Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

TANAMAN PENUTUP TANAH, PERGILIRAN TANAMAN DAN PERTANIAN-


HUTAN

1. Tanaman Penutup Tanah


Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam
untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan atau untuk memperbaiki
sifat kimia dan fisik tanah. Tanaman penutup tanah berperan : (1) menahan atau
mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan
tanah, (2) menambah bahan organic tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang
jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan
bahan organic dalam meningkatkan ketahanan struktur tanah, memperbesar kemampuan
tanah untuk menyerap dan menahan air hujan yang jatuh, dan menambah unsure hara .
Peranan tanaman penutup tanah tersebut di atas menyebabkan berkurangnya kekuatan
dispersi air hujan dan mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan, sehingga
mengurangi erosi, dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah.
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk dipergunakan sebagai penutup tanah
dan dipergunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat : (a)
mudah diperbanyak (dengan biji), (b) mempunyai sistem perakaran yang tidak
menimbulkan kompetisi bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah
yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat
dan banyak menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap
hama, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah
diberantas jika tanah akan dipergunakan untuk penanaman tanaman semusim atau
tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan (i) tidak
berduri dan tidak mempunyai sulur-sulur yang membelit.
Leguminosa lebih sesuai untuk dijadikan tanaman penutup tanah dan pupuk hijau,
karena dapat menambah nitrogen tanah dan perakarannya tidak memberikan kompetisi
yang berat terhadap tanaman pokok. Tanaman penutup tanah yang baik ditanam di antara
tanaman perkebunan adalah Centrosema pubescens karena tanaman ini tidak pernah
punah benar,dan tidak memanjat.

Tanaman penutup tanah atau tanaman pembantu dapat digolongkan dalam :


1) Tanaman penutup tanah rendah ; jenis rumput-rumputan dan tumbuhan merambat atau
Menjalar
- Dipergunakan pada pola pertanaman rapat (Calopogonium muconoides
Desv.)
- Dipergunakan dalam barisan (Eupathorium triplinerve Vhal)
- Dipergunakan untuk keperluan khusus dalam perlindungan tebing, talud
teras, dinding saluran-saluran irigasi dan drainase (Alternanthera amoena
Voss)
2) Tanaman penutup tanah sedang ; berupa semak :
- Dipergunakan dalam pola pertanaman teratur di antara barisan tanaman utama
(Clibadium surinamense var asperum )
- Dipergunakan dalam barisan pagar (Lantana camara L.)
- Ditanam di luar tanaman utama dan merupakan sumber mulsa atau pupuk hijau
(Leucaena glauca L.Benth)
3) Tanaman penutup tanah tinggi; jenis pohon-pohonan :
- Dipergunakan dalam pola pertanaman teratur di antara barisan tanaman utama
(Albizzia falcate Backer)
- Ditanam dalam barisan (Leucaena glauca L.)
- Dipergunakan khusus untuk melindungi tebing ngarai dan penghutanan kembali
(reboisasi) (Albizzia falcate dan Leucaena glauca L)
4) Tumbuhan rendah alami (tumbuhan bawah alami untuk pelindung tanah )
5) Rumput pengganggu (alang-alang, lampuyangan, kalamentol, gelagah)

2. Pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman adalah sistim penanaman berbagai tanaman secara bergilir
dalam urutan waktu tertentu pada satu bidang tanah. Pergiliran adalah suatu cara yang
penting dalam konservasi tanah. Pergiliran dapat berupa Padi-palawija, padi-tanaman
penutup tanah/pupuk hijau, atau palawija-tanaman penutup tanah/pupuk hijau. Pada
tanah-tanah berlereng pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah menurut pola
tanaman bahan makanan-tanaman penutup tanah. Selain berfungsi sebagai pencegahan
erosi, pergiliran tanaman memberikan keuntungan-keuntungan lain, seperti :
- Pengendalian hama dan penyakit; menekan populasi hama dan penyakit
karena memutuskan siklus hidup hama dan penyakit ,
- Pengendalian gulma; penanaman satu jenis tanaman tertentu terus menerus
akan meningkatkan pertumbuhan jenis-jenis gulma tertentu,
- Mempertahankan dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kesuburan tanah;
jika sisa atau potongan tanaman pergiliran dijadikan mulsa atau
dibenamkan dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah menahan
dan menyerap air, mempertinggi stabilitas agregat dan kapasitas infiltrasi
tanah; jika tanaman tersebut adalah leguminosa akan menambah
kandungan nitrogen tanah; dan memelihara keseimbangan unsur hara
karena absorbsi unsure dari kedalaman dan preferensi yang berlainan.
Suatu sistem pergiliran tanaman yang tersusun baik selain dari mempertahankan
kesuburan tanah dan menghindari kerusakan tanah, akan mempertingggi produksi per
satuan luas, per musim dan per tahun.

