IMPLEMENTASI KTSP (KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN) DALAM PEMBELAJARAN PAI (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM) DI SEKOLAH (Studi Kasus

di SMPN I Kertosono Nganjuk)
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I) Konsentrasi Pendidikan Agama Islam

Oleh: Nur Chanifah Fo640620

PROGRAM PASCA SARJANA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2008

Pelaksanaan pembelajaran PAI juga sudah mencerminkan KTSP. dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi yang dilakukan sudah mengarah pada aspek kognitif. Dengan potensi-potensi yang . rencana pelaksanaan pembelajaran. guru sudah mampu menyusun sendiri. Teknik evaluasinya juga beraneka ragam sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bahwa KTSP bukanlah kurikulum yang tidak siap pakai (seperti anggapan banyak orang). Kesimpulan 1. dan psikomotorik. Sekolah tersebut sudah melakasanakan program-program pengembangan dengan baik. SMPN I Kertosono juga sudah mampu mewujudkan ciri khas pembelajaran PAI. akan tetapi kurikulum yang mampu memfasilitasi sekolah untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan potensinya. Implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI di SMPN I Kertosono sudah berjalan sesuai pedoman.BAB V PENUTUP A. Evaluasi pembelajaran PAI juga sudah mencerminkan KTSP. Untuk penyusunan silabus. misalnya program tahunan dan semester. Untuk perangkat pembelajaran yang lain. afektif. Dengan demikian. Siswa ikut berperan aktif dalam pembelajaran. Selain itu. sehingga pembelajarannya dilakukan dari siswa oleh siswa dan untuk siswa. yaitu dengan adanya program tah}fi>z} Juz ‘Amma. Sekolah tersebut mampu membuat KTSP sendiri. guru-guru masih mengandalkan hasil dari MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Faktor yang menghambat: 1) Jumlah siswa yang terlalu banyak. 2) Guru yang berpengalaman. 4) Sarana dan prasarana yang lengkap b. Upaya yang dilakukan oleh SMPN I Kertosono untuk mengatasi problem implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI: a. SMPN I Kertosono mampu mengimplementasikan KTSP dengan baik. a. 4) Kedislipinan siswa. Masalah Jumlah siswa. 3) Pembuatan silabus yang masih mengandalkan MGMP. Faktor yang mendukung: 1) Sumber daya siswa yang cukup tinggi. guru berupaya untuk lebih banyak membangun komunilaksi dengan siswanya di luar jam pelajaran. 3) Bantuan dana dari pemerintah. sarana dan prasarana maupun strategi. sehingga mampu mewujudkan potensi dan kekhasan sekolahnya.dimiliki. khususnya dalam pembelajaran PAI. 2) Jumlah jam pelajaran PAI yang sedikit (untuk kompetensi dasar yang membutuhkan alokasi waktu yang banyak). baik berupa SDM. yaitu program tah}fi>z} Juz ‘Amma 2. . 3. Dalam hal ini. Ada beberapa faktor yang mendukung dan menghambat implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI.

Dalam hal ini. 2. Masalah kedisiplinan siswa. Masalah pembuatan silabus. Ada beberapa upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah ini. guru memberikan sanksi kepada siswa yang melanggar aturan sesuai dengan tingkat pelanggaran siswa. Jumlah siswa di SMPN I Kertosono sangat banyak. Penyusunan silabus untuk pembelajaran PAI di SMPN I Kertosono masih mengandalkan hasil dari MGMP. guru PAI lebih banyak memberikan tugas kepada siswa di luar jam pelajaran. 3) Mengaktifkan MGMP.b. workshop. Masalah sempit/sedikitnya jam pelajaran PAI. Oleh karena itu. Oleh karena itu. B. d. Saran-Saran 1. di antaranya adalah: 1) Mengadakan sosialisi tentang KTSP kepada guru. atau seminar tentang KTSP. Dalam hal ini. Kondisi ini menyulitkan guru untuk mengenal siswanya satu persatu. penulis berharap agar sekolah sering mengadakan kegiatan yang . Dengan upaya tersebut diharapakan agar guru lebih siap untuk mengimplementasikan KTSP dan dapat menyusun silabusnya sendiri. penulis berharap agar sekolah lebih meningkatkan profesionalisme guru dengan mengikutkan pada pelatihan-pelatihan. 2) Mengikutkan guru-guru dalam pelatihan-pelatihan maupun seminar tentang KTSP. c.

upaya tersebut diharapakan dapat meningkatkan komunikasi di antara mereka. . Dengan demikian.melibatkan antara siswa dengan guru.

. TT. Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama. Guru Profesional. S}ah}i>h Bukha>ri>. Asep. Haryati. Metode Penelitian. 2007. Kurniawan. Moleong. Panduan penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah. Cathrine. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Khaeruddin. BSNP. an introduction to theory and Methods. Metodologi Penelitian Kualitatif. Konsep dan Implementasinya diMadrasah. Yogyakarta: Rake Sarasin. 1999. Qualitative Research for education. Kunandar. Ramadan. Semarang: MDC. Pikiran Rakyat (Jakarta) 29 Januari 2007. Paulus. 1996. Muhaimin et al. Robert L.DAFTAR PUSTAKA Bogdan. Dedi. 2006. t. 2002. Media Indonesia (Jakarta) 23 September 2006. Mujiran. 1996. Al-Bukha>ri. Surabaya: Citra Media. 2007. Warnai KTSP dengan pendidikan karakter. Muhadjir. Lexy J. London: Routledge. Boston: Allin and Bacon. Kurikulum Baru. Kompas (Jakarta) 25 september 2006. Momentum tepat mengimplementasikan KTSP.t. Media Indonesia (Jakarta) 04 oktober 2006. Mimin. Bandung: Remaja Rosdakarya. Khosim. dan Sari Knoop Biklen. Jakarta: Bumi aksara. BSNP dan Reformasi setengah hati. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Research Design. Jakarta: Gaung Persada Press. Srtategi Belajar Mengajar. Ali. Catatan kritis Kurikulum 2006. 1982.II. Hadiana. Suatu Pendekatan Proposal. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Hakim. Beirut: Da>r Ihya>’ al-Tura>th al-‘Arabi>. Pikiran Rakyat (Jakarta) 20 September 2006. 1997. 2007. Noeng. Mardalis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. dkk.

Kanwil Depag Prov. Metode Penelitian Naturalistik kualitatif.Mulyasa. 2007. oktober 2004. Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan. Rofi’uddin. Sudjana. 2007. 2007. Muslich. Anas. Pius A. 1994. Masnur. Partanto dan M. Bandung: Transito. 2003. KTSP. PUSKUR BALITBANG DEPDIKNAS. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya. ______________. 1996. Jakarta: Kencana. Problematika Pendidikan nasional dan Strategi pemecahannya. Nasution. Dahlan al-Barry. Hari. Bandung: Remaja Rosdakarya. Purwanto. Raja Grafindo Persada : Jakarta. 2003. 1996. S. Surabaya. 1997. Bandung: Remaja Rosakaya. KTSP. Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Rumpun pelajaran Pendidikan agama Jakarta: 2004. 1997. Abudin. Suderadjat. Jatim. M. dalam makalah yang disajikan dalam MUNAS I PGNU di Wisma Asrama Haji Sukolilo. 2007. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pembelajaran Berbasis kompetensi dan kontekstual. Metodologi Penelitian. Narbuko. Bandung: Cipta Cekas Grafika. Kamus Ilmiah Populer. suatu panduan praktis. Ngalim. Nata. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: bumi Aksara. _________. 2004. Kanwil Depag Prov. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Manajemen Pendidikan. E. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 dan 24 tahun 2006. Jatim. Jakarta: Bumi Aksara. 2006. Standar Kompetensi dan sertifikasi Guru. Surabaya: Arkola. Ahmad. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. . Colid dan Abu Ahmadi. _________. Jakarta: Bumi Aksara. 2006.

Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Membuka Jendela Pendidikan. 1996. Suprayogo. manajemen pelaksanaan dan kesiapan sekolah menyosongnya. Suryabrata.Sagala. 1970. Metodologi Penelitian Sosial. Tafsir. Syaiful. Muhammad Joko. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Usman. England: Penguin Book. Penilaian Berbasis Kelas. 2004. . Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Metodologi Penelitian. Sumarna. 1998. Imam dan Ahmad barizi. dalam materi workshop yang diselenggarakan KASIKUR Kab-Kota Pasuruan. 2001. Introducing Sociology. 2003. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Remaja Rosdakarya. 14 Juli 2004. Pasuruan. Jakarta: Bumi Aksara. 1996. Peter. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ahmad. Tholkhah. Worsley. Metodologi Pengajaran Agama Islam. 2007. Bandung: Alfabeta. Imam dan Tobroni. Susilo. Surapranata. Sumadi. Konsep dan Makna Pembelajaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful