Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KLINIK TANAMAN

ACARA 6. TEKNIK REKOMENDASI PENGENDALIAN

Disusun Oleh

Ibnu Adam Dede H Yusuf Septi Wardhani Agung Nugroho Candra Erika

A1L008002 A1L008008 A1L008010 A1L008023 A1L008000

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI PURWOKERTO 2011

I. A. Latar Belakang Akselerasi

PENDAHULUAN

pembangunan

pertanian,

pengetahuan

petani

mempunyai arti penting, karena pengetahuan petani dapat mempertinggi kemampuannya untuk mengadopsi teknologi baru di bidang pertanian. Jika pengetahuan petani tinggi dan petani bersikap positip terhadap suatu teknologi baru di bidang pertanian, maka penerapan teknologi tersebut akan menjadi lebih sempurna, yang pada akhirnya akan memberikan hasil secara lebih memuaskan baik secara kuantitas maupun kualitas. Demikian pula dalam kaitannya dengan konsep pengendalian hama dan penyakit, konsep tersebut akan diterapkan secara baik oleh petani, apabila petani memiliki pengetahuan yang baik dan petani bersikap positip terhadap konsep tersebut. Namun perlu diingat, hasil yang baik tidak akan diperoleh apabila pengetahuan petani rendah walaupun sikapnya positip, begitu juga sebaliknya jika pengetahuan petani tinggi tetapi sikapnya negatif terhadap konsep pengendalian hama dan penyakit (Sudarta, 2011). Serangan hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan hama dan penyakit berdampak pada prokduktifitas dan kualitas tanaman yang dibudidayakan. Diantaranya adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas hasil, menurunkan daya kecambah biji dan kerugian lainnya (Qodar, 2010).

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum acara survei hama dan penyakit tanaman antara lain : a. Menentukan kebijakan pengendalian yang tepat dan sesuai dengan permasalahan.

b. Melatih keterampilan analitis mahasiswa dalam mengambil data lapang untuk menjadi ahli penyelesaian masalah kesehatan tanaman.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengendalian hama dan penyakit adalah setiap usaha atau tindakan manusia untuk membatasi atau mengurangi perkembangan hama agar jangan sampai meluas ke tempat lain dan juga menekan hama dan penyakit itu sendiri agar tetap pada tingkat yang tidak merugikan. Beberapa teknik pengendalian hama: 1. Pengendalian secara mekanik (mechanical control) Pengendalian hama tanaman secara mekanik adalah pengendalian yang menggunakan alat tenaga manusia. Contoh nya adalah pengumpulan ulat Phaedonia inclusa (hama kedelai), Traping (dengan perangkap), misal pengendalian walang sangit (Leptocorixa acuta) dengan menggunakan obor pada malam hari, Driving (pengusiran), misal pengusiran burung pipit (hama padi) dengan cara membuat bunyi-bunyian, memotong bagian tanaman yang telah terserang hama agar tidak menular ke bagian lain. 2. Pengendalian secara fisis (physical control) Pengendalian ini dilakukan dengan cara memanfaatkan faktorfaktor fisis seperti temperatur, kelembaban, cahaya, dan gelombang suara untuk mempengaruhi kehidupan hama itu sendiri. Contohnya pendingin untuk memberantas hama gudang, pengurangan kelembaban tanaman pelindung pada tanaman coklat untuk mencegah

perkembangan hama Helopeltis sp, dan walang sangit aktif pada keadaan yang terang maka perlu perangkap obor untuk menjeratnya.

