Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laparatomi adalah salah satu jenis operasi yang di lakukan pada daerah abdomen.

Operasi laparatomy di lakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area abdomen, misalnya trauma abdomen. Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Tujuan perawatan post laparatomi; 1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. 2. Mempercepat penyembuhan. 3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. 4. Mempertahankan konsep diri pasien. 5. Mempersiapkan pasien pulang. B. Tujuan Tujuan umum Tujuan umum dari penulisan laporan pendahuluan ini adalah agar mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post laparatomy dengan benar. Tujuan khusus

Dapat melakukan pengkajian secara holistik Dapat menegakkan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan post laparatomy. Dapat menetapkan intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa yang muncul. Dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang di tetapkan.

Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan. BAB II ISI 1. PENGERTIAN Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi (Lakaman:2000;194). Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Ada 4 cara pembedahan laparatomy yaitu; 1. Midline incision 2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm). 3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. Latihan-latihan fisik seperti latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. 2. ETIOLOGI
Etiologi sehingga di lakukan laparatomy adalah karena di sebabkan oleh beberapa hal (Smeltzer, 2001) yaitu;

Trauma abdomen (tumpul atau tajam) Peritonitis Perdarahan saluran pencernaan. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.

Masa pada abdomen

3. PATOFISIOLOGI Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002). Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001). Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma abdomen merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi. Tusukan/tembakan , pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt)-dapat mengakibatkan terjadinya trauma abdomen sehingga harus di lakukan laparatomy. Trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan individu dapat kehilangan darah, memar/jejas pada dinding perut, kerusakan organorgan, nyeri, iritasi cairan usus. Sedangkan trauma tembus abdomen dapat mengakibatkan hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stres simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, kematian sel. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ dan respon stress dari saraf simpatis akan menyebabkan terjadinya kerusakan integritas kulit, syok dan perdarahan, kerusakan pertukaran gas, resiko tinggi terhadap infeksi, nyeri akut. & 2 menyebabkan :

4. PATHWAY Trauma karena benda tajam, tumpul, kecelakaan Trauma abdomen

Lesi/ cidera abdomen Perdarahan intra abdomen Laparatomi

Tekanan intra abdomen Luka sayatan

Abdomen tegang Luka invasif post pembedahan

Lemah

5. FARMAKOLOGI a. Tirah Baring total 24 jam, kemudian mobilisasi secara bertahap. b. Kontrol tensi, nadi tiap 15 menit, suhu tiap 30 menit bila stabil tiap 4 jam. c. Selama 13-24 jam pertama, pemasukan makanan per os

distop. Kemudian secara bertahap diberikan makanan cair hingga padat sesuai keadaan penderita. d. Bila kesakitan, berikan analgetik narkotik, betadine 50mg maksimal 4 kali dalam 24 jam.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium.

Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah; 1. Respiratory: Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan. 2. Sirkulasi: Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler. 3. Persarafan : Tingkat kesadaran. 4. Balutan: Apakah ada tube, drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ? 5. Peralatan: Monitor yang terpasang, cairan infus atau transfusi. 6. Rasa nyaman: Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi. 7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.Pengkajian A. Diagnosa 1. Kerusakan integritas jaringan sehubungan dengan adanya luka invasif 2. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. 3. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. 4. Gangguan imobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari anggota tubuh. B. Intervensi 1. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan adanya luka invasif Tujuan: klien menunjukkan integritas kulit dalam keadaan normal. Kriteria hasil: tidak adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit. Intervensi : 1. Berikan perawatan luka operasi yang bersih. Rasional : mencegah terjadinya infeksi yang dapat membuat terjadinya

kerusakan integritas kulit lebih lanjut. 2. Latih alih baring Rasional : mencegah terjadinya dekubitus 3. Berikan sandaran atau tahanan yang lembut pada daerah- daerah yang mungkin terjadi luka dekubitus 4. Hindari terjadinya infeksi pada luka operasi yang dapat membuat parahnya integritas kulit. Rasional : adanya infeksi dapat membuat kerusakan integritas kulit leb 5. Pemberian antibiotik sistemik parah. Rasional : pemberian antibiotik dapat membantu membasmi bakteri sehingga infeksi kulit tidak meluas 2. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. Tujuan : memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada klien. Kriteria hasil: klien melaporkan nyeri abdomen berkurang 1. Gunakan analgetik Rasional : mengurangi rasa nyeri akibat sayatan. 2. Ajarkan teknik relaksasi pada klien. Rasional : untuk membantu mengalihkan nyeri yang dirasakan. 3. Berikan lingkungan yang nyaman Rasional: agar pasien dapat beristirahat dengan baik. 3. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. Tujuan : klien tidak terkena infeksi Kriteria hasil: klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Intervensi :

1. Selalu cuci tangan setelah menyentuh klien atau benda-benda yang kemungkinan terkontaminasi serta sebelum memberikan tindakan kepada klien lain. Rasional : mencegah infeksi silang antar pasien yang dapat memperburuk keadaan pasien 2. Semua benda-benda yang terkontaminasi dibuang atau dimasukan ke dalam tempat khusus dan diberi label sebelum dilakukan dekontaminasi atau diproses ulang kembali : mencegah penyebaran kuman 3. Pastikan luka sayatan dalam keadaan tertutup. Rasional; mencegah terjadinya terpapar kuman dari luar.

4. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari anggota tubuh. Tujuan: klien dapat melakukan aktivitas dengan normal. Kriteria hasil; klien dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang biasa dilakukan secara mandiri. Intervensi: 1. Bantu klien untuk melakukan aktivitas yang biasa di lakukan Rasional; membantu memenuhi kebutuhan yang biasa di lakukan secara mandiri. 2. Lakukan ROM pada anggota tubuh yang lain Rasional: mencegah terjadinya kelemahan otot akibat pergerakan terbatas.

Daftar Pustaka 1) Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta. 2) Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta. 3) Nasrul Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta. 4) Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta