Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN OBAT TETES MATA KLORAMFENIKOL

KELOMPOK 3 FARMASI VI-A Bayyinah Nur Ikhlas Siti Mardiyanti 108102000026 108102000013 108102000021

Dosen pembimbing

: Ibu Farida Sulistiawati, M.Si, Apt

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA JUNI 2011

I.

FORMULASI STANDAR

Berdasarkan Formularium Nasional hal 65 : Chloramphenicoli guttae opthalmicae Tetes Mata Kloramfenikol Komposisi. Tiap 10 ml mengandung Chloramphenicolum Acidum Boricum Natrii Tetraboras Phenylhydrargyri Nitras Aqua destilata hingga 50 mg 150 mg 30 mg 200 g 10 ml

Penyimpanan. Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk. Catatan. 1. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi B atau C 2. Pada etiket harus juga tertera : Daluwarsa

II. PRAFORMULASI Chloramphenicolum

Sinonim

Chloramfenikol;

Chloramfenikolis;

Chloramphenicolum;

Chloranfenicol;

Cloranfenicol; Klramfenikol; Kloramfenikol; Kloramfenikoli; Laevomycetinum Nama Kimia : 2,2-Dichloro-N-[( R, R)- -hydroxy- hydroxymethyl-4-nitrophenethyl]acetamide Rumus molekul : C11H12Cl2N2O5 Bobot Molekul : 323,1 Kloramfenikol mengandung tidak kurang dari 97, 0 % dan tidak lebih dari 103,0 % C11H12Cl2N2O5, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian.  Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa sangat pahit. Dalam larutan asam lemah, mantap. (FI Edisi III)  Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa sangat pahit; larutan praktis netral terhadap lakmus; stabil dalam larutan netral atau larutan agak asam. (FI Edisi IV) Kelarutan.  Menurut FI Ed IV Sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol, dalam propilenglikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.  Menurut FI Ed III Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5 bagian etanol (95 %) dan dalam 7 bagian propilenglikol; sukar larut dalam kloroform dan dalam eter. Sifat Kimia & Fisika.
3

y y

pH : Antara 4,5 dan 7,5 (FI ed IV) pH sediaan : Antara 7,0 dan 7,5; kecuali obat tetes mata tanpa larutan dapar atau digunakan untuk hewan antara 3,0 dan 6,0. (FI ed IV)

y y

Suhu lebur : 149 C - 153 C Kestabilan : Terurai oleh cahaya (FI ed III)

Khasiat dan penggunaan: Antibiotikum. Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya. Penandaan Pada etiket harus juga tertera : Daluarsa. Farmakologi : Khasiat : Anti Bakteri : Bakteriostatik : Terhadap Enterobacter dan Staph.aureus. Bakterisid : Terhadap Str.pneumoniae , Neiss, Meningitis , H.influenza. Antibiotik Spektrum luas : Gram ( + ) , Gram ( -) , spirokhaeta, Chylamydiatrachomatis , Mycoplasma. Opthalmic : ( 0,25 1 % ), maksimal 2 minggu , lebih baik menggunakan salep mata 1 dd malam hari daripada tetes mata beberapa kali sehari. Farmakodinamik : Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom sub unit 50s dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Spektrum anti bakteri meliputi

D.pneumoniae, S. Pyogenes, S.viridans, Neisseria, Haemophillus, Bacillus spp, Listeria,

Bartonella, Brucella, P. Multocida, C.diphteria, Chlamidya, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan kebanyakan kuman anaerob. Farmakokinetik : Setelah pemberian oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar puncak dalam darah tercapai hingga 2 jam dalam darah. Untuk anak biasanya diberikan dalam bentuk ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit. Bentuk ester ini akan mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol. Untuk pemberian secara parenteral diberikan kloramfenikol suksinat yang akan dihidrolisis dalam jaringan dan membebaskan kloramfenikol. Masa paruh eliminasinya pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam.Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah terikat dengan albumin.Obat ini didistribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan otak, cairan serebrospinal dan mata. Di dalam hati kloramfenikol mengalami konjugasi, sehingga waktu paruh memanjang pada pasien dengan gangguan faal hati.Sebagian di reduksi menjadisenyawa arilamin yang tidak aktif lagi.Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan oral diekskresikan melalui ginjal.Dari seluruh kloramfenikol yang diekskresi hanya 5-10% yang berbentuk aktif. Sisanya terdapat dalam bentuk glukoronat atau hidrolisat lain yang tidak aktif. Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi terutama melalui filtrat glomerulus sedangkan metaboltnya dengan sekresi tubulus. Pada gagal ginjal, masa paruh kloramfenikol bentuk aktif tidak banyak berubah sehingga tidak perlu pengurangan dosis.Dosis perlu dikurangi bila terdapat gangguan fungsi hepar. Peringatan dan Perhatian: Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan hematologi secara berkala.Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan ginjal, wanita hamil dan menyusui, bayi prematur dan bayi yang baru lahir.

