Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH POLITIK GLOBAL CINA

DAMPAK NEGATIF PERDAGANGAN BEBAS INDONESIA CINA STUDI KASUS:


PENARIKAN SUSU BEMELAMIN CINA DI INDONESIA

1. Latar Belakang Masalah

Perdagangan Internasional merupakan salah satu kajian dari Ilmu Hubungan


Internasional, pentingnya kajian ini dalam ilmu hubungan internasional dikarenakan setiap
Negara pada saat ini (pasca perang dingin) selalu membicarakan mengenai permasalahan
ekonomi internasional dan perdagangan antar Negara, oleh karena itu perdagangan internasional
menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan ekonomi internasional. Permasalahan dunia
internasional saat ini tidak hanya di dominasi oleh isu-isu keamanan suatu negara seperti pada
masa perang dingin namun di dominasi pula oleh isu-isu lingkungan, ekonomi dan kemanusiaan.

Mengutip pernyataan Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Muhamad dalam bukunya
pengantar ilmu hubungan internasional (2005, 5), bahwa pasca perang dingin isu-isu strategis
dunia internasional yang awalnya hanya berkutat kepada permasalahan keamanan suatu negara
berkurang dibanding dengan isu-isu demokratisasi, liberalisasi dan lingkungan, hal ini juga
didorong dengan adanya kecenderungan bagi setiap negara untuk tidak melakukan transaksi
hubungan internasional yang bersifat koersif (perang) namun lebih kepada transaksi-transaksi
hubungan internasional yang bersifat pasifis (perdamaian) dikarenakan hubungan antar Negara
yang bersifat koersif tidak membawa manfaat bagi setiap negara.

Perdagangan internasional menjadi suatu isu penting dalam hubungan internasional


dikarenakan setiap transaksi internasional yang terjadi di masa pasca perang dingin banyak
membicarakan mengenai perdagangan internasional, setiap negara yang berhubungan dengan
Negara lain pasti selalu membicarakan mengenai peluang kerjasama perdagangan antar Negara,
oleh karena itu permasalahan mengenai perdagangan antar Negara mampu menjadi suatu isu
yang sensitif dalam hubungan antar negara, isu-isu ini seperti menghapus kesenjangan
1
perdagangan antara Utara dan Selatan, interdependensi perdagangan, hambatan perdagangan
(proteksionisme), pembentukan kawasan perdagangan (integrasi ekonomi kawasan) melalui
adanya pembentukan blok-blok ekonomi di setiap kawasan, dan pembentukan sistem
perdagangan internasional yang adil yang mampu membuat mekanisme perdagangan
internasional berjalan dengan baik1, mengutip kembali pernyataan dari buku karya Anak Agung
Banyu Perwita dikatakan bahwa masalah-masalah pembangunan dan kerjasama ekonomi
menjadi ekonomi agenda utama dalam politik internasional, jika pada masa perang dingin
bargaining position (pengaruh tawar menawar kepentingan) dari suatu Negara dapat ditunjang
oleh keterlibatannya dalam suatu blok keamanan, maka sekarang posisi tawar menawar tersebut
bisa di dapat dengan cara melibatkan diri pada suatu blok perdagangan.

Perimbangan kekuatan di masa kini pun telah beranjak dimana perimbangan kekuatan di
masa perang dingin Negara yang mementingkan kekuatan dalam bentuk jumlah tentara, dan
kemampuan persenjataan berubah sedikit demi sedikit kearah perimbangan kekuatan ekonomi
setiap Negara.

Perdagangan internasional terbentuk dikarenakan berbagai macam sebab, beberapa teori


mengenai perdagangan internasional telah mengemukakan beberapa hal, seperti perdagangan
internasional terjadi akibat adanya perbedaan harga bahan baku produksi yang ada disetiap
Negara, bahan baku yang spesifik ini memang banyak terdapat disuatu Negara dan sedikit di
Negara lain sehingga hal ini juga mempengaruhi tingkatan harga untuk memproduksi produk-
produk yang mempunyai bahan baku tersebut, perdagangan antar Negara yang terjadi juga
membicarakan mengenai adanya comparative advantage dalam hal tenaga kerja (Soelistyo,
1982, 25).

Cina merupakan salah satu Negara yang mempunyai perkembangan Perekonomian yang
tinggi, hal ini di indikasikan dengan adanya peningkatan GDP2 (Gross Domestic Product/
Produk Domestik Brutto) dan GNP3 (Gross National Product/ Produk Nasional Brutto) China
pada awal tahun 1990, berikut data dari world bank yang dikutip dari buku China Development
Priorities, berdasarkan data dari tahun 1990 sampai 2003 terdapat kenaikan GDP Cina, dimana
1
Hal ini dapat dilihat dari adanya usaha-usaha perombakan WTO agar menjadi sebuah organisasi Perdagangan Internasional
yang netral dalam membentuk suatu mekanisme Perdagangan Internasional yang Adil antara Negara-negara maju dan Negara-
negara Berkembang (Blustein, 2009, 57).
2
Produk Domestik Brutto ialah jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi didalam batas
wilayah suatu Negara dalam satu tahun (Apridar, 2007, 199)
3
Produk Nasional Brutto ialah seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh Negara yang bersangkutan di ukur
menurut harga pasar (Apridar, 2007, 199)
pada tahun 1990 sebesar 3,8 % pertahun 1991 sebesar 9,2 % dan 1992 sebesar 14,2 % hingga
pada tahun 2003 sebesar 8,0 % pertahun (Shahid Yusuf dan Kaoru Nabeshima, 2003, 38).

Dari data diatas maka dapat diambil kesimpulan sederhana bahwa dengan semakin
meningkatnya perekonomian Cina, hal ini tentu berimplikasi terhadapa adanya perkembangan
pasar bagi produk-produk Cina, dari dasar inilah maka Cina sangat intensif sekali membuka
peluang-peluang pasar di setiap Negara tak terkecuali Indonesia, pola-pola pembentukan peluang
ini tentu saja dengan melakukan kerangka kerjasama ekonomi dengan setiap Negara dan juga
membentuk suatu kerjasama ekonomi khusus dengan suatu Negara dan kawasan (Cina-ASEAN,
Cina-Uni Eropa), hal ini dapat dilihat dengan adanya kerjasama yang intensif antara Cina dengan
Eropa dalam sebuah artikel yang berjudul China-Europe Relation (Bates Gill and Mellisa
Murphy, 2008, 9), dikatakan dalam artikel ini bahwa Cina merupakan partner dagang terbesar
kedua bagi Eropa.