3. Pengendalian secara kultur teknis (Cultural control) Pada prinsipnya pengendalian secara kultur teknis adalah cara-cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan perkumbangan populasi hama. Contohnya pengolahan tanah setelah panen larva-larva hama yang hidup di dalam tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan seperti cangkul. Di samping itu akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikin larva-larva dan telur larva akan dimakan burung atau mati terkena cahaya matahari langsung. Dengan membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan

digunakan oleh serangga untuk berkembang biak, berlindung, berdiapause, maka perkembangan serangga yang menjadi hama tanaman dapat dicegah. Walang sangit akan lebih cepat berkembang biak bila sanitasi lingkungan kurang baik. Penggunaan pupuk menjadikan tanaman sehat dan lebih mudah mentoleransi serangga hama tanaman. Agromiza sp menyerang batang kedelai, dengan pemupukan yang baik maka akan mempercepat pertumbuhan tunas-tunas cabang, dengan kata lain serangan hama dapat di toleransi oleh tanaman. Pengolahan air dapat menghalangi perkembangan hama-hama tertentu. Akan tetapi bila cara pengolahan air kurang tepat dapat memgakibatkan peningkatan perkembangan populasi hama tanaman. Penggenangan pada sawah-sawah setelah panen selama kurang lebih 5 hari merupakan cara yang baik untuk memberantas larva maupun pupa dari penggerek batang padi. Serangan hama tertentu dapat di atasi dengan cara catch crop yaitu bercocok tanam secara berselang seling. Antara tanaman yang berumur panjang dan tanaman berumur pendek. Contoh, walang sangit (Leptocorixa acuta) menyerang padi yang sedang masak susu, dengan catch crop di harapkan walang sangit akan menyerang tanaman yang

berumur pendek, kemudian dilakukan npenyemprotan sehingga tanaman yang berumur panjang dapat terhindar dari serangan. Menanam tanaman yang berbeda-beda jenisnya dalam satu tahun dapat memutus atau memotong daur hidup hama terutama hama yang sifatnya monofagus (satu jenis makanan). 4. Pengendalian dengan tanaman tahan hama Menurut Painter yang dimaksud dengan tanaman tahan hama adalah tanaman yang mempunyai turunan yang kualiatas atau sifatnya menyebabkan tanaman mampu menyembuhkan diri terhadap

kerusakan yang diakibatkan oleh populasi hama tanaman. Painter membagi sifat-sifat alami ketahanan tanaman terhadap hama menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu tanaman memiliki zat yang tidak di sukai oleh hama tanaman, tanaman memiliki sifat racun atau dapat membuat hama menjadi mandul, tumbuhan mampu menumbuhkan kembali bagian yang di serang hama. Keuntungan dari penggunaan varietas tanamanan tahan hama antara lain sangat mudah dilakukan dengan biaya yang minimal, teknik mudah sehingga mudah dilakukan, persisten, sifat pengendaliannya tetap dalam jangka waktu yang lama, sifatnya spesifik, mengarah pada satu macam hama, ramah lingkungan, kompatible dengan cara pengendalian yang lain dan komulatif, yaitu pengaruhnya sekarang dan berikutnya akan mengurangi populasi hama. Kelemahan teknik tanaman tahan hama antara lain memerlukan tenaga dan waktu yang banya untuk pengembanganya, timbulnya biotipe, yaitu strain baru yang biasa menyesuaikan diri pada tanaman yang tadinya tidak disukai, keterbatasan dari sumber genetiknya, sifatsifat ketahanannya yang bertentangan, artinya tanaman unggul terhadap hama tetapi peka terhadap hama yang lain.

5. Pengendalian secara hayati (biological control) Pengendalian hama secara hayati adalah pengurangan atau penurunan populasi serangga atau hama dengan cara meggunakan musuh alami. Yang termasuk musuh alami dari hama tanaman adalah a. Parasit, Bracon chinensis parasit bagi larva Chilo suppressalis. b. Predator, contoh : Coccinella arcuata merupakan pemangsa wereng hijau (Nephotettix cinticeps) c. Pathogen, Bacillus papillae (bakteri) penyebab penyakit susu pada larva Papolia japonica. 6. Pengendalian secara genetis Contoh cara pengendalian dengan jantan mandul yang dikenal dengan pengendalian Autocidal. 7. Pengendalian secara kimia, menggunakan Pestisida (Hardika, 2011).

III. METODE PRAKTIKUM A. Tempat Dan Waktu Praktikum Praktikum klinik tanaman dilaksanakan pada areal tanaman terung, dengan lokasi ketinggian tempat 300 m dpl di Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Praktikum dilaksanakan mulai bulan Maret 2011 sampai April 2011. B. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain buku harian, pertanaman terung, penggaris, kamera digital, plastik bening, kertas koran, label, altimeter, meteran, dan alat tulis.

IV. HASIL PENGAMATAN A. PLANT PROBLEM CLINIC Grower Address City Sender Penyakit 1. 2. 3. 4. : (Solanum melongena) : Desa Beji Kedungbanteng : Purwokerto : Kel.3 Klinik Tanaman Country : Indonesia Date collected : 26 April-8Mei 2011 Date submitted 8 Mei 2011 Title : Survei Hama

Asal dan tipe tanaman : Terung, tipe tanaman perdu Hama Patogen Gulma (dimana ditemukan; tingkat kerusakan; tipe kerusakan; pengendalian; insektisida; insektisida, fungisida, dan herbisida sebelumnya yang digunakan) 5. Identifikasi permasalahan tanaman a. Nama tanaman dan varietas: Terong varietas lokal terung kopek b. Sampel patogen, serangga, nematoda: ( v )yes c. Sampel tanah: ( v ) yes d. Tanggal dan umur tanaman: 25 hari (blok 1) dan 45 hari (blok 2) e. Tinggi tanaman: Rata-rata 35 cm (blok 1) dan 75 cm (blok 2) f. Jumlah tanaman: 110 (blok 1) dan 235 (blok 2) g. Tanaman sebelumnya: kacang panjang, buncis, kedelai h. Lokasi penanaman: Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng i. Bagian tanaman yang terpengaruh: Daun, Buah, Akar j. Gejala: layu tanaman, daun rusak, buah busuk k. Tingkat kerusakan terhadap individu tanaman: ( v ) moderate l. Perkembangan masalah: ( v )gradual m. Penyebaran : ( v ) every plant n. Pencahayaan: ( v ) full sun o. Tipe tekstur: ( v ) artificial mix p. Keadaan kelembapan: ( v ) rainfall q. Irigasi: ( v ) no for blok 2 r. Drainase: ( v ) fair s. Pengolahan tanah: ( v )normal t. Bahan kimia yang diaplikasikan pada tanaman: no application u. Suspected diagnosis: no v. Additional comment: no additional information

CLINIC REPORT : REKOMENDASI: Pengendalian hayati hama dan penyakit terpadu dengan pendampingan bimbingan periodik langsung ke petani, pengelolaan budidaya tanaman yang terawat dan berlanjut, dan maksimalkan layanan klinik tanaman seperti ini langsung ke petani

V.

PEMBAHASAN

Buah terung sudah sangat dikenal masyarakat dan banyak digunakan sebagai lalap (sayuran segar) atau disayur. Hal ini disebabkan oleh rasa buah terung yang enak dan banyak mengandung vitamin. Terung sangat mudah dibiakkan karena dapat hidup di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1.200 m dpl. Namun demikian, tanaman terung mempunyai risiko terganggu hama dan penyakit tanaman. Hama dan penyakit tanaman terung apabila tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan kerusakan pada tanaman, kemampuan mengendalikan hama dan penyakit pada terung akan berhasil baik jika mengetahui dan mempelajari aktifitas, kelemahan, kekuatan siklus hidup hama dan penyakit, penampilan dan karakter hama dan penyakit melalui kegiatan lapang survei hama dan penyakit. Survei adalah suatu kegiatan pemeriksaan, peninjauan atau penelitian langsung di lapang yang dilakukan secara komprehensif. Survei hama dan penyakit tanaman terung yang dilakukan dalam praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui aspek ekologi tanaman, ekologi hama dan penyakit yang menyerang, dan interaksi antara OPT dengan sistem usaha tani yang dilakukan . Survei hama dan penyakit merupakan kegiatan yang penting dalam klinik tanaman, karena akan mempengaruhi keputusan atau rekomendasi tindakan yang nantinya diberikan. Produksi terung atau terong di Indonesia mengalami peningkatan produksi semenjak tahun 2002. Data pusat statistik menunjukkan peningkatan produksi terong meningkat tajam dari 272,7 ton di tahun 2002 dan 509,093 ton di tahun 2010. Prestasi peningkatan ini harus diimbangi dengan mempertahankan keberlanjutan produksi melalui peningkatan kesehatan tanaman dari faktor biotik maupun abiotik yang berpotensi mengurangi produksi tanaman terong. Upaya ini dapat ditunjang dengan kegiatan survei langsung di lapang, mengamati secara detail permasalahan yang mungkin timbul di lapang dan berupaya untuk secara

langsung membantu petani dalam memberikan saran dan masukan demi kebaikan bersama. Data di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng, pertanaman terung mengalami banyak gangguan Organisme Pengganggu Tanaman dan gangguan faktor iklim yang senantiasa berfluktuasi setiap harinya. Pengamatan yang dilakukan kelompok klinik tanaman khusus tanaman terung menunjukkan bahwa serangan OPT mampu menghambat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun. Intensitas serangan hama pada daun semakin bertambah selama diamati dan intensitas layu karena penyakit juga mengalami peningkatan dengan

bertambahnya jumlah tanaman yang layu. Selama melakukan pengamatan, tidak ada penanganan khusus dari petani untuk melakukan pengendalian hama dan penyakit, saat dikonfirmasi informasi yang didapat kelompok kami adalah petani tidak memberikan perlakuan khusus untuk pengendalian hama dan penyakit, hanya menggunakan pupuk organik yang diberikan sebanyak 2 kali dalam seminggu dan perawatan ajir yang digunakan, karena selama pengamatan banyak ajir yang rusak diterpa air hujan yang deras. Memahami kondisi di lapang, banyak masalah yang harus dikerjakan agar permasalahan kesehatan tanaman terong dapat ditingkatkan, intensitas serangan hama dan penyakit yang terbukti selalu meningkat harus diimbangi dengan pengelolaan hama dan penyakit secara intensif guna menekan kerugian yang mungkin dialami petani. Langkah berikutnya adalah mengambil sampel tanaman yang sakit serta jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman terong di lapang untuk kemudian dilakukan identifikasi hama dan penyakit.

Hama dan penyakit yang menyerang tanaman terung Budidaya tanaman terung tidak lepas dari berbagai kendala, seperti kendala faktor abiotik dan biotik terutama serangan hama dan panyakit. Serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil baik kualitas maupun kuantitas. Berikut ini akan dipaparkan hama dan penyakit yang menyerang tanaman terung yang diharapkan dapat sebagai bahan informasi bagi masalah kesehatan tanaman dan sistem usaha tani di lapang.