Pengaruh Pergiliran Tanaman Terhadap Erosi

Sistem pergiliran tanaman mempunyai peranan mengurangi atau menghindarkan


erosi dan dalam meningkatkan produksi tanaman. Di Indonesia pengaruh sistem
pergiliran tanaman terhadap erosi masih memerlukan penelitian yang lebih luas. Di
Amerika Serikat pun, misalnya penetaan urutan efisiensi sistem pergiliran dengan
pencegahan erosi masih sulit ditetapkan dengan tepat berhubung cepatnya perkembangan
teknologi pertanian dan kurangnya informasi tentang teknologi yang lebih modern yang
didapat dari penelitian yang cukup lama.
Hasil penelitian (Kohnke dan Bertrand, 1959), menyatakan bahwa sistem
pergiliran tanaman makin lama tanah dipergunakan untuk penanaman tanaman yang
ditanam berjarak dan dalam baris (row crops) makin besar kemungkinan erosi yang akan
terjadi.

3. Pertanian-Hutan
Suatu sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang mengintegrasikan tanaman
pohon-pohonan dengan tanaman rendah merupakan sistem yang telah sejak dahulu kala
dipraktekkan oleh para petani diberbagai Negara yang telah menyadari manfaat sistem ini
baik dari segi produktofitasnya maupun kelestarian produksinya.
Perkembangan ilmu dan tekhnologi yang menjurus ke arah spesialisasi yang
semakin tajam menyebabkan tumbuhnya konsep-konsep pertanian tanaman pangan,
hortikultura, perikanan, peternakan, dan kehutanan yang seolah-olah terlepas satu sama
lain. Perkembangan konsep pertanian yang menggunakan teknologi masukan tinggi,
pembabatan hutan semena-mena, kerusakan lingkungan dan sumber daya alam mulai
menyadarkan para ahli akan berbagai akibat yang membahayakan kehidupan manusia
yang diakibatkan berbagai konsep yang telah dikembangkan sebelumnya.
Sistem pertanian hutan (Agroforestry) diartikan sebagai suatu sistem usahatani
atau penggunaan tanah yang mengintegrasikan secara spatial dan/atau temporal tanaman
pohon-pohonan di dalam sistem prosuksi tanaman rendah, dan/atau ternak pada sebidang
tanah yang sama. Oleh karena itu Pertanian hutan (Agroforestry) di definisikan sebagai
sistem penggunaan tanah dimana tanaman tahunan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu
dsbnya) secara sengaja ditanam diatas lahan yang sama dengan tanaman semusim
dan/atau hewan, yang diatur secara partial atau dalam urutan temporal. Di dalam sistem
pertanian hutan, terdapat baik interaksi ekologi maupun ekonomi , antara berbagai
komponen tanaman tersebut. Agroforestry adalah Pengggunaan tanah terpadu yang sesuai
untuk tanah marginal dan sistem masukan rendah.
Adapun beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang
agroforestry sebagai berikut :
1). Pertanian Hutan menurut P.A. Huxley dari ICRAF adalah setiap sistem penggunaan
tanah yang menyediakan baik bahan baker maupun hasil tanaman pohonan dan semak
atau memberikan kenyamanan lingkungan yang disebabkan oleh tanaman pohon-
pohonan dan semak-semak, yang merupakan pertanaman campuran atau pertanaman
yang tersusun secara spatial dengan atau tanpa hewan dimana tanaman tahunan berkayu
ditanam untuk lebih dari satu tujuan bersama-sama dengan tanaman berbentuk semak dan
rumput-rumputan.
2). Pertanian hutan menurut Cannel, M.G.R.dari Inggris adalah suatu sistem penggunaan
tanaman dimana tanaman pohon-pohonan berkayu dan tanaman herba ditanam
bercampur secara zonal dan atau berurutan menurut waktu dengan atau tanpa hewan, dan
memberikan keuntungan lebih besar daripada jika hanya tanaman pertanian saja atau
kehutanan saja. Keuntungan yang didapat dari sistem ini, antara lain adalah bkesuburan
tanah yang lestari, konservasi tanah, peningkatan hasil, mengurangi resiko kegagalan,
mudah dikelola, pengendalian hama penyakit, dan dapat memenuhi kebutuhan social
ekonomi penduduk setempat