2. Permasalahan

Indonesia sebagai Negara yang mempunyai penduduk terbesar di dunia merupakan pasar
yang potensial bagi negara-negara yang mempunyai industri-industri produk (Negara Industrial)
untuk memasarkan hasil produknya, pencarian akan adanya pasar yang potensial merupakan
suatu hal yang sangat penting bagi perekonomian Cina, hal ini dikarenakan Cina lebih
mengutamakan perdagangan Luar Negeri dibandingkan penanaman modal langsung (Foreign
Direct Investment) seperti dikutip dari buku Merangkul Cina karya I Wibowo dan Syamsul Hadi
(2009, 66), dikatakan bahwa keunggulan daya saing Cina bukan terletak pada jaringan produksi
regional atau Internasional, tetapi pada harga-harga produk yang jauh lebih murah dibandingkan
Negara yang lain.
Namun penulis tidak menyangkal bahwa Cina melihat Indonesia sebagai Negara yang
potensial untuk menanamkan modal secara langsung mengutip keterangan dari majalah China
Town dikatakan Indonesia merupakan salah satu surge investasi bagi Cina, hal ini diperlihatkan
dengan memperlihatkan data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dikatakan bahwa
realisasi penanaman modal investasi Cina pada periode (2003-2009) rata-rata sebesar 57,4 juta
dolar AS pertahun atau sebesar 0,7% total investasi asing di Indonesia, lebih lanjut dikatakan
bahwa setiap tahun terdapat peningkatan jumlah investasi dimana pada periode 1990-2002
terjadi peningkatan rata-rata investasi sebesar 0,1% pertahun yaitu sebesar 2,5 juta dolar AS,
sementara pada periode 2003-2009 terjadi peningkatan jumlah investasi sebesar 1,8% pertahun
yaitu sebesar 160,2 juta dolar AS (China Town, Maret 2011).
Sebagai Negara berkembang, Indonesia juga menjadi negara yang mempunyai pangsa
pasar yang cukup besar bagi produk-produk Cina hal ini dapat dilihat dari indikator tidak
seimbangnya neraca pembayaran antar kedua negara, mengutip headline harian Kompas (11,
April, 2011) dapat dilihat tabel neraca perdagangan antar kedua negara, Indonesia sudah
mengalami defisit semenjak tahun 2006 sampai sekarang, hal ini dikarenakan karakteristik
penduduk Indonesia yang mempunyai daya beli yang rendah, membuat produk-produk asal Cina
sangat diminati, begitu banyak produk-produk Cina yang beredar di Indonesia, mulai dari barang
elektronik, tekstil, otomotif sampai produk makanan impor, termasuk salah satu produknya yang
beredar luas adalah produk susu bayi dan produk turunan yang berbahan baku susu dari Cina.
Produk susu bayi adalah produk yang sangat potensial di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari
segi faktor harga yang ekonomis dibanding susu-susu bayi kemasan yang berasal dari Eropa atau
pun Australia.
Keekonomisan harga susu tersebut ternyata menimbulkan permasalahan baru, yakni
terdapat melamin dalam kandungan susu yang di produksi di Cina. Melamin ialah suatu zat
organik yang terdiri dari senyawa karbon, oksigen dan nitrogen . Bahan kimia ini kali pertama
dihasilkan oleh Justus von Liebig pada 1830 yang kemudiannya dihasilkan secara besar-besaran
untuk kegunaan industri. Melamin merupakan bahan kimia industri yang digunakan untuk
membuat plastik dan pupuk. Melamin dicampurkan dalam susu untuk membuatnya tampak
memiliki kandungan protein yang tinggi. Melamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan
penyakit batu ginjal dan gagal ginjal batu ginjal tampak pada hewan hewan korban kasus
pencampuran melamin tahun lalu. Batu ginjal inilah yang dapat menyumbat saluran kecil di
ginjal yang kemudian dapat menghentikan produksi urine, gagal ginjal, dan bahkan kematian.
(Mediakom, 2008).
Kasus Ini bermula dari adanya Press release dari Badan Administrasi Supervisi Kualitas
Inspeksi dan Karantina (otoritas pengawas makanan Cina), yang menemukan 10% susu produksi
Mengniu Dairy Group dan Yili Industrial Group, dua perusahaan susu terbesar di sana,
mengandung 8,4 mg melamin per kg susu. Mereka juga menyatakan susu dari Bright Dairy di
Sanghai tercemar (Koran Tempo terbitan tanggal 20 September 2008).
Sedikitnya 12 bayi lain tewas karena mengonsumsi susu yang tercemar melamin Kantor
berita Cina, Xinhua (http://www.xinhuanet.com diakses pada tanggal 16 April 2011, pada pukul
20:35) juga melaporkan, sedikitnya 14 bayi di Kota Lanzhou, Provinsi Gansu mengalami
kerusakan ginjal akibat meminum susu formula palsu. Bayi tersebut mengalami muntah-muntah
dan tidak bisa buang air kecil. Para korban berasal dari kawasan terpencil, berdasarkan
keterangan mereka membeli susu bermasalah itu dengan harga lebih murah. Meskipun merek
dan jenisnya sama seperti dijual di pasaran. Biro Kesehatan Masyarakat Provinsi Gansu secara
cepat menyelidiki apakah susu formula itu ada kaitannya dengan kerusakan ginjal yang dialami
para korban. Kasus produk palsu memakan korban banyak terjadi di China.

