Anda di halaman 1dari 10

b.

Mendorong Perbuatan Keji Pada umumnya, seorang gadis akan menghindarkan diri dari perbuatan zina karena ia takut mendapat sanksi moral dari masyarakat sekitarnya. Karena perbuatan zina pasti akan membekas berupa rusaknya selaput dara (hymen). Akan tetapi dengan adanya hymenoplasty, ia bisa melepaskan diri dari bekas perbuatannya dengan memperbaiki bagian yang rusak karena zina. Sehingga akan berkuranglah rasa takutnya di masa mendatang dan akan mendorongnya untuk melakukan maksiat. Tentu saja hal ini bertentangan dengan tujuan syariat dalam pencegahan zina.

c. Membuka Aurat Kemaluan wanita dan sekitarnya adalah aurat paling vital menurut seluruh fuqaha. Tidak diperbolehkan selain suami untuk melihat dan menyentuh. Sedangkan pengembalian keperawanan mengharuskan untuk melihat dan menyentuh. Membuka aurat, khususnya yang paling vital tidak dihalalkan kecuali terpaksa atau sangat dibutuhkan. Sedangkan ilmu kedokteran tidak menemukan manfaat keperawanan untuk kesehatan. Maka alasan yang menghalalkan tindakan hymenoplasty tersebut tidak ada.

Pembahasan Kedua : Menimbang Sisi Positif Dan Negatif Dilihat Dari Sisi Penyebab Hilangnya Keperawanan. Telah disebutkan manfaat dan mudharat dalam pengembalian keperawanan secara umum. Akan tetapi dalam kenyataannya masalah ini berbedabeda sesuai dengan perbedaan penyebab hilangnya selaput dara itu sendiri. Untuk mengetahui hal itu,bisa kita bagi penyebab tersebut menjadi 3 jenis : Pertama, sebab selain hubungan suami-istri yang tidak dianggap maksiat. Kedua, perbuatan zina tanpa paksaan. Ketiga, hubungan suami-istri dan hal-hal yang berkenaan dengannya.

Kita akan membahas manfaat dan mudharat ketiganya di bawah ini: Sebab yang Tidak Dianggap Maksiat. Yaitu penyebab yang tidak mengakibatkan dosa, bahkan bisa menjadi sebab turunnya maghfirah dan penghapusan dosa, karena hal ini merupakan kecelakaan, kesalahan dan musibah yang menimpa seorang gadis sehingga hilang keperawanannya. Misalnya karena diperkosa, jatuh, tabrakan, membawa beban berat, perawan tua, mengeluarkan darah haid terlalu banyak, kesalahan operasi di tempat selaput dara, dan sebagainya. Dengan demikian, mengembalikan sobeknya selaput dara karena sebabsebab diatas merupakan upaya mewujudkan kemaslahatan. Gadis yang ditimpa musibah diatas lebih berhak mendapat perhatian, perlindungan dan pertolongan daripada mereka yang benar-benar berbuat keji. Maka di sunnahkan bagi mereka untuk menutupi aib itu supaya melindungi diri mereka dari hukuman yang dzalim. Dalam rangka menyebarkan prasangka baik, operasi untuk

menghilangkan bekas kecelakaan yang menimpa gadis ini, telah ikut andil dalam mewujudkan kepentingan tersebut, karena tindakan itu akan menghapus sebabsebab samar, yang bisa jadi mendorong masyarakat (jika dibiarkan) untuk berprasangka buruk terhadap gadis tersebut. Di sisi lain, hal itu mendorong gadis-gadis ini untuk tetap di jalan yang lurus, dan menutup pintu yang bisa dilewati setan ke dalam jiwa mereka, jika mereka tidak mendapat pertolongan yang mereka butuhkan. Di sisi ketiga, pekerjaan dokter bisa menyelamatkan masyarakat dan juga suami para gadis dari tuduhan keras yang tidak berdasar dan dari kedzaliman yang akan mereka perbuat jika dokter berada dalam posisi pasif. Adapun mudharat tindakan hymenoplasty ini bagi si gadis, sangat kecil bila dibandingkan dengan kemaslahatannya. Hal ini dijelaskan sebagai berikut : Pertama: jenis pertama dari mudharat yang telah disebutkan adalah penipuan terhadap suami, tidak terwujud dalam hal ini. Karena penipuan adalah menyembunyikan aib atau kekurangan dari sesuatu dan memunculkannya seakanakan aib itu tidak ada. Seorang gadis yang selaput daranya sobek karena kecelakaan dan bukan karena perbuatan amoral, jika itu diperbaiki dan dikembalikan ke tempat semula, maka itu merupakan hal yang benar dan tidak ada