Penggunaan

kloramfenikol

dalam

jangka

panjang

dapat

menyebabkan

tumbuhnya

mikroorganisme yang tidak sensitif termasuk jamur. Dosis : 0.5 % (larutan) dan 1 % (salep); tiap 10 ml mengandung 50 mg kloramfenikol. Cara penggunaan : Tetes pada mata. Sterilisasi : Cara Sterilisasi B (Pemanasan dengan bakterisid) atau C (Filtrasi membran). Efek Samping: Diskrasia darah, gangguan saluran pencernaan, reaksi neurotoksik, reaksi hipersensitif dan sindroma kelabu. Interaksi Obat: Kloramfenikol menghambat metabolisme dikumarol, fenitoin, fenobarbital, tolbutamid, klorpropamid dan siklofosfamid. Interaksi Makanan : Vitamin B 12 , Riboflavin , Pyridoxin. Acidum Boricum Sinonim : Asam borat, Borofax, Boron trihydroxide, E284, Asam orthoboric, trihydroxyborone. Rumus molekul : H3BO3 Bobot Molekul : 61,83 Asam borat mengandung tidak kurang dari 99,5 % H3BO3. Pemerian. Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilap tidak berwarna, kasar, tidak berbau, rasa agak asam dan pahit kemudian manis. Kelarutan  Menurut FI Edisi III Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95 %) dan dalam 5 bagian gliserol

 Menurut Excipients 35th Ed Dapat campur dengan etanol, eter, glyserin, air dan minyak atsiri. Kelarutan dalam air meningkat bila ditambahkan hydrochloric, citric, atau asam tartrat. Sifat fisika dan kimia (Excipients 35th Ed) y y
pH = 3.54.1 (5% b/v larutan cairan)

Titik didih : 170,9 C. Ketika dipanaskan perlahan sampai 181.0C, asam borak kehilangan
air menjadi bentuk asam metaborik (HBO2); pada 140C, tetraboric acid (H2B4O7) terbentuk; dan pada temperatur yang lebih tinggi, boron trioxide (B2O3) terbentuk.

Inkompatibilitas : asam borat inkompatibel dengan air, basa kuat dan besi alkali. Bereaksi kuat dengan potassium dan asam anhydrida.Juga membentuk kompleks dengan glyserin dimana asam lebih kuat dibanding asam borat. Stabilitas dan kondisi penyimpanan : asam borat adalah hygroskopik dan sebaiknya disimpan dalam kedap udara, wadah tertutup. Kemasan ditandai dengan Bukan untuk penggunaan Internal. Khasiat : Pengawet antimikroba, Antiseptikum eksternal. Natrii Tetraboras Sinonim : Sodium borat, Borax, E285, Borax decahydrate, Sodium tetraboras decahydrate. Rumus molekul : Na2B4O7.10H2O. Bobot molekul : 381,37 Natrium tetraborat mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 105,0 % Na2B4O7.10H2O. Pemerian. Serbuk hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin dan basa.Dalam udara kering merapuh. Kelarutan  Menurut FI Edisi III
7

Larut dalam 20 bagian air, dalam 0,6 bagian air endidih dan dalam lebih kurang 1 bagian gliserol; praktis tidak larut dalam etanol (95 %)  Menurut Excipients 35th Ed 1 dalam 1 bagian gliserin, 1 dalam 1 bagian air mendidih, 1 dalam 16 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol (95 %), etanol (99,5 %) dan dalam diethyl eter. Sifat fisika dan kimia (Excipients 35th Ed) y y pH = 9.09.6 (4% w/v aqueous solution) Titik didih : 75 C ketika dengan pemanasan cepat. Pada 100C kehilangan 5H2O; pada
150C kehilangan 9H2O; dan pada 320C menjadi anhydrous. Sekitar 880C zat melebur kedalam glassy state: borax beads.

