Anda di halaman 1dari 19

Bab 2 Landasan Teori

2.1. Manusia dan Pekerjaannya Mengemukakan berbagai dorongan yang menyebabkan manusia bekerja dari yang bersifat dasar yaitu merupakan syarat bagi dilakukannya kegiatan-kegiatan dan dicapainya kebutuhan lain, sampai pada

kebutuhan-kebutuhan tingkat tinggi yang baru diusahakan pemenuhannya setelah tingkat yang lebih rendah dirasakan telah dimiliki. Setelah seseorang berada dalam dunia pekerjaan, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi jalannya pekerjaan. Faktor-faktor ini patut diperhatikan bukan hanya bersifat wajar secara manusiawi tetapi juga akan menimbulkan serangkaian kerugian bila tidak diperhatikan, tetapi bila diperhatikan dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

2.1.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kerja Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kerja, secara garis besar faktor-faktor tersebut dimasukkan kedalam dua kelompok yaitu kelompok pertama faktor-faktor diri (individu), seperti sikap, sifat, sistem nilai, karakteristik fisik, minat, motivasi usia, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Yang kedua kelompok faktor-faktor situsional seperti lingkungan fisik, mesin, peralatan dan metode kerja. Kelompok faktor situsional terbagi kedalam dua sub kelompok yaitu yang terdiri dari faktor sosial dan keorganisasian dan faktor-faktor fisik pekerjaan yang bersangkutan.

2.1.2. Beberapa segi mengenai beberapa faktorfaktor diri Faktor-faktor diri kebanyakan tidak dapat dirubah maka agar suatu pekerjaan dapat dijalankan dengan baik, harus dilakukan pemilihan terhadap calon-calon pekerja yang meliputi pengukuran terhadap kemampuan-kemampuan diri calon pekerja dan penilaian kecocokannya

dengan tuntutan pekerjaan. Uji kelayakan adalah salah satu contohnya, pengujian ini mengukur kemampuan dasar manusia seperti kemampuan dasar mekanis dan kemampuan dasar psikomotor yang menguji hal-hal seperti kecepatan reaksi, kecepatan gerak dan keterampilan tangan.

Kecocokan antara pekerja dengan pekerjaannya merupakan suatu syarat penting karena jika diabaikan hasil kerjanya akan rendah.

2.1.3. Beberapa keorganisasian

segi

mengenai

faktor-faktor

sosial

dan

Tidak semua kebutuhan seseorang dapat dipenuhi dengan materi. Perlakuan sebagai manusia dibutuhkan pekerja walaupun mereka merupakan salah satu alat produksi. Bila membicarakan tentang segi kemanusiaan dari seseorang maka segera tampaklah berbagai

kebutuhannya, seperti rasa aman, rasa terjamin, ingin perlakuan yang adil, ingin prestasinya diketahui dan dihargai orang lain, ingin berteman, ingin diakui sebagai bagian dari masyarakat, bahkan ingin menonjol.

Herzberg melihat sebagian besar dari halhal tersebut sebagai motivator, yaitu yang jika dipenuhi membuat seorang pekerja mendapatkan kepuasan kerja dan semangat dalam bekerja. Tentu pada gilirannya hal ini dapat diharapkan mendatangkan keberhasilan kerja. Peranan perusahaan disini sangat besar, seperti menciptakan iklim kerja yang baik, menjalankan kepemimpinan yang baik, mengadakan hubungan-hubungan terbuka baik formal maupun informal, penyelenggaraan sistem upah yang adil, sistem penghargaan dan hukuman yang tepat, latihan-latihan yang cukup, pembagian tugas dan tanggung jawab yang memadai dan sebagainya.

2.1.4 Beberapa segi mengenai faktorfaktor fisik pekerjaan Hubungan antara manusia pekerja dengan mesin serta peralatanperalatannya dan lingkungan kerja dapat dilihat sebagai hubungan yang unik, karena interaksi antara halhal di atas membentuk suatu sistem kerja yang tidak terlampau sederhana bahkan melibatkan berbagai

disiplin ilmu. Di suatu pabrik kecil dimana jumlah buruh tidak besar, hubungan antara pekerja dapat berkembang erat termasuk antara atasan dengan bawahan. Hal ini menimbulkan akibat psikologis tersendiri yaitu berupa rasa bangga, rasa berperan yang menimbulkan kepuasan kerja. Sebaliknya di pabrik besar yang produksinya bersifat banyak, jumlah mesin yang sangat banyak, dapat menimbulkan suatu ketegangan pada pekerja. Hubungan antara pekerja maupun hubungan antara pekerja dan pimpinan tidak terjalin erat, sehingga bisa juga menimbulkan kejenuhan dan ketidaknyamanan.