Kementerian Perdagangan Indonesia pada bulan September 2008 telah menerima


menerima laporan 12 nama perusahaan Cina yang memproduksi susu bayi bermelamin Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu dikatakan "Laporan itu kami terima dari Kedutaan Besar
Indonesia di Beijing", (www.tempointeraktif.com diakses pada tanggal 18 april 2011 pukul
21:05 WIB) Laporan tersebut, selanjutnya telah diserahkan ke Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM) untuk diperiksa dan diawasi. Pemerintah akan melihat terlebih dulu merek
dan perusahaan yang perlu waspadai demi perlindungan konsumen. Dalam kasus ini,
Kementerian Perdagangan berkoordinasi dengan BPOM mengawasi peredaran susu. Namun
proses investigasi, hingga tindak lanjut dengan melakukan penarikan produk dari peredaran
merupakan tanggung jawab BPOM. Izin beredar makanan-minuman impor dan lokal diatur
langsung BPOM.

Direktur Impor Kementerian Perdagangan Albert Tubogu mengatakan bahwa impor susu
diatur langsung oleh Kementerian Pertanian. "Makanan yang mengandung produk peternakan,
pengaturan impornya dilakukan oleh Direktur Jenderal Peternakan,", jumlah impor susu bayi
Cina ke Indonesia masih pada skala kecil. Pemerintah lebih banyak impor dari Australia dan
Selandia Baru. Pemerintah mewaspadai produk impor susu bayi Cina karena tercemarnya
produk tersebut dengan kandungan melamin hingga menyebabkan jatuhnya korban di Cina.
Sejak peristiwa mengenai produk susu yang menewaskan empat bayi dan membuat
54.000 (www.bakohumas.depkominfo.go.id di akses pada tanggal 16 April 2011 pada pukul
22:25) lainnya sakit itu terungkap, ternyata peristiwa ini juga menimbulkan korban-korban yang
tersebar diseluruh Negara yang menjadi akses pasar bagi produk-produk susu yang sudah
tercemar melamin setidaknya Bangladesh, Brunei, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura,
Taiwan, Burundi, Kenya, Gabon, Indonesia, untuk menangani permasalahan ini Kolombia
memberlakukan larangan terbatas untuk produk pangan mengandung susu impor asal Cina,
ribuan galon liter susu pun telah ditarik dari rak-rak supermarket di seluruh dunia kekhawatiran
semakin merebak karena susu mengandung melamin itu digunakan sebagai bahan baku yoghurt,
biskuit, dan permen hal ini membuat badan kesehatan dunia kemudian melakukan, Pemeriksaan
terbaru menunjukkan melamin terdapat pada sejumlah contoh susu cair yang diambil dari 22
perusahaan di Cina. Penemuan itu semakin membuat penarikan produk susu semakin sering
dilakukan.
Berdasar kepada hal tersebut diikuti dengan adanya kasus tentang susu formula yang
terkontaminasi melamin atau bahan kimia yang biasa digunakan untuk membuat plastik
ditemukan dan beredar di Cina serta mengakibatkan ribuan bayi sakit dan beberapa diantaranya
meninggal dunia. Pemerintah Negara Cina kemudian melakukan inspeksi dan pemeriksaan
terhadap produk susu yang beredar, kebijakan yang diambil pemerintah Cina antara lain
melakukan tuntutan hukum kepada produsen yang membuat susu tersebut
(http://www.xinhuanet.com diakses pada tanggal 16 April 2011, pada pukul 21:00). Berbagai
negara di Asia memberlakukan larangan masuk pada produk-produk susu dari Cina, seperti di
Negara Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, dan Taiwan Pemerintah Malaysia pun
memperluas larangan atas produk-produk hasil olahan susu yang diimpor dari Cina
(http://investasi.kontan.co.id/v2/read/industri/1817/Pemerintah-Waspadai-Impor Pangan-China
diakses pada tanggal 21 April pukul 21:32), Kini semua produk makanan yang mengandung
susu, seperti permen, cokelat dan biskuit buatan Cina dilarang beredar di Indonesia
(www.depdag.go.id diakses pada tanggal 2 mei pada pukul 22:10).

