Anda di halaman 1dari 3

1.

Salah satu perkembangan besar dalam tatanan global semenjak berakhirnya

perang dunia II adalah pertumbuhan pesat aktor-aktor transnasional. Diantara aktor transnasional yang tumbuh pesat tersebut, perusahaan multinasional (MNCs) adalah aktor yang paling kontrovensial. MNCs mengundang perdebatan terutama karena pengaruhnya terhadap kedaulatan negara. Menurut anda sejauh mana MNCs ini mempengaruhi kedaulatan negara dan bagaimana mereka mempengaruhi kedaulatan ini?jelaskan!

Dengan adanya globalisasi maka sebenarnya secara signifikan telah melemahkan negara. Globalisasi menyebabkan batas-batas kedaulatan suatu negara semakin kabur dan peran utama negara sebagai satu-satunya aktor dalam dunia internasional menjadi semakin dipertanyakan. Negara yang tugasnya adalah menjaga kestabilan domestik dan mensejahterakan rakyatnya juga semakin dipertanyakan, hal ini disebabkan karena, negara selama ini dirasakan hanya memberikan keuntungan kepada para pemegang otoritas saja, bukan kepada masyarakat pada umumnya. Selain itu munculnya banyak aktor lain selain negara pada era globalisasi seperti, organisasi non-pemerintah (NGO), organisasi internasional pemerintah (IGO), dan perusahaan multinasional (MNCs) semakin melemahkan otoritas negara. Perusahaan multinasional (MNC) merupakan NGO yang bertugas untuk mencari keuntungan dan bergerak melewati lintas batas negara. MNCs berusaha mempengaruhi tindakan dan kebijakan negara tempat mereka berinvestasi agar menerapkan sistem perdagangan liberal dan kebijakan investasi sehingga memberikan keuntungan kepada MNC itu sendiri. MNC bergerak dibidang industri, perbankan dan perusahaan jasa. Contoh MNC seperti Chevron, Exxon Mobile, Carefour, Toyota, Honda, dan lainnya. Sebenarnya, terdapat sisi positif dan negatif hadirnya MNC di Host Country (negara penerima). Jika dilihat dari sisi positifnya, dengan hadirnya MNC, pemerintah mengharapkan terjadinya Trackle Down Effect, yaitu, dengan adanya MNC maka akan terjadi pemerataan lapangan pekerjaan bagi masyarakat suatu negara. Dengan adanya MNC di Host Country maka diharapkan adanya rangsangan bagi industri-industri dalam negeri untuk maju dan berkembang. Keuntungan lain yang didapat oleh Negara dari hadirnya MNC adalah terbukanya lapangan kerja baru untuk masyarakat. Indonesia yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berlimpah akan terbantu dengan hadirnya MNC, MNC dapat menyerap para tenaga kerja yang ada dalam lingkungannya tersebut.

Akan tetapi, terdapat juga sisi negatif dari hadirnya MNC tersebut. Tidak jarang kepentingan MNC mengabaikan masalah kemanusiaan dan lingkungan. Dalam contoh kasus PT. Freeport di Papua, kontrak kerja yang lama antara pemerintah dengan MNC tersebut telah membuat sebagian rakyat Papua tidak mendapatkan akses penuh terhadap daerah mereka sendiri. Belum lagi masalah pengeksploitasian Sumber Daya Alam (SDA) dan kerusakan alam yang ditimbulkan oleh PT. Freeport. Selain itu, kepentingan MNC juga dapat mempengaruhi kebijakan negara, contohnya saja dalam membuat Undang-undang (UU) Penanaman Modal Asing dan UU Liberalisasi Migas Nomer 22, Tahun 2001 yang makin memudahkan para MNC untuk masuk dan mendapatkan keleluasaan dalam penanaman modalnya di Indonesia. Sebagai contoh lain Exxon Mobile, sebuah perusahaan multinasional milik Amerika yang bergerak pada bidang migas yang mengambil alih Blok Cepu dengan memegang posisi-posisi penting dalam kerjasama pengeksplorasian (Joint Operating Agreement) Cepu. Selain itu, pembagian keuntungan yang jauh meleset dari perjanjian semula juga telah diterima oleh Indonesia. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya MNC maka negara secara tidak langsung telah kehilangan Control Over Soverignity yaitu Control Over Currency dan Control Over Foreign Trade mereka dan juga kehilangan legitimasinya atas perilaku MNC. Para pelaku MNC sanggup mendesak Negara untuk memperlemah aturan mengenai investasi agar pemerintah mendapatkan keuntungan dari investasi tersebut, akan tetapi yang terjadi adalah eksploitasi besar-besaran dan perusakan lingkungan oleh MNC.

2. Menurut anda apa isu global kontemporer yang paling mempengaruhi kehidupan anda? Mengapa isu ini begitu berpengaruh terhadap kehidupan anda dan bagaimana ia mempengaruhi kehidupan anda?jelaskan!

Terorisme merupakan isu yang mulai mencuat setelah Perang Dingin usai. Meskipun terorisme bukanlah sesuatu yang baru, akan tetapi sebagian masyarakat dunia percaya bahwa kebangkitan gerakan terorisme internasional muncul ditandai oleh peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai September Kelabu, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri,

sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon. Sebenarnya gerakan terorisme memiliki arti serangan yang terkoordinasi dengan baik yang gunanya memberikan perasaan terror pada sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu penyerangan secara tiba-tiba dan target korban yang acak sering kali merugikan masyarakat sipil. Semenjak peristiwa 9/11 Amerika dan masyarakat dunia lainnya bertekad untuk bersatu dalam melawan terorisme internasional. Al-Qaeda yang di tuduh sebagai dalang dari peristiwa tersebut turut menyertakan agama dalam pemburuan terorisme. Terorisme sering kali disamakan dengan gerakan jihad yang dilakukan oleh mujahidin seperti kelompok Al-Qaeda. Kebangkitan terorisme ini turut menyulut gerakan terorisme baru di seluruh dunia. Di Indonesia dan di Asia, terdapat jaringan terorisme yang menyebut diri mereka dengan Jamaah Islamiyah yang kabarnya memiliki hubungan dekat dengan jaringan terorisme lain Al-Qaeda. Kejadian bom di Bali pada tahun 2002 telah menegaskan bahwa Indonesia juga harus ikut serta dalam memerangi terorisme ini. Setelah peristiwa bom bali pada tahun 2002 banyak terjadi serentetan terror di Indonesia, seperti pemboman yang terjadi di Hotel Ritz Carlton, Hotel J.W Marriot dan sebagainya. Dalam langkah selanjutnya, terorisme di Indonesia telah memasuki sebuah langkah baru dengan ditebarnya bom buku dengan target acak dan tidak mudah ditebak. Terorisme, khususnya yang terjadi di Indonesia yang kebanyakan mengatasnamakan Islam dan gerakan jihad telah membuat muslim mendapatkan diskriminasi di seluruh dunia. Apalagi pencobaan pemboman di Gereja Cathredral, Serpong yang menyeret nama Pepi Fernando dan teman-temannya yang merupakan alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal ini sangat berpengaruh terhadap saya pribadi dan kepada mahasiswa umumnya yang sering kali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tentang kurikulum yang terdapat di UIN.