2.2. Hasil Kerja Manusia dan Proses Pengendaliannya Setiap hari manusia terlibat dengan kegiatankegiatannya apakah itu bekerja atau bergerak, kesemuanya memerlukan tenaga. Yang penting harus kita perhatikan bagaimana mengatur kegiatan ini sedemikian rupa sehingga posisi tubuh saat bekerja tersebut ada dalam kadaan nyaman tanpa mempengaruhi hasil kerjanya.

Tubuh manusia bisa dianggap sebagai suatu mesin, dimana untuk melaksankan kegiatannya dibatasi oleh serangkaian hukumhukum alam. Kemampuan manusia untuk melaksanakan kegiatannya tergantung pada struktur fisik dari tubuhnya, yang terdiri dari struktur tulang, otot-otot rangka, sistem syaraf dan proses metabolisme. Dua ratus enam tulang manusia membentuk rangka, yang berfungsi untuk melindungi dan melaksanakan kegiatan-kegiatan fisik. Tulang-tulang tersebut antara satu dengan yang lain dihubungkan dengan sendi-sendi tulang yang terdiri atas gumpalan-gumpalan serabut otot yang dapat berkontraksi, serabut otot ini berfungsi mengubah energi kimia menjadi energi mekanik. Kegiatankegiatan dari otot ini dikontrol oleh sistem syaraf sedemikian rupa sehingga kegiatan kerja secara keseluruhan dapat berlangsung dengan baik.

Semua kegiatan dari tubuh manusia sudah dikatakan diatas memerlukan tenaga. Tenaga ini diperoleh karena adanya proses metabolisme dalam otot, yaitu berupa kumpulan-kumpulan dari proses kimia yang mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk, masing-masing kerja mekanis dan panas. Untuk mencari metode pengukuran tentang semua kegiatan yang dialami pekerja selama kegiatannya dan kemudian untuk menyebarkan informasi-informasi tersebut kedalam bentuk angka-angka, diperlukan pendekatan secara ilmiah dan teknik.

Sebagaimana kita ketahui, kerja manusia ada yang bersifat mental dan ada yang bersifat fisik dan masing-masing mempunyai tingkat intensitas yang berbeda-beda. Tingkat intensitas yang terlampau tinggi

memungkinkan pemakaian tenaga yang berlebihan, sebaliknya tingkat intensitas yang terlampau rendah, memungkinkan timbulnya rasa jenuh atau bosan.

Tingkat intensitas yang optimum ada diantara dua batas ekstrim di atas dan tentunya berbeda-beda untuk setiap individu. Dengan demikian, usaha-usaha ergonomi harus diarahkan pada pencapaian tingkat intensitas optimum ini.

Tingkat intensitas kerja yang optimum, umumnya dilaksanakan apabila tidak ada tekanan (stress) dan ketegangan (strain). Tekanan disini berkenaan dengan beberapa aspek dari kegiatan manusia atau lingkungan yang terjadi pada individu sebagai akibat reaksi individu tersebut, karena terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sedangkan ketegangan merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh individu tersebut, sebagai akibat dari tekanan.

2.3. Pengukuran Kerja dengan Metode Fisiologis Metoda pengukuran kerja fisik, dilakukan dengan menggunakan standar: a. Konsep horse-power (foot pounds of works per menit) b. Tingkat konsumsi energi untuk pengukuran pengeluaran energi. c. Perubahan tingkat fisik ukuran jantung (metode terbaru)

Metode fisiologis biasanya ditentukan berdasarkan kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan tekanan dan denyut jantung dipengaruhi tekanan psikologis, tekanan oleh lingkungan atau tekanan akibat kerja keras dimana ketiga tekanan tersebut sama pengaruhnya, sehingga apabila kecepatan denyut jantung seseorang meningkat, kita sulit menentukan apakah

meningkatnya ini disebabkan akibat kerja atau akibat temperatur ruangan yang terlampau panas atau akibat rasa takut. Volume oksigen yang dibutuhkan selama bekerja dipakai sebagai dasar menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan selama bekerja atau dengan persamaan 1 liter oksigen = 4,7 5,0 kilokal/ menit.