3. Kesimpulan
Di era globalisasi kecenderungan Negara-Negara sudah tidak memakai “hard power”
tetapi lebih menggunakan soft power. Pendekatan ekonomi yang soft dapat dengan mudah
menguasai dan mengintervensi Negara yg di invasi. Perubahan system internasional yang
sekarang ini menjadi Kapitalistik dan kemunculan integrasi regionalisme serta teori dependencia
mamaksa semua Negara untuk berdagang dan berekspansi untuk mencapai kepentingan nasional
negaranya.

Indonesia dan China adalah salah satu Negara yang bekerja sama yang megadakan
perdagangan yaitu masuknya produk-produk susu dari Negara komunis tersebut seperti permen,
cokelat dan biskuit. Namun pada tahun 2008 banyak terjadi fenomena kematian di Negara-
negara asia tenggara dan di Negara tirai bambo tersebut, akibat dari produk susu China yang
terindikasi mengandung melamin.

ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) merupakan kesepakatan antara negaranegara


anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan
menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non
tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan
aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para Pihak ACFTA dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China.

Kerja sama perdagangan tersebut sebenarnya saling menguntungkan kedua Negara,


karena harga produk susu china lebih murah dari pada susu buatan eropa, dan china yang
melakukan eksport juga diuntungkan dengan menjadikan Indonesia sebagai pasar.

Dengan adanya Produk susu dari Cina yang mengandung melamin beredar di Indonesia,
maka Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan perdagangan luar negeri. Kebijakan
perdagangan ini berhubungan dengan kebijakan larangan impor produk-produk susu bermelamin
asal Cina.

Kebijakan luar negeri tersebut dapat berupa pengembalian produk- produk yang
mengandung melamin, penarikan produk-produk, dan pemusnahan produk yang mengandung
susu bermelamin Cina yang ada di Indonesia, dengan adanya kebijakan ini maka akan terjawab
rumusan masalah yang ada pada bab pertama mengenai Bagaimana kebijakan perdagangan luar
negeri Indonesia terhadap produk susu bermelamin Cina pada tahun 2008.
DAFTAR PUSTAKA

Apridar., (2007), Ekonomi Internasional; Sejarah, Teori, Konsep dan Permasalahan dalam

Aplikasinya, Unimal Press: Jakarta

Blustein, Paul, (2009)., Misadventures Of the most Favored nations: Clashing Egos, Inflated

Ambitions, and the Great Shambles of the World Trade System. Public Affairs Press:

United States

Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochamad Yani., (2005), Pengantar Ilmu Hubungan

Internasional, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung

Soelistyo, (1982)., Ekonomi Internasional. Penerbit Liberty: Yogyakarta

Wibowo, I & Hadi Syamsul., (2009), Merangkul Cina, PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Yusuf, Shahid dan Kaoru Nabeshima., (2003), China Development Priorities, World Bank:

Washington DC

Jurnal

China-Europe Relations A Report of the CSIS Freeman Chair in China Studies Implications and

Policy Responses for the United States,CSIS, 2008.

Media Massa

Koran Tempo terbitan tanggal 20 September 2008

Majalah Mediakom, edisi XIV-Oktober 2008, Departemen Kesehatan RI

Majalah China Town, Edisi 41/IV/Maret 2011.


Web Site

www.bakohumas.depkominfo.go.id

www.kemendag.go.id

www.tempointeraktif.com

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/industri/1817/Pemerintah-Waspadai Impor-Pangan-China

diakses pada tanggal 21 April pukul 21:32

www.xinhuanet.com

Beri Nilai