3). Pertanian hutan menurut Laurance Roche dari Inggris adalah penanaman dan
pengusahaan tanaman pohon-pohonan yang dicampur atau diurutkan dengan tanaman-
tanaman pertanian dan atau rumput untuk ternak dalam bentuk usaha tani kecil atau
perusahaan besar
4). Pertanian hutan menurut D.J.Connor, dari Australia adalah komponen pohon-pohonan
dan bukan pohon-pohonan yang ditanam dalam asosiasi yang rapat. Tujuannya adalah
memaksimumkan hasil jangka panjang produk yang diinginkan
5). Pertanian hutan menurut Mollison dan Holmgren adalah suatu bentuk usaha tani yang
merupakan suatu sistem yang terpadu dan berkembang terdiri atas berbagai tanaman
tahunan atau tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang sendiri dan hewan yang
bermanfaat bagi manusia atau bisa disebut juga Permaculture. Permaculture adalah
sistem usaha tani masa depan yang memerlukan masukan energi rendah dan berdaya hasil
tinggi yang masih harus dikembangkan.
Berbagai bentuk sistem usaha tani atau penggunaan tanah yang secara umum
dapat dkategorikan sebagai pertanian-hutan adalah sebagai berikut :
a). Kebun Pekarangan
Suatu bentuk pertanian hutan yang penyebarannya meluas di Indonesia adalah
kebun pekarangan. Kebun pekarangan adalah kebun campuran yang terdiri atas campuran
yang tidak teratur antara tanaman tahunan yang menghasilkan buah-buahan dan sayuran
serta tanaman semusim yang terletak disekitar rumah. Tumbuhan yang umum didapatkan
termasuk pohon-pohonan, tanaman merambat, sayuran dan herba yang menghasilkan dan
menyediakan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral serta obat-obatan sepanjang
tahun.
b). Talun-Kebun
Talun-kebun adalah satu sistem pertanian-hutan tradisional dimana sebidang
tanah ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spatial dan urutan
temporal. Sistem ini banyak ditemukan di Daerah Jawa Barat. Pada Talun tanaman yang
dominan adalah tanaman tahunan seperti berbagai jenis bambu duri (Bambusa bambos
Backer) dan jenis jenis bambu lainnya, Nangka, Kopi, Petai, Aren,Mangga. Diantara
tanaman tahunan ditanam juga berbagai jenis tanaman rendah atau tanaman semusim
seperti : ubi jlar, kacang tanah, paria dan talas atau keladi.
Talun kebun biasanya terletak jauh dari perumahan dan mempunyai fungsi talun-
kebun adalah (1) produksi subsistem karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, (2)
produksi komersial komoditi seperti bambu, kayu, sayur-sayuran, (3) sumber genetik dan
konservasi tanah, dan (4) social seperti penyediaan kayu bakar bagi penduduk Desa.
c). Perladangan
Perladangan (shifting cultivation) adalah suatu bentuk pertanian-hutan yang
paling sederhana, yang masih dipraktekkan secara luas di seluruh Nusantara. Pada sistem
ladang, hutan atau belukar ditebang dan kemudian dibakar kemudian ditanami adi,
Jagung, Ubikayu, atau tanaman semusim lainnya. Umumnya juga setelh panen pertama,
tanah ladang mulai ditanami dengan tanaman tahunan (lada, kopi) sehingga setelah 2 atau
3 tahun tanah telah berubah menjadi kebun lada, dan kebun kopi. Sistem perladangan
juga adalah suatu sistem pergiliran tanah .
d). Tumpang Sari
Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanian-hutan yang dipraktekkan di berbagai
Negara merupakan perladangan dengan reboisasi terencana. Pada sistem ini petani
menanam tanaman semusim seperti padi, jagung, ubikayu selama 2-3 tahun setelah
penanaman pohon-pohon hutan dengan kewajiban menjaga dan membersihkan gulma.
Keuntungan dari sistem ini didapat oleh kedua pihak. Pihak petani mendapat kesempatan
berusahatani dalam areal yang terbatas dan bahaya perusakan hutan dapat di atasi. Pihak
kehutanan penghematan biaya pembershan tanah, penanaman dan pengamanan oleh
karena dibebankan kepada petani.