Inkompatibilitas : sodium borat inkompatibel dengan asam dan dengan besi dan garam alkaloid. Stabilitas dan kondisi penyimpanan : sodium borat sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik dalam tempat yang sejuk, kering. Khasiat dan penggunaan : agen pengalkali, pengawet antimikroba, agen buffer, desinfectant, agen pengemulsi, agen penstabil. Antiseptikum eksternal. Phenylhydrargyri Nitras

Sinonim : Fenilraksa (II) Nitras / Fenilmerkuri Nitras Rumus molekul : C12H11Hg2NO4 Berat Molekul : 634,45 Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan dalam gliserin, lebih mudah larut dalam dengan adanya asam nitrat atau alkali hidroksida. Fungsi : Preservatif pada sediaan mata Persen konsentrasi : 0,002 %
8

Aqua pro injectio Aqua pro injeksi Fungsi : sebagai bahan pembawa sediaan iv Pemerian : cairan jernih / tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. Kelarutan : dapat bercampur dengan pelarut polar dan elektrolit OTT : Dalam sediaan farmasi, air dapat bereaksi dengan obat dan zat tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya air atau kelembaban). Air dapat bereaksi kuat dan cepat dengan logam alkali dan zat pengoksidasinya, seperti Calsium oksida dan Mg oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat menjadi bentuk hidrat, serta bereaksi dengan bahan organik dan kalsium carbide. Stabilitas : air stabil dalam setiap keadaan (es, cairan, uap panas). Air untuk penggunaan khusus harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pembuatan : Aqua destilata dipanaskan sampai mendidih, kemudian dipanaskan lagi selama 40 menit

III. ALAT DAN BAHAN ALAT y y y y y y y y y y y y Beker Glass Erlenmeyer Gelas ukur Kaca arloji Cawan penguap Batang pengaduk Spatel logam Pinset Corong gelas Kertas saring Timbangan Botol tetes mata berwarna gelap y y y y Chloramphenicol Acidum boricum Natrii tetraboras API BAHAN

10

IV. STERILISASI ALAT Nama alat Spatel logam Pinset logam Batang pengaduk Kaca arloji Cawan penguap Gelas ukur Pipet tetes tanpa karet Karet pipet Jumlah 1 1 1 2 2 2 1 1 Cara sterilisasi Oven 170 C Oven 170 C Oven 170 C Oven 170 C Oven 170 C Autoklaf (115 - 116 C) Autoklaf (115 - 116 C) Rebus Autoklaf (115 - 116 C) Waktu 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit

Corong gelas dan kertas 1 saring lipat terpasang Kapas Erlenmeyer Beacker glass 2 3

Autoklaf (115 - 116 C) Oven 170 C Oven 170 C Direndam dengan alkohol

30 menit 30 menit 30 menit

Wadah tetes mata tanpa 2 tutup Tutup wadah tetes mata 2

Direndam dengan alkohol

USUL PENYEMPURNAAN SEDIAAN 1. Zat aktif tidak larut dalam air sehingga perlu dilarutkan dalam pelarut netral atau agak asam jadi dilarutkan dalam natrii tetraboras dan dikombinasikan dengan asam borak karena merupakan larutan asam yang tidak terlalu kuat. Asam borak ditambahkan untuk meningkatkan efektifitas natrii tetraboras. 2. Harus Isohidris digunakan dapar pH 7 Natrii tetraboras. Selain itu Natrii tetraboras juga berfungsi sebagai buffering agent 3. Air mudah ditumbuhi jamur digunakan bahan pengawet Phenylhydrargyri Nitras.

11

V. FORMULA AKHIR R/ Kloramfenikol Acidum Boricum Natrii tetraboras API ad 10 ml PERHITUNGAN Tf = Liso x berat x 1000 BM x V y Kloramfenikol 0,5% Tf = 1,86x 50/1000 x 1000 323,13 x 10 = 0,02878= 0,03 y Acidum Boricum 1,5% Tf asam borat 1% = 0,28 Tf asam borat 1,5% = y Natrii Boras 0,3% Tf natrii borat 1% = 0,24
0 3% 1 5% 1%

50 mg 150 mg 30 mg

x 0,28 = 0,42

Tf natrii borat 0,3% =

1%

x 0,24 = 0,07

B = 0,52 (0,03 + 0,42 + 0,07) = 0 (isotonis)

