Anda di halaman 1dari 6

PRESENTASI MAKRO EKONOMI

DUIT ASING DI SBI MENCAPAI 81.9 T

Kelompok II Di susun Oleh : Liza Lufikri ( Ketua ) Dini Ernawaty Ki Bee Meicy Wina

GICI BUSINESS SCHOOL ACCOUNTING 14

Turun Duit Asing di SBI Jadi Rp 81,9 Triliun Jumat, 7 Mei 2010 | 10:56 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak yang menghantam bursa saham dan nilai tukar rupiah dua hari terakhir merembet pula pada penempatan dana asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Data yang diperoleh KONTAN menunjukkan, posisi kepemilikan asing di SBI per 5 Mei lalu sebesar Rp 81,9 triliun. "Tapi penurunan dana SBI asing tidak banyak, hanya turun sekitar Rp 1 triliun," ujar Deputi Direktur Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Wiwiek Sisto Widayat, di Jakarta, Kamis (6/5/2010). Sekadar informasi, per 30 April lalu, porsi asing di SBI mencapai Rp 82,99 triliun. Ini rekor tertinggi porsi dana asing di SBI. Sebelum terjadi guncangan di pasar keuangan pekan ini, dana asing di SBI tumbuh pesat. Porsi dana asing di SBI yang per 9 April baru Rp 71,8 triliun melejit jadi Rp 82,99 triliun di akhir April. Jadi, tak genap sebulan, dana asing di SBI bertambah Rp 11,19 triliun. Derasnya dana asing ke SBI ini menjadi penyumbang utama melonjaknya cadangan devisa Indonesia. Menurut Deputi Gubernur BI Hartadi Agus Sarwono, nilai cadangan devisa saat ini sekitar US$ 78,6 miliar, bertambah US$ 6,8 miliar dalam sebulan. Kata Hartadi, aliran dana asing ke instrumen portofolio masih menjadi penyumbang terbesar cadangan devisa. Selain di SBI, duit para investor itu juga masuk ke Surat Utang Negara (SUN). "Nilai asing di SUN mencapai Rp 147,71 triliun. Capital inflow lebih banyak masuk ke perbankan nasional, hanya sebagian yang diserap oleh BI," jelasnya. Masih optimistis Sentimen negatif yang menerpa pasar keuangan di seluruh penjuru dunia beberapa hari terakhir ini memang membuat sebagian dana asing keluar dari SBI dan instrumen lain. Tapi tampaknya pemodal asing masih cukup optimistis dengan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari tetap tingginya minat mereka menanamkan duit di instrumen SBI bertenor menengah dan panjang. Sesuai kebijakan BI memanjangkan profil jatuh tempo SBI yang mulai berlaku bulan lalu, kepemilikan asing di SBI bertenor panjang naik. Jika di awal April pososi asing baru Rp 53 triliun, maka di akhir April naik menjadi Rp 58,99 triliun. "Sedangkan untuk SBI bertenor enam bulan, naik dari Rp 3,4 triliun menjadi Rp 5,2 triliun," jelas Wiwiek. Sebaliknya kepemilikan asing di SBI bertenor pendeksusut. Posisi investor asing di SBI berdurasi satu bulan per 30 April lalu mencapai Rp 15,4 triliun, turun Rp 3,4 triliun dari posisi awal April. BI akan terus mengarahkan pasar agar para investor lebih banyak menyerap instrumen SBI bertenor menengah dan panjang. Menurut jadwal, kebijakan pemanjangan profil jatuh tempo SBI akan berlaku

efektif pekan kedua Juni nanti, yakni dengan cara menggelar lelang satu bulan sekali. Saat ini adalah masa transisi, yakni lelang SBI berlangsung setiap dua pekan sekali. BI berharap, kebijakan ini bisa mendorong perbankan agar lebih terbiasa mengelola likuiditas mereka dalam durasi lebih panjang. (Ruisa Khoiriyah/Kontan) Ada 4 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

Rex Anderson Minggu, 16 Mei 2010 | 11:45 WIB Apa dampak positif dan negatif dari Duit asing yang ada di SBI ?

