KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN (KADAL) PEMBANGUNAN JARINGAN TRANSMISI AIR BERSIH TUNTANG-UNGARAN Bab 1 Pendahuluan

y y

Lokasi : PDAM Kabupaten Semarang (Ungaran, Karangjati, dan Ambarawa) Poin Penting : Pengambilan air tanah dikhawatirkan mengganggu kondisi air tanah bawah tanah di Kab. Semarang. LATAR BELAKANG Daerah layanan Perusahaan Daerah Air Mnum (PDAM) Kabupaten Semarang selama ini mencakup Ungaran, Karangjati, dan Ambarawa yang sebagian besar airnya untuk memenuhi kebutuhan dornestik. Kebutuhan air produksi untuk industri-industri di sepanjang jalan raya ngaran-Bawen dan Karangjati-Pringapus selarna ini belurn bisa dilayani oleh jaringan PDAMyang ada, sehingga kebutuhannya selama ¡ni dipenuhi dan air bawah tanah yang diusahakan oleh asing-masing industri.Pengambilan air bawah tanah ini (terutama air tanah dalam) dikhawatirkan mengganggu kondisi air tanah bawah tanah di Kabupaten Semarang. Kapasitas pelayanan air bersih yang dimiliki PDAM Kabupaten Semarang untuk keperluan domestik saat ¡ni baru menjangkau Ungaran (64,38%), Karangjati (8,21%) dan Ambarawa (37,33%), sedangkan industri-industri mendapatkan air bersih dan sumur-sumur dalam yang dibuat oleh masing masing industri yang bersangkutan dengan kedalaman bervariasi antara 100 sampai 150 meter. Berdasarkan kondisi ini maka diperlukan pelayanan melalui sìstem penyediaan air bersih yang dikelola PDAM dan swasta melalui kerjasama kemitraan. Dasar kerjasama kemitraan antara PDAM dan pihak swasta menggunakan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Semarang Nomor 17 Tahun 2002 tanggal 23 Desember 2002 tentang Pengembangan Pelayanan Penyediaan Air Bersih di Kabupaten Semarang. Keputusan DPRD Kabupaten Semarang tersebut menunjuk PT. Sarana Tirta Ungaran (PT. STU) sebagai pihak swasta yang bersama PDAMKabupaten Semaran melaksanakan pengembangan pelayanan penyediaan air bersih di Kabupaten Semarang.Sumber air yang diambil untuk memenuhi kebutuhan tersebut diambil danair permukaan Kali Tuntang, yang setelah dio!ah terlebih dahulu di Instalasi.

1.1

1.1.1 Tujuan dan Kegunaan Proyek Tujuan Proyek adalah : 1. Pembangunan sarana dan prasarana instalasi pengolahan air (IPA) yang mengambil air dari Kali Tuntang. 2. Pemasangan sambungan jaringan transmisi air bersih dari IPA di Kali Tuntang ke Reservoar Air di Desa Wujil, Kecamatan Bergas, menyambung jaringan yang telah ada sebelumnya. 3. Membangun jaringan distribusi air bersih kepada pelanggan industry dari Reservoar Harjosari dan kepada pelanggan domestic Reservoar Wujil. Kegunaan Proyek adalah: 1. Memenuhi kekurangan pasokan air baku bagi industri ± industry di kawasan sepanjang jalan raya Ungaran-Bawen yang selama ini menggunakan sumber air bawah tanah.

Menambah kapasitaspelayanan air baku bagi masyarakat melalui jaraingan pelayanan PDAM Kabupaten Semarang untuk masyarakat di Ungaran. Keputusan Gunernur No 550.2. 1.Undang No 23 Tahun 1997 Tentang Penge!olaan Lingkungan Hidup. No 17 Tahun 2001 Tentang Jenis Rencana usaha dan atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Amdal. No 22 Tahun 1999 Pemerintahan Daerah.1. No 24 Tahun 1992 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang .2 Peraturan Perundang ± undangan yang digunakan Peraturan perundang-undangan yang mendasari studi KADAL JaringanTransmisi Air Bersih Tuntang-Ungaran ini antara lain adalah: No 5 Tahun 1990 Tentang Penataan Ruang . No 09 Tahun 2000 Tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. 48/MenLH/II/1996 Tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingari. Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No 1 Tahun 1990 Tentang Pokok-Pokok Peraturan Daerah Pengelolaan Lingkungan Hidup di Propinsi Jawa Tengah Propinsi Jawa Tengah. No Kep-105 tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. Tentang No 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.1/02/1997 Tentang Pokok-Pokok Jawa Tengah Pengelolaan Lingkungan Hidup di . Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. No 056 Tahun 1994 Tentang Pedoman mengenai Ukuran Dampak Penting. No Kep. Surat Keputusan Kepala Bapedal No 08 Tahun 2000 Tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan nformasi dalam AMDAL.

1/02/2000 Tentang Pedoman Teknis Pengambilan Contoh Air dan Limbah Cair di Propinsi Jawa Tengah. No 25 Tahun 2000 Tentang penunjukan Laboratorium Penguji Kualitas Lingkungan di Propinsi Jawa Tengah. No 8 Tahun 2001 Tentang Baku Mutu Udara Ambien di Propinsi Jawa Tengah. No 3 Tahun 2002 Tentang Rencana Strategis Kabupaten Semarang tahun 2002-2006. No 3 Tahun 2002 Tentang Rencana Strategis Kabupaten Semarang tahun 2002-2006.1/33/1990 Tentang Baku Mutu Limbah Cair di Propinsi Jawa Tengah. No 66-/0299/2002 tanggal 4 juli 2002 Tentang Pembntukan Komisi PenHa1dan Tim Teknis Amdal Kabupaten Semarang. maka rona Iingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokoknya adalah: . No 610. No 660.Propinsi Jawa Tengah. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Keputusan Kepala Kantor Pengerdalian Dampak Lingkungan Kabupaten Semarang 1. Keputusan Bupati Semarang No 4 Tahun 2002 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Semarang.1/357/2003Dokumen Kajian Dampak Lingkungan Pembangunan Jaringan Transmisi Air Bersih TuntangUngaran di Kabupaten Semarang. No 25 Tahun 2000Tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam AMDAL. No 550.1.1/107/2003 Tentang Ijin Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan kepada PT Sarana Tirta Ungaran. sosialisasi kegiatan proyek.3 Isu-isu Pokok Hasil Perlingkupan Berdasarkan hasil perlingkupan yang dilakukan setelah mencermati deskripsi kegiatan proyek. No 660. prasurvai dan survai di lapangan serta kemajuan pekerjaan.

oksidan. Kegiatan tahap konstruksi telah menimbulkan dampak terhadap kualitas udara dalam bentuk perubahan parameter CO. mengidentifikasi komponen-komponen Iingkungan yang potensial & terkena dampak kegiatan tahap operasi. Kegiatan tahap operasi untuk pengoperasian PA dan Booster diduga akan mempengaruhi kualitas udara. Memberi masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah di Kabupaten Semarang. b. 2. dan ekonomis. Menyusun Saran tindak pengelolaan dan pemantauan Iingkungan. 5. 7. Kuantifas Air Kegiatan tahap prakonstruksi dan konstruksi tidak mempengaruhi kuantitas air di badan air Kali Tuntang yang berhulu di Rawapening. Mengidentifikasi dampak potensial kegiatan tahap operasi. 1. Kegiatan tahap operasi dalam bentuk pengambilan air di Kali Tuntang dengan debit total 250 iter/detik diduga akan mempengaruhi pasokan air ke PLTA Jelok dan Timo serta pasokan air untuk irigasi. 8. c. teknis. Mengevaluasi dampak besar dan penting yang telah terjadi pada tahap prakonstruksi dan tahap konstruksi.1. penggalian dan pemasangan pipa. 1. Bising Kegiatan tahap prakonstruksi tidak berpengaruh terhadap peningkatan kebisingan. 2. CC2.2 Kegunaan 1. H2S dan debu yang berasal dan kegiatan mobilisasi peralatan.2.2 TUJUAN DAN KEGUNAAN STUDI 1. Membantu Pemrakarsa dalam proses pengambilan keputusan dan pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Kualitas udara Kegiatan tahap prakonstruksi tidak berpengaruh terhadap kualitas udara. 3. NH3. Kegiatan tahap konstruksi telah meningkatkan kebisingan yang berasal dan kegiatan mobilisasi peralatan. .1 Tujuan 1. NOx.2. Mengevaluasi dampak besar dan penting yang diduga akan terjadi akibat efatan pada tahap operasi. 6.a. Mengidentifikasi dampak rencana kegiatan tahap operasi.4 Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup 1. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan yang terkena dampak µe:atan tahap prakonstruksi dan tahap konstruksi. 4. Mengidentifikasi komponen-komponen kegiatan tahap prakonstruksi dan tahap konstruksi yang telah menimbulkan dampak. penggalian dan pemasangan pipa. Kegiatan tahap operasi untuk pengoperasian IPA dan Booster diduga akan meningkatkan kebisingan lingkungan. SOx.