1. Gurem (Thrips tabaci) Gurem merupakan jenis serangga yang lebih dikenal dengan nama hama putih (bodas). Karena nimfanya berwarna keputihan. Hama ini tumbuh dewasa dan tubuhnya berwarna kuning cokelat. Saat pengamatan hama ini dijumpai banyak di bagian daun lapisan bawah dan bagian pucuk tanaman terung, sehingga bila serangan hama ini tidak dikendalikan, maka pertumbuhan tunasnya akan terhenti dan tanaman akan tumbuh kerdil. 2. Hama Ulat Jengkal Hama ini memakan daun tanaman, daun yang diserang ulat ini berlubang tidak beraturan, kemudianmenjadi robek atau terpotong. Pada serangan yang sangat berat kondisi daun hanya tinggal tulang daun saja. Pada pengamatan yang dilakukan jenis ulat jengkal terdapat dua jenis yakni yang berwarna hijau dan hitam 3. Tungau (Tetranychus) Serangan hama ini merupakan hama yang ditandai dengan gejala pertumbuhan tanaman terung menjadi abnormal. Daun pucuk atau tunas yang terserang berubah menjadi keriput dan berwarna kuning. Hama ini menyerang daun dan cabang muda dengan mengisap cairan dalam jaringan tanaman. 4. Penyakit layu bakteri Tanaman terung yang diserang bakteri ditandai dengan layunya sebagian dari tubuh tanaman, kemudian setelah beberapa waktu seluruh bagian tanaman layu secara mendadak dan bersifat tetap sampai akhirnya dalam beberapa hari kemudian tanaman mati. 5. Penyakit Karat Daun Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bercakbercak kuning (blight) dan kanker pada daun maupun tanaman.

6. Penyakit busuk daun Buah terung yang terserang terdapat bercak kebasahan memanjang dengan bagian dalamnya berwarna cokelat, selanjutnya buah menjadi busuk dan gugur.

VI. SIMPULAN Simpulan yang bisa ditarik dari praktikum acara survei hama dan penyakit tanaman terung antara lain : 1. Jenis hama dan penyakit yang menyerang pertanaman terung antara lain Gurem, Hama Ulat Jengkal, Tungau (Tetranychus), Penyakit layu bakteri, Penyakit Karat Daun, dan Penyakit busuk daun. 2. Kerusakan pada daun tanaman terung dan pengamatan tinggi tanaman terung menunjukkan bahwa faktor pertumbuhan tersebut wajib dilakukan pengendalian hama dan penyakit terpadu. 3. Data yang diambil selama survei merupakan data hasil pengamatan dan merupakan data yang bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan keputusan pengendalian.

DAFTAR PUSTAKA Zahara, H. dan Harahap L.H. 2007. Identifikasi Jenis Cendawan Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum) Pada Topografi Yang Berbeda Telah Diseminarkan Pada Temu Teknis Pejabat Fungsional Non Peneliti. Bogor, 21 - 22 Agustus 2007.Balai Besar Karantina Tumbuhan Belawan Tsao dan Lo dalam "Vegetables: Types and Biology". Handbook of Food Science, Technology, and Engineering oleh Yiu H. Hui (2006). CRC Press. ISBN 1-57444-551-0. Doijode, S. D. (2001). Seed storage of horticultural crops (m.s. 157). Haworth Press: ISBN 1-56022-901-2 Childers, N.F. dan Margoles, M.S. 1993. An apparent relation of nightshades (Solanaceae) to arthritis. Journal of Neurological and Orthopedic Medical Surgery. 12: 227-231.

Patrawisa.http://www.patrawisa.co.cc/2009/12/terung.html Christman, S., 2007, Solanum melongena, http://www.floridata.com , diakses tanggal 6 Februari 2007. Esau, K., 1965, Plant Anatomy, second edition, 159, 196,John Wiley & Sons, Inc., New York. Fahn, A., 1982, Anatomi Tumbuhan, Edisi Ketiga, 278, 313, 698-701, UGM Press, Yogyakarta. Tjitrosoepomo, G., 2005, Morfologi Tumbuhan, 145, UGM Press, Yogyakarta. Heddy, S., 1987, Biologi Pertanian, 36, 37, Rajawali Pers, Jakarta. Steenis, v., 1992, Flora, Cetakan keenam, Penerjemah: Ir. Moeso Soerjowinoto, 367, PT Pradnya Paramita, Jakarta. http://elqodar.multiply.com/journal/item/17/PENGENDALIAN_HAMA_DAN_P ENYAKIT_TANAMAN_KEHUTANAN
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KEHUTANAN

AGUNG PRASETYA HARDIKA JAYA http://dnaku.info/2008/12/teknik-pengendalianhama-tanaman.html Teknik pengendalian hama tanaman