aku harus memeliharamu, kalau
aku menghendaki agar engkau berumur lebih panjang lagi? Inilah namanya, orang
di seluruh dunia ini sesungguhnya menjadi budak dari kebutuhannya?" sahut gadis
itu.

Sederhana kata-katanya. Seolah-olah di-ucapkan dengan sewajarnya. Tapi bagi


pen-dengaran Maulana Syafri bagaikan bunyi gun-tur di siang hari. Maklumlah, ia
seorang raja muda. Selama hidupnya dimuliakan. Tapi kini mendadak hanya
berharga sebagai seorang budak. Maka tak mengherankan, bahwa pada saat itu
juga menggigillah sekujur badannya karena menahan rasa marah. Meledak. "Kau
bilang aku hendak kaujadikan budakmu? Ah, yang benar, Nona! Selama hidupku,
belum pernah aku menjadi budak orang."

"Huuu... cemooh gadis itu. Burung gagak memang pandai mengoceh tak keruan
jun-trungnya. Kau bilang tak pernah menjadi budak? Kalau tak pernah menjadi
budak, apa sebab mengenakan pakaian seragam kom-peni? Hayo bilang!"
Kalau saja menuruti pergolakan hatinya ingin saja Maulana Syafri menggerung
tinggi.

Tetapi tuduhan gadis itu memang benar dan jitu. Ia kalah dalam sembilan bagian.
Maka ia diam terlongong-longong. Tak tahu dia, apakah harus menangis, marah
atau tertawa. Tapi dasar wataknya mau menang sendiri, tim-bullah rasa harga
dirinya. Terus saja ia berdiri tegak dengan mata menyala.

Melihat Maulana Syafri demikian, tiba-tiba gadis itu menangis sedih. Perubahan
sikap di luar dugaan itu sudah barang tentu membuat Maulana Syafri terheran-
heran. Dan dari rasa heran, ia lantas menduga-duga. Namun ia se-orang pendekar
yang sudah banyak makan garam. Dalam keheranannya, masih ia berwaspada.
Katanya garang, "Kau sudah me-maki dan menghina aku. Sekarang kau menangis.
Jangan mimpi, kau bisa memper-mainkan aku lagi."

"Siapa kesudian mempermainkan engkau?" sahut gadis itu cepat di antara sedu-
sedannya.

"Kalau tidak, mengapa menangis?"

"Aku menangis atau tidak, apa pedulimu?"

'Tapi kau harus memberi keterangan!"

"Keterangan! Keterangan!" gerutu gadis itu. "Kau tidak sanak dan bukan kadang,
apa sebab main paksa? Apa dasarnya?"

"Aku main paksa atau tidak, kau peduli apa?" Maulana Syafri menirukan lagak gadis
itu.

"Baik memang siapa tak tahu bahwa engkau seorang pendekar jempolan," ejek
gadis itu. Dan ia meningkatkan tangisnya. "Dasar akulah yang sial. Kalau tahu
begini, mestinya aku harus membiarkan kau tadi mampus."

Mendengar perkataan gadis itu, hati Maulana Syafri menjadi lemas sendiri! Sejenak
kemudian ia menjadi sabar. Katanya setengah membujuk, "Ya benar, aku memang
usilan."

Di luar dugaan, gadis itu menangis kian sedih. Selagi hati Maulana Syafri sibuk men-
duga-duga lagi, terdengar gadis itu mengomel.

"Kau memang pantas menghina aku. Seorang pendekar jempolan menghina


seorang gadis muda belia. Memang pantas. Memang jempolan."

"Hai! Hai! Kapan aku menghinamu? Aku justru hendak membalas budimu.
Sebaliknya, kaulah yang menghina aku terus-menerus."
"Kau main paksa, bukankah menghina aku? Kau paksa aku menerangkan apa sebab
aku mengusir pendekar gila tadi. Setelah kuterang-kan, kau memaksa aku lagi agar
menerangkan tentang kepentinganku. Dan setelah kuterang-kan jangan lagi
berterima kasih sebaliknya engkau malah menjadi gusar. Kau paksa lagi aku, agar
menerangkan perkataan memelihara. Dan setelah kuterangkan, jangan lagi
berterima kasih sebaliknya kau kini bahkan akan membunuh aku. Bukankah
begitu?" gadis itu menggerembengi sambil terus menangis. Berkata lagi: "Kau
memaksa aku lagi, agar aku menyatakan bahwa apa yang kulaku-kan tadi adalah
suatu perbuatan budi. Padahal aku tidak pernah berjual beli perkara budi. Tapi kau
memaksa dan memaksa, karena engkau mempunyai kepentingan hendak
membalas budi. Demi menghargaimu, terpaksalah aku tidak membantah lagi.
Tetapi bagaimana jadi-nya? Aku tidak menuntutmu agar engkau mengganti nyawa
pula atau harta benda. Aku bahkan mau berbaik hati, hendak memelihara-mu. Tapi
kau tidak merasa berterima kasih, sebaliknya malah hendak mencabut ucapan
sendiri. Kata orang, mulut seorang laki-laki berharga seribu gunung. Mana
buktinya? Apakah itu perbuatan seorang pendekar jempolan?"

Terang sekali, gadis itu memutar balik susunan peristiwa jalan pikirannya lucu dan
rada-rada liar. Namun justru demikian, Maulana Syafri jadi kebingungan. Hal itu ada
sebab musababnya. Seperti diketahui, tiap pendekar yang mempunyai harga diri
akan menjunjung tinggi setiap ucapannya. Apalagi seorang raja muda yang
berkedudukan agung.

Memang aku tadi berkata hendak membalas budinya. la sudah menolong jiwaku.
Meskipun demi kepentingannya, namun aku sudah berutang jiwa. Menurut pantas
akupun harus membayar utang pertaruhan jiwa juga. Seka-rang ia hanya minta
agar aku menjadi budaknya. Keterlaluan permintaan ini. Tapi kalau aku tidak bisa
memegang ucapanku sendiri, di mana lagi aku hendak menaruh muka dalam dunia
selebar ini?

Memperoleh pikiran demikian, ia hendak segera tunduk. Tapi teringat akan


kedudukan-nya, ia bergelisah luar biasa. Masakan aku seorang raja muda bersedia
menjadi budaknya, pikirnya sengit. Ontung ia bisa menimbang-nimbang lagi: Ah,
aku hanya memikirkan kepentinganku sendiri, karena takut ditertawai orang. Dia
masih muda belia. Dan aku sudah tua bangka. Sekiranya orang mengetahui aku
selalu bersama dia, pastilah mengira aku ayahnya. Baiklah aku sanggupi.

Dengan keputusan itu, ia menunduk. Kemudian berkata dengan menghela napas.

"Baiklah, aku bersedia menjadi budakmu. Perkara makan minum, tak usah engkau
bersusah payah. Aku si orang tua bangka ini, masih sanggup mencari ganjel
perutku sendiri."

Mendengar keputusannya, gadis itu tiba-tiba berhenti menangis. la menatap


wajahnya dengan pandang terlongong-longong. Maulana Syafri mengira, gadis itu
akan senang berjingkrakan. Di luar dugaan, tidaklah demikian halnya. Gadis itu
mendadak menangis menggerung-gerung amat sedihnya. Keruan saja, Maulana
Syafri jadi tambah tak menger-ti.

"Hai! Hai! Mengapa? Apakah aku kurang membuatmu puas? Baiklah, kalau kau
menghendaki jiwaku, kuserahkan sekarang juga. Nah, bunuhlah aku!" kata Maulana
Syafri.

Gadis itu tidak meladeni. Tangisnya tambah menjadi-jadi.

"Kau tidak mau membunuh aku. Tapi juga tidak mau berhenti menangis. Kenapa?"
Maulana Syafri setengah membujuk.

"Kau bilang umurmu melebihi setengah abad, namun masih juga tidak mengerti
kesalahannya. Bukankah membuat aku me-nangis?" gadis itu menggerembengi.

"Salah dalam hai apa?" Maulana Syafri heran.

"Mengapa kau mau jadi budakku?"

"Kau bilang apa?" Maulana Syafri setengah tidak mempercayai pendengarannya


sendiri.

"Mengapa kau mau jadi budakku?" ulang gadis itu. Dan mendengar ujar gadis itu,
Maulana Syafri benar-benar tercengang.

"Hai! Bukankah engkau menghendaki aku menjadi budakmu? Karena aku sudah
merasa berutang budi, jangan lagi menjadi budakmu, jadi anjingmu masakan aku
mempunyai keberanian untuk menolakmu?"

"Tapi aku hanya bermain-main, mengapa engkau bersungguh-sungguh," ujar gadis


itu. Kemudian meningkatkan tangisnya dengan amat sedih. Dan Maulana Syafri
lantas saja menggaruk-garuk kepalanya. Katanya di dalam hati: "Aneh gadis ini. Dia
tadi seolah-olah berkeras hati hendak mengambil aku sebagai budaknya. Setelah
aku tak menolak, dia kini justru menangis sedih. Sebenamya dia menghendaki
apa?"

Memperoleh pikiran demikian, ia mengham-piri sambil berkata lembut.

"Nona ... sebenarnya kau mempunyai ke-sulitan apa? Bilanglah! Aku akan bersedia
menolongmu sedapat-dapatku."

"Mana bisa engkau menolong aku? Apakah engkau malaikat?"

Didamprat demikian, mulut Maulana Syafri terbungkam. la menundukkan kepala.


Itulah disebabkan, ia teringat kepada masalahnya sendiri yang sudah memusingkan
dirinya sepuluh tahun lewat. Katanya merasa, "Ya, memang benar, aku bukan
malaikat. Betapa aku mampu menolong kesulitanmu yang pasti hebat bukan main.
Aku sendiripun mempunyai kesulitan. Sekiranya aku bisa melakukan segala,
masakan tidak mampu mengatasi kesulitanku itu. Ya, kau memang benar... eh
Nona, sebenarnya kau siapa?... Kau tadi menyebut Sangaji, lantas pendekar tadi lari
lin-tang pukang. Apakah engkau bernama Nona Sangaji?"

Ditanya demikian, gadis itu menggelengkan kepala.

"Bukan! Bukan!" Dan ia menangis sedih.

"Kalau bukan, mengapa kau menyebut nama Sangaji? Apakah nama itu merupakan
momok bagi pendekar sakti tadi? Kalau benar, alangkah besar hatiku manakala aku
bisa berkenalan dengan nama yang keramat itu ..."

Gadis itu tidak menjawab. Sedu sedannya bertambah hebat. Dan ia terus menangis
sam-pai melewati larut malam. Baru waktu menje-lang fajar, ia tidur kecapaian.

Maulana Syafri terus mengamat-amati de-ngan berdiam diri. Ia merasa seperti ada
se-suatu daya besar yang mengikat dirinya. Dan sambil mengatur jalan darahnya,
ia berpikir dalam hati, gadis itu mempunyai kecantikan luar biasa. Otaknya encer.
Malahan terlalu cerdik, meskipun jalan pikirannya aneh. Menilik lagak-lagunya, dia
bukan sembarang gadis. Siapakah dia sebenarnya? Baiklah aku bersabar diri
sampai mengetahui asal usulnya. Jangan-jangan... dia mempunyai hubungan darah
dengan Gusti Ratu Bagus Boang.

Memikir demikian, hatinya tergetar. Tapi benarkah dia mempunyai hubungan darah
dengan Ratu Bagus Boang yang lenyap tak karuan kabarnya? Tidak! Dia bukan
gadis dugaan Maulana Syafri. Dialah Titisari seorang gadis yang memiliki otak
paling cemerlang pada zaman itu.

Setelah meninggalkan Sangaji di tepi sungai, ia pergi dengan pikiran linglung. Lama
ia berputar-putar dengan tak tentu arahnya. Kadangkala ada perasaan hendak
kembali ke sungai atau hendak membatalkan niatnya sendiri. Tetapi teringat bahwa
hai itu bahkan akan memarahkan rasa kecewanya, ia me-nguasai diri dengan
sekuat tenaga.

Sekalipun demikian dalam kalbunya terus berlangsung deru rangsang hatinya. "Aji!
Aji! Mengapa akhirnya engkau menjadi milik orang lain juga?"

Bukan main pedihnya. Ia merasa diri seperti drtusuki ribuan jarum. Dan betapa
hebat kedukaan Titisari kala itu, tidaklah mungkin dapat dilukiskan lagi.

Memang kalau dipikir, akulah yang salah. Dia sudah bertunangan, mengapa aku
harus memikirkan? Ia berpikir di dalam hati. Tapi meskipun dia berpikir demikian,
ucapan hati-nya sama sekali berbeda. Ada suatu rasa, ia tak rela melepaskan
Sangaji. Akan tetapi harus berbuat bagaimana? Meskipun ia ber-otak cerdas,
pertanyaan itu tak dapat dijawab-nya. Akhirnya setelah kecapaian sendiri, tim-
bullah keputusan.
"Sebentar lagi Aji akan kawin dengan tuna-ngannya. Biarlah aku melihatnya dengan
diam-diam. Pada malam pertama aku akan membunuh diri di depannya. Bukankah
itu suatu hadiah kawin yang bagus?"

Titisari adalah puteri Adipati Surengpati. la mewarisi beberapa bagian watak


ayahnya yang liar dan tidak umum. Dan setelah mem-peroleh keputusan demikian,
hatinya men-dadak tenang. Lalu ia mengikuti Sangaji dari kejauhan.

la tahu, betapa Sangaji lari pontang-panting memanggil-manggil riamanya. Dan


menyak-sikan kepedihan pemuda itu, hampir saja hatinya gugur. Segera ia hendak
lari meng-hampiri. Sayang dalam ilmu sakti ia kalah jauh dari Sangaji. Pemuda itu
dengan sekelebatan saja, sudah hilang dari penglihatannya. Dan kembali ia
berputar-putar dengan kepala linglung. .

Selagi melewati sebuah bukit ia mendengar kesiur angin. Begitu menajamkan mata,
nam-paklah Kebo Bangah melintas tak jauh dari-padanya. Hatinya tertarik. Dan ia
menguntit sebisa-bisanya. Namun mengikuti Kebo Ba-ngahpun tidak mudah.
Meskipun dia kini bukan lagi Titisari beberapa waktu yang lalu, tapi ilmu saktinya
masih kalah jauh. Ontung-lah, dalam dirinya sudah mewarisi ilmu petak pendekar
sakti Gagak Seta. Betapapun juga ia masih sanggup mengikuti Kebo Bangah dalam
jarak tetap.

Tatkala melewati suatu pinggiran desa, ia melihat dua orang pemuda lagi berbicara
kasak-kusuk. Mereka menyinggung-nying-gung masalah perjuangan. Heran ia
mendengar percakapan itu. Pikirnya: Eh, apakah di Jawa Barat pun orang mengenal
suatu perjuangan?

Selama hidupnya, belum pernah Titisari meraba wilayah Jawa Barat. Ia mengira,
per-juangan melawan kompeni Belanda, hanya terjadi di Jawa Tengah. Dasar ia
berwatak usi-lan, maka begitu tertarik kepada pembicaraan itu, segera ia
melepaskan perhatiannya kepada Kebo Bangah. Terus saja ia menguntit dengan
diam-diam.

Dua pemuda itu mengenakan pakaian se-ragam gambar Obor Menyala. Gesit gerak-
geriknya. Nampak bukan pemuda lemah. Meskipun demikian, mereka tak sadar
diikuti seorang dari jarak dekat. Itulah suatu tanda, bahwa ilmu Titisari jauh di
atasnya.

"Siluman betina Edoh Permanasari benar-benar tak mengenal jantung. la terus main
bunuh dengan serampangan. Mengapa pe-mimpin-pemimpin kita membiarkan dia
hidup panjang?" kata yang satu.

"Berbicara memang mudah. Tetapi Perma-nasari bukan pendekar lemah. la murid


kesa-yangan Ratu Fatimah," sahut yang lain.

Dan mereka berdua membicarakan tentang sepak terjang Edoh Permanasari


lengkap de-ngan sekalian anak muridnya yang terdiri dari wanita. Sudah barang
tentu pembicaraan itu menarik perhatian Titisari. Seperti kita ketahui, tiap wanita
tertarik kepada semua pembicaraan mengenai jenisnya. Apalagi, apabila mereka
memujinya atau mengagumi. Maka dia akan mencoba membandingkan dirinya
sendiri dengan perempuan yang dibicarakan itu. Sadar atau tidak sadar.

Hanya sayang, pembicaraan mereka bercampur aduk.

Kadang menyinggung Edoh Permanasari dan kerapkali membicarakan masalah


Himpunan Sangkuriang yang saling tikam dan saling membunuh.

Titisari jadi tak sabar lagi. la terus menam-pakkan diri. Maksudnya hendak
menghampiri dan minta keterangan lebih jelas lagi perkara Edoh Permanasari. Di
luar dugaan, kedua pemuda itu salah sangka. Mereka mengira, Titisari salah
seorang murid Edoh Permanasari. Dengan bergandeng tangan, mereka berdiri
bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

"Kau tadi membicarakan Edoh Permana-sari," kata Titisari. "Nah, teruskan! Aku
ingin mendengar sampai di mana kau mengenal-nya."

Sudah barang tentu bunyi perkataan Titisari berkesan lain, yang satu lantas
menyahut.

"Baik-baik. Kalau kau mau membunuh, nah bunuhlah sekarang juga!"

Mendengar ucapan pemuda itu, Titisari ter-cengang. la seperti tak tahu apa yang
akan dilakukan. la memang berotak cemerlang. Te-tapi pada saat itu ia masih
dalam kedukaan yang melampaui batas. Coba ia dalam keadaan seperti sediakala,
pastilah ia takkan kehilangan diri. la menghampiri mereka de-ngan maksud hendak
mendengar kisah Edoh Permanasari lebih jelas. Dan selamanya ia berhasil dalam
segala maksudnya, dengan jalan apa saja. Sebaliknya kini, ia hanya meng-awasi
mereka dengan pandang mendelong.

Melihat kesempatan itu, cepat-cepat yang satu menarik lengan rekannya seraya
berkata gugup. "Cepat, cepat! Lari ia belum sampai hati membunuh kita."

Anak murid Edoh Permanasari memang terkenal kejam, bengis dan berilmu tinggi.
Sekalipun mereka tergolong manusia kuat, namun merasa diri takkan ungkulan
melawan anak murid Edoh Permanasari. Mereka mengi-ra, di belakang Titisari
pastilah masih bersem-bunyi kawan-kawannya entah berapa jumlah-nya. Sebab,
selamanya anak murid Edoh Permanasari berangkat bersama.

Pemuda itu lantas menarik lengan rekannya dan dibawanya lari menjauh. Melihat
Titisari tidak mengejar, segera ia mengerahkan tenaga sekuat-kuatnya.

Rekannya seperti telah kehilangan sema-ngat. Tetapi setelah kena seret selintasan,
tanpa disadari ia sudah ikut berlari secepatcepatnya. Dengan begitu mereka lari
seperti terbang.
Waktu itu matahari sudah condong ke barat. Mereka masih saja berlari-larian
dengan mem-babi buta. Kira-kira satu jam petang hari akan tiba, barulah mereka
berhenti beristirahat. Dengan memperlambat langkahnya, hati mereka menjadi
girang. Sambil menyusut ke-ringatnya mereka berkata berbareng. "Sung-guh
berbahaya! Ontung yang lain tidak menghadang..."

"Apakah kau takut mati?" tanya yang satu.

"Tiap orang siapakah yang tidak akan mati? Tetapi kalau mati di tangan anak murid
Edoh Permanasari, bukankah mati tiada gunanya?" sahut yang lain.

"Ya, kau benar."

Mereka berpaling ke belakang. Tapi begitu berpaling, kedua lutut mereka


mendadak menjadi lemas. Ternyata tak jauh dari mereka, berdiri seorang wanita
yang terus mengawas-kannya dengan pandang tercengang. Dialah Titisari.

Bukan kepalang terkejut mereka. "Celaka!" mereka mengeluh dalam hati.


Kemudian de-ngan bergandengan tangan, mereka menan-cap gas lagi kabur ke
arah barat.

Sesudah kabur beberapa puluh pal jauhnya, seperti berjanji mereka menoleh ke
belakang. Titisari masih membuntuti pada jarak tertentu. Mereka menjadi makin
ketakutan. Segera dengan saling menyeret, mereka lari lagi dengan sekencang-
kencangnya.

"Emon!" kata yang satu. "Jika sekarang dia menghendaki nyawa kita, gampangnya
seperti membalik tangannya sendiri. Tetapi dia hanya menguber saja. Kukira dia
mempunyai maksud tertentu."

"Maksud apa?" Emon menegas.

"Kukira, dia hanya ingin membekuk kita. Kemudian dibawa ke tangsi Belanda
sebagai hadiah persahabatannya," sahut Saiman temannya. "Dengan begitu selain
akan me-nambah kepercayaan Belanda terhadap per-guruannya, juga akan
menjatuhkan pamor Himpunan Sangkuriang yang sudah porak-poranda begini."

Mendengar keterangan Saiman, hati Emon tergetar. Ia tak takut perkara mati.
Sekarang ia justru mendengar keterangan tentang maksud perempuan itu yang
masuk akal. Dan apabila sampai kena diseret di depan tangsi Belanda, rasanya jauh
lebih hina daripada mati sekarang. Malahan seumpama matipun untuk menebus
dosa, tiada harganya. Memperoleh pertimbangan demikian, hatinya* tambah me-
ringkas.

