Anda di halaman 1dari 1

Nama : Waldi Nugroho NIM : 108083000076

Kebijakan Amerika Serikat dalam Isu Keamanan & Terorisme

Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara tujuan praktek terorisme.

AS

dianggap sebagai musuh oleh terorisme karena berbagai kebijakan yang dikeluarkannya sebagian besar bertentangan dengan berbagai kepentingan negara lain dan masalah kedekatannya dengan Zionisme. Karena kedekatannya dengan zionisme, maka kebanyakan terorisme berasal dari wilayah Timur Tengah yang pada dasarnya berbasis Islam dan sangat benci terhadap perkembangan zionisme itu sendiri. Terorisme pada dasarnya sangat menggangu keamanan nasional AS yang nantinya akan mempengaruhi kestabilan politik di dalam negeri AS sendiri. Untuk dapat mengendalikan berbagai perkembangan terorisme sekaligus menjaga keamanan nasionalnya, maka Bush yang saat itu menjadi Presiden AS, mengeluarkan sebuah kebijakan, yaitu pre-emptive strike. Pre-emptive strike adalah sebuah kebijakan AS secara sepihak dengan memberikan hak kepada dirinya sendiri untuk mengambil tindakan terlebih dahulu, khususnya melalui tindakan militer unilateral, untuk menghancurkan apa yang dipersepsikannya sebagai kemungkinan ancaman teror terhadap kepentingan AS di mana saja.1 Kebijakan unilateral yang digunakan AS sangat meresahkan negara-negara lain karena dapat mengubah tatanan menjadi unipolar, nilainilai serta norma-norma hubungan antar negara dalam dunia internasional. Kebijakan ini pada umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kebijakan ini adalah AS dapat dengan dengan mudah melumpuhkan segala sesuatu yang AS anggap sebagai ancaman. Dengan hal ini maka AS akan menciptakan kestabilan politik karena terjaganya keamanan nasional dari berbagai ancaman. Kelemahan dari kebijakan ini adalah adanya prinsip kedaulatan, peran penting institusi multilateral PBB dan organisasi regional, serta hukum internasional yang diabaikan oleh AS ketika kebijakan tersebut dijalankan.

Rizal Sukma, KEAMANAN INTERNASIONAL PASCA 11 SEPTEMBER : TERORISME, HEGEMONI AS DAN IMPLIKASI REGIONAL, 2003. Hal. 5-6.