Anda di halaman 1dari 2

Arogansi Intelektual! Pernahkah kita menerima sergahan dari teman kita, ih itu salah, yang bener ini!

atau masa jawabannya seperti ini seharusnya yang ini. Bagi beberapa teman-teman mungkin pernah. Sehingga membuat kita menjadi minder, atau justeru sebaliknya malah tersinggung. Begitupun saya, seringkali mendapatkan pengalaman seperti itu, dimana teman bicara saya seolah-olah paling bener sendirian. Jika urusan ini dalam rumus yang eksak, atau hitungan berdasarkan rumus matematika sih gak masalah. Tapi ini dalam urusan social termasuk agama ko orang berani mengklaim bahwa dirinya adalah yang merasa paling benar. Dalam perjalanan panjang sejarah Islam, urusan karena merasa paling benar ini menimbulkan perpecahan, sehingga munculah aliran-aliran seperti dalam teologi Islam, seperti Mu tazillah, Khawarij, Syi ah, Asy ariah, Wahabiah dan lain sebagainya. Konon lahirnya organisasi besar Islam seperti Muhammadiyah dan NU pun dipicu oleh karena merasa kebenaran adalah menurut pandangannya tersebut. Masih ingatkah kita ketika perbuatan tertentu dipandang sebagai TBC (tahayul, bid ah dan khurafat) oleh organisasi lain terhadap penganut dalam salah satu organisasi lainnya? Atau ketika ziarah kubur dan air doa untuk obat diharamkan? Dalam pandangan saya karena hal tersebut berangkat dari pandangan yang kaku terhadap yang lainnya. Padahal dalam penghukumannya sendiri terdapat 5 hukum ada yang haram, halal, mubah, makruh, Subhat. Itu artinya bahwa segala sesuatu berada diantara 5 hukum tersebut bukan hokum hitam putih antara halal dan haram. Begitupun dalam kehidupan intelektual akademis, barangkali kita pernah berhadapan dengan seseorang yang merasa dirinya paling intelek, mentang-mentang menulis banyak buku acuan akademis, maka dia merasa bahwa dirinya paling pinter, padahal tentu saja dalam dunia social masa kini, kebenaran tersebut sangat bersifat subjektif, bukan bersifat eksak. Semua orang memiliki potensi memunculkan kebenaran. Oleh karena itu sekarang tidak jaman bahwa kebenaran itu selalu datang dari yang lebih pinter, dari yang lebih kaya, dari yang lebih tua, dari yang lebih berpengalaman. Untuk itulah kompasiana lahir agar kita bisa belajar dari yang lebih mudah, dari yang kurang berpengalaman, dari yang tidak bisa nulis atau sebaliknya. Tapi tentu saja dalam urusan moral dan akhlak kita memiliki term of reference yang universal, namun bukan berarti kaku. Term of reference yang mengacu pada agamanya masing-masing. Misalnya jika melakukan hubungan seks adalah haram bagi yang belum menikah tetap saja keadaannya bagaimanapun masih tetap haram. Sekarang juga bukan jamannya kita bilang, kamu tau apa? , Kamu anak kemarin Sore! Saya yang ketua disini, saya yang paling tau disini. Seseorang pernah mengatakan kepada saya, loh masa nalar manusia sejati seperti itu, bukan, bukan itu? Coba dikounter isu tersebut, saya bilang dalam hati, ya,,,counter aja sendiri, bukannnya sampeyan pinter, banyak nulis buku, dan lain sebagainya. Dalam urusan social kebenaran berada dalam pandangan subjek bukan lagi berdasarkan teori-teori yang memusingkan. Disinipun kita bisa belajar dari siapa saja tanpa memandang siapa dia, apa jabatannya, apa pekerjaannya, ataupun sampai mana pendidikannya, seperti halnya Tuhan menghimbau agar kita bisa belajar dari makhluk lainnya, dari lebah, dari semut, dari padi, dari pohon kelapa, dari sapi dan lain-lain.

Lamun anu kaluarna tida bool hayam te endog, nya cokot, tapi lamun tai mah nya ulah (jika yang keluar dari dubur ayam itu telor ya ambil, tapi kalo kotoran ya jangan!) Jangan merasa diri lebih pintar dari siapapun dengan banyak menghujat dan menghakimi orang lain, jika tidak ingin hancur. Memang dinamika itu bagus, tapi jika konflik yang disebabkan oleh keegoan intelektual yang dipaksakan, maka tunggu saja kehancurannya.