unsur menyembunyikan aib, melainkan untuk menghindari tuduhan dan prasangka buruk. Dan jika tidak dilakukan malah akan menyeret suami dan masyarakat pada dosa karena tuduhan tersebut. Dari segi fiqih, hamper semua fuqaha sepakat bahwa tiadanya keperawanan tidak dianggap aib yang mengharuskan batalnya pernikahan jika hal itu tidak disyaratkan oleh suami secara jelas. Berdasarkan hal diatas, tidak berarti seorang dokter yang mengembalikan keperawanan seorang gadis, telah memotong hak calon suami untuk membatalkan pernikahan. Akan tetapi jika si pelamar mensyaratkan keperawanan si gadis, dan ternyata dia sudah tidak perawan lagi karena haid berlebih, perawan tua, atau membawa beban berat, maka calon suami tidak berhak membatalkan pernikahan menurut para fuqaha. Karena menurut mereka, perawan adalah mereka yang belum pernah digauli. Maka gadis yang kehilangan selaput daranya dengan sebab selain hubungan seksual, tetap disebut perawan. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa suami bisa membatalkan pernikahan jika sebelumnya mensyaratkan belum rusaknya selaput dara. Ia bisa memilih untuk membatalkan atau tidak membatalkan. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat tidak adanya hak pilih bagi suami meskipun ia telah mensyaratkan, jika tidak bisa dibuktikan adanya aib tertentu pada si istri, yang mengharuskan suami suami untuk memilih tanpa harus mensyaratkan sebelumnya. Kedua: tidak diragukan bahwa pengembalian selaput dara yang sobek karena sebab-sebab yang telah disebutkan ini tidak berarti akan mendorong perbuatan keji. Karena pada dasrnya si gadis memang tidak berbuat keji dan sesuatu yang terjadi padanya karena terpaksa, tidak berarti dia telah berbuat maksiat pada Tuhannya. Sementara kita tahu, bahwa orang yang melanggar syariat karena terpaksa dan tidak sengaja, maka mereka lepas dari tanggung jawab dan hukuman. Pertama, karena di dalamnya ada kedzaliman. Dan kedua, karena tidak berguna baginya. Bahkan mudharat justru bisa terjadi bila dokter tidak bersedia untuk mengembalikan keperawanannya. Di tengah masyarakat yang menyalahkannya, maka gadis akan menjadi lebih dekat pada bisikan setan dan perbuatan keji, di saat cara untuk mencegah terwujudnya sesuatu yang menjadi bukti kuat atas

kekejian tersebut yaitu kehamilan yang telah tersebar luas. Sementara itu, kebutuhan manusia untuk melangsungkan pernikahan terus bergejolak. Sedangkan si gadis itu takut melangsungkan pernikahan yang akan membuka keadaannya yang sesungguhnya, sementara fitrahnya terus memanggilnya untuk

merealisasikan keinginan tersebut. Maka tidak ada jalan baginya untuk memenuhi panggilan fitrah itu, selain terus tenggelam dalam perbuatan haram yang mungkin dapat disembunyikan dengan bnerbagai jalan. Ketiga: sedangkan mudharat membuka aurat dan melihatnya tidak diragukan adanya dalam pengembalian selaput dara. Apapun sebab sobeknya. Tetapi para fuqaha membolehkan membuka aurat dan melihatnya jika ada kebutuhan dan kepentingan yang kuat, tau hal itu untuk menghindari mudharat yang lebih besar dibandingkan mudharat itu sendiri. Berdasarkan hal di atas, selama sobeknya selaput dara dianggap bisa mengakibatkan mudharat yang menimpa si gadis dan masyarakat, maka membuka aurat dalam hal ini dibolehkan, dan hal ini tidak kalah pentingnya dari keperluankeperluan yang telah disebutkan dan dianggap sebagai alasan untuk membuka aurat dan melihatnya oleh para fuqaha.

Memperbaiki Selaput Dara yang Sobek Karena Zina yang Sudah Diketahui. Dalam kondisi ini, tidak akan terwujud manfaat apapun dari pengembalian keperawanan seperti yang sudah dijelaskan. Karena manfaat dan penghindaran mudharat dari pengembalian keperawanan di atas adalah berdasarkan alasan untuk menutupi aib si gadis dan menghindarkannya dari celaan, dan operasi untuk kelompok ini tidak akan berpengaruh dalam menyebarkan prasangka baik dalam masyarakat. Dengan demikian, operasi keperawanan untuk wanita jenis ini tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan akan membawa mudharat yang lebih besar, dan mudharat yang paling ringan adalah membuka aurat tanpa alasan yang dibutuhkan. Maka jelaslah, bahwa mudharat pengembalian keperawanan untuk wanita jenis ini sangat besar, sehingga mengharamkannya akan lebih dekat pada tujuan syariat daripada membolehkannya.

Dan hal ini didukung oleh keputusan ulama, bahwa orang-orang yang berbuat maksiat yang disunnahkan untuk menutupinya adalah mereka yang tidak mengulangi maksiat yang mereka perbuat, dan tidak diketahui. Akan tetapi bagi mereka yang selalu mengulangi maksiat, maka sebaiknya hal itu diberitahukan dan tidak menutupinya.

Pengembalian Selaput Dara yang Sobek Karena Zina yang Tidak Diketahui. Apabila perbuatan zina seorang gadis belum tercium oleh masyarakat dan belum ada keputusan hukum terhadap dirinya dari pengadilan, maka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kemaslahatan dan keuntungan dari pengembalian selaput dara itu diharapkan bisa terwujud. Demikian itu karena aib yang diperintahkan oleh islam untuk ditutupi adalah aib kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Jika ini diletakkan pada tempatnya, niscaya kemaslahatnan yang diharapkan akan terwujud, menghilangkan banyak mudharat atas si gadis di masyarakat, dapat mendorongnya untuk bertaubat dan tidak mengulangi kemaksiatannya, menyebarkan prasangka baik diantara orang mukmin, mencegah dari prasangka buruk buruk mereka, menghindari reaksi sosial yang keras, dan mewujudkan keadilan di hadapan hukum syariat antara wanita dengan wanita di satu sisi dan antara wanita dengan pria di sisi lain, dan sebagainya. Akan tetapi sejauh mana terwujudnya mudharat pengembalian

keperawanan untuk wanita jenis ini? Pertama, pada awalnya muncul dugaan bahwa operasi keperawanan pada wanita semacam ini akan menyebabkan penipuan terhadap calon suami si gadis, karena kesucian sang istri adalah hal yang sangat diharapkan suami, dan menghilangkan tanda atas ketidaksuciannya berarti menyembunyikan hakekat sang istri. Memang benar bahwa menghapus tanda yang menunjukkan aib pada sesuatu dianggap sebagai penipuan terhadap pemesannya jika penghapusan tersebut menjadi penyebab tersembunyinya aib dari pemesan. Akan tetapi sesungguhnya operasi yang dilakukan oleh dokter itu tidak bermaksud menutupnutupi di sini dan bukti yang apabila disembunyikan berarti penipuan, adalah

bukti syariat dan bukan sekedar qarinah (faktor lain) dan bukti-bukti yang tidak diketahui masyarakat. Seorang dokter ketika mengembalikan selaput dara pada tempatnya tidak berarti menghapus tanda yang dianggap Allah sebagai bukti atas perbuatan zina, karena ketiadaan selaput dara tidak menunjukkan bahwa si gadis melakukan perbuatan zina menurut ijma para fuqaha seperti yang telah dibahas. Seandainya dokter membiarkannya begitu saja lalu si gadis menikah dan dia tidak mempunyai selaput dara, secara syariat suami tidak bisa menuduh bahwa istrinya telah berzina dan tidak bisa pula mengusirnya. Bahkan hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan perceraian antara keduanya, karena hanya didasarkan pada prasangka buruk, dan bukan atas prasangka yang kuat. Semua ini harus dibuktikan dengan qarinah syariat, bukan sekedar qarinah adat-istiadat yang tidak diakui syariat. Dokter yang melakukan operasi keperawanan itu tidak bermaksud menipu suami, karena dia tidak menutupi bukti atau qarinah yang oleh syariat dianggap sebagai bukti atas perbuatan zina, yang berguna untuk menetapkan prasangka yang kuat bahwa dia berbuat zina. Dengan pertimbangan tersebut, jelaslah bahwa mudharat penipuan dalam pengembalian keperawanan adalah mudharat yang samar dan tidak patut dijadikan dasar hukum pengharamannya. Kedua, mudharat lain dari operasi keperawanan ini adalah mendorong wanita untuk melakukan perbuatan keji. Mudharat semacam ini juga masih samar sifatnya. Bahkan sebaliknya, kemungkinan ini akan muncul jika operasi tidak dilakukan dan masyarakat menanggapinya secara negatif ketika mengetahui si gadis hilang keperawanannya, tanpa melihat sebabnya. Memang kadang perlakuan seperti ini membawa faedah, namun memberikan hukuman yang melebihi ketentuan syariat, beban psikologisnya lebih berat dari hukuman biasa. Maka dari itu menurut kesepakatan fuqaha, menentukan hukuman yang melebihi syariat hukumnya haram. Seandainya hukum adat dan tradisi yang ada itu diterapkan persis sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh syariat ketika mendapati gadis yang sobek keperawanannya tanpa mengetahui secara pasti sebab sobeknya, tentu tindakan

pengembalian keperawanan yang dilakukan dokter itu tidak menyebabkan adanya dorongan untuk melakukan perbuatan keji. Seseorang berkata, Sesungguhnya Allah SWT dalam kitab sucinya telah mewajibkan kepada kita untuk mengawinkan lelaki suci dengan wanita suci, dan menjauhkan mereka dari pezina dan orang musyrik. Allah berfirman : Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin. (QS An-Nur:3) Dengan demikian, orang yang mengawini wanita keji pezina maka dia adalah seperti mereka. Begitu juga sejelek-jelek orang jelek adalah orang yang menjadi suaminya pelacur dan kejelekan ini telah ada sejak awal penciptaan. Seorang pelacur tidak bisa dipercaya, karena dia akan memasukkan siapa saja ke dalam kasurnya untuk bermesraan dengannya, sehingga tanpa diragukan lagi bahwa mengawini pelacur bagi laki-laki suci haram hukumnya. Operasi keperawanan bagi wanita pezina menyebabkan pertentangan dengan tuntunan Allah. Seandainya dokter tidak melakukan operasi itu, tentu lakilaki itu akan lebih dekat pada penerapan tuntunan Qurani tersebut, karena mungkin sejak awal dia akan meninggalkannya ketika mengetahui bahwa si gadis itu tidak perawan. Dengan berpisahnya mereka, berarti ayat Al-Quran itu benarbenar telah dijalankan. Pernyataan ini dapat dijawab dari beberapa sisi : Sisi pertama; mayoritas fuqaha berpendapat bahwa ayat ini tidak diterapkan kepada wanita yang perbuatan zinanya tidak diketahui dan tidak ditetapkan pada kasus yang tidak ada dalil-dalil syarinya seperti persaksian, pengakuan atau kronologi kejadian. Bila tidak ada bukti-bukti syari diatas, maka seorang wanita tidak boleh disifati dengan pezina dan barangsiapa yang menuduhnya berzina dianggap melakukan qadzaf (tuduhan zina pada wanita baikbaik) dan berhak mendapatkan hukuman dera dan ditolak kesaksiannya. Sedangkan jika ada 3 orang yang adil memberi kesaksian atas perbuatan zina si gadis, dan tidak ada saksi keempat dalam hal itu, maka diwajibkan atas masyarakat dengan kesaksian tersebut, untuk memperlakukan si gadis di dunia

dengan anggapan bahwa ia suci, dan perkara tersebut diserahkan pada Allah SWT. Adapun sobeknya selaput dara tidak menunjukkan bahwa si gadis melakukan perbuatan zina, walaupun disaksikan oleh sepuluh orang yang adil dalam kesaksian. Berdasarkan penjelasan diatas, tidak ada satu sisi pun untuk menerapkan ayat atasnya dalam kehidupan duniawi. Sisi kedua; mayoritas fuqaha tidak berpendapat bahwa menikahi wanita pezina haram. Akan tetapi boleh menikahinya, dan mereka tidak memberikan syarat-syarat tambahan yang melebihi syarat pernikahan untuk membolehkannya. Pengikut madzhab Hambali berpendapat, bahwa menikahi wanita pezina boleh bagi yang telah mengetahui hal tersebut jika terwujud dua syarat : Pertama, masa iddahnyatelah selesai, untuk mengetahui bebas tidaknya rahim dari kehamilan. Kedua, agar dia bertaubat atas perbuatan zinanya dengan meminta ampun dan menyesal serta tidak akan melakukan perbuatan dosa itu lagi. Sisi ketiga; jika Allah telah menganjurkan untuk menutupi aib, berarti kemaslahatannya tentu lebih besar daripada mudharatnya, walaupun kadang terjadi sebaliknya. Karena menutupi aib seorang lelaki atau wanita pezina baik gadis atau janda, mengharuskan untuk tidak dilaksanakan atasnya hukum syariat yang disimpulkan oleh ulama dari ayat diatas. Menutupi aibnya berarti tidak memberitakan aib itu kepada orang lain, karena jika itu ditunjukkan sebagian lelaki baik-baik yang ingin melangsungkan pernikahan dengannya akan membatalkannya. Dengan adanya kemungkinan ini, maka Allah mensyariatkan agar menutupi aib oran-orang yang berbuat maksiat, khususnya yang berkaitan dengan nama baik. Penakwilan dalam hal ini tidak keluar dari dua makna : Pertama, Allah lebih mengutamakan kemaslahatan menutupi aib daripada kemaslahatan hubungan wanita pezina dengan lelaki suci seperti yang telah disebutkan. Kedua, Allah tidak mengharamkan untuk menjalin hubungan dengan wanita pezina. Adapun ayat yang zhahirnya menunjukkan pengharamannya mungkin telah dinasakh, atau ditakwilkan, menurut pendapat mayoritas ulama diatas.

Mungkin ada orang yang berkata, bahwa tindakan dokter mengembalikan keperawanan telah lebih dari sekedar menutupi aib. Karena menutupi aib akan terwujud jika dokter yang memperbaiki sobeknya selaput dara karena zina itu, tidak membuka rahasianya atau menyebarkannya, dan hal itu tidak mengharuskan perbaikan selaput daranya. Anggapan diatas dapat dijawab sebagai berikut, bahwa menutupi aib yang sesungguhnya adalah secara lengkap, baik secara pasif maupun aktif yang kadang lebih manjur. Menutupi aib yang dilakukan dokter secara aktif, adalah mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan yang diterangkan pada awal

pembahasan ini. Sedangkan menutupi aib secara pasif tidak mewujudkan kemaslahatan apapun. Karena ia terbatas sampai waktu tertentu, dan akan ketahuan juga ketika si gadis menikah. Sebab sang suami akhirnya mengetahui kondisi istrinya yang sebenarnya. Menutupi aib secara aktif yang dilakukan oleh dokter dengan melalui operasi keperawanan gadis yang berzina itu, lebih besar pengaruhnya daripada sikap pasif yang dilakukan oleh saksi dengan tidak menyebarluaskan aibnya kepada siapapun, di waktu sekarang maupun akan datang. Karena menutupi aib secara aktif ini tidak mninggalkan bekas atau tanda apapun pada orang yang melakukannya sehingga pengaruhnya lebih besar pada gadis yang berbuat zina itu, karena kemaksiatan itu meninggalkan tanda yang tidak bisa hilang dengan sekedar menutupinya secara pasif, dan harus dihapus secara aktif dengan menghilangkan bekas yang terjadi dari perbuatan zina tersebut. Sisi keempat; Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwattha dari Abu Zubair Al-Makky, bahwa ada seseorang melamar adik prmpuan seorang lelaki, lalu ia menyatakan bahwa si gadis pernah kecelakaan atau berzina dan hal itu sampai pada Umar bin Khattab RA, maka beliau memukulnya atau hamper memukulnya, lalu berkata, mengapa kamu memberitahukannya?. Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab, bahwa seseorang melamar anak gadis seorang laki-laki dan gadis tersebut pernah berzina. Lalu ia datang pada Umar dan mengatakan hal tersebut padanya, maka Umar berkata, Apa pendapatmu tentang dirinya? ia berkata Aku tidak melihat kecuali kebaikannya

Umar berkata Nikahkanlah dia dan jangan beritahukan Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang budak wanita berzina lalu ia dihukum dengan hukuman dera. Kemidian ia bertaubat dan taubat serta kondisinya semakin membik. Lalu ia dilamar melalui pamannya, dan pamannya itu tidak mau menikahkannya kecuali dengan membritahukan keadaannya, padahal ia tidak suka menyebarkan