e). Rumput-Hutan
Suatu bentuk pertanian hutan yang disebut silvopasture atau rumput-hutan adalah
usahatani campuran antara kehutanan dan peternakan. Di bawah pohon-pohon dammar
(Agathis sp) di tanami rumput. Sistem ini berhasil di daerah yang petaninya memelihara
ternak tetapi tidak ada tempat mengembala.
f). Perikanan-hutan
Perikanan hutan atau silvofishery adalah suatu bentuk usahatani campuran antara
kehutanan dan perikanan di pantai-pntai berawa.Pada sistem ini petani memelihara ikan
atau udang pada areal reboisasi hutan bakau.Menurut Alrasyid (1971) tiga keuntungan
yang didapat dari sistem ini, yaitu (1) penghematan biaya penanaman hutan pada pihak
Departemen Kehutanan oleh karena penanaman adalah tanggung jawab petani, (2)
menambah pendapatan petani di sekitar hutan bakau, dan (3) terjaminnya pertumbuhan
kembali hutan bakau.
g). Pertanaman Lorong
Pertanaman Lorong atau Alley cropping adalah suatu bentuk usaha tani atau
penggunaan tanah dengan menanam tanaman semusim atau tanaman pangan di lorong
atau gang yang ada di antara barisan pagar tanaman pohonan atau semak. Tanaman pagar
dipangkas dan dijaga agar tetap rendah selama tanaman semusim belum dipanen untuk
menjaga agar tanaman semusim tidak ternaungi dan mengurangi kompetisi terhadap air
dan unsure hara. Jika tidak ad tanaman semusim, tanaman pagar dibiarkan tumbuh bebas
agar menutupi tanah. Pertanaman lorong sangat tepat dilakukan baik pada tegalan (usaha
tani tanah darat) yang terletak pada tanah datar maupun pada tanah yang berlereng. Pada
tanah yang berlereng, barisan tanaman pagar dan tanaman semusim harus ditanam
menurut kountur agar pencegahan erosi terjadi dengan baik. Tanaman pagar dalam sistem
tanaman lorong berlaku sebagai :
- Sumber pupuk hijau atau mulsa bagi tanaman semusim
- Menciptakan keadaan yang baik bagi perkembangan jasad makro dan
mikro tanah
- Mencegah erosi pada tanah berlereng
- Sumber nitrogen yang cukup bagi tanaman semusim bila tanaman
leguminosa sebagai tanaman pagar
- Merupakan sumber kayu bakar bagi petani
- Sumber makanan ternak
Berbagai tanaman leguminosa yang dapat dipergunakan sebagai tanaman pagar
pada pertanaman lorong adalah : Leucaena leucocephala, Gliricidia sepium, Flemingia
congesta, dan Calliandra calothyrsus.

Masalah dan Prospek Pertanian Hutan


Berbagai bentuk sistem usaha tani dan penggunaan tanah yang tergolong dalam
pertanian hutan telah dipraktekkan sejak dahulu kala oleh petani-petani di berbagai
Negara akan tetapi berbagai masalah yang sampai saat ini dihadapi terutama oleh Negara-
negara berkembang ditimbulkan oleh tekanan penduduk, kerusakan tanah dengan
berbagai akibat ikutannya, keursakan hutan, kekurangan makanan, kerusakan lingkungan
hidup, menyadarkan para ahli dan pemuka masyarakat akan nilai sistem yang telah
dikenal secara tradisional ini. Masalahnya adalah kurangnya informasi kuantitatif dan
belum adanya metode yang tepat untuk menilai keunggulan social, ekonomi, biologi dan
ekologi serta potensinya dibandingkan dengan sistem usaha tani atau penggunaan tanah
lainnya. Penelitian dalam bidang ini perlu lebih digalakkan dalam rangka menilai manfaat
langsungnya bagi petani, pengaruhnya terhadap kelestarian dan perbaikan sumber daya
lahan dan lingkungan hidup serta manfaat social ekonominya bagi masyarakat.
Selain dari berbagai bentuk pertanian hutan yang telah disebutkan memberikan
berbagai keuntungan seperti tumpang sari pada hutan jati, hutan ternak, pertanaman
lorong dan sebagainya.
MAKALAH
TANAMAN PENUTUP TANAH, PERGILIRAN TANAMAN DAN
PERTANIAN-HUTAN

KELOMPOK IV

1. FRANSISKUS K. GORAN (ketua)


2. YOHAN NENOMNANU
3. PRATAMA PLAITUKA
4. WOLFGANG KIA BORO
5. THOMAS AQUINO BIO RIWU
6. MORY B. PENI
7. EMANUEL KALANDA

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Lahan kering dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain peka terhadap
erosi, terutama bila keadaan tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi, tingkat
kesuburannya rendah, air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah
hujan serta lapisan olah dan lapisan bawahnya memiliki kelembaban yang amat rendah.