"Saiman! Kalau benar begitu maksudnya, kita benar-benar celaka. Mari kita kabur
lagi!" ajaknya. Dan mereka kabur lagi dengan beren-deng pundak.
Sekarang mereka lari tanpa tujuan lagi. Kadang-kadang mereka menoleh. Dan
Titisari masih saja mengikuti dengan jarak tetap.

Ilmu lari Titisari diperolehnya dari ayahnya sendiri. Seperti diketahui, ayah Titisari
terma-

t suk salah seorang pendekar utama di Jawa Tengah. Umunya tinggi dan susah
dijajaki. Kecuali itu Titisari mewarisi ilmu petak pendekar Gagak Seta pula. Maka
dalam hai ilmu berlari dalam dunia ini, sukar ia memperoleh tandingnya. Karena itu
untuk mengikuti kabur-

I nya Emon dan Saiman, bukan merupakan soal baginya. Hanya saja, pikiran gadis
itu masih limbung. Ia lari untuk lari saja. Tujuannya samar-samar. la hanya merasa
diri terkait oleh kedua pemuda itu. Pikirannya was-was antara sadar dan tidak.

Semakin lama kedua pemuda itu semakin bingung. Mereka tak dapat menebak
maksud Titisari yang sebenarnya. Dari siang hari mereka berlari sampai petang
hari. Akhirnya memasuki waktu malam hari. Meskipun tenaganya cukup kuat,
lambat laun mereka merasa lelah juga. Napas mereka tersengal-sengal, kecepatan
kakinya makin berkurang. Meskipun belum mati, tapi mereka merasa kena siksa
setengah mati. Rasa lapar dan rasa dahaga mulai menggerumuti dirinya. Sesudah
berlari selintasan lagi, di depannya nampak cahaya pelita sebuah kedai. Untuk
mencapai kedai itu, mereka harus menyeberangi sungai. Dan saking tak tahannya
menahan dahaganya lagi, terus saja mereka membungkuki sungai. Lalu menenggak
airnya sepuas-puas hati.

Perlahan-lahan Titisari menghampiri sungai itu pula. Ia pun turun ke sungai dan
minum dengan menyendok air dengan kedua tangan-nya. Kemudian ia berdiri
mengawaskan jauh ke barat.

Sambil minum Emon dan Saiman melirik pekerti Titisari. Melihat pengejarnya berdiri
ter-mangu-mangu, seperti saling berjanji mereka meneruskan perjalanan dengan
mengendap-endap. Setelah agak jauh, lalu lari tunggang langgang seperti kalap.
Hati mereka lega, karena mengira sudah terlepas dari peng-amatan pengejarnya.
Tak tahunya, baru saja menengok mereka melihat Titisari sudah ber-ada tak jauh
daripadanya dalam jarak yang tetap seperti tadi.

Wajah Emon pucat bagaikan kertas. Dengan suara putus asa ia berkata, "Sudahlah
sudah-lah! Saiman, kita tak bisa lari lagi. Dia mau membunuh, menyembelih,
menyiksa atau membekuk kita, biarlah sesukanya." Setelah berkata demikian, ia
berhenti berlari.

"Kalau hanya dibunuh, semenjak tadi aku sudah menyerah. Tapi dia hendak
membekuk kita. Masakan kita pantas menjadi anjing-anjingnya Belanda?" bentak
Saiman.
"Ya, bener. Tapi bagaimana?" sahut Emon dengan napas tersengal-sengal.
Mendadak ia melihat empat orang memasuki kedai. Segera mereka bergegas
mencapai kedai itu. Setelah menjenguk ke dalam, hatinya kecewa. Empat orang
tadi ternyata mengenakan pakaian sera-gam dengan lambang gambar Garuda.

Seperti diketahui, Himpunan Sangkuriang sudah pecah menjadi berbagai cabang.


Dan antara cabang satu dan lainnya, saling bentrok dan saling membunuh. Mungkin
sekali mana-kala menghadapi bahaya, mereka bersikap akan melupakan
permusuhan. Namun untuk saling tolong pada saat itu, jangan diharap. Dan hai
demikian, bukan tidak disadari mereka berdua. Karena itu, diam-diam mereka
mengeluh. Tapi jalan Iain, tak ada lagi. Ber-pikirlah mereka menentukan keputusan.
"Di sini nanti aku mati. Tapi lehih baik mati ada saksinya daripada tidak."
Memperoleh pikiran demikian, mereka memasuki kedai dengan hati mantap.

Kedai itu sebenarnya merupakan sebuah serambi depan berbentuk memanjang.


Pan-jangnya lebih kurang dua puluh meter dengan lebar sepuluh meter, (tulah
bekas rumah seorang kepala kampung. Banyak pengun-jungnya. Terdiri pasangan
pemuda-pemudi, pedagang-pedagang dan petani-petani setelah bekerja di sawah
ladang sehari tadi.

Dengan rasa lelah, lapar dan takut, Emon dan Saiman mendapat tempat di ruang
te-ngah. Sedangkan empat orang anggota Him-punan Sangkuriang cabang Panji-
panji Garuda duduk di sebelah sudut timur. Mereka mene-gakkan kepala, tatkala
melihat mereka datang pula ke kedai itu. Serentak mereka menghu-nus senjatanya
dan segera akan menyerang. Tiba-tiba terdengar suara tertawa halus. Kemudian
seorang wanita dengan membawa pedang panjang datang memasuki kedai.

"Eh, siapakah yang mengizinkan kamu bermain pat gulipat di sini?" tegur wanita itu
kepada pasangan muda-mudi. Berbareng de-ngan tegurannya muncul pula empat
orang wanita yang berdiri di belakangnya.

"Keparat siluman betina!" Menggerung salah seorang anggota pasukan panji-panji


Garuda. "Dasar sudah lama kau kucari. Sekarang kau mencari mampusmu sendiri."

Wanita itu yang bukan lain Edoh Perma-nasari, tertawa melalui dadanya. Namun ia
tidak mengindahkan. Pandang matanya tiada lepas daripada pasangan pemuda-
pemudi yang belum mengenalnya.

"Simpanlah dahulu selembar nyawamu!" katanya halus. "Kalau aku sudah


memberes-kan sekumpulan anjing ini, nanti kuurus, ja-ngan khawatir bakal tak
kebagian."

Seluruh pendekar di Jawa Barat mengetahui belaka siapakah Edoh Permanasari.


Dialah pendekar wanita pembenci pasangan pemu-da-pemudi yang sedang
bercumbu kasih atau yang sedang berjalan bersama. Sekali bertemu maka akan
melayanglah nyawa mereka. Maka ancaman kali itu, sebentar lagi akan dibuk-tikan.
Emon dan Saiman lantas saling pandang. Semenjak tadi mereka sudah mengira
bahwa Titisari pasti diikuti teman-temannya dengan bersembunyi. ltulah cara
bekerja anak murid Edoh Permanasari. Sekarang Edoh Permana-sari benar-benar
muncul. Dengan begitu, dugaannya sangat jitu.

"Hm!" Tanpa merasa Emon mendengus per-lahan.

"Hm—apa?" bentak Edoh Permanasari. "Kaupun akan mendapat bagian. Jangan


khawatir. Kamu sekalian anak murid him-punan tak keruan macamnya, masakan
pantas dibiarkan mengotori dunia ini?"

Hebat hinaan itu. Empat orang pendekar dari panji-panji Garuda lantas saja
menggeram karena geram. Dua orang dari mereka serentak maju ke depan.
Bentaknya, "Kau siluman betina akan berlagak di sini? Jangan harap."

Edoh Permanasari tak menyahut. Ia meram-pas secawan arak yang berada di


depannya. Dengan sekali mementil, cawan itu terbang miring sedikit dan isinya
turun meluncur seperti air tertumpah. Lalu ia membuka mulutnya dan tiada setetes
arakpun terpercik ke bawah. Setelah itu dengan perlahan-lahan cawan turun dari
udara dan hinggap sangat manis di atas telapak tangannya. Itulah suatu ilmu
pelepas senjata ringan yang sudah mencapai puncak kemahiran. Ilmu demikian
baru menjadi sempurna manakala sudah terlatih ber-tahun-tahun lamanya.

Sesudah mempertontonkan ilmunya, Edoh Permanasari segera berkata dengan


halus.

"Nah, siapakah yang akan mengantarkan nyawa terlebih dahulu?"

Selagi berkata demikian, tubuhnya berkele-bat dan tahu-tahu sekalian pasangan


muda-mudi mati bergelimpangan dengan tak menyadari sebab-musababnya.

Menyaksikan kekejaman itu para pendekar Himpunan Sangkuriang tak sanggup lagi
me-nahan sabamya. Bahkan Emon dan Saiman yang tadi ketakutan setengah mati,
tiba-tiba timbullah keberaniannya. Serentak mereka menggerung.

"Edoh Permanasari keparat! Namamu seperti mutiara. Tapi hatimu bagaikan iblis!"

Dengan memutar tubuhnya, Edoh Perma-nasari menyahut. "Eh-eh... rupanya kalian


tak bersabar lagi. Bukankah aku tadi bilang, akan membereskan urusanmu
manakala aku sudah selesai membereskan anjing-anjing keparat itu?"

Suami isteri pemilik kedai dan peng-unjung-pengunjung lainnya lari berserabutan ke


pojok. Tubuh mereka menggigil menyaksikan pembunuhan mendadak itu. Lutut
mereka bergemetaran dan ada yang terkencing-kencing karena ketakutan.

"Emon!" bisik Saiman. "Kau pergilah cepat-cepat. Edoh bukan lawan kita."

"Dan kau sendiri?" Emon menegas.


"Aku mencoba mengadu nyawa. Tapi bila bisa kuhindari, aku akan menyusulmu."

Pada saat itu, sekonyong-konyong salah seorang anggota laskar Garuda


menggebrak meja. Ia berkata nyaring kepada Emon dan Saiman.

"Saudara dari Obor Menyala. Marilah kita bahu membahu menyingkirkan iblis ini.
Sudah terlalu banyak ia mengambil nyawa orang tak berdosa."

Emon dan Saiman bersangsi. Benarkah kata-kata itu diucapkan dengan setulus
hati? Biasanya mereka takkan menghiraukan kesu-karan orang lain.

Sebaliknya, mendengar suara itu hati Edoh Permanasari tergetar. Betapapun juga,
sebe-narnya ia enggan membunuh anggota Him-punan Sangkuriang yang terdiri
dari dua pa-sukan. Keduanya dapat mengadu kepada pemimpinnya. Meskipun tidak
perlu takut, tetapi menghadapi dua lawan besar akan menyiutkan kedudukannya.
Namun hatinya sudah terlanjur menjadi angkuh. Tanpa berbicara lagi, ia
menghunus pedangnya dan merabu mereka dengan satu kali gerak.

Mereka lantas saja bertempur dengan seru-nya. Murid-murid Edoh Permanasari


yang tadi berdiri tegak agak jauh, segera mendekati. Selagi demikian, tiba-tiba
berkelebatlah sesosok bayangan. Dialah Titisari.

"Hai, berhenti dahulu!" serunya nyaring.

Melihat munculnya Titisari, Edoh Permana-sari kaget. Ia mengira, dia salah seorang
pem-bantu lawannya. Karena itu ia malahan mem-perhebat serangannya.
Sebaliknya, Emon dan Saiman yang mengira Titisari salah seorang anakmurid Edoh
Permanasari, terhenyak seje-nak. Tapi kemudian ia menduga buruk. Terang sekali
dia pembantu iblis keparat itu, pikirnya. Dan memikir demikian, ia menyerang Edoh
Permanasari dengan tak memedulikan kesela-matan nyawanya lagi.

"Baik! Jadi kalian tak mau mendengarkan seruanku?" Titisari mendongkol. Dan
timbul-lah adatnya yang liar. Dengan sekali menjejak tanah, tubuhnya melesat dan
menampar pipi mereka pulang balik dengan sangat cepatnya. Dan begitu mereka
kena tampar, sekaligus ter-hentilah gerakannya, karena kaget dan rasa kagum.

Edoh Permanasari segera sadar, bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang


lawan berat. Maka dengan hati-hati ia berkata, "Eh kau siapa?"

Titisari tidak menggubrisnya. Ia menoleh kepada Emon dan Saiman yang berdiri
tegak dengan pandang menebak-nebak.

"Apakah dia yang bernama Edoh Perma-nasari?" tanya Titisari.

Emon dan Saiman tak tahu lagi apakah harus mengiakan atau tidak. Mereka saling
pandang dengan penuh teka-teki.
"Hm, kalian tadi memuji-muji perempuan itu setinggi langit. Itulah sebabnya, aku
meng-ikutimu," kata Titisari. "Kamu berdua memang senang membuat aku bercapai
lelah tak ke-ruan."

Mendengar ucapan Titisari, Emon dan Saiman masih saja bersangsi. Meledaklah
Saiman dengan beraninya, "Kau boleh licin tapi jangan mimpi bisa mengelabui
kami. Siapa tak tahu, bahwa kau murid iblis itu?"

"Hm aku murid iblis itu? Siapa bilang?" sahut Titisari sambil menuding murid Edoh
Permanasari. Dan melihat pekerti Titisari, Emon dan Saiman benar-benar
tercengang. Seseorang dapat melakukan tipu muslihat macam apa pun. Tetapi
memaki gurunya sen-diri sebagai iblis di depan umum, tidak mung-kin terjadi.
Memperoleh pertimbangan demikian, dari gentar mereka menjadi lega hati. Dan
diam-diam mereka menyesali diri sendiri yang tadi lari lintang pukang karena rasa
prasangka belaka. Dan baru saja mereka hendak menyatakan salah sangkanya,
Edoh Permanasari sudah berkata mendahului.

"Eh, Nona. Sebenarnya kau siapa?"

Mendengar teguran itu, Emon dan Saiman bertambah yakin akan salah sangkanya.
Ia mendongkol dan geli mengingat pengalaman-nya sendiri tadi.

"Kau bertanya siapa aku?" sahut Titisari.

"Benar."

"Bukankah sudah cukup terang? Aku manusia hidup."

Edoh Permanasari berubah parasnya. Tajam ia menatap wajah Titisari. Katanya


memben-tak, "Tiap orang tahu, bahwa kau manusia hidup. Tapi orang yang tahu
harga diri pastilah akan mengenalkan namanya dan asal usulnya sebelum mati."

"Siapa bilang aku akan mati?" Titisari heran.

"Aku. Kau dengar tidak?" sahut Edoh Permanasari yang tak kurang pula tajamnya.

"O, begitu?" kata Titisari dengan pandang tajam. Lalu ia tersenyum. Berkata acuh
tak acuh, "Selama hidupku paling benci aku berbicara dengan nona tua."

Benar-benar jitu penglihatan Titisari. Edoh Permanasari lantas saja menjadi kalap
seperti diketahui, pantangan besar bagi seorang wani-ta seperti Edoh Permanasari
ialah apabila luka besarnya kena dibuka seseorang di depan umum. Maka tanpa
berbicara lagi, ia terus menikam.

Titisari meloncat ke samping sambil berkata, "Eh, begini caranya Edoh Permanasari
yang manis? Maka menyerang orang yang tidak bersenjata? Baiklah, aku akan
pinjam senjata."
Setelah berkata begitu, dengan sekali ber-kelebat ia sudah menggenggam pedang
ram-pasan. Itulah pedang salah seorang murid Edoh Permanasari yang tadi turut
maju. Dan melihat kegesitan Titisari, semua yang melihat kagum bukan kepalang.

"Nah, marilah kita bermain-main," tantang Titisari. Titisari benar-benar seorang


gadis usil-an. Dalam kekesalan hatinya, kadang-kadang ia bisa berbuat di luar
dugaan orang. Pada saat itu, dia sedang dirundung suatu kemalangan besar.
Hatinya tak menentu. Kadang berduka, marah, benci dan uring-uringan.

Tak mengherankan, bahwa ia ikut-ikutan pula meramaikan suasana kedai itu tanpa
tujuan tertentu.

Edoh Permanasari makin sadar, bahwa lawan yang dihadapi saat itu, bukan
manusia empuk. Lantas saja ia mengumpulkan sema-ngatnya dan menyerang
Titisari dengan sehe-bat-hebatnya.

Titisari sudah mewarisi ilmu Ratna Dumilah dan sebagian ilmu sakti ayahnya, selain
itu, hafal pula guratan keris ilmu sakti Kyai Tung-gulmanik. Meskipun tenaganya
belum meng-imbangi, setidak-tidaknya dia menguasai kulitnya. Dahulupun ia
pernah membuat ka-getnya Kebo Bangah pula. Maka kali inipun, ia nampak berada
di antara angin. Sebab meskipun sudah empat puluh jurus lebih, Edoh Permanasari
belum berhasil menyentuh tubuhnya.

Ruang kedai itu sudah menjadi .kalang kabut. Meja kursi terbalik tak keruan. Piring
dan cawan-cawan hancur berantakan. Se-dangkan tamu-tamu diam-diam sudah
dapat melarikan diri seorang demi seorang.

Edoh Permanasari sudah menjadi kalap pula. Merasa dirinya agak keripuhan, ia
segera memberi isyarat kepada murid-muridnya agar berjaga-jaga menghadapi
kemungkinan. Se-bagai iblis kawakan tahulah dia, bahwa pen-dekar-pendekar
Himpunan Sangkuriang pasti akan menggunakan kesempatan yang bagus itu. Dan
dugaannya ternyata tidak meleset. Begitu melihat anak-anak murid Edoh
Permanasari bergerak, dengan bersuit mereka lantas maju berbareng. Dengan
kejadian demikian, ruang kedai sudah tak keruan macamnya.

Heran sungguh hati Edoh Permanasari. Dari manakah datangnya gadis ini yang
begini perkasa. Selama hidupnya entah sudah berapa kali ia bertempur melawan
musuh-musuh tangguh. Namun menghadapi seorang lawan yang memiliki gerakan
aneh dan tak terduga, baru kali inilah.

"Nona! Mendengar logat bahasamu, agak-nya kau bukan gadis Pasundan" katanya
men-coba.

"Kau sudah masuk ke Hang kubur, mengapa tak dapat menutup mulutmu?" ejek
Titisari.
"Hm," dengus Edoh Permanasari. "Jangan kau sangka aku dapat kaukalahkan. Lihat
pedangku!"

Berbareng dengan ucapannya, ia meng-ayunkan pedangnya dengan sepenuh


tenaga. Suatu kesiur angin bergulungan dengan men-deru-deru.

Titisari kaget. Cepat ia melejit ke samping. Dan diam-diam ia berkata di dalam hati,
hebat sungguh iblis ini. Pantas ia tak terkalahkan, jangan-jangan akupun tidak
mampu berbuat apa-apa terhadapnya.

Memikir demikian, ia segera menghadapi serangan Edoh Permanasari dengan hati-


hati.

la selamanya seorang gadis yang berbesar hati dan tak pernah mengenal takut.
Melihat berkelebatnya pedang Edoh Permanasari menikam dadanya, ia tak gugup.
Dengan sekali menghentak, pedang Edoh Permanasari terlepas dari tangannya.
Memang pada saat itu, Edoh Permanasari tidak menggunakan pedang pusaka
Sangga Buwana. Karena itu serangannya dapat ditangkis Titisari dengan mudah.
Namun ia bukan seorang pendekar murahan. Begitu melihat pedangnya terpental
ke udara, dengan sekali menjejak tanah ia ter-bang menyambar pedangnya. Lalu
turun dengan memberondongi beberapa tusukan.

"Bagus!" seru Titisari kagum. Semangatnya lantas tersadar. Dengan gesit ia


meloncat menghindari. Selagi ia hendak membalas, tiba-tiba terjadilah suatu
perubahan di dalam kedai.

Kebo Bangah muncul dan terus saja me-nyerbu pertarungan itu.

"Hai! Hai! Di manakah anakku? Di manakah anakku?" ia berteriak tinggi bagaikan


guntur.

Semua yang mendengar suara gunturnya kaget bukan kepalang. Itulah suatu
tanda, bahwa ilmu orang itu sangat tinggi. Namun mereka sedang bertempur.
Sedikit lengah, jiwanya akan melayang. Karena itu, tak berani mereka melepaskan
perhatiannya terhadap lawannya masing-masing.

Seperti diketahui semenjak kena gempur Sangaji, ia berubah ingatan. CIntung dia
ber-ilmu tinggi. Sekalipun kena gempuran tenaga Sangaji begitu dahsyat, tubuhnya
tidak hancur berkeping-keping.

Selama hidupnya, belum pernah ia dikalah-kan lawan. Namanya sejajar dengan


Kyai Kasan Kesambi, Gagak Seta, Adipati Sureng-pati, Pangeran Samber Nyawa dan
Kyai Lukman Hakim. Beberapa kali ia mengadu kepandaian. Hasilnya setali tiga
uang atau sama kuat. Itulah sebabnya, gempuran Sangaji benar-benar berkesan
hebat dalam dirinya. Nama Sangaji dan Bende Mataram merupakan tanda tertentu
di dalam kalbunya. Dalam rasa was-wasnya ia seperti melihat sesuatu yang
menakutkan. Namun oleh wataknya yang ulet dan mau menang sendiri, tak sudi ia
menyerah kalah. Dalam tiap-tiap kesempatan ia merasa selalu berkewajiban untuk
merebutnya. Tapi dasar otaknya sudah miring, maka tingkah-lakunya jadi acak-
acakan. Terhadap nama Sangaji, dia takut setengah mati. Tetapi ma-nakala melihat
seorang laki-laki, mendadak teringatlah dia kepada sang Dewaresi yang hilang tiada
kabarnya.

