Anda di halaman 1dari 2

Putik bunga lili memiliki bagian ovul sebagai tempat pembentukan gametofit betina (megasporogenesis) dan ovari.

Ketika bunga berkembang di dalam tunas, megasporosit (2n) di ovul mengalami miosis dan menghasilkan 4 megaspora (n). Tiga dari megaspora ini akan mengalami degenerasi dan hilang, sedangkan satu megaspora akan mengalami mitosis dan tumbuh membesar menghasilkan dua inti haploid. Kedua inti haploid ini mengalami pembelahan mitosis sebanyak dua kali sehingga menghasilkan delapan inti haploid. Delapan inti haploid ini akan berkembang dan dilapisi dinding sehingga terbentuk 3 inti sebagai antipodal (3 sel), 2 inti sebagai inti polar (1 sel), 2 inti sebagai sinergid (2 sel), dan 1 inti sebagai sel telur (1 sel). Sel telur berfungsi sebagai gamet betina, sinergid akan berdegenerasi selama atau setelah pembuahan, dan antipodal belum diketahui fungsinya, nantinya juga akan berdegenerasi. Kantung yang besar yang berisi 8 inti dalam 7 sel ini menjadi gametofit betina (megagametofit) atau lebih dikenal dengan kantung embrio. Dua lapis terluar dari ovul akan berdeferensiasi menjadi integumen yang kemudian akan menjadi kulit biji. Selama perkembangannya, integumen akan membentuk pori dan di bagian ujung pori ini disebut mikrofil, tempat masuknya serbuk sari ke ovul (Stern, 2006). Pembentukan gametofit jantan bunga lili terjadi di anter dan biasanya terjadi bersamaan dengan megagametofit. Perkembangan anter dalam membentuk mikrosporosit diawali dengan berdeferensiasinya empat lapis jaringan anter dari massa sel induk anter. Jaringan ini berisi banyak sel diploid mikrosporosit dan setiap sel ini akan mengalami miosis menghasilkan tetrad atau kuartet dari mikrospora. Empat kantung (kantung polen) berhubungan dengan sel nutrisi tapetal yang tampak dalam potongan melintang anter ketika mikrospora diproduksi. Ketika anter telah matang, dinding kantung yang berdekatan akan pecah sehingga hanya dua kantung besar yang tersisa. Setelah miosis, mikrospora (n) dalam kantung polen mengalami beberapa perubahan selama satu atau dua hari dalam dua minggu. Perubahan itu meliputi inti mikrospora mengalami mitosis, anggota setiap tetrad mikrospora akan berpisah satu dengan yang lain, dan lapisan terluar dari dinding mikrospora akan berkembang mengelilingi setiap mikrospora. Ketika semua peristiwa telah lengkap, mikrospora menjadi serbuk polen (serbuk sari) dengan lapisan dinding terluar disebut eksin yang berisi senyawa kimia yang nantinya akan bereaksi dengan stigma pada bunga untuk perkecambahan atau penghambatan perkembangan serbuk polen tergantung sama atau tidaknya spesies. Satu serbuk polen mengalami dua inti yaitu inti generatif akan membelah menghasilkan dua inti yang dilapisi membran plasma dan berperan sebagai sperma (sperma angiospermae tidak berflagel) dan inti vegetatif (tabung polen) dalam yang terbentuk setelah serbuk polen meninggalkan anter (Stern, 2006). Polinisasi atau penyerbukan adalah pemindahan serbuk polen dari anter menuju stigma. Fertilisasi adalah penggabungan sel telur dan sperma. Sinergid rusak ketika tabung polen mencapai mikrofil dan diteruskan ke gametofit betina (megagametofit). Sinergid rusak atau pecah membentuk pori sehingga isinya keluar, kemudian fertilisasi ganda terjadi. Satu sel sperma bermigrasi dari sinergid ke sel telur dan kehilangan protoplasma dalam perjalanannya. Inti sperma bersatu dengan inti sel telur membentuk zigot dan kemudian berkembang menjadi embrio (Stern, 2006). Perkembangan biji pada angiospermae yaitu biji Ricinus dan tomat meliputi pembentukan cadangan makanan atau endosperm (3n) yang

berasal dari fusi 2 inti polar (2n) dengan 1 inti generatif (n). Endosperma berkembang terlebih dahulu dari embrio untuk menjamin ketersediaan makanan dan nantinya endosperma akan diserap oleh embrio dan ditransfer ke kotiledon sehingga pada angiospermae dikenal istilah monokotil (biji dengan satu kotiledon) dan dikotil (biji dengan dua kotiledon). Selain kotiledon dan endosperma, di dalam biji terdapat radikula yang akan berkembang menjadi akar dan plumula yang akan berkembang menjadi daun ketika tumbuhan berkecambah (Griffin dan Sedgley, 1989).