Volume oksigen yang digunakan tersebut dihitung dengan cara mengukur volume udara espirasi dan kemudian kadar oksigennya ditentukan dengan teknik sampling. Dengan mengetahui temperatur dan tekanan udaranya, maka kita bisa mengetehui volume oksigen yang digunakan.

Pengukuran

berdasarkan

kecepatan

denyut

jantung

lebih

mudah

dilakukan tetapi pengukuran cara ini kurang tepat dibandingkan dengan konsumsi oksigen karena lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor individu, seperti emosi, kondisi fisik, jenis kelamin dan lainnya.

Tiffin mengemukakan kriteria-kriteria yang digunakan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh pekerja terhadap manusia dalam sistem kerja yaitu kriteria faal, kriteria kejiwaan dan kriteria hasil kerja.

Secara garis besar, kegiatan-kegiatan kerja manusia dapat digolongkan menjadi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara sempurna, karena terdapatnya hubungan yang erat antara satu dengan yang lainnya. Apabila dilihat dari energi yang dikeluarkan, kerja mental murni relatif lebih sedikit mengeluarkan energi dibanding dengan kerja fisik.

Kerja fisik akan mengakibatkan perubahan pada fungsi alat-alat tubuh, yang dapat dideteksi melalui: a. Konsumsi oksigen. b. Denyut jantung. c. Peredaran udara dalam paru-paru. d. Temperatur tubuh. e. Konsentrasi asam laktat dalam darah. f. Komposisi kimia dalam darah dan air seni. g. Tingkat penguapan dan faktor lainnya.

Kerja fisik akan mengakibatkan pengeluaran energi yang berhubungan erat dengan konsumsi energi. Konsumsi energi dengan secara tidak langsung, yaitu dengan pengukuran: a. Kecepatan denyut jantung. b. Konsumsi oksigen.

Kecepatan denyut jantung memiliki hubungan yang sangat erat dengan aktifitas faal lainnya, seperti digambarkan dibawah ini:
Kecepatan denyut jantung Hubungan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tekanan darah. Aliran darah Komposisi kimia dalam darah Temperatur tubuh Tingkat penguapan Jumlah udara yang dikeluarkan oleh paru-paru

Gambar 4.2.1. Hubungan kecepatan denyut jantung dengan aktivitas faal lainnya

Dalam hal penetuan kosumsi energi, biasanya digunakan parameter indeks kenaikan bilangan kecepatan denyut jantung indeks ini merupakan perbedaan antara kecepatan denyut jantung pada waktu kerja tertentu dengan kecepatan denyut jantung pada saat istirahat, untuk merumuskan hubungan antara energi dengan kecepatan jantung dari pendekatan kuantitatif hubungan antara energi dengan kecepatan denyut dengan menggunakan analisis regresi kuadratis dengan persamaan sebagai berikut:

Dimana Y : energi (kilokalori per menit). X : kecepatan denyut jantung (denyut per menit).

Setelah besar kecepatan denyut jantung disetarakan dalam bentuk energi, maka kosumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu bisa dituliskan dalam bentuk matematis sebagai berikut:

Dimana

: Konsumsi energi untuk kegiatan kerja tertentu (kilokalori). : Pengeluaran energi pada saat waktu kerja tertentu (kilokalori). : Pengeluaran energi pada saat istirahat (kilogram).

Konsumsi energi pada waktu kerja tertentu merupakan selisih antara pengeluaran energi pada waktu kerja tersebutdengan pengeluaran energi pada saat istirahat. Kerja fisiologis tidak identik dengan kerja mekanik. Aktfitas otot merubah fungsi berikut: denyut jantung (heart rate), tekanan darah, output jantung (cardiac output dalam liter per menit), komposisi kimia dalam darah dan urine, temperatur tubuh, perspiration rate, ventilasi paru-paru (pulmonary ventilation dalam liter per menit) dan konsumsi oksigen oleh otot.