Di dekat Cirebon dahulu, ia kena gertak Sangaji lagi. Dan larilah dia tunggang-lang-
gang. Setelah rasa takutnya mereda, teringatlah dia lagi kepada tujuan hidupnya.
Itulah pusaka Bende Mataram. Maka dengan diam-diam ia mengikuti Sangaji.

Tatkala itu Sangaji sedang kalap mencari Titisari. Itulah sebabnya, ia bisa dikuntit
Kebo Bangah dengan mudah. Tetapi ilmu Sangaji kini sudah berada jauh di atasnya.
Ia mencoba mengejar, sewaktu Sangaji berlari-lari kalap. Meskipun sudah
mengerahkan segenap tenaga dan kepandaian, akhirnya ia kehilangan jejak juga.
Tubuh Sangaji lenyap dari penga-matan. Namun masih saja ia mencoba mengikuti
jejaknya. Demikianlah, maka ia lari mengarah ke barat dengan tak karuan jun-
trungnya.

Pada malam hari itu, ia berputar-putar di sekitar dusun itu. Dasar ia seorang
pendekar berilmu sangat tinggi, maka pendengarannya menangkap suatu
kesibukan segera ia melihat pertarungan itu. Dan begitu melihat beberapa pemuda,
timbullah ingatannya. Terus saja ia berteriak-teriak kacau, "Mana anakku? Mana
anakku?"

Mereka yang sedang bertempur tiada waktu lagi untuk meladeni. Memang sebentar
tadi, mereka kaget oleh suara guntumya. Tapi sete-lah itu, masing-masing
disibukkan oleh lawan mereka.

"Hai! Mana anakku? Mana Dewaresi?" Kebo Bangah mendesak. Karena merasa tak
mem-peroleh perhatian kehormatannya tersinggung.

"Aku ini raja dari langit. Mengapa kalian menghina aku?" bentaknya. Dan setelah
membentak, ia menggempur mereka untuk memisahkan. Hebat tenaganya. Kena
tenaga saktinya, mereka terpental mundur dengan berjumpalitan.

Edoh Permanasari kaget menyaksikan keja-dian itu. Pikirnya, aku tidak membawa
pedang pusaka. Sekarang harus menghadapi tiga lawan. Meskipun mempunyai
sayap, rasanya tidak akan mampu. Memperoleh pikiran demikian, segera ia bersuit
memberi tanda anak-anak murid untuk cepat-cepat memun-durkan diri. Kemudian
berkata nyaring kepada Titisari, "Nona, sayang. Kesenangan kita ter-ganggu.
Baiklah! Begini saja, tak jauh dari sini terdapat sebuah bukit. Di sana esok pagi kita
mencari keputusan."

Dengan membungkuk hormat, ia melesat dengan diikuti sekalian muridnya.


Sebentar saja tubuhnya hilang dari penglihatan.

Celaka adalah para pendekar Himpunan


Sangkuriang. Setelah mereka kena dipental-kan, Kebo Bangah memberondongi
dengan pukulan dahsyat berturut-turut. Tak ampun lagi, mereka mati terjengkang
sebelum sempat membuka mulutnya.

"Mana anakku? Kalian wajib mengganti nyawa," omel Kebo Bangah panjang
pendek. Tiba-tiba ia memutar tubuh dan mengawaskan Titisari dengan tak berkejap
sebentar ia terma-ngu-mangu dengan dahi mengerenyit. Mendadak wajahnya
berubah hebat. Lalu berteriak nyaring, "Hai! Bukankah kau isteri anakku? Hai-hai...
di mana anakku Dewaresi?"

"Aku isteri Sangaji," sahut Titisari acuh tak acuh.

"Kau bilang apa?" Kebo Bangah terkejut.

"Aku isteri Sangaji," ulang Titisari. "Anakmu dibunuh Sangaji dengan ilmu sakti
Bende Mataram."

Mendengar keterangan Titisari, Kebo Ba-ngah menggigil ketakutan. Dan dengan


berte-riak tinggi, ia lari berjungkir balik suaranya masih terdengar menyobek
kesunyian alam. Makin lama makin jauh. Lalu lenyap. Dan kesunyian mulai
merayapi jiwa yang menekan-nekan. Kesunyian yang merangsang suatu kengerian.
-

Titisari kenal akan kelemahan Kebo Bangah. Menyaksikan betapa dahulu Kebo
Bangah lari tunggang-langgang begitu kena hantaman. Sangaji, otaknya yang
cerdas segera mencatat kejadian tersebut. Temyata dia berhasil juga. Sekarang ia
menjelajahkari pandangnya. Dalam ruang kedai penuh dengan penglihatan
rnenyedihkan. Mayat dan perabot kedai yang hancur berkeping-keping. Teringat
akan kekejaman Edoh Permanasari, pikirannya yang masih agak bingung terus saja
menyangkut soalnya sendiri. Katanya di dalam hati, hidup ini alangkah kejam.
Semua yang ada direnggutkan. Esok atau lusa. Juga Sangaji direnggut dari sisiku
pula. Siapakah yang pernah bercerita tentang suatu keaba-dian?

Dengan pikiran itu ia meninggalkan kedai tanpa tujuan. Malam sangat gelap. Tiada
suara, selain hiasan malam semenjak zaman Adam. Bintang-bintang, angin lalu,
desis mar-gasatwa, salak anjing dan kesenyapan hati.

Kira-kira menjelang larut malam, ia berhenti beristirahat di sebuah gedung rusak.


Kabamya itulah bekas pemujaan penduduk pada zaman lampau. Dan selagi ia
hendak menghempaskan diri oleh rasa lelah, men-dadak terdengarlah langkah
ringan menghampiri rumah pemujaan itu. Kemudian terdengar suara helaan napas.

"Edoh memang siluman biadab. Di mana-mana dia membunuh," kata seorang.

"Itulah akibat kegagalan cinta. Dan kega-galan itu kini meleruk kepada tiap
pasangan muda-mudi yang tidak berdosa," sahut yang lain. "Sidi Mantera! Marilah
kita membicarakan yang lain."
Dua orang yang sedang berbicara itu, sesungguhnya pendekar Sidi Mantera dan (nu
Kertapati. Seperti diketahui, mereka berdua termasuk pendekar-pendekar
Himpunan Sangkuriang yang memegang peranan terten-tu.

"Kau memang pilih kasih. Karena kau kasih kepada Kamarudin maka bekas
tunangannya yang biadab itu pun kau sayang juga," gerutu Sidi Mantera. "Terang-
terangan ia menjadi sin-ting akibat cinta, namun engkau berpura-pura tak
mengetahui."

Hati Titisari tercekat. Teringat akan per-soalannya sendiri, mendadak ia jadi perasa.
Benarkah sepak terjang Edoh Permanasari itu, semata-mata akibat kegagalan
cinta?

Beberapa waktu lamanya Inu Kertapati dan Sidi Mantera masih membicarakan
sepak ter-jang Edoh Permanasari yang makin lamamakin mengganas. Kemudian
beralih kepada masalah Himpunan Sangkuriang yang menjadi terpecah belah.
Mereka berdua termasuk tokoh Himpunan Sangkuriang bagian hubu-ngan luar.
Dengan sendirinya mengetahui belaka apa yang terjadi dalam himpunannya.

Mendengar pembicaraan itu, mula-mula tiada menarik perhatian Titisari.


Maklumlah, dia lagi berduka perkara cinta kasih. Karena itu segala pembicaraan
yang tidak menyentuh atau mirip dengan masalahnya, tidak menarik perhatiannya.
Mendadak kedua orang itu menyinggung-nyinggung nama Ki Tunjung-biru.
Sekaligus terbangunlah perhatiannya.

"Menurut kabar dia tertangkap di Cirebon. Kemudian terlihat lagi dalam sebuah
kemah kompeni di Jatibarang. Agaknya, dia bakal dibawa masuk ke Jakarta," bisik
lnu Kerta-pati.

"Ah, apakah Gusti Maulana Safri tidak mengetahui?" Sidi Mantera minta ketegasan.

"Hal itu, tak berani aku mendahului," sahut lnu Kertapati. Lalu berbisik, "Apakah kau
tahu, bahwa Gusti Maulana Syafri kini mengenakan seragam militer Belanda?"

Sidi Mantera mengangguk sambil berceli-ngukan. Sementara itu lnu Kertapati


mene-ruskan: "Karena itu, kau kubawa ke mart untuk menemui beliau. Aku
menemukan tanda-tanda sandinya di tengah jalan."

"Bagus! Tapi di mana?"

"Belum kuketahui di mana Beliau berada. Akupun membawa pesan Gusti


Suryapranata. Beliau kini bekerja sama dengan Lotia ) bagian barat," jawab lnu
Kertapati dengan berbisik. Mendadak dia berkata, "Hai! Apakah kau merasa diintai
orang?"

"Hai! Kaupun mempunyai perasaan demi-kian?" Sidi Mantera terkejut. Mereka


berdua bercelingukan. Namun sekitarnya sunyi senyap. Sekalipun begitu,
prasangkanya sa-ngat tajam. Seperti berjanji, mereka berdiri berendeng. Lalu
berangkat mengarah ke barat.

Diam-diam Titisari kagum kepada perasaan mereka. Pikirnya: "Kalau dia bukan
pendekar lama, masakan mengerti perkara prarasa segala? Rupanya di sinipun ada
pendekar-pen-dekar jempolan pula."

Titisari boleh cerdas otaknya. Namun pe-ngalaman melihat negeri lain masih nol
besar. la mengira, bahwa budaya manusia hanya ter-dapat di Jawa Tengah.

Tapi dasar berotak cerdas dan cermat, di-tambah watak usilnya, ia merasa seperti
ber-kewajiban untuk mengetahui masalah tersebut sejelas-jelasnya. Maka segera ia
menguntit dengan diam-diam.

Tenaga sakti Titisari kini sejajar dengan sang Dewaresi semasa jayanya. Tetapi di
dalam hai ilmu silat ia berada jauh di atasnya. Itulah berkat mewarisi ilmu sakti
Ratna Dumilah dan hafal guratan keris sakti Kyai Tunggulmanik. Kebo Bangah
dahulu tidak bisa berbuat banyak menghadapi perlawanannya. Bahkan pendekar
gila itu sangat terkejut. Dan hatinya jadi gentar. Karena itu, untuk mengikuti kedua
pendekar Inu Kertapati dan Sidi Mantera, tidak usah bersusah payah. Sayang, hati
dan pi-kirannya masih limbung. Mendadak saja, hatinya menjadi lemas. Sangaji,
Sonny de Hoop dan dirinya sendiri muncul dalam benaknya. Kemudian dengan
pikiran was-was, ia berhenti. Dan teringat akan masalah yang menghadang di
depannya, ia jadi berputus asa. Lalu membenci. Lalu uring-uringan. Akhirnya ia
menidurkan diri di sebuah gubuk ladang dengan acuh tak acuh.

Matahari sudah berada tinggi di atas, tatkala ia membersihkan diri di sebuah


sungai. Kemudian dengan berjalan lenggak-lenggok, ia mengarah ke barat. Oleh
rasa haus dan lapar ia singgah di sebuah kedai. Namun tiada nafsu makannya.
Selagi ia membayar harga makan-annya, tiba-tiba matanya yang tajam melihat
suatu gerakan cepat. Terbangunlah semangat-nya. Dan bergegas ia ke luar. Sekali
melihat, nampaklah satu titik bayangan di kejauhan. Betapa cepat gerakan itu, bisa
dibayangkan.

Pendekar dari mana dia? Rupanya di Jawa Barat banyak terdapat pendekar-
pendekar sakti. Eh, jangan-jangan dialah yang disebut ...

Suatu ingatan menusuk benaknya. Segera ia menjejak tanah dan lari bagaikan
terbang. Tatkala ia melintasi sebuah gundukan, terde-ngarlah suatu perkelahian. Ia
heran bukan kepalang. Karena yang berkelahi ialah Kebo Bangah dengan seseorang
yang mengenakan pakaian seragam kompeni.

Ah, apakah dia yang semalam disebut Gusti Maulana Syafri? pikirnya. Ingatan
Titisari memang tajam. Meskipun dalam keadaan lim-bung, masih bisa menyimpan
suatu per-cakapan selintasan dalam ingatannya. Sebab yang berkelahi itu, memang
Maulana Syafri. Dan pada saat-saat bahaya mengancam, muncullah dia menolong
Maulana Syafri.

Dan demikianlah, setelah terjadi suatu rente-tan percakapan, ia tertidur kecapaian


menjelang fajar hari. Aneh bunyi percakapan itu. Lebih aneh lagi adalah Maulana
Syafri. la seorang raja muda yang pernah malang melin-tang ke segala penjuru.
Sakti dan senang membawa kemauannya sendiri. Tetapi ber-temu dengan Titisari,
mendadak saja ia jadi penurut. Melihat Titisari tertidur sesudah menangis terus-
terusan, terbintiklah suatu rasa yang susah untuk diceritakan. Ia tidak
mengganggunya atau mengusiknya. Bahkan menjaganya seolah-olah kaki dan
tangannya terbelenggu oleh suatu kekuatan yang tidak dimengertinya sendiri.

Terasa pada diri manusia: dalam hidup ini berlaku kisah timbal-balik. Sejarah
mengkon-sepi manusia. Kemudian hidup menuntut manusia mengkonsepi sejarah.
Dan kejadian tim-bal balik ini, terjadi semenjak sejarah kemanu-siaan ada dan akan
berlaku sampai manusia tiada lagi dalam persada jagat. Sekarang hai itu terjadi
pada diri Titisari, Maulana Syafri telah terikat dengan alasan-alasan yang tidak
dimengertinya sendiri. Lalu hidup mulai meng-gerayangi tubuh gadis itu. Mendadak
saja Titisari memperoleh kesegarannya kembali. Ia seolah-olah sudah bertemu
kembali dengan dirinya sendiri. Hanya terjadi beberapa jam setelah tertidur pulas
menjelang fajar hari.

Tatkala menjenakkan mata, dilihatnya Maulana Syafri duduk bersandar pada


sebuah batu. Agaknya ia tertidur pula. Namun dia se-orang sakti. Ilmunya tinggi.
Begitu Titisari bergerak, ia sudah menyapa: "Sebelah utara mengalir suatu sungai
yang cukup bening airnya. Mandilah dahulu!"

Sudah seringkali Titisari bergaul dan menge-nal orang-orang sakti seperti Maulana
Syafri. Sekalipun demikian, tak urung hatinya kagum juga. Hal itu ada sebabnya, Ia
mengira, bahwa hanya di Jawa Tengah saja yang terdapat orang orang sakti seperti
Gagak Seta, ayahnya sendiri, Kyai Kasan Kesambi, Ki Hajar Karang-pandan dan
murid-murid Gunung Damar. Maka dengan tersenyum manis, berangkatlah ia ke
sungai.

"Paman, kau baik hati. Karena itu, akupun mau berbaik hati pula," katanya setelah
mandi. Ia datang dengan membawa serenteng ikan. Melihat Maulana Syafri sudah
member-sihkan badan pula, tahulah dia bahwa orang itu akan segera berangkat. Ia
eerdik. Hal itu sudah diduganya terlebih dahulu. Maka sengaja ia hendak memasak
ikan seperti yang pernah disajikan dahulu kepada Gagak Seta. Dan ter-ingat akan
akal itu, teringatlah dia pula kepada si tolol Sangaji. Hatinya lantas saja berduka,
tetapi tidak pernah lagi seperti hari-hari kemarin.

"Nona..." kata Maulana Syafri. Tetapi belum lagi ia meneruskan perkataannya,


Titisari sudah memotong.
"Meskipun kesehatanmu lebih baik daripada kemarin, tapi kurasa belum pulih
seperti sedia-kala," katanya. "Aku tahu, kau memang akan segera berangkat untuk
menemui seseorang."

Mendengar ujar Titisari, Maulana Syafri kaget sampai berjingkrak. Itulah suatu
rahasia besar yang akan membawa runtuh atau ba-ngunnya Himpunan
Sangkuriang. Mengapa sampai diketahui orang luar? Tapi sekali lagi, belum juga
mulutnya membuka Titisari sudah mendahului dengan membawa sikapnya acuh tak
acuh.

"Paman mengenakan pakaian militer. Kalau tidak bermaksud menemui seseorang,


ma-sakan sampai meninggalkan tangsi perkemah-an?"

Hati Maulana Syafri lemas sekaligus. Ia be-nar, pikirnya. Dan diam-diam ia


mengutuki kegoblokannya.

"Nona, kau cerdik. Aku memang hendak menemui seseorang. Tapi tahukah engkau,
siapa yang bakal kutemui?" ia mencoba memancing.

Titisari bukan Titisari, kalau tak pandai menebak hati orang. Maka sambil
membakar ikannya, ia menyahut dengan suara ketololan.

"Mengapa tak tahu? Semalam dunia digem-parkan oleh sepak terjang Edoh
Permanasari. Dan kau ingin menangkapnya, bukan?"

Lega hati Maulana Syafri, karena gadis itu ternyata tidak mengetahui siapa yang
hendak ditemui. Maka ia tertawa terbahak-bahak.

"Ya betul. Betul! Kau memang cerdik. Edoh memang keterlaluan. Dia harus
menerima hukumannya. Inilah kewajibanku sebagai ser-dadu, dibayar untuk
menjaga keamanan."

Maulana Syafri mengira, bahwa dirinya sudah cerdik. Tak tahu, dia malahan kena
di-selomoti gadis itu. Titisari tahu, bahwa seorang yang bernama Gusti
Suryapranata membawa pesan yang akan disampaikan lewat kedua pendekar tadi
malam. Melihat Maulana Syafri membawa lagak pandir, diapun berlagak lebih
pandir lagi.

"Kalau dibandingkan dengan Edoh, ma-nakah yang lebih tinggi. Ilmuku atau ilmu
iblis Itu?"

Maulana Syafri beragu-ragu. Setelah ber-pikir sebentar ia menjawab, "Betapa aku


bisa menilai ilmumu, Nona. Belum pernah aku melihat ilmumu meski hanya
sejuruspun.

Sebaliknya aku kenal Edoh Permanasari. Dia seorang ketua dari suatu himpunan
pendekar. Anak murid dan pewaris ilmu sakti Ratu Fa-timah."
"Baik, baik, kau mau bilang, aku tak becus melawan dia, bukan?"

"O, tidak, tidak, *" buru-buru Maulana Syafri memotong. Dia tak mau menyakiti hati
gadis itu. Terus berkata ngerocos. "Soalnya... soal-nya, karena aku belum pernah
melihat jurus-mu..."

"Tapi kau bilang, dia pewaris ilmu sakti Ratu Fatimah. Bukankah engkau sudah
meren-dahkan aku? Sebenarnya siapakah Ratu Fatimah yang nampaknya
kaukagumi itu?" Titisari masih saja membawa sikap ketolol-tololan.

Maulana Syafri terdiam sejenak. Coba kalau pertanyaan itu datang dari seorang
yang bukan Titisari pasti ia akan menjawab dengan segera. Sebaliknya karena
khawatir akan menyakiti hati gadis itu, ia jadi beragu.

"Baik, baik..." Titisari menggerutu. "Kita ma-kan dahulu. Sebentar lagi aku akan
mencari Edoh Permanasari. Kalau aku dapat meme-nangkan iblis itu, apa
taruhanmu?"

Seperti diketahui, sebelum Edoh Perma-nasari meninggalkan kedai, ia mengajukan


tantangan terhadap Titisari di sebelah bukit yang nampak tak jauh lagi. Maulana
Syafri tak tahu hai itu. Pikirnya, anak ini berotak cerdas serta cerdik tapi mulutnya
besar pula. Hm... Edoh Permanasari seorang perempuan besar kepala. Masakan dia
sudi melayani seorang perempuan yang masih asing baginya? Tapi baiklah aku
jangan menyakitkan hatinya. Dan setelah berpikir demikian, dengan didahului
tertawa nyaring, ia berkata: "Kau bisa berlawanan dengan Edoh, itulah bagus sekali.
Meskipun andaikata kalah, tidak akan mema-lukan."

"Bagus! Kau memang pandai menghina seorang perempuan muda belia seperti
aku. Bagus! Bagus!" Titisari mengomeli. Dan buru-buru, Maulana Syafri menyahut
gugup. "Bukan begitu, bukan begitu... Maksudku, Edoh mempunyai senjata
andalannya. Itulah pedang pusaka Sangga Buwana. Pusaka mustika yang tiada
taranya di jagat ini."

"Hm, jadi kau mau bilang, bahwa pedang lebih hebat dari manusia?"

"Bukan begitu... bukan begitu!"

"Kau bilang dia pewaris Ratu Fatimah. Siapa sih Ratu Fatimah? Kalau dibandingkan
dengan aku, mana yang lebih unggul?"

Didesak demikian, mau tak mau Maulana

Syafri menggaruk-garuk kepala. Dalam pada itu, ikan telah selesai dibakar. Dengan
bumbu sedikit, Titisari menyajikan. Tapi dasar berta-ngan iblis, masakan
sesederhana itu alangkah lezat. Maulana Syafri sampai tak tahan me-nguasai
nafsunya.
"Nona, rupanya kau beri racun sampai aku begini jadi tergila-gila," serunya. Kali ini
dia tak berpura-pura. Gagak Seta dahulu memuji tangan Titisari yang bisa
menyulap segala masakan sederhana menjadi lezat nyaman. Maka pujian Maulana
Syafri benar-benar ter-bersit dari lubuk hatinya.

"Kau janganlah berbicara yang bukan-bukan. Kalau kuberi racun benar-benar,


bukankah pada saat ini nyawamu sudah berpesiar di tinggi sana?" kata Titisari.

