Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Korban mati tenggelam hampir selalu didapati dari waktu ke waktu. Ini tidak mengherankan karena di sekeliling kita ada selokan, sumur, kolam, sungai, danau atau laut, bahkan ember berisi air atau bak kamar mandi. Banjir bukan hal yang jarang terjadi. Baru saja kita menghadapi korban mati tenggelam dalam jumlah ratusan ribu orang akibat Tsunami. Bila itu berkaitan dengan kecelakaan tidaklah merupakan peristiwa kriminil yang memerlukan bantuan dokter untuk menentukan sebab dan cara kematian. Penting sekali penentuan apakah korban masih hidup waktu masuk ke air atau sudah mati baru ditenggelamkan. Diagnosis kematian akibat tenggelam kadang-kadang sulit ditegakkan, bila tidak dijumpai tanda yang khas baik pada pemeriksaan luar atau dalam. Pada mayat yang ditemukan terbenam dalam air, perlu pula diingat bahwa mungkin korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalam air. Keadaan sekitar individu penting. Tenggelam tidak hanya terbatas di dalam air dalam seperti laut, sungai, danau atau kolam renang, tetapi mungkin pula terbenam dalam kubangan atau selokan dengan hanya muka yang berada di bawah permukaan air.(1,3) 1.2 Tujuan Tulisan ini dibuat untuk memberikan informasi tentang tenggelam, serta aspek medikolegalnya.

BAB II ISI 2.1 Defenisi Tenggelam adalah bentuk kematian akibat asfiksia karena terhalangnya udara masuk ke dalam saluran pernafasan disebabkan tersumbatnya oleh cairan. Terhalangnya udara masuk ke paru-paru tidak perlu orang harus terbenam ke air, tetapi tertutup saluran nafas atas oleh cairan cukup untuk membuatnya mati tenggelam.(1) 2.2 Proses tenggelam Tenggelam dapat terjadi pada orang yang tidak bisa berenang maupun pandai berenang (bila ia sampai ke tingkat kehabisan tenaga atau keadaan lain). Proses tenggelam dimulai pada waktu orang masuk ke air karena panik atau kekelahan, maka sebagian air masuk ke mulut dan saluran pernafasan. Ini akan menimbulkan reflek batuk yang menyebabkan korban perlu menghirup udara lagi dengan berusaha menggapai ke permukaan, namun akibatnya lebih banyak lagi air yang masuk menggantikan udara, ini terjadi berulang kali, akhirnya korban tenggelam. Setelah terjadi proses pembusukan, beberapa hari kemudian korban terapung kembali karena gas pembusukan yang berkumpul dalam rongga perut dan dada, maka korban akan muncul ke permukaan air, kecuali korban tersangkut di dalam air atau dimakan binatang. Bila gas pembusukan ini akhirnya keluar dari tubuh, maka korban kembali tenggelam. Proses ini perlu diketahui dalam pencarian korban tenggelam.(1,4)

2.3 Tipe tenggelam Kematian karena tenggelam bisa melalui berbagai proses, maka tenggelam dibedakan atas berbagai tipe: 1. Dry drowning, mati tenggelam tanpa ada air di saluran pernafasan. Mungkin karena spasme laring atau inhibisi vagal yang mengakibatkan jantung berhenti berdenyut sebelum korban tenggelam. Ini dikenal sebagai Drowning type 1. 2. Wet drowning, tenggelam dalam pengertian sehari-hari baik di air tawar (Drowning type 2a) maupun air asin (Drowning type 2b). 3. Immersion syndrome, mati tenggelam karena masuk ke air dingin yang menyebabkan inhibisi vagal. 4. Secondary drowning, tidak sesungguhnya mati tenggelam, tetapi mati sesudah dirawat akibat tenggelam. Tetapi ada hubungan nya dengan kelainan paru akibat tenggelam (infeksi atau oedem).

Ada 2 jenis mati tenggelam (drowning) berdasarkan posisi mayat, yaitu : 1. Submerse drowning 2. Immerse drowning Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air, seperti bagian kepala mayat. Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air.(1,2) 2.4 Tenggelam basah (Wet drowning) Perlu dikenal proses kematian karena tenggelam basah dalam pengertian sehari-hari: 1. Air tawar Air masuk ke paru-paru sampai ke alveoli. Karena konsentrasi darah lebih tinggi dari air, maka cairan di paru-paru masuk ke dalam sirkulasi darah, terjadi hemodilusi yang diikuti dengan hemolisis, akibatnya kadar ion K dalam serum darah meningkat dan kadar ion Na turun dan disertai peningkatan volume darah, beban jantung bertambah berat, terjadi keadaan hipoksia dan fibrilasi ventrikel, berakhir terjadi kematian akibat anoksia otak. Dalam penelitian didapati penambahan volume darah bisa sampai 72%. Kadar ion Chlor di jantung kiri turun sampai 50%. 2. Air laut Air laut yang masuk ke dalam paru lebih hipertonik sehingga dapat menarik air dari pembuluh darah. Akibatnya terjadi oedem paru, darah menjadi hemokonsentrasi. Kadar ion Chlor jantung kiri meningkat 30-40%, kadar ion Mg dalam darah meningkat, RBC meningkat dan di bawah mikroskop butir darah tampak mengkerut. Terjadi hipoksia. Kematian terjadi karena oedem paru.(1,2)

2.5 Sebab kematian Seperti dijelaskan ada berbagai tipe tenggelam, maka sebab kematian tenggelam juga terjadi karena berbagai bentuk: 1. Asfiksia, karena spasme laring. 2. Fibrilasi, ventrikuler karena tenggelam di air tawar. 3. Oedem paru, karena tenggelam di air asin. 4. Inhibisi vagal, karena reflex. Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu : 1. Spasme laring (menimbulkan asfiksia). 2. Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.

Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu : 1. Asfiksia. 2. Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar. 3. Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut).
5

Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu : 1. Kecelakaan (paling sering). 2. Undeterminated. 3. Pembunuhan. 4. Bunuh diri.

Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita jumpai, yaitu : 1. Kapal tenggelam. 2. Serangan asma datang saat korban sedang berenang.

Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air.(1,2)

2.6 Tanda-tanda post-mortem Menentukan identitas korban Identitas korban ditentukan dengan memeriksa antara lain:
y y y y y y

Pakaian dan benda-benda milik korban Warna dan distribusi rambut dan identitas lain. Kelainan atau deformitas dan jaringan parut Sidik jari Pemeriksaan gigi Teknik identifikasi lain

a. Pemeriksaan luar Tanda-tanda asfiksia seperti sianose pada kuku, bibir. Mata merah karena perdarahan subconjuctiva, dari mulut dan hidung terdapat buih halus yang sukar pecah, kadang menjulur seperti lidah. Lebam mayat lebih banyak di bagian kepala, muka dan leher (karena posisi kepala di air lebih rendah). Bila didapati kejang mayat (cadaveric spasme) tangan menggenggam rumput/kayu merupakan bukti kuat korban masih hidup waktu masuk ke air. Bila korban lama di dalam air bisa didapati telapak tangan dan kaki putih mengkerut seperti tukang cuci (washer womans hand). Kadang didapati kulit kasar seperti kulit bebek (cutis anserine), tapi tidak patognomosis
6

karena itu terbentuk akibat kontraksi m.errector pilli karena dingin atau proses kaku mayat. Adanya lumpur di badan, tangan korban, di bawah kuku atau pakaian penting diperhatikan. Pastikan juga adanya luka-luka post mortem apalagi bila korban terseret arus di sungai atau gigitan ikan dan binatang lainnya. Luka post mortem oleh batu batuan di sungai didapati di tubuh bagian luar. b. Pemeriksaan dalam Penting memeriksa adanya lumpur, pasir halus dan benda asing lainnya dalam mulut dan saluran nafas, lumen laring , trachea dan bronchus sampai ke cabang-cabangnya. Pada rongga mulut dan saluran pernafasan berisi buih halus yang mungkin bercampur dengan lumpur. Paru-paru tampak lebih besar voluminous dan oedematous apalagi tenggelam di air laut, dengan cetakan iga di permukaan paru. Pada perabaan kenyal ada pitting oedema, bila dipotong dan diperas tampak banyak buih. Darah lebih gelap dan encer. Jantung kanan berisi darah dan di bagian kiri kosong . Oesofagus dan lambung bisa terisi cairan sesuai tempat di mana korban tenggelam mungkin mengandung lumpur, pasir dan lain-lain. Ini petunjuk penting karena korban menelan air waktu kelelap dalam air, apalagi bila didapati di duodenum yang menunjukkan ada passage melewati pylorus. Harus diingat bahwa pada dry drowning tidak didapati air atau kelainan di paru maupun di lambung. Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu : 1. Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya. 2. Kita dapat temukan suicide note. 3. Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban. 4. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.(1,2,3)

2.7 Pemeriksaan Pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan adanya diatome dapat dilakukan dengan tes destruksi. Begitu juga bilas paru untuk mendapatkan adanya pasir atau telur cacing bila air dikontaminasi dengan faeses, ini dilakukan bila pembuktian secara makroskopis meragukan. Pemeriksaan kimia darah dapat dilakukan tetapi memerlukan fasilitas dan biaya.

Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu : 1. Percobaan getah paru (lonset proef). 2. Pemeriksaan diatome (destruction test). 3. Penentuan berat jenis (BD) plasma. 4. Pemeriksaan kimia darah (gettler test). Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban masih hidup saat berada dalam air.

Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef) Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar / belum membusuk. Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari eritrosit. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru (lonsef proef), yaitu : 1. Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain. 2. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain. 3. Hasilnya negatif. Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2 kemung kinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu : 1. Korban mati dahulu sebelum tenggelam. 2. Korban tenggelam dalam air jernih. 3. Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx. Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam.

Jika hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air.

Pemeriksaan Diatome (Destruction Test) Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paru-paru mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut. Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel. Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronik. Untuk hepar atau lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal gastrointestinal.

Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut 1,065. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya.

Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test) Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan kalium. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat dalam plasma. Korban yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam plasma.

Pemeriksaan Histopatologi Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.(1,2,3)

2.8 Diagnosis tenggelam Bila mayat masih segar (belum terdapat pembusukan), maka diagnosis kematian akibat tenggelam dapat dengan mudah ditegakkan melalui pemeriksaan yang teliti dari:
y y y

Pemeriksaan luar Pemeriksaan dalam Pemeriksaan laboratorium berupa histologi jaringan, destruksi jaringan dan berat jenis serta kadar elektrolit darah.

Bila mayat sudah membusuk, maka diagnosis kematian akibat tenggelam dibuat berdasarkan adanya diatom yang cukup banyak pada paru-paru yang bila disokong oleh penemuan diatom pada ginjal, otot skelet atau diatom pada sumsum tulang, maka diagnosis akan menjadi pasti.(3) 2.9 Medikolegal Secara medikolegal kematian karena tenggelam umumnya karena kecelakaan apalagi di musim hujan dan banjir. Bunuh diri dengan tenggelam bukan hal yang jarang terjadi. Biasanya korban memilih tempat yang tinggi untuk melonjat dan biasanya di tempat yang sering dilewati orang. Penting sekali menentukan apakah korban mati karena tenggelam atau sudah mati baru ditenggelamkan. Pemeriksaan menjadi sulit bila korban telah mengalami pembusukan atau pembusukan lanjut. Perlu diperhatikan bahwa korban yang diangkat dari air, mengalami pembusukan lebih cepat dari biasa. Oleh karena itu penundaan pemeriksaan akan mempersulit pemeriksaan, selain bau yang akan dihadapi pemeriksa.
(1)

10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Tenggelam adalah bentuk kematian akibat asfiksia karena terhalangnya udara masuk ke dalam saluran pernafasan disebabkan tersumbatnya oleh cairan. Kematian karena tenggelam bisa melalui berbagai proses, maka tenggelam dibedakan atas berbagai tipe dry drowning, wet drowning, immersion syndrome, secondary drowning. Seperti dijelaskan ada berbagai tipe tenggelam, maka sebab kematian tenggelam juga terjadi karena berbagai bentuk, asfiksia, fibrilasi ventrikuler, oedem paru, inhibisi vagal. Ada 4 cara kematian pada kasus tenggelam (drowning), yaitu kecelakaan (paling sering), undeterminated, pembunuhan, bunuh diri. Secara medikolegal kematian karena tenggelam umumnya karena kecelakaan apalagi di musim hujan dan banjir. Bunuh diri dengan tenggelam bukan hal yang jarang terjadi. Biasanya korban memilih tempat yang tinggi untuk melonjat dan biasanya di tempat yang sering dilewati orang. Penting sekali menentukan apakah korban mati karena tenggelam atau sudah mati baru ditenggelamkan. Pemeriksaan menjadi sulit bila korban telah mengalami pembusukan atau pembusukan lanjut. Perlu diperhatikan bahwa korban yang diangkat dari air, mengalami pembusukan lebih cepat dari biasa. Oleh karena itu penundaan pemeriksaan akan mempersulit pemeriksaan, selain bau yang akan dihadapi pemeriksa.

11

DAFTAR PUSTAKA

1.

Amri A. Tenggelam (Drowning) . In: Amri A. Eds. Ilmu Kedokteran Forensik . Edisi 2. Medan, Ramadhan; 2007: hal. 137-141.

2. Al-Fatih, M. Tenggelam. 2007. Avaible at: http://www.klinikindonesia.com. (diunduh 25 Mei 2011) 3. Budiyanto, A, Widiatmaka, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Jakarta, FK-UI : 1997. Hal 64-70. 4. Shepherd, S. Drowning. 2010. Avaible at: http://emedicine.medscape.com/article/772753-overview. (diunduh 25 Mei 2011).

12