4 Batas Wilayah Administratif . 5. 4.2.2.1.2.3. Bab 2 Ruang Lingkup Kajian 2.2 Batas Wilayah Ekologi 2.1 Komponen Kegiatan Penyebab Dampak 2. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.2 LINGKUP WILAYAH KAJIAN 2.1 DAMPAK BESAR DAN PENTING DITELAAH 2. Membantu pemrakarsa dalam mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup pada tahap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan proyek.2 Komponen Lingkungan Hidup terkena Dampak 2.2. Memberi informasi bagi masyasrakat atas dampak yang telah dan diduga akan timbul.1 Batas Wilayah Proyek 2.1.3 Batas Wilayah Sosial 2.

Banyaknya komponen lingkungan yang terkena dampak e. .dimana berdasarkan ijin pengambilan air dari gubenur Jawa Tengah nomor 539/9143 tanggal 3 Juni 1998.2 Metoda Analisis Data 3. 4. Sifat kumulatif dampak. Mencakup : a.1 IDENTITAS PEMRAKARSA DAN PENYUSUNAN KAJIAN 4.3 KEGUNAAN DAN KEPERLUAN KEGIATAN Kegunaan Kegiatan adalah Proyek pembangunan jaringan transmisi air bersih TuntangUngaran adalah untuk memenuhi kekurangan pasokan air baku bagi industri-industri dikawasan sepanjang jalan raya Ungaran-Bawen yang selama ini menggunakan sumber air bawah tanah.1. Intensitas dampak dan lamanya dampak berlangsung d. Jumlah Manusia yang terkena dampak b.1.2 TUJUAN KEGIATAN Tujuan Kegiatan adalah pemenuhan kebutuhan air industri dan domestik di Kabupaten Semarang. Bab 4 Deskripsi Kegiatan 4.Bab 3 Metoda Studi 3.1 KOMPONEN GEOFISIK-KIMIA 5.1. Luas Wilayah persebaran dampak c.1. sedangkan bulan basah terjadi pada bulan November sampai April dengan curah hujan rerata lebih besar dari 200 mm/bulan. Bulan kering pada umumnya terjadi pada bulan Juli dan Agustus dengan curah hujan merata lebih besar dari 60 mm/bulan.3 METODA EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Kriteria dampak besar dan penting terhadap kegiatan pembangunan jaringan transmisi air bersih mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999.2 METODA PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING 3.2 Identitas Penyusun Kajian 4.1 Identitas Pemrakarsa Kegiatan 4.1 METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 3.1. f. Bab 5 Rona Lingkungan Hidup 5. pengambilan air maksimum sebesar 250 liter/detik.1 Iklim Daerah Pengairan sunga (DPS) Tuntang atau Sub DPS Tuntang Hulu (kawasan Rawa Pening) mempunyai curah hujan tahunan sebesar 2288. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.1 Metoda Pengumpulan Data 3.5 mm.