Maulana Syafri tak jadi sakit hati. Ia malahan menjadi senang. Kebetulan pula,
perutnya sudah lapar. Maka dengan lahap ia menggeru-muti ikan bakaran yang
disediakan.

"Paman! Senangkah engkau memakan masakanku?" kata Titisari.

"Tentu. Engkau bidadari pandai memasak," puji Maulana Syafri. "Kau senang, tapi
aku tidak." "Mengapa?" Maulana Syafri terkejut. "Dua kali kau menyebut Ratu
Fatimah. Dan

aku sudah menyajikan beberapa ekor ikan. Namun engkau tak sudi mengabarkan
siapa Ratu Fatimah. Bukankah hatiku jadi tak senang?"

"Ah!" Maulana Syafri terhenyak. Sejenak kemudian seperti tersadar. Lalu berkata
menyesali diri: "Ya, benar rupanya aku manu-sia tak kenal budi."

Maulana Syafri sebenarnya manusia paling sulit untuk diajak berbicara. Selamanya
ia be-kerja seorang diri. Sifatnya angkuh, tinggi hati dan menyendiri. Tapi dengan
Titisari apa sebab mendadak dapat merubah adat? Hal itu dise-babkan, karena
Titisari dapat mengenai sasaran hatinya dengan jitu. Gadis itu sudah terlalu
mengenai lagak-lagu pendekar-pendekar yang berilmu tinggi. Menghadapi
golongan mereka, jangan harap apabila hanya dihidangi laku sem-bah, memuji-muji
atau menjilat hati. Seringkali mereka bahkan menjadi muak. ftulah dise-babkan,
karena mereka merasa diri tergolong manusia bijaksana. Manusia yang
menganggap dirinya selalu benar dan sempuma, sehingga tidak perlu lagi
menerima tambahan dari luar. Sebaliknya seringkali mereka terjebak oleh se-
rentetan kata-kata yang dapat menunjukkan kekurangannya, sehingga membuat
hatinya menjadi penasaran dan iri hati.

Selamanya Maulana Syafri menganggap dirinya manusia jempolan tanpa tanding.


Di luar dugaan, ia ketemu batunya. la nyaris ter-cabut nyawanya oleh Kebo Bangah.
Dan pada saat itu muncullah Titisari, yang dapat menun-jukkan kekurangannya.
Hanya dengan sepa-tah kata saja, Kebo Bangah dapat dibuatnya lari tunggang
langgang. Hal itu benar-benar menarik perhatiannya. Dengan tak sadar, dia sudah
menerima kalah.

Kemudian ia mencoba menaikkan derajat dengan istilah hutang piutang budi. Tapi
de-ngan jitu, Titisari dapat memutar balik ke-nyataan, sampai dia merasa diri sudah
berbuat tak pantas terhadap seorang gadis muda belia dengan istilah main paksa.
Kemudian ia mencoba mengenal watak Titisari. Tetapi Titisari dengan cerdik dapat
membuat bingung pendekar itu dengan sikap mengomeli, menggerendengi,
mencela dan menangis pilu. Gntuk ketiga kalinya, ia mera-sakan kekurangannya.

Dan yang penghabisan, ia sudah menggeru-muti masakan gadis itu, sedang ia


belum berbuat sesuatu kepadanya sebagai balas budi yang kemarin ditonjol-
tonjolkan. Teringat hal itu, ia menjadi malu dengan sendirinya.

"Memang benar pepatah kuno: rasa cinta dapat pula direbut melalui perut, katanya.
Meskipun tidak demikian, akupun sudah se-pantasnya wajib membuat senang
hatimu. Bukankah aku sudah bersedia menjadi budak-mu?"

"Siapa bilang aku ingin mengambil engkau menjadi budak? Aku hanya berpura-
pura," sa-hut Titisari. "Sudahlah ... sudahlah ... Kalau kau tak sudi memberi
keterangan, aku bukan manusia yang biasa main paksa. Memangnya siapa tak
tahu, bahwa engkau pernah kalah melawan kegagahan Ratu Fatimah...."

"Eh, siapa bilang begitu?" Maulana Syafri kaget sampai berjingkrak. "Aku kalah
dengan Ratu jahanam itu? Mana bisa? Mana bisa? ... Dia memang hebat. Tetapi
untuk dapat me-ngalahkan aku, jangan bermimpi. Soalnya, karena dia memiliki
pedang mustika yang tiada taranya di dunia ini. Sehingga tidak dapat ia didekati.
Nona, kau masih anak kemarin sore. Betapa mengenal pedang mustika Sangga
Buwana? Meskipun engkau bersenjata apa saja tiada gunanya. Karena hanya
dengan satu kali tebas saja, senjatamu akan terajang seperti sayur-mayur."

"Paman! Kulihat umurmu dengan Edoh Permanasari tiada seberapa selisihnya. Tapi
menilik kata-katamu, engkau seperti pernah

ismoyo

bertempur melawan Ratu Fatimah. Benarkah itu?" kata Titisari.

Mendengar pertanyaan Titisari, Maulana Syafri terhenyak sebentar. Wajahnya


berubah. la seperti mengiakan, tapi batal dengan sendiri. Bukankah dia
mengenakan pakaian seragam militer untuk menghilangkan jejak? Kalau ia sampai
membenarkan, pastilah gadis itu akan mengejar terus. Dan mau tak mau, ia akan
ter-paksa menerangkan siapa dia sebenarnya. Tentu saja ia tak menghendaki
terjadi demi-kian. Itulah sebabnya setelah menghela napas, ia berkata mengalah.,
"Ya benar, aku memang seorang pembual. Pantas kau kemarin menya-makan aku
dengan burung gagak. Sesung-guhnya ujarku tadi hanyalah tutur kata orang. Tetapi
pedang mustika Sangga Buwana benar-benar bukan omong kosong. Pedang itu kini
jatuh di tangan Edoh Permanasari pewaris-nya. Hai, kau bisa membandingkan
umurku dengan umur Edoh Permanasari. Apakah engkau pernah berjumpa?"

Titisari tidak melayani. Ia memperbaiki pakaiannya. Kemudian berkata, "Hari ini aku
akan mengadu untung dengan dia. Kau ikut, tidak?"
Setelah berkata demikian, dengan acuh tak acuh ia berjalan mendahului. Hati
Maulana

Syafri tercekat. Pikirnya, Edoh Permanasari bukan pendekar murahan. la benar-


benar mewarisi ilmu Fatimah. Aku sendiri kena luka dalam. Meskipun andaikata aku
dalam keada-an segar-bugar, belum tentu aku bisa men-dekati pedang Sangga
Buwananya. Hm, kalau iblis itu sampai dapat mencelakakan gadis ini, dimanakah
aku harus menempatkan mukaku dalam percaturan hidup? Memperoleh pikiran
demikian, buru-buru ia menghampiri seraya berkata mencoba. "Nona, apakah
engkau pernah berhadapan muka dengan iblis itu?"

Titisari tertawa geli. "Kau mencemaskan aku, itulah bagus sekali. Paman
nampaknya memiliki ilmu tinggi, masakan aku takut akan segalanya. Kemarin
Paman dapat bertahan melawan pendekar gila itu sampai hampir se-ratus jurus.
Itulah suatu bukti bahwa Paman termasuk seorang pendekar kelas tinggi."

Meskipun Maulana Syafri tidak sudi mem-perkenalkan diri, Titisari sudah dapat
menebak siapa dia sebenarnya. Hanya saja, ia tak mau mendesak. Ia tahu, hal itu
merupakan panta-ngan besar bagi seorang pendekar yang sengaja melenyapkan
jejaknya. Namun ia seorang gadis cerdik. Ia dapat mencari jalan Iain, untuk
membuka topeng raja muda Himpunan Sangkuriang itu.

Dalam pada itu Maulana Syafri tertawa ter-bahak-bahak sambil berkata, "Mana bisa
aku tergolong seorang pendekar kelas tinggi. Melawan seorang gila saja, tidak
mampu."

Titisari tertawa geli. Sahutnya, "Kau ikut-ikutan pula menamakan dia seorang gila.
Tapi tahukah engkau, siapa dia sebenarnya?"

Kembali hati Maulana Syafri tercekat. Pendekar lawannya kemarin memang bukan
orang sembarangan. Selama hidupnya baru kali itu ia menghadapi seorang lawan
tangguh. Malahan ia harus mengakui, seumpama tiada Titisari pastilah jiwanya
sudah melayang. Teringat betapa hanya dengan sepatah kata lawannya dapat
dibuat lari tunggang-langgang oleh Titisari, besar dugaannya bahwa gadis itu pasti
mempunyai sangkut pautnya. Maka dengan terbata-bata ia berkata, "Ah! Ya, aku
memang manusia goblok. Nona, kemarin hanya menyebut nama Sangaji dan dia
lari tunggang langgang. Apakah Nona bernama Sangaji?" .

"Hm, kau memang pandai main paksa lagi."

"O, bukan begitu. Bukan begitu, maksud-ku." Maulana Syafri gugup. "Betapa aku
berani memaksamu?"

"Baiklah kalau begitu, cobalah jawab per-tanyaanku dengan jujur. Kalau Paman
berlagak bodoh, saat ini tak sudi lagi aku berhu-bungan dengan Paman," kata
Titisari.
"Apakah itu?" Maulana Syafri khawatir.

Titisari menatap wajah Maulana Syafri se-olah-olah hendak mencari keyakinan. "Di
dunia ini, siapakah manusia yang paling tinggi ilmunya?"

Mendengar pertanyaan itu Maulana Syafri kaget. Itulah suatu jebakan yang susah
dihin-dari. Sebagai rekan Ki Tunjungbiru, sudah barang tentu ia tahu siapakah
tokoh-tokoh sakti pada zaman itu. Kalau dia berlagak bodoh, babipun tidak akan
percaya. Sebalik-nya kalau dia menjawab dengan sebenarnya, samalah halnya
dengan membuka kartunya sendiri. Dalam kebimbangannya timbullah sifat aslinya.
"Baiklah, biar aku menyenangkan hatinya. Kalau kesehatanku sudah pulih kembali,
apakah susahnya mencabut nyawanya. Cuma saja aku belum mengetahui siapa dia
sesungguhnya. Memperoleh keputusan demi-kian, ia lantas berkata: "Aku ini orang
udik. Janganlah Nona menertawakan kebodoh-anku."

"Kau bilang orang udik atau orang hutan, sesukamulah," Titisari tersenyum.

"Sepanjang pengetahuanku berjumlah tujuh orang. Yang pertama, Mangkubumi 1.


Kedua,

Kyai Kasan Kesambi. Ketiga, Adipati Sureng-pati. Keempat, Gagak Seta. Kelima,
Kyai Haji Lukman Hakim. Keenam: Kebo Bangah. Dan yang ketujuh Pangeran
Mangkunegara 1 atau yang terkenal dengan nama Pangeran Samber Nyawa.
Benarkah itu?"

"Bagus! Begitulah baru boleh dikatakan se-orang sahabat. Dan tahukah engkau
siapa lawanmu kemarin?"

Maulana Syafri bergeleng kepala.

"Dialah pendekar Kebo Bangah," kata Titisari.

Dan mendengar keterangan Titisari, Mau-lana Syafri kaget sampai berjingkrak.

"Benarkah dia pendekar sakti Kebo Bangah?" ia menegas.

Titisari mengangguk. Dan Maulana Syafri menjadi lemas. la memang mengenal


nama tokoh-tokoh sakti itu. Tetapi hatinya sesung-guhnya tidak mengakui, karena
ia terlalu per-caya kepada kesanggupannya. Sekarang ia ternyata kalah melawan
pendekar Kebo Bangah. Maka kepongahan serta ilmu yang diagul-agulkan,
runtuhlah.

"Dan kau tahu, siapakah aku sebenarnya?" kata Titisari menguji lagi. Dengan
kepala ko-song, Maulana Syafri menengadahkan muka-nya.

"Cobalah tebak!" kata Titisari. Lalu ia berkelebat memainkan jurus-jurus Ratna


Dumilah yang dicampuradukkan dengan sekelumit sakti Witaradya warisan
ayahnya. Memang, Titisari bermaksud hendak membu-atnya takluk. Gcapannya
ingin mengambil Maulana Syafri, sebagai budak. Sesungguhnya tak jauh dari
maksud sesungguhnya. Itulah disebabkan ia tahu, bahwa Maulana Syafri ter-masuk
salah seorang raja muda Himpunan Sangkuriang yang didengarnya dari mulut Inu
Kertapati dan Sidi Mantera semalam. Kalau dia bisa menaklukkan Maulana Syafri
dengan kecerdikannya, bukankah akan merupakan alat yang dapat diandalkan
untuk merebut Sangaji kembali dari sisi Sonny de Hoop?

Maulana Syafri boleh cerdik dan berpenge-tahuan tinggi, tetapi macam ilmu tokoh-
tokoh sakti yang disebutkan tadi sesungguhnya baru dikenal namanya belaka.
Selamanya ia me-nyekap diri dalam wilayah Jawa Barat. Karena itu, dia tak sempat
menjenguk keragaman ilmu sakti lainnya yang terdapat di persada bumi ini. Dan
hal itu termasuk dalam perhi-tungan Titisari yang cerdik.

Makin Titisari memperlihatkan jurus-jurus-nya, makin besar teka-teki yang terjadi


dalam otak Maulana Syafri. Itulah tujuan Titisari sebenarnya. Dengan kepala terus
berteka-teki, ia mempunyai harapan untuk mengikat pen-dekar tokoh Jawa Barat
itu. Dan hal ini benar-benar jitu mengenai sasaran watak pen-dekar sakti Maulana
Syafri.

Sebagai puncak dari pertunjukan, Titisari memperlihatkan sejurus guratan ilmu Kyai
Tunggulmanik. Kemudian melesat dengan mendadak memasuki kampung.

Maulana Syafri seperti tersadar. Lantas lari mengejar sambil berseru nyaring.
"Nona! Nona! Tunggu! Bukankah aku sudah bersedia menjadi budakmu?"

Perempuan bukan perempuan, kalau tidak dapat membuat pusing laki-laki. Hampir
melampaui tengah hari, Titisari terus membuat Maulana Syafri berteka-teki. Gadis
itu keluar masuk desa untuk mencari biji sawo, biji asam dan kerikil tajam. Dan
selama itu Maulana Syafri berusaha mencari keterangan seba-nyak-banyaknya
tentang dirinya. . "Nona, sebenarnya kau siapa?" tanyanya berulang kali.

"Paman! Daripada kau merengek-rengek, bukankah lebih baik kau menceriterakan


ten-tang Edoh Permanasari?" sahut Titisari acuh tak acuh.

"Nona, aku ini seorang serdadu. Pe-ngetahuanku tak lebih daripada pendengaran
orang."

"Bagus, berbohonglah terus!" Titisari meng-omeli.

Sepak terjang seorang pendekar memang aneh buat ukuran umum. Kalau umum
meng-anggap benar, dia menganggap salah. Seba-liknya kalau salah, dianggapnya
benar. Menu-rut akal, Maulana Syafri dapat meninggalkan Titisari tanpa banyak
berpusing-pusing. Tetapi apa yang terjadi di dalam diri Maulana Syafri mempunyai
pengucapan sendiri. Makin ia menghadapi teka-teki, makin ia jadi terpikat. Sialnya,
ia berlawanan dengan Titisari. Di du-nia ini, siapakah yang dapat mengadu kecer-
dikan dengan dia? Ayahnya sendiri merasa kuwalahan.
Menimbang bahwa gadis itu pasti akan me-ngajaknya berputar-putar dari desa ke
desa tanpa tujuan, Maulana Syafri lalu menang-galkan pakaian militernya. Ia
mengenakan pakaian jubah Persia dan kembalilah dia sebagai salah seorang tokoh
besar Himpunan Sangkuriang yang disegani.

Semuanya itu tidak luput dari perhatian Titisari, namun gadis itu bersikap seolah-
olah tiada mengacuhkan. Kata Maulana Syafri mencoba, "Nah Nona, sekarang
bagaimana kesan diriku?"

"Sayang tidak mirip budakku lagi," sahut Titisari sambil mencibirkan bibirnya. Men-
dengar kata-kata Titisari yang selalu bernada menjengkelkan hati, mau tak mau
Maulana Syafri tersenyum geli juga.

Ia hendak membuka mulut, seko-nyong-konyong terdengariah suara kentung tanda


bahaya. Di sebelah barat daya nampak api dengan asapnya membumbung tinggi.

"Hm, siapa lagi kalau bukan perbuatan Edoh Permanasari," kata Titisari. Dugaan
Titisari memang jitu. Semalam, iblis perempuan itu merasa tak puas karena tak
dapat mengumbar kemauannya oleh rintangan-rintangan yang datang dengan
berturut-turut. Oleh rasa jengkelnya, ia meninggalkan kedai dengan hati uring-
uringan. Dan sebagai biasanya, ia lantas mencari korban. Dua buah desa
dibakarnya sekaligus.

Dengan berlari-larian, Titisari dan Maulana Syafri mendaki ketinggian. Kemudian


melesat seolah-olah sedang beriomba mengadu ilmu lari. Dan diam-diam Maulana
Syafri kagum pa-danya. "Hebat, anak ini" kata Maulana Syafri di dalam hati.
"Biariah kucoba sampai di mana dia mengenal ilmu berlari kencang." Memikir
demikian, segera ia menancap gas. Tubuhnya berkelebat mendahului Titisari
dengan cepat.

Titisari tak mau mengerti. Ia segera mengelu-arkan ilmu berlari cepat khas ajaran
ayahnya. Kemudian dicampur dengan ilmu petak ajaran pendekar sakti Gagak Seta.
Ia berotak cerdas. Dengan menggabungkan dua ilmu itu, hasil-nya luar biasa bagus.
Tubuhnya lantas saja melesat bagaikan terbang. Dalam hal tenaga dan keuletan,
tentu saja ia kalah jauh daripada Maulana Syafri. Gntung jarak yang hendak mereka
capai tidak seberapa jauhnya. Dengan demikian, gadis itu dapat mengimbangi
larinya Maulana Syafri. Malahan makin lama makin cepat. Akhirnya berhasil
mendahului beberapa langkah di depan. Dan betapa Maulana Syafri memusatkan
semangatnya, tetap saja ia tak mampu menjajari. Hai! Benar-benar ajaib! pikirnya.
Meskipun ilmu lariku belum tergolong kelas wahid, tetapi pada zaman ini aku hanya
dikalahkan oleh Simuntang atau Tatang Sontani. Sebaliknya gadis ini berada di
atasku. Murid siapa dia? Ah, pasti asal-usul gadis ini bukan sembarangan. Kalau aku
bisa menggu-nakan tenaganya, bukankah bagus untuk kemakmuran Himpunan
Sangkuriang? Me-mikir demikian, hatinya bergembira. Bulatlah keputusannya, tidak
akan meninggalkan gadis ini seperti pikirnya semula. Dan demikianlah raja muda
Maulana Syafri yang sudah kenyang makan garam, berada dalam pikirannya yang
timbul tenggelam oleh sepak terjang Titisari yang serba jitu menawan hati orang.

Selagi ia berpikir demikian, tubuh Titisari sudah berkelebat memasuki dusun.


Tatkala ia menyusul, dilihatnya Titisari sudah bertempur melawan tiga orang tokoh
yang dikenalnya. Itulah: Ratu Kenaka, Sindung Riwut pendekar Gunung Gembol dan
Kusuma Winata pendekar dari Gunung Mandalagiri.

Titisari melawan mereka bertiga dengan pedang rampasannya. Gesit gerak-gerik


gadis itu. Meskipun dikerubut tiga pendekar tokoh-tokoh Jawa Barat, untuk
sementara masih dapat ia mengimbangi. Malahan sekali-kali, ia dapat mengadakan
serangan balasan.

Ah, benar-benar bukan gadis sembarangan. Maulana Syafri kagum benar-benar. Ia


menghela napas. Sebagai seorang raja muda yang sudah banyak berpengalaman,
tahulah dia bahwa mereka datang semata-mata untuk mencari dirinya. Itulah
disebabkan, karena ia pernah membunuhi anak-anak murid mereka demi mencari
keterangan tentang hilangnya Ratu Bagus Boang junjungannya. Menghadapi
penuntunan dendam mereka hatinya tidak gentar. Masih sanggup ia melayani.
Hanya saja, ia kini belum pulih seperti sediakala.

Maka mau tak mau, ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar. Tatkala menoleh,
ia meli-hat berkelebatnya pendekar Tatang Manggala. Hatinya tercekat. Bukan ia
tak mampu melawannya, tetapi dengan berkumpulnya empat tokoh golongan
tinggi, meskipun mempunyai sayap takkan mampu mengalahkan. Aku sendiri kalau
mau bisa lantas lari. Tapi apakah dia dapat kubuat mengerti?

la mengerutkan dahi. Setelah berbimbang-bimbang sebentar, ia lantas melompat


maju sambil membentak. "Nona jangan takut! Aku bantu!" Dengan beberapa
lompatan ia sudah berada di belakang pendekar Sindung Riwut kemudian menikam
dengan pedangnya.