Unit kerja fisiologis, pengeluaran energi, kerja fisiologis dan biaya fisiologis berkaitan erat dengan konsumsi oksigen. Kita dapat mengukurnya secara langsung dalam liter/menit atau secara tidak langsung dalam detak jantung/menit. Unit satuan dasar yang digunakan adalah pengeluaran kalori dalam kalor/menit. Astrand dan Christensen menyelidiki

pengeluaran energi dari tingkat detak jantung dan menemukan bahwa ada hubungan langsung antara keduanya.

Tingkat energi terdapat tingkat kerja fisiologis yang umum, yaitu: istirahat, limit kerja aerob dan anaerob. Pada tahap istirahat pengeluaran energi diperlukan untuk mempertahankan kehidupan tubuh yang disebut tingkat metabolisme basal, pengukuran perbandingan oksigen yang masuk dalam paru-paru dengan Co2 yang keluar. Berat tubuh dan luas permukaan adalah faktor-faktor penentuan dan tingkat yang normal dinyatakan dalam kilokalori/area permukaan/jam. Rata-rata manusia mempunyai berat 65 kg dan mempunyai area 1,77 m 2 dapat dinyatakan sebagai 1 kilokalori/menit.

Kerja aerob bila supply oksigen pada otot sempurna. Sekali supply ada ketidak sempurnaan, sistem menjadi debat oksigen dan kerja menjadi anaerob. Tentu saja terdapat limit fisiologis aktivitas, itu tergantung pada skill, kekuatan dan keadaan kesehatan dan dapat ditingkatkan dengan training.

Tabel 4.2.1. Aktivitas dan Tingkat Energi Energi (kkal/menit) Detak jantung (menit) Oksigen (liter/menit) 1 2.5 5 7.5 10

60

75

100

125

150

0.2

0.5

1.5

Basis manusia normal, berat 65 kg. Permukaan tubuh 1,77 m2, cadangan energi 25 kal.

Tabel 4.2.2. Klasifikasi beban kerja dan reaksi fisiologis Energi Expenditure Kcal/min Over 12,5 10,0 - 12,5 7,5 10,0 5,0 7,5 2,5 5,0 Under 2,5 Over 6000 4800 6000 3600 4800 2400 3600 1200 2400 Under-1200 Kcal/8th Approximate Heart rate Berat/menit Over 175 150 175 125 150 100 125 60 100 Under-60 Oxygen condumption Liter/min Over 2.5 2,0 2,5 1,5 2,0 1,0 1,5 0,5 1,0 Under 0,5

Grade of work

Unduly heavy Very heavy Heavy Moderate Light Very light

Tabel 4.2.3. Makanan kecil dan isi kalori Makanan Kecil 1 cangkir air putih 1 cangkir sop 1 cangkir teh dengan 2 sendok gula Isi Kalori 0 10-15 35

1 cangkir kopi dengan 2 potong gula dan susu 37 1 cangkir sari buah 1 cangkir susu 1 cangkir susu olvaltine biskuit 50 gram roti 50 gram roti dan buah roti dan keju roti dan coklat 65 66 130 190 120 240 300 350

2.4. Fatique (Kelelahan) Banyak definisi tentang kelelahan ini, tetapi secara garis besarnya dapat dikatakan bahwa kelelahan ini merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan, yang secara umum terjadi pada setiap individu, yang sudah tak sanggup lagi untuk melakukan aktifitasnya. Pada dasarnya pola ini ditimbulkan oleh dua hal, yaitu akibat kelelahan fisiologis (fisik atau kimia) dan akibat kelelahan psikologis (mental atau fungsional), ini bisa bersifat obyektif (akibat perubahan performance) dan bisa bersifat subyaktif (akibat perubahan dalam perasaan dan kesadaran).