12

PENIMBANGAN BAHAN Volume yang dibuat = (n x v) + 6 = (2 x 10,5 ml) + 6 = 27 ml 35 ml Volume yang dibuat untuk total sediaan tetes mata adalah 20 ml, untuk antisipasi maka volumenya dilebihkan menjadi 35 ml. Jadi bahan yang ditimbang : y y y y Kloramfenikol Acidum Boricum Natrii tetraboras API ad 30 ml = 0,5% x 35 ml = 0,15% x 35 ml = 0,3% x 35 ml = 0,175 gram = 0,0525 gram = 0,105 gram

VI. PROSEDUR KERJA 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Disiapkan Aqua Pro Injeksi bebas O2 3. Ditimbang masing-masing bahan yang akan digunakan pada neraca timbangan dengan kaca arloji yang sebelumnya telah disterilkan secara aseptis. 4. Dikalibrasi beaker glass dan botol tetes mata yang akan digunakan (10,5 ml) 5. Dilarutkan masing-masing bahan dalam API. 6. Larutkan asam borat dan natrii borat pada masing-masing beaker. Kemudian dicampur untuk digunakan dalam melarutkan kloramfenikol sedikit demi sedikit dimasukan ke larutan tersebut. Kemudian dimasukan sisa API. Lakukan pengecekan pH (pH yang diinginkan yaitu 7). 7. Melapisi corong dengan kertas saring dan dibasahi dengan API kemudian pindahkan corong ke beaker glass yang sudah dikalibrasi. Kemudian disaring larutan ke dalam erlenmeyer. 8. Sisa 2/5 bagian API digunakan untuk membilas kemudian disaring lagi ke dalam beaker glass yang berisi filtrat.
13

9. Ditambahkan API sampai batas kalibrasi 10. Diambil sebanyak 10,5 ml untuk tiap wadah dan mengisikan larutan ke dalam wadah, ditutup dengan penutupnya. 11. Lakukan sterilisasi akhir. 12. Diberi etiket dan dilakukan evaluasi.

VII. PEMBAHASAN Sediaan obat mata dalam USP didefinisikan sebagai bentuk sediaan steril yang harus bebas dari partikel-partikel asing, tercampur dengan baik dan dikemas untuk diteteskan ke dalam mata. Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau suspensi, digunakan pada mata dengan jalan meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. Pada formulasi pembuatan obat tetes mata ini menggunakan bahan buffer yaitu asam borat dan natrii tetraborat. Bahan pembuffer digunakan untuk meningkatkan kenyamanan mata dan stabilitas umur pakai yang cukup. Nilai pH produk obat mata cair harus dicapai pada pH 7,4 0,1 yaitu nilai pH alami air mata, untuk meminimalkan ketidaknyamanan dan gangguan terhadap sistem buffer alami cairan mata. Pemilihan sistem buffer berpengaruh pada potensi iritasi. Iritasi mata menyebabkan refleks keluarnya mata dimana pada gilirannya mempercepat pembuangan sediaan obat mata dan menurunkan bioavailabilitasnya. Pemilihan sistem buffer juga tergantung pada pH bahan obat yang secara optimal stabil dan larut. Pemilihan pKa buffer harus sedekat mungkin dengan pH target karena kapasitas buffer adalah maksimum ketika pH sama dengan pKanya. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian dan memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada saat yang sama, kloramfenikol juga peka terhadap katalisis asam-umum/basa-umum yang diakibatkan oleh bahan-bahan yang ada dalam dapar. Dalam kebanyakan sistem yang penting untuk farmasi, dapat digunakan untuk mempertahankan pada pH tertentu, sebagai tambahan efek pH terhadap laju reaksi, sering menjadi kemungkinan reaksi dikatalisis oleh satu atau beberapa komponen penyusun dapar. Reaksi yang demikian disebut katalis asam umum atau basa umum tergantung pada apakah
14