Antara Titisari dan ketiga pendekar tersebut tiada permusuhan. Kedua belah pihak
sebe-narnya terjadi suatu kesalahan paham. Titisari melihat berkelebatnya Edoh
Permanasari. Dan ia segera memburu. Sedangkan ketiga pendekar tersebut
meskipun bukan termasuk golongan pendukung laskar perjuangan Jawa Barat yang
memusuhi Ratu Fatimah, tidak menyetujui sepak terjang Edoh Permanasari yang
ganas membakari kampung serta main bunuh terhadap pemuda pemudi yang sama
sekali tak berdosa. Waktu mereka lewat desa itu dalam mencari Maulana Syafri,
dilihatnya

Edoh Permanasari beraksi membakar desa dan membunuh penduduk. Terus saja
mereka melompat memburu. Sekali melompat, mereka berpapasan dengan Titisari.
Mengira Titisari salah seorang murid Edoh Permanasari, terus saja mereka bergerak
mengurung. Dan Titisari mendongkol kena dirintangi mereka. Dalam
kemendongkolannya, ia merabu ketiga pen-dekar tersebut dengan tikaman cepat.
Demi-kianlah, mereka bertempur dengan amat seru-nya.

Sekarang muncullah Maulana Syafri dengan tiba-tiba. Inilah yang dinamakan pucuk
dicinta ulam tiba. Mereka bertiga tergolong pendekar kelas wahid. Selamanya
mereka bergerak dengan penuh perhitungan, cermat dan hati-hati. Tujuan mereka
turun gunung semata-mata hendak mencari musuh besarnya itu. Perkara perbuatan
Edoh Permanasari meskipun bertentangan dengan angger-angger kemanu-siaan,
bisalah diselesaikan di kemudian hari. Karena itu seperti berjanji mereka
meninggalkan Titisari, Lalu mengepung Maulana Syafri dengan berteriak tinggi.

"Ah Maulana, Maulana! Jauh-jauh aku men-carimu. Kenapa kau baru muncul
sekarang?"

Maulana Syafri tertawa melalui hidung. la sadar, ketiga lawannya sangat berat.
Belum tentu ia dapat merebut kemenangan dengan mudah. Namun ia berlega hati.
Sebab tujuan-nya memang hendak memancing mereka agar menjauhi Titisari.
Setelah itu ia akan mencari akal lain.

"Kamu bertiga sebangsa kurcaci hendak mencari aku? Apakah andalanmu? Mari-
maji ... Hari masih cukup panjang. Masih cukup leluasa buat mengadu kepandaian,"
katanya lantang. Setelah berkata demikian, ia mem-berondongi dengan tikaman
kilat. Hebat tika-mannya. Kalau saja bukan mereka bertiga, pastilah sudah berhasil.

Meskipun demikian untuk menghindari tikaman kilat itu, mereka terpaksa


melompat mundur dengan berjumpalitan. Setelah dapat berdiri dengan tegak,
ternyata masing-masing lengannya tergarit juga ujung pedang. Maka bisa
dibayangkan betapa cepat tikaman itu. Dan benar-benar Maulana Syafri termasuk
tokoh pendekar yang susah diukur kepandai-annya.

Dalam pada itu Titisari yang telah terlepas dari kurungan para pendekar-pendekar
segera melesat memburu ke arah barat. Di depannya sebuah rumah terbakar
hebat. Kemudian terdengar bayi menangis. Berbareng dengan tangis itu, terdengar
pula suara pilu memekik tinggi:

"Jangan sentuh anakku! Jangan sentuh anakku!" •

Itulah suara seorang wanita berumur dua puluh tahunan. Kemudian suatu bayangan
berkelebat melesat ke halaman. Dan wanita muda yang memekik pilu, nampak
memburu ke luar. Dialah rupanya ibu dari bayi yang kini kena didukung bayangan
itu.

"Anakku, kembalikan! Kembalikan!" teriak-nya lagi dengan suara parau.

Bayangan itu, ternyata Edoh Permanasari. Dengan langkah lenggak-lenggok dan


tertawa senang, ia menyahut: "Salahmu sendiri kena-pa sampai mempunyai anak."
"Salah bagaimana," wanita muda itu bi-ngung.

"Hm, kenapa bukan aku yang mempunyai anak? Kenapa kau?" sahut Edoh
Permanasari bergusar. Seperti diketahui Edoh Permanasari benci kepada semua hal
yang berbau cinta kasih. la beriri hati manakala melihat sepasang suami isteri
dapat hidup berbahagia. Dan lebih-lebih terhadap sepasang suami isteri yang
dikurniai seorang anak pada tahun tahun pertama setelah mereka kawin. Itulah
dise-babkan, karena dia sendiri gagal dalam hal kisah asmara. Ia merasa dikhianati
laki-laki pujaan hatinya. Oleh dendam hati, ia benci terhadap semua laki-laki. Lalu
rasa dendam dan bencinya dilampiaskan terhadap sepasang makhluk yang seolah-
olah mengejek padanya.

Titisari mengetahui hal itu dari pembicaraan pendekar lnu Kertapati dan Sidi
Mantera tatkala sedang berteduh di sebuah rumah pemujaan. Mendengar kisah
Edoh Permanasari, ia agak tertarik. Itulah berhubung diapun lagi mengalami nasib
demikian. Tetapi melihat kekejaman dan keganasan Edoh Permanasari, hatinya
yang luhur tidak dapat membiarkan. Maka begitu menyaksikan penderitaan wanita
muda itu yang menangisi jiwa anaknya, segera ia bertindak. Dengan bersuit, ia
melompat sambil membentak. "Lepas!"

Mendengar bentakan serta melihat berkele-batnya suatu bayangan, hati Edoh


Permana-sari tercekat. Namun ia seorang pendekar wa-nita yang sudah
berpengalaman. Dalam rasa kagetnya, masih bisa ia berlaku tenang. Ia me-
ngibaskan pedangnya sambil menjejak tanah. Dan benar-benar tak memalukan ia
disebut sebagai pewaris tunggal Ratu Fatimah yang pernah mengguncangkan
dunia. Tubuh-nya tiba-tiba melesat dengan gaya manis dan sedap sekali dan
serangan mendadak itu dapat dihindarkan dengan cara ajaib. Tetapi serangan
Titisari bukan serangan biasa. Jurus yang digunakan dipetik dari ling-karan ajaib
guratan keris sakti Kyai Tunggul-manik yang tiada keduanya di dunia ini. Begitu
merasa sasarannya bakal lolos, cepat ia me-nyodokkan pedangnya. Dengan
gerakan yang susah dilihat, bayi sudah kena direbutnya. Kemudian dengan
mengejek ia melompat mundur sambil membujuk-bujuk bayi itu.

"Diam.... diam, manis. Betapa jahat iblis ini, pasti tidak bakal dapat menyentuh
tubuhmu. Selama aku berada di sini..."

Bukan main herannya Edoh Permanasari. Terkejut, bergusar, heran, terkejut dan
rasa penasaran berkecamuk sekaligus dalam lubuk hatinya, sampai wajahnya
berubah hebat menjadi pucat bagaikan kertas. Selama hidupnya, kecuali gurunya,
tiada yang sanggup mengga-galkan apa yang sudah dikuasainya. Dan begitu
mengenal siapa penyerangnya, jantungnya berdegupan. Namun ia seorang maha
guru besar yang sudah terlatih menguasai diri. Maka dengan hati ditenang-
tenangkan ia berkata, "Eh, kau lagi Nona. Kita bagaikan air laut dan air gunung.
Tapi dua kali sudah, engkau meng-ganggu kesenanganku."
Titisari tertawa melalui hidungnya sambil terus membujuk-bujuk si orok. Lalu
menyahut acuh tak acuh. "Ah, apakah aku salah dengar?

Bukankah engkau menantang aku untuk ber-main-main? Nah, sekarang sudah


kumulai. Masakan aku mengganggumu?"

"Hm," dengus Edoh Permanasari. Biasanya ia bermulut tajam. Tapi menghadapi


Titisari, ia seakan-akan merasa kalah setingkat. Gadis di depannya ini, rupanya
pandai pula menggu-nakan ketajaman lidah. Itulah sebabnya, tim-bullah
keangkuhannya. Katanya, "Hm, kau jangan berlagak dahulu bisa merampas bayi itu
dari tanganku. Kau bisa merampas, masakan aku tak dapat?"

Benar-benar ia dapat membuktikan ucapan-nya. Dengan mengibaskan pedang, ia


melejit dengan menghujani berondongan tikaman yang berbahaya. Titisari boleh
gesit dan lincah. Tetapi menghadapi serangan berondongan demikian, ia merasa
diri tak dapat bergerak dengan leluasa. Inilah disebabkan, karena, bayi yang
didukungnya bukan sebuah benda yang dapat ditenteng dengan seenaknya. Tapi
dasar otaknya memang cerdas luar biasa. Dalam seribu kerepotannya, masih bisa
dia menimbang-nimbang cepat: "Dia merebut bayi ini kembali, demi
kehormatannya. Sebaliknya aku bertujuan menyelamatkan jiwanya. Kalau bayi
kubiarkan dalam dukung-annya, bukankah hanya tinggal menjaga tangan jahatnya
saja? Memikir demikian, ia sengaja melepaskan dukungannya. Dan Edoh
Permanasari menyambar bayi itu dengan penuh kemenahgan.

Kemudian ia melesat mundur untuk bisa mengumbar rasa puasnya atas


kemenangan itu. Tetapi Titisari tidak membiarkan dia dapat bernapas. Dengan
menggunakan ilmu Ratna Dumilah ia melompat. Dan selagi tubuhnya masih berada
di udara, pedangnya sudah menotok punggung Edoh Permanasari. Diserang cara
demikian, Edoh Permanasari bergusar sekali. Bentaknya, "Sama sekali aku tak
bermusuhan denganmu dan aku selalu berbicara manis terhadapmu, kenapa kau
menikam dengan kejam?"

Titisari tidak melayani. Ia terus melejit. Dan Edoh Permanasari bertambah-tambah


rasa gusarnya. Dengan memekik marah, ia me-nangkis pedang Titisari. Tetapi
Titisari tak sudi memberi hati pada lawannya. Terus menerus ia mengirimkan
serangan berantai.

Ratna Dumilah memang suatu ilmu sakti yang jarang tandingannya. Jumlah
serangan-nya seribu jurus. Ilmu itu hanya dapat dimain-kan oleh seorang yang
sanggup bergerak cepat, lincah dan berotak cerdas. Gagak Seta dahulu tidak
menurunkan ilmu tersebut kepada

Sangaji. Karena ia tahu, bahwa muridnya itu berotak sederhana serta lamban.
Sebaliknya Titisari sedikit banyak pernah mengenal ilmu sakti ayahnya yang
mutunya sejajar dengan pendekar-pendekar lainnya. Maka Gagak Seta tidak ragu-
ragu untuk mewariskannya. Barang siapa yang tidak dapat mengimbangi kecepatan
gerakan ilmu Ratna Dumilah, sebentar saja akan berkunang-kunang matanya.
Ontunglah, Edoh Permanasari adalah pewaris ilmu pedang Ratu Fatimah yang
bersandar pula kepada kecepatan gerak. Meskipun jurus-jurusnya berbeda, namun
intinya sama. Karena itu, dia dapat mengimbangi. Sekalipun demikian karena
tangan kirinya harus mendukung seorang anak, baik tenaga maupun kegiatan jadi
berku-rang. Pada saat itu, ingin ia melemparkan bayi itu. Tapi Titisari tidak memberi
kesempatan untuk melakukan maksud itu. Terus menerus ia dicecar dengan
rangkaian serangan yang ber-teka-teki dan sukar diduga-duga. Dengan demikian, ia
jatuh di bawah angin. Baru bebera-pa jurus, ia sudah merasa kuwalahan. Mau tak
mau ia jadi kagum. Pikirnya, murid siapa dia? Selama hidupku, inilah baru
tandinganku benar-benar....

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, Edoh Permanasari yang berpengalaman segera
mengetahui bahwa Titisari tidak berani menye-rang ke arah bayi seolah-olah takut
melukai. Dengan cepat ia dapat menebak hati lawannya. Ia girang dan berkata di
dalam hatinya, "Bayi ini rupanya mahluk mujur. Tadinya, ingin aku membunuhnya
dengan segera, lantas datanglah perempuan jahanam ini. Kini aku ganti kena
dicecar suatu serangan terus-menerus dan rupanya dia mau melukai. Ai, masakan
di dunia ini ada pengalaman begini?" Memikir demikian lantas saja ia berkata,
"Nona, kedatanganmu bukankah hendak memenuhi undanganku untuk mencoba-
coba mengadu kepandaian? Jika kau ingin mencoba-coba mengukur kepandaianku,
mengapa justru memilih tempat dan waktu yang kurang tepat?"

Sebagai seorang gadis yang cerdik dan cer-das luar biasa, otak Titisari sudah
barang tentu tak perlu kalah dengan otak Edoh Per-manasari. la tahu, bahwa Edoh
Permanasari ingin melepaskan beban itu. Menimbang, bahwa yang perlu
diutamakan dahulu adalah jiwa anak itu, maka ia menyahut. "Bagus! Kita berdua
memangnya tak ada sang-kut-pautnya dengan anak itu. Jika kau memang ingin
mencoba ilmu kepandaian, nah berikan anak itu kembali kepada yang berhak. Kita
lantas mencari tempat yang sesuai. Bukankah kau mengajak aku ke sebelah bukit
sana?"

"Baik, itulah yang kukehendaki," kata Edoh Permanasari. Tetapi Titisari terlalu
mengenal manusia macam Edoh Permanasari. Di mulut-nya ia menganjurkan untuk
menyerahkan anak itu, tetapi serangannya tak pernah berhenti. Setelah mendesak
mundur beberapa langkah, ia berkata memerintah.

"Lepaskan pedangmu dahulu, dan baru akan percaya mulutmu!"

Bukan main mendongkolnya hati Edoh Permanasari. Memang ia bermaksud hendak


menggunakan kesempatan gencatan itu untuk menghabisi nyawa si orok. Sebagai
seorang pendekar jempolan yang tinggi hati, mana dapat ia mengalah terhadap
seorang lawan yang hendak merintangi kemauannya. Ia sudah menganggap diri
seorang licin yang sebentar lagi akan dapat mengingusi lawan-nya. Tak tahunya,
lawannya lebih licin lagi.
"Bagus! Kau tak mau mendengar kata-kataku? Pedangku juga tak sudi berdamai,"
gertak Titisari. Dan gadis itu terus memberon-dongi lagi dengan serentetan
serangan beran-tai. Maka mau tak mau, ia terpaksa menyahut:

"Nanti dahulu! Tahan!" dan setelah berkata demikian, ia melemparkan pedangnya


ke tanah. Meskipun demikian, masih saja Titisari menikam pinggangnya. Ia
memiringkan tu-buhnya untuk mengelak. Tahu-tahu bayi di gendongannya sudah
berpindah di tangan Titisari.

Diam-diam ia kagum luar biasa. Dua kali, lawannya dapat merampas dengan cara
yang tak dapat dimengerti. Seumpama menghenda-ki jiwanya, bukankah siang-
siang sudah me-layang? Memikir demikian, bulu tengkuknya meremang. Dan
seketika itu juga, teringatlah dia kepada pedang pusaka andalannya Sangga
Buwana.

Dalam pada itu, Titisari telah menyerahkan bayi rampasannya kepada ibunya yang
jadi girang luar biasa. lbu muda itu sudah kehilang-an rumah dan suaminya.
Walaupun demikian, melihat anaknya kembali ke pangkuannya, masih ia terhibur
juga.

"Nona, kau siapa?" katanya di antara sedu-sedannya.

"Aku belum berarti berhasil menolong selu-ruhnya. Lihatlah dia masih hidup segar
bugar," sahut Titisari sambil menuding Edoh Permanasari. Maksudnya, apabila dia
gagal, iblis itu masih sempat mencabut nyawa anaknya. Ibu muda itu rupanya
dapat menebak maksudnya, sehingga wajahnya menjadi pucat lesi. Titisari
bersenyum untuk membesarkan hatinya, lalu berkata kepada Edoh Permanasari.
"Man" sekarang ke mana?"

Tanpa berbicara lagi, Edoh Permanasari menjejak tanah dan terbang ke arah barat
daya. Dua kali ia pernah mengadu kepandaian dengan Titisari, walaupun hanya
selintasan. Ia belum merasa puas, karena belum mengguna-kan pusaka andalannya
pedang Sangga Buwana. Kini ia sudah bersiaga. Itulah sebab-nya, ia jadi mantap.
Sebaliknya, tatkala kemarin malam Titisari berhantam dengan Edoh Permanasari
hatinya masih was-was karena dalam keadaan limbung. Hari ini, hati dan pi-
kirannya sudah kembali jernih serta segar-bugar sehingga terasa pulih seperti
sediakala. Karena itu kedua-duanya kini merupakan dua ekor singa betina yang
akan menentukan sia-pakah di antara berdua yang lebih unggul.

Mereka berdua mengarah ke bukit batu yang nampak tak jauh dari desa itu.
Keduanya sedang mengadu kepandaian ilmu berlari. Edoh Permanasari merupakan
pewaris tunggal Ratu Fatimah yang termasyhur dengan ilmu larinya. Dan Titisari
merupakan pewaris tunggal pula dari ilmu petak pendekar sakti Gagak Seta. Ilmu
lari Edoh Permanasari terkenal tiada bandingnya di seluruh Jawa Barat. Gayanya
berlenggak-lenggok seakan-akan sedang menari. Tetapi ilmu petak ciptaan Gagak
Seta adalah ilmu sakti istimewa. Keduanya memili-ki kunci kebagusannya masing-
masing. Karena itu meskipun Titisari tadinya berada di belakang kini sudah dapat
menjajari. Lalu Edoh Permanasari menancap gasnya. Tubuhnya berkelebat
bagaikan bayangan. Tapi tatkala menoleh, Titisari ternyata dapat menjajari segaris
lurus. Gadis itu bersenyum-senyum seakan-akan tiada mengindahkan perubahan
napasnya, sehingga untuk kesekian kalinya Edoh Permanasari menjadi kagum.
Pikirnya di dalam hati: Tak kuduga bahwa di dunia ini masih ada macam ilmu berlari
yang sejajar dengan ilmu Ratu Fatimah. Hm, kalau hari ini aku tak dapat
menghabisi nyawanya, bukan-kah di kemudian hari aku bakal berbahaya?

Beberapa saat kemudian, sampailah mere-ka pada suatu lapangan terbuka di tepi
hutan. Edoh Permanasari lantas berhenti. Dengan memutar tubuhnya, ia
menghadap Titisari. Lalu berkata nyaring. "Nona, denganmu belum pernah aku
bertemu. Apalagi berkenalan. Tapi hari ini, kita harus mencapai suatu keputusan
siapakah yang masih dapat mempertahankan nyawanya. Bukankah sayang?"

"Apakah yang kausayangi?" sahut Titisari cepat. "Pernahkah kau merasa sayang
ter-hadap muda mudi yang kaubunuhi tanpa mengerti apa sebabnya? Hm, di depan
hi-dungku, janganlah kau berlagak menjual ceri-tera burung!"

Perkataan Titisari sedikitpun tidak bersalah. Ratusan pasangan muda mudi mati di
tangan-nya tanpa ia mengenal siapa mereka. Tadinya ia menganggap suatu
kewajaran belaka. Tapi setelah mendengar ucapan Titisari, hatinya ter-cekat. Dan
bulu kuduknya meremang dengan tak diketahuinya sendiri.

Sebentar ia menatap wajah Titisari dengan mulut membungkam. Kemudian


timbullah dugaannya.

"Haaa, tahulah aku kini. Pastilah kau ini salah seorang jago mereka untuk menuntut
dendam padaku. Hm, jago betina penjual te-naga dari mana kau ini sebenarnya?"

"Siapa kesudian menjual tenaga?" Titisari membentak.

"Di dunia ini siapakah yang dapat memerin-tah aku? Kau sendiri masakan becus
meme-rintah aku? Aku ingin datang, dan datanglah aku. Aku ingin mengambil
nyawamu dan aku kini benar-benar ingin mengambil nyawamu. Sekiranya
kepalamu sudah berhasil kupang-kas, masakan laku kujual? Hebat kalau sampai
laku kujual. Dengan begitu tuduhanmu aku sedang menjuai tenaga, benar-benar
cocok."

Mendengar ucapan Titisari, Edoh Perma-nasari tak tahan lagi menguasai


ketenangan-nya. Maklumlah, selama beberapa puluh tahun yang lalu, ia selalu
diagung-agungkan oleh lawan dan kawan. Karena itu, sekaligus ia menarik pedang
andalannya dari sarungnya. Benar-benar hebat perbawa pedang pusaka itu. la
mengeluarkan sinar hijau serta berhawa dingin luar biasa, sehingga hati Titisari
tercekat juga. Pikir gadis itu, rupanya Paman Maulana Syafri tidak membual. Benar-
benar pedang mustika. Kalau aku dapat memiliki pedang itu, bukankah aku bakal
dapat menandingi keris Kyai Tunggulmanik milik Sangaji?

Memikir demikian, ia segera mengasah otak. Dasamya berotak encer, sebentar saja
ia sudah memperoleh tujuh sampai delapan sia-sat. Karena itu, wajahnya lantas
saja nampak cerah.

"Pedang hebat!" pujinya. "Sayang ia berada di tangan seorang iblis. Bukankah tidak
tepat?"

Edoh Permanasari mendengus. Katanya mengalihkan perhatian, "Silakan Nona kau


boleh menyerang dulu!"