Yang dimaksud dengan kelelahan fisiologis adalah kelelahan yang timbul karena adanya perubahan-perubahan fisiologis dalam tubuh. Dari segi fisiologis, tubuh manusia dapat dianggap sebagai mesin yang

mengkonsumsi bahan bakar dan memberikan output berupa tenaga tenaga yang berguna untuk melaksanakan aktivitas seharihari. Pada prinsipnya terdapat beberapa macam mekanisme yang dilakukan tubuh, yaitu: sistem peredaran, sistem pencernaan, sistem syaraf dan sistem pernafasan. Kerja fisik yang continue, berpengaruh terhadap mekanisme mekanisme diatas. Baik secara sendirisendiri ataupun sekaligus. Kelelahan terjadi karena terkumpulnya produkproduk sisa dalam otot dan peredaran darah, dimana produkproduk sisa ini bersifat bisa membatasi kelangsungan aktivitas otot atau mungkin bisa dikatakan bahwa produk produk sisa ini mempengaruhi seratserat syaraf pusat sehingga menyebabkan orang menjadi lambat kerjanya jika sudah lelah.

Fatique (kelelahan fisik) itu sendiri adalah suatu kelelahan yang terjadi pada syaraf dan otototot manusia sehingga tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Maka berat beban yang dikerjakan dan semakin tidak teraturnya pergerakan, maka timbulnya fatique akan lebih cepat.

Barnes menggolongkan kelelahan dalam tiga hal tergantung darimana hal ini dilihat, yaitu: a. Merasa lelah. b. Kelelahan karena perubahan fisiologis dalam tubuh. c. Menurunnya kemampuan kerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fatique: a. Besarnya tenaga yang dikeluarkan. b. Cara dan sikap melakukan aktivitas. c. Jenis olah raga.

d. Jenis kelamin. e. Umur.

Fatique dapat ditentukan atau diukur dengan: a. Mengukur kecepatan denyut jantung dan pernafasan b. Mengukur tekanan darah, peredaran darah udara dalam paru -paru, jumlah oksigen yang dipakai, jumlah CO2 yang dihasilkan, temperatur badan, komposisi kimia dalam urine dan darah. c. Menggunakan alat penguji kelelahan riken fatique Indikator dengan ketentuan pengukuran elektroda logam melalui tes variasi perubahan air liur (salvina) karena lelah.

Pengukuran kelelahan dilakukan dalam praktek ini dimana hasil pengukuran dibandingkan dengan indek penunjuk dan pembeda warna untuk mengetahui tingkat kelelahannya.

Berikut ini diberikan suatu daftar yang biasa digunakan sebagai patokan untuk mengetahui telah datangnya gejalagejala atau perasaanperasaan dari kelelahan: a. Perasaan berat dikepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki terasa berat, menguap, pikiran merasa kacau, mengantuk, mata terasa

berat kaku dan canggung dalam gerakan, tidak seimbang dalam berdiri dan merasa ingin berbaring. b. Merasa susah berpikir, lelah berbicara, menjadi gugup, tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat mempunyai perhatian terhadap sesuatu, cenderung untuk lupa, kurang kepercayaan, cemas terhadap sesuatu, tidak dapat mengontrol sikap dan tidak tekun dalam pekerjaan. c. Sakit kepala, kekakuan bahu, merasa nyeri di punggung, pernapasan merasa tertekan, haus, suara serak, merasa pening, spasme dari kelopak mata, tremor pada anggota badan dan merasa kurang sehat badan.

Gejala-gejala yang termasuk kelompok 1 menunjukkan perlemahan kegiatan, kelompok 2 menunjukkan perlemahan motivasi dan kelompok 3 menunjukkan kelelahan fisik akibat psikologis.

Kelelahan dapat dikurangi dengan berbagai cara, diantaranya: a. Sediakan kalori secukupnya sebagai input untuk tubuh b. Bekerja dengan menggunakan metoda kerja yang baik, misalnya bekerja dengan memakai prinsip ekonomi gerakan c. Memperhatikan kemampuan tubuh, artinya pengeluaran tenaga tidak melebihi pemasukkannya dengan memperhatikan batasan-

batasannya. d. Memperhatikan waktu kerja yang teratur berati harus dilakukan pengaturan terhadap: jam kerja, waktu istirahat, dan sarana sarananya, masamasa libur dan rekreasi dan lain-lainnya. e. Mengatur lingkungan fisik sebaikbaiknya seperti: temperatur,

kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran, baubauan dan lain-lain. f. Berusaha untuk motoni dan keteganganketegangan akibat kerja, misalnya: dengan penggunaan warna dan dekorasi ruangan kerja, menyediakan musik, menyediakan waktuwaktu olah raga dan lainlain.

