Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada bulan Juli 2008 yang lalu, Indonesia
menyelenggarakan PON (Pekan Olahraga Nasional) XVII. Pada
penyelenggaraan PON tersebut, Kalimantan Timur dipercaya
menjadi tuan rumah. Untuk memenuhi kepercayaan tersebut,
Kalimantan Timur telah membangun beberapa fasilitas penunjang
penyelenggaraan PON tersebut. Fasilitas tersebut diantara lain
adalah perbaikan jalan, hotel, gedung olahraga, sirkuit, stadion,
dan lain-lain.
Untuk fasilitas stadion, Kalimantan Timur membangun
stadion utama dan beberapa stadion madya di kota Samarinda
termasuk diantaranya adalah Stadion Serbaguna Palaran. Kota
Samarinda termasuk dalam zona gempa yang relatif kecil yaitu
pada zona II (sesuai SNI 03-1726-2002). Stadion ini dibangun
dan didesain dengan metode konstruksi beton bertulang
konvensional dan memiliki elemen struktur dengan tipe tipikal.
Namun dalam pembangunannya kota Samarinda memiliki
masalah dalam pengadaan material batu pecah dan pasir. Material
batu pecah didatangkan dari kota Palu, Sulawesi. Sedangkan
material pasir yang digunakan adalah pasir dari kecamatan
Tenggarong (digilib.petra.ac.id).
Pada Tugas Akhir ini akan memodifikasi metode
konstruksi beton bertulang menjadi metode beton pracetak.
Pengaplikasian metode pracetak pada bangunan dengan tipe
tipikal (typical) lebih efisien dilaksanakan karena lebih mudah
dalam pengerjaan dan pelaksanaannya. Pengaplikasian metode ini
juga dapat meminimalisasi pengadaan material batu pecah dan
pasir di kota Samarinda. Selain itu, metode pracetak (precast)
lebih tepat jika diaplikasikan pada struktur bangunan yang berada
pada daerah dengan zona gempa relatif rendah (zona gempa I dan
zona II) mengingat pada metode pracetak (precast) ikatan yang
terjadi tidak terlalu kaku. Zona gempa relatif rendah (I dan II)
memiliki frekuensi gempa yang tidak terlalu sering dengan
intensitas yang tidak terlalu besar.
Metode pracetak memiliki beberapa kelebihan dan
kekurangan dibandingkan metode cor setempat. Kelebihan
tersebut antara lain adalah pada metode pracetak tidak
membutuhkan tempat penyimpanan material yang terlalu luas,
waktu pengerjaan yang relatif singkat, kontrol kualitas beton lebih
terjamin, tidak memerlukan treatment atau perlakuan khusus,
tidak membutuhkan terlalu banyak bekisting dan penopang
bekisting, serta praktis dan cepat dalam pelaksanaannya.
Kekurangannya adalah pada ketidakmampuannya didalam
menahan gaya lateral, dan pelaksanaan pemasangan elemen
stadion di lapangan karena kurangnya jumlah tenaga pelaksana di
Indonesia yang terlatih dan berpengalaman pada proyek
konstruksi dengan menggunakan sistem ini.
Dalam pengaplikasian metode beton pracetak juga harus
memperhatikan sistem koneksi atau sambungan komponen-
komponen struktur beton pracetak. Proses penyatuan komponen-
komponen tersebut menjadi sebuah struktur bangunan yang
monolit merupakan hal yang amat penting. Sambungan antar
komponen pracetak tidak hanya berfungsi sebagai penyalur beban
tetapi juga harus mampu secara efektif mengintegrasikan
komponen-komponen tersebut sehingga struktur secara
keseluruhan dapat berperilaku monolit. Gaya-gaya yang harus
disalurkan dalam struktur bangunan adalah gaya horisontal yaitu
gaya yang timbul akibat beban horisontal (beban angin, beban
gempa), dan gaya vertikal, yaitu gaya yang ditimbulkan akibat
beban gravitasi (berat sendiri komponen).
Dalam perancangan ini, Stadion Serbaguna Palaran
dimodifikasi dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa
(SRPMB) mengingat lokasi stadion hanya berada di zona
gempa2. Pada awal perancangan dibutuhkan perhitungan pre-
eliminary design terlebih dahulu untuk menentukan dimensi awal
komponen-komponen struktur stadion seperti balok, kolom, pelat
dan tangga. Setelah itu, dimensi komponen-komponen struktur
hasil dari preeliminary desain tersebut disesuaikan dengan
ketentuan SNI 03-2847-2002.

2
Gambar. 1.1: Peta Kalimantan

Gambar. 1.2: Peta Palaran, Samarinda

3
1.2 Perumusan Masalah
Dalam perancangan struktur Stadion Serbaguna Palaran
dengan menggunakan metode pracetak (precast) terdapat
permasalahan yang timbul. Permasalahan yang timbul antara lain:
1. Bagaimana merencanakan pre-eliminary desain struktur
stadion?
2. Bagaimana merancang struktur bangunan yang monolit dan
mampu menahan beban statis dan dinamis?
3. Bagaimana merencanakan elemen struktur pracetak yang
berupa balok, pelat dan tangga sesuai dengan SNI 03-2847-
2002?
4. Bagaimana merancang detailing sambungan pada komponen
pracetak yang memenuhi kriteria perancangan struktur?

1.3 Tujuan
Dalam perancangan struktur Stadion Serbaguna Palaran
dengan menggunakan metode pracetak (precast) mempunyai
tujuan diantaranya adalah :
1. Dapat menentukan pre eliminary desain struktur.
2. Mendapatkan hasil struktur bangunan yang monolit dan
mampu menahan beban statis dan dinamis.
3. Mendapatkan hasil desain elemen struktur pracetak yang
berupa balok, pelat dan tangga sesuai dengan SNI 03-2847-
2002.
4. Mendapatkan hasil perancangan detailing sambungan pada
komponen pracetak yang memenuhi kriteria perancangan
struktur.

1.4 Batasan Masalah


Dari beberapa permasalahan yang timbul dari latar belakang
di atas penulis membatasi permasalahan sebagai berikut:
1. Dalam perancangan struktur Stadion Serbaguna PON
Kalimantan Timur ini direncanakan penggunaan teknologi
pracetak pada balok, pelat dan tangga. Sedangkan untuk
kolom menggunakan sistem cor ditempat (cast in site).
2. Perencanaan pada elemen struktur hanya menggunakan
metode pracetak biasa (non prestress).

4
3. Modifikasi stadion menggunakan desain SRPMB (Sistem
Rangka Pemikul Momen Biasa) dengan zona gempa 2.
5. Memperhitungkan struktur atap.
6. Perencanaan ini tidak meninjau analisa biaya.
7. Perencanaan tidak memperhitungkan struktur pondasi

1.5 Manfaat
Adapun manfaat dari pengerjaan tugas akhir adalah :
perencanaan struktur stadion dengan metode pracetak bertujuan
untuk memberi alternatif perencanaan struktur dengan metode
pracetak. Selain itu juga bertujuan agar penulis mampu
merancang struktur stadion menggunakan metode beton pracetak
mengingat metode beton pracetak memiliki berbagai kelebihan
dibandingkan metode konvensial dan telah banyak diterapkan
dalam berbagai pekerjaan struktur dalam bidang teknik sipil di
Indonesia. Selain itu, diharapkan dapat menjadi acuan studi untuk
pembangunan struktur stadion yang juga menggunakan metode
beton pracetak.

5
,,Halaman ini sengaja dikosongkan’’