Dua kali Titisari pernah bertempur melawan Edoh Permanasari. la merasa bahwa
ilmu kepandaiannya sendiri tidak selisih jauh dengan iblis itu. Sekarang Edoh
Permanasari malahan sudah menggenggam pedang mustika yang kabarnya tiada
taranya. lnilah bahaya. Maka satu-satunya jalan untuk melawannya, hanya-lah ilmu
sakti Kyai Tunggulmanik. Meskipun ia belum menguasai intinya, tetapi yang penting
ialah menghindari setiap serangan lawan. Se-bab sekali pedangnya terbentur pada
pedang lawan, pastilah akan terajang dengan sekali-gus. Kalau sampai kejadian
demikian, jangan lagi memperoleh kemenangan, memperta-hankan nyawa sendiri
belum tentu mampu. Namun dasar ia puteri pendekar besar, hatinya besar pula. Ia
ingin mencoba sampai di mana kebenaran tutur-kata Maulana Syafri. Maka ia
hendak menggunakan ilmu silat Ratna Dumilah dengan ilmu sakti Witaradya sekali-
gus. Memikir demikian, segera ia berkata: "Kau menghendaki agar aku menyerang
dahulu? Bagus!" serunya nyaring. Lantas saja ia memutar pedangnya. Kemudian
dengan lang-kah menginjak tempat-tempat inti ilmu petak ajaran Gagak Seta, ia
mulai menyerang.

Melihat serangan Titisari yang cepat dan dahsyat luar biasa, hati Edoh Permanasari
ter-cekat juga. la percaya, pedang pusakanya yang sudah sering menolong jiwanya
semen-jak puluhan tahun yang lalu, pasti pula akan melindungi juga kali ini.
Memperoleh keya-kinan demikian, ia mengebas. Suatu hawa di-ngin berbareng
dengan kejapan sinar seketika itu juga datang bergulungan menyambut pedang
Titisari. Hanya satu benturan kecil saja, namun demikian pedang Titisari terpapas
ujungnya. (Jntung, ilmu yang jarang terlihat di mata para cerdik pandai, sehingga
rahasia intinya belum tersiar luas. Maka begitu kena serangan berbahaya, gerakan
pertahanannya terjadi dengan wajar.

Titisari terlolos dari serangan berikutnya. Ia melejit ke samping dengan jantung


berdegup-an. Pedangnya memang bukan pedang mustika, meskipun tidak boleh
dikatakan pedang tiada harganya. Meskipun demikian, terpapas-nya ujung
pedangnya begitu gampang, mau tak mau membuat jantungnya memukul. Benar-
benar pedang mustika, pikirnya yakin.
"Nona, jika hanya satu jurus saja, engkau sudah kuncup setengah mati, maka kau
bukan tandingku lagi. Silakan pergi saja!" ejek Edoh Permanasari yang telah
memperoleh angin baik.

"Nona tua!" sahut Titisari tajam. Ia sengaja hendak membakar hati lawannya.
"Seorang pendekar yang hanya mengandalkan kepada pedangnya, masakan pantas
disebut seorang pendekar besar? Kau bilang hendak mengadu ilmu kepandaian, tak
kusangka alihkan mengadu pada pedang semata. Apakah cara begitu engkau
mengangkat namamu?"

Sebutan nona tua bagi Edoh Permanasari luar biasa dahsyatnya, namun ia masih
tak mau terbakar hatinya mengingat lawannya sangat tangguh. Maka sambil
memekakkan telinga, ia berkata:

"Bilanglah kau takut kepada pedangku! Kalau sedari tadi kau berkata begitu,
masakan aku mau menang sendiri."

Setelah berkata demikian, ia memasukkan pedangnya. Mendadak di luar dugaan


suatu benda berkeredepan menembus udara. Itulah jarum Gunung Gilu yang
berbisa luar biasa.

Titisari terkejut bukan main. Mimpipun tidak, bahwa Edoh Permanasari pandai
menggu-nakan senjata jarum. Dengan hati mencelos, ia memutar pedangnya.
Tring! Tring! Tring! Dan semua jarum Edoh Permanasari dapat ditangkisnya jatuh.
la baru hendak melepas napas lega, tetapi suatu serangan baru terjadi lagi.
"Celaka!" ia memekik.

Serangan yang kedua ini, keji bukan kepalang. Semua jalan lari, tertutup oleh
puluhan jarum berbisa. Titisari kelabakan benar-benar. Namun ia murid seorang
pen-dekar Gagak Seta, ditambah pula puteri seo-rang pendekar besar Adipati
Surengpati. Dalam seribu kerepotannya, masih bisa ia menangkis semua jarum
berbisa itu dengan rapih. Tapi tak urung, keringat dinginnya ke-luar bertetesan.
Segera ia berseru nyaring, "Eh Nona tua. Dua kali kau menyalahi ucapanmu sendiri.
Mengapa kau menyerang dengan senjata keji begini?"

"Hm, apakah membidik jarum bukan terma-suk suatu ilmu kepandaian? Kalau
begitu, aku jadi tak mengerti."

Titisari seorang gadis tajam mulut. Coba, kalau saja Edoh Permanasari tidak
bersegan-segan kepadanya, pastilah dia sudah me-ngumbar adatnya manakala
seseorang berani menggunakan istilah nona tua. Tetapi seka-lipun ia nampak
menguasai diri, sesungguh-nya sudah timbul niatnya hendak mencabut nyawa
Titisari benar-benar. Matanya menjadi merah dan gerak-geriknya mulai menjadi
ganas.

"Lekaslah kau membunuh diri, agar ta-nganku tak usah kaukotori dengan
darahmu!" bentak Edoh Permanasari garang.
"Aih, enak saja. Kau menggunakan pedang pusaka, meskipun begitu pedangku
hanya rompal sedikit. Kau menggunakan jarum berbisa, meskipun begitu aku bisa
menangkis jatuh. Siapa bilang aku tak mampu melawan-mu? Lihatlah jarummu!"
kata Titisari berani. la menoleh meruntuhkan pandang ke tanah. Suatu pandangan
mengerikan meremangkan bulu romanya. Jarum-jarum Edoh Permanasari yang
runtuh tertangkis ke tanah melayu-kan rumput. Hanya beberapa saat saja dan
rumput yang tadi hijau segar, mendadak saja berubah kering melayu. Itulah suatu
bukti betapa berbahaya racun yang terkandung pada jarum Edoh Permanasari.
Seumpama mengenai tubuh manusia, betapa akibatnya sudah dapat dibayangkan.

"Baiklah begini saja," akhirnya ia memu-tuskan. "Kau boleh menggunakan pedang


pusakamu. Aku tetap pinjam pedang murid-mu. Kalau kau bisa memapas pedangku
sampai sebatas hulu, nah, pada saat itu kau cin-cangpun aku takkan menyesal."

"Bagus!" sahut Edoh Permanasari girang. "Nah, kau boleh menyerang dahulu tiga
jurus. Aku takkan membalas."

Itulah kesempatan bagus bagi Titisari. Edoh Permanasari terlalu yakin kepada
kepandaian sendiri. Sama sekali tak pernah ia bermimpi, bahwa Titisari masih
mengantongi suatu ilmu sakti yang tiada taranya dalam dunia ini. Itulah ilmu sakti
keris Kyai Tunggulmanik. Dan itu pu-lalah salah satu siasat Titisari untuk menjebak
lawannya yang memang sangat berbahaya.

"Baiklah Nona tua, hunuslah pedang pusaka andalanmu." Masih ia membakar hati.
"Sekarang berwaspadalah!"

Meskipun ilmu sakti keris Kyai Tunggul-manik baru dikuasai kulitnya saja, tetapi
jurus-jurusnya memang merupakan inti dari seluruh ilmu silat yang ada dalam
persada bumi. Bila Edoh Permanasari tadi tidak terjebak, ba-rangkali pedangnya
yang tajam luar biasa masih dapat membendung jurus berantainya yang ajaib luar
biasa. Tapi ia sudah berjanji takkan membalas menyerang dalam tiga jurus. Artinya,
ia hanya mengelakkan saja. Betapa ia sanggup berlaku demikian. Lowongan tiga
jurus, merupakan suatu kesempatan yang bagus luar biasa. Seumpama seekor
harimau sudah berhasil menjebol pagar besi. Keruan saja, pedang pusaka Sangga
Buwana tiba-tiba saja macet tak dapat digerakkan. Ruang ge-raknya seperti jadi
sempit, sehingga Edoh Permanasari berteriak karena kagetnya.

Titisari tidak sudi membiarkan lawannya memperoleh kesempatan, walaupun hanya


sedetik. Ia terus memberondongi dengan jurus ajaib kens sakti Kyai Tunggulmanik
yang benar-benar luar biasa.

"Ah, bagus!" terdengar suatu suara di ping-gir lapangan. Itulah suara Maulana
Syafri yang menyatakan kagum luar biasa. Pendekar itu setelah bertempur
beberapa saat melawan ketiga musuhnya, lantas melarikan diri. Dalam hal
mengadu kecepatan berlari, ilmunya berada di atas mereka. Itulah sebabnya,
sesudah berlari-larian memutari bukit, desa serta melompati beberapa sungai, ia
telah mening-galkan ketiga lawannya jauh-jauh. Setelah itu, ia segera lari mengarah
ke desa kembali hendak menjejak ke mana perginya Titisari. Kebetulan sekali ia
bertemu dengan ibu muda yang sedang mabuk suka cita karena menda-patkan
anaknya kembali. Segera ia mendapat keterangan ke jurusan manakah perginya
Titisari dengan Edoh Permanasari. Maka de-ngan cepat ia menemukan lapangan
adu ke-pandaian itu. la menonton di luar lapangan dan sempat menyaksikan ilmu
sakti Titisari yang istimewa. Begitu kagum dia, sampai mulutnya terloncat kata-
katanya yang memuji kehe-batan jurus-jurus yang memberondongi tubuh Edoh
Permanasari.

Titisari sendiri tidak memedulikan. Sebagai seorang gadis yang sudah


berpengalaman pula, tak mau ia diganggu oleh suatu pende-ngaran yang dapat
mengalutkan pemusatan semangatnya. Sebaliknya Edoh Permanasari yang dicecar
habis-habisan sampai tak dapat berkutik, terpaksa menebalkan mukanya. Serunya
lantang, "Tahan! Tahan! Mari kita ber-unding!"

Sudah barang tentu, Titisari tak sudi men-dengarkan ocehannya. Katanya


membalas, "Apa yang akan kaurundingkan? Nyawamu sudah diambang pintu. Nah,
lebih baik ber-doalah!"

Mendengar ujar Titisari, Edoh Permanasari keripuhan benar-benar. Akhirnya


mencoba, "Inilah tidak adil! Tidak adil!"

"Apanya yang tidak adil?" bentak Titisari.

"Kau tadi bilang, aku hanya mengandalkan pedang pusaka sehingga kau tak dapat
ber-gerak. Sekarang kau mencecar aku terus-menerus sehingga aku tak dapat
bergerak. Aku tadi meluluskan permintaanmu. Tapi kau kini tidak mendengarkan
kata-kataku. Bukankah ini tidak adil?"

Titisari tak segera menjawab. la seperti menimbang-nimbang sebentar, lalu


berkata, "Baiklah! Aku titip kepalamu dahulu!"

Setelah berkata demikian, ia meloncat mundur. Dan Edoh Permanasari bersyukur


bukan main. Puluhan tahun lamanya, malang melintang ke segenap penjuru
sebagai iblis yang menakutkan. Tetapi sebenarnya watak aslinya tidaklah kejam
benar-benar. Keka-lapannya semata-mata karena menuruti rangsang hati yang
gagal dalam soal asmara. Ia menganggap dunia ini kejam kepadanya. Maka
perbuatannya yang kejam luar biasa itu, dianggapnya sebagai pekik menuntut
keadil-an. Tentu saja keadilan menurut ukuran kehen-daknya. Sekarang ia
merasakan betapa kecut hatinya tatkala maut nyaris mengancamnya. Di luar
dugaan Titisari masih sudi memberi kesempatan padanya. Sekaligus timbullah
watak aslinya yang halus. Lantas saja ia tersenyum bersyukur sambil membungkuk
hormat. Katanya lembut, "Sungguh luar biasa ilmu pedang Nona. Aku menyatakan
kalah. Hanya saja ingin aku memperoleh penjelasan dari manakah asal ilmu
saktimu itu dan siapakah guru Nona?"
"Kau ingin tahu siapa guruku? Dialah malaikat. Dengan sendirinya, ilmu saktinya
berasal dari surga," sahut Titisari. Sebenarnya kalau mengingat asal usul ilmu sakti
keris Kyai Tunggulmanik itu, tidaklah berbeda jauh kata-kata Titisari. Karena siapa
penggubahnya, setanpun tak mengetahui juga. Sebaliknya bagi pendengaran Edoh
Permanasari sangat menyakitkan hatinya. Ia merasa diri direndah-kan dan dihina.
Seketika itu juga terbangunlah sifat angkuhnya. Dengan sendirinya keganas-annya
lantas saja ikut berbicara.

"Hm," dengusnya. Kemudian meneruskan dengan suara melalui hidungnya. "Kali ini
aku memang kalah. Tapi belum berarti kalah. Kau tadi ketakutan melawan jarum
Giluku, karena itu anggaplah saja serf. Satu-satu."

"Belum tentu."

"Kau berani mengulangi seranganmu kem-bali? Hayo boleh coba! Kalau aku sampai
mundur sejangkah, hitung aku memang kalah daripadamu."

"Eh, benar-benar kau iblis berkepala besar. Pantaslah kau disegani orang," kata
Titisari. Menurut pantas, Titisari pasti akan mengulangi serangannya dengan
menggunakan ilmu saktinya. Tetapi ia mempunyai siasat lain, dengan didahului
pekik peringatan, ia menyerang dengan ilmu Ratna Dumilah yang digabung dengan
ilmu Witaradya.

"Ah, kalau hanya macam begini, masakan kau mampu memundurkan aku? Salahmu
sendiri, kalau pedangku singgah di tubuhmu," kata Edoh Permanasari dengan
penuh kemenangan. Tubuhnya berkelebat. Dan pe-dang Sangga Buwana mengaung
dengan mengeluarkan hawa dingin luar biasa.

Titisari tak berani menangkis. la boleh gesit. Tetapi ilmu warisan Ratu Fatimah
merupakan ilmu pedang yang jarang memperoleh tandi-ngan. Karena itu betapa ia
berusaha menghin-darkan benturan, tak urung pedangnya kena juga tersambar.
Dan sekali tersentuh, pedangnya tertebas kutung sebagian.

"Bagaimana?" ejek Edoh Permanasari me-nang.

"Bagaimana? Aku belum mati," balas Titisari sengit. Dan dengan gesit ia menikam
berturut-turut.

"Anak bandel! Masih berani kau menangkis pedangku? Lihat!" kata Edoh
Permanasari. Hebat gerakan pedangnya. Setelah ia mengge-bu serangan Titisari, ia
ganti membalas menyerang. Dalam hal menyerang, hatinya mantap. Karena
pedangnya dapat diandalkan. Sebaliknya, Titisari tak berani menangkis lang-sung.
Itulah sebabnya, ia jadi keripuhan. Dan kembali pedangnya kutung sebagian. Edoh
Permanasari girang. Meletuslah ejekannya lagi, "Bagaimana?"

"Bagaimana? Aku belum mati," sahut Titisari.


"Bagus! Kau mencari mampusmu sendiri!"

Edoh Permanasari gregetan. Ia mengulangi serangannya kembali. Tetapi Titisari


dapat mengelak, malahan lantas menyapu ping-gangnya. Edoh Permanasari
terkejut bukan kepalang. Serangan ini datangnya dengan tiba-tiba dan sukar
diduga. Namun ia seorang iblis yang benar-benar perkasa. Dalam ke-kagetannya
masih ia menangkis. Lalu menje-jak tanah dan terbang ke samping.

"Kau mau lari ke mana?" bentak Titisari sambil melejit.

"Masakan aku lari? Lihat pedangku!" Edoh Permanasari menyahut menggurui. Dan
kali ini benar-benar hebat serangannya. Dengan suara menderu-deru, pedangnya
bergulungan menutup semua bidang gerak. Itulah yang disebut jurus angin puyuh
mengisar bumi. Jurus ini belum pernah ia pergunakan. Gu-runya dahulu pernah
berpesan sering: Jangan menggunakan jurus itu apabila tidak terjepit benar-benar.
Karena jurus angin puyuh mengisar bumi sangat ganas dan luar biasa hebat. Begitu
rapat dan rapi serangannya, sehingga seumpama lalatpun takkan dapat lolos. Kini
menghadapi Titisari ia menggunakan jurus tersebut. Itulah terjadi, karena hatinya
panas dan beriri atas kepandaian lawannya.

Titisari kaget setengah mati menghadapi serangan itu. Ia tahu Edoh Permanasari
salah seorang lawan tangguh, tetapi sekali tak disangkanya bahwa dia benar-benar
memiliki ilmu pedang sehebat itu. Andaikata iblis itu hanya menggunakan pedang
biasa, jurusnya sudah susah untuk ditangkis. Apalagi ia menggenggam pedang
mustika tiada taranya di dunia, maka kehebatannya susah untuk dilukiskan.

Menghadapi serangan maut itu, sepatutnya ia harus melawan dengan ilmu sakti
keris Kyai Tunggulmanik. Karena hanya ilmu sakti itulah satu-satunya yang masih
mampu mengatasi semua jurus yang terdapat di dalam persada bumi ini. Tetapi
Titisari memang berwatak angkuh dan berkepala besar. Masih saja ia mencoba
menggebu serangan lawannya dengan jurus Ratna Dumilah. (Jntunglah, ilmu sakti
Ratna Dumilah merupakan ilmu silat istimewa pula. Kalau tidak, masakan nama
Gagak Seta dapat disejajarkan dengan Kebo Bangah, Adipati Surengpati dan Kyai
Kasan Kesambi. Namun sekalipun demikian, Titisari tetap rugi. Itulah disebabkan, ia
hanya memiliki pedang biasa. Dalam seribu kerepotannya, ia terpaksa
membenturkan pedangnya lintang beberapa kali. Dan pedangnya terkutung
menjadi delapan bagian. Yang tertinggal hanya hu-lunya belaka.

Edoh Permanasari sudah barang tentu gi-rang luar biasa. Mau ia membuka mulut
untuk mengejek lawannya pada detik-detik peng-habisan, mendadak saja Titisari
menghan-tamkan hulu pedangnya dengan menjerit putus asa. Itulah memang satu-
satunya daya untuk mempertahankan jiwanya pada saat peng-habisan. Edoh
Permanasari tahu akan hal itu. Dengan sebat ia merajang hulu pedang Titisari.
Tetapi pada saat itu sekonyong-konyong lagi ia melihat suatu benda berkeredepan
memberon-dongi dirinya. Inilah suatu kejadian di luar dugaan, bahwa lawannya
sebenarnya bisa menggunakan ilmu bidik tak beda dengan dirinya. Tatkala itu,
tubuhnya berada sangat dekat dengan lawannya. Meskipun andaikata ia bertubuh
iblis benar-benar, ia takkan mampu mengelakkan. Satu-satunya jalan hanya
memutar pedangnya. Sudah barang tentu, ia kasep. Sebelum pedangnya dapat
digerakkan, biji-biji sawo Titisari sudah menusuk seluruh tubuhnya dengan telak.
Tahu-tahu tubuhnya lemas terkulai. Dan pedang pusakanya runtuh di atas tanah.
"Ah!" seru Maulana Syafri kagum di pinggir lapangan. Barulah ia tahu kini, apa
sebab sehari tadi Titisari keluar masuk kampung mengumpulkan biji-biji sawo dan
kerikil tajam. Pikirnya diam-diam, biji sawo tidak beracun. Jauh bedanya dengan
jarum-jarum Gilu. Biji-biji sawo itu paling-paling hanya dapat menyakiti tubuh.
Tetapi ia dapat mem-bidikkan senjata itu pada jarak sangat dekat, sehingga bisa
melumpuhkan urat nadi lawan. Ini suatu perhitungan jitu yang harus menggunakan
keuletan dan kesabaran. Hai-hai! Benar-benar hebat gadis itu. Kalau tidak mem-
punyai perhitungan jauh dan kenal pada kepandaian sendiri, betapa ia berhasil
melaku-kan serangan demikian terhadap Edoh Permanasari ... dan makin ia
merenungkan si tua makin kagum luar biasa. Harga gadis itu lantas saja naik tinggi
di dalam hatinya.

"Bagaimana?" Titisari membalas mengejek menirukan kata-kata lawannya. Ia


mengham-piri dengan langkah wajar, seolah-olah kejadi-an itu memang harus
terjadi demikian. Memang itu semua sudah termasuk dalam salah satu siasatnya. Ia
sengaja berlagak ke-ripuhan. Pedangnya sengaja dibenturkan sampai terkutung
sedikit demi sedikit. Itulah siasat memancing kegirangan lawan. Begitu lawannya
mabuk oleh hati besar, ia menghantamkan senjata bidiknya dengan dibarengi pekik
putus asa. Edoh Permanasari sudah barang tentu tak dapat menduga siasat
lawannya yang memili-ki kecerdikan di atas kepalanya sendiri. Ia ma-ju merapat,
karena senjata musuhnya tinggal hulunya saja. Sama sekali tak terbayangkan,
bahwa itulah siasat pancingan lawan agar datang merapat. Karena itu, begitu
melihat berkeredepnya lawan, hatinya mengeluh. Seluruh urat nadinya kena
terbidik. Dan tubuhnya lantas terkulai tanpa dikehendaki sendiri.