Revan Atila Minggu, 9 Mei 2010 | 14:34 WIB

bunga SBI kita termasuk tertinggi di Asean, silahkan bandingkan dengan negara2 tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Singapore yg cuma 1-3% , memangnya yang bayar bunganya para deputi gubernur dan gubernur BI apa? yang jelas bayarnya dari hutang negara baru dan pajak yg semakin intens dikenakan ke masyarakat. Sabtu, 8 Mei 2010 | 19:16 WIB coba kompas muat para pakar ekonomi tentang sbi dampak positif negatifnya...

geraldine tambayong Jumat, 7 Mei 2010 | 16:37 WIB Masih normal belum perlu dicemaskan.

Intisari dari Artikel yang diberi : Duit Asing di SBI mencapai 81.9 T

Penempatan Dana Asing di Sertifikat Bank Indonesia , dimana Posisi Kepemilikan asing di S.B.I per 5 Mei sebesar 81.9 T , akan tetapi ini jhanya penurunan yang tidak begitu banyak . Dan dari data pada Tanggal 30 April lalu porsi dana Asing Di S.B.I mencapai 82.99T , dimana mencapai posisi yang tinggi Di S.B.I , sedangkan pada tanggal 9 April hanya 71.8T melejit menjadi 82.99T , peningkatan sekitar 11 Triliun , hal ini memberi cadangan devisa bagi Negara .

Grafik Penempatan Dana Asing Di S.B.I 2010

84 82 80 78 76 74 72 70 68 66 4/9/2010 5/1/2010 5/3/2010 4/11/2010 4/13/2010 4/15/2010 4/17/2010 4/19/2010 4/21/2010 4/23/2010 4/25/2010 4/27/2010 4/29/2010 5/5/2010

Triliun Rupiah

Line 1

Tanggal

Pertanyaan : Posisi Kepemilikan asing di S.B.I per Mei sebesar 81.9T turun dari 82.99T per 30 April , sementara 9 April porsi asing di S.B.I hanya 71.8T . Meningkatnya Dana Asing (Capital Inflow) di satu sisi menjadi penyumbat utama cadangan Devisa . Menurut anda Kondisi seperti ini harus di wapadai atau dibiarkan saja karena inipun menambah cadangan Devisa Negara . Berikan Alasan menurut pendapat kelompok anda !

Menurut pendapat kami , Hal ini perlu kami Waspadai , Mengapa ? Sebelumnya kami tinjau dulu Apa itu Sertifikat Bank Indonesia ( SBI ) ? SERTIFIKAT BANK INDONESIA (S.B.I) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek ( 1-3 bulan ) dengan sistem diskonto / bunga . Tujuannya untuk mengontrol Kestabilan nilai Rupiah . Dengan menjual SBI , Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang Primer . Serta sistem yang digunakan adalah Sistem Lelang , dengan mekanisme BI Rate , dimana nantiya menjadi acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan . Sertifikat Bank Indonesia ini memilki beberapa dampak yang mempengaruhi Perekonomian Indonesia yaitu ; Positif - Pintu awal masuknya para Investor asing - Penyempurnaan Operasi Moneter dimana nantinya meningkatkan transmisi kebijakan moneter - Menutupi Hutang Negara - Membangun Pembangunan Nasional yang lebih Maju Negatif - Membayar bunga Obligasi dan bunga SBI - Dibebankan ke Masyarakat - APBN Defisit - Harga harga barang naik ( Inflasi )

- Merusak perekonomian bangsa yang telah merosokakan Indonesia ke dalam jeratan hutang yang membahayakan - Asset Negara terjual - Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Dari pernyataan pernyataan di atas maka dapat di simpulkan Bahwa Hal ini perlu di Waspadai dan tidak boleh dibiarkan begitu saja dan perlu di jaga agar Stabilitas Ekonomi tercapai dengan diperkuatnya kebijakan Fiskal dan Moneter yang berkesinambungan ke pergerakan ekonomi Nasional . Serta dari Grafik yang diberikan pun bisa di lihat peningkatan yang signifikan serta penurunannya , dimana hal ini perlu di waspadai karena mereka bisa keluar dengan cepat dan dampak merusak cukup serius , untuk itu koordinasi kebijakan Fiskal dan Moneter harus diperkuat .