2.5. Kecepatan Reaksi Yang dimaksud dengan kecepatan reaksi adalah berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mendadak, misalnya kecepatan satpam membunyikan alarm saat lampu tanda bahaya berwarna merah. Sedangkan ketelitian menunjukkan jumlah kesalahan yang dilakukan per satuan waktu, berhubungan dengan gerakan pada saat pencarian jejak. Banyak faktor yang mempengruhi kecepatan reaksi: Waktu menanggapi, pengharapan, waktu gerakan dan lainlain. Pengujian kecepatan reaksi bertujuan untuk mengetahui waktu reaksi manusia terhadap warna tertentu.

2.6. Pengaruh Lingkungan Terhadap Performansi Kerja Suatu kondisi lingkungan kerja yang baik tidak bisa ditentukan begitu saja tetapi harus melalui dari tahapantahapan tersebut percobaan dimana setiap

kemungkinan

kondisi

diuji

pengaruhnya

terhadap

kemampuan manusia dengan melihat sifat dan tingkah laku manusia di ruangan yang terisolasi untuk observasi.

2.7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Performansi Kerja Secara garis besar terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil kerja (performansi) manusia, dan dapat dibagi atas 2 kelompok:

a. Faktor-faktor diri (individu) faktor-faktor ini datangnya dari diri si pekerja itu sendiri dan sering kali sudah ada sebelum si pekerja yang bersangkutan datang di pekerjaannya seperti: sikap, sifat, sistem nilai, karakteristik fisik, minat, motivasi, usia, jenis kelamin dan kecuali pendidikan dan pengalaman faktor yang tidak dapat di rubah.

b. Faktor-faktor situasional, faktorfaktor yang ini datangnya dari luar diri si pekerja dan faktor ini bisa di ubah-ubah (oleh pimpinan) dan di sebut juga faktorfaktor management. Faktorfaktor tersebut di bagi dua sub kelompok yaitu faktor sosial dan keorganisasian dan yang terdiri dari

faktorfaktor fisik pekerjaan yang bersangkutan. Lingkungan fisik, mesin dan peralatan, metode kerja dan lain lain.

2.8.

Bunyi Dan Pengaruhnya Terhadap Manusia

2.8.1. Pengertian Bunyi Bunyi adalah gelombang energi yang merambat melalui media kenyal sampai kepada telinga dan menggetarkan gendang dan seterusnya hingga memperoleh rangsangan pendengaran. Suara biasanya berasal dari bergetarnya sebuah benda seperti garpu-nada yang menimbulkan gelombang berurutan dari tempatnya dan mengembangnya media tadi dan melaluinya secara bebas.

Didalam udara, gelombang bunyi itu bergerak dengan kecepatan 760 mil/jam. Kecepatan rambatan melalui air akan 4 kali lebih cepat daripada melalui udara. Didalam hampa, gelombang bunyi tidak dapat bergerak karena tidak ada media kenyal. Karena suara adalah gelombang maka seperti halnya gelomabang-gelombang lain, suara memiliki amplitudo dan juga frekuensi. Frekuensi akan menentukan tinggi rendahnya nada, Amplitudo aka menentukan intensitas atau kadar suara.

Energi suara yang besar pada sumber suara, akan berkurang terus selama perjalanannya untuk mencapai telinga. Semakin jauh jarak rambatan itu, energinya semakin kecil dan akhirnya akan habis, mungkin habis sebelum mencapai telinga sehingga tidak terdengar.

Nada atau frekuensi suara yang menentukan keras dan rendahnya suara dinyatakan dalam cycle/detik (C/dt) atau Hertz (Hz). Suaranya dapat di dengar oleh telinga manusia merentang antara 20-20.000 Hz. Kurang dari 20 C/dt suara itu akan lemah sekali dan akan dirasakan hanya sebagai getaran saja (Infra-suara), mungkin bisa di dengar oleh telinga binatang. Frekuensi di atasa 20.000 Hz (melebihi Sound Barrier) termasuk sebagai

ultra-suara dan di gunakan untuk bidang pengobatan. Amplitudo menentukan kuat lemahnya suara (Sound Pressure).