Merosotnya produktivitas lahan pada tanah datar dapat pula terjadi karena
hilangnya unsur hara lewat pencucian dan aliran permukaan. Di daerah Irian Jaya yang
penduduknya masih menggunakan sistem ladang berpindah dengan mempergunakan
lahan yang berlereng curam masih ada kegiatan-kegiatan usahatani pangan semusim
dimana para petani tidak atau belum memperhatikan konservasi lahan.

Kerusakan tanah tersebut pada umumnya terjadi karena tindakan manusia sendiri
yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air dalam mengelola
usahataninya yang merupakan kemunduran dalam penggunaan sumber daya alam.
Hingga mengakibatkan kerugian dengan banyak bencana misalnya banjir, kekeringan,
erosi dan lain-lain. Oleh karena itu dalam pengelolaan sumber daya alam (tanah dan air)
penting dilakukan tindakan konservasi.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini agar mahasiswa dapat mengetahui apa
itu tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman dan pertanian hutan.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk
melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan atau untuk memperbaiki sifat
kimia dan fisik tanah. Tanaman penutup tanah berperan : (1) menahan atau mengurangi
daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2)
menambah bahan organic tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3)
melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan bahan organic
dalam meningkatkan ketahanan struktur tanah, memperbesar kemampuan tanah untuk
menyerap dan menahan air hujan yang jatuh, dan menambah unsure hara . Peranan
tanaman penutup tanah tersebut di atas menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air
hujan dan mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan, sehingga mengurangi
erosi, dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah.
Pergiliran tanaman adalah sistim penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam
urutan waktu tertentu pada satu bidang tanah. . Selain berfungsi sebagai pencegahan
erosi, pergiliran tanaman memberikan keuntungan-keuntungan lain, seperti :
- Pengendalian hama dan penyakit; menekan populasi hama dan penyakit
karena memutuskan siklus hidup hama dan penyakit ,
- Pengendalian gulma; penanaman satu jenis tanaman tertentu terus menerus
akan meningkatkan pertumbuhan jenis-jenis gulma tertentu,
- Mempertahankan dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kesuburan tanah;
jika sisa atau potongan tanaman pergiliran dijadikan mulsa atau
dibenamkan dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah menahan
dan menyerap air, mempertinggi stabilitas agregat dan kapasitas infiltrasi
tanah; jika tanaman tersebut adalah leguminosa akan menambah
kandungan nitrogen tanah; dan memelihara keseimbangan unsur hara
karena absorbsi unsure dari kedalaman dan preferensi yang berlainan.
Sistem pertanian hutan (Agroforestry) diartikan sebagai suatu sistem usahatani atau
penggunaan tanah yang mengintegrasikan secara spatial dan/atau temporal tanaman
pohon-pohonan di dalam sistem prosuksi tanaman rendah, dan/atau ternak pada sebidang
tanah yang sama. Oleh karena itu Pertanian hutan (Agroforestry) di definisikan sebagai
sistem penggunaan tanah dimana tanaman tahunan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu
dsbnya) secara sengaja ditanam diatas lahan yang sama dengan tanaman semusim
dan/atau hewan, yang diatur secara partial atau dalam urutan temporal. Di dalam sistem
pertanian hutan, terdapat baik interaksi ekologi maupun ekonomi , antara berbagai
komponen tanaman tersebut. Agroforestry adalah Pengggunaan tanah terpadu yang sesuai
untuk tanah marginal dan sistem masukan rendah.
DAFTAR PUSTAKA

http://blog.unila.ac.id/kes_manik/files/2010/06/BHN-KLH-KTA-S11.pdf

http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/tanaman-
penutup-tanah/

http://eprints.undip.ac.id/1070/1/ILING-II-5-KONSERVASI.pdf

http://www.scribd.com/doc/22388175/KEMAMPUAN-LAHAN