"Nona, aku mengaku kalah," katanya de-ngan suara berputus asa. "Sudah belasan
ta-hun, aku malang melintang tanpa tandingan. Sudah belasan tahun pula, aku
membunuh entah sudah berapa jumlahnya. Aku sendiri tidak mengira bahwa aku
masih dapat hidup sampai pada hari ini. Sekarang aku bertemu denganmu. Baik
bertanding kepintaran, kecerdikan maupun ilmu silat aku berada di bawahmu. Maka
aku rela mati di tanganmu. Tapi sebelum mati perkenankan aku meng-ajukan suatu
permohonan."

Titisari mengawaskan wajah Edoh Per-manasari yang menjadi pucat. Ia tahu, hal itu
terjadi bukan karena kena dilumpuhkan senjata bidiknya. Tetapi mengira, bahwa ia
tak sanggup mempertahankan nyawanya lagi. Karena itu, segera ia menegas
dengan pan-dang mata tajam.

"Apa itu?"
Dengan menghela napas, iblis itu menyahut. "Nona, denganmu, belum pernah aku
berte-mu, apalagi berkenalan. Tadinya aku mengira, bahwa dunia ini tiada
tandingku lagi. Ternyata aku jatuh melawan kepandaianmu. Kau licin dan cerdik.
Tapi betapa juga, kau berhasil melumpuhkan aku. Sekarang sebelum mati, ingin
aku mengenal siapakah engkau sebe-namya dan apakah alasanmu kau berlawanan
dengan aku. Dengan begitu, di alam baka aku bisa memberikan pertanggungan
jawabku kepada guruku."

Titisari mengerutkan dahinya. Teringat beta-pa kejam iblis itu, sudah sepantasnya
dia harus mati. Tetapi mengingat pula bahwa kekejaman iblis itu akibat kegagalan
cinta kasih, hatinya terguncang. Itulah disebabkan, ia mengalami nasib yang sama
pula. Seandainya benar-benar ia bakal kehilangan Sangaji untuk sela-ma-lamanya,
bukan mustahil ia akan berbuat demikian pula. Mungkin pula lebih kejam dan lebih
ganas. Memikir demikian, diam-diam ia menghela napas. Kemudian berkata,
"Meskipun belum pernah aku bertemu muka dengan gurumu, hatiku sangat tertarik
begitu mendengar nama agungnya. Sayang aku tak beruntung. Tetapi sekarang aku
telah berkenalan dengan pewarisnya. Hatiku terhibur juga. Aku telah mengenal
siapa namamu dan siapa pula dirimu. Memang rasanya tak adil bila aku tetap
membisu. Tapi benarkah engkau ingin mengenal aku?"

Edoh Permanasari mengangguk.

"Puaskah hatimu, setelah kau mengetahui siapa diriku?" Titisari menegas.

"Aku akan dapat pulang ke alam baka dengan hati puas," jawab Edoh Permanasari.

"Baiklah," Titisari memutuskan. "Pernahkah engkau mendengar suatu nama Adipati


Su-rengpati?"

"Apakah yang kaumaksudkan salah se-orang sakti kelas utama di Jawa Tengah?"
Edoh Permanasari menegakkan kepala.

"Ya, benar," sahut Titisari. "Dan apakah kau pernah mendengar nama Gagak Seta?"

"Ah, bukankah namanya sejajar dengan Adipati Surengpati?"

"Benar."

"Apa hubungannya Nona menyebut kedua nama tokoh tersakti itu?"

"Adipati Surengpati adalah ayahku. Gagak Seta adalah guruku," kata Titisari. Dan
men-dengar perkataan Titisari, Edoh Permanasari terbelalak. Juga Maulana Syafri
yang berada di pinggir lapangan. Baru itulah ia tahu siapa gadis itu sebenarnya.

"Jadi ... jadi ..." Edoh Permanasari terga-gap-gagap. Wajahnya lantas berubah
hebat. Katanya lagi dengan menaikkan suaranya. "Kalau begitu Nona ... aku puas
kalah di ta-nganmu. Aku puas ... aku puas. Sekarang matipun aku rela. Silakan
bunuhlah aku! Hanya saja, sepanjang pengetahuanku, guruku belum pemah
bertemu muka dengan ayah-mu maupun gurumu. Mengapa engkau sampai masuk
ke wilayah Jawa Barat dan kini memburu-buru aku?"

"Memang benar. Sesungguhnya ... dengan-mu aku tak mempunyai permusuhan apa
pun juga. Karena itu, tiada niatku untuk mengam-bil nyawamu."

Mendengar ujar Titisari, hati Edoh Perma-nasari tercengang. lnilah suatu kejadian
yang takkan pemah terjadi pada dirinya. Musuh sudah tertawan, masakan
diampuni? Karena itu, hampir-hampir ia tak percaya kepada pen-dengarannya
sendiri. Menegas untuk mencari keyakinan.

"Aku jadi tak mengerti. Lantas apa maksud-mu memusuhi aku?"

"Aku ingin mencari seorang kawan seiring sejalan," kata Titisari. Dan wajah Edoh

Permanasari mendadak menjadi merah oleh rasa bergusar. Katanya, "Hm, kau
boleh mem-bunuh aku, boleh pula mencincang aku. Mengapa mesti mempermain-
mainkan aku?"

Titisari tahu, Edoh Permanasari salah paham. Maka dengan tenang ia menyahut,
"Aku berkata dengan sesungguhnya. Selama hidupku, baru untuk pertama kali ini
aku mengambah wilayah Jawa Barat. Aku men-dengar, engkau seorang pendekar
wanita yang kejam serta ganas akibat cinta asmara. Hatiku lantas tertarik. Sebab
kedatanganku ke mari ini, sesungguhnya karena akibat itu pula. Aku dipermainkan
pemuda pujaanku. Dia anak kompeni. Namanya Sangaji."

"Ah!" Edoh Permanasari memekik perlahan.

"Tetapi pemuda itu seorang pendekar yang paling tinggi ilmu silatnya pada zaman
ini. Meskipun andaikata aku mempunyai sayap, belum tentu aku sanggup melawan
satu jurus saja. Kemudian mendengar engkau memiliki pedang mustika tiada
taranya di jagat ini, tim-bullah niatku hendak meminjam pedangmu. □ntuk dapat
meminjam pedang mustikamu,. satu-satunya jalan bukankah hanya mengadu
untung belaka?" kata Titisari.

Kalau saja ucapan ini disampaikan kepada seorang yang sehat akalnya, siapapun
sudi mendengarkan. Tetapi Edoh Permanasari mempunyai jalan hidupnya sendiri.
Mendengar seorang gadis hendak membalas dendam kepada kekasihnya yang
membuatnya kece-wa, itulah sudah selayaknya dan wajar. Maka ia .tak bersangsi
sedikitpun. Tanpa merasa, ia meruntuhkan pandang ke tanah melihat pedang
mustikanya.

Titisari tak menunggu jawaban atau pembe-naran lagi. Tubuhnya terus


membungkuk memungut pedang Sangga Buwana. Hatinya girang luar biasa.
Mendadak selagi ia menga-mat-amati pedang mustika itu, suatu kesiur angin
menyerang padanya. la menoleh. Suatu bayangan berkelebat menghantam
dadanya. Dan ia terjungkal dengan melontakkan darah.
Tatkala ia menjenakkan mata, ia melihat dua orang laki-laki saling berhantam
dengan serunya. Yang satu Maulana Syafri. Lainnya seorang laki-laki berambut
putih dan berjeng-got penuh. Dialah Tatang Manggala adik seperguruan tabib sakti
Maulana Ibrahim.

Seperti diketahui, ia muncul pula di sam-ping pendekar Sindung Riwut, Ratu Kenaka
dan Kusuma Winata. Tatkala Maulana Syafri bertempur seru melawan tiga pendekar
lainnya, ia tidak menampakkan diri. Memang ia cerdik. Dalam hal mengadu tenaga,
ia kalah jauh dengan Maulana Syafri. Tetapi ia seorang yang berpengetahuan tinggi
dalam soal tata pemerintahan. Itulah sebabnya, selagi ka-kaknya seperguruan
menjadi seorang tabib sakti dan adiknya seperguruan (Diah Kartika) menjadi salah
seorang penasihat tinggi Laskar. Perjuangan Jawa Barat, ia memilih jalan hi-dupnya
dengan mengabdikan diri kepada Kerajaan Banten. Karena Edoh Permanasari salah
seorang murid Ratu Fatimah, dengan sendirinya ia mempunyai hubungan erat.
Itulah sebabnya pula, ia lebih menaruhkan perhatiannya kepada Edoh Permanasari
dan Titisari daripada menggabungkan diri dengan ketiga rekannya untuk
mengeroyok Maulana Syafri.

Tatkala ketiga pendekar rekannya kena di-ingusi Maulana Syafri, ia sendiri tetap
berada di dekat Edoh Permanasari. Heran ia melihat ketangkasan Titisari. Temyata
gadis itu dapat pula menjatuhkan Edoh Permanasari. Melihat bahaya, ia segera
bertindak. Begitu Titisari hendak merampas pedang pusaka junjungan (Ratu
Fatimah) muncullah dia dengan meng-endap-endap. Lalu menghantam dada Titisari
dengan pukulan beracun. Tetapi pada saat itu pula. Muncullah Maulana Syafri.
Sebentar ia berhantam seru. Merasa diri takkan ungkulan melawan raja muda itu,
cepat ia menyambar tubuh Edoh Permanasari.

"Lepas!" bentak Maulana Syafri. la tahu, maksud Tatang Manggala hendak


membawa lari Edoh Permanasari. Tetapi Tatang Mang-gala memang benar-benar
cerdik. Di luar du-gaan, tangannya sudah menggenggam pe-dang pusaka Sangga
Buwana dan diputar ba-gaikan kitiran. Maulana Syafri segan kepada pedang itu,
sehingga tak berani merangsak lagi. Kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-
baiknya oleh Tatang Manggala. Dengan mengerahkan tenaga ia memanggul tubuh
Edoh Permanasari. Lalu melarikan diri dengan secepat-cepatnya.

Maulana Syafri berbimbang-bimbang. Hen-dak ia mengejar, tetapi melihat Titisari


jatuh terduduk hatinya memukul cemas. Maka ia membatalkan niatnya. Selagi
begitu, terde-ngarlah pekik sorak beramai. Itulah anak-anak murid Edoh
Permanasari yang dapat menjejak ke tempat gurunya berada setelah ber-putar-
putar dari desa ke desa sekian lamanya. Di samping mereka muncul pula Sindung
Ri-wut, Ratu Kenaka dan Kusuma Winata. Mereka memang tadi dapat dikecoh
habis-habisan, namun hanya sebentar. Sebab betapapun juga mereka bertiga
termasuk golongan pendekar besar. Setelah sadar akan tipu muslihat lawannya,
segera balik ke desa semula.
Maulana Syafri tak sempat lagi berpikir-pikir panjang. Terus saja ia menyambar
tubuh Titisari dan melesat bagaikan terbang. Dan pada saat itu Titisari pingsan tak
sadarkan diri.

Sepanjang jalan ia mengasah otak. Pikirnya: "Tatang Manggala, Diah Kartika adalah
adik seperguruan tabib sakti Maulana Ibrahim. Dalam hal ilmu silat mungkin mereka
berada di bawahku. Tetapi dalam hal ilmu ketabiban, di dunia ini siapakah yang
dapat menandingi. Bocah ini agaknya kena salah satu pukulan beracun. Obat
pemunahnya hanya ada pada mereka. Gntung, meskipun pada akhir-akhir ini
Himpunan Sangkuriang berpecah-belah, mungkin aku masih bisa membujuk Diah
Kartika. Kukira Diah Kartika mengerti pula bagaimana cara mengobati.

Memikir demikian, hatinya lega. Namun ia bercemas pula melihat Titisari tidak ber-
kutik dalam dukungannya. Cepat ia memasu-ki hutan belantara. Lalu menurunkan
Titisari ke tanah. Meskipun bukan seorang tabib, namun ia seorang raja muda yang
sudah kenyang makan garam. Gntuk pertolongan pertama, cepat-cepat ia
mengurut urat-urat Titisri agar darahnya berjalan lancar. Sekian lamanya ia
mengurut dan barulah Titisari ter-sadar.

Waktu itu gelap malam mulai tiba. Bulan sabit telah muncul pula di angkasa.
Dengan perihatin, Maulana Syafri meneruskan per-jalanan. Gadis itu sudah
tersadar, tetapi mulut-nya seperti terkunci. Dan mau tak mau, ia menjadi bingung
pula. Segera ia mendaki suatu ketinggian hendak menebarkan pengli-hatan. Sekitar
tempat itu hanya petak hutan dan ladang yang gelap pekat.

Hubungan antara Maulana Syafri dan Titisari terjadi karena alasan-alasan yang
aneh. Namun Maulana Syafri sudah merasa diri terikat. Makin tahu ia siapa gadis
itu, hatinya makin terpikat. Dan dengan tak setahunya sendiri, ia seperti merasakan
sebagai bagian dari hidup-nya sendiri. Apakah dasar sesungguhnya, ia sendiri tak
tahu.

Berada di tengah hutan sangat banyak ba-hayanya. Apalagi, ia sedang dikejar-kejar


oleh anak-anak murid Edoh Permanasari dan tiga pendekar musuhnya. Anak-anak
murid Edoh Permanasari, mungkin pula sudah berbalik untuk mengikuti jejak
gurunya. Tetapi tiga pendekar lawannya yang datang mencari pa-danya untuk
menuntut dendam pastilah tidak mau sudah, sebelum menemukan dirinya.

Terhadap Kusuma Winata yang berwatak satria dan Sindung Riwut yang hidup
sebagai seorang pendekar sejati, tidaklah perlu dice-maskan. Sebaliknya yang
membuat dirinya banyak berpikir ialah bila berhadapan dengan Ratu Kenaka. Sebab
tangan Ratu Kenaka san-gat beracun. Ilmu silatnya tidak bermutu ting-gi, tetapi
racunnya jauh lebih berbahaya daripada kedua rekannya dan Edoh Permanasari.
Hutan dan ladang yang tergelar disekelilingnya rasanya tidak dapat memberi
tempat untuk berlindung. Dengan terpaksa Maulana Syafri meneruskan
perjalanannya. Tujuannya sudah tetap, hendak mendaki Pegunungan Karumbi
mencari Diah Kartika. la menerjang rerum-putan setinggi lutut. Bahaya ular berbisa
tidak dihiraukan. Sudah begitu, saban-saban betis-nya masih kena ditusuki duri-duri
semak. Pedih, perih dan panas rasanya. Namun ia ber-jalan terus.

Karena malam gelap tak dapat ditembus sinar bulan sabit terpaksalah dia berjalan
per-lahan-lahan. Jalan yang diambah nampak gelap. Kerapkali ia khawatir akan
tersesat. Siapa tahu di depannya menghadang sebuah jurang curam. Kalau sampai
terjeblos....

Setelah menderita perih panas dalam per-jalanan itu, Maulana Syafri tiba-tiba
melihat sebuah bintang besar di udara sebelah kirinya. Rendah bintang itu, seperti
berada di atas cakrawala. Cahayanya berkelip-kelip. Ia pan-dang bintang itu untuk
mencoba mengenal namanya. Sesudah berjalan kurang lebih lima pal jauhnya,
lenyaplah bintang itu terhalang suatu ketinggian. Ia melayangkan pandang ke kiri
dan melihat berkelipnya api.

"Apil" Ia berbisik girang di dalam hati. "Ada api, pastilah ada rumah pula."

Dengan penuh semangat, ia mengarah ke nyala api tersebut. Satu jam kemudian, ia
tiba pada suatu gerombol pohon yang diatur berkelompok-kelompok. Dan api
nampak ber-ada di celah-celahnya. Suatu ingatan menusuk benaknya. la seperti
pernah mengenal pengli-hatan itu. Mendadak saja hatinya bersorak.

"Hi! Bukankah ini tangan Diah Kartika?" serunya girang di dalam hati. Diah Kartika
bersemayam di atas bukit Karumbi. Tetapi ia terkenal berada di tempat-tempat
tertentu. Se-tiap kali ia berada di suatu tempat yang cocok, ia merubah letak
penglihatannya seperti perta-paannya di atas Pegunungan Karumbi. Dengan
demikian, rekan-rekan seperjuangan dan handai taulannya cepat mengenalnya. Ia
adalah adik seperguruan tabib sakti Maulana Ibrahim yang terkenal pandai. Diah
Kartika tidak mewarisi ilmu ketabiban, tetapi memiliki pengetahuan ilmu alam, ukur
dan aljabar. Karena itu, ia tergolong seorang cendekiawan pada zamannya.
Hendaklah diketahui, bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak hanya dimiliki oleh bangsa
Barat, Mesir, Arab, Tionghoa atau India. Di Jawa pun, ilmu tersebut sudah dike-nal
semenjak zaman dahulu kala. Ini terbukti dengan tetap tegaknya bangunan candi-
candi besar sampai pada zaman sekarang. Boro-budur, Kalasan dan Dieng
umpamanya, tidak lapuk oleh majunya zaman. Sekiranya para arsiteknya tidak
memiliki pengetahuan ilmu hitung, masakan dapat membangun yang ter-akui
sebagai suatu bangunan abadi di dunia? Soalnya, karena bangsa Jawa tidak
mempunyai kebiasaan untuk mencatat atau menulis suatu pengetahuan.
Penyiarannya hanya dilakukan lewat tutur kata turun-temurun bela-ka.

Maulana Syafri segera menghampiri arah nyala api itu. Sudah sekian lamanya ia
ber-jalan, namun letak api itu seperti berpindah-pindah. la berhenti mengamat-
amati. Api menyala di belakang deretan pohon. Untuk mencapai tempat itu dia
harus memutar jalan lewat rimba. Maka ia masuki rimba yang berada di sebelah
kanannya. Ternyata jalanan di rimba itu tidak selalu lurus. Berbelok-belok, berliku-
liku dan malang melintang. Dan tiba-tiba nyala api lenyap dari penglihatan.
Maulana Syafri tak berputus asa, sekalipun hatinya mengeluh. Dengan sebat ia
melompat ke atas sebatang pohon. Dari atas ia menje-nguk ke bawah. Ternyata
letak beradanya api tadi, sudah dilewati. Api sekarang berada di belakang
punggungnya. la heran.

Perlahan-lahan ia turun ke tanah dengan masih menggendong Titisari. Segera ia


berba-lik. Dan kembali ia kehilangan nyala api. Sekarang benar-benar ia menjadi
heran. Dua tiga kali ia mengulang dan dua tiga kali pula ia kehilangan sasaran.
Karena hatinya ikut ber-bicara ditambah pula tenaganya sudah banyak terbuang,
lambat-laun kepalanya terasa menjadi pusing. Penglihatannya mulai kabur. Dan
akhirnya ia menjadi jengkel. Ingin ia terbang melewati pohon-pohon yang
merupakan pagar penghalang itu. Tetapi rimba itu sangat gelap. Siapa tahu, ada
jebakannya pula. Selain itu, berjalan lewat pohon dengan menggendong Titisari
akan merupakan suatu peman-dangan yang tidak sedap. Ia khawatir pula akan
terceblos dalam suatu jurang atau akan terbentur suatu dahan yang mengandung
racun. Salah-salah, akan menambah penderitaan Titisari. Memperoleh
pertimbangan demikian, ia berhenti beristirahat dahulu. Titisari masih saja menutup
mulut.

Gadis itu sudah memperoleh kesadarannya semenjak tadi. la tahu, bahwa dirinya
dibawa berputar-putar tak keruan juntrungnya. Namun ia berdiam diri saja.
Mendadak ia berkata lemah, "Paman! Berjalanlah ke kanan, ke samping kanan!"
Mendengar Titisari berbicara, giranglah hati Maulana Syafri.

"Nona, kau baik?"

Titisari menyahut, tetapi suaranya tidak jelas.

"Apakah kau mengenal jalanan ini?" Maulana Syafri menegas.

"Mengapa engkau tak berjalan ke samping kanan?" sahut Titisari. Kali ini cukup
jelas, sehingga hati orang tua itu menjadi bersyukur. Teringatlah dia tadi, bahwa
Titisari puteri Adipati Surengpati yang terkenal berotak malaikat pada zaman itu.
Maka ia menurut petunjuk Titisari tanpa membantah sedikitpun.

Beberapa langkah kemudian, kembali Titisari berkata: "Paman, beloklah ke kiri.


Delapan langkah saja."

Maulana Syafri menurut. la yakin kepada kecerdasan otak gadis itu. Tadi dia sudah
dapat membuktikan sewaktu bertempur melawan

Edoh Permanasari. Pikirnya, benar-benar seekor harimau akan beranak harimau


pula. Adipati Surengpati terkenal pandai. Melihat pu-terinya, agaknya nama itu
bukan bualan ko-song. Memikir demikian, ia merasa diri bertam-bah dekat kepada
Titisari seolah-olah bagian hidupnya sendiri yang sangat dibutuhkan.

"Sekarang menikung ke kanan empat belas langkah," kata Titisari lagi.


Maulana Syafri menurut. Dan selanjutnya ia menuruti gadis itu. Setiap kali ia harus
me-nikung ke kiri atau ke kanan. Kadang-kadang memotong jalan pula.

Titisari memang sudah mewarisi kepandaian ayahnya hampir enam bagian.


Ayahnya terkenal sebagai seorang ahli ilmu alam, ilmu hayat, ilmu ukur, ilmu
tumbuh-tumbuhan dan bin-tang. Orang-orang pada zaman itu berkata: "Adipati
Surengpati berasal dari langit. la pandai membaca dan menghitung bintang. Sudah
barang tentu, itulah julukan yang ber-lebihan. Tetapi sesungguhnya Adipati
Surengpati merupakan seorang cendekiawan yang jarang ada tandingnya pada
zaman itu."