komponen katalisis

tersebut asam

atau basa (Martin, 1993). Untuk sterilisasi larutan

kloramfenikol, metode yang terpilih adalah pemanasan bersama bakterisida pada suhu 100OC selama 30 menit, diikuti dengan pendinginan cepat. Dengan metode ini berlangsungnya hidrolisis hanya terjadi sebesar 3 4% saja, sedangkan apabila menggunakan cara autoklaf (suhu 115oC dengan waktu yang sama) dihasilkan degradasi sebesar kira-kira 10 15%. Reaksi-reaksi fotolisis mudah dicegah dengan cara menghindari cahaya, hal ini dapat dilakukan dengan pengemasan hasil obat di dalam wadah yang tidak tembus cahaya, di sini seluruh cahaya akan terhalang atau digunakan filter yang akan menghilangkan seluruh cahaya yang panjang gelombangnya dapat mengkatalisis reaksi. Botol gelas warna diketahui mampu bertindak sebagai pelindung cahaya yang paling baik, karena diketahui bahwa kloramfenikol juga peka terhadap cahaya (Connors, 1992). Pada umumnya untuk tetes mata dicantumkan pembatasan daya tahannya yang secara internasional terletak antara 4-6 minggu setelah pemakaian. Pembatasan waktu ini diperlukan, oleh karena bahan pengawet sering mengalami kehilangan aktivitasnya pada tingkat kontaminasi mikroorganisme yang tinggi (Voigt, 1994). Dengan metode sterilisasi yang menggunakan proses pemanasan dari sediaan tetes mata terjadi proses degradasi atau penurunan kadar yang lebih cepat dari kloramfenikol dibandingkan terhadap metode sterilisasi yang tidak menggunakan pemanasan (bakteri filter). Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu 1-(p-nitrofenil)-2dikloroasetamido-1,3-propandiol.

Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan antibiotik ini merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan relatif stabil. Kloramfenikol
15

diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri tertentu. Disini terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi. Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawa yang khasiatnya melampaui khasiat kloramfenikol. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada suhu 25oC dan pH 6, memiliki waktu paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan tidak tergantung pada kekuatan ionik media (Connors, 1992). Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum, tetapi pada kisaran pH 2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesies pengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak terdisosiasi, serta ion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Di bawah pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar pada terjadinya degradasi kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan reaksinya terlihat terkatalisis baik asam maupun basa spesifik (Connors, 1992). Jalur utama degradasi kloramfenikol adalah hidrolisis ikatan amida, membentuk amida yang sesuai dan asam dikloroasetat.

Degradasi kloramfenikol

lewat dehalogenasi

tidak menjadi bagian yang berperan dalam

gambaran degradasi total, setidaknya di bawah pH 7(Connors, 1992). Laju degradasi tergantung secara linier pada konsentrasi dapar, spesies dapar beraksi sebagai asam umum dan basa umum. Laju hidrolisis kloramfenikol tidak tergantung
16

kekuatan

ionik, dan

tidak

terpengaruh oleh konsentrasi

ion dihidrogen fosfat, dengan

demikian aktivitas katalisisnya dianggap berasal dari aksi ion monohidrogen fosfat sebagai katalisis basa umum (Connors, 1992). VIII. KESIMPULAN y Obat tetes mata adalah obat tetes steril, umumnya isotoni dan isohidri, digunakan dengan carameneteskan ke dalam lekuk mata atau ke permukaan selaput bening mata, umumnya mengandung pengawet yang cocok, disterilkan dengan cara A atau C atau dibuat secara aseptis, atau larutan encer steril atau larutan minyak steril dari senyawa alkaloid, antibiotika atau zat aktif lain yang digunakan dengan meneteskannya pada mata, larutan sebaiknya dibuat isotoni. y Peranan kloramfenikol sebagai obat tetes mata adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. y Evaluasi pada obat tetes mata, yaitu pH sediaan akhir yaitu 7, dan jernih.

IX. DAFTAR PUSTAKA y Raymond C Rowe, Paul J Sheskey and Marian E Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. America : The Pharmaceutical Press. y y y y Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III, Jakarta. Departemen kesehatan RI, 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV, Jakarta. Departemen Kesehatan RI, 1978. Formularium Nasional, edisi II, Jakarta. Suryani, Nelly M.Si, Apt. dan Sulistiawati, Farida M.Si, Apt..2007. Penuntun Praktikum Teknologi Sedian Steril. Jakarta : UIN Pres
y http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/02/pengaruh_cara_sterilisasi.pdf. Syah, Insan Sunan Kurniawan. 2006. Pengaruh Cara Sterilisasi Terhadap Penguraian Kloramfenikol Dalam Sediaan Tetes Mata Dengan Metode Uji Dipercepat. Tersedia on line Tanggal 8 Juni 2011 y Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

17

X. LAMPIRAN Kardus

Jangan diterima bila segel rusak

INDIKASI

Obat Tetes

Obat Tetes

KOMPOSISI:

Infeksi pada permukaan mata (bagian superficial mata)

tiap 10 ml mengandung 50 mg kloramfenikol.

P. No 3

ATURAN PAKAI
PERHATIAN:

Jangan 2 atau 3 tetes pada menggunakan mata kontak lensa

Netto

ketika

Netto
3 atau 4 kali sehari

Jauhkan dari jangkauan anakanak.

18