Makin besar amplitudo dari gelombang suara itu, semakin kuat pula tekanan suaranya. Satuan ukuran bagi tekanan suara ialah Bel (B), tetapi ukuran tersebut sebenarnya terlalu besar untuk digunakan pada keadaan yang biasa, karena itu satuan Desibel (dB) lebih lazim dipergunakan (1 desibel = 1dB=0,1 B). Satu dB merupakan besarnya tekana suara di tingkat amabng frekuensi 1000 Hz, yaitu tekanan minimal yang masih dapat kita dengarkan sebagai bisikan lembut (ambang pendengaran = Hearing Threshold).

Ukuran-ukuran yang telah di kenal, menguraikan pengamatan secara fisik dan dapat di rekam oleh instrumen yang memadai di laboratorium. Akan tetapi di dalam praktek, kepekaan pendengaran orang per orang agar sangat berbeda. Walaupun tekanan suara sama besarnya, namun kuat atau tidaknya suara itu akan di tetapkan secara subyektif oleh orang yang mendengarnya. Karena itu, seharusnya di buat skala khusus yang di dasarka atas ketetapan rata-rata dari sejumlah besar orang dan dinamakan skala subyektif tentang keras bunyi (loudn).

Ketinggian keras bunyi yang sama pada frekuensi yang berbeda-beda telah di teliti oleh Robinson dan Dadson. Robinson dan Dadson mendapatkan penetapan dari sejumlah orang yang mendengarnya bunyi sekeras yang di persamakan dengan kadar suara pada nada 1000 Hz.

Dengan demikian di dapatkan garis lekuk liku (cotour) yang berkekerasan sama, diacu dengan tinggi tekanan suara dalam dB pada frekuensi 1000 Hz. Garis-garis lekuk-liku yang berkekerasan sama tidak dinyatakan dengan satuan tinggi keras bunyi (loudness level) yang disebut phon. Kekerasan dari setiap nada diberi nilai numerik sepadan dengan nilai

desibel dari 1000 Hz. Setiap titik terletak pada satu garis lekuk-liku itu di anggap mempunyai keras bunyi yang sama tinggi (garis iso-phon).

Pada frekuensi 8000 Hz, tinggi kerasnya bunyi 40 phon akan dicapai oleh tekanan suara yang 36dB, tetapi kalau frekuensi nadanya 100 Hz, maka harus dicapai tekan suara yang 50 dB (garis iso-phon 40). Jika anda menghendaki tinggi kerasnya bunyi 60 phon dan frekuensi nada 1000 Hz maka di perlukan tekanan suara 60 dB tapi kalau frekuensinya 4000 Hz tekanan suara cukup 55 dB saja (garis iso-phon 60). Suara dapat terbagi dalam dua bagian besar yaitu bising (diartikan sebagai suara yang tidak di sukai dan mengganggu atau bunyi yang menjengkelkan) dan nada atau musik sebagai suara yang beratur.

Definisi dapat meliputi variasi yang luas dari situasi bunyi yang dapat mengganggu pendengaran. Suara radio yang tidak disenangi dapat dia anggap sebagai sesuatu kebisingan oleh seseorang karena mengganggu dan menjengkelkan, karena musik yang disegani tidak cocok dengan radio tersebut. Bising juga dapat bersasal dari dunia sekitar yang bisa benarbenar merusak indera pendengaran.

Resiko rusak pendengaran bergantung pada kepekaan pendengaran seseorang, tetapi pada umumnya terletak pada frekuensi 2400 dan 4800 C/dt. Selain tingginya frekuensi, resiko pendengaran dipengaruhi juga oleh lamanya menghadapi bising dan apakah bising itu berlangsung secara kontinyu atau terjadi kadang-kadang.

Secara sederhana dapat di ungkapkan bahwa bumi mengalir dalam bentuk Gelombang melalui udara dan di ukur dalam bentuk frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi mengacu pada tinggi nada, tinggi atau rendahnya kualitas suara dan di ukur dalam Hertz, jumlah daur per detik dimana gelombang begetar. Semakin tinggi suatu nada, semakin lambat getarannya. Gelombang bunyi yang sangat rendah memiliki panjang

gelombang yang jauh lebih panjang dan membutuhkan tempat yang jauh lebih luas.

2.8.2. Anatomi Bunyi Proses mendengar terjadi apabila gelombang suara mengenai telinga dalam melalui telinga luar dan tengah. Energi suara dirubah menjadi ajakan sarafi yang mencapai pusat otakdan cocok dan ekspresi suara akan terjadi.

Gelombang suara menyebabka gendang telnga bergetar, getaran itu di perkuat oleh jembatan tulang (Ossicles) yang terdiri atas palu, landasan dan sanggurdi (stirrup) diteruskan ketelinga dalam.

Telinga normal dapat menangkap bunyi-bunyian yang berkisar antara 16 hingga 20.000 Hz. Tomatis pendapat bahwa bunyi-bunyian frekuensi tinggi (3000 hingga 8000 hertz atau lebih) dapat mempengaruhi fungsifungsi kognitif, berpikir, persepsi spasial dan ingatan. Bunyi-bunyian frekuensi sedang (750 hingga 3000 hertz) cenderung merangsang jantung, paru-paru dan emosi.

Sedangkan frekuensi bunyi-bunyian frekuensi rendah (125 hingga 750 hertz) mempengaruhi gerakan fisik. Intensitas atau kerasnya bunyi di ukur dalam desibel (dB).

Desau dedaunan tercatat sekitar 10 dB, bisikan sekitar 30 dB, rumah atau kantor yang tenang tercatat sekitar 40 sampai 50 dB, percakapan biasa sekitar 60 dB, laju lalu lintas biasa sekitar 70 dB, percakapan dengan berteriak tercatat sekitar 100 dB, gergaji listrik 110 dB, musik rock yang keras 115 dB dan pesawat jet yang take-off lebih dari 120 dB.

2.8.3. Pengertian Musik Sepanjang sejarah musik dipakai untuk bisa bekerja lebih mudah. Banyak macam-macam nyanyian dari para seniman, lagu-lagu mars dari para tentara, semuanya bermaksud untuk menggalakan dan mendorong orang berlaku lebih menderita.

Rancangan akustik mencapai sistem kantong penggiat via telinga dalam serta saraf pendengaran dan dari sini rangsang itu menuju ke korteks untuk meningkatkan semangat dan kesadaran. Pada pekerjaan yang monoton, bising dapat mempunyai efek merangsang dan meningkatkan prestasi. Irama dari musik yang terarah dapat juga mempengaruhi otak untuk kerja bersemangat dan meningkatkan prestasi.

Bising dan musik juga dapat membiaskan, hingga kegiatan yang menuntut pemikiran dan atensi yang tinggi dapat menderita karenanya. Dalam pekerjaan yang monoton, berulang-ulang yang hanya memerlukan sedikit atensi, musik dapat menguntungkan, tetapi terhadap pekerjaan yang murni intelektual efeknya masih diragukan.

Pemakaian musik sambil bekerja harus dipandu oleh pertimbangan berikut: a. Musik dalam bekerja menciptakan suasana akustik yang

menghasilkan efek menguntungkan pada pikiran. b. Musik bernilai sekali pada pekerja tangan dan repetitif dan jabatan lain yang hanya membutuhkan sedikit kegiatan mental. c. Jika bising latar belakang cukup tinggi, musik tidak begitu tinggi bernilai. d. Musik keras jangan anda tampilkan pada pekerja menuntut banyak upaya mental. Musik keras jangan dimainkan secara continue. e. Penampilan sikap yang membangunkan perlu di berikan pada awal hari, satu lagi yang bernada meriah di akhir hari dan 4 kali setiap setengah jam pada tengah hari dengan musik ringan.

Tempo musik jangan terlalu slow tapi juga jangan terlalu fast. Irama yang slow biasa menidurkan sedangkan yang fast dapat mengganggu dan dapat menciptaka ketergesaan. Musik adalah bunyi yang diatur

sedemikian rupa mengenai tinggi rendahnya nada, keras lembutnya, warna nada dan sebagainya sehingga bunyi tersebut dapat dinikmati. Terdapat berbagai macam instrumen musik. Penggunaan instrumen yang berbeda-beda pula lah yang melahirkan banyak jenis musik.