Melihat letak nyala api tetap tak berubah, hati Maulana Syafri makin yakin dan
yakin ter-hadap Titisari. Malahan dengan tak disa-darinya sendiri, terbitlah suatu
bintik rasa takluk. Langkahnya kini menjadi lebar. Ia berjalan ke sana ke sini,
mundur maju dan kerapkali pula meloncat. Akhirnya nyala api bertambah dekat.
Karena hatinya sangat bemafsu, segera ia lari cepat untuk menghampiri.

"Jangan terburu-buru!" kata Titisari menasi-hati. Tetapi Maulana Syafri sudah


terlanjur lari cepat. Tahu-tahu kakinya terjeblos dalam lumpur setinggi dengkul. Ia
kaget setengah mati. Sebab kedua kakinya terasa kena seret. Syu-kur ia seorang
berilmu. Cepat-cepat ia meng-genjot diri melesat ke atas. Dan dengan ilmu itu, ia
berhasil terlolos dari belenggu lumpur.

Di atas tanah kering, ia berdiri teriongoh-longoh. la malu bercampur mendongkol.


Dengan pandang penasaran ia mengamat-amati api itu. Di depannya samar-samar
terlihatlah asap putih membumbung ke udara. Dan sedikit banyak, bulan sabit
akhirnya menolong juga. Ia melihat sebuah rumah gubuk. Dan melihat bentuk
rumah itu, hatinya girang.

Terus saja ia berseru nyaring.

"Diah Kartika! Akulah Maulana Syafri. Aku datang dengan membawa seorang
sahabat yang sedang menderita luka parah."

Titisari tersenyum. Orang tua itu akhirnya memperkenalkan namanya sendiri tanpa
ia bersusah-susah lagi untuk menanyakan.

Agaknya hatinya sudah tawar terhadapnya dan tidak bersikap tegang seperti
kemarin. Dalam pada itu, Maulana Syafri berseru nyaring lagi: "Memang, pada
akhir-akhir ini kedudukan kita amat sulit. Antara kita terjadi saling mencurigai,
sehingga kau pun tentu tak senang hati mendengar kedatanganku ini. Tetapi aku
memberanikan diri untuk datang kepadamu. Malahan aku memberanikan diri pula
untuk memohon kemurahan hatimu. Berilah kami tempat beristirahat. Sahabatku
ini membutuhkan pertolonganmu."

Di dalam malam sesunyi itu, suara Maulana Syafri amat berkumandang. Kata-
katanya jelas pula. Namun setelah menunggu sekian lamanya, tetap saja tiada
jawaban. Karena itu, Maulana Syafri mengulangi perkataannya se-patah demi
sepatah dengan suara merendah-kan diri pula. Dan diam-diam hati Titisari menjadi
terharu.

Meskipun belum menyatakan terang-terangan, gadis itu mengerti bahwa Maulana


Syafri seorang raja muda. Untuk dia, raja muda itu menggendongnya hampir
sepanjang malam. Ontuk dia, raja muda itu sampai mau merendahkan diri terhadap
sesama rekannya yang sama pula kedudukannya. Kalau dipikir, susah payah Titisari
dalam menolong jiwa

Maulana Syafri tidaklah seberat perjuangan raja muda itu.

Sementara itu, suara Maulana Syafri tidak memperoleh jawaban. Dan untuk ketiga
kali-nya, Maulana Syafri mengulangi perkata-annya. Dan barulah terdengar suara
seseorang perempuan tua:

"Eh, Maulana! Kau seorang raja muda, masakan tidak tahu sopan santun? Sudah
larut malam begini, kau berteriak-teriak tak keruan. Masakan aku harus membuka
pintu lalu me-nyambutmu di luar? Kau seorang raja muda yang tinggi ilmunya, hayo
datanglah ke mari! Apakah rumah ini asing bagimu?"

Menilik bunyi kata-katanya berkesan ramah. Tapi suaranya tawar, sehingga tahulah
Titisari bahwa perempuan itu tidak mengharap kedatangan rekannya.

"Hm ..." Maulana Syafri menggrendeng. Selama ia berserikat dengan Diah Kartika
dalam Himpunan Sangkuriang, belum pernah ia mengganggunya. Bahkan
hubungannya tidak begitu erat. Sebenarnya untuk selama hidupnya belum tentu ia
akan meminta sesu-atu kepadanya. Tapi mengingat Titisari, ia sudah melanggar
beberapa pantangannya sendiri. Ia seorang yang berhati tinggi. Adatnya tak dapat
disumbari orang. Mendengar suara Diah Kartika, ia merasa diri ditantang. Maka tak
mengherankan, bahwa ia menjadi gelisah.

Dengan tajam ia pandang rumah gubuk itu. Rumah itu berada di tengah-tengah
lumpur. Tadi kalau saja tidak memperoleh petunjuk-petunjuk Titisari meskipun satu
bulan penuh tindakan sampai di sini. Sekarangpun ia men-dapat kesulitan yang
sama pula. Hatinya lantas mengeluh. Ini semua akibat perpecahan yang terkutuk,
katanya di dalam hati. Antara raja muda satu dan lainnya saling bentrok. Dengan
sendirinya saling mencurigai. Se-lamanya belum pernah aku berhubungan. Malam
ini tiba-tiba aku datang mengunjungi. Maka tidaklah terlalu salah, bila ia mencurigai
aku...."

Titisari menegakkan kepala. Ia menebarkan penglihatannya yang masih nampak


lemah. Selang beberapa saat lamanya ia berkata se-tengah berbisik.

"Rumah ini agaknya dibangun di atas lumpur. Sekarang Paman perhatikan! Bukan-
kah bentuk bangunan tanahnya bulat?"
Maulana Syafri menajamkan mata. Ke-mudian mengangguk seraya berkata:
"Benar."

"Dan bentuk rawa ini persegi bujur, bukan?"

"Benar. Bagaimana kau mengetahui begitu jelas?" Maulana Syafri girang.

"Kau usahakan dirimu berada di sudut timur ' laut. Lalu berjalanlah memutar ke kiri
tujuh langkah," kata Titisari dengan suara wajar. Lalu menikung ke kanan tiga
langkah. Setelah itu lima langkah lurus ke depan. Sembilan -langkah lagi,
mundurlah ke samping kanan tiga langkah. Lalu memotong jalan tujuh langkah ke
kiri. Pasti engkau takkan terjeblos dalam lumpur.

Maulana Syafri tidak beragu lagi. Tadi Titisari sudah berhasil membawanya sampai
ke tempat itu. Sekarang pun juga. Ia berjalan menu-ruti petunjuk-petunjuknya.
Tetapi dengan begitu ternyatalah, bahwa semenjak tadi dia sudah berada di bawah
perintah gadis luar biasa itu. Bukankah tidak jauh dengan seorang budak yang
menghambakan diri?

Segera ia memperbaiki pakaiannya, lalu memeluk Titisari erat-erat. Setelah itu


berjalan menurut petunjuk Titisari. Dan benarlah. Setiap kali kakinya mendarat,
tibalah pada sebatang tunggak yang dapat bergerak miring ke sisi. Maka barang
siapa yang tak pandai ilmu meringankan tubuh, pastilah akan tergelincir atau
terbanting masuk kubangan lumpur. Seratus dua puluh sembilan langkah sudah.
Dan sampailah kakinya menginjak pada da-taran bulat. Itulah ruang tanah di mana
rumah Diah Kartika didirikan. Oleh petunjuk Titisari, ia berjalan memutar. Ternyata
nyala api di depan-nya tidak berubah. Sekarang bahkan memper-lihatkan bahwa
rumah itu tanpa pintu.

"Melompatlah! Dan taruhlah kakimu pada sisi rumah!" bisik Titisari.

Maulana Syafri terus meloncat sambil berkata di dalam hati: "Benar-benar hebat
gadis ini. Semua teka-teki, dapat ditebaknya dengan jitu."

Tempat di mana Maulana Syafri mendarat-kan kakinya adalah tanah kering. Tetapi
sepu-luh senti meter di sekelilingnya merupakan lautan lumpur. Kurang berhati-hati
sedikit saja seseorang akan mati tenggelam kena seret lumpur.

Maulana Syafri lantas menyelundup ke sebelah kiri. Sampailah dia di pekarangan.


Di depannya nampak suatu terowongan dan di tengah terowongan itulah api yang
tadi kena dilihatnya. Setelah dekat ternyata terowongan itu merupakan pintu
masuknya.

"Masuk! Semuanya biasa. Tak ada bahaya-nya," bisik Titisari lagi.

Maulana Syafri mengangguk. Lalu berseru nyaring lagi:

"Maafkan Diah atas kelancanganku ini. Perkenankan aku memasuki rumahmu."


Berbareng dengan ucapannya, masuklah ia ke dalam rumah.

Maulana Syafri dan Diah Kartika merupakan tokoh penting Himpunan Sangkuriang.
Bahkan menduduki tokoh inti, karena mereka berdua menjabat sebagai anggota
Dewan Penasihat. Namun keduanya belum pemah saling me-ngunjungi rumahnya
masing-masing. Tak mengherankan, bahwa begitu masuk ke dalam ruang tengah,
Maulana Syafri segera mela-yangkan matanya. Di atas meja berbentuk pan-jang
tujuh pelita ditaruhkan pada tempat-tem-pat tertentu yang diatur menurut segi-segi
de-rajat penglihatan. Jadi cahaya pelita yang tadi dilihatnya di kejauhan, ternyata
berjumlah tujuh buah. Tentu saja, ia tadi kena dibuat bingung. Hebatnya, pelita itu
mempunyai segi pemantul-an satu derajat sehingga dari tempat tertentu hanya
nampak satu cahaya. Di depan meja panjang itu, duduklah Diah Kartika di atas
tanah lagi merenungi puluhan lembar daun bam-bu yang diatur berserakan. Seluruh
perhatian-nya tertumpah pada lembaran daun itu, sehingga ia tak menghiraukan
kedatangan Maulana Syafri. Pantas saja, dia tadi bersikap tawar.

Diah Kartika sudah nampak sangat tua. Padahal umurnya sebaya dengan Maulana
Syafri. Rambutnya sudah nampak menjadi putih semua. Kulit mukanya
berkeriputan. Tangannya bergemetaran setiap kali hendak bergerak. Tetapi
janganlah dikira bahwa ia benar-benar sudah buyuten. Gerakannya gesit, cekatan
dan ganas. Ia masih sanggup mengimbangi gerakan Edoh Permanasari. Padahal
Edoh Permanasari dahulu pemah berhubung-an erat dengan anak tunggalnya:
Pendekar Kamarudin.

Maulana Syafri membawa Titisari duduk di atas kursi. Gadis itu nampak kucel.
Wajahnya pucat lesi bagaikan kapuk kuyu. Melihat wajahnya, hati Maulana Syafri
menjadi iba. Hendak ia membuka mulut untuk minta sete-guk air hangat baginya,
tapi batal. Ia melihat, betapa Diah Kartika lagi memusatkan seluruh perhatiannya
kepada lembaran-lembaran daun bambu. Nampaknya ia lagi menghadapi suatu
kesulitan yang sudah lama tak terpecah-kan. Dan ia tak mau mengganggunya.

Setelah beristirahat selintasan, Titisari memperoleh sedikit kesegarannya kembali.


Maka ia ikut pula memperhatikan kesibukan Diah Kartika. Diamat-amatinya letak
lembaran daun itu, lalu keningnya berkerut-kerut. Setiap lembar daun bambu itu
berukuran empat senti dan lebar dua senti. Dan Diah Kartika terus mencurahkan
perhatiannya.

Maulana Syafri tak mengerti masalah apa yang sedang direnungkan itu. Tatkala
melihat betapa kening Titisari berkerut-kerut pula, hatinya menjadi heran. Pikirnya,
untuk seluruh wanita di Jawa Barat, Diah Kartika adalah seorang cendekiawan satu-
satunya. Rupanya gadis itu pun demikian. Ayahnya seorang sar-jana, apakah dia
sudah mewarisi ilmunya. Kalau benar, akan banyak daya gunanya....

Tiba-tiba terdengar Titisari berkata, "Lima! Tiga ratus tujuh puluh lima!"
Diah Kartika terkejut. Ia menengadah. Pandang matanya tajam. Agaknya hatinya
tak senang. Sesaat kemudian ia tunduk lagi dan mencoba menghitung dengan
suatu corat-coret. Terdengar kemudian ia memekik perla-han. Ternyata hitungan
Titisari jitu sekali. Kembali ia menegakkan kepalanya dan meng-amat-amati Titisari.
Dilihatnya wajah Titisari kucel kuyu. Ia tunduk lagi dan menguji hitungan itu
kembali. Benar-benar tak salah. Karena itu, ia segera hendak menghitung pula
pecah-an lainnya.

Titisari meruntuhkan pula pandangannya ke tanah. la bersikap menunggu. Tetapi


sampai sekian lamanya, Diah Kartika belum juga ber-Jiasil memecahkan
hitungannya. Lantas Titisari berkata tenang: "Seratus dua puluh empat."

Kembali Diah Kartika terkejut. Ia menenga-dah. Wajahnya berubah merah. Lalu


dengan hati penasaran ia melanjutkan hitungannya. Setelah berkutak-kutik
selintasan, ternyata benar hitungan Titisari. Memperoleh kenya-taan itu, terus saja
ia berdiri tegak. Sekarang nyatalah, bahwa tubuh Diah Kartika sudah bongkok
dimakan usianya. Keningnya sudah pada berkeriput. Meskipun demikian, matanya
bersinar tajam luar biasa.

"Mari, ikuti aku!" katanya sambil menuding ke arah sebuah pintu samping. Ia
berjalan mendahului dengan berbatuk-batuk kecil.

Maulana Syafri memapah Titisari lagi untuk mengikuti Diah Kartika. Sampai di
depan kamar, ia berhenti tak mau masuk. Dinding kamar sebelah dalam, berbentuk
bundar. Lantainya penuh pasir dan di atasnya terdapat coretan-coretan dan tanda-
tanda lurus dan bulat. Nampak pula guratan huruf-huruf catatan. Bunyinya ternyata
suatu dalil-dalil ter-tentu. Menimbang bahwa hal itu mungkin sa-ngat penting bagi
Diah Kartika, ia tak berani melangkahkan kaki karena takut merusak atau
menghapus sebagian.

Menyaksikan penglihatan itu, wajah Titisari nampak tenang. Tiada suatu kesan rasa
heran atau kagum. Sebab itulah ilmu aljabar yang dijajarkan dengan dalil-dalil ilmu
alam. Semuanya itu sudah pernah dipelajarinya lewat ayahnya. Dengan tiba-tiba ia
menarik pedang Maulana Syafri. Kemudian dengan mengajak Maulana Syafri
melangkah masuk, ia meliuk ke tanah. Tangannya menggarit-garit suatu deretan
angka dengan ujung pedang. Lalu berkata, "Apakah ini benar?" Ternyata ia sudah
memecahkan beberapa hitungan dengan cepat dan tepat. Maka lagi-lagi Diah
Kartika memekik kagum. Setelah mengawasi dengan tercengang, bertanyalah dia,
"Kau siapa?"

"Itulah hitungan ilmu aljabar," kata Titisari yang tidak menjawab langsung
pertanyaan Diah Kartika. Dan tanpa diminta ia segera menjelaskan tentang dalil-
dalil tertentu, serta cara memecahkannya.

Mendengar kuliah Titisari, wajah Diah Kartika pucat lesi. Ia seperti berputus asa.
Tubuhnya bergoyang-goyang, lalu menjatuhkan diri di atas pasir seraya memegang
kepalanya. Ia nampak berpikir keras. Sejenak kemudian, ia menegakkan
pandangnya. Wajahnya kembali menjadi terang. Berkata, "Nampaknya kau lebih
mengenal dalil-dalil di luar penge-tahuanku. Tapi cobalah hitung soal ini!"

Diah Kartika menunjuk suatu gambar tanah liat (miniatur) yang berada di pojok
kamar.

Setelah diterangi sebuah dian, ternyatalah bahwa gambar itu menggambarkan


suatu tata wila-yah. Pada gambar itu nampak deretan-deretan pohon, gundukan
tanah, sungai, empang lumpur, lika-liku jalan dan semak belukar. Semuanya itu
diatur merupakan jebakan penglihatan.

Titisari mengamat-amati sebentar. Teringat-lah bahwa ayahnya mengatur pulau


Karimun Jawa sebagai gambar itu pula. Bahkan lebih pelik dan sulit. Maka dengan
gampang ia berkata, "Kukira mudah saja. Beginilah cara menghitung dan
memecahkan." Lalu ia meng-gurat-guratkan pedangnya di atas pasir.

Melihat betapa tepat hitungan Titisari, wajah Diah Kartika menjadi pucat lesi.
Napasnya lantas saja menjadi sesak.

"Ah ..." keluhnya dalam. "Kukira ciptaanku ini hanya kumiliki sendiri. Ternyata
engkaupun mengetahui juga. Bagaimana bisa begitu?"

"Hitungan ini sudah lama diketahui manusia semenjak zaman purba," kata Titisari.
"Sewak-tu aku menerima pelajaran dari Ayah, mula-mula diwajibkan aku menghafal
dalil-dalilnya. Coba dengarkan dalil-dalilnya. Engkaupun akan dapat menghafalkan
di luar kepala!"

Dan benar-benar Titisari menyebutkan beberapa dalil ilmu Aljabar dengan cepat
serta lancar. Setelah itu, ia beralih pada dalil-dalil ilmu Alam dan bintang. Kemudian
dia berkata, "Rupanya engkau belum pernah mempelajari ilmu bintang. Baiklah
kugambarkan di sini."

Ia menggurat-gurat beberapa letak bintang. Dan Diah Kartika memandangnya


dengan hati takjub. Lantas ia berbangkit lagi dengan tubuh bergemetaran.

"Puluhan tahun aku menekuni ilmu itu. Selama itu belum pernah aku menjumpai se-
orang yang dapat mengenalnya. Tak tahunya, engkau begini masih muda belia
sudah melebihi aku. Malahan sudah dapat menyela-mi sampai ke dasarnya.
Sebenarnya kau siapa Nona?" katanya. Tiba-tiba ia berbatuk-batuk sambil
menekan-nekan dadanya. Dari saku-nya ia mengeluarkan sebutir obat. Setelah dite-
lan, batuknya lenyap dan wajahnya menjadi tenang kembali. Dan tahukah Titisari,
bahwa hati orang tua itu sangat kecewa dan merasa runtuh kebanggaannya.
"Habislah ... habislah sudah ..." katanya berulang kali. Dan tiba-tiba air matanya
mengucur deras.
Titisari menoleh kepada Maulana Syafri untuk minta penjelasan, apa sebab Diah
Kartika menangis. Tetapi wajah Maulana Syafri nampak tak mengerti juga. Akhirnya
saling memandang dengan penuh pertanyaan.

Selang beberapa saat, Diah Kartika nampak sudah dapat menguasai diri. Mau ia
berkata, sekonyong-konyong terdengariah gemerisik orang di luar empang. Tahulah
Maulana Syafri dan Titisari, bahwa mereka itulah pengejarnya.

"Musuh atau sahabat?" Diah Kartika bertanya.

"Musuh," jawab Maulana.

"Hm, mendengar langkahnya seperti Sindung Riwut, Ratu Kenaka dan anak murid
Gunung Mandalagiri. Benarkah itu?"

"Ya," jawab Maulana Syafri pendek. Ia tahu, Diah Kartika mempunyai pendengaran
tajam dan otaknya cerdas pula sehingga dengan cepat dapat menebak siapakah
yang berada di luar. Namun ia menambahi. "Selain mereka bertiga, masih ada pula
beberapa anak murid Edoh Permanasari."

Mendengar nama Edoh Permanasari, men-dadak saja wajah Diah Kartika menjadi
bengis. Lantas membentak, "Kalau begitu, siapakah Nona ini?"

"Legakan hatimu," kata Maulana Syafri. "Gadis inilah yang justru lagi dikejar-kejar
anak murid Edoh Permanasari. Sebab iblis itu tadi sore kena dikalahkannya."

"Hai! Benarkah itu?" suara Diah Kartika menjadi girang. Ia percaya keterangan
rekan seperjuangannya itu.

"Osianya masih begini muda, tetapi sudah dapat mengalahkan Edoh. Sebenarnya
sia-pakah dia dan mengapa ia menderita luka?"

"Periksalah sendiri!"

Diah Kartika menghampiri Titisari dan membuka baju luarnya. Dahinya berkerut-
kerut tatkala memeriksa lukanya. Terdengar ia menggerendeng tidak begitu jelas.

"Hai! Kenapa dia ikut-ikutan pula? Apakah dia menantang aku?"

Maulana Syafri tahu, bahwa antara Diah Kartika dan kakak seperguruannya Tatang
Manggala sudah terbit suatu perpecahan semenjak mudanya. Itulah terjadi, karena
panggilan hidup masing-masing. Diah Kartika berpihak kepada Ratu Bagus Boang,
sedang-kan Tatang Manggala mengabdikan diri kepada Ratu Fatimah.

Dengan cekatan Diah Kartika mengambil sebutir ramuan obat dari tempat penyim-
panannya. Kemudian berkata, "Telanlah! Dan legakan hatimu, meskipun mereka
kini berada di dekat kita, tetapi mereka takkan mampu memasuki rumah lumpur
kita. Kau beristira-hatlah di sini. Kau harus sembuh kembali seperti sediakala,
karena aku ingin beromong-omong lebih banyak lagi denganmu ..."

Anda mungkin juga menyukai