grumosol. tegalan dan perkebunan maka fauna terrestrial yang dapat dijumpai di lokasi tapak proyek dan sekitarnya merupakan fauna budidaya. 5. andosol.5 Tanah Kelas tanah di daerah tapak proyek (kawasan Rawapening atau Sub Daerah Pengaliran Kali Tuntang Hulu) terdiri dari beberapa jenis.1. yaitu alluvial.1 Biota darat a.8 Transportasi Lokasi proyek dan sistem distribusi yang akan dilakukan ke konsumen akan melewati daerah yang sangat padat lalu lintasnya.5. 5. 5. 5. DPS Jratunseluna. sehingga vegetasi terrestrial yang dijumpai berupa vegetasi pekarangan. permukiman. 5. 5. 5.1.1.1.6 Kuantitas Air Kali Tuntang merupakan tempat intake air Sarana Tirta Unggaran termasuk dalam wilayah Sub Daerah Pengaliran kali DPS Tuntang. tanaman hias.1. Vegetasi Terestrial Vegetasi terrestrial di daerah tapak proyek berupa perkebunan.1. 5. dan beberapa jenis fauna liar.1. regosol. dan latosol.3 Debu Kualitas debu di daerah kegiatan sudah mendekati nilai ambang yang sudah ditentukan. yaitu komponen biota darat yang terdiri dari vegetasi terrestrial dan fauna liar.4 Kebisingan Hasil pengukuran terhadap kebisingan menunjukkan bahwa sumber bising sangat didominasi oleh tingkat kepadatan lalu lintas.1. b. tegalan dan persawahan.2 Kualitas Udara Pengambilan sampel untuk pengukuran kualitas udara didasarkan pada arah angin yang dominan yaitu arah barat.9 Limbah padat Limbah padat ini berupa zat padat yang merupakan campuran koagulan yang ada dengan padatan terlarut yang ada. 5.2 KOMPONEN BIOLOGI Kondisi lingkungan aspek biologi di tapak proyek dibedakan dalam tiga kelompok. komponen biota perairan terdiri dari plankton dan bentos.7 Kualitas Air Kualitas bahan air terhadap senyawa-senyawa yang dikandungnya sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan yang ada di sekitarnya. tegalan perkebunan dan tanaman liar. . mediteran. Fauna Terestrial Mengingat lokasi tapak proyek merupakan daerah pemukiman.2. serta mikroba perairan.

Jumlah Penduduk Pengamatan komponen social dilakukan di Kecamatan Bawen (Kelurahan Bawen.1 Demografi a. Kondisi Sosial Ekonomi Penduduk 1. 5.2 Tingkat pendapatan dan pengeluaran responden a. Kelurahan Harjosari dan Desa Asinan). Hewan bentos umumnya terdiri dari cacing. Pendidikan Penduduk Tingkat pendidikan yang berhasil diselesaikan penduduk akan mempengaruhi pengetahuan atau wawasan bagi penduduk. Kecamatan Bergs (Kelurahan Wujil dan Ngempon).3. Angka Ketergantungan Penduduk Angka ketergantungan merupakan ratio yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator beban tanggungan keluarga yang pada akhirnya dapat diketahui pula tingkat kesejahteraan suatu tempat.3 Pola Hubungan Sosial . Pengeluaran Dari rata-rata pendapatan responden per bulan. semakin luas peluang masyarakat melakukan proses adopsi dan inovasi yang berkaitan dengan informasi baru yang ada di sekelilingnya. sumur penduduk desa Wujil dan sumur penduduk di sekitar kali Tuntang. siput dan kerang.2.3. 2. c. b. total coliform (sel/100ml sampel). 5. b. larva dan serangga lain-lain.3 Mikroba perairan Pengamatan terhadap mikrobiologi perairan meliputi total bakteri (sel/ml sampel). Plankton adalah semua organism air yang hidup melayang di dalam periran dan mengikuti a Plankton arus air dan umumnya berukuran mikriskopis. maka besarnya tingkat pengeluaran sebenarnya tidak jauh dari hasil yang diperoleh.3 KOMPONEN SOSIAL 5. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan. Bentos Organisme bentos yaitu hewan-hewan yang hidup pada substrata tau berasosiasi dengan substat dasar perairan. Pendapatan Kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat dapat dilihat dari sumber-sumber penghasilan yang diperoleh oleh seluruh anggota keluarga. Sampel air diambil di reservoir Wujil. 5. dan fecal coliform (sel/100ml sampel).2 Biota perairan a. 5. Mata Pencaharian penduduk Sektor pertanian dan industri menjadi sumber utama nafkah penduduk di desa/ kelurahan yang diamati.3.2. hal ini bisa dilihat dari tingginya persentase penduduk yang menekuni sector tersebut.5. b.

y 81% responden menyatakan setuju dan mendukung proyek y 14% responden menyatakan terserah pemerintah adanya pembangunan jaringan air bersih tersebut y 5% responden menyatakan tidak setuju ( 4 orang nelayan dan seorang petani) b. 5.1. Karena tanpa pengelolaan yang baik maka akan berdampak pada sanitasi lingkungan.2.1.1.1 Iklim 6. karena semua responden di daerah kajian telah mempunyai WC sendiri.Kegiatan-kegiatan bersama yang masih dilakukan masyarakat dpat dipakai sebagai indikator adanya pola hubungan sosial.4 Kebisingan 6.2 KOMPONEN BIOLOGI 6.1 KOMPONEN GEOFISIK-KIMIA 6.1.1.5 Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap Proyek a.2 Kualitas Udara 6.1 Tahap Kontruksi . b.3. y Dll Bab 6 Prakiraan Dampak Besar dan Penting 6. 5.4 Kondisi Lingkungan a. Pemenuhan Kebutuhan Air Air merupakan salah satu sumber kebutuhan pokok bagi masyarakat. c. karena bila sumber air tersebut langka maka dapat mengganggu kenyamanan dan keresahan.6 Kuantitas Air 6. Pengelolaan Sampah Sampah merupakan salah satu limb ah rumah tangga yang perlu penanganan atau pengelolaan. Sikap Masyarakat erhadap Proyek Sikap masyarakat terhadap proyek dapat dideskripsikan sebagai berikut . Kebiasaan Buang Hajat Berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa kebiasaan buang hajat telah dilakukan di WC keluarga.1. mengingat di daerah kajian akan dilalui proyek air bersih. warga belum dapat air bersih supaya diberi pengertian atau penjelasan y Tenaga kerja local agar diikutsertakan dalam pekerjaan proyek y Mulai dari peerencanaan hingga pelaksanaan pembangunan jangan sekali-kali merugikan warga.3 Debu 6.3. Harapan Masyarakat terhadap Proyek Sehubungan dengan adanya proyek Jaringan Air Bersih maka masyarakat di setiap daerah kajian berharap : y Rencana layanan ke masyarakat yang dahulu sudah pernah didaftar PDAM agar dapat direalisasikan y Bila dalam 1 tahun pembangunan.5 Kualitas Air 6.

1.1 Komponen Geofisik-Kimia 7.2 Tahap Operasi 6.6.3.3 KOMPONEN SOSIAL 6.3 Komponen Sosial Ekonomi Budaya 7.3 Tahap Operasi Bab 7 Evaluasi Dampak Besar dan Penting 7.1.2 Komponen Biologi 7.1 Tahap Prakonstruksi 6.3.2.1 Komponen Geofisik-Kimia 7.2 Tahap Konstruksi 6.1.2.2.3.2 Komponen Biologi 7.2.3 Komponen Sosial LAMPIRAN .1 EVALUASI DAMPAK YANG SUDAH TERJADI 7.2 EVALUASI DAMPAK POTENSIAL YANG AKAN TERJADI 7.